Jumat, 28 Agustus 2009

Mari Kita Berbenah

Secangkir Anggur Merah (Edisi-12)
Berbagai pengakuan nasional dan internasional melalui berbagai achievement award yang diterima Telkom hingga saat ini sesungguhnya menunjukkan dan memberi isyarat penting bahwa bibit-bibit kekuatan kita masih tetap ada, tumbuh, bersemai dan masih menjalar ke seluruh lini jajaran TELKOM.

Obsesi untuk mencapai sebuah role model korporasi di Indonesia, sebagaimana yang diharapkan pemerintah  selama ini sejatinya bisa menjadi kenyataan. Potensi itu harus diakui memang ada. Bahkan bukan sekadar pada tingkatan BUMN dan swasta nasional. Namun juga telah  menjadi modal kuat untuk merealisasikan visi untuk memimpin bisnis TIME di kawasan Asia Tenggara.

Untuk itulah beberapa bidang garapan tugas yang selama ini masih tercecer tak ada salahnya untuk dibenahi kembali. Tak hanya terkait dengan masalah tata kelola perusahaan yang baik (GCG, good corporate governance) yang katanya sih dirasakan masih setengah-setengah. Namun masih ada sejumlah pekerjaan lain yang selama ini dipandang masih terasa mengganjal.

Sebut saja, masih lambannya proses pengadaan, terlalu ekstra hati2nya dalam penyerapan Capex , kurang efisiennya Opex, Opex yang disulap jadi revenue, revenue beberapa produk yang decline  bahkan tak berkembang karena ga laku, sales and marketing pada tataran operasional dan kebijakan yang kurang greget dan kerap dirasakan masih berada selangkah di belakang kompetitor. Juga terkait masalah memperpanjang jabatan yang mestinya sudah MPP, peraturan perusahaan yang masih terkesan birokratis, karkier karyawan yang kurang mulus, sampai pada masalah transformasi organisasi yang tampaknya masih belum clear sehingga masih perlu penataan-ulang dan penyempurnaan. Serta tentu saja masih pentingnya komitmen dalam implementasi TO yang dilandasi kesamaan persepsi, trust dan keterbukaan menuju sebuah tuntutan pencapaian sasaran perusahaan.

Sebelumnya kita memiliki nilai-nilai Committed 2 U yang telah disepakati dan dirumuskan melalui 7 nilai  (Kejujuran, Transparan, Komitmen, Kerjasama, Disiplin, Peduli dan Tanggung Jawab). Kini nilai-nilai itu mulai memudar sejalan dengan munculnya budaya perusahaan yang baru  5-C. Padahal budaya perusahaan yang baru inipun diharapkan benar-benar mampu sebagai bahan bakar guna menggerakan roda perusahaan menuju harapan itu. Tapi apa lacur, sepertinya pemahaman dan implementasi 5-C masih belum begitu mencair dan membumi kepada seluruh karyawan. Simpel tapi sesungguhnya cukup jlimet. Mungkin karena gampang masuk di otak tapi mudah lupa. Atau sulit masuk di otak karena pakai bahasa londo. Jadi boro2 mengendap dalam hati dan menghasilkan buah karya.

Tantangan untuk menggapai obsesi sebagai sebuah model korporasi di Indonesia sesungguhnya tinggal selangkah lagi. Tinggal komitmen kita untuk tetap memberikan yang terbaik bagi perusahaan ini. Tinggal komitmen kita untuk tetap menjaga kekompakan dan soliditas di lingkungan internal kita. Sebab jika kondisi internal kita terus dibikin retak, dikotak-kotak dan diobok-obok serta dikondisikan sehingga terjadi friksi terus menerus, maka akan sulitlah bagi kita untuk menggalang kekuatan.

Dalam kondisi seperti ini kompetitor lah yang akan bertepuk tangan. Mereka akan memanfaatkan situasi sekisruh apapun untuk segera menyalip berbagai prestasi yang telah kita raih. Sadar atau tidak, sebenarnya hal ini telah berlangsung, setidaknya dalam lima tahun terakhir. Akibatnya  kue bisnis kita semakin mengerut karena semakin terbagi dengan kompetitor. Revenue dari beberapa produk kita pun pada gilirannya mengalami decline dan stagnant. Kontribusi pendapatan dari bisnis IME pun masih belum bisa diharapkan. Sementara bisnis dari Anak Perusahaan ada yang masih harus disuapin "ibunya". Bahkan ada yang masih gemar merecoki anggaran ibunya.Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mencapai target pendapatannya.

Untuk itu telah sewajarnya jika seluruh cipta (inovasi), rasa (spirit) dan karsa (kehendak) serta karya (prestasi) senantiasa kita curah-tegakan. Tentu saja dengan harapan Telkom akan mampu melaksanakan visi dan misinya secara tepat, cepat, rapih, ajeg dan bertanggungjawab. Tak hanya sebagai leader pada tingkat regional dan nasional, namun juga sekaligus dapat mengevaluasi kapabilitasnya dan mengetahui posisinya secara tepat pada tataran global.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana kita mampu mempertahankan pertumbuhan di atas rata-rata industri (60% kah?) dengan cara tetap memelihara posisi sebagai pemimpin pasar. Ini berarti masih perlunya melakukan pelbagai kreasi dan inovasi baru dengan  terobosan yang lebih dimensional. Terkait mengenai  tata kelola perusahaan yang baik (GCG, good corporate governance) tampaknya kita sepakat untuk tetap dapat dijadikan sebagai way of life dan pemberi added value bagi stakeholders.

Dengan demikian mudah-mudahan Telkom tetap berkibar menjadi kebanggan bangsa dan tetap terjaga performasinya (Performansi=Kinerja+Citra). Pada gilirannya diharapkan dapat mengibas pula pada peningkatan kesejahteraan karyawan. Sehingga ke depan tak ada lagi rebutan pepesan BPK yang berpotensi meretakan hubungan kemitraan antara Karyawan, Sekar dan Manajemen ini.

Idealnya, memang BPK dapat dijadikan semacam achievement reward perusahaan untuk terakhir kalinya bagi karyawan yang akan menghadapi masa pensiun. Ya, mudah-mudahan saja dalam PKB-V, ada peluang baru terkait nominal BPK ini. Amin, toch! (N425)