Senin, 05 Desember 2011

Memaknai Musibah



Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, ....". (QS. Asy-Syuaraa : 30).
Musibah demi musibah sepertinya masih tetap mendera negeri tercinta ini. Terakhir ambruknya jembatan Kutai Kertanegara. Makna apa sesungguhnya yang terkandung dibalik suatu musibah.
Pada saat terjadinya musibah, kita biasanya merasakan keprihatinan mendalam. Kadang tak tahu apa yang harus diperbuat. Barangkali hanya do'alah yang dipanjatkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar musibah serupa tidak terualng lagi. Pada umumnya kita lebih memilih berserah diri saja pada Tuhan Yang Maha Bijak, Yang Maha Penentu, Yang Maha Adil. Walaupun penyerahan kepada Sang Maha Kuasa itu acapkali   masih bernuansa su' udz-dzan alias masih mengandung negative thinking kepada-Nya. Naudzubillah...
Kalau kita perhatikan, secara etimologi musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu, baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Namun, umumnya musibah dipahami atau identik dengan kesusahan. Padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya musibah juga.

Jadi dengan musibah, sesungguhnya Allah SWT hendak menguji siapa yang paling baik amalnya.

"Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, Karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya." (QS Al−Kahfi (18): 7).

Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh. Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan taqwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.
Musibah demi musibah datang silih berganti. Musibah yang terjadi di tengah-tengah kita, akhir-akhir ini, terjadi dalam "bentuk" yang berbeda. Pertama, musibah kecelakaan, yang berupa kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pesawat terbang komersial, helikopter militer, kereta api, kapal laut, dan sebagainya. Bentuk yang lain, adalah musibah alam, baik itu gempa bumi, banjir bandang, longsor, sampai ambruknya jembatan dan sebagainya.
Sejatinya, makna "musibah" dalam kacamata teologi Islam tidaklah sesederhana dari yang selama ini kita pahami. Kalau kita mau menyisakan perhatian kita kepada pemahaman sekelompok umat Islam, maka kita akan tahu bahwa ada sebagian umat yang merasa bahwa pemberian penghargaan, kenaikan jabatan, itu pun bagian dari sebuah "musibah".
Tentu saja sebagai  "musibah" bagi yang bersangkutan. Biasanya, orang yang berpedoman demikian akan semakin tunduk kepada Allah Swt, justru ketika mendapatkan penghargaan. Dari sinilah bisa dipahami sabda Nabi Muhammad Saw bahwa manusia yang paling sering mendapatkan musibah dan cobaan berat adalah para nabi, kemudian para wali, dan seterusnya (H.R. Bukhori).
Karena musibah yang di-"uji-coba"- kan kepada para nabi tersebut tentunya bukan saja berupa fisik, melainkan mental dan keimanan. Dari pemahaman ini, Ibnu Taymiyah-seperti dinukil Professor Ibrahim Khalifah dalam salah satu kajian Tafsir-nya-berpendapat bahwa sangat mungkin para nabi itu berkurang imannya bahkan murtad-walaupun pada kenyataannya hal tersebut tidak pernah ada dalam sejarah.
Rupanya perkembangan kehidupan materialisme telah mampu menyingkirkan pemahaman-pemahaman unik tentang musibah tadi. Termasuk musibah yang tengah diderita beberapa sahabat dan sejawat kita akibat bencana alam di berbagai tempat. Tentu saja kita turut prihatin. Apapun musibahnya, kita perlu berihtiar untuk turut membantunya. Pada akhirnya Allah SWT yang akan memberikan keadilan teradil. Dan satu hal yang perlu senantiasa kita jaga keyakinannya bahwa musibah itu sesungguhnya merupakan bagian dari limpahan kasih sayangNya. Insyaallah.=== N425 ===