Minggu, 25 Maret 2012

BBM dan Tangisan Anak Rakyat...

Kalau tak ada aral melintang ke depan harga BBM akan menyesuaikan dengan harga di pasaran dunia. Ini berarti bahwa harga BMM cq Premium tidak akan disubsidi lagi.

Inti persoalan sesungguhnya bukan karena di subsidi atau tidak.  Karena, konon, yang menikmati subsidi BBM itu 70% adalah kalangan ekonomi menengah ke atas. 

Yang menjadi persoalan adalah efek dari kenaikan BBM itulah yang akan mendongkrak kenaikan harga-harga lainnya, terutama harga bahan pokok yang menjadi konsumsi sebagian besar rakyat Indonesia yang masih jauh dari sejahtera.

Ironisnya pada saat harga BBM naik, harga bahan pokok dan tarif lainnya ikut naik. Nah, ketika harga BBM turun justru tidak diikuti dengan penurunan harga bahan pokok dan tarif lainnya.

Naiknya harga bahan pokok yg berlangsung secara intens dapat dipastikan akan membuat kehidupan kaum wong cilik rakyat semakin berat, bahkan bisa menukik ke tingkat melarat. Kondisi ekonomi yang kerap menghimpit akan membuatnya kian terjepit dan menjerit. 

Seperti tangisan anak ini. Bukan karena ditinggal ibunya yang tengah asyik FB-an, Game-an atau BBM-an, namun  lebih pada menangis karena sedih pada nasib negeri ini. Sambil menangis barangkali dia akan melontarkan rengekan:

"Pak presiden, tolong donk harga beras jangan dinaikaaannn...huhuhu huhuhu...." begitulah kira-kira rengekannya...//kgm