Sabtu, 17 Maret 2012

Gambaran Alam Kubur


Segala puji bagi Allah SWT yang telah menerangi hati dengan cahaya keimanan, yang telah melapangkan hati dengan kejernihan tauhid dan sirri (rahasia) keyakinan.

Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kehadirat baginda Rasulullah Muhammad SAW, sebagai sumber hidup dan kehidupan, sumber rahasia dan cahaya kehidupan, penerang dan penyinar semesta alam dan semoga juga terlimpah kesegenap keluarga dan sahabat yang penuh dengan keindahan, kesempurnaan dan kemakrifatan, sholawat dan salam yang saling mengikat selama masih bergeser dan bergerak siang dan malam.

Di sini akan dijelaskan mengenai masalah alam barzah, bentuknya dan bagaimana para arwah bertempat di alam barzah.
Kita sebagai manusia akan bertempat/ menempati 4 (empat) alam yakni :
1. Bathni ummi (didalam perut ibu). Yaitu tempat sangat sempit dan terbatas bagi calon bayi.
2. Alam dunia. Yaitu tempat terjadinya proses pertumbuhan mulai dari bayi sampai tumbuh besar menjadi dewasa dan akhirnya nyawanya kembali kepada Allah SWT. Di alam ini mulai muncul adanya suatu dosa dan tarik menarik. Artinya tarik menariknya kepada Allah SWT dan tarik menariknya nafsu dengan syaitan sehingga alam dunia dikatakan sebagai tempat yang menghasilkan dua perkara yakni kebaikan dan kejelekan.
3. Alam barzah. Yaitu alam yang lebih luas daripada alam dunia. Alam barzah ini juga dinamakan dengan alam kubur.
4. Alam akhirat. Yaitu alam pembalasan (surga dan neraka).

Di dalam ayat al-qur’an yang telah di firmankan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW bahwa alam barzah itu adalah suatu kehidupan yang nyata (bukan hayalan/ bayangan), yang menyesuaikan dengan kehidupan mayit (ahli kubur) sewaktu didunia. Kehidupan di alam ini sangat berbeda dengan kehidupan di alam dunia yang penuh dengan kelemahan, kekurangan, keterbatasan dan keterhinaan. Artinya apa ? hakikat hidup di dunia itu selalu berbeda, antara pernyataan, perbuatan dan yang berada didalam hati. Terkadang taat, terkadang berbuat maksiat. Terkadang ibadah dan terkadang perbuatan baiknya hanya merupakan tradisi/ rutinitas. Terkadang hatinya ingat kepada Allah SWT dan terkadang hatinya lupa kepadaNya.

Jika kita termasuk orang yang beruntung di sisi Allah, berarti kita telah melewati segala ujian dan cobaan dariNya. Sudah tidak ada lagi yang namanya kewajiban apalagi bentuk pengakuan telah melakukan suatu perbuatan. Karena yang di rasakan hanyalah nikmat Allah SWT yang di sertai dengan rasa syukur kepadaNya. Berada di surgaNya itu tiada lain karena kerinduan untuk bertemu dengan dzatNya yang maha indah dan maha sempurna.

Keadaan Alam Barzah
Riwayat Imam Turmudzi dan Imam Baihaqi dari sayyidina Abbas RA dan riwayat Imam Nasa’I dan Imam Hakim dan Imam Baihaqi dari sayyida Aisyah RA yang menerangkan keberadaan ruh di sisi Allah SWT. Alam barzah itu sebelum di tempati arwah (ruh-ruh) kita atau sebelum nabi Adam AS, para nabi, para rasul dan orang-orang yang saleh itu di ambil nyawanya oleh Allah SWT, keberadaannya sangat gelap dan sangat sedikit cahayanya.

Setelah ruh mereka meninggalkan jasad dan bertempat di alam barzah barulah sedikit demi sedikit mulai bercahaya (meningkatnya cahaya ini menyesuaikan banyaknya ruh yang masuk). Naiknya ruh kita ke alam barzah satu persatu, sedikit demi sedikit itu merupakan setengah daripada hikmah bahwa keberadaan ruh kita besok itu akan di jemput oleh arwah-arwah para anbiya’ al-mursalin wa ibadillah as-shaalihin.

Di dalam hadis shahih yang di isyarahkan oleh Rasulullah SAW,sahabat pernah berkata kepada beliau,” Ya Rasulullah, saya ini tidak mempunyai perbuatan seperti engkau, bagaimana keberadaan saya nanti?”. Di jawab oleh beliau. “Besok kita akan di kumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai”.

Alam barzah diciptakan oleh Allah SWT itu sangat luas yakni meliputi :
1. Mulai dari alam kubur sampai kelangit lapis tujuh itu di tempati oleh ruh ahli as-sa’adah dan ahli al-iman (orang-orang yang beruntung disisi Allah SWT dan orang-orang yang beriman kepadaNya).
2. Mulai dari alam kubur sampai menembus kebumi lapis tujuh dan kebawahnya lagi itu di tempati oleh orang-orang kafir, orang-orang yang celaka dan orang-orang yang suka melakukan maksiat kepada Allah SWT (Na’udzubillah min dzalik).

Jadi keberadaan alam barzah itu ada yang mengarah ke atas dan ada yang mengarah ke bawah artinya bentuk asalnya alam barzah di dunia itu sempit dan kecil. Semakin naik ke atas itu semakin besar seperti gentong dan di tempat yang paling puncak (setelah langit lapis tujuh) itu terdapat kubah yang bentuknya seperti menara masjid. Jadi besarnya alam barzah itu asalnya dari langit dunia/ bumi (yaitu keberadaannya tidak jauh dari kanan kiri kita dan jangan dibayangkan bahwa langit itu hanya ada diatas bumi karena bumi pun juga mempunyai langit).

Alam barzah yang semakin naik dan menembus ke langit mulai dari langit satu sampai ke langit lapis tujuh yang didalamnya terdapat bait al-ma’mur (didunia terdapat Baitullah dan dilangit terdapat Baitul makmur yakni kiblatnya para malaikat). Ketika sudah sampai menembus ke Baitul makmur (langit lapis tujuh) semakin naik, semakin kita tidak mengetahui segala sesuatu yang terdapat di atasnya karena keterbatasan akal dan ilmu kita sampai-sampai malaikat Jibril pun tidak dapat mengikuti Rasulullah SAW saat isra’ mikraj sebab banyaknya hijab (tabir, penghalang) sehingga Rasulullah SAW di anggap sebagai hijab al-akbar (tabir yang agung).

Siapa yang mengetahui akan keagungan Rasulullah SAW ? tidak ada yang mengetahui. Kita akan mengetahui hakikat sebenarnya Rasulullah SAW nanti ketika di akhirat. Jangankan malaikat, kita saja juga terkena hijab (tabir) jika tidak memperoleh hidayah dari Allah SWT yakni sulit mengenal dan mengerti akan keberadaan para walinya Allah SWT karena menganggap bahwa mereka juga sama dengan kita (artinya sama-sama makannya, minumnya dll).

Seberapa Besar Luas Alam Barzah
Dibayangkan saja bahwa matahari itu hanya bertempat dan berputar di langit lapis empat dan tidak akan sampai kecuali berputar selama setahun. Tentunya alam barzah itu sangat luas. Di langit lapis empat tersebut terdapat lubang-lubang dan disetiap lubangnya itu terdapat ruh kita semua. Setiap lubang dibagi 7 (tujuh) bagian yang menyerupai surga yang berjumlah 7 (tujuh). Lubang-lubang tersebut sangat luas dan kalau digambarkan itu seperti lubang-lubang yang terdapat pada lautan (jika lautnya berada dilangit lapis empat) yang sudah surut/ habis airnya atau lubang-lubangnya bisa digambarkan seperti lubangnya sarang madu.

Sebelum jasad nabi Adam AS diciptakan oleh Allah SWT (sebelum ruh dipertemukan dengan jasad) semua ruh (baik ruh nabi Adam AS dan anak cucunya sampai hari kiamat) itu ditempatkan di lubang-lubang langit lapis empat dengan memiliki cahaya yang terang. Cahaya ruh yang belum dipertemukan dengan jasad, yang masih belum dihias dan disempurnakan dengan amal perbuatan itu berbeda dengan cahaya ruh yang sudah meninggalkan jasad. Semakin kita beribadah dan berdzikir kepada Allah SWT semakin bersinar cahayanya daripada cahaya sebelumnya.

Setelah ruh nabi Adam AS dimasukkan ke jasadnya, lubang / tempat asal ruh tadi keadaannya menjadi kosong. Dan ruh yang telah diambil kembali oleh Allah SWT dari jasad, tidak ditempatkan dilubang semula tetapi di alam barzah (tempat yang lain) sehingga lubang yang pertama tadi tetap dalam keadaan kosong. Jika ruh kita termasuk ruh Ahli as-sa’adah maka ruhnya akan ditempatkan ditempat yang lebih luhur/ tinggi daripada sebelumnya. Sebaliknya jika termasuk ruh Ahli as-saqooyah maka ruhnya akan ditempatkan ditempat yang lebih rendah daripada sebelumnya. Jadi asalnya ruh itu ummatan waahidah (umat yang satu).

Keadaan Alam Barzah Sebelum dan Sesudah Ditempati Ruh
Alam barzah itu sebelum di tempati ruh atau nyawa-nyawa kita atau sebelum nabi Adam AS, para nabi dan para rasul serta orang-orang yang saleh itu di ambil nyawanya oleh Allah SWT, keberadaannya begitu sepi dan gelap. Baru setelah ruh satu persatu menempati alam barzah mulai bercahaya sedikit demi sedikit dan keadaannya menjadi ramai menyesuaikan banyaknya ruh yang masuk di alam barzah. Naiknya ruh ke alam barzah yang sedikit demi sedikit/ tidak spontan ramai itu setengah daripada hikmah bahwa keberadaan ruh kita besok itu masuk diterminal dulu, berjumpa dan dijemput oleh ruh -ruh para anbiya’ al-mursalin wa ibadillah as-shoolihin.

Setelah itu Allah SWT berfirman : “Apakah itu umatmu? kalau umatmu, ajaklah bersamamu, kalau itu muridmu ajaklah bersamamu dan jangan dibiarkan”. Riwayat Imam Nasai yang mengatakan bahwa salah satu sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : “Ya Rasulullah apakah saya nanti bisa berkumpul dengan orang itu padahal saya tidak mempunyai ilmu ataupun perjuangan seperti yang dia lakukan”. Di dalam hadis shahih yang di isyarahkan oleh Rasulullah SAW, sahabat pernah berkata kepada beliau,” Ya Rasulullah, saya ini tidak mempunyai perbuatan seperti engkau, bagaimana keberadaan saya nanti?”. Di jawab oleh beliau. “Besok akan di kumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai”.

Didalam satu ayat tafsir al-Aisaary dijelaskan bahwa besok itu terdapat seseorang yang bingung karena sendirian dan tidak dapat pergi kemana-mana sehingga para malaikat itu merasa kasihan dan menyampaikan kepada Allah SWT : “Ya Allah,sungguh kasihan orang tersebut, sendirian”. Allah SWT tidak memberikan keputusan apapun, lalu berfirman : “Carilah orang tuanya (gurunya) dan beritahu apakah dia itu anaknya, muridnya, atau keluarganya. Kalau memang anaknya, muridnya atau keluarganya perintahkanlah untuk mengajaknya bersama-sama”.

Jadi kita itu tidak menginginkan apapun, yang kita inginkan itu dicari lalu diajak bersama-sama. Kuncinya adalah bagaimana cara agar mendapatkan syafaat Rasulullah SAW?. Jika seseorang itu mati membawa iman belum tentu mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Namun jika seseorang itu mendapat syafaatnya tentu matinya membawa iman, ukurannya itu disini. Kita semua itu jauh dari Rasulullah SAW (tidak sezaman dengan beliau) tetapi paling tidak besok itu dicari oleh guru-guru kita karena syafaat Rasulullah SAW itu tidak langsung kita terima tetapi melalui guru-guru silsilah.

Setiap ruh yang sudah sampai pada langit keempat (yang hanya digunakan untuk berputarnya matahari) itu biasanya dapat menembus ke langit setelahnya sebab kuatnya cahaya yang dimilikinya.Namun sebaliknya setiap ruh yang hanya berhenti pada langit ketiga itu tidak dapat menembus kelangit berikutnya karena sedikitnya cahaya yang ada didalam ruh sehingga terhalang untuk menembus ke langit berikutnya.

Dimana tempat kita nanti ?
Kenapa para ulama itu hanya dapat menjelaskan sampai pada langit ke tujuh dan tidak sampai menjelaskan sesuatu yang berada di atasnya?
sebab setelah langit ketujuh itu terdapat kubah yang di dalamnya terdapat ruh Rasulullah SAW, ruh orang-orang yang di mulyakan oleh beliau yakni istri-istrinya, putra-putrinya dan cucu-cucunya (pada zamannya) serta semua cucunya sampai pada hari kiamat (yang memang melakukan perbuatan baik dan benar disisi Allah SWT).

Dan didalam kubah yang lain ditempati ruhnya khulafa’ ar-rasyidin yakni sahabat Abu Bakar as-Siddiq RA, Umar bin Khattab RA, Usman bin Affan RA dan Ali bin Abu Thalib RA, KW. Di kubah yang lain di tempati arwahnya para syuhada (orang-orang yang mati syahid) karena Allah SWT. Meninggalnya syuhada’ ini tidak hanya karena memperjuangkan agama Islam tetapi juga karena mempertahankan keberadaan Rasulullah SAW.

Karena kebaikan dan kemulyaan mereka, Allah SWT memberikan tempat yang luhur dan mengumpulkannya dengan beliau Rasulullah SAW. Selain itu disana juga terdapat ruhnya penerus beliau, para wali yang sudah sempurna kewaliannya disisi Allah SWT seperti wali ghaus, wali qutub dan wali-wali yang lainnya.

Ruh Rasulullah SAW
Telah di jelaskan sebelumnya bahwa ruh Rasulullah SAW bertempat di kubah namun ruh beliau tidak menetap selamanya di sana atau menetap di tempat-tempat lain. Mengapa demikian? Sebab di tempat manapun itu makhluuqun min makhluuqillah (ciptaan dari ciptaan Allah SWT), apapun itu tidak ada yang kuat di tempati selamanya/ agak lama oleh ruh beliau, baik itu lauhul mahfudz, kursi, arsy dan segala makhluk (ciptaan Allah SWT). Sebab apa tidak ada yang kuat di tempati ruh beliau? Karena banyaknya nur sirri (cahaya, rahasia) yang terdapat pada diri Rasulullah SAW.

Betapapun arsy itu sangat hebat dan istimewa tetapi semua isinya masih bisa di sebutkan yakni terdapat ini, terdapat itu dan disana ada ini dan disitu ada ini dan lain-lain sedangkan di dalam ruh Rasulullah SAW siapa yang bisa menyebutkannya. Karena itulah yang kuat di tempati ruh suci beliau hanyalah diri beliau sendiri sehingga keberadaan beliau itu utuh, sempurna. Berbeda dengan kita meskipun istimewa tetap tidak sempurna, apalagi pikiran dan hatinya, jangankan diluar dzikir dan ibadah, didalam dzikir dan ibadahnya saja masih belum bisa sempurna. Dimanapun Rasulullah SAW berada itulah Rasulullah SAW. Apapun yang di lihat oleh beliau selalu sesuai dengan apa yang ada didalam hatinya karena hakikat Rasulullah SAW di manapun berada sudah bertempat pada ilmu al-yakin, ‘ainu al-yakin dan haqqu al-yakin.

Zaman Arwah
Allah SWT berfirman didalam al-qur’an kepada para arwah: “Alastu bi rabbikum, apakah Aku bukan Tuhanmu” di jawab : “Qoolu balaa, Iya benar, engkau adalah Tuhanku”. Melihat apa yang telah di firmankan Allah SWT menjelaskan bahwa sebelum menciptakan jasad manusia, Allah terlebih dahulu menciptakan ruh.

Sebagian pendapat mengatakan bahwa ruh itu asalnya kumpul jadi satu. Sebelum Allah SWT berfirman Alastu bi rabbikum, para ruh itu bodoh, kosong, tidak mengerti apa-apa yang dikehendakiNya . Lalu Allah SWT memerintahkan malaikat Israfil AS untuk meniup terompetnya. Saat terompet ditiup, semua ruh tergoncang dan bingung seperti bingungnya ketika nanti dibangkitkan dari alam kubur. Setelah para arwah kumpul semua. Allah SWT berfirman Alastu bi rabbikum, apakah Aku bukan Tuhanmu? Setelah menerima firmanNya, para ruh terbagi 2 (dua)golongan :
1. Ahlu as-sa’adah (orang-orang yang beruntung di sisi Allah SWT)
2. Ahlu as-saqaayah (orang-orang yang celaka di sisi Allah SWT)

Ahlu as-sa’adah setelah mendapat firman Allah SWT, hatinya lapang dan gembira. Dan mereka itu didalam menjawab firmanNya itu berbeda-beda. Semua memang menjawab Qaalu balaa tetapi Qaalu balaa-nya berbeda-beda didalam sidqu at-tawajjuh (kesungguhannya dan penyaksiannya) kepada Allah SWT. Lalu Allah SWT menempatkan mana yang wali dan mana yang bukan wali. Mana yang menjadi guru dan mana yang menjadi murid. Dan pada saat itu juga sudah dapat diketahui bahwa orang ini nanti akan bertemu dengan orang ini lalu berguru pada orang ini dan orang ini tidak akan bertemu dengan orang ini (meskipun sezaman, dalam satu waktu dan pernah bertemu).

Artinya jika pada saat itu kita bertemu dengan para auliya’, nanti di dunia juga akan bertemu dengan mereka, jika tidak bertemu dengan para auliya’ maka di dunia juga tidak akan bertemu dengan mereka meskipun jaraknya dekat dan sezaman. Jadi keberadaan ruh kita itu sudah tercipta terlebih dahulu daripada keberadaan lahir/ jasad kita sehingga kita tidak mengetahui apakah di alam ruh itu kita termasuk golongan Ahlu as-sa’adah atau Ahlu as-saqaayah.

Di dalam hadis shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah RA di katakan : “Yang dulu sudah berkumpul/ bertemu di alam arwah, di dunia juga akan bertemu. Yang dulu tidak bertemu di alam arwah, di dunia juga tidak akan bertemu”.

Sedangkan ahlu as-saqooyah (na’udzubillah mun dzalik) ketika mendengar firmannya Allah, Alastu bi rabbikum (Apakah Aku bukan Tuhanmu) mereka juga sama-sama mendengarnya namun belum apa-apa hatinya sudah merasa keruh, gelisah namun tetap tidak bisa menolak dan merekapun menjawab Qoolu balaa (Iya, engkau adalah Tuhanku) tetapi menjawabnya dengan terpaksa, sehingga dirinya menjadi hina, cahaya yang asalnya ada berubah menjadi suram dan gelap.

Saat itu juga para malaikat, terutama malaikat Israfil sudah dapat mengetahui baina al-mukmin wa al-kafir (antaranya orang mukmin dan orang kafir). Meski secara dzahir berilmu, berdzikir, beribadah tetapi yang dilihat dan yang diukur itu kesungguhannya didalam menghadap kepada Allah SWT. Karena sudah jelas siapa yang akan menjadi orang mukmin dan siapa yang akan menjadi orang kafir (na’udzubillah mun dzalik) sehingga setelah Allah SWT mengambil perjanjian dengan para ruh, pada saat itu juga sudah disiapkan oleh Allah SWT tempat untuk para ruh tadi di dalam alam barzah.

Perjalanan Ahli as-sa’adah dan Ahli as-saqaayah di Alam Barzah.
Begitu Ahli as-sa’adah meninggal dunia, Allah SWT telah menyiapkan tangga dan tali dari cahayaNya di alam barzah, yakni cahaya keimanan. Imam Abu al-‘Abbas al-Mursi berkata : “Seandainya Allah SWT membuka sedikit saja nurnya orang yang beriman kepadaNya meskipun orang tersebut banyak melakukan maksiat kepadaNya tentu dia akan disembah oleh orang lain”. Ini menunjukkan begitu agungnya cahaya keimanan.

Yang menjadikan kita tidak dapat menembusnya itu dikarenakan hati kita telah dihalang-halangi oleh hawa nafsu. Keberadaan wali yang memiliki cahaya keimanan meski sudah diambil nyawanya oleh Allah SWT itu bisa merasakan dan menikmati apapun yang berada didalam surga. Misalnya saja, orang yang sedang memadu kasih dengan kekasihnya, apa merasakan susah atau lapar meskipun dalam keadaan susah atau lapar, semuanya itu hilang.

Yang dinamakan iman itu adalah suatu nur Allah SWT yang diletakkan didalam hati hambaNya yang Dia cintai. Begitu cintanya Allah SWT kepada hambanya sehingga hati hambaNya selalu dibayang-bayangi bahwa dirinya itu akan kembali kepadaNya dan keyakinannya semakin meningkat sehingga seakan-akan dirinya sudah masuk dalam kehidupan akhirat. Kita saja kalau mencintai seseorang lalu melihat yang kita cintai itu bersedih maka kita turut bersedih. Tentang cinta, Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina Ali RA, KW : “Orang yang sudah terlanjur cinta, selama dia masih hidup janganlah sekali-kali menyakiti atau mengganggu seseorang yang dicintainya”.

Sebaliknya ketika ahlu as-saqaayah meninggal dunia, sudah disiapkan oleh Allah SWT suatu tangga dan tali yang gelap yang menuju ke neraka. Gelapnya tangga dan tali tersebut karena gelapnya kekufuran. Arwahnya merasakan susah dan sedih seperti mengalami siksa didalam neraka. Rasulullah SAW bersabda : “Alam kubur itu ibarat taman-taman surga dan juga ibarat galian neraka”.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, KW berkata : “Alam kubur setiap harinya itu berbicara 3 (tiga) kali yakni aku rumahnya cacing, aku rumahnya ular dan aku rumahnya kegelapan”. Jadi di alam kubur itu ada orang yang meninggal dunia tetapi jasadnya tetap utuh (tidak rusak sama sekali tetapi bukan karena diawetkan), ada yang jasadnya tidak utuh (habis) secara alami dan ada yang tidak utuh (habis) karena dimakan ular-ular. Kalau kita meskipun tidak utuh, paling tidak habisnya secara alami bukan dimakan ular.

Demikianlah penjelasan tentang alam barzah yakni suatu alam yang akan ditempati oleh ruh seluruh anak cucu nabi Adam AS sampai hari kiamat. Meskipun alam ruhaniyah (alam ghoib) terjadinya lebih dahulu daripada wujud jasmaniyah bukan berarti bahwa semuanya sudah final karena hakikat sebenarnya kita belum tahu, kita termasuk dari golongan yang mana. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang diberi petunjuk yakni golongan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah SWT baik di dalam agama, dunia dan akhirat. Amin.
(Sumber :Fatwa-fatwa Murabbi ruuhi, KH. Ahmad Asrori al-Ishaaqi, RA)