Jumat, 20 Juli 2012

Ramadhan: "Datang Tak Dijemput, Pulang Minta Diantar"


Oleh: Muhammad Kurdi eL-Byzant

Judul di atas sengaja penulis adopsi dari adagium yang sering digunakan oleh pihak tertentu, untuk mendatangkan makhluk halus (baca: Jailangkung). Yaitu, Adagium yang sempat ngtrend di beberapa sinetron yang ditayangkan oleh stasiun televisi di tanah air kita. Seperti, sinetron ‘Di Sini Ada Setan,’ film ‘Jailangkung,’ sinetron ‘Tusuk Jailangkung’ dan beberapa sinetron dan film lain yang sempat berkiprah di dunia entertainment Indonesia. Hanya saja, penulis sedikit mengubahnya.

Adagium aslinya berbunyi ‘Datang Tak Dijemput, Pulang Tak Diantar,’ penulis menguibahnya menjadi ‘Datang Tak Dijemput Pulang Minta Diantar,’ hal ini semata-mata penulis lakukan, karena memang secara retoris semantik, ada sisi menarik dari ungkapan tersebut jika kita korelasikan dengan bulan Ramadhan.

Sebagaimana yang kita ketahui, tidak ada seorangpun yang menjemput kedatangan Ramadhan. Bulan Ramadhan datang tak dijemput, kedatangannya terkesan tiba-tiba, begitu cepat Ramadhan ‘Baru’ datang menggantikan Ramadhan ‘Lama’. Seolah-olah baru beberapa bulan saja, kita melepas Ramadhan tahun lalu dengan gegap gempita idul fitri, kini kita sudah berada di bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan ini.

Bulan Ramadhan datang mengikuti aturan waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Ramadhan bak air yang pasti mengalir menuju ke tempat yang lebih rendah. Begitu juga Ramadhan, dia akan datang setiap kali bulan Sya’ban purna tugas. Kedatangan Ramadhan tidak perlu dijemput, Ramadhan bukan tipe bulan manja yang tidak akan ngambek (baca: tidak datang) saat tidak dijemput.

Bagi orang-orang yang tidak suka dengan kehadiran Ramadhan, kedatangan Ramadhan tak ubahnya seperti hantu yang sangat mengerikan. Karena mereka merasa tidak bebas melakukan perbuatan maksiat yang sering mereka perbuat di luar bulan Ramadhan. Orang-orang seperti ini, selalu berharap Ramadhan tidak cepat datang. Bahkan kalau bisa Ramadhan tidak perlu datang. Lain halnya dengan orang-orang yang bisa ‘akrab’ dengan bulan Ramadhan, mereka berharap Ramadhan cepat datang, bahkan mereka berkhayal, andai kata Ramadhan dapat datang tidak hanya satu kali dalam satu tahun.

Bagi mereka, Ramadhan merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk memperoleh pahala seagung-agungnya, buat mereka Ramadhan merupakan ‘telaga maghfirah’ yang dapat mereka minum airnya untuk menghilangkan ‘dahaga spiritual’ yang disebabkabn oleh dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Namun, harapan hanya tinggal harapan, baik orang yang enggan menerima kehadiran Ramadhan maupun orang yang sangat merindukan kehadiran Ra mdhan, tidak bisa mewujudkan harapan mereka.

Mereka tidak akan dapat menghentikan maupun mempercepat kedatangan Ramadhan, jauh api dari panggang, sampai kucing bertandukpun, asa mereka tidak akan menjadi kenyataan. Datang dan perginya Ramadhan sudah ditentukan, ru’yat hilal pascasya’ban merupakan awal kedatangan Ramadhan dan dia akan pergi, saat sudah menyempurnakan bilangan bulan 29 dan/atau 30 hari.

Meskipun ‘Datang Tak Dijemput,’ namun kepulangan Ramadhan ‘Minta Diantar’. Hal ini bukan berarti Ramadhan ngalem, karena harus diantar segala. Ramadhan sebagai bulan yang suci, eman rasanya kalau kepulangannya tanpa bekas dan tanpa kesan. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengantar kepulangan Ramadhan?

Sebagai seorang muslim, tentu kita semua mafhum bahwa Ramadhan merupakan bulan yang penuh barokah dan ampunan. Dus, ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengantar kepulangan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan suci yang di dalamnya pahala setiap ibadah -yang disertai keikhlasan niat- akan diganjar dengan pahala yang berlipat. Ramadhan juga merupakan bulan yang sangat kondusif untuk membina dan mengembangkan potensi religius-spiritual, pun keshalehan sosial-interpersonal.

Sudah menjadi tradisi kita, umat Islam, setiap kali Ramadhan datang, segala bentuk kegiatan keagamaan dipersiapkan untuk mengisinya. Mulai dari shalat malam, I’tikaf, tadarus al-Qur’an sampai kajian-kajian agama, semuanya digalakkan untuk membina hubungan transenden dengan Allah, agar dapat lebih merasakan nikmatnya menghambakan diri (baca: beribadah) kepada Dzat yang jiwa kita ada di dalam genggaman-Nya.

Demikian juga dalam masalah-masalah muamalah sosial, berbagai amal-usaha dilakukan untuk memperbanya k reward dan meringankan beban kesusahan sesama. Bhakti Sosial, buka puasa bersama anak yatim, sahur bersama anak jalanan kerap kali mewarnai semaraknya bulan Ramadhan. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya membantu kepenatan orang lain dan berpeluang mendapatkan pahala dari Allah, tumbuh subur laiknya cendawan di musim penghujan, saat bulan Ramadhan datang menyapa.

Sehingga, kalau kita cerna lebih dalam lagi, ternyata kesediaan kita untuk mengantar kepulangan bulan Ramadhan, justru akan berdampak sangat positif bagi kehidupan pribadi dan masyarakat di sekitar kita. Bagaimana tidak, jika kita bersedia untuk mengantarkan kepulangan Ramadhan dengan shalat malam, tadarrus al-Qur’an, I’tikaf, berdzikir, bahakti sosial, memberi makan orang miskin, menyantuni anak yatim dan mau mendermakan sebagian harta untuk kepentingan Islam wal muslimin, secara tidak langsung akan mendatangkan credit point bagi hubungan theosentris kita sebagai hamba Allah dan hubungan antroposentris kita dengan sesama muslim.

Dengan bentuk-bentuk kegiatan semacam itu, penulis yakin Allah tidak akan merasa ogah untuk memberikan surga-Nya, begitu juga dengan keadaan umat Islam yang mengenaskan, akan ter-entas-kan melalui kegiatan-kegitan sosial seperti dijelaskan di atas. Penulis hanya ingin mengingatkan satu hal, jadilah orang yang mampu mencintai Ramadhan, karena hanya o rang yang cinta Ramadhanlah yang dapat merasakan lezatnya ‘aroma’ bulan suci itu, sampai datang Ramadhan yang ‘Baru’.

(*Penulis adalah mahasiswa FAI UMM, aktif sebagai Kepala Bidang Penalaran Badan Eksekutif Mahasiswa dan sebagai Ketua Bidang Public Relation Program Pendidikan Ulama Tarjih).