Selasa, 31 Maret 2026

Dalil Halal Bihalal Pasca Idulfitri


Pengantar: Halalbihalal adalah tradisi khas Indonesia pasca-Ramadan dan Idul Fitri untuk bersilaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat persaudaraan, sering diadakan di kantor atau keluarga. Meski menggunakan kata Arab, istilah ini dibakukan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai maaf-memaafkan, yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno dan K.H. Wahab Chasbullah pada 1948 untuk rekonsiliasi elit politik.

Tradisi Indonesia

Sudah menjadi suatu kebiasaan tersendiri bagi masyarakat 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 melaksanakan berbagai kegiatan dalam menyambut hari-hari besar Islam dengan upacara atau selamatan. Hal itu berangkat dari kultur yang telah melekat sejak dulu dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Salah satu tradisi yang ada di masyarakat 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 khususnya umat muslim ketika memasuki bulan 𝙎𝙮𝙖𝙬𝙬𝙖𝙡 adalah tradisi 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡.

𝗔𝗱𝗮 𝗱𝘂𝗮 𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝘂𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗮𝗶 𝗮𝘀𝗮𝗹-𝘂𝘀𝘂𝗹 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹:
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗺𝘂𝗹𝗮-𝗺𝘂𝗹𝗮 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗻𝘁𝗶𝘀 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗞𝗚𝗣𝗔𝗔 𝗠𝗮𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗜 (𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿 𝟬𝟴 𝗔𝗽𝗿𝗶𝗹 𝟭𝟳𝟮𝟱) 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗱𝗶𝗸𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗺𝗯𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘄𝗮.

Guna menghemat waktu, tenaga, pikiran serta biaya, maka seusai sholat ‘𝙄𝙙𝙪𝙡 𝙁𝙞𝙩𝙧𝙞 diadakanlah pertemuan antara raja dengan punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua penggawa dan prajurit secara tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, 𝗵𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗴𝘂𝗮𝘁 𝗶𝘀𝘁𝗶𝗹𝗮𝗵 ‘‘𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹‘’ 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗱𝗶𝗹𝗮𝘁𝗮𝗿𝗯𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗸𝗲𝗿𝗲𝘀𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗿𝗲𝘀𝗶𝗱𝗲𝗻 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼.

Pada kisaran tahun 𝟭𝟵𝟰𝟴 terhadap kondisi bangsa 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 yang baru-baru saja merdeka, namun para elite politiknya justru saling berseteru. Ditambah masa itu, 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 tengah mengalami pemberontakan yang dilakukan oleh 𝘿𝙄/𝙏𝙄𝙄 dan 𝙋𝙆𝙄 di 𝙈𝙖𝙙𝙞𝙪𝙣.

Kemudian 𝙆𝙃. 𝙒𝙖𝙝𝙖𝙗 𝙃𝙖𝙨𝙗𝙪𝙡𝙡𝙤𝙝 mengusulkan kepada 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣 𝙎𝙪𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 untuk membentuk acara pertemuan yang diupayakan mereka semua duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan dalam satu jalinan silaturrohmi. Pertemuan tersebut dikenal dengan istilah ‘‘𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡’‘.

𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 sendiri tidak akan ditemukan dalam kamus maupun ensiklopedia 𝘼𝙧𝙖𝙗. Meskipun secara bunyinya terdengar seperti bahasa 𝘼𝙧𝙖𝙗. Berangkat dari hasil kreasi kearifan lokal dan hanya dapat dijumpai di 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖, sehingga 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 menjadi suatu khas tersendiri bagi masyarakat umat 𝙈𝙪𝙨𝙡𝙞𝙢 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 yang tidak dapat ditemukan di negara-negara 𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢 lainnya.

Tradisi 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat perkotaan, perkampungan, suatu lembaga instansi, universitas, sekolah, perkantoran dan perusahaan. Pada praktiknya, masyarakat menggelar suatu forum pertemuan dengan tujuan saling maaf-memaafkan kepada orang-orang tertentu yang pernah kita umpat, kita tuduh, kita lukai hatinya, kita zalimi atau kita gunjing.

Selain maaf-memaafkan, praktik 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 menjadi momentum kembali menyambung silaturohmi yang telah terputus sebelumnya oleh berbagai latar belakang seperti perbedaan sudut pandang politik atau lain-lainya.

𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗟𝗮𝗻𝗱𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹

𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗞𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗦𝗵𝗼𝗵𝗶𝗵 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗼𝗿𝗶, 𝘁𝗲𝗿𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗹𝗮𝗻𝗱𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗸𝘂𝗮𝘁 𝗴𝘂𝗻𝗮 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من كانت عنده مَظْلِمَةٌ لأخيه، من عِرضِه أو من شيءٍ، فلْيتحلَّلْهُ منه اليوم قبل أن لا يكون دينارٌ ولا درهم؛ إن كان له عمل صالحٌ أُخِذ منه بقدر مَظلِمتهِ، وإن لم يكن له حسناتٌ من سيئات صاحبه فحُمِل عليه»رواه البخاري

‘‘𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘼𝙗𝙪 𝙃𝙪𝙧𝙤𝙞𝙧𝙤𝙝 𝘳𝘰𝘥𝘩𝘪𝘺𝘢𝘭𝘭𝘰𝘩𝘶 ‘𝘢𝘯𝘩𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘙𝘰𝘴𝘶𝘭𝘶𝘭𝘭𝘰𝘩 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘭𝘢𝘭𝘭𝘰𝘩𝘶 ‘𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪 𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘣𝘥𝘢: 

‘‘𝘽𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙯𝙖𝙡𝙞𝙢𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 (𝙙𝙞𝙢𝙖𝙖𝙛𝙠𝙖𝙣), 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙖 (𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧𝙖𝙩) 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙞𝙩𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙣𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙝𝙖𝙢, 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖.‘‘ (𝙃𝙍 𝙖𝙡 𝘽𝙪𝙠𝙝𝙤𝙧𝙞 𝙣𝙤. 𝟲𝟭𝟲𝟵)

Selain hadits yang diriwayatkan oleh 𝘼𝙗𝙪 𝙃𝙪𝙧𝙤𝙞𝙧𝙤𝙝 rodliyallohu 'anhu diatas, terdapat juga hadits pendukung atas tradisi 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 yang bisa menjadi dalil penguat.

𝗕𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘁𝘀 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝗶𝗮𝗹𝗮𝗵:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، قَالَ : حَدَّثَنِي مَالِكٌ ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا رواه البخاري

‘‘𝙄𝙨𝙢𝙖‘𝙞𝙡 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝙈𝙖𝙡𝙞𝙠, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝙎𝙖𝙞𝙙 𝙖𝙡-𝙈𝙖𝙦𝙗𝙖𝙧𝙞, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘼𝙗𝙪 𝙃𝙪𝙧𝙤𝙞𝙧𝙤𝙝 𝘳𝘰𝘥𝘭𝘪𝘺𝘢𝘭𝘭𝘰𝘩𝘶 '𝘢𝘯𝘩𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘕𝘢𝘣𝘪 𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘭𝘢𝘭𝘭𝘰𝘩𝘶 '𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪 𝘸𝘢𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘣𝘥𝘢: ‘‘𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙪𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙖𝙛.‘‘ (𝙃𝙍. 𝘽𝙪𝙠𝙝𝙤𝙧𝙞 𝟲𝟱𝟯𝟰)

Kedua hadits itu memiliki tujuan yang sama yakni, hendaknya seorang muslim meminta maaf kepada saudaranya bila sebelumnya ia pernah melakukan sebuah kesalahan. Maka dari hal inilah pada lafaz *فَلْيَتَحَلَّلْهُ* memberikan pemahaman pada kita bahwasanya ‘‘𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡’‘ adalah bentuk permintaan maaf seseorang yang kepada orang lain yang disebabkan atas kesalahan ataupun dosa yang pernah dilakukan di masa silam.

Maka untuk dapat mendapatkan ke ridhoan atas orang yang pernah kita zalimi, sudah selayaknya seseorang meminta maaf. Permintaan maaf inilah salah satu dari rangkaian kegiatan yang berada di tradisi 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡. Sehingga tradisi ini menjadi suatu tradisi yang dilakukan oleh umat Islam Indonesia pasca berakhirnya 𝙃𝙖𝙧𝙞 𝙍𝙖𝙮𝙖 ‘𝙄𝙙𝙪𝙡 𝙁𝙞𝙩𝙧𝙞 pada tanggal 𝟭 𝙎𝙮𝙖𝙬𝙬𝙖𝙡.

Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang bisa meminta maaf dan memaafkan. 
Selamat Berhalal Bihalal di 𝙃𝙖𝙧𝙞 𝙍𝙖𝙮𝙖 ‘𝙄𝙙𝙪𝙡 𝙁𝙞𝙩𝙧𝙞. 
Semoga berkah melimpah..!!
(Buletin Aswaja/Gerakan Pemuda-Pemudi Aswaja)