Selasa, 06 Desember 2011

Lebah sebagai falsafah hidup manusia






Lebah termasuk binatang serangga. Mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini memang agak berbeda, bahkan luar biasa. Ia bisa bersahabat dengan manusia. Bisa pula menjadi musuh yang mengundang binasa. Karakternya sangat khas. Ia begitu loyal pada pemimpin. Menjadikan ia binatang paling patuh dan peka pada perintah.

Lebah sering pula diidentikan dengan madu. Dan yang namanya madu, semua orang sangat faham akan faedahnya. Dalam surat An-Nahl, ayat 69, madu yang bermacam-macam warnanya itu merupakan obat mujarab bagi manusia. Tak hanya untuk meningkatkan fitalitas tubuh atau pengering luka, namun berdasarkan hasil penelitian yang dikembangkan ilmu kedokteran modern, madu merupakan bahan dasar paling ideal untuk diracik dengan bahan-bahan dasar lainnya. Menghasilkan sebuah ramuan obat, yang tak kalah mujarabnya dari obat proses kimiawi.

Lebah pun memiliki naluri untuk senantiasa berbuat kebaikan. Nilai-nilai etika dan moral begitu dijunjung tinggi. Ia mengkonsumsi makanan yang terpilih dan baik. Yang tidak menimbulkan kerusakan atau limbah bagi lingkungan. Dan hebatnya, saat ia harus membuang hajat, justru yang dikeluarkan adalah sebuah cairan berharga yang bernama madu.

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang beriman itu tidak ubahnya seperti lebah. Bila lebah itu ingin makan, maka ia akan makan sesuatu yang baik. Dan bila ia mengeluarkan sesuatu, ia pun mengeluarkan sesuatu yang baik dan bila hinggap di sebuah ranting kayu ia tidak akan membuatnya patah/rusak” (H.R. At Tirmidzi).

Sebagai mahluk yang perlu makan untuk menopang hidupnya, lebah sangat rajin bekerja. Pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, ia sudah bangun dan dengan gesit ia terbang mengembara dari satu kebun ke kebun yang lain, dari satu bunga ke bunga yang lain untuk mencari makan. Bunga yang segar dan harum aromanya merupakan tempat tujuan utamanya. Karena disana lah ia mendapatkan madu yang selalu dirindukannya.

Kerinduan untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik akan senantiasa menjadi bagian dari obsesinya. Ia mencari yang terbaik dan selalu ingin memberikan yang terbaik. Ia konsisten, loyal, jujur, apa adanya, dan senantiasa siap untuk berkorban demi kepentingan orang lain.

Bagaimana mungkin ia akan memberikan yang terburuk, sementara setiap gerak-geriknya senantiasa merindukan kebaikan. Mengharapkan kedamaian dan kebahagiaan, walau harus dilakukan melalui perjuangan-perjuangan yang sangat keras dan intens. Perjuangan yang tak pernah putus asa. Sekali biduk dikayuh, pantang surut untuk kembali.

Bila lebah telah menemukan bunga yang dicarinya, ia pun segera hinggap dan mengisap madu. Pada saat inilah lebah mempunyai peranan yang sangat penting. Tatakala mulutnya menghidap madu, sementara kakinya bekerja mengawinkan bunga itu dengan cara mempertemukan putik bunga dengan sarinya. Ketika lebah pergi jauh, maka pada bunga itu terjadilah proses pembuahan yang kelak akan menghasilkan rzeki yang sangat berguna dan menguntungkan kedua belah pihak.

Lebah pun, tak hanya hidup dalam sebuah komunitas yang penuh kedamaian, namun juga memiliki kemampuan rancang bangun yang cerdas. Perhatikan saja sarang madu yang tersusun begitu kokoh, padu dan serasi menjadikan komunitasnya terbentengi oleh kekuatan pelindung yang tak mudah untuk diusik atau dihancurkan.

Lebah dapat menjadi sebuah falsafah hidup bagi manusia. Tentang bagaimana keberadaannya di alam dunia ini, untuk senantiasa memberi arti dan terus memberi arti bagi orang lain. Untuk senantiasa arif dan bijak memperlakukan orang lain. Untuk senantiasa bekerja keras, cerdas, dan profesional dalam bekerja. Untuk senantiasa proporsional dan konsisten dalam menjalin komitmen. Untuk senantiasa maju dan maju, kau dan aku, menuju kemenangan. Bukankah begitu?

Dalam Al-Qur’an dinyatakan:

Kemudian makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan dan tempuhlah

jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu.
Dan dari perut lebah itu keluar suatu minuman (madu)
yang bermacam-macam warnanya yang di dalamnya
terdapat obat mujarab untuk manusia.
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
kebesaran Allah bagi orang yang mau berpikir”
(QS. An-Nahl, ayat 69)