Jumat, 30 Januari 2009

Sarwoto: "Procurement, Problem Utama"

Catatan: Sarwoto Atmosutarno, mendapat kepercayaan sebagai Dirut Telkomsel. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Kepala Divisi Long Distance yang telah berganti nama menjadi Div Infratel (Divisi Infrastuktur TELKOM). Divisi ini dibentuk, kata Sarwoto, untuk merespon tantangan bisnis global dan mengakomodasi bisnis lama divisi network seperti penyediaan network panggilan jarak jauh, network domestic dan internasional, satelit dan intelligent network (IN). Beberapa waktu lalu Majalah Patriot 135 (MP-135) sempat berbincang-bincang dengan beliau, seputar Infratel dan TELKOM ke depan. Ini dia hasil wawancara kami!!

Apa latar perubahan dari DLD ke Infratel?

Perubahan nama ini merupakan implementasi dari Customer Centric yang memisahkan antara PO (Product Owner, backroom) dari DC (Delivery Channel, Front Room). PO sendiri terbagi dari PO Product (Multimedia) dan PO Infratruktur (DLD). Per 1 Mei 2006, yang kami namakan DLD Transition, mulai membenahi dan berkonsolidasi dalam infrastruktur yang tak hanya berada di DLD namun juga Local (yang saat itu ditangani UNR). Karena itu tidak cocok lagi dinamakan DLD. Jadi Divisi Infrastruktur TELKOM merupakan gabungan infrastruktur yang selama ini ditangani DLD (40 RO) dengan Unit Network Multimedia (UNM) dan UNR. Jadi setelah digabung dengan Network Multimedia maka kini dinamakan, bukan RO lagi tapi NETRE (Network Regional) dan dibawahnya ada Manager Area.

Sejak kapan Mulai terimplementasi menjadi Div Infratel?

Pada 1 Januari 2007 secara resmi berdiri Divisi Infratel. Mulai saat itu tidak ada lagi yang namanya UNR, RO dan UNM. Secara khusus tugas ini memang unik, karena sinergi yang harus dilaksanakan adalah sinergy cost. Uniknya sinergi dari sisi biaya ini adalah orientasinya ke efisiensi. Pada sinergi biaya 2 + 2 = 3. Berbeda dengan Sinergy Revenue dimana 2 + 2 = 5 yang biasa berada di Divre ( DC). Karena Sinergy Cost harus ada efisiensi, maka ini menjadi tantangan besar bagi Div Infratel mengimplementasikan.

Apa tidak merepotkan rekan-rekan yang ada di daerah?

Ya, memang cukup merepotkan teman-teman di daerah, namun bagaimana pun hal ini harus terimplementasi dan dibiasakan. Mengapa? Karena secara natural memang kerjaan antara UNR dan RO itu sama, karena barangnya juga sama.

Network yang dikelola untuk TELKOM saja atau TELKOM Group?

Kita memang mengelola infratruktur TELKOM yang unconsolidated. Tapi wujud dari outputnya merupakan atau harus mencerminkan sinergi itu dengan anak perusahaan, misalnya dengan TELKOMSEL. Contoh. TELKOM punya JASUKA (fiber optic Sumatera-Jawa -Kalimantan). Nah ini juga mau digunakan oleh TELKOMSEL. Jadi wujud implementasinya adalah implementasi sinergi.

Tantangan kedepannya bagaimana?

Tantangan ke depan dari Div Infratel adalah sejauhmana bisa mengelola networknya itu dapat dipergunakan oleh sinergi TELKOM Group. Ini sangat mutlak. Jadi kalau hal ini gagal maka sinergi TELKOM Group gagal. Apalagi kalau masih terbentuk silo-silo di masing-masing Unit TELKOM Group maka itu sesungguhnya kegagalan dari Div Infratel.

Tantangan terbesar PO-DC dan Sinergi lebih kepada perencanaan kita dengan level kehandalannya yang masih rendah. Saya ngomong ini bukan tanpa data. Dan ini terjadi hampir di seluruh lini. RKAP kita degree level of confidential-nya rendah. PODC itu mestinya dimulai dari joint planning session antara teman-teman DC (Divre, TELKOMSEL) dengan PO (Infratel). Tapi Proses perencanaan masih tidak meyakinkan. Misalnya masih terdapat gap antara permintaan dan orderan. Contoh, Aceh perlu E-1 sebanyak 100, paling bisa diorder 30, sementara daerah lain malah dikasih 120, dst.

Bagaimana solusinya, misalnya untuk memenuhi end user yang harus disupport? Apakah tidak mengganggu RKAP Infratel?

Ya, Infratel adalah yang pertama kali teriak-teriak di berbagai forum tentang perlunya Capex Instant atau Competitive Budget untuk mengatasi perencanaan yang tidak meyakinkan itu. Khususnya adalah Capex – Opex yang berhubungan dengan pemenuhan demand. Misalnya kita menghadapi tender di suatu Instansi yang membutuhkan modem, transponder tambahan, perangkat2 router tambahan dll yang menimbulkan unpredictable (diluar perkiraan) cost. Ini yang sulit kita penuhi, karena terbentur anggaran.

Tapi tahun ini sudah ada Capex Instant?

Ya, mulai tahun ini sudah mulai ada.Walaupun prosedurnya masih bertele-tele. Capex Instant harus dibuat prosedur yang sesimpel mungkin. Ini sangat penting sebagai akibat dinamika pasar yang sudah luar biasa cepat. Kita selalu dikalahkan kompetitor karena mereka begitu gampang mengeluarkan biaya untuk tujuan sales dan pemenuhan demand.

Apa SOA dan SAP kita yang menyulitkan?
Bisa dibilang begitu. Mengapa? Karena SOA dan SAP kita itu mengadop ke TELKOM Culture. Ini yang harus dirobah. Budaya atau kebiasaan kita adalah dimana bisnis mengabdi kepada acounting, padahal seharusnya acounting menunjang kepada bisnis. Dalam dinamika kompetisi yang luar biasa seperti saat ini justru supporting system kita yang namanya SAP itu dia tidak mendukung bisnis, tapi justru bisnis yang harus menyesuaikan ke SAP, ha..ha...ha..Ini kan lucu. Saya kira anda sebagai orang TELKOM pasti telah merasakan mulai dari kas kecil, pertanggungan, budgeting, procurement-nya yang begitu sulit sekali. Nah ini kalau tidak dirobah ya sulit. Karena untuk menyerang lawan itu tak cukup money tapi juga methoda.

SOA dan SAP itu kan sistem dan aplikasi. Coba perhatikan dalam sistem penerbangan. Mereka didukung oleh suatu sistem mulai ticketing, claim handling, service, grounding dll. Sistem itu begitu fleksibel dan hebatnya bisa dieksekusi oleh level karyawan tingkat bawah. Nah, mengapa mereka bisa dan kita tidak bisa? Harusnya sistem kita juga mengarah kesitu. Sistem seperti itu harus sudah menjadi kebutuhan.

Kalau masa depan TELKOM itu sebenarnya kemana?

Masa depan TELKOLM itu adalah Sinergi TELKOM Group. Artinya duit yang kita peroleh itu haruslah muter-muternya di TELKOM. System support (OBC) peranannya sangat strategis. Mis, dari PSTN ke Seluler dan sebaliknya. Jadi kalau kita tidak bisa mencari system support yang menggabungkan dua itu, maka omong kosong kita ke depan. Misalnya, bisa engga mem-billing semua panggilan PSTN ke TELKOMSEL dengan diberikan dicount 30%. Ini masih ngga bisa. Makanya kita harus membuat merger OBC TELKOM dengan OBC TELKOMSEL dan ini harus jadi. Ini adalah masalah yang sangat fundamental.

Bagaimana peran Infratel untuk Sukses Infusion 2008?

Sebenarnya itu kan level aplication. Bagi Infratel itu pekerjaan simple untuk mensupport OBC. Tinggal mengatakan butuh bandwidth berapa dan tujuannya kemana dan untuk apa, maka Infratel akan siapkan. Tapi OBC itu kan tidak hanya melulu persoalan billing dan customer care, tapi menyangkut juga sistem yang harus disediakan untuk nasional supporting. Nah ini yang perlu kita tahu visionnya kemana. Yang ternyata masih unconsolidated centric, yang ternyata masalah inipun masih belum tuntas. Karena itulah kami sarankan agar Infusion itu harus consoldated ke TELKOM Group. Jika tidak akan percuma kami siapkan.

Bagaimana untuk mengekspansi bisnis kita?

Saya setuju dengan statement mantan Dirut AR, bahwa ke depannya kita harus meretain dan mengexpand yang namanya keluarga TELKOM. Misalnya suami istri dengan tiga anak, maka harus mengguinakan produk TELKOM Group mulai dari TELKOM Vision bermutu, Flexi, Speedy, IPTV, pokoknya menggunakan produk TELKOM dan TELKOMSEL. Dan ini harus bisa dibuat satu billing atas nama kepala keluarganya. Jadi intinya kita harus bisa menyergap market community (family community).

Bagaimana untuk menggalang militansi? Bisakah menggunakan sistem credit point kepada karyawan?

Itu good idea. Untuk mewujudkan ini harus ada incubator. Dan incubatornya harus orang TELKOM sendiri. Orang TELKOM yang 27 ribu itu banyak. Ini penting sebagai prototype yang bisa menjadi virus luar biasa guna membentuk community pada small family lainnya. Apalagi Comunity ini sifatnya long time, bisa sampai sepuluh tahun ke depan trend-nya akan tetap seperti ini.

Communnity paling sederhana yang kini tengah menyerang kita adalah traffic antar operator yang transit melalui TELKOM sudah sangat kecil. Karena itu pertumbuhan interkoneksi saat ini sudah sangat menurun. Sebelumnya kita bisa menikmati sampai 30% kini tinggal 18%. Mengapa? Karena kompetitor kita berhasil memainkan community. Indosat bisa meraih call sesama Indosat. Begitupun yang terjadi dengan ESIA.. Demikian halnya dengan Fren dengan tarif Rp.7,- per detik ini telah membentuk community yang luar biasa. Perlu diketahui bahwa kini yang namanya Community Call itu sudah mencapai 60%. Dan yang terjadi saat ini di kita, traffic turun dan pendapatan interkoneksi turun

Apa sesungguhnya yang menjadi problem utama kita?

Problem utama TELKOM saat ini adalah persoalan spirit dan soliditas. Cobalah lupakan yang namanya problem cerai berai itu, masalah whistle blower, proccess decision yang bertele-tele atau quality decision yang tidak memadai. Ini problem yang harus kita selesaikan. Kita harus solid lagi. Problem kita paling serius selama dua atau tiga tahun terakhir ini adalah masalah procurement yang lambat dan bertele-tele. Kita menjadi kesulitan untuk melakukan eksekusi. Akibat kelambatan itu, tender bisa tertunda ke tahun berikutnya. Dikejar di tahun berikut problemnya anggaran yang belum masuk. Kita ini kan bukan suatu departemen yang tergantung pada APBN yang bisa dijalankan kalau anggaran turun. Kita ini kan badan usaha yang kompetitif, bukan lagi monopoli kaya dulu.

Rencana menjadi PT Indonesia Satelite?

Ya, kita tahu kebijakan TG-3010 bukanlah revenue tapi sebuah valuation. Valuation ini bisa diperoleh dari Organic dan Unorganic. Munculnya ide untuk membentuk PT. Indonesian Satelite adalah value creation dari unorganic. Kita ambil contoh jika Divisi Flexi di spin-off katakanlah jadi PT.CDMA, itu sudah dilirik orang atau sudah ada yang berani nawar US$.2 Milyar. Padahal kalau dihitung-hitung investasi untuk Div Flexi tak akan mencapai US$.600 juta. Jadi gain-nya langsung tiga kali lipat. Nah pikiran untuk men spin-off binis satelit trend-nya ke depan akan ditangani suatu operator tersendiri dimana operator itu hanya melakukan sewa untuk jangka waktu panjang. Nah, jika tend-nya demikian why not satelit kita itu dijadikan divisi sendiri yang focus kepada hulu dan hilir. Inilah idenya yang sekarang masih dalam proses. Demikian halnya dengan bisnis Internasional yang kini sudah dieksekusi dengan merubah PT. Aria West menjadi PT. TELKOM Indonesia Internasional. Ini sudah jadi.

Kalau semua unit di spin-off apa tidak sebaiknya Telkom menjadi holding?

Sebenarnya TELKOM itu sudah konglomerat. TELKOM bisa disejajarkan dengan groupnya ASTRA, GG, Liem Swie Liong, Eka Wijaya dll. Hanya saja kita ini kebetulan konglomerat by regulation. Jadi kalau kita sudah konglomerasi maka Holding atau Quasi Holding itu sudah mutlak kebutuhannya. Mengapa konglomerat by regulation? Karena dulu kalau ada operator yang akan berbisnis di bidang telekomunikasi harus lah bekerjasama dengan badan penyelenggara (UU No.3/89). Karena itu kita punya saham di berbagai perusahaan. Ada yang 20%, 30% dst. Demikian halnya dalam penempatan orang kita disana juga terserah saja.

Padahal kalau kita konglomerat sejati maka kita sudah seharusnya memberikan perhatian khusus. Misalnya kalau kita inves uang 20% di suatu usaha harus diperhatikan pertumbuhannya atau kenaikannya ke depan, sudah berapa kali lipat. Tapi kita tak melakukan monitoring seperti itu. Artinya, ya, dibiarkan saja.
Oleh karena itu sudah saatnya TELKOM saat ini memikirkan dirinya itu sebagai the big konglomerat. Dan lebih serius untuk itu dalam upaya mencari value creation dari portofolio.

Konsumsi untuk kebutuhan internal sampai seberapa besar?

Bisnis satelit ini memang cukup unik. Bisnis ini dibagi hulu dan hilir. Hulu jualan transponder dan hilirnya turunan dari produk satelit itu sendiri. Turunan satelit itu misalnya mau dijadikan Invisat IP, supporting ATM, Internet, Televison. Ini bukan lagi jualan transponder tetapi transponder plus aplication. Konsumsi untuk hulu ternyata sebagian besar masih dikonsumsi TELKOM Group yang mencapai 80%. Jadi kalau pun di spin-off, rasanya percuma juga karena porsi untuk luar TELKOM yang notabene untuk kepentingan bisnis satelit relatif masih kecil sekali. (MP-135/nas)

Kamis, 29 Januari 2009

Saya tidak suka ABS

Semua karyawan TELKOM harus memiliki persepsi yang sama mengenai transformasi dan reorganisasi perusahaan. Mempersamakan persepsi bahwa TELKOM harus berubah. Boleh jadi, transformasi dapat menimbulkan keresahan di internal organisasi. Namun semua pihak perlu menyadari, tranformasi ini dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik lagi di masa mendatang. Secara bisnis transformasi pun akan mampu untuk melakukan penetrasi pasar dengan lebih baik.

Kita tidak dapat berlama-lama mempertahankan paradigma asset based. Tuntutan pelanggan semakin beragam karena banyaknya pembanding (best practise) baik dari operator lokal maupun asing dan secara paralel pesaing juga menawarkan paket-paket pilihan yang sangat inovatif dan murah. Aspek teknologi juga telah banyak memberikan penyederhanaan proses bisnis dan ini adalah sekaligus peluang untuk kita menyederhanakan business process existing.

Selain itu kita mempunyai komitmen untuk tetap menjadi market leader, baik dalam skala nasional maupun regional. Untuk itu organisasai ini harus selalu adaptif terhadap perubahan tuntutan lingkungan.

Transformasi dan reorganisasi dimaksudkan untuk memastikan bahwa organisasi harus selalu mendukung objectives (leading infocom player in the region & customer centric) dan strategi perusahaan (4 Strategic Inisiatives).

Dari sisi internal bahwa transformasi dan reorganisasi juga dimaksudkan untuk melakukan perubahan terhadap struktur organisasi yang tidak fit untuk menjawab era kompetisi, memangkas birokrasi yang rumit dan menghambat, membangun pola pengembangan kompetensi SDM yang lebih baik dan membangun mekanisme yang memudahkan implementasi budaya perusahaan dalam operasional.

Yang perlu difahami bahwa transformasi ini bukanlah revolusioner, namun dilakukan secara evolusi. Jika melihat catatan perjalanan TELKOM sebelumnya, transformasi yang salah satunya dalam bentuk reorganisasi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 2003 lalu. Jadi, ini merupakan proses yang sudah direncanakan dan dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.

Mengingat persaingan semakin berjalan ketat, direksi mengharapkan agar proses langkah transformasi yang ditempuh setelah melihat perubahan kondisi pasar ini juga dapat dilakukan secara lebih cepat lagi. Diperlukan adanya akselerasi agar TELKOM tidak terlindas oleh perjalanan waktu. Jika dalam rencana awal diperkirakan baru akan selesai tahun 2008 mendatang, diharapkan TELKOM dapat melakukan akselerasi sehingga transformasi dapat selesai pada semester pertama tahun 2006 ini.

Efek transformasi dan reorganisasi ini diharapkan akan mampu memberi support positif bagi suksesnya perusahaan dalam memenangkan kompetisi. Pemenangan kompetisi tidak boleh sekadar pemanis bibir atau slogan semata, namun harus menjadi sebuah tekad/komitmen yang harus dibarengi dengan langkah2 nyata.

Tentang 1 + 1 = 3

”Saya bukan orang telekomunikasi tetapi orang perbankan. Namun saya akan belajar sungguh-sungguh tentang telekomunikasi. Untuk itu mohon saya dibantu,” demikian salah satu statemen Dirut TELKOM yang baru, Arwin Rasyid, saat Jumpa Pers seusai acara RUPST Tahun 2005 silam.Apa yang disampaikan putra kelahiran Roma, Italia (’57) itu merupakan langkah awal cukup simpatik. Setidaknya telah menunjukkan komitmen dan kesiapannya untuk memangku jabatan penting sebagai CEO salah satu BUMN terkemuka dan kebanggaan bangsa.

Kesan pertama cukup menggoda. Begitulah yang telah ditunjukkan lulusan MBA International Business dari Univerity of Hawaii USA (’82) ini. Penampilan yang keren dipadu dengan raut wajah yang terbilang handsome serta ketenangan dan kelugasannya dalam berbahasa telah menunjukkan kalau beliau memiliki kepribadian kuat sebagai seorang profesional. Profile seperti ini telah mengingatkan kita pada mantan Dirut, Kristiono.

Pernyataan, ”Saya bukan orang telekomunikasi,” telah menunjukkan kejujurannya bahwa dirinya bukanlah orang sempurna yang tahu tentang segala hal. Sinyal yang ingin beliau sampaikan sebenarnya ingin mengusung sebuah value bahwa dirinya, kita atau siapa pun juga harus terbuka alias transparan. Berbicara lah seperti apa adanya dan bukan ada apa-apanya.

Keinginan untuk belajar sungguh-sungguh tetap mengemuka. Seorang profesional sejati, siapa pun juga, memang dituntut untuk terus belajar dan belajar. Tak hanya terus belajar mendalami bidang yang tengah digelutinya, namun juga bidang lain yang terkait dengan profesinya. Apalagi jika masuk pada bidang baru yang notabene sangat berbeda karakter dan acuannya. Arwin Rasyid, penerima penghargaan Beta Sigma Award, USA ini tampaknya faham benar tentang bagaimana dirinya harus memposisikan diri.Mantan Dirut Bank Danamon (2000-2003) ini pun menyampaikan bahwa dirinya akan segera datang ke divre-divre untuk mempercepat pemahaman dan feeling tentang perusahaan ini.

Mengapa harus ke Divre-Divre? Tampaknya beliau mengerti benar bahwa peranan divre sebagai Delivery Channel merupakan mesin penghasil uang sebagai pemberi kontributor revenue perusahaan. Kegiatan-kegiatan operasional dan pelayanan memang banyak bertumpu disana.Oleh karena itu beliau ingin berkunjung kesana. Tak hanya untuk memahami seluk beluk bisnis InfoCom di berbagai tempat, namun juga ingin bersilaturahmi dan menyatu dengan seluruh jiwa jajarannya disana. Siapa tahu kehadirannya bisa menambah wawasannya tentang InfoCom sehingga menjadi lebih well informed seputar bisnis yang segera akan digarapnya. Atau siapa tahu bisa memperoleh sebuah inspirasi baru dalam mengembangkan strategi bisnisnya.

Namun yang lebih penting dari itu adalah berharap terjadinya penyatuan cipta, rasa dan karsa untuk sama-sama berkarya unggul.Sebagai mantan Wakil Dirut BNI (2003-2005), kita percaya bahwa beliau adalah seorang pebisnis professional dan handal di bidangnya. Hal itu telah ditunjukan dengan keberhasilannya membawa Bank Danamon dan BNI menjadi bank-bank terkemuka di tanah air. Jadi persoalan strategi dan kiat bisnis tampaknya tak perlu diragukan lagi pada beliau. Barangkali yang menjadi tantangan belau adalah bagaimana untuk memadukan strategi bisnis di perbankan ke strategi bisnis bidang telekomunikasi. Cara memadukan pun semoga tidak terlalu sulit. Sebab pada intinya memiliki tujuan sama, yakni:

Bagaimana memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya untuk meraih pendapatan sebesar-besarnya demi kepuasan stakeholders.Karena itulah beliau mengeluarkan sebuah rumusan bahwa satu ditambah satu bukan untuk dua tetapi untuk tiga. Artinya perpaduan dua strategi harus lah bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dari yang telah dicapai saat ini (tiga).Statemen berikutnya dari beliau adalah, ”Apa yang sudah berjalan baik tidak akan dirubah. Perubahan hanya akan dilakukan pada hal-hal yang krusial dan yang memang perlu.”

Statemen itu menujukkan sikap beliau yang jujur dan bisa menerima pendapat yang lain. Beliau sepertinya tak ingin memaksakan kehendaknya untuk merubah atau merombak total apa yang telah digariskan pendahulunya. Barangkali selama kebijakan itu rasional, proporsional dan berjalan pada rel yang benar serta memiliki prospek bagus, maka tak ada alasan untuk merubahnya. Namun apabila kebijakan itu rancu dan menimbulkan gejolak yang semestinya tidak perlu terjadi, maka barangkali beliau akan segera memberikan perhatian khusus dan pasti akan berupaya untuk merubahnya.

Saya tidak suka ABS

”Saya tidak suka ABS. Nyatakanlah dengan sebenarnya melalui komunikasi yang benar dan transparan,” tandas Dirut baru kita, Arwin Rasyid dihadapan Wartawan saat Jumpa Pers.
Kita maklum, betapa ABS (Asal Bapak Senang) sepertinya telah membudaya dan mendarah-daging di bumi Indonesia, bersamaan dengan mendarah-dagingnya kejahatan korupsi. Mengapa ABS terjadi terutama di kalangan birokrat? Tentu karena ada kelemahan atau kekurangan yang ingin disembunyikan. Para pelaku ABS adalah mereka para munafik yang disebabkan bersebrangannya antara kata dan perbuatannya. Bebedanya antara pikiran, hati dan tindakannya.

Dirut baru kita dengan tegas menyatakan ketidaksukaannya pada orang-orang semacam itu. Tentu saja, karena kehadiran mereka sama sekali tak menguntungkan perusahaan. Para pelaku ABS adalah mereka yang berupaya membela diri dan berlindung dari segala kekuarangan dan kelemahannya. Mereka adalah para penakut dan pengecut karena khawatir kariernya terancam atau harga dirinya runtuh.

Namun yang pasti mereka sesungguhnya telah melakukan pengkhianatan terhadap amanah yang diberikan padanya. Sesuatu yang buruk kemudian dilaporkan baik akan berdampak menjadi lebih buruk lagi. Ketimbang keburukan yang disampaikan apa adanya. Sebab keburukan atau kekurangan yang seharusnya mendapatkan solusi menjadi tidak tampak karena dibentengi dinding ABS. Kiranya peringatan Dirut akan menyadarkan kita untuk senantiasa membuat laporan yang benar, jujur dan apa adanya. Tentu saja termasuk membuat laporan Nilai Kinerja Unit (NKU) yang ditengarai masih ada yang bermain rekayasa.Selain itu alumnus Ekonomi UI (’80) ini pun mengatakan Saya akan melakukan knowledge sharing antara kekuatan saya di perbankan dengan jajaran telekomunikasi untuk mendapatkan sinergi optimal. Sikap Dirut kita itu patut mendapat sambutan hangat.

Setiap profesional memiliki keahlian dan strategi bisnis masing-masing. Jika keahlian yang dimiliki masing-masing itu kemudian di-share dan dipadukan secara sinergi maka boleh dipastikan akan menjadi sebuah kekuatan dahsyat. ”Saya komit untuk meningkatkan kualitas kerjasama dengan seluruh BOD dan BOC,” demikian statement Arwin Rasyid berikutnya. Kita mafhum, kerjasama solid dengan BOD dan BOC sangat urgent. Kerjasama solid ini tak hanya mencerminkan profesionalisme manajemen, namun juga menunjukkan komitmennya untuk menggapai serangkaian obsesi sesuai visi dan misi perusahaan.

Kerjasama solid sangat dibutuhkan terutama dalam menggariskan sebuah kebijakan baru. Sebuah kebijakan baru harus menggema dalam satu suara, satu persepsi dan satu bahasa. Jangan sampai suara-suara dan bahasa itu berlainan yang bisa membingungkan public external.

Jaga kualitas komunikasi

”Saya akan open dan transparan dan tetap menjaga kualitas komunikasi,” begitu kata mantan Wakil Preskom Bank Universal (1992-2002) ini.

Apa yang disampaikan, Aswin Rasyid, itu menarik untuk kita kaji. Secara teoritis komunikasi yang baik dan efektif adalah komunikasi dimana pesan (message) yang disampaikan si pemberi pesan (communicator) harus dapat diterima dengan baik atau dimengerti oleh si penerima pesan (communican).

Karena pesan (berupa lambang-lambang bahasa) itu harus diterima dengan baik oleh komunikan maka komunikasi itu haruslah dalam bahasa yang mudah dimengerti dan berlangsung secara timbal balik (two way traffic of communication). Agar tidak menimbulkan perspsi yang berbeda, maka komunikas pun harus berlangsung secara open dan transparan.

Jadi apa yang disampaikan, penerima penghargaan Fadil Honoris IBI, itu sesungguhnya telah menyentuh inti terdalam dari bidang Ilmu Komunikasi. Harapan beliau untuk menjaga kualitas komunikasi, maka itu pun berarti bahwa intensitasnya pun harus senantiasa terjaga dengan baik. Jika kualitas komunikasi telah terjaga dengan baik, maka seperti kata seorang pakar komunikasi, Harold Lasswell, ”di dunia ini tak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan melalui komunikasi yang baik.”
Statement berikutnya beliau, ”mari kita buat strong team untuk sukses dan majunya perusahaan ini.”
Ada pepatah yang mengatakan “We cannot become a Superman, but We can build s Super Team.” Pepatah ini seperrtinya mengena dengan apa yang diharapkan dirut kita. Tim yang kuat atau super memang sangat dibutuhkan. Terutama di era kompetisi saat ini.

Perusahaan kita, TELKOM, tengah hidup di era turbulensi. Era ini tak hanya ditengarai membuat perusahaan menjadi gonjang-ganjing, namun juga penuh ketidakpastian. Sistem regulasi di negeri kita acapkali berjalan terseok-seok dan tidak konsisten. Iklim investasi masih belum kondusif akibat tidak adanya kepastian hukum dan jaminan keamanan. Bahkan tekanan dan pengaruh asing seringkali membuat regulator keliru arah dan salah kaprah dalam menggariskan kebijakan. Dampaknya boleh diterka bagi mikro perusahaan menjadi semakin berat dan penuh tantangan.

Di sisi lain kita pun faham betapa harapan dan keinginan stakeholder kian besar. Tuntutan mereka pada perusahaan telah berkembang menjadi sedemikian banyak, keras, cepat dan dinamis. Jika kita tak mampu atau tak sanggup memenuhi harapannya, maka bukan mustahil akan semakin menekan perusahaan untuk bertindak di luar batas rasio. Misalnya tuntutan untuk melakukan efisiensi yang membabi buta atau pengurangan pegawai yang dilakukan secara radikal (rasionalisasi). Sebaliknya faktor produktivitas didewa-dewakan menjadi semacam berhala. Itu bisa saja terjadi pada perusahaan kita. Oleh karena itu melalui pembentukan super team diharapkan akan bisa menjawab serangkaian tantangan itu.

”SEKAR adalah elemen perusahaan yang penting dan harus kita berikan atensi yang maksimal,” demikian pernyataan dirut berikutnya. Kita tak bisa memungkiri kebenaran pernyataan beliau. Kehadiran SEKAR sebagai mitra Manajemen perlu senantisa dijadikan semacam sparing partner, Tak hanya perlunya secara bersama-sama membela dan memperjuangkan hak perusahaan. Namun juga dalam meluncurkan sebuah kebijakan baru, maka amat bijak bila SEKAR turut berkiprah memberikan pertimbangan seperlunya dalam batasan-batasan yang proporsional.

Pentingnya peran Sekar

Dengan demikian antara SEKAR dan Manajemen semestinya tak ada jurang yang justru bisa menimbulkan gontok-gontokan di dalam. Menjadi tidak lucu apabila satu pihak berjuang mati-matian namun pihak lain duduk bersiul sambil ongkang-ongkang kaki. SEKAR dan Manajemen harus mampu berdiri tegak bersama, berjuang bersama dan menikmati kesejahteraan bersama.Akhirnya, dirut kita pun menyampaikan, ”Saya akan benar-benar membina hubungan baik dengan pers.”

Apa yang disampaikan beliau perlu mendapat dukungan semua pihak, terutama bagi seluruh insan PR TELKOM. Sebab kehadiran pers bagi perusahaan merupakan perpanjangan lidah perusahaan. Karena pers, informasi bisa sampai kepada masyarakat pemakai jasa telekomunikasi, karena kehadiran pers citra perusahaan dapat terbentuk seperti yang diharapkan, bahkan karena peranan pers harga saham perusahaan turut dipertaruhkan.

Oleh karena itu, keinginan beliau membina hubungan baik dengan pers perlu mendapat acungan jempol. Namun yang perlu mendapat perhatian barangkali masalah perlakuannya. Jangan sampai ada perbedaan perlakuan antara media kecil dan besar. Keadilan dalam memberikan pelayanan informasi harus tetap ditegakan. Karena pada hakekatnya seluruh pers, baik yang kecil maupun besar memiliki segmen pembacanya sendiri-sendiri sebagaimana beragamnya segmen pelanggan dan pemakai jasa telekomunikasi.

Belum tentu sebuah informasi efektif diberitakan di sebuah media besar dan belum tentu tidak efektif dimuat pada media pers yang kecil. Media besar atau kecil sesunggunya memilki efektivitas yang sama, karena yang terpenting adalah daya sebar informasinya. Semakin luas dan menyebar informasi itu tentu saja akan semakin baik, karena semakin besar peluang untuk dibaca kastamer dan masyarakat pemakai jasa telekomunikasi. Keadilan atau perlakuaan sama terhadap pers, sepertinya yang tengah dinantikan kalangan insan pers saat ini. (* nas).

Rabu, 28 Januari 2009

Human Error dan Harga Manusia

Hampir setiap saat awan kelabu bergayut di persada nusantara. Belum tuntas soal lumpur Sidoardjo, kembali beberapa kapal laut tenggelam, kebakaran depo penyimpan premium di Plumpang, jembatan rubuh dan berbagai kecelakaan lain di darat, laut dan udara. Pertanda apa ini? Bencana demi bencana begitu intens menghimpit negeri ini.

Tentu saja akan menjadi debatebel jika rangkaian musibah ini merupakan bagian dari karma kita. Akan menjadi polemik jika kisah malapetaka ini karena dosa para pemimpin kita. Jadi, ada baiknya bagi kita untuk tidak menghubungkan tragedi negeri ini dengan hal-hal yang berbau mistik apalagi menista. Hendaknya musibah ini dapat disikapi dengan cara-cara yang lebih tepat sebagai pelajaran bagi kita. Misalnya, dapat kita jadikan sebagai shock therapy agar kita tetap lebih ngati-ati lan waspodo. Atau dalam bahasa Sunda: Sing nyaah kanu jadi diri.

Human error
Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan terbesar adalah faktor manusia (human error). Tak hanya akibat kurangnya kesadaran manajemen (Operator), tapi juga pekerjanya sendiri yang seringkali tidak disiplin melaksanakan berbagai peraturan atau kurang patuhnya terhadap peringatan bahaya alam. Tak jarang diantara pekerja yang acuh tak acuh melaksakan petunjuk kerja dan memenuhi syarat keselamatan dan kesehatan. Pemakaian helm, safety belt, tali gantung pengaman, masker, kaos tangan, malah dirasakan sebagai pengganggu kenyamanan.

Kita diingatkan kembali terhadap kasus kecelakaan pabrik pupuk Union Carbide di Bhopal India yang merenggut sekitar 2.600 nyawa manusia dan belasan ribu menderita kebutaan. Kita pun harus belajar dari keganasan kecelakaan kerja tenaga listrik nuklir Chernobyl di Uni Sovyet dan Jepang yang juga meminta korban jiwa tak sedikit serta merusak lingkungan alam dalam radius ratusan kilometer. 

Kita masih dihadapkan pada musibah Semburan Lumpur Lapindo yang diprediksi bisa berakibat mengerikan. Atau kecelakaan sehari-hari yang terjadi begitu dekat dengan kita. Misalnya, kecelakaan tabrakan kereta api yang berulang setiap waktu. Atau beberapa kali berita jatuhnya pekerja bangunan dari tingkat tinggi. Kasus tabrakan sesama mobil sampai pada mobil terseret di lintasan pintu kereta api dengan korban bergelimpangan. Dan yang tengah kita hadapi tenggelamnya sejumlah kapal laut, pesawat jatuh, serta kasus-kasus peledakan dan kebakaran.Mengapa kecelakaan-kecelakaan itu harus terjadi? Menurut hasil penelitian, bahwa hampir 90% terjadinya kecelakaan itu sebagai akibat faktor kecerobohan dan kelalaian. 

Istilah kerennya karena “human error”.Mengangkat “harga” manusia
Apabila kita bertanya pada seseorang, apa yang diharapkan dari kehidupan ini? Jawaban paling top, pasti, ingin mendapatkan kebahagiaan, kelezatan dan kenikmatan hidup di dunia dan akhirat. Ingin beroleh kehidupan tenang, tentram, bahagia, sejahtera, serta terjamin keselamatan dan kesehatannya. Singkat kata, ingin keselamatan di dunia dan akhirat dalam naungan RidoTuhan Yang Maha Kuasa.

Harapan untuk mencapai tujuan hidup itu, tentu berlaku untuk semua orang. Intinya kita mengharapkan agar terhindar dari segala macam bentuk kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Baik di perjalanan saat pergi dan pulang maupun di lingkungan kerjanya saat bekerja. Kemudian ingin berkumpul enjoy bersama keluarga.

Kesamaan harapan
Antara Manajemen dengan Pekerja (karyawan/pegawai/buruh) sesungguhnya mempunyai harapan sama. Terhindar dari segala bentuk penyakit dan kecelakaan kerja. Jika ada kesamaan harapan seperti itu, lantas mengapa masing-masing pihak tidak berupaya ke arah “zero accident” alias tidak terjadinya kecelakaan sepanjang tahun? Mengapa masih saja sering terjadi kasus-kasus kecelakaan? Mengapa nyawa dan harta harus dipertaruhkan lantaran “membangkang” terhadap norma keselamatan.

Hingga kini harus diakui, bahwa kasus-kasus kecelakaan di Indonesia masih sering terjadi setiap tahun dalam jumlah ribuan per tahun. Menurut catatan Departemen Kesehatan angka kecelakaan kerja meningkat dari tahun ke tahun. Pada periode 2000 –2005 terjadi 412.652 kecelakaan kerja. Kalau dirata-ratakan lebih dari delapan puluh ribuan kecelakaan kerja per tahun. Sedangkan tahun 20 sampai triwulan III, ada 66.367 kasus kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 4.142 orang.

Menurut penelitian Departemen Kesehatan, pada tahun 2000, prevalensi anemia pada pekerja perempuan mencapai 32 – 35%. Tentu masih banyak kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang tidak tercatat, terutama pada perusahaan-perusahaan di sektor informal, yang pada umumnya banyak terjadi karena resiko pekerjaan. Misalnya terhadap penyakit mata, kulit dan paru-paru.

Jadi dapat kita fahami bila pemerintah wanti-wantri memberikan peringatan keras pada seluruh operator agar mematuhi norma keselamatan serta waspada terhadap faktor alam. Sebab bagaimana pun juga peristiwa menggiriskan itu sangat terkait dengan “harga” manusia.

Gencarkan kampanye
Dengan jumlah kematian dalam tiga triwulan tahun ini mencapai 4.142 orang, memang semakin mencemaskan. Yang namanya nyawa manusia, mas, mbak, dengan tidak menyisihkan faktor nasib dan takdir, maka sungguh sangat disesalkan jika harus tewas, sebagai “tumbal” akibat kecerobohan dan kelalaian manusianya.

Adanya sikap enggan untuk berpikir sejenak terhadap keselamatan diri, pada gilirannya, jadilah tindak pelanggaran yang disadari. Jika sudah terjadi kecelakaan, maka biasanya yang dijadikan kambing hitam paling efektif adalah faktor nasib dan takdir.

Oleh karena itu Kampanye Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) mesti terus menerus diupayakan, terutama guna membantu terciptanya kondisi masyarakat dan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan sejahtera. Terbebas dari kecelakaan termasuk kebakaran, peledakan, penyakit akibat kerja serta pencemaran lingkungan.

Melalui kampanye K-3, juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, pegertian dan penghayatan masyarakat terhadap pentingnya K-3. Pada gilirannya diharapkan dapat lebih meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan yang berwawasan K-3.

Catatan akhir
Marilah berbagai musibah yang kita hadapi ini kita dijadikan semacam shock therapy bagi kita. Artinya jangan dilihat sebagai masalah sepele yang harus dilihat dengan sebelah mata. Termasuk pelajaran pentingnya akurasi informasi dalam menyampaikan berita musibah. Miss Communication akan berakibat fatal bagi upaya penyelamatan serta berdampak psikologis buruk bagi keluarga korban.

Peristiwa yang bernuansakan musibah itu sungguh tak patut ditanggapi dengan sikap dingin-dingin saja alias acuh tak acuh. Kasus ini adalah pelajaran berharga bagi kita. Jika perusahaan (Manajemen) telah menyediakan sarana pengaman dan petunjuk keselamatan, maka tidak sepantasnya untuk diacuhkan atau dilanggar.

Namun demikian halnya bagi Manajemen, maka menjadi tidak lucu lagi jika adanya pandangan, bahwa pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) itu hanya akan menambah beban operasional usaha saja.

Demi mengangkat martabat dan upaya memanusiakan manusia, rasanya Manajemen tak perlu lagi banyak berhitung dan utak-atik soal untung rugi, sehingga terkesan begitu pelit, pahit, cap jahe, buntut kasiran. Punten! (*n4N4s)

Jumat, 23 Januari 2009

Pertemuan Serikat Buruh Dunia

Pertemuan Organisasi perserikatan buruh tingkat dunia itu terjadi di China. Saat itu ada empat duta Sekar dunia yang sedang berkumpul di Meja Bundar menikmati kacang dan ubi rebus oleh-oleh dari Indonesia. 

Mereka datang dari Amerika, China, Malaysia dan Indonesia. Sedang asyik-asyiknya ngobrol tiba-tiba si orang Amerika itu, maaf, kentut. Karuan saja yang lain pada melihat padanya.

Sekar Amrik: “Auw Sorry..I'am sorry meee….nnnn...”

(Kemudian asyik ngobrol lagi dan kini giliran orang China yang kentut, spontan yang lain pada nengok.)

Sekar China: ”Haiyaa...Solly..Solly...chingcai lah ochey.....”

(Tak berapa lama giliran orang Malaysia yang kentut, seperti biasa yang lain pada melirik)
.
Sekar Malaysia: ”Ah..maaf...soryy, Saya tak sengaje......”

(Akhirnya giliran orang Indonesia yang kentut, yang lain pada melotot karena mungkin baunya rada pedas)

Sekar Indonesia: (mengingkari) "Not me...not me...sweaaar...not me....(sambil mengulurkan tangan ngajak bersumpah salaman).
===========

(Pesan moral: Seperti kata Mochtar Lubis dalam buku "Manusia Indoneisa" bahwa salah satu ciri manusia Indonesia itu adalah munafik. Takut direndahkan dan disalahkan menjadikan kebohongan telah menyatu dalam budaya manusia Indonesia. Wajar, jika Indonesia masih tetap memegang rekor tertinggi di Asia sebagai bangsa terkorup).===N425==

Wajar saja dia kan petinju



Seorang Suster perawat mengadu kepada dokter Dedi ahli bedah otak yang akan mengoperasi kepala Si Udin Pitak seorang petinju yang KO dan luka parah akibat dihajar lawannya.

Perawat: "Dokter,saya angkat tangan deh pada kelakuan si Udin Pitak itu!"

Dokter : "Lho, memangnya kena apa?"

Perawat: "Coba dokter bayangin, tiap dia mau dibius, pada hitungan ke-8 pasti dia bangkit untuk duduk tegak, malah dia berusaha bangun untuk berdiri dengan tangan terkepal."

Dokter : "Ya iya lah Sus wajar saja toch...dia kan seorang petinju...."

Perawat: "Huuh pantesan…Menyebalkan sekali..."

(Pesan moral: Seorang pelayan apapun profesinya membutuhkan kesabaran dalam menghadapi setiap kastamer. Karakter setiap kastamer beraneka ragam dan apapun reaksi darinya harus dapat dimaklumi dan menerimanya dengan lapang dada.)
===N425===

Miangas...Oh...Miangas


Miangas Oh, Miangas!”. Kata itu terucap ketika kami menginjakkan kaki di bumi pulau Miangas. Sebuah pulau kecil, mungil, terpencil dan tertinggal, nun, di ujung paling utara gugusan kepulauan Sulawesi. Sebuah pulau yang terlihat dari jauh mirip kuburan (makam) itu berbatasan langsung dengan Pulau Mindanao, Filipina.

Ah, bagaimana cerita awalnya sehingga orang mau datang dan berkembang biak di pulau ini? Ketika pertanyaan itu disampaikan kepada Mangkubumi (Pemangku/Pemimpin Adat Miangas), terlontar jawaban: Ada dua kemungkinan. Pertama, karena orang itu sudah putus asa. Dan kedua, orang itu jelas sudah sinting!

Ganasnya alam
Miangas Oh Miangas, pulau yang mempunyai luas 3,15 km2 atau sekitar 210 ha itu rupanya menyimpan sejumlah nestapa penduduknya. Tak hanya lantaran ganasnya lautan yang acapkali didera badai dan gelombang mengerikan. Miangas juga memiliki keterbatasan sumberdaya alam. Hanya kopra dan sedikit hasil laut yang menjadi andalan guna menyokong hidup penduduknya. Berbagai kebutuhan sekitar 700 orang warganya masih sangat bergantung dari luar.

Dari luas wilayah itu tak semua menjadi lahan produktif. Lahan perkebunan ada sekitar 115 ha, daerah rawa 44 ha, padang rumput 20 ha, hutan lindung 22 ha dan wilayah pemukiman hanya 9 ha. Sebagian penduduknya adalah petani kelapa, nelayan dan tukang. Angka pengangguran mencapai 10%. Atau sekitar 70 orang tidak memiliki mata pencaharian tetap.

Fasilitas kesejahteraan di pulau ini boleh dibilang lumayan. Sudah ada sekolah tingkat SD, SLTP dan SMK walau dengan kondisi masih sederhana. Ada pula Puskesmas Pembantu dan dua gereja. Listrik menyala selama 8 jam dari pkl 17.30 s/d 01.30 dengan menggunakan mesin diesel (genset). Telah dibangun juga berbagai kantor penunjang pelayanan lintas batas (Border Crossing Service, BCS) Indonesia-Filipina. Disamping itu Indonesia juga telah membangun kantor Koramil, Polsek, Bea-Cukai, Syahbandar & Navigasi, Pos Imigrasi, PLN, dan Kantor Camat, serta Pos TNI AL dan Pos TNI AD.

Matinya fastel
Namun apalah artinya berbagai infrastruktur dan perkantoran itu dibangun disana tanpa tersedianya fasilitias telekomunikasi. Derita Miangas yang dalam bahasa Talaud berarti Menangis itu menjadi lengkap ketika fasilitas telekomunikasi yang dibangun tahun 2003, sejak pertengahan 2006 silam mati total. Miangas terbungkam karena tak mampu berkomunikasi dengan dunia luar. Miangas menangis karena semakin terisolir, terpisahkan dan tersisih dari induknya.

Keterisoliran Miangas dari dunia luar juga disebabkan terbatasnya kapal laut yang merapat ke dermaga. Kapal Motor Sangiang milik PT. PELNI hanya merapat ke dermaga dua minggu sekali. Itupun jika kondisi laut bersahabat. Jika tidak bersahabat jangan harap ada kapal yang mencium dermaga. Konon, pernah terjadi selama tiga bulan kapal tak ada yang singgah. Akibatnya sebagian besar warga Miangas menangis, merintih, berpegang perut, kelaparan.

Satu-satunya kapal milik pemerintah, KM Sangiang, bagai tak punya nyali untuk singgah di dermaga. Ia lebih suka membatasi perjalanannya sampai pulau Karatung Ibukota kecamatan Nanusa saja. Padahal dari pulau Karatung ke Miangas masih membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam lagi. Alasan mereka, karena lautnya sadis sementara jumlah penumpangnya yang tinggal beberapa orang saja.

Beruntung ada kapal perintis yang teruji loyalitasnya. Sebut saja KMP Meliku Nusa yang berani merapat seminggu sekali. Hanya saja kapal ini lebih gemar bersantai-santai ria dan berputar-putar dari pulau ke pulau di gugusan Sanger Talaud. Sehingga daya tempuh dari Miangas ke Bitung saja bisa mencapai enam hari enam malam. Padahal jika dengan KM Sangiang cukup dua hari dua malam saja.

Tim Sekar Merecovery
Rusaknya fastel Miangas sejak satu setengah tahun terakhir mewajibkan SEKAR TELKOM memperbaikinya. Maka dibentuklah Tim-7 Recovery Fastel Miangas, terdiri dari: Ferdi Rosman Feizal (Bid Usaha DPP Sekar/Ketua Tim), Agus Siswanto (Kabid Usaha DPW IV), Nana Suryana (Bid HAL/Ketua DPD Co), Erick Wiliam Peilouw (JM Airmadidi/Kabid KOSAD DPD Manado), Arnold Moot (JM Kancatel Tahuna), Samuel Maneking (Mitra Catel Tahuna/Koordinator Opsar), dan Mayor CHB Gigih Soegijono (Perwira Perhubungan Wilayah Komando Resort Militer 131/Santiago, Manado).

Tim-7 berangkat dari Bitung pada Jumat (25/4) dengan membawa peralatan dan perbekalan, antara lain 12 buah accu, PBX, kabel-kabel dan alat kerja serta perbekalan makanan. Tim berangkat pkl 21.00 dengan KM Sangiang dan sampai di Miangas pada Minggu (27/4).

Sesampainya di Miangas, benar saja, kondisi perangkat fastel rusak parah. PBX STOrman 864 rusak total, panel solar sel ada yang pecah, besi-besi penyangga solar sel dimakan karat, battery lemah (soak), inverter dan automatic sensor AC serta battery charger rusak.
Proses recovery memakan waktu seminggu. Antara lain dengan mengganti battery dengan yang baru, PBX dan Inverter diganti baru; Memindahkan solar sel dan dish/parabola (untuk menghindari karat) yang semula di halaman koramil pinggir laut ke tempat baru di rumah Apitalau (Kepala Desa Miangas); Serta membangun kembali Kamar Bicara Umum (KBU) yang oleh Apitalau sudah dijadikan lemari pakaian.

Tampilnya Sekar
Tampilnya Sekar Telkom lebih didasarkan pada hasil kerjasama dengan KODAM VII Wirabuana, dimana Sekar TELKOM turut berpartisipasi dalam rangka mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terutama dari nakalnya negara-negara tetangga yang suka mengklaim beberapa pulau yang menjadi wilayah teritorial Indonesia masuk dalam wilayahnya dan menjadi miliknya.

Tentu saja partisipasi TELKOM c.q. SEKAR itu sesuai kapasitasnya sebagai penyedia jasa telekomunikasi guna membuka dan memberikan akselerasi komunikasi timbal balik bagi pelaku-pelaku ekonomi dari luar dan dari dalam pulau Miangas.

Telkomsel hadir di Miangas
Pulau Miangas sudah pasti tidak mendapat perhatian operator-operator telekomunikasi lain negeri ini. Bahkan dilirik pun tidak. Namun TELKOM tersentuh untuk menyediakan fastel. Maka sejak tahun 2003 telah beroperasi fastel Miangas walaupun masih terbatas berupa WARTEL VSAT (Very Small Aparture Terminal) yang dikelola oleh Aparat Desa dengan dua Line atau dua Kamar Bicara Umum (KBU). Waktu itu pendanaan diperoleh dari dana USO semasa Pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Pelanggan pun mulai digalang yang hingga tahun 2006 mencapai 22 pelanggan. 18 diantaranya pelanggan instansi. Sisanya perorangan.

Kini Telkomsel juga turut hadir di Miangas dengan memasang Mini BTS-nya. Teknologi yang digunakan adalah Solar Power System (SPS) dengan System APB (automatic power back up). Coverage area hanya sekitar 100 meter. Bagi Telkom, hadirnya GSM di Miangas sangat menggembirakan. Fastel Miangas kini diserahkan ke Telkomsel. Dari 22 pelanggan Telkom diputuskan untuk dicabut semua (karena kebetulan tak satupun yang bayar rekening tagihan). Sebagai gantinya mereka hanya diberikan akses untuk lokal setempat saja sebagai alat koordinasi. 

Sedangkan pilihan bertelepon, selain melalui GSM juga melalui Wartel Vsat yang menyediakan satu KBU di rumah Apitalau dengan fasilitas tambahan incoming only yang khusus digunakan oleh Pos TNI AD untuk Koordinasi Keamanan Perbatasan Negara..

Latar Belakang kehadiran SEKAR
Pada pertengahan tahun 2005 Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Arief Budi Sampurno, sepulang menghadiri resepsi pernikahan Putri Bapak Presiden RI di Istana Bogor, mengajak SEKAR (melalui DPW IV) untuk membahas penyediaan fasilitas telekomunikasi di Pulau Miangas. Alasannya karena keberadaan Miangas sangat strategis yang berada dalam Wilayah Perbatasan dan disinyalir dijadikan jalur keluar dan masuknya terorisme dari Philipina. Selain itu Miangas merupakan jalur penyelundupan senjata dan narkoba serta wilayah pencurian Ikan oleh Kapal-kapal asing diperairan Laut Sulawesi.

SEKAR menyambut baik dan antusias ide Pangdam VII/Wirabuana itu dengan memberikan gambaran Fastel yang akan dibangun serta biaya investasi yang relatif murah. Konfigurasi Network kemudian didesain mulai dari Switch Hub Makassar-Panakukang, Dish, Satelit hingga turun ke Dish di Pulau Miangas yang terhubung dengan modem VSAT, PBX dan Jaringan Akses ke Pelanggan serta Cordless untuk Kapal Perang (KRI).

Model Fastel Perbatasan
Konfigurasi dan Instalasi Catudaya sentral telepon Miangas menggunakan solar cell, dimulai dari pengisian solar cell ke Battery melalui Inverter yang dilengkapi dengan BCR (Battery Control Regulator) dan Pengubah aliran listrik DC menjadi AC melalui Inverter kapasitas 500 Watt, serta melalui sistem otomatis pengalihan catuan menggunakan sensor AC dan cadangan energi dari UPS (Uninterruptable Power Supply).

Informasi data demografi serta sarana dan prasarana yang disampaikan Pangdam VII/Wirabuana, khususnya ketersediaan catuan listrik PLN yang terbatas dengan mempertimbangkan konsumsi daya listrik dari CPU Komputer, monitor, printer yang cukup besar, membuat disain konfigurasi Network harus diganti dengan teknologi yang sederhana, hemat energi dan ditambah dengan Solar System.

Model Fastel Perbatasan dijadikan pilihan dengan mempertimbangkan: Solar System Mengurangi ketergantungan catuan listrik PLN khususnya pada Siang Hari dan setelah Catuan PLN dimatikan pada Jam 01.30, sehingga Fastel dapat beroperasi penuh selama 24 Jam.

Menggunakan PBX STOrman 864 disamping hemat konsumsi energi Listrik, juga dapat menjadi pilihan untuk menanggulangi keterbatasan SDM yang akan mengelola Fastel, dengan teknologi yang sederhana dan user frendly dan tanpa bantuan komputer untuk program-program selanjutnya, termasuk Cetak Tagihan, Buka tutup isolir Pelanggan, setting Waktu dll hanya dilakukan dari pesawat telepon Operator di Sentral Telepon.

Disain konfigurasi pada awalnya didesain dengan mendapat dukungan penuh dari: Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk penyediaan solar system dengan SYNA Inverter (I); PT. SYNA TEKNIKA untuk penyediaan solar system dengan SYNA Inverter (II); PT. LEN Industri Dalam penyediaan Panel Surya; PT. Elektrindo Daya Pakarnusa – Bandung dalam penyediaan Alat Sensor AC, UPS dan Battery Charger; PT. Quasar Cipta Mandiri dalam penyediaan Sentral PBX type STOrman; Serta Varacom Jaya Mandiri – Bandung dalam penyediaan alat-alat Telekomunikasi. 

Kini konfigurasi dan aplikasi teknologi tersebut sudah dapat dilakukan secara mandiri oleh Tim Sekar. Tim Sekar pun telah siap untuk membuka keterisoliran fastel untuk pulau-pulau terpencil lainnya. (na2s/ferdi).

Jabatan adalah amanah

Jabatan adalah amanah. Ya, ungkapan ini sering kita dengar, hingga nyaris terdengar klise. Tapi ketika dikatakan "Jabatan adalah Musibah". Maka orang pun akan mencibir: "Musibah dari Hongkong," katanya. Padahal bagi orang yang faham mengenai hakikat musibah, benar lah adanya kalau jabatan itu adalah amanah yang juga adalah musibah. Sehingga mengharuskan pemilik jabatan itu lebih bersikap "ngati-ati lan waspodo."

Pada umumnya amanah diartikan secara sempit sebagai titipan barang atau ucapan. Padahal Amanah memiliki dimensi pengertian luas sehingga lebih identik dengan sebuah kejujuran.

Namun hakikat amanah di sisi Allah SWT lebih luas, berat dan dalam. Di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Anas bin Malik: Rasulullah berkata, "Tiada iman bagi orang yang tiada amanah dan tiada agama bagi orang yang tidak menepati janji."

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Aisyah: Rasulullah saw bersabda:
"Bahwa sesungguhnya Allah SWT menggemari mereka yang membuat sesuatu pekerjaannya dilakukannya dengan jujur dan cermat".

Rasulullah menjelaskan bahwa seseorang yang sangat berhati-hati dan teliti menjalankan tugas dan kewajibannya dengan memastikan bahwa pekerjaannya itu tidak bertentangan dengan kehendak Allah dan dia melaksanakannya dengan sempurna dan tanggung jawab serta hasil kerjanya mendatangkan banyak manfaat, maka orang ini akan dikasihi Allah. Dia mendapat kasih Allah karena sifat amanah dan rasa tanggungjawabnya yang begitu terpatri di dalam hatinya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud Rasulullah bersabda:
"Seseorang yang kita telah lantik untuk menjalankan sesuatu tugas dan kita telah tentukan upahnya sekali, sekiranya dia mengambil sebarang keuntungan selepas itu, maka dia adalah penipu."

Bahkan Allah berfirman di dalam surah Ali-Imran ayat 161:

"...... Dan sesiapa yang berkhianat (menggelapkan sesuatu) ia akan membawa bersamanya pada hari kiamat nanti sesuatu yang dikhianatinya itu, kemudian tiap-tiap seorang akan disempurnakan (balasan bagi) apa yang telah diusahakannya, sedang mereka tidak akan dikurangkan sedikitpun (balasannya)".

Jadi tak ada salahnya, jika kita lebih hati-hati dalam mengemban amanah jabatan. Karena ternyata tanggungjawabnya begitu berat. Tak hanya kepada perusahaan dimana kita menjabat, namun juga pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa...

Kalau demikian adanya, kini benarlah kalau memegang suatu jabatan itu pada hakekatnya adalah tengah menerima sebuah musibah. Resiko dan tanggung jawabnya begitu sangat riskan...

==N425==

Kamis, 22 Januari 2009

Nyesel tanya ke si abud dan cecep


Terjadi obrolan santai alias asal cuap-cuap tiga pengurus SEKAR yang kebetulan dari tiga suku berbeda yaitu Mas Wongso (MW), Kang Cecep (KC) dan Abud.

Mas Wongso: "Nuwun sewu Kang, boleh tanya karo sampeyan?"

Kang CeTebalcep: "Oh, mangga silakan atuh mas, mau nanya opo kitu?"

Mas Wongso : "Apa benar orang sunda itu katanya tidak bisa mengatakan dengan benar yang ada huruf "F" nya?"

Kang Cecep : "Ah, tidak betul itu. Tak ada kesulitan kok bagi orang sunda untuk mengatakannya. Itu pitnah. Tidak relepan dan signipikan. tuduhan itu tidak positip dan tidak epektip. Nah, Kalau Si Abud bener tuh ga bisa ngucapin hurup yang ada "P" nya."

Mas Wongso : "Bener bud kamu ga bisa ngucapan huruf "P"???"

Abud: Itu baru fitnah. Ente itu terlalu merendahkan Ane. fercuma Ane sudah lama tinggal di Indonesia. Ente fikir Ane ini siafa. Kalau kedengaran Baba Ane, ente semua bisa dilemfar fake kerangjang samfah. Haraf ente jaga ferkataan ente ya..."

Mas Wongso : (Dalam hati: kalau begini jadinya nyeseel deh gua tanya2...).

(Pesan moral: Latar belakang budaya seseorang yang telah melekat begitu kuat sejak lahir teramat sulit untuk disirnakan begitu saja. Kita harus dapat memakluminya selama substansinya tidak menyimpang.)
===N425===

Uji Nyali Fear Factor Calon Anggota Sekar


Sebagai Anggota Pengurus Baru SEKAR maka diharuskan menjalani masa orientasi atau masa pengenalan adaptasi dengan lingkungan Sekar.

Kali ini dilakukan melalui tes uji fear factor, katanya sih, agar kehadirannya lebih jujur, lebih bernyali, loyal dan konsisten terhadap garis perjuangan SEKAR. Maka dilakukanlah tes kepada seluruh Anggota Pengurus.

Ketua SEKAR kemudian menyampaikan dua strategi tes uji nyali yang harus diikuti
para Anggota Pengurus.

Begini perintahnya:

Ketua Sekar : "Perhatian semua dan lakukan kedua strategi ini. Strategi pertama, perhatikan seperti yang saya perintahkan: Masukanlah jari telunjuk ke lubang hidung kemudian obok-obok dan langsung jilati. Lakukan!!!" (Para Anggota Pengurus Sekar pun dengan penuh antusias langsung mengikuti seperti apa yang diperintahkan Ketua Sekar).

Ketua Sekar: "Nah, pada saat jari telunjuk tadi diobok-obok ke lubang hidung,
maka yang terpenting adalah strategi kedua, seperti yang saya lakukan sekarang ini yaitu jilatilah jari yang tengah."

(Spontan saja para anggota pengurus pun pada meringis dan meludah sejadi-jadinya).

”Tipuan mantabs coy...lumayan asin nih..,”kata salah seorang pengurus Sekar yang diorientasi. 

===(*na2s).

Pesan moral: "Jangan lakukan perintah atasan yang belum tuntas dan menjerumuskan. Sebab itu adalah kecerobohan. Simak terlebih dahulu dengan baik."

Menyikapi Pembukaan KAS



Era monopoli SLJJ Telkom selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan dan harus terhenti di Balikpapan. Kini Balikpapan memiliki dua kode akses SLJJ (KAS). TELKOM menggunakan prefik 017 dan INDOSAT 011. Dibukanya KAS di Balikpapan ini menyusul tercapainya kesepakatan melalui B2B (business to business) antara TELKOM dan INDOSAT setengah jam sebelum tenggat waktu. KAS-pun kemudian dibuka pada Jumat dini hari pukul 01.30 WIB tanggal 4 April 2008. Dengan dibukanya KAS di Balikpapan ini maka berakhir sudah kontroversi yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir ini.

Pembukaan KAS di Balikpapan itu terjadi menyusul Keputusan MENKOMINFO, Nomor: 480A/M/M.Kominfo/12/2007, yang isinya mengharuskan TELKOM membuka KAS di Balikpapan pada 3 April 2008. Pembukaan KAS untuk kota-kota lainnya ditetapkan berdasarkan treshold (persyaratan) yang harus tuntas seluruhnya hingga 27 September 2011.

Kronologis Penolakan

Kode Akses SLJJ awalnya ditetapkan pemerintah sebagaimana tertuang dalam KM. 28 Tahun 2004 tanggal 11 Maret 2004 tentang Perubahan atas lampiran Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM. 4 Tahun 2004 tentang Penetapan Rencana Dasar Teknis Nasional 2000 (Fundamental Technical Plan Nasional 2000) Pembangunan Telekomunikasi Nasional.

Kebijakan Pemerintah itu dibuat atas usulan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang isinya mensyaratkan bahwa dalam satu tahun kedepan (2005) harus terjadi perubahan Kode Akses dalam pembangunan hubungan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ).

Kebijakan ini mendapat perlawanan tak hanya dari Manajemen namun juga dari SEKAR. Dari Sekar, misalnya Wartono Purwanto, Ketua Tim Kode Akses Sekar Telkom yang juga Ketua I DPP Sekar Telkom saat itu (2005) telah menginventarisir, bahwa kebijakan itu setidaknya akan membawa beberapa konsekuensi, antara lain: Berpotensi mengakibatkan kegagalan panggil (ASR/SCR) yang merugikan pelanggan; Pelanggan harus menanggung biaya yang besar untuk melakukan penyesuaian identitas dan setting perangkat (Sentral, PABX, Wartel, dll);

Selain itu juga menghambat penetrasi sambungan telepon tetap karena operator baru hanya akan tertarik menggarap bisnis jasa SLJJ tanpa perlu membangun Customer Base; Serta penyelenggara jaringan tetap existing (TELKOM) harus menanggung biaya besar untuk perubahan setting perangkat dan sosialisasi. Padahal biaya iini semestinya dimanfaatkan untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan sarana telekomunikasi. Initinya Sekar menganggap kebijakan pembukaan kode akses itu menjadi kontra produktif dengan upaya pembangunan satuan sambungan telepon baru.

SEKAR juga memandang kebijakan itu dirasakan tidak adil. Alasannya kebijakan itu tidak equal treatment dengan penyelenggara jaringan bergerak (seluler) yang tetap menggunakan kode akses “0” untuk panggilan akses nasional. Sementara untuk panggilan Seluler Umum Jarak Jauh (PSUJJ) yang sangat equal dengan SLJJ masih merupakan eksklusivitas yang tidak dikompetisikan.

Intinya menurut Wartono Purwanto bahwa kebijakan perubahan Kode Akses SLJJ tidak memberikan keuntungan. Tidak untuk pelanggan, tidak untuk Telkom, dan tidak untuk bangsa Indonesia, karenanya sikap Sekar Telkom : Kebijakan Perubahan Kode Akses SLLJJ bukan hanya harus ditunda tapi juga harus ditiadakan. Menurut Wartono Purwanto, saat ini pihaknya telah menemui Komisi V DPR RI, Menhub RI, Dephan RI dan melakukan kampanye dimedia massa.

Awal kebijakan

Seiring dengan diterapkannya kebijakan duopoli penyelenggaraan layanan telekomunikasi tetap di Indonesia, maka penyelenggaraan layanan SLJJ ditangani oleh dua operator, yaitu TELKOM dan INDOSAT.

Dengan kebijakan baru tersebut, sesuai dengan SK Menhub No. 4/2004 tertanggal 13 Mei 2004, akan terjadi perubahan nomor kode akses panggilan SLJJ yang mulai berlaku efektif 1 April 2005.

Dari pihak Telkom sesungguhnya telah mengingatkan pemerintah untuk terlebih dahulu melakukan perencanaan secara terintegrasi sebelum memberlakukan penggantian kode akses Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) diimplementasikan.

Menurut Direktur Bisnis Jasa Telekomunikasi (2004), Suryatin Setiawan bahwa untuk mengimplementasikan perubahan kode akses SLJJ diperlukan tahap persiapan yang panjang, terutama untuk sosialisasi ke masyarakat. Jika tidak akan menimbulkan kebingungan pada masyarakat yang bisa menurunkan trafik SLJJ

Selanjutnya, dengan adanya perubahan kode akses itu maka konsumen bila akan menggunakan SLJJ Telkom memakai kode akses 017, sedangkan Indosat menggunakan 011. Sebagai operator, tandas Suryatin waktu itu bahwa pihaknya akan menghormati dan mematuhi aturan yang diterapkan pemerintah.

Suryatin mengatakan BUMN tersebut akan terus melaporkan kesiapannya kepada BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) agar dapat diketahui secara pasti tantangan operasional yang dihadapi oleh operator dalam mengubah kode akses. Namun dana yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan kode akses SLJJ cukup besar. Selain untuk kegiatan sosialisasi juga menyangkut pemrograman sentral dan biaya lainnya seperti upgrade software dan penambahan memori. Diisyaratkan pula bahwa pelanggan yang sudah berpuluh-puluh tahun menggunakan kode akses tertentu akan kesulitan dalam menggunakan kode akses baru itu.
Investasi baru

Menyangkut tentang rencana investasi, Direktur Bisnis Jaringan Telkom (2005), Abdul Haris, mengatakan sejauh ini TELKOM belum bisa menetapkan nilai investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan sistem dengan adanya perubahan kode akses SLJJ.
Namun berpatokan kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan kode akses SLJJ, AH menyebutkan Telkom akan melakukan uji coba kode akses baru 017 mulai awal 2005 karena sosialisasi kode akses baru tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain harus menginventarisasi sentral-sentral yang bisa dikembangkan memorinya tanpa harus melakukan replacement. Terutama untuk mencatat nomor panggilan yang lebih panjang membutuhkan kapasitas memori yang lebih besar.

Masih Rancu

Menurut Ketua SEKAR DPW VI Kalimantan, Dedy Ristanto, bahwa PM No.43/2008 tersebut masih sangat rancu. Salah satu kerancuannya bahwa yang diwajibkan dibuka KAS adalah penyelenggara jasa Jarak Jauh, sedangkan aturan penyelenggaraan jasa yang seharusnya membuka KAS adalah jasa lokal (Sesuai PM No.28, 29, 30 Tahun 2004).

Oleh karena itu SEKAR masih tetap gigih untuk melakukan penolakan terkait kebijakan KAS tersebut. Aksi penolakan kali ini diejawantahkan melalui doa bersama bertajuk “Munajat Cinta Karyawan TELKOM.” Doa bersama diikuti ratusan karyawan TELKOM yang berlangsung di halaman Kantor Divisi Regional VI Kalimantan, Jl. MT. Haryono No.169 Balikpapan.

Doa Munajat cinta karyawan TELKOM ini, kata Dedy, merupakan perwujudan rasa cinta karyawan TELKOM kepada perusahaan dan bangsa. Melalui doa bersama diharapkan agar TELKOM sebagai BUMN Flag Carrier mendapat perlindungan Allah SWT. Terutama agar asset strategis ini tidak dikuasai kapitalis asing sehingga tidak dapat dinikmati masyarakat Indonesia sendiri.

Ditegaskan Dedy bahwa kompetisi SLJJ sebetulnya sudah terjadi di Balikpapan. “Masyarakat balikpapan untuk melakukan panggilan ke daerah lain tidak harus hanya menggunakan SLJJ TELKOM saja. Ada pilihan lain. Misalnya dengan menggunakan GSM maupun operator lain yang telah beroperasi di Balikpapan,” jelas Deddy.

Dijelaskan bahwa kebijakan pengaturan Kompetisi SLJJ untuk pelanggan PSTN dengan menggunakan Kode Akses SLJJ sesungguhnya secara logika tidak akan menjadikan harga SLJJ semakin murah. Dengan menggunakan Kode Akses maka infrastruktur yang digunakan untuk melakukan panggilan SLJJ justru akan semakin tidak efisien. Pada gilirannya tarif menjadi lebih mahal yang justru akan membebani masyarakat.

Sebagai bukti, kata Dedy, bahwa jika panggilan SLJJ dari pelanggan Telkom Balikpapan ke pelanggan Telkom Jakarta tanpa menggunakan kode akses SLJJ (eksisting) maka infrastruktur yang digunakan adalah Sentral Lokal Balikpapan, Setral Trunk Balikpapan, Link Jarak Jauh (JJ) Balikpapan – Jakarta dan Sentral Lokal Jakarta. Konfigurasi seperti ini relatif murah.

Namun jika panggilan tersebut menggunakan Kode akses maka infrastruktur yang digunakan akan bertambah banyak yaitu selain infrastruktur tanpa kode akses ditambah dengan Gateway Telkom di Balikpapan, Gateway Penyelenggara Jasa JJ di Balikpapan, Gateway Telkom di Jakarta, dan Gateway Penyelenggara JJ di Jakarta. Akibatnya tarif menjadi relatif mahal.

Kebijakan dipaksakan

Sementara itu Ketua DPW IV Jateng & DIY, Syahrul Akhyar, bahwa hadirnya sejumlah pengurus DPP dan DPW Sekar seluruh Indonesia di Balikpapan ini untuk menunjukkan rasa cintanya karyawan pada perusahaan yang tengah diambang kehancuran. Selain, tentu saja, karena semangat dan kegigihannya untuk menyelamatkan TELKOM dari penguasaan kapitalis asing. “Adapun alasan penolakan, SEKAR berpandangan bahwa kebijakan ini terlalu dipaksakan dan terlalu mengada-ada. Kalkulasi bisnisnya tidak rasional dan tidak produktif,” tandas Syahrul.

Syahrul tak memungkiri kalau kebijakan ini bermuatan politis tingkat tinggi. Ada skenario besar dan terselubung dari para aktor internansional dengan tujuan untuk menguasai perekonomian bangsa. Namun lagi-lagi kita tidak menyadari akan hal itu. ”Kita tak pernah berlajar dari divestasi Indosat yang notabene menjual aset strategis bangsa kepada asing. BUMN kebanggaan bangsa itu (Indosat) kini sudah terjual kepada asing dan sudah tidak lagi dimiliki serta dinikmati rakyat Indonesia”, kata Syahrul.

Dikhawatirkan TELKOM yang tinggal satu-satunya milik dan kebanggaan bangsa penyumbang deviden untuk negara terbesar kedua setelah Pertamina ini akan dihancurkan secara sistematis lewat regulasi yang tidak adil. Sehingga pada akhirnya kedaulatan negara di bidang telekomunikasi akan hilang.

Di lantai bursa, kini ada fenomena TELKOM tengah diincar para investor asing untuk dijadikan korban berikutnya. Hal ini karena value dan nilai strategis TELKOM yang sangat tinggi.

Acara doa bersama yang dilakukan karyawan TELKOM ini juga guna memohon petunjuk Allah SWT sekaligus untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang adanya bahaya yang tengah mengancam negeri ini. ”Invasi ekonomi asing sudah sangat atraktif dan telah menusuk ke jantung paling vital. ”Satu demi satu asset negara lepas dan dikuasai asing. Mulai dari minyak, air, pasir, hasil hutan, tambang emas, dll.”, kata Syahrul.

Lima ancaman

Ancaman di sektor telekomunikasi, khususnya yang akan dihadapi Telkom kalau kebijakan ini tetap dilaksanakan, kata Syahrul, maka Telkom harus menanggung kerugian berlipat-lipat. Pertama, Telkom harus mengeluarkan dana hingga triliunan rupiah untuk meng-upgrade sentral-sentralnya di seluruh Indonesia serta melakukan sosialisasi luas dan gencar. Pengeluaran dalam jumlah sebesar itu jelas akan berpengaruh negatif terhadap rencana berbagai investasi strategis lainnya yang bersifat mendesak dilakukan Telkom untuk menghadapi persaingan.

Kedua, tidak ada lagi keterikatan Telkom dengan pelanggannya terkait layanan SLJJ, yang berarti pelanggan SLJJ Telkom bisa direbut begitu saja oleh pesaing dengan cara memanfaatkan infrastruktur Telkom.

Ketiga, dengan masih berlakunya subsidi dari tarif SLJJ ke tarif percakapan lokal, kebijakan kode akses SLJJ akan membuat Telkom sulit mempertahankan level tarif percakapan lokal pada tarif yang berlaku sekarang, padahal masalah ini sangat sensitif karena terkait dengan kepentingan masyarakat banyak.

Keempat, persepsi investor terhadap Telkom sebagai perusahan publik akan terpengaruh secara negatif, sehingga harga saham dan nilai kapitalisasi pasar Telkom juga akan turun. Perusahaan ini menargetkan pencapaian kapitalisasi pasar senilai USD 30 miliar pada tahun 2010.

Kelima, posisi Telkom akan mengalami kesulitan untuk memenuhi target setoran kepada negara yang terus meningkat. Pada tahun 2006 lalu, BUMN ini telah menyetorkan lebih dari Rp 23 triliun kepada negara lewat deviden, pajak, BHP, dan lain-lain. Harapannya prestasi ini tentu terus meningkat di waktu-waktu mendatang.

Itu baru dari sisi Telkom, belum lagi kerugian bagi masyarakat dan negara seperti semakin rumitnya prosedur melakukan hubungan SLJJ, keharusan merubah properti identitas yang mencantumkan nomor telepon yang bila dihitung total biayanya bisa sangat besar, menurunnya potensi pendapatan negara dari deviden Telkom dan masih banyak lagi.

Memanaj regulasi

Sosialisasi Regulasi dalam rangka peningkatan pemahaman terhadap tren regulasi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) kedepan dan mempersiapkan strategi antisipasinya untuk seluruh jajaran Senior Leaders di TELKOM area Jakarta dilaksanakan pada Rabu 5 Maret 2008 berlokasi di Aula Rang-Rang Utama Kandatel Jakarta Timur. Sosialisasi ini merupakan yang ketiga dari rangkaian roadshow sosialisasi regulasi, setelah yang pertama dilaksanakan di TTC pada 24 Januari 2008 untuk seluruh jajaran senior leaders Kantor Perusahaan dan yang kedua pada 22 Februari 2008 di Divre 6 untuk seluruh jajaran senior leaders TELKOM area Kalimantan.

Dir C&RM Prasetio sebagai keynote speaker dalam kata pembuka arahannya menyampaikan bahwa sosialisasi regulasi yang difasilitasi oleh RMG ini mengajak seluruh jajaran senior leaders TELKOM untuk aware bahwa regulasi merupakan satu tantangan/chalange, sebuah opportunity sekaligus juga risiko. Untuk itu kita semua harus memahami bagaimana tren regulasi ke depan serta bagaimana mengantisipasinya. Regulatory sebagai salah satu risiko harus di-manage. Tuntutan teknologi, masyarakat dan regulator harus dipahami dan diantisipasi.

Berbicara tentang regulatory, didalamnya ada 3 (tiga) kepentingan dari 3 pihak yang berbeda visi dan misinya. Ketiga pihak tersebut adalah Operator, regulator dan Masyarakat. Regulator memiliki kepentingan ingin memajukan masyarakat dengan membuat kebijakan-kebijakan untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat melalui percepatan peningkatan teledensitas. TELKOM sebagai Operator mau tidak mau, suka tidak suka selaku Incumbent, sebagai unit ekonomi atau korporasi harus menjaga sustainability, survival, continuity kelangsungan hidupnya melalui kinerja usaha yang memberi nilai tambah bagi stakeholder dan karyawannya. Pelanggan saat ini sangat demanding sehingga kebutuhannya juga sangat bervariasi, berikan yang terbaik kepada pelanggan.

Selanjutnya Prasetio menyampaikan bahwa menghadapi regulatory yang dapat digolongkan ke dalam risiko faktor eksternal ini kata kuncinya adalah jaga kinerja usaha. Jika sebuah keputusan sudah ditetapkan maka harus ditaati. Kedepan TELKOM harus lebih proaktif, lebih mewarnai regulasi TIK di Indonesia sehingga TELKOM lebih siap dalam mengantisipasi dampak-dampak yang ditimbulkannya, khususnya yang mempengaruhi kinerja usaha TELKOM, sedemikian rupa sehingga dapat dikendalikan dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang kinerja, seperti diamanatkan oleh Dirut TELKOM Rinaldi Firmansyah, Prasetio mengajak kepada seluruh Senior Leaders yang hadir untuk fully dedicated pada kemajuan institusi dengan cara senantiasa meningkatkan kualitas layanan dan operasi, selalu berupaya berkontribusi terhadap kinerja usaha serta memberi nilai tambah kepada perusahaan.

Dalam era persaingan bisnis telekomunikasi yang sangat ketat dan penuh dengan tekanan ini, pelanggan memegang peranan yang sangat penting. Pelanggan adalah raja, pelanggan selalu benar, pelanggan adalah bos kita, pelanggan adalah yang menghidupi kita, oleh karena itu mari beri yang terbaik kepada para pelanggan kita supaya pelanggan tetap setia/loyal memakai produk-produk TELKOM. Untuk itu, kunci suksesnya adalah kualitas, mari disiplin terhadap kualitas layanan, proses, operasi dan penggunaan anggaran dalam rangka peningkatan kinerja.

Di akhir arahannya, Prasetio menyampaikan bahwa unit RMG memiliki fungsi yang sangat strategis dalam membawa strategi perusahaan agar komplementer dengan regulator serta mampu mengantisipasi berbagai faktor internal dan eksternal supaya TELKOM tidak ketinggalan. Agar unit RMG powerfull dalam mewarnai dan menyikapi tren regulasi TIK di Indonesia, Prasetio berpesan agar seluruh Senior Leaders yang hadir berperan aktif memberi masukan-masukan melalui diskusi yang akan di lead oleh VP RMG Herdy Rosady Harman.

Bertindak sebagai narasumber dalam sosialisasi ini adalah VP Network Operation Husni Thamrin dan VP Infrastructure & Service Planning Rizkan Chandra dari Direktorat Network & Solution serta SM Research of Business Rahadian Krishna Sundara dari Research & Development Center serta VP RMG Herdy Rosady Harman. Acara ini dihadiri pula oleh Head Of Corporate Communication Rochiman Sukarno dan EGM Divre 2 Jakarta Adeng Achmad.

Agak sedikit berbeda dengan sosialisasi regulasi yang diselenggarakan di Balikpapan pada tanggal 22 Februari 2008 mengingat isu yang hangat yakni menjelang diimplementasikannya Kode Akses. Mengapa kode akses harus dibuka?. Ada kepentingan regulator di dalamnya. Regulator dalam spirit UU 36/99 tentang Telekomunikasi di era kompetisi ini berkeinginan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui percepatan teledensitas dan mendorong kebebasan masyarakat untuk memilih akses jaringan operator yang ada sejalan dengan akan ditenderkan lisensi-lisensi baru jaringan tetap jarak jauh dan lokal.

Dalam kondisi seperti itu, operator seperti kita yang incumbent ini harus tetap survive dan tumbuh berkesinambungan. Demikian, disampaikan Dir CRM Prasetio, pada saat sambutan Sosialisasi Regulasi di Balikpapan (22/2). Menurut Prasetio, Direksi berpendapat, kita tidak perlu khawatir untuk berkompetisi terkait dengan pembukaan Kode Akses SLJJ (KAS) di Balikpapan pada tanggal 3 April mendatang.

Kekhawatiran Balikpapan sebagai pembuka jalan bagi kota-kota lain, cukup beralasan, namun threshold 30% bagi pemain baru FWA dan 15% untuk FWA+FWT terhadap fixed line untuk berkompetisi dengan Telkom bukan barang mudah. Rangkaian roadshow ini dilakukan merupakan kelanjutan roadshow pertama yang dimulai dari Kantor Perusahaan dan akan berlanjut ke Divre-Divre/Unit bisnis lain terkait dengan isu-isu regulasi ke depan.

Persiapan implementasi KAS di Divre VI khususnya di Balikpapan seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau regulator, tentu saja kita memahami dan kita harus menjunjung tinggi segala peraturan itu. Compliance artinya kita taat kepada peraturan yang sudah ditetapkan, tapi bagaimana kita menyikapi ini dengan quality yang ada. Tentunya di seluruh kepentingan ini kita tidak bisa memenangkan semuanya, tapi yang penting balance dan kita punya agenda besar yang lainnya yaitu bahwa kita harus memperbaiki kualitas network kita, kualitas dari pelayanan kita apakah itu di pembangunan BTS flexy yang dipercepat dan percepatan pembangunan Speedy yang merupakan core produk kita serta inisiatif stategis ”new-wave” yang merupakan bagian dari visi Telkom menuju leading Infocom player in the region.

Sementara itu Dir NWS, Nyoman G Wiryanata (kini menjadi Direktur Konsumer), mengatakan bahwa regulasi sangat menentukan peluang kita di dalam mengambil market share maupun market price. Jika market share-nya tumbuh, maka bottom line juga bisa tumbuh. Secara perusahaan, investor bisa tahu untuk melihat bukan kesalahan bottom up. Tapi yang menjadi masalah adalah apabila market share, bottom line kita itu pertumbuhannya tidak sesuai harapan.

Mengingat bahwa desakan regulator sulit dihindari karena positioning incumbent kita sebagai operator maka kita bertekad, direksi bertekad, seluruh karyawan tentunya diharapkan bersama-sama, di tengah-tengah regulasi yang akan keluar dari mana pun, diharapkan bottom line kita akan tetap tumbuh. Dan itu akan dicapai apabila produk kita tetap dipilih customer. ”Kita harapkan customer itu tetap loyal kepada kita, menggunakan produk kita sehingga bottom line kita itu tumbuh. Mungkin terkesan bottom line market share itu probability prosentasenya tidak tumbuh. Tapi akumulasi pendapatannya yang tumbuh. Nah itu yang paling utama,” kata Nyoman.

Menyikapi KAS

Apapun dalihnya dan darimana pun datangnya, toh, kode akses SLJJ (KAS) telah terlanjur dibuka dari Balikpapan. Pada tanggal 4 April harus sduah dibuka minimal di enam kota (Bpp, Jkt, Surabaya, Denpasar, Batam dan Medan) dan pada Minggu kedua April harus sudah dapat mengakses ke seluruh kota.

Tampaknya semua pihak, kita, Manajemen dan Sekar harus dapat menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Barangkali tak akan ada seorang karyawan pun yang rela KAS dibuka. Namun apa boleh buat, sebagai karyawan atau Institusi kita dituntut untuk untuk patuh pada aturan. Tantu agar kesan yang ditimmbulkan kita bukanlah manusia atau institusi pembangkang.

Selain itu yang perlu menjadi perhatian adalah persepsi publik. Jangan sampai malah TELKOM dituduh tak berani untuk berkompetisi. Karena persepsi masyarakat terhadap kompetisi adalah akan diperolehnya harga yang lebih murah yang justru akan menguntungkannya. Ini jelas akan terkait dengan citra perusahaan.

Jika melaihat kesepakatan yang tertuang dalam B2B (business to business) antara Telkom dan isat, sebenarnya posisi Telkom tidak terlalu dirugikan. Perhatikan saja dari perhitungan pembagian tarifnya. Tarif normal BPP-JKT (siang) adalah Rp2.200/menit. Berdasarkan B2B kita dapat surcharge dari Isat dan deal pada Rp945.

Kemudian dari tarif originating Rp206/mnt deal Rp203. Jadi pembagiannya: TELKOM (017) mendapatkan: Rp945 + (Rp203x2)= Rp1.351,- dan INDOSAT (011) mendapat: Rp2.200-1351=Rp848,- Pendapatan tersebut belum termasuk pendapatan dari terminasi lokal di enam kota (BPP, JKT, SBY, Batam, Medan, Denpasar) sebesar Rp560 dan deal pada harga yang sama Rp560,- (*kangnana)

Memasuki Usia Senja, Apa yang harus Dipersiapkan? Seperti Apa Tahapannya?

Sumber foto: Annas Indonesia Ketika memasuki usia senja diatas 50 tahunan, adalah masa-masa yang penuh was-was. Atau ketika memasuki masa pe...