Sabtu, 16 Februari 2019

Dahsyatnya dzikir sirr

Jika Asma Allah diucapkan sekali saja dengan lisan, itu disebut dzikir (mengingat) lisan.

Namun jika Nama Allah diingat dengan hati, maka itu akan sebanding dengan dengan tiga puluh lima juta ucapan-ucapan (dzikir) lisan. Itulah dzikir hati atau dzikir sirr.

Ada 35 juta pembuluh darah dalam tubuh, dan semua terhubung ke jantung. Jika Nama Allah diucapkan bahkan sekali saja (dengan hati) maka semua yang mengalir mengucapkan juga.

Rasulullah saw bersabda, “Wahai Abu Dzarr! Berzikirlah kepada Allah dengan zikir khamilan!”,

Abu Dzarr bertanya “Apa itu khamilan?”

Sabda Rasul : “Khafi (dalam hati)” (Mizan al-Hikmah 3 : 435)

TAHAP pertama zikir adalah zikir lisan. Kemudian zikir kalbu yang cenderung diupayakan dan dipaksakan.

Selanjutnya, zikir kalbu yang berlangsung secara lugas, tanpa perlu dipaksakan.

Serta yang terakhir adalah ketika Allah sudah berkuasa di dalam kalbu disertai sirnanya zikir itu sendiri.

Inilah rahasia dari sabda Nabi saw :

”Siapa ingin bersenang – senang di taman surga, perbanyaklah mengingat Allah”

TANDA bahwa sebuah zikir sampai pada sirr (nurani yang terdalam yang menjadi tempat cahaya penyaksian) adalah ketika pelaku zikir dan objek zikirnya lenyap tersembunyi.
Zikir Sirr terwujud ketika seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya.

Tandanya, apabila engkau meninggalkan zikir tersebut, ia takkan meninggalkanmu.

Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhur (hadirnya kalbu).

Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah–olah tertarik oleh rantai.

Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup.

Namun, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala.

Zikir yang masuk ke dalam sirr terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir seolah–olah lisannya tertusuk jarum.

Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.

Jumat, 15 Februari 2019

Fadhilah luar biasa dzikrullah


Dzikrullah, memiliki fadhilah sangat luar biasa dalam aktivitas spiritual, khususnya dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketawaan  kepada Allah Shubhanahu Wata'ala. Atau bagi yang sedang melakukan perjalanan spiritual (salik) menuju CahayaNya. Bahkan keutamaannya melebihi dari do'a dan berjihad. Berikut hadits-hadits Shahih mengenai Fadhilah Dzikir.

1. DZIKIR ADALAH AMAL TERBESAR

2. DZIKIR LEBIH UTAMA DARIPADA JIHAD

Alloh Ta’ala menegaskan: وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ (العنكبوت : 45)

“Sungguh dzikir kepada Alloh adalah paling besar.

Hadits shahih berikut ini cukup menjadikan kita paham terhadap ayat di atas, yaitu:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى قَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا شَيْءٌ أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

Dari Abu Ad Darda` radliallahu ‘anhu ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian mengenai amalan kalian yang terbaik, dan yang paling suci di sisi Raja (Allah) kalian, paling tinggi derajatnya, serta lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh kemudian kalian memenggel leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?” Mereka berkata; ya. Beliau berkata: “Berdzikir kepada Allah ta’ala.” Mu’adz bin Jabal radliallahu ‘anhu berkata2; tidak ada sesuatu yang lebih dapat menyelamatkan dari adzab Allah daripada dzikir kepada Allah. HR Tarmidzi 3299, shahih.

3. DZIKIR LAKSANA RUH

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Permisalan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti orang yang hidup dengan yang mati.” HR Bukhari 5928.

4. DZIKIR MEMBENTENGI DIRI DARI SETAN

عَنِ الْحَارِثِ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَمَرَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا عَلَيْهِمَا السَّلَام بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ يَعْمَلَ بِهِنَّ وَأَنْ يَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهِنَّ وَكَادَ أَنْ يُبْطِئَ فَقَالَ لَهُ عِيسَى إِنَّكَ قَدْ أُمِرْتَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ تَعْمَلَ بِهِنَّ وَتَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهِنَّ فَإِمَّا أَنْ تُبَلِّغَهُنَّ وَإِمَّا أَنْ أُبَلِّغَهُنَّ فَقَالَ يَا أَخِي إِنِّي أَخْشَى إِنْ سَبَقْتَنِي أَنْ أُعَذَّبَ أَوْ يُخْسَفَ بِي قَالَ فَجَمَعَ يَحْيَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ حَتَّى امْتَلَأَ الْمَسْجِدُ فَقُعِدَ عَلَى الشُّرَفِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ
 

Dari Al Harits Al Asy’ari sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Allah ‘Azzawajalla memerintahkan Yahya bin Zakariya ‘alaihissalam dengan lima kalimat agar diamalkan, dan memerintahkan Bani Isra`il agar mereka mengamalkannya. Namun Yahya hampir saja memperlambatnya. 

Lalu ‘Isa berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya kamu kamu diperintahkan dengan lima kalimat, agar kamu mengamalkannya, juga kamu perintahkan kepada Bani Isra`il mengamalkannya. Sekarang kamu yang menyampaikan, atau saya yang menyampaikannya.’ Lalu dia berkata; ‘Wahai saudaraku, sesungguhnya saya takut jika kamu mendahuluiku niscaya saya akan disiksa atau ditenggelamkan’.” (Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam) bersabda: “lalu Yahya mengumpulkan Bani Isra`il di Baitul Maqdis, sampai masjid itu menjadi penuh, dia duduk pada tempat imam, memuji Allah kemudian berkata:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَمَرَنِي بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ أَعْمَلَ بِهِنَّ وَآمُرَكُمْ أَنْ تَعْمَلُوا بِهِنَّ أَوَّلُهُنَّ أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ لَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ مَثَلُ رَجُلٍ اشْتَرَى عَبْدًا مِنْ خَالِصِ مَالِهِ بِوَرِقٍ أَوْ ذَهَبٍ فَجَعَلَ يَعْمَلُ وَيُؤَدِّي غَلَّتَهُ إِلَى غَيْرِ سَيِّدِهِ فَأَيُّكُمْ سَرَّهُ أَنْ يَكُونَ عَبْدُهُ كَذَلِكَ وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَكُمْ وَرَزَقَكُمْ فَاعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

‘Allah ‘Azzawajalla telah memerintahkan kepadaku agar mengamalkan lima hal dan agar kalian juga mengamalkannya. Yang pertama adalah: kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. 

Permisalan hal itu adalah sebagaimana seseorang yang membeli seorang budak dari hartanya dengan sejumlah uang atau dari emas, sialnya budak itu bekerja dan mengerjakan pekerjaanya kepada selain tuannya, maka siapa yang merasa senang dengan hal itu?. Sesungguhnya Allah ‘Azzawajalla telah menciptakan kalian, memberi rizki kepada kalian, sembahlah Dia dan janganlah kalian menyekutukan dengan sesuatupun.

وَآمُرُكُمْ بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ فَإِذَا صَلَّيْتُمْ فَلَا تَلْتَفِتُوا

Saya perintahkan kepada kalian untuk shalat. Sesungguhnya Allah ‘Azzawajalla menghadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba-Nya, selama dia tidak menoleh. Jika kalian shalat, janganlah kalian menoleh.

وَآمُرُكُمْ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ مَعَهُ صُرَّةٌ مِنْ مِسْكٍ فِي عِصَابَةٍ كُلُّهُمْ يَجِدُ رِيحَ الْمِسْكِ وَإِنَّ خُلُوفَ فَمِ الصَّائِمِ عِنْدَ اللَّهِ أَطْيَبُ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Saya perintahkan kepada kalian untuk berpuasa, permisalah hal itu adalah sebagaimana seseorang yang membawa sebotol minyak wangi pada sekelompok orang semunya merasakan bau wangi tersebut. Bau harum mulut orang yang sedang berpuasa di sisi Allah itu lebih harum daripada bau kasturi.

وَآمُرُكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَسَرَهُ الْعَدُوُّ فَشَدُّوا يَدَيْهِ إِلَى عُنُقِهِ وَقَدَّمُوهُ لِيَضْرِبُوا عُنُقَهُ فَقَالَ هَلْ لَكُمْ أَنْ أَفْتَدِيَ نَفْسِي مِنْكُمْ فَجَعَلَ يَفْتَدِي نَفْسَهُ مِنْهُمْ بِالْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ حَتَّى فَكَّ نَفْسَهُ

Saya perintahkan kepada kalian untuk bersedekah. Sesungguhnya permisalan hal itu adalah seseorang yang ditawan musuh, lalu dia mengikatnya kedua tangannya pada lehernya, dan diletakkan di hadapannya untuk dibunuh. Lalu dia mengajukan penawaran, ‘Apakah kalian mau jika saya menebus diri saya dari kalian? ‘ Lalu dia menebus dirinya dengan sesuatu yang sedikit dan yang banyak sehingga dirinya bisa bebas.

وَآمُرُكُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا وَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ طَلَبَهُ الْعَدُوُّ سِرَاعًا فِي أَثَرِهِ فَأَتَى حِصْنًا حَصِينًا فَتَحَصَّنَ فِيهِ وَإِنَّ الْعَبْدَ أَحْصَنُ مَا يَكُونُ مِنْ الشَّيْطَانِ إِذَا كَانَ فِي ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Saya perintahkan kepada kalian untuk berdzikir kepada Allah ‘Azzawajalla yang banyak. Permisalan hal itu adalah sebagaimana seseorang yang musuhnya mengejarnya dengan cepat lalu dia mendapatkan benteng yang kokoh, dijadikannya benteng itu untuk tempat berlindung. Sesungguhnya seorang hamba lebih dapat terjaga dari setan jika dia dalam keadaan berdzikir kepada Allah ‘Azzawajalla.”

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ بِالْجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Saya perintahkan kalian dengan lima hal yang Allah telah perintahkan kepadaku: jama’ah, mendengar, taat, hijrah dan jihad di jalan Allah.” HR Ahmad 16542, shahih.

الْفُضَيْل يَقُولُ: ” خَيْرُ الْعَمَلِ أَخْفَاهُ، وَأَمْنَعُهُ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَأَبْعَدُهُ مِنَ الرِّيَاءِ “

Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Amal terbaik adalah yang paling tersembunyi, paling mampu mencegah dari setan, dan paling jauh dari riya`.” Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6495.

DZIKIR MERUPAKAN HIASAN BAGI MAJLIS

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum bangkit dari tempat duduknya, dan mereka tidak menyebut nama Allah dalam majlis tersebut, melainkan mereka seperti bangun dari tempat yang semisal dengan bangkai himar, dan kelak menjadi penyesalan baginya (di akhirat).” HR Abu Dawud 4214, shahih.

5.  DZIKIR ADALAH PENYELAMAT TERKUAT DARI ADZAB

عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي زِيَادٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَيَّاشِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

Dari Ziyad bin Abu Ziyad budak ‘Abdullah bin ‘Ayyasy bin Abu Robi’ah, bahwasanya ada yang menyampaikan padanya dari Mu’adz bin Jabal berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda; “Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh seorang manusia yang lebih bisa menyelematannya dari adzab Allah melebihi dzikir.” HR Ahmad 21064, dinilai shahih oleh Syaikh Albani (Shahihul Jami’ 5644)

6. DZIKIR MENENANGKAN HATI

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ .الرعد : 28

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan dzikir kepada Alloh. Ingatlah, hanya dengan dzikrullah hati-hati menjadi tenang.”

7. DZIKIR MEMBEBASKAN DARI LA’NAT ALLOH

أَبو هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

Abu Hurairah berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: ” Ketahuilah sesungguhnya dunia itu terlaknat dan segala isinya pun juga terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, dan orang yang alim atau orang yang belajar.” HR Tarmidzi 2244, hadits shahih.

8. SELAIN DZIKIR BERARTI SIA-SIA

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ : رَأَيْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ وَجَابِرَ بْنَ عُمَيْرٍ الأَنْصَارِيَّيْنِ يَرْمِيَانِ ، فَمَلَّ أَحَدُهُمَا فَجَلَسَ فَقَالَ الآخَرُ : كَسِلْتَ ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَهُوَ لَغْوٌ وَلَهْوٌ إِلاَّ أَرْبَعَةَ خِصَالٍ : مَشْيٌ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ ، وَتَأْدِيبُهُ فَرَسَهُ ، وَمُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ ، وَتَعْلِيمُ السَّبَّاحَةِ

Dari ‘Atha` bin Abi Rabah berkata, “Aku melihat Jabir bin ‘Abdillah dan Jabir bin ‘Umair yang keduanya Anshari, sedang memanah. Lalu salah satu dari keduanya duduk, maka ditegur oleh yang lain: Kau telah malas? Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Segala sesuatu yang tidak termasuk dzikir kepada Alloh, maka itu sia-sia dan permainan belaka, selain 4 hal yaitu: berjalan antara dua sasaran panah (tempat berlatih memanah), melatih kudanya, mula’abah (sendau gurau) dengan istrinya, dan mengajari berenang.” HR Nasa`i dalam al-Kubra 8891, shahih.

9. DZIKIR ADALAH AMAL YANG RINGAN

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ قَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

Dari ‘Abdullah bin Busr radliallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata; wahai rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at Islam telah banyak yang menjadi kewajibanku, maka beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat aku jadikan sebagai pegangan! Beliau bersabda: “Hendaknya senantiasa lidahmu basah karena berdzikir kepada Allah.” Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini. HR Tarmidzi 3297, shahih.

Hadits ini diriwayatkan juga dengan redaksi lain yaitu bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah saw: Amal apa yang paling utama? Maka beliau menjawab: أَنْ تُفَارِقَ الدُّنْيَا وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ : “Anda meninggalkan dunia dalam keadaan lidahmu basah dengan dzikir kepada Alloh.” HR Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1245, Ibnul Ja’d dalam Musnad–nya 3431, dan Abu Nu’aim 6/1113.

10. AHLI DZIKIR ADALAH WALI ALLOH SWT.

Rasulullah saw bersabda:

أولياء الله تعالى : الذين إذا رءوا ذكر الله تعالى ( الحكيم ) عن ابن عباس ( حسن )

“Para wali Alloh adalah orang-orang yang jika dilihat, (menyebabkan orang yang melihatnya) ingat kepada Alloh Ta’ala.” HR Hakim Tarmidzi dari hadits Ibnu ‘Abbas ra; hadits hasan (Shahihul Jami’ 2557)

11. DZIKIR DI DALAM MASJID

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَأَصْحَابُهُ مَعَهُ إِذْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَصْحَابُهُ مَهْ مَهْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ الْقَذَرِ وَالْبَوْلِ وَالْخَلَاءِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِيَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَذِكْرِ اللَّهِ وَالصَّلَاةِ

Dari Anas Bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sedang duduk di masjid dengan para sahabatnya. Tiba-tiba datang orang badui dan kencing di masjid. Para sahabat nabi berujar, “Tahan, tahan!”. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian hentikan, biarkan saja”. Merekapun membiarkannya, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam hanya mengatakan kepadanya, “Masjid ini, tidak seyogianya dikotori dengan kotoran, kencing dan air besar” -atau sepertinya nabi bersabda- “Hanyasanya masjid diperuntukkan unutk membaca al-qur’an, dzikir kepada Allah dan shalat”. HR Ahmad 12515, shahih.

FADHILAH MELAZIMI DZIKIR

عَنْ كَرِيمَةَ ابْنَةِ الْحَسْحَاسِ الْمُزَنِيَّةِ أَنَّهَا حَدَّثَتْهُ قَالَتْ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ وَنَحْنُ فِي بَيْتِ هَذِهِ يَعْنِي أُمَّ الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْثُرُ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ

Dari Karimah binti Al Hashas Al Muzaniyah bahwasanya ia menceritakan kepadanya; Abu Hurairah menceritakan kepada kami ketika kami berada di rumah ini -yaitu rumah Ummu Darda`-, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan dari Rabbnya ‘azza wajalla, Dia berfirman: “Aku akan bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku, dan kedua bibirnya bergerak untuk berdzikir kepada-Ku.” HR Ahmad 10553, dengan isnad shahih4.

FADHILAH DZIKIR DALAM KESEPIAN

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis.” HR Bukhari 620.

FADHILAH MAJLIS DZIKIR

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ منْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak.” HR Abu Dawud 3182, shahih.

FADHILAH DZIKIR SAAT ORANG-ORANG LALAI

عن كعب قال إن من خير العمل سبحة الحديث وإن من شر العمل التحذيف قال قلت يا أبا عَبد الرحمن ما سبحة الحديث قال يسبح الرجل والقوم يتحدثون قلت وما التحذيف قال يكون الرجل بخير فإذا سئلوا قالوا بشر.

Ka’b berkata, “Sungguh termasuk amal terbaik adalah subhatul hadits (shalat sunnah saat perbincangan), dan sungguh termasuk amal terburuk adalah tahdzif (menghapus).” Ditanyakan: Wahai Abu ‘Abdir Rahman, apa itu subhatul hadits? Dia menjawab, “Seorang lelaki shalat sunnah sementara orang-orang berbincang-bincang.” Ditanyakan: “Apa itu tahdzif?” Dia menjawab, “Seseorang dalam kondisi sehat/baik, namun saat orang-orang ditanya (tentangnya) mereka jawab: kondisinya tidak baik.” Riwayat Abu Nu’aim 6/21.

FADHILAH MATI DALAM KEADAAN DZIKIR

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ سَمِعَهُ يَقُولُ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ قَالَ: ” أَنْ تَمُوتَ وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ “

Dari Mu’adz bin Jabal, dia bertanya kepada Nabi saw: Amal apa yang paling dicintai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla? Beliau menjawab, “Anda mati dalam keadaan lisanmu basah dengan dzikir kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman 513, hadits hasan.

Selasa, 12 Februari 2019

Cakra, Tujuh Cahaya Manusia

Banyak yang memperdebatkan apakah cakra manusia itu adalah merupakan sesuatu pembahasan yang ilmiah atau bukan. Karena pada dasarnya cakra adalah sesuatu yang bersifat ilahiah, yakni materi yang pembahasanya belum bisa digapai oleh ke-5 panca indra manusia. Namun pada kenyataanya, tidak sedikit orang yang membenarkan bahwa cakra itu benar adanya dan eksistensi dari cakra itu sendiri sanggup dirasakan oleh beberapa manusia.

Di dunia paramedis, sekarang telah ditemukan alat untuk memotret aura, yakni alat yang bisa melihat beraneka ragam cahaya yang menyelimuti sekujur tubuh manusia. Karena telah ditemukannya alat inilah kemudian penulis mengambil kesimpulan bahwa “aura” sekarang menjadi hal yang ilmiah, karena keberadaanya sekarang telah bisa diukur, dilihat, dan diamati.

Jika kita melangkah lebih dalam, maka akan muncul sebuah pertanyaan, berasal dari manakah aura yang menyelimuti sekujur tubuh manusia tersebut? Beberapa ahli menjawab bahwa aura tersebut berasal dari emosi individunya, karena berdasarkan observasi, warna aura yang menyelimuti manusia berubah berbarengan dengan perubahan emosinya, semisal saat individu merasa tenang, rileks, dan santai maka warna aura yang muncul adalah cenderung kehijauan. 

Kebalikannya, saat individu (yang sama) merasakan marah, jengkel, dan dongkol maka warna aura yang terlihat adalah cenderung merah pekat. Berdasarkan data ini kemudian muncul sebuah pertanyaan, apakah benar bahwa sumber dari aura yang menyelimuti manusia hanya berasal dari emosinya saja?

Setelah mengkaji dari berbagai macam literatur, penulis menemukan sebuah hipotesis baru yakni aura yang menyelimuti tubuh manusia tersebut tempat muaranya adalah apa yang disebut dengan “cakra”. Cakra adalah titik pusat energi yang ada di dalam tubuh bioplasmik manusia. 

Pengetahuan tentang cakra ini sebenarnya berasal dari timur. Negara-negara barat termasuk Eropa pada awalnya tidak menganut keyakinan ini, dengan kata lain mereka tidak percaya dengan adanya cakra. Namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, baik di bidang kesehatan, kedokteran modern atau bela diri, orang – orang barat mulai banyak yang setuju dengan konsep adanya titik cakra dalam tubuh manusia.

Setelah mengkaji lebih dalam, ternyata dalam Agama Islam, penulis menemukan beberapa sumber yang menggambarkan secara tersirat bahwa ternyata pada hakiatnya manusia diciptakan lengkap dengan cahaya yang berada di dalam dirinya. Seperti yang tertera dalam Al Qur’an bahwa Allah adalah “... nuurun ‘ala nnur..” dan dalam syair sebuah shalawat menyatakan bahwa Muhammad adalah “.. nuurun fauqo nnur ..”. 

Di dalam kajian bahasa Arab kata ‘ala dan fauqo memiliki arti yang sama “di atas” namun memiliki makna yang berbeda. Maka ibarat ada tiga buah benda yakni meja, apel, dan lampu dimana ke-3 nya terletak secara vertikal ke atas, maka apel berada di atas meja dan lampu berada di atas apel dan meja. Kata fauqo menggambarkan posisi apel yang berada di atas (menempel) meja, Sedang ‘ala menggambarkan posisi lampu yang berada di atas (tidak menempel) dengan apel dengan meja. 

Kembali kepada dua penggalan syair dan ayat Quran di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga (3) cahaya yang terletak secara vertikal, yakni cahaya pertama yang terletak paling tinggi di antara semuanya adalah Cahaya Allah, kedua yang terletak di tengah adalah Cahaya Nabi Muhammad, dan dibawah cahaya keduanya terdapat satu lagi cahaya yang tidak pernah dijelaskan dan disebutkan, maka beberapa tokoh menyebutkan bahwa cahaya yang berada dibawah adalah cahaya manusia. 

Dengan demikian maka jelaslah sudah bahwa manusia pada hakekatnya memiliki cahaya, yang dalam dunia timur disebut dengan cakra.

Terdapat 7 sumber titik cahaya (cakra) dalam tubuh manusia yang ke-7 nya memiliki warna dan fungsi yang berbeda-beda seeprti yang dikutip dari buku Membebaskan Kundalini dalam Tubuh (2011) :

1. Chakra Mahkota (Sahasrara)

Warna : Violet

Posisi : di sisi bagian atas kepala, daerah otak dan system syaraf (ubun-ubun).

Elemen : pemikiran

Tanda astro : Capricorn, Pisces

Kelenjar : Pineal (aktif selaras dengan pituitary)

Organ : Cerebral cortex, central nervous system

Fungsi : Integrasi dan Pemahaman

Disfungsi : depresi, mengasingkan diri, ketidakmampuan untuk belajar dan mengerti

Chakra ini adalah pusat masuknya energi Illahi ke seluruh lapisan tubuh & kesadaran. Seseorang yang chakra mahkotanya berkembang secara sempurna akan banyak mengetahui rahasia alam. Menjaga agar chakra ini selalu bersih amatlah penting agar energi spiritual dapat diterima secara terus menerus oleh seluruh tubuh. Apabila chakra mahkota yang terbuka dengan lebar maka seseorang dapat melakukan perjalanan astral dengan lebih mudah. Cara mengaktifkan cakra ini adalah dengan perbanyak beribadah atau mendekatkan diri kepada Tuhan, semakin banyak manusia dalam beribadah maka akan semakin aktif cakra mahkota yang ia miliki

2. Chakra Mata Ketiga (Ajna)

Warna : Biru indigo (nila)

Posisi : di antara kedua mata (dahi/kening)

Elemen : cahaya

Tanda astro : Sagitarius, Aquarius, Pisces

Kelenjar : Pituary (aktif selaras dengan pineal)

Organ : Mata

Fungsi : Penglihatan, intuisi, penyatuan

Disfungsi : sakit kepala, mimpi buruk, gangguan penglihatan

Chakra ini memberikan energi ke kedua mata, hidung & kelenjar pituitary. Disebut chakra mata ketiga karena chakra yang berkembang aktif & bersih dapat memberikan pewaskitaan (clairvoyance) atau kekuatan psikis lainnya. Selain pewaskitaan, chakra ini merupakan titik pemusatan & pengatur dari chakra-chakra di bawahnya. Chakra ini sering disebut pula berkaitan erat dengan pengetahuan duniawi & pengetahuan surgawi (spiritual). Seringkali manusia yang telah mencapai taraf kewaskitaan terpesona oleh sensasi tersebut & lupa akan tujuan utamanya & lama terhambat pada kesadaran di tahap ini.

3. Chakra Tenggorokan (Vishudda)

Warna : Biru muda

Posisi : tenggorokan

Elemen : Ether

Tanda astro : Gemini, Taurus, Aquarius

Kelenjar : Thyroid dan Parathyroid

Organ : leher, bahu, lengan, tangan, telinga

Fungsi : komunikasi, energi ekspresif, kemauan untuk menyatukan symbol-simbol ke bentuk yang ideal (kuasa dan tenaga untuk memilih)

Disfungsi : problem thyroid (gondok), masalah pendengaran, leher, dan kerongkongan

Chakra ini memiliki 16 lembar daun. Secara fisik chakra ini memberikan energi pada kelenjar thyroid & parathyroid. Chakra ini merupakan pusat penciptaan yang lebih tinggi (kreativitas) & hubungan antar manusia. Seseorang dengan chakra tenggorokan yang berkembang akan memiliki pengertian yang mendalam mengenai hubungan antar sesama sehingga mempunyai hubungan yang baik dengan sesamanya. 

Kemampuan untuk berekspresi secara lisan juga dipengaruhi oleh chakra ini. Chakra jantung yang yang bersih & terhubung dengan chakra tenggorokan yang bersih pula akan mengakibatkan seseorang akan dapat mengekspresikan seluruh isi hati dengan baik. Sifat-sifat yang berkenaan dengan chakra tenggorokan yang berkembang dengan baik antara lain adalah kepasrahan, keberhasilan, kelimpahan & kesejahteraan serta pengembangan pengetahuan duniawi.

4. Chakra Jantung (Anahata)

Warna : Hijau

Posisi : tengah dada

Elemen : Udara

Tanda astro : Leo, Libra

Kelenjar : Thymus

Organ : jantung, paru-paru, lengan, tangan

Fungsi : mencintai diri, mencintai orang lain, pemenuhan hajat hidup, energi mental, kesadaran dan penyembuhan

Disfungsi : gangguan jantung, asma, dan paru-paru

Chakra ini memiliki 12 lembar daun. Chakra jantung adalah chakra yang amat penting dalam spiritual karena dihubungkan sebagai lambang cinta kasih & penyembuhan. Secara fisik chakra jantung mengatur jantung & kelenjar thymus. Chakra jantung merupakan pusat dari seluruh perasaan halus seperti kasih sayang & cinta kasih. Seseorang dengan chakra jantung yang kecil, kotor atau terhambat akan memiliki kecenderungan egois, sombong, fanatik, tamak/rakus, munafik, & gelisah. Sedangkan chakra jantung yang berkembang dengan baik menyebabkan seseorang penuh dengan rasa cinta kasih & kasih sayang serta dapat berempati terhadap sesama.


5. Chakra Pusar (Manipura)

Warna : Kuning

Posisi : pinggang, perut (pusar/plexus solaris)

Elemen : Api

Tanda astro : Leo, Sagitarius, Gemini

Kelenjar : pancreas, adrenals

Organ : perut, hati, kantong empedu

Fungsi : pertumbuhan, penyembuhan, menerima dan mengeluarkan energi, tenaga bagi kemauan, tenaga personal

Disfungsi : gangguan pencernaan, borok, kencing manis, hypoglycemia, gangguan hati, metabolisme yang menyebabkan kegemukan

Chakra ini amat penting dalam mempertahankan vitalitas seseorang. Chakra ini memiliki 10 lembar daun. Chakra pusar berkaitan erat dengan sifat-sifat yang membawa kecenderungan seperti iri hati, rasa malu, tidak puas, murung, benci & takut (kekurangan rasa aman). Seseorang dengan chakra pusar yang berkembang & bersih maka akan dapat mengatasi hal-hal seperti tersebut di atas & mengubahnya menjadi suatu yang positif seperti rasa aman, puas, gembira, nyaman & percaya diri.

6. Chakra Seks (Svadhisthana)

Warna : Jingga

Posisi : di bawah perut, abdomen (pada tulang pelvis)

Elemen : Air

Tanda astro : Cancer, Sagitarius, Scorpio

Kelenjar : ovarium, testicle

Organ : kandungan, alat kelamin, ginjal, kandung kemih, sistem sirkulasi

Fungsi : asimilasi, seksual, kesenangan, keinginan, gaya hidup yang memanjakan emosi

Disfungsi : gangguan kandung kemih dan ginjal, gangguan alat kelamin dan problem seksual, gangguan pinggang

Chakra sex memiliki 6 lembar daun. Chakra seks berhubungan dengan penciptaan atau reproduksi & mempengaruhi aktivitas seksual seseorang. Chakra seks berkaitan erat dengan chakra tenggorokan yang berfungsi dalam penciptaan kreativitas atau ide. Seseorang dengan Chakra seks yang bersih dan aktif akan memiliki pikiran yang lebih positif serta percaya diri. Sebaliknya seseorang akan menjadi tidak perduli, kasar, berpikir negatif (kurang kreatif), termasuk seks menyimpang jika chakra seksnya kotor & terhambat

7. Chakra Dasar (Maludara)

Warna : Merah

Posisi : di antara alat kelamin dan anus (ujung tulang ekor)

Elemen : Tanah

Tanda astro : Aries, Taurus, Scorpio, Capricorn

Kelenjar : adrenals dan suprarenals

Organ : paha, kaki, tulang, usus besar

Fungsi : survival, gaya hidup yang mengutamakan energi fisik

Disfungsi : konstipasi, wasir, kegendutan, penyakit pegal pada pinggang radang sendi, gangguan lutut, anorexia nervos

Chakra dasar mempunyai 4 lembar daun yang merupakan pusat energi dari tubuh fisik, kehidupan materi & keinginan untuk hidup. Chakra dasar yang aktif maka seseorang akan cenderung untuk hidup dengan penuh semangat & motivasi & sebaliknya chakra dasar yang kecil, kotor & terhambat maka akan hidup bermalas-malasan tanpa semangat bahkan memiliki kecenderungan untuk mudah putus asa bahkan bunuh diri.

Demikianlah penjelasan ciri dan fungsi berbagai jenis cahaya dalam diri manusia (cakra). Pembahasan tentang cakra diharapkan dapat dikaji secara bijak, terutama melihat bahwa ilmu dan pengetahuan apapun dan dari manapun itu berasal dari  Tuhan Yang Maha Esa, Allah Shubhanahu Wa Ta'ala. Dan semoga tulisan ini dapat menambah wawasan serta menuntun pembaca untuk beramal lebih baik lagi terhadap sesamanya, lingkungannya maupun kepada diri sendiri (habluminannas), serta terutama dalam upaya menjaga hubungan secara vertikal dengan Allah SWT (habluminallah)...Aamiin.
(Penulis: M. Arief Hidayatullah Putra/Kompasiana)

Jumat, 08 Februari 2019

Hukum bersumpah demi Allah, demi Rasulullah

Bersumpah dengan nama Rasulullah yang disandingkan dengan nama Allah, “Demi Allah, demi Rasulullah,” sering kita dengar. Dan setelah model sumpah ini beberapa kali ditayangkan televisi, seolah dia menjadi trend baru sumpah masa kini. Sehingga makin banyak umat muslim yang tidak mencukupkan sumpahnya hanya dengan menyebut nama Allah saja.

Satu contoh sumpah model ini adalah yang diucapkan Wakil Walikota Bekasi, Rahmat Effendi saat menjanjikan kepada ribuan umat Islam Bekasi yang melakukan aksi damai di kantor Walikota Bekasi, usai shalat Jumat (17/9/2010) siang untuk menuntut Pemkot Bekasi dan aparat kepolisian agar menindak tegas para pendeta dan jemaat Gereja HKBP yang melanggar peraturan pemerintah dengan melakukan kebaktian tidak pada tempatnya di kawasan Ciketing Asem.

“Kali ini saudara-saudara hadir meminta ketegasan saya sebagai kepala daerah, saya sampaikan demi Allah, demi Rasulullah teman-teman jemaat HHKBP tidak boleh beribadah di Ciketing lagi,” tegas Wakil Walikota yang akrab disapa Bang Pepen ini.

Kalimat sumpah dengan sesuatu yang diagungkan, terutama yang diimani keagungannya lumrah digunakan untuk meyakinkan perkataan atau janji kita kepada orang. Terlebih kalau kondisi sangat mendesak dan menghawatirkan, maka kalimat sumpah ini menjadi akternatif yang mujarab. Nyatanya massa muslim yang mayoritas berbaju putih itu pun menyambut pernyataan tegas Wakil Walikota Bekasi dengan takbir dan tepuk tangan meriah sebagai tanda yakin dan percaya atas pernyataannya. Apalagi ditambah pernyataannya, apabila tidak menepati janji, ia bersedia berhenti dari jabatannya demi membela agamanya dan kepentingan warga muslim Bekasi.

“Saya berhenti jadi wakil walikota kalau ucapan saya ini bohong,” imbuhnya yang dibadikan oleh voa-islam.com.

Sesungguhnya hak untuk diagungkan dengan dijadikan alat bersumpah hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karenanya bersumpah hanya dibolehkan dengan menyebut nama Allah semata, tidak boleh dengan menyebut nama selain-Nya, baik dengan sendirian atau disandingkan dengan nama Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pernah mendapati Umar bin al-Khathab bersumpah dengan menyebut nama bapaknya, lalu beliau menegurnya dengan bersabda,

أَلَا إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah atas nama bapak-bapak kalian. Barangsiapa yang bersumpah hendaknya bersumpah dengan nama Allah atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa yang bersumpah hendaknya bersumpah dengan nama Allah atau diam... (al-hadits)

Bahkan dalam hadits lain, bersumpah dengan nama selain Allah tergolong sebagai perbuatan syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu) yang merupakan dosa terbesar yang dilakukan terhadap AllahSubhanahu wa Ta'ala.

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khathab radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallambersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah maka dia telah berbuat kekufuran atau kesyirikan.” (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi, beliau menghasankannya dan hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim)

Dan dalam Musnad Ahmad dengan sanad yang shahih, dari Umar bin al-Khathab radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِشَيْءٍ دُونَ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan sesuatu selain Allah maka dia telah musyrik.”

Hadits-hadits di atas menunjukkan haramnya bersumpah dengan nama selain Allah. Keharamannya tidak seperti perbuatan dosa besar lainnya, karena digolongkan sebagai keharaman yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir dan musyrik. Karenanya Ibnu Mas’ud pernah mengatakan,

لَأَنْ أَحْلِفَ بِاللهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنِ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأَنَا صَادِقًا

“Jika seandaninya saya bersumpah palsu atas nama Allah, sungguh hal itu lebih saya senangi daripada aku bersumpah dengan benar atas nama selain Allah.” (HR. Thabrani dengan para perawi yang shahih. Hadist shahih ini disebutkan oleh Al-Hafidz al Mundziri dalam al-Targhib wa al-Tarhib dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib no. 2953)

Sebenarnya Ibnu Mas’ud tidak menyukai yang pertama ataupun yang kedua. Beliau hanya ingin menunjukkan bahwa dosa bersumpah dengan selain Allah walaupun itu benar maka lebih berat daripada bersumpah dengan nama Allah tapi dusta. (Lihat Al-Qaulul Mufid, Syaikh Ustaimin, Daar al-Aqidah, Mesir: II/129 )

Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam Fathul Majid mengatakan, “Sebagaimana yang diketahui, bersumpah palsu (dusta) dengan nama selain Allah termasuk dosa besar, tapi perbuatan syirik termasuk perbuatan dosa besar yang paling besar walaupun itu syirik kecil. Maka jika syirik kecil seperti ini, lalu bagaimana dengan syirik besar yang menjadikan pelakunya kekal di neraka seperti berdoa kepada selain Allah, beristighatsah dan menggantungkan harapan kepadanya, serta menghaturkan berbagai hajatnya kepada selain Allah itu.”

Sementara Syaikh Sulaiman bin Abdillah dalam kitab Taisir al-‘Aziz al-Hamid menjelaskan, “Sesungguhnya alasan Ibnu Mas’ud radhiyallaahu 'anhu yang lebih memilih bersumpah dusta (palsu) dengan menyebut nama Allah daripada bersumpah yang benar dengan nama selain-Nya adalah karena bersumpah dengan nama Allah adalah tauhid, sedangkan bersumpah dengan nama selain-Nya adalah syirik. Dan sesungguhnya kebaikan tauhid itu lebih besar daripada kadar kebaikan jujur dalam bersumpah dengan selain Allah. Sementara keburukan dusta lebih ringan daripada keburukan syirik. 


Demikian itu yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. . . dalam pernyataan itu terdapat dalil bahwa bersumpah benar dengan menyebut nama selain Allah lebih besar dosanya daripada melakukan sumpah palsu. Ini menjadi bukti bahwa syirik kecil lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar. Dan itu menjadi pendukung bagi kaidah yang masyhur, yaitu: “Mengambil keburukan yang lebih kecil bahayanya dari dua macam keburukan apabila harus memilik salah satunya.”

Lebih rinci lagi Syaikh Utsaimin menjelaskan dalam al-Qaul al-Mufid, sebenarnya bersumpah palsu dengan menyebut nama Allah termasuk dosa besar. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, dustanya itu sendiri dan perbuatan dusta itu diharamkan. Kedua, kedustaan tersebut digandeng dengan sumpah yang mengandung pengagungan terhadap yang dijadikan sumpah, yaitu Allah. 

Berarti pelakunya telah mengurangi pengagungan terhadap Allah dan merendahkannya karena digunakan untuk suatu kepalsuan. Karenanya sebagian ulama menyebut sumpah palsu dengan menyebut nama Allah termasuk yamin ghamus (sumpah yang membenamkan), yaitu membenamkan pelakunya ke dalam dosa lalu membenamkannya ke dalam neraka.

Sedangkan sumpah dengan nama selain Allah walaupun benar, diharamkan dari satu sisi, yaitu syirik. Dan keburukan syirik lebih besar dari keburukan dusta, karena syirik adalah perbuatan dosa yang tidak terampuni. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Nisa’: 48)

Dan tidaklah Allah mengutus para rasul-Nya serta menurunkan kitab-kitab-Nya kecuali untuk membatilkan dan memerangi perbuatan syirik, karena syirik adalah dosa terbesar. “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Dan sebenarnya perbuatan syirik mengandung dusta. Orang yang menjadikan sekutu bagi Allah adalah seorang pendusta, karena Allah tidak memiliki sekutu. (Lihat Al-Qaulul Mufid, Syaikh Ustaimin, Daar al-Aqidah, Mesir: II/129)

Karenanya, janganlah bersumpah dengan nama selain Allah, siapa dan apapun itu, baik dia Rasulullahshallallaahu 'alaihi wasallam, malaikat Jibril, Ka’bah, Baitullah, langit, bumi, hidup, mati, kedudukan, atau makhluk Allah yang lain.

Bersumpah benar dengan menyebut nama selain Allah lebih besar dosanya daripada melakukan sumpah palsu. Ini menjadi bukti bahwa syirik kecil lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.

Bersumpah dengan selain Allah termasuk syirik besar atau kecil?

Sesungguhnya bersumpah dengan menyebut nama sesuatu mengandung makna mengagungkannya. Sedangkan pengagungan semacam ini –pada dasarnya- hanya milik Allah semata dan hanya boleh dilakukan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Barangsiapa yang mengagungkan selain Allah dengan suatu pengagungan yang tidak layak diberikan selain kepada Allah, maka dia telah menjadi musyrik.

Menurut keterangan para ulama, bahwa bersumpah dengan menyebut nama selain Allah termasuk kufur kecil dan syirik kecil. Kecuali apabila dalam hatinya tertanam keyakinan mengagungkan makhluk seperti mengagungkan Allah atau meyakini –dalam sumpahnya itu- bahwa dia berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Kalau seperti ini maka berubah menjadi syirik besar. Semoga Allah melindungi kita dari kesyirikan ini.

Bersumpah dengan nama selain Allah termasuk syirik kecil seperti bersumpah dengan menyebut, “Demi Jibril, demi Malaikat, demi Rasulullah, demi Ka’ba, bapakku, demi ibukku, demi jabatanku, demi hidupku, dan demi-demi yang lain”. Namun sekecil-kecilnya syirik, dosanya lebih besar daripada dosa-dosa besar selainnya. Maka siapa yang sudah terbiasa mengucapkan sumpah seperti itu hendaknya dia bertaubat dan meninggalkan sumpah-sumpah semacam itu.

Syaikh Ustaimin dalam Fatawanya pernah menceritakan, beliau pernah melarang seorang laki-laki mengatakan ‘Demi Nabi’. Ketika itu dia mengucapkan sesuatu kepada beliau sembari berkata, “Demi Nabi, aku tidak akan mengulanginya”. Dia mengucapkan ini hanya untuk menguatkan bahwa dia tidak akan melakukannya lagi akan tetapi terbiasa diucapkan lisannya. 

Maka beliau mengatakan, “Berusahalah semampumu untuk menghapus ucapan seperti itu dari lisanmu sebab ia adalah perbuatan syirik sedangkan perbuatan syirik amat besar bahayanya sekalipun kecil”. Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan pernah berkata, “Sesungguhnya kesyirikan tidak akan diampuni Allah sekalipun kecil”.Wallahu a’lam. [Badrul Tamam/voa-islam.com]

Memasuki Usia Senja, Apa yang harus Dipersiapkan? Seperti Apa Tahapannya?

Sumber foto: Annas Indonesia Ketika memasuki usia senja diatas 50 tahunan, adalah masa-masa yang penuh was-was. Atau ketika memasuki masa pe...