Minggu, 21 Juni 2020

Menertawakan kebodohan diri

Secangkir Anggur Merah (Edisi-14)
By: Nana Suryana

Ada yang mengatakan mencari sebuah kebenaran gampang-gampang susah. Menurut seorang ilmuwan eksakta 2+1 pasti 3 karena itulah kebenaran. Bagi ilmuwan sosial siapa bilang 2+1 sama dengan 3. Bagi seorang pebisnis 2+1 payah kalau cuma 3, minimal harus menghasilkan 4. Bagi seorang psikolog 2+1 sama dengan mencari masalah baru. Contoh sudah punya istri dua cemburuan ditambah satu istri lagi kan tambah puyeng guys...

Wajar jika seorang filsuf Perancis Jean Bodrillard mengatakan bahwa kebenaran adalah apa yang patut kita tertawakan . Kebenaran adalah huaa...haa...haa.....

Boleh jadi omongan atau gurauan si Jean itu benar. Apalagi di tengah hiruk pikuk persoalan hidup dan kehidupan kita dengan berondongan bencana, kebodohan,dan kemelaratan. Atau bahkan di tengah Pandemik Covid-19 yang serba terpuruk. Atau munculnya RUU HIP yang harus menerima serangkaian hujatan. Atau saling hujat antara Cebong dan Kampret. Kecurigaan Novel Baswedan terhadap Pengadilan. Bahkan saling sikut antara Rezim dan Oposan. Sampai pada saling curiga antar Negara di Laut Cina Selatan, dll.

Ah, itu cuma sandiwara dan kemeriahan dunia. Agar dunia tampak lebih warna-warni. Untuk itu tak ada salahnya bila kita tetap belajar untuk menyungging senyum ketika masalah mendera. Mencoba tertawa ketika problem mengepung. Mencoba sumringah ketika kepedihan menusuk. Dan belajar melepas ngakak ketika mental tertekan.

Jadi sesungguhnya daripada kita sibuk mencari kebenaran hakiki, yang notabene milik Sang Maha Penggenggam Hati ini, maka ada baiknya kita belajar untuk menertawakan kebodohan diri sendiri. Sebab menertawai kebodohan diri akan menjadi lebih punya arti. Dan lebih menusuk ke jantung hati untuk sekadar introspeksi dan tahu diri. Intinya, jangan merasa paling benar sendiri.

Apalagi jika harus dihubungkan dengan nilai spiritualitas kebenaran yang sungguh memiliki dimensi makna dan persepsi yang beragam. Saya sendiri tak paham apa itu spiritualitas kebenaran.

Yang saya fahami spiritualitas kebenaran bagiku saat ini adalah ketika para pensiunan Telkom pra 2002 terangkat kesejahteraannya. Ketika para direksi Telkom peduli pada para pengabdi dan pejuang perusahaan masa lalu. Ketika hadirnya kebijakan Telkom, Telkomsel dan anak perusahaannya untuk bisa berbaik hati mempekerjakan anak2 para pensiunannya. Ketika tak terdengar lagi bahwa ada pensiunan atau janda pensiunan Telkom menjadi pemulung atau antri berdesakan sekadar mendapatkan BLT atau Raskin.

Spiritualitas kebernaran bagiku adalah ketika para elit Telkom berhenti berpikir untuk memperkaya diri sendiri dengan cara tak benar. Ketika para pensiunan didukung Sekar berani berjuang untuk membela haknya untuk hidup sejahtera. Dan ketika perjuangan itu dilakukan dengan penuh keberanian dan kebenaran karena dilandasi kekuatan spiritual. Nah, itu!! (N425)

Sabtu, 20 Juni 2020

Tantangan Fajrin Rashid jadi Direktur Telkom

By: Nana Suryana

Muhammad Fajrin Rasyid, anak muda kelahiran Jakarta berusia 34 tahun ini telah sah menjadi salah satu direksi PT. (Persero) Telekomunikasi Indonesia (Tbk). Alumni Informatika ITB ber-IPK 4 ini, telah mendapat restu menjadi Direktur Digital Business Perseroan dalam RUPST yang gelar Jumat (19/6/20). Ini berarti pria berotak encer yang pernah jualan Mie Ayam ini, merupakan direktur termuda dalam jajaran bod Telkom saat ini. 


Walaupun soal usia, ia harus menerima kenyataan bahwa Ir. Willy Munandir lah yang masih tetap memegang rekor sebagai direktur Telkom (Perumtel) termuda. Ir. Willy Munandir lahir di Banyuwangi pada 10 April 1936, kemudian menjadi Direktur Operasi Perumtel pada 27 Desember 1969. Kemudian pada thn 1973 menjadi Dirut Perumtel. Dan malang-melintang memegang jabatan itu selama 12 tahun.

Sesuai yang digadang-gadang


Pria lulusan Teknik Informatika ITB beryudisium Cumlaude ini, memang sejak semula telah santer digadang-gadang akan menjadi salah satu pejabat penting di Telkom. Ini lantaran isu yang sempat dihembuskan Menteri BUMN, Erick Thohir, bahwa di Telkom akan ada direktur muda milenial berusia di bawah 40 tahun.

Karuan saja, kalangan media massa penasaran dan mencari tahu siapa kah gerangan orang dimaksud. Terkaan media massa tak keliru. Yang menjadi sorotan memang terhadap anak muda yang semasa kuliah di ITB, seluruh mata kuliahnya bernilai “A” ini.

Lantas apa yang diharapkan dari Fajrin bagi pengembangan teknologi digital di lingkungan Telkom? Apakah pengalamannya sebagai salah satu Pendiri starup e-commerce Bukalapak dan Konsultan di Boston Counsulting Group bisa bermanfaat bagi Telkom? Lantas mau dibawa kemana teknologi bisnis digital Telkom dalam genggamannya?

Ah, sepertinya tak perlu ada keraguan bagi Telkom terhadap kualifikasinya. Selain kepiawaiannya mengutak-atik bisnis e-commerce, juga dalam hal jenjang pendidikan, Fajrin Rasyid, sempat mengenyam pendidikan di Harvard Business School dan Stanford University Graduate School of Business.

Fajrin memang pernah menjadi konsultan di Boston Counsulting Group selama satu setengah tahun. Setelah hengkang dari sana ia bersama Ahmad Zaki dan Nugoroho Herucahyono mendirikan unicorn Bukalapak. Bahkan berhasil menyabet suntikan dana dengan mengundang investor dalam dan luar negeri.

Bukalapak pun menjadi besar dan sebagai salah satu pebisnis e-commerce terkemuka di Republik ini. Bukalapak menjadi startup unicorn bervaluasi di atas US$.1 miliar. Bahkan menurut CBInsights valuasi Bukalapak sudah tembus US$.2,5 miliar atau setara Rp 42 triliun. Luar biasa bukan?

Selama tujuh tahun Fajrin Rasyid menjabat sebagai Chief Finance Officer (CFO). Lalu pada 2018 ia pun dipercaya sebagai President Bukalapak. Sudah pasti, selaku co-founder, Fajrin Rasyid juga memegang sejumlah saham Bukalapak. Jadi kalau bicara soal fulus, dia termasuk anak muda yang berkelimpahan.

Apa kata ET dan Ririek

Menurut Menteri BUMN, Erick Thohir dengan disahkannya Co-Founder dan Presiden Bukalapak Muhammad Fajrin Rasyid sebagai Direktur Bisnis Digital Telkom, maka diharapkan di tangannya akan terjadi perubahan pada strategi bisnis Telkom.

"Telkom harus mampu mengubah dan memperkuat strategi bisnisnya, terutama di era pasca COVID-19 harus semakin maju dan berkembang dalam bisnis digitalnya. Ia merupakan sosok anak muda yang tepat untuk memegang posisi itu," katanya kepada media, sesuai RUPST.

"Fajrin merupakan figur anak muda yang sudah teruji kiprah dan karyanya di bisnis digital. Dengan rekam jejak dan pengalamannya, meski masih muda usia, Fajrin adalah figur yang kredibel untuk memimpin pengembangan bisnis digital Telkom," ujarnya.

Sementara menurut Dirut Telkom, Ririek Adriansyah, terpilihnya Fajrin tidak lepas dari rencana pemegang saham yang ingin Telkom bisa terus mengembangkan bisnis dan pelayanannya."Karena itu kami butuh membawa BOD yang memiliki kompetensi di bisnis digital dan yang dipilih pemegang saham adalah Mas Fajrin. Kalau Pak Presiden punya mas Menteri, maka di Telkom kita punya mas Direktur," katanya.

Janji Fajrin dan tantangannya


Apakah Fajrin mampu menggarap bisnis digital Telkom? Kepada awak media ia mengatakan akan terlebih dahulu banyak berkonsultasi dengan anggota BOD lainnya, terutama dengan Direktur Consumer Service. “Sebagai salah satu direktur, tentu saya harus banyak mempelajari kondisi bisnis dan pelayanan perusahaan, tidak terkecuali dalam menangani seluruh keluhan dari pengguna Indihome,” tandasnya.

Namun tentu saja, bisnis digital di Telkom tak hanya menyoal layanan an-sich Indihome wahai bung muda!!

Yang menjadi tantangan terbesar Telkom saat ini adalah bagaimana mengembangkan bisnis big data, dimana posisi Telkom kedodoran. Bahkan masalah ini sempat dikeluhkan dan bikin gerah Menteri BUMN, Erick Thohir. Sampai-sampai beberapa waktu lalu beliau sempat berwacana untuk membubarkan Telkom.

Selain itu, sejak 2017, Telkom terus mengembangkan ekosistem digital untuk mendukung pembangunan ekonomi digital di Tanah Air. Bahkan Telkom mengajak para mitranya untuk berkolaborasi dan bersinergi mengembangkan layanan digital untuk masa kini dan masa depan. Apalagi Presiden Joko Widodo telah mencanangkan ekonomi digital Indonesia harus menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Hal ini juga sejalan dengan visi TelkomGroup untuk menjadi the King of Digital in the Region. Semua layanan digital ini harus memberikan manfaat yang luas baik bagi perusahaan dan bangsa, sehingga Ekosistem Digital akan tercipta untuk mewujudkan pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia yang berkelanjutan.

Perlu diketahui bahwa, tiga tahun yang lalu, TelkomGroup telah menandatangani kerjasama dengan Cellum International dari Hungaria untuk membangun bisnis digital di sektor fintech untuk pelanggan enterprise. Kemudian untuk memperkaya e-commerce bagi pelanggan enterprise juga ditandatangani kerja sama dengan perusahaan lokal ADW.

Sementara untuk mengembangkan layanan digital bagi pelanggan perorangan, seperti game, video, music hub, dan browser, akan dilakukan oleh anak usaha Telkom, yakni Melon dan Metranet. Melalui Metranet, Telkom Group menggandeng Agate sebagai mitra yang akan membangun ekosistem game dan publisher game international seperti GameLoft dan Garena.

Untuk membangun entertainment hub, Telkom akan membangun video hub berbasis advertising dan subscription, juga menggandeng beberapa mitra penyedia konten video dan musik. Antara lain HOOQ, Muvinow, Goers, dan Finnet.

Untuk itu, melalui Fajrin, diharapkan terjalin ajang tukar pikiran para eksekutif pelaku industri digital, serta kolaborasi penyedia platform dan pemilik konten dengan TelkomGroup. Dengan demikian diharapkan dapat melahirkan layanan-layanan digital yang memiliki manfaat luas bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Sejak 2017, TelkomGroup memperkenalkan beberapa layanan digital baru. Untuk segmen enterprise, diperkenalkan layanan “xooply” dan xsight. Xooply merupakan platform B2B marketplace yang memberikan kemudahan kepada perusahaan melakukan transaksi secara online (e-commerce). Xooply.com nantinya merupakan platform B2B e-Marketplace pertama yang mengagregasikan kebutuhan pengadaan maintenance, repair, and operations (MRO) dari BUMN, BUMD, dan K3S. Sedangkan layanan Xsight dapat mempermudah keputusan bisnis perusahaan dan membantu developer membangun aplikasinya.

Di bidang advertising, melalui layanan “Aim Right”, Telkom ingin bertekad guna memudahkan pelanggan korporasi untuk mengirimkan informasi produk berbagai format melalui aplikasi telepon seluler kepada profil pengguna sesuai target penerima informasi. Layanan “Xooply”, ‘Xsight” dan “Aim Right” ini sudah dapat dinikmati pelanggan pada Desember 2017.

Untuk memberikan pengalaman Like Never Before, untuk anak-anak dan keluarga Indonesia, Telkom siap menyediakan USearch, browser terkini yang dikastemisasi untuk melindungi anak-anak dari konten pornografi, cybercrime, rasis dan konten-konten negatif lainnya. TelkomGroup juga memperkenalkan HOOBEX dan OONA yang merupakan layanan “Twin OTT Platform” untuk entertainment.

Hoobex akan memanjakan pelanggan dengan layanan video dan music premium dengan cara berlangganan. Layanan ini dilengkapi dengan OONA yang akan memiliki puluhan atau ratusan kanal TV/linear channel yang bisa dinikmati pelanggan secara gratis dan berbasis programmatic advertising. Dengan inovasinya dalam programmatic advertising, OONA akan mendorong terjadinya industri konten video yang sehat di Indonesia.

Nah itu dia, antara lain, tantangan bisnis digital Tekom saat ini wahai anak muda! Asal anda tahu saja bahwa 60% revenue Telkom saat ini diperoleh dari bisnis ini. Jadi kini saatnya tunjukkan dan buktikan kepiawaian dan kehebatan anda mengelola bisnis digital Telkom. Anda sanggup wahai bung muda..!!!//**nas

*) Data-data diperoleh dari berbagai sumber media massa
*) Penulis, adalah bekas karyawan Telkom







Kamis, 18 Juni 2020

Jangan biarkan Telkom Mati Suri


Secangkir Anggur Merah (19)
By: Nana Suryana

Tahukah anda bahwa Telkom sering menerima penghargaan atau Award? Ah, rasanya bukan lagi rahasia yang mengundang misteri. Konon, berbagai penghargaan (award) yang diperoleh Telkom itu tidak kurang dari 10 sd 15 kali per tahun. Apalagi jika ditambah dengan yang diterima oleh seluruh unit bisnis dan atau anak perusahaannya, wow, ini tentu saja jauh lebih melimpah ketimbang yang diterima instansi atau perusahaan lain di republik ini. Dalam hal raihan reward atau award, Telkom memang paling unggul dan termasuk jagonya.

Dari rilis yang disampaikan Telkom, dalam bulan ini saja (Juni 2020), Telkom kembali dinobatkan sebagai peringkat pertama dalam peringkat 100 Most Valuable Brand 2020 atau perusahaan paling bernilai di Indonesia yang dirilis Brand Finance bekerjasama dengan Majalah SWA pada awal Juni 2020. Dengan demikian, ini menjadi keenam kalinya Telkom meraih pencapaian yang gemilang sekaligus mengungguli merek-merek top Indonesia lainnya sejak tahun 2015. Hebat gak tuch!

Hasil riset dan penilaian yang dilakukan Brand Finance tersebut juga mencatat, besaran nilai merek (Brand Value/BV) Telkom berdasarkan data kinerja bisnis tahun 2019 adalah USD 4,76 miliar, atau naik 3% dibandingkan besaran BV tahun sebelumnya, USD 4,61 miliar. Adapun proporsi nilai merek terhadap nilai enterprise (Enterprise Value) Telkom sebesar 14%.

Adapun besaran Enterprise Value Telkom mencapai USD 33,93 miliar dengan Brand Rating Triple A (AAA). Selain mengalami peningkatan pada indikator BV, merek BUMN yang listing di bursa New York ini juga mengalami kenaikan dari indikator Brand Strengh Index (BSI) dibandingkan tahun sebelumnya, yakni kenaikan sebesar 2% dengan pencapaian skor BSI 87,45 atau naik dari sebelumnya sebesar 85,54.

Indonesia’s Most Valuable Brand 2020 merupakan pemeringkatan 100 merek perusahaan yang dilaksanakan secara tahunan oleh lembaga riset independen internasional Brand Finance bekerja sama dengan Majalah SWA. Pemeringkatan brand value dilakukan dengan memperhitungkan brand strength index, brand royalty rate, dan brand revenue. Selain itu yang diperhatikan dalam penilaian ini mencakup corporate brand dan product brand.

Apa kata dirut

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan Telkom memandang bahwa nilai merek yang tinggi tidak diperoleh hanya dengan upaya membangun merek semata. Namun Telkom fokus pada peningkatan kualitas layanan prima yang dirasakan oleh pelanggan serta peningkatan kinerja bisnis perusahaan.

“Nilai merek merupakan tolok ukur persepsi pelanggan, investor serta stakeholder lainnya terhadap kualitas layanan yang dirasakan pelanggan dan performansi perusahaan. Dengan kualitas layanan yang baik dan performansi bisnis yang cemerlang, maka nilai merek perusahaan tentunya juga akan meningkat,” kata Ririek

Dikatakan Ririek, Telkom tengah bertransformasi dan memperkuat posisi sebagai perusahaan telekomunikasi digital. Hal tersebut diharapkan menjadi kekuatan bagi Telkom ke depan sehingga dapat memberikan pelayanan terbaik demi meningkatkan kepercayaan dan kesetiaan pelanggan serta stakeholders lainnya.

Meski tantangan menghadang ada sejumlah peluang yang muncul, untuk itu Telkom terus memperkuat kapabilitas bisnis digital melalui pertumbuhan pendapatan bisnis digital yang menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan serta didukung oleh investasi pada infrastruktur broadband yang berkelanjutan. Menurut Ririek, hal ini juga merupakan upaya Telkom untuk membangun dan meningkatkan merek perusahaan secara kontinyu.

Sepanjang tahun 2019 Telkom berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 135,57 trilliun tumbuh positif sebesar Rp 4,78 triliun (3,7%) dibanding tahun 2018. Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi (EBITDA) Perseroan tahun 2019 tercatat Rp 64,83 triliun dengan Laba Bersih sebesar Rp 18,66 triliun, atau masing-masing tumbuh 9,5% dan 3,5%. Digital Business Telkomsel dan IndiHome tumbuh signifikan dan menjadi kontributor utama pertumbuhan Perseroan.

Selain pemeringkatan brand di Indonesia, Brand Finance juga membuat pemeringkatan Brand Finance Global 500 2020 dengan Telkom berada di posisi 434 (naik dari posisi 446) dan menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk ke dalam daftar merek paling bernilai di pentas global.

Tidak hanya itu, dalam pemeringkatan brand telekomunikasi yang paling kuat dan bernilai atau Telecom 150, Telkom berada di posisi pertama di Asia Tenggara dan peringkat 33 di dunia, naik dari sebelumnya di peringkat 36.

“Pencapaian ini menjadi kalibrasi bagi Telkom dan memastikan bahwa kami sudah berada di jalur yang tepat. Tentunya apresiasi Most Valuable Brand ini menjadikan Telkom semakin percaya diri dalam meningkatkan kualitas dan nilai brand-nya demi memantapkan posisi Telkom sebagai operator kelas dunia,” ungkap Ririek.

Menyelami makna Award

Namun ada pertanyaan nih, sejauh mana berbagai reward atau Award yang diterima itu itu dapat dikelola secara efektif sehingga mampu mengubah sikap, perilaku dan cara pandang stakeholders terhadap Telkom?

Ada kesepakatan bahwa di alam kompetisi yang sangar ini apapun yang diraih dan dimenangkan haruslah tetap diperoleh dengan cara terhormat. Artinya, jangan sampai ada upaya rekayasa, mengada-ada atau penuh dusta. Misalnya untuk mendapat Award tertentu harus mengeluarkan sejumlah dana kepada si pemberi award.

Tentu saja, sebuah Award bukanlah cerita fiksi bagai sebuah dongeng. Keberadaannya tak boleh dibuat-buat atau dipaksa harus ada. Award harus benar-benar ada karena memang ada prestasi dan sejumlah data yang diakui kevalidannya.

Reward atau penghargaan dalam bentuk Award, seperti the best ini dan itu tentunya akan lebih bermakna lagi manakala realita kualitas manajerial, produk dan layanan itu sudah sesuai standar dan harapan. Namun hingga kini aspek yang satu ini sepertinya masih menyimpan bad news walaupun tidak seburuk dulu. Apalagi dari hasil studi menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara menurunnya kualitas manajerial, produk dan layanan dengan penurunan pendapatan perusahaan.

Rujukan kredibel

Dari sisi karyawan pun sama, yaitu pemeliharaan reputasi membutuhkan keterbukaan informasi dan kejujuran dalam mengelola perusahaan. Sebuah prestasi kiranya dapat dipandang sebagai cermin penilaian obyektif pihak luar terhadap kinerja Telkom. Rujukannya mesti. pada kriteria komprehensif yang biasa digunakan perusahaan-perusahaan besar di dunia.

Misalnya merujuk pada kriteria IQA Foundation yang menggunakan tujuh kriteria Malcolm Baldridge untuk menilai performansi sebuah BUMN, yang meliputi:

(1) Leadership; (2) Strategic Planning; (3) Customer & Market Focus; (4) Measurement, Analysis and Knowledge Management; (5) Human Resource Focus; (6) Process Management; dan (7) Results. Apalagi sejak tahun 2000, Telkom telah menggunakan 7 kriteria Baldrige dimaksud sebagai frame untuk Telkom Quality Management System yang menjadi basis untuk membangun sistem manajemen mutu Telkom.

Nah, apakah di pemberi reward itu sudah merujuk ke arah sana? Harapan kita, tentu saja, semoga serangkaian penghargaan yang diterima itu benar-benar 100% mencerminkan reputasi perusahaan. Pada intinya berarti, tak hanya telah mencerminkan citra dan performansi terbaik, namun juga diharapkan benar-benar telah menunjukkan kepiawaian direksi dan manajemen dalam mengelola perusahaan.

Secara tidak langsung sesungguhnya mencerminkan pula kompetensi, kerjasama dan kebersamaan segenap jajaran TELKOM yang telah menunjukkan jerih payahnya melalui pengerahan tenaga dan pikiran serta optimalisasi sumberdaya lainnya, sehingga Telkom menunjukkan reputasinya, baik secara nasional maupun dalam skala global.

Kenali posisi diri

Kiranya raihan sejumlah reward itu akan semakin memotivasi seluruh jajaran Telkom untuk bekerja lebih produktif. Atau setidaknya memacu menjadi lebih tahu posisi Telkom saat ini menurut perspektif pihak luar. Baik dalam hal manajerial, maupun kualitas dan profesionalisme dalam mengelola perusahaan. Pengetahuan mengenai posisi ini, memang, penting sebagai dasar bagi manajemen untuk melakukan peningkatan mutu demi mewujudkan visinya menjadi operator terdepan di tingkat regional.


Selain itu berbagai prestasi yang berhasil diukir Telkom selama ini diharapkan pula mampu menginspirasi guna mewujudkan obsesi menjadi role model bagi seluruh BUMN di Indonesia. Tidak terkecuali role model bagi seluruh korporasi di Indonesia dan regional pada umumnya. Sehingga mampu menunjukkan bahwa Telkom sebagai the real champion di sektornya.

Jangan biarkan mati suri

Namun yang terpenting adalah makna dibalik semua penghargaan itu. Kata orang bijak bahwa keberhasilan adalah hasil dari kerja keras yang tidak berkesudahan. Berusaha lebih giat setiap hari maka akan ada hari esok yang membawa berkah dan keberhasilan. Keberhasilan itu bukan sekadar didasarkan pada obsesi, namun juga butuh imajinasi, daya kerah dan ketulusan bekerja.

Kini semuanya terpulang pada seluruh jajarannya. Maukah untuk senantiasa mengoptimalisasi segala daya dan upaya. Sanggupkah setiap individu karyawan lebih peduli untuk merespon segala keluhan kastamer di memdia sosial. Atau pada saatnya, setelah terbebas dari Covid-19, relakah untuk turun ke jalanan untuk menyatu dengan market dan kastamer. Relakah atau ikhlaskah untuk mengoptimalkan kendaraan dinas untuk memonitor market dan kastamer. Lalu, sudikah seluruh jajarannya untuk mencurahkan segala cipta, rasa dan karsa untuk kemajuan perusahaan. Atau setidaknya lebih sadar dan peduli pada nasib perusahaan terkini dan mencintainya dengan penuh ketulusan??

Kalau warga perusahaan masih ogah-ogahan dan tetap bermain pamrih-pamrihan pada perusahaan. Kalau masih menjual gengsi dan tak sudi merespon keluhan pelanggan di media sosial. Atau meneteskan keringat dan berdesakan untuk sekadar menyapa kerumunan kastamer tentang produknya. Kalau masih ngotot jaga prestise dan tak berani hengkang dari zona nyaman (comfort zone). Atau kalau masih suka planga-plongo alias bengong bersaksi atas hebat dan lincahnya manuver kaum competitor lokal dan asing. Maka lebih baik biarkanlah perusahaan ini mengerdil hingga mati suri.

Atau biarkanlah label the real champion itu menjadi impian berkepanjangan. Lalu biarkanlah visi agung yang kerap didengang-dengungkan itu menggantung di langit tertinggi menjadi kelap-kelip fatamorgana. Kemudian biarkanlah itu menjadi mimpi-mimpi indah hingga pensiun atau pendi menyapa. Karena merasa bahwa problem perusahaan itu bukan urusannya. Duh, please dech!! (nana suryana).

Rabu, 17 Juni 2020

Serial Kamsuy (18): Bunyi Lonceng ala Kamsuy

Jelek2 gitu juga Kamsuy sebenarnya termasuk sayang pada istrinya.

Baginya bunyi jam 12 siang dengan jam 12 malem ada perbedaan yang sangat mencolok.

Kalau tanya sama dia, "Kamsuy bagaimana bunyi jam 12 siang?" Maka dia akan cepat menjawab dengan menirukan bunyi lonceng: "neng, neng, neng…"

"Terus kalau jam 12 malem bunyinya gimana Kamsuy?"
Kamsuy pun menirukan: “Neeeng...neeeng… pintunya bukain neeeng…Akang kedinginan neng..." hehehe...//n425

Pesan moral: "Perlu 20 tahun untuk membangun reputasi dan cukup lima menit untuk menghancurkannya. Jika Anda berpikir tentang hal ini, Anda akan melakukan sesuatu dengan cara berbeda.” (Warren Buffett, investor dan pengusaha Amerika Serikat)

Selasa, 16 Juni 2020

Serial Kamsuy (16): Gara-Gara Penyiar TV

Kamsuy dan Mamihnya lagi nonton TV. Mamihnya merasakan  ada aroma bau yang gak beres.

"Kamsuy, kau berak di celana yah? dari tadi baunya gak hilang-hilang?" tegur Mamihnya.

"Iya, 'mih, gara2 penyiar TV tuch?" jawab Kamsuy.

"Loh, apa hubungannya?" kata Mamihnya.

"Tadi kata penyiar TV, jangan beranjak dulu nanti kembali lagi, padahal Kamsuy kan udah kebelet banget 'mih," jawab si Kamsuy dengan pasang wajah polos tak berdosa.//n425

Pesan moral: Kadang kita mengenyampingkan yang urgent dan sangat prioritas dengan sejumlah alasan yang gak masuk akal dan direka-reka...

Pertanyaan Anak Monyet...

Serial Si Kamsuy (23)

Anak Monyet itu begitu fokus melihat si Kamsuy yg sedang mandi di sungai. Kebetulan Kamsuy memang sedang berada di hutan yang rindang nan sepi. Melihat sungai dengan air yang sangat jernih Ia pun mandi. Malah, maaf, dengan tanpa pakaian alias bertelanjang.

Tanpa Kamsuy sadari, ia tengah mendapat perhatian induk monyet dan anaknya.

Anak Monyet itu pun dengan penuh perhatian dan pengamatan, asyik melihat si Kamsuy yang lagi mandi. Ia pun mulai bertanya pada induknya.

"Mamih, Mamih, sebenernya apa sieyyy bedanya manusia dengan kita?" tanya anak Monyet ke induknya yang juga melihat pemandangan yang sama.

Karena induknya bingung harus menjawab apa, ia pun menjawab sekenanya. "Bedanya gak terlalu jauh sayang, kalo kita ekornya di belakang, kalo manusia ekornya di depan, tuch kayak orang itu," jawab induknya sambil menunjuk si Kamsuy.

Pesan moral: "Kita saja berkecenderungan mengambil suatu keputusan pintas dari fakta yang tampak terlihat mata. Apatah lagi Om Onyet..."



Kapan Sebaiknya Hari Jadi Telkom

Secangkir Anggur Merah (20)
By: Nana Suryana

Pengantar: Sebagaimana kita memiliki hari lahir, maka sejatinya setiap Institusi memiliki Hari Jadi. Suatu Hari Jadi, boleh dibilang, sebagai bumbu penyedap organisiasi. Tak hanya dapat dijadikan momentum untuk bersilaturahmi dan bersuka cita seluruh jajaran manajemen dan warga perusahaan. Namun yang justru terpenting guna memperkuat Identitas Perusahaan.

Nah, bagaimana dengan TELKOM? Benarkah tanggal 27 September yang sering kita peringati sebagai Hari Bhakti POSTEL itu sebagai Hari Ulang Tahunnya TELKOM? Masih patutkah tanggal itu diperingati dan dipertahankan? Kalau begitu, yuk, kita telusuri…

Awal kisah dari KR

Bergulirnya wacana perlu dilakukan pencarian Hari Jadi TELKOM itu sesungguhnya mulai terasa pada akhir tahun 2004 silam. Saat itu Dirut Kristiono (KR) mempertanyakan, ”Kapan, sih, sebenarnya Ulang Tahun TELKOM itu?” Semua yang mendengar kelimpungan. Memang, selama ini tidak pernah tahu dan tidak pernah jelas kapan tanggalnya. Melihat situasi saling tatap wajah kebingungan seperti itu, maka secara lisan KR menugaskan pada Corporate Communication c.q. Inrel yang waktu itu dijabat Pan Supandi, untuk segera melakukan penelusuran.

Agar penugasan ini lebih mengikat dan memiliki dasar kuat, maka diterbitkan Nota Dinas DIRUT No. C.TEL 30/PS170/SEK-10/2004 tanggal 22 Oktober 2004 tentang Penugasan sebagai Tim Pengkajian Hari Jadi TELKOM.

Dibentuklah Tim Pengkaji yang diketuai Kabag Inrel, Pan Supandi dan Sekretaris Nana Suryana dibawah tanggung jawab Mundarwiyarso selaku Koordinator Komunikasi Perusahaan. Tim yang dilengkapi beberapa Anggota itu mulai bekerja dengan melakukan penelusuran Hari Jadi TELKOM untuk dipertimbangkan dan ditetapkan dalam Rapat Direksi (RADIR).

Metoda Pengumpulan

Adapun metoda pengumpulan data dan penelitian yang dipergunakan antara lain: Literature Study dari Buku Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia Jilid IV-Masa Demokrasi Terpimpin; Melalui Interview secara tatap muka atau email dengan beberapa orang sesepuh/tokoh telekomunikasi; Melakukan telaahan bersama para Ahli Sejarah; Serta melalui Jajak pendapat Karyawan melalui Email.

Penelusuran dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain: Pertama, melalui pendekatan HISTORIS, yang menyatakan bahwa Hari Jadi TELKOM sebagai suatu perusahaan harus dibedakan dengan Hari Peringatan dari eksistensi telekomunikasi di Indonesia yang sifatnya eventual, baik sebelum maupun setelah revolusi. Kedua, Pendekatan PERSPEKTIF LEGAL & OTORITAS, yakni bahwa Hari jadi TELKOM hendaknya merupakan cermin dari TELKOM sebagai entitas bisnis yang mandiri yang didasarkan pada suatu dasar hukum resmi.

Dan Ketiga, Pendekatan PERSPSEKTIF AKTIVITAS PERUSAHAAN, yang menyatakan bahwa Hari jadi TELKOM sebaiknya disinkronkan dengan siklus sales produk/jasa TELKOM dan dengan siklus pembangunan Citra TELKOM di masyarakatnya.

Hasil jajak pendapat

Dari proses penelitian dan pengumpulan data/opini, diperoleh hal-hal penting sebagai berikut: Pendapat Karyawan, yakni dari jajak pendapat yang diikuti oleh 128 Karyawan melalui email diperoleh hasil pilihan Hari Jadi TELKOM sebagai berikut: Sebanyak 27% responden memilih bahwa Hari Jadi itu sebaiknya Tanggal 23 September 1991 (Hari Perubahan dari Perum ke Perseroan); 19,5% memilih Tanggal 6 Juli 1965 (Tanggal dari PP. No 30/65 tentang pendirian PN.Telekomunikasi); 16,4% memilih Tanggal 27 September 1945 (Tanggal pengalihan Kantor Pusat PTT); Serta 37,1% responden memilih Lain-lain.

Sementara Pendapat Sesepuh/Pinisepuh/mantan pejabat dan saksi sejarah, antara lain terhimpun dari Bpk. Ir.Sukarno Abdurachman, Bpk.Soendjoto BcAT, Bpk.Soeparwi BcTT, Bpk.Daud Surjadi BcTT, kesemuanya sependapat bahwa tanggal 6 Juli 1965 merupakan waktu paling tepat sebagai Hari jadi TELKOM, sebagai tanggal pendirian PN.Telekomunikasi.

Begitu pun menurut Pendapat Pakar Ada 6 (enam) alternatif tanggal sebagai Hari Jadi TELKOM, salah satunya adalah tanggal 6 Juli 1965, adapun sisanya merupakan tanggal-tanggal yang berkaitan dengan eksistensi telekomunikasi di Indonesia (eventual).

Tanggal 27 September, misalnya, yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bhakti Postel oleh semua pegawai di jajaran pos dan telekomunikasi dipandang kurang tepat untuk dijadikan Hari Jadi Telkom. Tanggal ini bertolak dari diambil-alihnya Jawatan PTT dari kekuasaan pemerintahan Jepang oleh putra putri Indonesia yang tergabung dalam Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon yang disingkat AMPTT pada tanggal 27 September 1945.

Berdasarkan hasil analisa Tim, bahwa Walaupun dari persfektif Legal, sejak 1 Januari 1962 telah berbentuk Perusahaan Negara (berdasarkan PP No.240 tahun 1961), namun dari persfektif otoritas pengelolaan bisnis telekomunikasi saat itu belumlah merupakan entitas yang mandiri. Hal itu dicerminkan antara lain oleh masih digabung dengan Pos & Giro. Selain itu Pengelolaan bisnis telekomunikasi saat itu hanya merupakan salah satu direktorat (disebut Direktur Telekomunikasi dan Direktur Telekomunikasi Muda).

Demikian halnya Susunan Direksi PN.POSTEL berdasarkan SK.Mendapostelpar tanggal 13 Agustus 1964 Nomor U14/11/7: Perusahaan dipimpin oleh seorang Dirjen (DIRJEN POSTEL) yang dibantu oleh tiga Direktur Staf dan tiga Direktur Perusahaan serta dua Dirketur Muda Perusahaan.

Sedangkan Pengelolaan bisnis telekomunikasi merupakan suatu entitas, baru terwujud pada tanggal 6 Juli 1965. Saat itu sebagai Perusahaan Negara Telekomunikasi yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.30 tahun 1965 (Lembaran Negara No.62 dan No.63 tahun 1965). Tepatnya tanggal 6 Juli 1965.

Dari analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa tanggal 6 Juli 1965 merupakan salah satu waktu yang PALING TEPAT untuk dijadikan sebagai Hari jadi TELKOM.

Pada tanggal, bulan dan tahun itu, telah diajukan ke Dirut untuk mendapat penetapan dalam Radir. Namun entah mengapa, ada apa dan bagaimana, waktu itu tidak mendapatkan respon. Bahkan terpending cukup lama. Selentingan kabar, kalau ditetapkan pada tahun itu, usia Telkom tampak masih terlalu muda. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Bagaimana dengan tanggal 23 Oktober

Usulan hari jadi Telkom tanggal 6 Juli 1965 terpending. Kemudian ditemukan suatu hari yang sangat bersejarah bagi pertelekomunikasian di republik ini yaitu tanggal 23 Oktober 1856. Alternatif untuk penetapan hari jadi ini mengacu pada pengoperasian layanan jasa telegrap elektromagnetik pertama yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dengan Buitenzorg (Bogor) pada tanggal 23 Oktober 1856.

Pertimbangan untuk memilih waktu ini agar eksistensi Telkom sebagai satu-satunya operator telekomunikasi merah-putih tampak lebih dewasa, tua dan sarat pengalaman. Peringatan hari jadi Telkom pun kemudian digelar pada tanggal ini, Yakni, dilakukan pada tahun 2009 silam sebagai hari jadi yang ke-153.

Peringat Hari Jadi Telkom waktu itu bersamaan dengan pelaksanaan rangkaian transformasi perusahaan. Mulai dari perubahan logo, terutama guna memenuhi keinginan stakeholders, agar Telkom melakukan perubahan secara mendasar. Agar Telkom mampu menampilkan sesuatu yang baru. Tidak hanya mengganti corporate identity (logo) saja. Namun yang terpenting adalah Telkom saat itu mendeklarasikan sebuah perubahan business portofolio dari Infocomm ke TIME sebagai satu-satunya operator TIME di Indonesia.

Perubahan pada tubuh Telkom terus bergulir. Dimulai dengan positioning baru, value baru, taqline baru, corporate identity baru serta culture baru. Harapannya, citra baru Telkom ini mampu meningkatkan ekspektasi stakeholder pada Telkom.

Salah satu stakeholders, yakni kastamer, tentu saja ingin mendapatkan dan merasakan sebuah layanan yang berbeda dari sebelumnya. Layanan yang lebih baik dari operator manapun yang pernah mereka kenal dan rasakan. Sebuah layanan yang akan membangkitkan gairah baru dan experience baru yang benar-benar memorable. Menuju Telkom dengan Era Baru, Bercitra Baru, dan tentu saja saat itu dimulai dengan tag-line baru: the world in your hand. Dunia dalam genggaman tangan anda...

Jadikan momentum bagi pensiunan

Peringatan hari jadi perusahaan sepantasnya untuk dirayakan. Namun situasi dan kondisi perusahaan dan sosial masyarakat, maka perayaan itu cukup dilakukan secara sederhana, namun khidmat. Terpenting justru bagaimana momentum ini dapat dijadikan peningkatan kesejahteraan bagi para pensiunan, terutama pensiunan pra 2002.

Alangkah indahnya jika setiap peringatan hari jadi ada tambahan MP bagi para pensiunan, yang notabene tak pernah meningkat seumur-umur. Jadi dalam setahun mereka bisa menerima dua kali TMP, yakni pada saat jelang Idul Fitri dan hari jadi. Direksi cq Manajemen jangan terlalu pelit untuk tujuan yang sangat mulia ini. Dengan melibatkan Dapen, P2Tel dan Sekar, bisa mulai merintisnya untuk hari jadi oktober mendatang. Semoga harapan ini menjadi kenyataan...//**nana suryana

Senin, 15 Juni 2020

Perubahan...Bulshit??

Secangkir Anggur Merah (Edisi-4)

by: Nana Suryana

Kita harus berubah! Ya, ucapan bernada instruksi ini kerap dilontarkan para CEO atau para pejabat perusahaan. Sampai-sampai ucapan itu menjadi terasa klise. Bulshit, modus atau Omdo, kata orang sekarang. Bahkan ada yang protes: ”Sekarang zamannya role model bung! Sebelum memberi instruksi lakukan dulu perubahan diri sendiri.”

Mengapa, tekanan bernada perintah kepada akar rumput itu bisa berbuah apatisme? Karena melakukan perubahan, dirasakan kurang enak alias gak nyaman. Itulah sebabnya tidak banyak orang yang menyukai perubahan.

Untuk berubah ke arah yang lebih baik, biasanya memang tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar. Ada pengorbanan yang harus diganjar! Boleh dalam bentuk pengendalian sikap, prilaku, manajemen waktu, sampai pada tuntutan untuk fokus. Terkadang turut mengimbas pula pada pengorbanan keluarga. Diburu dan dikejar target hingga harus pulang larut malam.

Memang yang paling gerah adalah mengubah attitude. Betapa tidak, selama ini mungkin kita sangat suka dan terlanjur nyaman dengan sikap yang dimiliki. Apalagi jika telah terlanjur terbuai zona nyaman. Ucapan seperti "EGP", "mana ada urus" atau "bukan urusan saya" telah menjadi kalimat sanggah yang paling diandalkan. Sampai-sampai, harus memvonis orang lain agar rela untuk menerima sikap dirinya yang semau gue.

Lalu bagaimana jika tiba-tiba diminta untuk melakukan perubahan sikap dari yang selama ini sangat nyaman? Mungkin siapa pun akan mulai berpikir dan mencari alasan pengingkaran. Boleh jadi akan keluar kalimat argumentatif, seperti ini: “Untuk apa sih gue ini harus kerja gini-gini amat! kaki dibikin kepala, kepala dibikin kaki (maksudnya kerja sampai jungkir balik, red.), padahal gaji gue dengan si polan yang gebleknya ga kira2 tak ada bedanya!!”

Kalau selama ini kita tergolong orang cuwek bebek yang senang dilayani, lalu diajarkan untuk berubah menjadi orang yang suka melayani, sudah tentu, pastilah ini tidak mudah. Bisa saja terjadi banyak pergolakan batin. Bermunculan keluhan atas kesulitan hingga terjadi tekanan emosi yang menghimpit.

Contohnya, tengoklah kondisi para karyawan beberapa waktu lalu banyak yang mengeluh sampai keinginan untuk dikabulkan pensiun dininya (pendi). Mengapa? karena tak tahan sewaktu ditantang harus berjualan produk sesuai target selangit dengan pelayanan prima kepada calon pelanggan.

Namun apapun alasannya, siapapun kita termasuk para pensiunan, mendapat tuntutan untuk berubah. Perubahan harus sudah dimulai dan harus terus berjalan. "With or without you," kata seorang Senior Leader yang idealis.

Memang sepertinya kita tak punya pilihan lain. Option-nya hanya satu,: “We must change!” Kita harus berubah. Terpaksa atau dipaksa harus berubah. Siapapun kita itu, dimanapun kita berada, di level apapun tanggungjawab kita. Semua harus berubah! Mengapa? Karena situasi dan kondisi kehidupan di alam Pandemik Covid-19 saat ini yang semakin memaksa untuk berubah.

Lantas mengapa perubahan telah menjadi sesuatu yang amat penting? Sebab, itulah resep orang-orang sukses di jagad raya ini. Karena mereka berani berubah. Mereka bersedia keluar dari zona nyaman (comfort zone). Apapun kondisinya, baik itu kekurangan diri, kelemahan diri, keterbatasan sarana dan prasarana, sesungguhnya tak bisa dibilang sebagai kendala.

Karena perubahan, Julius Caesar, si penderita epilepsy, berhasil menjadi seorang jenderal lalu menjadi kaisar. Napoleon, yang terlahir dari keluarga melarat, juga berhasil menjadi jenderal. Bethoven menghasilkan lagu terbaiknya justru setelah telinganya tuli total. Charles Dickens terkenal menjadi penulis novelis Inggris terbesar dari keluarga miskin dengan kaki pincang. Atau Milton yang menggubah sajak-sajaknya yang terindah sepanjang masa setelah ia menjadi buta.

Orang-orang itu, sungguh, telah sanggup mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Kekurangan menjadi prestasi. Hambatan dijadikan peluang. Kini yakinlah bahwa keunggulan, kemenangan, keberhasilan dan kejayaan adalah fungsi garis lurus dari kemauan, kemampuan dan keberanian untuk berubah.

Menurut para psikolog bahwa keberanian adalah 50% dari kesuksesan. Sementara kemauan merupakan 50% menjadi kemampuan. Namun sialnya, banyak dari kita yang mampu tapi tidak mau. Banyak yang mau tapi tidak mampu. Dan banyak yang mampu dan mau tapi tidak berani.

Inikah yang disebut demotivasi? Yang lebih suka bersiul di kursi goyang seraya mereguk secangkir kopi? Atau berongkang kaki bersama kepulan asap sebatang rokok? Atau duduk merenung nostalgia di masa jaya? Atau malah telah kehilangan jati diri?

Ah, sepertinya memang kita harus berubah. Berubah untuk berbuat sesuatu yang lebih bermakna. Berubah untuk berrbuat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi keluarga dan orang lain. Berubah agar lebih lebih bernilai ibadah untuk bekal akhirat kelak...

Yuk, akh, kita gapai misi hidup kita "Mati masuk surga bersama ridhoNya"...!! (N425)

Minggu, 14 Juni 2020

Quo Vadis Telkom, Pasca Disentil Erick THohir

(Telkom Landmark Tower Jakarta)
by: Nana Suryana

Selama ini Telkom dikenal sebagai BUMN papan atas. Bahkan dengan segenap kebanggaan kerap didaulat sebagai BUMN Merah Putih pemberi deviden terbesar pada negara. Tak ayal, Citra Telkom membumbung ke angkasa. Para pencari kerja di republik ini menempatkan Telkom sebagai pilihan pertama sebagai tempat bekerja.

Namun seiring waktu dan perkembangannya, bisnis Telkom terus melesak dihajar lingkungan bisnis yang semakin kompetitif. Tentu saja termasuk efek kemajuan teknologi yang mengalir deras tanpa batas. Pada gilirannya bisnis Telkom mulai terpuruk. Dan hanya bisa mengandalkan dari revenue salah satu anak perusahaannya, Telkomsel.

Kondisi bisnis Telkom yang semakin menukik itu terasa berbau menyengat. Pada gilirannya tercium Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir (ET). Sentilan pertama ET, ia merasa kesal dan tak sudi melihat bisnis Telkom begini-begini saja. Apalagi pada era disrupsi bisnis seperti sekarang, ia meminta Telkom berinovasi lewat pengembangan teknologi kekinian.

Waduh, kesongongan apa yang telah diumbar Meneg BUMN pada Kabinet Kerja ini. Karuan saja jajaran direksi, para mantan petinggi Telkom, para petinggi Sekar sampai pada jajaran Manajemen Telkom terasa panas dingin, kalau tak mau dibilang meriang.

“Wah, jangan-jangan beneran Telkom mau dibubarin nih,” demikian letupan suara sumbang yang terdengar santer di pertengahan Pebruari silam.

Memang benar, ET tak berniat mendiskreditkan Telkom. Apalagi Telkom dikenal sebagai jagonya teknologi. Dalam angan dan pikiran bisnisnya: Ya, inovasi Telkom harus dipacu dong. Sektor teknologi gak boleh dilupakan dalam rencana pengembangan bisnis BUMN.

Untuk itu, Telkom sejatinya segera berbenah diri dalam mengembangkan bisnisnya.
ET pun berangan-angan agar Telkom segera bermetamorfosis. Tinggalkan cara lama dan sudah sejatinya masuk pada cara baru sesuai tuntutan jaman. Lebih ke profit oriented dan lebih menjanjikan. Apalagi kalau Telkom malah an-sich menjadi penonton, ditengah hiruk-pikuk bisnis cloud dan big data yang kini digarap asing. Padahal Telkom, kan, memiliki kekuatan jaringan dan database yang besar.

Sayang sekali, tutur ET, jika database atau jaringan ini diambil asing. Padahal yang selalu bicarakan database ini adalah the new oil . Karena melalui big data kita bisa memprediksi apa yang akan dikehendaki dan dibeli orang.
Sentilan yang dirasakan cukup perih itu, ketika ET menyinggung Telkom yang justru mengandalkan keuntungan dari anak usahanya yakni, Telkomsel.

Menurut Erick, industri telekomunikasi sudah jauh berubah dengan tidak sekadar menjual layanan pesan suara, melainkan juga data. Dengan infrastruktur yang dimiliki, Telkom seharusnya bisa mengembangkan bisnisnya lebih masif.

Coba saja, sentil Erick, pendapatan Telkomsel digabung ke Telkom hampir 70 persen. Ya, mendingan enggak usah ada Telkom. Mendingan punya Telkomsel saja yang langsung dimiliki Kementerian BUMN. Devidennya lebih jelas.

Pernyataan ET itu mengindikasikan, bukankah sebaiknya Telkom dibubarkan saja. Wow, kritikan yang sangat menyengat, kalau tak mau dibilang bagai menampar wajah jajaran Manajemen Telkom. Apalagi ketika Erick meminta Telkom melirik peluang bisnis baru, contohnya cloud computing.

Erick mengaku sempat terpaksa menggunakan layanan cloud dari Alibaba yakni Alicloud saat Asian Games 2018 lantaran tak ada BUMN yang mampu memenuhinya. Erick saat itu sangat prihatin. Mengapa peluang ini bisa lepas dari Telkom.

Kita mau Telkom ke depan berubah ke arah database, big data, cloud, masa cloud saja dipegang Alicloude (Alibaba). Kan, gak lucu. Bigdata dan cloud bisa menjadi sebuah bisnis yang lebih menjanjikan bagi Telkom. Jangan malah diambil asing.

Respon Telkom

Lantas quo vadis Telkom? Mau kemana Telkom pasca disentil ET? Dirut Telkom, Ririek Adriansyah, memang lumayan gerah mendapat sentilan ET. Namun kepiawaiannya dalam mengelola krisis, rupanya beliau sikapi dengan tangan dingin. Ia menanggapi kritik dan sentilan Erick terhadap perusahaan yang dipimpinnya dengan positive thinking. “Tujuannya pak Menteri sangat baik” tandasnya. Ia menilai, pak menteri mengharapkan Telkom lebih cepat bertransformasi.

“Beliau ingin Telkom bertransformasi ke depan,” ujar Ririek. Padahal, sesungguhnya kita sudah punya rencana itu. Tapi rupanya beliau ingin lebih cepat lagi. Tak mengapa.
Telkom, tambah Ririek, juga berkomitmen untuk melakukan transformasi bisnis sekaligus berinovasi untuk mengembangkan bisnis di Indonesia. Walaupun kalau untuk masuk ke sector cloud computing masih belum saatnya dimulai. Namun dapat dipastikan segera meluncur.

Fokus pengembangan bisnis Telkom saat ini, kata mantan Dirut Telkomsel ini, adalah memodernisasi jaringan telekomunikasi dengan menggunakan teknologi 100 persen berbasis fiber optik di kota dan kabupaten seluruh Indonesia. Ini sangat urgent, terutama guna mempersiapkan layanan 5G.

Program modernisasi itu dikenal dengan istilah Modern Broadband City. Ini adalah komitmen Telkom untuk meningkatkan kualitas layanan Information & Communication Technology (ICT) bagi masyarakat guna mempercepat terwujudnya digitalisasi Indonesia.

Pada era digital saat ini, tergelarnya infrastruktur 100 persen fiber optik itu diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan broadband berkualitas. Ini menjadi landasan penting dalam penyediaan layanan digital baik digital platform maupun services, yang dapat diakses melalui jaringan fixed broadband maupun seluler berkecepatan tinggi 3G/4G. Sekaligus juga menjadi langkah penting TelkomGroup dalam mempersiapkan hadirnya layanan 5G.

ET Minta Maaf

Setelah dilakukan sowan Dirut Telkom ke Meneg BUMN, barulah kisruh bernada sentilan itu mulai mencair. ET dan Ririek, sesungguhnya memiliki konsep sama terkait pengembangan Telkom ke depan.. Erick mengatakan, Telkom dipastikan bakal moving. Akan segera bergeser ke bisnis cloud dan big data. Dan di-iya-kan oleh Ririek.

Erick pun meminta maaf karena sebelumnya menyinggung Telkom yang hanya mengandalkan dividen anak usahanya,Telkomsel.

Dalih ET, sebenarnya diniatkan untuk memastikan bahwa dividen Telkomsel digunakan dengan sebaik-baiknya.
"Saya mohon maaf, kalau bicara kurang baik tentang Telkom. Sebelumnya, saya sudah duduk bersama Dirut Telkom, Pak Ririek, jauh-jauh hari. Beliau ini, bekas Dirut Telkomsel. Jadi tahu persis dividen Telkomsel yang masuk ke Telkom, dipastikan benar-benar dipergunakan sebaik-baiknya. Dan saya juga pastikan Telkom punya dividen yang baik," katanya dalam acara Economic Outlook 2020 yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/2/20).***//nas

Sabtu, 13 Juni 2020

Tak Sudi Menerima Kegagalan

*) Secangkir Anggur Merah (edisi-3)

by: Nana Suryana

Kalau kita mau jujur dan masih dalam koridor waras alias sehat lahir batin, kita pasti tak sudi menerima kegagalan.

Mengapa? Karena kegagalan adalah sesuatu yang tidak mengenakan. Tidak nyaman. Bahkan mungkin akan terasa menyakitkan. Oleh karena itu dengan sekuat urat dan tenaga, kita pasti akan berupaya untuk mengusir kegagalan dari kehidupan kita.

Namun demikian, kegagalan rupanya sudah terlanjur akrab dalam setiap denyut nadi kita. Kegagalan telah menjadi bagian dari hidup kita. Tak ada manusia di jagat raya ini yang belum pernah mengalami kegagalan. Sebagai seorang pegawai, misalnya, tentu pernah merasakan adanya target yang tidak tercapai. Banyak sasaran yang melenceng dari target. Atau kegagalan menghadapi kehidupan lainnya, misalnya cinta kasih yang tak sampai ke pelaminan. Akhirnya yang namanya sukses menjadi harapan tinggal fatamorgana. Dalam istilah yang menyentil dikatakan juga sebagai "gigit jari."

Lantas mengapa kita harus mengalami kegagalan? Atau mengapa kita tak ramah dengan sukses, malah lebih suka bersua dengan wajah kekecewaan? Apakah kegagalan sebuah realitas hidup yang wajib dan mutlak keberadaannya. Lantas mengapa sebuah kegagalan harus disikapi dengan bijak?

Tapi, ah, rupanya kegagalan tak harus terjadi dalam semalam. Sukses pun tak lantas tercapai dalam sehari. Kedua tesis di atas sangat sederhana namun cukup teruji kebenarannya. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah kemampuan kita untuk mengambil langkah-langkah kecil guna menggapai hasil yang besar. Dan sebuah kegagalan sebenarnya adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil. Hingga ia menumpuk sedemikian besar dan tak terelakan lagi.

Mari kita ambil sebuah contoh kasus gagal jantung. Sesungguhnya serangan jantung tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi bertahun-tahun bahkan memakan waktu puluhan tahun. Penyakit jantung mungkin telah tertimbun sejak mulai merokok, serta pola makan yang tidak sehat atau tidak seimbang. Bisa pula akibat kondisi stress dan malas berolahraga. Akibatnya sedikit demi sedikit pembuluh darah semakin menyempit. Dampak lanjutannya cukup serius, terjadi kegagalan jantung. Kini yakin lah seperti yang dikatakan para dokter jantung bahwa kegagalan jantung itu sesungguhnya terjadi secara bertahap. Secuil demi secuil.

Demikian halnya tentang sebuah keberhasilan. Ia pun sesungguhnya berlangsung dengan modus yang sama. Sedikit demi sedikit ditumpuk secara intens sehingga kesuksesan itu lama kelamaan menjadi numpuk. Bahkan semakin besar dengan menghasilkan buah manis dan ranum.

Contoh yang agak teoritis demikian. Jika seseorang mempelajari lima kata bahasa Inggris per hari maka dalam setahun dia akan memiliki hampir dua ribu kosa kata dan dalam lima tahun pasti bisa menguasai sepuluh ribu kosa kata. Tetapi berapa banyak kah orang yang sanggup melakukannya? Tentu tak banyak, termasuk para mahasiswa dan kaum sarjana serta tentu saja penulis sendiri. Sehingga kalau ada pertanyaan, berapakah lulusan perguruan tinggi yang mampu berbahasa Inggris dengan lancar? Tentu saja tidak banyak. Mengapa? Karena mereka gagal membunuh kemalasan hingga tak sudi menghafal lima kata Inggris per hari. Persis seperti yang dialami penulis.

Ada beberapa rahasia kegagalan yang bisa menjadi bahan renungan kita. Diantaranya adalah gagal mengucapkan terima kasih. Gagal minta maaf. Gagal memberi perhatian pada seorang staff. Gagal meningkatkan kesejahteraan karyawan. Gagal megurus organisasi. Gagal bertekun saat bekerja. Gagal berolahraga setengah jam per hari. Gagal membawa mobil ke bengkel untuk service rutin. Gagal menabung 5% dari penghasilan per bulan. Gagal menutup mulut dari ucapan tak bermutu. Gagal mendirikan sholat tepat waktu. Gagal berlaku jujur dengan vendor. Gagal melakukan transformasi, Gagal mendidik keluarga. Dan yang paling parah adalah gagal tersenyum alias cemberut seumur-umur.

Serta tentu saja masih ada ribuan kegagalan lainnya yang ujung-ujungnya bisa gagal ginjal dan gagal jantung sampai pada gagal bernafas sehingga gagal hidup lebih lama. Yang paling repot dan justru paling dikhawatirkan adalah gagal masuk surga. Alaaa Maaakkk...! (N425) ).

Jumat, 12 Juni 2020

Aku tak bisa memberimu segelas beras

Kisah Inspiratif

Suatu ketika mobil pengangkut beras tiba di sebuah toko. Oang-orangpun datang berebut untuk membelinya. Terjadilah antrian panjang di toko pedagang beras.

Tibalah giliran seorang wanita tua miskin. Dengan tangan gemetar ia menyodorkan gelas plastik yang dibawanya kepada si penjual beras.

Wanita tua itu berkata : "aku tidak mampu membeli berasmu, sudikah engkau bersedekah untukku dengan segelas beras saja.?"

Dengan suara keras, penjual beras itu berkata: "Tidak, aku tidak bisa memberimu segelas beras!!."

Tetapi kemudian penjual beras itu menyuruh pembantunya untuk membawa sekarung beras dan mengantarkannya ke rumah wanita tua itu. Wanita tua tersebut menerimanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Air mata bahagia mengalir deras di pipi keriputnya.

Seorang pembeli yang tadinya antri di belakang wanita tua bertanya pada si penjual beras: "Pak, bukankah yang diminta wanita tua itu hanya segelas beras? Mengapa bapak memberinya sekarung beras?

Dengan lembut, penjual beras berkata ..
"Itu karena dia meminta sesuai dengan KEBUTUHANNYA, sedangkan aku memberi sesuai KEMAMPUANKU... aku melakukan itu karena begitu pula yang ALLAH lakukan kepadaku selama ini... Setiap kali aku MEMINTA kepadaNYA apa yang kuinginkan, Ia selalu MEMBERIKU berdasarkan KUASA-NYA.."*

"Dan pemberian-NYA bukan hanya sekedar cukup, melainkan SELALU LEBIH dari cukup... ALLAH memberi apa yang aku BUTUHKAN, LEBIH dari sekedar apa yang aku INGINKAN.."*

Bersyukurlah atas nikmat² yang Allah Shubhana Wa Ta'ala berikan karena siapa saja yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah Shubahanhu Wa Ta'ala, pasti akan Allah tambahkan nikmatnya.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Semoga kita termasuk kedalam orang2 yg pandai bersyukur...Aamiin Ya'robbal'aalamiin. ***//

Kamis, 11 Juni 2020

Memuji bersholawat kepada Rasulullah, Lidah dipotong

اللهم صل وسلم عدد من احب النبى والصديق على سيدنا محمد افضل من يدعو الى الحق صلاة وسلاما ننال بهما حسن الرفيق وامان الطريق والفرج من كل شدة وضيق وعلى اله وصحبه ومن بالنبى تعلق

Kisah ini terjadi di masa lalu. Seorang penyair hebat dan sangat terkenal, Syaikh Farazdaq, selalu asyik memuji Rosululloh ﷺ. 

Setiap beliau melaksanakan ibadah haji, beliau berziarah ke makam Rosululloh ﷺ dan membaca syair-syair pujian kepada Rasulullah Shallallahu Allaihi Wassalam. Ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qosidah atay syair-syair pujian yang dilantunkannya.

Setelah selesai membaca qosidah, orang itu menemui Syaikh Farazdaq dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya.

Beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah al-Munawwaroh sampailah keduanya di rumah yang dituju.

Sesampainya di dalam rumah, orang tersebut memegangi Syaikh Farazdaq dan berkata : “Sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad ﷺ, dan kubawa engkau ke sini untuk ku gunting lidahmu!.”

Maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata :
“Ambillah potongan lidahmu ini dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad!ﷺ.”

Syaikh Farazdaq pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak boleh lagi membaca syair untuk Sayyidina Muhammad ﷺ.

Kemudian beliau datang ke makam Rosululloh ﷺ seraya berdoa :

“Ya Alloh ﷻ jika penghuni makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya, maka biarkan aku tidak lagi boleh berkata-kata seumur hidupku, karena aku tidak memerlukan lidah ini kecuali hanya untuk memujiMu dan memuji NabiMu. Namun jika Engkau dan NabiMu ridho, maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula.”

Beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Rosululloh ﷺ yang berkata :
“Aku suka mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu.”

Lalu Rosululloh ﷺ mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada tempatnya semula.

Ketika Syaikh Farazdaq terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti sediakala, maka beliaupun bertambah dahsyat memuji Rosululloh ﷺ

Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rosululloh ﷺ dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rosululloh ﷺ
Dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya.

Beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu

Sesampainya di rumah anak muda itu, beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu pernah beliau datangi lalu lidah beliau dipotong
Anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada seekor kera yang sangat besar dan kelihatan sangat ganas, maka anak muda itu berkata :

“Engkau lihat kera besar yang ada di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dahulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Alloh mengubahnya menjadi seekor kera.”

Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Alloh ﷻ :

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ ( الأعراف : ١٦٦)

“Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina." (QS. al-A’raf ayat 166)

Kemudian anak muda itu berkata : “Jika ayahku tidak boleh sembuh, maka lebih baik Alloh matikan saja.”

Maka Syaikh Farazdaq berdoa : “Ya Alloh ﷻ aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya.”

Dan seketika itu pun Alloh ﷻ mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula

Dari kejadian ini jelaslah bahwa  Allah ﷻ sangat mencintai orang-orang yang suka memuji Nabi Muhammad ﷺ . .
Terlebih lagi  pujian kepada Nabi Muhammad ﷺ itu disebabkan oleh rasa cinta yang sangat mendalam...

اللهم صل علی روح سيدنا محمد فی الأرواح وعلی جسده فی الأجساد وعلی قبره فی القبور وعلی اله وصحبه وسلم



Selasa, 09 Juni 2020

Mana itu spiritual marketing Indihome

*) Secangkir Anggur Merah (Edisi-1)By: Nana Suryana

Pendekatan spiritual tampaknya telah merambah ke setiap denyut sendi kehidupan. Aktivitas spiritual, dalam persepsi masyarakat biasanya diarahkan dalam konteks relijius atau keberagamaan atau untuk membangun komunikasi vertikal dengan Sang Khaliq, Allah Shubhanahu Wa Ta”ala, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun itu jaman kuda gigit besi. Dunia marketing kini sudah semakin maju bung! Kini dikenal istilah baru dengan nama spiritual marketing atau spiritual branding. Wah, istilah ini memang keren ya. Malah kini semakin populer dan diterapkan di lingkungan perusahaan. Misalnya, dalam upaya meningkatkan keterbukaan, kejujuran, kesantunan dan nilai-nilai moral baik lainnya.

Menurut suhu Marketing, Hermawan Kartadjaya, pendekatan spiritual dapat berguna dalam membangun brand. Diyakini tidak hanya sanggup mendongkrak profit, Namun lebih dari itu mampu menebarkan value yang menjamin kelanggengan merek. Bahkan sanggup membentuk diferensiasi yang tak tertandingi. Lalu dimana sesungguhnya efek luar biasanya?

Kisah Pilu Indihome

Apa yang terjadi dengan produk andalan Telkom saat ini, IndiHome? Produk ini, kini tengah berduka. Itu terjadi lantaran dihujani keluhan dari pengguna mereka di berbagai media sosial, terutama Twitter. Banyak pengguna yang mengeluhkan jaringan IndiHome yang sering bermasalah saat work from home (WFH) di tengah pandemic Covid-19.

Apalagi pemerintah telah menerapkan sistem belajar secara online dan bekerja dari rumah, sehingga mengharuskan pengguna memanfaatkan jaringan internet, khususnya Wifi, yang lebih sering dibanding biasanya.

Pada akun @HisyamMhp, misalnya, ia mencuitkan sudah tiga kali jaringan IndiHome terputus saat ia melakukan rapat online bersama rekan kerja. Ia mengatakan kalau sudah empat kali mengajukan komplain dan telah mengikuti instruksi yang diminta pihak IndiHome, tetapi tetap tidak ada perubahan.

Padahal di masa-masa saat ini, masa WFH, hampir segala urusan pekerjaan bergantung sama koneksi internet. Terus kalau koneksi sering macet seperti itu bagaimana? Apalagi saat anteng-antengnya meeting, eh sudah tiga kali koneksi terputus,

Lain lagi kisah pilu di beberapa Apartemen, seperti di Apartemen Kalibata City dan Apartemen Green Pramuka, para pengguna internet lebih memilih GIG Indosat ketimbang IndiHome. Pertimbangnnya, GIG Indosat jaringannya lebih stabil, pelayannya sangat baik dengan harga yang lebih bersahabat. Sementara IndiHome sebaliknya.

Sentuhan Compassion

Keluhan-keluhan pengguna Indihome yang ditumpahkan di media sosial, mestinya dapat segera diselesaikan secara baik. Pemilik merek, Telkom, mestinya tidak sekadar harus memberikan jaminan kepuasan atau hanya mengincar an-sich profitabilitas, melainkan juga harus lah memiliki compassion. Misalnya dengan menunjukkan rasa kasih sayang, rasa iba, dan rasa peduli dalam mengatasi keluhan-keluhan yang terjadi. Baik dari sisi pelayanan, harga dan pendekatan-pendekatan yang lebih menyentuh qolbu.

Menurut Hermawan bahwa pemasaran tidak hanya dalam pengertian the meaning of marketing, melainkan juga dalam pengertian marketing of the meaning. Yang berarti adanya tuntutan agar dunia pemasaran menunjukkan nilainya. Bahwasanya pemasaran tidak hanya produk dengan manfaat fungsional ataupun manfaat emosional, melainkan mesti pula menonjolkan manfaat spiritual.

Tentu saja bahwa maksud sang suhu, bahwa pendekatan untuk merespon setiap keluhan pengguna produk wajib dilakukan dengan berbasis pada nilai spiritual (jujur, terbuka, santun, dll). Dengan mendasarkan pada nilai-nilai (spiritual), dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang berbeda.
Contoh penerapan spiritual branding seperti yang diterapkan Grameen Bank, yang secara konsisten telah menanamkan nilai kemanusiaan kepada nasabahnya. Begitupun The Body Shop, melalui pemberdayaan para petani lemah sebagai pemasok. Serta Story TBS yang telah sukses mengkampanyekan untuk tidak melukai binatang. Ternyata semuanya telah berhasil mendapat tempat di hati masyarakat dan kastamernya dengan meraih nilai di atas rata-rata.

Lantas mengapa Indihome tidak memanfaatkan momentum Pandemi Covid-19? Padahal momentum ini sangat ideal dalam mengaplikasikan spiritual marketing. Misalnya, bisa bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Tim Penanggulan Covid-19.

Produk-produk yang bernilai spiritual, seperti yang mereka lakukan, terbukti memiliki reputasi tinggi dengan daya saing (diferensiasi) yang sulit tertandingi. Tidak seperti umumnya produk lain yang hanya didorong dan menawarkan added value (nilai lebih) saja. Tapi pendekatan spiritual, telah berhasil mengantarkan merk/produknya dari value menjadi values.

Dengan demikian jika proses kerjanya sudah menggunakan nilai spiritual, maka produk atau jasa yang dihasilkannya pun dengan sendirinya mengandung nilai spiritual. Inilah yang disebutnya sebagai spiritual marketing. Sama halnya dengan konsep VBM (Salah satu buku Hermawan K), bagaimana marketer menyampaikan value dengan values. Sehingga produk/jasa yang dihasilkannya memperlihatkan compassion, mengunggulkan hasrat, mengincar keberlanjutan, dan terlihat sangat berbeda dari produk lain.

Nah, kini bagaimana dengan branding dari berbagai produk Telkom, sudahkah bernuansakan atau membawakan nilai-nilai spiritual? Memang tak mudah untuk menciptakan sebuah brand yang bernilai spiritual. Diperlukan pemahaman dan pemilihan isu yang benar-benar sangat menyentuh nilai kemanusiaan. Diperlukan suatu rancangan atau sebuah Story yang mengacu pada value kemanusiaan kastamer kita.

Beberapa waktu lalu ada kegiatan marketing yang mendompleng pada kegiatan olahraga, seperti Speedy Tour d'Indonesia pada balap sepeda atau Garuda Speedy pada olahraga bola basket. Masih lumayan ada kegiatan seperti ini. Namun sekarang nyaris tak ada kegiatan serupa. Sepi.

Walau sebetulnya masih banyak bidang atau isu lain yang lebih menyentuh. Misalnya, dengan mengangkat isu mengenai polusi udara, narkoba dan aids, pramuka atau lewat seni budaya. Dan yang paling ideal saat ini adalah dengan memanfaatkan sikon Pandemik Covid-19. Bagaimana? Bisa diterima atau lebih memilih masabodoh ajah?....(N425).

Memasuki Usia Senja, Apa yang harus Dipersiapkan? Seperti Apa Tahapannya?

Sumber foto: Annas Indonesia Ketika memasuki usia senja diatas 50 tahunan, adalah masa-masa yang penuh was-was. Atau ketika memasuki masa pe...