Tampilkan postingan dengan label INTERVIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INTERVIEW. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Oktober 2026

Wawancara Imajiner-3, dengan Presiden Donald J. Trump: "Tentang Korupsi Indonesia"


Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C. Waktu: 06 Oktober 2026, pagi. Hujan turun di luar.Membasahi jendela-jendela tinggi itu seperti air mata yang tidak diminta. Trump sudah duduk sebelum seorang Jurnalis Indonesia, KGM (Ki Gempur Mudharat) masuk. Kali ini tidak ada TV menyala. Tidak ada dokumen tebal di meja. Hanya ada selembar kliping koran Indonesia. Terjemahan bahasa Inggris. Dengan judul besar yang dicetak tebal.

"Daftar Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia (Berdasarkan Nilai Kerugian Negara)."


Trump: (menunjuk kliping saat aku duduk) Baca ini..!

KGM: Saya sudah membacanya, Mr. Presiden.

Trump: Baca lagi. (mendorong kliping itu ke arahku) Aku ingin kau tahu apa yang aku tahu.

(Aku membaca. Angka-angka itu. Ada triliunan rupiah, Ratusan nama. Puluhan tahun. Foto koruptor. Sebuah sistem yang tidak dibangun dalam semalam. Tetapi bertahan selama puluhan tahun.)

Trump: (bersandar) Kau tahu apa yang paling menggangguku? (berhenti) Bukan angkanya. Angka itu...(mengibaskan tangan)...angka itu tidak begitu berarti apa-apa bagiku. Yang menggangguku lihat wajah-wajahnya. (mengetuk kliping) Lihat, mereka semua tersenyum. Di foto-foto itu. Semua tersenyum dan ada yang melambaikan tangan ke wartawan. (menggeleng) Aku tahu senyuman dan lambaian tangan itu. Aku pernah melihatnya di New York. Di Atlantic City. Orang-orang yang mengambil uang orang lain. Lalu berfoto seolah-olah mereka pahlawan.

KGM: Anda menyebut korupsi sebagai masalah. Tapi banyak yang mengatakan perjanjian ART justru membuka celah baru untuk korupsi. Karena perusahaan AS bisa masuk tanpa divestasi. Tanpa transparansi penuh.

(Catatan: Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat pada 19 Februari 2026 menandai babak baru hubungan ekonomi bilateral kedua negara. Perjanjian ini menekankan kedaulatan ekonomi, kemakmuran, serta ketangguhan rantai pasok.red.)

Trump: (mata menyipit) Transparansi. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa yang bicara tentang "transparansi"? Orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Atau orang yang ingin kau percaya bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. (berhenti) Dengar. Aku tidak datang ke Indonesia untuk memberantas korupsi kalian. Itu bukan tugasku. Itu tugas kalian. (mengetuk meja) Tapi aku tidak akan menambah masalah itu. Perjanjian kami punya klausul anti-suap. Punya klausul audit. Punya klausul pemutusan kalau ada pelanggaran.

KGM: Tapi klausul itu hanya berlaku untuk perusahaan Amerika. Bukan untuk pejabat Indonesia yang menerima suap.

Trump: (tertawa, tanpa humor) Oh, jadi sekarang aku yang harus mengawasi pejabat kalian? (menggeleng) Aku sudah mengawasi negaraku sendiri. Kau tahu berapa banyak orang yang kupecat karena korupsi? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan kau tahu apa yang terjadi? (berhenti) Mereka menulis buku. Mereka muncul di CNN. Mereka bilang aku "otoriter". (mengangkat tangan) Jadi maafkan aku kalau aku tidak terlalu bersemangat membersihkan rumah orang lain. Ketika rumahku sendiri masih penuh tikus.

KGM: Tapi Anda sendiri pernah mengatakan Indonesia adalah mitra strategis. Bukankah mitra seharusnya saling membantu?

Trump: (diam lama..untuk pertama kalinya dan terlihat benar-benar berpikir): Kau tahu apa arti "mitra" bagiku? (menatapku) Mitra berarti kau tidak menipuku. Kalau kau menipuku, kau bukan mitra. Kau musuh. (berhenti) Dan aku sudah melihat cukup banyak negara yang bilang "mitra" sambil menggelapkan uang bantuan. (menggeleng) Indonesia? Memang Aku belum melihat itu. Tapi aku juga belum mempercayai sepenuhnya.

KGM: Jadi Anda tidak percaya pada Indonesia?

Trump: Aku percaya pada Prabowo. (menunjuk) Dia datang ke sini. Dia menatap mataku. Dia bilang apa yang dia mau. Dan dia bilang apa yang dia tidak mau. (berhenti) Itu jarang. Sangat jarang. (diam) Tapi Prabowo bukan Indonesia. Prabowo adalah satu orang. Dan satu orang...(mengangkat bahu)...satu orang tidak bisa mengubah sistem yang sudah berkarat selama puluhan tahun.

(Hujan di luar semakin deras. Trump berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap kota Washington yang basah.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kusesalkan? (diam) Bukan perjanjian. Bukan tarif. (menoleh, matanya tajam) Aku menyesal tidak memasukkan klausul yang lebih keras. Klausul yang bilang: "Kalau kalian korupsi, kalian bayar." (berhenti) Tapi aku tidak bisa. Karena kalau aku lakukan itu, mereka tidak akan tanda tangan. (tertawa pahit) Itulah politik. Itulah dunia.

KGM: Jadi Anda tahu ada korupsi, Dan Anda tetap tanda tangan?

Trump: (kembali ke kursinya, duduk, menatapku langsung) Aku tanda tangan karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Kalau aku tidak tanda tangan, China yang akan tanda tangan. Dan China tidak peduli soal korupsi. China menggunakan korupsi. (mengetuk meja) Aku memilih kalah kecil daripada kalah besar. Itu namanya strategi.

KGM: Beberapa pihak menyebut itu "membiarkan".

Trump: (mengangkat alis) Membiarkan? (tertawa) Aku tidak membiarkan apa pun. Aku memilih. Itu berbeda. (mencondongkan tubuh) Dan kau tahu apa bedanya? Orang yang "membiarkan" tidak peduli. Tapi Aku peduli. Aku peduli karena kalau Indonesia runtuh karena korupsi, Amerika rugi. (menunjuk dirinya) Dan aku tidak suka rugi.

KGM: Satu pertanyaan terakhir. Jika Anda bisa berbicara langsung kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang yang setiap hari membayar harga dari korupsi. Apa yang akan Anda katakan?

(Trump menatap lama. Hujan berhenti di luar. Sinar matahari pertama menembus jendela, jatuh di meja, tepat di kliping itu.)

Trump: Aku akan bilang ini. (suaranya lebih pelan) Korupsi bukan masalah Amerika. Bukan masalah Trump. (berhenti) Itu masalah kalian. Dan hanya kalian yang bisa menghentikannya. (diam) Aku bisa menandatangani perjanjian. Aku bisa mengirim investasi. Aku bisa menekan Prabowo untuk membersihkan rumahnya. (menggeleng) Tapi aku tidak bisa memaksa kalian untuk memilih pemimpin yang jujur. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk berhenti menerima amplop. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk marah. (menatapku) Itu... itu pekerjaan kalian.

Trump: Kau tanya soal korupsi. Sudah Aku jawab. Tapi kau tidak tanya apa yang harus dilakukan Prabowo. (menaikkan alis) Itu pertanyaan yang seharusnya kau ajukan sejak awal.

KGM: Baik. Jadi apa yang harus dilakukan Prabowo?

Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Pertama, berhenti berpura-pura. (mengetuk meja) Aku sudah melihat banyak pemimpin. Yang berhasil adalah yang bilang, "Ya, negara saya korup. Saya akan hadapi." Yang gagal adalah yang bilang, "Tidak, itu fitnah." (menggeleng) Prabowo bukan orang bodoh. Dia tahu. Tapi tahu saja tidak cukup. Dia harus mengatakannya. Di depan rakyatnya. Di depan dunia. (berhenti) Pemimpin yang tidak mengakui masalahnya. Tidak akan pernah menyelesaikannya.

KGM: Dan yang kedua?

Trump: Kedua, jangan lindungi kawan. (matanya tajam) Kau tahu kenapa korupsi bertahan di mana pun? Bukan karena orang jahat. Karena orang baik melindungi orang jahat. (mengetuk meja) "Dia teman saya." "Dia membantu saya waktu kampanye." "Dia dari partai saya." (menggeleng) Itu... itu kanker. Prabowo harus siap kehilangan koalisi. Kehilangan kursi. Kehilangan suara. Kalau dia tidak siap. Ia bukan pemimpin. Dia pedagang.

KGM: Itu berat secara politik.

Trump: (tertawa kering) Politik? (mencondongkan tubuh) Aku pernah kehilangan segalanya. Tiga kali bangkrut. Kau tahu apa yang kupelajari? Kalau kau takut kehilangan. Kau akan kehilangan segalanya. Prabowo harus berani. Bukan berani mati. Berani kehilangan.

KGM: Ketiga?

Trump: Ketiga, beri KPK gigi. (menunjuk) Bukan taring. Bukan cakar. Gigi. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada lembaga anti-korupsi yang lemah? Mereka jadi monumen. Bagus untuk foto. Tidak berguna untuk penjara. (menggeleng) Prabowo harus memastikan KPK punya anggaran. Punya perlindungan. Punya kebebasan. Kalau tidak. Dia sama saja dengan pendahulunya.

KGM: Sekarang KPK. Apa yang harus dilakukan lembaga anti-rasuah itu?

(Trump diam lama. Untuk pertama kalinya sejak wawancara ini dimulai, ia terlihat tidak nyaman.)

Trump: KPK. (mengulang kata itu dengan pelan) Kau tahu apa yang kupikirkan tentang KPK?

KGM: Apa?

Trump: Mereka berani. (mengangguk) Aku sudah baca. Mereka menangkap menteri. Menangkap gubernur. Menangkap hakim. (berhenti) Di negara mana pun, itu...itu bunuh diri politik. Dan mereka melakukannya. (diam) Aku menghormati itu. Aku tidak suka mereka. Karena mereka pernah menyelidiki hal-hal yang...(mengibaskan tangan)...tidak penting. Tapi aku menghormati mereka.

KGM: Jadi apa yang harus mereka lakukan?

Trump: Pertama. Berhenti mengejar tikus kecil. (mengetuk meja) Aku dengar KPK menangkap pejabat desa. Pejabat kecamatan. (menggeleng) Itu bukan korupsi. Itu kelaparan. (berhenti) Kejar yang besar. Yang menandatangani kontrak triliunan. Yang punya rekening di Singapura. Yang anaknya kuliah di London. (menunjuk) Itu...Itu target yang sebenarnya.

KGM: Kedua?

Trump: Kedua, jangan main politik. (matanya tajam) KPK harus netral. Bukan alat pemerintah. Bukan alat oposisi. (berhenti) Kalau KPK menangkap orang karena dia oposisi — itu bukan penegakan hukum. Itu balas dendam. Dan rakyat tahu. (menggeleng) Rakyat selalu tahu.

KGM: Ketiga?

Trump: Ketiga, bekerja dengan kami. (mencondongkan tubuh) Amerika punya FBI. Punya CIA. Punya Treasury. Kami punya data. Kami punya jejak uang. (mengetuk meja) Kalau KPK mau, kami bisa membantu. Tapi KPK harus meminta. Jangan sombong. Jangan merasa bisa sendiri. (berhenti) Korupsi itu lintas negara. Uangnya lari ke Singapura, ke Swiss, ke Amerika. Kalau KPK tidak bekerja dengan kami. Mereka hanya menangkap bayangan.

KGM: Tapi ada kritik bahwa Amerika sendiri tidak serius memberantas korupsi. Bahwa Anda justru menerima uang dari oligarki.

Trump: (mata menyipit) Oligarki. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa oligarki? Orang yang punya uang. Dan orang yang punya uang... (mengangkat tangan) ...biasanya pintar. (tersenyum tipis) Aku tidak menerima uang dari oligarki. Aku menerima investasi. Itu berbeda. (berhenti) Dan kau tahu apa bedanya dengan korupsi Indonesia? Di sini, itu legal. (mengetuk meja) Kalau kalian mau uang kami. Kalian harus membuatnya legal. Bukan dengan amplop. Tapi dengan kontrak.

KGM: Itu terdengar seperti pembenaran.

Trump: (tertawa) Pembenaran? (menggeleng) Kau tahu apa itu pembenaran? Pembenaran adalah ketika kau bilang, "Semua orang melakukannya." (menunjuk dirinya) Aku tidak bilang begitu. Aku bilang, "Aku melakukannya. Dan itu legal." (berhenti) Kalau kalian tidak suka. Ubah hukumnya. Jangan salahkan aku.

(Hari mulai sore. Trump berdiri, berjalan ke jendela. Kali ini ia tidak menatap kota. Ia menatap langit.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kuharapkan dari Indonesia?

KGM: Apa?

Trump: Aku berharap...suatu hari nanti. Aku membaca berita dari Jakarta. Bukan tentang korupsi. Bukan tentang skandal. (berhenti) Tapi tentang seorang jenderal yang menolak amplop. Atau seorang menteri yang mengundurkan diri karena tidak mau berbohong. (menoleh, matanya aneh, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang lama hilang) Sesuatu seperti itu. Sesuatu yang...jujur.

KGM: Anda optimis?

Trump: (diam lama) Aku realistis. (kembali ke kursinya) Optimis adalah ketika kau berharap tanpa alasan. Realistis adalah ketika kau melihat data. (mengetuk meja) Dan datanya bilang. Indonesia punya semua yang dibutuhkan. Pemimpin yang berani. Lembaga yang bertaring. Rakyat yang...(berhenti)...Ah, rakyat. Rakyat yang selalu jadi korban. (menggeleng) Itu yang harus berubah.

(Ia mengambil pena. Menulis sesuatu di kliping itu. Lalu mendorongnya ke arahku.)

Aku membaca. Tulisannya besar. Tebal. Seperti perintah:

"PRABOWO: BERANI. KPK: NETRAL. RAKYAT: MARAH. — DJT"

Trump: Itu resepnya. (bersandar) Kau bisa mengutip aku. Kau bisa membenciku. Tapi kau tidak bisa bilang aku tidak peduli.

KGM: Apakah Anda peduli?

Trump: (menatapku lama. Untuk pertama kalinya. Ada sesuatu di matanya. Bukan kehangatan. Tapi sesuatu yang lebih tua): Aku peduli karena korupsi membuat negara lemah. Dan negara lemah...(berhenti)...negara lemah tidak bisa menjadi mitra. Negara lemah hanya bisa menjadi beban. (mengetuk meja) Dan aku tidak suka beban. Aku suka mitra.

(Ia berdiri. Mengulurkan tangan. Jabatan kali ini. Tidak kuat, tidak lemah. Hanya jujur.)

Trump: Sampaikan ini ke Prabowo. Dari aku. (berhenti) "Jangan jadi pemimpin yang dikenang karena apa yang dia ambil. Jadilah pemimpin yang dikenang karena apa yang dia tolak."

(Ia melepas tangan. Berjalan ke meja. Sudah kembali ke pekerjaannya. Telepon. Layar. Dunia yang tidak pernah tidur.)

(Tapi sebelum aku keluar. Ia sempat berucap. Tanpa menoleh. Hampir seperti bisikan):

Trump: Hey. Kalau kau bertemu orang KPK...bilang aku bilang "terima kasih". (berhenti) Mereka bertarung sendirian. Itu...itu berat.

Pintu menutup.

Di luar, matahari mulai tenggelam di atas Washington. Tetapi di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, di sebuah kantor di Jakarta, seseorang sedang membaca berkas — dan tidak tahu bahwa di Ruang Oval, seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja memberikan satu-satunya pujian tulus yang pernah ia berikan kepada lembaga asing.

(Aku sudah berdiri. Sudah memegang tas. Sudah setengah jalan menuju pintu. Trump menghentikanku.)

(Ia hanya berkata. Pelan, hampir ke udara:)

Trump: Tunggu dulu. Sepertinya kau belum tanya soal mereka.

KGM: Mereka?

Trump: (menoleh dari kursinya) Para koruptor. (berhenti) Kau tanya aku soal Prabowo. Soal KPK. Soal Amerika. (mengetuk meja) Tapi kau tidak tanya apa yang harus mereka lakukan. Para Koruptor. Padahal itu...Itu bagian yang paling penting.

(Aku meletakkan tas. Duduk kembali.)

KGM: Baik. Ada saran untuk para koruptor Indonesia?

Trump: (bersandar. Tersenyum tipis. Tapi matanya tidak): Saran? (tertawa pelan) Aku bukan pendeta. Aku bukan hakim. Aku tidak akan bilang, "Bertobatlah." (menggeleng) Itu omong kosong. Orang seperti mereka...Mereka tidak bertobat karena nasihat. Mereka bertobat karena takut.

KGM: Jadi saran Anda adalah ancaman?

Trump: Bukan ancaman. Kenyataan. (condong ke depan) Dengarkan aku. Aku sudah melihat ratusan orang seperti mereka. Di New York. Di Atlantic City. Di Washington. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada mereka semua pada akhirnya? (tidak menunggu jawaban) Tiga hal. Penjara. Kebangkrutan. Atau kematian yang menyedihkan. Tidak ada yang keempat.

KGM Itu terdengar seperti vonis.

Trump: Itu pengalaman. (mengetuk meja) Aku pernah bekerja dengan orang yang mengambil uang klien. Dia bilang, "Aku hanya pinjam." (menggeleng) Dia mati sendirian di apartemen sewaan. Aku pernah kenal seorang politisi yang korup. Dia pikir dia pintar. (berhenti) Sekarang dia di penjara. Dan anaknya tidak mau mengunjunginya. (menatapku) Itu...itu harga. Dan harganya selalu lebih mahal dari yang mereka kira.

KGM: Jadi saran pertama Anda untuk koruptor?

Trump: Berhenti sekarang. (mengangkat satu jari) Bukan besok. Bukan setelah pemilu. Sekarang. (berhenti) Kau tahu kenapa? Karena setiap hari kau terus. Kau menambah utang. Bukan utang uang. Utang nyawa. (mengetuk meja) Setiap amplop yang kau terima. Ada anak yang tidak dapat sekolah. Ada ibu yang tidak dapat obat. Ada jalan yang tidak dibangun. (diam) Kau tidak mencuri dari pemerintah. Kau mencuri dari orang-orang yang tidak bisa melawan.

KGM: Kedua?

Trump: Kembalikan. (mengangkat dua jari) Aku tahu. Aku tahu. Kau tidak akan mengembalikan semuanya. Tidak ada yang mengembalikan semuanya. (menggeleng) Tapi kembalikan sebagian. Diam-diam. Lewat perantara. Lewat yayasan. (berhenti) Aku tidak bilang itu cukup. Aku bilang itu lebih baik dari tidak sama sekali. Dan kadang...Kadang itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan.

KGM: Itu terdengar seperti kompromi dengan kejahatan.

Trump: (tajam) Kompromi? (tertawa) Kau jurnalis tahu apa itu kompromi? Kompromi adalah ketika kau duduk dengan orang yang kau benci. Dan kau membuat kesepakatan yang tidak kau sukai. Karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Aku melakukannya setiap hari. Setiap. Hari. (menunjuk) Aku tidak bangga. Tapi aku realistis.

KGM Baik. Saran ketiga untuk koruptor?

(Trump diam lama. Kali ini, ia menatap keluar jendela. Ke kota Washington yang mulai gelap. Ke lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh.)

Trump: Ketiga, jangan ajari anakmu. (suaranya lebih pelan) Ini yang paling penting. (menoleh) Kau boleh korup. Kau boleh mengambil. Kau boleh berbohong. (berhenti) Tapi jangan wariskan itu. Jangan ajari anakmu bahwa itu normal. Jangan biarkan dia tumbuh berpikir bahwa mengambil uang rakyat adalah...cara hidup.

KGM: Mengapa itu yang paling penting?

Trump: Karena itu satu-satunya hal yang bisa mengubah Indonesia. (mengetuk meja) Bukan KPK. Bukan Prabowo. Bukan Amerika. (menggeleng) Anak-anak kalian. Kalau mereka tumbuh jujur. Dalam dua puluh tahun Indonesia akan berbeda. Kalau mereka tumbuh seperti kalian...(berhenti)...Dalam dua puluh tahun, Indonesia akan sama. Atau lebih buruk.

(Hening. Lampu ruangan berkedip sekali.)

KGM: Anda bilang Anda bukan pendeta. Tapi itu terdengar seperti khotbah.

Trump: (tersenyum. Kali ini ada sesuatu yang lain di matanya): Mungkin. (bersandar) Tapi kau tahu apa bedanya aku dengan pendeta? (berhenti) Pendeta bilang, "Tuhan akan mengampuni." (menggeleng) Aku bilang, "Aku tidak akan."

KGM: Tapi Anda kan bukan hakim.

Trump: Memang Aku bukan hakim. (mengangguk) Tapi aku presiden. Dan presiden...Presiden punya ingatan. (mengetuk meja) Kalau kau korup. Dan kau datang ke Amerika untuk berbisnis. Untuk menaruh uang. Untuk mengirim anakmu ke sekolah. (berhenti) Aku akan tahu. Dan aku tidak akan lupa.

KGM: Itu ancaman?

Trump: Itu informasi. (mengangkat bahu) Kau bisa mengabaikannya. Banyak orang mengabaikan. (diam) Mereka semua menyesal.

(Ia berdiri. Berjalan ke pintu. Membukanya sendiri. Sesuatu yang jarang ia lakukan.)

Trump: (berdiri di ambang pintu): Kau tahu apa yang paling kusuka dari Indonesia?

KGM: Apa?

Trump: Rakyatnya. (berhenti) Mereka sabar. Mereka tabah. Terlalu sabar dan tabah. (menggeleng) Mereka bisa memaafkan. Mereka bisa lupa. (menatapku) Itu kekuatan kalian. Tapi juga kelemahan kalian. (diam) Karena orang yang terlalu sabar...Akan selalu dimanfaatkan.

(Ia mengulurkan tangan. Jabatan terakhir. Kuat, singkat, seperti segel.)

Trump: Sampaikan ini ke mereka. Dari aku. Langsung. (berhenti) "Aku tidak akan mengejar kalian. Aku tidak akan menghukum kalian. Aku tidak akan mengirim FBI ke Jakarta." (menatap mataku) "Tapi ingat. Dunia mengecil. Dan pada akhirnya. Kalian akan bertemu seseorang yang tidak sabar."

(Ia melepas tangan. Masuk kembali. Pintu mulai menutup.)

(Tapi sebelum tertutup sepenuhnya. Suaranya masih terdengar. Dan, hampir seperti doa yang tidak ia akui:)

Trump: Semoga kalian tidak bertemu orang itu. Karena kalau kalian bertemu... (berhenti)...dia tidak akan sebaik aku.

(Pintu menutup.)

(Di luar, malam sudah penuh. Washington menyala seperti kota yang tidak pernah tidur dan tidak pernah jujur. Dan di suatu tempat. Ribuan kilometer jauhnya. Di sebuah rumah besar berpagar tinggi. Seseorang sedang menghitung uang dan emas batangan. Dan mereka tidak tahu bahwa di Ruang Oval. Seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja menulis wasiat untuk jiwanya.)

(Yang tersisa di mejanya. Tertinggal di bawah kliping koran:)

"BERHENTI. KEMBALIKAN. JANGAN WARISKAN. — DJT"

(Wawancara imajiner ini adalah karya fiksi sastra. Semua dialog adalah imajinasi. Tidak ada klaim faktual atas pernyataan Donald Trump atau Prabowo atau maupun pihak mana pun. Isu korupsi yang disebutkan berdasarkan laporan publik dan tidak menunjuk individu tertentu. )

== T A M A T ==
(Nantikan Wawancara Imajiner Berikutnya)


Senin, 05 Oktober 2026

Wawancara Imajiner dengan "Sang Penjemput"


Latar: Sebuah kamar rumah sakit di lantai tujuh, pukul 03.17 dini hari. Lampu neon berkedip pelan. Mesin pemantau detak jantung berbunyi ritmis—bip… bip… bip...Seperti tetesan air di gua sunyi. Di ranjang terbaring Haji Fulan (79 tahun). Seorang mantan Anggota DPR. Dikenal sangat alim, bersahaja dan sangat jujur. Tubuhnya kurus oleh usia dan penyakit. Tetapi wajahnya bercahaya aneh. Seperti bulan yang akan purnama. Di kursi samping ranjang, duduk Malaikat Izrail. Dalam wujud yang tak bisa dijelaskan. Kadang seperti cahaya keemasan. Kadang seperti lelaki tua berjubah putih. Kadang seperti beraroma tanah basah setelah hujan. Ia datang bukan untuk mengambil. Ia datang untuk menjemput dengan penuh adab.

Izrail: (suaranya seperti bisikan angin di dedaunan, lembut namun menggetarkan tulang) Assalamu'alaikum, wahai hamba yang alim dan jujur.

Haji Fulan: (membuka mata perlahan, senyum tipis) Waalaikumussalam…Aku sudah menunggu. Sejak tadi malam, aku dengar langkahmu di koridor. Kau yang aku lihat dalam mimpi. Yang berdiri di ujung lorong bercahaya itu.

Izrail: Kau mengenalku?

Haji Fulan: Aku tidak mengenal wajahmu. Tapi aku mengenal kedatanganmu. Seperti mengenal musim kemarau dari bau tanah kering. Tubuhku sudah bilang. Ini waktunya pulang.

Izrail: (duduk di kursi, jubahnya tidak menyentuh lantai) Banyak yang menangis saat aku datang. Meronta. Minta ditunda. Menawar dengan amal. Tapi kau…Kau malah senang dan tersenyum.

Haji Fulan: Aku sudah 79 tahun menunggu tamu ini. Dulu aku takut. Sekarang… Aku hanya ingin bertemu dengan Yang Mengutusmu.

(Mesin jantung berbunyi lebih pelan. Perawat jaga di luar tidak mendengar apa-apa. Baginya, Haji Fulan sedang tidur nyenyak.)

Izrail: Ceritakan padaku. Apa yang kau bawa hari ini? Bekal apa yang kau siapkan untuk perjalanan ini?

Haji Fulan: (tertawa kecil, napasnya berat) Bekalku…tidak banyak. Tidak ada emas batangan. Tidak ada tanah. Hanya selembar sajadah usang yang aku pakai sejak berdinas dulu. Anakku membelikannya di pasar Tanah Abang. Ada lubang di ujungnya. Tempat aku menekan dahi terlalu lama.

Izrail: Itu bekal yang aneh. Manusia biasanya menyebut harta, jabatan, keturunan.

Haji Fulan: Harta? Aku pernah punya sawah dua hektar dan beberapa petak tanah. Aku jual semuanya untuk membangun masjid di kampung. Anakku bersedih. Aku bilang, "Nak, sawah dan tanah bisa dicari. Tapi amal yang mengalir, itu yang menuntunmu pulang." Jabatan? Aku hanya mantan anggota DPR. Tidak ada yang istimewa apalagi menulis namaku di koran. Keturunan? Aku punya tujuh anak dan dua belas cucu. Tiga sudah mendahuluiku. Empat masih hidup. Mereka semua aktif di DKM dan terkadang mengisi kajian di masjid setempat. Bagiku itu sudah cukup.

Izrail: (mengangguk, matanya menyala seperti kunang-kunang) Aku melihatnya. Di ruang tamu rumahmu, ada Al-Qur'an yang kau baca setiap subuh. Ada karpet yang kau duduki untuk mengajar mengaji cucumu dan anak-anak tetangga. Ada bekas air mata yang kau tumpahkan saat kau tahu kau tak bisa lagi bangun untuk shalat malam.

Haji Fulan: (matanya berkaca) Kau tahu itu? Aku pikir tidak ada yang melihat.

Izrail: Kami mencatat semuanya. Bukan hanya amal besar. Justru air mata penyesalan. Itulah yang paling berat di timbangan. Kau pernah menangis karena tidak bisa lagi membaca Al-Qur'an dengan lancar? Itu lebih berharga dari seribu khatam bagi orang yang hatinya kosong.

Haji Fulan: Aku takut, Izrail. Bukan takut mati. Tapi takut dosa-dosaku. Dulu aku pernah marah pada stafku. Aku pecat dia dan aku usir dari ruang kerjaku. Dia menangis. Aku sangat menyesal dengan tindakanku. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah dia memaafkanku.

Izrail: (mengambil tangan Haji Fulan, dingin namun menenangkan) Hamba itu, sudah wafat empat tahun lalu. Dan sebelum wafat, ia berdoa: "Ya Allah, ampunilah atasanku dulu yang pernah memecat dan mengusirku. Ia melakukannya karena kesalahanku."

Haji Fulan: (mengeluarkan napas panjang, seperti beban gunung terangkat) Alhamdulillah… Alhamdulillah…

(Detak jantung melemah. 40 denyut per menit. 30. 20.)

Izrail: Waktu kita hampir habis. Ada yang ingin kau sampaikan? Pesan? Permintaan?

Haji Fulan: (berbisik) Tolong… sampaikan pada anak-anakku. Jangan mereka menjual rumah ini untuk biaya pemakaman. Kuburkan aku di pemakaman di desa saja. Di bawah pohon sukun. Aku ingin dekat dengan tempat aku dulu pernah mengajar mengaji. Dan…tolong sampaikan pada murid-muridku, teruskan mengaji. Jangan putus. Karena aku akan menunggu mereka di sana.

Izrail: (berdiri, cahaya di sekitarnya semakin terang) Aku akan sampaikan. Tapi sebelum aku membawamu, ada satu hal lagi.

Haji Fulan: Apa?

Izrail: Kau tahu siapa yang mengutusku?

Haji Fulan: (tersenyum, air mata jatuh ke bantal) Allah… Rabbul 'Alamin.

Izrail: Dan kau tahu apa yang Dia firmankan tentang hamba-Nya yang sabar?

Haji Fulan: "Innallaha ma'ash shabirin…" Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Izrail: Bukan itu. Yang lain.

Haji Fulan: (matanya tiba-tiba terbuka lebar, seperti melihat sesuatu di balik langit-langit kamar) … "Yaa ayyuhan nafsul muthmainnah. Irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii 'ibaadii. Wadkhulii jannatii."

("Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.")

Izrail: (mengulurkan tangan, cahaya dari telapak tangannya menerangi seluruh ruangan) Itulah yang Dia ucapkan untukmu. Bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai undangan.

Haji Fulan: (menutup mata, senyum terakhirnya seperti fajar pertama) Aku… siap.

(Mesin jantung berbunyi panjang—biiiiiiip. Pukul 03.33.)

(Perawat Nur masuk kamar. Ia memeriksa denyut nadi, lalu menatap wajah Haji Fulan. Ia heran. Wajah itu tidak seperti orang yang baru saja meninggal. Ada cahaya. Atau mungkin pantulan lampu? Ada ketenangan. Atau mungkin kebiasaan? Ia mencatat: "Pasien Haji Fulan bin Abdullah. Wafat pukul 03.33. Ekspresi: tersenyum.")

(Di luar jendela, adzan subuh belum berkumandang. Tapi di kamar itu, seakan-akan seluruh alam ikut mengucapkan: "Selamat pulang, hamba yang tenang.")

(Izrail telah pergi. Tapi ia meninggalkan satu bisikan yang hanya didengar oleh jiwa yang berangkat: "Kau bukan mati. Kau sedang dijemput. Dan penjemputan ini, adalah hadiah.")

(Di kejauhan, di rumah salah satu anaknya, seorang cucunya terbangun dari tidur. Ia menangis tanpa tahu kenapa. Ibunya bertanya, "Ada apa, Nak?")

(Cucu itu menjawab, "Aku mimpi… Kakek terbang. Tapi bukan pakai sayap. Pakai cahaya. Dan Kakek bilang: 'Jangan lupa mengaji, ya.'")

(Ibunya terdiam. Telepon berdering. Kabar itu datang dari rumah sakit.)

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

(Husnul khotimah. Akhir yang indah. Bukan karena tidak ada dosa. Tapi karena dosa-dosa itu telah tenggelam dalam lautan ampunan. Dan jiwa itu pergi dengan senyum. Sebagaimana ia dahulu menyambut tamu. Dengan salam. Dengan sabar. Dengan cinta.)


(TAMAT)

Kamis, 01 Oktober 2026

Wawancara Imajiner-2 dengan Donald J. Trump: "Tentang Indonesia"


Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C., 23 September 2026, sore hari. Langit Washington berwarna kelabu bagai marmer yang belum dipoles.

Di luar, pengunjuk rasa masih berkumpul. Ada yang membawa bendera Palestina. Ada juga yang membawa bendera Indonesia. Trump tidak peduli. Ia duduk di balik Resolute Desk. Dua layar TV menyala tanpa suara. Satu menayangkan CNN. Satu lagi Fox News. Keduanya menampilkan wajahnya.

Di meja ada tiga benda. Satu gelas Diet Coke. Satu telepon seluler. Dan satu lembar dokumen yang tercetak tebal: "Agreement on Reciprocal Trade: U.S.–Indonesia." Di hadapannya duduk pewawancara seorang Jurnalis Indonesia Ki Gempur Mudharat (KGM).

Trump: (Menatap KGM dengan tajam). You, Jurnalis Indonesia, yang dulu pernah wawancara dengan Aku?

KGM: Betul, Sir. Ini adalah wawancara kedua dengan Anda. And thanks a lot, Mr. Presiden, yang telah berkenan menerima wawancara ini.

Trump: Dengar! Aku melakukan ini karena tertarik. Karena kau bilang akan menulis tentang Indonesia. Aku suka itu. Bukan tentang Iran, Israel atau Eropa yang membosankan itu.  Lihat ini! (menunjuk dokumen di meja). Ini yang penting. Ini yang orang tidak mengerti.

KGM: Baik. Jadi mari kita bicara tentang Indonesia.

Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Aku akan ceritakan sesuatu. Ketika mereka pertama kali datang ke sini. Delegasi mereka, orang-orangnya Prabowo. Aku bilang, "Berapa jumlah penduduk kalian?" Mereka bilang, "Dua ratus delapan puluh juta." (berhenti, mata membelalak). Aku bilang, "Berapa?" "Dua ratus delapan puluh juta, Tuan Presiden. (menggeleng) Dua ratus delapan puluh juta orang. Itu...itu gila. Itu lebih banyak dari...(menghitung dengan jari)...lebih banyak dari akumulasi jumlah penduduk Jerman, Prancis, Inggris.

KGM: Ya, kami negara terpadat keempat di dunia, sir.

Trump: Keempat. Setelah India, China, dan...(berhenti)...Oh, ya, Amerika nomor tiga. (tersenyum tipis) Tapi dengarkan! Ketika kau bicara tentang pasar. Angka 280 juta itu bukan sekadar angka. Itu market. Itu pelanggan. Itu pembeli. Itu orang-orang yang butuh mobil, pesawat, ponsel, energi, kedelai, gandum. (mengetuk meja) Itu uang. Uang yang sangat besar.

KGM: Ya, saya faham itu. Tapi pada bulan Februari lalu, Anda menandatangani perjanjian dagang dengan Presiden Prabowo. Tarif 19 persen. Turun dari 32 persen. Apa yang membuat Anda menurunkan angka itu?

Trump: (condong ke depan): Aku menurunkannya karena Indonesia membayar. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan uang. (mengangkat tiga jari) Tiga puluh tiga miliar dolar. Itu angka yang mereka komitmenkan. Lima belas miliar untuk energi. Tiga belas setengah miliar untuk pesawat Boeing, sebanyak lima puluh unit, mostly 777. Empat setengah miliar untuk produk pertanian. Dan mereka menghapus tarif untuk 99 persen produk Amerika yang masuk ke Indonesia.

KGM: Jadi ini murni transaksional?

Trump: (tertawa) "Transaksional." (mengulang kata itu dengan nada mengejek) Aku dengar kata itu setiap hari. "Trump terlalu transaksional." (berhenti) Tahukah kau apa artinya itu? Artinya mereka tidak suka aku menghitung. Mereka suka orang yang memberi uang tanpa menghitung. Nah, aku tegaskan sekarang bahwa aku menghitung. Aku selalu menghitung.

KGM: Tapi diskon 19 persen masih lebih tinggi dari Vietnam, yang dapat 20 persen.

Trump: Vietnam dapat 20. Filipina dapat 20. Malaysia 25. Thailand 36. Bangladesh 35. Indonesia dapat 19. Terendah di kawasan. Kau tahu kenapa?

KGM: Kenapa?

Trump: Karena Prabowo. (diam, menatap langsung). Aku tidak suka banyak orang. Tapi aku menghormati dia. Dia tough guy. Kau tahu apa yang kukatakan di depan semua pemimpin dunia itu? Aku bilang, "I don't want to fight him". Itu bukan lelucon. (menunjuk ke arah jendela) Aku pernah berurusan dengan banyak orang. Banyak. Dan aku bisa bilang. Dia bukan orang yang bisa didikte. Dia tidak datang ke sini sebagai peminta. Dia datang sebagai mitra.

KGM: Ada yang mengatakan perjanjian ini mengandung klausul yang ditujukan untuk melemahkan pengaruh China. Indonesia sendiri menyangkal telah memihak.

Trump: (mengangkat tangan) China. Selalu China. (menggeleng) Dengar.!Aku tidak memaksa Indonesia memilih. Aku tidak bilang, "Jangan berteman dengan China." Yang Aku bilang: "Kalau kau mau berteman dengan Amerika, ini harganya. Ini manfaatnya." (berhenti) Indonesia sudah bergabung dengan BRICS. Tahun lalu. Kau tahu itu? Aku tahu. Tapi aku tetap menandatangani perjanjian itu.

KGM: Mengapa?

Trump: Karena mereka punya nikel. Dan mereka punya tanah jarang (LTD, Logam Tanah Jarang, memiliki unsur kimia dan bahan baku komponen teknologi.red.). Dan aku tidak peduli siapa teman mereka. Aku peduli mereka mengirim mineral itu ke sini. (mengetuk meja) Bukan ke Beijing. Bukan ke Moskow. Tapi ke Amerika.

KGM: Jadi maksud Anda, ini tentang rantai pasok?

Trump: Ini tentang semuanya. Mobil listrik, ponsel, jet tempur. Kau tahu jet F-35 butuh berapa banyak mineral langka? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan siapa yang menguasainya? (berhenti dramatis) Bukan kita. Belum. (tersenyum) Tapi sekarang...Sekarang kita punya Indonesia. Dan Indonesia punya nikel terbesar di dunia. Dan mereka setuju bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Itu dia...Itu strategis.

KGM: Presiden Prabowo juga berkomitmen mengirim 8.000 tentara untuk pasukan stabilisasi Gaza. Anda secara pribadi berterima kasih kepadanya di PBB. Apa arti komitmen itu bagi Anda?

Trump: (mengangguk pelan) Itu besar. Sangat besar. (berhenti) Kau tahu berapa banyak negara Muslim yang aku telepon? Dua puluh. Dua puluh negara. Dan kau tahu berapa yang bilang "Ya" untuk pasukan? (mengangkat jari) Tujuh. Indonesia pertama. (menunjuk dokumen di meja) Bukan Saudi. Bukan Mesir. Bukan Uni Emirat Arab. Tapi Indonesia. Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dan mereka berada di deputi komandan pasukan stabilisasi itu.

KGM: Banyak yang mengkritik bahwa Anda mengharapkan Indonesia membayar satu miliar dolar untuk keanggotaan Dewan Perdamaian.

Trump: (mata menyipit) Siapa bilang?

KGM: Presiden Prabowo sendiri. Beliau mengatakan Indonesia "tidak pernah berjanji" membayar satu miliar dolar itu.

Trump: (tertawa, tapi matanya tidak): Prabowo cerdas. Sangat cerdas. (diam) Dia tahu apa yang dia lakukan. Dia datang ke sini. Dia tanda tangan. Dia berfoto. Dia pulang. Lalu dia bilang apa yang harus dia bilang kepada rakyatnya. (mengangkat tangan) Itu politik. Aku menghormati itu. Aku juga melakukan hal yang sama.

KGM: Beberapa analis menyebut Indonesia sebagai "Macan Asia". Jangkar stabilitas Indo-Pasifik. Anda setuju?

Trump: (mengangguk perlahan) Macan. (mengulang kata itu) Aku suka itu. (tersenyum) Kau tahu? Dulu orang tidak bicara tentang Indonesia. Tidak di meja-meja besar. Mereka bicara tentang China. Jepang. Korea. Mungkin India. Indonesia? (mengangkat bahu) "Di mana itu?" (berhenti) Lalu sekarang? Sekarang semua orang bicara tentang Indonesia. (menunjuk dirinya) Kau tau? Itu karena aku.

KGM: Jadi Anda mengambil keuntungan?

Trump: (tanpa ragu) Selalu. (tersenyum lebar) Tapi dengarkan. Tanpa Indonesia, kebijakan Amerika di Asia Tenggara pincang. Itu bukan pendapatku. Itu fakta. ASEAN? Enam ratus juta orang. Indonesia adalah seperempatnya. Posisinya di jalur pelayaran Malaka? (mengetuk meja) Vital. Siapa yang menguasai Malaka. Menguasai perdagangan. Kau tahu itu. Aku tahu itu. Dan sekarang. Sekarang Indonesia ada di tim kita.

KGM: Tim Anda?

Trump: (berhenti, memikirkan kata-katanya) Bukan tim. (menggeleng) Tapi Mitra. (diam) Tapi mitra yang membayar. Itu yang penting.

KGM: Satu pertanyaan Tuan Presiden. Jika Anda harus memberikan satu pesan kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang itu, apa yang akan Anda katakan?

(Trump menatap lama. Di luar, suara pengunjuk rasa mulai terdengar — samar, seperti ombak yang jauh.)

Trump: Aku akan bilang ini. (condong ke depan, suara lebih pelan) Kalian punya negara yang besar. Kalian punya sumber daya yang luar biasa. Kalian punya pemimpin yang...(berhenti)...yang aku hormati. (diam) Tapi kalian juga punya pilihan. Kalian bisa memilih untuk bersandar ke Amerika. Atau kalian bisa memilih yang lain. (mengangkat tangan) Aku tidak akan memaksa. Aku tidak pernah memaksa. (tersenyum tipis) Tapi aku akan bilang. Amerika adalah mitra terbaik yang bisa kalian punya. Dan aku...(menunjuk dirinya)...aku akan memastikan kalian tidak menyesal memilih kami.

KGM: Baik. Sekarang mari kita bicara tentang mineral. Perjanjian ART yang Anda tandatangani dengan Prabowo memberi perusahaan Amerika akses luas ke Nikel. Kobalt. Tembaga. Litium. Dan logam tanah jarang Indonesia. Kritikus kami menyebut ini sebagai "kolonialisme ekstraktif". Apa tanggapan Anda?

Trump: (menyandarkan punggung, tersenyum tipis): "Kolonialisme ekstraktif." (mengulang kata itu dengan nada mengejek) Kau tahu apa arti sebenarnya? Artinya mereka marah karena Amerika akhirnya masuk ke permainan yang sudah lama dikuasai orang lain. (mencondongkan tubuh) China sudah ada di sana selama lima belas tahun. Smelter di Sulawesi? Dibangun dengan uang Beijing. Dan tidak ada yang bilang "kolonialisme." Tapi begitu Amerika masuk, tiba-tiba semua orang jadi aktivis lingkungan. Bersama sejumlah tuduhan. (tertawa kering) Menarik, bukan?

KGM: Tapi mereka punya alasan. Klausul perjanjian menghapus kewajiban divestasi 51 persen. Perusahaan AS bisa memiliki 100 persen saham tambang di Indonesia. Itu melanggar Pasal 33 UUD 1945.

Trump: (mengangkat tangan) Pasal 33. (menggeleng) Dengar! Aku menghormati konstitusi kalian. Tapi konstitusi bukanlah tembok. Itu...itu pedoman. (berhenti) Dan pedoman bisa berubah. Kalau kalian mau investasi. Investasi nyata. Bukan janji kosong. Kau harus memberi insentif. Kau harus membuat orang mau datang. Dan aku bilang ke mereka: "Kalau kau mau uang kami, kau harus berhenti bermain-main dengan aturan divestasi yang tidak masuk akal itu." (mengangkat bahu) Mereka setuju. Itu namanya negosiasi.

KGM: Banyak yang melihat ini sebagai penyerahan kedaulatan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menyebutnya "perampasan ruang hidup rakyat".

Trump: (matanya menyipit): Wahana...apa? (mengibaskan tangan) Dengar! Aku sudah dengar semua ini sebelumnya. "Kedaulatan." "Rakyat." "Lingkungan." (berhenti) Kau tahu siapa yang benar-benar diuntungkan dari perjanjian ini? Rakyat Indonesia. Kau tahu berapa banyak lapangan kerja yang akan tercipta? Berapa banyak smelter yang akan dibangun? (mengetuk meja) Freeport sudah membangun smelter tembaga senilai hampir 4 miliar dolar di Gresik. Itu nyata. Itu pekerjaan.

KGM: Tapi Freeport juga mendapat perpanjangan izin hingga "life of mine". Seumur tambang. Jaringan Advokasi Tambang menyebut ini "kolonialisme permanen".

Trump: (tertawa) "Permanen." (menggeleng) Kau tahu apa yang permanen? Kemiskinan. Itu yang permanen kalau kalian tidak membuka pintu. (condong ke depan) Dengarkan aku baik-baik. Papua punya emas. Punya tembaga. Selama lima puluh tahun, Freeport mengambilnya. Dan apa yang terjadi? (berhenti) Jalan? Sekolah? Rumah sakit? (menggeleng) Tidak. Tapi sekarang. Sekarang aku bilang ke mereka: "Kalian bisa tetap di sana. Tapi kalian harus membangun." Dan mereka setuju. (menunjuk) Itu bukan kolonialisme. Itu tanggung jawab.

KGM: Tapi Indonesia juga harus membiayai infrastruktur ekspor batu bara AS ke Asia Tenggara. Itu bagian dari perjanjian.

Trump: (mengangkat alis) Kau tahu apa itu? Itu timbal balik. (tersenyum tipis) Kalian dapat akses pasar. Kami dapat akses mineral. Dan kalian juga dapat...batu bara kami. (berhenti) Kau tahu berapa banyak listrik yang bisa dihasilkan? Berapa banyak pabrik yang bisa berjalan? (menunjuk) Itu bukan eksploitasi. Itu pembangunan.

(Ruangan sunyi sesaat. Trump meraih gelas Diet Coke-nya, meneguk, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi yang tajam.)

Trump: Kau tahu apa masalahnya dengan kalian, para jurnalis? (menatap langsung) Kalian selalu melihat hanya satu sisi. Kalian tidak pernah melihat gambaran besarnya. (berhenti) Indonesia punya nikel terbesar di dunia. Punya kobalt. Punya bauksit. Dan selama ini, selama puluhan tahun, mineral itu mengalir ke China. Ke pabrik-pabrik mereka. Ke baterai-baterai mereka. Ke mobil-mobil listrik mereka. (mengetuk meja) Itu bukan kedaulatan. Itu penjajahan yang kalian tidak sadari.

KGM: Dan Amerika menawarkan alternatif?

Trump: (mengangguk) Kami menawarkan kemitraan. Bukan dominasi. (diam) Kami akan membangun smelter. Kami akan transfer teknologi. Kami akan membeli. Bukan mencuri. (berhenti) Dan kalau itu berarti aku harus menghapus beberapa aturan yang... (mencari kata) ...tidak efisien? (mengangkat bahu) Aku melakukannya. Itu namanya mempercepat. Bukan menjajah.

(Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Di luar, langit Washington mulai gelap.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang tidak akan kuceritakan pada mereka? (diam) Aku butuh mineral itu. Jet tempur. Ponsel. Mobil listrik. Semua butuh nikel. Butuh tanah jarang. Dan aku tidak akan membiarkan China menguasainya. (menoleh, matanya tajam) Jadi kalau kau bertanya apakah ini tentang kedaulatan Indonesia. Jawabannya ya. Kedaulatan untuk memilih siapa yang mereka ingin bersandar. Dan mereka memilih kami. (tersenyum) Itu demokrasi, kan?

(Pintu Ruang Oval terbuka. Seorang ajudan muncul, membawa dokumen. Trump melambaikan tangan, tanda wawancara selesai. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat berucap.)

Trump: Oh, dan satu hal lagi. Kalau kalian benar-benar peduli dengan lingkungan. Kalian harus mulai bertanya kenapa China tidak pernah dikritik. (tertawa kecil) Tulis itu..!

(Pintu menutup. Langit Washington tetap kelabu. Di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, sebuah smelter di Sulawesi menyala sepanjang malam. Dan tidak ada yang tahu apakah itu api pembangunan atau cahaya kolonial yang baru.)

(Ia mengulurkan tangan. Jabatannya kuat, singkat, seperti seseorang yang telah berjabat tangan ribuan kali dan masih belum lelah.)

Trump: Sekarang pergilah. Aku ada telepon dengan...(melihat teleponnya) ...Ah, tidak penting. (melambaikan tangan) Tulis yang bagus. Dan pastikan kau tulis. Indonesia adalah teman Amerika. Sekarang lebih dari sebelumnya.

(Pintu ditutup.)

(Di luar, langit Washington tetap kelabu. Tetapi di suatu tempat. Dua belas ribu kilometer jauhnya. Di atas kepulauan yang tersebar seperti permata di antara dua samudra. Sebuah negara dengan 280 juta jiwa sedang menghitung. Menghitung apa yang telah mereka berikan. Menghitung apa yang akan mereka terima. Dan bertanya-tanya, dalam bahasa yang tidak diterjemahkan oleh siapa pun. Apakah ini kemitraan? Atau apakah ini harga yang harus dibayar untuk berdiri di bawah sayap elang?)

Trump: (dari balik pintu, suaranya masih terdengar) Hey..! Jangan lupa. Aku menaikkan tarif negaramu dari 32 jadi 19. Itu diskon. Diskon terbesar di Asia. Tulis itu..!

== SELESAI ==

Rabu, 23 September 2026

Sesi-4 Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Taubatan Nasuha, Kembali pada Ampunan Allah"


Catatan Pembuka: Sesi keempat ini berlangsung pada malam ke-40 Febrie Adriansyah (FA) mendekam di Rutan KPK. Malam itu berbeda. Tidak ada pengacara. Tidak ada tim kuasa hukum. Tidak ada wartawan lain. Hanya ada saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Dan seorang pria yang sudah menanggalkan seluruh atribut kejaksaan. Bahkan cincin lamanya sudah ia lepas. Ia meminta waktu khusus untuk berbicara tentang sesuatu yang belum pernah ia sebut dalam tiga sesi sebelumnya: Tuhan.

Wawancara ini berlangsung pukul 02.15 WIB. Setelah ia menunaikan salat tahajud. Matanya sembab. Bukan karena menangis di depan orang. Tapi karena sujud panjang yang membuat dahinya menghitam. Ia memulai dengan kalimat yang tidak pernah saya duga: "Saya sudah 33 tahun jadi jaksa. Tapi baru 40 hari ini saya benar-benar mengenal siapa yang saya hadapi di pengadilan nanti. Bukan hakim. Tapi Allah."

Bagian Kedelapanbelas: "Saya Belum Pernah Sungguh-Sungguh Bertobat"

KGM: Malam ini Anda meminta saya datang bukan untuk membicarakan perkara. Anda bilang ingin bicara soal sesuatu yang lebih besar. Apa itu?

FA: (Suaranya pelan, berbeda dari tiga sesi sebelumnya). Saya ingin bicara tentang taubat. Tapi bukan taubat yang saya ucapkan di pengadilan. Bukan taubat yang saya tulis di surat pembelaan. Bukan taubat yang saya tunjukkan di depan kamera. Saya ingin bicara tentang taubat yang hanya Allah yang tahu.
Selama 33 tahun, saya salat. Saya puasa. Saya zakat. Saya haji. Di atas kertas, saya Muslim yang taat. Tapi malam ini, saya sadar. Saya belum pernah benar-benar bertobat. Saya salat karena itu kewajiban. Saya puasa karena itu tradisi. Saya haji karena itu status sosial. Tapi saya tidak pernah sujud dengan hati yang hancur. Saya tidak pernah menangis karena takut kepada Allah. Saya hanya takut kepada atasan. Takut kepada publik. Takut kehilangan jabatan. Saya tidak pernah takut kepada Allah.

KGM: Dan sekarang?

FA: Sekarang. Di sel ini. Tidak ada atasan. Tidak ada publik. Tidak ada jabatan. Yang tersisa hanya saya dan Allah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya benar-benar takut. Bukan takut hukuman manusia. Tapi takut kalau Allah tidak menerima taubat saya.

Bagian Kesembilanbelas: "Saya Mencuri dari Allah Sebelum Mencuri dari Negara"

KGM: Anda bicara soal taubat. Tapi apa dosa yang Anda maksud? Korupsi? Gratifikasi?

FA: (Diam. Menatap lantai. Tangannya gemetar) Lebih dari itu.
Bukan karena masalah korupsi. Karen itu akan di putuskan di pengasilan. Yang membuat saya tidak bisa tidur selama 40 malam ini adalah saya mencuri dari Allah.
Saya mengambil amanah yang Allah berikan kepada saya. Jabatan Jampidsus. Kepercayaan publik. Kewenangan menegakkan keadilan. Namun itu saya gunakan untuk membesarkan diri saya sendiri. Allah memberi saya kekuasaan untuk melindungi yang lemah. Saya gunakan untuk membuat orang takut. Allah memberi saya ilmu untuk menegakkan kebenaran. Saya gunakan untuk memilih perkara yang menguntungkan saya. Allah memberi saya waktu untuk beribadah. Saya gunakan untuk mengejar proyek, jabatan, dan pengakuan.
Itu bukan sekadar korupsi. Itu pengkhianatan terhadap amanah Allah. Dan itu jauh lebih berat daripada Rp4 miliar atau 74 kilogram emas.

Bagian Keduapuluh: "Air Mata yang Baru Pertama Kali Jatuh"

KGM: Anda bilang 40 malam tidak bisa tidur. Apa yang terjadi?

FA: (Matanya mulai berkaca-kaca) Malam ke-7, saya mimpi. Saya mimpi berdiri di pengadilan. Tapi hakimnya bukan manusia. Hakimnya adalah cahaya yang sangat terang. Dan saya tidak bisa melihat wajahnya. Saya mencoba bicara. Tapi mulut saya terkunci. Saya mencoba membela diri. Tapi tidak ada suara. Lalu cahaya itu bertanya: "Febrie, apa yang kau bawa untuk menghadap-Ku?"
Saya bangun jam 3 pagi, basah kuyup. Saya ambil wudhu. Saya salat. Dan untuk pertama kalinya dalam 33 tahun, saya menangis dalam sujud. Bukan tangis karena takut dipenjara. Bukan tangis karena malu. Tapi tangis karena saya sadar saya telah menghadap Allah dengan tangan kosong.

KGM
: Apa yang Anda maksud "tangan kosong"?

FA: Selama ini saya pikir amal saya banyak. Saya pikir salat saya cukup. Saya pikir haji saya menyelamatkan saya. Tapi malam itu, Allah menunjukkan: Semua itu tidak ada artinya kalau hati saya masih penuh kesombongan. Saya salat tapi tidak khusyuk. Saya puasa tapi masih memakan hak orang lain. Saya haji tapi masih menipu diri sendiri.
Itulah tangan kosong. Beribadah tapi tidak mengenal Allah.

Bagian Keduapuluh Satu: "Taubat Nasuha Bukan Sekadar Menyesal"

KGM: Ada istilah taubatan nasuha. Apa maknanya bagi Anda sekarang?

FA: Taubat nasuha itu bukan sekadar bilang saya menyesal. Setan juga menyesal. Taubat nasuha itu adalah taubat yang memutus hubungan dengan dosa. Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, Dan tidak kembali lagi. Bahkan kalau dunia menawarkan segalanya.
Saya sudah memulai. Saya berniat mengembalikan gratifikasi yang bisa saya lacak. Saya akan membuka nama-nama yang selama ini saya lindungi. Bukan untuk balas dendam. Tapi karena itu bagian dari taubat. Saya akan minta maaf kepada Tim 9. Saya harus minta maaf kepada keluarga yang saya permalukan.
Tapi yang paling sulit, yang belum selesai, adalah meminta maaf kepada Allah. Karena saya tahu, saya tidak bisa menipu-Nya. Saya bisa menipu hakim. Saya bisa menipu publik. Tapi Allah melihat isi hati saya. Dan taubat saya belum sempurna. Sampai saya benar-benar yakin bahwa saya tidak akan kembali.

KGM: Apakah Anda yakin Anda tidak akan kembali?

FA: (Diam panjang. Suaranya bergetar) Saya tidak berani bilang yakin. Karena saya tahu siapa saya. Saya tahu setan tidak tidur. Saya tahu kalau saya keluar nanti. Entah bebas. Entah dengan hukuman ringan. Godaan itu akan datang lagi. Jabatan. Uang. Kekuasaan. Semua yang dulu saya cintai.
Tapi ada satu hal yang saya pegang sekarang: Saya sudah merasakan nikmatnya sujud yang jujur. Dan itu lebih manis daripada semua jabatan yang pernah saya pegang. Kalau saya kembali ke jalan lama. Saya akan kehilangan itu. Dan saya tidak ingin kehilangan Allah untuk yang kedua kalinya.

Bagian Keduapuluh Dua: "Ampunan Allah Lebih Besar dari Kesalahan Saya"

KGM: Anda bilang, Anda takut, kalau Allah tidak menerima taubat Anda. Mengapa?

FA: Karena saya tahu besarnya dosa saya. Saya bukan hanya melakukan kebodohan. Saya membuat orang lain berbuat hal yang sama. Saya mengajarkan junior saya bahwa uang lelah itu biasa. Saya merusak generasi jaksa. Saya melemahkan institusi yang seharusnya melindungi rakyat. Kalau saya dihitung dengan timbangan manusia. Saya tidak akan pernah bisa membayar.
Tapi malam ke-30. Saya membaca satu ayat yang membuat saya menangis selama satu jam. "Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat itu bukan untuk orang suci. Ayat itu untuk saya. Ayat itu untuk orang yang sudah melampaui batas. Dan saya menangis bukan karena saya merasa aman. Tapi karena saya sadar bahwa Allah masih membuka pintu. Padahal saya sudah menutup pintu untuk diri saya sendiri bertahun-tahun.

KGM: Jadi Anda percaya Anda akan diampuni?

FA: (Tersenyum tipis. Matanya masih basah) Saya tidak tahu. Ampunan itu hak Allah, bukan hak saya. Tapi saya tahu satu hal. Selama saya masih bisa sujud. Selama saya masih bisa mengucapkan "Astaghfirullah". Selama saya masih bisa menangis karena takut kepada-Nya. Maka pintu itu masih terbuka. Dan saya akan terus mengetuknya sampai saya mati. Bukan karena saya ingin bebas dari hukuman. Tapi karena saya ingin mati dalam keadaan berserah diri. Saya ingin mati dalam kondisi husnul khotimah.

Bagian Keduapuluh Tiga: "Wasiat untuk Keluarga dan Indonesia"

KGM: Kalau ini malam terakhir Anda bisa bicara bebas, apa pesan Anda untuk keluarga?

FA: (Air matanya jatuh lagi. Suaranya pecah) Untuk istri saya: Maafkan saya. Saya bukan suami yang baik. Saya lebih sibuk dengan jabatan daripada dengan engkau. Saya lebih banyak berbicara tentang perkara daripada tentang keluarga. Tapi di sel ini, engkau adalah satu-satunya yang saya rindukan setiap malam.
Untuk anak-anak saya: Jangan tiru saya. Jangan bangga pada ayahmu karena jabatannya. Banggalah kalau ayahmu bertaubat dengan jujur. Dan kalau kalian ingin mengenang saya. Jangan kenang saya sebagai jaksa. Kenang saya sebagai orang yang akhirnya menyerah kepada Allah setelah 33 tahun melawan.

KGM: Dan untuk Indonesia?

FA: (Mengusap wajahnya. Menatap lurus). Untuk Indonesia:
Jangan tunggu masuk sel seperti saya untuk bertobat. Jangan tunggu kehilangan segalanya untuk sadar bahwa Allah lebih penting daripada jabatan. Saya sudah melalui itu. Saya sudah merasakan pahitnya. Dan saya beritahu kalian. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari hukuman Allah. Kecuali taubat yang jujur.
Saya bukan contoh yang baik. Saya contoh yang buruk. Tapi contoh buruk pun bisa menjadi pelajaran, kalau kita mau belajar. Dan saya berdoa, semoga Allah menjadikan saya pelajaran bagi orang lain. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai martir. Tapi sebagai cermin yang retak. Yang menunjukkan bahwa di ujung kehancuran, masih ada pintu bernama taubat.

Bagian Keduapuluh Empat: Doa Penutup

KGM: Boleh saya minta Anda menutup wawancara ini dengan doa?

FA: (Mengangguk. Ia bangkit, menghadap kiblat, dan mengangkat tangan. Suaranya bergetar, tapi jelas.)

"Ya Allah, aku datang kepada-Mu dengan tangan kosong. Aku datang bukan sebagai jaksa. Bukan sebagai pejabat. Bukan sebagai orang yang dihormati. Aku datang sebagai hamba yang berdosa.

Ya Allah, aku sudah melampaui batas. Aku sudah mengkhianati amanah-Mu. Aku sudah mencuri dari-Mu sebelum mencuri dari manusia. Aku tidak punya alasan. Aku tidak punya pembelaan.

Tapi ya Allah, Engkau Maha Pengampun. Engkau Maha Penyayang. Engkau tidak pernah menutup pintu taubat. Bahkan untuk hamba seperti aku.

Terimalah taubatku. Bersihkan hatiku. Jangan biarkan aku kembali ke jalan lama. Jangan biarkan aku mati dalam keadaan sombong.

Ya Allah, kalau Engkau mengampuniku. Tidak ada yang perlu aku takutkan. Bahkan hukuman manusia. Dan kalau Engkau tidak mengampuniku. Maka tidak ada tempat bagiku untuk kembali.

Astaghfirullahal 'azhim. Astaghfirullahal 'azhim. Astaghfirullahal 'azhim.

Amin ya Rabbal 'alamin."

Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 04.28 WIB, tepat saat azan subuh berkumandang dari masjid di luar Rutan KPK. Febrie Adriansyah tidak kembali ke selnya. Ia meminta izin salat subuh berjamaah. Petugas mengizinkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia ditahan, ia berdiri di shaf paling depan. Bukan karena jabatan. Bukan karena status. Tapi karena ia ingin memulai hidup baru dari barisan yang paling sederhana. Setelah salat. Ia duduk di sajadah. Tidak beranjak. Matanya merah. Bibirnya bergetar.

Seorang petugas bertanya: "Pak, kenapa masih di sini?"

Febrie menjawab pelan: "Saya sedang belajar. Belajar menjadi manusia yang tidak lupa bahwa suatu hari nanti, saya akan menghadap Allah. Bukan hakim."

Di luar, matahari mulai terbit. Dan di dalam sel kecil itu, seorang pria yang pernah menggergaji banyak orang, akhirnya menyerahkan gergaji itu kepada Yang Maha Kuasa. Masya Allah Tabarakallah...

== TAMAT ==

Selasa, 22 September 2026

Sesi-3, Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Menerima Sebagai yang Bersalah"


Catatan Pembuka: Sesi ketiga ini adalah yang paling berat. Berbeda dari dua sesi sebelumnya yang masih menyisakan ruang untuk narasi kepahlawanan. Sesi ini berlangsung di ruang isolasi Rutan KPK. Tanpa perekam. Tanpa saksi. Febrie  duduk di seberang meja besi. Tangannya dibelenggu. Ia baru saja membaca surat dakwaan final. Kali ini, tidak ada retorika. Tidak ada mereka. Hanya ada Saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Wawancara imajiner ini adalah cermin yang ia sendiri enggan lihat.

Bagian Kesebelas: "Saya Bukan Korban. Saya Pelaku."

KGM: Malam ini saya tidak akan membiarkan Anda berbicara tentang mereka. Tidak ada mereka. Hanya ada Anda. Pertanyaan pertama: Apakah Anda bersalah?

FA: (Diam sangat lama. Hampir dua menit. Matanya menatap lantai) Saya sudah tiga minggu menolak pertanyaan itu. Saya selalu bilang saya tidak memeras. Saya tidak korupsi. Saya bersih. Tapi malam ini...(menelan ludah)...Saya lelah berbohong pada diri sendiri. Ya. Mungkin saya melakukan kesalahan.

KGM: Kemungkinan salah dalam arti apa? Karena memeras? Atau karena hal lain yang tidak pernah Anda akui?

FA: Bukan memeras. Bukan seperti yang mereka tuduhkan. Tapi Saya merasa bersalah karena saya membiarkan diri saya menjadi bagian dari sistem. Yang saya tahu sistem itu busuk. Tapi saya pura-pura tidak tahu.
Saya merasa bersalah karena selama 33 tahun, saya menutup mata pada adanya uang lelah. Yang mengalir di Tim 9 saya. Saya tahu. Saya tidak mengambilnya sendiri. Namun merasa bersalah karena saya tidak berusaha menghentikannya. Itu bukan integritas. Itu kemunafikan.

Bagian Keduabelas: "Saya Menjual Cerita bahwa Saya Bersih"

KGM: Anda membangun citra sebagai jaksa bersih selama bertahun-tahun. Apakah itu semua palsu?

FA: (Suaranya serak.) Tidak semua. Saya tidak punya IUP (Ijin Usaha Pertambangan). Saya tidak punya kebun sawit. Saya tidak pernah minta proyek. Itu semua benar.
Tapi ada hal yang lebih halus. Yang mungkin lebih licik. Yang tidak saya sadari sampai saya duduk di kursi ini. Saya menikmati kekuasaan. Saya menikmati ketakutan orang-orang ketika nama saya disebut. Saya menikmati ketika menteri gemetar di ruang pemeriksaan saya. Saya menikmati ketika pengusaha besar datang membawa pengacara mahal. Dan saya bilang ke pengacara itu, "tunggu di luar!"
Itu bukan penegakan hukum. Saya merasa itu adalah kesombongan. Dan kesombongan dalam sistem yang busuk, adalah pintu masuk bagi korupsi. 

KGM
: Jadi Anda mengakui bahwa Anda korup dalam arti lebih luas?

FA: (Mengangguk pelan.) Saya korup dalam arti saya mengizinkan sistem ini berjalan di sekitar saya tanpa saya lawan. Saya korup dalam arti saya memilih perkara berdasarkan siapa yang berani melawan saya. Tidak hanya murni berdasarkan bukti. Ada perkara yang saya percepat karena ada tekanan. Ada perkara yang saya lambatkan karena saya tidak ingin konflik.
Itu bukan keadilan. Itu politik. Dan pada saat itu saya bukan penegak hukum. Saya politisi yang memakai toga.

Bagian Ketigabelas: "74 Kilogram Emas Itu Bagian dari Cerita yang Saya Tutupi"

KGM
: Mari kita bicara soal emas. Anda bilang kepemilikannya diperdebatkan. Malam ini, tanpa pengacara, tanpa kamera. Apakah emas itu milik Anda?

FA: (Diam. Menatap langit-langit) Nanti akan diuji di Pengadilan.

KGM: Atau mungkin sebagian?

FA: Memang ada yang menduga sebagian milik saya. Bahkan ada dugaan bukan dari pemerasan atau suap perkara. Silahkan saja kalau ada yang menduga-duga. Faktanya ada di keputusan pengadilan.

Hanya saja memang ada orang-orang yang ingin berterima kasih setelah perkara mereka selesai. Memberi dan menerima setelah selesai suatu perkara merupakan sesuatu  yang lumrah.
Itu bukan suap dalam definisi hukum. Tapi itu gratifikasi. Dan gratifikasi, dalam UU KPK, adalah korupsi. Saya tahu itu. Dalam persidangan nanti akan saya ungkap seluruhnya.

KGM: Jadi Anda mengaku kalau Anda korupsi?

FA: (Suaranya bergetar). Ya. Dalam bentuk yang paling halus. Paling sopan. Paling tidak kelihatan. Saya tidak pernah memeras. Tapi saya memang pernah menerima. Dan menerima adalah bentuk lain dari gratifikasi.

Bagian Keempatbelas: "Saya Mengkhianati Tim 9 Saya"

KGM: Anda berbicara banyak tentang Tim 9. Apa yang Anda lakukan pada mereka?

FA: (Menutup mata. Air mata mulai mengalir.) Saya mengajari mereka untuk menjadi seperti saya. Saya ajari mereka bahwa untuk menangkap ikan besar. Kita harus punya kail yang kuat. Saya ajari mereka bahwa uang lelah adalah bagian dari pekerjaan. Saya ajari mereka bahwa integritas itu bisa dinegosiasikan.
Dan sekarang. Ketika mereka dipanggil sebagai saksi. Mereka semua menyebut nama saya. Bukan karena mereka dendam. Tapi karena saya yang menciptakan mereka. Mereka adalah cerminan saya. Dan cerminan itu, malam ini, menatap saya dan berkata: "Kau yang membuat kami seperti ini."

KGM: Apakah Anda menyesal?

FA: Saya menyesal karena saya tidak pernah memberi mereka pilihan untuk menjadi jaksa yang benar-benar bersih. Saya menyesal karena saya mengajari mereka bahwa hukum adalah alat, bukan tujuan. Dan alat, pada akhirnya, bisa dipakai untuk apa saja. Termasuk untuk menghancurkan saya sendiri.

Bagian Kelimabelas: "Saya Bukan Pahlawan yang Dikhianati. Saya dpandang sebagai Penjahat yang Tertangkap."

KGM: Dua sesi sebelumnya, Anda membangun narasi bahwa Anda korban perang faksi. Malam ini, Anda membongkar narasi itu sendiri. Mengapa?

FA: Karena saya sudah lelah. Saya lelah berpura-pura menjadi pahlawan sejati. Saya lelah melihat orang-orang di luar sana mengibarkan spanduk "Bebaskan Febrie". Padahal mereka tidak tahu bahwa saya dalam kondisi saat ini sulit mendapat kebebasan. Saya lelah mendengar junior-junior saya bilang Febrie dijebak. Padahal harus saya akui saya menjebak diri saya sendiri dengan gaya hidup dan gaya kekuasaan yang saya pilih.
Saya bukan pahlawan pembela hukum sejati. Saya mungkin dianggap sebagai salah satu penjahat yang tertangkap.  Namun bagi saya, saat ini, penjahat yang jujur lebih terhormat daripada pahlawan pembohong.

KGM: Tapi Anda bilang ada perang faksi. Itu tetap benar, bukan?

FA: Perang faksi itu nyata. Tapi itu tidak membuat saya tidak bersalah. Dua hal bisa benar pada saat yang sama. Ada orang yang ingin menjatuhkan saya karena saya mengganggu bisnis mereka. Dan pada saat yang sama. Saya memang melakukan hal-hal yang membuat saya layak dijatuhkan. Saya bukan korban murni. Saya pelaku yang juga menjadi korban dari sistem yang saya bangun sendiri.

Bagian Keenambelas: "Gergaji Itu Adil"

KGM: Anda bilang di sesi pertama bahwa Anda "digergaji". Malam ini, apakah Anda masih merasa gergaji itu tidak adil?

FA: (Tersenyum getir. Air mata mengering.) Malam ini saya sadar. Gergaji itu adil.
Bukan karena yang menariknya bersih. Mereka tidak bersih. Tapi karena saya memang kayu yang harus dipotong. Saya sudah terlalu lama tumbuh di hutan yang salah. Menyerap nutrisi dari tanah yang busuk. Dan berpura-pura menjadi pohon yang lurus. Gergaji itu hanya alat. Yang menentukan apakah saya layak dipotong bukan gergajinya. Tapi saya sendiri.

KGM: Jadi Anda akan ikhlas menerima hukuman?

FA: Saya menerima bahwa ada yang salah dalam diri saya. Apakah hukuman yang akan saya terima adil? Belum tentu. Tapi saya tidak akan berjuang untuk bebas. Saya akan berjuang untuk jujur. Di persidangan. Di depan hakim. Di depan publik. Saya akan mengakui apa yang saya lakukan. Saya akan menyebut nama-nama yang memberi saya gratifikasi. Saya akan membuka semua yang saya tutupi.
Bukan karena saya ingin balas dendam. Tapi karena saya ingin menjadi cermin yang jujur. Bahkan kalau cermin itu retak.

Bagian Ketujuhbelas: "Pesan Terakhir untuk Indonesia"

KGM: Kalau ini wawancara terakhir Anda sebelum sidang, apa yang ingin Anda sampaikan?

FA: (Diam panjang. Menatap lurus ke mata wartawan). Sampaikan ini: Jangan jadikan saya pahlawan. Jangan jadikan saya martir. Jadikan lah saya pelajaran.
Saya adalah contoh bahwa kekuasaan tanpa integritas sejati akan berakhir di kursi besi seperti ini. Saya adalah contoh bahwa "bersih di atas kertas" tidak cukup kalau hati kita sudah tercemar oleh kesombongan. Saya adalah contoh bahwa penegak hukum yang tidak mau mengakui kesalahannya adalah penegak hukum yang paling berbahaya.
Dan kalau ada jaksa muda di luar sana yang mendengar ini: Jangan seperti saya. Jangan menikmati ketakutan orang. Jangan menganggap uang lelah sebagai hal biasa. Jangan pura-pura tidak tahu ketika sistem di sekitar Anda busuk. Karena suatu hari. Sistem yang Anda biarkan busuk itu akan datang untuk Anda.
Saya digergaji. Dan malam ini. Saya menerima gergaji itu. Bukan karena saya kalah. Tapi karena saya akhirnya jujur.

Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 01.33 WIB. Febrie Adriansyah menundukkan kepala. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga sesi. Ia menangis. Bukan tangis yang dramatis. Tapi tangis yang sunyi. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban 33 tahun. Petugas Rutan membawanya kembali ke sel. Di luar, hujan sudah berhenti. Dan di dalam sel, Febrie mulai menulis. Bukan pembelaan. Bukan ancaman. Tapi semacam pengakuan.

Satu kalimat yang ia tulis di halaman pertama: "Saya bukan korban. Saya adalah apa yang saya perangi. Dan hari ini. Saya akhirnya berhenti berperang melawan diri sendiri. Nantikan di Sesi-4. Yang sejatinya membuat Anda menangis.

Senin, 21 September 2026

Sesi-2, Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Gergaji yang Berbalik Arah"





Catatan Pembuka: Setelah sesi pertama tersiar. Publik terbelah. Ada yang melihat Febrie Adriansyah (FA) sebagai martir sistem. Ada yang melihatnya sebagai aktor yang sedang memainkan narasi terakhir. Sesi kedua ini berlangsung di ruang berbeda. Bukan di koridor. Melainkan di ruang tamu Rutan KPK yang pengap. Pukul 21.47 WIB. Kali ini, tidak ada kamera. Hanya ada pena. Perekam. Dan saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Serta seorang pria yang tampak kehilangan berat badan 5 kilogram. Hanya dalam dua minggu. Nada suaranya lebih rendah. Tapi matanya lebih tajam.

Bagian Keenam: "Kalau Saya Bersalah, Tunjukkan Lembarannya"

KGM: Malam ini saya tidak akan sopan. Anda bilang Pengawasan Internal kosong. Tidak ada catatan selama 33 tahun. Tapi justru itu yang membuat publik curiga. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu bersih di atas kertas. Tapi punya 74 kilogram emas dan ratusan miliar uang di rumah? Bukankah itu bukti bahwa sistem Pengawasan Anda sendiri yang lumpuh?

FA: (Diam tujuh detik. Menatap lurus) Justru itu pertanyaan yang saya ingin dilempar balik ke mereka. Kalau Pengawasan saya lumpuh selama 33 tahun, itu bukan kesalahan saya. Itu kesalahan institusi yang membiarkan saya naik tanpa satu pun catatan. Anda mau bilang saya memanfaatkan sistem yang lumpuh? Mungkin. Tapi kalau sistem itu lumpuh. Kenapa baru diungkap sekarang. Ketika saya sedang menyidik perkara yang menyentuh orang-orang besar?
Saya tantang. Tunjukkan satu lembar. Satu saja. Berita acara pemeriksaan saya di Pengawasan. Tunjukkan satu laporan kekayaan yang tidak saya serahkan. Tunjukkan satu rekening yang tidak saya laporkan. Kalau tidak ada. Maka tuduhan pemerasan itu bukan hasil investigasi. Itu hasil rekayasa.

KGM: Tapi emas itu nyata. Beratnya 74 kilogram. Itu bukan rekayasa.

FA: Emas itu nyata. Kepemilikannya yang jadi soal. Ada perbedaan besar antara ditemukan di rumah saya dan milik saya. Saya sudah bilang berkali-kali. Kalau penyidik punya bukti kepemilikan. Bawa ke pengadilan. Jangan main di media. Saya ini jaksa. Saya tahu persis permainan trial by media itu. Dulu saya juga pakai. Sekarang saya di sisi lain. Dan saya baru sadar betapa kotornya.

Bagian Ketujuh: "Saya Bukan Malaikat, Tapi Saya Bukan Pencuri"

KGM: Mari kita bicara jujur. Anda tidak mungkin sebersih yang Anda klaim. Tidak ada jaksa yang menyidik perkara ratusan triliun tanpa biaya operasional dari suatu tempat. Akui saja. Ada uang yang mengalir. Entah untuk Tim 9. Entah untuk Anda. Itu rahasia umum di Kejaksaan.

FA: (Tersenyum tipis, getir) Anda benar. Saya bukan malaikat. Saya tidak munafik. Tim 9 memeang butuh uang untuk operasional. Untuk transport. Untuk penginapan saat investigasi lapangan. Itu fakta. Tapi ada perbedaan mendasar antara biaya operasional resmi dan pemerasan. Yang pertama ada suratnya. Ada pertanggungjawabannya. Ada mekanismenya. Yang kedua, yang mereka tuduhkan ke saya, itu fitnah.
Rahasia umum? Ya, saya tahu. Di Kejaksaan ada budaya uang lelah. Saya tidak bilang saya suci dari budaya itu. Tapi kalau Anda mau menuduh saya memeras Rp4 miliar dari seorang pengusaha. Tunjukkan korban yang mengaku diperas. Jangan tiba-tiba korban muncul setelah saya ditangkap. Dengan cerita yang persis sama dengan yang ada di surat dakwaan. Itu bukan korban. Itu saksi pesanan.

KGM: Anda menyebut saksi pesanan. Itu tuduhan berat. Anda punya bukti?

FA: Saya punya logika. Saya punya kronologi. Saya punya nama-nama yang saya simpan. Belum saatnya saya buka. Kalau saya buka sekarang, saya mati di dalam. Saya masih ingin hidup untuk melihat persidangan.


Bagian Kedelapan: "Yang Digergaji Bukan Saya — Tapi Kejaksaan Itu Sendiri"

KGM: Anda terus bicara seolah Anda korban. Tapi ada yang bilang. Anda adalah bagian dari masalah. Anda membangun kerajaan kekuasaan di Jampidsus. Anda memilih siapa yang boleh disidik dan siapa yang tidak. Anda jadi raja kecil yang akhirnya melawan raja besar. Bukankah ini sekadar perang antar faksi?

FA: (Menghela napas panjang) Anda ini kritis. Saya suka. Ya, saya akui. Jampidsus di tangan saya memang kuat. Mungkin terlalu kuat. Saya memilih perkara. Saya memilih waktu. Saya memilih siapa yang saya kejar dan siapa yang saya simpan. Itu kekuasaan. Dan kekuasaan selalu punya harga.
Tapi ada perbedaan antara menggunakan kekuasaan untuk menegakkan hukum. Dan menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Yang pertama, saya lakukan. Yang kedua, saya tantang siapa pun untuk membuktikannya.
Dan soal perang faksi. Ya, mungkin ini perang faksi. Tapi kalau benar ini perang faksi. Yang sebenarnya digergaji bukan saya. Yang digergaji adalah Kejaksaan itu sendiri. Mereka memotong satu kepala untuk menakuti seribu jaksa yang masih punya nyali. Saya jadi contoh: Lihat Febrie. Dia terlalu berani. Sekarang dia di dalam. Barangkali itu pesan yang mereka kirim.

KGM: Dan menurut Anda, pesan itu berhasil?

FA: (Tertawa pahit) Anda lihat sendiri. Dua minggu setelah saya ditangkap. Sudah ada berapa jaksa yang menolak menangani perkara besar? Sudah ada berapa Tim 9 yang bubar? Sudah ada berapa berkas yang diistirahatkan? Pesan itu berhasil. Dan itu artinya Kejaksaan sudah kalah.

Bagian Kesembilan: "Presiden Tidak Salah — Tapi Dibohongi"

KGM: Anda menyebut presiden menerima informasi yang salah. Ini klaim yang sangat berbahaya. Anda sadar bahwa ini bisa ditafsirkan sebagai tuduhan? Bahwa ada orang di lingkaran presiden yang menjatuhkan Anda?

FA: Saya tidak menuduh siapa-siapa. Saya hanya bilang. Presiden tidak mungkin tahu detail 74 kilogram emas. Rp846 miliar. Dan Rp4 miliar pemerasan dalam satu laporan singkat. Kalau laporan itu disusun oleh orang yang punya kepentingan. Maka presiden dibohongi. Bukan salah presiden. Salah orang yang menyusun laporan.

KGM: Kalau presiden membaca wawancara ini. Apa yang Anda ingin dia lakukan?

FA: (Diam. Suaranya berubah pelan) Saya ingin dia bertanya satu hal: Kalau Febrie benar-benar memeras Rp4 miliar. Kenapa selama 33 tahun tidak ada satu pun catatan buruk tentang dia?" Kalau pertanyaan itu diajukan. Saya percaya ada yang akan gemetar. Bukan saya. Tapi orang-orang yang menyusun laporan itu.

Bagian Kesepuluh: "Saya Bukan Pahlawan. Saya Cermin."

KGM: Pertanyaan terakhir. Kalau Anda keluar dari sini. Entah bebas. Entah setelah menjalani hukuman. Anda ingin dikenang sebagai apa?

FA: (Tersenyum. Kali ini senyum yang berbeda. Lebih tenang. Nyaris seperti pasrah) Saya tidak ingin dikenang sebagai pahlawan. Pahlawan itu mati muda. Atau setidaknya mati terhormat. Saya mungkin tidak akan dapat keduanya.
Saya ingin dikenang sebagai cermin. Cermin yang menunjukkan bahwa di negeri ini. Orang yang menegakkan hukum dengan benar. Bisa dihancurkan oleh sistem yang dia bela. Cermin yang menunjukkan bahwa bersih saja tidak cukup. Anda juga harus punya perlindungan politik. Cermin yang menunjukkan bahwa Kejaksaan. Yang seharusnya jadi ujung tombak keadilan. Bisa jadi alat pembalasan.
Kalau orang melihat cermin itu dan merasa tidak nyaman. Berarti wawancara ini berhasil. Karena ketidaknyamanan adalah awal dari kesadaran.
Dan kalau saya harus digergaji sampai putus. Biarlah. Tapi saya berjanji satu hal. Saya tidak akan menangis di depan gergaji itu. Saya akan menatap orang yang menariknya. Dan saya akan bilang. Teruskan! Tapi ingat. Gergaji ini nanti juga akan dipakai untukmu.


Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 23.12 WIB. Febrie Adriansyah (FA) berdiri. Menyalami Ki Gempur Mudharat (KGM) dengan tangan yang dingin. Lalu berjalan kembali ke selnya tanpa menoleh. Di luar, hujan pertama di musim penghujan turun deras. Seorang petugas Rutan berbisik: "Dia tidak tidur sebelum subuh. Katanya dia menulis. Setiap malam."
Apa yang ditulisnya? Tidak ada yang tahu. Tapi kalau benar apa yang dia bilang. Bahwa ada basis data di kepalanya. Maka mungkin, di suatu tempat, di bawah lampu neon yang redup. Seorang pria yang digergaji sedang menyiapkan gergaji balasan. Dan Jakarta, seperti biasa. Pura-pura tidak tahu. Nantikan keseruan Wawancara Imajiner Sesi-3.

Minggu, 20 September 2026

Sesi-1: Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Akhirnya Kami Yang Digergaji"


Catatan Pembuka: Disclaimer. Tulisan ini adalah karya fiksi imajiner. Hasil rekaan Jurnalis dengan tetap mengacu pada data dan fakta yang terungkap di media. Tidak ada kaitannya dengan pernyataan resmi atau fakta hukum yang sebenarnya. Jika ada kebaikan dan hikmah di dalamnya. Itu semata-mata karunia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dialah sumber segala hikmah. Jika ada kesalahan dan kekurangan. Itu datang dari kelemahan penulis sebagai manusia dan assistant digital sebagai mesin. Tulisan ini hanyalah ikhtiar kecil sebagai materi edukasi hukum. Untuk mengingatkan diri sendiri dan pembaca. Bahwa kekuasaan, jabatan, dan harta adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawab."

Lokasi Wawancara: Koridor Kejari Jakarta Selatan yang sesak. Febrie Adriansyah (FA) baru saja menyelesaikan transisi identitasnya dari ujung tombak antikorupsi menjadi seorang tahanan. Pria yang pernah memimpin Jampidsus ini, sebelum dibawa ke mobil tahanan, melontarkan kalimat khasnya yang nyaris provokatif kepada wartawan: "Semua perkara besar kita ambil. Tapi akhirnya justru kita yang digergaji." Kalimat itu seperti bumerang. Tepat menghantam saraf paling sensitif dalam sistem penegakan hukum Indonesia. Untuk menggali lebih dalam logika digergaji dan kondisi batinnya saat ini. Saya KGM (Ki Gempur Mudharat) melakukan dialog imajiner yang mendalam dan tanpa batas.

Bagian-1: "Metafora Gergaji dan 33 Tahun yang Kosong"

KGM: Anda  menggunakan kata "digergaji". Dalam bahasa Indonesia, ini bukan sekadar ditebang. Tapi dipotong secara perlahan oleh kekuatan tertentu. Tentu dengan gesekan dan rasa sakit. Sebagai orang yang dulu memegang "gergaji listrik". Sekarang Anda merasa digergaji oleh siapa?

FA: (Tertawa) Pertanyaan Anda tajam. Begini. Saya sudah 33 tahun jadi jaksa. Di Jampidsus, yang saya pegang memang gergaji listrik ukuran paling besar. Jiwasraya, Asabri, dan perkara-perkara yang melibatkan kerugian negara ratusan triliun. Waktu kami tebang dengan gergaji, orang-orang tertentu sangat kesakitan. Tapi sekarang saya yang digergaji. Menurut Anda siapa yang menarik gergaji itu?
Saya ingin mengingatkan satu data. Selama 33 tahun karier saya. Pengawasan (internal) tidak pernah sekali pun melakukan pemeriksaan formal terhadap saya. Apalagi memberi sanksi administratif. Kemarin saya masih bilang ke tim saya, Tim 9, kalian ikut saya. Apakah saya pernah ajari kalian memeras? Mengajarkan memeras pengusaha? Tiba-tiba sekarang dituduh pemerasan. Tuduhan itu terlalu mendadak dan menyakitkan.

Bagian Kedua: Prestasi Rp300 Triliun dan "Permusuhan Tak Terlihat"

KGM: Anda berulang kali menyebut Rp300 triliun yang dikembalikan ke kas negara melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Bagi banyak orang, ini seharusnya jadi jimat pelindung. Kenapa justru tampak menjadi pemicu?

FA: Jimat? Dalam ekosistem penegakan hukum Indonesia, kadang prestasi besar justru menjadi bahaya terbesar. Anda mengembalikan Rp300 triliun dalam setahun. Anda mengganggu kepentingan di sektor kehutanan. Anda mengganggu rantai yang selama ini bisa terus mencetak uang lewat kompromi. Ketika Anda menggenggam semua perkara besar, Anda bukan hanya menegakkan hukum. Anda memutus jalur rezeki orang.
Ini yang membuat saya curiga. Kasus ini bukan soal bukti. Tapi soal bisnis yang terganggu. Saya jadi orang yang dianggap tidak tahu diri. Saya menolak banyak hal. Saya tidak punya IUP (Ijin Usaha Pertambangan). Tidak punya kebun sawit. Tidak pernah minta proyek ke pemerintah. Tidak pernah minta kuota impor. Saya bersih. Jadi ketika mereka tidak menemukan bukti suap. Mereka beralih ke pemerasan. Menuduh saya memakai kewenangan penyidikan untuk memeras.

Bagian Ketiga: "Basis Data" sebagai Senjata Terakhir

KGM: Saat pergi, Anda meninggalkan kalimat berat tentang basis data di Gedung Bundar. Anda bilang itu abadi. Ini ancaman, atau wasiat?

FA: Ini bukan ancaman, ini pernyataan fakta. Arsip-arsip di Gedung Bundar itu merekam semua alur perkara besar. Juga merekam siapa yang mengintervensi. Siapa yang mengambil untung. Siapa yang mencoba mengeruhkan air.
Saya sekarang ditahan di Rutan KPK. Tapi basis data di kepala saya tidak bisa dikurung. Saya bilang begitu untuk memberi tahu junior-junior saya. Jangan takut. Orang-orang yang kalian takuti sekarang. Sama dengan orang-orang yang dulu. Takut ketika kami menyidik perkara besar. Kalau kali ini saya jatuh. Digergaji putus. Saya berharap mereka tetap melihat punggung saya dan punya keberanian membuka berkas-berkas itu. Selama basis data itu ada. Kebenaran tidak akan mati.

Bagian Keempat: Pandangan Dingin tentang "Brankas" dan "Permainan Kekuasaan"

KGM: Soal 74 kilogram emas dan miliaran rupiah tunai yang ditemukan di Sentul. Anda bilang itu rumah Anda. Tapi publik bertanya. Bagaimana mungkin seorang pegawai negeri punya semua itu?

FA: (Memotong) Lihat, inilah khas pengadilan opini. Emas 74 kilogram itu ditemukan di rumah saya. Tapi saya tidak pernah bilang itu hasil pendapatan sah saya. Saya bilang itu rumah saya. Karena sebagai pemilik rumah saya bertanggung jawab menghadapinya. Tapi soal kepemilikan. Sumbernya. Bukankah harus diuji di persidangan?
Yang lebih menarik: Rp846 miliar dari 38 aset. Pengacara saya sudah tegas membantah itu milik pribadi saya. Kenapa barang orang lain ditempelkan dulu ke nama saya. Lalu opini publik dibentuk agar saya jadi koruptor raksasa? Justru ini membuktikan mereka butuh angka. Untuk menutupi logika yang tidak ada.

Bagian Kelima: Keputusasaan dan Harapan pada Politik dan Sistem

KGM: Anda menyebut presiden mungkin menerima laporan yang salah. Sebagai penegak hukum, apakah Anda mengisyaratkan intervensi politik?

FA: Saya tidak bicara intervensi politik. Saya bicara informasi yang salah. Saya percaya Presiden Prabowo menerima laporan yang sudah diolah. Karena pemimpin mana pun yang waras. Ketika melihat perbandingan mengembalikan Rp300 triliun dan memeras Rp4 miliar. Pasti akan merasa itu absurd.
Saya ditangkap pada dasarnya bukan karena korupsi. Tapi karena saya dianggap tidak cocok dalam sistem ini. Kejaksaan seharusnya menjadi lembaga yang mandiri. Tapi sekarang ada yang ingin menjadikannya bawahan kepolisian. Saya membuat Kejaksaan terlalu tajam. Sampai orang-orang tertentu merasa terluka.

KGM: Terakhir. Anda berharap hakim melihat perkara ini dengan jernih bagaimana?

FA: Saya harap hakim tidak melihat surat dakwaan yang sudah diedit rapi. Tapi melihat jejak 33 tahun saya. Lihat catatan Pengawasan yang kosong selama 33 tahun itu. Lihat catatan di Satgas PKH bahwa saya tidak pernah menerima sepeser pun. Kalau menangani perkara besar berujung pada diproses oleh perkara besar. Lalu siapa yang berani menyentuh masalah Jiwasraya dan Asabri?
Saya "digergaji". Itu tidak menakutkan. Yang menakutkan adalah, setelah ini tidak ada lagi orang di Gedung Bundar yang berani mengangkat gergaji. Untuk memotong tumor-tumor yang sebenarnya.

Catatan Akhir: Saat dialog berakhir, tangan Febrie tidak diborgol dengan borgol yang biasanya melambangkan penghinaan. Ia bahkan tidak mengenakan seragam tahanan oranye khas itu. Mungkin ini bentuk kehormatan terakhir. Atau mungkin ironi yang lebih dalam. Orang yang pernah membuat banyak orang berpengaruh mengenakan seragam tahanan. Kini berjalan menuju mobil tahanan dengan pakaian biasa di bawah kegelapan malam. Gema kata "digergaji" itu. Di langit Jakarta yang lembap. Tak kunjung hilang. Nantikan di Sesi-2. 

Rabu, 09 September 2026

Dialog Imajiner: "Tekad Taubat Sang Koruptor dan Dahsyatnya Rayuan Iblis"


(Latar: Sebuah ruang tamu mewah di penthouse Jakarta, pukul 2 dini hari. Lampu redup, bayangan lilin berkedip di atas meja marmer. Di kursi empuk duduk Seorang Koruptor (50 tahun), mantan pejabat negara yang kini terjerat kasus korupsi. Di hadapannya, sesosok bayangan mulai terbentuk dari asap rokok dan embun dingin. Iblis Mephistopheles modern. Berkostum jas Armani. Dengan senyum yang menunjukkan gigi tajam dan membuat merinding).

Koruptor: (menatap kosong ke lantai) Aku sudah putuskan. Besok pagi aku akan datang ke KPK. Semua uang akan aku kembalikan. Lebih baik miskin tapi tenang. Daripada kaya tapi tersiksa seperti ini.

Iblis: (tertawa pelan, suaranya seperti gesekan kertas ampelas) Ah, Kau Sahabatku. Seperti janji fajar. Selalu indah diucapkan tengah malam. Tapi selalu layu saat mentari terbit. Katakan padaku, siapa yang mengajarimu bermain golf di usia 40? Siapa yang memberimu akses ke proyek-proyek reklamasi? Siapa yang menaruh nama istri, mertuamu dan anakmu di rekening Swiss?

Koruptor: Aku tahu itu kau. Tapi aku sudah muak. Anakku menjauh dariku. Istriku lebih sering tidur di kamar tamu. Tiap malam aku mimpi. Mimpi sawah tempat aku bermain dulu kekeringan lalu berubah menjadi sungai darah.

Iblis: (berjalan mengelilingi kursi, jari-jari lentik berkuku panjangnya menyentuh bahu Sang Koruptor) Drama yang indah. Tapi coba pikir logika, sahabatku. Jika kau mengaku, kau kehilangan segalanya. Rumah ini, mobil mewah itu, pensiunan yang cukup untuk tujuh generasi. Jika Anakmu yang sekarang membencimu? Nanti ia hanya akan menganggapmu beban. Lalu Istri? Ia akan pergi ke pengacara perceraian sebelum kau selesai membaca BAP.

Koruptor: Tapi dosa ini…(seraya menekan dadanya) Rasanya seperti batu bara terbakar di ulu hati. Dulu aku kira uang bisa mendinginkannya. Ternyata tidak.

Iblis: (duduk di hadapannya, menyilangkan kaki) Kau tahu perbedaan manusia dan malaikat? Malaikat tidak punya nafsu. Manusia, kau, diberi nafsu oleh Tuhan. Aku hanya fasilitator. Aku tidak pernah memaksamu. Aku hanya berbisik: "Ambil saja, untuk kesehatan ibumu." Lalu kau mengambil. "Sekali saja, tidak ada yang tahu." Lalu kau ambil lagi. Aku hanya memberi logika. Kau sendiri yang memilih, bukan?

Koruptor: Itu dusta! Kau yang membisikkan rasa takut itu. Takut miskin, takut tak dihormati, takut kalah dari kolega.

Iblis: (menepuk tangan pelan) Bagus! Sekarang kau mulai mengerti teologi. Tapi mari realistis. Kembalikan uang? KPK tetap akan memenjarakanmu. Media tetap akan menghakimimu. Tetangga tetap akan bergosip. Pertanyaannya, mau masuk penjara sebagai orang kaya atau orang miskin? Mau anakmu kuliah di Harvard atau di kampus pinggiran?

Koruptor: (terdiam, matanya berkaca-kaca) Aku sudah menyesal. Dalam shalat malam, aku merasa ada pintu terbuka. Allah Maha Pengampun, bukan?

Iblis: (mendekat, napasnya beraroma dupa dan belerang) Ah, pengampunan. Kata yang indah. Tapi tahukah kau siapa yang paling banyak disebut dalam ayat pengampunan? Orang yang belum berbuat. Sedang kau, kau sudah berbuat 127 proyek fiktif. 56 rekanan palsu. 9 perusahaan cangkang. Itu bukan "khilaf", Sahabatku. Itu sistem. Dan sistem, seperti yang kau ajarkan di seminar-seminar, tidak bisa dibongkar dengan air mata.

Koruptor: Aku bisa menjadi saksi. Aku bisa membongkar yang lain.

Iblis: (tertawa keras sampai lampu berkedip) Kau? Saksi? Sungguh lucu. Siapa yang akan percaya pada koruptor yang mengaku bertobat di saat jaring sudah mengencang? Mereka akan bilang: Ini taktik, ini sandiwara. Kau akan sendiri, Sobatku. Tanpa teman, tanpa uang, tanpa kekuasaan. Hanya selimut tipis di ruang tahanan. Dan suara cicak yang mengingatkanmu pada tiap kontrak yang kau tanda tangani.

(Suasana Hening. Angin malam masuk lewat celah jendela, memainkan tirai sutra).

Koruptor: (berbisik) Tapi malaikat malam itu, ia datang. Saat aku terbangun jam 03.00 wib. Ada cahaya di sudut kamar. Ia tak bicara. Tapi aku tahu pesannya, "Kembalilah, masih ada waktu!"

Iblis: (seketika merubah wujud. Sejenak terlihat seperti almarhum ayah Sang Koruptor, dengan kemeja lusuh dan tas kulit tua). Nak, kau ingat ayahmu? Guru honorer yang mati dengan utang? Ia memberimu satu pesan: "Jangan jadi orang miskin seperti aku. Kau ingat? Aku ada di telinganya saat ia mengucapkan itu. Aku ada di bantal rumah sakit saat ia menghembuskan napas terakhir. Aku tahu semua keinginan terdalammu, bukan menjadi baik, tapi menjadi dihormati. Dan kehormatan itu, Anaku, dibeli dengan uang. Kesalehan tidak pernah membeli mobil dinas.

Koruptor: (menangis tersedu) Tapi aku lelah. Lelah bersandiwara. Lelah bersalaman dengan pejabat lain. Sementara dalam hati kami saling menghitung proyek. Aku ingin damai. Damai yang tidak bisa dibeli.

Iblis: (kembali ke wujud aslinya, rambut tegas, mata hitam pekat). Damai? Aku beri kau damai. Ambil semua uang itu. Terbanglah ke negara tanpa ekstradisi. Beli vila di tepi danau. Bacakan puisi untuk angsa-angsa di sana. Bayar pengacara untuk menggugat negara di pengadilan internasional. Kau akan menjadi pahlawan. Pembela kebebasan melawan rezim korup. (hahaha, tertawa lebar). Bukankah itu narasi yang lebih indah daripada terkurung di sel berdesakan?

(Dalam isaknya Sang Koruptor, ia meraih tasbih di saku. Manik-manik kayu itu dingin. Ia mulai menghitung. Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahailallah, Wallahu Akbar. Tiap butir yang dibacakan seperti mencabut duri dari hatinya).

Iblis: (mendesis, jaraknya mundur beberapa sentimeter). Singkirkan itu! Ritual kosong. Apakah tasbih membangun sekolah? Apakah tasbih memberi makan kelaparan? Kau dan aku sama, kita adalah manusia praktis. Aku menawarkan solusi, kau menawarkan harapan. Tapi harapan bukanlah rencana, Sahabatku!.

Koruptor: (berhenti menghitung, matanya tiba-tiba jernih). Kau takut, kan? Kau takut pada tasbih ini. Kau takut pada suara adzan subuh yang sebentar lagi berkumandang. Karena kau tahu, aku di ujung tanduk. Di sini, antara iman dan logika, aku masih bisa memilih. Dan aku memilih untuk mempercayai bahwa Allah lebih besar dari semua proyek fiktif yang kau bantu buatku.

(Hening. Jarum jam menunjuk pukul 04.30. Samar-samar terdengar sayup adzan dari masjid dekat apartemen).

Iblis: (wujudnya berubah. Kulitnya mengelupas seperti cat tembok tua, suaranya menjadi pecah) Kau pikir kau menang? Ini baru babak pertama. Setan tidak pernah menyerah, kawaku. Kami akan datang lagi. Besok, saat kau ragu di depan gedung KPK. Dalam kopi pagimu. Dalam tatapan hakim yang menghakimimu. Kami akan berbisik: "Bohong saja, putar cerita, buat kambing hitam, salahkan bawahan! Dan kau akan mendengarkan semua kataku. Karena kau manusia."

Koruptor: (menyandarkan punggung, dadanya terasa lega) Mungkin. Tapi malam ini, malam ini aku telah memilih. Dan pilihan itu, sungguh, terasa seperti udara segar setelah tiga puluh tahun sesak.

Iblis: (mulai memudar, asap menipis, wajahnya terakhir kali terlihat—antara sedih dan geram) Ingat kata-kataku saat kau menandatangani berita acara pemeriksaan. Ingat saat kau menggadaikan nama baikmu. Aku akan menunggu di persimpangan keraguan berikutnya. Selamanya. (suara terakhirnya lenyap, seperti kaset kusut.)

(Pukul 05.00. Lampu ruangan tiba-tiba terang. Lantai marmer bersih. Tak ada bekas asap,. Tak ada kursi bergeser. Hanya Sang Koruptor duduk sendiri. Tasbih di tangan, matanya merah. Telepon genggamnya bergetar. Pesan dari pengacara: "Besok jam 10. Siapkan cerita yang rapi.)"

(Sang Koruptor menatap layar, lalu mengetik balasan: "Siapkan surat pengakuan dan pengembalian aset.")

(Ia bangun. Membuka jendela. Menyambut fajar yang mulai jingga di ujung langit Jakarta. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Ia menangis bukan karena takut. Tapi karena di wajahnya. Ia merasakan hembusan angin yang terasa seperti pengampunan yang belum sempurna. Tapi sedang dalam perjalanan).

(Subuh tiba. Setan pergi. Allah tetap ada. Dan keputusan. Keputusan paling berat, hanya berjarak satu langkah kaki menuju wastafel wudhu).
Masya Allah Tabarakallah...
(TAMAT)

Kerugian Negara Bukan Korupsi”: Jalan Pintas Menuju Dekriminalisasi"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-67) Di penghujung Oktober 2026, sebuah usulan dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengg...