Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juli 2026

Bajingan di Balik Toga: "BEGAL BERDASI"


Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut "semua partai banyak patriot, dan semua partai banyak bajingannya juga," bukan sekadar gertakan politik. 

Ia membuka tabir tentang musuh terbesar bangsa ini: para bajingan perusak hukum yang justru bersemayam di menara gading kekuasaan.

Mereka bukanlah pencuri di pinggir jalan, melainkan "begal berdasi" yang memperdagangkan keadilan demi kepentingan pribadi dan golongan.

Mengkhianati Amanat

Kasus yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah menjadi bukti nyata bahwa "hantu" korupsi telah bersemayam di jantung institusi penegak hukum. 

Ia ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan terlibat dalam tiga kasus korupsi besar: PT Asabri, anak usaha PT Krakatau Steel, dan pasokan batu bara ke PLTU. Ini bukan lagi soal oknum, melainkan soal institusi yang terjangkit virus korupsi secara sistemik.

Dunia peradilan pun tak luput dari kejahatan yang sama. Tujuh hakim terjerat kasus korupsi sepanjang 2025, termasuk tiga hakim perkara Ronald Tannur, Erintuah Damanik, Heru Hanindyo, dan Mangapul, yang menerima suap total Rp4,67 miliar dengan vonis 7 hingga 10 tahun penjara.

Lebih tragis, OTT KPK pada Februari 2026 menangkap Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta bersama enam orang lainnya dalam kasus suap pengurusan sengketa lahan. Ini terjadi hanya sepekan setelah Presiden menaikkan tunjangan hakim hingga Rp110 juta per bulan. Kesejahteraan terbukti tidak otomatis membunuh keserakahan.

Kejahatan Terorganisir dari Hulu ke Hilir

Catatan Hukum-online menyebut hampir seluruh lini penegak hukum: hakim, jaksa, advokat, polisi, hingga purnawirawan TNI, terlibat korupsi sepanjang 2025.

Polisi dan jaksa terlibat dalam rivalitas sektoral yang merusak koordinasi penegakan hukum. Pakar bahkan menyebut oknum penegak hukum kerap menjadi "beking" hingga menjual-belikan pasal.

Mafia tanah beroperasi secara kompak dengan melibatkan notaris, aparat desa, oknum BPN, hingga aparat penegak hukum.

Kepala daerah seperti Bupati Sukoharjo Etik Suryani ditangkap KPK atas dugaan pemerasan pegawai BPKAD, dengan temuan uang dan emas senilai Rp21,2 miliar.

Krisis Sistemik Penggerogot Keadilan

Dampaknya, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia merosot ke angka 34 pada 2025, turun tiga poin.

Ketua MPR Bambang Soesatyo menyoroti bagaimana pisau hukum semakin tumpul: kasus korupsi direspons dengan perilaku minimalis, terjadi tebang pilih, bahkan ada rekayasa kasus dengan menjadikan orang tak bersalah sebagai tersangka.

Jika negara gagal memberikan efek jera, jangan salahkan jika publik mulai menuntut "pengadilan rakyat" bagi mereka yang mengkhianati amanat. 

Saat para bajingan berlindung di balik toga dan kekuasaan, keadilan bukan lagi milik rakyat, melainkan komoditas yang diperjualbelikan. Alamak...!!
(***kgm//spirit ekspresonis)

Senin, 17 Juli 2023

Tanggal 1 Muharram dalam Perspektif Sejarah dan Falsafah

Catatan
: 1 Muharam 1445 Hijriyah jatuh pada hari Rabu, 19 Juli 2023. Apa makna dibalik dimulainya tahun baru Islam tersebut? Mari kita tinjau dari perspekstif sejarah dan falsafahnya. Selamat menyimak!!

 Awal munculnya kalender Islam

Asal usul Tahun baru Islam dimulai ketika seorang Gubernur Abu Musa Al-Asyari menuliskan surat yang diberikan kepada Khalifah Umar Bin Khatab RA. Kepada pemimpin tersebut, Ia mengaku bingung perihal surat yang tidak memiliki tahun. Hal inilah yang menyulitkannya saat penyimpanan dokumen atau pengarsipan. Kondisi inilah yang mendasari dibuatnya kalender Islam, yang mana saat itu Umat Muslim masih mengadopsi peradaban Arab pra-Islam tanpa angka tahun, hanya sebatas bulan dan tanggal.

Rasulullah SAW sendiri menggunakan kalendar ini sebagai penyempurnaan waktu. Misal saja, mengembalikan bulan menjadi 12 dan tidak memaju mundurkan bulan atau hari yang semestinya masyarakat jahiliyah ketika itu.

Tinjauan perpektif sejarah

Sejarah tahun baru Islam berawal dari kebimbangan umat Islam saat menentukan tahun. Pada zaman sebelum Nabi Muhammad SAW, orang-orang Arab tidak menggunakan tahun dalam menandai peristiwa apa pun. Tapi, hanya menggunakan hari dan bulan sehingga cukup membingungkan.

Sebagai contoh, pada waktu itu Nabi Muhammad lahir pada tahun Gajah. Hal ini menjadi bukti bahwa pada waktu itu kalangan masyarakat Arab tidak menggunakan angka dalam menentukan tahun. Berawal dari sini, para sahabat Rasulullah SAW pun berkumpul untuk menentukan kalender Islam. Salah satunya yang hadir adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Thalhan bin Ubaidillah.

Mereka mengusulkan kalender Islam berdasarkan hari kelahiran Nabi Muhammad, ada yang mengusulkan sejak Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul. Namun, usul yang diterima adalah usulan dari Ali Bin Abi Thalib di mana beliau mengusulkan agar kalender Hijriah Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Dari usul Ali Bin Abi Thalib inilah sejarah kalender Islam pertama kali dibuat dan sejarah tahun baru Islam muncul.

Total 12 bulan dalam sistem penanggalan Islam juga tercantum dalam Al Quran surat At Taubah ayat 36-37 :

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

"Inna 'iddatasy-syuhụri 'indallāhiṡnā 'asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-arḍa min-hā arba'atun ḥurum, żālikad-dīnul-qayyimu fa lā taẓlimụ fīhinna anfusakum wa qātilul-musyrikīna kāffatang kamā yuqātilụnakum kāffah, wa'lamū annallāha ma'al-muttaqīn."


Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

Kenapa muncul kata Muharram ?

Salah satu bulan yang paling utama dalam kalender Islam adalah Muharram. Kata Muharam sendiri, berasal dari kata yang diharamkan atau dipantang dan dilarang. Ini bermakna pelarangan untuk melakukan peperangan atau pertumpahan darah, dan dianggap haram.

Secara etimologis Muharram berarti bulan yang diutamakan dan dimuliakan. Makna bahasa ini memang tidak terlepas dari realitas empirik dan simbolik yang melekat pada bulan itu, karena Muharam sarat dengan berbagai peristiwa sejarah baik kenabian maupun kerasulan. Muharam dengan demikian merupakan momentum sejarah yang sarat makna. Disebut demikian karena berbagai peristiwa penting dalam proses sejarah terakumulasi dalam bulan itu.

Awal mula penamaan Muharam dengan maknanya, didasari dengan kepercayaan jika bulan ini merupakan awal yang baru dalam setahun. Permulaan tersebut, di masa hijrah merupakan masa peperangan. Dalam sejarah pun disebutkan, jika bulan ini merupakan waktu yang sangat ditaati, bahkan ketika di Arab tak pernah terjadi peperangan.

Kenapa Muharram begitu istimewa?

Dalam Alqur'an Surah At-Taubah ayat 36, Allah mengabarkan 4 bulan agung (bulan-bulan haram) yang wajib dimuliakan yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dilarang menganiaya diri sendiri dan sebaliknya dianjurkan memperbanyak amal saleh. Allah menjadikan empat bulan ini (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) sebagai bulan haram (asyhurul-hurum). Siapa yang beramal saleh pada bulan tersebut maka Allah akan melipatgandakan pahalanya. Sebaliknya siapa yang berbuat maksiat pada bulan-bulan itu maka dosanya berlipat pula.

Makna dan Keutamaan Bulan Muharram

Muharam adalah bulan yang spesial, dikarenakan bulan pembuka dalam kalender Hijriyah. Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharam sebagai bulan Allah karena keutamaannya.

Momentum tahun baru hijriyah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal yang baik ke yang lebih baik lagi. Rasulullah SAW dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah. Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW saat beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya pada waktu itu.

Makna awal tahun baru islam juga memiliki makna yang mendalam bagi setiap muslim karena Makna tersebut lahir dari menegaskan kembali pentingnya menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan yang bersumber dari Al-Quran.

Momentum awal tahun baru Islam bagi kaum Muslimin agar terus mampu dalam berkreasi, menjunjung tinggi hak asasi manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, menciptakan birokrasi yang modern, yang transparan, rapi dan bersih

Seharusnya Tahun Baru Islam dimaknai sebagai :Pengingat kembali pada peristiwa hijrah sehingga meningkatkan kepercayaan kaum muslim akan kebenaran ideology dan aqidah yang dianut. Tidak memperdulikan segala macam gangguan yang bertujuan menggoda iman. Saat itu Rasulullah saw. Sangat percaya akan kesuksesan hijrah, dakwah dan sampainya beliau di hadapan para sahabatnya di Madinah, meskipun beliau melalui ancaman dan kesulitan besar dalam perjalannya.

Mengenalkan kepada generasi muda akan moment kepahlawanan dari generasi muda sahabat dalam moment hijrah dan sejarah Islam. Perjuangan Rasul dan para sahabatnya selama melakukan perjalanan itulah menjadi makna tahun baru hendaknya diresapi betul agar perjalanan penuh dengan pengorbanan itu sendiri menjadi pelajaran hidup bagi umat manusia.

Menegaskan kembali pentingnya menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan yang bersumber dari Al Quran. Hijrah dari suka minum minuman keras ke arah meninggalkan minum alkohol, hijrah dari suka main judi kearah meninggalkan judi, hijrah dari suka menggunakan narkoba ke arah meninggalkan narkoba. Intinya meninggalkan kebiasaan melanggar larangan -Nya menjadi taat melaksanakan perintah Allah SWT.

Tetapi, kenyataannya dalam kehidupan sekarang makna Tahun Baru Islam menjadi sesuatu pelajaran yang seolah tertinggal, tertutupi oleh meriahnya perayaan Tahun Baru Masehi yang memang sudah tradisi untuk dirayakan secara meriah oleh seluruh umat di dunia. Maka sudah sepantasnyalah seluruh umat muslim diseluruh penjuru dunia untuk memaknai Tahun Baru Islam untuk berbenah diri (muhasabah diri) sejauh mana bekal yang disiapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, selalu mencerminkan akhlak mulia, memiliki semangat baru untuk merancang dan menjalani kehidupan kearah yang lebih baik.

Salah satu makna penting implementasi cinta setidaknya di masa pandemi ini kita bisa mencintai diri dan keluarga serta masyarakat dengan menerapkan standar protokol kesehatan. Cintailah sesama dengan menggunakan masker, rajin cuci tangan dan menjaga jarak.

Amalan-amalan yang bisa dilakukan di Tahun Baru Islam 1443 H

Adapun beberapa amalan yang dapat dilakukan adalah :

1. Memperbanyak Puasa Sunnah
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah pada bulan Allah yang bernama Muharram". (HR. Muslim)

2. Menghidupkan Puasa 'Asyura dan Tasu'a (9-10 Muharram)
Rasulullah SAW bersabda:

"Dan puasa di hari 'Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim)

Nabi juga berpesan dengan hadits yang diriwayatkan Ibnu 'Abbas:

"Berpuasalah kalian pada hari 'Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari." (HR Ahmad, HR Al-Baihaqi)

Fadhillah melaksanakan puasa 'Asyura adalah menggugurkan dosa selama setahun lalu. Mengenai puasa Tasu'a (9 Muharram) dilakukan sehari sebelum puasa 'Asyura hukumnya pun sunnah. Dari Ibnu Abbas RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila (usia)-ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada hari kesembilan". (HR. Muslim)

3. Memperbanyak Sedekah

Selain menghidupkan puasa sunnah, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak sedekah. Sedekah pada bulan Muharram menurut Mazhab Maliki sangat dianjurkan. Sementara mahzab lainnya tidak memberikan penekanan khusus, namun tidak memberi larangan untuk mengamalkannya.

Sebagaimana keutamaan Muharram di mana Allah melipatgandakan pahala setiap amal saleh, maka memperbanyak sedekah termasuk menyantuni anak yatim merupakan amalan yang disukai Allah.

Allah berfirman yang artinya:

"Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (sodaqoh) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugrah-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-Baqarah: 261)
(Dari berbagai sumber)

Kamis, 03 Mei 2012

Strategi berinteraksi dengan Media Massa

Tanggal 3 Mei, Hari Kebebasan Pers Dunia


Media di Indonesia, tidak tergoyahkan, setelah lebih dari tiga dasawarsa dalam kontrol pemerintahan Orde Baru. Namun kini telah mengalami masa-masa transisi dan reformasi. Agenda politik dan ekonomi banyak mempengaruh terbentuknya media baru. Akibatnya cukup serius, karena semakin menjamurnya penerbitan media cetak serta menjadi semakin berkurangnya wartawan yang memiliki keakhlian khusus dan profesional.

Di sisi lain berakibat pula pada persaingan bisnis media yang semakin ketat, yang mendorong terjadinya ketidakseimbangan kualitas media. Misalnya di satu sisi ada yang konsisten dengan idealismenya dengan menurunkan berita yang obyektif, kuat dan tajam. Namun di sisi lain semakin menjamurnya berita-berita yan sensasional. Tidak jarang pula yang berorientasi pada agenda politik dan ambisi pribadi. Jadi kondisi media massa saat ini, secara kualitas menimbulkan gap sangat tajam, antara : 
Profesionalisme dan Amatiran.

Sesungguhnya, kehadiran media massa bagi kita, tak hanya sekedar sebagai wahana terhadap tuntutan keadilan, transparansi dan tanggung jawab. Namun juga bagi perusahaan, tentu akan sangat bermanfaat sebagai salah satu ekspektasi agar lebih dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat, melalui pesan-pesan yang disampaikan. Namun perlu difahami, media pun mengharapkan pada kita untuk dapat berbagi pengetahuan (knowledge), kemudahan akses (Accessibible), kejujuran (Honesty), terpercaya (Reliable) dan terjalinnya kerjasama (Collaborative).

Dalam mengemas sebuah pesan, ada hal-hal penting yang patut menjadi bahan pertimbangan. Biasanya ada tiga pertanyaan sebelum komunikasi dilancarkan, yakni : Siapa audience anda? Apa peran anda dan cerita apa yang ingin anda sampaikan? Serta pesan-pesan apa yang ingin anda sampaikan?

Perlu mendapat perhatian saat berhubungan dengan media, bahwa :
  • Sebagai narasumber, kita mempresentasikan perusahaan dan merek dagang perusahaan, baik pada saat formal maupun informal;
  • Kata-kata, tindakan dan perbuatan kita akan mencerminkan persepsi perusahaan di mata mereka;
  • Informasi kini tersebar cepat berkat hadirnya teknologi Internet;
  • Berbicara dengan media bukan lah hal yang rutin atau sebuah keharusan;
  • Media selalu memperhatikan aspek paling penting dari pesan atau peristiwa;
  • Karena waktu yang dimiliki media terbatas, maka perlu mendapat perhatian terhadap message yang paling diutamakan (mengacu pada pesan utama (key message);
  • Tidak selalu harus memberikan alasan-alasan.
Kegiatan Wawancara

Media massa memiliki karakter tersendiri. Ia tidak mengharapkan berita biasa-biasa saja. Ada semboyan yang biasa dijadikan acuan media : Anjing menggigit manusia, bukan lah berita. Tapi kalau manusia menggigit anjing, itu baru berita. Jadi sebenarnya apa yang dicari media?

Media mencari berita terkini. Ia menyukai berita-berita yang berbau krisis, konflik atau kontroversi. Ia mengharapkan berita ekslusif, yang tidak bisa didapat dari sumber lain. Ia gemar mengutip opini atau statement, suka mengkonfirmasi atau penyangkal pesan. Ia pun peka untuk menerjemahkan bahasa tubuh dan bila perlu berupaya memancing kemarahan nara sumber. Bahkan kesalahan statemen sedikit saja, boleh jadi akan meledak menjadi judul berita.

Jadi mitos tentang media sama saja : Mengutip pernyataan salah, mencari cerita negatif, mengincar sesuatu yang tidak bisa dipercaya, dan topik berita yang aktual.

Jadi pertanyaan-pertanyaan dari seorang jurnalis atau wartawan, pada umumnya dimulai dari pertanyaan : Siapa, apa, kapan, dimana dan bagaimana.

Untuk mendapatkan konfirmasi atau penyangkalan, biasanya meluncurkan jawaban dan atau pertanyaan seperti : Ya, Tidak atau Berapa. Sedangkan untuk mengutip opini dari sumber berita, biasa dimulai dengan pertanyaan Mengapa.

Oleh karena itu sumber berita, sebelum berkomunikasi dengan media, biasa membuat suatu tulisan khusus dalam bentuk “Press Release”. Press Release ini sangat membantu untuk menjawab sebagian keingintahuan wartawan. Bagi media amatiran dengan Press Release pun sebenarnya sudah memadai. Tapi bagi wartawan profesional, Press Release saja tidak cukup. Ia butuh tambahan informasi atau konfirmasi tambahan, agar kualitas beritanya lebih spesial dan ekslusif.

Interaksi dengan media massa dapat dilakukan melalui pelbagai cara. Dapat dilakukan melalui interview terencana (Adhoc Single, Multiple Media Interview). Bisa melalui Press Event dalam bentuk panel Diskusi atau Press Conference. Atau bisa pula dilakukan secara formal dan informal individual.

Sebelum menghadapi wawancara dengan media diperlukan beberapa persiapan, sebagai berikut :
  • Perhatikan Story Angle atau sudut bidik berita, baik dalam bentuk topik maupun slant, serta siapa saja ayang akan diinterview;
  • Pengamatan terhadap Profile Wartawan, baik dari segi pengalaman, gaya, irama dan designasi;
  • Perhatikan pula profile publikasi medianya dilihat dari segi : Sirkulasi, pembaca, penerbitan, bahasa, type editorial dan deadline;
  • Persiapkan pesan yang akan disampaikan dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan kunci serta dengan memformulasikan seluruh jawaban;
  • Berlatih lahmembalik pertanyaan negatif menjadi jawaban positif.
Memperlakukan Wartawan

Pada saat wawancara berlangsung, perlu dibangun suatu bentuk ikatan dengan media, dalam hal ini wartawan. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian adalah :
  • Tetaplah bersikap manusiawi;
  • Sebisa mungkin menghubungkan anekdot yang dapat memperkuat statemen yang telah dibangun;
  • Dengarkan dengan seksama pendapat wartawan;
  • Kirimkan kesan hangat, penuh perhatian dan sopan;
  • Namun tetap profesional dan natural, menjaga hubungan lebih komunikatif dan informal, serta menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dicerna;
  • Hindari jargon yang tidak familiar;
  • Mintakan klarifikasi apabila terdapat pertanyaan yang tidak jelas;
  • Serta akuilah kalau memang spesialisasi anda ada di area lain dan instruksikan kepada narasumber yang lebih relevan;
  • Gunakan tingkata energi yang sesuai terhadap subyek yang dibicarakan dan gaya interview;
  • Fokus kepada modulasi, volulume dan intonasi;
  • Gunakan strategi antusiasme menular.
Nah, siapa tahu Anda suatu saat berhadapan dengan Media atau Wartawan, uraian di atas dapat dijadikan sekadar panduan. (masnana60@gmail.com)


Kamis, 24 November 2011

Begitukah cara Telkom menghadapi kompetisi?

Kita harus menumbuhkan jiwa kompetisi. Ya, ini ideal dan isu menarik. Pentingnya jiwa kompetisi sangat strategis untuk mengadaptasi pasar kompetisi.

Co-founder Intel Andrew S. Grove, pernah mengatakan bahwa dalam pasar kompetisi, perusahaan yang sukses tidak dilihat dari size dan volume. Tidak pula dilihat dari incumbent atau newcomers. Tapi dilihat dari sejauhmana perusahaan itu atraktif dan fleksibel di pasar.

Untuk menumbuhkan jiwa kompetisi, tak ada cara lain selain kita harus berubah (change). Ada kata-kata klise mengatakan, tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Tuntutan perubahan itu sangatlah real karena baik secara internal maupun eksternal, banyak hal yang berubah sehingga kita pun perlu menyesuaikan diri.

Sebagai incumbent operator, beban TELKOM saat ini memang sangat berat. Kita bagai raksasa (giant) namun dipaksa agar gesit menari.

Bobot yang masih tambun ini, meski terus coba dirampingkan dengan program Pensiun Dini, namun tetap saja gerak TELKOM terasa lamban. Belum lagi nostalgia monopoli masih kerap terasa manisnya. Tidak mudah untuk beradaptasi secara cepat dengan kondisi baru.
Kebanyakan dari kita harus diakui masih bermental birokrat, kaku dengan over prosedural. Banyak aturan yang masih bertabrakan karena tidak diupdate atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan bisnis terbaru.

Kompetisi tidak pernah mau menunggu. Time is our enemy. P asar industri telekomunikasi di Indonesia memang masih sangat menjanjikan, tidak heran bila banyak pemain telekomunikasi global yang melirik pasar Indonesia. Mereka datang sejadi-jadinya untuk merangsek bisnis kita yang masih ranum dan menggiurkan. Satu per satu pemain telekomunikasi global menyatroni Indonesia.

Mereka membawa karungan uang dan teknologi sebagai kail untuk memancing rupiah demi rupiah di bisnis telekomunikasi. Sementara kita masih duduk di kursi goyang dengan secangkir kopi dan sebatang rokok diiringi lagu Jayalah Telkom Indonesia.
Kita masih suka berkaraoke ria bersama mitra dalam ruangan redup. Kita masih dimabukan dengan berbagai fasilitas nyaman. Begitu tersadar kita melongo dan garuk kepala tak gatal. Tak percaya pada apa yang telah terjadi.

Kompetitor. Ya, mereka datang menyamar dengan berbaju batik. Mereka lihay berkolaborasi dengan perusahaan lokal. Mereka datang dengan memiliki banyak hal. Mereka punya otak cerdas, teknologi terbaru, pengalaman berbisnis global, network system. Dan tentu semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi pesaing kuat TELKOM.

Mereka boleh jadi bukan pionir di Indonesia, karena TELKOM lah yang selalu menjadi pionir di bisnis telekomunikasi. Mereka tak memiliki pelanggan sebanyak Telkom Group. Mereka bukanlah penerima berbagai reward, karena Telkom lah si penerima segudang berbagai penghargaan.

Tetapi, apa artinya pionir kalau tidak dapat memenangkan persaingan bisnis. Apa artinya jumlah pelanggan banyak kalau tak ada duitnya. Apa artinya menerima berbagai penghargaan kalau tidak memiliki efek terhadap sales dan fulus.

Coba saja perhatikan pertumbuhan revenue kita dari tahun 2009 ke tahun 2010. Lebihnya tidak mencapai Rp. 200 Milyar. Padahal kita tau beban SDM telah berkurang tajam. Karena kebijakan pemotongan beban biaya terjadi disana-sini. Tidak terkecuali biaya perjalanan dinas dan biaya tetek bengek yang tak terlalu signifikan.

Tapi begitukah cara kita berbenah. Begitukah cara kita menghadapi kompetisi. Begitukah cara kita berstrategi? Wajar, jika begitulah hasilnya....Lumayan puyeng kan..!!! (n245)

Antara rekayasa dan makna reward


Tahukah anda bahwa Telkom sering menerima reward. rasanya telah menjadi rahasia umum. Menurut catatan penulis berbagai reward yang diperoleh Telkom tidak kurang dari 15 kali per tahun. Ini tentu saja jauh lebih banyak ketimbang yang diterima instansi atau perusahaan lain di negeri ini. 

Nah, pertanyaannya, sejauh mana berbagai reward itu dapat dikelola secara efektif sehingga mampu mengubah sikap dan cara pandang stakeholders terhadap Telkom.

Kita sepakat bahwa di alam kompetisi yang sangar ini apapun yang kita raih dan kita menangkan haruslah tetap diperoleh dengan cara terhormat. Artinya, jangan sampai ada upaya rekayasa, mengada-ada atau penuh dusta. Misalnya untuk mendapat reward tertentu kita harus mengeluarkan sejumlah uang kepada si pemberi reward. Reward bukanlah cerita fiksi bagai sebuah dongeng. Keberadaannya tak boleh dibuat-buat atau dipaksa harus ada. Reward harus benar-benar ada karena memang ada prestasi dan sejumlah data yang diakui kevalidannya.

Bukan harus dibeli apalagi jika harus direkayasa yang mengundang tanya penuh misteri.
Penghargaan seperti the best ini dan itu tentunya akan lebih bermakna lagi manakala realita kualitas manajerial, produk dan layanan itu sudah sesuai standar dan harapan. Namun hingga kini aspek yang satu ini sepertinya masih menyimpan bad news walaupun tidak seburuk dulu. Apalagi dari hasil studi menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara menurunnya kualitas manajerial, produk dan layanan dengan penurunan pendapatan perusahaan.

Dari sisi karyawan pun sama, yaitu pemeliharaan reputasi membutuhkan keterbukaan informasi dan kejujuran dalam mengelola perusahaan. Sebuah prestasi kiranya dapat dipandang sebagai cermin penilaian obyektif pihak luar terhadap kinerja Telkom. Rujukannya mesti. pada kriteria komprehensif yang biasa digunakan perusahaan-perusahaan besar di dunia.
Misalnya merujuk pada kriteria IQA Foundation yang menggunakan tujuh kriteria Malcolm Baldridge untuk menilai performansi sebuah BUMN, yang meliputi:

(1) Leadership; (2) Strategic Planning; (3) Customer & Market Focus; (4) Measurement, Analysis and Knowledge Management; (5) Human Resource Focus; (6) Process Management; dan (7) Results. Apalagi sejak tahun 2000, Telkom telah menggunakan 7 kriteria Baldrige dimaksud sebagai frame untuk Telkom Quality Management System yang menjadi basis untuk membangun sistem manajemen mutu Telkom.

Harapan kita semoga serangkaian penghargaan yang kita terima itu benar-benar 100% mencerminkan reputasi perusahaan. Pada intinya berarti, tak hanya telah mencerminkan citra dan performansi terbaik, namun juga diharapkan benar-benar telah menunjukkan kepiawaian direksi dan manajemen dalam mengelola perusahaan.

Secara tidak langsung sesungguhnya mencerminkan pula kompetensi, kerjasama dan kebersamaan segenap jajaran TELKOM yang telah menunjukkan jerih payahnya melalui pengerahan tenaga dan pikiran serta optimalisasi sumberdaya lainnya, sehingga Telkom menunjukkan reputasinya, baik secara nasional maupun dalam skala dunia.

Kiranya raihan sejumlah award itu akan semakin memotivasi seluruh jajaran Telkom untuk bekerja lebih produktif. Atau setidaknya kita menjadi tahu posisi Telkom saat ini menurut perspektif pihak luar dalam hal manajerial, kualitas dan profesionalisme dalam mengelola perusahaan. Pengetahuan mengenai posisi ini, memang, penting sebagai dasar bagi kita untuk melakukan peningkatan mutu demi mewujudkan visinya menjadi operator terdepan di tingkat regional.

Selain itu berbagai prestasi yang berhasil diukir Telkom selama ini diharapkan pula mampu menginspirasi guna mewujudkan obsesi menjadi role model bagi seluruh BUMN di Indonesia. Tidak terkecuali role model bagi seluruh korporasi di Indonesia dan regional pada umumnya. Sehingga mampu menunjukkan bahwa Telkom sebagai the real champion di sektornya.

Namun yang terpenting adalah makna dibalik semua penghargaan itu. Kata orang bijak bahwa keberhasilan adalah hasil dari kerja keras yang tidak berkesudahan. Berusaha lebih giat setiap hari maka akan ada hari esok yang membawa berkah dan keberhasilan. Keberhasilan itu bukan sekadar didasarkan pada obsesi, namun juga butuh imajinasi, daya kerah dan ketulusan bekerja.

Kini semuanya terpulang pada kita. Maukah kita mengoptimalisasi segala daya dan upaya. Sanggupkah kita turun ke jalanan untuk menyatu dengan market dan kastamer kita. Relakah kita mengoptimalkan kendaraan dinas untuk memonitor market dan kastamer kita. Sudikah kita mencurahkan segala cipta, rasa dan karsa kita untuk peduli pada nasib perusahaan terkini dan mencintainya dengan penuh ketulusan.

Kalau kita masih ogah-ogahan dan tetap bermain pamrih-pamrihan pada perusahaan. Kalau kita masih tak sudi berkeringat dan berdesakan untuk sekadar menyapa kerumunan kastamer tentang produk kita. Kalau kita masih jaga prestise dan tak berani hengkang dari comfort zone. Kalau kita masih melongo atau bengong bersaksi atas hebatnya manuver kaum kompetitor, maka lebih baik biarkanlah perusahaan ini mengerdil hingga mati suri.

Atau biarkanlah label the real champion itu menjadi impian berkepanjangan. Lalu biarkanlah visi agung yang kerap kita dengang-dengungkan itu menggantung di langit tertinggi menjadi kelap-kelip fatamorgana. Kemudian biarkanlah itu menjadi mimpi-mimpi indah hingga pensiun atau pendi menyapa. Karena merasa kesulitan perusahaan itu bukan urusannya. Duh, please dech!! (n425).

Selasa, 17 Februari 2009

The Skill of Negotiating

Pengantar: Negosiasi kini berkembang menjadi salah satu bidang ilmu cukup menarik. Taktik-taktik dan kemahiran negosiasi banyak dikupas dalam berbagai forum diskusi dan penerbitan buku. Karya Bill Scott dalam “The Skill of Negotiating” misalnya, telah dijadikan referensi penting bagi siapa pun yang sering berkutat dalam kegiatan negosiasi. Nah, bagaimana untuk menjadi seorang negositor yang mahir, mari kita simak tulisan berikut!

Negosiasi menjanjikan sukses. Tak hanya sukses bagi bisnis anda, namun juga signifikan bagi peningkatan citra diri dan pesona anda.

Apapun alasannya sasaran dari kebanyakan negosiasi atau perundingan adalah berupaya untuk mencapai suatu persetujuan atau kesepakatan. Upaya itu akan dapat diwujudkan manakala kita mampu menciptakan suatu iklim kerjasama yang kreatif, inovatif dan penuh persahabatan.

Persoalan kreativitas dalam negosiasi memang menjadi penting. Terlebih karena adanya suatu iklim tertentu yang cukup mengganggu atau merecoki setiap negosiasi. Misalnya, keadaan resmi, setengah resmi atau suasana persahabatan penuh kekeluargaan.

Langkah-langkah pembukaan, seringkali sangat menentukan iklim komunikasi diantara kedua belah pihak. Pola prilaku kita pada tahap awal negosiasi dapat dilakukan melalui beberapa langkah. Misalnya, masuk lah dengan sikap badan yang tegap, ekspresi wajah yang cerah, ramah, necis dan tidak tegang. Melakukan jabat tangan dan kontak mata penuh percaya diri. Serta melahirkan gerakan dan pembicaraan yang mantap. 

Namun sebelumnya, gunakan 5% waktu anda untuk mencairkan kebekuan suasana awal. Saat-saat pembukaan ini sebaiknya berdiri dan berbaur dalam kelompok kecil. Lalu bicarakan topik-topik hangat, ringan dan netral.

Periode selanjutnya, bergerak menuju situasi bisnis yang boleh jadi menggairahkan atau menegangkan. Suasana ini butuh dukungan imajinatif. Misalnya, lahirkan ide-ide kita secara lateral (menyamping) dan interaktif. Biarkan pikiran kita mengalir secara bebas seraya memantau lagi ide-ide mana yang jitu dan realistis.

Negosiator “jempolan” yang bekerja ke arah “persetujuan”, tentu akan sangat terlibat dengan isi negosiasi. Namun pengaruh terbesar yang sesungguhnya terletak pada kemampuannya untuk sekaligus mengendalikan proses negosiasi. Proses pengendalian ini memang penting guna menghindari proses negosiasi yang berlarut-larut, monoton dan tidak jelas arah tujuannya.

Memang tidak mudah, namun ada beberapa taktik menuju tercapainya persetujuan, yakni : Manfaatkan waktu istirahat anda. Tetapkan batas waktu untuk membantu tercapainya kemantapan dan konsentrasi enerji. Gunakan teknik penyingkapan secara penuh. Pelihara semangat dan bila perlu manfaatkan kelompok golf dan kelompok studi, bahkan mungkin pelicin.

Memenangkan pertarungan

Suatu negosiasi sedapatnya memberikan keuntungan kepada kita. Itu memang target yang mesti dicapai. Namun bukan berarti harus merugikan pihak lain. Kepuasan tetap diberikan kepada mereka. Kondisi inii memerlukan penciptaan iklim yang cepat, mantap dan praktis melalui suatu perencanaan matang dan kalau dapat yang telah disepakati. Namun perlu juga melalui pengemasan gertak sambal atau gertak balasan sampai pada berani menyerempet bahaya. Mengambil resiko bahaya, terkadang memberi nilai tambah.

Gertak sambal, misalnya, terkadang diperlukan. Terutama apabila pihak lain mengambil posisi yang kita anggap tidak realistis, sehingga memaksa kita keluar dari batas-batas normal. Namun tetap perlu dilakukan dengan tenang dan penuh keyakinan. Kita memang tetap berupaya untuk tidak cepat menyerah. Keuletan, ketangguhan dan konsistensi memang dibutuhkan seorang negosiator.

Bagaimana jika pihak lain yang menggertak sambal? Resepnya adalah bergerak lah atau berkelit dengan kecepatan langkah yang telah terukur menuju titik penyelesaian yang telah diproyeksikan. Dan jika dihadapkan pada suatu konflik situasional, misalnya penolakan kompromi, maka prinsip pertama adalah tetap mempertahankan kelancarannya. Kedua, mencari jalan ke luar yang mudah. Dan ketiga gunakan sisa waktu untuk masa istirahat. Setelah dimulai lagi maka lakukan pencarian suasana melalui kesepakatan prosedur. Kita boleh saja mengalah. Namun dengan langkah yuang telah diperhitungkan sejalan dengan konsesi balasan yang dilakukan pihak lain.

Pada tahap tertentu, negosisasi bisa mengarah pada konfrontasi langsung. Situasi ini tentu perlu didukung melalui taktik-taktik pertarungan. Karena itu sebelumnya kita perlu memahami kapan metoda pertarungan harus digunakan. Tentukan sikap dan sarana negosiasi pertarungan, buat polanya, gunakan taktik pertarungan dan siapkan alat balasannya.

Kita maklum, jika situasi dihadapkan pada situasi pertarungan, maka tujuan kita adalah utuk menang. Terlebih jika kita dihadapkan pada orang yang suka bertarung akibat keinginan untuk menguasai. Ia melihat pihak kita sebagai lawan dan berupaya untuk menghajarnya.

Untuk mengenal taktik-taktik negosiator yang suka bertarung, antara lain : Ia berupaya mengorek informasi bisnis dan pribadi kita sejak awal. Perhatiannya senantiasa diarahkan untuk mendapatkan sesuatu. Menunjukan emosi dan kemarahan. Membentuk tim pengujian silang melalui kawan jahat-kawan baik. Bermuka dingin dan berupa untuk memanajemen notulen. Menghindari penyelesaian dan meminta konsesi lebih lanjut. Naik banding pada pimpinan lebih tinggi. Serta melakukan gerakan-gerakan memaksa, misalnya melalui suap, sex, surat kaleng, penyadapan, dan lain-lain. Hati-hati !

Menghadapi negosiator demikian tentu kita perlu mempersiapkan cara-cara untuk membalasnya, antara lain melalui : pertama, hilangkan dia dengan menghindari pertarungan itu sebelum berkembang. Kedua, kendalikan medan pertarungan melalui pengendalian prosedur kerja. Ketiga, hadapi takktiknya, misalnya melalui teknik penangguhan sementara atau selamanya. Dan keempat, kembangkan sikap kita, jangan lah perasa, tunjukkan ketenangan dan bersiap-siap lah untuk berdiri dan pergi. Sebab kita paham benar, bahwa pertarungan bukan lah negosiasi yang cerdik.

Mengambil keputusan

Dikenal ada tiga macam negosiator, yakni : Type pejuang, yang sangat berorientasi pada tugas. Type kolaborator, pembuat transaksi kreatif untuk memperoleh segalanya. Dan type kompromistis, yang selalu berupaya menyelesaikan persoalan.

Beberapa metoda untuk melakukan keputusan strategik adalah : Pertama, melakukan sistem prioritas terhadap pilihan, baik terhadap masalahnya maupun pihak mana yang akan kita ajak negosiasi. Kedua, membuat analisa kekuatan serta membuat target waktu, seberapa cepat kita harus bernegosiasi. Ketiga, seberapa jauh kita harus menetapkan tujuan dan target sasaran yang hendak dicapai sehingga menjadi bagian lengket dari pemikiran strategik kita. Ke empat, gaya negosiasi mana yang akan kita pilih. Dan ke lima, menentukan negositor tepat, siapakah yang harus bernegosiasi untuk pihak kita.

Diperlukan pula suatu kekuatan untuk mempengaruhi secara psikologis. Pendekatan ini penting dalam upaya membantu sedapat mungkin terpuaskannya pihak lain. Serta membiarkan pihak lain menyadari bahwa kita memiliki sasaran yang tinggi dalam negosiasi itu.

Pada dasarnya kehandalan negosiator tidak akan terlepas dari proses pemilihan negosiatornya. Tentu negosiator yang diharapkan adalah yang memiliki keterampilan tinggi, prestasius, penuh rasa persahabatan, ulet dan konsisten, berjiwa pionir, jujur serta berpengalaman.

Mendapatkan negosiator demikian, tentu tidak lah mudah. Diperlukan suatu proses melalui tempaan pengalaman, pelatihan dan pendidikan. Namun yang terpentig adalah diperlukan suatu pengertian timbal balik antara seorang negositor dengan pihak manajeman. Serta diperlukan pengembangan kerjasama menjadi sebuah kekuatan tim, sehingga lebih padu, kompak, solid dan handal.

Dengan demikian diharapkan terbentuknya negositor-negosiator yang memiliki “daya magis” dan kekuatan pribadi yang lebih fleksibel. Mampu bergerak bebas secara kreatif, inovatif dan familiar. Serta tentu saja selalu siap untuk memenangkan berbagai negosiasi yang dilangsungkan. Nah ! (n4N4s/kigempurmudharat)

Rabu, 28 Januari 2009

Human Error dan Harga Manusia

Hampir setiap saat awan kelabu bergayut di persada nusantara. Belum tuntas soal lumpur Sidoardjo, kembali beberapa kapal laut tenggelam, kebakaran depo penyimpan premium di Plumpang, jembatan rubuh dan berbagai kecelakaan lain di darat, laut dan udara. Pertanda apa ini? Bencana demi bencana begitu intens menghimpit negeri ini.

Tentu saja akan menjadi debatebel jika rangkaian musibah ini merupakan bagian dari karma kita. Akan menjadi polemik jika kisah malapetaka ini karena dosa para pemimpin kita. Jadi, ada baiknya bagi kita untuk tidak menghubungkan tragedi negeri ini dengan hal-hal yang berbau mistik apalagi menista. Hendaknya musibah ini dapat disikapi dengan cara-cara yang lebih tepat sebagai pelajaran bagi kita. Misalnya, dapat kita jadikan sebagai shock therapy agar kita tetap lebih ngati-ati lan waspodo. Atau dalam bahasa Sunda: Sing nyaah kanu jadi diri.

Human error
Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan terbesar adalah faktor manusia (human error). Tak hanya akibat kurangnya kesadaran manajemen (Operator), tapi juga pekerjanya sendiri yang seringkali tidak disiplin melaksanakan berbagai peraturan atau kurang patuhnya terhadap peringatan bahaya alam. Tak jarang diantara pekerja yang acuh tak acuh melaksakan petunjuk kerja dan memenuhi syarat keselamatan dan kesehatan. Pemakaian helm, safety belt, tali gantung pengaman, masker, kaos tangan, malah dirasakan sebagai pengganggu kenyamanan.

Kita diingatkan kembali terhadap kasus kecelakaan pabrik pupuk Union Carbide di Bhopal India yang merenggut sekitar 2.600 nyawa manusia dan belasan ribu menderita kebutaan. Kita pun harus belajar dari keganasan kecelakaan kerja tenaga listrik nuklir Chernobyl di Uni Sovyet dan Jepang yang juga meminta korban jiwa tak sedikit serta merusak lingkungan alam dalam radius ratusan kilometer. 

Kita masih dihadapkan pada musibah Semburan Lumpur Lapindo yang diprediksi bisa berakibat mengerikan. Atau kecelakaan sehari-hari yang terjadi begitu dekat dengan kita. Misalnya, kecelakaan tabrakan kereta api yang berulang setiap waktu. Atau beberapa kali berita jatuhnya pekerja bangunan dari tingkat tinggi. Kasus tabrakan sesama mobil sampai pada mobil terseret di lintasan pintu kereta api dengan korban bergelimpangan. Dan yang tengah kita hadapi tenggelamnya sejumlah kapal laut, pesawat jatuh, serta kasus-kasus peledakan dan kebakaran.Mengapa kecelakaan-kecelakaan itu harus terjadi? Menurut hasil penelitian, bahwa hampir 90% terjadinya kecelakaan itu sebagai akibat faktor kecerobohan dan kelalaian. 

Istilah kerennya karena “human error”.Mengangkat “harga” manusia
Apabila kita bertanya pada seseorang, apa yang diharapkan dari kehidupan ini? Jawaban paling top, pasti, ingin mendapatkan kebahagiaan, kelezatan dan kenikmatan hidup di dunia dan akhirat. Ingin beroleh kehidupan tenang, tentram, bahagia, sejahtera, serta terjamin keselamatan dan kesehatannya. Singkat kata, ingin keselamatan di dunia dan akhirat dalam naungan RidoTuhan Yang Maha Kuasa.

Harapan untuk mencapai tujuan hidup itu, tentu berlaku untuk semua orang. Intinya kita mengharapkan agar terhindar dari segala macam bentuk kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Baik di perjalanan saat pergi dan pulang maupun di lingkungan kerjanya saat bekerja. Kemudian ingin berkumpul enjoy bersama keluarga.

Kesamaan harapan
Antara Manajemen dengan Pekerja (karyawan/pegawai/buruh) sesungguhnya mempunyai harapan sama. Terhindar dari segala bentuk penyakit dan kecelakaan kerja. Jika ada kesamaan harapan seperti itu, lantas mengapa masing-masing pihak tidak berupaya ke arah “zero accident” alias tidak terjadinya kecelakaan sepanjang tahun? Mengapa masih saja sering terjadi kasus-kasus kecelakaan? Mengapa nyawa dan harta harus dipertaruhkan lantaran “membangkang” terhadap norma keselamatan.

Hingga kini harus diakui, bahwa kasus-kasus kecelakaan di Indonesia masih sering terjadi setiap tahun dalam jumlah ribuan per tahun. Menurut catatan Departemen Kesehatan angka kecelakaan kerja meningkat dari tahun ke tahun. Pada periode 2000 –2005 terjadi 412.652 kecelakaan kerja. Kalau dirata-ratakan lebih dari delapan puluh ribuan kecelakaan kerja per tahun. Sedangkan tahun 20 sampai triwulan III, ada 66.367 kasus kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 4.142 orang.

Menurut penelitian Departemen Kesehatan, pada tahun 2000, prevalensi anemia pada pekerja perempuan mencapai 32 – 35%. Tentu masih banyak kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang tidak tercatat, terutama pada perusahaan-perusahaan di sektor informal, yang pada umumnya banyak terjadi karena resiko pekerjaan. Misalnya terhadap penyakit mata, kulit dan paru-paru.

Jadi dapat kita fahami bila pemerintah wanti-wantri memberikan peringatan keras pada seluruh operator agar mematuhi norma keselamatan serta waspada terhadap faktor alam. Sebab bagaimana pun juga peristiwa menggiriskan itu sangat terkait dengan “harga” manusia.

Gencarkan kampanye
Dengan jumlah kematian dalam tiga triwulan tahun ini mencapai 4.142 orang, memang semakin mencemaskan. Yang namanya nyawa manusia, mas, mbak, dengan tidak menyisihkan faktor nasib dan takdir, maka sungguh sangat disesalkan jika harus tewas, sebagai “tumbal” akibat kecerobohan dan kelalaian manusianya.

Adanya sikap enggan untuk berpikir sejenak terhadap keselamatan diri, pada gilirannya, jadilah tindak pelanggaran yang disadari. Jika sudah terjadi kecelakaan, maka biasanya yang dijadikan kambing hitam paling efektif adalah faktor nasib dan takdir.

Oleh karena itu Kampanye Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) mesti terus menerus diupayakan, terutama guna membantu terciptanya kondisi masyarakat dan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan sejahtera. Terbebas dari kecelakaan termasuk kebakaran, peledakan, penyakit akibat kerja serta pencemaran lingkungan.

Melalui kampanye K-3, juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, pegertian dan penghayatan masyarakat terhadap pentingnya K-3. Pada gilirannya diharapkan dapat lebih meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan yang berwawasan K-3.

Catatan akhir
Marilah berbagai musibah yang kita hadapi ini kita dijadikan semacam shock therapy bagi kita. Artinya jangan dilihat sebagai masalah sepele yang harus dilihat dengan sebelah mata. Termasuk pelajaran pentingnya akurasi informasi dalam menyampaikan berita musibah. Miss Communication akan berakibat fatal bagi upaya penyelamatan serta berdampak psikologis buruk bagi keluarga korban.

Peristiwa yang bernuansakan musibah itu sungguh tak patut ditanggapi dengan sikap dingin-dingin saja alias acuh tak acuh. Kasus ini adalah pelajaran berharga bagi kita. Jika perusahaan (Manajemen) telah menyediakan sarana pengaman dan petunjuk keselamatan, maka tidak sepantasnya untuk diacuhkan atau dilanggar.

Namun demikian halnya bagi Manajemen, maka menjadi tidak lucu lagi jika adanya pandangan, bahwa pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) itu hanya akan menambah beban operasional usaha saja.

Demi mengangkat martabat dan upaya memanusiakan manusia, rasanya Manajemen tak perlu lagi banyak berhitung dan utak-atik soal untung rugi, sehingga terkesan begitu pelit, pahit, cap jahe, buntut kasiran. Punten! (*n4N4s)

Sabtu, 17 Januari 2009

Brand Value Telkom

Berdasarkan hasil survey AC Nielsen, bahwa untuk memenangkan peperangan di High End Market (HEM), TELKOM harus mengembangkan brand equity dan value proposition.

Research sudah dilakukan secara kuantitatif oleh MARS dan kualitatif oleh ACNielsen. Research kualitatif dilakukan kepada Corporate Customer yang meliputi perbankan, high rise building, mining, dan manufacturing berskala Nasional di Jakarta.

Detail finding tentang bagaimana citra TELKOM menurut Corporate Customer diperoleh hasil secara Positive Image lebih menyangkut pada broadest coverage, good performance in stock market, strong finances, critical for business, high dependency on telkom, dan trust.

Sedangkan secara Negative Image, menyangkut citra sebagai sebuah BUMN, complex procedure, monopoly, impractical bureaucracy, government mindset, frequent downtime, slow response, lack proactiveness, lack competitive values, lack coordination, lack of guarantee/assurance, not transparent .

Corporate Customer berharap TELKOM lebih responsif dan mampu menjamin product & service yang ada.

Citra TELKOM di business Voice-Lokal sangat tinggi (high tech/innovative and better quality), namun citra TELKOM masih rendah di data (lower quality and basic/standard). Lintas artha yang menggunakan jaringan TELKOM namun service added value yang diberikan lebih dari yang diberikan TELKOM.

Menurut survey ACNelson, beberapa Value proposition TELKOM (total solution, technological leadership dan service excellence) dilihat dari segi relevansi dinilai “high” namun dari segi kredibilitas “low”.

Mengacu kepada ekspektasi dasar dari jasa Telekomunikasi dan kekuatan brand value yang dimiliki Telkom serta tingkat relevansi terhadap pelanggan maka disarankan untuk mengembangkan brand value sebagai berikut:

Berdasarkan Greater coverage, bagaimanapun juga Telkom memiliki kekuatan mendasar yang tidak dapat disamai oleh pesaing.

Oleh karena itu pengalaman kuat dibidang telekomunikasi di Indonesia, penjabarannya harus ditunjukkan dengan peningkatan response time dan meminimalkan down time.

Secara Government company Telkom memiliki kepedulian pada hajat hidup orang banyak dan merupakan BUMN berkinerja terbaik yang dicerminkan dengan kinerja di pasar modal.

Kedepan pelanggan melihat belum ada pesaing yang mampu menyamai dalam hal coverage tetapi banyak alternatif yang ditawarkan di dunia telekomunikasi yang bergerak dengan cepat, sehingga Telkom perlu meningkatkan kinerja pada reliability, availability dan servis.

Demikian halnya penilaian terhadap slogan Committed 2 U merupakan slogan yang menarik bagi pelanggan. Namun yang perlu di perhatikan adalah menjadikan slogan ini sebagai suatu kenyataan yang didukung oleh personil Telkom dari semua lapisan.

Guna meningkatkan loyalitas pelanggan perlu bersikap pro-aktif. Sikap pro-aktif ini ditunjukkan dengan mengantisipasi masalah, dan selalu memberi progress report kepada pelanggan.

Berdasarkan pengalaman, permasalahan terletak pada kredibilitas Telkom untuk melaksanakan “Value Proposition” seperti:

Technological Advancement; Service Excellence; Reliability; dan ­Highly Skilled SDM.

Dari beberapa segmen prioritas, maka tuntutan terhadap segmen perbankan perlu mendapatkan perhatian lebih tinggi mengingat pentingnya telekomunikasi bagi bisnis mereka.

Sedangkan guna memahami pelanggan lebih mendalam serta mendapatkan prioritas untuk tindak lanjut yang lebih tepat ACNelson merekomendasikan untuk melakukan studi banding (benchmark).

Beberapa kesimnpulan yang mengacu kepada ekspektasi dasar dari jasa Telekomunikasi dan kekuatan brand value yang dimiliki Telkom serta tingkat relevansi terhadap pelanggan maka ACNelson menyarankan untuk mengembangkan brand value Telkom sebagai berikut:

Greater coverage, Telkom memiliki kekuatan mendasar yang tidak dapat disamai oleh pesaing.
Pengalaman kuat dibidang telekomunikasi di Indonesia  penjabarannya harus ditunjukkan dengan peningkatan response time dan meminimalkan down time.

Government company  memiliki kepedulian pada hajat hidup orang banyak dan merupakan BUMN berkinerja terbaik yang dicerminkan dengan kinerja di pasar modal.

Kedepan pelanggan melihat belum ada pesaing yang mampu menyamai dalam hal coverage tetapi banyak alternatif yang ditawarkan di dunia telekomunikasi yang bergerak dengan cepat, sehingga Telkom perlu meningkatkan kinerja pada reliability, availability dan servis.

Committed 2 U  merupakan slogan yang menarik bagi pelanggan. Yang perlu di perhatikan adalah menjadikan slogan ini suatu kenyataan yang didukung oleh personil Telkom dari semua lapisan.(kgm/kigempurmudharat)

Jumat, 16 Januari 2009

Kapan Hari Jadi TELKOM



Pengantar: Sebagaimana kita mempunyai Hari Ulang Tahun, maka sejatinya setiap Institusi memiliki Hari Jadi. Suatu Hari Jadi tak hanya sebagai bumbu penyedap organisiasi, namun juga untuk memperkuat Identitas Perusahaan. Nah, bagaimana dengan TELKOM? Benarkah tanggal 27 September yang sering kita peringati sebagai Hari Bhakti POSTEL itu sebagai Hari Ulang Tahunnya TELKOM? Masih patutkah tanggal itu dipertahankan? Mari kita telusuri.

Bergulirnya isu perlu dilakukan pencarian Hari Jadi TELKOM itu sesungguhnya mulai terasa pada akhir tahun 2004 silam. Saat itu Dirut KR mempertanyakan, ”Kapan, sih, sebenarnya Ulang Tahun TELKOM itu?” Semua yang mendengar kelimpungan, karena memang selama ini tidak pernah tahu dan tidak pernah jelas kapan tanggalnya. Melihat situasi seperti itu, maka secara lisan KR menugaskan pada Corporate Communication c.q. Inrel yang waktu itu dijabat Pan Supandi, untuk segera melakukan penelusuran.

Agar penugasan ini lebih mengikat dan memiliki dasar kuat, maka diterbitkan Nota Dinas DIRUT No. C.TEL 30/PS170/SEK-10/2004 tanggal 22 Oktober 2004 tentang Penugasan sebagai Tim Pengkajian Hari Jadi TELKOM.

Dibentuklah Tim Pengkaji yang diketuai Pan Supandi dan Sekretaris Nana Suryana dibawah tanggung jawab Mundarwiyarso selaku Koordinator Komunikasi Perusahaan. Tim yang dilengkapi beberapa Anggota itu mulai bekerja dengan melakukan penelusuran Hari Jadi TELKOM untuk dipertimbang kan dan ditetapkan dalam RADIR.

Adapun metoda pengumpulan data dan penelitian yang dipergunakan antara lain: Literature Study dari Buku Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia Jilid IV-Masa Demokrasi Terpimpin; Interview secara tatap muka atau email dengan beberapa orang sesepuh/tokoh telekomunikasi; Melakukan telaahan bersama para Ahli Sejarah; Serta melalui Jajak pendapat Karyawan melalui Email

Penelusuran dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain: Pertama, melalui pendekatan HISTORIS, yang menyatakan bahwa Hari Jadi TELKOM sebagai suatu perusahaan harus dibedakan dengan Hari Peringatan dari eksistensi telekomunikasi di Indonesia yang sifatnya eventual, baik sebelum maupun setelah revolusi. Kedua, Pendekatan PERSPEKTIF LEGAL & OTORITAS, yakni bahwa Hari jadi TELKOM hendaknya merupakan cermin dari TELKOM sebagai entitas bisnis yang mandiri yang didasarkan pada suatu dasar hukum resmi.

Dan Ketiga, Pendekatan PERSPSEKTIF AKTIVITAS PERUSAHAAN, yang menyatakan bahwa Hari jadi TELKOM sebaiknya disinkronkan dengan siklus sales produk/jasa TELKOM dan dengan siklus pembangunan Citra TELKOM di masyarakatnya.

Dari proses penelitian dan pengumpulan data/opini, diperoleh hal-hal penting sebagai berikut: Pendapat Karyawan, yakni dari jajak pendapat yang diikuti oleh 128 Karyawan melalui email diperoleh hasil pilihan Hari Jadi TELKOM sebagai berikut: Sebanyak 27% responden memilih bahwa Hari Jadi itu sebaiknya Tanggal 23 September 1991 (Hari Perubahan dari Perum ke Perseroan), 19,5% memilih Tanggal 6 Juli 1965 (Tanggal dari PP. No 30/65 tentang pendirian PN.Telekomunikasi), 16,4% memilih Tanggal 27 September 1945 (Tanggal pengalihan Kantor Pusat PTT), serta 37,1% responden memilih Lain-lain.

Sementara Pendapat Sesepuh/Pinisepuh/mantan pejabat dan saksi sejarah, antara lain terhimpun dari Bpk. Ir.Sukarno Abdurachman, Bpk.Soendjoto BcAT, Bpk.Soeparwi BcTT, Bpk.Daud Surjadi BcTT, kesemuanya sependapat bahwa tanggal 6 Juli 1965 (Tanggal pendirian PN.Telekomunikasi) sebagai Hari jadi TELKOM.

Menurut Pendapat Pakar Ada 6 (enam) alternatif tanggal sebagai Hari Jadi TELKOM, salah satunya adalah tanggal 6 Juli 1965, adapun sisanya merupakan tanggal-tanggal yang berkaitan dengan eksistensi telekomunikasi di Indonesia (eventual).

Berdasarkan hasil analisa Tim, bahwa Walaupun dari persfektif Legal, sejak 1 Januari 1962 telah berbentuk Perusahaan Negara (berdasarkan PP No.240 tahun 1961) namun dari persfektif otoritas pengelolaan bisnis telekomunikasi saat itu belumlah merupakan entitas yang mandiri, dicerminkan antara lain oleh Masih digabung dengan Pos & Giro. Selain itu Pengelolaan bisnis telekomunikasi saat itu hanya merupakan salah satu direktorat (disebut Direktur Telekomunikasi dan Direktur Telekomunikasi Muda).

Demikian halnya Susunan Direksi PN.POSTEL berdasarkan SK.Mendapostelpar tanggal 13 Agustus 1964 Nomor U14/11/7: Perusahaan dipimpin oleh seorang Dirjen (DIRJEN POSTEL) yang dibantu oleh tiga Direktur Staf dan tiga Direktur Perusahaan serta dua Dirketur Muda Perusahaan.

Sedangkan Pengelolaan bisnis telekomunikasi merupakan suatu entitas baru terwujud pada tanggal 6 Juli 1965, saat itu sebagai Perusahaan Negara Telekomunikasi yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.30 tahun 1965 (Lembaran Negara No.62 dan No.63 tahun 1965) tepatnya tanggal 6 Juli 1965.

Dari analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa tanggal 6 Juli 1965 merupakan waktu yang PALING TEPAT untuk dijadikan sebagai Hari jadi TELKOM

Pada saat itu Tim menyarankan kepada Direksi untuk segera menetapkan tanggal 6 JULI 1965 sebagai HARI JADI PT. TELKOM INDONESIA, Tbk. Namun apa lacur hingga saat ini penetapan itu tak kunjung tiba. Entah bagaimana dokumennya tidak pernah kembali kepada Tim alias raib di perjalanan.

Kalau saja ada semacam political will dari para petinggi kita, maka masih belum terlambat kita Rayakan Hari Jadi TELKOM ke 42 pada tanggal 6 Juli 2007. Peringatan dapat dilakukan secara khidmat & bermartabat, termasuk melakukan sinkronisasi dan sinergi kegiatan, yakni melalui kegiatan Bhakti Sosial atau Bina Lingkungan dan Program Marketing.

Dan akan lebih hebat lagi jika deployment program dimaksud secara serempak diselenggarakan diseluruh Kantor Perusahaan TELKOM Group dan Kantor-kantor Unit Bisnis-nya. Momentum HUT ke 42 dapat dimanfaatkan pula guna memperkuat Identitas Perusahaan, apalgi jika ditambah dengan Kick-off Logo Baru PT.TELKOM INDONESIA Tbk (perubahan logo disesuaikan dengan Visi Perusahaan dan Customer Centric Company serta sudah dicapainya predikat World Class Company). Termasuk peluncuran sebuah buku tentang Hari Jadi TELKOM.

Namun harapan itu rupanya masih berupa mimpi indah yang bertabur angan dan harapan. Karena mungkin akan tetap berstempelkan ”PENDING”. (masnana60@gmail.com)

Rabu, 14 Januari 2009

Revolusi Berpikir Bukan Dongeng


Seorang Luis Echeverria pernah mengungkapkan:
“Kita hidup dalam masa krisis. Oleh karena itu kata-kata
mesti diisi dengan makna nyata. Sebuah kata harus
dapat menemukan tenaga kreatif dan kemampuannya
untuk menyatukan dan membebaskan manusia."


Secara filosofis dan politis, kata dan perbuatan harus selaras dan
menyatu. Bagai api dan udara, dalam perbuatan pada umumnya.”

Boleh jadi pendapat Echeverria itu bukan sekedar sebuah karya sastra. Tapi menguak makna sesungguhnya, yang tidak terbantah lagi. Sebab kita pun sadar, nilai-nilai hidup dan kehidupan semakin menusuk pada permasalahan “super jlimet”. Tak mudah dijamah atau diatasi oleh kemampuan nalar, indrawi, ragawi, bahkan materi.

Apa pasal? Berangkat dari fakta sejarah, hingga kini ratusan juta jiwa manusia masih hidup dalam belenggu kebodohan, kemelaratan dan keterbelakangan. Penghamburan sumber kekayaan alam yang semakin memprihatinkan. Pencarian keadilan dan kebenaran telah dirasionalisasi dengan menghalalkan segala cara. Pelanggaran HAM, terorisme, pemerkosaan hak azasi, penindasan individu dan bangsa yang semakin terang-terangan di depan mata. Kesenjangan yang kian menjorok, antara yang punya apa-apa dan yang tidak punya apa-apa (antara kemakmuran dan kemelaratan). Serta masalah-masalah akbar lainnya yang tengah mendera planet bumi kita.

Satu hal yang sangat memprihatinkan kita adalah soal sikap dan prilaku manusia. Kecenderungan petualangan manusia semakin hari semakin menjauh dari koridor moral dan patokan nilai. Mereka yang hidup di negara besar yang semakin mengacu pada rasio-monopolitis. Para elit intelektual lebih suka berbuat dan berkutat demi keuntungan kelompoknya, yang seringkali dilakukan dengan cara licik dan mencolok mata. Sebuah tanggung jawab, tak lagi menjadi bagian beban moral, malah menjadi tidak berkutik dan bertekuk lutut di bawah tekanan-tekanan. Tingkah polah manusia, kini semakin “antik” dan susah difahami.

Fenomena seperti itu muncrat ke permukaan, acapkali dilakukan dengan cara-cara yang kasar dan mencolok. Contohnya, tak terhitung, dapat kita amati setiap hari pada koran-koran, majalah, radio, televisi, internet dan pelbagai media lainnya pada hampir seluruh bidang kehidupan.

Fenomena seperti muncul, bukan semata-mata dunia yang tengah dihadapkan pada krisis enerji, pangan atau sumber alam. Bukan karena ancaman nuklir atau teroris yang kerap mengintai nyawa manusia. Tak sepenuhnya akibat degradasi moral dan sebangsanya. Tapi boleh jadi, diawali oleh revolusi berpikir yang kurang terorganisasi secara pas, runtut dan dalam. Teori-teori dan buah pikir para elit intelektual, baik sebagai hasil renungan, penelitian atau perbincangan tingkat tinggi, tampak jelas kurang dimanfaatkan secara bertanggung jawab, konsisten dan rapih. Sehingga kata-kata harus terpasang sebagai slogan dan iming-iming yang acapkali harus berbeda haluan dengan kenyataan dan perbuatan.

Kita yakin benar, bahwa apa yang dihasilkan kaum elit intelektual adalah demi survival kehidupan manusia dan atau bangsa. Karena itu, baginya, berpikir tetap bukanlah sebuah kejahatan. Hasil olah-pikirnya, tentu diharapkan mampu menjawab permasalahan masa kini dan masa depan manusia dan bangsa. Sehinga setiap manusia dan bangsa memiliki sadar arah dan sadar tujuan. Agar pada gilirannya tidak saling menindas antar manusia dan bangsa.

Namun kenyataan berbeda. Penindasan sering terjadi, justru dari bangsa yang memiliki hak-hak istimewa. Jadi harapan antara kata dan perbuatan akan berjalan rapi dan sinkron adanya, menjadi sebuah “an-sich nonsense”, omong kosong belaka.

Apa lacur, rebutan sumberdaya alam lah yang kerap dijadikan dalih penekanan terhadap suatu negara. Akibatnya penguasaan sumberdaya menjadi kian jomplang. Diperkirakan 19% penduduk dunia yang lebih kaya menguasai 64,5% produk kotor nasional (GNP) dunia. Di pihak lain sekitar 2,8 miliar penduduk dunia yang mewakili 70 negara dunia ketiga, dengan 32,6% penduduknya hanya menguasai 8,8% dari seluruh kekayaan dunia.

Gambaran seperti itu, sesungguhnya membuktikan watak dasar manusia yang cenderung egois yang lebih suka mementingkan diri dan kelompoknya. Karena itu, tampaknya menuntut suatu revolusi berpikir yang mengarah pada penggunaan secara rasional sumberdaya alam (natural resource), sumberdaya manusia (human resources), serta sains dan teknologi, yang diharapkan mampu sebagai sarana perubahan yang kualitatif dan revolusioner.

Terlebih terhadap negara-negara dunia ketiga, yang menurut catatan resmi tahun 1990 merupakan 3/4 umat manusia. Berdasarkan hipotesa dalam tahun 2002 ini seluruh penduduk dunia mencapai 6,9 miliar penduduk, maka 5,4 miliar akan menempati negara dunia ketiga. Kira-kira pada tahun 2012 penduduk dunia diperkirakan akan berjumlah 9,17 milyar, maka 7,73 milyar diantaranya berada pada dunia ketiga.

Ledakan demografi disertai dengan munculnya benih-benih baru krisis ekonomi, akan membawa pada suatu peradaban yang menjadikan kelaparan, kemelaratan, dan kemiskinan sosial sebagai ciri umum sebagian besar penghuni dunia.

Oleh karena itu dalam menjawab tantangan jaman yang semakin merontokan harapan itu, paling tidak harus dimulai dari revolusi mental dan revolusi berpikir dari kalangan cendekiawan setiap bangsa yang mengarah pada mewujudkan aspirasi pencerdasan kehidupan bangsa. Tujuan utama revolusi perlu senantiasa dilandaskan pada pembentukan potensi manusia seutuhnya, agar manusia dan bangsa itu mampu mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang lebih layak, terhormat dan lebih memanusia. Sehingga perlu didukung oleh komitmen politik, kebijakan ekonomi, penerimaan sosial, serta tumpuan ilmu dan teknologi.

Antara kata dan perbuatan

Ada suatu indikasi menarik dari seorang pakar komunikasi, Marshal McLuhan, dalam “The Medium is the Message”, yang mengungkapkan : Dunia kita saat ini adalah dunia baru yang meliputi segala hal. Waktu telah terhenti, ruang telah lenyap. Kita hidup sekarang di desa yang amat besar, kejadian yang simultan. Malangnya kita menghadapi situasi yang baru ini dengan tumpukan besar masalah dan berondongan mental. Kata-kata dan nalar kita yang paling mengesankan, seringkali menghianati kita. Semua ini mengingatkan kita pada masa silam dan bukan sekarang…”

McLuhan, sesungguhnya ingin menyentil kita untuk menyadari pentingnya kata dan perbuatan. Sebuah kata akan mampu menjamin, bahwa semua faktor lingkungan dan pengalaman akan berdampingan dalam suatu keadaan saling mempengaruhi secara aktif. Namun sayang, banyak kata-kata hasil olah pikir brilian kaum elit dan cendekiawan, harus terbuang percuma dan luput dari upaya perbuatan.

Telah sering kaum cendekiawan dan elit dunia berembuk mengupas soal manusia dan masalah dunia. Mulai dari diskusi, lokakarya, seminar, konferensi, studi banding hingga penelitian-penelitian. Namun seringkali pula hasilnya sebatas hitam diatas putih. Menjadi lembaran-lembaran mati yang tak punya arti. Beberapa KTT sering diselenggarakan, diantaranya di bawah pengawasan PBB. Misalnya terhadap masalah pencemaran udara dan lingkungan di berbagai negara. Mulai dari KTT di Caracas tahun 1973, di Jenewa tahun 1975, di Prancis tahun 1977, dan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Hasilnya? Masalah pencemaran udara dan lingkungan hidup malah kian mendongak ke permukaan, menjadi semacam momok yang kian menakutkan.

Pada tahun 1968 ada suatu “Kelompok 30” terdiri dari ilmuwan, ekonom, guru, industrialis, birokrat mengadakan pertemuan di Roma untuk memperbincangkan dan mencari solusi terhadap masalah-masalah dunia. Konsepnya begitu hebat dan brilian. Namun dalam pelaksanaannya begitu kering, tak bernyawa dan tak berdaya. Dalihnya macam-macam, mulai dari keterbatasan dana, ketatnya birokrasi, iklim politik tidak kondusif, dan alasan-alasan lainnya, yang pada gilirannya nihil untuk diterapkan di lapangan.

Contoh lain seperti pertemuan Meja Bundar tentang kerjasama kebudayaan dan intelektual serta Tata Ekonomi Dunia Baru yang diadakan UNESCO tahun 1976. Kemudian Konferensi Keuangan dan Moneter oleh PBB yang berkelanjutan dengan didirikannya Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington 27 Desember 1945. Hasilnya, kebodohan dan keterbelakangan tetap menghantui negara-negara dunia ketiga. Sementara lembaga internasional yang disebut terakhir, malah menjadi semacam penjajah ekonomi versi terbaru, lengkap dengan penekanan dan penindasannya.

Kurangnya keseimbangan antara visi, misi dan tujuan obyektif serta ketimpangan maksud dari yang telah ditentukan, menjadikan sebagian permasalahan yang terpecahkan dan terumuskan tidak mampu dilaksanakan secara konsisten dan lurus. Kegagalan-kegagalan dan penyimpangan itu terjadi, bukan berarti terlepas dari keinginan untuk melakukan perubahan revolusioner.

Namun justru celakanya, bahwa sistem-sistem dan terori-teori yang ditelurkan kaum cendekiawan yang teroganisasi itu, lebih banyak dimanfaatkan sebagai alat untuk melayani politik ekonomi. Serta guna merebut kekuasaan yang didasarkan pada akumulasi bahan primer, kekuasaan angkatan bersenjata, dan kekuasaan terhadap pemuasan ilmu pengetahuan. Pada gilirannya menjadi lupa pada tujuan utamanya sebagai alat pembebas manusia dari kebodohan, keterbelakangan dan kemelaratan.

Oleh karena itu yang dibutuhkan kini adalah revolusi dalam lapangan pemikiran yang mengarah pada upaya mengatasi problema-problema dasar manusia. Bagaimana agar manusia yang bernasib kurang baik dapat terangkat harkat, martabat dan kehormatannya menjadi manusia yang wajar. Terlepas dari himpitan kemiskinan dan terbebas dari keterbelakangan, terutama pada mereka yang hidup pada negara-negara dunia ketiga.

Jika pun jangkauan revolusi ini terlalu luas dan sulit dijangkau, maka cukup lah kita tengok lingkungan di sekitar kita, yang ternyata masih banyak yang membutuhkan uluran tangan dan jamahan pemikiran kita. Sebab kita tidak membutuhkan suatu revolusi berpikir yang penuh dengan cerita fiktif bagai sebuah dongeng. Tapi membutuhkan revolusi berpikir yang realistis dan membumi yang mampu memberikan pencerahan dan solusi terhadap setiap problema yang mendongak di depan mata kita. Dengan demikian, setidaknya, kaum cendekiawan sejati, kaum elit dan pemikir tingkat bangsa dan dunia, tidak frustasi dibuatnya. Nah, bagaimana ! (masnana60@gmail.com)

Bajingan di Balik Toga: "BEGAL BERDASI"

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut "semua partai banyak patriot, dan semua partai banyak bajingannya juga," bukan ...