Taubat sebagai Pembuka Pintu Utama Spiritual
Seorang salik muda bernama Zaid memberanikan diri mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku telah lama menempuh jalan ini. Aku telah berpuasa, berdzikir, dan bershalat malam. Namun hatiku terasa kering. Aku merasa berdiri di depan pintu yang terkunci. Apa yang harus aku lakukan?"
Mursyid tersenyum. Api kecil di sudut ruangan berkobar sejenak. Menerangi keriput wajahnya yang dipenuhi hikmah. "Duduklah, anakku," ujarnya dengan suara lembut namun berwibawa. "Malam ini, aku akan bercerita kepadamu tentang sesuatu yang engkau cari. Tentang pintu pertama—taubat."
Mursyid memulai. "Ada seorang lelaki yang memiliki kebun zaitun. Pohon-pohonnya dulu subur. Buahnya lebat. Dan minyaknya jernih. Tetapi bertahun-tahun ia lalai. Ia tidak memangkas dahan. Tidak menyiram akar. Dan membiarkan rumput liar tumbuh menjalar. Perlahan-lahan, daun-daun mulai menguning. Buah-buah mengecil. Dan akhirnya. Pohon-pohon itu kering. Tak lagi berbuah."
"Suatu hari, lelaki itu datang ke kebunnya dan menangis. Ia menyesali kelalaiannya. Ia ingin pohon-pohon itu hidup kembali. Tetapi akarnya telah membusuk. Apa yang harus ia lakukan?"
Seorang salik menjawab, "Ia harus mencabut rumput liar itu, Wahai Mursyid."
"Benar," ujar Mursyid. "Tetapi sebelum mencabut. Ia harus mengakui bahwa rumput itulah yang membunuh pohonnya. Ia harus menyesali mengapa ia membiarkannya begitu lama. Dan ia harus berjanji tidak akan membiarkannya lagi."
Mursyid memandang para salik satu per satu. "Itulah taubat. Kalian adalah kebun itu. Dosa-dosa adalah rumput liar. Dan Allah adalah Pemilik kebun yang menanti hamba-Nya untuk membersihkan akarnya."
Tiga Lapis Taubat
Mursyid melanjutkan, "Imam al-Ghazali. Semoga Allah merahmatinya. Mengajarkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan di lisan. Taubat adalah revolusi yang menyentuh tiga lapis dirimu."
"Lapisan pertama adalah ilmu. Engkau harus benar-benar tahu apa yang engkau lakukan. Bukan sekadar tahu bahwa itu dosa. Tetapi memahami mengapa Allah melarangnya. Dan apa akibatnya bagi jiwamu. Orang yang bertaubat tanpa ilmu ibarat orang buta yang mencoba membersihkan kaca."
"Lapisan kedua adalah hati. Yaitu keadaan hatimu. Ketika engkau menyadari dosamu. Hatimu harus bergetar. Bukan sekadar menyesal karena takut neraka. Tetapi malu kepada Allah. Zat yang telah memberimu begitu banyak nikmat. Namun engkau balas dengan kedurhakaan. Air mata bukan tanda kelemahan. Melainkan tanda bahwa hatimu masih hidup."
"Lapisan ketiga adalah amal. Seperti amal buruk. Engkau harus meninggalkan perbuatan itu. Seketika. Tanpa menunda. Dan engkau harus menggantinya dengan ketaatan. Seperti seorang pencuri yang tidak cukup hanya menyesal. Tetapi harus mengembalikan barang curiannya dan berhenti mencuri."
Syarat-Syarat Taubat
Salik lain, Fatimah, bertanya dengan suara pelan, "Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa taubat kami diterima?"
Mursyid menghela napas. "Ada tiga syarat yang diajarkan al-Ghazali. Dan engkau harus memenuhinya."
"Pertama, meninggalkan dosa itu seketika. Bukan besok. Bukan setelah Ramadhan. Bukan setelah engkau tua. Sekarang. Seperti orang yang melihat ular di kasurnya. Ia tidak menunggu. Ia segera bangkit."
"Kedua, menyesali yang telah lalu. Penyesalan ini bukan sekadar sedih. Tetapi penyesalan yang membakar. Yang membuatmu bertanya: 'Mengapa aku melakukan itu? Bagaimana aku bisa tega melanggar perintah Zat yang mencintaiku?'"
"Ketiga, berketetapan untuk tidak mengulangi. Ini yang paling sulit. Karena syaitan tidak pernah tidur. Tetapi ketahuilah. Jika engkau jatuh lagi. Bangkitlah lagi. Taubat tidak membatalkan taubat yang sebelumnya."
"Dan jika dosamu berkaitan dengan hak orang lain," tambah Mursyid, "maka engkau harus meminta maaf dan mengembalikan haknya. Tidak ada taubat yang sah jika engkau masih memakan hak tetanggamu. Atau masih menyakiti hati orang tuamu."
Dalil-Dalil dari Al-Qur'an
Mursyid membuka mushaf kecil di sisinya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang kalian."
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah: 222)
"Perhatikan, Allah tidak berkata 'mengampuni'. Ia berkata 'menyukai'. Ada perbedaan besar antara diampuni dan dicintai. Orang yang diampuni mungkin masih jauh. Tetapi orang yang dicintai. Ia berada di dekat Allah."
Mursyid membacakan lagi:
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang mukmin, supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31)
"Keberuntungan hakiki," ujar Mursyid. "Bukanlah harta, bukanlah jabatan. Keberuntungan hakiki adalah ketika engkau kembali kepada Allah dan Dia menerimamu."
Dan ia membaca ayat yang paling membuat hati para salik bergetar:
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'" (Az-Zumar: 53)
"Lihatlah," kata Mursyid dengan mata berkaca-kaca. "Allah tidak berkata 'hai orang-orang berdosa'. Ia berkata 'hai hamba-hamba-Ku'. Bahkan dalam keadaan melampaui batas. Engkau masih disebut hamba-Nya. Betapa lembutnya Allah kepada kita."
Dalil-Dalil dari Hadits
Mursyid lalu mengisahkan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
'Setiap anak Adam pasti berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.' (HR. Tirmidzi)
Engkau tidak perlu menjadi sempurna, anakku. Engkau hanya perlu menjadi orang yang bangkit setiap kali jatuh."
'Penyesalan adalah taubat.' (HR. Ahmad)
Al-Ghazali berkata: "Penyesalan itu sudah mencakup ilmu dan amal. Karena engkau tidak mungkin menyesal tanpa tahu. Dan tidak mungkin menyesal tanpa berubah."
'Sesungguhnya Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang sahara.' (HR. Muslim)
"Bayangkan," ujar Mursyid, "seorang musafir di tengah gurun, kehabisan air. Untanya membawa seluruh bekalnya hilang. Ia sudah putus asa. Sudah bersiap mati. Lalu tiba-tiba—ia melihat untanya berdiri di sana. Betapa gembiranya ia? Itulah gambaran kegembiraan Allah ketika engkau bertaubat."
'Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai ke tenggorokan.' (HR. Tirmidzi)
"Jangan menunda," pesan Mursyid. "Karena engkau tidak tahu kapan ruhmu akan sampai di tenggorokan."
Tingkatan-Tingkatan Taubat
Malam semakin larut. Api di sudut ruangan mulai meredup. Tetapi mata para salik justru semakin bercahaya.
Mursyid berkata, "Ketahuilah, taubat memiliki tingkatan. Taubat orang awam adalah berpaling dari dosa menuju ketaatan.
Taubat orang pilihan adalah berpaling dari kelalaian menuju kesadaran akan kehadiran Allah.
Dan taubat para kekasih Allah adalah berpaling dari segala sesuatu selain Allah. Sehingga sekecil apa pun lalai dari mengingat-Nya. Dianggap sebagai dosa yang perlu ditangisi."
Zaid, salik muda itu, bertanya lagi, "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai tingkatan tertinggi itu?"
Mursyid tersenyum. "Engkau bisa, jika engkau mau. Tetapi ingatlah, taubat bukan peristiwa sekali seumur hidup. Ia adalah perjalanan. Setiap hembusan nafas adalah kesempatan untuk kembali. Bahkan Nabi SAW, yang telah dijamin bebas dari dosa, beristighfar seratus kali sehari. Apakah engkau lebih suci dari beliau?"
Pintu yang Selalu Terbuka
Sang Mursyid bangkit. Membetulkan sarungnya. Dan memandang para salik dengan penuh kasih.
"Jadi anak-anakku," ujarnya, "taubat adalah gerbang pertama. Tanpa melewatinya, engkau tidak akan pernah sampai ke maqam sabar, zuhud, tawakal, apalagi mahabbah. Seperti orang yang ingin masuk istana. Engkau harus melewati pintu depan. Tidak ada jalan lain."
"Ingatlah pesan Al-Fudhail bin Iyadh: 'Istighfar tanpa meninggalkan dosa adalah taubatnya para pendusta.' Maka janganlah engkau mempermainkan taubat."
"Dan ketahuilah, pintu ini tidak pernah tertutup. Selama matahari belum terbit dari barat. Selama ruh belum sampai di tenggorokan. Selama itu pula Allah menanti. Maka bersegeralah. Sebelum 'besok' menjadi kata yang tidak pernah datang."
Mursyid menutup majelis dengan doa:
"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang Engkau cintai karena taubat kami. Dan janganlah Engkau biarkan kami mati dalam keadaan lalai. Aamiin."
Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan dengan ilmu baru di kepala. Tetapi dengan cahaya baru di hati. Sebab mereka telah memahami. Bahwa taubat bukanlah akhir dari perjalanan. Melainkan awal dari segalanya.
Wallahu a'lam bish-shawab
Zaid, salik muda itu, bertanya lagi, "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai tingkatan tertinggi itu?"
Mursyid tersenyum. "Engkau bisa, jika engkau mau. Tetapi ingatlah, taubat bukan peristiwa sekali seumur hidup. Ia adalah perjalanan. Setiap hembusan nafas adalah kesempatan untuk kembali. Bahkan Nabi SAW, yang telah dijamin bebas dari dosa, beristighfar seratus kali sehari. Apakah engkau lebih suci dari beliau?"
Pintu yang Selalu Terbuka
Sang Mursyid bangkit. Membetulkan sarungnya. Dan memandang para salik dengan penuh kasih.
"Jadi anak-anakku," ujarnya, "taubat adalah gerbang pertama. Tanpa melewatinya, engkau tidak akan pernah sampai ke maqam sabar, zuhud, tawakal, apalagi mahabbah. Seperti orang yang ingin masuk istana. Engkau harus melewati pintu depan. Tidak ada jalan lain."
"Ingatlah pesan Al-Fudhail bin Iyadh: 'Istighfar tanpa meninggalkan dosa adalah taubatnya para pendusta.' Maka janganlah engkau mempermainkan taubat."
"Dan ketahuilah, pintu ini tidak pernah tertutup. Selama matahari belum terbit dari barat. Selama ruh belum sampai di tenggorokan. Selama itu pula Allah menanti. Maka bersegeralah. Sebelum 'besok' menjadi kata yang tidak pernah datang."
Mursyid menutup majelis dengan doa:
"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang Engkau cintai karena taubat kami. Dan janganlah Engkau biarkan kami mati dalam keadaan lalai. Aamiin."
Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan dengan ilmu baru di kepala. Tetapi dengan cahaya baru di hati. Sebab mereka telah memahami. Bahwa taubat bukanlah akhir dari perjalanan. Melainkan awal dari segalanya.
Wallahu a'lam bish-shawab
(Ikuti dan nantikan Serial Tasawuf-10)



