Minggu, 18 Oktober 2026

Monolog Teaterikal; "Sajak Perang dari Parit Yaman"


(Panggung gelap. Sebuah kursi kayu tua. Di atasnya, sebuah Al-Qur'an kecil dan rantai yang putus. Seorang lelaki tua berdiri, jubahnya lusuh, wajahnya keras. Ia memegang rantai itu. Matanya menatap lurus—bukan kepada penonton, tapi kepada sesuatu yang jauh, mungkin langit, mungkin Riyadh, mungkin Sanaa.)


Aku bersaksi.
Tidak ada Tuhan selain Allah.
Dan aku bersaksi bahwa perang ini
bukan perang suci.

(Ia mengangkat rantai putus itu.)

Rantai ini, Tuan-tuan,
rantai ini dari leher anakku.
Anakku yang berumur tujuh tahun.
Ia tidak tahu apa itu Houthi.
Ia tidak tahu apa itu Saudi.
Ia hanya tahu bahwa roti itu enak
dan pelukan ibu itu hangat.
Tapi kau bilang ini perang agama.

(Ia tertawa. Tawa yang kering.)

Kau bilang ini perang agama?
Kau, yang mengirim mufti ke barisan depan
untuk bilang pada tentara:
"Matilah, ini jihad."
Kau, yang mengutip ayat-ayat suci
untuk membenarkan bom-bom yang kau jatuhkan
di atas pasar.

Pasar, Tuan!
Bukan markas militer.

Pasar.
Tempat orang jual sayur.
Tempat anak-anak beli permen.
Tempat nenek-nenek menawar ikan asin.

Tapi kau bilang: "Itu collateral damage."
Kau bilang: "Itu kesalahan teknis."
Kau bilang: "Kami akan investigasi."

Investigasi?
Kau investigasi sambil makan malam di hotel bintang lima?
Kau investigasi sambil mengirim foto selfie dengan senyum?
Kau investigasi sambil mengirim pesawat lagi
esok paginya?

(Ia melempar rantai itu. Berderak di lantai.)

Aku dulu percaya.
Aku dulu percaya bahwa Arab Saudi itu tanah suci.
Tanah tempat Nabi lahir.
Tanah tempat Ka'bah berdiri.
Tanah yang kau sebut "pelindung dua kota suci."

Tapi apa yang kau lindungi, Tuan?
Kau lindungi singgasanamu.
Kau lindungi minyakmu.
Kau lindungi harga sahammu.
Kau tidak melindungi siapa-siapa.

Dan kau, Houthi

(Ia menoleh ke sisi lain panggung.)

Kau juga tidak suci.
Kau bilang kau "Ansar Allah."
Pendukung Allah?
Pendukung Allah kok menembakkan rudal ke bandara?
Pendukung Allah kok mengebom kota?
Pendukung Allah kok mengirim anak-anak ke medan perang
dengan slogan di dada
dan otak yang dicuci?

Kau bilang kau melawan penindasan?
Kau juga penindas.
Kau juga pembunuh.
Kau juga penjajah—
hanya dengan bendera yang berbeda.

(Ia menatap penonton. Suaranya turun.)

Aku dari Yaman.
Yaman, Tuan.
Negeri yang kau sebut "terbelakang."
Negeri yang kau sebut "sarang teroris."
Negeri yang kau sebut "tidak stabil."

Tapi tahukah kau, Tuan,
bahwa Yaman itu negeri paling tua di dunia?
Bahwa Sanaa itu kota yang sudah ada
sebelum Roma dibangun?
Bahwa leluhurku sudah menulis puisi
sebelum kau bisa menulis namamu?

Dan sekarang?
Sekarang Yaman jadi kuburan.
Sekarang Yaman jadi pasar daging.
Sekarang Yaman jadi tempat di mana
anak-anak belajar menghitung
bukan dengan angka,
tapi dengan mayat.

(Ia melangkah maju.)

Kau bilang blokade itu perlu.
Blokade pelabuhan.
Blokade udara.
Blokade darat.

Blokade apa, Tuan?
Blokade supaya rakyatku mati kelaparan?
Blokade supaya obat-obatan tidak masuk?
Blokade supaya anak-anakku mati
bukan karena bom,
tapi karena diare?

Kau bilang: "Itu konsekuensi perang."
Konsekuensi?
Aku sebut itu pembunuhan massal.
Aku sebut itu genosida yang kau bungkus
dengan kata "keamanan nasional."

(Ia menunjuk ke langit.)

Dan kau,
kau yang di atas sana,
yang kau sebut Tuhan—
Tuhan yang mana yang kau sembah?

Tuhan yang mengizinkan kau membom pasar?
Tuhan yang mengizinkan kau memblokade obat?
Tuhan yang mengizinkan kau mengirim anak-anak
ke medan perang dengan janji surga?

Tuhanku bukan Tuhan seperti itu.
Tuhanku adalah Tuhan yang menangis
ketika satu anak kelaparan.
Tuhanku adalah Tuhan yang marah
ketika satu tetes darah tertumpah tanpa dosa.
Tuhanku adalah Tuhan yang tidak butuh
kau bela dengan bom.

(Ia diam. Napas. Lalu ia bicara lebih pelan.)

Aku tidak membenci orang Saudi.
Aku tidak membenci orang Houthi.
Aku benci perangnya.
Aku benci yang mengirim perang.
Aku benci yang untung dari perang.

Kau tahu siapa yang untung?
Bukan rakyatmu, Tuan.
Bukan rakyatku.
Yang untung adalah pedagang senjata.
Yang untung adalah kontraktor minyak.
Yang untung adalah politisi yang duduk di kursi empuk
sambil menghitung kursi berikutnya.

Dan kami—
rakyat Yaman,
rakyat Arab Saudi,
rakyat Palestina,
rakyat Suriah,
rakyat di mana pun—
kami hanya jadi angka.

Angka di laporan PBB.
Angka di berita.
Angka di statistik korban.

(Ia mengepalkan tangannya.)

Tapi aku bukan angka.
Aku adalah ayah yang kehilangan anak.
Aku adalah suami yang kehilangan istri.
Aku adalah anak yang kehilangan ibu.
Aku adalah manusia.

Dan sebagai manusia,
aku bersaksi:

Perang ini bukan perang suci.
Perang ini bukan perang agama.
Perang ini adalah perang
antara keserakahan dan keserakahan,
antara kekuasaan dan kekuasaan,
antara dua singgasana yang sama-sama busuk.

(Ia menatap penonton. Suaranya naik.)

Tapi dengarkan aku, Tuan-tuan.
Kau boleh membom kami.
Kau boleh memblokade kami.
Kau boleh membunuh kami.
Kau boleh menulis di surat kabar
bahwa kami ini teroris.

Tapi satu hal yang tidak bisa kau lakukan:
Kau tidak bisa menghapus nama kami.

Setiap anak yang mati di Yaman,
namanya tertulis di langit.
Setiap ibu yang menangis,
suaranya tercatat di bumi.
Setiap tetes darah yang tertumpah,
menjadi saksi di hadapan Yang Maha Adil.

Dan di hadapan-Nya,
Tuan-tuan,
tidak ada mufti yang bisa menyelamatkanmu.
Tidak ada rudal yang bisa melindungimu.
Tidak ada blokade yang bisa menyembunyikanmu.

Yang ada hanya amal.
Yang ada hanya hati.
Yang ada hanya pertanggungjawaban.

(Ia mundur. Diam. Lalu angkat kepalanya.)

Aku dari Yaman.
Aku dari parit.
Aku dari abu.
Dan aku tidak akan diam.

(Lampu mati.)

== TAMAT ==

Serial Tasawuf-25: "Takhalliy-3, Munafik, Dusta, Bakhil dan Zalim



Spotlight: Malam keenam, salik datang dengan wajah yang pucat. Ia telah merenungkan semua pelajaran sebelumnya, Ia mulai menyadari bahwa dirinya masih jauh dari kesucian. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyambutnya dengan senyum yang hangat. Tetapi mata beliau tetap tajam. Menembus lapisan-lapisan yang tersembunyi.

Pelajaran Keenam, Kemunafikan

"Hari ini kita akan membicarakan tentang nifāq, Kemunafikan," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik, bahwa munafik itu adalah engkau menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di dalam hatimu. Engkau berkata dengan lisanmu apa yang tidak engkau yakini di dalam hatimu. Engkau menampakkan kebaikan. Tetapi menyembunyikan kejahatan."

"Bukankah setiap orang memiliki rahasia, Guru?"

"Benar, anakku. Setiap orang memiliki rahasia. Tetapi rahasia yang dimaksud di sini bukanlah rahasia yang wajar. Melainkan rahasia yang berlawanan dengan apa yang engkau tampakkan. 

"Bila engkau menampakkan keimanan. Tetapi hatimu penuh keraguan. Itu munafik. Bila engkau menampakkan ketaatan. Tetapi hatimu penuh kemaksiatan. Itu munafik. Bila engkau menampakkan kecintaan. Tetapi hatimu penuh kebencian. Itu munafik."

Salik terdiam. Ia teringat pada banyak kesempatan di mana ia berkata sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya.

"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa kemunafikan itu lebih berbahaya dari kekafiran. Sebab orang kafir itu jelas kekafirannya. Sehingga orang bisa berhati-hati. Adapun orang munafik itu menyembunyikan kekafirannya di balik topeng keimanan. Sehingga orang bisa tertipu. Itulah sebabnya Allah menyebut orang munafik sebagai penghuni neraka yang paling bawah."

Salik menggigil. Ia merasa bahwa selama ini ia telah memakai banyak topeng.

"Bagaimana tanda-tanda kemunafikan, Guru?"

"Pertama, engkau berkata tentang sesuatu yang tidak engkau lakukan. Engkau menasihati orang lain. Tetapi engkau sendiri tidak melakukannya. 

Kedua, engkau berjanji tetapi engkau mengingkari. 

Ketiga, engkau dipercaya tetapi engkau berkhianat. 

Keempat, engkau bertengkar dengan cara yang tidak jujur. 

Kelima, engkau memuji seseorang di hadapannya. Tetapi engkau mencacinya di belakangnya."

Salik menunduk. Ia merasa bahwa semua tanda itu ada pada dirinya.

"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, jadikanlah lisanmu sesuai dengan hatimu. Bila engkau tidak bisa berkata jujur. Lebih baik engkau diam. 

Kedua, jangan engkau menampakkan sesuatu yang tidak ada di dalam hatimu. Bila engkau merasa malas beribadah,. Jngan engkau menampakkan kerajinan di hadapan orang lain. 

Ketiga, biasakanlah untuk berkata benar. Meskipun itu pahit. 

Keempat, ingatlah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu. Bahkan sebelum engkau mengucapkannya. Bila engkau sadar bahwa Allah mengetahui rahasiamu. Engkau tak akan berani munafik."

"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah kita harus menjaga perasaan orang lain? Bukankah kita harus berbicara dengan lembut?"

"Menjaga perasaan orang lain berbeda dari munafik. Engkau boleh berbicara dengan lembut. Tetapi jangan engkau berbohong. Engkau boleh menyembunyikan keburukan orang lain. 

Tetapi jangan engkau menampakkan sesuatu yang tidak ada. Engkau boleh bersikap ramah. Tetapi jangan engkau berpura-pura mencintai. Kelembutan itu adalah akhlak. Adapun kemunafikan itu adalah penyakit."

Mursyid mengambil cermin dan menyerahkannya pada salik. "Lihatlah wajahmu di cermin ini," katanya. "Bila engkau melihat wajah yang berbeda dari wajahmu yang sebenarnya. Maka engkau telah munafik. 

Cermin itu adalah hatimu. Bila hatimu bersih. Maka wajahmu akan tampak sebagaimana adanya. Bila hatimu kotor. Maka wajahmu akan tampak berbeda."

Salik menatap cermin itu. Ia melihat wajahnya yang pucat. Dan ia menyadari bahwa selama ini ia telah menyembunyikan banyak hal.

"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa kemunafikan itu menghapus semua amal. Sebab Allah tidak menerima amal dari orang yang munafik. Maka bersihkanlah hatimu. Agar engkau menjadi orang yang jujur. Baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari kemunafikan. Agar aku bisa menjadi hamba yang jujur."

Pelajaran Ketujuh, Dusta

Malam ketujuh, salik datang dengan hati yang lebih jernih. Ia telah berusaha untuk jujur pada dirinya sendiri. dan ia mulai merasakan buah dari kejujuran itu. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyambutnya dengan senyum yang lebih lebar.

"Hari ini kita akan membicarakan tentang kidzb, dusta," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik. Bahwa dusta itu adalah induk dari segala dosa. Ia adalah pintu yang membuka jalan menuju kemunafikan. Kemunafikan membuka jalan menuju kekafiran."

"Bukankah ada dusta yang dibolehkan, Guru? Seperti dusta untuk mendamaikan dua orang yang bertengkar?"

"Benar, anakku. Ada dusta yang dibolehkan dalam keadaan darurat. Seperti untuk mendamaikan dua orang yang berselisih. Atau untuk menyelamatkan nyawa. 

Tetapi ketahuilah, bahwa dusta yang dibolehkan itu tetap harus dihindari sebisa mungkin. Sebab dusta itu ibarat racun yang diminum dalam keadaan darurat. Ia boleh diminum bila tidak ada jalan lain. Tetapi ia tetap racun."

Salik merenung. Ia teringat pada banyak dusta yang telah ia ucapkan. Bahkan dalam hal-hal kecil.

"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa dusta itu merusak hubungan antara engkau dengan Allah. Dan antara engkau dengan manusia. 

Bila engkau berdusta. Engkau telah menipu Allah. Sebab engkau mengira bahwa Allah tidak mengetahui. 

Bila engkau berdusta. Engkau telah menipu manusia. Sebab engkau menampakkan sesuatu yang tidak benar. 

Dan bila engkau berdusta, engkau telah menipu dirimu sendiri. Sebab engkau mengira bahwa dusta itu akan menyelamatkanmu."

"Bagaimana tanda-tanda bahwa aku masih suka berdusta, Guru?"

"Pertama, engkau sering membesar-besarkan cerita. 

Kedua, engkau sering menyangkal kesalahanmu. 

Ketiga, engkau sering berjanji tetapi tidak menepati. 

Keempat, engkau sering berbicara tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui.

Kelima, engkau sering memuji secara berlebihan. 

Keenam, engkau sering mencela secara berlebihan."

Salik menunduk. Ia merasa bahwa semua tanda itu ada pada dirinya.

"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk berkata benar. Meskipun itu pahit.

Kedua, jangan engkau berbicara tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui. 

Ketiga, jangan engkau berjanji kecuali engkau mampu menepatinya. 

Keempat, jangan engkau memuji secara berlebihan. Sebab pujian yang berlebihan itu adalah dusta. 

Kelima, jangan engkau mencela secara berlebihan. Sebab celaan yang berlebihan itu juga dusta. 

Keenam, biasakanlah untuk diam. Sebab diam itu adalah hikmah. Dan hikmah itu adalah cahaya."

"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah kita harus berbicara untuk menyampaikan kebenaran?"

"Benar, anakku. Engkau harus berbicara untuk menyampaikan kebenaran. Tetapi ketahuilah, bahwa kebenaran itu tidak perlu ditambah-tambahi. Kebenaran itu cukup disampaikan sebagaimana adanya. 

Bila engkau menambah-nambahi, engkau telah berdusta. Bila engkau mengurangi. Engkau telah berdusta. Maka sampaikanlah kebenaran itu dengan jujur. Tanpa tambahan dan tanpa pengurangan."

Mursyid mengambil sebatang kayu dan menggambarnya di pasir. "Lihatlah gambar ini," katanya. "Ini adalah garis lurus. Bila engkau menambah lengkungan. Maka garis itu tidak lagi lurus. Begitu pula kebenaran. Ia adalah garis lurus. Bila engkau menambah atau mengurangi. Maka ia tidak lagi menjadi kebenaran."

Salik menatap gambar itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah banyak menambah dan mengurangi.

"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa dusta itu menghapus cahaya iman dari hatimu. Sebab iman itu adalah cahaya. Dan dusta itu adalah kegelapan. Bila engkau berdusta. Maka cahaya imanmu akan tertutup oleh kegelapan dusta. Maka bersihkanlah hatimu dari dusta, Agar cahaya imanmu bersinar terang."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari dusta. Agar aku bisa menjadi hamba yang jujur."

Pelajaran Kedelapan, Bakhil dan Zalim

Malam kedelapan, salik datang dengan hati yang penuh harapan. Ia telah melewati tujuh pelajaran. Dan ia merasa bahwa dirinya telah berubah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyambutnya dengan senyum yang paling hangat.

"Hari ini adalah pelajaran terakhir dalam takhalliy," kata Mursyid. "Kita akan membicarakan tentang bukhl — kikir — dan zhulm — zalim. Kedua sifat ini saling berkaitan, sebab orang yang kikir itu biasanya juga zalim. Dan orang yang zalim itu biasanya juga kikir."

"Apakah yang dimaksud dengan kikir, Guru?"

"Kikir adalah engkau menahan apa yang Allah titipkan padamu. Dan engkau tidak mau memberikannya kepada yang berhak. Engkau menahan harta. Menahan ilmu. Menahan tenaga. Menahan waktu. Engkau merasa bahwa apa yang engkau miliki adalah milikmu sepenuhnya. Padahal itu semua adalah titipan Allah."

"Dan apakah yang dimaksud dengan zalim?"

"Zalim adalah engkau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Engkau mengambil hak orang lain. Engkau menyakiti orang lain. Engkau merusak apa yang telah Allah ciptakan. Zalim itu bisa terhadap Allah. Terhadap manusia. Terhadap diri sendiri. Dan terhadap alam."

Salik merenung. Ia teringat pada banyak kesempatan di mana ia menahan hartanya. Dan pada banyak kesempatan di mana ia menyakiti orang lain.

"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa kikir itu adalah penyakit yang menghancurkan jiwa. Orang yang kikir itu tidak akan pernah merasa cukup. Ia akan selalu merasa kurang. Meskipun ia memiliki seluruh dunia. 

Adapun zalim itu adalah penyakit yang menghancurkan masyarakat. Orang yang zalim itu tidak akan pernah merasa aman. Ia akan selalu merasa terancam. Meskipun ia memiliki kekuasaan yang besar."

"Bagaimana tanda-tanda bahwa aku masih kikir dan zalim, Guru?"

"Tanda-tanda kikir: Engkau merasa berat untuk bersedekah. Engkau merasa berat untuk berbagi ilmu. Engkau merasa berat untuk membantu orang lain. Engkau merasa bahwa apa yang engkau miliki adalah milikmu sepenuhnya. 

Tanda-tanda zalim: Engkau mengambil hak orang lain. Engkau menyakiti orang lain. Engkau merusak alam. Engkau tidak adil dalam memutuskan perkara."

Salik menunduk. Ia merasa bahwa sebagian besar tanda itu ada pada dirinya.

"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk bersedekah, meskipun hanya sedikit. Sebab sedekah itu adalah obat bagi kikir. 

Kedua, biasakanlah untuk berbagi ilmu, meskipun hanya satu ayat. Sebab ilmu itu bertambah bila dibagikan. 

Ketiga, biasakanlah untuk membantu orang lain, meskipun hanya dengan tenaga. Sebab bantuan itu adalah investasi untuk akhiratmu. 

Keempat, biasakanlah untuk bersikap adil, meskipun itu sulit. Sebab keadilan itu adalah cahaya Allah di atas bumi."

"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah aku perlu menyimpan hartaku untuk masa depan?"

"Benar, anakku. Engkau boleh menyimpan harta untuk masa depanmu. Tetapi jangan engkau menyimpan semuanya. Sisihkanlah sebagian untuk yang membutuhkan. Sebab harta yang engkau simpan tanpa engkau bagikan itu akan menjadi saksi atas kekikiranmu di hari kiamat."

Mursyid mengambil sekeping uang dan meletakkannya di telapak tangan salik. "Uang ini," katanya, "adalah amanah. Bila engkau menggunakannya untuk kebaikan. Ia akan menjadi saksi yang baik. Bila engkau menggunakannya untuk kejahatan. Ia akan menjadi saksi yang buruk. Bila engkau menahannya. Ia akan menjadi saksi atas kekikiranmu."

Salik menatap uang itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah banyak menahan harta.

"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa engkau telah menyelesaikan delapan pelajaran dari takhalliy. Sekarang engkau telah bersih dari syirik lahir, syirik batin, cinta dunia, sombong, ujub, munafik, dusta, kikir, dan zalim. 

Tetapi ketahuilah, bahwa takhalliy ini bukanlah tujuan. Melainkan hanya pintu. Setelah ini, engkau akan memasuki tahalliy. Menghiasi diri dengan sifat-sifat Allah. Dan setelah itu, engkau akan memasuki tajalliy. Di mana Allah menampakkan diri-Nya padamu. Maka bersiaplah, sebab perjalananmu masih panjang."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu bersujud di mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, aku telah berusaha membersihkan diriku. Kini aku memohon agar Engkau menyucikan daku dengan rahmat-Mu. Dan menghiasi daku dengan sifat-sifat-Mu. Dan menampakkan diri-Mu padaku. Sebagaimana Engkau menampakkan diri pada kekasih-kekasih-Mu."

Dan malam itu, ribat itu dipenuhi dengan cahaya yang tidak berasal dari lampu minyak. Salik merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu, bahwa perjalanannya masih panjang, tetapi ia juga tahu. Bahwa ia telah melewati pintu pertama dari perjalanan menuju Allah.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial Berikutnya, Tahalliy.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Perang Houthi Arab Saudi: "Ketika Dua Narasi Suci Berbenturan"


Leaderline: Perang antara gerakan Houthi (Ansar Allah) dan Arab Saudi bukan sekadar perang geopolitik atau perang proksi. Di balik rudal, drone, dan blokade laut. Terdapat lapisan spiritual yang dalam dan kontradiktif. Dua pihak sama-sama mengklaim membela Tuhan. Sama-sama merasa dizalimi. Dan sama-sama mengangkat senjata atas nama iman. Narasi spiritual ini bukan hiasan retoris. Melainkan inti dari bagaimana kedua pihak memahami diri mereka dan membenarkan perang.

Akar Zaidiyah: Spiritualitas yang Terpinggirkan

Gerakan Houthi lahir dari rahim Zaidiyah. Cabang Syiah yang khas Yaman dan berbeda secara doktrinal dari Syiah Dua Belas Imam yang dianut Iran. 

Zaidiyah mengambil nama dari Zayd bin Ali, cicit Ali bin Abi Thalib. Yang mati syahid dalam pemberontakan melawan Dinasti Umayyah pada tahun 740. Zayd bukan sekadar simbol teologis. 

Ia adalah prototipe pemimpin yang berani melawan kezaliman. Kaum Zaidiyah memandang Zayd sebagai teladan khalifah yang sejati, yang seharusnya memerintah menggantikan Umayyah yang korup.

Selama seribu tahun, Zaidiyah memerintah Yaman Utara melalui sistem imamah. Sebuah kekuasaan yang menggabungkan otoritas spiritual dan sekuler. 

Namun, revolusi republik tahun 1962 menggulingkan monarki Zaidiyah. Dan sejak itu komunitas Zaidiyah mengalami marginalisasi sistematis. 

Identitas mereka sebagai komunitas religius-politik ditekan oleh negara republik yang didominasi elite Sunni dan Salafi. Inilah luka historis yang menjadi bahan bakar gerakan Houthi.

Kebangkitan Hussein al-Houthi: Dari Forum Iman Menuju Perlawanan Suci

Pada 1990-an, di bawah kepemimpinan Hussein al-Houthi. Sebuah forum pemuda bernama al-Shabab al-Mu'min (Pemuda Beriman) bertransformasi dari gerakan pendidikan Zaidiyah menjadi platform politik dan militer. 

Hussein, yang pernah belajar di Qom, Iran. Memadukan doktrin Zaidiyah dengan visi revolusioner Iran. Ia tidak sekadar menuntut hak-hak komunitas Zaidiyah. Ia membangun kerangka spiritual yang menempatkan perlawanan sebagai kewajiban ilahi.

Puncak dari artikulasi spiritual ini adalah slogan "Sarkha" (Jeritan): Allahu Akbar, Mati untuk Amerika, Mati untuk Israel. Laknat bagi Yahudi. Kemenangan bagi Islam. 

Slogan ini pertama kali membawa para pejuang Houthi ke medan perang pada 2004. Dan sejak itu menjadi alat mobilisasi yang mengakar dalam budaya Yaman Utara. 

Dalam pidato-pidato Abdul-Malik al-Houthi, pemimpin saat ini, konflik ini dibingkai sebagai "perang suci" yang tidak hanya melawan Arab Saudi. Tetapi melawan "kesombongan global" yang mengancam identitas iman umat Islam. 

Ia memperingatkan tentang "perang baru yang parah" yang menyasar iman dan identitas Yaman. Menyerukan umat untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Al-Quran.

Yang membuat narasi spiritual Houthi begitu kuat adalah klaim wilayah. Otoritas spiritual yang mereka anggap sebagai hak ilahi. Abdul-Malik al-Houthi dipandang sebagai keturunan Nabi Muhammad. 

Dengan garis keturunan yang, menurut doktrin Houthi, memberinya hak untuk memimpin umat secara politik dan religius. Ini bukan sekadar kepemimpinan politik. Ini adalah imamah yang direvitalisasi. Sebuah klaim legitimasi sakral yang melampaui batas-batas negara-bangsa modern.

Fatwa Arab Saudi: Perang Suci dari Sisi Seberang

Arab Saudi tidak tinggal diam dalam perang narasi spiritual ini. Pada September 2026, Grand Mufti Arab Saudi, Sheikh Saleh bin Fawzan al-Fawzan, mengeluarkan fatwa. Menyerukan kepada tentara Saudi untuk "siap mengorbankan hidup" dalam melawan Houthi. 

Fatwa itu, yang dikutip oleh media negara. Membingkai kampanye militer sebagai kewajiban religius dan memuji mereka yang berjaga di perbatasan. Sebagai orang yang berjuang di jalan Tuhan.

Mufti tersebut mengecam Houthi sebagai kelompok yang mendirikan perjuangan mereka di atas "kerusakan keyakinan dan kerusakan metodologi". 

Ini bukan sekadar pernyataan politik. Ini adalah perang teologis. Arab Saudi, sebagai penjaga dua kota suci Islam. Memobilisasi otoritas religiusnya untuk membenarkan perang sebagai pembelaan terhadap "korupsi iman" yang dibawa oleh Houthi.

Dua Narasi, Satu Tragedi

Di sini terletak tragedi spiritual yang paling dalam. Dua pihak yang sama-sama mengucapkan syahadat. Sama-sama menghadap kiblat yang sama. Sama-sama mengklaim membela Islam. Saling membunuh atas nama Tuhan. 

Seorang analis Lebanon menyebut perang ini sebagai "luka paling menyakitkan dalam tubuh umat Islam". Perang antara "saudara seiman dan satu kiblat" yang ikatan agama, geografi, dan sejarahnya terjalin erat.

Houthi memandang Saudi sebagai intervensionis yang melanggar Piagam PBB sejak 2015,. Memblokade Yaman. Menghancurkan infrastruktur sipil. 

Bagi mereka, perlawanan adalah pembelaan diri yang sah. Sebuah perang defensif yang diwajibkan secara moral dan religius. Saudi memandang Houthi sebagai proksi Iran yang mengancam keamanan perbatasan. Stabilitas regional. Dan tatanan Sunni yang mereka pimpin. 

Bagi Riyadh, ini adalah perang eksistensial melawan proyek Syiah revolusioner yang didukung Tehran.

Kritik spiritual yang paling tajam adalah ini. Kedua belah pihak telah mengubah teologi menjadi ideologi perang. 

Zaidiyah, yang lahir dari perlawanan terhadap kezaliman. Direduksi menjadi mesin mobilisasi militer. 

Islam Saudi, yang seharusnya menjadi penjaga harmoni umat. Dijadikan instrumen legitimasi perang. 

Al-Quran yang sama dibaca untuk memberkati rudal yang menghantam bandara. Membunuh warga sipil. Dan menghancurkan masa depan generasi Yaman.

Yang paling menderita bukanlah para pemimpin yang mengklaim mandat ilahi. Melainkan rakyat Yaman. Komunitas Zaidiyah yang selama berabad-abad telah menjadi bagian dari sejarah Islam. Kini terjebak dalam perang yang menghancurkan rumah, masjid, sekolah, dan harapan mereka. 

Perang ini bukan perang suci. Ini adalah perang yang menodai kesucian itu sendiri.

Hak yang Terputus: "Pensiunan Telkom dan Kezaliman Sistemik"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-62)

Leaderline: Pandapotan Nasution. Pensiunan PT Telkom. Menangis di ruang sidang Mahkamah Konstitusi pada September 2026. Tangisnya bukan sekadar ekspresi keputusasaan personal. Ia adalah metafora hidup dari sebuah kezaliman sistemik. Ada hak yang terputus. Pensiunan Telkom merana. Ada kegagalan dalam kontrak sosial?


Syahdan, seorang manusia yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk sebuah perusahaan negara. Namun di ujung usianya justru harus berjuang sendirian. Tanpa pengacara. Tanpa dukungan institusional. Hanya untuk mendapatkan hak yang seharusnya sudah menjadi miliknya sejak hari pertama ia pensiun.

Pandapotan mengungkapkan sebuah kebenaran yang menghunjam. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun yang telah memutus hubungan antara pensiunan BUMN dengan perusahaan tempat mereka mengabdi. Undang-undang inilah yang tengah diperjuangkan Pandapotan. Untuk dipulihkan. Diluruskan. Agar mengibas pada rasa keadilan.

Berbeda dengan pensiunan PNS yang tetap terhubung dengan APBN. Sehingga ketika gaji pokok PNS secara aktif naik. Pensiunan pun merasakan kenaikannya.

Sementara pensiunan BUMN, layaknya Telkom. Mereka dilemparkan ke dalam sebuah badan otonom bernama Dana Pensiun. Seolah-olah seluruh tanggung jawab negara terhadap mereka telah selesai. Seakan setelah diperas tenaganya selama aktif berkarya. Lalu dienyahkan tanpa rasa peduli.

Ketika gaji pokok pensiunan PNS pada naik. Pensiunan Telkom harus meresponnya dengan gigit jari. Memelas berkepanjangan. Seraya merenungi nasibnya. Dan tak faham. mengapa hal ini harus terjadi.

Dalam pikirnya. Ini bukan sekadar persoalan administratif. Ini adalah pengkhianatan terhadap kontrak sosial yang paling dasar. Serasa habis manis. Sepah dibuang.

Dalam filsafat politik. Kontrak sosial. Sebagaimana dirumuskan Rousseau dan Locke. Bahwa individu menyerahkan sebagian kebebasannya kepada negara dengan imbalan perlindungan hak-hak fundamentalnya.

Bagi pekerja, kontrak ini bersifat inter-generasional. Hari ini aku bekerja. Esok aku berhak atas jaminan hari tua. Yang pantas dan dipantaskan.

Ketika negara memindahkan tanggung jawab pensiun ke badan otonom. Yang notabene tidak lagi memiliki kewajiban moral terhadap pekerja. Maka yang terjadi bukanlah efisiensi. Melainkan abrogasi tanggung jawab. Penghapusan aturan lama diganti dengan aturan baru.

Negara telah menerima pengabdian puluhan tahun. Tetapi menolak membayar utangnya. Apalagi kalau bukan kezaliman?

Lebih ironis lagi. Ketentuan dalam UU P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan) yang membatasi pencairan manfaat pensiun sekaligus hanya untuk nilai di bawah Rp500 juta menciptakan diskriminasi yang terang-terangan.

SEKAR Telkom, memang pernah melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Dengan tepat menyebut aturan ini "diskriminatif". Karena menutup potensi peserta untuk memilih skema pencairan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pekerja yang telah menyetor iuran lebih besar. Yang justru berarti mereka lebih disiplin dan lebih bertanggung jawab. Mendapat perlakuan lebih buruk daripada mereka yang iurannya kecil.

Ini adalah logika terbalik yang hanya bisa dijelaskan sebagai bentuk pengabaian sistematis terhadap hak pekerja.

Putusan MK Nomor 61/PUU-XXIII/2025 yang menolak permohonan SEKAR Telkom sepenuhnya memperlihatkan betapa hukum formal dapat menjadi instrumen ketidakadilan.

Mahkamah berargumen bahwa pembayaran berkala adalah demi kemanfaatan jangka panjang peserta.

Namun, argumen ini mengabaikan realitas konkret. Pensiunan yang sakit. Yang membutuhkan dana mendesak. Yang ingin mempersiapkan masa depan keluarganya. Abstraksi hukum telah mengalahkan kebutuhan manusia yang nyata.

Dalam bahasa Giorgio Agamben, pensiunan Telkom telah direduksi menjadi bare life. Kehidupan biologis yang diatur oleh kekuasaan tanpa hak untuk menuntut. Pensiunan Telkom dipandang sebagai kelompok marjinal yang sudah tidak diakui lagi secara penuh oleh negara.

Yang paling memilukan adalah posisi P2Tel. Organisasi yang seharusnya membela pensiunan.

Dalam sebuah putusan pengadilan yang mengejutkan. P2Tel Pusat justru bertindak sebagai lawan (tegen stander) terhadap para pensiunan yang seharusnya dilindunginya.

Ini adalah pengkhianatan ganda. Pertama oleh negara yang memutus hubungan. Kedua oleh organisasi yang seharusnya menjadi rumah bagi mereka.

Solidaritas telah digantikan oleh kepentingan. Dan perjuangan bersama telah dikhianati oleh mereka yang seharusnya memimpinnya.

Di sinilah perjuangan SEKAR Telkom menemukan urgensinya yang paling radikal. Serikat pekerja tidak bisa lagi berhenti pada isu-isu upah dan kondisi kerja bagi pekerja aktif.

Ia harus memperluas mandatnya untuk mencakup pembelaan terhadap mereka yang telah pensiun. Mereka yang telah menyelesaikan tugasnya. Tetapi justru ditinggalkan di saat paling rentan.

Perjuangan untuk keadilan pensiun bukan sekadar advokasi hukum. Ia adalah pernyataan filosofis bahwa manusia tidak berhenti menjadi manusia ketika ia berhenti bekerja.

Rakernas SEKAR Telkom saat ini harus menjadi momen untuk mendeklarasikan perang melawan amnesia institusional ini. Perang melawan ketidakadilan. Perang untuk berjuang memperbaiki nasib para pensiunan yang tertindas.

Tuntutannya harus jelas. Revisi UU Dana Pensiun. Pemulihan hubungan pensiunan dengan perusahaan. Dan jaminan kesejahteraan yang tidak didasarkan pada belas kasihan melainkan pada hak yang tidak bisa dicabut.

Jika serikat pekerja tidak berani mengambil posisi yang tidak nyaman. Berhadapan dengan direksi. Dengan pemerintah. Bahkan dengan organisasi pensiunan yang telah terkooptasi. Maka ia telah mengkhianati mereka yang telah berjuang sebelum ia ada.

Pandapotan menangis bukan karena ia lemah. Tetapi karena sistem yang seharusnya melindunginya justru mengabaikannya. Tangis itu adalah dakwaan. Tangisan itu adalah perjuangan. Tangisan itu adalah lambang penindasan kepada para pensiunan Telkom.

Pertanyaannya bukan lagi apakah SEKAR Telkom akan tetap berjuang membela pensiunan. Melainkan apakah ia masih memiliki keberanian untuk melakukannya? Jika tak ada lagi keberanian. Maka percuma. Dan jangan pernah lagi berteriak Sekkkaaarrrr....!!!

(Ki Gempur, Mantan Jurnalis Sekar dan Ketua DPD Sekar Corporate Periode Tahun 2007-2010)

Monolog Teaterikal; "Sajak Perang dari Parit Yaman"

(Panggung gelap. Sebuah kursi kayu tua. Di atasnya, sebuah Al-Qur'an kecil dan rantai yang putus. Seorang lelaki tua berdiri, jubahnya l...