Sabtu, 28 Maret 2026

NanaSuryana.Com: Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa

NanaSuryana.Com: Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa: Mengangkat tangan saat berdoa adalah sunnah, adab, dan salah satu sebab dikabulkannya doa dalam Islam. Hal ini berdasarkan banyak hadits sh...

Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa


Mengangkat tangan saat berdoa adalah sunnah, adab, dan salah satu sebab dikabulkannya doa dalam Islam. Hal ini berdasarkan banyak hadits shahih. Rasulullah ﷺ mencontohkan mengangkat tangan setinggi bahu dengan telapak tangan menghadap ke langit. Bahkan hingga terlihat ketiaknya saat berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemduian disunnahkan mengusap wajah setelahnya.

Hadits-hadits Utama Mengangkat Tangan Saat Berdoa:

Adab Berdoa: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi ﷺ bersabda, "Apabila engkau memohon kepada Allah, maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu, dan jangan dengan bagian luarnya. Dan ketika kamu telah usai, maka usaplah mukamu dengan keduanya." (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud).

Allah Malu Hambanya Tidak Mendapatkan Hasil: "Sesungguhnya Allah itu Maha Hidup lagi Mulia, Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat tangan menghadap kepada-Nya lantas kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa dan tidak mendapatkan hasil apa-apa." (HR. Tirmidzi no. 3556, shahih menurut Al-Albani).

Contoh Nabi ﷺ: Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu'anhu berkata, "Biasanya Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, kecuali ketika istisqa (minta hujan). Beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat ketiaknya yang putih" (HR. Bukhari no. 1031, Muslim no. 895).

Doa Qunut: Rasulullah ﷺ mengangkat tangan saat berdoa qunut (HR. Ahmad, disahihkan oleh An-Nawawi).

Catatan Penting:
Mengangkat tangan adalah tanda kerendahan hati.
Tidak ada keharusan mengangkat tangan terlalu tinggi, cukup setinggi dada atau bahu.
Dicontohkan UAH: Dekatkan kedua telapak tangan dan hubungkan garis di kedua telapak tangan.




Jumat, 27 Maret 2026

Hikmah Paska Ramadhan: "Dia Telah Pergi"


*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*
*بِسْــــــــــــــــــــــم اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم*

Pengantar AI: Hikmah paska Lebaran adalah kembalinya manusia ke fitrah (suci) dengan mempertahankan ketakwaan, konsistensi ibadah, dan peningkatan kepedulian sosial. Bukan sekadar perayaan seremonial. Ini momentum menjaga kesalehan individu dan sosial yang telah ditempa selama Ramadhan, seperti silaturahmi, sedekah, serta puasa Syawal.

Berikut adalah poin-poin hikmah utama setelah Lebaran:
  • Menjaga Konsistensi (Istiqomah) Ibadah: Melanjutkan kebiasaan baik seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, dan sedekah yang dilakukan selama Ramadhan.
  • Puasa Syawal: Dianjurkan puasa enam hari di bulan Syawal, yang pahalanya seperti berpuasa setahun penuh, sebagai bentuk syukur dan latihan istiqomah.
  • Merawat Silaturahmi: Mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan dengan saling berkunjung dan memaafkan, yang membersihkan hati dari dendam.
  • Peningkatan Kepedulian Sosial: Menjaga semangat berbagi yang dimulai dari zakat fitrah hingga berlanjut ke sedekah rutin kepada sesama, terutama yang membutuhkan.
  • Pengendalian Diri: Menerapkan disiplin diri dalam menahan hawa nafsu dan menghindari perilaku berlebihan setelah sebulan penuh dilatih.
  • Refleksi Diri dan Keikhlasan: Menjadikan hati yang bersih setelah Ramadhan sebagai motivasi untuk bekerja dan beramal dengan lebih jujur dan ikhlas.
  • Perubahan Jiwa: Menjadi manusia baru yang lebih bertakwa, menyebarkan kedamaian, dan lebih dekat kepada Allah.
Ramadhan Telah Pergi

Alhamdulillah, Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Kini dia telah pergi meninggalkan kita. Semoga Allah pertemukan lagi dengannya di tahun depan dengan sambutan dan amalan yang lebih baik dari tahun ini. 
Paska Lebaran, umat Islam diharapkan tidak kembali ke pola hidup negatif, melainkan mempertahankan kebiasaan baik yang terbentuk selama bulan puasa.

Apa dan bagaimana yang harus kita lakukan usai Ramadhan?

1. Bersyukur

Mari kita men-syukuri karena Allah telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dan memudahkan kita berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah lainnya.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.(QS. Al Baqarah: 185)

Bersyukur bukan hanya dengan kata-kata tetapi* hakekat syukur adalah dengan tiga hal, dengan hati, dengan lisan dan dengan anggota badan.
Yakinlah dengan syukur kepada Allāh, niscaya Allāh akan menambahkan nikmatNya kepada kita.

2. Istighfar

Walau kita sudah berusaha maksimal mungkin di bulan Ramadhan, tapi kita harus mengakui bahwa kita masih banyak kekurangan dan kekhilafan.
Oleh karenanya, *orang beriman selalu merasa bahwa amal mereka sedikit dan mereka khawatir jika amal mereka tidak diterima di sisi Allah.

Perhatikanlah bagaimana Nabi usai menjalankan shalat beliau istighfar. Selesai bermajlis membaca doa kaffaratul majlis yang isinya istighfar dan di penghujung malam senantiasa istighfar.

Hasan Al Bashri* berkata: "Seorang mukmin itu menggabung dua hal; amal kebaikan dan rasa takut. Berbeda dengan munafiq, dia menggabung dua hal; amal keburukan dan merasa aman".(Jami'ul Bayan 17/68 oleh Ath Thabari).

3. Berdoa

Doa adalah kunci kebaikan dunia. Marilah kita berdoa agar Allah ﷻ berkenan menerima amal ibadah kita yang sedikit ini. Itulah kenapa, dulu para sahabat usai shalat hari raya mereka saling mendoakan:
تقبل الله منا ومنكم
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua.

4. Mengambil ibrah dari ramadhan

Ramadhan adalah madrasah keimanan bagi kita. Jadi, jangan biarkan dia berlalu tanpa bekas. Jangan jadikan ramadhan semacam musim yang datang dan berlalu begitu saja. Marilah kita mengambil pelajaran dan ibrah yang banyak sekali dari bulan Ramadhan. Di antaranya membentuk pribadi yang bertaqwa dan berakhlak mulia.

5. Istiqomah beramal ibadah

Walaupun Ramadhan sudah berlalu meninggalkan kita bukan berarti amal ibadah telah terputus sampai di situ saja, tetapi masih terbuka lebar pintu-pintu kebaikan lainnya ba'da Ramadhan, hingga akhir hayat kita.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).* (QS. Al-Hijr: 99)'

Bila di bulan Ramadhan ada sholat tarawih maka ingatlah bahwa di sana masih ada sholat malam (witir dan tahajud). Bila di bulan Ramadhan kita berpuasa ingatlah bahwa setelahnya ada puasa-puasa sunnah seperti senin kamis, puasa ayyamul bidh dan sebagainya, bahkan di bulan ini setelah Ramadhan, Nabi ﷺ menganjurkan agar kita mengiringinya dengan puasa Syawal, selama enam hari.

Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَْتبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh.”* (HR. Muslim)

Demikian pula ibadah-ibadah lainnya seperti sedekah, membaca Al-Qur'an, berdoa dan lain sebagainya, hendaknya tetap kita lakukan sekalipun Ramadhan sudah usai.
Waffaqaniyallahu wa iyyakum.

Segala puji bagi Allāh ﷻ yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Ya Tuhan kami terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Aamiin ya Rabbal'alamiin.

Kamis, 26 Maret 2026

Wahabi, Merasa Paling Benar



Kalau Wahabi bisa mengartikan hadis dan firman secara kafah, maka Insyaallah dia tidak akan merasa paling benar..
AMALIAH ITU ADA DALILNYA, BUKAN SEKEDAR NAMA.

Seringkali orang hanya melihat nama amalan, lalu langsung memvonis tanpa memahami isi dan dalil di dalamnya. Padahal dalam agama, yang dinilai bukan labelnya, tapi substansi amalan tersebut.

Contoh sederhana, ketika ada yang mempermasalahkan maulid, tahlil, atau dzikir berjamaah. Pertanyaannya: apakah yang dibaca di dalamnya bukan Al-Qur’an, bukan shalawat, bukan doa? Kalau isinya semua dianjurkan dalam syariat, lalu bagian mana yang dianggap menyimpang?

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.” (QS. Al-Ahzab: 41).

Apakah ayat ini membatasi harus sendiri-sendiri, atau justru umum mencakup berjamaah juga?

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pelakunya.” (HR. Muslim).

Bukankah mengumpulkan orang untuk dzikir, doa, dan membaca sejarah Nabi termasuk menunjukkan kepada kebaikan?

Tentang berkumpul untuk dzikir, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat mengelilingi mereka…” (HR. Muslim).

Lalu kalau orang berkumpul membaca tahlil, dzikir, dan doa, kenapa dianggap tidak ada dalil?

Begitu juga dengan shalawat. Allah sendiri yang memerintahkan: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi…” (QS. Al-Ahzab: 56).

Kalau diperbanyak, dilantunkan, bahkan diiringi sebagai sarana agar orang cinta Nabi—di mana letak larangannya?

Masalah tawassul juga sering disalahpahami. Dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 35).

Para ulama menjelaskan bahwa wasilah itu luas, termasuk doa dengan menyebut orang shalih, bukan menyembah selain Allah.

Kemudian soal amalan baru (bid’ah), tidak semua otomatis sesat. Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berkata tentang tarawih berjamaah: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Artinya, sesuatu yang tidak dilakukan secara bentuk di zaman Nabi, tapi isinya sesuai syariat, bisa diterima.

Jadi yang perlu dipahami:
Amalan itu dilihat dari isi dan dalilnya, bukan dari nama atau kemasan luarnya.
Kalau semua yang tidak ada di zaman Nabi secara bentuk langsung ditolak, maka banyak hal baik hari ini juga harus ditolak. 

Padahal para ulama sejak dulu sudah menjelaskan adanya perkara baru yang baik (bid’ah hasanah) selama tidak bertentangan dengan syariat.

Akhirnya, yang jadi pertanyaan:
Apakah kita benar-benar menilai dengan ilmu, atau hanya dengan asumsi dan prasangka?
Karena yang berbahaya bukan banyaknya amalan, tapi sempitnya pemahaman.
(group/fb/0326)

NanaSuryana.Com: Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa

NanaSuryana.Com: Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa : Mengangkat tangan saat berdoa adalah sunnah, adab, dan salah satu sebab dikabulkanny...