Jumat, 14 Agustus 2026

Belenggu Pemahaman Dangkal tentang Hadis 73 Golongan


Pengantar: Dada seorang muslim bergetar, tatkala mendengar sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang termasyhur itu. Sebuah riwayat yang kerap kali membakar semangat sekaligus mengeraskan hati. Disebutkan bahwa umat Islam akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Tiada yang selamat dari siksaan Illahi Rabbi melainkan hanya satu golongan. Lalu golongan manakah yang selamat? Disinilah rupanya saling mengklaim sebagai yang paling selamat dan merasa sebagai si pemilik surga. Sementara yang lain terancam neraka. Astaghfirullah...!!!


Jangan Jadi Penebas Tali Persaudaraan

Betapa mirisnya, ketika sabda yang hakikatnya adalah pelita peringatan justru kerap menjelma menjadi pedang bermata dua. Sebagai penebas tali persaudaraan. Tentu saja ini efek dari pemahaman cetek bin dangkal. Di sinilah sejatinya kita perlu menepis debu kesalahpahaman yang melekat. 

Kalau begitu, mari kita selami lautan makna hadis ini dengan pendekatan  nalar para ulama terdahulu. Agar yang tadinya tajam menusuk keimanan dan harapan, kembali menjadi teduh menyejukkan.

Beberapa kekeliruan itu terjadi, yakni:

Pertama, kekeliruan mendasar yang menjangkiti akal sehat kita adalah memaknai kata firqah (golongan) dalam pengertian zahiriah semata. Seolah-olah yang dimaksud adalah organisasi, jamaah, atau entitas fisik yang memiliki bendera, atribut, dan rapor keanggotaan. 

Andai saja kita menoleh pada kitab-kitab karya Imam asy-Syahrastani, niscaya kita dapati penjelasan nan jernih. Bahwa firqah dalam hadis mulia ini mengacu pada pemahaman tentang ushuluddin (fondasi pokok keimanan), bukan pada cabang-cabang fiqhiyyah yang bersifat teknis. Seperti tata cara bacaan dalam shalat atau hitungan tasbih. 

Memahami firqah sebagai entitas kelompok tertentu adalah kekeliruan tingkat tinggi,. Para salafus shalih sendiri berbeda pendapat dalam masalah furu' namun tetap saling mencintai dan menghormati. Mereka tidak pernah saling melemparkan tuduhan sesat hanya lantaran perbedaan qunut, ziarah kubur atau rakaat tarawih. 

Maka, menyempitkan makna firqah pada label organisasi modern adalah bentuk kebutaan epistemologis yang mengerikan. Sebuah penafisran yang jauh menyimpang dari maksud syariat yang luhur.

Kedua, kelalaian kita terhadap keberagaman jalur periwayatan hadis ini telah menelantarkan kita pada kubangan klaim kebenaran tunggal. Para perawi hadis, yang notabene adalah bintang-bintang di cakrawala periwayatan, telah menyampaikan redaksi yang berbeda-beda. 

Di antara riwayat, terdapat versi yang tidak menyebutkan ancaman neraka secara gamblang bagi 72 golongan. Bahkan Imam al-Ghazali dalam karyanya yang bernas, Faishal al-Tafriqah, mengutip sebuah riwayat kontradiktif yang menyatakan bahwa seluruh golongan itu berada dalam surga, kecuali golongan zindiq (para penyeleweng akidah yang ekstrem). 

Meskipun sanad riwayat ini diperselisihkan dan menuai kritik tajam dari Ibnu Hajar al-Asqalani, yang mencapnya sebagai ikhtisar mujhif (penyimpulan yang merusak), keberadaan riwayat ini cukup bagi seorang yang berakal sehat untuk tidak tergesa-gesa menghakimi. 

Mengabaikan ragam sanad dan lebih memilih satu redaksi mentah-mentah sebagai senjata pembenaran diri adalah kelancangan ilmiah yang melampaui batas. Ia adalah produk dari nalar yang malas. Yang hanya ingin menegaskan pihak lain tanpa mau bersusah payah menelaah khazanah periwayatan secara utuh.

Ketiga, dan inilah yang paling menggores hati nurani. Manakala hadis ini dipolitisasi dan dikomersialkan untuk kepentingan gengsi kelompok. Amat menyayat hati menyaksikan bagaimana setiap firqah mengklaim dirinya sebagai al-Firqah an-Najiyah dengan penuh arogansi, seolah-olah mereka telah menerima fatwa langsung dari langit. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri, sebagai sumber aliran hikmah, ketika ditanya siapa golongan selamat itu, tidak menyebut nama organisasi atau kelompok spesifik. Beliau hanya menjawab dengan lugas: "Apa yang aku berada di atasnya hari ini dan para sahabatku." 

Jawaban Rasulullah sarat pesan: Keselamatan adalah urusan keistiqamahan di atas jalan kebenaran yang jelas. Bukan sekadar urusan manhaj atau status keanggotaan.

Siapa Ahlussunnah wal Jama'ah?

Mayoritas ulama klasik memang berpandangan bahwa yang selamat adalah Ahlussunnah wal Jama'ah. Namun, dan ini penting digarisbawahi, Ahlussunnah bukanlah nama sebuah partai atau yayasan. Ia adalah seluruh mukmin yang senantiasa merujuk pada Al-Qur'an dan sunnah Rasul-Nya, Tentunya dengan memahami keduanya melalui kacamata para sahabat generasi perdana. 

Bila ukurannya adalah ketakwaan dan keikhlasan, maka tiada seorang pun, betapapun sempurnanya amaliah kelompoknya, berhak mengklaim dengan pasti bahwa dirinya adalah satu-satunya penghuni surga. Sementara yang lain adalah bahan bakar neraka. Karena surga dan neraka sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah Yang Maha Mengetahui isi hati.

Akhirnya, hadis nan agung ini, jika direnungkan dengan sastra klasik dan kedalaman ruhani, adalah peringatan dan kabar gembira sekaligus. Peringatan agar kita senantiasa waspada terhadap penyimpangan akidah yang fundamental. Dan kabar gembiranya bahwa siapa pun yang konsisten menapaki jalan kenabian, yang penuh kasih dan jauh dari kebencian, akan digolongkan dalam barisan orang yang selamat. 

Maka, sudah saatnya kita mengakhiri perang klaim yang melelahkan ini. Taruhlah pedang penyesatan, dan raihlah tali Allah secara bersama-sama. Karena jika kebenaran hanya milik satu kelompok yang sempit, niscaya rahmat Islam tidak akan pernah meluas ke seluruh penjuru dunia. 

Semoga Allah mempertemukan kita semua di telaga Rasul kelak, tanpa memandang firqah dan label organisasi, melainkan memandang ketulusan hati dan ketaatan kita pada syariat-Nya. 

Sintetis Menakjubkan Imam Al-Ghazali

Kembali pada pendapat Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya' Ulumuddin. Tidak sekadar mengulang redaksi hadis perpecahan umat secara mentah. Beliau dengan keberanian ilmiah yang langka justru memaparkan adanya riwayat-riwayat yang kontradiktif, lalu menawarkan sintesis yang menakjubkan. 

Dalam Ihya' Ulumuddin, beliau menyatakan:

“Terdapat beberapa riwayat hadis itu dengan teks yang berbeda. Satu riwayat menyebutkan: 'Umatku akan berpecah menjadi lebih dari tujuh puluh firqah, satu di antaranya selamat.' Dalam riwayat lain juga disebutkan: 'Semua firqah itu masuk surga kecuali satu firqah, yaitu kaum zindiq (yang masuk neraka).'”

Lebih lanjut, Al-Ghazali menegaskan bahwa kedua riwayat ini dimungkinkan sama-sama sahih, sehingga yang “benar-benar binasa dan kekal dalam neraka” hanyalah satu firqah saja, yaitu kaum zindiq, yakni para penyeleweng akidah yang ekstrem.

Adapun yang “benar-benar selamat” tanpa hisab dan tanpa syafaat hanyalah satu firqah pula, yaitu mereka yang paling istimewa di sisi Allah. Sementara itu, golongan-golongan lainnya, meskipun tergolong dalam 72 firqah, tetaplah akan masuk surga setelah menjalani proses hisab (perhitungan amal) atau setelah mendapatkan syafaat dari Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Keterangan ini senada dengan apa yang beliau tulis dalam kitabnya yang lain, Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah, di mana beliau mengutip sebuah riwayat yang redaksinya berbunyi: "Umatku akan terpecah menjadi 70 lebih golongan, mereka semua ada dalam surga kecuali orang zindiq."

Tinggalkan Sikap Takfir

Kutipan di atas menjadi kunci untuk membuka pemahaman yang selama ini terkunci. Al-Ghazali, dengan kearifan sufistiknya, telah mengajarkan bahwa ancaman neraka dalam hadis 73 golongan tidaklah bersifat mutlak dan menyeluruh. Ia hanyalah peringatan keras bagi mereka yang menyimpang secara fundamental hingga keluar dari rel keimanan (zindiq). Bukan vonis kebinasaan bagi seluruh umat Islam yang berbeda pendapat dalam masalah cabang.

Dengan demikian, roh dari ajaran Al-Ghazali dalam Ihya' adalah mengajak kita meninggalkan sikap takfir dan klaim keselamatan sepihak. Sebab, rahmat Allah begitu luas, dan syafaat Nabi pun terbentang untuk umatnya. 

Yang terpenting adalah tetap berpegang pada jalan yang lurus, saling menghormati, dan tidak menyempitkan rahmat Ilahi hanya untuk kelompok sendiri. Nah, kalau begini kan gak perlu lagi ada klaim merasa pemilik kunci surga. Macam surga punya neneknya saja...!!! Wew, ach...!!

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajak Londo Ireng Part-5: "LONDO IRENG DI RUMAH RAKYAT"

(untuk Ki Gempur, yang faham bahwa rakyat tak pernah bodoh)


Kulihat kau duduk di kursi empuk,
di gedung megah yang kau sebut rumah rakyat,
tapi rakyat tak pernah tinggal di sana
mereka hanya numpang lewat kilasan di layar televisi,
saat kau berdebat tentang anggaran yang kau sembelih,
tentang proyek yang kau kawal,
tentang dengar pendapat yang telah diatur
tentang negosiasi yang kau jual dan kau beli.

Kau disebut Londo Ireng bergaya baru,
karena kau datang dengan jas rapi dan dasi berkilau,
dengan kopiah atau kerudung di kepala saat kampanye,
tapi di sini, di ruang sidang ini,
kau mulai melepas semua topeng
dan yang tersisa hanya serigala berbulu domba.

Kau sumpah di atas kitab suci,
kau janji muliakan amanat rakyat,
tapi dimana amanat itu kau sembunyikan?

Bukankah amanat adalah rakyat yang kau tinggalkan,
yang mengantre sembako saat kau pesta gala,
yang kehilangan tanah saat kau bagi-bagi izin,
yang mati di rumah sakit saat kau ketiduran di kursi baru?

Wahai Londo Ireng legislatif!
Apa bedamu dengan penjajah dulu?
Dulu mereka menjajah dengan senapan
kini kau menjajah dengan pasal pilihan,
dengan keputusan fraksi, dengan voting yang kau atur,
dengan sidang paripurna yang kau bobol
hanya untuk mengesahkan yang menguntungkanmu.

Kau bilang kau wakil rakyat
sesungguhnya kau tak pernah mewakili perut lapar,
sesungguhnya kau tak pernah menyelami rakyat melarat dan teraniaya,
teraniaya pajak, bbm, dan harga-harga kebutuhan pokok.

kau hanya mewakili uang dingin yang mengalir
dari pengusaha yang kau sembunyikan namanya,
dari kontraktor yang kau titipkan proyeknya,
dari bandar yang kau amankan bisnisnya.

Aku lihat kau tertawa saat RAPBD dibahas,
tawa khas orang yang tahu rezeki sudah di kantong,
tawa yang mengundang tangis di kampung-kampung
saat subsidi dibantai,
saat pendidikan dijual,
saat kesehatan dipermainkan.

Wahai, Londo Ireng legislatif!
Kau pikir kursimu kekal selamanya?
Kau pikir rakyat tak punya mata dan telinga?
Kau pikir kelakuanmu hanya tayang di layar
dan hilang setelah iklan sabun mandi?

Tak ada rakyat yang buta,
hanya rakyat yang sabar.
dan kesabaran itu
seperti batang merang yang terbakar angin
sekali menyala, ia tak peduli siapa terbakar,
sementara kau tengah asyik bermain game di kursi empukmu.

Maka sekarang,
ketika kau sibuk bagi-bagi kursi,
ingatlah
di luar gedung ini,
di bawah terik matahari yang membakar kaum buruh dan mahasiswa,
bahwa sesungguhnya rakyat terus mencatat
setiap dustamu.

Dan suatu hari,
tak ada buku anggaran yang bisa menyelamatkanmu,
tak ada tembok tinggi yang bisa melindungimu,
karena rakyat
adalah pemilik sah rumah yang kau duduki.

Maka pergilah, Wahai Londo Ireng legislatif,
dan pulanglah, cepat atau lambat,
karena rumah ini tak akan pernah menjadi milikmu,
sampai kau merasakan
apa artinya tidur lapar tanpa nasi,
dan bangun tanpa harapan dan kepastian.

Kamis, 13 Agustus 2026

Pemangkasan Ratusan BUMN: "Penyembuhan atau Suntik Mati?"


(Secangkir Anggur Merah Edisi-28)

Pengantar: Ada sebuah pertanyaan yang menggantung di udara bagai kabut pagi yang bergelayut di angkasa. Ketika kita membedah raga ekonomi negeri yang lagi sakit ini, apakah kita sedang melakukan penyembuhan atau justru tengah menyuntik mati? Di balik rencana pemangkasan lebih dari 600 entitas BUMN dari total sekitar 1.000 perusahaan BUMN. Jelas  tersembunyi sebuah ironi besar yang menuntut perenungan spesial dan tindakan ekstra hati-hati.

Si Anak Kandung Negara

Setiap BUMN pada dasarnya adalah anak kandung negara. Mereka lahir dari rahim sejarah, dibesarkan dengan air susu anggaran, dan diberi mandat untuk melayani kepentingan publik.

Namun seperti layaknya seorang anak yang terlalu dimanjakan, banyak di antara mereka kehilangan naluri untuk bertahan hidup. Akibat kurang diawasi, dibina dan diajar, hingga bisa menjurus pada sikap dan perilaku manajerial kurang ajar. Maaf...!

Data menunjukkan sekitar 52 persen BUMN masih merugi. Akumulasi kerugiannya tidak main-main mencapai Rp20 triliun. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah darah kotor yang mengalir dari sebagian tubuh ekonomi kita.

Presiden Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa banyak BUMN hanya menjadi beban. Bayangan 675 direktur utama, ribuan direksi, dan komisaris yang hanya menghisap biaya operasional tanpa menghasilkan keuntungan adalah gambaran tragis tentang bagaimana sebuah institusi bisa kehilangan makna keberadaannya. Maksud hati ingin untung malah pada buntung. Ini jelas fakta, bukan hoax.

"Perusahaan tidak untung, hanya bayar overhead," kata Presiden, dan dalam kesederhanaan kalimat itu terkandung sebuah kebenaran yang menyakitkan ulu hati dan bikin miris penduduk negeri.

Ketika Kucing Diberi Nama Singa

Pemangkasan dari lebih 1.000 BUMN menjadi sekitar 200-300 perusahaan terdengar seperti operasi caesar besar-besaran. Pemangkasan sekitar 75% BUMN itu, tampaknya sah-sah saja. Ya, salah sendiri, mengapa keluar dari misi cuan yang mesti diembannya, malah dijadikan misi aji mumpung. Boro-boro mikirin untung, sumberdaya yang tersedia malah "dihisap" habis-habisan. Harap maklum karena yang bercokol disana bukan orang-orang profesional, tapi orang-orang titipan berbalas budi politis.

Muncul pertanyaan, apakah kita sekadar mengubah lambang BUMN yang acak kadut? Atau benar-benar tengah mentransformasinya menjadi sebuah BUMN yang sehat berkharisma? Pertanyaan ini mengingatkan kita pada kisah kucing yang diberi nama singa. Tetap saja ia tidak akan bisa mengaum seperti raja hutan.

Menurut ekonom Bhima dari CELIOS misalnya, mengingatkan bahwa penggabungan perusahaan berpotensi hanya menghasilkan kenaikan nilai buku tanpa peningkatan produktivitas. Ini adalah peringatan bahwa efisiensi kuantitatif tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas.

Tuh, bener kan..! Jangan sampai semakin ditumpukan di sebuah BUMN sehat, malah justru produktiviasnya menjadi carut marut. Padahal pada BUMN sehat sedang merancang berbagai program inovatif  sampai pada menggelar program pensiun dini.

Kita bisa saja menggabungkan banyak perusahaan rugi menjadi satu perusahaan raksasa yang juga sedang rugi. Ini bagai menyatukan beberapa sampah menjadi tumpukan yang lebih besar. Ya, tetap saja namanya sampah yang malah menjadi gunung sampah.

Danantara Si Pedang Bermata Dua

Ada kekhawatiran yang lebih fundamental. Konsolidasi tanpa reformasi tata kelola berisiko menciptakan raksasa ekonomi yang tak terkendali. Danantara misalnya, wadah yang akan mengonsolidasikan seluruh aset BUMN, bisa menjadi pedang bermata dua.

Di satu sisi, ia menjanjikan efisiensi. Di sisi lain, berpotensi menjadi pusat kekuasaan ekonomi yang terlalu besar. Ini berbahaya. Yang jika salah dikendalikan, dapat menghancurkan pasar dan menekan konsumen melalui tarif yang tidak sehat.

Ini mengingatkan kita pada tragedi klasik dalam sejarah filsafat politik. Konsentrasi kekuasaan, baik di tangan negara maupun korporasi, selalu membawa risiko penyalahgunaan. Efisiensi tanpa demokrasi ekonomi hanyalah kediktatoran dalam balutan rasionalitas. Punten, camkan, itu...!!!

Jalan Menuju Pencerahan

Jika pemangkasan BUMN adalah pisau bedah, maka reformasi tata kelola adalah obat penyembuhnya. Tanpa penguatan transparansi dan akuntabilitas, kebijakan ini hanya akan menjadi operasi kosmetik pada mayat korporasi.

Kata Dony Oskaria,  berjanji akan menyerahkan data BUMN yang merugi ke KPK. Langkah  ini lumayan memberi solusi baru. Bagai membuka jendela di ruangan pengap. Namun perlu diingat ya bung..!, membuka jendela saja tidak cukup. Kita harus juga membersihkan seluruh isi ruangan.

Perhatian  melalui Insentif fiskal melalui PMK Nomor 1 Tahun 2026 yang memberikan pembebasan pajak selama tiga tahun untuk proses konsolidasi adalah strategi  cerdas. Namun seperti semua bentuk subsidi, ia harus diawasi agar tidak menjadi ladang baru bagi spekulasi. Insentif harus menjadi tangga menuju kemandirian. Bukan menjadi kruk yang membuat perusahaan terus bergantung dan buntung.

Menemukan Kembali Jiwa Korporasi

Yang paling penting dari semua ini adalah menemukan kembali jiwa korporasi BUMN. BUMN tidak boleh menjadi sekadar mesin pencari laba. Ia adalah institusi yang lahir untuk melayani kepentingan publik yang lebih luas.

Pemangkasan harus diikuti dengan pembukaan ruang bagi sektor swasta dan UMKM, bukan sebaliknya. Kadin Kalimantan Tengah pernah menegaskan bahwa selama ini BUMN Karya mendominasi proyek infrastruktur dengan sistem subkontrak yang berantai. Ini adalah praktik yang mematikan semangat kewirausahaan lokal.

Komitmen untuk menyerahkan pengerjaan proyek infrastruktur secara penuh kepada sektor swasta lokal adalah langkah berani. Ini seperti seorang ayah yang akhirnya percaya untuk melepas tangan anaknya agar bisa berjalan sendiri.

Keberanian seperti inilah yang dibutuhkan. Bukan hanya keberanian untuk memotong, tetapi juga keberanian untuk mempercayai.

Belajar dari PT. Telkom

Mari kita belajar ke PT. Telkom. Jiwa korporasi PT Telkom Indonesia dpandang telah melampaui sekadar pencarian laba. Berakar pada pendiriannya untuk membangun ekonomi nasional yang mengutamakan kebutuhan rakyat menuju masyarakat adil dan makmur. Ini salah satu upaya Telkom memaknai peran strategisnya sebagai BUMN.

Tentu saja, komitmen ini diwujudkan melalui tujuan mulia. Mewujudkan bangsa lebih sejahtera dan berdaya saing. Melalui pilar ESG (Save Our Planet, Empower Our People, Elevate Our Business), Telkom mendorong transisi hijau, memberdayakan UMKM naik kelas, serta mengembangkan talenta digital inklusif.

Keberlanjutan bukan sekadar kepatuhan, melainkan strategi integral untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. Inilah esensi Telkom sbagai penggerak ekosistem digital yang bertanggung jawab secara sosial dan ekologis.

Ending: Antara Kematian dan Kelahiran

Di balik rencana pemangkasan ratusan BUMN, kita sedang menyaksikan sebuah proses kematian dan kelahiran. Kematian entitas-entitas yang telah kehilangan maknanya, dan kelahiran harapan baru bagi ekonomi yang lebih sehat.

Namun kita harus ingat bahwa setiap operasi besar selalu menyimpan risiko. Jangan sampai dalam semangat efisiensi, kita membunuh jiwa gotong royong yang selama ini menjadi fondasi BUMN. Jangan sampai dalam upaya merampingkan, kita mengorbankan keberpihakan pada rakyat kecil.

Pada akhirnya, pertanyaan filosofis yang harus kita jawab adalah apakah kita sedang membangun menara pencakar langit yang megah namun kosong? Ataukah kita sedang merenovasi rumah yang akan menjadi tempat tinggal bagi seluruh anak bangsa?

Jawabannya tidak terletak pada berapa banyak perusahaan yang dipangkas. Tetapi pada seberapa dalam kita memahami bahwa tujuan akhir ekonomi adalah kesejahteraan bersama, bukan sekadar efisiensi semata. 
Nah, itu dia..! Gak muluk-muluk koq, cuma itu doang...!!

Sajak Londo Ireng Part-4: "LONDO IRENG BERTOGA"

(untuk Ki Gempur, yang enggan membisu)

Kulihat kau duduk di kursi tahta,
toga hitam membalut tubuhmu 
bagai berselimut kafan,
palu kau ketuk, bukan untuk menegakan keadilan,
tapi untuk merobohkan yang tak sanggup bayar.

Kau disebut Londo Ireng zaman kemerdekaan,
tapi kau bukan londo ireng sang pejuang,
kau adalah londo ireng yang dijahit kesepakatan,
yang dibayar dengan janji-janji sejumlah cuan.

Kau begitu fasih tentang pasal-pasal,
Tapi lidahmu begitu kelu ketika mencabik-cabik pesakitan miskin,
matamu tajam dalam menggali kesalahan,
tapi buta saat melihat uang berhambur di meja tuan.

Di mana keadilanmu, wahai kau yang bertoga?
Di mana amanah yang kau ikrarkan di atas kitab undang-undang?
Kau lebih suka menegakkan tiang gantungan
bagi si pencuri ayam dan buah-buahan,
sementara kepada si pencuri negeri
kau dudukkan dia di kursi nyaman bersama hidangan.

Sejarah acapkali mencatat pengadilan panggung,
di mana yang benar divonis bersalah 
dan yang bersalah terbebas bersama pujian dan tepuk tangan.

Ah, kau layaknya meneruskan tradisi itu,
dengan bahasa hukum jlimet dan berbelit,
bagai ular menggigit ekornya sendiri.

Wahai Londo Ireng bertoga!
Kau pikir hitammu bisa membuatmu suci dan mulia?
Kau pikir pasal-pasalmu lebih kebal dihantam peluru?

Keliru! Wahai kau Londo Ireng bertoga!
Keadilan sejati tak kenal toga,
dia telanjang walau harus penuh luka,
dia mengemis di kantor pengadilanmu,
namun kau lempari dia dengan janji-janji palsu.

Aku melihat
rakyat di luar sana menggigil,
bukan karena dingin,
tapi karena mereka tahu:
di ruanganmu yang ber-AC,
keputusan sudah dibeli sebelum sidang dimulai.

Toga hitammu bukan simbol kehormatan,
tapi seragam baru para neo penjajah.

Dan kau
Bagai penjaga kedaulatan mereka,
yang kerjaannya memungut pajak dari tangis rakyat jelata dan kaum janda,

Namun suatu hari,
palu itu akan patah di tanganmu.
toga itu akan lapuk dimakan ngengat.

Dan saat itu,
rakyat akan berdiri di depan gedungmu,
tanpa pengacara, tanpa terdakwa, tanpa saksi ahli,
hanya dengan berpegang kebenaran yang selama ini tergenggam erat.

Maka sebaiknya pergilah, Wahai Londo Ireng bertoga
kembalikan pasal-pasalmu ke perpustakaan berdebu.

Karena di ruang sidang yang sesungguhnya
yang bernama hati nurani
kau tak pernah menang...

Belenggu Pemahaman Dangkal tentang Hadis 73 Golongan

Pengantar : Dada seorang muslim bergetar, tatkala mendengar sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang termasyhur itu. Sebuah riwayat yang ...