Minggu, 25 Oktober 2026

Kerugian Negara Bukan Korupsi”: Jalan Pintas Menuju Dekriminalisasi"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-67)

Di penghujung Oktober 2026, sebuah usulan dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengguncang fondasi pemberantasan korupsi Indonesia. Intinya: Kerugian negara tidak lagi dimasukkan sebagai unsur tindak pidana korupsi. Korupsi cukup dimaknai sebagai penyuapan semata. Mengikuti tafsir sepihak atas UNCAC.

Disetujui Presiden

Presiden Prabowo Subianto disebut menyetujui kajian tersebut. Dalihnya terdengar teknokratis: keputusan bisnis selalu mengandung risiko, dan unsur kerugian negara membuat badan usaha seperti Danantara takut berinvestasi.

Namun di balik retorika itu, usulan ini adalah undangan terbuka bagi impunitas bagi koruptor kerah putih.

Argumen UNCAC yang dikemukakan Luhut adalah distorsi. Benar bahwa Konvensi PBB tersebut menekankan penyuapan, penggelapan aset publik, dan perdagangan pengaruh.

Tetapi Indonesia tidak hidup dalam ruang hampa hukum internasional. UNCAC justru mewajibkan negara peserta untuk mengkriminalisasi “embezzlement, misappropriation or other diversion of property by a public official”—yang dalam hukum Indonesia setara dengan merugikan keuangan negara.

Menghapus unsur kerugian negara bukanlah “menyesuaikan diri dengan standar internasional”, melainkan memangkas salah satu pilar terpenting dalam mendeteksi dan membuktikan korupsi yang berdampak fiskal.

Indonesia adalah satu-satunya negara yang dinilai masih memakai definisi kerugian negara; klaim ini justru menunjukkan betapa unik dan rentannya praktik korupsi di negeri ini, bukan alasan untuk menanggalkannya.

Kritik paling tajam datang dari legislator dan masyarakat sipil. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menilai usulan itu “terlalu menyederhanakan persoalan korupsi” dan bertentangan dengan kehendak rakyat.

Politikus PKS Mardani Ali Sera menyebutnya “berbahaya” karena korupsi adalah kejahatan luar biasa yang penanganannya harus diperkuat, bukan dilemahkan.

Anggota Komisi III DPR Rudianto Lallo mengingatkan bahwa menghapus kerugian negara dari kategori tipikor akan “merusak sistem hukum” dan memundurkan upaya pemberantasan korupsi.

Kritik-kritik ini bukan sentimen politik semata; mereka merangkum kekhawatiran bahwa penghapusan unsur kerugian negara akan membuat korupsi pengadaan barang dan jasa, korupsi anggaran, dan penyelewengan dana publik sulit dijerat selama tidak ada suap yang terbukti.

Yang ironis, usulan ini seolah mengabaikan bahwa hukum Indonesia sudah memiliki saringan yang memadai untuk membedakan kerugian bisnis yang wajar dari korupsi.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 telah mengubah tipikor dari delik formil menjadi delik materiil: kerugian keuangan negara harus dibuktikan secara nyata (actual loss), bukan sekadar potensi.

Lebih lanjut, Putusan MK Nomor 28/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa kerugian negara sebagai tipikor harus dibuktikan dengan niat jahat (mens rea).

Bagi ASN yang melakukan kesalahan administratif, Putusan MK Nomor 66/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa kerugian keuangan negara akibat kesalahan administratif tidak selalu berarti korupsi; penyelesaiannya dapat melalui pengembalian kerugian negara.

Di ranah BUMN, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN telah menegaskan bahwa kerugian BUMN bukan kerugian negara, dan prinsip business judgment rule melindungi direksi yang beritikad baik.

Dengan semua instrumen ini, tidak ada alasan konstitusional maupun praktis untuk menghapus unsur kerugian negara dari definisi korupsi.

Yang sesungguhnya dipertaruhkan bukanlah kebebasan berinvestasi, melainkan akuntabilitas kekuasaan.

Korupsi di Indonesia tidak pernah berhenti pada suap; ia telah menjelma menjadi penyelewengan anggaran, mark-up proyek, dan pengurasan aset negara yang terstruktur, sistematis, dan masif.

Jika kerugian negara dikeluarkan dari rumpun tipikor, maka negara kehilangan alat ukur paling konkret untuk membuktikan kerugian publik.

Para pelaku cukup berlindung di balik narasi “risiko bisnis” atau “diskresi”, sementara uang rakyat menguap tanpa pertanggungjawaban pidana.

Usulan ini bukan deregulasi yang mencerdaskan, melainkan dekriminalisasi yang mencelakakan.

Ia mengubah korupsi dari kejahatan terhadap keuangan publik menjadi sekadar pelanggaran etika penyuapan—sebuah kemunduran peradaban hukum.

Analisis kritis saya: usulan ini bukan koreksi doktrinal, melainkan operasi politik hukum yang mengubah cara negara memandang uang rakyat.

Dengan mengeluarkan kerugian negara dari tipikor, negara tidak sekadar menderegulasi risiko bisnis; ia memindahkan beban pembuktian dan risiko fiskal dari pelaku ke publik.

Audit BPK, BPKP, dan investigasi kejaksaan akan kehilangan pintu masuk paling objektif; penyidik dipaksa membuktikan suap atau niat jahat internal yang jauh lebih sulit, padahal dampak anggaran sudah nyata.

Ini menciptakan moral hazard: pejabat dan direksi bisa berlindung di balik dalih diskresi, business judgment, atau “risiko investasi” sementara proyek mark-up, pengadaan fiktif, dan penyelewengan dana tetap berjalan.

Secara kelembagaan, usulan ini melemahkan arsitektur pencegahan: korupsi pengadaan dan anggaran jarang berbentuk suap telanjang; ia bersembunyi dalam selisih harga, laporan fiktif, dan kerugian aset.

Tanpa unsur kerugian negara, KPK, kejaksaan, dan audit internal kehilangan instrumen deteksi dini.

Yang lebih mengganggu, inisiatif ini muncul dari lingkaran kekuasaan ekonomi yang justru mengelola dana besar.

Dalam ekonomi politik, ini berpotensi menjadi regulatory capture: aturan dirancang bukan untuk efisiensi investasi, tetapi untuk melindungi keputusan elite dari pertanggungjawaban pidana.

Karena itu, penolakan terhadap usulan ini bukan anti-investasi. Justru sebaliknya: investasi sehat membutuhkan kepastian hukum dan integritas anggaran.

Negara boleh memiliki business judgment rule, tetapi tidak boleh menghapus akuntabilitas pidana atas kerugian publik yang nyata.

Jika kerugian negara bukan korupsi, maka yang tersisa bukan deregulasi, melainkan dekriminalisasi terencana. Jangan heran jika demokrasi telah kehilangan salah satu alat utamanya untuk menjaga uang rakyat.

Uang rakyat kok diutak-atik dengan dibuat kesan negara merugi...Alamaakk..!!

Serial Tasawuf-32,Tajalliy-3: "Tajalli al-Dzāt, Penyingkapan Rahasia Dzat dan Kefanaan dalam Keesaan"


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Malam itu tidak ada bintang. Langit tertutup awan tebal. Angin bertiup pelan seperti napas orang yang sedang berzikir dalam tidurnya. Salik datang ke ribat dengan langkah yang tidak lagi ringan. Ia telah melewati pintu pertama dan pintu kedua tajalliy. Ia telah menyaksikan keesaan Allah dalam perbuatan. Ia telah menyaksikan jejak nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada cermin makhluk. Namun kini ada sesuatu yang lebih dalam memanggilnya. Sesuatu yang tidak bisa ia namai. Tidak bisa ia bayangkan. Dan tidak bisa ia tolak. Ia merasa seperti orang yang berdiri di tepi lautan tanpa dasar. Ia tahu bahwa satu langkah lagi akan menenggelamkannya.


Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di dalam mihrab. Tidak memegang tasbih. Tidak memegang kitab. Kedua tangannya terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Ketika salik masuk, Beliau membuka matanya perlahan. Salik merasa bahwa tatapan itu tidak lagi seperti tatapan manusia biasa. Bukan karena berubah. Tetapi karena salik sendiri telah berubah.

“Engkau datang, anakku,” kata Mursyid dengan suara yang sangat lembut. Hampir seperti bisikan. “Engkau datang membawa pertanyaan yang tidak boleh engkau ucapkan dengan lisan. Duduklah, dan dengarkanlah dengan hati.”

Salik duduk bersimpuh. Tubuhnya gemetar. Tetapi bukan karena takut kepada gurunya. Ia gemetar karena sesuatu di dalam dirinya seperti hendak pecah.

“Guru,” katanya akhirnya, “aku telah melihat perbuatan Allah di balik segala perbuatan. Aku telah melihat nama-nama-Nya di balik segala yang ada. Tetapi kini aku merasa ada sesuatu yang lebih dalam. Aku merasa seperti diriku ini bukan diriku. Aku merasa seperti aku tidak ada. Apakah ini yang engkau sebut tajallī al-dzāt?”

Mursyid tidak langsung menjawab. Beliau memandang salik lama, lalu berkata, “Engkau telah sampai pada pintu yang paling berbahaya, anakku. Pintu ini bukan pintu yang bisa dibuka dengan usaha manusia. Ia adalah karunia yang Allah berikan kepada hamba yang Dia kehendaki. 

Ketahuilah, tajallī al-dzāt itu bukanlah engkau melihat dzat Allah. Tidak ada makhluk yang bisa melihat dzat Allah di dunia ini. Yang dimaksud dengan tajalli al-dzāt adalah Allah menyingkapkan kepada hamba-Nya bahwa dirinya tidak memiliki wujud mandiri. Engkau melihat bahwa engkau tidak ada. Dan yang ada hanyalah Allah. Inilah yang disebut fanā’, Kefanaan.”

“Apakah fanā’ berarti aku lenyap, Guru?”

“Lenyap bukan dalam arti tubuhmu hilang. Bukan dalam arti engkau mati. Bukan dalam arti engkau menjadi Allah. Lenyap dalam arti engkau tidak lagi melihat dirimu sebagai wujud yang berdiri sendiri. 

Engkau melihat dirimu seperti bayangan. Bayangan itu ada, tetapi ia tidak memiliki wujud sendiri. Ia ada karena ada yang menimbulkannya. Bila engkau melihat bayangan, engkau tidak mengatakan bahwa bayangan itu adalah orang. Engkau mengatakan bahwa bayangan itu adalah pantulan dari orang. 

Begitu pula engkau. Engkau adalah bayangan dari wujud Allah. Engkau ada karena Allah mengadakanmu. Engkau tidak memiliki wujud mandiri.”

Salik menunduk. Air matanya jatuh ke sajadah. “Guru, bila aku tidak ada. Lalu siapa yang selama ini beribadah? Siapa yang bersedekah? Siapa yang membaca Al-Qur’an?”

Engkau yang beribadah, anakku, tetapi engkau beribadah dengan wujud yang Allah berikan padamu. Engkau tidak beribadah dengan wujudmu sendiri, sebab engkau tidak memiliki wujud sendiri. 

Engkau seperti pena yang menulis. Pena itu ada, tetapi ia tidak menulis dengan kekuatannya sendiri. Ia menulis karena ada tangan yang menggerakkannya. Bila engkau melihat pena, engkau tidak mengatakan bahwa pena itu adalah penulis. Engkau mengatakan bahwa pena itu adalah alat dari penulis. 

Begitu pula engkau. Engkau adalah alat dari Allah. Engkau beribadah, tetapi ibadahmu adalah karunia dari-Nya. Engkau bersedekah, tetapi sedekahmu adalah titipan dari-Nya. Engkau membaca Al-Qur’an, tetapi bacaanmu adalah pemberian dari-Nya.”

“Apakah ini berarti aku tidak memiliki peran sama sekali, Guru?”

“Engkau memiliki peran, anakku, tetapi peranmu bukanlah peran pencipta. Engkau adalah hamba yang diberi kesempatan untuk berperan. Engkau diberi kehendak, tetapi kehendakmu tidak mandiri. Engkau diberi kemampuan, tetapi kemampuanmu tidak mandiri. Engkau diberi hidup, tetapi hidupmu tidak mandiri.

Semua yang engkau miliki adalah pinjaman. Bila engkau menyadari bahwa semua yang engkau miliki adalah pinjaman, maka engkau tidak akan sombong ketika engkau mampu, dan engkau tidak akan putus asa ketika engkau tidak mampu. Sebab yang memberi kemampuan adalah Allah, dan yang mengambilnya juga Allah.”

Salik mengangkat wajahnya. “Guru, aku merasa bahwa diriku ini seperti tidak ada. Apakah itu berarti aku telah sampai pada fanā’?”

Mursyid menatapnya dengan tajam, lalu berkata, “Hati-hati, anakku. Fanā’ itu bukan perasaan. Fanā’ itu bukan engkau merasa tidak ada, lalu engkau berkata bahwa engkau telah fana. Fanā’ itu adalah engkau benar-benar tidak lagi melihat dirimu, dan engkau hanya melihat Allah. 

Tetapi ketahuilah, bahwa fanā’ itu bukan tujuan akhir. Setelah fanā’ ada baqā’ — engkau kembali kepada wujudmu, tetapi engkau kembali dengan kesadaran bahwa wujudmu adalah karunia. Engkau kembali ke dunia, engkau kembali bekerja, engkau kembali beribadah, engkau kembali berinteraksi dengan manusia, tetapi engkau tidak lagi melihat dirimu sebagai pusat. Engkau melihat Allah sebagai pusat, dan engkau sebagai hamba yang melayani pusat itu.”

“Bagaimana aku bisa membedakan fanā’ yang benar dari khayalan, Guru?”

“Tandanya ada tiga. Pertama, fanā’ yang benar tidak membuatmu meninggalkan syariat. Orang yang benar-benar fana justru semakin ketat menjaga perintah dan larangan, sebab ia tahu bahwa syariat itu adalah jalan yang Allah tetapkan. 

Kedua, fanā’ yang benar tidak membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang yang benar-benar fana justru semakin rendah hati, sebab ia tahu bahwa dirinya tidak ada. 

Ketiga, fanā’ yang benar tidak membuatmu berbicara tentang penglihatanmu kepada orang yang belum siap. Orang yang benar-benar fana lebih suka diam dan beramal. Ia tidak ingin dikenal sebagai orang yang telah sampai. Ia ingin dikenal sebagai hamba yang taat.”

“Guru,” kata salik dengan suara bergetar, “aku merasa bahwa aku telah melihat sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan. Apakah itu berbahaya?”

“Itu sangat berbahaya, anakku. Engkau seperti orang yang telah melihat cahaya yang sangat terang. Bila engkau tidak menjaga matamu, engkau akan buta. Bila engkau tidak menjaga hatimu, engkau akan tersesat. 

Ketahuilah, bahwa banyak orang yang telah sampai pada pintu ini, lalu tergelincir karena mereka mengucapkan kata-kata yang melampaui batas. Mereka berkata, ‘Aku adalah Allah,’ atau ‘Aku adalah kebenaran.’ Itu bukan fanā’, itu istidraj. 

Fanā’ yang benar membuat engkau semakin kecil, bukan semakin besar. Fanā’ yang benar membuat engkau semakin hina di hadapan Allah, bukan semakin mulia di hadapan manusia.”

Salik menangis. “Ya Allah, aku takut.”

“Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Jangan engkau tinggalkan rasa takut itu. Orang yang takut kepada Allah tidak akan tersesat. Orang yang merasa aman dari Allah justru akan tersesat. Maka jagalah rasa takut itu, tetapi jangan engkau berputus asa dari rahmat Allah. 

Takut dan harap itu adalah dua sayap. Bila engkau hanya takut, engkau akan jatuh. Bila engkau hanya harap, engkau akan terbang terlalu tinggi lalu jatuh. Bila engkau menggabungkan keduanya, engkau akan terbang dengan seimbang.”

Mursyid bangkit, lalu berjalan ke tengah ruangan. Beliau mengambil secangkir air, lalu menuangkannya ke tanah. Air itu meresap ke dalam tanah, dan tidak ada yang tersisa di cangkir. “Lihatlah air ini,” katanya. “Ia telah meresap ke dalam tanah. Engkau tidak lagi melihatnya sebagai air, tetapi engkau tahu bahwa ia ada di dalam tanah. 

Begitu pula fanā’: engkau tidak lagi melihat dirimu, tetapi engkau tahu bahwa engkau ada di dalam Allah. Engkau tidak lenyap, tetapi engkau tersembunyi di dalam kehendak-Nya. Engkau tidak mati, tetapi engkau hidup di dalam hidup-Nya.”

Salik menatap tanah yang telah menyerap air itu. Ia merasakan bahwa dirinya seperti air itu — meresap ke dalam sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai air yang berdiri sendiri. Ia melihat dirinya sebagai air yang telah menjadi bagian dari tanah. Namun ia juga tahu bahwa air itu tidak berubah menjadi tanah. Air itu tetap air, tetapi ia tersembunyi di dalam tanah.

“Guru,” katanya, “jadi aku tidak menjadi Allah?”

“Tidak, anakku. Engkau tidak menjadi Allah. Engkau tetap hamba. Engkau tetap makhluk. Engkau tetap memiliki batas. Adapun fanā’ itu bukan engkau menjadi Allah, tetapi engkau tidak lagi melihat dirimu sebagai wujud yang berdiri sendiri. Engkau melihat dirimu sebagai wujud yang bergantung pada Allah. Engkau melihat dirimu sebagai bayangan yang tidak memiliki cahaya sendiri. Engkau melihat dirimu sebagai pena yang tidak memiliki tangan sendiri. Engkau melihat dirimu sebagai air yang tidak memiliki wujud sendiri setelah meresap ke dalam tanah.”

“Lalu bagaimana aku harus hidup setelah ini, Guru?”

“Engkau harus hidup seperti orang yang telah mati sebelum mati, anakku. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak memiliki apa-apa, tetapi memiliki segala-galanya. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak takut kehilangan, sebab engkau tidak memiliki apa pun untuk hilang. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak berharap pada dunia, sebab engkau telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari dunia. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak mencari pujian, sebab engkau telah menemukan ridha Allah. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak takut celaan, sebab engkau telah menemukan kasih Allah.”

Salik bangkit, lalu bersujud di mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, “Ya Allah, aku tidak ada, dan Engkaulah Yang Ada. Aku tidak memiliki wujud, dan Engkaulah Yang Memiliki Wujud. Aku tidak memiliki kekuatan, dan Engkaulah Yang Maha Kuat. 

Jadikanlah kefanaanku sebagai pintu menuju kekekalan-Mu. Jadikanlah kefanaanku sebagai jalan menuju kebangkitan bersama-Mu. Agar aku bisa hidup sebagai hamba yang tidak melihat dirinya, tetapi melihat-Mu. Agar aku bisa beribadah sebagai hamba yang tidak merasa memiliki amal, tetapi merasa memiliki Engkau.”

Mursyid memandangnya dari kejauhan, lalu berkata lirih, “Engkau telah sampai pada pintu ketiga, anakku. Tetapi ketahuilah, bahwa pintu ini bukanlah akhir. Masih ada perjalanan yang lebih panjang. Engkau telah fana, kini engkau harus baqa. Engkau telah lenyap, kini engkau harus kembali. Engkau telah mati, kini engkau harus hidup. Engkau telah melihat bahwa engkau tidak ada, kini engkau harus melihat bahwa Allah ada, dan engkau adalah hamba-Nya. 

Itulah kesempurnaan: engkau kembali ke dunia dengan hati yang telah melihat Allah, tetapi dengan tubuh yang tetap melayani manusia.”

Malam itu, ribat dipenuhi dengan keheningan yang sangat dalam. Salik tidak lagi merasa dirinya sebagai salik. Ia merasa dirinya sebagai hamba yang tidak memiliki nama. Ia tidak lagi merasa memiliki perjalanan. Ia merasa bahwa perjalanan itu adalah milik Allah. Ia tidak lagi merasa memiliki tujuan. Ia merasa bahwa tujuan itu adalah Allah. 

Dan dalam keheningan itu, ia mendengar bisikan yang sangat halus, yang tidak berasal dari telinga, tetapi dari hati: “Engkau telah sampai, tetapi engkau belum sampai. Engkau telah melihat, tetapi engkau belum melihat. Engkau telah fana, tetapi engkau belum baqa. Teruslah berjalan, sebab perjalanan menuju Allah itu tidak pernah berakhir.”

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutnya Tajalliy-4

Sabtu, 24 Oktober 2026

Pujian Setinggi Langit KDM kepada Gibran: "Runtuhkan Tembok Simpati"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-66)

Leaderline: Pujian setinggi langit Kang Dedi Mulyadi (KDM) kepada Gibran bukan sekadar salah bicara. Melainkan sebuah pertaruhan politik yang gagal membaca denyut nadi pendukungnya sendiri. Alih-alih menuai simpati. Manuver itu justru memicu gelombang kepergian massal dari basis massa yang selama ini mengidolakannya. Mengapa KDM begitu nekad melakukannya?

Cermin Sebuah Paradoks

Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah cermin dari sebuah paradoks. Sosok yang dibangun sebagai representasi kejujuran rakyat kecil tiba-tiba terlihat sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan yang justru sedang mereka kritik.

Satu kalimat pujian telah meruntuhkan tembok simpati. Yang justru telah dibangunnya bertahun-tahun.

Ketika KDM menyebut Gibran, “Jarang berucap, tapi sekali berucap bisa mengguncang dunia.” Respons publik bukanlah kekaguman. Melainkan kemarahan.

Jutaan netizen yang selama ini mengaku sebagai pendukung atau penggemar KDM berbalik arah secara serempak.

Seorang warganet menulis, “Hilang simpatiku padamu, oh ternyata gitu ya.” Yang lain menyindir, “Habis Mulyono terbit Mulyadi,” dan “Kirain suhu… Ternyata...?”.

Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Pujian tersebut dilontarkan tepat ketika publik sedang marah terhadap Gibran. Terkait polemik ijazah dan wacana pemakzulan.

Di tengah kegaduhan itu, KDM memilih untuk pasang badan. Bukan berdiri di sisi rakyat yang kecewa.

Mengapa KDM Melakukan Itu?

Pertanyaannya kemudian. Mengapa KDM melakukan itu? Jawabannya terletak pada logika elektoral yang dingin.

Nama KDM melesat di berbagai survei. Wacana duet Gibran-KDM untuk Pilpres 2029 mulai bergema di ruang publik.

Pujian itu bukan ekspresi ketulusan. Melainkan bagian dari strategi membangun poros politik baru. Sebuah co-branding antara populisme KDM dan mesin kekuasaan yang masih melekat pada nama Jokowi.

Namun, strategi itu mengabaikan satu variabel krusial. Pendukung KDM bukanlah massa yang bisa dipindahkan seenaknya.

Mereka adalah pemilih yang menempatkan integritas di atas elektabilitas. Dan bagi mereka, berkoalisi dengan simbol kekuasaan yang sedang mereka persoalkan adalah sebuah pengkhianatan.

Yang paling ironis. Pujian itu justru datang dari video lama yang diunggah ulang. Artinya, KDM tidak sedang menyesuaikan diri dengan situasi terkini. Melainkan masa lalunya sendiri yang mengejarnya.

Ini menunjukkan bahwa akomodasi terhadap Gibran bukanlah kalkulasi segar. Melainkan pola yang tampaknya sudah tertanam sejak lama.

Bagi pendukungnya. Penyingkapan ini terasa seperti menemukan bahwa sosok yang mereka kagumi selama ini menyimpan kartu yang selama ini disembunyikan.

Kepercayaan runtuh bukan karena satu kalimat,. Melainkan karena kalimat itu membuka pintu pada kesadaran yang lebih luas. Bahwa KDM mungkin selama ini bermain di dua kaki.

Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah pelajaran tentang batas kesabaran publik. Mereka tidak serta-merta menolak Gibran karena kebijakannya. Tetapi karena mereka merasa dikhianati oleh seseorang yang mereka anggap berbicara untuk mereka.

Dalam politik populisme. Hubungan antara tokoh dan pendukungnya dibangun di atas asumsi kesamaan nasib dan keberpihakan.

Ketika asumsi itu retak. Retaknya tidak bisa diperbaiki dengan retorika. KDM boleh saja tetap percaya bahwa duet dengan Gibran adalah jalan menuju kekuasaan. Tetapi ia harus menerima kenyataan bahwa jalan itu dibangun di atas puing-puing kepercayaan yang telah ia hancurkan sendiri.

Kritik yang paling menghunjam bukan terletak pada apa yang KDM katakan. Melainkan pada apa yang pujian itu ungkap tentang logika tersembunyi di balik populisme elektoral yang ia bangun.

Paradoks pertama: KDM adalah produk dari politik “adab. Tetapi ia memilih membela sosok yang justru sedang diuji soal integritas formalnya.

KDM membangun narasi politiknya di atas dikotomi moral antara “yang jujur dan dekat rakyat” melawan “yang palsu dan bagian dari lingkaran kekuasaan”.

Namun, pujiannya kepada Gibran. Yang ia sebut “kuat secara etika” dan memiliki “adab” yang terbentuk dari tradisi Jawa. Dilontarkan tepat setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah setingkat SMA.

Bagi pendukungnya, ini bukan sekadar pujian. Ini adalah pengkhianatan atas kerangka moral yang KDM sendiri bangun. Seorang pendukung menulis:

“Mengguncang dunia itu dimulai dari kejujuran kang. Kalau diawali dengan kepalsuan dan pelanggaran konstitusi itu namanya mengguncang tatanan hukum”.

Kalimat itu bukan caci maki. Melainkan dakwaan bahwa KDM telah melanggar kontrak sosial dengan basis massanya sendiri.

Paradoks kedua: Pendukung KDM bukanlah massa yang “dimiliki” oleh KDM; Mereka adalah pemilih yang meminjamkan loyalitasnya dengan syarat.

Survei menunjukkan KDM unggul jauh di atas Gibran. Dalam simulasi cawapres 2029, dengan 21 persen berbanding 14,2 persen.

Angka itu bukan warisan oligarki. Melainkan akumulasi kepercayaan dari orang-orang yang melihat KDM sebagai representasi “orang biasa” yang berhasil.

Tetapi ketika KDM memuji Gibran. Loyalitas itu ditarik kembali secara massal dan dalam waktu singkat.

Ini membuktikan bahwa basis dukungan KDM bersifat kondisional, bukan personal. Ia dipinjamkan selama KDM dianggap konsisten. Ia ditarik begitu konsistensi itu retak.

Sedang Menghitung 2029?

KDM mungkin mengira popularitasnya adalah modal yang bisa ia belanjakan untuk transaksi politik. Tetapi ia salah membaca sifat modal itu. Ia bukan miliknya. Melainkan titipan.

Paradoks ketiga. Dan yang paling tajam. Timing pujian itu mengungkap bahwa KDM sedang menghitung 2029, bukan 2026.

Nama KDM melesat di survei, dan wacana duet Gibran-KDM mulai disebarkan oleh pendukung Jokowi-Gibran.

Pujian KDM bukan ekspresi ketulusan. Melainkan akomodasi terhadap mesin kekuasaan yang masih bisa memberinya tiket menuju panggung nasional.

Namun, akomodasi itu dilakukan dengan mengorbankan aset yang justru menjadi alasan mesin itu meliriknya. Basis massa anti-kemapanan. Jika KDM bergerak terlalu jauh ke dalam lingkaran Jokowi-Gibran, ia kehilangan alasan eksistensi elektoralnya. Jika ia menolak, ia kehilangan akses ke sumber daya kekuasaan.

Pujian itu adalah upaya menyenangkan dua pihak sekaligus. Dan justru karena itu, ia mengecewakan pihak yang paling menentukan: Pendukungnya sendiri.

Kesimpulan kritisnya: Yang terjadi pada pendukung KDM bukanlah sekadar kekecewaan sesaat. Melainkan penyingkapan bahwa kontrak populisme mereka selama ini bersifat asimetris.

Mereka mengira KDM berbicara untuk mereka; KDM ternyata sedang berbicara kepada calon mitra koalisinya di 2029. Loyalitas mereka dipinjamkan; KDM memperlakukannya seolah-olah bisa dialihkan.

Dan ketika mereka pergi. Mereka tidak pergi karena satu kalimat. Tetapi karena kalimat itu membuktikan bahwa selama ini mereka mungkin hanya bagian dari strategi. Bukan tujuan dari strategi itu sendiri.

Cag, Ah..! Kumaha sakahoyong Juragan KDM aja lah...!!!

Serial Tasawuf-31, Tajalliy-2: "Tajalli al-Asmā’ wa al-Ṣifāt"



Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Beberapa malam setelah pintu pertama tajalliy terbuka. Salik datang lagi ke ribat dengan langkah yang lebih ringan. Tetapi hatinya justru lebih bergetar. Ia telah mulai menyaksikan bahwa tidak ada pelaku hakiki selain Allah. Kini matanya seperti terbuka pada lapisan lain dari dunia. Ia melihat jejak-jejak yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya. 

Pepohonan tidak lagi sekadar pepohonan. Air tidak lagi sekadar air. Wajah-wajah manusia tidak lagi sekadar wajah. Di balik semuanya. Ia seperti mendengar bisikan nama-nama yang halus. Seakan alam ini adalah kitab yang baru saja dibuka huruf-hurufnya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di bawah pohon tua di halaman ribat. Malam itu tidak ada angin. Tetapi daun-daun bergerak perlahan. Seakan ikut berzikir. Beliau memandang salik dengan tatapan yang tenang, lalu berkata, “Engkau datang membawa cahaya di wajahmu. Tetapi juga membawa kebingungan di matamu. Ceritakanlah, apa yang engkau lihat?”

Salik duduk bersimpuh. “Guru, sejak malam itu aku tidak lagi melihat perbuatan sebagai milikku. Aku melihat tangan yang memberi. Tetapi di baliknya aku melihat Yang Maha Memberi. Aku melihat orang yang menyakitiku. Tetapi di baliknya aku melihat Yang Mengizinkan."

"Namun kini ada sesuatu yang lain. Aku melihat keindahan pada makhluk. Lalu aku merasa melihat Keindahan yang lain. Aku melihat kekuatan pada manusia. Lalu aku merasa melihat Kekuatan yang lain. Aku takut, Guru. Apakah aku sedang melihat Allah?”

Mursyid tersenyum tipis, tetapi matanya tajam. “Hati-hati, anakku. Pertanyaan itu bisa menjadi pintu cahaya. Bisa juga menjadi pintu bahaya. Ketahuilah, apa yang engkau lihat bukanlah dzat Allah."

Engkau tidak melihat Allah dengan matamu. Dan engkau tidak akan pernah bisa melihat dzat-Nya di dunia ini. Yang engkau lihat adalah ātsār — jejak-jejak. Yang engkau saksikan adalah pantulan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada cermin makhluk. Inilah pintu kedua: tajallī al-asmā’ wa al-ṣifāt. Penyingkapan keesaan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.”

Salik menghela napas. “Jadi aku tidak melihat Allah, Guru?”

“Engkau melihat perbuatan-Nya. Lalu engkau melihat jejak nama-Nya. Tetapi engkau tidak melihat dzat-Nya. Orang yang menyangka melihat dzat Allah dengan mata kepala telah tersesat. Sebab Allah tidak terjangkau oleh penglihatan. Tidak terikat oleh ruang. Tidak dibatasi oleh waktu."

"Adapun orang yang melihat jejak-jejak-Nya. Lalu ia mengenali Yang Meninggalkan Jejak. Itulah orang yang diberi cahaya. Engkau melihat tulisan. Lalu engkau mengenali Penulisnya. Engkau tidak melihat Penulis itu sendiri. Tetapi engkau tahu bahwa tulisan ini bukan tulisan yang muncul tanpa penulis.”

“Apakah yang dimaksud dengan nama-nama dan sifat-sifat itu, Guru?”

Mursyid mengambil sebutir embun dari daun dengan ujung jarinya. “Lihatlah embun ini. Ia kecil, tetapi ia memantulkan cahaya. Engkau tidak melihat matahari di dalam embun, tetapi engkau melihat cahayanya. 

Begitu pula makhluk: ia tidak memuat dzat Allah. Tetapi ia memantulkan jejak nama-nama-Nya. Engkau melihat ar-Raḥmān pada kasih seorang ibu. Engkau melihat ar-Raḥīm pada kelembutan seorang guru. Engkau melihat al-‘Alīm pada pengetahuan yang Allah titipkan pada manusia. Engkau melihat al-Qadīr pada kekuatan yang Allah berikan pada tubuh. Engkau melihat al-Laṭīf pada kehalusan yang tersembunyi di balik sesuatu yang kasar. Engkau melihat al-Khabīr pada pengetahuan Allah tentang rahasia-rahasia hatimu.”

“Tetapi Guru,” kata salik, “bukankah itu berarti makhluk memiliki sifat-sifat itu? Bukankah ibuku benar-benar penyayang, dan guruku benar-benar berilmu?”

“Benar, anakku, tetapi dengan adab yang harus engkau jaga. Kasih ibumu itu nyata, tetapi kasih itu adalah karunia yang Allah ciptakan padanya. Ilmu gurumu itu nyata, tetapi ilmu itu adalah titipan yang Allah berikan padanya. 

Engkau tidak boleh mengatakan bahwa ibumu adalah ar-Raḥmān, sebab ar-Raḥmān itu nama Allah yang sempurna, yang kasih-Nya tidak terbatas. Engkau tidak boleh mengatakan bahwa gurumu adalah al-‘Alīm, sebab al-‘Alīm itu pengetahuan Allah yang tidak pernah salah dan tidak pernah lupa. 

Makhluk memiliki sifat yang terbatas. Yang Allah berikan sebagai pinjaman. Adapun Allah memiliki sifat yang sempurna. Yang tidak berkurang dan tidak berubah.”

Salik menunduk. “Aku mulai memahami, Guru. Tetapi aku merasa ada bahaya di dalamnya.”

“Engkau benar, dan rasa takut itu adalah penjagamu. Ketahuilah, wahai salik, bahwa pintu ini memiliki dua jurang. Jurang pertama adalah tasybīh. Menyerupakan Allah dengan makhluk. Engkau melihat kasih pada manusia, lalu engkau membayangkan kasih Allah seperti kasih manusia. Itu kesesatan. 

Jurang kedua adalah ta‘ṭīl. Mengosongkan Allah dari sifat-sifat-Nya. Engkau melihat kasih pada manusia, lalu engkau berkata bahwa Allah tidak memiliki kasih. Itu juga kesesatan. 

Adapun jalan yang benar adalah engkau menetapkan sifat Allah sebagaimana Dia menetapkannya untuk diri-Nya. Tanpa menyerupakan dan tanpa menolak. Engkau berkata, ‘Allah Maha Mendengar, tetapi pendengaran-Nya tidak seperti pendengaran makhluk. Allah Maha Melihat, tetapi penglihatan-Nya tidak seperti penglihatan makhluk.’”

“Bagaimana aku bisa menjaga adab di pintu ini, Guru?”

Mursyid mengangkat tangannya dan menunjuk pada langit. “Ada tiga adab. Pertama, jangan engkau menceritakan apa yang engkau lihat kepada orang yang belum siap menerimanya. Sebab cahaya yang terlalu terang bisa membutakan mata yang belum terbiasa. 

Kedua, jangan engkau merasa bahwa engkau telah sampai. Orang yang merasa telah sampai itu justru berhenti. Orang yang merasa masih dalam perjalanan itu terus berjalan. 

Ketiga, jangan engkau meninggalkan syariat. Semakin tinggi engkau naik. Semakin ketat engkau menjaga perintah dan larangan. Sebab pohon yang tinggi itu lebih mudah diterpa angin. Maka akarnya harus lebih kuat.”

Salik merenung. “Guru, kadang aku melihat keindahan pada wajah seseorang, lalu aku merasa melihat Keindahan Allah. Apakah itu benar?”

“Engkau melihat jejak al-Jamīl — Yang Maha Indah. Pada keindahan yang Allah ciptakan. Itu benar, selama engkau tidak menyangka bahwa keindahan itu adalah dzat Allah. Keindahan wajah itu adalah ciptaan. Adapun Keindahan Allah itu tidak terjangkau oleh mata. 

Bila engkau melihat keindahan lalu engkau mengingat Allah, itu cahaya. Bila engkau melihat keindahan lalu engkau terpaku pada makhluk, itu tabir. Bila engkau melihat keindahan lalu engkau menyangka bahwa Allah menjelma pada wajah itu, itu kesesatan. Maka jadikanlah setiap keindahan sebagai jendela. Bukan sebagai tujuan.”

“Bagaimana aku bisa membedakan tajalli yang benar dari khayalan, Guru?”

Mursyid tersenyum. “Tandanya ada empat. Pertama, tajalli yang benar membuatmu semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semakin engkau melihat keagungan Allah, semakin engkau merasa kecil. 

Kedua, tajalli yang benar membuatmu semakin penyayang pada makhluk, bukan semakin menghina mereka. Sebab engkau melihat bahwa setiap makhluk adalah cermin yang memantulkan nama-nama Allah, meskipun cermin itu berbeda-beda kejernihannya. 

Ketiga, tajalli yang benar membuatmu semakin takut kepada Allah dan semakin berharap pada-Nya. Engkau tidak merasa aman, tetapi engkau juga tidak berputus asa. 

Keempat, tajalli yang benar membuatmu semakin menjaga rahasia. Engkau tidak ingin berbicara tentang penglihatanmu, kecuali kepada orang yang mampu memahaminya. Engkau lebih suka diam dan beramal.”

Salik meneteskan air mata. “Ya Allah, aku ingin melihat jejak-Mu, tetapi aku takut tersesat.”

“Rasa takut itu adalah cahaya, anakku. Orang yang takut tersesat lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman. Teruslah berjalan dengan adab. Engkau telah membuka pintu kedua." 

Masih ada pintu ketiga: tajallī al-dzāt. Tetapi itu bukan urusan kita untuk membicarakannya panjang-panjang. Cukuplah engkau tahu bahwa setiap pintu menuntut adab yang lebih tinggi. Dan setiap cahaya menuntut kerendahan hati yang lebih dalam.”

Mursyid bangkit, lalu berjalan ke tepi kolam kecil di halaman ribat. Air kolam itu tenang, memantulkan bulan dan bintang-bintang. “Lihatlah air ini,” katanya. “Ia memantulkan langit, tetapi ia bukan langit. Ia memantulkan bulan, tetapi ia bukan bulan. Bila engkau mengaduk air itu, pantulan itu akan pecah. 

Begitu pula hatimu: bila ia tenang, ia memantulkan nama-nama Allah. Bila ia gelisah oleh hawa nafsu, pantulan itu akan pecah. Maka jagalah ketenangan hatimu dengan zikir, dan jernihkanlah cerminmu dengan taubat.”

Salik menatap kolam itu. Ia melihat bulan di dalam air, dan ia tidak menyangka bahwa bulan itu jatuh ke dalam kolam. Ia melihat pantulan, dan ia mengenali Yang Dipantulkan. Ia tidak lagi bingung antara air dan bulan, antara makhluk dan Allah. Ia melihat makhluk sebagai cermin, dan Allah sebagai Yang Maha Nyata di balik cermin itu.

“Guru,” katanya lirih, “jadi selama ini aku mencari Allah di tempat yang salah. Aku mencari-Nya di luar. Padahal Ia lebih dekat dari apa pun. Tetapi aku juga tidak boleh menyangka bahwa Ia menyatu dengan diriku.”

“Engkau telah memahami, anakku. Allah itu dekat. Tetapi dekat-Nya tidak seperti dekatnya benda dengan benda. Allah itu dekat dengan ilmu-Nya. Dengan pengawasan-Nya. Dengan pertolongan-Nya. 

Engkau tidak bisa lari dari-Nya, tetapi engkau juga tidak bisa memuat-Nya. Maka jangan engkau mencari-Nya dengan membayangkan, tetapi carilah Dia dengan ketaatan. Jangan engkau mengaku melihat-Nya dengan mata. Tetapi lihatlah jejak-Nya dengan hati.”

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Indah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mengetahui. Aku tidak melihat dzat-Mu, tetapi aku melihat jejak-Mu. Jangan Engkau biarkan aku menyerupakan-Mu dengan makhluk, dan jangan Engkau biarkan aku menolak sifat-sifat-Mu. Jadikanlah penglihatanku sebagai cahaya, dan adabku sebagai penjaganya. Agar aku bisa melihat jejak-Mu, tetapi tetap menjadi hamba yang rendah hati.”

Malam itu, ribat terasa penuh dengan keheningan yang dalam. Salik tidak lagi melihat dunia sebagai kumpulan benda-benda yang terpisah dari Allah. Ia melihat dunia sebagai cermin yang memantulkan nama-nama Allah, tetapi ia tidak menyangka bahwa cermin itu adalah Allah. 

Ia melihat keindahan, lalu ia mengingat Yang Maha Indah. Ia melihat kekuatan, lalu ia mengingat Yang Maha Kuat. Ia melihat kasih, lalu ia mengingat Yang Maha Pengasih. Dan hatinya pun dipenuhi dengan rasa syukur yang tidak mampu ia ucapkan dengan kata-kata.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Nantikan Tajalliy-3

Kerugian Negara Bukan Korupsi”: Jalan Pintas Menuju Dekriminalisasi"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-67) Di penghujung Oktober 2026, sebuah usulan dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengg...