Kamis, 15 Oktober 2026

Sunah yang Terangkat: "Ketika Tangan Menjadi Lidah bagi Jiwa"


Leaderline: Ada sebuah isyarat yang sering luput dari mata yang terburu-buru. Ia bukan gerakan besar yang mengguncang panggung. Melainkan gestur sunyi yang lahir dari kedalaman batin. Ia adalah saat seorang hamba mengangkat kedua tangannya ke langit. Menengadahkan telapak yang kosong kepada Yang Maha Kaya. Seolah jemari-jemari itu adalah lidah yang tak mampu berkata. Namun justru paling fasih dalam menyampaikan rintihan jiwa. Inilah sunah yang agung. Sebuah adab dalam berdoa yang telah lama dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Menjadi warisan ruhani bagi setiap mukmin yang merindukan kedekatan dengan Tuhannya.

Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar

Mengangkat tangan ketika berdoa bukanlah sekadar tradisi tanpa dasar. Melainkan ibadah yang memiliki pijakan yang kokoh dalam sumber-sumber otoritatif Islam.

Para ulama telah menegaskan bahwa perbuatan ini termasuk sunah yang dianjurkan. Bahkan menjadi salah satu adab utama agar doa dikabulkan. 

Imam al-Nawawi rahimahullah secara tegas menyatakan bahwa menghadap kiblat. Dan mengangkat kedua tangan semasa berdoa adalah mustahab. Yakni sesuatu yang disunahkan. 

Bahkan Imam al-Bukhari rahimahullah. Dengan kecerdasan fikihnya yang tajam. Mengabadikan anjuran ini sebagai bab tersendiri dalam kitab sahihnya yang monumental. Dengan judul Bāb Raf‘il-Aidī fid-Du‘ā’. Bab Mengangkat Kedua Tangan Semasa Berdoa. Ini bukan bab yang dibuat tanpa dasar. Melainkan kesaksian seorang ahli hadis terbesar bahwa praktik ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari sunah Nabi.

Dalil yang Melimpah

Dalil-dalil tentang sunah ini begitu melimpah. Seolah langit sendiri menjadi saksi atas setiap tetes pengharapan yang dipanjatkan. 

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika meminta air. Berwudu dengannya. Lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abi ‘Amir,” sehingga terlihatlah putih ketiak beliau. 

Dalam lanjutan doanya. Beliau memohon: “Ya Allah, jadikanlah dia di hari Kiamat antara orang yang terbaik daripada kalangan manusia”. 

Gambaran fisik ini. Terlihatnya bagian putih ketiak. Bukanlah detail yang sia-sia. Ia adalah potret keintiman seorang hamba yang begitu tenggelam dalam munajat. Hingga tubuhnya sendiri menjadi saksi atas kesungguhan doanya. 

Begitu pula riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya sehingga terlihat putih dua ketiak beliau. Hadis-hadis ini bukan sekadar catatan sejarah. Melainkan cermin yang memantulkan betapa seriusnya Nabi dalam memohon kepada Allah.

Namun, yang paling menukik ke dalam relung hati adalah hadis yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhan kamu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia. 

Dia malu kepada hamba-Nya sekiranya hamba-Nya itu mengangkat kedua tangan kepada-Nya. Lalu Dia membiarkannya pulang dengan tangan kosong”. 

Betapa agungnya janji ini. Allah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Menyatakan rasa malu untuk menolak hamba yang datang dengan tangan menengadah. Ini adalah jaminan yang membuat jiwa bergetar. Setiap tetes keringat di dahi. Setiap gemetar di bibir. Dan setiap jengkal tangan yang diangkat bukanlah usaha yang sia-sia. Langit tidak pernah diam terhadap tangan yang terbuka.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan tuntunan praktis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila engkau memohon kepada Allah. Maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu. Dan jangan dengan bagian luarnya. 

Dan ketika kamu telah usai. Maka usaplah mukamu dengan keduanya”. Di sini, sunah mengangkat tangan bukan hanya soal posisi. Tetapi juga soal makna. Telapak tangan yang menghadap ke langit adalah isyarat kerendahan hati. Pengakuan bahwa segala sesuatu hanya bisa datang dari atas. Dari Dzat Yang Maha Tinggi. Ia adalah bahasa tubuh dari jiwa yang fakir. Yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali dari Sang Pemberi.

Para ulama kemudian merinci adab ini dengan penuh kasih sayang. Dalam kitab I‘ānatut-Thālibīn, disebutkan bahwa disunahkan mengangkat kedua tangan yang suci setinggi kedua bahu. Dan menyapu muka dengannya setelah berdoa. 

Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdy menambahkan dengan bijak: “Batas maksimal mengangkat tangan adalah setinggi kedua bahu. Kecuali apabila keadaan sudah amat kritis. Maka ketika itu bolehlah melewati tinggi kedua bahu”. 

Ini menunjukkan bahwa sunah ini bukan aturan yang kaku. Melainkan fleksibel mengikuti desakan keadaan. Ketika musibah datang menerjang. Ketika paceklik melanda. Ketika air mata tak lagi bisa dibendung. Tangan boleh diangkat lebih tinggi lagi. Sebagai ungkapan bahwa tiada lagi tempat berlindung selain Allah.

Mengingkari Sunah

Alangkah ironisnya. Di zaman yang serba canggih ini. Masih ada yang meragukan sunah yang begitu jelas. Mereka mempertanyakan keabsahannya. Seolah hadis-hadis sahih yang tak terhitung jumlahnya tidak cukup menjadi bukti. 

Padahal, Syaikh Muhammad bin Allan al-Siddiqi al-Syafi‘i dalam kitab al-Futūḥātur-Rabbāniyyah telah mengingatkan: “Telah ada hadis-hadis yang tak terbatas banyaknya mengenai mengangkat tangan ke langit ketika berdoa. Barang siapa menganggap itu tidak ada. Maka ia telah keliru”. 

Keraguan seperti ini bukanlah hal baru. Ia telah disinggung oleh para ulama terdahulu sebagai penyakit yang lahir dari kelalaian terhadap warisan sunah.

Maka, ketika tangan diangkat dalam doa. Ia bukan sekadar gerakan mekanis. Ia adalah pernyataan tauhid bahwa hanya Allah yang mampu mengubah keadaan. Ia adalah pengakuan bahwa kita adalah pengemis di hadapan-Nya. Yang menengadahkan tangan bukan karena kita punya sesuatu untuk ditawarkan. Tetapi justru karena kita tidak punya apa-apa. 

Dan Allah, dengan sifat Maha Pemalu dan Maha Mulia. Berjanji untuk tidak membiarkan tangan itu kembali dalam keadaan kosong. Inilah sunah yang menukik. 

Sebuah janji dari Yang Maha Tinggi kepada hamba yang merendah. Bahwa langit akan selalu menjawab siapa saja yang berani mengangkat tangannya.

Keengganan mengangkat tangan saat berdoa. Adalah penyakit lahir dari kelalaian terhadap warisan sunah. Itu sama artinya dengan mengingkari sunah. Nah, masih meragukan?

Serial Tasawuf-22 al-Jailani: "Tazkiyatun Nafs, Menyucikan Cermin Hati dari Debu Dunia"


Leaderline: Tahun 545 Hijriah. Usia Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah menginjak senja. Jenggotnya memutih. Punggungnya mulai membungkuk. Tetapi matanya. Oh, matanya. Masih menyimpan cahaya yang membuat siapa pun yang memandangnya. Merasa sedang berdiri di hadapan lautan yang tak bertepi. Malam itu. Di madrasahnya di Babul Azaj, Baghdad. Beliau duduk di atas sajadah yang telah menemaninya lebih dari empat puluh tahun. Di hadapannya. Ratusan murid duduk bersila. Menunggu dengan hati yang berdebar.


Cermin yang Tertutup Debu

Seorang murid muda bernama Salman mengangkat tangan. "Wahai Syekh, aku telah menaiki tujuh maqam yang engkau ajarkan. Aku telah bertaubat, aku telah berzuhud, aku telah bertawakal. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Ada kotoran yang tidak bisa aku bersihkan. Ada noda yang tidak bisa aku hapus. Apa yang harus aku lakukan?"

Al-Jailani tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah berabad-abad. "Duduklah, anakku," ujarnya. Dengan suara yang dalam. Seperti gemuruh sungai di kejauhan. "Malam ini, aku akan bercerita tentang cermin yang tertutup debu."

Kisah Cermin di Dalam Rumah

"Ada seorang lelaki yang memiliki cermin antik warisan dari kakeknya. Cermin itu indah. Berbingkai emas. Konon katanya. Siapa pun yang melihat ke dalamnya. Akan melihat wajah sejatinya. Bukan wajah fisik. Melainkan wajah jiwanya."

"Lelaki itu menggantung cermin itu di dinding kamarnya. Setiap pagi, ia melihat ke dalamnya. Tetapi ia tidak melihat apa-apa. Hanya kabut. Hanya kegelapan. Hanya debu."

"Ia bertanya kepada ibunya: 'Ibu, mengapa aku tidak bisa melihat wajahku di cermin ini?'"

"Ibunya menjawab: 'Karena cermin itu tertutup debu, anakku. Engkau harus membersihkannya.'"

"Lelaki itu mengambil kain dan mengelap cermin itu. Tetapi debunya terlalu tebal. Ia mengelap lebih keras. Tetapi debunya sudah mengeras. Seperti kerak yang menempel bertahun-tahun. Ia mencoba air. Tetapi air tidak cukup. Ia mencoba sabun. Tetapi sabun tidak cukup. Ia mencoba segala cara. Tetapi cermin itu tetap gelap."

"Akhirnya, ia duduk di depan cermin itu dan menangis. 'Aku tidak bisa membersihkannya,' katanya. 'Aku tidak bisa melihat wajahku.'"

"Seorang bijak datang kepadanya dan berkata: 'Engkau tidak bisa membersihkan cermin itu sendiri. Engkau butuh seorang guru. Seorang yang telah membersihkan cerminnya sendiri. Dan yang tahu bagaimana membersihkan cerminmu.'"

Al-Jailani memandang Salman. "Hati adalah cermin. Dosa adalah debu. Dan engkau. Engkau tidak bisa membersihkan cermin hatimu sendiri. Engkau butuh tazkiyatun nafs. Penyucian jiwa. Dan engkau butuh seorang mursyid yang telah membersihkan cerminnya sendiri."

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Jiwa dari Akhlak Tercela

Al-Jailani kemudian menjelaskan hakikat tazkiyatun nafs. Menurut beliau, tazkiyatun nafs adalah ajaran yang berorientasi pada pembentukan sifat terpuji. Dan pembersihan diri dari sifat yang tercela. 

Semakin tinggi sifat terpuji manusia. Semakin menambah kesucian jiwanya. Beliau menegaskan bahwa tujuan dari penyucian jiwa adalah untuk mencapai kedudukan makrifat. Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Dan untuk mencapai itu, seorang hamba harus melewati proses mujahadah. Perjuangan melawan hawa nafsu. Buah dari mujahadah adalah makrifat.

Tazkiyatun nafs dalam pandangan al-Jailani bukanlah sekadar teori. Melainkan ajaran praktis yang menekankan pada peningkatan amal di dunia yang berorientasi pada akhirat. Proses penjernihan hati melalui tazkiyatun nafs menjadi bagian yang mutlak untuk dilalui oleh seorang hamba.

"Ketahuilah, anak-anakku," ujar al-Jailani, "bahwa hati manusia itu seperti cermin yang sudah dipoles. Jika engkau biarkan debu menempel di atasnya. Ia akan kehilangan kilaunya. Jika engkau biarkan kotoran mengeras di permukaannya. Ia tidak akan lagi memantulkan cahaya. Tetapi jika engkau membersihkannya setiap hari. Ia akan menjadi cermin yang jernih. Engkau akan melihat wajah sejatimu di dalamnya."

Takhalliy, Tahalliy, Tajalliy: Tiga Tahap Penyucian

Al-Jailani kemudian membuka pintu yang lebih dalam. Beliau menjelaskan bahwa penyucian jiwa memiliki tiga tahap yang harus dilalui seorang salik: takhalliy, tahalliy, dan tajalliy.

Takhalliy adalah tahap pertama. Membersihkan diri dari sifat-sifat tercela. Ini adalah tahap yang paling berat. Karena manusia cenderung mencintai sifat-sifat buruknya. 

Al-Jailani menyebutkan bahwa dalam kitab Fathur Rabbani. Takhalliy terdiri dari delapan komponen: Syirik lahir dan syirik batin, cinta dunia, sombong, ujub, munafik, dusta, bakhil, dan zalim. Sifat-sifat ini adalah akhlak tercela yang harus dihindari oleh setiap pencari kebenaran.

Tahalliy adalah tahap kedua. Menghiasi diri dengan akhlak mulia. Setelah cermin dibersihkan. Ia harus dihiasi. 

Al-Jailani menyebutkan tiga belas macam akhlak mulia dalam Fathur Rabbani: taubat, wara', qana'ah, ridha, zuhud, tawakal, ikhlas, sabar, syukur, jujur, takwa, uzlah, dan khalwat.

Tajalliy adalah tahap ketiga. Merasakan pancaran cahaya Ilahi dalam kehidupan. Ini adalah buah dari takhalliy dan tahalliy. Ketika cermin hati telah dibersihkan dan dihiasi. Ia akan memantulkan cahaya Allah. Al-Jailani menyebutkan empat maqam dalam tahap ini: makrifat, 'arif billah, wali qutb, dan sufi.

"Takhalliy adalah kematian," ujar al-Jailani. "Tahalliy adalah kehidupan baru. Dan tajalliy adalah cahaya yang menerangi kehidupan baru itu."

Delapan Pilar Tasawuf

Al-Jailani kemudian mengungkapkan bahwa tasawuf dibangun di atas delapan pilar, masing-masing meneladani seorang nabi.

Pertama, dermawan. Meneladani Nabi Ibrahim AS. Beliau tidak pernah makan sendiri. Selalu mencari orang untuk diajak makan bersama. 

Kedua, ridha. Meneladani Nabi Ishaq AS. Ridha berarti menerima segala ketentuan Allah dengan hati lapang. 

Ketiga, sabar. Meneladani Nabi Ayyub AS. Beliau diuji sakit bertahun-tahun, kehilangan anak-anak. Harta. Tetapi tetap sabar dan tegar.

Keempat, isyarah (petunjuk batin). Meneladani Nabi Zakaria AS. Beliau diberi tanda oleh Allah untuk tetap beribadah meski dalam keterbatasan. 

Kelima, sederhana dalam berpakaian. Meneladani Nabi Musa AS. 

Keenam, keterasingan batin dari dunia. Meneladani Nabi Yahya AS. 

Ketujuh, mengembara. Meneladani Nabi Isa AS. 

Dan kedelapan, miskin dalam beragama. Meneladani Nabi Muhammad SAW. Yang sangat membutuhkan Allah dalam segala kehidupannya.

"Setiap nabi adalah cermin," ujar al-Jailani. "Engkau tidak bisa melihat wajahmu sendiri. Tetapi engkau bisa melihat wajah mereka. Dan ketika engkau melihat wajah mereka. Engkau akan melihat apa yang Allah ingin engkau menjadi."

Menuju Cermin yang Bersih

Malam semakin larut. Lampu-lampu minyak di madrasah mulai meredup. Tetapi mata para murid justru semakin bercahaya. Al-Jailani bangkit dari duduknya. Membetulkan serbannya. Berkata dengan suara yang menggema di seluruh ruangan:

"Anak-anakku. Tazkiyatun nafs bukanlah tujuan. Melainkan jalan. Ia bukanlah akhir. Melainkan awal. Ketika engkau telah membersihkan cermin hatimu. Engkau tidak berhenti. Engkau terus membersihkannya. Setiap hari. Setiap saat. Karena debu dunia tidak pernah berhenti menempel. Dan syaitan tidak pernah berhenti menggoda. "

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa membersihkan cermin hatimu sendiri. Engkau butuh Allah. Engkau butuh seorang mursyid yang telah membersihkan cerminnya sendiri. Maka carilah guru yang hatinya bersih. Dan bersihkanlah hatimu di hadapannya. "

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Salman menunduk. Air matanya jatuh ke sajadah. Ia kini mengerti. Kotoran yang mengganjal di hatinya bukanlah sesuatu yang bisa ia bersihkan sendiri. Ia butuh Allah. Ia butuh mursyid. Ia butuh tazkiyatun nafs.

Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang penyucian jiwa. Tetapi dengan tekad baru untuk membersihkan cermin hati mereka. Satu debu demi satu debu. Hingga mereka bisa melihat wajah sejati mereka. Wajah yang telah lama hilang. Wajah yang rindu untuk kembali kepada Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Tasawuf-23 al-Jailani, "Takhalliy, Membersihkan diri dari sifat tercela

Rabu, 14 Oktober 2026

Sikap FPP TNI Menyoal Kasus Gibran: Pengawal Konstitusi atau Bayang-Bayang Kekuasaan?



(Secangkir Anggur Merah, Edisi-61)

Spotlight: Forum Purnawirawan Prajurit (FPP) TNI tiba-tiba menjelma menjadi oposisi paling vokal di republik ini. Di tengah sikap dingin para elite politik yang memilih berlindung di balik tembok prosedur. Sekelompok jenderal dan perwira purnawirawan ini justru mengambil posisi yang jarang ditemui: Menuntut pertanggungjawaban konstitusional atas pencalonan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang tidak pernah terbukti memiliki ijazah setara SMA. Namun, sikap FPP TNI ini tidak lahir di ruang hampa. Ia adalah produk dari kekecewaan yang menahun terhadap pembiaran elite. Sekaligus ujian bagi batas antara kenegarawanan dan politik kekuasaan.

Siapa Sebenarnya FPP TNI?

FPP TNI adalah forum yang beranggotakan purnawirawan. Bukan institusi TNI aktif. Perlu ditegaskan sejak awal: Purnawirawan bukan lagi bagian dari struktur kedinasan TNI. Sehingga pandangan politik mereka tidak dengan sendirinya dapat disebut sebagai sikap TNI sebagai institusi. 

Forum ini digerakkan oleh nama-nama besar. Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi (Mantan Wakil Panglima TNI dan Menteri Agama); Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto (Mantan KSAD); Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto (Mantan KSAL); Marsekal TNI (Purn) Hanafie Asnan (Mantan KSAU). 

Mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang pernah memegang komando tertinggi di angkatan masing-masing. Yang tahu persis apa artinya sumpah prajurit dan kesetiaan pada konstitusi.

Surat Terbuka yang Menghunjam

Pada 9 Oktober 2026, FPP TNI melayangkan surat terbuka kepada tujuh lembaga negara: Presiden RI, Ketua DPR, Ketua MPR, Ketua MK, Ketua MA, Jaksa Agung, dan Kapolri. 

Juru bicara mereka, Laksamana Pertama TNI (Purn) Moeryono Aladin, menyebut polemik ijazah Gibran sebagai “skandal bangsa” yang mempermalukan Indonesia di mata dunia. Ia menegaskan bahwa sesuatu yang sejak awal dianggap tidak sah tidak serta-merta menjadi sah hanya karena telah berlangsung dalam waktu lama. Ini adalah serangan langsung terhadap logika MK yang menyatakan cacat syarat pencalonan telah kedaluwarsa oleh pelantikan.

Surat terbuka itu bukan sekadar protes administratif. Ia adalah deklarasi bahwa konstitusi tidak boleh menjadi alat negosiasi politik. FPP TNI meminta seluruh penyelenggara negara menghormati dan melaksanakan putusan MK secara jujur, konsekuen, dan transparan. Mereka juga mengajak masyarakat menjaga ketertiban sambil tetap mengawal proses konstitusional.

Dari Desakan Mundur hingga Wacana Pemakzulan

FPP TNI tidak berhenti pada surat terbuka. Mereka secara terbuka mendesak Gibran mundur dari jabatan wakil presiden. “Gibran, Anda tidak pantas jadi wapres. Mengundurkan diri adalah jalan paling baik untuk Anda,” kata Moeryono Aladin. 

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. FPP TNI merencanakan penggalangan dukungan pemakzulan dengan berkirim surat kepada DPR, MPR, dan pimpinan partai politik, berlandaskan Pasal 7A UUD 1945. 

Perwakilan FPP TNI, Dwi Cahyo, menyatakan bahwa pengiriman surat resmi menjadi agenda utama. Sebelum menggelar pertemuan tatap muka dengan para ketua partai.

Lebih tajam lagi, dalam sebuah podcast, Moeryono menyebut jabatan Gibran sebagai wakil presiden sudah “haram” dan harus diganti. “Wapres tidak memenuhi syarat itu kan sudah haram. Harus diganti, harus diganti. Dan orang sudah tidak bisa hormat lagi,” ujarnya. 

Ia juga mempertanyakan mengapa tidak ada satu pun komentar dari petinggi negeri ini setelah putusan MK pada 6 Oktober 2026. Padahal persoalan itu menyangkut wakil presiden.

Kemarahan terhadap Respons Gibran

Yang membuat FPP TNI semakin geram adalah respons Gibran sendiri. Ketika ditanya soal ijazah SMA, Gibran menjawab dengan nada meremehkan: “Ya, kalau saya nggak lulus SMA, kan saya nggak mungkin bisa kuliah. Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura”. 

Jawaban itu dianggap sebagai bentuk arogansi intelektual yang mengabaikan fakta hukum. Moeryono Aladin merespons dengan kata-kata yang keras: “Itu goblok, bodoh, tidak punya rasa malu”. Ia menegaskan bahwa Gibran tidak pantas menjadi wakil presiden.

Kritik ini bukan semata soal emosi. Ada logika mendasar yang dilanggar Gibran. Bisa kuliah bukan bukti otomatis lulus SMA. Banyak jalur pendidikan tinggi yang tidak mensyaratkan ijazah SMA secara formal, terutama di luar negeri. Yang diminta publik bukanlah argumen “logis” dari Gibran. Melainkan dokumen. Dan dokumen itu, menurut MK sendiri, tidak pernah ditemukan.

Antara Kenegarawanan dan Bayang-Bayang Politik

Namun, sikap FPP TNI tidak bebas dari kecurigaan. Sebagian pihak menilai bahwa di balik retorika konstitusi, ada kepentingan politik yang lebih besar: Mendorong pemakzulan Gibran untuk melemahkan posisi Jokowi dan keluarganya. 

Analis politik menyebut bahwa jika Prabowo memang ingin menyingkirkan Jokowi secara penuh. Pasti akan dieksekusi melalui pemakzulan. Dan jika dia memakzulkan Gibran, PDIP akan mendukung. 

FPP TNI sendiri, dalam pertemuan dengan Mahfud MD, membahas delapan poin tuntutan. Termasuk pemakzulan Gibran. Ini menunjukkan bahwa isu ijazah bukan satu-satunya agenda mereka.

Pertanyaan kritisnya: Mengapa baru sekarang? Mengapa FPP TNI tidak sevokal ini ketika pencalonan Gibran pertama kali dipersoalkan pada 2023? Mengapa suara mereka baru mengeras setelah MK mengeluarkan putusan yang secara implisit mengakui cacat syarat pencalonan? Apakah ini murni gerakan moral, Atau ada momentum politik yang dimanfaatkan?

Jawabannya mungkin ada di antara keduanya. FPP TNI adalah produk dari sistem politik yang telah lama membiarkan standar ganda. Mereka adalah pengawal konstitusi yang terlambat bangun. Tetapi tetap lebih baik bangun daripada tidak sama sekali. 

Namun, publik berhak bertanya: Jika tujuan mereka adalah menegakkan konstitusi. Mengapa tidak ada suara yang sama kerasnya ketika konflik kepentingan Anwar Usman merusak integritas MK pada 2023?

Refleksi: Suara dari Masa Lalu, Ujian bagi Masa Depan

Sikap FPP TNI terhadap kasus Gibran adalah cermin dari kerapuhan demokrasi Indonesia. Ketika lembaga-lembaga negara yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi justru memilih diam atau berlindung di balik prosedur, purnawirawan militer. Yang secara formal tidak lagi memiliki kekuasaan. Justru mengambil peran yang seharusnya diisi oleh DPR, MPR, dan MK. Ini adalah ironi yang pahit.

Namun, FPP TNI juga bukan malaikat. Mereka adalah bagian dari elite yang pernah berkuasa. Dan sikap mereka tidak lepas dari kepentingan politik yang lebih luas. Yang dibutuhkan publik bukan sekadar suara keras. Melainkan konsistensi. 

Jika FPP TNI benar-benar mengawal konstitusi, mereka harus berlaku sama terhadap semua pelanggaran. Bukan hanya terhadap Gibran. Jika tidak, maka sikap mereka hanyalah politik kekuasaan. Yang dibungkus jubah kebangsaan. Dan republik ini sudah terlalu lelah dengan jubah-jubah semacam itu. Nuwun sewu, Jenderal...!!

Serial Tasawuf-21, Landasan Tasawuf Syekh Abdul Qodir al-Jailani: "Tujuh Maqam Menuju Hadirat Ilahi"


Spotlight: Tahun berganti. Madrasah tua di Babul Azaj itu masih berdiri kokoh di tepi sungai Tigris. Namun malam itu, suasana berbeda. Al-Jailani tidak duduk di tempat biasanya. Ia berdiri di depan para muridnya. Memandang mereka satu per satu dengan mata yang dalam. Mata yang telah melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Mata yang telah menangis di hadapan Allah dalam kesunyian malam yang panjang.

Tujuh Maqam Menuju Allah

"Anak-anakku..!" Ujarnya dengan suara yang menggema. "Selama ini kita telah berbicara tentang syariat dan hakikat. Dua sayap yang tidak boleh terpisah. Malam ini. Aku akan membuka pintu yang lebih dalam. Aku akan menunjukkan kepadamu tujuh anak tangga yang harus engkau daki. Jika engkau ingin sampai kepada Allah."

Para murid terdiam. Angin malam berhembus melalui jendela yang terbuka. Membawa aroma tanah basah dari sungai. Al-Jailani membuka sebuah kitab tua. Al-Ghunyah Lithalibi Thoriqi al-Haq. Kitab yang ia tulis untuk para pencari kebenaran.

"Ketahuilah," lanjutnya, "bahwa aku tidak menyebut ini sebagai maqamat dalam kitabku. Aku menyebutnya sebagai tahapan-tahapan yang harus dilalui seorang hamba. Tetapi para ulama setelahku menyebutnya maqamat. Stasiun-stasiun spiritual yang harus dilalui seorang salik. Dalam perjalanannya menuju Allah."

Seorang murid mengangkat tangan. "Wahai Syekh, apa sajakah tujuh tahapan itu?"

Al-Jailani tersenyum. Lalu menjawab dengan suara yang tenang namun berwibawa: "Taubat, zuhud, tawakal, syukur, sabar, ridha, dan jujur."

Maqam Pertama: Taubat. Pintu Gerbang yang Terbuka

Al-Jailani memulai dengan taubat. "Taubat adalah langkah awal sebelum memulai perjalanan menuju Tuhan," ujarnya. "Ia adalah pintu gerbang pertama yang harus engkau lewati. Tanpa taubat, engkau tidak akan pernah bisa memasuki istana-Nya."

Beliau menjelaskan bahwa taubat bukanlah sekadar ucapan di lisan. Taubat adalah kembali kepada Allah dengan melepaskan ikatan dosa dari hati. Lalu melaksanakan setiap hak Tuhan. 

Taubat yang sejati memiliki unsur-unsur: Penyesalan dalam hati. Permohonan ampun. Meninggalkan perbuatan buruk. Dan niat sepenuh hati untuk tidak mengulanginya.

"Dalam pandanganku," kata al-Jailani. "Taubat ada dua macam. Pertama, taubat yang berkaitan dengan sesama manusia. Taubat ini tidak terealisasi kecuali dengan menghindari kezaliman. Memberikan hak kepada yang berhak. Dan mengembalikan kepada pemiliknya. 

Kedua, taubat yang berkaitan dengan hak Allah. Taubat ini dilakukan dengan selalu mengucapkan istighfar dengan lisan. Menyesal dalam hati. Dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang."

Beliau menatap para muridnya. "Ketahuilah, anak-anakku. Taubat bukanlah peristiwa sekali seumur hidup. Ia adalah perjalanan yang berkelanjutan. Setiap kali engkau jatuh, bangkitlah. Setiap kali engkau berdosa, kembalilah. Pintu taubat tidak pernah tertutup selama ruh masih berada dalam raga."

Maqam Kedua: Zuhud, Melepaskan Dunia dari Hati

Setelah taubat, al-Jailani membahas zuhud. Namun ia segera mengoreksi kesalahpahaman yang umum. "Banyak orang menyangka zuhud berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Itu bukan zuhud yang aku maksud," ujarnya tegas.

Beliau menjelaskan bahwa zuhud ada dua macam. Pertama, zahid hakiki. Yaitu mengeluarkan dunia dari hati. Kedua, mutazahid shuwari. Yaitu zuhud lahir. Mengeluarkan dunia dari hadapan.

"Namun hal ini tidak berarti bahwa seorang zahid hakiki menolak rezeki yang diberikan Allah kepadanya," lanjutnya. "Ia mengambilnya. Lalu menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah. Ia memiliki dunia di tangannya. Tetapi tidak di hatinya."

Al-Jailani menegaskan bahwa zuhud bukanlah penolakan total terhadap dunia. Zuhud adalah pengendalian hati agar tidak diperbudak oleh harta, kekayaan, dan kesenangan. "Dunia ini adalah jembatan. Lewatilah jembatan itu. Dan janganlah engkau membangun rumah di atasnya."

Beliau mengingatkan bahwa zuhud membawa kesucian kepada diri seorang salik. "Zuhud mengajarkan betapa engkau harus menahan hawa nafsu dan menolak semua tuntutannya. 

Ketahuilah bahwa hawa nafsulah puncak segala kecelakaan diri, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, nafsu tidak boleh dijadikan teman. Justru harus dianggap sebagai lawan dan pembinasa manusia."

Maqam Ketiga: Tawakal, Menyerahkan Segalanya kepada Allah

Al-Jailani kemudian membahas tawakal. "Tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Tuhan dan membersihkan diri dari gelapnya pilihan," ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa tawakal adalah salah satu gerbang utama dalam keimanan. "Seseorang yang benar-benar telah mengenal Tuhannya melalui makrifat yang telah dicapainya. Tidak mungkin sifat tawakal tersisih dari dirinya. Sebab, mustahil jika seseorang yang mengenal Tuhannya tidak memiliki jiwa tawakal."

"Tawakal bukanlah meninggalkan usaha," tegas al-Jailani. "Tawakal adalah menggantungkan hati kepada Allah. Setelah melakukan usaha semaksimal mungkin. Engkau berusaha dengan tanganmu. Tetapi hatimu bergantung kepada Allah. Engkau bekerja dengan tubuhmu. Tetapi jiwamu berserah kepada-Nya."

Beliau mengingatkan bahwa tawakal adalah buah dari tauhid. Pengakuan bahwa tidak ada yang berkuasa selain Allah. "Jika engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Engkau tidak perlu gelisah. Karena Allah tidak pernah tidur. Engkau tidak perlu takut. Karena Allah tidak pernah lalai."

Maqam Keempat: Syukur, Mengakui Nikmat dengan Hati, Lisan, dan Perbuatan

Al-Jailani melanjutkan ke maqam syukur. "Syukur adalah mengakui nikmat Allah dengan hati. Mengucapkannya dengan lisan. Dan menggunakannya untuk ketaatan dengan anggota badan."

Beliau menjelaskan bahwa syukur bukanlah sekadar ucapan "alhamdulillah". Syukur adalah kesadaran yang mendalam bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Dan tindakan nyata yang menunjukkan kesadaran itu.

"Orang yang bersyukur tidak pernah merasa kurang," ujar al-Jailani. "Ia melihat apa yang ia miliki. Bukan apa yang ia tidak miliki. Ia bersyukur atas kesehatan sebelum sakit. Atas kekayaan sebelum miskin. Atas waktu luang sebelum sibuk. Ia tahu bahwa nikmat Allah tidak terhitung. Dan ia tidak pernah merasa cukup untuk bersyukur."

Beliau mengingatkan bahwa syukur adalah kunci kebahagiaan. "Jika engkau bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya kepadamu. Tetapi jika engkau kufur, azab Allah sangat pedih."

Maqam Kelima: Sabar, Fondasi Segala Kebaikan

Al-Jailani kemudian membahas sabar. Maqam yang ia sebut sebagai fondasi segala bangunan spiritual. "Bangunan kenabian, kerasulan, kewalian, makrifatullah, dan mahabbah," katanya. "Berdiri kokoh di atas fondasi kesabaran."

Beliau mengilustrasikan maqam spiritual sebagai bangunan yang memiliki struktur dan unsur-unsur yang membentuknya. "Tanpa fondasi, sebuah bangunan fisik tidak akan dapat berdiri. Hal yang sama juga terjadi pada bangunan spiritual."

Dalam kitab Al-Fathur Rabbani, al-Jailani berkata: "Jangan kau lari dari ujian, karena ujian yang dihadapi dengan kesabaran merupakan fondasi spiritual bagi setiap bangunan kebaikan. Fondasi atas bangunan kenabian, kerasulan, kewalian, makrifat, dan mahabbah adalah bala'. Jika kau tidak bersabar atas bala', maka kau tidak memiliki fondasi."

"Sabar bukanlah berdiam diri tanpa usaha," tegas al-Jailani. "Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah kepada selain Allah. Sambil tetap berusaha semaksimal mungkin. 

Sabar adalah tali yang mengikat jiwamu ketika musibah datang, sehingga engkau tetap tenang, tetap berhusnuzan kepada Allah, tetap yakin bahwa apa yang Dia berikan adalah yang terbaik."

Maqam Keenam dan Ketujuh: Ridha dan Jujur

Al-Jailani menutup majelis malam itu dengan membahas dua maqam terakhir: ridha dan jujur.

"Ridha adalah menerima segala ketentuan Allah dengan lapang dada. Ia adalah buah dari mahabbah, cinta kepada Allah. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dzat yang engkau cintai tidak akan pernah menyakitimu."

"Dan jujur (ash-shidq)," lanjutnya, "adalah kejujuran yang mencakup segala aspek. Jujur dalam perkataan. Jujur dalam perbuatan. Jujur dalam niat. Dan jujur dalam hubungan dengan Allah. Orang yang jujur tidak pernah berpura-pura. Ia adalah dirinya sendiri. Di hadapan manusia maupun di hadapan Allah."

"Ketahuilah," ujar al-Jailani dengan suara yang menggema, "tujuh maqam ini bukanlah tujuan. Mereka adalah jalan. Tujuan akhirnya adalah makrifat. Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Dan makrifat tidak akan dicapai apabila syariat dilanggar."

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pengetahuan tentang tujuh maqam. Tetapi dengan tekad baru untuk menapaki jalan itu. Satu anak tangga demi satu anak tangga. Hingga mereka sampai kepada Dzat yang telah menciptakan tangga itu.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Bersambung ke Serial-22: Tazkiyatun Nafs, Penyucian Jiwa dalam Tasawuf al-Jailani

Sunah yang Terangkat: "Ketika Tangan Menjadi Lidah bagi Jiwa"

Leaderline : Ada sebuah isyarat yang sering luput dari mata yang terburu-buru. Ia bukan gerakan besar yang mengguncang panggung. Melainkan g...