(Secangkir Anggur Merah, Edisi-66)
Leaderline: Pujian setinggi langit Kang Dedi Mulyadi (KDM) kepada Gibran bukan sekadar salah bicara. Melainkan sebuah pertaruhan politik yang gagal membaca denyut nadi pendukungnya sendiri. Alih-alih menuai simpati. Manuver itu justru memicu gelombang kepergian massal dari basis massa yang selama ini mengidolakannya. Mengapa KDM begitu nekad melakukannya?
Cermin Sebuah Paradoks
Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah cermin dari sebuah paradoks. Sosok yang dibangun sebagai representasi kejujuran rakyat kecil tiba-tiba terlihat sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan yang justru sedang mereka kritik.
Satu kalimat pujian telah meruntuhkan tembok simpati. Yang justru telah dibangunnya bertahun-tahun.
Ketika KDM menyebut Gibran, “Jarang berucap, tapi sekali berucap bisa mengguncang dunia.” Respons publik bukanlah kekaguman. Melainkan kemarahan.
Jutaan netizen yang selama ini mengaku sebagai pendukung atau penggemar KDM berbalik arah secara serempak.
Seorang warganet menulis, “Hilang simpatiku padamu, oh ternyata gitu ya.” Yang lain menyindir, “Habis Mulyono terbit Mulyadi,” dan “Kirain suhu… Ternyata...?”.
Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Pujian tersebut dilontarkan tepat ketika publik sedang marah terhadap Gibran. Terkait polemik ijazah dan wacana pemakzulan.
Di tengah kegaduhan itu, KDM memilih untuk pasang badan. Bukan berdiri di sisi rakyat yang kecewa.
Mengapa KDM Melakukan Itu?
Cermin Sebuah Paradoks
Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah cermin dari sebuah paradoks. Sosok yang dibangun sebagai representasi kejujuran rakyat kecil tiba-tiba terlihat sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan yang justru sedang mereka kritik.
Satu kalimat pujian telah meruntuhkan tembok simpati. Yang justru telah dibangunnya bertahun-tahun.
Ketika KDM menyebut Gibran, “Jarang berucap, tapi sekali berucap bisa mengguncang dunia.” Respons publik bukanlah kekaguman. Melainkan kemarahan.
Jutaan netizen yang selama ini mengaku sebagai pendukung atau penggemar KDM berbalik arah secara serempak.
Seorang warganet menulis, “Hilang simpatiku padamu, oh ternyata gitu ya.” Yang lain menyindir, “Habis Mulyono terbit Mulyadi,” dan “Kirain suhu… Ternyata...?”.
Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Pujian tersebut dilontarkan tepat ketika publik sedang marah terhadap Gibran. Terkait polemik ijazah dan wacana pemakzulan.
Di tengah kegaduhan itu, KDM memilih untuk pasang badan. Bukan berdiri di sisi rakyat yang kecewa.
Mengapa KDM Melakukan Itu?
Pertanyaannya kemudian. Mengapa KDM melakukan itu? Jawabannya terletak pada logika elektoral yang dingin.
Nama KDM melesat di berbagai survei. Wacana duet Gibran-KDM untuk Pilpres 2029 mulai bergema di ruang publik.
Pujian itu bukan ekspresi ketulusan. Melainkan bagian dari strategi membangun poros politik baru. Sebuah co-branding antara populisme KDM dan mesin kekuasaan yang masih melekat pada nama Jokowi.
Namun, strategi itu mengabaikan satu variabel krusial. Pendukung KDM bukanlah massa yang bisa dipindahkan seenaknya.
Mereka adalah pemilih yang menempatkan integritas di atas elektabilitas. Dan bagi mereka, berkoalisi dengan simbol kekuasaan yang sedang mereka persoalkan adalah sebuah pengkhianatan.
Yang paling ironis. Pujian itu justru datang dari video lama yang diunggah ulang. Artinya, KDM tidak sedang menyesuaikan diri dengan situasi terkini. Melainkan masa lalunya sendiri yang mengejarnya.
Ini menunjukkan bahwa akomodasi terhadap Gibran bukanlah kalkulasi segar. Melainkan pola yang tampaknya sudah tertanam sejak lama.
Bagi pendukungnya. Penyingkapan ini terasa seperti menemukan bahwa sosok yang mereka kagumi selama ini menyimpan kartu yang selama ini disembunyikan.
Kepercayaan runtuh bukan karena satu kalimat,. Melainkan karena kalimat itu membuka pintu pada kesadaran yang lebih luas. Bahwa KDM mungkin selama ini bermain di dua kaki.
Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah pelajaran tentang batas kesabaran publik. Mereka tidak serta-merta menolak Gibran karena kebijakannya. Tetapi karena mereka merasa dikhianati oleh seseorang yang mereka anggap berbicara untuk mereka.
Dalam politik populisme. Hubungan antara tokoh dan pendukungnya dibangun di atas asumsi kesamaan nasib dan keberpihakan.
Ketika asumsi itu retak. Retaknya tidak bisa diperbaiki dengan retorika. KDM boleh saja tetap percaya bahwa duet dengan Gibran adalah jalan menuju kekuasaan. Tetapi ia harus menerima kenyataan bahwa jalan itu dibangun di atas puing-puing kepercayaan yang telah ia hancurkan sendiri.
Kritik yang paling menghunjam bukan terletak pada apa yang KDM katakan. Melainkan pada apa yang pujian itu ungkap tentang logika tersembunyi di balik populisme elektoral yang ia bangun.
Paradoks pertama: KDM adalah produk dari politik “adab. Tetapi ia memilih membela sosok yang justru sedang diuji soal integritas formalnya.
KDM membangun narasi politiknya di atas dikotomi moral antara “yang jujur dan dekat rakyat” melawan “yang palsu dan bagian dari lingkaran kekuasaan”.
Namun, pujiannya kepada Gibran. Yang ia sebut “kuat secara etika” dan memiliki “adab” yang terbentuk dari tradisi Jawa. Dilontarkan tepat setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah setingkat SMA.
Bagi pendukungnya, ini bukan sekadar pujian. Ini adalah pengkhianatan atas kerangka moral yang KDM sendiri bangun. Seorang pendukung menulis:
“Mengguncang dunia itu dimulai dari kejujuran kang. Kalau diawali dengan kepalsuan dan pelanggaran konstitusi itu namanya mengguncang tatanan hukum”.
Kalimat itu bukan caci maki. Melainkan dakwaan bahwa KDM telah melanggar kontrak sosial dengan basis massanya sendiri.
Paradoks kedua: Pendukung KDM bukanlah massa yang “dimiliki” oleh KDM; Mereka adalah pemilih yang meminjamkan loyalitasnya dengan syarat.
Survei menunjukkan KDM unggul jauh di atas Gibran. Dalam simulasi cawapres 2029, dengan 21 persen berbanding 14,2 persen.
Angka itu bukan warisan oligarki. Melainkan akumulasi kepercayaan dari orang-orang yang melihat KDM sebagai representasi “orang biasa” yang berhasil.
Tetapi ketika KDM memuji Gibran. Loyalitas itu ditarik kembali secara massal dan dalam waktu singkat.
Ini membuktikan bahwa basis dukungan KDM bersifat kondisional, bukan personal. Ia dipinjamkan selama KDM dianggap konsisten. Ia ditarik begitu konsistensi itu retak.
Sedang Menghitung 2029?
KDM mungkin mengira popularitasnya adalah modal yang bisa ia belanjakan untuk transaksi politik. Tetapi ia salah membaca sifat modal itu. Ia bukan miliknya. Melainkan titipan.
Paradoks ketiga. Dan yang paling tajam. Timing pujian itu mengungkap bahwa KDM sedang menghitung 2029, bukan 2026.
Nama KDM melesat di survei, dan wacana duet Gibran-KDM mulai disebarkan oleh pendukung Jokowi-Gibran.
Pujian KDM bukan ekspresi ketulusan. Melainkan akomodasi terhadap mesin kekuasaan yang masih bisa memberinya tiket menuju panggung nasional.
Namun, akomodasi itu dilakukan dengan mengorbankan aset yang justru menjadi alasan mesin itu meliriknya. Basis massa anti-kemapanan. Jika KDM bergerak terlalu jauh ke dalam lingkaran Jokowi-Gibran, ia kehilangan alasan eksistensi elektoralnya. Jika ia menolak, ia kehilangan akses ke sumber daya kekuasaan.
Pujian itu adalah upaya menyenangkan dua pihak sekaligus. Dan justru karena itu, ia mengecewakan pihak yang paling menentukan: Pendukungnya sendiri.
Kesimpulan kritisnya: Yang terjadi pada pendukung KDM bukanlah sekadar kekecewaan sesaat. Melainkan penyingkapan bahwa kontrak populisme mereka selama ini bersifat asimetris.
Mereka mengira KDM berbicara untuk mereka; KDM ternyata sedang berbicara kepada calon mitra koalisinya di 2029. Loyalitas mereka dipinjamkan; KDM memperlakukannya seolah-olah bisa dialihkan.
Dan ketika mereka pergi. Mereka tidak pergi karena satu kalimat. Tetapi karena kalimat itu membuktikan bahwa selama ini mereka mungkin hanya bagian dari strategi. Bukan tujuan dari strategi itu sendiri.
Cag, Ah..! Kumaha sakahoyong Juragan KDM aja lah...!!!



