Jumat, 06 Februari 2026

Sulitnya Menerima Nasihat

Sulitnya menerima nasihat umumnya berakar dari ego, kesombongan, dan hati yang keras, yang membuat seseorang merasa lebih tahu atau merasa terancam posisinya. 

Faktor lain meliputi kebiasaan bertindak sendiri, pengalaman buruk/trauma, ketidak-percayaan pada pemberi nasihat, serta kecenderungan mengikuti hawa nafsu. 

Nasihat seringkali terasa pahit karena bertentangan dengan keinginan diri.

Berikut adalah poin-poin penting mengapa seseorang sulit menerima nasihat:Ego dan Kesombongan (Tawadu yang Hilang): Rasa sombong membuat hati enggan menerima kebenaran, terutama jika nasihat tersebut datang dari orang yang dianggap lebih rendah.

Merasa Paling Benar (Keras Kepala): Seseorang yang sulit dinasihati seringkali teguh pada pendiriannya sendiri meskipun ada bukti atau argumen yang salah.
Hawa Nafsu: Nasihat dianggap menghalangi keinginan pribadi, membuat hal yang dilarang justru lebih menarik.

Pengalaman Buruk dan Trauma: Trauma masa lalu atau konflik dengan pemberi nasihat menyebabkan seseorang menutup diri.

Ketidaksepakatan Nilai: Adanya perbedaan nilai atau tujuan antara penerima dan pemberi nasihat.

Kurangnya Kesadaran Diri (Introspeksi): Ketidakmampuan untuk mengenali kekurangan diri sendiri.

Cara Melunakkan Hati agar Mudah Menerima Nasihat:Meningkatkan Tawaduk: Menata hati untuk mau menerima kebenaran dari siapa pun.

Mendekatkan Diri pada Ilmu: Menghadiri majelis ilmu dan mendengarkan nasihat baik.

Mengingat Kematian: Ziarah kubur atau mengingat akhirat dapat melembutkan hati yang keras.

Muhasabah (Introspeksi): Rutin mengevaluasi kesalahan diri sendiri.

Memurnikan Niat: Ikhlas dalam menerima masukan demi perbaikan diri.
Menasihati orang lain mudah dan ringan. Tetapi menerima nasihat itu berat, perlu jihad. (Al-Ghazali, Ayyuhal Walad).

Mendengarkan nasihat orang lain atas kekurangan, aib, atau akhlak tercela yang terdapat pada diri kita memang pahit, tetapi ia menjadi obat kalau kita menerimanya dengan tulus ikhlas.

Sementara ada cara mudah agar kita ikhlas menerima nasihat orang seperti diterangkan oleh Imam Al-Ghazali.

Banyak dari kita menyadari bahwa nasihat orang lain itu benar. Kita mengakui bahwa apa yang disampaikan orang lain mengenai kekurangan kita sebagai nasihat yang tulus itu mengandung kebenaran. Tetapi kita didorong oleh nafsu dan ego mengingkarinya. Ketika diberitahu kekurangan kita, kita cenderung menolak, resisten, dan reaktif.

Kita tidak segera merendahkan hati untuk mendengarkan nasihat orang tua, sahabat dekat, atau saudara yang menghendaki kebaikan kita. Sebaliknya, kita terlalu tinggi hati untuk menerima catatan-catatan nasihat orang lain untuk kebaikan diri kita ke depan.

Imam Al-Ghazali mengutarakan tips agar kita mudah, ringan, ikhlas, lapang dada, dan rendah hati dalam menerima masukan dan nasihat orang lain. Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk mengubah cara pandang kita atas nasihat.

Menurutnya, nasihat itu jangan dianggap pelajaran atau dikte yang menggurui kita. Anggap saja nasihat sebagai suara yang mengingatkan pada hewan berbisa di balik pakaian kita yang jelas membahayakan.

فإن الأخلاق السيئة حيات وعقارب لداغة فلو نبهنا منبه على أن تحت ثوبنا عقربا لتقلدنا منه منة وفرحنا به واشتغلنا بإزالة العقرب وإبعادها وقتلها

Artinya, “Akhlak tercela adalah ular dan kalajengking berbisa yang menyengat. Kalau ada seseorang memberi tahu bahwa di balik pakaian kita terdapat kalajengking, niscaya kita akan menerimanya sebagai anugerah dan merasa senang dengan itu, lalu kita mulai menyingkirkan, menjauhkan, dan membunuh hewan berbisa tersebut,” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 69).

Tetapi, kebanyakan kita, kata Imam Al-Ghazali, membenci habis-habisan orang yang menasihati kita dan memberitahu kekurangan kita. Kalau ada anggapan demikian pada diri kita, maka fenomena itu menunjukkan kelemahan iman kita.


Kita menjadi dendam dan naik pitam terhadap orang sekitar yang menasihati kita.
Adapun ular atau kalajengking menyakiti fisik kita dan sengatannya terasa sehari bahkan tidak lebih dari sehari.

Sedangkan daya rusak akhlak tercela dan kekurangan diri kita lainnya pada lubuk hati (seharusnya) lebih dikhawatirkan terbawa selamanya hingga mati atau ribuan tahun.

ثم إنا لا نفرح بمن ينبهنا عليها ولا نشتغل بإزالتها بل نشتغل بمقابلة الناصح بمثل مقالته فنقول له وأنت أيضا تصنع كيت وكيت وتشغلنا العداوة معه عن الانتفاع بنصحه ويشبه أن يكون ذلك من قساوة القلب التي أثمرتها كثرة الذنوب وأصل كل ذلك ضعف الإيمان

Artinya, “Tapi kemudian kita tidak senang dengan orang yang mengingatkan kita perihal akhlak tercela tersebut dan tidak sibuk menghilangkan akhlak tercela itu. Kita justru sibuk menentang orang yang menasihati kita dengan membalikkan perkataannya. Kita mengatakan, ‘Kamu pun melakukan ini itu.’ Kita disibukkan untuk memusuhinya daripada mengambil manfaat dari nasihatnya. Penolakan nasihat lebih karena keras hati yang disebabkan oleh kebanyakan dosa. Sumbernya kelemahan iman,” (Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/69).

Imam Al-Ghazali berdoa agar Allah mengilhami kita petunjuk-Nya, memperlihatkan kekurangan kita, menyibukkan diri kita untuk mengobati akhlak kita yang tercela, dan menggerakkan kita untuk berterima kasih kepada mereka yang menasihati dan menunjukkan kekurangan kita dengan kemurahan dan karunia-Nya.

Semoga Allah membimbing kita untuk rendah hati mendengarkan dan menerima nasihat orang lain (orang tua, saudara, sahabat, tetangga, dan lainnya), serta berterima kasih kepada mereka yang telah sudi memberikan catatan atas kekurangan diri kita.
Semoga bermanfaat
Wallahu a’lam bisshawab

Kamis, 05 Februari 2026

Perlawanan Aswaja terhadap Kaum Wahabi

Lembaga Dakwah PBNU (LD-PBNU) secara proaktif menolak dan meminta pemerintah melarang penyebaran paham Wahabi di Indonesia karena dianggap mengancam tradisi lokal, keharmonisan umat, serta berpotensi memicu radikalisme dan tindakan takfiri. 

Perlawanan NU ini berakar pada perbedaan teologis dan budaya: NU mendukung Islam inklusif-tradisionalis, sementara Wahabi mendorong pemurnian Islam (salafi) yang sering membid'ahkan tradisi.

Berikut adalah poin-poin utama terkait NU melawan Wahabi:

Rekomendasi Pelarangan: LD-PBNU secara resmi meminta pemerintah melarang penyebaran paham Wahabi, yang dianggap memicu bibit terorisme dan radikalisme.

Alasan Penolakan: Wahabi dianggap kaku, antitradisi (seperti tahlilan, maulid), dan sering melakukan takfiri (mengafirkan sesama muslim).

Sejarah Pendirian NU: Salah satu semangat didirikannya NU oleh KH Hasyim Asy'ari adalah untuk membendung paham Wahabi yang saat itu mulai masuk ke Nusantara.

Strategi Perlawanan: NU melakukan langkah-langkah struktural (rekomendasi formal) maupun kultural (menjelaskan bahaya Wahabi) untuk mengedukasi masyarakat, serta melakukan debat terbuka mengenai ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Respon Tokoh: Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Ahmad Fahrurrozi, menegaskan bahwa penolakan difokuskan pada Wahabi takfiri yang tidak sesuai dengan konteks keindonesiaan.

Secara ringkas, perlawanan NU terhadap Wahabisme bertujuan untuk menjaga keutuhan NKRI dan keislaman yang moderat (wasathiyah). 

Sejarah Perlawanan

Terbentuknya Manhaj Ahli Sunah Wal Jama'ah (Aswaja) melalui organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sesunguhnya merupakan bagian dari sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. 

Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma' had Aly Situbondo beberapa waktu lalu, jam'iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. 

Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Fakta sejarah ini akan dapat digunakan untuk memprediksi kehidupan sosial keagamaan di masa-masa yang akan datang. Karena bagaimanapun juga, apa yang dilakukan oleh kaum Wahabi saat itu merupakan goresan noda hitam. Goresan noda hitam inilah yang kini mengubah wajah Islam yang sejatinya pro damai menjadi sangat keras dan mengubah Islam yang semula ramah menjadi penuh amarah.

Sebagaimana dimaklumi, kaum Wahabi adalah sebuah sekte Islam yang kaku dan keras serta menjadi pengikut Muhammad Ibn Abdul Wahab. Ayahnya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim Uyainah pengikut Ahmad Ibn Hanbal. Ibnu Abd Wahab sendiri lahir pada tahun 1703 M/1115 H di Uyainah, masuk daerah Najd yang menjadi belahan Timur kerajaan Saudi Arabia sekarang. 

Dalam perjalanan sejarahnya, Abdul Wahab, sang ayah harus diberhentikan dari jabatan hakim dan dikeluarkan dari Uyainah pada tahun 1726 M/1139 H karena ulah sang anak yang aneh dan membahayakan tersebut. 

Kakak kandungnya, Sulaiman bin Abd Wahab mengkritik dan menolak secara panjang lebar tentang pemikiran adik kandungnya tersebut (as-sawaiq al-ilahiyah fi ar-rad al-wahabiyah). (Abdurrahman Wahid: Ilusi Negara Islam, 2009, hlm. 62).

Pemikiran Wahabi yang keras dan kaku ini dipicu oleh pemahaman keagamaan yang mengacu bunyi harfiah teks al-Qur'an maupun al-Hadits. Ini yang menjadikan Wahabi menjadi sangat anti-tradisi, menolak tahlil, maulid Nabi Saw, barzanji, manaqib, dan sebagainya. 

Pemahaman yang literer ala Wahabi pada akhirnya mengeklusi dan memandang orang-orang di luar Wahabi sebagai orang kafir dan keluar dari Islam. Dus, orang Wahabi merasa dirinya sebagai orang yang paling benar, paling muslim, paling saleh, paling mukmin dan juga paling selamat. 

Mereka lupa bahwa keselamatan yang sejati tidak ditunjukkan dengan klaim-klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara beragama yang ikhlas, tulus dan tunduk sepenuhnya pada Allah Swt.

Namun, ironisnya pemahaman keagamaan Wahabi ini ditopang oleh kekuasaan Ibnu Saud yang saat itu menjadi penguasa Najd. Ibnu Saud sendiri adalah seorang politikus yang cerdas yang hanya memanfaatkan dukungan Wahabi, demi untuk meraih kepentingan politiknya belaka. 

Ibnu Saud misalnya meminta kompensasi jaminan Ibnu Abdul Wahab agar tidak mengganggu kebiasaannya mengumpulkan upeti tahunan dari penduduk Dir'iyyah. Koalisipun dibangun secara permanen untuk meneguhkan keduanya. Jika sebelum bergabung dengan kekuasaan, Ibnu Abdul Wahab telah melakukan kekerasan dengan membid'ahkan dan mengkafirkan orang di luar mereka, maka ketika kekuasaan Ibnu Saud menopangnya, Ibnu Abdul Wahab sontak melakukan kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Pada tahun 1746 M/1159 H, koalisi Ibnu Abdul Wahab dan Ibnu Saud memproklamirkan jihad melawan siapapun yang berbeda pemahaman tauhid dengan mereka. Mereka tak segan-segan menyerang yang tidak sepaham dengan tuduhan syirik, murtad dan kafir. Setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka dianggap murtad, yang oleh karenanya, boleh dan bahkan wajib diperangi. Sementara, predikat muslim menurut Wahabi, hanya merujuk secara eklusif pada pengikut Wahabi, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H, Wahabi menyerang Karbala dan membunuh mayoritas penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di rumah, termasuk anak-anak dan wanita.

Tak lama kemudian, yaitu tahun 1805 M/1220 H, Wahabi merebut kota Madinah. Satu tahun berikutnya, Wahabi pun menguasai kota Mekah. Di dua kota ini, Wahabi mendudukinya selama enam tahun setengah. Para ulama dipaksa sumpah setia dalam todongan senjata. Pembantaian demi pembantaian pun dimulai.

Wahabi pun melakukan penghancuran besar-besaran terhadap bangunan bersejarah dan pekuburan, pembakaran buku-buku selain al-Qur'an dan al-Hadits, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa mau'idzah hasanah sebelum khutbah Jumat, larangan memiliki rokok dan menghisapnya bahkan sempat mengharamkan kopi.

Tercatat dalam sejarah, Wahabi selalu menggunakan jalan kekerasan baik secara doktrinal, kultural maupun sosial. Misalnya, dalam penaklukan jazirah Arab hingga tahun 1920-an, lebih dari 400 ribu umat Islam telah dibunuh dan dieksekusi secara publik, termasuk anak-anak dan wanita. (Hamid Algar: Wahabism, A Critical Essay, hlm. 42). 

Ketika berkuasa di Hijaz, Wahabi menyembelih Syaikh Abdullah Zawawi, guru para ulama Madzhab Syafi'i, meskipun umur beliau sudah sembilan puluh tahun. (M. Idrus Romli: Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi, 2010, hlm. 27). 

Di samping itu, kekayaan dan para wanita di daerah yang ditaklukkan Wahabi, acapkali juga dibawa mereka sebagai harta rampasan perang.

Di sini, setidaknya kita melihat dua hal tipologi Wahabi yang senantiasa memaksakan kehendak pemikirannya. Pertama, ketika belum memiliki kekuatan fisik dan militer, Wahabi melakukan kekerasan secara doktrinal, intelektual dan psikologis dengan menyerang siapapun yang berbeda dengan mereka sebagai murtad, musyrik dan kafir. 

Kedua, setelah mereka memiliki kekuatan fisik dan militer, tuduhan-tuduhan tersebut dilanjutkan dengan kekerasan fisik dengan cara amputasi, pemukulan dan bahkan pembunuhan. 

Ironisnya, Wahabi ini menyebut yang apa yang dilakukannya sebagai dakwah dan amar maruf nahi mungkar yang menjadi intisari ajaran Islam.

Membanjirnya buku-buku Wahabi di Toko Buku Gramedia, Toga Mas, dan sebagainya akhir-akhir ini, hemat saya, adalah merupakan teror dan jalan kekerasan yang ditempuh kaum Wahabi secara doktrinal, intelektual dan sekaligus psikologis terhadap umat Islam di Indonesia. 

Wahabi Konoha

Wahabi Indonesia yang merasa masih lemah saat ini menilai bahwa cara efektif yang bisa dilakukan adalah dengan membid'ahkan, memurtadkan, memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang berada di luar mereka. 

Jumlah mereka yang minoritas hanya memungkinkan mereka untuk melakukan jalan tersebut di tengah-tengah kran demokrasi yang dibuka lebar-lebar untuk mereka.

Ada keyakinan seyakin-yakinnya jika suatu saat nanti kaum Wahabi di negeri ini memiliki kekuasaan yang berlebih dan kekuatan militer di negeri ini, mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan dengan pembantaian dan pembunuhan terhadap sesama muslim yang tidak satu paham dengan mereka. 

Jika wong NU, jam'iyyah Nahdlatul Ulama, dan ormas lain yang satu barisan dengan keislaman yang moderat dan rahmatan lil alamien tidak mampu membentenginya, dapat dibayangkan, Indonesia kelak akan menjadi Arab Saudi jilid kedua. 

Tidak dapat dibayangkan betapa mirisnya jika para kiai dan ulama kita kelak akan menjadi korban pembantaian kaum Wahabi, terutama ketika mereka sedang berkuasa di negeri ini. Naudzubillah wa tsuma naudzubilah min dzalik.

Wallahualam. **

Sulitnya Menerima Nasihat

Sulitnya menerima nasihat umumnya berakar dari ego, kesombongan, dan hati yang keras, yang membuat seseorang merasa lebih tahu atau merasa t...