Minggu, 05 Juli 2026

Dusta di Ruang Sidang

Berikut ini adalah dialog teaterikal, sebuah fragmen teater satu babak, antara seorang pemimpin eksekutif pendusta dan legislator idealis).

Nama Para Tokoh (Hasil Rekayasa):
· Badu: Pemimpin Eksekutif, pria, berjas rapi, senyum hambar, usia 52 th.
· Elin: Legislator, wanita, bercelana panjang, idealis, tatapan tajam, usia 50 th.
· Seorang PELAYAN — pembawa teh, tak berkata banyak.

(Ruangan privat di gedung parlemen. Pukul 19.37 Malam. Meja kayu ukir besar di tengah. Lampu gantung cristal. Dua cangkir teh dingin tak tersentuh).
--------

BADU: (menuangkan teh untuk dirinya sendiri, menawarkan pada Elin dengan gerakan tangan) Tehnya masih hangat Elin. Silakan diminum..!

ELIN: (tak bergerak) Saya tidak datang untuk minum teh, Pak Badu.

BADU: (tersenyum lebar, terlalu lebar) Ah, Elin. Kamu selalu serius. Di luar sana mereka bilang kita ini musuh. Tapi di sini kita bisa bicara seperti manusia, bukan?

ELIN: Musuh politik memang. Tapi malam ini saya datang dengan satu pertanyaan. Cukup satu saja.

BADU: (mengangkat alis) Bertanyalah. Aku suka pertanyaan. Pertanyaan membuat orang berpikir. Dan orang yang berpikir menandakan eksistensi kemanusiaannya. Itu kata filsuf Rene Descartes.

ELIN: Dari dulu kau pintar berfilsafat. Bahkan kau pernah berkata, kita adalah orang yang sulit dibohongi. Saya tahu ucapan itu. Saya yang menulisnya di buku saya dua puluh tahun lalu.

BADU: (tertawa kecil, getir) Lihat. Kau bahkan mengingat tulisanku lebih baik daripada aku. Kalau begitu silakan, apa yang mau ditanyakan..!

(Hening. Elin menatap Badu. Badu menahan tatapan. Di sela-sela keheningan, Pelayan masuk mengganti teh lalu pergi lagi).

ELIN: Program perumahan rakyat. Anggaran tiga puluh lima triliun. Jumlah rumah terbangun di lapangan: nihil. Di atas kertas: dua ratus ribu unit. Di mana rumah-rumah itu, Pak Badu?

BADU: (menyandarkan punggung pada kursi, jari merapat membentuk segitiga di depan wajah) Rumah-rumah itu sedang dibangun, Elin.

ELIN: Saya ke lokasi minggu lalu. Tanah kosong. Tidak ada pondasi. Tidak ada pekerja. Hanya papan nama proyek yang dicat ulang tiga kali. Saya hitung biaya catnya saja cukup untuk dua rumah tipe sederhana.

BADU: Proyek pembangunan tidak semudah itu, Elin. Ada proses. Ada pengadaan. Ada birokrasi. Kamu anggota dewan, tentunya kamu sudah tahu.

ELIN: Saya tahu prosesnya. Saya juga tahu bahwa di antara proses itu ada tiga perusahaan milik kemenakanmu yang mendapat kontrak. Dan mereka semua tercatat sehat secara finansial—padahal saya dengar ada yang bangkrut tahun lalu. Aneh, bukan?

BADU: (diam beberapa detik. Lalu menyandarkan kursi, bersandar, bicara pelan) Kau datang ke sini untuk mengancamku?

ELIN: Saya datang ke sini untuk mengingatkanmu.

BADU: Mengingatkan aku tentang apa?

ELIN: Tentang janji pertama kita di bangku universitas. Kau bilang, kita akan membangun negeri ini tanpa dusta. Kau ingat itu?

(Badu menatap kosong. Tangannya menggapai cangkir teh, menggenggamnya, melepasnya).

BADU: (suaranya turun setengah oktaf) Elin... dunia politik tidak semanis mimpi sewaktu kita mahasiswa.

ELIN: Apakah itu alasan untuk menjadi pembohong?

BADU: (membanting tangan di atas meja dengan kencang, namun pelan) Kau pikir aku menikmati ini? Kau pikir setiap malam aku tidur nyenyak membayangkan angka-angka di laporan yang tidak sesuai dengan tanah di lapangan? Tapi inilah permainan, Elin. Jika aku tidak bermain, mereka akan memakan aku. Aku harus bertahan. Untuk kepentingan yang lebih besar.

ELIN: Kepentingan yang lebih besar? Pak Badu, siapa yang kau bohongi? Rakyat? Dewan? Atau dirimu sendiri?

BADU: (berdiri. Berjalan ke jendela. Membelakangi Elin) Ketika kau memegang kekuasaan, kau akan mengerti. Ada rahasia yang harus kau bawa sendiri. Ada kebohongan yang harus kau katakan agar kepercayaan tetap terjaga.

ELIN: Kepercayaan tidak terjaga oleh kebohongan. Ia runtuh perlahan. Setiap hari. Setiap kata. Dan ketika runtuh, kau tak akan berdaya lagi. Bahkan boleh jadi kau akan berurusan dengan KPK.

(Elin berdiri. Mengambil tasnya. Badu berbalik).

BADU: Mau pergi? Sebelum kita selesai bicara?

ELIN: Kita sudah selesai. Sejak kita lulus kuliah, sebenarnya.

BADU: (melangkah mendekat) Tunggu. Aku bisa jelaskan. Aku punya data. Aku bisa tunjukkan padamu.

ELIN: (menghentikan langkah. Menatap Badu dengan mata lelah, bukan marah) Tidak, Pak. Kau tidak punya data. Kau punya angka. Dua hal itu berbeda. Data adalah fakta. Angka adalah apa yang kau inginkan agar orang percaya.

BADU: (diam. hening. beberapa detik lamanya. Lalu Badu dengan suara pelan namun berat) Lalu apa yang harus aku lakukan? Mengakui segalanya? Mundur? Menghancurkan diriku sendiri?

ELIN: (berbalik sepenuhnya, menghadap Badu) Aku tidak minta kau menghancurkan diri. Aku minta kau memperbaiki diri. Karena masih ada waktu. Di luar sana, rakyat masih percaya pada setengah dari ucapanmu. Jangan tunggu sampai setengah itu habis. Karena jika itu habis, tidak ada lagi yang tersisa.

(Elin menuju pintu keluar. Berhenti sejenak. Tidak menoleh).

ELIN: Tehnya dingin, Pak. Seperti janji-janji kita sewaktu kuliah dulu.

(Elin keluar. Badu tinggal sendirian. Pelayan masuk, hendak mengangkat cangkir. Badu mengangkat tangan, memberi isyarat untuk pergi. Pelayan keluar. Badu duduk di kursi. Menatap dua cangkir teh yang dingin. Lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Lampu padam. Gelap. TAMAT)
(ekspresionis dialogis/ki gempur mudharat/juli/2026)

Sabtu, 04 Juli 2026

Puisi: "Dusta Sang Pemimpin"

di ruang yang gemerlap ini
kau susun kata-kata seindah mimpi
laksana bunga mekar di musim semi
namun akarnya telah mati...

kau ucapkan janji di atas mimbar
dengan suara yang merdu parau membelai telinga
seperti sungai yang mengalir jernih
tapi di dasarnya lumpur beracun mengendap perlahan...

aku melihat matamu
cahaya redup di balik kaca mata
seperti rembulan yang bersembunyi
di balik awan kelabu
takut diterawang oleh mereka yang haus cahaya...

kau tawarkan negeri yang subur makmur gemah ripah
tapi di balik kata-katamu yang indah berseri
tersimpan kebohongan yang meranggas
seperti daun-daun yang gugur sebelum musimnya tiba...

dan kami diam
diam dalam keramaian yang riuh
diam dalam gelak tawa yang pahit...

sebab membuka mulut
sama saja membuka luka yang belum sembuh...

pemimpin yang kuharapkan adalah kau
mengapa kau pilih dusta menjadi taman?
padahal kebenaran meski pahit
akan tumbuh menjadi pohon yang rindang
menaungi mereka yang kehausan
ketika kelak kau sendiri...

di kamar yang hening
bisakah kau pandang cermin
tanpa membenci bayangan yang kau ciptakan?...

karena pada akhirnya
hanya kebenaran yang akan tersenyum
sendiri
di tengah puing-puing kata
yang kau bangun dengan megah
tapi runtuh oleh angin waktu...

Jumat, 03 Juli 2026

(SAM-19) Ujian Allah: Antara Rintihan dan Rindu


Secangkir Anggur Merah (Edisi-19)

Ada malam-malam di mana langit terasa terlalu dekat. Di mana doa-doa terdengar seperti bisikan yang jatuh ke tanah sebelum sempat menembus awan. Di sanalah, dalam sunyi yang paling pekat, kita mulai bertanya: mengapa ujian ini harus datang? Mengapa Allah menguji kita dengan hal-hal yang paling kita cintai, lalu mengambilnya, atau membiarkannya perlahan-lahan lepas dari genggaman?

Kita terbiasa menganggap ujian sebagai hukuman. Sebuah kemarahan yang disembunyikan di balik tabir takdir. Tapi jika kita menyelam lebih dalam ke lautan ayat-ayat-Nya, kita menemukan sesuatu yang paradoksal: ujian bukanlah cara Allah untuk membenci, melainkan cara-Nya untuk mendekat. 

Seperti seorang guru yang memberikan soal sulit bukan karena ia ingin muridnya gagal, tetapi karena ia percaya muridnya mampu—dan ingin melihat sejauh mana kemampuannya tergali.

Allah tidak menguji karena Dia lupa, tetapi karena Dia ingin kita ingat. Ia membiarkan kita jatuh agar kita tahu bahwa tanpa tangan-Nya, kita tidak pernah bisa berdiri. Ia membiarkan kita haus di gurun kehidupan agar kita tahu bahwa hanya mata air-Nya yang abadi. Dan dalam setiap jatuh bangun itu, ada pelajaran tentang siapa kita sebenarnya: hamba yang lemah, atau manusia yang sombong?

Perahu di Tengah Badai

Alkisah, seorang nelayan tua di pesisir Selat Malaka pernah berkata kepada cucunya: "Anakku, laut tidak pernah tenang untuk membuatmu bahagia. Laut bergelombang untuk mengajarkanmu cara berlayar."

Demikian pula hidup. Setiap ombak yang menghantam, setiap angin yang membelokkan arah, adalah bagian dari kurikulum yang Allah tulis untuk setiap ruh. Ada ujian yang datang melalui kemiskinan—saat piring makan menjadi saksi bisu dari sabar yang terkikis. Ada ujian melalui kehilangan—saat orang yang kita cintai pergi, dan kita belajar bahwa cinta bukanlah kepemilikan, melainkan titipan. Ada ujian melalui pengkhianatan—saat kita belajar bahwa kepercayaan adalah kaca yang sekali pecah, sulit direkatkan.

Dan ada ujian paling halus: kesendirian di tengah keramaian. Saat kita dikelilingi manusia, tetapi merasa tidak seorang pun mengerti. Di sinilah Allah menguji ketulusan—apakah kita beribadah kepada-Nya karena kita mencintai-Nya, atau karena kita mencintai pengakuan manusia?

Quraish Shihab pernah menafsirkan bahwa kata "ujian" dalam bahasa Arab—ibtila'—berasal dari akar kata yang berarti "mencelupkan". Seperti kain yang dicelupkan ke dalam pewarna, ujian adalah cara Allah mencelupkan kita ke dalam pengalaman, sehingga warna asli jiwa kita muncul ke permukaan. Apakah kita merah karena kemarahan? Putih karena kepasrahan? Atau hitam karena keputusasaan? Ujian adalah cermin, dan Allah adalah yang memegang cermin itu di depan wajah kita.

Merambah Kabut

Ketika ujian datang, naluri pertama kita adalah melawan. Kita berteriak, meratap, menggigit bibir sampai berdarah. Kita menyalahkan takdir, menyalahkan orang lain, dan di ujung keputusasaan, kita bahkan menyalahkan Allah. Ini manusiawi.

Nabi Ayub, yang kehilangan segalanya—harta, anak, bahkan kesehatan—juga mengeluh. Ia tidak diam, ia merintih. Tapi rintihannya bukanlah protes, melainkan rindu. "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83).

Perhatikan: Ayub tidak berkata, "Mengapa Engkau melakukan ini?" Ia berkata, "Aku menderita, dan Engkau adalah Penyayang." Ini adalah perbedaan antara keluhan orang yang putus asa dan keluhan orang yang rindu. Keduanya menangis, tapi satu menangis karena kehilangan harapan, yang lain menangis karena merindukan pemilik harapan.

Dalam merambah kehidupan yang dihujani ujian, kita diajarkan untuk tidak melihat seberapa besar badai, tetapi seberapa besar perahu kita—dan lebih penting lagi, siapa yang memegang kemudi. Allah tidak berjanji kita akan selamat dari badai. Dia berjanji kita tidak akan tenggelam. "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6).

Ayat itu tidak mengatakan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan. Artinya, kemudahan hadir di dalam kesulitan itu sendiri—dalam bentuk ketabahan yang tumbuh, kesabaran yang menguat, dan keyakinan yang meradang.

Ketika Pelajaran Jadi Nyawa

Seorang sufi pernah ditanya, "Apa yang kau pelajari dari seluruh ujian hidupmu?" Ia menjawab, "Aku belajar bahwa Allah tidak pernah mengujiku dengan sesuatu yang aku tidak sanggup menanggungnya. Aku belajar bahwa setiap tangisan memiliki doa yang tidak terucap. Dan aku belajar bahwa di balik setiap kabut, ada cahaya yang menunggu untuk kuakui."

Ujian Allah bukanlah tentang lulus atau gagal. Itu adalah cara kita dipahat. Seperti marmer yang dipukul palu untuk menjadi patung, seperti emas yang dibakar untuk menjadi perhiasan. Setiap pukulan, setiap panas, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membentuk. Kita hanya perlu percaya bahwa tangan yang memahat adalah tangan yang lembut, dan api yang membakar adalah api yang mengetahui batasnya.

Maka, ketika badai kehidupan merambah, jangan tanya, "Mengapa ini terjadi padaku?" Tanyalah, "Apa yang Engkau ajarkan padaku saat ini?" Karena di situlah letak rahasia terbesar: ujian adalah undangan untuk bertemu Allah di tempat paling gelap. Dan jika kita berani menemuinya di sana, kita akan menemukan bahwa gelap hanyalah awal dari fajar.

Dan ketika semua ujian berlalu, kita akan menyadari bahwa kita tidak lagi sama. Kita menjadi lebih ringan—karena beban-beban kecil yang dulu kita anggap berat kini terasa seperti debu. Kita menjadi lebih luas—karena hati yang dipeluk kesedihan menjadi sebesar lautan. Dan kita menjadi lebih dekat—karena setiap langkah menjauh ternyata adalah langkah pulang.

Doa di Ujung Jalan

Pada akhirnya, merambah kehidupan dengan segala ujiannya adalah tentang bagaimana kita menutup buku harian hidup dengan kalimat: "Ternyata Engkau baik sepanjang jalan, bahkan saat aku tidak melihatnya."

Karena Allah tidak berutang kebahagiaan pada kita. Dia berutang makna. Dan makna hanya muncul dari perjalanan melalui lembah, bukan dari duduk di puncak. Maka bersyukurlah untuk ujianmu, karena di situlah Allah menulis namamu di buku orang-orang yang dikasihi. 

Sebab Dia tidak menguji kecuali Dia mencintai, dan Dia tidak mencintai kecuali Dia ingin kita menjadi versi terbaik dari diri kita.

Allahu a'lam. Hanya Dia yang tahu kapan kita akan sampai, tapi satu hal yang pasti: kita sedang dalam perjalanan pulang. Dan di setiap langkah, ada pelukan-Nya yang menunggu, lebih hangat dari sinar matahari, lebih teduh dari bayangan awan.
(expresionis-kgm/ki gempur mudharat/juli-2026)

Kamis, 02 Juli 2026

Penempuh Lorong Sunyi Menuju Cahaya Ilahi...(Sebuah feature spiritual tentang pencarian hakikat dalam tradisi tasawuf)


Di sebuah desa di kaki Gunung Merbabu, hiduplah seorang pemuda bernama Ahmad. Ia bukanlah orang istimewa. Seorang anak petani. Lulusan sekolah menengah. Pekerja serabutan yang menghabiskan hari-harinya di pasar dan sawah. 

Namun pada malam-malam tertentu, saat azan subuh belum berkumandang dan alam masih diam, Ahmad terbangun dengan perasaan aneh: seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan. Bukan suara, bukan mimpi, melainkan sebuah rasa yang merambat di tulang punggungnya, seperti sungai bawah tanah yang tak terlihat.

Ia tidak mengerti apa itu. Tapi ia faham, sesuatu telah bergerak dalam dirinya.
Orang-orang menyebutnya salik—para pejalan spiritual yang menempuh jalan panjang menuju Tuhan. Tapi bagi Ahmad, itu bukanlah gelar yang ia pilih. Ia hanyalah seseorang yang tidak bisa lagi tidur nyenyak setelah merasakan bahwa dunia ini hanyalah bayangan dari sesuatu yang lebih nyata.

Kau tidak seperti yang lain

Suatu hari, Ahmad mengunjungi makam seorang wali tua di lereng bukit. Para peziarah lain datang dengan doa dan harapan. Minta jodoh, minta rezeki, minta kesembuhan. Tapi Ahmad datang dengan pertanyaan kosong yang bahkan tidak mampu ia rumuskan dengan kata-kata. Ia duduk di bawah pohon randu, menatap batu nisan yang sudah lumut, dan menunggu.

"Kau tidak seperti yang lain," kata seorang kakek tua yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Bajunya lusuh, sorot matanya tajam.

"Apa yang membedakan saya?" tanya Ahmad.

"Kau tidak meminta apa pun. Padahal kau bisa meminta segalanya di sini."

Ahmad terdiam. "Saya tidak tahu apa yang harus saya minta."

Kakek itu tersenyum. "Karena kau bukan mencari sesuatu. Kau mencari Yang Tidak Bernama. Dan kabar baiknya—Dia juga mencari kau."

Tiga Penjara Jiwa

Dalam perjalanan pulang, kakek itu berbisik tentang tiga penjara yang mengurung setiap salik.
Pertama: Penjara dunia—keinginan akan harta, pujian, dan kekuasaan. Kedua: Penjara diri—ego yang merasa dirinya terpisah dari yang lain. Ketiga: penjara pikiran—keyakinan bahwa Tuhan dapat dipahami dengan akal semata.

"Tapi pintu-pintu penjara itu tidak terkunci dari luar," kata kakek itu sebelum menghilang di tikungan jalan. "Mereka terkunci dari dalam. Kunci yang sama yang mengurung, juga bisa membebaskan. Kau hanya harus berani memutarnya."

Ahmad mulai mengamati dirinya sendiri. Ia melihat betapa selama 25 tahun hidupnya, ia telah menjadi budak keinginan—ingin diakui, ingin sukses, ingin dicintai. Ia melihat bagaimana egonya selalu membela diri, membenarkan kesalahan, menyalahkan keadaan. Dan ia melihat bagaimana pikirannya terus menerus menjerat Tuhan dalam kata-kata, sementara hati kecilnya tahu bahwa Tuhan terlalu agung untuk dibatasi bahasa.
---
Itikaf di Gua Sunyi

Malam itu, Ahmad memanjat ke sebuah gua kecil di tebing belakang desanya. Ia tidak membawa bekal, hanya sebotol air dan sebuah buku tua berisi syair-syair Jalaluddin Rumi yang ditemukannya di pasar loak. 

Di dalam gua, gelap. Tidak ada suara kecuali tetesan air dari stalaktit dan detak jantungnya sendiri.

Awalnya ia mencoba berdoa. Lalu ia mencoba bermeditasi. Lalu ia mencoba mengingat semua ayat yang pernah ia hafal. Semuanya terasa seperti tembok yang menghalanginya, bukan jembatan yang menghubungkannya.

Sampai akhirnya, dalam keputusasaan yang manis, ia berhenti berusaha.
Dan di situlah—di tengah keheningan yang tidak dibuat-buat—cahaya itu muncul. Bukan cahaya yang terlihat mata, tapi cahaya yang dirasakan. Seperti ketika seseorang sangat mencintaimu tanpa perlu mengatakannya. Seperti ketika kau pulang ke rumah setelah bertahun-tahun merantau. Seperti ketika kau mengingat sesuatu yang tidak pernah kau alami, tapi terasa begitu akrab.

Ahmad menangis. Bukan karena sedih, bukan karena bahagia. Tapi karena ia menyadari: selama ini ia mencari di luar, padahal yang dicari selalu berada di dalam. Ia mencari dengan kepala, padahal seharusnya dengan hati. Ia berbicara kepada Tuhan, padahal seharusnya ia mendengarkan.

Cahaya yang Menjalar

Keesokan paginya, Ahmad turun dari gua. Wajahnya tidak berubah—masih sama seperti sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya: sebuah ketenangan yang tidak dapat dijelaskan. Para tetangga bertanya apa yang terjadi, tapi Ahmad hanya tersenyum.

Ia tidak menjadi suci. Ia masih marah ketika ditipu, masih sedih ketika kehilangan, masih ingin ketika melihat sesuatu yang indah. Namun kini ada jarak—sebuah kesadaran yang mengamati semua itu tanpa terperangkap. Seperti orang yang menonton ombak di pantai; ia tidak menjadi ombak, ia tidak melawan ombak, ia hanya menyaksikannya datang dan pergi.

Bahkan ketika ibunya meninggal enam bulan kemudian, Ahmad tidak jatuh dalam keputusasaan yang hancur. Ia menangis, tentu saja. Tapi di balik air matanya, ada keheningan yang tahu: ibunya bukanlah mayat yang terbaring di kain kafan itu. Ibunya adalah cinta yang masih mengalir di nadinya, doa yang ia panjatkan, dan senyum yang terus hidup dalam ingatannya.

Kembali ke Kesadaran

Kini, di usia 40 tahun, Ahmad sudah tidak lagi "mencari". Bukan karena ia menemukan segalanya, tapi karena ia menyadari bahwa mencari dan menemukan adalah permainan ego belaka. Yang harus dilakukan hanyalah kembali. Kembali ke kesadaran bahwa sejak awal, ia tidak pernah terpisah dari Cahaya itu. Ia pikir ia adalah debu yang berjalan di jalan; ternyata ia adalah jalan itu sendiri.

Ia masih tinggal di desa yang sama, masih bekerja di sawah, masih berbincang dengan tetangga soal cuaca dan harga cabai. Namun kini, setiap helai rumput baginya adalah ayat, setiap hembus angin adalah bisikan, setiap manusia yang ia temui adalah cermin yang memantulkan Wajah Yang Satu.

Dan pada malam-malam tertentu, ketika semua orang tidur dan alam sunyi, Ahmad masih terbangun dengan perasaan aneh yang sama. Hanya kali ini, ia tidak lagi bertanya siapa yang memanggil. Ia hanya tersenyum, karena ia tahu: panggilan itu adalah dirinya sendiri, mengingatkan dirinya yang lain, bahwa perjalanan tidak pernah berakhir—karena ia sendiri adalah perjalanan menuju dirinya yang asli.

Sebab di ujung jalan, para salik tidak menemukan Tuhan. Mereka menemukan bahwa selama ini, Tuhan-lah yang berjalan dalam diri mereka, mengalami diri-Nya sendiri melalui mata, telinga, dan hati manusia.

Akhir Perjalanan

Perjalanan salik bukanlah tentang mencapai puncak. Ia adalah tentang menyadari bahwa kau tidak pernah berada di bawah. Bahwa cahaya ilahi tidak bersinar dari langit yang jauh; ia bersinar dari kedalaman hatimu sendiri, menunggu kau berhenti mencari cukup lama untuk melihat bahwa kau adalah cahaya itu, dan cahaya itu adalah kau—dalam bentuk yang selalu ada, sebelum kata-kata, sebelum dunia, sebelum waktu dimulai.
(features expresionis seorang salik/awal-juli/2026)

Dusta di Ruang Sidang

Berikut ini adalah dialog teaterikal, sebuah fragmen teater satu babak, antara seorang pemimpin eksekutif pendusta dan legislator idealis). ...