Selasa, 03 November 2026

Tragedi Pensiunan Telkom: "Apa yang Bisa Dilakukan Direksi Telkom, Danantara dan Mahkamah Konstitusi"


Secangkir Anggur Merah, Edisi-71)

Leaderline: Tulisan ini didedikasikan kepada perjuangan kehidupan tragis para mantan karyawan Telkom yang pensiun sebelum 30 Juni 2002. Termasuk para penerima pensiun dini (Pendi). Yang keseluruhan jumlahnya sekitar 25 ribu pensiunan. Dengan kisaran manfaat pensiun (MP) antara Rp 1 juta s/d Rp 1,5 juta per bulan. Tragisnya seumur hidup masa pensiunannya tidak pernah mengalami kenaikan tahunan secara rutin sebagaimana dinikmati para PNS. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang patut mendapat perhatian semua pihak. Lalu dimana posisi Direksi, Danantara dan Mahkamah Konstitusi? Mengapa mereka lebih suka cuci tangan kalau tak mau dibilang berlindung dibalik prosedur?

Awal Tragedi


Pada 20 Desember 1982, ketika Menteri Perhubungan menandatangani pendirian Yayasan Dana Pensiun (DAPEN) Pegawai PERUMTEL. Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa dokumen itu kelak menjadi akta kelahiran sebuah tragedi.

Yayasan itu lahir dengan wajah mulia: Mengurus pensiun pegawai telekomunikasi yang sebelumnya ditanggung APBN.

Namun empat dekade kemudian. Kita berdiri di hadapan reruntuhan janji itu.

Seorang pensiunan Telkom menangis di ruang sidang Mahkamah Konstitusi. Dia hendak menggugat ketidakadilan yang mencekik. Ia berjuang tanpa pengacara. Setelah sepuluh tahun berjibaku sendirian.

Tragedi ini bukan kecelakaan sejarah. Ia adalah konsekuensi logis dari sebuah pilihan filosofis yang dibuat pada 1992.

Ketika pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 11 tentang Dana Pensiun. Regulasi itu memerintahkan seluruh yayasan pensiun berubah menjadi badan hukum tersendiri. Dengan kekayaan yang terpisah dari kekayaan pendiri.

Di atas kertas. Pemisahan ini terdengar seperti tata kelola yang modern. Tetapi dalam praktiknya. Ia adalah tindakan pemutusan urat nadi moral antara perusahaan dan manusia-manusia. Yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membangun perusahaan itu.

Pandapotan Nasution, pensiunan PT Telkom yang menggugat UU itu ke MK, menyebutnya dengan telak: Hubungan dengan perusahaan terputus. Hubungan dengan BUMN terputus. Kelayakan hidup para pensiun pun terputus.

Berbeda dengan PNS yang tetap terhubung dengan APBN. Sehingga ketika gaji pegawai aktif naik. Pensiunan ikut merasakan.

Namun pensiunan BUMN, seperti Telkom, dilempar ke dalam sebuah badan otonom dan seolah-olah seluruh beban dialihkan ke sana.

Inilah inti tragedi Dapen Telkom. Ia bukan sekadar badan pengelola uang. Melainkan mesin yang memutus rantai solidaritas antargenerasi.

Secara filosofis. Dana pensiun adalah institusi paling etis dalam dunia kerja. Ia adalah bukti bahwa manusia tidak diperlakukan sebagai komoditas yang nilainya habis saat kontrak berakhir.

Pensiun adalah pengakuan bahwa seseorang yang telah bekerja selama tiga puluh tahun tetap berharga. Bahkan ketika ia tidak lagi memproduksi keuntungan.

Ketika negara memindahkan tanggung jawab ini ke badan hukum yang terpisah. Ia bukan sedang menciptakan efisiensi. Ia sedang membatalkan pengakuan itu.

Negara telah menikmati pengabdian puluhan tahun. Lalu mencuci tangannya dari kewajiban moralnya.

Yang membuat tragedi ini semakin menghunjam adalah fakta bahwa Dapen Telkom sendiri berada dalam kondisi yang tidak sehat.

Rasio Kecukupan Pendanaannya berada di bawah 105 persen. Imbang batas yang ditetapkan perusahaan untuk mulai memberikan kontribusi.

Artinya, badan yang seharusnya menjamin hari tua para pensiunan justru berjuang untuk mencukupi dirinya sendiri.

Dan di tengah kegagalan pendanaan itu. Muncul aturan yang bahkan lebih kejam. Pegawai Telkom yang pensiun sebelum 30 Juni 2002, yang menerima manfaat kurang dari satu juta rupiah per bulan diberikan kenaikan menjadi satu juta rupiah.

Kenaikan menjadi satu juta rupiah bukanlah kebijakan kesejahteraan. Ia adalah pengakuan resmi bahwa ada manusia yang harus hidup dengan penghasilan yang tidak layak. Dan negara hanya sanggup menaikkannya ke ambang batas yang masih tidak layak.

Di sinilah perjuangan SEKAR Telkom menemukan urgensinya yang paling radikal. Serikat pekerja tidak bisa lagi berhenti pada isu upah pekerja aktif. Ia harus memperluas mandatnya untuk membela mereka yang telah pensiun.

Mereka yang telah selesai bertugas tetapi justru ditinggalkan di saat paling rentan. Perjuangan melawan UU Dana Pensiun. Sebagaimana yang dilakukan SEKAR Telkom di MK, adalah perjuangan untuk memulihkan kontrak sosial yang telah dikhianati.

Namun perjuangan itu tidak boleh berhenti di ruang sidang. Ia harus menjadi gerakan politik dan moral yang menuntut revisi total atas arsitektur pensiun BUMN.

Dapen Telkom lahir sebagai janji. Kini ia berdiri sebagai monumen pengkhianatan yang diberi nama kesejahteraan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah para pensiunan akan mendapatkan haknya. Melainkan apakah kita. Yang masih bekerja hari ini. Memiliki keberanian untuk mengakui bahwa tragedi mereka adalah bayangan masa depan kita sendiri.

Direksi, Danantara dan MK

Lalu apa yang Bisa Dilakukan Direksi Telkom, Danantara dan MK? Dari Belas Kasihan menuju Keadilan Struktural?

Tragedi Dana Pensiun Telkom bukan fenomena alam. Ia adalah produk dari keputusan manusia. Keputusan yang dibuat oleh direksi, regulator, dan pemegang saham negara.

Oleh karena itu, jalan keluarnya pun harus lahir dari keputusan manusia yang baru. Keputusan yang berani membalikkan arah pengkhianatan struktural selama puluhan tahun.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Direksi Telkom dan Danantara mampu berbuat sesuatu. Melainkan mengapa mereka belum melakukannya dengan radikal.

Direksi Telkom memegang kunci pertama. Selama ini, kebijakan kontribusi perusahaan terhadap Dapen diatur oleh Peraturan Perusahaan 2014: Telkom berhenti menyetor ketika Rasio Kecukupan Pendanaan (FSR) Dapen berada di atas 105 persen. Fan baru menyetor kembali ketika FSR turun di bawah ambang itu.

Logika ini secara finansial mungkin masuk akal. Tetapi secara etis ia adalah logika seorang penagih utang. Bukan seorang bapak yang bertanggung jawab atas anak-anaknya.

FSR Dapen saat ini berada di bawah 105 persen. Artinya Telkom memang sedang menyetor. Namun pertanyaannya, berapa lama? Dan apakah setoran itu cukup untuk mengangkat martabat pensiunan? Atau hanya cukup untuk mencegah kebangkrutan?

Direksi Telkom harus menetapkan standar yang lebih tinggi. Bukan sekadar FSR 105 persen. Melainkan kecukupan manfaat yang layak bagi setiap pensiunan.

Kebijakan menaikkan manfaat pensiun menjadi minimal Rp1 juta per bulan bagi pensiunan tertentu. Sebagaimana tercantum dalam peraturan perusahaan. Bukanlah kebijakan kesejahteraan. Ia adalah pengakuan bahwa ada manusia yang harus hidup dengan Rp1 juta. Dan itu pun baru “dinaikkan”. Aduh, aduh, tega amat sih...!

Direksi harus berani menetapkan living pension. Bukan minimum pension.

Lebih dari itu, Direksi Telkom harus memulihkan hubungan moral dengan pensiunan yang telah diputus oleh UU Dana Pensiun 1992.

Pemutusan hukum boleh saja terjadi. Tetapi pemutusan etis tidak pernah sah. Telkom dapat membuat program kesejahteraan tambahan yang terpisah dari Dapen. Bukan sebagai belas kasihan. Melainkan sebagai pengakuan atas jasa historis.

Perusahaan telah memberikan manfaat tambahan kepada pensiunan yang masuk masa pensiun sebelum 30 Juni 2002 sebesar puluhan miliar rupiah.

Kebijakan ini benar arahnya. Tetapi skalanya terlalu kecil dan cakupannya terlalu sempit.

Direksi perlu memperluas skema serupa untuk seluruh pensiunan. Dengan formula yang transparan dan terikat pada kinerja perusahaan. Bukan pada sisa anggaran.

Peran Danantara

Danantara memegang kunci kedua. Dan justru yang lebih menentukan. Sebagai badan yang kini menjalankan kewenangan strategis atas Telkom melalui saham Seri A Diwarnya. Danantara memiliki legitimasi konstitusional untuk memaksa perubahan.

Danantara tidak bisa berlindung di balik argumen “ini urusan direksi”.

Ketika sebuah BUMN gagal memenuhi kontrak sosialnya terhadap pensiunan. Itu adalah kegagalan tata kelola negara. Dan Danantara adalah wajah negara di dalam BUMN.

Langkah pertama yang harus dilakukan Danantara adalah melakukan audit forensik terhadap seluruh Dana Pensiun BUMN, termasuk Dapen Telkom.

Danantara telah mengakui bahwa pengelolaan investasi yang sembarangan menyebabkan kekurangan dana pensiun. Seperti yang terjadi pada Pos Indonesia dengan defisit hampir Rp4 triliun.

Jika Danantara serius menata ulang dana pensiun BUMN, maka Dapen Telkom harus menjadi prioritas. Bukan catatan kaki.

Kedua, Danantara harus menetapkan standar tata kelola pensiun yang berlaku seragam untuk seluruh BUMN di bawah pengawasannya.

Standar ini harus mencakup kewajiban pemberi kerja untuk menutup defisit secara bertahap dan terukur. Transparansi laporan aktuaria kepada peserta. Serta representasi pensiunan dalam pengambilan keputusan investasi.

Selama ini, pensiunan Telkom hanya menjadi objek. Mereka menanggung risiko investasi yang tidak pernah mereka pilih.

Dalam filsafat politik. Ini adalah bentuk perampasan otonomi yang paling elementer. Seseorang diminta menanggung akibat dari keputusan yang dibuat orang lain tanpa persetujuannya.

Danantara harus mengembalikan otonomi itu. Bukan dengan retorika. Tetapi dengan kursi di meja pengambilan keputusan.

Ketiga, Danantara harus mendorong revisi UU Dana Pensiun yang menjadi akar pemutusan hubungan antara perusahaan dan pensiunan.

Undang-undang itu lahir pada 1992. Dalam konteks yang sama sekali berbeda.

Hari ini, ketika BUMN dituntut untuk menjadi entitas bisnis yang mandiri. Justru tanggung jawab sosialnya terhadap pekerja harus semakin diperkuat. Bukan dilemahkan.

Danantara, dengan kekuatan politik dan sumber daya yang dimilikinya. Adalah satu-satunya institusi yang mampu mendorong perubahan regulasi ini. Jika ia tidak melakukannya, maka ia hanya akan menjadi super holding yang mahir mengelola aset. Tetapi buta terhadap manusia yang telah membangun aset itu.

Pada akhirnya, baik Direksi Telkom maupun Danantara harus memahami satu hal. Pensiunan bukanlah beban historis yang harus dikelola agar tidak meledak.

Mereka adalah bukti hidup bahwa perusahaan ini pernah berdiri karena keringat manusia.

Menelantarkan mereka berarti mengkhianati masa lalu. Membiarkan mereka hidup dalam ketidakpastian berarti mengkhianati masa depan.

Direksi Telkom harus berani menaikkan standar manfaat dan memulihkan hubungan moral.

Danantara harus berani memaksa, mengaudit, dan mereformasi.

Keduanya tidak bisa lagi bersembunyi di balik prosedur. Keadilan bagi pensiunan Telkom bukanlah permintaan yang perlu dinegosiasikan. Ia adalah utang yang harus dibayar.

Bagaimana MK Harus Menyikapi?

Mahkamah Konstitusi (MK) tidak boleh mengulang tragedi Putusan Nomor 61/PUU-XXIII/2025, yang menolak permohonan SEKAR Telkom.

Dengan alasan bahwa pembayaran manfaat pensiun secara berkala “tidak bertentangan dengan UUD 1945”. Dan bahwa penentuan ambang batas pencairan sekaligus adalah “kebijakan legislatif” yang sah.

Argumen itu secara formal benar. Tetapi secara etis tumpul. MK bukan sekadar mesin pembaca pasal. Ia adalah penjaga konstitusi yang hidup. Dan konstitusi tidak pernah memerintahkan negara membiarkan manusia lanjut usia hidup di bawah martabat.

Ketika seorang pensiunan menangis di ruang sidang tanpa pengacara. Itu bukan persoalan “kebijakan legislatif” yang netral. Itu adalah penderitaan konkret yang menuntut keadilan substantif. Bukan legalisme yang steril.

MK harus berani meninggalkan positivisme hukum yang selama ini menjadi tempat berlindung.

Ia perlu menafsirkan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28H ayat (4) UUD 1945 bukan sebagai norma kosong. Melainkan sebagai mandat untuk memastikan bahwa jaminan hari tua yang layak adalah hak konstitusional. Bukan belas kasihan badan otonom.

Dalam perkara yang diajukan Pandapotan Nasution (Nomor 347/PUU-XXIV/2026), MK harus menguji bukan hanya prosedur.
Tetapi akibat: Apakah pemutusan hubungan antara pensiunan dan perusahaan oleh UU Dana Pensiun 1992, serta pembatasan pencairan oleh UU P2SK, telah merampas hak hidup yang layak bagi ribuan manusia yang telah mengabdi puluhan tahun.

MK harus berani menyatakan bahwa negara tidak boleh mencuci tangan dari kontrak sosial yang telah ia nikmati. Dan bahwa hukum yang membiarkan pensiunan hidup dalam ketidakpastian dan kemelaratan adalah hukum yang gagal menjadi hukum.

Bijaklah, Wahai Direksi, Danantara dan MK...Raihlah pahala yang melimpah ruah dengan mengangkat derajat para sepuh pensiunan lama yang hidup kesehariannya semakin menggelepar...!!


Serial Tasawuf-41 Al-Hikam: Hikmah Kedelapan, "Ketika Allah Membuka Pintu Perkenalan"


Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan. Membawa aroma sawit ke beranda zawiyah. Para salik duduk melingkar. Tetapi salah seorang dari mereka, Zaid, tampak gelisah. Beberapa pekan terakhir, amal ibadahnya berkurang. Bukan karena malas, tetapi karena ia sering sakit dan tidak sanggup bangun malam. Namun anehnya. Hatinya justru terasa lebih dekat kepada Allah daripada sebelumnya.

“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara berat, “aku malu. Amal ibadahku berkurang. Tetapi aku merasa Allah semakin dekat. Apakah ini bisikan syaitan yang menipuku?”

Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandang Zaid dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا أَنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ

“Apabila Allah membukakan bagimu suatu jalan untuk ma’rifat (mengenal-Nya). Maka janganlah engkau pedulikan amalmu yang sedikit. Karena Dia tidak membukakan pintu itu kepadamu melainkan karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu.

Amal adalah Hadiah, Ma’rifat adalah Anugerah

Seorang salik bernama Aishah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, apakah maksudnya amal tidak lagi penting?”

Ibnu Atha’illah tersenyum. “Bukan amal yang tidak penting, Aishah. Tetapi engkau harus membedakan antara hadiah dan anugerah.”

Ia melanjutkan dengan kalimat berikutnya dari hikmah ini:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ؟

“Tidakkah engkau tahu bahwa ma’rifat itu adalah pemberian yang Dia datangkan kepadamu. Sedangkan amal-amal itu adalah hadiah yang engkau haturkan kepada-Nya?

Maka di manakah kedudukan hadiah yang engkau berikan dibandingkan dengan anugerah yang Dia berikan kepadamu?”

“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah, “engkau menghaturkan amal kepada Allah. Tetapi Allah menghaturkan diri-Nya. Pengenalan akan diri-Nya kepadamu. Mana yang lebih berharga? Amalmu? atau perkenalan dengan Allah?”

Zaid terdiam. Ia mulai memahami.

Dalil Pertama: Allah Memperkenalkan Diri-Nya

Ibnu Atha’illah membuka mushafnya. “Allah berfirman:

‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (QS. An-Naml: 9)”

“Perhatikanlah, Zaid. Allah tidak berkata ‘Wahai Musa, perbanyaklah amal.’ Ia berkata ‘Aku adalah Allah’. Dia memperkenalkan diri-Nya. Itulah ma’rifat: Allah sendiri yang membuka pintu perkenalan. Bukan amal hamba yang memaksa pintu itu terbuka.”

Dan Allah juga berfirman:

‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.’ (QS. Al-Ankabut: 69)

“Jihad di sini bukan hanya perang,” jelas Ibnu Atha’illah. “Ia adalah kesungguhan melawan hawa nafsu. Tetapi perhatikan. Allah-lah yang menunjukkan jalan. Amal hanyalah sarana. Perkenalan adalah anugerah.”

Dalil Kedua: Siapa yang Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya

Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa yang kami alami adalah ma’rifat. Bukan sekadar perasaan?”

Ibnu Atha’illah menjawab dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

“Ma’rifat bukanlah perasaan yang melayang tanpa dasar. Ia lahir dari kesadaran akan kelemahan diri. Bahwa engkau tidak berdaya. Bahwa amalmu tidak berarti apa-apa tanpa rahmat Allah. Ketika engkau melihat dirimu kecil. Engkau mulai melihat Allah besar. Itulah awal ma’rifat.”

Nabi SAW juga bersabda:

“Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia mengenalmu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)

“Perhatikanlah,” ujar Ibnu Atha’illah. “Engkau mengenal Allah melalui amal. Tetapi Allah-lah yang mengenalmu dan membuka pintu perkenalan. Amalmu hanyalah sebab. Perkenalan adalah buah.”

Dalil Ketiga: Jangan Diserahkan kepada Diri Sendiri

Ibnu Atha’illah kemudian mengajarkan doa yang selalu dibaca Nabi SAW:

“Wahai Dzat yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” (HR. An-Nasai, Al-Hakim)

“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah, “jika engkau diserahkan kepada dirimu sendiri, amalmu tidak akan menyelamatkanmu. Jika engkau diserahkan kepada amalmu. Amalmu akan menjadi tirai antara engkau dan Allah. Tetapi jika Allah membuka pintu perkenalan. Meskipun amalmu sedikit. Engkau telah sampai kepada-Nya. ”

Penutup: Kembalikan Amal kepada Pemiliknya

Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit. Membetulkan selendangnya. Memandang para salik dengan penuh kasih.

“Anak-anakku,” ujarnya, “janganlah engkau mengukur kedekatanmu dengan Allah dari banyaknya amal. Ukurlah dari seberapa dalam engkau mengenal-Nya. ”

“Amal adalah kendaraan. Ma’rifat adalah tujuan. Jangan sibuk memperbaiki kendaraan hingga engkau lupa bahwa engkau sedang menuju kepada Dzat yang memperkenalkan diri-Nya kepadamu. ”

“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada amalku sendiri. Bukakanlah pintu perkenalan-Mu. Karena Engkaulah yang mengenalkan diri-Mu. Dan aku hanyalah hamba yang rindu mengenal-Mu.’”

Zaid mengusap air matanya. Ia tidak perlu malu karena amalnya berkurang. Yang ia butuhkan bukan amal yang lebih banyak. Melainkan hati yang lebih mengenal Dzat yang ia sembah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bersambung ke hikmah kesembilan, Rahasia di balik beragamnya amal.

Senin, 02 November 2026

NIK Bakal Jadi Nomor Identitas Tunggal; "Satu Nomor untuk Sejuta Wajah"


Di kantor kelurahan itu, seorang lelaki tua datang dengan map lusuh. Di dalamnya tersimpan berpuluh-puluh kartu. Ada KTP, NPWP, kartu BPJS, buku rekening, hingga salinan paspor yang sudah lama kedaluwarsa. Ia mengeluh, bukan karena usia yang membungkuk. Tetapi karena harus mengingat belasan nomor yang berbeda untuk membuktikan bahwa ia ada. “Saya ini satu orang,” katanya pelan. Tapi kenapa negara minta saya memiliki banyak nomor?

Wacana Single ID Number

Pertanyaan itu, sederhana tetapi menusuk. Kini menjadi wacana besar di Jakarta. 

Komisi II DPR RI tengah menyiapkan revisi Undang-Undang Administrasi Kependudukan untuk mewujudkan Single ID Number. Satu nomor identitas tunggal yang bisa digunakan untuk seluruh layanan publik. 

Ketuanya, Rifqinizamy Karsayuda, berbicara tentang mimpi sebuah negara modern: Cukup ingat satu nomor. Maka seseorang bisa mengakses pertanahan. Pajak. Paspor. Bahkan rekening bank. 

Ia mencontohkan negara-negara lain yang telah lama memberikan satu identitas sejak lahir. Ia ingin Indonesia menyusul.

Di ujung koridor kekuasaan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan lampu hijau. 

Sejak Januari 2025, Dewan Ekonomi Nasional mengumumkan bahwa presiden memprioritaskan pembuatan digital single ID sesegera mungkin. Sebagai bagian dari infrastruktur digital publik untuk mendukung tata kelola yang lebih baik dan mengurangi ketimpangan. 

Dalam sidang kabinet, ia menegaskan bahwa birokrasi masih dibebani terlalu banyak regulasi dan prosedur. digitalisasi melalui Single National Identity dipandang sebagai jalan keluar.

Janji itu terdengar seperti fajar. Tetapi sejarah identitas di negeri ini bukanlah sejarah yang lurus. Ia adalah sejarah labirin: Di mana NIK, NPWP, nomor rekening, nomor asuransi. dan entah berapa lagi nomor lain hidup sendiri-sendiri. Seolah negara ini terdiri dari banyak republik kecil yang tak saling berbicara. 

Wacana Single ID bukanlah hal baru. ia telah mencuat sejak 2025. dan kini kembali menuntut perhatian.

Yang paling ironis, Indonesia sesungguhnya sudah memiliki fondasi itu. NIK telah lama bersifat unik. Hanya diterbitkan sekali. Dan berlaku seumur hidup. Ia didukung oleh sistem biometrik nasional. Foto wajah, sepuluh sidik jari, iris kedua mata, tanda tangan elektronik. 

KTP-el telah menjadi kartu identitas dengan tingkat keamanan tinggi. Dan Identitas Kependudukan Digital (IKD) telah dikembangkan sebagai evolusi menuju era digital. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia punya identitas tunggal. Melainkan mengapa layanan publik masih belum sepenuhnya menggunakannya.

Maka Single ID bukanlah tentang membuat kartu baru. Ia adalah tentang menyatukan bahasa. NIK harus menjadi bahasa bersama. Dari kementerian hingga pemerintah daerah, dari bank hingga rumah sakit. 

Integrasi NIK dengan NPWP telah menjadi contoh nyata. Kepesertaan BPJS Kesehatan pun telah menggunakan NIK sebagai identitas utama. 

Namun, jalan  masih terjal. Masih terfragmentasi, kepentingan sektoral, dan godaan untuk membangun sistem baru yang justru menambah beban anggaran dan membingungkan rakyat.

Ada pula bayangan yang lebih gelap. Satu nomor untuk semua berarti satu titik kegagalan untuk semua. 

Jika data bocor, seluruh kehidupan seseorang terbuka. Jika sistem diretas, warga kehilangan akses pada pendidikan, kesehatan, bahkan uangnya. 

Wacana ini bukan sekadar soal efisiensi; Ia adalah soal kekuasaan. Tentang siapa yang memegang kunci identitas. Dan seberapa besar negara boleh mengetahui tentang warganya.

Namun, bagi lelaki tua di kantor kelurahan itu. Wacana ini mungkin adalah harapan. Ia tidak peduli pada perdebatan parlemen atau ambisi digital presiden. Ia hanya ingin tidak lagi membawa map lusuh berisi belasan kartu. 

Ia ingin negara mengakui bahwa ia adalah satu orang. Dengan satu nama. Satu wajah. Dan satu nomor yang berlaku dari lahir hingga liang lahat.

Single ID bisa menjadi puisi tentang efisiensi. Atau bisa menjadi prosa tentang pengawasan. Ia bisa menjadi jembatan yang menghubungkan warga pada hak-haknya. Atau menjadi tembok yang mengurung mereka dalam data. 

Pilihan itu tidak terletak pada teknologi. Tetapi pada keberanian untuk menempatkan manusia. Bukan nomor. Sebagai pusat dari segala kebijakan.

Lelaki tua itu menutup mapnya. Ia menatap petugas. Lalu bertanya dengan suara yang hampir hilang:

“Kalau nanti cuma satu nomor. Apakah saya tetap dianggap ada?” Petugas itu diam. 

Dan di ruang tunggu yang berbau kertas dan tinta. Pertanyaan itu menggantung. Seperti janji yang belum ditepati.

Semoga kita paham apa yang ditanyakan lelaki tua itu...!!!

Serial Tasawuf-40 Al-Hikam: Hikmah Ketujuh, "Janji yang Tak Pernah Ingkar"


Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan. Membawa aroma pasir pantai yang basah. Para salik berkumpul di beranda zawiyah. Tetapi suasana terasa berbeda.

Salah seorang dari mereka, Zaid, duduk dengan wajah murung. Ia telah berdoa bertahun-tahun untuk sesuatu yang ia yakini telah dijanjikan Allah kepadanya melalui sebuah isyarat dalam hatinya. Namun waktu yang ia tunggu telah lewat. Dan janji itu tak kunjung terwujud.

“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara berat. “Aku telah menunggu. Aku telah bersabar. Tetapi janji itu tidak datang. Apakah Allah telah mengingkari janji-Nya?”

Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandang Zaid dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

لَا يَشْكُكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوعِ الْمَوْعُودِ، وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ؛ لِئَلَّا يَكُونَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ، وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ

“Jangan sampai tidak terwujudnya apa yang Dia janjikan membuatmu ragu. Meskipun waktunya telah ditentukan. Itu agar tidak merusak pandangan mata hatimu dan memadamkan cahaya jiwamu.”

Janji Allah Itu Benar

Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, bagaimana kami bisa yakin bahwa janji Allah itu benar. Ketika kenyataan yang kami lihat bertentangan?”

Ibnu Atha’illah menjawab, “Allah berfirman:

‘Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu.’ (QS. Fatir: 5)

“Perhatikanlah, Fatimah. Allah tidak berkata ‘janji Allah itu benar jika engkau melihatnya terwujud.’ Ia berkata ‘janji Allah itu benar’—titik. Kebenaran janji-Nya tidak bergantung pada penglihatanmu. Ia bergantung pada Dzat yang berjanji.”

“Dan Allah juga berfirman:

‘Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.’ (QS. Al-Mursalat: 7)

“Janji Allah bukanlah kemungkinan. Ia adalah kepastian yang telah ditulis, telah ditetapkan, dan tidak akan pernah berubah.”

Dalil Pertama: Allah Tidak Pernah Mengingkari Janji

Ibnu Atha’illah membuka mushafnya lebih lebar. “Dengarkanlah, Zaid. Allah berfirman:

‘Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat).’ (QS. Gafir: 51)

“Para rasul dijanjikan pertolongan. Tetapi berapa banyak rasul yang dibunuh? Berapa banyak yang diusir? Berapa banyak yang mati sebelum melihat kemenangan? Apakah janji Allah itu ingkar?”

Zaid terdiam.

“Tidak,” lanjut Ibnu Atha’illah. “Janji itu tidak ingkar. Ia hanya terwujud dalam bentuk yang berbeda dari yang dibayangkan manusia—kadang di dunia, kadang di akhirat, kadang dalam bentuk yang tidak pernah terlintas dalam hati.”

Dan Allah berfirman:

‘Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku.’ (QS. Ibrahim: 13-14)

Dalil Kedua: Janji yang Tampak Tertunda

Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, mengapa janji itu kadang terasa tertunda?”

Ibnu Atha’illah tersenyum. “Dengarkanlah kisah Nabi Ibrahim AS. Beliau berdoa:

‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.’ (QS. Ash-Shaffat: 100)

“Doa itu dijawab. Tetapi jawabannya datang bertahun-tahun kemudian—ketika Ibrahim sudah sangat tua, dan istrinya Sarah sudah mandul. Bahkan ketika malaikat membawa kabar gembira, Sarah tertawa keheranan:

‘Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua?’ (QS. Huud: 72)

“Mengapa Allah menunda? Apakah karena Dia tidak mampu? Tidak. Allah menunda karena ada hikmah yang tidak dilihat Ibrahim saat itu. Penundaan bukanlah pengingkaran. Penundaan adalah cara Allah mendidik hamba-Nya tentang kesabaran, tentang tauhid, tentang ketergantungan kepada-Nya. ”

Dalil Ketiga: Keraguan Merusak Mata Hati

Ibnu Atha’illah kemudian berkata dengan suara yang lebih dalam. “Ketahuilah, Zaid, bahwa keraguan terhadap janji Allah bukanlah dosa kecil. Ia adalah racun yang memadamkan cahaya hati. ”

“Allah berfirman:

‘Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’ (QS. An-Nahl: 97)

“Allah berjanji kehidupan yang baik. Tetapi jika engkau meragukan janji itu—meskipun kehidupanmu sedang sulit—maka engkau sedang merusak mata hatimu sendiri. Engkau sedang memadamkan cahaya jiwamu.”

Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata benar atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dan di antara bentuk perkataan benar adalah tidak mendustakan janji Allah dengan keraguanmu.”

Dalil Keempat: Allah Akan Menolong Agama-Nya

Ibnu Atha’illah membacakan ayat terakhir:

‘Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.’ (QS. Muhammad: 7)

“Perhatikanlah, Zaid. Janji ini bersyarat: jika kamu menolong agama Allah. Maka periksa dirimu. Apakah engkau telah menolong agama Allah? Apakah engkau telah berjuang di jalan-Nya? Jika ya, maka janji itu pasti. Jika belum, maka jangan menyalahkan Allah—salahkan dirimu sendiri.”

“Dan ketahuilah, janji Allah tidak pernah meleset. Yang meleset adalah pemahaman kita tentang kapan dan bagaimana janji itu akan terwujud.”

Penutup: Kembalikan Keraguanmu kepada Allah

Malam semakin larut. Angin laut masih berhempas, tetapi hati para salik mulai tenang. Ibnu Atha’illah bangkit dari duduknya, membetulkan selendangnya, dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

“Anak-anakku,” ujarnya, “janji Allah itu benar. Jika belum terwujud, bukan karena Dia ingkar—tetapi karena waktunya belum tiba menurut ilmu-Nya, bukan menurut egomu. ”

“Keraguanmu tidak akan mengubah takdir. Ia hanya akan memadamkan cahaya hatimu. Maka janganlah engkau meragukan janji Allah, meskipun engkau telah menunggu lama. Sebab orang yang meragukan janji Allah adalah orang yang belum mengenal Allah.”

“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, aku berhusnuzan kepada-Mu. Aku yakin janji-Mu benar. Karuniakanlah kepadaku kesabaran untuk menunggu, dan keyakinan yang tidak tergoyahkan oleh penundaan.’”

Zaid mengusap air matanya. Ia belum melihat janji itu terwujud. Tetapi ia telah melihat sesuatu yang lebih berharga: kebenaran Dzat yang berjanji.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah kedelapan, Ketika Allah Membuka Pintu Perkenalan

Tragedi Pensiunan Telkom: "Apa yang Bisa Dilakukan Direksi Telkom, Danantara dan Mahkamah Konstitusi"

Secangkir Anggur Merah, Edisi-71) Leaderline : Tulisan ini didedikasikan kepada perjuangan kehidupan tragis para mantan karyawan Telkom yang...