Jumat, 07 Agustus 2026

Dua Sayap: "Marifatullah dan Akhlak Waliyullah"


Pengantar: Dalam khazanah spiritualitas Islam, marifatullah sebagai pengetahuan mendalam tentang Tuhan, bukanlah sekadar pencapaian intelektual. Ia adalah perjalanan jiwa yang menembus tabir. Menyelami esensi di balik wujud. Dan pada puncaknya melahirkan akhlak yang luhur. Akhlak waliyullah, para kekasih Allah, adalah buah matang dari pohon makrifat yang berakar dalam hati. Tulisan ini mencoba merenungi keterkaitan erat antara keduanya: bahwa semakin dalam seseorang mengenal Tuhannya, semakin sempurna pula perilakunya di hadapan ciptaan-Nya.

Makrifat sebagai Fondasi

Marifatullah dalam perspektif tasawuf bukanlah pengetahuan tentang sifat-sifat Tuhan semata.Ia merupakan  pengalaman batin yang membakar segala bentuk kesombongan dan keakuan. Para wali, misalnya, tidak mengenal Allah melalui teks-teks kaku atau dalil-dalil formal semata. 

Mereka mengenal-Nya melalui kesaksian hati yang jernih. Melalui setiap hembusan angin. Setiap rintik hujan. Dan setiap detak kehidupan. Makrifat adalah mata batin yang melihat kehadiran Ilahi di mana-mana, tanpa terhalang dinding materi.

Pengetahuan semacam ini melahirkan kesadaran eksistensial. Bahwa manusia bukanlah pusat alam semesta, melainkan titik kecil dalam lautan keagungan Tuhan. Kesadaran inilah yang kemudian membentuk pondasi akhlak yang kokoh. Tanpa makrifat, akhlak hanya akan menjadi topeng sosial. 

Seperti upaya mematut-matut diri untuk berperilaku baik yang dilakukan sekadar untuk pujian atau kepentingan duniawi. Namun dengan makrifat, akhlak mengalir dari sumber kesadaran  terdalam. Muncul sebagai ekspresi alami dari jiwa yang telah fana dalam kehendak Ilahi.

Akhlak Waliyullah, Refleksi Sifat Ilahi

Akhlak waliyullah adalah cerminan dari sifat-sifat Tuhan yang Maha Indah. Mereka berakhlak bukan karena terpaksa atau takut akan sanksi, melainkan karena hati mereka telah menyatu dengan nilai-nilai ketuhanan. Rahmat, kelembutan, kesabaran, dan keadilan bukanlah beban moral yang dipaksakan, melainkan pancaran alami dari jiwa yang telah tercerahkan.

Seorang wali tidak akan merendahkan sesama, karena ia sadar bahwa setiap manusia adalah cermin dari Asma Allah. Ia tidak akan menindas, karena ia memahami bahwa kekuasaan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. 

Ia tidak akan membenci, karena hatinya dipenuhi cinta yang melampaui batas-batas kebencian. Dalam pergaulan sehari-hari, akhlak waliyullah tampak dalam kerendahan hati yang tulus, ketulusan dalam memberi, dan keberanian dalam menegakkan kebenaran. Mereka berbicara dengan hikmah, diam dengan dzikir, dan memandang semua makhluk dengan kasih sayang.

Inilah yang membedakan akhlak waliyullah dari akhlak kebanyakan manusia. Ia tidak bersifat reaktif atau situasional, tetapi merupakan watak permanen yang bersumber dari kesadaran akan kehadiran Tuhan yang senantiasa menyaksikan setiap gerak-gerik hamba-Nya.

Makrifat dan Akhlak sebagai Satu Kesatuan

Dalam pandangan para sufi, marifatullah dan akhlak yang luhur tidak dapat dipisahkan. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, sebagaimana amal tanpa ilmu adalah kegelapan. 

Namun lebih dari itu, makrifat yang sejati otomatis melahirkan amal yang saleh. Sebab, mengenal Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan membuat hati seorang hamba tercurah dalam kasih sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.

Sebaliknya, jika seseorang mengaku memiliki makrifat yang tinggi namun akhlaknya buruk, seperti sombong, kasar, atau zalim, maka makrifatnya patut diragukan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." Maka puncak kesempurnaan makrifat adalah kesempurnaan akhlak, dan kesempurnaan akhlak adalah bukti nyata dari kedalaman makrifat.

Dua Sayap: Marifat dan Akhlak

Marifatullah dan akhlak waliyullah adalah dua sayap yang membawa jiwa terbang menuju Ilahi. Tanpa sayap makrifat, akhlak akan kehilangan arah. Tanpa sayap akhlak, makrifat akan menjadi teori hampa. 

Perjalanan spiritual seorang hamba adalah upaya terus-menerus untuk menyelaraskan keduanya. Menggali pengetahuan tentang Tuhan sedalam-dalamnya. Dan menuangkan pengetahuan itu dalam perilaku yang mencerminkan keindahan-Nya. 

Semoga kita semua diberi kesempatan untuk merasakan sentuhan makrifat dan dihiasi dengan akhlak para kekasih-Nya. Aamiin Ya Allahu Ya Robbal Alamiin.

Kamis, 06 Agustus 2026

Kabinet Bayangan, Badut Tanpa Panggung?



Secangkir Anggur Merah, Edisi 26)

Pengantar: Di negara parlementer, kabinet bayangan (shadow cabinet) adalah institusi formal oposisi yang memiliki landasan konstitusional. Selain akses ke informasi negara. Di Indonesia, cukup unik, kabinet bayangan adalah produk masyarakat sipil yang bekerja pro-bono (gratisan), tanpa anggaran, tanpa akses data resmi, bahkan tanpa kuasa apa pun. Idealismenya lumayan mulia: sebagai fungsi checks and balances dalam sistem ketatanegaraan kita. Tentu saja ini untuk mengimbangi suara DPR yang tajinya sudah tumpul. Tapi jika tanpa SDM dengan kualiifikasi memadai dan dukungan sumberdaya yang mumpuni, bukankah ini bagai kumpulan badut tanpa panggung? Mari kita "sentil" bersama.

Bayangan tak pernah bergerak sebelum objeknya bergerak. Bayangan tak pernah ada sebelum cahaya menyinari. Maka ketika sekelompok akademisi dan aktivis masyarakat sipil mendeklarasikan diri sebagai "Kabinet Bayangan" pada 17 Juli 2026, mereka tanpa sadar telah mengakui kelemahan paling mendasar dari inisiatif mereka sendiri. Bahwa mereka hanyalah bayangan, bukan sumber cahaya. Nah, ini baru sentilan pertama.

Kabinet Bayangan mengusung sebuah idealisme dari pengakuan jujur bahwa fungsi checks and balances dalam sistem ketatanegaraan Indonesia telah lumpuh. Memang benar, hampir seluruh kekuatan politik hari ini berada di barisan pendukung pemerintah. 

Sementara DPR, maaf, yang seharusnya menjadi pengawas eksekutif telah kehilangan tajinya. Dalam situasi koalisi tunggal seperti ini, suara kritis, tajam dan menohok nyaris tak punya ruang. Maka 15 orang dari kalangan akademisi, aktivis, dan peneliti berkumpul, membentuk struktur guna membayangi Kabinet Merah Putih.

Niatnya begitu bijak dan terpuji: mengawasi kebijakan pemerintah, memastikan kesesuaiannya dengan konstitusi, dan menawarkan alternatif berbasis bukti. Tapi, 
tentu saja  niat baik tak pernah cukup dalam politik bukan? Ini sentilan kedua.

Tiada Cahaya, Tiada Bayangan

Kritik paling tajam justru datang dari celah terminologis yang mereka pilih sendiri. Pengamat politik Hendri Satrio (Hensa) dengan tepat melontarkan sindiran: "Kabinet Bayangan? Bayangan butuh cahaya, kalau enggak ada cahaya, enggak ada bayangan. Dan kalau tuannya enggak bergerak, mana bisa bayangan bergerak".

Dengan kata lain, Kabinet Bayangan secara konseptual mengecilkan potensi mereka sendiri. Mereka mengakui secara tidak langsung bahwa mereka tak punya agenda mandiri. Hanya bisa bereaksi terhadap kebijakan penguasa.

Jika pemerintah diam, bayangan ikut diam. Jika pemerintah lamban, bayangan tak bisa berbuat apa-apa. Nama yang mereka pilih justru menjadi bumerang. Menegaskan bahwa mereka adalah entitas dependen, bukan kekuatan otonom yang mampu melahirkan gagasan dari dalam dirinya sendiri. Maaf ini sentilan ketiga..!

Hensa mengusulkan nama Kabinet Bayangan diganti jadi Kabinet Tandingan. Nama ini lebih punya daya dobrak. Setidaknya, ada keberanian untuk berdiri sejajar, dan memberi ruang untuk terjadinya adu gagasan. Walaupun inisiatif ini tetap memilih jalan aman. Menjadi bayangan, bukan cahaya. Jelas ini bukan sentilan, tapi masukan dong...

Jangan Jadi Badut Tanpa Panggung

Lebih keras lagi, pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menyebut kabinet bayangan seperti badut yang hanya menjadi bahan tertawaan publik karena tak memiliki legitimasi politik maupun mandat rakyat. Pemerintahan yang sah adalah pemerintahan yang memperoleh mandat melalui pemilihan umum—dan kabinet bayangan tak punya itu. Ini sentilan keempat dari Amir Hamzah loh, bukan dari saya.

Mereka tak memiliki kewenangan konstitusional untuk menentukan arah kebijakan negara. Yang mereka miliki hanyalah panggung simbolik dan sorotan media. Simbol tanpa daya, kritik tanpa kuasa.

Bicaralah Pakai Data

Mensesneg Kabinet Bayangan, Feri Amsari, sudah memberi sinyal bahwa capaian pemerintah "lebih banyak gagal daripada berhasil.  MIsalnya,  menyebut program Koperasi Desa Merah Putih mungkin tidak lulus. 

CEO Induk Koperasi Usaha Rakyat,Suroto, merespons dengan pertanyaan yang tepat: berdasarkan data apa? "Saya kira Kabinet Bayangan ini kalau tidak mau disebut sebagai bayang-bayang kabinet yang tidak jelas, sejatinya bicaranya pakai data," tandasnya.

Di sinilah letak ironi berikutnya: kabinet yang mengklaim bekerja berbasis bukti justru dinilai menarik kesimpulan prematur. Tanpa data yang solid, kritik mereka tak berbeda dengan gosip politik. berisik tapi kosong kalau tak mau dibilang narasinya bagai pepesan kosong.

Mimpi Menjadi Pahlawan Super

Mereka boleh saja bermimpi menjadi semacam "Avengers of CSOs"—pahlawan super dari organisasi masyarakat sipil. Tapi para pahlawan dalam cerita punya kekuatan nyata. Kabinet Bayangan hanya punya kemauan baik dan keterbatasan struktural yang menganga. Sentilan kelima.

Bayangan itu memang tidak abadi. Begitu cahayanya pindah atau meredup, bayangannya pudar dan hilang".

Kabinet Bayangan mungkin akan mencatat sejarah sebagai percobaan berani masyarakat sipil untuk mengisi ruang kosong pengawasan. Tapi selama mereka memilih menjadi bayangan, mereka selamanya akan bergantung pada cahaya yang mereka klaim ingin dikritik.

Jika ingin dianggap serius, ya, jadilah cahaya, bukan sekadar bayangan. Jadi jangan pernah menjadikan Kabinet Bayangan sebagai kumpulan Badut Tanpa Panggung. Ayo, benahi dari berbagai aspeknya, agar kehadirannya punya kharisma dan menggetarkan jagat Nusantara. Ini bukan sentilan, tapi support, loh...!!
(ekspresi greget/kigempurmudharat/awal-agustus-26)

Rabu, 05 Agustus 2026

Quo Vadis, Universitas Republik Indonesia (URI)


(Secangkir Anggur Merah, Edisi:25)

Pengantar: Rencana pembentukan 10 Universitas Republik Indonesia (URI) diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada 22 Juli 2026. Tentu saja mendapat sambutan  gegap gempita. Namun di balik narasi mulia guna mencetak pemimpin masa depan dan kuliah gratis, ditengarai ada agenda tersembunyi (hidden agenda) yang layak dipertanyakan. Apakah ini benar-benar solusi bagi pendidikan Indonesia? Atau sekadar proyek gila guna memenuhi ambisi politis? Bahkan harus dengan tega "memperkosa" sebuah  realitas? Quo Vadis? (Mau Kemana) dibentuknya 10 URI ini?

Pertanyaan paling mendasar, untuk apa mendirikan 10 kampus baru? Ketika Indonesia sudah memiliki LAN, Lemhannas, Sekolah Kedinasan, dan BUMN Corporate University? 


LAN bahkan telah memiliki tiga politeknik di Jakarta, Bandung, dan Makassar. Dengan tegas, ini bukan inovasi, melainkan duplikasi birokrasi yang menghambur-hamburkan sumberdaya dan dana. Mohon maaf,,,!

Alih-alih memperkuat lembaga yang sudah ada, pemerintah memilih membangun dari nol. Alamak, sebenarnya logika apa yang mendasari? Ini jelas bukan semangat integrasi yang diklaim, melainkan sentralisasi kekuasaan. 

Misalnya, menempatkan seluruh aparatur pendidikan di bawah kendali satu orang, yakni Gubernur URI. Sejarah membuktikan, konsentrasi kekuasaan tanpa pengawasan ketat identik dengan memancing biang masalah, kalau tak mau dibilang mengadirkan sebuah resep bencana.

Indahnya Iming-iming Bea Siswa

Narasi "beasiswa penuh" memang kedengarannya terasa indah. Namun, jangan lupa pemeo, tidak ada makan siang yang gratis. Semua dibiayai APBN, tentu saja itu berarti berasal dari uang rakyat. 

Ironisnya, di tengah keterbatasan anggaran pendidikan, prioritas membangun 10 kampus elit justru mengabaikan kebutuhan mendasar. Seperti masih kekurangan tenaga guru, kesejahteraan guru yang masih terabaikan, sekolah rusak di berbagai pelosok, dan anak-anak yang putus sekolah karena faktor biaya.

Idealismenya, URI diproyeksikan bakal mencetak lulusan untuk pemerintahan dan BUMN. Aduh, aduh,,,! Bukankah ini berarti masuk dalam sistem feodalisme modern? Misalnya. seleksi dan kaderisasi elitis yang hanya akan memperlebar jurang antara orang dalam dan rakyat biasa. Pendidikan bukanlah mesin pencetak pejabat bung!, melainkan ruang bagi siapa pun untuk tumbuh dan berkembang.

Pengajar Asing Simbol Rendah Diri

Begitupun dengan rencana mendatangkan pengajar asing, bukankah ini menunjukkan adanya kompleksitas rendah diri. Seolah-olah Indonesia tak sanggup menghadirkan dosen berkelas. Atau bagai kita tidak memiliki kapasitas sebagai akademisi mumpuni. 

Maaf, ini lebih difahami sebagai penghinaan terhadap profesor dan peneliti dalam negeri yang telah berkarya tanpa fasilitas memadai. Jika pemerintah serius meningkatkan kualitas SDM, mengapa tidak memberikan dana riset dan perbaikan fasilitas kepada kampus-kampus yang sudah ada? Lagi lagi mohon maaf...!

Bom Waktu 399 

Fakta bahwa 399 pegawai BUMN sudah menjalani pelatihan adalah bom waktu. Tanpa mekanisme seleksi transparan, proses ini rentan menjadi ajang nepotisme dan politik balas budi. Bukankah ini awal dari sistem kaderisasi tertutup yang hanya melayani kepentingan segelintir orang? Tuh, kan, saya bilang apa..!

Pemerintah ingin membangun "10 kampus", tetapi lupa bahwa pendidikan bukanlah proyek infrastruktur. Bangunan megah tanpa guru berkualitas, kurikulum bermakna, dan akses yang adil hanyalah monumen kesombongan.

Rakyat sesungguhnya tidak butuh 10 kampus baru. Mereka butuh sistem pendidikan yang menjangkau semua, bukan sekadar kader elit. Kritik ini bukan penolakan terhadap perubahan, melainkan seruan untuk bekerja dari akar. Bukan menebang pohon lama untuk menanam yang baru dengan nama lebih mewah.

Bertaruh Sebuah Harga

Meski angka pastinya belum diumumkan, berbagai indikasi menunjukkan proyek 10 kampus URI ini akan menguras kantong negara secara luar biasa. Biaya pembangunan satu gedung kampus IPDN di Sumedang saja mencapai Rp80,9 miliar untuk 3 gedung fakultas. 

Sementara pembangunan satu gedung kuliah dan laboratorium di Unnes menghabiskan Rp120 miliar, dan proyek Kampus UIN Malang Tahap II mencapai Rp674,66 miliar. Jika satu kampus URI membutuhkan rata-rata Rp500 miliar saja, belum termasuk gaji dosen, beasiswa mahasiswa, operasional, dan riset, maka 10 kampus bisa menelan biaya triliunan rupiah. 

Direktur Celios bahkan menegaskan proyek ini butuh anggaran besar dan menuai kritik dari kalangan akademisi internasional yang menilai sebagai tidak masuk akal.

Di sisi lain, tunggakan tunjangan profesi dosen mencapai Rp5,7 triliun yang hingga kini belum dibayarkan. Ironi: membangun kampus baru di tengah utang kepada pengajar kampus lama.

Dengan Anggaran yang Sama, untuk Apa Saja?

Andaikan biaya pembangunan 10 kampus URI hanya Rp5 triliun, mari kita lihat apa yang bisa dilakukan dengan jumlah itu:

Pertama, Memperbaiki sekolah rusak nasional 

Pemerintah menggelontorkan Rp18 triliun untuk revitalisasi seluruh sekolah rusak di Indonesia. Hanya sepertiga dari angka itu sudah cukup untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia dari belajar di bawah atap bocor.

Kedua, Beasiswa KIP Kuliah 1 juta mahasiswa 

Anggaran program ini pada 2026 adalah Rp15,3 triliun. Dengan Rp5 triliun saja, kita bisa memberi beasiswa kepada sekitar 330.000 mahasiswa kurang mampu selama satu tahun penuh.

Ketiga. Menaikkan insentif guru honorer 

Saat ini tunjangan guru honorer baru naik dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu per bulan. Dengan Rp5 triliun, pemerintah bisa menaikkan tunjangan 1 juta guru honorer sebesar Rp400 ribu per bulan selama lebih dari satu tahun—atau menaikkannya menjadi Rp1 juta per bulan selama 10 bulan.

Keempat, Membangun fakultas kedokteran dan engineering 

Bukankah ini yang semula dijanjikan Presiden Prabowo pada Januari 2026? Alih-alih membangun 10 kampus pendidikan kebangsaan yang jelas-jelas kabur definisinya, lebih baik fokus pada kebutuhan SDM riil. Seperti  tenaga dokter, insinyur, dan ilmuwan.

Kelima, Mengangkat 150.000 guru ke jenjang S1 

Pemerintah menyediakan beasiswa Rp3 juta per semester bagi guru yang belum S1. Dengan Rp5 triliun, hampir seluruh kebutuhan peningkatan kualifikasi guru nasional bisa terbayarkan.

Jangan Menjadi Monumen Kesombongan

Pendidikan yang baik bukanlah proyek infrastruktur. Bangunan megah tanpa guru sejahtera, kurikulum bermakna, dan akses adil hanyalah monumen kesombongan. Rakyat tidak butuh 10 kampus baru. Mereka butuh sistem pendidikan yang menjangkau semua. Anggaran triliunan lebih bermakna untuk memperbaiki yang rusak, bukan membangun yang baru dengan nama lebih mewah.

Insyaallah, pemerintah kuat menahan kritikan yang tajam menohok ini. Ya iya lah...Masa Ya iya dong...!!!
(Luapan essay Ki Gempur bersama asisten digital)

Selasa, 04 Agustus 2026

Wawancara dengan Musuh Abadi: Siapa Manusia Paling Celaka di Mata Iblis


Pengantar: Berikut wawancara imajiner Ki Gempur Mudharat (KGM) dengan Iblis, yang berlangsung di sebuah ruang hampa di antara alam mimpi dan sadar. Perbincangan ini untuk menguak siapa sebenarnya manusia paling celaka di akhirat. Bukan menurut logika kita, melainkan menurut logika sang penyesat umat itu sendiri: Iblis.

(Suasana: Hampa. Bukan gelap, bukan terang. Hanya ada keheningan yang berdenting di telinga. Di hadapan Saya duduk seorang sosok dengan raut tenang namun mata yang menyimpan kobaran purba. Ia bertanduk, berwujud merah menyala. Ia tampak bagai seorang yang tampak lelah, menyandarkan punggungnya pada singgasana asap. Itulah dia: IBLIS.)


KGM: “Selama ribuan tahun Engkau diberi umur panjang untuk menyesatkan anak cucu Adam. Dari sekian milyar jiwa yang telah Kau bawa ke jurang kenistaan, siapakah menurut-Mu manusia yang paling celaka di akhirat nanti? Apakah pembunuh berdarah dingin? Atau para tiran yang menindas umat? Para politisi bajingan? Para koruptor? Tukang selingkuh? Para bajingan legislatif? Para penyeleweng keadilan?”

IBLIS: (Tersenyum sinis, menyilangkan jari-jari tangannya yang pucat) “Kau bertanya seperti seorang pemula, anak manusia. Kalian selalu terpaku pada dosa besar yang kasat mata. Darah, harta, kaum bajingan dan perselingkuhan. Sungguh membosankan. Tanyakan pada malaikat pencatat amal, mereka akan katakan bahwa para pembunuh, perampok dan para bajingan itu tahu persis apa yang mereka perbuat. Saat neraka menyambar tubuh mereka, mereka hanya menerima konsekuensi dari kenikmatan duniawi yang sudah mereka rasakan. Mereka menderita, tapi hati mereka tahu mengapa. Yang paling celaka, bukanlah mereka.”

KGM: “Lalu siapa? Orang yang berbuat syirik? Orang yang meninggalkan shalat?”

IBLIS: (Tertawa kecil, suaranya bergema  seperti derak bara api) “Syirik? Itu adalah kegelapan yang kasat. Tapi tahukah kau, anak Adam, bahwa aku tidak pernah berhasil menggoda Nabi-Nabi, para Syeikh, para Kyai, para Ustadz untuk menyembah berhala? Yang aku tanamkan jauh lebih halus. Yang paling celaka di akhirat kelak adalah orang yang beribadah kepada-Ku tanpa menyadarinya, sementara ia mengira dirinya sedang beribadah kepada Tuhanmu.”

KGM: “Apa maksudmu, wahai penyesat umat?”

IBLIS: “Aku akan ceritakan padamu tentang seorang lelaki. Sebut saja dia Fulan. Di dunia, Fulan adalah seorang alim. Jenggotnya lebat, air matanya deras saat membaca ayat-ayat suci. Ia mendirikan masjid, memberi makan anak yatim, dan hafal kitab suci di luar kepala. Setiap Jumat ia berdiri di mimbar, suaranya menggema memperingatkan umat akan siksa neraka. Masyarakat memujanya. Para wanita menyebutnya Syeikh atau Kyai, dan kaum lelaki berebut duduk di dekatnya. Namun, di sela-sela kesibukannya, Fulan menyimpan racun kecil dalam hatinya: Ia benci pada seorang tetangganya yang miskin. Bukan karena si miskin jahat, tapi karena si miskin itu cuwek padanya. Fulan merasa penghormatan yang ia terima dari orang banyak adalah haknya, dan si miskin itu telah mencuri haknya dengan tidak memujanya. Fulan tetap memberi sedekah pada si miskin, namun ia melakukannya dengan gerutu dalam hati: ‘Dasar tidak tahu budi, sudah kuberi makan masih saja tidak mencium tanganku.’”

(KGM terdiam. Iblis melanjutkan dengan suara yang semakin bergetar, seakan menikmati setiap detailnya.)

IBLIS: “Fulan meninggal dunia. Ia dihisab dengan perhitungan yang sangat teliti. Amal shalatnya berjajar rapi, sedekahnya bertumpuk, hafalannya sempurna. Namun ketika timbangan kebaikan dan keburukan diletakkan, malaikat berkata: ‘Wahai Fulan, semua amalmu telah sempurna. Namun, ke mana perginya niat? Ke mana perginya keikhlasan? Ketika kau mengajar, kau ingin disebut Syeikh, Kyai atau Ustadz. Ketika kau memberi, kau ingin dipuji ‘Dermawan’. Ketika kau shalat di baris pertama, kau ingin dilihat orang betapa ‘khusyuk’ dirimu. Dan yang paling fatal: di setiap sudut hatimu, kau menyimpan kebencian pada saudaramu yang miskin karena ia tidak mengagung-agungkanmu.’”

KGM: “Lalu?”

IBLIS: “Fulan digiring ke neraka. Bukan ke neraka yang penuh nyala api seperti yang dibayangkan orang-orang. Ia digiring ke sebuah lembah yang gelap, sunyi, dan dingin menusuk tulang. Di sana tidak ada iblis yang menyiksanya, tidak ada belerang yang membakar kulitnya. Yang ada hanyalah kesadaran total. Bayangkan, anak Adam—mengetahui bahwa seluruh hidupmu adalah tipuan, bahwa Tuhanmu melihat isi hatimu yang busuk, bahwa semua orang yang kau pimpin ternyata selamat karena mereka menirumu secara lahiriah tapi mereka ikhlas, sedangkan kau—sang guru—justru celaka. Itulah siksaan yang paling mengerikan: kesendirian di tengah keramaian amal yang sia-sia.”

KGM: (Mencoba menelan ludah, tapi tenggorokannya kering. KGM bertanya lagi) “Apakah itu yang engkau cari? Apakah itu tujuanmu menyesatkan manusia?”

IBLIS: (Berdecak dengan senym sinis) “Aku tidak menyesatkan Fulan. Aku hanya membisikkan satu kalimat kecil di telinganya setiap pagi: ‘Kau lebih baik dari mereka.’ Dan Fulan dengan senang hati menerima bisikan itu. Sebab, bukankah manusia suka dibisiki bahwa dirinya istimewa? Aku tidak pernah memerintahkannya untuk membenci si miskin. Aku hanya membuatnya mencintai pujian. Dan cinta pada pujian adalah racun yang memabukkan. Ia akan melakukan semua kebaikan, namun tujuannya adalah dirinya sendiri, bukan Tuhanmu. Di akhirat, Tuhanmu berfirman: ‘Pergilah kepada orang yang dulu kau cari ridhonya, lihatlah apakah mereka bisa memberi syafaat bagimu sekarang?’ Dan Fulan menoleh ke kanan-kiri; yang ia lihat hanyalah wajah-wajah manusia yang dulu memujinya, kini justru menjauh dan memaki dirinya sebagai orang munafik.”

KGM: “Berarti orang munafik adalah yang paling celaka?”

IBLIS: “Bukan munafik biasa. Karena Fulan tidak menyekutukan Tuhan secara terang-terangan. Ia justru paling getol menyebut nama Tuhan. Yang paling celaka adalah orang yang memiliki ilmu tinggi namun hatinya mati karena sombong. Merasa kau lebih baik dari yang lain. Merasa lebih paling menjalankan sunah dan tidak bertoleransi pada amaliah yang lain. Aku akan katakan padamu, anak Adam. Jika engkau masuk neraka karena maksiat, engkau masih punya harapan akan belas kasih Tuhan, karena engkau mengakui dosamu. Tetapi jika engkau masuk neraka karena amalmu sendiri—karena kau menyangka bahwa amalmu sudah cukup untuk membeli surga, lalu kau lupa bahwa surga adalah milik Tuhan, bukan milik hasil jerih payahmu—maka di mana letak harapanmu? Kau sudah menganggap dirimu ‘lunas’ dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih celaka daripada orang yang berutang budi pada-Nya, padahal semua amalnya hanyalah hak-Nya yang harus ia tunaikan. Padahal engkau selamat di akhirat bukan karena amalmu tapi karena Rahmat dari Tuhan-Mu.”

(Ia berhenti sejenak. Matanya menyorot KGM dengan tajam.)

IBLIS: “Tahukah kau mengapa aku, Iblis, juga celaka? Karena aku sombong. Aku melihat Adam dari tanah liat, lalu memandang diriku dari api. Aku mengklaim kelebihanku di hadapan Tuhan. Fulan melakukan hal yang persis sama. Ia melihat orang miskin yang tidak pandai bicara, lalu memandang dirinya yang pandai berceramah. Ia mengklaim kelebihannya. Di akhirat, Fulan akan merasakan siksaan yang sama yang kurasakan setiap detik: melihat orang-orang yang ia hinakan duduk di surga, sementara ia terhempas ke bawah. Celaka, bukan karena siksaannya, melainkan karena rasa iri yang abadi terhadap mereka yang berhasil lolos masuk surga.”

KGM: “Jika Engkau tahu bahwa akhirmu dan akhir Fulan adalah celaka, lalu mengapa tidak bertobat? Mengapa terus melanjutkan permusuhan ini sampai akhir zaman?”

(Iblis terdiam. Untuk pertama kalinya, rautnya terlihat retak. Ada kepiluan dan kesedihan yang sangat tua di sana, namun segera tertutup oleh tawa getir yang menggema.)

IBLIS: “Karena Keagungan-Nya begitu besar, sehingga kehinaanku pun terasa manis bagiku. Aku telah terlalu jauh. Dan bagi Fulan-fulan yang kubawa itu ke jurang laknat itu, mereka tidak akan bertobat di akhirat, karena di sana kejujuran telah terungkap. Mereka tidak bisa lagi berbohong pada diri mereka sendiri. Di dunia, mereka bisa membungkam hati nurani dengan dalil-dalil dan pujian manusia. Di akhirat, semua dalil runtuh, yang tersisa hanya hati telanjang yang penuh bangkai kesombongan.”

(KGM menggigil. Ruang hampa itu terasa semakin dingin. KGM bertanya satu pertanyaan terakhir.)

KGM: “Jika suatu saat aku bertemu Fulan di akhirat, apa yang harus aku katakan padanya?”

IBLIS: (Bangkit berdiri, tubuhnya mulai memudar menjadi kabut). “Katakan padanya: ‘Celakalah engkau, karena engkau memiliki semua tanda keselamatan di wajahmu, namun engkau kehilangan satu hal yang paling mendasar: rasa butuh yang tulus kepada-Nya. Engkau datang ke hadirat-Nya dengan penuh kebanggaan, membawa setumpuk amal, lalu engkau meminta upah. Celakalah engkau, karena engkau menjadikan Tuhanmu sebagai majikan yang harus membayar gajimu, bukan sebagai Kekasih yang engkau rindukan.’”

(Iblis pun menghilang. Suara tawanya yang getir masih berdenyut di udara, lalu padam.)

(KGM terbangun dengan keringat dingin. Di keheningan malam, KGM memegang dadanya. Ia bertanya pada diri sendiri: Apakah selama ini aku beribadah karena cinta, atau karena kebiasaan, gengsi atau hanya ingin dipandang sebagai orang sholeh? Apakah hatiku bersih dari benci pada sesama, atau justru aku mencari kehormatan di atas kerendahan orang lain?)

(Pertanyaan itu tajam menggantung, lebih tajam dari pedang, dan saya tahu—jawabannya akan menentukan apakah saya akan menjadi seperti Fulan, atau menjadi seseorang yang di akhirat nanti hanya bisa tersenyum karena satu-satunya yang ia cari di dunia hanyalah Wajah-Nya.
)
(eskpresionis dialog imajiner kgm/kolaborasi-asisten digital/juli-2026)

Dua Sayap: "Marifatullah dan Akhlak Waliyullah"

Pengantar : Dalam khazanah spiritualitas Islam, marifatullah sebagai pengetahuan mendalam tentang Tuhan, bukanlah sekadar pencapaian intelek...