Catatan Pembuka: Sesi ketiga ini adalah yang paling berat. Berbeda dari dua sesi sebelumnya yang masih menyisakan ruang untuk narasi kepahlawanan. Sesi ini berlangsung di ruang isolasi Rutan KPK. Tanpa perekam. Tanpa saksi. Febrie duduk di seberang meja besi. Tangannya dibelenggu. Ia baru saja membaca surat dakwaan final. Kali ini, tidak ada retorika. Tidak ada mereka. Hanya ada Saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Wawancara imajiner ini adalah cermin yang ia sendiri enggan lihat.
Bagian Kesebelas: "Saya Bukan Korban. Saya Pelaku."
KGM: Malam ini saya tidak akan membiarkan Anda berbicara tentang mereka. Tidak ada mereka. Hanya ada Anda. Pertanyaan pertama: Apakah Anda bersalah?
FA: (Diam sangat lama. Hampir dua menit. Matanya menatap lantai) Saya sudah tiga minggu menolak pertanyaan itu. Saya selalu bilang saya tidak memeras. Saya tidak korupsi. Saya bersih. Tapi malam ini...(menelan ludah)...Saya lelah berbohong pada diri sendiri. Ya. Mungkin saya melakukan kesalahan.
KGM: Kemungkinan salah dalam arti apa? Karena memeras? Atau karena hal lain yang tidak pernah Anda akui?
FA: Bukan memeras. Bukan seperti yang mereka tuduhkan. Tapi Saya merasa bersalah karena saya membiarkan diri saya menjadi bagian dari sistem. Yang saya tahu sistem itu busuk. Tapi saya pura-pura tidak tahu.
Saya merasa bersalah karena selama 33 tahun, saya menutup mata pada adanya uang lelah. Yang mengalir di Tim 9 saya. Saya tahu. Saya tidak mengambilnya sendiri. Namun merasa bersalah karena saya tidak berusaha menghentikannya. Itu bukan integritas. Itu kemunafikan.
Bagian Keduabelas: "Saya Menjual Cerita bahwa Saya Bersih"
KGM: Anda membangun citra sebagai jaksa bersih selama bertahun-tahun. Apakah itu semua palsu?
FA: (Suaranya serak.) Tidak semua. Saya tidak punya IUP (Ijin Usaha Pertambangan). Saya tidak punya kebun sawit. Saya tidak pernah minta proyek. Itu semua benar.
Tapi ada hal yang lebih halus. Yang mungkin lebih licik. Yang tidak saya sadari sampai saya duduk di kursi ini. Saya menikmati kekuasaan. Saya menikmati ketakutan orang-orang ketika nama saya disebut. Saya menikmati ketika menteri gemetar di ruang pemeriksaan saya. Saya menikmati ketika pengusaha besar datang membawa pengacara mahal. Dan saya bilang ke pengacara itu, "tunggu di luar!"
Itu bukan penegakan hukum. Saya merasa itu adalah kesombongan. Dan kesombongan dalam sistem yang busuk, adalah pintu masuk bagi korupsi.
KGM: Jadi Anda mengakui bahwa Anda korup dalam arti lebih luas?
FA: (Mengangguk pelan.) Saya korup dalam arti saya mengizinkan sistem ini berjalan di sekitar saya tanpa saya lawan. Saya korup dalam arti saya memilih perkara berdasarkan siapa yang berani melawan saya. Tidak hanya murni berdasarkan bukti. Ada perkara yang saya percepat karena ada tekanan. Ada perkara yang saya lambatkan karena saya tidak ingin konflik.
Itu bukan keadilan. Itu politik. Dan pada saat itu saya bukan penegak hukum. Saya politisi yang memakai toga.
Bagian Ketigabelas: "74 Kilogram Emas Itu Bagian dari Cerita yang Saya Tutupi"
KGM: Mari kita bicara soal emas. Anda bilang kepemilikannya diperdebatkan. Malam ini, tanpa pengacara, tanpa kamera. Apakah emas itu milik Anda?
FA: (Diam. Menatap langit-langit) Nanti akan diuji di Pengadilan.
KGM: Atau mungkin sebagian?
FA: Memang ada yang menduga sebagian milik saya. Bahkan ada dugaan bukan dari pemerasan atau suap perkara. Silahkan saja kalau ada yang menduga-duga. Faktanya ada di keputusan pengadilan.
Hanya saja memang ada orang-orang yang ingin berterima kasih setelah perkara mereka selesai. Memberi dan menerima setelah selesai suatu perkara merupakan sesuatu yang lumrah.
Itu bukan suap dalam definisi hukum. Tapi itu gratifikasi. Dan gratifikasi, dalam UU KPK, adalah korupsi. Saya tahu itu. Dalam persidangan nanti akan saya ungkap seluruhnya.
KGM: Jadi Anda mengaku kalau Anda korupsi?
FA: (Suaranya bergetar). Ya. Dalam bentuk yang paling halus. Paling sopan. Paling tidak kelihatan. Saya tidak pernah memeras. Tapi saya memang pernah menerima. Dan menerima adalah bentuk lain dari gratifikasi.
Bagian Keempatbelas: "Saya Mengkhianati Tim 9 Saya"
KGM: Anda berbicara banyak tentang Tim 9. Apa yang Anda lakukan pada mereka?
FA: (Menutup mata. Air mata mulai mengalir.) Saya mengajari mereka untuk menjadi seperti saya. Saya ajari mereka bahwa untuk menangkap ikan besar. Kita harus punya kail yang kuat. Saya ajari mereka bahwa uang lelah adalah bagian dari pekerjaan. Saya ajari mereka bahwa integritas itu bisa dinegosiasikan.
Dan sekarang. Ketika mereka dipanggil sebagai saksi. Mereka semua menyebut nama saya. Bukan karena mereka dendam. Tapi karena saya yang menciptakan mereka. Mereka adalah cerminan saya. Dan cerminan itu, malam ini, menatap saya dan berkata: "Kau yang membuat kami seperti ini."
KGM: Apakah Anda menyesal?
FA: Saya menyesal karena saya tidak pernah memberi mereka pilihan untuk menjadi jaksa yang benar-benar bersih. Saya menyesal karena saya mengajari mereka bahwa hukum adalah alat, bukan tujuan. Dan alat, pada akhirnya, bisa dipakai untuk apa saja. Termasuk untuk menghancurkan saya sendiri.
Bagian Kelimabelas: "Saya Bukan Pahlawan yang Dikhianati. Saya dpandang sebagai Penjahat yang Tertangkap."
KGM: Dua sesi sebelumnya, Anda membangun narasi bahwa Anda korban perang faksi. Malam ini, Anda membongkar narasi itu sendiri. Mengapa?
FA: Karena saya sudah lelah. Saya lelah berpura-pura menjadi pahlawan sejati. Saya lelah melihat orang-orang di luar sana mengibarkan spanduk "Bebaskan Febrie". Padahal mereka tidak tahu bahwa saya dalam kondisi saat ini sulit mendapat kebebasan. Saya lelah mendengar junior-junior saya bilang Febrie dijebak. Padahal harus saya akui saya menjebak diri saya sendiri dengan gaya hidup dan gaya kekuasaan yang saya pilih.
Saya bukan pahlawan pembela hukum sejati. Saya mungkin dianggap sebagai salah satu penjahat yang tertangkap. Namun bagi saya, saat ini, penjahat yang jujur lebih terhormat daripada pahlawan pembohong.
KGM: Tapi Anda bilang ada perang faksi. Itu tetap benar, bukan?
FA: Perang faksi itu nyata. Tapi itu tidak membuat saya tidak bersalah. Dua hal bisa benar pada saat yang sama. Ada orang yang ingin menjatuhkan saya karena saya mengganggu bisnis mereka. Dan pada saat yang sama. Saya memang melakukan hal-hal yang membuat saya layak dijatuhkan. Saya bukan korban murni. Saya pelaku yang juga menjadi korban dari sistem yang saya bangun sendiri.
Bagian Keenambelas: "Gergaji Itu Adil"
KGM: Anda bilang di sesi pertama bahwa Anda "digergaji". Malam ini, apakah Anda masih merasa gergaji itu tidak adil?
FA: (Tersenyum getir. Air mata mengering.) Malam ini saya sadar. Gergaji itu adil.
Bukan karena yang menariknya bersih. Mereka tidak bersih. Tapi karena saya memang kayu yang harus dipotong. Saya sudah terlalu lama tumbuh di hutan yang salah. Menyerap nutrisi dari tanah yang busuk. Dan berpura-pura menjadi pohon yang lurus. Gergaji itu hanya alat. Yang menentukan apakah saya layak dipotong bukan gergajinya. Tapi saya sendiri.
KGM: Jadi Anda akan ikhlas menerima hukuman?
FA: Saya menerima bahwa ada yang salah dalam diri saya. Apakah hukuman yang akan saya terima adil? Belum tentu. Tapi saya tidak akan berjuang untuk bebas. Saya akan berjuang untuk jujur. Di persidangan. Di depan hakim. Di depan publik. Saya akan mengakui apa yang saya lakukan. Saya akan menyebut nama-nama yang memberi saya gratifikasi. Saya akan membuka semua yang saya tutupi.
Bukan karena saya ingin balas dendam. Tapi karena saya ingin menjadi cermin yang jujur. Bahkan kalau cermin itu retak.
Bagian Ketujuhbelas: "Pesan Terakhir untuk Indonesia"
KGM: Kalau ini wawancara terakhir Anda sebelum sidang, apa yang ingin Anda sampaikan?
FA: (Diam panjang. Menatap lurus ke mata wartawan). Sampaikan ini: Jangan jadikan saya pahlawan. Jangan jadikan saya martir. Jadikan lah saya pelajaran.
Saya adalah contoh bahwa kekuasaan tanpa integritas sejati akan berakhir di kursi besi seperti ini. Saya adalah contoh bahwa "bersih di atas kertas" tidak cukup kalau hati kita sudah tercemar oleh kesombongan. Saya adalah contoh bahwa penegak hukum yang tidak mau mengakui kesalahannya adalah penegak hukum yang paling berbahaya.
Dan kalau ada jaksa muda di luar sana yang mendengar ini: Jangan seperti saya. Jangan menikmati ketakutan orang. Jangan menganggap uang lelah sebagai hal biasa. Jangan pura-pura tidak tahu ketika sistem di sekitar Anda busuk. Karena suatu hari. Sistem yang Anda biarkan busuk itu akan datang untuk Anda.
Saya digergaji. Dan malam ini. Saya menerima gergaji itu. Bukan karena saya kalah. Tapi karena saya akhirnya jujur.
Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 01.33 WIB. Febrie Adriansyah menundukkan kepala. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga sesi. Ia menangis. Bukan tangis yang dramatis. Tapi tangis yang sunyi. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban 33 tahun. Petugas Rutan membawanya kembali ke sel. Di luar, hujan sudah berhenti. Dan di dalam sel, Febrie mulai menulis. Bukan pembelaan. Bukan ancaman. Tapi semacam pengakuan.
Satu kalimat yang ia tulis di halaman pertama: "Saya bukan korban. Saya adalah apa yang saya perangi. Dan hari ini. Saya akhirnya berhenti berperang melawan diri sendiri. Nantikan di Sesi-4. Yang sejatinya membuat Anda menangis.
Itu bukan suap dalam definisi hukum. Tapi itu gratifikasi. Dan gratifikasi, dalam UU KPK, adalah korupsi. Saya tahu itu. Dalam persidangan nanti akan saya ungkap seluruhnya.
KGM: Jadi Anda mengaku kalau Anda korupsi?
FA: (Suaranya bergetar). Ya. Dalam bentuk yang paling halus. Paling sopan. Paling tidak kelihatan. Saya tidak pernah memeras. Tapi saya memang pernah menerima. Dan menerima adalah bentuk lain dari gratifikasi.
Bagian Keempatbelas: "Saya Mengkhianati Tim 9 Saya"
KGM: Anda berbicara banyak tentang Tim 9. Apa yang Anda lakukan pada mereka?
FA: (Menutup mata. Air mata mulai mengalir.) Saya mengajari mereka untuk menjadi seperti saya. Saya ajari mereka bahwa untuk menangkap ikan besar. Kita harus punya kail yang kuat. Saya ajari mereka bahwa uang lelah adalah bagian dari pekerjaan. Saya ajari mereka bahwa integritas itu bisa dinegosiasikan.
Dan sekarang. Ketika mereka dipanggil sebagai saksi. Mereka semua menyebut nama saya. Bukan karena mereka dendam. Tapi karena saya yang menciptakan mereka. Mereka adalah cerminan saya. Dan cerminan itu, malam ini, menatap saya dan berkata: "Kau yang membuat kami seperti ini."
KGM: Apakah Anda menyesal?
FA: Saya menyesal karena saya tidak pernah memberi mereka pilihan untuk menjadi jaksa yang benar-benar bersih. Saya menyesal karena saya mengajari mereka bahwa hukum adalah alat, bukan tujuan. Dan alat, pada akhirnya, bisa dipakai untuk apa saja. Termasuk untuk menghancurkan saya sendiri.
Bagian Kelimabelas: "Saya Bukan Pahlawan yang Dikhianati. Saya dpandang sebagai Penjahat yang Tertangkap."
KGM: Dua sesi sebelumnya, Anda membangun narasi bahwa Anda korban perang faksi. Malam ini, Anda membongkar narasi itu sendiri. Mengapa?
FA: Karena saya sudah lelah. Saya lelah berpura-pura menjadi pahlawan sejati. Saya lelah melihat orang-orang di luar sana mengibarkan spanduk "Bebaskan Febrie". Padahal mereka tidak tahu bahwa saya dalam kondisi saat ini sulit mendapat kebebasan. Saya lelah mendengar junior-junior saya bilang Febrie dijebak. Padahal harus saya akui saya menjebak diri saya sendiri dengan gaya hidup dan gaya kekuasaan yang saya pilih.
Saya bukan pahlawan pembela hukum sejati. Saya mungkin dianggap sebagai salah satu penjahat yang tertangkap. Namun bagi saya, saat ini, penjahat yang jujur lebih terhormat daripada pahlawan pembohong.
KGM: Tapi Anda bilang ada perang faksi. Itu tetap benar, bukan?
FA: Perang faksi itu nyata. Tapi itu tidak membuat saya tidak bersalah. Dua hal bisa benar pada saat yang sama. Ada orang yang ingin menjatuhkan saya karena saya mengganggu bisnis mereka. Dan pada saat yang sama. Saya memang melakukan hal-hal yang membuat saya layak dijatuhkan. Saya bukan korban murni. Saya pelaku yang juga menjadi korban dari sistem yang saya bangun sendiri.
Bagian Keenambelas: "Gergaji Itu Adil"
KGM: Anda bilang di sesi pertama bahwa Anda "digergaji". Malam ini, apakah Anda masih merasa gergaji itu tidak adil?
FA: (Tersenyum getir. Air mata mengering.) Malam ini saya sadar. Gergaji itu adil.
Bukan karena yang menariknya bersih. Mereka tidak bersih. Tapi karena saya memang kayu yang harus dipotong. Saya sudah terlalu lama tumbuh di hutan yang salah. Menyerap nutrisi dari tanah yang busuk. Dan berpura-pura menjadi pohon yang lurus. Gergaji itu hanya alat. Yang menentukan apakah saya layak dipotong bukan gergajinya. Tapi saya sendiri.
KGM: Jadi Anda akan ikhlas menerima hukuman?
FA: Saya menerima bahwa ada yang salah dalam diri saya. Apakah hukuman yang akan saya terima adil? Belum tentu. Tapi saya tidak akan berjuang untuk bebas. Saya akan berjuang untuk jujur. Di persidangan. Di depan hakim. Di depan publik. Saya akan mengakui apa yang saya lakukan. Saya akan menyebut nama-nama yang memberi saya gratifikasi. Saya akan membuka semua yang saya tutupi.
Bukan karena saya ingin balas dendam. Tapi karena saya ingin menjadi cermin yang jujur. Bahkan kalau cermin itu retak.
Bagian Ketujuhbelas: "Pesan Terakhir untuk Indonesia"
KGM: Kalau ini wawancara terakhir Anda sebelum sidang, apa yang ingin Anda sampaikan?
FA: (Diam panjang. Menatap lurus ke mata wartawan). Sampaikan ini: Jangan jadikan saya pahlawan. Jangan jadikan saya martir. Jadikan lah saya pelajaran.
Saya adalah contoh bahwa kekuasaan tanpa integritas sejati akan berakhir di kursi besi seperti ini. Saya adalah contoh bahwa "bersih di atas kertas" tidak cukup kalau hati kita sudah tercemar oleh kesombongan. Saya adalah contoh bahwa penegak hukum yang tidak mau mengakui kesalahannya adalah penegak hukum yang paling berbahaya.
Dan kalau ada jaksa muda di luar sana yang mendengar ini: Jangan seperti saya. Jangan menikmati ketakutan orang. Jangan menganggap uang lelah sebagai hal biasa. Jangan pura-pura tidak tahu ketika sistem di sekitar Anda busuk. Karena suatu hari. Sistem yang Anda biarkan busuk itu akan datang untuk Anda.
Saya digergaji. Dan malam ini. Saya menerima gergaji itu. Bukan karena saya kalah. Tapi karena saya akhirnya jujur.
Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 01.33 WIB. Febrie Adriansyah menundukkan kepala. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga sesi. Ia menangis. Bukan tangis yang dramatis. Tapi tangis yang sunyi. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban 33 tahun. Petugas Rutan membawanya kembali ke sel. Di luar, hujan sudah berhenti. Dan di dalam sel, Febrie mulai menulis. Bukan pembelaan. Bukan ancaman. Tapi semacam pengakuan.
Satu kalimat yang ia tulis di halaman pertama: "Saya bukan korban. Saya adalah apa yang saya perangi. Dan hari ini. Saya akhirnya berhenti berperang melawan diri sendiri. Nantikan di Sesi-4. Yang sejatinya membuat Anda menangis.



