Selasa, 30 Juni 2026

Wawancara Imaginer dengan Donald J.Trump: "KAU BILANG SAYA PEMBUNUH..!!"


Catatan: Berikut ini adalah wawancara imaginer (khayalan) antara Saya (Kang Nana Seorang Jurnalis Indonesia) dengan Presiden AS Donald J. Trump. Berikut petikan wawancaranya.

Gedung Putih, pukul 21.33. Saya diizinkan masuk ke Ruang Oval setelah konferensi pers sore yang berakhir ricuh. (Trump duduk di balik meja kayu besar, dasi merahnya ditanggalkan, jari-jari kedua tangannya teranyam rapat diatas permukaan meja kerjanya).

Trump: (tanpa menoleh) Kau jurnalis dari Indonesia yang berteriak tadi. Berani sekali anda. Tapi Saya suka itu. Duduk...!

Saya: (duduk di kursi yang disodorkan Trump) Terima kasih, Mr. Presiden.

Trump: Kau bilang saya pembunuh. Teroris. Genosida. Kata-kata besar dari orang kecil. (menyipitkan mata). Tapi saya tidak marah. Saya penasaran. Katakan, mengapa kau begitu yakin?

Saya: Saya melihat kebijakan luar negeri AS — perang, sanksi, blokade. Ratusan ribu nyawa melayang atas nama "perdamaian". Bukankah itu kemunafikan?

Trump: (tertawa pendek) Kemunafikan? Itu kata yang indah. Tapi kau tahu apa masalah dunia? Terlalu banyak orang berpikir. Terlalu banyak orang berfilsafat. Analisis ini, analisis itu. Beginilah, begitulah. Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya bertindak. Amerika bertindak. Dan ketika Amerika bertindak, dunia mendengarkan.

Saya: Bukankah tindakan tanpa refleksi adalah kekerasan?

Trump: (mencondongkan badan) Dengar, saya sudah membaca buku-buku tebal. Saya sudah mendengar orang-orang pintar berbicara berjam-jam tentang moralitas, etika, dan semua omong kosong itu. Tapi bisnis, politik, kekuasaan — ini bukan tentang apa yang benar secara filsafat. Ini tentang apa yang berhasil. Dan apa yang berhasil adalah kekuatan. Berpolitik demi kekuatan dan kekuasaan.

(Dia berdiri dan berjalan ke jendela, memandang ke arah Washington yang gelap).

Trump: Lihatlah ke luar sana. Semua orang ingin menjadi baik. Mereka ingin dihormati, dicintai, dianggap bijak. Tapi hanya sedikit yang berani menjadi kuat. Saya tidak peduli jika mereka menyebut saya arogan, narsis, satu dimensi — saya mendengar semua kata-kata itu. Tapi lihatlah saya. Saya di sini. Mereka tidak.

Saya: Apakah itu yang kau cari? Bukti bahwa kau "di sini" dan mereka tidak?

Trump: (berbalik, alis terangkat) Pertanyaan psikologis. Saya suka itu. Tapi kau salah jika berpikir saya mencari validasi. Saya sudah mendapat validasi dari 80 juta orang yang memilih saya. Apa yang saya cari? (diam sejenak) Saya mencari legacy. Nama yang tidak akan dilupakan. Seperti piramida di Mesir. Seperti Tembok Besar Cina. Orang-orang mungkin membencinya, tetapi mereka mengingatnya.

Saya: Kau ingin menjadi monumen?

Trump: Saya ingin menjadi kenyataan. Dunia ini penuh dengan orang yang berbicara tentang apa yang seharusnya terjadi. Saya membuat sesuatu terjadi. Kadang buruk, kadang baik — saya tidak naif. Tapi setidaknya saya nyata. Tidak seperti filsuf-filsuf kau yang duduk di menara gading dan bicara tentang "solidaritas" tanpa pernah memegang kekuasaan sejati.

(Dia kembali duduk, menatap saya dengan intens).

Trump: Kau tahu apa yang saya pelajari selama bertahun-tahun? Bahwa dunia ini tidak adil. Tidak pernah adil. Dan semua omongan tentang kebaikan, keadilan, kesetaraan — itu hanya kata-kata yang membuat orang merasa nyaman sebelum tidur. Saya tidak menjual kenyamanan. Saya menjual hasil.

Saya: Tapi bukankah hasil tanpa moral hanya meninggalkan kehampaan?

Trump: (tersenyum lebar) Itu pertanyaan yang bagus. Mungkin kau harus menulis buku tentang saya. Tapi saya akan beri tahu sesuatu: orang-orang yang paling banyak bicara tentang moral adalah orang-orang yang paling takut menggunakan kekuasaan. Saya tidak takut. Itu sebabnya saya menang.

(Dia mengangkat gelas air, menyesapnya, lalu menatap saya panjang).

Trump: Kau sudah tidak muda lagi. Tapi kau masih punya idealisme. Itu bagus. Tapi ingat: idealisme tidak pernah membangun satu gedung pun, tidak pernah menandatangani satu perjanjian pun, tidak pernah menyelamatkan satu nyawa pun di medan perang. Yang membangun dunia adalah orang-orang yang bersedia mengotori tangan mereka. Suatu hari nanti, kau akan mengerti.

Saya: (diam sejenak) Mungkin. Tapi saya khawatir jika semua orang berpikir seperti kau, dunia akan menjadi panggung kekuasaan tanpa panggung kemanusiaan.

Trump: (tertawa, lalu berdiri mengakhiri pertemuan) Kau datang jauh-jauh dari Indonesia ke sini untuk melawan saya, tapi kau pulang dengan pertanyaan untuk dirimu sendiri. Itu sudah lebih dari yang didapat kebanyakan orang. 
(mengulurkan tangan) Besok, pikirkan baik-baik: apakah kau ingin menjadi benar, atau ingin menjadi berkuasa?

(Saya menjabat tangannya. Tangannya besar, hangat, dan terasa sangat nyata).

Trump: (sambil berbalik) Dan jangan lupa tulis itu dengan bagus. Saya suka tulisan yang bagus. Believe me...!!
---
(Keesokan paginya, saya Ki Gempur Mudharat meninggalkan Washington. Saya tidak mendapatkan jawaban. Tapi saya mendapatkan sebuah pertanyaan baru yang mungkin lebih penting).

Rabu, 17 Juni 2026

Ketika Sang Sufi Agung Abu Yazid al-Busthami Tidak Puasa


Bagi peminat kajian sufistik, siapa yang tidak kenal dengan Abu Yazid al-Busthami. Ia dikenal sebagai pelopor, pendiri perguruan sufi. Lahir di Bustham, Persia, dari seorang kakek penganut Zoroaster, Abu Yazid al-Busthami dikenal dalam dunia sufi karena keberaniannya menyatakan peleburan yang sempurna seorang mistikus ke haribaan Tuhan. 

 Secara khusus penjelasan-penjelasan mengenai perjalanan Abu Yazid al-Busthami ke surga (yang mirip dengan Mi'raj Nabi Muhammad SAW) banyak dipelajari oleh para peminat kajian sufistik. 

Tidak hanya itu, kisah kehidupan perjalanan Abu Yazid al-Busthami pun selalu menjadi inspirasi bagi manusia-manusia sesudahnya. Dikisahkan, setelah Abu Yazid al-Busthami dewasa, ibunya melepaskannya untuk berkelana mencari ilmu. Abu Yazid al-Busthami merantau dari satu negeri ke negeri lain selama tiga puluh tahun, dan melakukan disiplin diri dengan terus menerus berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. 

Ia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual. Berbagai negeri telah dikunjungi Abu Yazid al-Busthami. Tentu setiap negeri yang dikunjunginya meninggalkan jejak spiritual yang menakjubkan. Misalnya, suatu waktu Abu Yazid al-Bustahmi melakukan sebuah perjalanan. Ia membawa seekor unta sebagai tunggangan dan pemikul perbekalannya. 

Seorang pemuda yang melihat perilaku Abu Yazid al-Busthami bergumam "Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Engkau sungguh kejam," serunya. Setelah mendengar seruan itu berulang kali, akhirnya Abu Yazid al-Busthami menjawab, "Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta itu yang memikul beban." Setelah si pemuda meneliti, barulah ia percaya bahwa beban itu tidak ditanggung unta. 

Ia melihat beban itu mengambang satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikit pun tidak memikul beban sebagaimana yang disangkanya. "Maha Besar Allah, benar-benar menakjubkan," seru si pemuda. Melihat respon si pemuda, Abu Yazid al-Busthami berkata: "Jika kusembunyikan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepadaku. Tetapi, jika kujelaskan kenyataan-kenyataan itu kepadamu, engkau tidak akan memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku kepadamu?" 

Satu waktu, ketika Abu Yazid al-Busthami sedang mengunjungi kota Madinah, datang sebuah perintah untuk kembali pulang ke kota Bustham untuk merawat ibunya. Ditemani serombongan orang, ia pun bergegas menuju Bustham. Berita kedatangan Abu Yazid al-Busthami tersebar di kota Bustham dan penduduk kota sudah datang dan berkumpul untuk menyambutnya. 

Mereka menduga, Abu Yazid al-Busthami tidak akan lekas menemui ibunya, mengingat melayani orang-orang yang menyambutnya juga merupakan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh sang sufi. Tahu ia sudah ditunggu oleh sekumpulan Abu orang yang menyambutnya, Abu Yazid al-Busthami lantas mengeluarkan sepotong roti dari lengan bajunya dan memakannya, sedang saat itu sedang bulan Ramadhan. 

Melihat perilaku Abu Yazid al-Busthami yang demikian, sekumpulan orang yang ingin menyambutnya pun berpaling, bubar, menjauh, serta tidak menghiraukan kedatang sang sufi besar itu. Melihat sikap orang-orang yang meninggalkannya, Abu Yazid al-Busthami berkata kepada sahabatnya: "Tidaklah kalian saksikan. Betapa aku mematuhi sebuah perintah dari hukum suci, tapi semua orang malah berpaling dariku," terangnya. 

Singkat cerita, Abu Yazid al-Busthami tanpa rintangan kemudian bisa bertemu dengan ibunya. Jadi, untuk sekelompok orang yang suka melakukan sweeping saat bulan Ramadhan, berprasangka baiklah, tinggalkan tindak kekerasan, serahkan sepenuhnya kepada yang berwenang. 

Jangan-jangan yang tidak sedang berpuasa itu adalah mereka yang sedang dalam perjalanan yang diperbolehkan untuk berbuka. Atau boleh jadi mereka adalah seorang non muslim yang tidak ada kewajiban untuk melakukan puasa. Yang harus diingat puasa adalah ibadah privat, hanya Allah dan yang bersangkutan lah yang mengetahuinya. 

Mungkin saja seseorang di siang hari tampak lesu, lemah dan tak bertenaga; yakni mempunyai tanda-tanda lahiriah bahwa dia adalah seseorang yang sedang berpuasa. 

Namun tentu saja hal itu tidaklah menjadi jaminan bahwa dia benar-benar sedang berpuasa. Sebab mungkin saja dia melakukan sesuatu yang dapat membatalkan puasa ketika sedang sendirian, misalnya dengan meneguk segelas air. 

Sebaliknya, mungkin juga seseorang nampak bersemangat, biarpun hari telah tinggi; yakni, dia tidak menunjukkan tanda-tanda lahiriah bahwa dia sedang berpuasa. Tetapi justru sebenarnyalah dia sedang berpuasa, dan tetap teguh mempertahankan diri dari godaan yang dapat mengakibatkan ibadah puasanya batal. 

Itu semua menunjukkan bahwa puasa adalah suatu ibadah yang amat pribadi, privat. Artinya suatu ibadah yang tidak mungkin disertai oleh orang lain, dan juga pada hakikatnya tidak diketahui orang lain. Cag ah. 
Referensi: Fariduddin al-Attar, "Warisan Para Awliya". Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti kelahiran Garut//https://jabar.nu.or.id/ngalogat)

Selasa, 16 Juni 2026

Rabiah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan Peletak Dasar Mazhab Cinta


Abdul Wahhab As-Sya’rani merasa tidak perlu memperkenalkan riwayat Rabiatul Adawiyah atau Rabiah. Dalam At-Thabaqatul Kubra: Lawaqihul Anwar fi Thabaqatil Akhyar, sebuah hagiografi karya As-Sya’rani, ia mengatakan, kelebihan sufi perempuan yang satu ini cukup banyak dan begitu populer. 

Rabiah diperkirakan lahir pada 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah. Ia adalah ibu dari para sufi besar setelahnya. Pandangan-pandangan spiritualnya terus hidup di kalangan sufi selanjutnya. Ulama yang menaruh hormat kepadanya antara lain adalah Sufyan At-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Syaqiq Al-Balkhi. 

Rabiatul Adawiyah ahli ibadah perempuan yang kerap menangis dan bersedih karena ingat akan kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allah. Jika mendengar keterangan perihal neraka, Rabiah jatuh tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Rabiatul Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau superistimewa, tingkat tertinggi setelah tingkat orang kebanyakan (awam) dan tingkat orang istimewa (khawash). 

Kalau kebanyakan orang beristighfar atau meminta ampunan Allah atas dosa, Rabiah beristighfar untuk ibadah yang tidak sempurna. Rabiah menganggap ibadahnya penuh kekurangan baik secara lahiriyah-formal maupun batin-spiritual karena masih tercampur niat-niat yang kurang tulus dan segala penyakit batin yang menyertai ibadah tersebut. Istighfar di akhir ibadah merupakan pengakuan atas kekurangan dalam ibadah tersebut. Ahli makrifat menyepakati anjuran istighfar usai beramal saleh. 

Dalam riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah SAW beristighfar tiga kali tiap selepas sembahyang wajib. Maksudnya, menetapkan syariat istighfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan ketidaksempurnaan ibadah mereka. (As-Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah). 

Kita kemudian mengenal ucapan yang populer dari Rabiatul Adawiyah, “Istighfāruna yahtāju ilā istigfārin” atau “Kalimat istighfar atau permohonan ampun kita (baca: ibadah) perlu juga dimintakan ampun kembali.” (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin; An-Nawawi, Al-Adzkar; dan As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 65). Rabiah bukan tipe orang yang mudah menerima pemberian orang lain. 

Ia begitu zuhud. Ia kerap menolak pemberian orang lain. Ia akan dengan jujur mengatakan, “Aku tidak terlalu berhajat pada dunia.” Memasuki usia ke-80, fisiknya melemah. Tubuhnya begitu kurus sehingga hampir-hampir jatuh ketika berjalan. Tempat sujud Rabiah persis seperti tempat genangan air. Tempat sujudnya selalu basah dengan air mata. 

 Rabiah sering terlibat percakapan dengan Sufyan At-Tsauri. Suatu ketika, ia mendengar Sufyan At-Tsauri menyatakan prihatin atas dirinya, “Alangkah sedihnya.” Rabiah lalu menjawab, “Betapa kecil kesedihan itu. Andai aku bersedih, niscaya tidak ada kehidupan di sana.” Sufyan At-Tsauri pernah berdoa di dekat Rabiah, “Ya Allah, berikanlah ridha-Mu padaku.” Rabiah menanggapinya, “Apakah kau tidak malu kepada Allah dengan meminta ridha-Nya. Sedangkan dirimu tidak ridha atas ketentuan-Nya.” Sufyan At-Tsauri kemudian beristighfar. (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin: 346). 

Kematian Rabiah pernah ditanya kapan seorang hamba dikatakan ridha atas ketentuan Allah. Ia mengatakan, “Ketika musibah membuatnya bahagia sebagaimana kebahagiaannya ketika mendapatkan nikmat.” (Imam Al-Qusyairi, Risalatul Qusyairiyah: 89). 

Di tengah luapan rindunya yang tak terkendali, Rabiah pernah melontarkan kalimat ini dalam munajatnya, “Apakah dengan api aku harus membakar hati ini yang mencintai-Mu?” (Imam Al-Qusyairi, Risalatul Qusyairiyah: 147). 

Rabiah dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Salah satu Syarah Al-Hikam mengutip syair yang cukup mewakili pandangan sufistiknya. 

Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini: Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.// Atau mereka menempati surga, lalu mendapatkan istana dan meminum air Salsabila// Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti. 

Rabiah wafat sekitar tahun 801 M atau 185 H. Ia wafat pada usia 83 tahun. Rabiah ingin memastikan kafan pembungkus jenazahnya berasal dari harta yang jelas. Oleh karena itu, ia telah menyiapkan jauh-jauh hari kain kafan yang kelak membungkus jenazahnya. Ia semasa hidup meletakkan kain kafan itu di depannya, tepatnya di tempat sujudnya. (As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 66). Wallahu a’lam. 
(Alhafiz Kurniawan//https://islam.nu.or.id/hikmah).


Minggu, 14 Juni 2026

Virus Wahabi: "PERUSAK PERDAMAIAN"


Istilah "virus Wahabi" biasanya merujuk pada perubahan pola pikir dan perilaku keagamaan yang dinilai kaku dan eksklusif. Berdasarkan pengamatan sejumlah pihak, fenomena ini memiliki beberapa ciri yang umum disoroti .

Gejala-Gejala Paparan "Virus Wahabi" memiliki ciri-ciri seperti Penampilan Fisik dengan melakukan perubahan gaya berpakaian meniru model Timur Tengah (jenggot, celana cingkrang, cadar).

Pola Pikir (Inti Utama), yakni terlalu mudah mengkafirkan atau membid'ahkan orang yang berbeda pandangan. Aanya klaim kebenaran mutlak (menganggap diri paling benar). 

Dalam melakukan pemahaman teks agama dilakukan secara tekstual/harfiah/saklek tanpa konteks.

Sedangkan sikap sosialnya bersifat eksklusif, sulit menghargai tradisi lokal yang sudah mengakar . Bahkan agresif dalam menyebarkan pendapat dan melabeli amalan umum (seperti tahlilan, ziarah kubur) sebagai "sesat".

Mengapa Ini Perlu Dipahami?

Pola pikir seperti ini menjadi perhatian karena berpotensi memicu konflik horizontal di masyarakat. Jika dibiarkan, sikap eksklusif dan mudah menyalahkan orang lain dapat mengikis kerukunan antar umat beragama, terutama di tengah kemajemukan Indonesia.

Di beberapa daerah, masyarakat dan pemerintah lokal bahkan telah mengambil sikap tegas karena ajaran ini dinilai mengancam stabilitas dan tradisi keagamaan yang sudah mapan.


Apa kata Denny Siregar tentang Virus Wahabi


Kalau kalian melihat model Islam dengan cara-cara yang tidak Islami seperti tidak mensholatkan jenazah pendukung kafir, itulah yang dinamakan virus Wahabi.

Wahabi atau Wahabisme adalah aliran dalam Islam yang puritan. Diambil dari nama tokohnya Muhammad bin abdul Wahab. Paham Wahabi adalah paham yang dianut kerajaan Saudi Arabia dan disebarkan ke seluruh dunia.

Jadi jangan kaget jika mereka yang terkena virus itu menjadi sumbu pendek dan gagal paham akut. Mereka menjadi zombie yang tidak mampu menggunakan logika berfikir dengan benar dan pada tingkat yang lebih parah menjadi tidak manusiawi.

Triliunan rupiah dana disebarkan ke seluruh dunia untuk menyebarkan paham ini. Tujuannya membentuk kelompok beragama yang bodoh sehingga mudah dicucuk hidungnya. Dengan begitu mereka akan mudah disetir untuk merusak negara dari dalam.

Tafsir ayat dan hadis diselewengkan, buku-buku dipalsukan. Mereka adalah senjata penghancur massal yang dibiayai oleh Amerika, Israel dan koalisinya dari negara Timur Tengah.

Tidak perlu senjata nuklir untuk menguasai Libya, Suriah, Irak, Afghanistan dan Nigeria. Cukup bentuk organisasi bernama Alqaeda, ISIS, Front al Nusra, Boko Haram dan mereka akan merusak tatanan negara yang ingin dikuasai. Di dalam negeri mereka punya nama lain sendiri.

Ketika satu negara dikuasai, maka sumber daya alam negara itu akan dikeruk habis dan dijual melalui makelar-makelar internasional.

Ada dua keuntungan memelihara Wahabi ini sebagai mesin perang yang murah meriah. Satu, penjualan senjata akan meningkat. Dan dua, harta jarahan yang bisa dijual berlipat.

Indonesia mungkin belum separah negara-negara di Timur Tengah dan Afrika yang luluh lantak, tapi tanda-tanda menuju kesana sudah terlihat jelas. Salah satunya dengan kebodohan berdasarkan fanatisme.

Tanda-tanda lain adalah pemujaan yang tinggi kepada ulama mereka, kebanggaan terhadap golongan, mudah tersinggung, mimpi indah tentang surga (merasa sebagai pemilik kunci surga) dan banyak lagi yang menandakan akal mereka yang lemah. Pengetahuan agama mereka instan dan didapat dari guru mereka yang juga instan.

Ada satu hal yang tampak jelas menandakan kelemahan logika berfikir mereka. Mereka selalu menggaungkan konsep khilafah, tapi memuja negara pendana mereka yang monarkhi. Cacat logika, kan?
















Wawancara Imaginer dengan Donald J.Trump: "KAU BILANG SAYA PEMBUNUH..!!"

Catatan : Berikut ini adalah wawancara imaginer (khayalan) antara Saya (Kang Nana Seorang Jurnalis Indonesia) dengan Presiden AS Donald J. T...