Jumat, 03 Juli 2026

(SAM-19) Ujian Allah: Antara Rintihan dan Rindu


Secangkir Anggur Merah (Edisi-19)

Ada malam-malam di mana langit terasa terlalu dekat. Di mana doa-doa terdengar seperti bisikan yang jatuh ke tanah sebelum sempat menembus awan. Di sanalah, dalam sunyi yang paling pekat, kita mulai bertanya: mengapa ujian ini harus datang? Mengapa Allah menguji kita dengan hal-hal yang paling kita cintai, lalu mengambilnya, atau membiarkannya perlahan-lahan lepas dari genggaman?

Kita terbiasa menganggap ujian sebagai hukuman. Sebuah kemarahan yang disembunyikan di balik tabir takdir. Tapi jika kita menyelam lebih dalam ke lautan ayat-ayat-Nya, kita menemukan sesuatu yang paradoksal: ujian bukanlah cara Allah untuk membenci, melainkan cara-Nya untuk mendekat. 

Seperti seorang guru yang memberikan soal sulit bukan karena ia ingin muridnya gagal, tetapi karena ia percaya muridnya mampu—dan ingin melihat sejauh mana kemampuannya tergali.

Allah tidak menguji karena Dia lupa, tetapi karena Dia ingin kita ingat. Ia membiarkan kita jatuh agar kita tahu bahwa tanpa tangan-Nya, kita tidak pernah bisa berdiri. Ia membiarkan kita haus di gurun kehidupan agar kita tahu bahwa hanya mata air-Nya yang abadi. Dan dalam setiap jatuh bangun itu, ada pelajaran tentang siapa kita sebenarnya: hamba yang lemah, atau manusia yang sombong?

Perahu di Tengah Badai

Alkisah, seorang nelayan tua di pesisir Selat Malaka pernah berkata kepada cucunya: "Anakku, laut tidak pernah tenang untuk membuatmu bahagia. Laut bergelombang untuk mengajarkanmu cara berlayar."

Demikian pula hidup. Setiap ombak yang menghantam, setiap angin yang membelokkan arah, adalah bagian dari kurikulum yang Allah tulis untuk setiap ruh. Ada ujian yang datang melalui kemiskinan—saat piring makan menjadi saksi bisu dari sabar yang terkikis. Ada ujian melalui kehilangan—saat orang yang kita cintai pergi, dan kita belajar bahwa cinta bukanlah kepemilikan, melainkan titipan. Ada ujian melalui pengkhianatan—saat kita belajar bahwa kepercayaan adalah kaca yang sekali pecah, sulit direkatkan.

Dan ada ujian paling halus: kesendirian di tengah keramaian. Saat kita dikelilingi manusia, tetapi merasa tidak seorang pun mengerti. Di sinilah Allah menguji ketulusan—apakah kita beribadah kepada-Nya karena kita mencintai-Nya, atau karena kita mencintai pengakuan manusia?

Quraish Shihab pernah menafsirkan bahwa kata "ujian" dalam bahasa Arab—ibtila'—berasal dari akar kata yang berarti "mencelupkan". Seperti kain yang dicelupkan ke dalam pewarna, ujian adalah cara Allah mencelupkan kita ke dalam pengalaman, sehingga warna asli jiwa kita muncul ke permukaan. Apakah kita merah karena kemarahan? Putih karena kepasrahan? Atau hitam karena keputusasaan? Ujian adalah cermin, dan Allah adalah yang memegang cermin itu di depan wajah kita.

Merambah Kabut

Ketika ujian datang, naluri pertama kita adalah melawan. Kita berteriak, meratap, menggigit bibir sampai berdarah. Kita menyalahkan takdir, menyalahkan orang lain, dan di ujung keputusasaan, kita bahkan menyalahkan Allah. Ini manusiawi.

Nabi Ayub, yang kehilangan segalanya—harta, anak, bahkan kesehatan—juga mengeluh. Ia tidak diam, ia merintih. Tapi rintihannya bukanlah protes, melainkan rindu. "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83).

Perhatikan: Ayub tidak berkata, "Mengapa Engkau melakukan ini?" Ia berkata, "Aku menderita, dan Engkau adalah Penyayang." Ini adalah perbedaan antara keluhan orang yang putus asa dan keluhan orang yang rindu. Keduanya menangis, tapi satu menangis karena kehilangan harapan, yang lain menangis karena merindukan pemilik harapan.

Dalam merambah kehidupan yang dihujani ujian, kita diajarkan untuk tidak melihat seberapa besar badai, tetapi seberapa besar perahu kita—dan lebih penting lagi, siapa yang memegang kemudi. Allah tidak berjanji kita akan selamat dari badai. Dia berjanji kita tidak akan tenggelam. "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6).

Ayat itu tidak mengatakan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan. Artinya, kemudahan hadir di dalam kesulitan itu sendiri—dalam bentuk ketabahan yang tumbuh, kesabaran yang menguat, dan keyakinan yang meradang.

Ketika Pelajaran Jadi Nyawa

Seorang sufi pernah ditanya, "Apa yang kau pelajari dari seluruh ujian hidupmu?" Ia menjawab, "Aku belajar bahwa Allah tidak pernah mengujiku dengan sesuatu yang aku tidak sanggup menanggungnya. Aku belajar bahwa setiap tangisan memiliki doa yang tidak terucap. Dan aku belajar bahwa di balik setiap kabut, ada cahaya yang menunggu untuk kuakui."

Ujian Allah bukanlah tentang lulus atau gagal. Itu adalah cara kita dipahat. Seperti marmer yang dipukul palu untuk menjadi patung, seperti emas yang dibakar untuk menjadi perhiasan. Setiap pukulan, setiap panas, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membentuk. Kita hanya perlu percaya bahwa tangan yang memahat adalah tangan yang lembut, dan api yang membakar adalah api yang mengetahui batasnya.

Maka, ketika badai kehidupan merambah, jangan tanya, "Mengapa ini terjadi padaku?" Tanyalah, "Apa yang Engkau ajarkan padaku saat ini?" Karena di situlah letak rahasia terbesar: ujian adalah undangan untuk bertemu Allah di tempat paling gelap. Dan jika kita berani menemuinya di sana, kita akan menemukan bahwa gelap hanyalah awal dari fajar.

Dan ketika semua ujian berlalu, kita akan menyadari bahwa kita tidak lagi sama. Kita menjadi lebih ringan—karena beban-beban kecil yang dulu kita anggap berat kini terasa seperti debu. Kita menjadi lebih luas—karena hati yang dipeluk kesedihan menjadi sebesar lautan. Dan kita menjadi lebih dekat—karena setiap langkah menjauh ternyata adalah langkah pulang.

Doa di Ujung Jalan

Pada akhirnya, merambah kehidupan dengan segala ujiannya adalah tentang bagaimana kita menutup buku harian hidup dengan kalimat: "Ternyata Engkau baik sepanjang jalan, bahkan saat aku tidak melihatnya."

Karena Allah tidak berutang kebahagiaan pada kita. Dia berutang makna. Dan makna hanya muncul dari perjalanan melalui lembah, bukan dari duduk di puncak. Maka bersyukurlah untuk ujianmu, karena di situlah Allah menulis namamu di buku orang-orang yang dikasihi. 

Sebab Dia tidak menguji kecuali Dia mencintai, dan Dia tidak mencintai kecuali Dia ingin kita menjadi versi terbaik dari diri kita.

Allahu a'lam. Hanya Dia yang tahu kapan kita akan sampai, tapi satu hal yang pasti: kita sedang dalam perjalanan pulang. Dan di setiap langkah, ada pelukan-Nya yang menunggu, lebih hangat dari sinar matahari, lebih teduh dari bayangan awan.
(expresionis-kgm/ki gempur mudharat/juli-2026)

Kamis, 02 Juli 2026

Penempuh Lorong Sunyi Menuju Cahaya Ilahi...(Sebuah feature spiritual tentang pencarian hakikat dalam tradisi tasawuf)


Di sebuah desa di kaki Gunung Merbabu, hiduplah seorang pemuda bernama Ahmad. Ia bukanlah orang istimewa. Seorang anak petani. Lulusan sekolah menengah. Pekerja serabutan yang menghabiskan hari-harinya di pasar dan sawah. 

Namun pada malam-malam tertentu, saat azan subuh belum berkumandang dan alam masih diam, Ahmad terbangun dengan perasaan aneh: seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan. Bukan suara, bukan mimpi, melainkan sebuah rasa yang merambat di tulang punggungnya, seperti sungai bawah tanah yang tak terlihat.

Ia tidak mengerti apa itu. Tapi ia faham, sesuatu telah bergerak dalam dirinya.
Orang-orang menyebutnya salik—para pejalan spiritual yang menempuh jalan panjang menuju Tuhan. Tapi bagi Ahmad, itu bukanlah gelar yang ia pilih. Ia hanyalah seseorang yang tidak bisa lagi tidur nyenyak setelah merasakan bahwa dunia ini hanyalah bayangan dari sesuatu yang lebih nyata.

Kau tidak seperti yang lain

Suatu hari, Ahmad mengunjungi makam seorang wali tua di lereng bukit. Para peziarah lain datang dengan doa dan harapan. Minta jodoh, minta rezeki, minta kesembuhan. Tapi Ahmad datang dengan pertanyaan kosong yang bahkan tidak mampu ia rumuskan dengan kata-kata. Ia duduk di bawah pohon randu, menatap batu nisan yang sudah lumut, dan menunggu.

"Kau tidak seperti yang lain," kata seorang kakek tua yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Bajunya lusuh, sorot matanya tajam.

"Apa yang membedakan saya?" tanya Ahmad.

"Kau tidak meminta apa pun. Padahal kau bisa meminta segalanya di sini."

Ahmad terdiam. "Saya tidak tahu apa yang harus saya minta."

Kakek itu tersenyum. "Karena kau bukan mencari sesuatu. Kau mencari Yang Tidak Bernama. Dan kabar baiknya—Dia juga mencari kau."

Tiga Penjara Jiwa

Dalam perjalanan pulang, kakek itu berbisik tentang tiga penjara yang mengurung setiap salik.
Pertama: Penjara dunia—keinginan akan harta, pujian, dan kekuasaan. Kedua: Penjara diri—ego yang merasa dirinya terpisah dari yang lain. Ketiga: penjara pikiran—keyakinan bahwa Tuhan dapat dipahami dengan akal semata.

"Tapi pintu-pintu penjara itu tidak terkunci dari luar," kata kakek itu sebelum menghilang di tikungan jalan. "Mereka terkunci dari dalam. Kunci yang sama yang mengurung, juga bisa membebaskan. Kau hanya harus berani memutarnya."

Ahmad mulai mengamati dirinya sendiri. Ia melihat betapa selama 25 tahun hidupnya, ia telah menjadi budak keinginan—ingin diakui, ingin sukses, ingin dicintai. Ia melihat bagaimana egonya selalu membela diri, membenarkan kesalahan, menyalahkan keadaan. Dan ia melihat bagaimana pikirannya terus menerus menjerat Tuhan dalam kata-kata, sementara hati kecilnya tahu bahwa Tuhan terlalu agung untuk dibatasi bahasa.
---
Itikaf di Gua Sunyi

Malam itu, Ahmad memanjat ke sebuah gua kecil di tebing belakang desanya. Ia tidak membawa bekal, hanya sebotol air dan sebuah buku tua berisi syair-syair Jalaluddin Rumi yang ditemukannya di pasar loak. 

Di dalam gua, gelap. Tidak ada suara kecuali tetesan air dari stalaktit dan detak jantungnya sendiri.

Awalnya ia mencoba berdoa. Lalu ia mencoba bermeditasi. Lalu ia mencoba mengingat semua ayat yang pernah ia hafal. Semuanya terasa seperti tembok yang menghalanginya, bukan jembatan yang menghubungkannya.

Sampai akhirnya, dalam keputusasaan yang manis, ia berhenti berusaha.
Dan di situlah—di tengah keheningan yang tidak dibuat-buat—cahaya itu muncul. Bukan cahaya yang terlihat mata, tapi cahaya yang dirasakan. Seperti ketika seseorang sangat mencintaimu tanpa perlu mengatakannya. Seperti ketika kau pulang ke rumah setelah bertahun-tahun merantau. Seperti ketika kau mengingat sesuatu yang tidak pernah kau alami, tapi terasa begitu akrab.

Ahmad menangis. Bukan karena sedih, bukan karena bahagia. Tapi karena ia menyadari: selama ini ia mencari di luar, padahal yang dicari selalu berada di dalam. Ia mencari dengan kepala, padahal seharusnya dengan hati. Ia berbicara kepada Tuhan, padahal seharusnya ia mendengarkan.

Cahaya yang Menjalar

Keesokan paginya, Ahmad turun dari gua. Wajahnya tidak berubah—masih sama seperti sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya: sebuah ketenangan yang tidak dapat dijelaskan. Para tetangga bertanya apa yang terjadi, tapi Ahmad hanya tersenyum.

Ia tidak menjadi suci. Ia masih marah ketika ditipu, masih sedih ketika kehilangan, masih ingin ketika melihat sesuatu yang indah. Namun kini ada jarak—sebuah kesadaran yang mengamati semua itu tanpa terperangkap. Seperti orang yang menonton ombak di pantai; ia tidak menjadi ombak, ia tidak melawan ombak, ia hanya menyaksikannya datang dan pergi.

Bahkan ketika ibunya meninggal enam bulan kemudian, Ahmad tidak jatuh dalam keputusasaan yang hancur. Ia menangis, tentu saja. Tapi di balik air matanya, ada keheningan yang tahu: ibunya bukanlah mayat yang terbaring di kain kafan itu. Ibunya adalah cinta yang masih mengalir di nadinya, doa yang ia panjatkan, dan senyum yang terus hidup dalam ingatannya.

Kembali ke Kesadaran

Kini, di usia 40 tahun, Ahmad sudah tidak lagi "mencari". Bukan karena ia menemukan segalanya, tapi karena ia menyadari bahwa mencari dan menemukan adalah permainan ego belaka. Yang harus dilakukan hanyalah kembali. Kembali ke kesadaran bahwa sejak awal, ia tidak pernah terpisah dari Cahaya itu. Ia pikir ia adalah debu yang berjalan di jalan; ternyata ia adalah jalan itu sendiri.

Ia masih tinggal di desa yang sama, masih bekerja di sawah, masih berbincang dengan tetangga soal cuaca dan harga cabai. Namun kini, setiap helai rumput baginya adalah ayat, setiap hembus angin adalah bisikan, setiap manusia yang ia temui adalah cermin yang memantulkan Wajah Yang Satu.

Dan pada malam-malam tertentu, ketika semua orang tidur dan alam sunyi, Ahmad masih terbangun dengan perasaan aneh yang sama. Hanya kali ini, ia tidak lagi bertanya siapa yang memanggil. Ia hanya tersenyum, karena ia tahu: panggilan itu adalah dirinya sendiri, mengingatkan dirinya yang lain, bahwa perjalanan tidak pernah berakhir—karena ia sendiri adalah perjalanan menuju dirinya yang asli.

Sebab di ujung jalan, para salik tidak menemukan Tuhan. Mereka menemukan bahwa selama ini, Tuhan-lah yang berjalan dalam diri mereka, mengalami diri-Nya sendiri melalui mata, telinga, dan hati manusia.

Akhir Perjalanan

Perjalanan salik bukanlah tentang mencapai puncak. Ia adalah tentang menyadari bahwa kau tidak pernah berada di bawah. Bahwa cahaya ilahi tidak bersinar dari langit yang jauh; ia bersinar dari kedalaman hatimu sendiri, menunggu kau berhenti mencari cukup lama untuk melihat bahwa kau adalah cahaya itu, dan cahaya itu adalah kau—dalam bentuk yang selalu ada, sebelum kata-kata, sebelum dunia, sebelum waktu dimulai.
(features expresionis seorang salik/awal-juli/2026)

Selasa, 30 Juni 2026

Wawancara Imaginer dengan Donald J.Trump: "KAU BILANG SAYA PEMBUNUH..!!"


Catatan: Berikut ini adalah wawancara imaginer (khayalan) antara Saya (Kang Nana Seorang Jurnalis Indonesia) dengan Presiden AS Donald J. Trump. Berikut petikan wawancaranya.

Gedung Putih, pukul 21.33. Saya diizinkan masuk ke Ruang Oval setelah konferensi pers sore yang berakhir ricuh. (Trump duduk di balik meja kayu besar, dasi merahnya ditanggalkan, jari-jari kedua tangannya teranyam rapat diatas permukaan meja kerjanya).

Trump: (tanpa menoleh) Kau jurnalis dari Indonesia yang berteriak tadi. Berani sekali anda. Tapi Saya suka itu. Duduk...!

Saya: (duduk di kursi yang disodorkan Trump) Terima kasih, Mr. Presiden.

Trump: Kau bilang saya pembunuh. Teroris. Genosida. Kata-kata besar dari orang kecil. (menyipitkan mata). Tapi saya tidak marah. Saya penasaran. Katakan, mengapa kau begitu yakin?

Saya: Saya melihat kebijakan luar negeri AS — perang, sanksi, blokade. Ratusan ribu nyawa melayang atas nama "perdamaian". Bukankah itu kemunafikan?

Trump: (tertawa pendek) Kemunafikan? Itu kata yang indah. Tapi kau tahu apa masalah dunia? Terlalu banyak orang berpikir. Terlalu banyak orang berfilsafat. Analisis ini, analisis itu. Beginilah, begitulah. Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya bertindak. Amerika bertindak. Dan ketika Amerika bertindak, dunia mendengarkan.

Saya: Bukankah tindakan tanpa refleksi adalah kekerasan?

Trump: (mencondongkan badan) Dengar, saya sudah membaca buku-buku tebal. Saya sudah mendengar orang-orang pintar berbicara berjam-jam tentang moralitas, etika, dan semua omong kosong itu. Tapi bisnis, politik, kekuasaan — ini bukan tentang apa yang benar secara filsafat. Ini tentang apa yang berhasil. Dan apa yang berhasil adalah kekuatan. Berpolitik demi kekuatan dan kekuasaan.

(Dia berdiri dan berjalan ke jendela, memandang ke arah Washington yang gelap).

Trump: Lihatlah ke luar sana. Semua orang ingin menjadi baik. Mereka ingin dihormati, dicintai, dianggap bijak. Tapi hanya sedikit yang berani menjadi kuat. Saya tidak peduli jika mereka menyebut saya arogan, narsis, satu dimensi — saya mendengar semua kata-kata itu. Tapi lihatlah saya. Saya di sini. Mereka tidak.

Saya: Apakah itu yang kau cari? Bukti bahwa kau "di sini" dan mereka tidak?

Trump: (berbalik, alis terangkat) Pertanyaan psikologis. Saya suka itu. Tapi kau salah jika berpikir saya mencari validasi. Saya sudah mendapat validasi dari 80 juta orang yang memilih saya. Apa yang saya cari? (diam sejenak) Saya mencari legacy. Nama yang tidak akan dilupakan. Seperti piramida di Mesir. Seperti Tembok Besar Cina. Orang-orang mungkin membencinya, tetapi mereka mengingatnya.

Saya: Kau ingin menjadi monumen?

Trump: Saya ingin menjadi kenyataan. Dunia ini penuh dengan orang yang berbicara tentang apa yang seharusnya terjadi. Saya membuat sesuatu terjadi. Kadang buruk, kadang baik — saya tidak naif. Tapi setidaknya saya nyata. Tidak seperti filsuf-filsuf kau yang duduk di menara gading dan bicara tentang "solidaritas" tanpa pernah memegang kekuasaan sejati.

(Dia kembali duduk, menatap saya dengan intens).

Trump: Kau tahu apa yang saya pelajari selama bertahun-tahun? Bahwa dunia ini tidak adil. Tidak pernah adil. Dan semua omongan tentang kebaikan, keadilan, kesetaraan — itu hanya kata-kata yang membuat orang merasa nyaman sebelum tidur. Saya tidak menjual kenyamanan. Saya menjual hasil.

Saya: Tapi bukankah hasil tanpa moral hanya meninggalkan kehampaan?

Trump: (tersenyum lebar) Itu pertanyaan yang bagus. Mungkin kau harus menulis buku tentang saya. Tapi saya akan beri tahu sesuatu: orang-orang yang paling banyak bicara tentang moral adalah orang-orang yang paling takut menggunakan kekuasaan. Saya tidak takut. Itu sebabnya saya menang.

(Dia mengangkat gelas air, menyesapnya, lalu menatap saya panjang).

Trump: Kau sudah tidak muda lagi. Tapi kau masih punya idealisme. Itu bagus. Tapi ingat: idealisme tidak pernah membangun satu gedung pun, tidak pernah menandatangani satu perjanjian pun, tidak pernah menyelamatkan satu nyawa pun di medan perang. Yang membangun dunia adalah orang-orang yang bersedia mengotori tangan mereka. Suatu hari nanti, kau akan mengerti.

Saya: (diam sejenak) Mungkin. Tapi saya khawatir jika semua orang berpikir seperti kau, dunia akan menjadi panggung kekuasaan tanpa panggung kemanusiaan.

Trump: (tertawa, lalu berdiri mengakhiri pertemuan) Kau datang jauh-jauh dari Indonesia ke sini untuk melawan saya, tapi kau pulang dengan pertanyaan untuk dirimu sendiri. Itu sudah lebih dari yang didapat kebanyakan orang. 
(mengulurkan tangan) Besok, pikirkan baik-baik: apakah kau ingin menjadi benar, atau ingin menjadi berkuasa?

(Saya menjabat tangannya. Tangannya besar, hangat, dan terasa sangat nyata).

Trump: (sambil berbalik) Dan jangan lupa tulis itu dengan bagus. Saya suka tulisan yang bagus. Believe me...!!
---
(Keesokan paginya, saya Ki Gempur Mudharat meninggalkan Washington. Saya tidak mendapatkan jawaban. Tapi saya mendapatkan sebuah pertanyaan baru yang mungkin lebih penting).

Senin, 29 Juni 2026

Hanya Wahabi Memvonis di luar Kelompoknya Sebagai Ahlul Bid'ah


Tidak ada sesama Muslim memanggil saudara muslim lainnya dengan Ahlul Bid'ah. Hanya Kaum Salafi-Wahabi yang memandang atau memvonis kaum muslimin diluar kelompoknya sebagai Ahlul Bid'ah.

Berbeda dengan para Salaf. Di masa salaf, jika disebut Ahlul bid’ah maksudnya firqah dan pemikiran sesat menyimpang seperti Khawarij, Murjiah, Syiah Rafidah, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Mujassimah dan Musyabbihah. 

Sebutan ahlul bid'ah bukan untuk yang melakukan amaliyah yang termasuk persoalan khilafiyah ijtihadiyah. Bukan yang dimaksud oleh kaum Wahabi saat ini.

Ada pun perbedaan pendapat masalah fiqih dimasa salaf tidak ada yang menyebutnya sebagai bid’ah yang sesat.  Tidak seperti sekarang, ngaku2 ngikut manhaj salaf, tetapi sangat kaku dalam beragama, dikit-dikit bid'ah sesat, padahal dalam perbedaan fikih ulama salaf berlapang dada.

Para imam salaf menjelaskan :
Imam Yahya bin Sa’id Al Qaththan Rahimahullah berkata:

ما برح أولو الفتوى يفتون فيحل هذا ويحرم هذا فلا يرى المحرم أن المحل هلك لتحليله ولا يرى المحل أن المحرم هلك لتحريمه

Para ahli fatwa sering berbeda fatwanya, yang satu menghalalkan yang ini dan yang lain mengharamkannya. Tapi, mufti yang mengharamkan tidaklah menganggap yang menghalalkan itu binasa karena penghalalannya itu. 

Mufti yang menghalalkan pun tidak menganggap yang mengharamkan telah binasa karena fatwa pengharamannya itu. (Imam Ibnu Abdil Bar, Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, 2/161).

Syaikh Umar bin Abdullah Kamil berkata:

لقد كان الخلاف موجودا في عصر الأئمة المتبوعين الكبار: أبي حنيفة ومالك والشافعي وأحمد والثوري والأوزاعي وغيرهم. ولم يحاول أحد منهم أن يحمل الآخرين على رأيه أو يتهمهم في علمهم أو دينهم من أجل مخالفتهم

“Telah ada perselisihan sejak lama pada masa para imam besar panutan: Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ats Tsauri, Al Auza’i, dan lainnya. Tak satu pun mereka memaksa yang lain untuk mengubah agar mengikuti pendapatnya, atau melemparkan tuduhan terhadap keilmuan mereka, atau tuduhan terhadap pemahaman agama mereka lantaran perselisihan mereka itu.”
(Syaikh Umar bin Abdullah Kamil, Adab Al Hiwar wal Qawaid Al Ikhtilaf, hal. 32. Mauqi’ Al Islam).

Ada pun amalan yang dituduh bid'ah sesat oleh Salafi-Wahabi, sebagian ulama mengatakan justru itu sunnah, atau mubah, dan yang lain mengatakan makruh, maka ini BUKAN ZONANYA MENYEBUT yang melakukannya sebagai ahlul bid'ah sesat masuk neraka.

Misalnya, perbedaan ahli fiqh tentang:

– Qunut subuh, atau tidak qunut;
– Melafazkan niat (nawaitu, ushalli), mayoritas mengatakan sunnah, sebagian mengatakan mubah, makruh. Seperti yang tertera dalam Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu.
– Maulid nabi, mayoritas fuqaha membolehkan (Abu Syamah, Izzuddin bin Abdissalam, An Nawawi, Ibnu Hajar, As Suyuthi, dll),
– Dzikir dengan tasbih, mayoritas ulama salaf dan khalaf mengatakan boleh, Sebagian mengatakan bagus (mustahab).
- Membaca surah Yasin malam Jumat, Membaca Al Fatihah, Tahlilan yang tentu saja berbeda dengan Ma'tam dan Nihayah.

Inilah contoh perbedaan fiqih bukan bid'ah sesat yang diancam masuk neraka. Semoga para ustadz Salafi Wahabi beserta ternak-ternaknya dapat memahami hal ini.

(SAM-19) Ujian Allah: Antara Rintihan dan Rindu

Secangkir Anggur Merah (Edisi-19) Ada malam-malam di mana langit terasa terlalu dekat. Di mana doa-doa terdengar seperti bisikan yang jatuh ...