(Secangkir Anggur Merah, Edisi-47)
Pengantar: Bayangkanlah sebuah negeri. Katanya, negeri ini ingin setiap orang minimal 17 tahun punya buku tabungan. Bukan buku tabungan biasa, loh. Tapi rekening bank. Konon, ini supaya bantuan dari pemerintah bisa meluncur dengan tepat dan rapi. Tidak lagi lewat jalan terjal berliku. Entahlah, dari mana sumber wangsitnya. Hingga muncul ide yang memaksa si lugu ini ingin berkomentar...
Apa Iya Sebanyak Itu?
Kabarnya, anggaran yang disiapkan tidak tanggung-tanggung, waduh, sekitar Rp11 triliun. Uang sebanyak itu akan dipakai untuk membuka rekening bagi sekitar 200 juta orang. Masing-masing dapat saldo awal Rp50 ribu. Mantabs..
Mendengar hal itu, saya yang polos bin lugu ini sedikit tercengang. Jadi ikut merasakan dan berpikir. Apa iya, jumlahnya sebanyak itu? Bukankah teman-teman saya di kampung sudah pada punya rekening? Walau kadang hanya makan sambal dan sayur mentah. Dan cukup istimewa kalau dengan lauk tahu dan tempe.
Apa Iya Sebanyak Itu?
Kabarnya, anggaran yang disiapkan tidak tanggung-tanggung, waduh, sekitar Rp11 triliun. Uang sebanyak itu akan dipakai untuk membuka rekening bagi sekitar 200 juta orang. Masing-masing dapat saldo awal Rp50 ribu. Mantabs..
Mendengar hal itu, saya yang polos bin lugu ini sedikit tercengang. Jadi ikut merasakan dan berpikir. Apa iya, jumlahnya sebanyak itu? Bukankah teman-teman saya di kampung sudah pada punya rekening? Walau kadang hanya makan sambal dan sayur mentah. Dan cukup istimewa kalau dengan lauk tahu dan tempe.
Mereka punya, kok. Biasa dipakai untuk menerima upah harian. Kadang untuk menabung sedikit. Walau saldonya lebih sering menipis dan meringis daripada mengendap.
Lalu, untuk siapa gerangan dua ratus juta rekening itu? Ah, ada-ada saja nih wangsit yang ditangkap pemerintah...
Ternyata, pertanyaan lugu itu bukan hanya milik pribadi. Lembaga Penjamin Simpanan mencatat, orang usia produktif (17 th keatas) yang belum punya rekening pada 2026 hanya sekitar 15,3 juta. Angka itu bahkan turun dari tahun sebelumnya.
Jadi, kalau yang belum punya cuma segitu, mengapa yang mau dibukakan rekening sampai dua ratus juta? Apakah nanti orang yang sudah punya rekening justru dibikinkan lagi, supaya targetnya tercapai?
Menteri Koordinator Perekonomian pun seolah mengiyakan. "Yang punya multiple account juga kita lihat. Mereka tetap dapat juga".
Hahaha...Sumpah, Saya malahan jadi tambah bingung.
Para pengamat tak pelak ikut geleng-geleng kepala. Kata mereka, ini sangat tidak mendesak saat kondisi fiskal sulit. Lebih baik uangnya dipakai untuk membenahi data penerima bantuan.
Bukan sekadar mengejar jumlah rekening. Sebab, kalau data penerimanya saja masih kacau, punya rekening juga percuma. Tidak membuat bantuan jadi tepat sasaran.
Rekening Bobo Pulas
Para pengamat tak pelak ikut geleng-geleng kepala. Kata mereka, ini sangat tidak mendesak saat kondisi fiskal sulit. Lebih baik uangnya dipakai untuk membenahi data penerima bantuan.
Bukan sekadar mengejar jumlah rekening. Sebab, kalau data penerimanya saja masih kacau, punya rekening juga percuma. Tidak membuat bantuan jadi tepat sasaran.
Rekening Bobo Pulas
Ada juga yang mengingatkan. Jangan sampai Rp11 triliun habis cuma untuk membuat rekening. Tapi rakyat tetap tidak punya uang untuk diisikan ke dalamnya. Nanti rekeningnya malah jadi rekening bobo pulas. Kalau tak mau dibilang rekening mati.
Menteri Keuangan membantah angka Rp11 triliun itu sudah final. Katanya, itu masih hitungan kasar. "Saya yakin enggak akan sampai 11 triliun," ujarnya.
Beliau juga bilang, pemerintah masih menunggu rincian. Masih harus memetakan siapa saja yang sudah punya rekening dan siapa yang belum.
Jujur saja, mendengar itu saya jadi sedikit lega. Setidaknya ada yang masih beritikad baik. Masih ada keinginan menghitung dengan cermat. Bukan sekadar menggebu-gebu untuk segera dieksekusi.
Kalau tujuannya menyalurkan bantuan sosial. Bukankah memperbaiki Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional jauh lebih penting?
Kalau tujuannya agar setiap warga negara punya rekening. Apakah negara ini sedang membangun kebiasaan menabung. Atau sekadar sedang membangun administrasi? Hayo, jawab dong!
Saya ini cuma orang lugu. Saya tidak paham betul seluk-beluk anggaran dan kebijakan. Tapi saya tahu satu hal. Membuat rekening itu mudah. Yang sulit adalah memastikan isinya tidak kosong. Dan memastikan bantuan sampai ke tangan yang benar-benar membutuhkan.
Mungkin, sebelum membuka dua ratus juta rekening, ada baiknya kita bertanya dulu dengan polos. Untuk apa? Dan untuk siapa?
Solusi Paling Bijak
Solusi paling bijak barangkali bukan menolak inklusi keuangan. Melainkan menunda yang belum mendesak dan membenahi yang lebih dasar.
Pertama, pemerintah sebaiknya memakai data tunggal (DTKS dan DTSEN) sebagai rujukan utama.
Jangan membuka rekening massal sebelum daftar penerima benar-benar bersih, mutakhir, dan terverifikasi. Hindari target politik yang memaksa daerah mengejar angka. Jika ada warga yang menolak atau belum siap. Jangan dipaksa. Beri edukasi dan waktu.
Kedua, sasarannya cukup mereka yang benar-benar belum punya rekening. Ya itu tadi, sekitar 15,3 juta orang. Bukan 200 juta. Bagi yang sudah punya rekening, cukup integrasikan nomor rekening yang ada. Tak perlu membuat akun baru.
Ketiga, alih-alih menghabiskan triliunan untuk administrasi. Dana sebaiknya dialokasikan untuk literasi keuangan, pendampingan, dan bantuan modal kecil. Rekening tanpa isi hanya menjadi simbol. Bantuan langsung tunai tetap lebih penting bagi yang paling miskin.
Keempat, pemerintah perlu transparan soal biaya. Termasuk Rp50 ribu saldo awal. Apakah itu insentif, bantuan, atau sekadar pancingan?
Kelima, lakukan uji coba terbatas di beberapa daerah, evaluasi, lalu perluas jika terbukti efektif. Libatkan bank, koperasi, dan posyandu sebagai ujung layanan. Pemerintah juga harus mengumumkan hasil audit dan membuka kanal pengaduan.
Dengan begitu, kebijakan ini tidak sekadar mengejar jumlah rekening. Tetapi benar-benar menguatkan ekonomi rakyat kecil. Sebaiknya lakukan kajian lagi lebih mendalam.
Itulah jalan solusi yang polos bin lugu. Insyaallah lebih bijak. Sedikit tapi tepat. Bukan besar tapi kosong. Maaf, kalau si lugu ini sedikit menggugat lahirnya sebuah wangsit yang aneh-aneh...!!
Kalau tujuannya menyalurkan bantuan sosial. Bukankah memperbaiki Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional jauh lebih penting?
Kalau tujuannya agar setiap warga negara punya rekening. Apakah negara ini sedang membangun kebiasaan menabung. Atau sekadar sedang membangun administrasi? Hayo, jawab dong!
Saya ini cuma orang lugu. Saya tidak paham betul seluk-beluk anggaran dan kebijakan. Tapi saya tahu satu hal. Membuat rekening itu mudah. Yang sulit adalah memastikan isinya tidak kosong. Dan memastikan bantuan sampai ke tangan yang benar-benar membutuhkan.
Mungkin, sebelum membuka dua ratus juta rekening, ada baiknya kita bertanya dulu dengan polos. Untuk apa? Dan untuk siapa?
Solusi Paling Bijak
Solusi paling bijak barangkali bukan menolak inklusi keuangan. Melainkan menunda yang belum mendesak dan membenahi yang lebih dasar.
Pertama, pemerintah sebaiknya memakai data tunggal (DTKS dan DTSEN) sebagai rujukan utama.
Jangan membuka rekening massal sebelum daftar penerima benar-benar bersih, mutakhir, dan terverifikasi. Hindari target politik yang memaksa daerah mengejar angka. Jika ada warga yang menolak atau belum siap. Jangan dipaksa. Beri edukasi dan waktu.
Kedua, sasarannya cukup mereka yang benar-benar belum punya rekening. Ya itu tadi, sekitar 15,3 juta orang. Bukan 200 juta. Bagi yang sudah punya rekening, cukup integrasikan nomor rekening yang ada. Tak perlu membuat akun baru.
Ketiga, alih-alih menghabiskan triliunan untuk administrasi. Dana sebaiknya dialokasikan untuk literasi keuangan, pendampingan, dan bantuan modal kecil. Rekening tanpa isi hanya menjadi simbol. Bantuan langsung tunai tetap lebih penting bagi yang paling miskin.
Keempat, pemerintah perlu transparan soal biaya. Termasuk Rp50 ribu saldo awal. Apakah itu insentif, bantuan, atau sekadar pancingan?
Kelima, lakukan uji coba terbatas di beberapa daerah, evaluasi, lalu perluas jika terbukti efektif. Libatkan bank, koperasi, dan posyandu sebagai ujung layanan. Pemerintah juga harus mengumumkan hasil audit dan membuka kanal pengaduan.
Dengan begitu, kebijakan ini tidak sekadar mengejar jumlah rekening. Tetapi benar-benar menguatkan ekonomi rakyat kecil. Sebaiknya lakukan kajian lagi lebih mendalam.
Itulah jalan solusi yang polos bin lugu. Insyaallah lebih bijak. Sedikit tapi tepat. Bukan besar tapi kosong. Maaf, kalau si lugu ini sedikit menggugat lahirnya sebuah wangsit yang aneh-aneh...!!


