Kamis, 12 Maret 2026

Mensyukuri Rahmat Allah


Bismilahirahmanirahim
Asalamumualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,

Mensyukuri rahmat Allah adalah bentuk pengakuan tulus atas segala karunia yang telah diberikan-Nya, mulai dari nikmat iman, kesehatan, hingga rezeki yang tampak maupun tidak.

Berdasarkan ajaran Islam, terdapat tiga cara utama untuk menunjukkan rasa syukur, yakni:

Pertama, melalui Hati (Syukur bil Qolbi): Meyakini sepenuhnya bahwa segala nikmat berasal hanya dari Allah dan merenungkan kebaikan-Nya.

Kedua, melalui Lisan (Syukur bil Lisan): Memuji Allah dengan mengucapkan kalimat Alhamdulillah dan senantiasa berzikir. 

Dan yang ketiga, melalui Perbuatan (Syukur bil Arkan) yakni dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan dan kebaikan. Seperti menggunakan tubuh yang sehat untuk beribadah dan bekerja. Mengeluarkan zakat atau sedekah atas nikmat harta yang diterima agar lebih berkah. Serta mendoakan orang lain dengan tulus dan berbagi kebahagiaan.

Berterimakasih kepada Allah

Betapa sering kita menerima nikmat Allah tanpa mensyukurinya. Setiap pagi kita bangun dari tidur, menikmati udara segar, dan merasakan kesehatan, tetapi seberapa sering kita merenung dan berterima kasih kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada henti?

Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim: 7)

Kita perlu merenung sejenak, mengingat bahwa setiap detik hidup kita adalah bukti dari rahmat Allah. Mari kita belajar untuk selalu bersyukur dalam setiap keadaan, baik ketika kita menerima nikmat maupun ketika kita menghadapi ujian, karena dalam setiap peristiwa, Allah selalu menyertakan rahmat-Nya.

Allah berfirman:
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A'raf: 156).

Rahmat Allah tidak hanya hadir dalam bentuk kenikmatan, tetapi juga dalam bentuk ujian. Terkadang, Allah menguji kita dengan kesulitan bukan untuk menyakiti, tetapi untuk mendekatkan kita kepada-Nya. 

Dalam setiap air mata yang jatuh, dalam setiap cobaan yang kita hadapi, ada rahmat Allah yang terselubung, yang bertujuan untuk membersihkan dosa-dosa kita dan meningkatkan derajat kita di hadapan-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan yakin bahwa segala sesuatu yang datang dari Allah pasti membawa kebaikan.

Marilah kita selalu mengingat dan mensyukuri rahmat Allah, karena hanya di bawah naungan rahmat-Nya kita akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan sejati Aamiin,

Wallahu'alam bishawab...
Saudaraku, selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita menjadi para PEMENANG. Aamiin Yaa Rabbal'alamiin

Rabu, 11 Maret 2026

Mεnjαgα Hαti di Zαmαn Instαn


Sαhαbαt yαng dimυliαkαn Αllαh,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Mεnjαdi orαng jujur dαn pεnyαbαr di zαmαn yαng sεrbα instαn ini mεmαng tidαk mudαh. Kεhidupαn sεolαh mεndorong kitα untuk sεgεrα, tαnpα rεnung, tαnpα jεdα. Pαdαhαl, jiwα mαnusiα butuh rυαng, dαn rυαng itu bεrnαmα kεsαbαrαn dαn kεjujurαn. 

Kεsαbαrαn yαng mεnumbuhkαn, kεjujurαn yαng mεnyεlαmαtkαn. Di sαnα, αdα hαti yαng pεrlu dilαtih, bυkαn untuk mεnjαdi kuαt sεndiri, mεlαinkαn untuk mεnjαdi sαbαr dαn jujur di hαdαpαn Ilαhi.

Bεrpuαsα mεngαndυng εdυkαsi pαling mεndαlαm bαgi diri sεsεorαng. Iα bukαn sεkαdαr mεnαhαn rαsα lαpαr dαn dαhαgα, mεlαinkαn lαtihαn sunyi yαng mεnyεntuh inti diri. Sεlαmα sεbυlαn pεnυh, kitα dilαtih untuk mεnεmpα kεsαbαrαn, mεnguji kεjujurαn, dαn mεnυmbυhkαn sifαt-sifαt muliα yαng kεmυdiαn dihidυpkαn pαdα sεbεlαs bυlαn bεrikυtnyα.

Kεsαbαrαn dαn kεjujurαn bεrαkαr dαri sikαp ridhα αtαs kεtεntυαn Allah. Sαbαr dαlαm mεnghαdαpi musibαh, sαbαr dαlαm mεnjalαni kεtααtαn, dαn sαbαr dαlαm mεnαhαn diri dαri mαksiαt, sεmuαnyα mεnjαdi jαlαn pεmbεrsih jiwα.

Al-Qur'αn mεngαjαrkαn: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ -- 

“Hαi orαng-orαng yαng bεrimαn, mintαlαh pεrtolongαn dεngαn sαbαr dαn shαlαt. Sεsυnggυhnyα Allαh bεrsαmα orαng-orαng yαng sαbαr.” (QS. Al-Bαqαrαh [2]:153).

Puαsα αdαlαh ibαdαh yαng pαling pribαdi. Tαk αdα mαtα mαnusiα yαng bεnαr-bεnαr tαhυ, αpαkαh kitα mαmpu mεnjαgαnyα αtαυ tidαk. Di sitυlαh kεjujurαn dilαhirkan, bυkαn kαrεnα dilihαt, tεtαpi kαrεnα disαdαri bαhwα kitα sεlαlυ dαlαm pεngαwαsαn-Nyα.

Mαkα puαsα mεndidik kitα untuk jujur pαdα diri sεndiri, pαdα kεlυαrgα, pαdα mαsyαrαkαt, dαn pαdα Tυhαn. Dαri sitυ, tαkwα tυmbυh pεlαn-pεlαn, sεpεrti biji tαnαmαn yαng sεdαng mεnyεrαp αir kεhidupαn.
Al-Qur'αn kεmbαli mεngingαtkαn:

 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ -- 

“Sεsυnggυhnyα hαnyα orαng-orαng yαng bεrsαbαrlαh yαng dicυkυpkαn pαhαlα mεrεkα tαnpα bαtαs.”_ (QS. Az-Zυmαr [39]:10).

Tidαk hαnyα orαng yαng sεdαng tεrlυkα yαng mεmbυtυhkαn sαbαr. Orαng yαng sεdαng bεrbαhαgiα pun pεrlυ sαbαr αgαr tidαk lυpα diri, tidαk tεrgεlincir pαdα kεsombongαn. Kαrεnα kεsαbαrαn bukαn hαnyα tεntαng bεrtαhαn, tεtαpi jugα tεntαng mεnjαgα kεsεimbαngαn.

Allαh ﷻ bεrfirmαn:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ -- 

“Αpα yαng αdα di sisimu αkαn hαbis, dαn αpα yαng αdα di sisi Allah αdαlαh kεkαl. Dαn sunggυh, Kαmi αkαn mεmbεri bαlαsαn kεpαdα orαng-orαng yαng sαbαr dεngαn pαhαlα yαng lεbih bαik dαri αpα yαng tεlαh mεrεkα kεrjαkαn.” (QS. An-Nαhl [16]:96).

Sαbαr bukαn bεrαrti diαm tαnpα usαhα. Iα αdαlαh gεrαk yαng tεrkεndαli, lαngkαh yαng sαdαr, dαn ikhtiαr yαng tεrjαgα dαlαm imαn. Sαbαr αdαlαh kεkuαtαn untuk tidαk tεrgεsα, tidαk tεrbαkαr εmosi, dαn tidαk tεrsεrεt olεh hαwα nαfsu.

Kεtikα sεsεorαng mεngαbαikαn kεsαbαrαn dαn kεjujurαn, kεmiskinαn bisα mεnjεrυmυskαnnyα pαdα kεkυfυrαn, dαn kεkαyααn pun bisα mεnyεrεtnyα kε jυrαng kεhαncυrαn. Tεtαpi dεngαn sαbαr dαn jujur, kεhidupαn mεnjαdi lεbih jεrnih, sεpεrti αir yαng mεngαlir tαnpα kεrυh.

Akhirnyα, orαng yαng sαbαr dαn jujur αdαlαh orαng yαng mαmpυ mεmbαlαs kεbυrυkαn dεngαn kεbαikαn. Bυkαn kαrεnα diα lεmαh, tεtαpi kαrεnα diα kuαt mεngεndαlikαn diri. Mαkα, jikα hαri ini kitα mεrαsα lεlαh, jαngαn cεpαt mεnyimpυlkαn bαhwα kitα kαlαh. Mυngkin kitα sεdαng dilαtih untυk lεbih sαbαr dαn lεbih jujur.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Bαndυng Sεlαtαn, 10 Mαrεt 2026
Μυchtαr ΑF
"Ιnspirε Withουt Limits"
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Selasa, 10 Maret 2026

Kepada Siapa Kita Harus Berakhlak


Dalam Islam, seorang Muslim diperintahkan untuk berakhlak mulia (berperilaku baik) kepada seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Berikut adalah rincian kepada siapa saja kita harus berakhlak baik:

1. Kepada Allah SWT

Ini adalah landasan utama dari semua akhlak. Bentuknya adalah:

· Mengesakan-Nya (Tauhid): Tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.
· Ikhlas: Melakukan segala sesuatu hanya karena Allah.
· Syukur: Selalu berterima kasih atas segala nikmat.
· Tawakal: Berserah diri setelah berusaha maksimal.
· Rida dan Sabar: Menerima ketetapan Allah dengan lapang dada.

2. Kepada Rasulullah SAW

Akhlak kepada beliau adalah dengan:
· Mencintai dan memuliakannya melebihi cinta kepada diri sendiri dan keluarga.
· Mengucapkan shalawat ketika namanya disebut.
· Mengikuti sunnah dan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
· Mendahulukan sabdanya di atas pendapat siapa pun.

3. Kepada Diri Sendiri

Seorang Muslim juga bertanggung jawab untuk berbuat baik kepada dirinya sendiri, karena tubuh dan jiwa kita adalah amanah dari Allah. Caranya:
· Menjaga kesucian diri dari dosa dan maksiat.
· Menjaga kesehatan dengan makan yang halal dan thayyib, serta berolahraga.
· Mengembangkan potensi diri dengan menuntut ilmu.
· Bersikap jujur pada diri sendiri (introspeksi/muhasabah).

4. Kepada Keluarga

Keluarga adalah lingkungan terdekat yang paling utama untuk diberi akhlak terbaik:
· Kepada Orang Tua (Birrul Walidain): Berbakti, berkata lembut, mendengarkan nasihat, dan mendoakan mereka (QS. Al-Isra: 23-24).
· Kepada Pasangan (Suami/Istri): Bergaul dengan cara yang ma'ruf (baik), saling menghormati, dan memenuhi hak masing-masing.
· Kepada Anak-anak: Menyayangi, mendidik dengan baik, dan memberi nafkah yang halal.
· Kepada Saudara dan Kerabat: Menjalin silaturahmi, saling membantu, dan tidak memutus hubungan.

5. Kepada Masyarakat dan Lingkungan Sekitar

Akhlak mulia harus ditunjukkan dalam interaksi sosial:

· Kepada Tetangga: Tidak mengganggu, menjenguk jika sakit, berbagi makanan, dan menjaga kehormatan mereka. Rasulullah SAW bersabda ia tidak beriman jika tetangganya tidak aman dari gangguannya.
· Kepada Guru/Ustadz: Menghormati, merendahkan diri di hadapannya, dan mengamalkan ilmunya.
· Kepada Teman dan Saudara Seiman: Saling mencintai karena Allah, menasihati dalam kebaikan, membantu kesulitan, dan menutup aib.
· Kepada Pemimpin: Taat dalam kebaikan, mendoakan, dan menasihati dengan cara yang baik.
· Kepada Orang yang Lebih Tua: Menghormati dan menghargai pengalaman mereka.
· Kepada yang Lebih Muda: Menyayangi dan membimbing.

6. Kepada Non-Muslim

Islam mengajarkan akhlak yang baik kepada semua orang tanpa memandang agama, selama mereka tidak memerangi atau mengusir umat Islam dari kampung halaman mereka. Bentuknya:
· Berlaku adil dan jujur dalam muamalah (bisnis).
· Berbuat baik seperti memberi hadiah, menjenguk yang sakit, dan bertetangga dengan baik.
· Tidak mencela keyakinan mereka.

7. Kepada Makhluk Lain (Lingkungan dan Hewan)

Akhlak baik juga mencakup alam semesta:

· Kepada Hewan: Memberi makan dan minum jika dipelihara, tidak menyiksa atau membebaninya di luar kemampuan, dan menyembelih dengan cara yang baik dan halal.

· Kepada Lingkungan: Tidak merusak alam, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan.

Dengan demikian akhlak baik dalam Islam bersifat universal. Ia harus dipraktikkan kepada siapa pun dan di mana pun, karena Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Beliau memang sangat dikenal sebagai pemilik Akhlakul Karimah.

Beberapa contoh konkret perilaku berakhlak karimah meliputi:
  • Ash-Shidq: Selalu jujur dalam perkataan dan perbuatan.
  • Al-Amanah: Dapat dipercaya dalam menjalankan tanggung jawab.
  • Husnuzon: Selalu berprasangka baik terhadap orang lain.
  • Ath-Thawadu': Rendah hati dan tidak meremehkan orang lain.
  • Al-Afuw: Mudah memaafkan kesalahan orang lain tanpa rasa dendam.

Ketika Wahabi Gagal Faham: "Memvonis Orangtua Nabi di Neraka"


Pengantar: Status mengenai apakah orang tua Nabi Muhammad SAW masuk surga merupakan masalah yang diperdebatkan oleh para ulama karena adanya perbedaan sudut pandang dalam menafsirkan dalil-dalil yang ada. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa orang tua Nabi termasuk Ahli Fatrah, yaitu orang-orang yang hidup di masa kekosongan rasul (sebelum Nabi Muhammad diutus) dan tidak sampai kepada mereka dakwah yang benar. Berdasarkan firman Allah, seseorang tidak akan diazab sebelum ada Rasul yang diutus kepada mereka.

Ketika Wahabi Gagal Paham

Wahabi: Apa dalil Anda berpendapat bahwa ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga?

Sunni: Dalil kami beberapa ayat al-Qur’an al-Karim. Menurut Ahlussunnah Wal-Jamaah (Aswaja), seandainya hukum syara’ atau rasul tidak datang, maka manusia tidak wajib beriman kepada Allah dan tidak wajib mensyukuri nikmat-Nya.

Ahlussunnah Wal-Jamaah berdalil dengan beberapa ayat dalam al-Qur’an:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS al-Isra’ : 15).

ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. (QS al-An’am : 131).

وَلَوْلا أَنْ تُصِيبَهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin". (QS al-Qashash : 47).

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (QS Thaha : 134).

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ، أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ

Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Kami turunkan al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan: "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. (QS al-An’am : 155-156).

وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلا لَهَا مُنْذِرُونَ، ذِكْرَى وَمَا كُنَّا ظَالِمِينَ

Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan. Untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (QS al-Syu’ara’ : 208-209).

Ayat-ayat di atas memberikan pengertian, bahwa Allah tidak akan mengazab kepada orang-orang, sebelum datang seorang rasul yang membawa syariat kepada mereka. Berdasarkan ayat-ayat di atas para ulama Ahlussunnah Wal-Jamaah sepakat bahwa sebelum datangnya seorang rasul, orang yang melakukan kemaksiatan dan kekafiran tidak akan diazab oleh Allah.

Berdarkan ayat-ayat tersebut, para ulama memberikan kesimpulan, bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk orang yang selamat di akhirat. Karena status mereka berdua sebagai ahlul-fatrah, yaitu orang-orang yang jauh dari informasi rasul sebelumnya dan tidak mengikuti masa kerasulan berikutnya. Pendekatan ini dianggap konsep yang paling kuat sebagai dalil bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang selamat di akhirat.

Silahkan kalau Anda tidak setuju, bantah pendapat para ulama di atas!

Wahabi: Kami jelas tidak bisa membantah terhadap dalil-dalil yang kuat di atas. Tetapi kami punya satu dalil, dari hadits shahih dalam riwayat Muslim sebagai berikut:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: «فِي النَّارِ»، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ.

Dari Anas, “Seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, ayahku ada di mana?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di neraka.” Setelah laki-laki itu berpaling, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ayahku dan ayahmu di neraka.” Hadits riwayat Muslim [347].

Dalam hadits di atas, ada penjelasan bahwa ayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayah laki-laki yang bertanya tersebut masuk neraka.

Sunni: Berarti Anda tidak menjawab terhadap dalil-dalil ulama kami yang sangat kokoh dan kuat. Anda justru mengeluarkan dalil lain sebagai dalil pendapat Anda.

Menghadapi hadits yang Anda kemukakan, para ulama memberikan beberapa jawaban:

Pertama, hadits tersebut hadits ahad (diriwayatkan melalui satu jalur) yang bersifat zhanni (persumtif), dan bukan qath’iy. Sedangkan ayat-ayat al-Qur’an di atas sifatnya qath’iy (definitif) dan dipastikan benar. Karena itu, dengan sendirinya hadits ini menjadi gugur karena berlawanan dengan dalil yang lebih kuat dan qath’iy.

Kedua, hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari. Beberapa hadits yang hanya diriwayatkan oleh Muslim, terdapat kejanggalan dan menjadi perbincangan para ulama, antara lain hadits di atas.

Ketiga, sanad hadits di atas, melalui jalur Hammad bin Salamah, seorang perawi yang menjadi pembicaraan para ulama tentang hapalannya. Dalam haditsnya, banyak terjadi kejanggalan. Menurut para ulama, kejanggalan tersebut terjadi karena anak tirinya menyisipkan hadits-hadits yang janggal dalam catatan-catatannya. 

Sementara Hammad sendiri tidak hapal terhadap catatan-catatan tersebut. Ia menyampaikan hadits melalui catatannya, sehingga terjadi kekeliruan. Oleh karena itu al-Bukhari tidak meriwayatkan sama sekali hadits-haditsnya. Sementara Imam Muslim meriwayatkan hadits melalui Hammad hanya melalui jalur gurunya Tsabit al-Bunani dalam hadits-hadits yang pokok.

Keempat, redaksi hadits di atas, yang di antara isinya, “Ayahku dan ayahmu di neraka”, tidak disepakati oleh para perawi. Redaksi tersebut adalah redaksi melalui jalur Hammad bin Salamah, dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik. Jalur ini yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Redaksi tersebut berbeda dengan redaksi yang melalui jalur Ma’mar bin Rasyid, dari Tsabit dari Anas bin Malik, yang menggunakan redaksi:

"إِذَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ"

Apabila kamu melewati kuburannya orang kafir, maka sampaikan kabar gembira kepadanya dengan masuk neraka.

Dari segi riwayat, Ma’mar lebih kuat daripada Hammad bin Salamah. Para ulama tidak mempersoalkan hapalannya, haditsnya juga tidak ada yang dianggap janggal, dan al-Bukhari dan Muslim sepakat menerima haditsnya dalam shahihnya. Hal ini berbeda dengan Hammad.

Hadits yang melalui jalur Ma’mar diriwayatkan oleh al-Bazzar, al-Thabarani dan al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqqash. Hadits Sa’ad bin Abi Waqqash diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [326], al-Bazzar [1089], al-Baihaqi dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah [1005]. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid juz 1 hlm 118, para perawinya adalah para perawi hadits shahih.

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar, seperti dalam redaksi hadits Ma’mar. Hadits Ibnu Umar diriwayatkan oleh Ibnu Majah [1573] dan al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [326]. Al-Hafizh al-Bushiri berkata dalam Zawaid-nya juz 2 hlm 43, sanad hadits ini shahih dan para perawinya orang-orang yang dipercaya.

Dari sini akhirnya dapat diketahui bahwa redaksi pertama dalam riwayat Muslim adalah termasuk hasil pengolahan perawi, yaitu Hammad bin Salamah, yang meriwayatkan hadits tersebut dengan maknanya sesuai dengan pemahamannya.

Sedangkan redaksi asalnya, adalah seperti dalam riwayat Ma’mar. Hadits shahih apabila bertentangan dengan dalil-dalil lain yang lebih kuat, maka hadits tersebut harus dita’wil dan mendahulukan dalil-dalil lain yang lebih kuat, sebagaimana dalam ushul al-fiqih.

Wahabi: Hujjah Anda sangat kuat sekali. Padahal hadits di atas diriwayatkan oleh Shahih Muslim.

Sunni: Anda hanya tahu nama Shahih Muslim, tetapi tidak pernah mengetahui sejauh mana pengamalan para ulama terhadap hadits-hadits dalam Shahih Muslim?

Wahabi: Apakah hadits-hadits dalam Shahih Muslim tidak diterima oleh para ulama? Ulama yang mana?

Sunni: Kamu tahunya hanya nama Shahih Muslim. Hadits-hadits yang kamu dengar ustadz-ustadz kamu dari Shahih Muslim hanya dua, yaitu semua bid’ah adalah sesat dan ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk neraka. Padahal hadits-hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim yang tidak diamalkan oleh para ulama itu banyak sekali.

Wahabi: Contohnya apa saja?

Sunni: Saya ambilkan beberapa contoh saja.

Pertama, dalam al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan, bahwa dua orang yang melakukan transaksi jual beli itu boleh memilih meneruskan akad atau membatalkan, selama mereka belum berpisah dari tempat transaksi tersebut. Ini yang disebut dengan khiyar majlis. Sementara para ulama madzhab Maliki tidak menerima dan tidak mengamalkan hadits tersebut.

Kedua, dalam al-Bukhari dan Muslim, jilatan anjing harus dibasuh sebanyak tujuh kali. Madzhab Hanafi tidak mengharuskan membasuh tujuh kali.

Ketiga, dalam al-Bukhari dan Muslim adalah larangan mendahulukan puasa menjelang Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari. Madzhab Hanbali justru membolehkan berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.

Ini hanya tiga contoh saja. Yang tidak disebutkan di sini jelas lebih banyak. Anda harus tahu, bahwa Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (Murid dari Ibnu Taimiyah) menolak keshahihan beberapa hadits dalam Shahih Muslim. Dan ulama panutan Anda, yaitu al-Albani lebih banyak lagi menolak keshahihan beberapa hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Wahabi: Saya jadi bingung kalau begitu.

Sunni: Wahabi seperti Anda pasti galau dan bingung karena memang gagal paham terhadap banyak persoalan agama, tetapi merasa paling benar, paling memahami dan paling konsisten terhadap sunnah. 

Wallahu a’lam.
Lihat, Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi juz 2 hlm 402-444.

Mensyukuri Rahmat Allah

Bismilahirahmanirahim Asalamumualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh, Mensyukuri rahmat Allah adalah bentuk pengakuan tulus atas segala karunia ...