Selasa, 11 Agustus 2026

Sajak Londo Ireng (Part-2): "LONDO IRENG DI RUANG REDAKSI"

(untuk Ki Gempur, yang tahu persis di mana kebenaran dijual)

Hai, kau yang duduk di balik meja kayu,
di antara tumpukan kertas dan lampu neon yang berkedip lesu.
Kau yang jari-jarimu menari di atas papan ketik,
tapi tarianmu adalah tarian pesanan
tarian yang sudah diatur koreografinya oleh tuan di lantai atas.

Kau disebut pewarta, pembawa kabar,
tapi kabar apa yang kau bawa?
Kabar yang sudah dipotong ekornya?
kabar yang sudah dicabut giginya?
kabar yang telah dimandulkan agar tak bisa menggigit tangan 
yang memberimu makan?

Aku melihatmu di layar kaca,
jas rapi, dasi melilit leher seperti tambang,
senyummu simetris, nadamu datar,
tapi matamu,
matamu adalah mata Londo Ireng.

Mata yang melihat penderitaan tapi berpaling,
mata yang menangkap fakta tapi menyimpannya di laci,
mata yang tahu siapa yang benar tetapi menulis siapa yang bayar.

Kau adalah Londo Ireng zaman sekarang,
seragammu bukan topi bulu dan senapan,
tapi kamera dan mikrofon,
tapi gaji bulanan dan uang amplop.

Kau menembak bukan dengan peluru,
tapi dengan berita yang kau racik,
memilih-milih kata seperti memilih-milih mayat mana yang boleh difoto.

Kau yang mengaku netral,
tapi keberpihakanmu terlihat dari mana kau letakkan koma,
dari mana kau taruh tanda tanya,
dari siapa kau wawancarai lebih dulu,
dari siapa yang kau sunting omongannya.

Hai, kaum Jurnalis!
Kau bilang kau adalah pilar demokrasi,
tapi pilar yang kau bangun adalah pilar dari lilin,
meleleh saat api kekuasaan mendekat.

Kau bilang kau suara rakyat,
tapi suaramu adalah suara yang sudah direkam ulang,
diedit, di-mix, di-filter hingga rakyat tak mengenali tangisnya sendiri.
Kau tahu di desa-desa,
ibu-ibu menangis karena beras mahal,
petani kehilangan ladang,
guru digaji seadanya.

Tapi yang kau tulis adalah peresmian jalan,
sambutan menteri,
dan opini pengusaha yang membayar iklan halaman depan.

Kau adalah Londo Ireng yang beralih profesi,
dulu kau memanggul bedil untuk tuan putih,
sekarang kau memanggul kuasa kata untuk tuan baru.

Kau bukan pemburu berita,
kau pemburu rupiah, pemburu jabatan, pemburu limpahan proyek.
Aku bertanya,
di mana integritasmu? Di mana hati nuranimu?
Atau kau jual keduanya di pasar gelap,
seiring dengan lensa-lensamu yang usang?

Kau lupa bahwa kau lahir dari rahim yang sama dengan rakyat,
kau makan nasi yang sama,
kau mengeluh hujan yang sama,
tapi saat kau duduk di ruang redaksi,
kau tiba-tiba jadi orang asing,
jadi Londo Ireng yang tak mau mengakui saudaranya.

Lihat,
jurnalisme independen sejati bukan menulis 
tentang apa yang menyenangkan,
tapi tentang menulis apa yang menyakitkan
menyakitkan bagi yang berkuasa,
menyakitkan bagi yang korup,
menyakitkan bagi yang zalim.

Tapi tidak dengan kau
Kau memilih menulis obat penenang,
agar rakyat tertidur lelap,
agar tuan-tuanmu bisa merampok dengan tenang.
Maka aku menuduhmu, hai Londo Ireng berjas!

Kau adalah pengkhianat kata,
penjual fakta,
pelacur kebenaran.

Kau lebih berbahaya dari senapan,
karena senapan hanya membunuh sekali,
tapi tulisanmu membunuh masa depan berulang-ulang,
membunuh harapan,
membunuh keberanian,
membunuh semangat rakyat yang terbaca 
dalam kolom-kolommu yang penuh dusta.

Namun aku tak mau hanya menuduh.
Aku ingin kau sadar:
di ujung lorong redaksimu,
di luar jendela ruang AC-mu,
masih ada matahari yang menyala,
masih ada tanah yang menunggu digali kebenarannya,
masih ada rakyat yang menunggu kata-kata jujur.

Kembalilah, hai Londo Ireng!
Buang jas dan dasimu,
lepaskan topeng netralitasmu,
genggamlah pena seperti pedang,
tulislah apa yang kau lihat,
bukan apa yang kau bayar.

Karena pada akhirnya,
di dalam sejarah yang tak bisa kau karang,
nama-nama baik tertulis dengan tinta emas,
sedang nama-nama pengkhianat
terhapus oleh waktu,
atau lebih celaka: dikenang sebagai Londo Ireng,
yang meskipun hitam, tak pernah merdeka.

Maka pergilah, atau sadarlah.
Karena kebenaran tak pernah mati,
ia hanya menunggu jurnalis sejati yang berani memeluknya,
seperti pelukan ibu pada anaknya,
hangat, tulus, dan tak kenal kompromi.

Senin, 10 Agustus 2026

Denting Domino di Balik Panggung Kemerdekaan: Olahraga Otak yang Menyehatkan Jiwa


Pengantar: Di setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita disuguhi ragam lomba yang meriah. Ada lomba panjat pinang, balap karung, main kelereng, tenismeja, blutangkis, volley, hingga tarik tambang. Namun di sudut-sudut kampung yang teduh, di bale-bale desa yang basah, di gedung-gedung serbaguna di desa dan perkotaan, sering terdengar denting kartu domino atau gaple yang dimainkan dengan meriah, namun hening dan penuh konsentrasi. Di balik permainan yang tampak sederhana ini, sesungguhnya tersembunyi laboratorium otak yang bekerja tanpa henti. Sebuah panggung bagi kecerdasan, strategi, dan kesehatan mental.

Lintasan Filosofis Gaple

Di balik permainan gaple atau domino yang tampak sederhana, tersembunyi medan perang pikiran yang sesungguhnya. Setiap ubin/kartu yang dibuang adalah gebukan keputusan. Setiap peluang yang diambil adalah kalkulasi dengan memperhitungkan nilai ubin/kartu kawan dan lawan secara tepat dan akurat.

Menghitung probabilitas secara akurat bukan sekadar kemampuan matematis, melainkan intuisi yang diasah. Pemain yang baik tidak hanya menghitung sisa kartu, tetapi membaca gerak-gerik lawan. Mengukur kapan harus bertahan dan kapan harus menyerang. Inilah bentuk kecerdasan praktis yang tidak diajarkan di bangku sekolah.

Bermain gaple adalah cermin hidup. Kita tidak pernah tahu kartu apa yang akan datang, tetapi kita bisa mempersiapkan diri. Kemampuan mengelola ketidakpastian inilah yang membedakan pemain biasa dari pemain hebat. Dan pada akhirnya, kecerdasan bukan hanya tentang menghitung dengan benar, tetapi tentang memaknai setiap langkah yang kita pilih.

Simulasi Perang Kecil

Bermain gaple bukan sekadar mengisi waktu. Setiap langkah yang diambil adalah simulasi perang kecil bagi neuron-neuron otak. Seorang pemain dituntut untuk mengingat kartu apa saja yang telah keluar, menghitung sisa kartu di tangan lawan, dan memprediksi langkah selanjutnya. 

Kemampuan ini secara langsung melatih working memory dan fungsi eksekutif otak. Ini adalah dua komponen kognitif yang sangat rentan menurun seiring bertambahnya usia. Sains membuktikan bahwa aktivitas yang merangsang perhitungan probabilitas seperti ini mampu membentuk jalur saraf baru (neuroplastisitas), sehingga menjadi perisai ampuh melawan kepikunan dan demensia.

Penelitian menunjukkan bahwa otak yang aktif bekerja seperti otot yang terus dilatih. Semakin sering kita menghitung kemungkinan kartu yang tersisa dan membaca pola permainan lawan, semakin tajam pula kemampuan analisis kita. 

Permainan gaple memaksa kedua belahan otak bekerja secara sinergis. Otak belahan kiri untuk logika dan perhitungan. Belahan kanan untuk intuisi dan membaca emosi lawan. Inilah senjata rahasia mengapa banyak lansia yang gemar bermain gaple/domino masih memiliki daya ingat yang kuat. Pikiran mereka tetap muda karena terus diasah oleh tantangan taktis di atas meja.

Menjadi Agenda Momentum 17-an

Tidak heran jika lomba gaple dan domino selalu menjadi agenda wajib pada peringatan 17 Agustus. Namun sayangnya, seringkali lomba ini dipandang sebelah mata dibandingkan lomba fisik yang lebih “menantang”. Padahal, di sinilah letak kekayaan budaya kita yang patut dibanggakan. Lomba gaple mengajarkan kita tentang ketenangan, kesabaran, dan pengambilan keputusan di bawah tekanan. Kualitas yang justru sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa yang merdeka secara mental.

Bahkan secara filosofis, gaple mengajarkan bahwa hidup adalah tentang mencocokkan “ujung” dengan “kesempatan”. Kita tidak bisa memilih kartu yang kita dapat, sama seperti kita tidak bisa memilih masa lalu. Namun kita selalu bisa memilih bagaimana menyusun kartu-kartu itu menjadi kombinasi kemenangan.

Itulah semangat kepahlawanan. Tidak menyerah pada keadaan. Terus menghitung peluang, dan bergerak dengan cerdik. Momentum kemerdekaan adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan hal ini.

Maka, mari dukung lomba gaple dan domino tidak hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai program sosial yang mencerdaskan. Ajak anak-anak muda untuk belajar bermain, agar mereka tidak hanya kuat secara fisik melalui panjat pinang, tetapi juga kuat secara mental melalui logika. 

Dengan terus merawat permainan tradisional ini, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga sedang merawat kesehatan generasi bangsa. Misalnya, sebagai salah satu upaya terhindar dari pikun, terbiasa berpikir strategis, dan selalu siap menyambut masa depan dengan kepala dingin.

Dirgahayu Indonesiaku! Semoga denting gaple/domino selalu menggema sebagai simbol kecerdasan dan kebersamaan yang tak pernah padam. Gimana...? Okey surokey, kan...!

Sajak Londo Ireng (Part-1): "LONDO IRENG SANG PEMBELENGGU"

(untuk Ki Gempur, si penggigit langit)

Kau datang dengan topi bulu dan senapan di pundak,
hitam seperti malam yang tak mau enyah,
Hitammu bukan lah hitam kodrati
tapi hitammu adalah hitam yang diganjar.
Hitam yang disewa untuk menggebuk yang lain.

Aku melihatmu di jalanan Batavia,
sepatu kulitmu acapkali menghentak kepala ibu-ibu,
bajonetmu menoreh perut para kuli dan petani.

Kau disebut Londo Ireng
tapi kau bukan hitam apalagi putih, 
Kau adalah warna antara,
warna pengkhianat yang tahu persis
ia berdiri di atas siapa.

Wahai, Belanda Hitam...!
Di mana kampungmu? Afrika? Amerika? Atau Indonesia?
Di mana rumput hijau tempat kau kecil berguling?
Lalu mengapa kakimu menginjak tanah Jawa
padahal kau lahir bagai dari rahim mesiu?

Aku tahu
kau dibayar dengan kain belacu dan botol arak.
Kau dibayar untuk melupakan wajah ibumu.
Kau dibayar agar bisu
saat tuan putih mencambuk punggungmu juga.
Kau adalah budak yang menggonggong budak lain,
anjing yang menggigit tangan sesama kuli.

Lihat!
Lumpur sawah kita bercampur darah,
dan darah itu merah sama merahnya.
Tapi kau memilih merah yang dijahit seragam,
bukan merah yang mengalir di nadi Batavia.

Hai, Londo Ireng!
Kau pikir kulit hitammu membuatmu bersaudara dengan kami?
Kau pikir derit gerobakmu sama dengan derit tangis kami?
Kau keliru!
Hitammu adalah hitam komoditas,
hitam yang dijual seharga tembakau dan kopi.

Sedang hitam kami
hitam yang tumbuh dari rahim ibu pertiwi,
hitam yang memeluk bara perlawanan.

Maka sekarang,
ketika kau mati di pinggir kali,
seragammu basah, senapanmu patah,
tak ada yang meratapi
karena kau mati sebagai bayangan,
bukan sebagai manusia.

Namun aku tak mau membencimu.
Aku hanya ingin kau tahu:
di atas semua hitam dan putih,
ada merah yang menyala
merah kemerdekaan yang tak pernah bisa kau beli,
merah yang akan terus mengalir
meski kau dan tuanmu berganti-ganti topi.

Maka pergilah, Londo Ireng.
Bawa pulang tulang-tulangmu ke negeri yang kau lupa.
Dan biarkan kami di sini
menjemur hitam kami menjadi fajar

Minggu, 09 Agustus 2026

Ketika Koperasi Desa Merah Putih Terlahir dari Firasat


(Secangkir Anggur Merah Edisi-27)

Pengantar: Di atas kertas, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terdengar seperti mimpi indah. Tidak kurang dari 80.000 koperasi ditebar ke seluruh desa. Misi mulianya guna menggerakkan ekonomi rakyat sejak akar rumput. Namun apa lacur,  mimpi indah itu ditengarai mulai berantakan. Tentu saja kalau gak mau divonis  berujung pada mimpi buruk. Sialnya mimpi tak sedap ini, justru, dibiayai oleh uang rakyat. Yah, mau bagaimana lagi..! Tapi jangan emosi dulu. Ada solusi yang ditawarkan.

Akibat Ambisi Terlahir dari Firasat

Masalah pertama dan paling fundamental dari program ini sudah pasti cara kelahirannya. Bukan dari kajian akademik yang matang. Bukan pula dari evaluasi mendalam atas kegagalan pendirian koperasi-koperasi sebelumnya. Sekretaris Kabinet Bayangan, Feri Amsari, bahkan menyindir koperasi ini  sepertinya terlahir dari faktor wangsit Presiden. Ealah...!

"Saya agak khawatir dengan gagasan-gagasan yang muncul di presiden. Lebih kepada faktor wangsit saja," ujarnya lumayan menohok. Ini bukan sekadar kritik personal. Ini adalah kecaman terhadap proses perencanaan yang nihil. Bagaimana mungkin program senilai ratusan triliun lahir bukan dari data dan riset, melainkan dari firasat?

Feri dengan cermat mempertanyakan logika dasar di balik program ini. Mengapa pemerintah tidak mengoptimalkan sekitar 130.000 koperasi yang sudah berdiri?

Alih-alih malah membangun sistem baru dari nol? Apalagi, menurutnya, kontribusi usaha koperasi terhadap perekonomian nasional saat ini  tidak lebih dari 1%. Membangun 80.000 koperasi baru di atas fondasi yang sudah rapuh bukanlah solusi. Itu adalah melarikan diri dari masalah. Alamak...!

Beban di Pundak Wajib Pajak

Ada yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar kritikan Pemrakarsa berdirinya Kabinet Bayangan itu, yakni soal  skema pendanaannya. Yuk, mari kita bicara soal data.

Total kredit KDMP diperkirakan mencapai Rp240 triliun. Masing-masing koperasi memperoleh plafon pinjaman maksimal Rp3 miliar. Lalu siapakah yang akan menanggung utang ini jika program ini gagal? Dibebankan lagi-lagi ke APBN?

Menurut Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, dengan saklek menyatakan bahwa pembayaran utang menggunakan APBN ini bertentangan dengan prinsip dasar koperasi. "Masyarakat belum tentu beli barang di KDMP, tapi pajaknya dipakai bayar utang," tegasnya.

Sesungguhnya inilah ironi terbesar. Program yang mengklaim memberdayakan rakyat justru membebani rakyat dengan risiko finansial yang luar biasa. Jika gagal, yang menanggung cicilan adalah APBN. Gak perlu dipungkiri berarti dari uang pajak kita semua. 

Sementara itu, aturan pemerintah mewajibkan 58,03% Dana Desa, atau sekitar Rp34,57 triliun, dialokasikan untuk KDMP. Kepala Desa Senggigi, Mastur, mengeluhkan anggaran desanya menyusut drastis. Dari Rp1 miliar menjadi hanya tinggal Rp200-300 juta.

"Bagaimana cara kami mau bangun infrastruktur dengan dana segitu?" cetusnya. Pembangunan irigasi, perbaikan saluran air, pembangunan jalan kampung, semua terpaksa dihentikan demi koperasi yang bahkan belum terbukti mampu berdiri sendiri.

Gerai di Atas Gunung dan kuburan

Implementasi di lapangan tak kalah memilukan. Anggota Komisi VI DPR RI, Budi Sulistyono alias Kanang, menyoroti gerai-gerai Koperasi Merah Putih yang dibangun di lokasi tidak strategis: "Ada yang di pinggir sawah, ada yang di atas gunung, ada yang di depan kuburan". 

Bahkan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, warganet menemukan 12 titik lokasi koperasi yang terpantau berada di tengah laut berdasarkan fitur pemetaan aplikasi Simkopdes. Bayangkan di tengah laut. Ini bukan lagi masalah kelayakan. Ini bagai pagelaran sebuah komedi absurd yang menghabiskan uang negara.

Belum lagi kasus penyalahgunaan kendaraan operasional yang memalukan. Ada mobil pikap KDMP, misalnya, yang dipakai ke mal di Solo. Lalu truk digunakan mengangkut tebu di Sragen. Dan sebuah pikup dipakai mengangkut tembakau di Pamekasan. 

Kendaraan yang seharusnya menjadi tulang punggung distribusi ekonomi desa malah menjadi kendaraan pribadi. Malah digunakan sebagai  angkutan hasil pertanian warga. Aduh...aduh...firasat...firasat...!!

Solusi Kembali ke Akar Masalah

Kritik tanpa solusi sudah pasti akan dituduh sebagai pembuat gaduh. Bahkan, boleh jadi, divonis sebagai si pencari gara-gara. Menyadari itu, berikut ini ada beberapa langkah konkret yang harus diambil:

Pertama, hentikan ekspansi dan evaluasi total. Program pembangunan 80.000 koperasi harus dihentikan sementara. Pemerintah perlu melakukan audit menyeluruh atas koperasi yang sudah berjalan. Mengevaluasi kelayakan lokasi. Dan terpenting memastikan setiap unit memiliki rencana bisnis yang realistis. Bukan sekadar tegaknya gedung dengan fasilitas kendaraan yang sempurna. Yang terpenting justru merancang strategi jitu dan memastikan keberlanjutannya.

Kedua, optimalkan koperasi eksisting. Alih-alih membangun dari nol, perkuat 130.000 koperasi yang sudah ada. Berikan pendampingan, perbaiki tata kelola, dan suntik modal secara bertahap berdasarkan kinerja. Ini jauh lebih efisien dan mengurangi risiko kegagalan sistemik.

Ketiga, libatkan KPK dalam pengawasan. Saat ini KPK bahkan tidak dilibatkan dalam pengawasan proyek berskala besar dan lintas sektor ini. Ini adalah celah korupsi yang menganga. Pengawasan berlapis dengan melibatkan KPK, Kejaksaan Agung, dan BPK, bukanlah sekadar salah satu opsional, melainkan keharusan mutlak.

Keempat, pulihkan Dana Desa. Kembalikan porsi Dana Desa, terutama untuk pembangunan infrastruktur dasar. Koperasi yang sudah ada tentu saja belum mampu membangun irigasi atau memperbaiki jalan. Tapi memangkas 58,03% Dana Desa bukanlah solusi manis, tapi justru merupakan tindakan sadis. 

Kelima, uji coba terbatas. Sebelum digelar secara nasional, program seharusnya diuji di sejumlah desa percontohan dengan evaluasi ketat selama minimal dua tahun. Hanya setelah terbukti berhasil, program dapat diperluas secara bertahap.

Ending: Jangan Jadikan Proyek Ambisius

Koperasi Merah Putih memiliki niat mulia. Sungguh mulia. Katakanlah guna melindungi rakyat kecil dari tengkulak dan rentenir. Tapi niat mulia bisa berantakan ketika sebuah kebijakan telah cacat sejak lahir. Sebab jika hal ini terjadi yang menjadi korban terdepan adalah para wajib sendiri. Apapun alasannya yang namanya hutang kudu dibayar.

Sudah saatnya pemerintah berhenti bermimpi dan bermimpi lagi. Apalagi dengan hanya mengandalkan sebuah wangsit atau firasat, tanpa kajian memadai dan mumpuni. Akibatnya bermunculan istana koperasi di atas gunung dan rawa. Atau lokasi-lokasi yang sulit dijangkau rakyat.

Sebuah koperasi yang sehat memiliki pengelolaan yang transparan, akuntabel dan berdasarkan prinsip kekeluargaan. Tujuan utamanya adalah kesejahteraan anggota dan patuh aturan yang dilandasi semangat gotong royong. Yah, begitulah kira-kira...!!


Sajak Londo Ireng (Part-2): "LONDO IRENG DI RUANG REDAKSI"

(untuk Ki Gempur, yang tahu persis di mana kebenaran dijual) Hai, kau yang duduk di balik meja kayu, di antara tumpukan kertas dan lampu neo...