Selasa, 07 April 2026

Waktu Terus Berputar


Waktu terus berputar tanpa henti. Membawa perubahan konstan yang tak bisa ditawar. Di mana masa lalu menjadi pelajaran. Hari ini adalah kesempatan. Dan masa depan adalah bayangan harapan.

Hidup yang dinamis ini menuntut kita untuk menghargai setiap detik. Jangan pernah menyia-nyiakannya. Saatnya memaksimalkan waktu yang terbatas ini. Demi kebaikan dan persiapan masa depan.

Roda kehidupan selalu berputar. Tidak selamanya di atas, juga tak langgeng di bawah. Sungguh sang Waktu Tidak Bisa Diulang. Kehadirannya adalah modal utama yang tidak bisa kembali. Kata orang arief bijak manfaatkanlah dia dengan sebaik-baiknya.

Perubahan adalah sebuah kepastian. Tak terkecuali tubuh dan kondisi kita yang senantiasa berubah seiring waktu. Pastinya itu dipengaruhi juga oleh tindakan kita hari ini.

Hikmah yang bisa diambil bahwa waktu yang singkat di dunia ini harus digunakan untuk perbaikan diri (istiqomah) sebelum terlambat. Jadi tak ada salahnya untuk memanfaatkan waktu dengan bijak agar tidak ada penyesalan di masa depanWaktu terus berputar

Seperti mentari yang berlari menuju tempat terbenamnya..
Dan ajalpun semakin mendekat...

Namun boleh jadi perbekalan ini terasa amat sedikit...

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Aku pernah bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, ‘Wahai Rosulullah, mukmin manakah yang paling baik..?’

Beliau bersabda, ‘Yang paling baik akhlaknya..’

Ia kembali bertanya, ‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas..?’

Beliau bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas..’
(HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani)

Kalau kita tidak gunakan waktu untuk beribadah kepada-Nya pastilah Allah Ta’ala akan memberikan kesibukan-kesibukan lain yang menyebabkan kita terhalang dari beribadah kepada-Nya.

Sekali berhalangan, dua kali berhalangan, akhirnya syaitan musuh nyata manusia makin dahsyat meniupkan berbagai was-was dan “alasan” untuk tidak melakukan ibadah kepadaNya

Malam itu panjang maka jangan dipendekan dengan tidur, dan siang itu terang maka jangan juga dikeruhkan dengan dosa dan maksiat.

Allah Ta’ala, berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ‘Tafsir al-Quran al-Azhim’ VII/38 (cet. Dar Ibnul Jauzy th. 1431 H) menjelaskan tentang ayat diatas yaitu,

أَيْ إِنَّمَا خَلَقْتُهُمْ لِآمُرَهُمْ بِعِبَادَتِي لَا لِاحْتِيَاجِي إِلَيْهِمْ. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ أَيْ إِلَّا لِيُقِرُّوا بِعِبَادَتِي طَوْعًا أَوْ كَرْهًا. وَهَذَا اخْتِيَارُ ابْنِ جَرِيرٍ

“Maksudnya, Aku ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah hanya kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. Mengenai firman Allah Illa liya’buduun “Melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” 

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Artinya melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara sukarela maupun terpaksa. Ini adalah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.”

Imam Ibnul jauzi Rahimahullah mengungkapkan dalam sebuah risalah, yang diberi nama Laftatul Kabid Nashihatul Walad, yang berisi nasihat kepada putra beliau, sebagai pesan agar putranya senantiasa menjaga waktu. 

Beliau mengatakan, “Ketahuilah wahai anakku bahwa hari-hari itu dibentangkan menjadi kumpulan jam. Jam dibentangkan menjadi kumpulan desah-desah napas, dan setiap desah nafas ibarat lemari. Maka, waspadalah agar desah napas itu tidak berlalu, tanpa faedah dan manfaat. Karena, di hari kiamat kelak engkau akan mendapati lemari itu kosong sehingga engkau pun menyesal! 

Lihatlah setiap waktumu, untuk apakah engkau menggunakannya?Janganlah engkau membiarkannya berlalu, kecuali untuk urusan yang paling mulia.Janganlah engkau telantarkan jiwamu. Biasakanlah ia untuk melazimi amalan yang paling terpuji. Dan, bangkitlah untuk mempersiapkan tabunganmu di kubur nanti, agar engkau bahagia kelak ketika tiba di sana.”

Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba melaksanakan amalan-amalan sholih, serta memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang sholih.

Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara yang akan menjadikan ridho Penguasa kita, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Allahuma Aamiin.

Wallahu a’lam
(Komunitas Akhlaq Mulia)

Selasa, 31 Maret 2026

Dalil Halal Bihalal Pasca Idulfitri


Pengantar: Halalbihalal adalah tradisi khas Indonesia pasca-Ramadan dan Idul Fitri untuk bersilaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat persaudaraan, sering diadakan di kantor atau keluarga. Meski menggunakan kata Arab, istilah ini dibakukan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai maaf-memaafkan, yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno dan K.H. Wahab Chasbullah pada 1948 untuk rekonsiliasi elit politik.

Tradisi Indonesia

Sudah menjadi suatu kebiasaan tersendiri bagi masyarakat 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 melaksanakan berbagai kegiatan dalam menyambut hari-hari besar Islam dengan upacara atau selamatan. Hal itu berangkat dari kultur yang telah melekat sejak dulu dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Salah satu tradisi yang ada di masyarakat 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 khususnya umat muslim ketika memasuki bulan 𝙎𝙮𝙖𝙬𝙬𝙖𝙡 adalah tradisi 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡.

𝗔𝗱𝗮 𝗱𝘂𝗮 𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝘂𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗮𝗶 𝗮𝘀𝗮𝗹-𝘂𝘀𝘂𝗹 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹:
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗺𝘂𝗹𝗮-𝗺𝘂𝗹𝗮 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗻𝘁𝗶𝘀 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗞𝗚𝗣𝗔𝗔 𝗠𝗮𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗜 (𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿 𝟬𝟴 𝗔𝗽𝗿𝗶𝗹 𝟭𝟳𝟮𝟱) 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗱𝗶𝗸𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗺𝗯𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘄𝗮.

Guna menghemat waktu, tenaga, pikiran serta biaya, maka seusai sholat ‘𝙄𝙙𝙪𝙡 𝙁𝙞𝙩𝙧𝙞 diadakanlah pertemuan antara raja dengan punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua penggawa dan prajurit secara tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, 𝗵𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗴𝘂𝗮𝘁 𝗶𝘀𝘁𝗶𝗹𝗮𝗵 ‘‘𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹‘’ 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗱𝗶𝗹𝗮𝘁𝗮𝗿𝗯𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗸𝗲𝗿𝗲𝘀𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗿𝗲𝘀𝗶𝗱𝗲𝗻 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼.

Pada kisaran tahun 𝟭𝟵𝟰𝟴 terhadap kondisi bangsa 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 yang baru-baru saja merdeka, namun para elite politiknya justru saling berseteru. Ditambah masa itu, 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 tengah mengalami pemberontakan yang dilakukan oleh 𝘿𝙄/𝙏𝙄𝙄 dan 𝙋𝙆𝙄 di 𝙈𝙖𝙙𝙞𝙪𝙣.

Kemudian 𝙆𝙃. 𝙒𝙖𝙝𝙖𝙗 𝙃𝙖𝙨𝙗𝙪𝙡𝙡𝙤𝙝 mengusulkan kepada 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣 𝙎𝙪𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 untuk membentuk acara pertemuan yang diupayakan mereka semua duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan dalam satu jalinan silaturrohmi. Pertemuan tersebut dikenal dengan istilah ‘‘𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡’‘.

𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 sendiri tidak akan ditemukan dalam kamus maupun ensiklopedia 𝘼𝙧𝙖𝙗. Meskipun secara bunyinya terdengar seperti bahasa 𝘼𝙧𝙖𝙗. Berangkat dari hasil kreasi kearifan lokal dan hanya dapat dijumpai di 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖, sehingga 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 menjadi suatu khas tersendiri bagi masyarakat umat 𝙈𝙪𝙨𝙡𝙞𝙢 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 yang tidak dapat ditemukan di negara-negara 𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢 lainnya.

Tradisi 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat perkotaan, perkampungan, suatu lembaga instansi, universitas, sekolah, perkantoran dan perusahaan. Pada praktiknya, masyarakat menggelar suatu forum pertemuan dengan tujuan saling maaf-memaafkan kepada orang-orang tertentu yang pernah kita umpat, kita tuduh, kita lukai hatinya, kita zalimi atau kita gunjing.

Selain maaf-memaafkan, praktik 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 menjadi momentum kembali menyambung silaturohmi yang telah terputus sebelumnya oleh berbagai latar belakang seperti perbedaan sudut pandang politik atau lain-lainya.

𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗟𝗮𝗻𝗱𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹

𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗞𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗦𝗵𝗼𝗵𝗶𝗵 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗼𝗿𝗶, 𝘁𝗲𝗿𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗹𝗮𝗻𝗱𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗸𝘂𝗮𝘁 𝗴𝘂𝗻𝗮 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من كانت عنده مَظْلِمَةٌ لأخيه، من عِرضِه أو من شيءٍ، فلْيتحلَّلْهُ منه اليوم قبل أن لا يكون دينارٌ ولا درهم؛ إن كان له عمل صالحٌ أُخِذ منه بقدر مَظلِمتهِ، وإن لم يكن له حسناتٌ من سيئات صاحبه فحُمِل عليه»رواه البخاري

‘‘𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘼𝙗𝙪 𝙃𝙪𝙧𝙤𝙞𝙧𝙤𝙝 𝘳𝘰𝘥𝘩𝘪𝘺𝘢𝘭𝘭𝘰𝘩𝘶 ‘𝘢𝘯𝘩𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘙𝘰𝘴𝘶𝘭𝘶𝘭𝘭𝘰𝘩 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘭𝘢𝘭𝘭𝘰𝘩𝘶 ‘𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪 𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘣𝘥𝘢: 

‘‘𝘽𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙯𝙖𝙡𝙞𝙢𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 (𝙙𝙞𝙢𝙖𝙖𝙛𝙠𝙖𝙣), 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙖 (𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧𝙖𝙩) 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙞𝙩𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙣𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙝𝙖𝙢, 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖.‘‘ (𝙃𝙍 𝙖𝙡 𝘽𝙪𝙠𝙝𝙤𝙧𝙞 𝙣𝙤. 𝟲𝟭𝟲𝟵)

Selain hadits yang diriwayatkan oleh 𝘼𝙗𝙪 𝙃𝙪𝙧𝙤𝙞𝙧𝙤𝙝 rodliyallohu 'anhu diatas, terdapat juga hadits pendukung atas tradisi 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡 yang bisa menjadi dalil penguat.

𝗕𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘁𝘀 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝗶𝗮𝗹𝗮𝗵:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، قَالَ : حَدَّثَنِي مَالِكٌ ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا رواه البخاري

‘‘𝙄𝙨𝙢𝙖‘𝙞𝙡 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝙈𝙖𝙡𝙞𝙠, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝙎𝙖𝙞𝙙 𝙖𝙡-𝙈𝙖𝙦𝙗𝙖𝙧𝙞, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘼𝙗𝙪 𝙃𝙪𝙧𝙤𝙞𝙧𝙤𝙝 𝘳𝘰𝘥𝘭𝘪𝘺𝘢𝘭𝘭𝘰𝘩𝘶 '𝘢𝘯𝘩𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘕𝘢𝘣𝘪 𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘭𝘢𝘭𝘭𝘰𝘩𝘶 '𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪 𝘸𝘢𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘣𝘥𝘢: ‘‘𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙪𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙖𝙛.‘‘ (𝙃𝙍. 𝘽𝙪𝙠𝙝𝙤𝙧𝙞 𝟲𝟱𝟯𝟰)

Kedua hadits itu memiliki tujuan yang sama yakni, hendaknya seorang muslim meminta maaf kepada saudaranya bila sebelumnya ia pernah melakukan sebuah kesalahan. Maka dari hal inilah pada lafaz *فَلْيَتَحَلَّلْهُ* memberikan pemahaman pada kita bahwasanya ‘‘𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡’‘ adalah bentuk permintaan maaf seseorang yang kepada orang lain yang disebabkan atas kesalahan ataupun dosa yang pernah dilakukan di masa silam.

Maka untuk dapat mendapatkan ke ridhoan atas orang yang pernah kita zalimi, sudah selayaknya seseorang meminta maaf. Permintaan maaf inilah salah satu dari rangkaian kegiatan yang berada di tradisi 𝙃𝙖𝙡𝙖𝙡 𝘽𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙡. Sehingga tradisi ini menjadi suatu tradisi yang dilakukan oleh umat Islam Indonesia pasca berakhirnya 𝙃𝙖𝙧𝙞 𝙍𝙖𝙮𝙖 ‘𝙄𝙙𝙪𝙡 𝙁𝙞𝙩𝙧𝙞 pada tanggal 𝟭 𝙎𝙮𝙖𝙬𝙬𝙖𝙡.

Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang bisa meminta maaf dan memaafkan. 
Selamat Berhalal Bihalal di 𝙃𝙖𝙧𝙞 𝙍𝙖𝙮𝙖 ‘𝙄𝙙𝙪𝙡 𝙁𝙞𝙩𝙧𝙞. 
Semoga berkah melimpah..!!
(Buletin Aswaja/Gerakan Pemuda-Pemudi Aswaja)

Minggu, 29 Maret 2026

Wahabi, Berhentilah Merasa Menjadi Tuhan



Sertifikat Surga dan Stempel Kafir: Ketika "Wahabi" Merasa Jadi Pemilik Sah Kunci Langit.

​Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam panggung sandiwara keagamaan hari ini, ada kelompok yang merasa paling berhak memegang stempel "Lulus Sensor Islam". Mereka adalah kaum Salafi Wahabi, barisan yang seleranya begitu sempit namun lidahnya begitu tajam. 

Pertanyaannya sederhana: Jika mereka menyebut Syi'ah bukan Islam, lantas siapa sebenarnya yang memberi mereka otoritas untuk memecat orang dari agama Tuhan?

​1. Monopoli Kebenaran di Tengah Dangkalnya Pemikiran

​Logika Wahabi seringkali mengidap penyakit "rabun jauh". Mereka begitu lihai melihat noda di jubah orang lain (dalam hal ini Syi'ah), namun buta terhadap api kebencian yang mereka nyalakan sendiri. Menuding Syi'ah bukan Islam adalah hobi yang mereka rawat dengan asupan literatur kebencian. Padahal, dunia mencatat bahwa peradaban Islam berdiri di atas fondasi kemajemukan, bukan keseragaman ala robot yang mereka impikan.

​2. "Siapa Saja Bisa Kafir, Kecuali Kami"

​Tidak ada kelompok yang luput dari sasaran tembak lidah mereka. Kemarin NU dibid'ahkan, hari ini Syi'ah dikafirkan, besok mungkin seluruh dunia akan dianggap sesat kecuali lingkaran kecil mereka sendiri. Jika definisi "Islam" versi mereka adalah yang hobinya mencaci, menyesatkan, dan memutus tali persaudaraan, maka kita patut bertanya: Islam model apa yang sebenarnya mereka bawa?

​"Islam diturunkan sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta), bukan sebagai alat bagi sekelompok orang untuk merasa paling suci sambil menginjak-injak martabat manusia lainnya."

​3. Cermin yang Retak

​Wahabi Salafi seringkali menuduh Syi'ah melakukan taqiyyah atau penyimpangan. Namun, coba lihatlah cermin. Bukankah mengklaim diri sebagai pengikut "Salaf" (generasi awal yang mulia) sambil berperilaku kasar dan penuh caci maki adalah sebuah penghinaan nyata terhadap generasi Salaf itu sendiri?

​Mereka sibuk mengurusi akidah orang lain sampai lupa bahwa akhlak adalah wajah dari akidah itu sendiri. Jika Islam yang mereka tawarkan hanya berisi daftar "larangan" dan "vonis sesat", jangan kaget jika masyarakat mulai jengah dan melihat mereka bukan sebagai pembela agama, melainkan sebagai polisi moral yang haus validasi.

​Kesimpulan: Berhentilah Menjadi Tuhan.
(gr/fb/0326)


Sabtu, 28 Maret 2026

NanaSuryana.Com: Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa

NanaSuryana.Com: Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa: Mengangkat tangan saat berdoa adalah sunnah, adab, dan salah satu sebab dikabulkannya doa dalam Islam. Hal ini berdasarkan banyak hadits sh...

Waktu Terus Berputar

Waktu terus berputar tanpa henti. Membawa perubahan konstan yang tak bisa ditawar. Di mana masa lalu menjadi pelajaran. Hari ini adalah kese...