Rabu, 27 Mei 2026

Hakikat Ibadah Qurban



IDUL Adha adalah salah satu momentum paling agung dalam kalender Islam. Ia bukan sekadar hari raya dengan ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi sebuah jalan spiritual menuju kedekatan hakiki dengan Allah Swt. Dalam tradisi tasawuf dan pemikiran Islam, ibadah kurban dapat dimaknai melalui empat lapisan keagamaan: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Makna dan Defi
nisi Kurba

Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba–yaqrabu–qurbanan, yang berarti ‘dekat’. Kurban dalam Islam adalah ibadah menyembelih hewan ternak pada hari-hari tasyrik dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun dalam dimensi spiritual, kurban adalah tanda kepatuhan total, pengorbanan ego (sifat binatang) dan hawa nafsu, serta wujud ketaatan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Hakikat Berkurban

Hakikat kurban sejatinya tidak berhenti pada prosesi menyembelih binatang seperti unta, sapi, atau kambing, melainkan pada penyembelihan sifat-sifat hewani yang bersemayam dalam diri manusia. 

Ibadah kurban adalah simbol pengorbanan yang paling dalam, yaitu pengorbanan diri, ego, dan hawa nafsu. Seperti dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, manusia tidak hanya memiliki jasad, tetapi juga membawa dalam dirinya kecenderungan sifat-sifat binatang yang harus dikendalikan dan bahkan ‘disembelih’.

Imam Al-Ghazali menguraikan bahwa dalam jiwa manusia terdapat tiga kecenderungan destruktif yang menyerupai karakter binatang. Amarah seperti singa, yang mewakili sifat pemarah, angkuh, ingin menguasai, dan menindas. Manusia yang dikuasai amarah akan merasa superior, meremehkan yang lain, dan enggan tunduk pada kebenaran.

Syahwat seperti babi, melambangkan kerakusan, birahi yang tak terkendali, dan cinta dunia yang membutakan. Nafsu syahwat menjadikan manusia hamba kenikmatan dan kesenangan sesaat, menjauhkan dari kebeningan ruhani.

Tipu daya seperti srigala, mencerminkan kelicikan, manipulasi, dan pengkhianatan. Sifat ini membuat manusia pandai menipu demi kepentingan pribadi, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan duniawi.

Sifat-sifat ini, menurut Al-Ghazali, adalah penyakit hati yang menjadi penghalang utama antara manusia dan Tuhannya. Oleh karena itu, hakikat kurban adalah menyembelih bukan hanya hewan di hadapan manusia, tetapi juga menyembelih sifat-sifat buruk itu di hadapan Allah dengan kesadaran, tobat, dan perjuangan jiwa.

Inilah makna terdalam dari firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Terjemahnya:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian. (QS. Al-Hajj: 37)

Allah tidak butuh simbol lahiriah dari darah dan daging hewan kurban. Yang diminta oleh Allah adalah ketakwaan yang tersembunyi dalam hati, ketulusan niat, kesungguhan dalam mendekat kepada-Nya, dan keikhlasan dalam meninggalkan segala bentuk ‘penyembahan’ terhadap diri sendiri dan dunia.

Oleh sebab itu, hakikat berkurban yang sejati adalah ketika seseorang berhasil menyembelih sifat amarah dengan sabar, menyembelih syahwat dengan zuhud dan iffah, serta menyembelih tipu daya dengan kejujuran dan amanah. 

Maka dari proses inilah, lahir sifat-sifat mulia, rahmah (kasih) rahim (sayang), ikhlas (kemurnian niat), dan takwa (kesadaran akan Allah) yang menjadikan manusia layak disebut hamba Allah yang memenangkan Allah Swt, bukan memenangkan hawa, nafsu, dunia setan.

Tarekat itu Jalan Simbolik menuju Allah Dalam pendekatan tarekat (jalan spiritual), hewan-hewan kurban memiliki makna simbolik yang mewakili jenis-jenis nafsu yang harus ditundukkan. Unta melambangkan kesombongan dan ego besar. Menyembelih unta berarti meruntuhkan keakuan, ana, yang menjadi hijab antara hamba dan Tuhannya.

Sapi melambangkan kerakusan terhadap dunia. Menyembelih sapi berarti membunuh cinta berlebihan pada materi. Kambing melambangkan syahwat dan keinginan rendah. Menyembelih kambing berarti menyucikan diri dari dorongan syahwat yang menjerumuskan.

Bagi seorang salik (penempuh jalan Allah), berkurban bukan hanya ritual, tetapi tindakan simbolik dan konkrit untuk mematikan nafsu demi menghidupkan jiwa.

Syariat Kurban Bukan Sekadar Tontonan, Tapi Tuntunan


Dalam dimensi syariat, kurban dilakukan dengan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW. Niat yang ikhlas, menyembelih pada waktunya, menyebut nama Allah, dan memperlakukan hewan dengan penuh kasih dan sayang.

Namun sering kali, ibadah kurban berubah menjadi tontonan sosial ajang pamer kekayaan, foto-foto, atau sekadar formalitas. Padahal, syariat adalah jalan menuju kedalaman, bukan tujuan akhir. Bila hanya berhenti pada aspek luar, kita yang berkurban akan kehilangan makna sejatinya.

Syariat adalah penting, karena dari situlah kita memulai. Namun, ia harus mengantar kepada penghayatan ruhani, bukan berhenti pada gerakan fisik.

Mari menyatukan empat dimensi ibadah kurban sebagaimana Syariat itu menyembelih hewan kurban sesuai hukum. Tarekat itu menapaki jalan spiritual dengan makna simbolik menuju Allah. 

Hakikat itu menyembelih hawa nafsu dan sifat tercela dalam diri. Makrifat itu merasakan kehadiran Allah dalam setiap pengorbanan, hingga mencapai kedekatan sejati dengan-Nya.

Maka, mari kita sambut Idul Adha bukan hanya dengan menyembelih hewan, tapi juga dengan menyembelih ego dan nafsu kita. Semoga kurban yang kita lakukan menjadi jembatan menuju ketakwaan dan makrifatullah.
(Oleh: Muhammad Asriady/Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone)


Tasawuf Qurban Arrafie Abduh




Oleh: Prof. DR. M. Arrafie Abduh, Guru Besar Tasawuf di Prodi Ilmu Akidah Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau

Ibrahim Hajar Ismail bijakbestari
Tauladan Idul Adha Khalilullahi
Berkorban dengan takwa dan suci
Hidup diberkahi dan diridhai Ilahi


Dalam ajaran tasawuf/sufisme diformulasikan empat tingkat untuk menjadi seorang yang takwa yaitu melalui syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat. 

Tasawuf adalah penjabaran secara nalar (nazhar, teori ilmiah) tentang apa sebenarnya dan penjabaran tentang takwa itu dikaitkan dengan ihsan seperti disebutkan dalam Hadis Rasulullah Saw bahwa ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah Swt seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka (engkau harus menyadari bahwa) dia melihat engkau (HR Muslim). 

Hadis ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam Surah al-Hijr/55 ayat 99, artinya; Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu keyakinan. Oleh karena itu, sufisme menanamkan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam hidup dan Inni qarib, Aku kata Tuhan sangat dekat (al-Baqarah/2 ayat 185), dan Dia selalu mengawasi segala tingkah laku kita, firman Allah, Ke mana pun kamu menghadap, maka di sanalah wajah Tuhan (QS Al-Baqarah/2 ayat 115). Dia beserta kamu di mana pun kamu berada dan Dia mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadad/57 ayat 4).

Dalam salah satu bait syair sufi Hamzah Fansuri dijelaskan: Jika terdengar olehmu firman. Pada Taurat Injil Zabr dan Furqon. Wa Huwa ma’akum aynama kuntum pada ayat Qur`an. Bikulli syay`in muhith maknanya ‘iyan. (AHadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, 1995, hal: 121).

‘Iyan artinya jelas.

Dari aspek ini tampak jelas betapa eratnya rasa rabbaniyyah (Ketuhanan), takwa, ihsan atau religiusitas dengan rasa insaniyyah (kemanusiaan), amal saleh, akhlak, budi pekerti atau tingkah laku etis dalam kajian sufisme. 

Juga sangat jelas kaitan antara sisi lahir dan sisi batin, antara eksoterisme dan esoterisme, antara fikih (syari’at) dan sufisme (hakikat dan makrifat) dalam makna tasawuf qurban (korban dalam bahasa Indonesia), bukan kurban tasawuf.

Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME dalam sosiologi agama dikenal paling kurang ada tiga cara pengorbanan yaitu monoteisme etis, sacramental dan sacrificial. Islam disebut sebagai agama monoteisme etis yaitu agama yang mengajarkan tentang tauhid dan taqarrub (pendekatan kepada Allah Swt melalui amal saleh). 

Adapun agama sacramental yang mengajarkan keselamatan diperoleh seseorang hanya dengan mengikuti ritual suci, sedangkan agama sacrificial (sesajen) mengajarkan pendekatan kepada Tuhan melalui sajian-sajian, pengorbanan binatang atau bahkan manusia.

Dalam kaitan ini, ajaran agama Islam melakukan kurban (sacrifice dalam bahasa Inggris dan xisheng dalam bahasa Mandarin, FLTRP.Collins, English-Chinese and Chinese-English Dictionary, 2011, hal: 434), tindakan mendekatkan diri kepada Allah Swt, pada Hari Raya ‘Idul Adha tidak dapat disebut sebagai sacrificial (sesajen), karena paling kurang ada tujuh hal. 

Pertama, amalan kurban itu adalah untuk memperingati dan mencontoh ketulusan peran sebuah keluarga yang sakinah (mawaddah dan rahmah) yaitu Nabi Ibrahim dan Isma’il serta isteri Nabi Ibrahim Siti Hajar yang setia dalam mewujudkan tujuan hidup bertakwa kepada Allah Swt.

Kedua, Kitab Suci Alquran menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah Swt bukanlah daging atau darah binatang korban itu, melainkan takwa dari orang yang melakukannya. Dijelaskan dalam Kitab Suci surah al-Hajj/22 ayat 37, artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

Ketiga, takwa yang dicapai melalui ibadah korban itu akan melahirkan insan yang mempunyai kesadaran intensif tentang apa yang akan menjadi akibat bagi segala aktivitas dan amal perbuatannya jauh di belakang hari kelak dan yang kemudian menjalankan tindakan dan amal perbuatan itu dengan penuh tanggungjawab moral (akhlak) kepada Allah Swt, kepada insan dan lingkungannya.

Keempat, bahwa penyelenggaraan kurban itu adalah untuk menanamkan pendidikan sosial berupa perhatian yang lebih besar kepada kaum fakir miskin dengan membagikan sebagian daging korban itu untuk mereka. Dijelaskan dalam Kitab Suci Alquran Surah al-Hajj/22 ayat 36. Itulah ruh yang terkandung dalam tasauf kurban.

Kelima, bekerja dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan jerih payah sendiri untuk meraih kesuksesan adalah hakekat hidup yang bermakna. Sementara itu, pengorbanan adalah tuntutan perjuangan yang tak mungkin terelakkan. Keduanya harus dibarengi dengan sikap lapang dada, sabar dan tahan menderita demi mencapai cita-cita yang mulia. Hanya pandangan hidup demikianlah yang akan memberi kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati.

Keenam, secara sosiologis dan antropologis, agama adalah sistem simbol (lambang). Di balik lambang (simbol) itu terdapat hikmah yang lebih intensif dan prinsipil, seperti ibadah kurban ini. Berkurban adalah tindakan yang disertai pandangan yang jauh ke depan, yang mengindikasikan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sesaat, kesenangan sementara dan kemewahan duniawi yang menipu, kemudian melupakan kebahagiaan dan kehidupan abadi (eternal life). 

Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda, artinya; Orang yang bijak adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya (untuk kepentingan sesaat) dan beramal untuk sesudah mati (untuk kepentingan abadi), sedangkan orang yang lemah (mentalnya) memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan agar Allah memperkenankan angan-angannya (yang tidak mungkin terjadi, karena ia tidak berkorban dan bermujahadah). (HR Tirmidzi). Inilah inti tasawuf korban.

Ketujuh, mukmin yang istiqomah (konsisten) sungguh pantang jika sedang menderita (mendapat cobaan dari Allah dengan kesusahan), lalu meratapi nasib dan menyesali perjalanan hidup ini, kemudian kehilangan gairah dalam hidup. Karena pada hakekatnya tidak seorang pun di antara manusia yang pernah benar-benar terlepas dan terbebas dari pengalaman hidup yang kurang dan bahkan tidak menyenangkan. Justru kita harus menerima penderitaan itu dengan sabar menanggungnya. Kemudian dijadikan cambuk, malah modal dan motivasi untuk berjuang, berupaya sungguh-sungguh dan bermujahadah dengan menanamkan semangat berkurban.

Dengan semangat pengorbanan yang tinggi (seperti tauladan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar yang telah mencapai maqam (station) makrifat dalam sufisme kurban) kita mendekatkan diri kepada Allah Swt dan dengan rida-Nya kita akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan hakiki. 

Semangat berkorban inilah salah satu faktor, di samping salat khusyuk dan puasa yang disebut sebagai virus mental (need for achievement yang disingkat dengan n-Ach, artinya kebutuhan untuk berprestasi yang digagas oleh psikolog, David Mc Clelland dari Universitas Harvard, dalam TM Sulaiman, Mencapai Prestasi Tinggi oleh dan bagi Umat Islam Zaman Teknologi Modern, hlm: 22) untuk meningkatkan kualitas mukmin dan mukmin yang berkualitas (istiqomah) mampu memicu kemajuan umat dalam ilmu pengetahuan serta bidang iqtishadi(economy) dan pendidikan khususnya. Aamiin.

Selasa, 26 Mei 2026

Mεmbuαt Hidup Jαdi Lεbih Sεmαngαt: DI HΑTILΑH BΕRSΕMINYΑ KΕTΕNΑNGΑN BΑTIN



Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Hαti αdαlαh tεmpαt bεrkumpulnyα pεrαsααn sεpεrti sifαt pεmααf, pεnyαyαng dαn pεmurαh, αtαu sifαt pεmbεnci, pεndεndαm dαn pεmαrαh. Di hαtilαh bεrsεminyα kεtεnαngαn bαtin, kεdαmαiαn, kεbαhαgiααn, dαn kαsih sαyαng. Nαmun hαti mαnusiα dαpαt mεnjαdi jαlαn kεtαkwααn dαn jugα mεnjαdi jαlαn kεfαsikαn.

Dinαmαkαn hαti, hεαrt, αtαu qαlbu, kαrεnα mεmαng mεmiliki αrti "bolαk-bαlik." Kαdαng-kαdαng bαik, kαdαng-kαdαng buruk. Pαdα suαtu sααt iα mεrαsα sεnαng dαn punyα sεmαngαt, di sααt lαin iα mεrαsα sεdih dαn mαlαs. Hαti mεmαng cεndεrung tidαk konsistεn. Suαtu sααt iα mαu mεnεrimα, di sααt lαin iα mεnolαknyα. Nαmun tidαk bεrαrti bαhwα hαti itu jεlεk, itu tεrgαntung dαri hαsil pεrαwαtαnnyα.

Rαsulullαh ﷺ bεrsαbdα, "Sεsungguhnyα di dαlαm tubuh αdα sεgumpαl dαging. Jikα sεgumpαl dαging tεrsεbut bαik mαkα αkαn bαik pulαlαh sεluruh tubuhnyα. Adαpun jikα sεgumpαl dαging tεrsεbut rusαk, mαkα αkαn rusαk pulαlαh sεluruh tubuhnyα. Kεtαhuilαh, sεgumpαl dαging tεrsεbut αdαlαh hαti."
(HR. Bukhαri Nomor 50 dαn Muslim Nomor 2996).

Mεnurut pαndαngαn Imαm Ibnul Qαyyim Al-Jαuziyyαh dαlαm Ighαtsαtul Lαhαfαn, αdα tigα golongαn hαti mαnusiα, yαitu: hαti yαng sεhαt (qαlbun sαlim), hαti yαng sαkit (qαlbun mαridh), dαn hαti yαng mαti (qαlbun mαyyit).

Hαti yαng sεhαt αdαlαh hαti yαng bεrsih dαri syirik, iri, dεngki, sombong, dαn sεgαlα pεnyαkit bαtin. Ciri utαmαnyα: mαu mεnyεsαli dosα dαn kεsαlαhαnnyα, lαngsung kεmbαli kεpαdα Allαh. Tεnαng dεngαn dzikir dαn kεtααtαn. Lεmbut tεrhαdαp sεsαmα, tidαk kεrαs kεpαlα, mαu mεndεngαrkαn nαsihαt, dαn mudαh tεrsεntuh kεbαikαn. Tidαk mεrαsα dirinyα pαling bεnαr, dαn mαu mεngikuti kεbεnαrαn mεski hαrus mεlαwαn hαwα nαfsunyα sεndiri. Allαh ﷻ bεrfirmαn: "Kεcuali orαng yαng dαtαng kεpαdα Allαh dεngαn hαti yαng sεlαmαt (qαlbun sαlim)." (QS. Asy-Syu‘αrα: 89)

Hαti yαng sαkit bεrαdα di αntαrα hidup dαn mαti. Iα mαsih punyα cαhαyα imαn, tαpi jugα dipεnuhi kεgεlαpαn hαwα nαfsu dαn dosα. Ciri-cirinyα: mαsih mεngεnαl Allαh, tαpi sεring lαlαi dαn sεnαng mεnundα tαubαt. Tεrkαdαng tunduk pαdα kεbεnαrαn, nαmun jugα sεring mεngikuti syαhwαt. Mudαh tεrsεntuh olεh nαsihαt, tαpi jugα mudαh lupα dαn kεmbαli pαdα mαksiαt. Adα kεinginαn bαik, tαpi lεmαh dαlαm mεnjαlαnkαnnyα.

Hαti sεpεrti ini bisα sεmbuh jikα dibεri obαt dεngαn dzikir, istighfαr, ilmu, dαn αmαl sαlεh. Tαpi bisα jugα mαkin pαrαh jikα tεrus dibiαrkαn. Allαh ﷻ bεrfirmαn: "Dαlαm hαti mεrεkα αdα pεnyαkit, lαlu Allαh mεnαmbαh pεnyαkitnyα itu..." (QS. Al-Bαqαrαh: 10).

Hαti yαng mαti αdαlαh hαti yαng sudαh tεrtutup dαri cαhαyα imαn. Iα tidαk lαgi mεngεnαl Allαh, tidαk pεduli dosα, bαhkαn mεrαsα nyαmαn dεngαn kεburukαn. Ciri-cirinyα: tidαk mεnyεsαl αtαs dosα, bαhkαn mεrαsα bαnggα dαlαm mεlαkukαnnyα. Mεngαnggαp bαhwα mαksiαt itu hαl biαsα, dαn mεrαsα bεrαt mεlαkukαn kεbαikαn. Tidαk tεrgεrαk olεh nαsihαt αtαu αyαt-αyαt Allαh. Mεnjαdikαn duniα sεbαgαi tujuαn utαmα, bukαn αkhirαt. Allαh bεrfirmαn: "Kεmudíαn sεtεlαh itu hαtimu mεnjαdi kεrαs sεpεrti bαtu, bαhkαn lεbih kεrαs lαgi." (QS. Al-Bαqαrαh: 74).

Sεsungguhnyα, sεtiαp hαri, hαti kitα itu bεrgεrαk. Diibαrαtkαn sεpεrti dαun yαng ditεrpα αngin, dαpαt bεrubαh-ubαh tεrgαntung sεbεrαpα bεsαr pεngαruhnyα dαri luαr. Dαmpαknyα, kαdαng hαti kitα sεhαt, kαdαng sαkit, kαdαng nyαris mαti. Kαrεnα itu Rαsulullαh ﷺ sεring bεrdoα: "Yα Muqαllibαl-qulub, tsαbbit qαlbi ‘αlα dinik. Wαhαi Dzαt yαng mεmbolαk-bαlikkαn hαti, tεtαpkαnlαh hαtiku di αtαs αgαmα-Mu." (HR. Tirmidzi).

Rαsulullαh ﷺ mεngαjαrkan doα ini untuk mεmohon kεpαdα Allαh ﷻ αgαr hαti tεtαp stαbil dαlαm bεrαgαmα, dαn tidαk tεrpεngαruh olεh hαl-hαl nεgαtif. Doα ini jugα mεnεkαnkαn pεntingnyα αgαmα sεbαgαi pεdomαn hidup. Dεngαn bεrpεgαng tεguh pαdα αjαrαn αgαmα, sεsεorαng dαpαt mεnjαgα kεstαbilαn hαti dαn imαnnyα. 

Dεngαn bεrdoα dαn mεmohon kεpαdα Allαh, sεsεorαng dαpαt mεningkαtkαn kεstαbilαn hαtinyα, tεrutαmα dαlαm mεnghαdαpi bεrbαgαi ujαn.
Mαkα, bαgi jiwα-jiwα yαng rεsαh, sεring-sεringlαh mαsuk kε tαmαn surgαnyα hαti, yαitu mαjεlis ilmu. Di sαnα kitα αkαn mεndαpαtkαn kεtεnαngαn hαti dαn jεrnihnyα pikirαn.

 Nikmαti sεtiαp εpisodε kεhidupαn ini dεngαn jiwα yαng tεnαng dαn hαti yαng ikhlαs, hαti yαng tεrhindαr dαri rαsα kεcεwα αkibαt trαumα mαsα lαlu, sεrtα hαti yαng tεrhindαr dαri rαsα cεmburu, iri hαti, αngkuh dαn sombong.

Kεsεdihαn hαri ini cukuplαh dirαsαkαn hαri ini sαjα, jαngαn dipεlihαrα sεpαnjαng mαsα. Kεsεdihαn kαrεnα urusαn duniα dαpαt mεnggεlαpkαn hαti, tαpi kεsεdihαn kαrεnα urusαn αkhirαt dαpαt mεnjαdi pεnεrαng hαti. Hαnyα dεngαn kεbεrsihαn hαti dαn kεsuciαn jiwα, insyαAllαh kitα αkαn bisα bεrtεmu dεngαn Allαh Yαng Mαhα Suci.

Yα Allαh Yα Mαhα Pεmbαlik Hαti, lεmbutkαn hαti kαmi sεpεrti lεmbutnyα cαhαyα pαgi. Jαuhkαn kαmi dαri kεgεlαpαn dαn kεkεrαsαn hαti, dαn tεtαpkαn hαti kαmi di αtαs cαhαyα kεimαnαn, kεtααtαn, dαn ridhα-Mu.

آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ

Sαlαm αwεt sεhαt dαn tεtαp sεmαngαt.
Sεmogα bεrmαnfααt.

Bαndυng Sεlαtαn, 22 Mεi 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Senin, 25 Mei 2026

Hijrah Ke Salafi-Wahabi, Timbulkan Konflik Sosial dan Keluarga



Dampak buruk yang sering muncul akibat fenomena "hijrah" yang keliru ke arah paham Wahabi/Salafi ekstrem meliputi keretakan hubungan sosial dan sikap merasa paling benar.

Fenomena ini sering menjadi perhatian sosiolog dan ulama karena memicu pergeseran sikap keagamaan yang kaku di tengah masyarakat majemuk.

Berikut adalah rincian dampak buruk dari fenomena tersebut yang dihimpun dari berbagai perspektif sosial dan keagamaan di Indonesia.

1. Konflik Sosial dan Keluarga

Retaknya Hubungan Keluarga: Seseorang sering kali mulai menganggap ibadah atau tradisi orang tua mereka keliru, sehingga memicu perselisihan atau terjadinya gap berhujjah di rumah.

Keterasingan dari Lingkungan: Sikap enggan berbaur dengan tetangga yang tidak sepaham membuat pelaku hijrah ke Salafi-Wahabi berusaha mengisolasi diri dari komunitas lokal.

Perpecahan Jamaah Masjid: Sering terjadi gesekan terkait perebutan pengelolaan atau pelabelan terhadap masjid di lingkungan masyarakat.

2. Sikap Keagamaan yang Kaku

Klaim Kebenaran Mutlak: Munculnya fenomena merasa paling sunnah yang berujung pada kecenderungan menyalahkan (memvonis) praktik keagamaan orang lain. Seperti tuduhan/vonis: Bid'ah, Subhat, Syirik dan Kuburiyun (kepada yang berziarah ke makam Waliyullah (seperti makam Walisongo), Khurofat (tuduhan pada Karomah Waliyullah dan Sufi), sampai pada tuduhan Syi'ah kepada pihak yang mengkritisinya.

Antagonisme terhadap Budaya: Penolakan total terhadap akulturasi budaya Islam lokal, seperti tahlilan, yasinan, maulidan, yang dianggap sebagai bid'ah.

Penutupan Ruang Diskusi: Menolak pandangan dari mazhab fikih lain karena hanya terpaku pada interpretasi harfiah yang kaku, dengan menafsirkan ayat Alquran dan hasids secara saklek.

3. Dampak Psikologis dan Berpikir

Penyempitan Cara Berpikir: Batasan ketat dalam literatur yang boleh dibaca membuat seseorang tidak bebas mengembangkan pemikiran kritis. Terjadi kemiskinan literasi. Yang dijadikan acuan hanyalah buku-buku dan para ulama dari kalangan sendiri.

Kecemasan Spiritual Berlebih: Ketakutan ekstrem terhadap dosa kemungkinan membuat seseorang mudah menghakimi pihak lain secara berlebihan. Merasa bahwa firqoh kelompoknyalah sebagai pemilik surga, sedangkan firqoh yang lain masuk neraka semua. Ampyun dach...!!!

Hakikat Ibadah Qurban

IDUL Adha adalah salah satu momentum paling agung dalam kalender Islam. Ia bukan sekadar hari raya dengan ritual penyembelihan hewan kurban,...