Dampak buruk yang sering muncul akibat fenomena "hijrah" yang keliru ke arah paham Wahabi/Salafi ekstrem meliputi keretakan hubungan sosial dan sikap merasa paling benar.
Fenomena ini sering menjadi perhatian sosiolog dan ulama karena memicu pergeseran sikap keagamaan yang kaku di tengah masyarakat majemuk.
Berikut adalah rincian dampak buruk dari fenomena tersebut yang dihimpun dari berbagai perspektif sosial dan keagamaan di Indonesia.
1. Konflik Sosial dan Keluarga
Retaknya Hubungan Keluarga: Seseorang sering kali mulai menganggap ibadah atau tradisi orang tua mereka keliru, sehingga memicu perselisihan atau terjadinya gap berhujjah di rumah.
Keterasingan dari Lingkungan: Sikap enggan berbaur dengan tetangga yang tidak sepaham membuat pelaku hijrah ke Salafi-Wahabi berusaha mengisolasi diri dari komunitas lokal.
Perpecahan Jamaah Masjid: Sering terjadi gesekan terkait perebutan pengelolaan atau pelabelan terhadap masjid di lingkungan masyarakat.
2. Sikap Keagamaan yang Kaku
Klaim Kebenaran Mutlak: Munculnya fenomena merasa paling sunnah yang berujung pada kecenderungan menyalahkan (memvonis) praktik keagamaan orang lain. Seperti tuduhan/vonis: Bid'ah, Subhat, Syirik dan Kuburiyun (kepada yang berziarah ke makam Waliyullah (seperti makam Walisongo), Khurofat (tuduhan pada Karomah Waliyullah dan Sufi), sampai pada tuduhan Syi'ah kepada pihak yang mengkritisinya.
Antagonisme terhadap Budaya: Penolakan total terhadap akulturasi budaya Islam lokal, seperti tahlilan, yasinan, maulidan, yang dianggap sebagai bid'ah.
Penutupan Ruang Diskusi: Menolak pandangan dari mazhab fikih lain karena hanya terpaku pada interpretasi harfiah yang kaku, dengan menafsirkan ayat Alquran dan hasids secara saklek.
3. Dampak Psikologis dan Berpikir
Penyempitan Cara Berpikir: Batasan ketat dalam literatur yang boleh dibaca membuat seseorang tidak bebas mengembangkan pemikiran kritis. Terjadi kemiskinan literasi. Yang dijadikan acuan hanyalah buku-buku dan para ulama dari kalangan sendiri.
Kecemasan Spiritual Berlebih: Ketakutan ekstrem terhadap dosa kemungkinan membuat seseorang mudah menghakimi pihak lain secara berlebihan. Merasa bahwa firqoh kelompoknyalah sebagai pemilik surga, sedangkan firqoh yang lain masuk neraka semua. Ampyun dach...!!!


:strip_icc()/kly-media-production/medias/2251749/original/016170800_1529133364-Tradisi-Ziarah-Kubur-Saat-Lebaran3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5085650/original/073491600_1736394886-caption-ziarah-kubur.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2555930/original/052427200_1545801494-20181226-Peringatan-14-Tahun-Tsunami-Aceh-AFP-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5102749/original/062179800_1737446931-1737445636298_tata-cara-ziarah-kubur-ke-makam-orang-tua.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4484400/original/083086900_1687931861-AP23179198232840.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4404993/original/056499100_1682301758-20230414-Tradisi-Ziarah-Usai-Idul-Fitri-Iqbal-1.jpg)

