Senin, 25 Mei 2026

Hijrah Ke Salafi-Wahabi, Timbulkan Konflik Sosial dan Keluarga



Dampak buruk yang sering muncul akibat fenomena "hijrah" yang keliru ke arah paham Wahabi/Salafi ekstrem meliputi keretakan hubungan sosial dan sikap merasa paling benar.

Fenomena ini sering menjadi perhatian sosiolog dan ulama karena memicu pergeseran sikap keagamaan yang kaku di tengah masyarakat majemuk.

Berikut adalah rincian dampak buruk dari fenomena tersebut yang dihimpun dari berbagai perspektif sosial dan keagamaan di Indonesia.

1. Konflik Sosial dan Keluarga

Retaknya Hubungan Keluarga: Seseorang sering kali mulai menganggap ibadah atau tradisi orang tua mereka keliru, sehingga memicu perselisihan atau terjadinya gap berhujjah di rumah.

Keterasingan dari Lingkungan: Sikap enggan berbaur dengan tetangga yang tidak sepaham membuat pelaku hijrah ke Salafi-Wahabi berusaha mengisolasi diri dari komunitas lokal.

Perpecahan Jamaah Masjid: Sering terjadi gesekan terkait perebutan pengelolaan atau pelabelan terhadap masjid di lingkungan masyarakat.

2. Sikap Keagamaan yang Kaku

Klaim Kebenaran Mutlak: Munculnya fenomena merasa paling sunnah yang berujung pada kecenderungan menyalahkan (memvonis) praktik keagamaan orang lain. Seperti tuduhan/vonis: Bid'ah, Subhat, Syirik dan Kuburiyun (kepada yang berziarah ke makam Waliyullah (seperti makam Walisongo), Khurofat (tuduhan pada Karomah Waliyullah dan Sufi), sampai pada tuduhan Syi'ah kepada pihak yang mengkritisinya.

Antagonisme terhadap Budaya: Penolakan total terhadap akulturasi budaya Islam lokal, seperti tahlilan, yasinan, maulidan, yang dianggap sebagai bid'ah.

Penutupan Ruang Diskusi: Menolak pandangan dari mazhab fikih lain karena hanya terpaku pada interpretasi harfiah yang kaku, dengan menafsirkan ayat Alquran dan hasids secara saklek.

3. Dampak Psikologis dan Berpikir

Penyempitan Cara Berpikir: Batasan ketat dalam literatur yang boleh dibaca membuat seseorang tidak bebas mengembangkan pemikiran kritis. Terjadi kemiskinan literasi. Yang dijadikan acuan hanyalah buku-buku dan para ulama dari kalangan sendiri.

Kecemasan Spiritual Berlebih: Ketakutan ekstrem terhadap dosa kemungkinan membuat seseorang mudah menghakimi pihak lain secara berlebihan. Merasa bahwa firqoh kelompoknyalah sebagai pemilik surga, sedangkan firqoh yang lain masuk neraka semua. Ampyun dach...!!!

Minggu, 24 Mei 2026

Tata Cara Ziarah Kubur dan Bacaannya, Berikut Panduan Lengkap Sesuai Syariat


Liputan6.com, Jakarta Ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam karena mengandung banyak hikmah dan pelajaran. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, ziarah juga menjadi momen untuk mengingat kematian dan memperkuat keimanan. Namun, agar amalan ini tidak keluar dari tuntunan agama, penting bagi setiap Muslim untuk memahami tata cara dan adab yang benar saat berziarah.

Artikel ini menyajikan panduan lengkap tentang tata cara ziarah kubur sesuai dengan syariat Islam. Mulai dari niat, adab memasuki area pemakaman, bacaan doa yang dianjurkan, hingga perilaku yang sebaiknya dihindari selama ziarah. Penjelasan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami dan merujuk pada sumber-sumber yang shahih, sehingga dapat menjadi pedoman yang terpercaya bagi siapa pun yang ingin melaksanakan amalan ini dengan benar.

Dengan memahami panduan ini, ziarah kubur tidak hanya menjadi rutinitas tradisi, tetapi benar-benar menjadi ibadah yang bernilai spiritual tinggi. Selain mendoakan almarhum, ziarah juga bisa menjadi pengingat diri akan kefanaan dunia dan pentingnya mempersiapkan bekal akhirat. Simak ulasan selengkapnya dalam artikel berikut agar ziarah kubur yang Anda lakukan membawa manfaat, baik bagi yang telah tiada maupun bagi diri sendiri.

Pengertian dan Hukum Ziarah Kubur



Warga berdoa saat berziarah di TPU Karet Pasar Baru Barat, Jakarta, Sabtu (16/6). Ziarah kubur atau "nyekar" pada hari raya lebaran merupakan salah satu tradisi umat muslim untuk mendoakan sanak keluarga yang meninggal dunia. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Ziarah kubur adalah mengunjungi makam atau kuburan dengan tujuan mendoakan orang yang telah meninggal dan mengambil pelajaran dari kematian. Pada awal masa Islam, Rasulullah SAW pernah melarang umatnya untuk berziarah kubur karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kemusyrikan. Namun kemudian, beliau membolehkan dan bahkan menganjurkan ziarah kubur sebagaimana disebutkan dalam hadits:

"Dulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang, berziarahlah kalian ke kuburan karena itu dapat mengingatkan kalian kepada kematian." (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits tersebut, hukum ziarah kubur adalah sunnah bagi laki-laki. Sedangkan untuk perempuan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian membolehkan dengan syarat tidak menimbulkan fitnah, sementara sebagian lain memakruhkannya. Namun secara umum, ziarah kubur diperbolehkan selama dilakukan dengan niat dan tata cara yang benar sesuai syariat.

Adab dan Tata Cara Ziarah Kubur


ziarah kubur ©Ilustrasi dibuat AI

Berikut adalah beberapa adab dan tata cara yang perlu diperhatikan saat melakukan ziarah kubur:
  • Berniat ikhlas karena Allah SWT, bukan untuk meminta sesuatu kepada orang yang telah meninggal.
  • Mengucapkan salam ketika memasuki area pemakaman.
  • Melepas alas kaki saat berjalan di antara makam sebagai bentuk penghormatan.
  • Tidak menduduki atau menginjak makam.
  • Menghadap ke arah wajah jenazah (bukan menghadap kiblat) saat berdoa.
  • Membaca Al-Qur'an, dzikir, dan doa untuk mayit.
  • Tidak berbicara hal-hal yang tidak bermanfaat.
  • Tidak menangis dengan suara keras atau meratapi.
  • Menjaga kebersihan area pemakaman.
  • Tidak melakukan hal-hal yang dilarang seperti meminta pertolongan kepada mayit.
  • Bacaan dan Doa Ziarah Kubur


Seorang wanita berdoa saat ziarah di Kuburan Massal Ulee Lheue selama peringatan 14 tahun tsunami Aceh di Banda Aceh, Rabu (26/12). Sejumlah warga mengenang keluarga yang meninggal akibat bencana tsunami di Aceh 14 tahun silam. (Chaideer MAHYUDDIN / AFP)

Berikut adalah beberapa bacaan dan doa yang dianjurkan saat berziarah kubur:

1. Salam kepada Penghuni Kubur

Ketika memasuki area pemakaman, ucapkanlah salam:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ

Assalamu'alaikum daara qaumin mu'miniin, wa innaa in syaa Allah bikum laahiquun.

Artinya: "Semoga keselamatan terlimpah atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin. Dan kami insya Allah akan menyusul kalian."

2. Membaca Surat Yasin

Membaca surat Yasin saat berziarah kubur sangat dianjurkan berdasarkan hadits:

"Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang telah meninggal di antara kalian." (HR. Abu Dawud).

3. Membaca Tahlil


Membaca kalimat tahlil "Laa ilaaha illallah" sebanyak 100 kali atau lebih.

4. Doa untuk Mayit

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ

Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu, waghsilhu bilmaa'i wats-tsalji walbaradi, wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaytats-tsawbal abyadha minad-danasi.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, mandikanlah dia dengan air, es dan embun. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran."

Manfaat Ziarah Kubur


Tata cara ziarah kubur ke makam orang tua ©Ilustrasi dibuat AI


Ziarah kubur memiliki banyak manfaat, di antaranya:
  • Mengingatkan akan kematian dan kehidupan akhirat
  • Melembutkan hati yang keras
  • Mendoakan orang yang telah meninggal
  • Mengambil pelajaran dan ibrah dari orang-orang yang telah mendahului kita
  • Menghargai jasa dan perjuangan orang-orang yang telah meninggal
  • Memperkuat silaturahmi dengan keluarga almarhum
  • Meningkatkan kesadaran untuk mempersiapkan bekal akhiratHal-hal yang Perlu Dihindari Saat Ziarah Kubur

Beberapa hal yang harus dihindari saat berziarah kubur antara lain:
  • Meminta pertolongan atau berdoa kepada orang yang telah meninggal
  • Menyembelih hewan kurban di area pemakaman
  • Menghiasi kuburan secara berlebihan
  • Menginjak atau menduduki makam
  • Meratap dan menangis dengan suara keras
  • Melakukan ritual-ritual yang tidak sesuai syariat
  • Menjadikan kuburan sebagai tempat berkumpul atau berpesta
  • Perbedaan Pendapat Ulama tentang Ziarah Kubur bagi Wanita


Peziarah berharap, dengan ziarah kubur tersebut para leluhur yang sudah meninggal mendapatkan syafaat dari doa yang dipanjatkan. (AP Photo/Hadi Mizban)

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum ziarah kubur bagi wanita:Mazhab Maliki dan Syafi'i membolehkan wanita berziarah kubur dengan syarat tidak menimbulkan fitnah dan tidak berlebihan dalam menangis.
Mazhab Hanbali memakruhkan ziarah kubur bagi wanita karena dikhawatirkan tidak dapat menahan emosi.

Sebagian ulama kontemporer membolehkan wanita berziarah kubur selama menjaga adab dan tata krama yang sesuai syariat.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan perlunya kehati-hatian bagi wanita yang ingin berziarah kubur agar tidak menimbulkan fitnah atau melanggar batasan syariat.

Waktu yang Dianjurkan untuk Ziarah Kubur


Warga memanjatkan doa saat berziarah ke makam kerabat di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kemiri, Rawamangun, Jakarta, Minggu (23/4/2023). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Meskipun ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja, terdapat beberapa waktu yang dianjurkan, yaitu:
  • Hari Jumat, berdasarkan hadits yang menyebutkan keutamaan ziarah kubur pada hari Jumat
  • Menjelang atau sesudah shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha)
  • Bulan Sya'ban, khususnya pada malam Nisfu Sya'ban
  • Bulan Ramadhan
  • Saat mengalami musibah atau kesulitan, untuk mengambil pelajaran dan introspeksi diriNamun perlu diingat bahwa ziarah kubur tidak terikat waktu tertentu dan dapat dilakukan kapan saja selama tidak mengganggu kewajiban lainnya.
Kesimpulan:

Ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam sebagai sarana untuk mengingat kematian dan mendoakan orang yang telah meninggal. Agar ziarah kubur dapat memberikan manfaat maksimal, penting untuk memperhatikan tata cara dan bacaan yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Dengan memahami dan mengamalkan adab ziarah kubur yang benar, diharapkan kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

Oleh: Shani Ramadhan Rasyid
Diterbitkan 11 Juni 2025, 17:06 WIB




Sabtu, 23 Mei 2026

Ketika Ziarah Kubur Divonis "Kuburiyun"


Sebagai warga ASWAJA (Ahli Sunah Wa Jamaah), kita pasti tidak asing dengan kata ziarah kubur. Baik ziarah ke makam orang tua, kerabat, sesepuh desa (punden), para Wali (Wali Songo) bahkan sampai kepada Rasulullah SAW. 

Kita semua percaya bahwa dengan berziarah kita mendapatkan keberkahan atas apa yang telah kita lakukan. Yaitu mengirim do’a kepada ahli kubur yang telah mendahului kita.

Namun, apa yang telah kita amalkan itu dibid’ahkan atau divonis sebagai kuburiyun atau penyembah kbur oleh sebagian orang yang tidak suka dengan ziarah kubur, terutama dari kalangan Salafi-Wahabi. Tidak terkecuali dalam berziarah ke makam Rasulullah SAW dan para Waliyullah.

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar an-Nawawiyah mengatakan bahwa Ziarah ke makam Rasulullah SAW adalah bagian dari pendekatan diri kepada Allah yang terpenting dan perintah yang paling utama. 

Hal ini berdasarkan Hadist:

قال الذهبي طرقه كلها لينة يقوي بعضها بعضا لأن ما في رواتها متهم بالكذب قال ومن أجودها إسنادا حديث حاطب من زارني بعد موتي فكأنما زارني في حياتي أخرجه ابن عسا كر وغيره (الدرر المنتثرة في الآحاديث المشتهرة للحافظ جلال الدين السيطي)

Artinya: “semua jalur riwayatnya (ziarah ke makam Nabi) lemah, tapi sebagian menguatkan riwayat yang lain, karena diantara perawinya ada yang dituduh berdusta.” Al-Dzahabi berkata: “diantara yang paling baik sanadnya adalah hadis riwayah Hatib: “barang siapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka seperti ziarah ketika aku hidup”, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dan lainnya”. (al-Suyuti dalam kitab al-Durar al-Muntatsirah I/19).

Selain hadist di atas, Rasulullah SAW juga melakukan ziarah ke makam-makam, utamanya makam para syuhada yang gugur dalam perang Uhud di Makkah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim al-Taimi:

كَانَ النَّبِيُ صَلَى لله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي قُبُوْرَ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ رَأْسِ الْحَوْلِ فَيَقُوْلُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ قَالَ وَكَانَ اَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ ( مصنف عبد الرزاق 6716 ودلائل النبوة للبيهقى)

Artinya: “diriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim al Taimi. Ia berkata: Rasulullah SAW mendatangi kuburan Syuhada tiap awal tahun dan beliau bersabda: salam damai bagi kalian dengan kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (al-Ra’d). Abu Bakar, Umar, Utsman juga melakukan hal yang sama”. (HR Abdurrazaq dalam al-Mushannaf No 6716 dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah III/306).

Hal ini menguatkan bahwa ziarah kubur sangat dianjurkan dan di sunnahkan. Terutama ziarah ke makam Rasulullah SAW dan para Syuhada (wali). 

Selain itu Sayyidah ‘Aisyah juga meriwayatkan tentang alangkah senangnya orang yang ada di dalam kubur ketika ada orang yang berziarah ke makamnya:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَاَل رَسُوْلُ اللهِ صَلَى لله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَزُوْرُ قَبْرَ أَخِيْهِ وَيَجْلِسُ عِنْدَهُ إِلَّا اسْتَأْنَسَ بِهِ وَزَدَ عَلَيْهِ حَتَّى يَقُوْمُ

Artinya: “diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulallah Saw bersabda: Tak seorangpun yang berziarah ke makam saudaranya dan akan duduk di dekatnya, kecuali ia merasa senang dan menjawabnya hingga meninggalkan tempatnya,”.

Berdasarkan riwayat di atas, maka berdo’a (ziarah) untuk ahli kubur di makamnya lebih utama. Jika makam orang tua, kerabat dan teman sangat jauh, maka boleh berdo’a dari rumah kita. [1]

Muhyidin Abdussomad dalam Bukunya Fiqih Tradisionalis; Jawaban Pelbagai Persoalan keagamaan sehari-hari menjelaskan bahwa awal masa Islam Rasulullah SAW pernah melarang umatnya untuk berziarah kubur. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga akidah umat Islam. Pada waktu itu Rasulullah SAW khawatir jika ziarah kudur diperbolehkan, umat Islam akan percaya dan menyembah kuburan.

Setelah akidah umat Islam kuat, dan tidak dikhawatirkan akan berbuat syirik, Rasulullah SAW memperbolehkan ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat membantu orang yang hidup mengingat akan kematiannya.[2] 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبَرةِ أُمِّهِ فَزُرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْأَخِرَةَ ( سنن الترمذى)

Artinya: “Dari Buraidah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda “saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberikan izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang, berziarahlan! Karena ziarah dapat mengingatkanmu kepada akhirat.” (Sunan Al-Tirmidzi, 974)

Berdasarkan hadits di atas sudah jelas bahwa ziarah kubur diperbolehkan bahkan disunnahkan, karena sekarang iman umat Islam sudah kuat dan pastinya selalu memohon kepada Allah meskipun berada pada kuburan. 

Umat Islam yang melakukan ziarah kubur, bukan berarti ia menyembah kuburan atau nisan. Melainkan mereka mengingat akan kematian (akhirat) karena sesungguhnya merekapun akan mengalami hal yang sama diwaktu yang akan datang. 

Selain itu, mereka juga memohonkan kepada Allah SWT agar orang tua, kerabat dan yang diziarahi mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk senantiasa berziarah kepada wali (orang yang dekat dengan Allah). Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Hajar al-Haitami, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang ziarah kepada para wali, sebagaimana ia tulis dalam kitabnya Al Fatawi Al Kubra al Fiqhiyyah berikut:

(وسئل) رضي الله عنه أن زيارة قبور لأولياء في زمن معين مع رحلة اليها، (فأجاب) بقوله زيارة قبور لأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة اليها. )الفتوي القبر الفقهية، جوز الثاني، رقم الثانية عثرة)

Artinya: “beliau pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula dengan perjalanan ke makam mereka.”[3]

Ketika berziarah ke makam baik para wali maupun ke makam orang tua, kerabat, tetangga, dan lain sebagainya umat Islam dianjurkan membaca Al Qur’an utamanya surat Yaasin dan lainnya. 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِقْرَؤُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يَس (سنن أبى داود)

“Dari Ma’qil bin Yasar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “bacalah surat Yasin pada orang-orang yang mati di antara kamu,” (Sunan Abi Dawud 2714).

Maka, ziarah kubur itu memang dianjurkan dalam agama Islam bagi laki-laki maupun perempuan, sebab di dalamnya terkandung manfaat yang sangat besar. Baik bagi orang yang telah meninggal dunia berupa hadiah pahala bacaan Al Qur’an, ataupun bagi orang yang berziarah itu sendiri, yakni mengingat-kan manusia akan kematian yang pasti akan menjemputnya. 
Wallahu a’lam.

(Penulis, Ahmad Afandi, adalah guru Mapel Ke-NU-an MA Amtsilati Bangsri dan ketua MGMP Ke-NU-an KKMA 02 Kab. Jepara).

Referensi:
[1] Ma’ruf Khazin. Jawaban Amaliyah dan Ibadah yang dituduh Bid’ah, Sesat, Kafir, dan Syirik. Surabaya: Al-Miftah. 2013. Hal 191-197.

[2] Muhyidin Abdussomad. Fiqh Tradisionalis; Jawaban Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari. Surabaya: Khalista. 2004. Hal 215

[3] Ibnu Hajar al-Makki al Haitami.Al-Fatawi al-Kubra al Fiqhiyyah, juz II, hal 24

Kamis, 21 Mei 2026

Pεntingnyα Mεmbαcα Sεtiαp Hαri: MΕRΑWΑT PIKIRAN DΑN MΕNGASAH JIWA



Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Pεrnαhkαh kitα mεmbαcα sεbuαh buku, lαlu mεrαsα bαhwα kitα sεdαng mεmbukα diri kitα sεndiri? Di bαlik hαlαmαn-hαlαmαn sεdεrhαnα, tεrnyαtα tεrsεmbunyi duniα yαng lυαs tαnpα bαtαs. Dαn kitα sεring kαli lεbih sibuk mεnεlυsuri lαyαr, dαripαdα mεnyεlαmi mαknα. Mεmbαcα itu tεrlihαt sεdεrhαnα. Hαnyα mεnyusuri huruf dαn kαtα. Nαmun di bαlik kεsεdεrhαnαn itu, tεrsimpαn kεkuαtαn yαng luαr biαsα.

Dεngαn mεmbαcα, kitα tidαk hαnyα mεnαmbαh wαwαsαn, tεtαpi jυgα mεngαsαh jiwα. Pikirαn mεnjαdi lεbih jεrnih, ingαtαn lεbih tεrjαgα, dαn cαrα pαndαng kitα tεrbukα lεbih lυαs. Nαmun kitα jugα pεrlυ jujur. Di nεgεri kitα, minαt mεmbαcα mαsih tεrtinggαl. Bυkαn kαrεnα kitα tidαk mαmpu, tεtαpi kαrεnα bεlum tεrbiαsα.
Pαdαhαl, sεtiαp hαri kitα mεmbαcα stαtus, pεsαn, bεritα singkαt, nαmun bεlum tεntu mεmbαcα buku αtαu αrtikεl yαng bisα mεnυmbuhkαn jiwα. 

Mεmbαcα itu bukαn soαl bαnyαknyα hαlαmαn, tεtαpi kεdαlαmαn dαlαm pεnyεrαpαn mαknα. Kεnαli mαnfααtnyα. Kεtikα kitα mεmbαcα dεngαn tεkun, αdα bεbεrαpα hαl yαng pεrlαhαn tumbuh dαlαm diri kitα: Otαk kitα tεrlαtih untuk fokus dαn bεrpikir lεbih jεrnih. Wαwαsαn kitα mεlυαs, mεnεmbus bαtαs tεmpαt dαn zαmαn.

Kαtα-kαtα kitα mεnjαdi lεbih hidup dαn bεrmαknα. Hαti kitα menjαdi lεbih tεnαng, sεpεrti sεdαng bεrdiαm dαlαm dzikir yαng hαlus. Dαn yαng pαling indαh, kitα bεlαjαr mεmαhαmi orαng lαin dεngαn lεbih dαlαm. Mεmbαcα, tεrnyαtα, bukαn hαnyα mεngisi kεpαlα, tεtαpi jυgα mεlυnαkkαn hαti dαn jiwα.

Dαlαm kεhidupαn kitα sεbαgαi sεorαng bεrimαn, mεmbαcα mεmiliki kεdudukαn yαng istimεwα. Bukαn hαnyα mεmbαcα buku, tεtαpi jugα mεmbαcα αyαt-αyαt kεhidupαn. Mαkα, sεtiαp huruf yαng kitα bαcα, bukαn hαnyα mεnjαdi ilmu, tεtαpi jugα cαhαyα. Mεmbαcα jugα bisα mεnjαdi bεkαl untuk sεdεkαh ilmu pεngεtαhuαn. Dαn sεtiαp ilmu yαng kitα pεlαjαri, αdαlαh invεstαsi yαng tαk αkαn pεrnαh rugi.

Kitα sεring mεrαsα bisα mεmbαcα cεpαt kεtikα mεmbαcα novεl αtαυ cεritα yαng mεnyεntuh hαti. Hαlαmαn dεmi hαlαmαn tεrlεwαt tαnpα tεrαsα. Bαhkαn, sεbεlum sεlεsαi, kitα sυdαh mεrαsα pεnαsαrαn. Nαmun, kεtikα bεrαlih kε buku ilmiαh αtαυ pεlαjαrαn, mαtα mυlαi bεrαt, pikirαn pυn mυlαi mεlαyαng. Αkhirnyα, buku ditutup sεbεlum mαknαnyα sεmpαt mεrεsαp. Di sinilαh kitα bεlαjαr, bαhwα mεmbαcα bukαn hαnyα soαl sυkα αtαυ tidαk sυkα, tεtαpi jugα tεntαng mεlαtih kεsαbαrαn dαn kεistiqomαhαn.

Adα lαngkαh sεdεrhαnα nαmun sαngαt bεrαrti. Tαk pεrlυ lαngkαh bεsαr. Cukup mulαi dαri yαng kεcil, nαmun rutin: Luαngkαn wαktu 10–15 mεnit sεtiαp hαri. Pilih bαcααn yαng ringαn, yαng bisα kitα nikmαti. Tεtαpkαn wαktu yαng konsistεn, pαgi αtαυ mαlαm. Jikα sibuk, mαnfααtkαn αudiobook sαmbil bεrαktivitαs. Sεdikit, nαmun istiqomαh… itu lεbih bεrnilαi dαripαdα bαnyαk, nαmun tεrhεnti di tεngαh jαlαn.

Adα tεlαdαn dαri mεrεkα yαng tεkun mεmbαcα. Bαnyαk orαng bεsαr mεnjαdikan mεmbαcα sεbαgαi kεbiαsααn hαriαn. Mεrεkα mεnyεmpαtkαn wαktu di tεngαh kεsibukαn untuk mεnyαpα buku. Bukαn kαrεnα mεrεkα pυnyα bαnyαk wαktu, tεtαpi kαrεnα mεrεkα tαhu, mεmbαcα αdαlαh cαrα mεrαwαt pikirαn.

Sεorαng pεrnαh bεrkαtα, “Μεmbαcα mεmbεri kitα tεmpαt lαin untuk pεrgi, tαnpα hαrυs mεninggαlkαn rumαh.” Dαn bεnαr, sαhαbαt… dεngαn mεmbαcα, kitα bisα mεnjεlαjαhi duniα, mεnεmυi bαnyαk jiwα, dαn αkhirnyα… mεnεmυi diri kitα sεndiri. Mεmbαcα bukαn hαnyα tεntαng mεnαmbαh ilmu, tεtαpi tεntαng mεnumbuhkαn kεsαdαrαn. Bukαn hαnyα mεngisi wαktu, tεtαpi mεnghidupkαn wαktu.

Mαkα, sαhαbαt… mαri kitα bukα buku, pεlαn-pεlαn. Bukα hαlαmαn dεmi hαlαmαn. Dαn biαrkαn hidυp kitα pυn ikut tεrbukα. Dαlαm sεbυαh buku, kitα bisα mεnεmυkαn bυkαn hαnyα kαtα, tεtαpi jεjαk-jεjαk hikmαh yαng mεnunggu untuk dipαhαmi. Pαdα αkhirnyα, bυkαn bεrαpα bαnyαk buku yαng kitα bαcα… mεlαinkαn sεbεrαpα dαlαm buku yαng dibαcα itu mαmpu mεngubαh hidup kitα mεnjαdi lεbih bαik.

Sαlαm αwεt sεhαt, jαngαn lupα bαhαgiα.

Bαndυng Sεlαtαn, 11 Mεi 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Hijrah Ke Salafi-Wahabi, Timbulkan Konflik Sosial dan Keluarga

Dampak buruk yang sering muncul akibat fenomena "hijrah" yang keliru ke arah paham Wahabi/Salafi ekstrem meliputi keretakan hubung...