Rabu, 05 Agustus 2026

Quo Vadis, Universitas Republik Indonesia (URI)


(Secangkir Anggur Merah, Edisi:25)

Pengantar: Rencana pembentukan 10 Universitas Republik Indonesia (URI) diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada 22 Juli 2026. Tentu saja mendapat sambutan  gegap gempita. Namun di balik narasi mulia guna mencetak pemimpin masa depan dan kuliah gratis, ditengarai ada agenda tersembunyi (hidden agenda) yang layak dipertanyakan. Apakah ini benar-benar solusi bagi pendidikan Indonesia? Atau sekadar proyek gila guna memenuhi ambisi politis? Bahkan harus dengan tega "memperkosa" sebuah  realitas? Quo Vadis? (Mau Kemana) dibentuknya 10 URI ini?

Pertanyaan paling mendasar, untuk apa mendirikan 10 kampus baru? Ketika Indonesia sudah memiliki LAN, Lemhannas, Sekolah Kedinasan, dan BUMN Corporate University? 


LAN bahkan telah memiliki tiga politeknik di Jakarta, Bandung, dan Makassar. Dengan tegas, ini bukan inovasi, melainkan duplikasi birokrasi yang menghambur-hamburkan sumberdaya dan dana. Mohon maaf,,,!

Alih-alih memperkuat lembaga yang sudah ada, pemerintah memilih membangun dari nol. Alamak, sebenarnya logika apa yang mendasari? Ini jelas bukan semangat integrasi yang diklaim, melainkan sentralisasi kekuasaan. 

Misalnya, menempatkan seluruh aparatur pendidikan di bawah kendali satu orang, yakni Gubernur URI. Sejarah membuktikan, konsentrasi kekuasaan tanpa pengawasan ketat identik dengan memancing biang masalah, kalau tak mau dibilang mengadirkan sebuah resep bencana.

Indahnya Iming-iming Bea Siswa

Narasi "beasiswa penuh" memang kedengarannya terasa indah. Namun, jangan lupa pemeo, tidak ada makan siang yang gratis. Semua dibiayai APBN, tentu saja itu berarti berasal dari uang rakyat. 

Ironisnya, di tengah keterbatasan anggaran pendidikan, prioritas membangun 10 kampus elit justru mengabaikan kebutuhan mendasar. Seperti masih kekurangan tenaga guru, kesejahteraan guru yang masih terabaikan, sekolah rusak di berbagai pelosok, dan anak-anak yang putus sekolah karena faktor biaya.

Idealismenya, URI diproyeksikan bakal mencetak lulusan untuk pemerintahan dan BUMN. Aduh, aduh,,,! Bukankah ini berarti masuk dalam sistem feodalisme modern? Misalnya. seleksi dan kaderisasi elitis yang hanya akan memperlebar jurang antara orang dalam dan rakyat biasa. Pendidikan bukanlah mesin pencetak pejabat bung!, melainkan ruang bagi siapa pun untuk tumbuh dan berkembang.

Pengajar Asing Simbol Rendah Diri

Begitupun dengan rencana mendatangkan pengajar asing, bukankah ini menunjukkan adanya kompleksitas rendah diri. Seolah-olah Indonesia tak sanggup menghadirkan dosen berkelas. Atau bagai kita tidak memiliki kapasitas sebagai akademisi mumpuni. 

Maaf, ini lebih difahami sebagai penghinaan terhadap profesor dan peneliti dalam negeri yang telah berkarya tanpa fasilitas memadai. Jika pemerintah serius meningkatkan kualitas SDM, mengapa tidak memberikan dana riset dan perbaikan fasilitas kepada kampus-kampus yang sudah ada? Lagi lagi mohon maaf...!

Bom Waktu 399 

Fakta bahwa 399 pegawai BUMN sudah menjalani pelatihan adalah bom waktu. Tanpa mekanisme seleksi transparan, proses ini rentan menjadi ajang nepotisme dan politik balas budi. Bukankah ini awal dari sistem kaderisasi tertutup yang hanya melayani kepentingan segelintir orang? Tuh, kan, saya bilang apa..!

Pemerintah ingin membangun "10 kampus", tetapi lupa bahwa pendidikan bukanlah proyek infrastruktur. Bangunan megah tanpa guru berkualitas, kurikulum bermakna, dan akses yang adil hanyalah monumen kesombongan.

Rakyat sesungguhnya tidak butuh 10 kampus baru. Mereka butuh sistem pendidikan yang menjangkau semua, bukan sekadar kader elit. Kritik ini bukan penolakan terhadap perubahan, melainkan seruan untuk bekerja dari akar. Bukan menebang pohon lama untuk menanam yang baru dengan nama lebih mewah.

Bertaruh Sebuah Harga

Meski angka pastinya belum diumumkan, berbagai indikasi menunjukkan proyek 10 kampus URI ini akan menguras kantong negara secara luar biasa. Biaya pembangunan satu gedung kampus IPDN di Sumedang saja mencapai Rp80,9 miliar untuk 3 gedung fakultas. 

Sementara pembangunan satu gedung kuliah dan laboratorium di Unnes menghabiskan Rp120 miliar, dan proyek Kampus UIN Malang Tahap II mencapai Rp674,66 miliar. Jika satu kampus URI membutuhkan rata-rata Rp500 miliar saja, belum termasuk gaji dosen, beasiswa mahasiswa, operasional, dan riset, maka 10 kampus bisa menelan biaya triliunan rupiah. 

Direktur Celios bahkan menegaskan proyek ini butuh anggaran besar dan menuai kritik dari kalangan akademisi internasional yang menilai sebagai tidak masuk akal.

Di sisi lain, tunggakan tunjangan profesi dosen mencapai Rp5,7 triliun yang hingga kini belum dibayarkan. Ironi: membangun kampus baru di tengah utang kepada pengajar kampus lama.

Dengan Anggaran yang Sama, untuk Apa Saja?

Andaikan biaya pembangunan 10 kampus URI hanya Rp5 triliun, mari kita lihat apa yang bisa dilakukan dengan jumlah itu:

Pertama, Memperbaiki sekolah rusak nasional 

Pemerintah menggelontorkan Rp18 triliun untuk revitalisasi seluruh sekolah rusak di Indonesia. Hanya sepertiga dari angka itu sudah cukup untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia dari belajar di bawah atap bocor.

Kedua, Beasiswa KIP Kuliah 1 juta mahasiswa 

Anggaran program ini pada 2026 adalah Rp15,3 triliun. Dengan Rp5 triliun saja, kita bisa memberi beasiswa kepada sekitar 330.000 mahasiswa kurang mampu selama satu tahun penuh.

Ketiga. Menaikkan insentif guru honorer 

Saat ini tunjangan guru honorer baru naik dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu per bulan. Dengan Rp5 triliun, pemerintah bisa menaikkan tunjangan 1 juta guru honorer sebesar Rp400 ribu per bulan selama lebih dari satu tahun—atau menaikkannya menjadi Rp1 juta per bulan selama 10 bulan.

Keempat, Membangun fakultas kedokteran dan engineering 

Bukankah ini yang semula dijanjikan Presiden Prabowo pada Januari 2026? Alih-alih membangun 10 kampus pendidikan kebangsaan yang jelas-jelas kabur definisinya, lebih baik fokus pada kebutuhan SDM riil. Seperti  tenaga dokter, insinyur, dan ilmuwan.

Kelima, Mengangkat 150.000 guru ke jenjang S1 

Pemerintah menyediakan beasiswa Rp3 juta per semester bagi guru yang belum S1. Dengan Rp5 triliun, hampir seluruh kebutuhan peningkatan kualifikasi guru nasional bisa terbayarkan.

Jangan Menjadi Monumen Kesombongan

Pendidikan yang baik bukanlah proyek infrastruktur. Bangunan megah tanpa guru sejahtera, kurikulum bermakna, dan akses adil hanyalah monumen kesombongan. Rakyat tidak butuh 10 kampus baru. Mereka butuh sistem pendidikan yang menjangkau semua. Anggaran triliunan lebih bermakna untuk memperbaiki yang rusak, bukan membangun yang baru dengan nama lebih mewah.

Insyaallah, pemerintah kuat menahan kritikan yang tajam menohok ini. Ya iya lah...Masa Ya iya dong...!!!
(Luapan essay Ki Gempur bersama asisten digital)

Selasa, 04 Agustus 2026

Wawancara dengan Musuh Abadi: Siapa Manusia Paling Celaka di Mata Iblis


Pengantar: Berikut wawancara imajiner Ki Gempur Mudharat (KGM) dengan Iblis, yang berlangsung di sebuah ruang hampa di antara alam mimpi dan sadar. Perbincangan ini untuk menguak siapa sebenarnya manusia paling celaka di akhirat. Bukan menurut logika kita, melainkan menurut logika sang penyesat umat itu sendiri: Iblis.

(Suasana: Hampa. Bukan gelap, bukan terang. Hanya ada keheningan yang berdenting di telinga. Di hadapan Saya duduk seorang sosok dengan raut tenang namun mata yang menyimpan kobaran purba. Ia bertanduk, berwujud merah menyala. Ia tampak bagai seorang yang tampak lelah, menyandarkan punggungnya pada singgasana asap. Itulah dia: IBLIS.)


KGM: “Selama ribuan tahun Engkau diberi umur panjang untuk menyesatkan anak cucu Adam. Dari sekian milyar jiwa yang telah Kau bawa ke jurang kenistaan, siapakah menurut-Mu manusia yang paling celaka di akhirat nanti? Apakah pembunuh berdarah dingin? Atau para tiran yang menindas umat? Para politisi bajingan? Para koruptor? Tukang selingkuh? Para bajingan legislatif? Para penyeleweng keadilan?”

IBLIS: (Tersenyum sinis, menyilangkan jari-jari tangannya yang pucat) “Kau bertanya seperti seorang pemula, anak manusia. Kalian selalu terpaku pada dosa besar yang kasat mata. Darah, harta, kaum bajingan dan perselingkuhan. Sungguh membosankan. Tanyakan pada malaikat pencatat amal, mereka akan katakan bahwa para pembunuh, perampok dan para bajingan itu tahu persis apa yang mereka perbuat. Saat neraka menyambar tubuh mereka, mereka hanya menerima konsekuensi dari kenikmatan duniawi yang sudah mereka rasakan. Mereka menderita, tapi hati mereka tahu mengapa. Yang paling celaka, bukanlah mereka.”

KGM: “Lalu siapa? Orang yang berbuat syirik? Orang yang meninggalkan shalat?”

IBLIS: (Tertawa kecil, suaranya bergema  seperti derak bara api) “Syirik? Itu adalah kegelapan yang kasat. Tapi tahukah kau, anak Adam, bahwa aku tidak pernah berhasil menggoda Nabi-Nabi, para Syeikh, para Kyai, para Ustadz untuk menyembah berhala? Yang aku tanamkan jauh lebih halus. Yang paling celaka di akhirat kelak adalah orang yang beribadah kepada-Ku tanpa menyadarinya, sementara ia mengira dirinya sedang beribadah kepada Tuhanmu.”

KGM: “Apa maksudmu, wahai penyesat umat?”

IBLIS: “Aku akan ceritakan padamu tentang seorang lelaki. Sebut saja dia Fulan. Di dunia, Fulan adalah seorang alim. Jenggotnya lebat, air matanya deras saat membaca ayat-ayat suci. Ia mendirikan masjid, memberi makan anak yatim, dan hafal kitab suci di luar kepala. Setiap Jumat ia berdiri di mimbar, suaranya menggema memperingatkan umat akan siksa neraka. Masyarakat memujanya. Para wanita menyebutnya Syeikh atau Kyai, dan kaum lelaki berebut duduk di dekatnya. Namun, di sela-sela kesibukannya, Fulan menyimpan racun kecil dalam hatinya: Ia benci pada seorang tetangganya yang miskin. Bukan karena si miskin jahat, tapi karena si miskin itu cuwek padanya. Fulan merasa penghormatan yang ia terima dari orang banyak adalah haknya, dan si miskin itu telah mencuri haknya dengan tidak memujanya. Fulan tetap memberi sedekah pada si miskin, namun ia melakukannya dengan gerutu dalam hati: ‘Dasar tidak tahu budi, sudah kuberi makan masih saja tidak mencium tanganku.’”

(KGM terdiam. Iblis melanjutkan dengan suara yang semakin bergetar, seakan menikmati setiap detailnya.)

IBLIS: “Fulan meninggal dunia. Ia dihisab dengan perhitungan yang sangat teliti. Amal shalatnya berjajar rapi, sedekahnya bertumpuk, hafalannya sempurna. Namun ketika timbangan kebaikan dan keburukan diletakkan, malaikat berkata: ‘Wahai Fulan, semua amalmu telah sempurna. Namun, ke mana perginya niat? Ke mana perginya keikhlasan? Ketika kau mengajar, kau ingin disebut Syeikh, Kyai atau Ustadz. Ketika kau memberi, kau ingin dipuji ‘Dermawan’. Ketika kau shalat di baris pertama, kau ingin dilihat orang betapa ‘khusyuk’ dirimu. Dan yang paling fatal: di setiap sudut hatimu, kau menyimpan kebencian pada saudaramu yang miskin karena ia tidak mengagung-agungkanmu.’”

KGM: “Lalu?”

IBLIS: “Fulan digiring ke neraka. Bukan ke neraka yang penuh nyala api seperti yang dibayangkan orang-orang. Ia digiring ke sebuah lembah yang gelap, sunyi, dan dingin menusuk tulang. Di sana tidak ada iblis yang menyiksanya, tidak ada belerang yang membakar kulitnya. Yang ada hanyalah kesadaran total. Bayangkan, anak Adam—mengetahui bahwa seluruh hidupmu adalah tipuan, bahwa Tuhanmu melihat isi hatimu yang busuk, bahwa semua orang yang kau pimpin ternyata selamat karena mereka menirumu secara lahiriah tapi mereka ikhlas, sedangkan kau—sang guru—justru celaka. Itulah siksaan yang paling mengerikan: kesendirian di tengah keramaian amal yang sia-sia.”

KGM: (Mencoba menelan ludah, tapi tenggorokannya kering. KGM bertanya lagi) “Apakah itu yang engkau cari? Apakah itu tujuanmu menyesatkan manusia?”

IBLIS: (Berdecak dengan senym sinis) “Aku tidak menyesatkan Fulan. Aku hanya membisikkan satu kalimat kecil di telinganya setiap pagi: ‘Kau lebih baik dari mereka.’ Dan Fulan dengan senang hati menerima bisikan itu. Sebab, bukankah manusia suka dibisiki bahwa dirinya istimewa? Aku tidak pernah memerintahkannya untuk membenci si miskin. Aku hanya membuatnya mencintai pujian. Dan cinta pada pujian adalah racun yang memabukkan. Ia akan melakukan semua kebaikan, namun tujuannya adalah dirinya sendiri, bukan Tuhanmu. Di akhirat, Tuhanmu berfirman: ‘Pergilah kepada orang yang dulu kau cari ridhonya, lihatlah apakah mereka bisa memberi syafaat bagimu sekarang?’ Dan Fulan menoleh ke kanan-kiri; yang ia lihat hanyalah wajah-wajah manusia yang dulu memujinya, kini justru menjauh dan memaki dirinya sebagai orang munafik.”

KGM: “Berarti orang munafik adalah yang paling celaka?”

IBLIS: “Bukan munafik biasa. Karena Fulan tidak menyekutukan Tuhan secara terang-terangan. Ia justru paling getol menyebut nama Tuhan. Yang paling celaka adalah orang yang memiliki ilmu tinggi namun hatinya mati karena sombong. Merasa kau lebih baik dari yang lain. Merasa lebih paling menjalankan sunah dan tidak bertoleransi pada amaliah yang lain. Aku akan katakan padamu, anak Adam. Jika engkau masuk neraka karena maksiat, engkau masih punya harapan akan belas kasih Tuhan, karena engkau mengakui dosamu. Tetapi jika engkau masuk neraka karena amalmu sendiri—karena kau menyangka bahwa amalmu sudah cukup untuk membeli surga, lalu kau lupa bahwa surga adalah milik Tuhan, bukan milik hasil jerih payahmu—maka di mana letak harapanmu? Kau sudah menganggap dirimu ‘lunas’ dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih celaka daripada orang yang berutang budi pada-Nya, padahal semua amalnya hanyalah hak-Nya yang harus ia tunaikan. Padahal engkau selamat di akhirat bukan karena amalmu tapi karena Rahmat dari Tuhan-Mu.”

(Ia berhenti sejenak. Matanya menyorot KGM dengan tajam.)

IBLIS: “Tahukah kau mengapa aku, Iblis, juga celaka? Karena aku sombong. Aku melihat Adam dari tanah liat, lalu memandang diriku dari api. Aku mengklaim kelebihanku di hadapan Tuhan. Fulan melakukan hal yang persis sama. Ia melihat orang miskin yang tidak pandai bicara, lalu memandang dirinya yang pandai berceramah. Ia mengklaim kelebihannya. Di akhirat, Fulan akan merasakan siksaan yang sama yang kurasakan setiap detik: melihat orang-orang yang ia hinakan duduk di surga, sementara ia terhempas ke bawah. Celaka, bukan karena siksaannya, melainkan karena rasa iri yang abadi terhadap mereka yang berhasil lolos masuk surga.”

KGM: “Jika Engkau tahu bahwa akhirmu dan akhir Fulan adalah celaka, lalu mengapa tidak bertobat? Mengapa terus melanjutkan permusuhan ini sampai akhir zaman?”

(Iblis terdiam. Untuk pertama kalinya, rautnya terlihat retak. Ada kepiluan dan kesedihan yang sangat tua di sana, namun segera tertutup oleh tawa getir yang menggema.)

IBLIS: “Karena Keagungan-Nya begitu besar, sehingga kehinaanku pun terasa manis bagiku. Aku telah terlalu jauh. Dan bagi Fulan-fulan yang kubawa itu ke jurang laknat itu, mereka tidak akan bertobat di akhirat, karena di sana kejujuran telah terungkap. Mereka tidak bisa lagi berbohong pada diri mereka sendiri. Di dunia, mereka bisa membungkam hati nurani dengan dalil-dalil dan pujian manusia. Di akhirat, semua dalil runtuh, yang tersisa hanya hati telanjang yang penuh bangkai kesombongan.”

(KGM menggigil. Ruang hampa itu terasa semakin dingin. KGM bertanya satu pertanyaan terakhir.)

KGM: “Jika suatu saat aku bertemu Fulan di akhirat, apa yang harus aku katakan padanya?”

IBLIS: (Bangkit berdiri, tubuhnya mulai memudar menjadi kabut). “Katakan padanya: ‘Celakalah engkau, karena engkau memiliki semua tanda keselamatan di wajahmu, namun engkau kehilangan satu hal yang paling mendasar: rasa butuh yang tulus kepada-Nya. Engkau datang ke hadirat-Nya dengan penuh kebanggaan, membawa setumpuk amal, lalu engkau meminta upah. Celakalah engkau, karena engkau menjadikan Tuhanmu sebagai majikan yang harus membayar gajimu, bukan sebagai Kekasih yang engkau rindukan.’”

(Iblis pun menghilang. Suara tawanya yang getir masih berdenyut di udara, lalu padam.)

(KGM terbangun dengan keringat dingin. Di keheningan malam, KGM memegang dadanya. Ia bertanya pada diri sendiri: Apakah selama ini aku beribadah karena cinta, atau karena kebiasaan, gengsi atau hanya ingin dipandang sebagai orang sholeh? Apakah hatiku bersih dari benci pada sesama, atau justru aku mencari kehormatan di atas kerendahan orang lain?)

(Pertanyaan itu tajam menggantung, lebih tajam dari pedang, dan saya tahu—jawabannya akan menentukan apakah saya akan menjadi seperti Fulan, atau menjadi seseorang yang di akhirat nanti hanya bisa tersenyum karena satu-satunya yang ia cari di dunia hanyalah Wajah-Nya.
)
(eskpresionis dialog imajiner kgm/kolaborasi-asisten digital/juli-2026)

Senin, 03 Agustus 2026

Mengurai Carut Marut MBG, Efek Kegagalan Sistemik?


Pengantar: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terlahir dari sebuah mimpi dan cita-cita mulia. Guna menyelamatkan generasi Indonesia dari jerat stunting. Selain suatu upaya guna mencetak anak-anak cerdas menuju Indonesia Emas 2045. Luar biasa luhur. Namun setelah lebih dari setahun berjalan, mimpi indah itu mulai rontok. Perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Dengan menyedot anggaran triliunan rupiah, MBG justru menjelma menjadi raksasa birokrasi yang rakus, ruwet, lamban, dan sarat kepentingan. Efek kegagalan sistemik?

Gizi Berbalut Racun

Bayangkan, program yang mengusung kata "bergizi" justru meracuni anak-anak bangsa. Data dari Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat lebih dari 25.000 kasus keracunan makanan selama pelaksanaan MBG. Di Jawa Barat saja, lebih dari 1.000 siswa dirawat karena sakit perut parah, pusing, dan sesak napas. 

Menu-menu mengerikan bermunculan. Hiu goreng berisiko merkuri, belatung dalam makanan, hingga pecahan kaca dalam nasi. Ini bukan hoax, tapi berita media masa. Tentu saja di dalamnya ada unsur  kelalaian. Suatu pengabaian sistematis terhadap keselamatan anak.

Akar masalahnya tak mudah digadang-gadang. Tapi ke lebih masalah sistemik. Misalnya Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pengelola dibentuk tanpa payung hukum yang jelas. Hingga kini belum ada peraturan presiden yang mendefinisikan kewenangan dan akuntabilitasnya. 

Desainnya sentralistis dan minim keterbukaan. Akibatnya, lebih dari 27.000 dapur tersebar tanpa pengawasan memadai. Lebih dari 3.000 dapur ditutup karena gagal memenuhi standar. Belum terhitung secara akurat adanya SPPG fiktif. Angka itu bukan prestasi. Tetapi sebuah pengakuan diam-diam bahwa sistem ini ambruk dari dalam.

Korupsi di Balik Nasi Rames

MBG bukan hanya gagal secara teknis, tapi rupanya telah menjadi ladang subur korupsi. Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana ditangkap atas dugaan korupsi. Mantan Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya mengaku ditekan "lingkaran kekuasaan" dan menyeret 26 nama dari eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. 

Indonesia Corruption Watch (ICW) bahkan khawatir MBG menjadi "kendaraan untuk mengakumulasi sumber daya guna pendanaan politik parpol". Ironi puncak, anggaran Rp.223,6 triliun yang dipakai untuk MBG seharusnya dialokasikan untuk pendidikan telah menggerogoti hak dasar anak-anak yang katanya hendak diselamatkan. Wajar, kalau Mahkamah Konstitusi memerintahkan pemisahan anggaran MBG dari dana pendidikan.

Bukan Gengsi  Sekadar Gengsi Politik

Presiden Prabowo mengaku heran dengan kritik yang menganggap MBG pemborosan. Namun rakyat sudah lelah dengan narasi defensif. Ketika dapur-dapur ditutup massal, ketika anak-anak dirawat di rumah sakit karena makanan bergizi, ketika pejabat berondong ditangkap satu per satu, bukankah sudah saatnya mengakui bahwa ada yang salah secara fundamental?

MBG adalah program mulia yang dikorbankan oleh ambisi dan tergesa-gesa. Alih-alih membangun sistem pangan nasional yang kokoh, pemerintah lebih sibuk mengejar angka dan gengsi politik. Seperti kata peneliti BRIN, ini adalah "pelajaran yang sangat mahal". Dan yang membayar mahalnya adalah anak-anak Indonesia. Bukan dengan uang, tapi dengan perut mereka yang mual, nyawa mereka yang terancam, dan masa depan mereka yang dipertaruhkan.

SPPG Fiktif dan Rekening Ganda

Jika sebelumnya kita membahas keracunan massal dan birokrasi yang ambruk, kini babak baru dari carut marut MBG terungkap. Adanya dapur fiktif dan Rekening ganda. Bahkan adanya keterlibatan aparat aktif yang mengubah program gizi menjadi ladang korupsi berlapis.

Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini membongkar 414 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bermasalah dari 27.469 dapur yang diaudit. Temuannya mencengangkan: ada rekening ganda, dapur yang belum beroperasi, dan dapur yang sama sekali tidak ada alias fiktif. Akibatnya, Rp.311,2 miliar uang negara nyaris menguap sebelum berhasil ditarik kembali.

Namun angka 414 ini hanyalah puncak gunung es. Komisi IX DPR RI mengungkap dugaan 5.000 titik SPPG fiktif dari total lebih dari 21.000 SPPG hingga Februari 2026. Biaya informal mencapai Rp450 juta per titik, menunjukkan bahwa penentuan lokasi dapur bukan berdasarkan kebutuhan wilayah, melainkan dipengaruhi relasi kuasa dan transaksi. Ironis, BGN sempat membantah keberadaan dapur fiktif dengan alasan spanduk "Di sini akan dibangun SPPG. Seolah-olah spanduk adalah bukti, bukan janji kosong.

Ketika Penegak Hukum Menjadi Pengusaha Dapur?

Keterlibatan aparat dalam MBG tak bisa dibantahkan. Polri mengelola sekitar 1.179 SPPG dan menargetkan 1.500 unit. TNI telah mengoperasikan 133 SPPG. Presiden memuji peran Polri yang "telah menunjukkan peran yang sangat penting".

Namun di balik pujian itu, korupsi merajalela. Kejaksaan Agung menetapkan Brigadir Jenderal Polisi Lalu Muhammad Irwan Mahardan (LMI) perwira tinggi Polri aktif yang menjabat Kepala Biro Hukum dan Humas BGN sebagai tersangka. LMI diduga meminta pendirian perusahaan untuk menjual perlengkapan food tray kepada calon mitra SPPG dengan harga yang telah ditentukan, dengan keuntungan sebagai imbalan agar pengajuan titik SPPG disetujui. Ia kini ditahan di Rutan Salemba. Ironis bukan?

Tak hanya Polri, Kolonel BU, perwira TNI aktif yang menjabat Sekretaris Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen, juga diduga terlibat dan ditangani melalui mekanisme koneksitas Tindak Pidana Militer. Indonesia Corruption Watch (ICW) menegaskan: keterlibatan TNI-Polri harus dihentikan karena program ini seharusnya dikelola lembaga sipil dengan pengawasan independen.

Politik Dagang Sapi di Balik Ramsum

ICW mengungkap 102 yayasan mitra MBG yang terafiliasi dengan partai politik, militer, dan lingkaran kekuasaan seperti Partai Gerindra, PKS, PAN, dan PDIP disebut memiliki afiliasi. Yayasan-yayasan ini terhubung dengan aparat penegak hukum, relawan politik dari berbagai kubu Pilpres, serta pejabat pusat dan daerah.

Inilah puncak ironi. Program yang seharusnya memberi makan anak-anak justru menjadi kue politik yang dibagi-bagi. Penentuan lokasi dapur bukan lagi soal gizi, tapi soal siapa punya akses ke kekuasaan.

Jelaslsh sudah bahwa MBG bukan sekadar gagal secara teknis. Ia adalah cermin busuknya sistem. Dapur fiktif untuk menguras anggaran. Aparat aktif menjadi tersangka korupsi. Dan partai politik menggunakan yayasan sebagai kendaraan bisnis. 

Negara hadir ternyata bukan untuk menyelamatkan anak-anak, tapi untuk melayani kepentingan segelintir orang. Yang paling parah, ketika semuanya terbongkar, tak ada yang bertanggung jawab. Yang ada hanya  sibuk saling bantah dan janji. Sebuah narasi menyeruak ke prmukaan: akan dievaluasi".

"Tangisan" Pedagang Kecil di Lingkungan Sekolah

Ketika triliunan rupiah mengalir untuk program Makan Bergizi Gratis, ada satu kelompok yang diam-diam menangis dan kehilangan penghidupan. Sebut saja pedagang kantin sekolah dan pelaku UMKM kecil di lingkungan sekolaj. Mereka adalah korban senyap yang tak pernah dihitung dalam laporan kinerja MBG.

Di SMPN 28 Batam, misalnya, omzet pedagang kantin merosot hingga 80 persen sejak MBG berjalan. Di SMKN 2 Blora, pendapatan bersih pedagang turun dari Rp300 ribu menjadi hanya Rp150 ribu per hari. Padahal biaya sewa kantin Rp25 ribu sehari tetap harus dibayar. 

Di Tuban, omzet harian yang dulu Rp1,2 s/d 1,5 juta kini terjun bebas ke Rp500 ribu. Siti Mariam, pedagang di Bandung yang sudah 10 tahun mengais rezeki di sekolah, kini hanya bisa membawa pulang Rp150 ribu dari sebelumnya Rp400 ribu.

Dampaknya merambat hingga ke hulu. Pedagang ayam di Pasar Senen mengaku omzetnya turun 50 persen karena kantin sekolah sebagai pelanggan setianya berhenti membeli pasokan harian. 

Kantin sekolah biasa membeli dalam sehari ada yang 5 kilo, 4 kilo, dan 3 kilo. "Namun kini sudah tak ada lagi," keluh Tin, pedagang sejak 1989. "Mata pencahariannya mati," katanya. Dampak serupa dirasakan pedagang tahu, tempe, hingga cabai. MBG rupnya tak hanya mematikan kantin, tapi juga mengeringkan seluruh ekosistem ekonomi di sekitarnya.

Pemerintah daerah pun ikut merasakan dampaknya. Di Mataram, retribusi kantin sekolah yang tahun 2025 mencapai Rp500 juta kini harus dievaluasi ulang karena omzet pedagang yang terus menurun. Ironinya, negara yang menggulirkan MBG dengan anggaran triliunan justru kehilangan pendapatan retribusi dari rakyat kecil karena programnya sendiri.

Boleh saja BGN mengklaim melibatkan UMKM. Tapi data berbicara lain. Dari 140 ribu pemasok MBG, hanya sekitar 58.935 yang merupakan UMKM. Sisanya? Korporasi besar, CV, PT, dan BUMDes. Alasannya memenuhi syarat. Seperti luas dapur 20x20 meter, berbadan hukum, mampu mensuplai ribuan paket per hari.

Pedagang kantin dengan modal pas-pasan tak punya ruang dalam sistem ini. Mereka hanya bisa pasrah melihat dagangannya membusuk sementara makanan MBG, yang seringkali tak layak konsumsi, dibagikan gratis di depan mata. Pedagang kantin seringkali harus mengusap dada melihat kenyataan ini.

Para pedagang tak meminta MBG dihentikan. Mereka hanya minta dilibatkan. "Kalau bisa ada jalan tengah. Misalnya sebagian makanan dari MBG tetap dibagikan, tapi pedagang kantin juga dikasih peran. Biar sama-sama jalan," harap Siti. Di Batam, pengelola kantin meminta jadwal pembagian MBG diatur agar tak bersamaan dengan jam istirahat.

Tapi pemerintah sibuk dengan narasi besar "Indonesia Emas", membangun dapur-dapur megah, lupa bahwa ekonomi kerakyatan dibangun dari piring-piring kecil, bukan dari proyek raksasa yang mematikan yang kecil. 

Guru Besar UGM bahkan menyarankan MBG diserahkan ke kantin sekolah—lebih fresh, lebih terjaga kualitasnya, dan menghidupkan ekonomi lokal. Tapi saran itu tenggelam dalam hiruk-pikuk proyek prestise berbau politis.

MBG tak hanya meracuni perut anak-anak, tapi juga membunuh nafkah para pedagang kecil yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi kehidupan di sekolah. Mereka adalah korban yang tak terhitung, tak terdengar, dan tak pernah masuk dalam laporan pertanggungjawaban BGN. Jangan bangga lewat MBG mampu menyerap satu juta orang tenaga kerja baru. Sementara di balik itu ada dua juta tenaga kerja yang menangis dan terancam kehilangan pekerjaan.

Solusi Mengurai Carut Marut

Carut-marut MBG bukanlah kegagalan program semata, melainkan cermin kegagalan sistemik yang mengabaikan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik. Namun, persoalan ini masih bisa diperbaiki. Berikut beberapa solusi mendasar yang harus segera diimplementasikan:

Pertama, Perkuat Payung Hukum dan Pengawasan Antikorupsi

Tidak ada perbaikan tanpa kepastian hukum. Saat ini, BGN belum memiliki regulasi setingkat Perpres yang mengikat secara komprehensif. Pemerintah harus segera menyusun regulasi yang mengatur perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga pembagian peran lintas kementerian/lembaga.

KPK telah mengidentifikasi delapan potensi korupsi dalam MBG, termasuk lemahnya regulasi lintas instansi dan praktik rente dalam mekanisme bantuan. BGN perlu menindaklanjuti 10 rekomendasi KPK, terutama terkait mekanisme pembayaran dan perbaikan data penerima manfaat. Kolaborasi dengan Kejagung juga harus diperkuat—bukan sekadar represif setelah kasus mencuat, tapi preventif sejak awal.

Kedua, Hentikan Sentralisasi, Libatkan Pemerintah Daerah dan Sekolah

Model SPPG yang ditunjuk langsung oleh BGN terbukti menimbulkan persoalan. Sistem sentralistik membuat program ini dipandang sebagai "tamu" oleh kepala daerah, bukan tanggung jawab bersama.

Solusinya: desentralisasi. Pemerintah daerah perlu diberi otoritas langsung mengawasi dapur, menugaskan ahli gizi, serta memantau distribusi hingga konsumsi di sekolah. Dana sebaiknya disalurkan langsung ke dapur layanan gizi di lapangan. Sekolah dengan jumlah siswa besar—termasuk sekolah swasta dan elite—seharusnya diberi kewenangan mengelola sendiri anggaran MBG. Dengan desentralisasi, bahan baku bisa diserap langsung dari petani atau pedagang setempat, menggerakkan ekonomi lokal.

Ketiga, Libatkan Kantin Sekolah dan UMKM, Bukan Matikan Mereka

Pengamat bahkan mendesak seluruh SPPG dibubarkan dan penyediaan makanan diserahkan kepada kantin sekolah, UMKM, PKK, hingga warung makan lokal. Pakar kebijakan UGM pun bertanya: "Kalau UMKM di daerah atau Kantin Sekolah sanggup dan mampu mengelola MBG, kenapa MBG harus dikelola dengan model SPPG yang ditunjuk langsung oleh BGN?"

Konsep School Kitchen yang diusulkan Menteri Pendidikan juga patut dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk perbaikan layanan MBG. Ini bukan hanya solusi ekonomis, tapi juga menghidupkan ekosistem lokal yang selama ini mati suri akibat MBG.

Keempat,Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas

Kepala BGN Nanik Deyang (telah mengundurkan diri) menyatakan bahwa fokus MBG ke depan bukan lagi mengejar perluasan jumlah penerima, melainkan memastikan kualitas. Langkah nyata yang harus diambil:

· Moratorium dapur baru hingga dapur yang sudah berdiri dibenahi sesuai standar.

· Batasi kapasitas SPPG—dari 4.000 menjadi maksimal 3.000 penerima per dapur untuk menjaga kualitas.

· Terapkan SOP berbasis HACCP mulai dari bahan baku hingga konsumsi siswa.

· Wajibkan pelatihan keamanan pangan dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi bagi setiap staf SPPG.

Kelima,Prioritaskan yang Paling Membutuhkan

Program ini seharusnya menyasar kelompok rentan: balita, ibu hamil, ibu menyusui, peserta didik dari keluarga miskin pada desil 1-4, serta masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Komisi IX DPR mendorong pengurangan jumlah penerima agar tepat sasaran. Pemerintah pun telah menargetkan refocusing penerima manfaat sebelum 5 Agustus 2026. Wilayah dengan angka stunting tinggi seperti Papua Pegunungan dan NTT harus menjadi prioritas utama.

Keenam, Bangun Sistem Transparansi Digital

Anggota DPR Abdullah menegaskan: transparansi adalah cara paling efektif menutup ruang penyimpangan. BGN perlu membangun sistem digital yang memungkinkan masyarakat mengakses informasi pelaksanaan MBG secara langsung—kinerja, distribusi, penggunaan anggaran, dan capaian mitra pelaksana. Saat ini BGN sudah menyiapkan portal transparansi yang dapat diakses sekolah dan orang tua. Ini harus diperluas dan diperkuat.

Ending: Butuh Reformasi Sitemik

MBG bukanlah program yang harus dihentikan. Tapiperlu adanya reformasi sistemik. Sebab, tetap diperlukan penguatan hukum, desentralisasi, pelibatan UMKM, fokus kualitas, penajaman sasaran, dan transparansi digital. 

Tanpa adanya reformasi sistemik, program ini dikhawatirkan akan terus menjadi lubang hitam anggaran negara. Yang justru bisa mengorbankan anak-anak dan rakyat kecil. 

Kesempatan perbaikan, sungguh, masih ada di tangan kita. Jadi jangan lagi bertindak yang aneh-aneh dan macam-macam. Mohon jangan lagi disia-siakan. Yah, begitulah...!!
(Ekspresionis essay kgm/kolaborasi asisten digital/Awal-Agustus-26)

Minggu, 02 Agustus 2026

MΑRΑKNYΑ KORUPSI DΑN HΙLΑNGNYΑ RΑSΑ TΑKUT KΕPΑDΑ TUHΑN

Kεtikα Ilmu
Tidαk Lαgi Mεnuntun Hαti:

Sαhαbαt yαng dirαhmαti Allαh,

Kαdαng kitα tεrlαlu sibuk mεngαjαri pikirαn, tεtαpi lupα mεndidik hαti. Ilmu mεmbukα pintu kεmαjuαn, tεtαpi hαnyα imαn yαng mεnjαgα αgαr mαnusiα tidαk tεrsεsαt di dαlαmnyα. Ilmu mεmbukα pikirαn, tεtαpi hαnyα hαti yαng bεrsih yαng mαmpu mεnjαgα lαngkαh kitα. Di zαmαn yαng pεnuh cαhαyα pεngεtαhuαn ini, kitα justru sεring mεnyαksikαn gεlαpnyα nurαni. Dαn mungkin, di situlαh ujiαn tεrbεsαr mαnusiα dimulαi_.

Bεbεrαpα tαhun tεrαkhir, kitα disuguhi bεritα yαng sεring mεmbuαt hαti trεnyuh. Sαtu dεmi sαtu kαsus korupsi tεrungkαp. Nilαinyα bukαn lαgi rαtusαn jutα, tεtαpi miliαrαn, bαhkαn triliunαn rupiαh. Yαng lεbih mεnyεdihkαn, pεlαkunyα bεrαsαl dαri bεrbαgαi lαtαr bεlαkαng: αdα pεjαbαt, αpαrαt pεnεgαk hukum, pεnyεlεnggαrα nεgαrα, dαn mεrεkα yαng sεhαrusnyα mεnjαdi pεngαwαl kεαdilαn. Pαdαhαl, jαbαtαn αdαlαh ujiαn, bukαn hαdiαh. Sεmαkin tinggi kεdudukαn, sεmαkin bεsαr pulα pεrtαnggungjαwαbαn.

Pεristiwα itu mεngαjαrkαn kitα sεsuαtu yαng sαngαt pεnting. Tεrnyαtα, "pεngεtαhuαn tidαk sεlαlu bεrjαlαn lurus dεngαn intεgritαs." Sεsεorαng bisα sαngαt mεngεrti hukum, tεtαpi tεtαp mεlαnggαr hukum. Bisα mεnguαsαi αturαn, tεtαpi justru mεncαri cεlαh untuk mεnghindαrinyα. Sεorαng jαksα sαngαt pαhαm bαhwα korupsi αdαlαh tindαk pidαnα, mεlαnggαr undαng-undαng Tipikor.

Sεorαng hαkim mεngεrti bαgαimαnα mεnεgαkkαn kεαdilαn. Sεorαng polisi mεmαhαmi αrti pεnεgαkαn hukum. Kαrεnα mεrεkα mεmαng αhlinyα.
Nαmun sεjαrαh jugα mεncαtαt, αdα di αntαrα mεrεkα yαng tεrjεrumus kε dαlαm pεnyαlαhgunααn wεwεnαng. Mεnjαdi αhlinyα αhli dαlαm bidαng korupsi. Alih-αlih mεlαyαni mαsyαrαkαt, mαlαh mεnindαs dαn mεmεrαs rαkyαt. 

Ini mεnunjukkαn bαhwα pεngεtαhuαn sεsεorαng tεntαng sεsuαtu tidαk bεrbαnding lurus dεngαn kεtααtαnnyα, αpαlαgi dεngαn kεsαdαrαn untuk mεnααti kαidαh-kαidαh tεrsεbut. Fεnomεnα ini cukup mεngingαtkαn kitα bαhwα ilmu sαjα tidαk cukuρ.

Tεntu tidαk sεmuαnyα, kαrεnα mαsih bαnyαk αpαrαt yαng jujur dαn mεngαbdi dεngαn pεnuh kεhormαtαn. Mαkα, yαng sεbεnαrnyα mεngεndαlikαn pεrilαku bukαnlαh sεkαdαr ilmu, mεlαinkαn hαti. Hαti yαng hidup αkαn sεlαlu bεrbisik, "Jαngαn αmbil yαng bukαn hαkmu." Hαti yαng hidup αkαn sεlαlu mεngingαtkαn, "Sεtiαp rupiαh yαng tidαk hαlαl αkαn dimintα pεrtαnggungjαwαbαn." Sεbαb itu, morαlitαs yαng dibαngun di αtαs imαn mεmiliki αkαr yαng lεbih kokoh.

Bαgi orαng yαng bεrimαn, Tuhαn bukαnlαh hαnyα diyαkini αdα, tεtαpi jugα dirαsαkαn sεlαlu mεngαwαsi. Allαh Mαhα Mεlihαt, Mαhα Mεndεngαr, dαn Mαhα Mεngεtαhui. Tidαk αdα yαng dαpαt disεmbunyikαn dαri-Nyα. Jikα ukurαn hidup hαnyα hukum duniα, mαkα orαng bisα bεrpikir, "Jεndrαl Polisi pun bisα ditipu dαn dikriminαlisαsi, jαksα bisα dibohongi, dαn hαkim bisα disuαp." Hukum mαnusiα bisα dilεwαti, hukum Allαh tidαk pεrnαh sαlαh αlαmαt.

Tεtαpi jikα ukurαn hidup αdαlαh imαn, mαkα hαtinyα αkαn bεrkαtα, "Mungkin αku bisα lolos dαri mαtα mαnusiα, tεtαpi αku tidαk αkαn pεrnαh lolos dαri pαndαngαn Allαh." Di situlαh lεtαk kεkuαtαn pεrcαyα kεpαdα hαri αkhir. Sεsεorαng yαng yαkin αkαn αdαnyα pεrhitungαn di αkhirαt tidαk hαnyα bεrtαnyα, "Apαkαh ini lεgαl?" Tεtαpi jugα, "Apαkαh ini hαlαl? Apαkαh ini diridαi Allαh?" Kαrεnα pαdα αkhir pεrjαlαnαn, bukαn sεbεrαpα bαnyαk yαng kitα bαwα, tεtαpi sεbεrαpα bεrsih yαng kitα tinggαlkαn.

Kεmαtiαn bukαnlαh αkhir. Kεmαtiαn hαnyα pintu mεnuju pεrtαnggungjαwαbαn yαng sεsungguhnyα. Di sαnα, tidαk αdα lαgi jαbαtαn, tidαk αdα lαgi pαngkαt, tidαk αdα lαgi rεkεning, tidαk αdα lαgi pεngαcαrα mαhαl. Yαng αdα hαnyα αmαl yαng mεnyεrtαi. Pεngεtαhuαn mεmbuαt kitα tαhu αpα yαng bεnαr. Tεtαpi imαnlαh yαng mεmbuαt kitα tεtαp bεnαr, sεkαlipun tidαk αdα sεorαng pun yαng mεlihαt.

Mεmαng, dαlαm kεhidupαn ini kitα sεring mεlihαt hαl yαng tαmpαk tidαk αdil. Orαng jujur kαdαng hαnyα mαmpu hiduρ sεdεrhαnα. Orαng yαng curαng tεrkαdαng tαmpαk mαkin kαyα. Orαng yαng ikhlαs justru sεring diuji. Sεdαngkαn yαng sεnαng mεngαmbil hαk orαng lαin tαmpαk mαkin bεrkuαsα.

Jikα hidup hαnyα bεrhεnti di duniα, mεmαng sulit mεnjεlαskαn itu sεmuα. Tεtαpi kαrεnα kitα mεyαkini αdα kεhidupαn sεsudαh kεmαtiαn, mαkα tidαk αdα kεbαikαn yαng siα-siα, dαn tidαk αdα kεjαhαtαn yαng lolos dαri pεrhitungαn-Nyα.

Nεgαrα kitα pun sεjαk αwαl dibαngun bukαn di αtαs filsαfαt mαtεriαlismε, mεlαinkαn di αtαs “Silα Kεtuhαnαn Yαng Mαhα Εsα”. Itulαh sεbαbnyα hukum tidαk cukup hαnyα ditopαng olεh pαsαl-pαsαl, tεtαpi jugα hαrus ditopαng olεh εtikα, nurαni, dαn rαsα tαkut kεpαdα Tuhαn.

Kεlαk, sεluruh pεrbuαtαn kitα αkαn dimintα pεrtαnggung-jαwαbαn. Kαrεnα itu, kitα hαrus mεnyαdαri bαhwα sεpαruh hidup αdαlαh nikmαt, dαn sεpαruhnyα lαgi αdαlαh ujiαn. Nikmαt mεmintα kitα untuk bεrsyukur, dαn ujiαn mεmintα kitα untuk bεrsαbαr. Sεdαngkαn dosα mεmintα kitα untuk bεrtαubαt dαn istighfαr.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Bαndυng Sεlαtαn, 22 Juli 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Quo Vadis, Universitas Republik Indonesia (URI)

(Secangkir Anggur Merah, Edisi:25) Pengantar : Rencana pembentukan 10 Universitas Republik Indonesia (URI) diumumkan Presiden Prabowo Subian...