Sabtu, 23 April 2022

SEPULUH ARGUMENTASI BAHWA MALAM KE-27 ADALAH LAILATUL QODAR

Apakah bisa dipastikan tanggal 27 Ramadan adalah lailatul qodar?
Untuk memastikan, barangkali lebih berhati-hati jangan.

Tetapi bahwa mayoritas ulama berpendapat malam yang paling diharap lailatul qodar adalah malam 27, maka ini benar. Ath-Thohawi berkata,

وذهب الأكثر إلى أنها ليلة سبع وعشرين وهو قول ابن عباس وجماعة من الصحابة

Artinya : “Mayoritas berpendapat bahwa lailatul qodar adalah malam ke-27. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan sejumlah Shahabat” (Hasyiyah Ath-Thohawi ‘Ala Maroqi Al-Falah hlm 264)

Pendapat ini didasarkan pada sejumlah argumentasi berikut ini,

Pertama, Rasulullah ﷺ salat malam sangat serius dan benar-benar menghidupkan malam dengan ibadah pada malam 27 Ramadan. Abu Dawud meriwayatkan;


عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ
اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ». قَالَ فَلَمَّا كَانَتِ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَتِ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلاَحُ. قَالَ قُلْتُ مَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا بَقِيَّةَ الشَّهْرِ.

Artinya : “Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata; “Kami pernah berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak pernah mengerjakan salat malam bersama kami dalam bulan Ramadhan itu sampai tersisa tujuh malam. Maka (di malam ketujuh tanggal 23 Ramadhan) beliau salat malam mengimami kami sampai berlalu sepertiga malam. Ketika tiba malam keenam (yakni tanggal 24 Ramadhan) beliau tidak mengimami kami salat Malam.

Ketika tiba malam kelima (yakni tanggal 25 Ramadhan), beliau salat malam mengimami kami hingga tengah malam berlalu. Aku (Abu Dzarr) berkata; “wahai Rasulullah, alangkah baiknya sekiranya engkau menambahi lagi salat malam ini.” Abu Dzar berkata; Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang salat (malam) bersama imam hingga selesai, maka akan di catat baginya seperti bangun (untuk mengerjakan salat malam) semalam suntuk.” Kata Abu Dzar; “Ketika tiba malam keempat (yakni tanggal 26 Ramadhan) beliau tidak mengimami kami salat malam. Ketika tiba malam ketiga (yakni tanggal 27 Ramadhan), beliau mengumpulkan keluarganya, isteri-isterinya dan orang-orang, lalu salat malam mengimami kami, sampai kami khawatir ketinggalan “Al Falah.” Jabir bertanya; “Apakah al falah itu?” Jawabnya; “Waktu sahur. Setelah itu beliau tidak lagi mengimami salat malam bersama kami pada hari-hari sisanya di bulan tersebut (yakni tanggal 28 dan 29 Ramadhan).” (Sunan Abu Dawud juz 1 hlm 521)

Dalam hadis di atas disebutkan Rasulullah salat mengimami para Shahabat pada malam ke-23, 25, dan 27. Pada malam ke-23 beliau salat sampai sepertiga malam pertama (kira-kira sampai jam 22.00). Pada malam ke-25 beliau salat sampai tengah malam (kira-kira sampai jam 23.30). Pada malam ke-27 beliau salat sampai menjelang waktu sahur (kira-kira sampai jam 03.30).

Jadi, salat malam yang dilakukan Nabi yang paling lama durasinya adalah malam ke-27. Di malam itu, Rasulullah membangunkan seluruh keluarganya, istri-istrinya dan mengumpulkan orang-orang untuk diajak beribadah. Seakan-akan Rasulullah tahu bahwa malam itu memang malam lailatul qodar sehingga beribadah semalam suntuk (kira-kira dengan durasi 6-7 jam) dan mengajak kaum muslimin untuk menghidupkannya.

Kedua, Rasulullah ﷺ memberitahu bahwa lailatul qodar itu cirinya bisa diketahui dari bentuk bulan. Di malam itu, bulan terbit seperti piring yang dibelah. Bulan berada dalam kondisi ini adalah pada malam ke-27. Muslim meriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَذَاكَرْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَذْكُرُ حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَهُوَ مِثْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ

Artinya “dari Abu Hurairah, ia berkata; Kami membincangkan Lailatul Qadr di sisi Rasulullah ﷺ, maka beliau pun bersabda: “Siapakah di antara kalian yang teringat ketika bulan terbit seperti belahan piring?.” (Shahih Muslim juz 6 hlm 84)

Ibnu Hajar menulis,

قَالَ أَبُو الْحَسَنِ الْفَارِسِيُّ أَيْ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَإِنَّ الْقَمَرَ يَطْلُعُ فِيهَا بِتِلْكَ الصّفة
Artinya : “Abu Al-Hasan Al-Farisi berkata, (bulan seperti piring dibelah) yakni malam ke-27, karena bulan terbit di malam itu dengan sifat seperti itu” (Fathu Al-Bari Li Ibni Hajar juz 4 hlm 264)

Ketiga, Rasulullah ﷺ dalam sejumlah riwayat mengucapkan dengan lugas bahwa lailatul Qodar adalah malam ke-27. Ath-Thobaroni meriwayatkan,

عَنْ مُعَاوِيَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْتَمِسُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ»

Artinya : ‘Dari Mu’awiyah, dari Nabi ﷺ beliau berkata, ‘Carilah lailatul Qodar pada malam ke-27” (Al-Mu’jam Al-Kabir Li Ath-Thabrani juz 19 hlm 349)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَقَالَ تَحَرَّوْهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Artinya : “dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mencarinya (malam lailatul qadar) hendaklah ia mencarinya pada malam ke-27.” Beliau juga menyebutkan: “Carilah pada malam ke-27, yakni lailatul qadar.” (Musnad Ahmad juz 10 hlm 113)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنِّي شَيْخٌ كَبِيرٌ عَلِيلٌ يَشُقُّ عَلَيَّ الْقِيَامُ فَأْمُرْنِي بِلَيْلَةٍ لَعَلَّ اللَّهَ يُوَفِّقُنِي فِيهَا لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ عَلَيْكَ بِالسَّابِعَةِ

Artinya : “dari Abdullah bin ‘Abbas; bahwa seseorang datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata; “Wahai Nabi Allah, saya adalah orang yang sudah tua renta yang sakit sakitan, sulit bagiku untuk berdiri, maka perintahkan kepadaku dengan satu malam semoga Allah menetapkanku bertemu dengan malam lailatul qodar.” Beliau bersabda: ” (Beribadahlah) pada malam ketujuh.”(Musnad Ahmad juz 5 hlm 74)

Keempat, persaksian Ibnu Mas’ud. Suatu saat Rasulullah ﷺ ditanya tentang kapan lailatul Qodar. Lalu beliau menyebut suatu malam sebagai “clue” dan ternyata malam tersebut menurut persaksian Ibnu Mas’ud adalah malam ke-27. Ath-Thobaroni meriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ؟ فَقَالَ:أَيُّكُمْ يَذْكُرُ الصَّهْبَاوَاتِ؟فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: أَنَا بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَذَلِكَ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Artinya : “Dari Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata, ‘Rasulullah ﷺ ditanya tentang lailatul qodar. Beliau menjawab, ‘Siapa di antara kalian yang ingat (malam) shohbawat?’ Abdullah berkata,’Saya wahai Rasulullah, orangtuaku menjadi tebusanmu. (malam itu adalah) Ketika bulan terbit, yakni malam ke-27” (Al-Mu’jam Al-Kabir Li Ath-Thabrani juz 8 hlm 493)

Shohbawat adalah bentuk jamak dari shohba’ (الصهباء). Lafaz ini memiliki dua kemungkinan makna. Pertama, dimaknai nama tempat di dekat Khoibar. Kedua, dimaknai unta yang berwarna merah kehitaman. Ketika Rasulullah menyebut malam shohbawat dan mengajak para Shahabat mengingat-ingat malam itu, seakan-akan Rasulullah ﷺ berusaha menghadirkan memori malam tertentu yang mereka habiskan di dekat Khoibar atau mereka habiskan sambil mengendarai unta merah. Rasulullah ﷺ ingin mengatakan bahwa malam itulah malam lailatul qodar. Ternyata Abdullah bin Mas’ud yang paling mengingat malam itu dan malam itu adalah malam ke-27.

Kelima, Istinbath Ibnu Abbas. Suatu hari Umar bertanya kepada Ibnu Abbas kapan lailatul qodar itu, maka Ibnu Abbas mengatakan malam itu adalah malam ke-27 dengan sejumlah argumentasi. Abdur Rozzaq meriwayatkan,

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: دَعَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُمْ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ؟ فَأَجْمَعُوَا أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَقُلْتُ لِعُمَرَ: «إِنِّي لَأَعْلَمُ، أَوْ إِنِّي لَأَظُنُّ أَيَّ لَيْلَةٍ هِيَ؟»، قَالَ عُمَرُ: وَأَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ؟ فَقُلْتُ: ” سَابِعَةٌ تَمْضِي، أَوْ سَابِعَةٌ تَبْقَى مِنَ
الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَقَالَ عُمَرُ: وَمِنْ أَيْنَ عَلِمْتَ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: «خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ، وَسَبْعَ أَرَضِينَ، وَسَبْعَةَ أَيَّامٍ، وَإِنَّ الدَّهْرَ يَدُورُ فِي سَبْعٍ، وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ مِنْ سَبْعٍ، وَيَأْكُلُ مِنْ سَبْعٍ، وَيَسْجُدُ عَلَى سَبْعٍ، وَالطَّوَافُ بِالْبَيْتِ سَبْعٌ، وَرَمِيُ الْجِمَارِ سَبْعٌ، لِأَشْيَاءَ ذَكَرَهَا»، فَقَالَ عُمَرُ: لَقَدْ فَطِنْتَ لِأَمْرٍ مَا فَطِنَّا لَهُ

Artinya : “Ibnu Abbas berkata, ‘Umar mengundang para Shahabat Nabi Muhammad kemudian menanyai mereka tentang lailatul qodar. Mereka sepakat bahwa malam itu ada pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibnu Abbas berkata, aku berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya aku benar-benar tahu atau aku benar-benar punya dugaan kuat di malam apa malam itu”. Umar bertanya, ‘malam apa itu?’ Aku menjawab, ‘malam ke tujuh yang telah berlalu atau malam ketujuh yang tersisa dari 10 hari terakhir Ramadan’. Umar bertanya, ‘Dari mana kamu tahu itu?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Allah menciptakan tujuh langit, tujuh bumi, tujuh hari, masa berputar dalam tujuh, Allah menciptakan manusia dari tujuh unsur, makan dari tujuh unsur, sujud di atas tujuh tulang, bertawaf sebanyak tujuh putaran, melempar jamroh tujuh kali (dan seterusnya), Ibnu Abbas menyebut sejumlah hal.’ Umar berkata, sungguh engkau telah memahami perkara yang tidak kami pahami'”. (Mushonnaf Abdul Ar-Rozzak Ash-Shon’ani juz 4 hlm 246)

Keenam, mimpi salah satu Shahabat. Ada salah satu Shahabat Nabi yang bermimpi melihat lailatul qodar pada malam ke-27. Muslim meriwayatkan,

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Artinya : “dari Salim dari bapaknya radhiallahu ‘anhu, ia berkata; Seorang bermimpi bahwa Lailatul Qadr terdapat pada malam ke-27 bulan Ramadhan. (Shahih Muslim juz 6 hlm 70)

Ketujuh, sumpah Ubay bin Ka’ab. Ada satu riwayat lugas bahwa salah satu shahabat nabi yang bernama Ubay bin Ka’ab bersumpah bahwa lailatul qodar adalah malam ke-27. Muslim meriwayatkan,

عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ – وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَقَالَ أُبَىٌّ وَاللَّهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِنَّهَا لَفِى رَمَضَانَ – يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِى – وَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ أَىُّ لَيْلَةٍ هِىَ. هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Artinya : “dari Zirr ia berkata, saya mendengar Ubay bin Ka’ab berkata, sementara beliau diberitahu pendapat Abdullah bin Mas’ud (tentang lailatul qodar) dengan berkata, “Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam Lailatul Qadr.” Ubay berkata, “Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu. Lailatul Qadr itu adalah malam, dimana Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menegakkan salat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke-27 (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa syu’a (sinar menggaris).”(Shahih Muslim juz 2 hlm 178)

Bersumpah, apalagi atas nama Allah artinya mengucapkan sesuatu secara tegas dan pasti tanpa keraguan. Jika sesuatu masih diragukan, maka tidak mungkin shahabat berani bersumpah. Riwayat ini menunjukkan Ubay bin Ka’ab sangat yakin tanpa ragu sedikitpun bahwa lailatul Qodar itu malam ke-27

Kedelapan, Istikhroj surat Al-Qodr. Sebagian ulama berpendapat lailatul qodar jatuh pada malam ke-27 dengan menghitung kata dalam surat Al-Qodr. Setelah dihitung, ternyata lafaz hiya (هِيَ) dalam ayat berikut ini,

{سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ } [القدر: 5]

Lafaz hiya (هِيَ) yang kembali pada lailatul qodr adalah kata ke-27. Jadi, hal ini menjadi isyarat bahwa lailatul Qodar adalah pada malam ke-27

Kesembilan, jumlah huruf pada lafaz lailatul qodr. Jika dihitung, jumlah huruf yang ada pada lafaz lailatul qodr (لَيْلَةُ الْقَدْرِ) adalah sembilan. Lafaz lailatul qodr dalam surat Al-Qodr diulang 3 kali. Jadi, jumlahnya 27. Oleh karena itu, ini juga menjadi isyarat lailatul qodar jatuh pada malam ke-27

Kesepuluh,pengalaman ruhiyyah sejumlah orang salih. Ada sejumlah kisah pengalaman-pengalaman individu yang menguatkan bahwa lailatul qodar jatuh pada malam ke-27. Di antaranya adalah kisah An-Nawawi pada waktu masih kecil. An-Nawai adalah ulama besar yang mengarang sejumlah kitab terkenal di Indonesia seperti Riyadhus Sholihin, Arba’in Nawawiyyah, Al-Adzkar dan lain-lain. As-Subki menulis,

وَذكر أَبوهُ أَن الشَّيْخ كَانَ نَائِما إِلَى جنبه وَقد بلغ من الْعُمر سبع سِنِين لَيْلَة السَّابِع وَالْعِشْرين من شهر رَمَضَان فانتبه نَحْو نصف اللَّيْل وَقَالَ يَا أَبَت مَا هَذَا الضَّوْء الَّذِي مَلأ الدَّار فَاسْتَيْقَظَ الْأَهْل جَمِيعًا قَالَ فَلم نر كلنا شَيْئا قَالَ وَالِده فَعرفت أَنَّهَا لَيْلَة الْقدر

Artinya : “ayahnya (An-Nawawi) menceritakan bahwa di malam ke-27 Ramadan An-Nawawi tidur di sampingnya. Usianya waktu itu tujuh tahun. Kemudian An-Nawawi terbangun kira-kira tengah malam lalu bertanya, ‘wahai ayah, cahaya apa ini yang memenuhi rumah?’ maka seluruh keluarga bangun. Ayahnya berkata,’tapi kami tidak melihat apapun’. Ayah An-Nawawi berkata, ‘akupun tahu bahwa malam itu adalah lailatul qodar”. (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Li As-Subki juz 8 hlm 396)

Pengalaman serupa dirasakan oleh Abu Al-Mudhoffar bin Hubairah. Ibnu Rojab menulis,

وذكر الوزير أبو المظفر ابن هبيرة أنه رأى ليلة سبع وعشرين وكانت ليلة جمعة بابا في السماء مفتوحا شامي الكعبة قال: فظننته حيال الحجرة النبوية المقدسة قال: ولم يزل كذلك إلى أن التفت إلى المشرق لأنظر طلوع الفجر ثم التفت إليه فوجدته قد غاب

“Abu Al-Mudhoffar bin Hubairah Al-Wazir bercerita bahwasanya beliau melihat sebuah pintu terbuka di langit di arah utara ka’bah (waktu itu malam jumat) pada malam ke-27. Dia berkata, ‘Aku menduganya di depan kamar nabawi yang suci.’ Dia berkata, ‘Pemandangannya terus seperti itu sampai aku menoleh ke arah timur untuk melihat terbitnya fajar. Kemudian aku menoleh lagi ke arahnya, tetapi (pemandangan itu) telah lenyap”. (Lathoif Al-Ma’arif Li Ibni Rojab hlm 203)

Atas dasar ini, sungguh layak untuk berharap bahwa malam ke-27 adalah lailatul qodar sehingga kita bisa menyiapkan diri beribadah lebih giat di dalamnya.

Wallahua’lam..
Oleh : Ustadz  Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Senin, 28 Maret 2022

Kisah Salman Al-Farisi: Ahlul Bait yang Bergelar Luqmanul Hakim

Salman Al-Farisi adalah anak seorang bangsawan, bupati, di daerah kelahirannya, Persia. Ia sempat tertipu di tengah perjalanannya mencari kebenaran Illahi. Ia diperjualbelikan sebagai budak. Beliau terdampar di Madinah, menjadi budak orang Yahudi . 

Beliau masuk Islam dan Allah membebaskan dirinya. Sebagaimana lelaki normal lainnya, pria bertubuh tegap ini pun sempat jatuh cinta. Sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Hati Salman kepincut perempuan Anshar. Yakni perempuan asli kelahiran Madinah. 

Di kalangan kaum Anshar, Salman sejatinya dianggap sebagai keluarga mereka. Demikian juga kaum Muhajirin . Pendatang dari Mekkah ini juga menganggap Salman bagian dari kaum mereka. Pada waktu perang Khandaq, saat Salman menelorkan ide cerdas membangun parit untuk menahan pasukan kafir Quraish, kaum Anshar mengklaim Salman sebagai kaum mereka. 

“Salman dari golongan kami,” ujar kaum Anshar. Pernyataan kaum Anshar ini direspon kaum Muhajirin. Mereka berdiri dan berkata, “Tidak. ia dari golongan kami!” Rasulullah SAW pun akhirnya memanggil mereka yang bersengketa itu, “Salman adalah golongan kami, Ahlul Bait. Dan memang selayaknyalah jika Salman mendapat kehormatan seperti itu,” ujar Rasulullah SAW. 

Ali bin Abi Thalib memberi gelar Salman dengan “Luqmanul Hakim”. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: “Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering”. 

Dalam kalbu para sahabat umumnya, pribadi Salman telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Kedudukan Salman yang tinggi itu tidak serta merta menjadi magnet bagi perempuan. Dan itu yang tidak diketahui Salman. 

Cintanya Ditolak 

Pada suatu ketika, Salman Al Farisi bermaksud melamar gadis pujaan hatinya itu. Dia mengajak sahabatnya, Abu Darda, untuk menemaninya. Abu Darda merasa tersanjung dengan ajakan Salman itu. Ia pun memeluk Salman Al Farisi dan bersedia membantu. 

Setelah segala sesuatunya dianggap beres, keduanya pun mendatangi rumah sang gadis. Selama perjalanan, mereka tampak gembira. Setiba di tujuan, keduanya diterima dengan tangan terbuka oleh kedua orang tua wanita Anshar tersebut. Baca juga: Belajar Arti Cinta dan Persahabatan dari Salman Al Farisi Abu Darda menjadi juru bicara. 

Ia memperkenalkan dirinya dan juga Salman Al Farisi. Ia menceritakan mengenai Salman Al Farisi yang berasal dari Persia. Abu Darda juga menceritakan mengenai kedekatan Salman Al Farisi yang tak lain adalah sahabat Rasulullah SAW. Dan terakhir adalah maksudnya untuk mewakili sahabatnya itu untuk melamar. 

Mendengar maksud mereka melamar putrinya, membuat tuan rumah merasa sangat terhormat. Mereka senang akan kedatangan dua orang sahabat Rasulullah. Hanya saja, sang ayah tidak serta merta menerima lamaran itu. Sebagaimana diajarkan Rasulullah, sang ayah harus bertanya dulu bagaimana pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Karena jawaban itu adalah hak dari putrinya secara penuh. Sang ayah pun lalu memberikan isyarat kepada istri dan juga putrinya yang berada di balik hijabnya. Ternyata sang putri telah mendengar percakapan sang ayah dengan Abu Darda. Gadis ini juga telah memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. 

Berdebarlah jantung Salman Al Farisi saat menunggu jawaban dari balik tambatan hatinya. Abu Darda pun menatap gelisah pada wajah ayah si gadis. Dan tak begitu lama semua menjadi jelas ketika terdengar suara lemah lembut keibuan sang bunda yang mewakili putrinya untuk menjawab pinangan Salman Al Farisi. “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” kalimat itu membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda berdebar tak sabar. 

Perasaan tegang dan gelisah pun menyeruak dalam diri mereka berdua. “Karena kalian berdua yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda juga memiliki keinginan yang sama seperti keinginan Salman Al Farisi,” katanya. Jelas, jawaban itu sangat mengagetkan. Gadis yang diidam-idamkan untuk menjadi istri Salman Al Farisi, justru kepincut dengan Abu Darda. 

Takdir Allah berkehendak lain. Cinta Salman bertepuk sebelah tangan. Tetapi itulah ketetapan Allah menjadi rahasia-Nya, yang tidak pernah diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah.  Salman Al Farisi tampak tegar. Salman adalah pria saleh, taat, dan juga seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah. 

Dengan ketegaran hati yang luar biasa ia justru memekik: Allahu Akbar! Salman Al Farisi girang. Bahkan ia justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Salman ikhlas memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu, termasuk mahar, kepada Abu Darda. Ia juga akan menjadi saksi pernikahan sahabatnya itu. Salman menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Tentang Abu Darda Salman dan Abu Darda adalah karib. Mereka berdua dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW. 

Abu Darda memiliki kebiasaan luar biasa terhadap para sahabatnya. Beliau selalu mendoakan saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya ketika ia sedang bersujud. Ia sebut nama-nama para sahabatnya satu persatu di saat berdoa. Ada yang menyebut nama asli Abu Darda adalah Uwaimir bin Malik al-Khazraji. Beliau termasuk sahabat yang akhir masuk Islam. Akan tetapi, beliau termasuk sahabat yang bagus keislamannya, seorang faqih, pandai dan bijaksana. 

Abu Darda RA memilih hidup zuhud. Tatkala suatu kali tamu-tamunya bertanya ke mana perginya kekayaannya selama ini, Abu Darda menjawab, “Kami mempunyai rumah di kampung sana. Setiap kali memperoleh harta, langsung kami kirim ke sana. Jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki sehingga kami sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa.” 

Suatu ketika Salman RA mengunjungi Abu Darda RA. Dia melihat Ummu Darda memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus. “Wahai Ummu Darda, kenapa engkau berpakaian seperti itu?” Salman bertanya keheranan. “Saudaramu Abu Darda sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu salat malam,” jawab Ummu Darda. Lantas datanglah Abu Darda dan menghidangkan makanan kepadanya. “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa,” ujar Abu Darda kemudian. “Aku tidak akan makan hingga engkau makan,” sambut Salman.

Lantas Abu Darda pun ikut makan. Tatkala malam telah tiba, Abu Darda pergi untuk mengerjakan salat. Akan tetapi, Salman menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah”. Maka Abu Darda pun menurut. Dia pun tidur. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak salat, dan Salman menyuruhnya tidur lagi. Ketika malam sudah lewat Salman membangunkan Abu Darda. Keduanya mengerjakan salat. Selesai shalat, Salman berkata kepada Abu Darda.

 “Wahai Abu Darda, sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu. Badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.” Selanjutnya Abu Darda mendatangi Rasulullâh SAW dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Nabi SAW menjawab, “Salman benar".

(Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Senin, 28 Maret 2022 - 05:15 WIB oleh Miftah H. Yusufpati dengan judul "Kisah Salman Al-Farisi: Ahlul Bait yang Bergelar Luqmanul Hakim").


Rabu, 16 Februari 2022

Ramadhan 1443 H Segera Mengunjungi Kita

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semangat beraktivitas _meraih berkahnya waktu di pagi hari, semoga kita senantiasa dikaruniakan sehat, selalu bersyukur dan bersabar serta istiqamah dalam melaksanakan semua Perintah dan meninggalkan semua Larangan Allah Subhanahu wa ta'ala.

امين يا الله يا مجيب السائلين

Bismillah, Washalatu Was Salamu 'ala Rasulillah, ama ba'du...

SIAPKAN BEKAL RAMADHAN MULAI HARI INI
_____________
Kaum muslimin rahimakumullah, alhamdulillah Allah Ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk menghirup udara dan memanfaatkan waktu sampai detik ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, hari berganti pekan ,pekan pun berganti bulan. Tak terasa, 47 hari lagi RAMADHAN* in sya Allah.....

Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Datangnya sekali setahun saja. Sungguh sayang kalau ia berlalu sia-sia.

Seseorang akan menyesal....
Bila terjun dalam peperangan......
Tapi tanpa persiapan.....

Seseorang akan menyesal....
Bila dapati Ramadhan
Tapi tanpa bekal mapan...

Kalau tahun lalu, kita menyongsong Ramadhan dengan tangan kosong. Tahun ini kita berusaha mempersiapkan bekal ilmu jauh hari sebelumnya.

Kalau tahun lalu, kita alpa membaca Al-Quran. Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini kita bisa banyak membaca dan mentadabburinya.

Kalau tahun lalu, puasa kita hanya sebatas lapar dan dahaga. Tahun ini kita berjuang menggandengkan puasa dan amal shalih lainnya.

Kalau tahun lalu, kita sibuk dengan baju baru dan dekorasi rumah. Tahun ini kita berusaha lebih bijak dalam menentukan prioritas kesibukan.

Ramadhan sudah di ambang pintu kita, Tamu istimewa kaum mukminin...
Mari menyambutnya dengan Ilmu, Agar meraih jannatun na'iim.

Bekal ilmu yang dikumpulkan lebih awal insyaallah akan mendatangkan banyak kebaikan bagi kita pada bulan Ramadhan kelak.

Mari siapkan diri kita secara lahir bathin untuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia.
Apabila kita berdoa meminta kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan, maka ️jangan lupa untuk berdoa kepada Allah agar memberikan *BAROKAH* untuk kita dalam mengisi Ramadhan.

Sebab yang penting bukan bertemu Ramadhan, tapi yang terpenting adalah......

AMAL APA YANG AKAN KITA KERJAKAN DI BULAN RAMADHAN!!

اللَّهُمَّ أَظَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي،
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحتِسَابًا،
وَارْزُقْنِي فِيهِ الْجدّ والاجتِهَادَ وَالْقُوَّةَ وَالنَّشَاطَ،
وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السآمَةِ وَالفَتْرة وَالْكِسَلِ وَالنُّعَاسِ،
وَوَفِّقْنِي فيهِ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَاجْعَلْهَا خَيْرًا لِي مِنْ أَلْفِ شَهْرِ

Ya Allah, Ramadhan telah menghadap dan hadir. Karenanya, cerahkanlah Ramadhan untukku, dan sampaikanlah aku kepadanya, dan selamatkanlah aku (dari segala penghalang darinya) di bulan Ramadhan, serta terimalah amal-amal Ramadhan dariku...
Ya Allah, anugerahilah aku berpuasa padanya, dan sholat malam padanya, karena sabar dan mencari pahala. Anugerahilah aku padanya kegigihan, kesungguhan, kekuatan, dan semangat...

Lindungilah aku padanya dari rasa bosan, lemah semangat, malas, dan mengantuk...
Berilah aku taufik pada bulan itu untuk mendapatkan Lailatul Qadar, dan jadikanlah malam itu lebih baik bagiku dibandingkan 1000 bulan...
(Ath-Thabrani dalam ad-Du’aa no. 914, Abul Qasim al-Ashbahani dalam at-Targhib wat Tarhib no. 1784, dan Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Akhbar ash-Shalah no. 129, sanadnya hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh DR. Muhammad Sa’id al-Bukhari dalam tahqiq-nya terhadap Kitabud Du’aa hal 1227)

(Abu Syamil Humaidy حفظه الله تعالى)

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb...
(dari wa os-vi/91/telkom/@gus)

Senin, 17 Januari 2022

Sang Lentera Penerang: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Ketika Istighfar Nabi Adam tidak didengar selama puluhan tahun, lalu Nabi Adam teringat dengan tulisan nama Muhammad di pintu Arasy, lalu Adam berdoa, "Ya ALLAH ampunilah aku dengan haq Muhammad," maka ALLAH pun mengampuni Adam dan Hawa. Dalam Injil Barnabas ditulis bahwa Adam mengukir nama Muhammad di kuku jempolnya dan selalu diciumnya jempol tersebut.

Kelak di akhirat umat Nabi Nuh membantah jika Nuh pernah memberi peringatan dan berdakwah kepada mereka, lalu nabi Nuh meminta tolong kepada nabi Muhammad untuk menjadi saksinya. Nabi Muhammad pun menjadi saksi dengan membaca kisah Nuh di kitab al-Quran.

Setelah Nabi Ibrahim mengetahui jika dari keturunan anaknya Ismail akan lahir Nabi Muhammad, maka Nabi Ibrahim memohon agar namanya kelak selalu diucapkan oleh umatnya Muhammad, dan ALLAH pun menjadikan nama Ibrahim disebut dalam bacaan tasyahud di setiap sholat.

Ketika Nabi Yusuf dijebloskan kedalam sumur dan ditinggalkan oleh saudara-saudaranya, Yusuf pun menangis dan merengek didalam sumur sendirian, lalu diperintahkan oleh malaikat Jibril agar Yusuf mengganti rengekannya dengan bershalawat kepada nabi Muhammad, dan esoknya Yusuf pun dikeluarkan dari sumur oleh rombongan kafilah yang lewat.

Nabi Musa mulanya menyangka jika umatnya adalah mayoritas, namun setelah diberitahukan jika umatnya Nabi Muhammad lebih utama dan mayoritas, maka nabi Musa menginginkan agar dijadikan umatnya nabi Muhammad, namun ALLAH menolaknya lalu menggantinya dengan nama Musa akan disebut lebih banyak di kitab Al-Quran.

Ketika Nabi Daud sedang bertasbih bersama burung-burung, Daud pun heran dan takjub mendengar suara dari seekor ulat di pohon yang sedang bershalawat untuk nabi Muhammad dan umatnya.

Impian Nabi Isa adalah ingin bisa membuka terompah (sandal) nabi Muhammad lalu membasuh kedua kakinya. Dan Isa bercerita kepada para sahabatnya, bahwa kelak di akhirat nabi Muhammad akan berbicara dengan ALLAH layaknya seorang teman.

Semoga sholawat dan salam dari Allah Subhanu Wata'ala Yang Maha Baik, Maka Kasih dan Penyayang, dari para malaikat yang dekat dengan-Nya, serta dari para nabi dan dari kaum shiddiqin, dari para syuhada dan dari kaum sholihin, juga dari semua yang bertasbih kepada-Mu, dilimpahkan kepada junjungan kami Muhammad bin Abdullah, penutup para nabi, pemimpin para rasul, imam kaum bertakwa, utusan Tuhan Pemelihara alam semesta, saksi yang memberikan kabar gembira, penyeru kepada-Mu dengan izin-Mu, sang lentera yang menerangi."

*آمـــــــــــين آمـــــــــــين*
*آمـــــــــــين يَآرَبْ العالمين*
.

Jumat, 14 Januari 2022

Naskah Khutbah Jum'at: Menjadi Penolong Agama Allah...!!!

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
(QS Muhammad [47]: 7)

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, yang telah mengaruniakan kita semua Iman dan Islam. Dialah Yang MahaBenar dan MahaAdil. Yang menguasai alam semesta. Yang MahaMengetahui apa yang terjadi di muka bumi dan di langit.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, keluarga, sahabat, serta umatnya hingga Hari Kiamat.
Bertakwalah kepada Allah, kapan pun dan di mana pun Anda berada. Taati semua perintah Allah dan jauhi semua larangan-Nya. Insyaallah, siapa yang bisa melakukan itu, pasti Allah akan angkat derajatnya.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Penistaan agama tak kenal kata berhenti. Terus terjadi. Yang terakhir, ada seorang politikus menulis status di salah satu platform media sosial, ...*“Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah, harus dibela.”

Ada sebagian kalangan yang membela dan mendukungnya. Mereka berpendapat bahwa Allah memang tak perlu dibela. Menurut mereka, Allah itu Mahaperkasa dan Mahakuat. Allah tak memerlukan pembelaan dari manusia yang lemah. Membela Allah sama artinya menganggap Allah itu lemah. Begitu opini mereka.

Perhatikan...!!!
Sikap seperti ini jelas salah besar. Kita, kaum Muslim harus bisa membedakan ...Ranah Akidah dengan Ranah Amal.

Dalam Ranah Akidah, setiap Muslim wajib mengimani bahwa Allah Mahakuat (Al-Qawiy), Mahaperkasa (Al-‘Azîz) juga Mahakokoh (Al-Matîn). *Tidak ada yang dapat mengalahkan kekuasaan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

مَا اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَا اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Aku makan. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki, Pemilik Kekuatan Yang Mahakokoh (TQS Adz-Dzariyat [51]: 57-58).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan bahwa segala sesuatu pasti akan binasa, ...*kecuali Allah Subhanu Wa Ta'ala sendiri yang tidak binasa:*

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan (TQS al-Qashash [28]: 88).
*Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,*

Itu adalah ranah akidah atau keimanan. Namun, dalam Ranah Amal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslim untuk membela agama-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:*

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sungguh Allah akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa (TQS al-Hajj [22]: 40).

Allah Sbhanahu Wa Ta’ala juga memerintahkan kaum Muslim agar menjadi para penolong agama-Nya:

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (TQS Muhammad [47]: 7).

Syaikh Ibrahim al-Qaththan dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini, ...*“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah—yakni dengan menolong syariah-Nya, menegakkan hak-hak Islam, berjalan sesuai dengan manhaj-nya yang lurus—niscaya Allah menolong kalian atas musuh-musuh kalian.

Inilah janji yang benar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sungguh Dia telah melakukan demikian untuk kaum Mukmin yang shiddiq dari kalangan generasi sebelum kita. Karena itu sekarang kita pun dituntut untuk menolong agama Allah dan berjalan pada manhaj-Nya sampai Allah menolong kita dan mengokohkan kedudukan kita. Allah tidak pernah mengingkari janji.” (Al-Qathhan, Taysîr at-Tafsîr, 3/242).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam juga pernah berpesan kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu agar menjaga agama Allah:

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

Jagalah (agama) Allah, niscaya Dia menjaga kamu (HR at-Tirmidzi).
Berkaitan dengan hadis ini, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan, “Maknanya, jagalah batas-batas-Nya, hak-hak-Nya dan larangan-larangan-Nya. Menjaga hal itu adalah dengan menepati perintah-perintah-Nya dengan ketundukan, menjauhi larangan-larangan-Nya, tidak melanggar batas-batas-Nya…” (Ibnu Rajab, Jâmi’ al-Ulûm wa al-Hikam, hlm. 462).

Jadi, wajib dipahami oleh umat bahwa membela Allah yang dimaksud dalam nas-nas di atas adalah membela kemuliaan agama-Nya dan syiar-syiar-Nya. Termasuk membela kemuliaan sifat-sifat Allah dari segala tindakan penistaan.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Dalam Sîrah Ibnu Hisyâm diriwayatkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memukul dengan keras wajah seorang pendeta Yahudi bernama Finhash karena dia mengolok-olok Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia menyebut Allah miskin, sedangkan kaum Yahudi kaya.

Ejekan ini berkaitan dengan perintah Allah kepada kaum Muslim untuk memberikan ‘pinjaman yang baik’ (qardh[an] hasan[an]) di jalan-Nya.

Atas pemukulan tersebut, Finhash mengadukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Namun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membela tindakan Abu Bakar dengan menurunkan firman-Nya:*

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ اْلأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Sungguh Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang berkata, “Sungguh Allah itu miskin, sementara kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar. Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah oleh kalian azab yang membakar!” (TQS Ali Imran [3]: 181).

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Wahai kaum Muslim, bukankah Allah sudah menyeru Anda sekalian untuk senantiasa meletakkan agama ini di atas segalanya..!!!

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَا اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِه فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهۗ وَاللّٰهُ لاَ يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya serta rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik (TQS. at-Taubah [9]: 24).

Apakah ayat ini sudah Anda lupakan..? Ataukah Anda sedang menunggu datangnya ancaman Allah tersebut..? Wal ‘iyyâdzu bilLâh.

Munculkanlah ghirah Anda untuk membela agama Allah. Terapkan Syariah Allah di muka bumi.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

© 2020. All Right Reserved: Dewan Masjid Digital Indonesia (DMDI)

Jumat, 31 Desember 2021

Jangan Menutup Mata atas Kebenaran dan Kesalahan

Saudaraku,
Kita semestinya mengakui kebenaran seseorang tanpa menutup mata atas kesalahannya. Jangan sampai kebencian kita menutup mata kita tentang kebenaran orang lain. 

Demikian pula cinta, hanya karena cinta yang berlebihan menutup kesalahan orang yang dicintainya. Semuanya memiliki kebenaran dan kesalahan, karena itu bertindaklah dengan adil...

Salah satu tantangan berat yang sering menjadi persoalan kita adalah kecintaan dan kebencian secara berlebihan, seringkali dapat menyebabkan kita tidak dapat besikap adil hingga muncul perbuatan zalim...

Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya melarang kezaliman dalam bentuk apapun dan wajib untuk berbuat adil dalam segala sesuatu, Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al Maidah: 

Saudaraku,
Perbuatan zalim menyebabkan pelakunya mendapat keburukan di dunia dan di akhirat, di antaranya:

Orang yang berbuat zalim akan diqishash pada hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya,

أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para sahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. 

Kelak segala kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.”
(HR. Muslim no. 2581).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.”
(HR. Al-Bukhari no. 2449)

Orang yang berbuat zalim mendapatkan laknat dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَوْمَ لا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.”
(QS. Ghafir: 52)

Orang yang berbuat zalim akan mendapatkan kegelapan di hari kiamat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”
(HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).

Jangan sekalipun berbuat zalim karena terancam oleh doa orang yang dizalimi. Doa orang yang terzalimi dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla, termasuk jika orang yang terzalimi mendoakan keburukan bagi yang menzaliminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari no.1496, Muslim no.19)

Orang yang berbuat zalim akan jauh dari hidayah Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
(QS. Al Maidah: 51)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah membuka mata atas kebenaran dan kesalahan, senantiasa berbuat adil dan menghindari kezaliman untuk meraih ridha-Nya...

Aamiin Ya Rabb.
Wallahua'lam bishawab...

Minggu, 19 Desember 2021

Penduduk Surga Pergi ke Pasar Setiap Jum'at

Terdengar aneh memang mendengar kalimat “Pasar Surga”. Iya jelas, karena kita masih berada di dunia.

Benarkah Ada Pasar di Surga? Seperti Apa Keadaan dan Keindahannya?
Keindahan dunia saja sudah membuat kita takjub, bagaimana dengan keadaan surga yang penuh kenikmatan dan keindahannya?

Alam surga bukanlah alam dunia, sehingga alamnya tak bisa dinalar dengan pemikiran manusia di dunia. Salah satu hal menakjubkan di surga – sebagaimana riwayat Rasulullah – adalah adanya pasar surga.

Diriwayatkan oleh Sayyidina Ali RA, Rasulullah Saw pernah bersabda: "Sesungguhnya di dalam surga terdapat pasar yang di dalamnya tidak ada pembeli dan penjual, kecuali beberapa bentuk (gambar-gambar) dari laki-laki dan perempuan. Ketika seseorang menginginkan bentuk (seseorang untuk dirinya), maka ia masuk di dalam pasar itu".

Bentuk dan keadaan dari surga-surga Allah Subhanahu wa ta'ala, sudah banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an dan As Sunnah. Gambaran didalamnya terdapat kenikmatan dan waktu yang tiada batas . Semua itu diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala semata-mata hanya untuk hamba-hamba-Nya yang pantas mendapatkannya.

Salah satu tempat indah yang ada di surga ini, ternyata adalah pasar. Tentang keberadaan pasar di surga dijelaskan dalam buku Ensiklopedia Islam Al Kamil yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri.

Pasar di surga ini bahkan sudah disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis yang diriwayatkan shahabat Anas bin Malik, nabiyullah bersabda,

“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’.” (HR. Muslim).

Lantas seperti apa pasar di surga ini? Apa yang diperjualbelikannya? Siapa pembeli dan penjualnya?

Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, yang dimaksud pasar dalam hadis nabi ialah tempat berkumpulnya penduduk surga. Di sana, para ahli surga berbincang dengan akrab. “Yang dimaksud pasar ialah tempat berkumpulnya manusia, sebagaimana manusia di dunia berkumpul di pasar,” jelas An Nawawi.

Dari penjelasan Imam An Nawawi tersebut, diketahui bahwasannya para penduduk surga saling bertemu di pasar surga. Mereka mengobrol dengan kerabat dan sahabat di dunia. Membicarakan tentang beratnya amal salih yang terbalas dengan surga.

Hal ini diperkuat dengan fatwa para ulama dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, “Pasar di surga adalah tempat bertemunya kaum muslimin satu sama lain supaya bertambah kenikmatan mereka. Mereka merasakan kelezatan saling berbincang, saling mengenang apa yang terjadi di dunia dan membicarakan apa yang mereka dapatkan di akhirat. Mereka bertemu setiap Jumat sebagaimana pada hadits, agar mereka bisa saling berjumpa satu sama lain,”

Namun, fungsi pasar di surga jelas tidak sama dengan pasar di dunia. Pasar surga bukanlah tempat jual beli. Ia merupakan tempat “nongkrong” para penduduk surga.
Namun terdapat perbedaan pendapat tentang hal ini.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa surga memang memiliki pasar, namun tidak ada transaksi di dalamnya. Penduduk surga boleh berbelanja bebas, mengambil barang yang diinginkan tanpa harus membayar.

Sebenarnya, para penduduk surga tak perlu berbelanja ke pasar. Mengingat apapun yang diinginkan di surga, dapat langsung memintanya. Namun bagi sebagian orang, berbelanja menjadi kenikmatan tersendiri dan kenikmatan tersebut akan didapatkan di surga.
Allah Ta’ala berfirman,

يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ ٱلْأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلْأَعْيُنُ ۖ وَأَنتُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az Zukhruf: 71).

Menurut Imam Nawawi, bahwa hadis nabi disebutkan bahwa penduduk surga pergi ke pasar setiap hari Jum’at, hanyalah perkiraan waktu.

Pasalnya, di surga tidak mengenal siang dan malam, serta tidak ada matahari dan bulan.
“Maksud (ucapan nabi) ‘mereka mendatangi setiap hari Jumat’ ialah perkiraan lama waktu setiap Jumat atau sepekan. Tidaklah sepekan memiliki makna yang sebenarnya, karena tidak ada matahari, siang dan malam di surga,” jelas sang Imam dalam Syarh Muslim.

Rasulullah Saw juga menyebut tentang angin utara dalam hadis beliau tentang pasar di surga. Makna angin utara tersebut sesuai dengan budaya bangsa Arab yang terbiasa menanti angin utara dari arah Syam. Angin dari arah utara tersebut dinantikan bangsa Arab karena biasanya membawa air hujan.

Karena itulah angin utara dianggap sebagai kabar gembira. Angin sejuk menggembirakan itu, akan dirasakan penduduk surga saat mereka menjalin keakraban di pasar.
Itulah gambaran pasar surga yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw melalui Sabdanya.
Pasar tersebut hanya bisa dirasakan dan dinikmati bagi mereka yang memiliki amal baik dan Allah berikan rahmat untuk masuk ke surga. Sebaliknya tidak diperuntukan untu hamba Allah yang tidak menjalankan perintah dan tidak menjauhi larangan-Nya.

Bagaimana apakah kalian menginginkan berkunjung ke pasar surga yang sudah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw tersebut?

Jawabannya tidak ada lain kecuali harus mempertebal amal-amal baik agar diri kita pantas untuk dimasukkan ke surga-Nya.

Semoga Bermanfaat (KH. E. Sunidja)
16122021

Kamis, 18 November 2021

Memasuki Usia Senja, Apa yang harus Dipersiapkan? Seperti Apa Tahapannya?

Sumber foto: Annas Indonesia
Ketika memasuki usia senja diatas 50 tahunan, adalah masa-masa yang penuh was-was. Atau ketika memasuki masa pensiun misalnya, terkadang kita bingung. Apa yang harus diperbuat? Bagaimana cara mengisi waktu? Bagaimana kalau sakit? Siapa yang masih bisa diandalkan/
diharapkan? Dan berbagai pertanyaan lainnya. 

Jika kita tak memiliki persiapan, tak sedikit yang mengalami kejatuhan mental. Bahkan tak jarang yang harus berputus asa, untuk segera pamit pada dunia. Berangkat menuju akhirat. Wassalam.

Namun bagi yang saat ini masih eksis di masa senja, gak perlu khawatir. Berikut ini ada beberapa catatan atau sejenis petuah. Siapa tahu bisa dijadikan pegangan. Agar kita dalam menjalani masa tua lebih tegar dan percaya diri.

1. Jika Anda memiliki satu sarang (tempat tinggal/rumah) sendiri, harap jangan Anda tinggalkan sebelum ajal menjemput;
2. Jika masih memiliki pasangan hidup, baik-baiklah hidup bersama dengan seiring-seirama, saling mengisi dan menopang;
3. Jaga dan rawatlah baik-baik kesehatan sendiri dan pasangan kita;
4. Ciptakan kebahagiaan dengan menunjukkan sikap yang lebih baik, loyal dan bijak;
5. Mulai aktif berolahraga dan bergabung dengan komunitas dengan hobi yang sejenis;
6. Mulailah fokus pada aspek religi dan lebih taat menjalankan/mengamalkannya.

Ada beberapa tahapan yang perlu dijadikan pegangan ketika memasuki usia senja.

I. Tahap pertama : 
Jaminan/kepastian

1) Anak memiliki ekonomi yang baik, itu adalah miliknya, milik si anak, bukan milik kita. Anak berbakti pada orang tua, itu adalah kualitas yang baik pada dirinya, walau itu tak lepas dari hasil didikan kita;

2) Ketika kondisi masih bugar dan memungkinkan untuk tetap beraktivitas, maka:

a. Makanlah kalau memang suka dengan makanan tertentu;
b. Pakailah kalau memang suka dengan busana yang diinginkan;
c. Bermainlah sepuasnya, seperti menyalurkan hobi olga atau rekreasi;
d. Jangan lagi terlalu kejam/pelit pada diri sendiri (manjakan diri sendiri);
e. Hari-hari seperti itu tidak banyak lagi, jadi manfaatkanlah dengan baik;
f. Pastikan ada sedikit uang simpanan sendiri;
g. Pertahankan rumah yang dimiliki;
h. Siapkan segalanya (sebelum dan menjelang ajal) untuk diri sendiri;
i. Meski anak memiliki ekonomi yang baik, tapi itu miliknya. Ketika anak berbakti, itu adalah kualitas yang baik pada dirinya. Jangan menolak bantuannya, tapi tetap harus bergantung pada diri sendiri dengan mengatur kehidupan sendiri;
h. Porsi untuk pelaksanaan beribadah lebih diutamakan.

II. TAHAP KEDUA: Kesehatan Diri 

1. Jagalah kondisi kesehatan sendiri sebaik mungkin, hidup mandiri (bersama pasangan) tanpa mengandalkan orang lain jauh lebih baik;
2. Agar di usia senja tetap sehat, bugar dan bahagia, serta dijauhkan dari segala bencana, maka:

a. Mengatur kehidupan dan mengurus diri;
b. Sadar diri kalau kita benar-benar sudah tua, perlahan-lahan, stamina dan fisik itu akan melemah, reaksi pun akan semakin lemah bahkan kurang terkendali;
c. Saat makan, makanlah dengan perlahan, jangan sampai tersedak;
d. Saat berjalan juga jalanlah perlahan, jangan sampai terjerembab;
e. Jangan ngoyo atau memaksakan diri lagi, jagalah kesehatan diri baik-baik;
f. Jangan lagi mencampuri masalah ini dan itu, mencampuri masalah anak atau terkadang mencampuri masalah generasi ketiga (cucu);
g. Bertahun-tahun sudah mengurus ini dan itu, kini saatnya harus sedikit egois, mengurus diri sendiri dengan baik;
h. Jalanilah segalanya dengan santai, bahagia, dan jangan lupa bantu bersih-bersih pasangan di rumah;
i. Jaga dengan baik kesehatan dengan berolahraga secukupnya;
j. Usahakan waktu hidup sendiri (atau bersama pasangan) dengan melakukan rutinitas sehari-hari. Hidup tanpa bergantung pada orang lain akan jauh lebih baik;
k. Biasakan bersedekah/bederma kepada orang-orang kecil/miskin, jangan menawar ketika membeli barang pada orang kecil;
k. Dalam beribadah kita senantiasa berdoa memohon ampunan, kesehatan dan keselamatan dunia akhirat.

III. TAHAP KETIGA: Faktor Psikologis

1. Generasi usia senja seperti kita ini telah mengalami segala pahit getir hidup, tentunya kita berharap perjalanan terakhir dari hidup kita juga bisa kita hadapi dengan tenang;
2. Ketika kesehatan mulai memburuk dan butuh bantuan, maka kita harus siap dengan hari “H” (ýaitu hari tibanya kematian). Walaupun untuk sebagian besar orang tidak bisa melewati tahapan ini. Apa yang harus dilakukan?

a. Aturlah dengan baik suasana hati penuh kepasrahan menjelang tibanya hari itu;
b. Hidup, tua, sakit dan mati merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan, jadi hadapilah dengan tenang penuh percaya diri;
c. Ini adalah perjalanan hidup terakhir, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan, yang penting persiapan dalam menghadapinya sudah dilakukan secara maksimal;
d. Siapkan jauh-jauh hari sebelumnya, maka kita tidak akan terlalu bersedih;
e. Bersikap optimis bahwa Tuhan akan mengampuni kita, namun juga tetap khawatir dan takut atas azab Tuhan, atas perbuatan kita selama di dunia.

TAHAP KEEMPAT: Mengandalkan diri sendiri

Ketika otak (pikiran) kita masih jernih, dan saat penyakit mulai melilit dan tak tersembuhkan serta kualitas hidup memburuk. Apa yang harus kita perbuat?

1. Berani menghadapi kematian, bulatkan tekad agar keluarga tidak perlu lagi direpotkan dengan berusaha menyelamatkan;
2. Jangan membiarkan kerabat handai taulan melakukan segala upaya yang sia-sia (karena memang sudah waktunya berpulang kepada-Nya - jangan melawan takdir).

a. Ketika sudah tua, siapa yang diandalkan/diharapkan ?*
b. Diri sendiri - diri sendiri dan - tetap diri kita sendiri.*


Berikut ini adalah cuplikan dari fragmen 'Apa yang Harus Dilakukan saat Sudah Tua' – Yeh Chin-Chuan (Sarjana Kesehatan Masyarakat dan juga seorang politisi Taiwan)

Saya selalu berpikir setiap orang tua hingga bisa mencapai hidup di atas 80 tahun, maka: 

1. Tidak perlu membatasi makanannya yang harus serba bening;
2. Tidak perlu menurunkan berat badan;
3. Yang paling penting masih bisa makan (nafsu makan bagus). Makanlah apa yang disukai.
Makanlah makanan yang kita anggap paling lezat, agar bisa menikmati hidup dengan lebih bahagia dan ceria;
4. Membatasi orang tua tidak boleh makan ini dan itu, ini bertentangan dengan sifat alami manusia, dan juga tidak ada dasar ilmiahnya;
5. Sebenarnya, semakin banyak bukti ilmiah, orang tua harus makan lebih baik, dengan mengusahakan sedikit lebih gemuk;
6. Perlu makanan lebih baik, supaya ia memiliki lebih banyak kemampuan untuk melawan penyakit, kemampuan untuk melawan depresi;
7. Saya (Yeh Chin Chuan) mendo’akan setiap orang tua bisa menikmati perjalanan hidup terakhir mereka dengan lebih indah dan mengesankan. Jangan sampai meninggalkan penyesalan yang dibawa sampai ke liang lahat;
8. Ada tambahan, jangan pernah merasa tua, karena apabila merasa tua akan timbul Energi Negatif dalam diri kita yang akan membuat diri kita seolah2 sdh tdk bisa melakukan apa2 lagi.
 
Tetaplah beraktivitas yang bermanfaat bagi diri, keluarga & lingkungan sekitar...
TETAP SEMANGAT, CIPTAKAN BAHAGIA...

Rabu, 10 November 2021

Tasawuf Dalam Pandangan Ibn Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ulama Panutan Salafi

Banyak yang beranggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar, karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani, agama Hindu dan Budha. Padahal ini adalah tuduhan dari orang-orang yang tidak memahami tariqah dan tasawuf.

Ada juga yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri dari dunia untuk beribadah kepada Tuhan di gurun pasir Arabia.

Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan dan di malam hari lampu mereka menjadi penunjuk bagi jalan musafir, dan rahib-rahib ini berhati baik, pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia yang ramai walaupun untuk sementara, berhati baik pemurah dan suka menolong.

Tasawuf dan Tariqah adalah korban yang sering dihujat oleh saudara-saudara seiman. Mereka memandang Tasawuf dan Tariqah sebagai sarang bid’ah, hal-hal yang di buat-buat yang tidak pernah diajarkan dalam Islam atau tidak pernah dilakukan dan diperintahkan Rasul.

Dalil utama yang mereka gunakan adalah hadist Nabi Muhammad SAW yang sangat terkenal dan diriwayatkan oleh banyak imam hadist:

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة. رواه أبو دود والترمذي، وقال: حيث حسن صحيح. (رياض الصالحين/ ج 1، ص. 128)

Artinya: “Hindarilah perkara-perkara yang baru (diada-adakan) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan bid’ah itu sesat”.

Lalu bagaimanakah Pandangan Ibn Taimiyah dengan Ibn al-Qayyim? Berikut ini ulasannya!

Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim adalah sepasang guru dan murid yang mereka dikenal karena pemikiran mereka terhadap aqidah yang bertentangan dengan kebanyakan ulama ahlussunnah yaitu mereka beraqidah musyabbihah.

Namun dalam hal tariqah dan tasawuf keduanya sepakat dengan Ahlussunnah Wal Jamaah. Bahkan keduanya juga mendukung dan mengakui kebenaran tasawuf dan tariqah sebagai ilmu untuk membersihkan jiwa manusia.


Ibn Taymiyah misalnya, menyebut para sufi dengan sebutan ahl ‘ulum al-qulub (pakar-pakar ilmu hati) yang perkataannya paling tepat dan paling baik realisasinya (asyaddu wa ajwadu tahqiqan) serta paling jauh dari bid’ah (ab’adu minal bid’ah).

Kata-kata tersebut Ibn Taimiyah menyebutnya dalam kitabnya yang bernama Majmu’ al-Fatawa. Tentu saja ini sangat berlawananan dengan apa yang diungkapkan oleh Wahabiyah, mereka menyebutkan bahwa tariqah dan tasawuf harus dibasmi sebelum memerangi kaum Yahudi dan Nasrani ini bisa dilihat dalam kitab kaifa nafhamu at-Tauhid.

Dalam kitabnya Amradh al-Qulub wa Syifauha pada halaman 62, ketika berbicara tentang surah al-Kafirun, Ibn Taimiyah berkata: Adapun Qul ya ayyuhal kafirun mengundang tauhid amali iradhi, tauhid praktis yang didasarkan pada kehendak, yaitu keikhlasan beragama semata-mata untuk Allah dengan sengaja dan dikehendaki; dan itulah yang dibicarakan oleh Syaikh-Syaikh tasawuf pada umunya. ” Imam-imam Tasawuf menjadikan Allah satu-satunya yang dicintai dengan cinta yang hakiki, bahkan dengan cinta yang paling sempurna”, Amradh al-Qulub wa Syifauha hal. 68.

Adapun Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, dalam kitabnya Madarij as-Salikin, Juz 1, halaman: 464, beliau mengatakan tentang Abu Yazid Al-Bustami dengan redaksi: “Ini (memelihara dan menjauhkan keinginan dari selain Allah yang Maha Suci) seperti kondisi Abu Yazid al-Bustami semoga Allah merahmatinya mengenai berita tentang dirinya ketika Ia ditanya, “Apa yang engkau inginkan (kehendak)? Ia menjawab, “Aku ingin agar aku tidak ingin yang kedua selain Allah SWT”. Inilah hakikat Tasawuf”.

Ini membuktikan bahwa tidak ada yang menolak ajaran kesufian selain mereka yang memang benar-benar bodoh dan menuduh ulama sufi dengan tuduhan yang bathil.

Dalam kitabnya yang lain Badai al-Fawaid, juz 3 halaman 765 (Makkah al-Mukarramah: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz. 1996), Ibn al-Qayyim al-Jauziyah berkata: “Tasawuf dan (merasa) fakir diri (hanya butuh kepada Allah) berada dalam wilayah hati”. Wallahu ‘alam. (pecihitam.org/Tgk Fadhil, S.Pd, M.Pd.
/Dosen Ma'had UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Selasa, 02 November 2021

Nasihat Emas Imam Syafi'i

Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Qurasyi (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعيّ المطَّلِبيّ القرشيّ‎) atau singkatnya Imam Asy-Syafi’i (Ashkelon, Gaza, Palestina, 150 H/767 M – Fusthat, Mesir, 204 H/819 M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi’i. 

Imam Syafi’i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.

Ada banyak nasihat yang Imam Syafi’i ajarkan, namun ada 14 diantaranya yang kami sampaikan disini :

“Bila kau tak mau merasakan lelahnya belajar, maka kau akan menanggung pahitnya kebodohan” (Imam Syafi’i)

“Jangan cintai orang yg tidak mencintai Allah, kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu” (Imam Syafi’i)

“Barangsiapa yang menginginkan husnul khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia” (Imam Syafi’i)

“Doa disaat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran” (Imam Syafi’i)

“Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat” (Imam Syafi’i)

“Siapa yang menasehatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasehatimu. Siapa yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu” (Imam Syafi’i)

“Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kafan sedang di tenun” (Imam Syafi’i)

“Jadikan akhirat dihatimu, dunia ditanganmu dan kematian dipelupuk matamu” (Imam Syafi’i)

“Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing” (Imam Syafi’i)

“Amalan yang paling berat diamalkan Ada 3 (tiga). 1. Dermawan saat yang dimiliki sedikit. 2. Menghindari maksiat saat sunyi tiada siapa-siapa. 3. Menyampaikan kata-kata yang benar dihadapan orang diharap atau ditakuti” (Imam Syafi’i)

“Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kemeralatannya, sehingga orang lain menyangka bahwa dia berkecukupan karena dia tidak pernah meminta” (Imam Syafi’i)

“Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang lain mengira bahwa ia merasa ridha” (Imam Syafi’i)

“Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengira bahwa ia selalu senang” (Imam Syafi’i)

“Apabila engkau memiliki seorang sahabat yg membantumu dalam ketaatan kepda Allah, maka genggam eratlah ia, jangan engkau lepaskan. Karena mendapatkan seorang sahabat yang baik adalah perkara yang sulit, sedangkan melepaskannya adalah perkara yang mudah” (Imam Syafi’i).

Jumat, 22 Oktober 2021

Bahaya Islamphobia Robohkan Keharmonisan Rusak Citra Islam

(Tulisan ini  dibuat dalam rangka Memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober 2021)


By : Nana Suryana

Sungguh sangat menyedihkan ketika umat muslim diperlakukan sebagai ancaman. Hal ini sesungguhnya menunjukkan betapa sangat minimnya informasi dan pemahaman mengenai budaya, cara hidup, dan ajaran Islam yang sebenarnya. Kekerasan yang dilakukan ekstremis menjadi penyebab anggapan bahwa semua muslim adalah ekstremis. Ironis...sungguh ironis...!!

Menyeruaknya isu Islamophobia memang tak dapat dipisahkan begitu saja dari kisah tragedi WTC di New York pada 11 September 2011. Tragedi ini telah memicu berondongan tuduhan pada umat Islam. Umat Islam tercengang. Bingung, terkesima. Tak tahu apa yang harus diperbuat.

Syahdan, seruan peperangan terhadap Islam yang distigma sebagai kaum teroris itu mulai mendengung. Komunitas umat Islam semakin tersudut karena dipandang sebagai penyebab kekisruhan di Amerika. Sejak 1 Oktober 2002, upaya mendiskresditkan umat Islam itu bahkan sampai pada adanya kecurigaan kepada kaum pendatang muslim di Amerika yang berpotensi sebagai teroris. Alamaak..!!

Tidak sampai disitu. Pasca terjadinya bom Bali 12 Oktober 2002, Pemerintah Australia pun melakukan tindakan serupa. Serangkaian aturan anti-terorisme dikeluarkan. Tindakan penggeledahan dilakukan terhadap beberapa rumah muslim. Tidak terkecuali kepada mahasiswa dan warga negara Indonesia yang bermukim di Australia. Pemerintahan Australia mengira jaringan terorisme Al Qaidah memiliki hubungan erat dengan muslim radikal di Indonesia..

Inggris pun tak mau ketinggalan dengan menunjukkan kecemasannya terhadap ancaman terorisme. Pasca robohnya Menara Kembar di New York itu, kaum muslim yang bermukim di Inggris wajib diwaspadai dan dikait-kaitkan dengan terorisme.

Lalu bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia? Pasca terjadinya ledakan bom Bali, kekhawatiran mulai merasuk masyarakat Indonesia. Penangkapan terhadap beberapa orang yang dicurigai sebagai teroris mulai dilakukan. Sebut saja Amrozi, Ali Imron, dan Imam Samudra. Bahkan pak tua Abu Bakar Baasyir pun tak luput dari pencokokan. Ditengarai merekah lah sebagai biang kekacauan di negeri ini.

Pemilik rumah sewa atau kos-kosan mulai gusar. Terutama terhadap penghuninya yang berjenggot panjang dan bercelana cingkrang. Pemerintah melalui aparat kepolisian Densus-88 Anti teror semakin aktif bergerak menangkapi yang diduga anggota jaringan teroris di Indonesia. Terutama bagi orang-orang yang terindikasi sebagai anggota Jaringan Islamiah dan organisasi ekstrim lainnya.

Berbagai peristiwa seperti itulah yang semakin meresahkan dan mengancam keharmonisan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keharmonisan NKRI pada gilirannya memang menjadi taruhannya.

Muncul pertanyaan. Keharmonisan seperti apa yang diharapkan? Mengapa Islamophobia dianggap sebagai salah satu ancaman dalam mewujudkan kehamonisan berbangsa dan bernegara itu? Bagaimana cara Islam memandang harmonisasi? Bagaimana cara memaknai Islamophobia? Apa bahayanya bagi masyarakat, bangsa dan negara? Bagaimana strategi untuk meredamnya? Pihak-pihak mana saja yang bertanggung jawab untuk meredamnya?

Harmonisasi sebagai kebutuhan

Kita mafhum, keharmonisan pada hakekatnya merupakan harapan setiap individu dan masyarakat, serta kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada satu pun negara pun di dunia yang dalam menjalani kehidupannya dengan kecemasan, kekhawatiran, dan kacau balau. Apalagi jika dikaitkan dengan ancaman terorisme yang dalam aksinya terkadang sangat ekstrim. Tak hanya mengancam jiwa manusia, namun juga bisa meluluh-lantakan sarana dan prasarana.

Bangsa Indonesia terlahir dengan ragam tradisi, bahasa, kebudayaan, ras, etnis, agama dan keyakinan. Keanekaragaman sosial budaya ini tentu bisa bernilai positif sebagai salah satu modal utama bagi bangsa. Namun juga sekaligus menyimpan berbagai tantangannya. Karena ternyata juga mengandung kerawanan-kerawanan yang dapat menimbulkan konflik-konflik kepentingan antar kelompok, antar etnis, antar agama. Bahkan bisa menimbulkan konflik antar wilayah.

Itulah sebabnya mengapa kita membutuhkan harmonisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini.

Secara etimologi keharmonisan berasal dari kata harmonis yang berarti serasi atau selaras. Dari aspek terminologi, keharmonisan bisa bermakna sebagai kondisi yang selaras, tenang atau rukun tanpa adanya permusuhan atau pertentangan. Harmoni dapat diartikan juga sebagai kondisi yang saling membantu dan bersatu. Dengan demikian hubungan sosial, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dapat berlangsung dengan damai, tenang dan tenteram.

Ancaman Islamophobia

Namun demikian untuk mewujudkan kerukunan dan persatuan yang diharapkan bagi seluruh bangsa Indonesia kerap mengalami gangguan. Salah satu penyebabnya masih tersimpan rasa kekhawatiran munculnya gangguan-gangguan radikalisme terhadap agama tertentu, terutama Islam. Kekhawatiran atau ketakutan itu tidak hanya menimpa yang berlainan agama, namun juga terhadap pemeluk agama yang sama. Kondisi yang kita kenal dengan Islamophobia itu efeknya memang sangat mengacam keharmonisan, selain merugikan citra Islam itu sendiri.

Berbagai upaya kriminalisasi dan upaya penekanan yang menyudutkan para tokoh agama atau para ulama merupakan salah satu bukti bahwa Islamophobia memang masih tumbuh subur di Indonesia.

Tindakan dan penilaian seperti itu jelas keliru. Mungkin saja karena kurangnya referensi tentang Islam. Atau bahkan minimnya pengetahuan kesejarahan. Mereka kurang mengetahui betapa besar pengorbanan dan keterlibatan ulama serta umat Islam dalam perjuangan Indonesia.

Menurut Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, bahwa ketidaktahuan terhadap sejarah perjuangan para tokoh Islam perlu diangkat ke permukaan. Peran dan jasa para ulama pada NKRI harus segera diluruskan. Sebab jika dibiarkan akan semakin berbahaya. Akan menjadi semacam bara dalam sekam.

Sejumlah serangan yang terjadi di beberapa negara menjadikan Islam sebagai kambing hitam. Hal ini pun mendapatkan respons dari negara-negara Islam serta ulama-ulama besar. Salah satunya Imam besar yang juga ulama paling senior di Al-Azhar Sheikh Ahmed Al-Tayyeb, yang meminta agar setiap orang berhenti menggambarkan terorisme sebagai Islam.

"Setiap orang harus segera berhenti menggunakan deskripsi itu (terorisme sebagai Islam) karena itu menyakiti perasaan Muslim di seluruh dunia, dan itu adalah deskripsi yang bertentangan dengan kebenaran yang diketahui semua orang," kata Sheikh Ahmed Al-Thayyeb.

Respon serupa disampaikan juga oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang mengajak umat Islam untuk melawan pandangan dunia barat yang menggeneralisasi Islam dengan negatif. Ia menyarankan salah satu cara melawan pandangan negatif itu dengan memperkenalkan ajaran Islam sesungguhnya yang rahmatan lil-alamin. Menurutnya, sumber utama kebencian dunia Barat terhadap Islam adalah ketidaktahuan atau ketidakpahaman terhadap Islam.

Cara pandang yang selalu mengeneralisasi dan negatif, menurut Ma'ruf, harus dilawan. Namun disaat yang sama umat juga perlu introspeksi.

Islamophobia sebagai ketakutan irrasional

Menurut etimologis Islamophobia terdiri dari kata Islam & Phobia. Menurut College Dictionary, phobia merupakan rasa takut yang tidak memiliki referensi, tidak masuk akal atas sebuah objek, tingkah laku, atau pada kejadian tertentu, yang memotivasi individu untuk menghindar atau takut pada situsi tersebut.

Dengan penjelasan ini, Islamophobia dapat diartikan sebagai ketakutan yang irasional, tidak masuk akal atau tidak beralasan terhadap agama Islam sehingga aktivitas yang bernuansa Islami harus dihilangkan.

Ironisnya warga muslim pun acapkali mengalami tindakan intoleransi Mulai dari perkataan kotor hingga tindakan kriminal. Katakanlah sering terjadinya perusakan tempat ibadah warga Muslim, penembakan dengan senjata api, penistaan terhadap ulama, penghinaan terhadap Nabi Muhammad Rasulullah Shallallalhu Alaihi Wasallam, sampai pada penghinaan terhadap Islam-nya sendiri.

Islamophobia di berbagai negara

Islamophobia terjadi di berbagai negara. Namun efeknya sangat berpengaruh terhadap keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sebagaimana dilansir Media Umum Republika, berbagai peristiwa Islamophobia di berbagai negara sebagai berikut:

Di London, Ontario, Kanada empat orang Muslim meninggal karena dengan sengaja ditabrak saat sedang berjalan kaki. Insiden ini mengguncang komunitas di London. Bukan hanya bagi warga Muslim, warga setempat pun tidak menyangka aksi teroris ini terjadi di lingkungan mereka.

Di Las Vegas, seorang pria mengoleskan daging babi asap ke tembok rumah tetangga Muslimnya. Saat ditanya polisi, dia tanpa ragu mengatakan alasan tindakannya karena membenci Muslim.

Di New York, dua wanita dan pria Muslim tiba-tiba dipukul saat sedang berjalan kaki. Muslimah kerap menjadi korban karena mudah diidentifikasi dari jilbabnya.

Di Alberta, Kanada kasus penyerangan terhadap Muslimah juga terjadi. Tanpa alasan, seorang pria, menurut Royal Canadian Mounted Police, mendekati para wanita di St. Albert, kemudian meneriakkan hinaan rasial dan menodongkan pisau. Seringnya perempuan Muslim Kanada menjadi korban serangan Islamofobia kemudian mendorong ratusan warga di Edmonton berunjuk rasa menuntut tindakan melindungi wanita Muslim.

Di Austria dibuatnya peta Islam yang melibatkan 623 organisasi muslim, masjid dan asosiasinya. Serta data pribadi individu yang bertanggung jawab atas sejumlah asosiasi di Austria secara rinci. Peluncuran peta ini berpotensi memicu Islamophobia dan penyerangan terhadap Muslim. Peta ini diskriminatif karena hanya menyasar Muslim. Gereja Katolik Austria bahkan mengkritik peta ini. Karena banyak mendapatkan penolakan dan dianggap kontroversial, peta itu kini tidak bisa lagi diakses.

Insiden-insiden itu menjadi gambaran betapa semakin parahnya Islamophobia. Islamofobia mewujud dalam bentuknya yang paling sederhana, yaitu serangan fisik terhadap kaum Muslim.

Di level tinggi, Islamophobia misalnya dalam bentuk kebijakan pelarangan jilbab di tempat umum yang dianut Prancis. Agak aneh sebenarnya mengingat umat Muslim di Prancis justru terbanyak di Eropa.

Hasil penelitian Kelompok Lintas Partai (CPG) Parlemen Skotlandia mengungkap empat dari lima Muslim di Skotlandia secara langsung mengalami serangan islamophobia. Sebanyak 83 persen responden Muslim mengatakan mengalami islamophobia secara langsung dan paling banyak dialami Muslimah.

Di Jerman, Islamophobia meningkat sejak 2009. Laporan Kejahatan Politik yang disiapkan oleh Kementerian Dalam Negeri Jerman dan Kantor Kriminal Federal mencatat kejahatan Islamophobia pada 2020 meningkat delapan persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Islam pembawa berkah dan keharmonisan


Islam sebagai agama mempunyai misi rahmatan lil âlâmîn. Dalam arti membawa keberanekaragaman sebagai salah satu dimensinya. Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa pluralitas atau taaddudiyah itu sendiri merupakan fitrah dan pemberian dari Allah Subhanu Wata'ala.

Dalam prakteknya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menjadikan faham pluralitas ini sebagai dasar dalam membangun masyarakat Madinah yang kemudian pada dekade terakhir ini menjadi rujukan bagi masyarakat madani.

Bagaimana tidak, latar sosial-budaya masyarakat Madinah saat itu yang sangat plural, penduduknya terbagi ke dalam kelompok-kelompok etnik, ras, dan agama yang berbeda, mampu disatukan oleh Rasulullah saw. dibawa bendera Piagam Madinah.

Melihat proses penyusunannya, Piagam Madinah adalah dokumen politik penting yang dibuat oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai perjanjian antara golongan Muhajirin, Anshar, dan Yahudi serta sekutunya. Dokumen itu mengandung prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan penting yang menjamin hak-hak mereka dan menetapkan kewajiban-kewajiban mereka sebagai dasar bagi kehidupan bersama dalam kehidupan sosial politik.

Oleh karena itu, diakui agama Islam mampu membawa keharmonisan sehingga bangunan masyarakat yang bersatu dari berbagai multi-etnik, multi-agama dan multi-kultural dapat terbangun. Hal Itu tidak lain karena nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika membangun masyarakat tersebut tidak hanya memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan masyarakat Muslim, melainkan juga memperhatikan masyarakat non-Muslim.

Bahaya Islamophobia Terhadap Keharmonisan NKRI

Islamophobia memang tidak dapat dipisahkan dari problema prasangka terhadap orang muslim dan orang yang dipersepsi sebagai muslim. Prasangka anti muslim didasarkan pada sebuah klaim bahwa Islam adalah agama “inferior” dan merupakan ancaman terhadap nilai-nilai yang dominan pada sebuah masyarakat (Abdel-Hady, 2004).

Phobia dan ketakutan terhadap Islam yang terjadi merupakan karakteristik dari pandangan yang tertutup terhadap Islam (closed views), sementara ketidaksetujuan yang logis dan kritik serta apresiasi maupun pernghormatan merupakan pandangan yang terbuka terhadap Islam (open views).

Dari beberapa deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa Islamophobia adalah bentuk ketakutan berupa kecemasan yang dialami seseorang maupun kelompok sosial terhadap Islam dan orang-orang Muslim yang bersumber dari pandangan yang tertutup tentang Islam serta disertai prasangka bahwa Islam sebagai agama yang “inferior” tidak pantas untuk berpengaruh terhadap nilai-nilai yang telah ada di masyarakat.

Solusi Meredam Islamophobia untuk Keharmonisan

Dalam sudut pandang berbeda, bahwa keharmonisan di dunia ini tercermin pada keharmonisan tata alam semesta yang dalam terminologi Al-Qur'an di sebut dengan al-Mizân. Allah Subahanahu Wata'ala sebagai khalik Yang Agung adalah Zat yang Maha Indah dan mencintai segala yang indah. Semua itu dapat diamati pada setiap ciptaanNya.

Di antara keagungan dan keindahan ciptaan tersebut, teramati dalam keharmonisan tatanan alam semesta serta kemajemukan kehidupan yang dijumpai di dalamnya. Semuanya terjamin dalam pemeliharaanNya. Apabila terjadi kerusakan dan terjadi perubahan dari tatanan aslinya, maka semuanya itu disebabkan oleh intervensi dan ulah tangan manusia.

Realitas menunjukkan, bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dengan berbagai agama, etnik, dan kelompok-kelompok sosial yang dimiliki. Heldred Geerts, sebagaimana yang dikutip Khamami Zada secara amat menyakinkan telah menggambarkan kemajemukan bangsa Indonesia, bahwa “Terdapat lebih dari tiga ratus kelompok etnis yang berbeda-beda di Indonesia, masing-masing kelompok mempunyai identitas budayanya sendiri-sendiri, dan lebih dua ratus lima puluh bahasa yang berbeda-beda dipakai. Hampir semua agama besar diwakili.”

Hal ini ditegaskan dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 256: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Menurut Quraish Shihab, bahwa yang dimaksud dengan tidak ada paksaan dalam menganut agama adalah dalam hal menganut akidahnya. Karena itu, jika seseorang telah menetapkan satu akidah, maka dia akan terikat dengan segala aturan dan kewajiban yang harus dilaksanakan. Dan dia akan terancam sanksi bila melanggar ketetapannya.

Dari penjelasan ayat di atas dapat dipahami bahwa Al-Qur'an telah menjamin kebebasan individu untuk memilih agamanya masingmasing tanpa boleh ada seseorang yang menekannya. Kebebasan memilih suatu agama yang dianut merupakan kebebasan manusia yang sedemikian tinggi tingkatannya dalam pandangan AlQur'an.

Dalam upaya menciptakan keharmonisan umat, sikap lapang dada merupakan sikap batin yang perlu dilahirkan dalam diri, dan sikap ini lahir dari rasa kebebasan dan kesabaran. Filosofi dan watak tersimpan berada di balik lapang dada adalah untuk menciptakan keselamatan dan kerukunan antar pemeluk agama hingga tercapai kehidupan yang harmoni.

Untuk itu, dengan meminjam beberapa kaidah ushul, yakni Dar’u al-mafâsid muqaddamun ‘alâ jalbi al-maşâlih, yakni mencegah (menghalangi) kemudharatan, kerusakan, huru hara, lebih diutamakan dari pada meraih kemashlahatan.

Dalam kaitan ini, umat Islam mampu menghidupkan kehidupan yang harmonis di antara sesama bahkan antara umat beragama lainnya. Dalam konteks problematika sosial, kaidah itu berarti lebih baik mencegah konflik, perselisihan dan pertentangan, pertengkaran dan permusuhan daripada secara bersikeras meraih kemanfaatan dan kegunaan. Kedua, kaidah al-dhararu yuzâl yakni kemudharatan harus selalu dihindari. Kaidah ini akan selalu menuntut umat Islam menjalani kehidupannya dalam konteks pribadi dan berbangsa, sehingga kekacauan atau kegiatan yang sifatnya mengancam ketidak harmonisan hubungan, dapat dihindari.

Dengan demikian, beragama bertujuan untuk menciptakan sikap saling menghormati dan menghargai bukan untuk memaksa kehendak. Ini merupakan prinsip dalam beragama, yakni kebebasan memeluk agama, memuliakannya, menghargai kehendaknya, pemikirannya dan perasaannya, serta membiarkannya mengurus urusannya sendiri. Prinsip kebebasan merupakan ciri manusia yang paling spesifik dan asasi Islam mengutamakan kebebsan dan melindungi haknya sebagai manusia. Agama boleh menawarkan jalan kebenaran, tapi tidak boleh merasa paling benar, agama boleh menawarkan kemenangan, tapi tidak boleh cenderung ingin menang sendiri.

Selanjutnya, Al-‘Adâlah (Keadilan). Dalam konsep Islam, merupakan keharusan dalam menetapkan keputusan hukum diantara manusia. Menegakkan keadilan adalah kemestian yang merupakan hukum objektif, tidak tergantung kepada kemauan pribadi manusia.

Menurut Quraish Shihab, terdapat empat macam makna adil, seperti yang dikutip oleh Achmad Abubakar. Pertama, adil dalam arti sama, yaitu adil yang dimaknai secara proporsional dengan tidak melihat bagian-bagian yang harus sama. Adil dalam pengertian ini tidak mengandung makna persamaan mutlak terhadap semua orang secara sempit tanpa memperhatikan adanya perbedaan kemampuan, tugas, dan fungsi seseorang.

Kedua, adil dalam arti seimbang, yakni perimbangan atau dalam keadaan seimbang, tidak pincang. Intinya satu kesatuan yang harus seimbang menuju tujuan yang sama, ukuran yang tepat, persyaratan yang sama, sehingga dapat bertahan sesuai fungsinya. Keadilan dengan makna keseimbangan adalah lawan dari kekacauan atau ketidakserasian. Demikian juga halnya keserasian sosial, harmonisasi kehidupan bermasyarakat, keamanan dan ketertiban bisa terwujud melalui sistem politik yang adil.

Makna ketiga adil, adalah perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak itu kepada pemiliknya. Pengertian inilah yang didefinisikan dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya atau memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat. Lawannya adalah kezaliman, dalam arti pelanggaran terhadap hak-hak pihak lain. Dengan demikian ,menyirami tumbuhan adalah keadilan dan menyirami duri adalah lawannya. Pengertian keadilan seperti ini, melahirkan keadilan sosial.

Keempat, adil yang dinisbahkan kepada Allah swt. dalam artian bahwa kemurahan Allah Subhanahu Wata'ala dalam melimpahkan rahmatNya kepada sesuatu atau seseorang.

Dalam konteks masyarakat harmonis, prinsip keadilan merupakan dasar yang perlu ditegakkan. Prinsip ini memberikan motivasi hidup rukun dan damai diantara warga masyarakat, karena mereka akan hidup tanpa saling curiga mencurigai atau saling hakim menghakimi jika saja prinsip ini dapat terealisasi dengan baik.

Pentingnya Peranan MUI

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, mengungkapkan solusi atas permasalahan yang dihadapi dunia Islam, termasuk Islamophobia bisa dilakukan melalui Wasathiyah Islam.

Menurut Amirsyah di internal umat Islam tengah berusaha mempromosikan Wasathiyah Islam. Secara eksternal, kaitannya dengan saudara kita agama lain, kita ingin menampilkan Islam yang ramah, santun dan bisa menjadi wasit, sehingga memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi dunia Islam, termasuk di berbagai negara.

Ia menyebut konsep wasathiyah Islam ini telah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 143:“Dan yang demikian ini Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian.”

Dari berbagai tafsir yang ada atas ayat tersebut, salah satunya menjelaskan bahwa umat Islam harus mampu menegakkan nilai-nilai keadilan. Menjadi seorang wasit bukanlah perkara mudah. Unsur penting yang harus diperhatikan adalah keadilan yang mampu menjadi penengah dari pemikiran ektrem, baik ekstrim kanan maupun kiri.

Amirsyah Tambunan lantas menyebut tidak ada perintah dalam Alquran yang menyebut mendirikan sebuah negara yang bernama negara Islam. Yang ada, adalah bagaimana bernegara dengan prinsip dasar ajaran Islam. "Kita (Muslim) harus bisa mengambil jalan tengah. Ketika ada ekstrem kanan atau kiri, maka Islam harus bisa memberikan solusi," kata dia.

Pentingnya peranan media

Penguasaan media yang baik dan kemampuan berkomunikasi yang prima menjadi kata kunci dalam membentuk persepsi publik tentang suatu masalah. Hal itu dialami umat Islam di AS dan sejumlah negara Barat lain yang menghadapi apa yang disebut sebagai Islamophobia.
Stigma buruk tentang Islam yang dibangun pihak barat selama ini tidak terlepas dari konstruksi yang dibangun sejak lama di masyarakat barat. Hal itu diperkuat dengan pemberitaan media yang banyak merugikan umat Islam, terutama terkait kekerasan atau peperangan yang terjadi di Timur Tengah. "Kebenaran tidak pernah berubah, tapi cara menyampaikan harus dengan cara yang benar. Menghadapi media perlu kejelian, ini public relations yang baik di AS," kata Dr Imam Shamsi Ali, Lc MA Presiden Nusantara Foundation AS.

Kekuatan yahudi dengan lobinya dan uang bisa menguasai media. Melalui media mereka bisa merubah keadaan yang hitam menjadi putih dan sebaliknya. Peran media dan Islamophobia bukanlah barang baru. Sikap ini akan selalu hadir dalam setiap dakwah yang dilakukan umat islam dimanapun berada. Kebencian pada Islam bagian integral dakwah. Jangan berfikir Islamophobia akan selesai, karena sifatnya naik turun. Islamophobia bagian dari gerakan dakwah Islam dimana ada dakwah disitu ada sikap Islamophobia. Semua perang selalu dikaitkan dengan Islam sebagai agama identik dengan teroris. "Building image yang dilakukan sitematis," kata Imam Shamsi.

Melihat kondisi tersebut peran media menjadi suatu yang strategis dalam membangun persepsi publik. Media adalah kekuatan politik, sehingga mereka yang berkepentingan akan memanfaatkan media. Umat Islam perlu manfaatkan media seoptimal mungkin untuk kepentingan dakwah Islam.

Dengan memiliki media, ada kekuatan untuk melawan Islamophobia. Apablia tidak memiliki media, bisa dilakukan dengan membangun relasi dengan media dan kalangan politik. Media dan sistem poltik ada keterkaitan satu dengan lainnya sehingga bagi Islam perlu untuk menguasai media. "Kita harus bersahabat dengan media sehingga gagasan yang dibangun tentang Islam tidak akan merugikan umat Islam itu sendiri. Adanya pemikiran Islamophobia bisa diatasi atau diluruskan," kata Harmonis.

Media memiliki fungsi untuk menyampaikan informasi, mengedukasi masyarakat, alat kontrol sosial bagi eksekutif, yudikatif dan legislatif dibanyak negara. Peran media yang begitu masif mampu menciptakan satu perspektif tertentu yang membentuk pandangan masyarakat. Apapun yang disajikan media dipastikan akan memberikan pengaruh.

Sekelompok ahli hubungan antar ras atau suku bangsa di Inggris mulai membentuk sebuah komisi khusus dan mempelajari serta menganalisis Islamophobia. Komisi yang meneliti tentang muslim di Inggris dan Islamophobia melaporkan bahwa Islam dipersepsikan sebagai sebuah ancaman, baik di dunia maupun secara khusus di Inggris.

Islam disebut sebagai pengganti kekuatan Nazi maupun komunis yang mengandung gambaran tentang invasi dan infiltrasi. Hal ini mengacu pada ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan berlanjut pada ketakutan serta rasa tidak suka kepada sebagian besar orang-orang Islam. Kebencian dan rasa tidak suka ini berlangsung di beberapa negara barat dan sebagian budaya di beberapa negara.

Dua puluh tahun terakhir ini rasa tidak suka tersebut makin ditampakkan, lebih ekstrim dan lebih berbahaya (Runnymede Trust, 1997). Istilah Islamophobia muncul karena ada fenomena baru yang membutuhkan penamaan. Prasangka anti muslim berkembang begitu cepat pada beberapa tahun terakhir ini sehingga membutuhkan kosa kata baru untuk mengidentifikasikan. Penggunaan istilah baru yaitu Islamophobia tidak akan menimbulkan konflik namun dipercaya akan lebih memainkan peranan dalam usaha untuk mengoreksi persepsi dan membangun hubungan yang lebih baik (Young European Muslims, 2002; Islamophobia dan Strategi Mengatasinya ISSN : 0854 – 7108 Buletin Psikologi, Tahun XII, No. 2, Desember 2004 75).

Mengapa orang benci atau takut kepada komunitas Islam? Sebuah jawaban sederhana yang dapat menjelaskan mengapa orang membenci fihak lain adalah perasaan kalah dan tidak mengetahui bagaimana cara untuk menang. Prasangka sosial akan muncul ketika seseorang berperilaku dan bersikap negatif terhadap seseorang karena keanggotaannya pada kelompok.
Memiliki penduduk mayoritas muslim, fenomena terjadinya Islamophobia menjadi suatu hal yang menarik karena dalam komunitas Islam juga terjadi ketakutan terhadap Islam tersebut. Budaya Indonesia yang relatif condong pada kolektivitas, interdependensi antar individu, serta menjaga keharmonisan, umumnya menghindari konflik yang terbuka. Dengan demikian, konflik yang laten antar kelompok dapat menjadi suatu potensi masalah yang berbahaya, seperti halnya kasus di Ambon dan Poso.

Implikasi lain juga akan muncul pada bidang politik, keamanan, dan kesempatan kerja. Inti kedatangan Islam adalah menyempurnakan pendekatan etik (kasih sayang) dengan pendekatan penegakan hukum atau aturan, sehingga hubungan antar manusia pun ada aturan yang melindungi agar tidak terjadi ketidakadilan. Prasangka atau sikap negatif terhadap Islam muncul karena beberapa sebab. Secara individual ketika anak-anak ditanamkan kebencian atau ketidaksukaan kepada Islam akan menjadi benih munculnya prasangka, dan ini akan menyebabkan individu memiliki perasaan ketakutan akan munculnya Islam sebagai suatu kekuatan.

Dari aspek kognitif, prasangka muncul karena kekeliruan atau ketertutupan informasi tentang Islam. Pandangan seperti ini, yaitu pandangan yang tertutup terhadap Islam, akan memudahkan munculnya fenomena Islamophobia.

Sebongkah harapan

Islamophobia sejatinya pembahasan tentang ketakutan yang irasional terhadap Islam. Keberadaannya harus dijauhi atau disingkirkan. Islamophobia tidak hanya mengkaji masalah anggapan dan prasangka yang muncul akibat tragedi Menara Kembar, tapi lebih dari itu Islamophobia berakar pada masalah paradigma ideologi yang dianut oleh pemerintahan AS, aliansinya di dalam negeri dalam menyebarkan sentimen, isu-isu & tingkah laku Islamophobia.

Oleh karena itu pemahaman mengenai Islam harus terus digencarkan. Caranya dengan membuka diri dan informasi seluas-luasnya. Tunjukkan juga bahwa Islam adalah agama damai. Bahwa Muslim bisa bersosialisasi dan berkontribusi dengan baik di masyarakat. Media pun memainkan peran penting dengan menyajikan berita tanpa bias terhadap Muslim. Inilah tantangan yang dihadapi Muslim yang menjadi minoritas.
Islamofobia yang sedang berkembang saat ini justru semakin kompleks dan semakin dahsyat. Terutama didukung oleh kekuatan yang sangat modern seperti media massa, media sosial, politik dan ekonomi. Islomophobia terjadi memang sebagai akibat masih adanya ketidaktahuan dan ketidafahaman tentang Islam.

Tampaknya, kita harus berbuat dan bertindak lebih gencar, terukur dan elegan. Turut berperan memberikan solusi dalam meredam Islamophobia. Anda siap ?!!///**n425

(Catatan: Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Ustadz Adi Hidayat 2021 dalam rangka Memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober 2021)




SEPULUH ARGUMENTASI BAHWA MALAM KE-27 ADALAH LAILATUL QODAR

Apakah bisa dipastikan tanggal 27 Ramadan adalah lailatul qodar? Untuk memastikan, barangkali lebih berhati-hati jangan. Tetapi bahwa mayori...