Minggu, 04 Oktober 2026

Menakar Idealisme Rocky Gerung Masuk Istana: "Ketika Akal Sehat Berpindah Pagar"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-56)

Narasi Pemicu: Pada 2 Oktober 2026. Sejarah mencatat sebuah paradoks. Rocky Gerung. Pria yang tujuh tahun sebelumnya berjanji. Akan mengkritik Prabowo “12 menit setelah dilantik”. Justru kini berdiri di Istana Negara. Untuk menandatangani berita acara pelantikan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia tidak sendirian. Bersama 25 tokoh lain. Ia masuk ke dalam lingkaran. Yang selama bertahun-tahun ia gugat dari luar pagar. Ketika ditanya. Ia menjawab dengan tenang: “Saya cuma pindah dari luar ke dalam. Sikap dan pandangan saya tetap radical break”. Percayakah anda? Yuk, kita kupas..!

Merusak Iman Politik

Tapi filsafat kekuasaan tidak pernah menerima jawaban sesederhana itu. Kekuasaan. Sebagaimana dikatakan Adi Prayitno. Tak pernah bercerita. Tak perlu dimusuhi. Ia datang begitu saja. Tapi bisa ‘merusak iman politik’ semua orang.

Pertanyaannya bukan apakah Rocky masih bisa berkata kritis. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi pada akal sehat ketika ia berpindah pagar? Apakah kritik tetap kritik? Ketika ia disampaikan dari dalam kursi yang empuk?

Sejarah pemikiran politik mengajarkan satu hukum besi. Jarak terhadap kekuasaan adalah sumber kebebasan. Tetapi kedekatan dengan kekuasaan adalah ujian terhadap kebebasan itu sendiri. 

Di ruang diskusi. Di kampus. Di warung kopi. Seseorang bisa berbicara tentang keadilan. Secara utuh dan tanpa ampun. Ia bisa mengatakan bahwa rakyat harus menjadi pusat kebijakan. Bahwa kekuasaan harus dikontrol. 

Tapi pemerintahan tidak bekerja dengan gagasan semata. Ia bekerja dengan regulasi. Anggaran. Kompromi. Dan kepentingan yang saling bertabrakan. Idealisme yang steril dari kepentingan akan berhadapan dengan medan yang jauh lebih rumit. Ketika ia masuk ke dalam ruang pengambilan keputusan.

Rocky membela diri dengan argumen yang secara filosofis menarik. Ia membedakan antara mengkritik dan bersikap kritis. Menurutnya, Wantimpres justru harus bersikap kritis terhadap kebijakan. Bukan sekadar mengkritik. 

Ia mengibaratkan dewan ini seperti oversight committee. Yang mengawasi arah kebijakan. Agar sesuai janji kampanye Presiden. Secara etis, argumen ini masuk akal. Tapi ada jurang antara argumen etis dan realitas politik.

Gigin Praginanto menyebut idealisme Rocky sebagai komoditas yang diperjualbelikan untuk masuk ke lingkaran istana. Tudingan ini mungkin terlalu keras. Tapi ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam. 

Dalam politik. Niat tidak pernah menjadi bukti. Yang menjadi bukti adalah tindakan. Dan tindakan pertama Rocky adalah menerima jabatan dari orang yang pernah ia janjikan. Akan ia kritik dalam hitungan menit. 

Jejak digital itu, kata Kompas, kini benar-benar dicatat publik. Bukan untuk menagih janji. Melainkan untuk bertanya. Kemana kritik itu pergi?”.

Pertanyaan itu filosofis sekaligus politis. Dalam tradisi filsafat politik. Ada perbedaan mendasar antara intelektual organik. Dan intelektual istana. Intelektual organik berbicara dari luar. Dari ruang yang memungkinkan ia mengambil jarak.

Intelektual istana berbicara dari dalam. Dari ruang yang menuntut loyalitas. Rocky mungkin percaya bahwa ia bisa menjadi yang pertama tanpa menjadi yang kedua. Tapi kekuasaan tidak bekerja dengan cara itu. Kekuasaan selalu menuntut harga. Dan harga pertama adalah bahasa.

Kini Menjadi Pembela

Bahasa Rocky telah berubah. Dulu ia menyebut pembuat hoaks terbaik adalah penguasa. Dulu ia menyerukan radical break terhadap struktur kabinet. 

Kini ia membela program Makan Bergizi Gratis. Dan menyebut persetujuannya terhadap kebijakan pemerintah. Sebagai bagian dari menjaga kewarasan berpikir.

Warganet yang dulu mengidolakannya. Kini menuduhnya menggadaikan idealisme. Salah satu komentar sinis berbunyi. Sangat disayangkan. Ujung-ujungnya jabatan yang bicara.

Apakah ini pengkhianatan? Ataukah ini kedewasaan? Jawabannya tergantung pada siapa yang menilai. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibantah. Akal sehat yang dulu berada di luar pagar kini berada di dalam ruang yang ia kritik. 

Dan ruang itu memiliki aturannya sendiri. Seperti kata Adi Prayitno. Tak perlu mengutip istilah-istilah filosofis. Jika hanya sekedar ingin ikut nikmati kekuasaan.

Bahayanya Perubahan Tak Sadar

Filsafat mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa berubah. Tapi filsafat juga mengajarkan. Bahwa perubahan yang paling berbahaya adalah perubahan yang tidak disadari. 

Rocky mungkin masih merasa sama. Tapi kekuasaan memiliki cara halus untuk mengubah manusia tanpa mereka sadari. Ia mengubah lawan bicara. Mengubah audiens. Mengubah apa yang dianggap layak untuk diperjuangkan.

Maka pertanyaan yang tersisa. Bukanlah apakah Rocky masih kritis. Melainkan, kritik untuk siapa? 

Jika kritik itu hanya sampai ke telinga Presiden. Ia adalah pertimbangan. Jika kritik itu sampai ke telinga publik dan mengubah kebijakan. Ia adalah idealisme. 

Tapi jika kritik itu berhenti di ruang tertutup. Dan tidak pernah terlihat oleh rakyat. Maka ia telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin tidak lagi layak disebut akal sehat.

Kita menunggu. Bukan dengan sinisme. Tetapi dengan kewaspadaan. Sebab idealisme tidak diuji oleh kata-kata. Melainkan oleh apa yang berani ia korbankan. Ketika kursi sudah diduduki.

Kursi memang bisa merubah akal sehat. Menjadi akal yang diragukan kesehatannya. Maaf...!!

Wantimpres: "Nasihat Mahal untuk Presiden, Harapan Kosong bagi Rakyat"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-56)

Pengantar: Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) kembali menjadi sorotan. Setelah Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggotanya pada 2 Oktober 2026. Jumlah ini hampir tiga kali lipat dari era Jokowi dan SBY. Yang hanya sembilan orang. Pertanyaan mendasarnya bukan sekadar berapa banyak. Melainkan apa kontribusi nyata lembaga ini bagi rakyat? Atau jangan-jangan. Ia hanya menjadi tempat parkir elite politik. Yang digaji mahal dengan hasil yang tak bisa diukur? Atau jangan-jangan hanya memberikan harapan kosong saja bagi rakyat.

Tugas Mulia, Kosong di Lapangan


Pasal 16 UUD 1945 mengamanatkan Wantimpres untuk memberikan nasihat kepada Presiden. Lembaga ini dibentuk berdasarkan UU No. 19 Tahun 2006. Fungsinya memberikan pertimbangan. Baik diminta maupun tidak. Secara perorangan maupun kolektif. 

Rocky Gerung, anggota baru Wantimpres, menegaskan bahwa tugasnya adalah kontemplasi. Dan membedah persepsi publik terhadap kekuasaan. Bukan urusan teknis birokrasi. Ia bahkan menyebut Wantimpres sebagai oversight committee. Yang mengawasi arah kebijakan agar selaras dengan visi Presiden.

Kedengarannya indah. Namun, jika kita bertanya kepada rakyat kecil. Pedagang pasar yang bergelut dengan harga cabai. Nelayan yang kesulitan BBM. Atau buruh yang terkena PHK. Apa yang mereka rasakan dari keberadaan Wantimpres selama ini? Jawabannya. Tidak ada. 

Survei Rumah Politik pada Maret 2025 menunjukkan 31,22% responden menilai Wantimpres tidak mendukung pemerintahan. Sementara 23,13% merasa belum mendapatkan manfaat apa pun dari peran lembaga ini.

Gaji Rp76,5 Juta, Kerja Ringan, Manfaat Tak Terukur

Berdasarkan Perpres No. 15 Tahun 2026, setiap anggota Wantimpres menerima hak keuangan Rp76,5 juta per bulan. Lengkap dengan fasilitas setingkat menteri.

Dengan 26 anggota. Negara mengeluarkan Rp1,99 miliar per bulan. Atau Rp23,87 miliar per tahun. Hanya untuk hak keuangan. Belum termasuk fasilitas operasional lainnya.

Angka ini mungkin terlihat kecil dibanding total APBN. Namun, seperti yang diingatkan pakar kebijakan publik Achmad Nur Hidayat, efisiensi tidak diukur dari besarnya anggaran terhadap total APBN. Melainkan dari nilai manfaatnya (value for money).

"Ketika kementerian dan pemerintah daerah diminta melakukan efisiensi. Standar yang sama harus berlaku pada lembaga yang berada paling dekat dengan Presiden," tegasnya.

Pertanyaan kritisnya. Manfaat apa yang dibeli negara dengan tambahan 17 kursi Wantimpres? Jika era Jokowi dengan 9 anggota saja dinilai tidak signifikan. Apa logikanya menambah hampir tiga kali lipat? 

Ahmad Tholabi Kharlie dari UIN Syarif Hidayatullah menegaskan, "Ukuran keberhasilan Wantimpres bukan terletak pada seberapa dekat anggotanya dengan pusat kekuasaan. Melainkan pada seberapa bermakna nasihat yang diberikan bagi kemajuan bangsa".

Beban Rakyat yang Sesungguhnya

Sementara 26 orang menikmati gaji Rp76,5 juta per bulan. Jutaan rakyat Indonesia masih berjuang untuk makan tiga kali sehari. Inflasi pangan yang mencapai 5,03% pada September 2026. Menghantam daya beli masyarakat bawah. PHK terus terjadi. Nilai rupiah tertekan. IHSG anjlok parah. Dan harga kebutuhan pokok melambung. 

Ketika negara diminta berhemat. Komnas HAM bahkan mengalami pemotongan anggaran hingga 90%. Mengapa Wantimpres justru digemukkan?

Ekonom Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina melihat penyusunan Wantimpres baru ini lebih menunjukkan agenda konsolidasi politik. Dibandingkan perbaikan kualitas nasihat kepada Presiden. 

"Kita tidak bisa terlalu berharap banyak akan perbaikan kualitas advise kepada presiden," ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa jumlah anggota yang besar. Justru berpotensi membuat koordinasi semakin sulit dan kinerja menurun.

Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya, menambahkan bahwa anggota yang terlalu banyak. Berpotensi membuat kritik dan nasihat dari masyarakat semakin sulit masuk ke Presiden. Jika benar demikian. Maka Wantimpres bukan hanya tidak efektif. Tetapi juga kontraproduktif bagi demokrasi.

Independensi yang Dipertanyakan

Kehadiran Rocky Gerung. Akademisi yang dikenal kritis. Dianggap sebagai upaya menyeimbangkan dominasi kepentingan politik praktis. 

Namun, komposisi Wantimpres yang diisi konglomerat seperti Chairul Tanjung. Politisi senior seperti Bambang Soesatyo. Dan tokoh agama dari ormas besar. Menghadirkan potensi benturan kepentingan (conflict of interest) yang nyata. 

Tanpa mekanisme blind trust yang tegas. Dan larangan rangkap jabatan yang ketat. Wantimpres berisiko berubah dari kompas kebijakan. Menjadi panggung kompromi bagi berbagai kepentingan korporasi dan politik.

Pertanyaan yang Menuntut Jawaban

UUD 1945 memang mengamanatkan Wantimpres. Tetapi amanat konstitusi tidak berarti lembaga ini boleh menjadi beban negara tanpa manfaat yang jelas. 

Rakyat berhak bertanya. Apa nasihat Wantimpres yang telah mengubah kebijakan secara signifikan demi kesejahteraan rakyat? Jika tidak ada. Mengapa lembaga ini tetap dipertahankan. Apalagi diperbesar. Bahkan harus dengan biaya yang tidak kecil?

Lembaga penasihat Presiden seharusnya diisi oleh mereka yang memiliki keahlian strategis. Bukan sekadar figur senior yang perlu diparkir. Jika Wantimpres tidak mampu membuktikan manfaatnya bagi rakyat. Maka ia bukan lagi kompas kebijakan. Ia hanyalah kemewahan yang dibiayai rakyat untuk kepentingan elite.


Persoalannya. Jika tak ada kontribusinya bagi negara dan rakyat. Apa gak malu menerima gaji buta Rp 76,5 juta per bulan?

Serial Tasawuf-11: "Zuhud, Melepaskan Dunia dari Genggaman Hati"


Pengantar: Bulan berganti. Dan musim kemarau datang membawa udara yang kering. Debu berterbangan di halaman zawiyah. Dan sumur di belakangnya mulai mengering. Para salik datang dengan langkah lebih berat. Bukan karena perjalanan. Tetapi karena kehidupan dunia yang semakin menekan. Harga-harga naik. Pekerjaan sulit didapat. Dan godaan untuk mencari jalan pintas semakin kuat.

Mengapa Selalu Merasa Kurang?

Zaid datang lebih awal malam itu. Ia duduk di serambi zawiyah. Memandangi langit yang gelap tanpa bintang. Di tangannya tergenggam lembaran rupiah. Upah hariannya yang semakin menipis. 

Ia telah bersabar. Telah bertaubat. Tetapi kini ia menghadapi pertanyaan yang lebih dalam. Sampai kapan ia harus hidup dalam kekurangan. Sementara orang-orang di sekitarnya hidup dalam kemewahan?

Mursyid keluar dari dalam zawiyah dengan sebatang lilin di tangan. Ia duduk di samping Zaid tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat keduanya terdiam. Menikmati kesunyian malam. Lalu Mursyid berbicara dengan suara yang lembut. Seperti angin yang menyentuh daun.

"Engkau sedang memikirkan dunia, anakku."

Zaid mengangguk. "Wahai Mursyid, aku telah bertaubat. Aku telah bersabar. Tetapi mengapa dunia terasa begitu berat? Mengapa aku selalu merasa kurang? Mengapa aku selalu ingin memiliki lebih?"

Mursyid tersenyum. "Karena engkau masih menggenggam dunia, Zaid. Dan engkau belum belajar melepaskannya."

Kisah Seorang Musafir dan Dua Karung

Setelah para salik berkumpul, Mursyid memulai kisahnya malam itu.
"Ada seorang musafir yang hendak menempuh perjalanan panjang ke sebuah kota yang jauh. Ia membawa dua karung besar di punggungnya. Karung pertama berisi bekal yang cukup untuk perjalanan. Roti, air, dan obat-obatan. Karung kedua berisi batu-batu yang ia pungut di sepanjang jalan. Karena ia berpikir mungkin suatu hari batu-batu itu berguna."

"Setiap langkah terasa berat. Punggungnya bungkuk. Kakinya lecet. Dan napasnya tersengal. Orang-orang menawarkan bantuan. Tetapi ia menolak. "Ini milikku, katanya. Aku tidak bisa melepaskannya."

"Ketika ia hampir sampai di kota tujuan. Ia bertemu seorang bijak. Orang bijak itu berkata: 'Wahai musafir, mengapa engkau membawa batu-batu itu? Kota yang engkau tuju tidak membutuhkan batu. Yang engkau butuhkan hanyalah bekal untuk sampai ke sana.'"

"Musafir itu tercengang. Ia membuka karung kedua dan menyadari bahwa semua batu itu tidak berguna. Dengan berat hati. Ia melemparkan batu-batu itu satu per satu. Dan ketika karung itu kosong. Ia merasakan punggungnya ringan. Langkahnya cepat. Dan ia sampai di kota tujuan dengan selamat."

Mursyid memandang para salik. "Dunia adalah batu-batu itu. Engkau boleh membawanya sebagai bekal. Tetapi jangan membawa batu sebagai beban. Itulah zuhud."

Hakikat Zuhud yang Sesungguhnya

Seorang salik bernama Ali mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah zuhud berarti kami harus meninggalkan dunia sepenuhnya? Haruskah kami menjadi fakir dan tidak memiliki apa-apa?"

Mursyid menggeleng. "Tidak, anakku. Itu adalah kesalahpahaman yang sering terjadi."

"Imam al-Ghazali. Semoga Allah merahmatinya. Mengajarkan bahwa zuhud bukanlah tidak memiliki dunia. Tetapi dunia tidak memiliki engkau. Zuhud bukanlah kemiskinan yang dipaksakan. Melainkan kebebasan hati dari perbudakan dunia."

"Perhatikanlah dua orang kaya. Yang pertama memiliki harta yang banyak. Tetapi hatinya terikat pada hartanya. Setiap kali hartanya berkurang, ia gelisah. Setiap kali ada yang meminta, ia kikir. Ia adalah hamba dari hartanya. Meskipun ia memiliki segalanya."

"Yang kedua juga memiliki harta yang banyak. Tetapi hatinya bebas. Ia menggunakan hartanya sebagai alat untuk beribadah. Untuk membantu orang lain. Untuk menegakkan keadilan. Ketika hartanya hilang. Ia tidak gelisah. Karena ia tahu bahwa yang ia cintai bukanlah hartanya. Melainkan Allah. Ia adalah tuan atas hartanya. Meskipun ia memiliki segalanya.

Mursyid menatap Ali. "Yang pertama bukan zuhud. Meskipun ia kaya tapi pada hakekatnya ia miskin. Namun orang yang kedua itulah orang zuhud. Jadi, z
uhud bukan terletak pada tangan. Tetapi pada hati.

Tiga Tingkatan Zuhud

Mursyid menuangkan air ke cangkir-cangkir kecil dan membagikannya. Malam itu, ia membahas tingkatan-tingkatan zuhud.

"Para ulama membagi zuhud menjadi tiga tingkatan."

"Tingkatan pertama adalah zuhudnya orang awam. Yaitu meninggalkan dunia karena ia haram. Atau karena ia takut akan azab Allah. Orang pada tingkatan ini menjauhi harta haram. Menjauhi kemewahan yang berlebihan. Dan memilih hidup sederhana. Tetapi hatinya masih cenderung pada dunia. Ia hanya menahan diri karena takut."

"Tingkatan kedua adalah zuhudnya orang pilihan. Yaitu meninggalkan dunia karena ia tahu bahwa dunia itu fana. Dan akhirat itu kekal. Orang pada tingkatan ini tidak lagi tergoda oleh kemewahan. Karena ia telah melihat hakikat dunia yang sesungguhnya. Seperti fatamorgana di gurun pasir yang tampak air. Tetapi tidak ada airnya."

"Tingkatan ketiga adalah zuhudnya para kekasih Allah. Yaitu meninggalkan dunia bukan karena takut neraka. Bukan karena mengharap surga. Tetapi karena cintanya kepada Allah. Orang pada tingkatan ini tidak memikirkan dunia sama sekali. Karena hatinya telah dipenuhi oleh Allah. Ia melihat dunia hanya sebagai tempat singgah sementara. Dan Allah sebagai tujuan akhir."

Mursyid tersenyum. "Engkau boleh memilih tingkatan mana yang engkau kejar. Tetapi ketahuilah. Tingkatan tertinggi hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang dunia."

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu. Serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak-anak. (Keadaannya) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning. Kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras. Dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadid: 20)

"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "Allah menyebut dunia sebagai permainan. Senda gurau. Perhiasan. Dan kesenangan yang menipu. Mengapa? Karena dunia tidak pernah kekal. Apa yang engkau kumpulkan hari ini akan hilang esok hari. Apa yang engkau banggakan hari ini akan menjadi debu esok hari."

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Al-An'am: 32)

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna. Dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat. Kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia. Dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16)

Mursyid menatap para salik. "Jika engkau mengejar dunia. Engkau akan mendapatkannya. Tetapi engkau akan kehilangan akhirat. Dan jika engkau mengejar akhirat. Engkau akan mendapatkannya. Dan Allah akan mencukupkan duniamu."

"Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan kehidupan dunia ini. Seperti air yang Kami turunkan dari langit. Maka menyuburkan tanaman di bumi. Kemudian tanaman itu menjadi kering dan diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Kahfi: 45)

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

"Rasulullah SAW bersabda:

'Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.' (HR. Muslim)

"Bayangkanlah," kata Mursyid. "Seorang mukmin hidup di dunia seperti orang yang dipenjara. Ia menahan diri. Ia bersabar. Ia tidak menuruti semua keinginannya.

Tetapi ketika ia mati. Ia keluar dari penjara itu menuju surga yang luas. Sedangkan orang kafir hidup di dunia seperti di surga. Ia menuruti semua keinginannya. Ia bersenang-senang tanpa batas. Tetapi ketika ia mati. Ia masuk ke neraka yang sempit."

'Barangsiapa yang cintanya kepada dunia. Maka akhiratnya akan rusak. Dan barangsiapa yang cintanya kepada akhirat. Maka dunianya akan rusak. Maka utamakanlah yang kekal daripada yang fana.' (HR. Ahmad)

'Hai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu.' (Fatir: 5)

Mursyid juga mengisahkan sabda Nabi:

'Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Allah tidak akan memberikan minuman kepada orang kafir walau seteguk air.' (HR. Tirmidzi)

"Jika dunia ini begitu tidak berharganya di sisi Allah," ujar Mursyid. "Mengapa engkau begitu memperjuangkannya? Mengapa engkau menangis karena kehilangan dunia. Tetapi tidak menangis karena kehilangan akhirat?"

Kisah Nabi Sulaiman dan Kekayaannya

Mursyid kemudian bercerita tentang Nabi Sulaiman AS. Nabi yang diberi kekayaan yang tak terbayangkan.

"Nabi Sulaiman AS adalah nabi yang paling kaya. Allah memberinya kerajaan yang tidak diberikan kepada siapa pun setelahnya. Angin tunduk kepadanya. Jin bekerja untuknya. Dan burung-burung berbicara dengannya. Ia memiliki istana yang megah. Harta yang melimpah. Dan kekuasaan yang luas."

"Tetapi ketahuilah. Sulaiman tidak pernah diperbudak oleh kekayaannya. Ia menggunakan kekayaannya untuk menegakkan agama Allah. Untuk membantu orang-orang lemah. Dan untuk bersyukur kepada Tuhannya. Ketika ia melihat singgasana Ratu Saba' dibawa kepadanya dalam sekejap. I
a tdak sombong. Ia justru berkata: 'Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku. Apakah aku bersyukur atau mengingkari.' (An-Naml: 40)"

Mursyid menatap para salik. "Sulaiman kaya, tetapi hatinya zuhud. Ia memiliki dunia. Tetapi dunia tidak memilikinya. Inilah teladan zuhud yang sejati. Bukan meninggalkan dunia. Tetapi menggunakan dunia untuk akhirat."

Kisah Nabi Isa dan Dunia

Mursyid juga mengisahkan tentang Nabi Isa AS.

"Nabi Isa AS pernah berkata kepada para pengikutnya: 'Dunia ini adalah jembatan. Maka lewatilah jembatan itu. Dan janganlah engkau membangun rumah di atasnya.'"

"Beliau juga pernah berkata: 'Barangsiapa yang mengumpulkan harta di dunia. Maka ia akan dihisab di akhirat. Dan barangsiapa yang tidak mengumpulkannya. Maka ia tidak akan dihisab.'"

Mursyid menjelaskan, "Maksudnya bukanlah bahwa memiliki harta itu haram. Tetapi jika harta itu menjadi tujuan hidupmu. Maka engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap sen yang engkau kumpulkan. 

Dan jika harta itu hanya alat untuk beribadah. Maka engkau tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang engkau gunakan untuk kebaikan."

Zuhud di Zaman Kita

Seorang salik bernama Hasan bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana kami bisa berzuhud di zaman ini? Zaman ketika semua orang berlomba-lomba mengumpulkan harta. Ketika iklan-iklan membujuk kami untuk membeli lebih banyak. Ketika media sosial membuat kami iri pada kehidupan orang lain?"

Mursyid menghela napas. "Pertanyaan yang sangat baik, Hasan. Zuhud di zaman ini memang lebih sulit. Tetapi juga lebih mulia."

"Pertama, sadarilah bahwa engkau tidak butuh sebanyak yang engkau pikir. Sebagian besar dari apa yang engkau beli adalah keinginan. Bukan kebutuhan. Belajarlah membedakan antara 'aku butuh' dan 'aku ingin'."

"Kedua, jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Setiap kali engkau melihat seseorang yang lebih kaya. Ingatlah bahwa ada orang yang lebih miskin darimu. Bersyukurlah dengan apa yang engkau miliki. Dan fokuslah pada akhirat."

"Ketiga, gunakan hartamu untuk kebaikan. Sedekah, zakat, membantu orang lain. Ketika engkau menggunakan hartamu untuk Allah. Engkau akan merasakan kebebasan yang tidak diberikan oleh harta itu sendiri."

"Keempat, ingatlah kematian. Tidak ada yang lebih menghancurkan cinta dunia selain mengingat kematian. Ketika engkau sadar bahwa engkau akan mati dan meninggalkan segalanya. Engkau akan lebih mudah melepaskan dunia."

Zuhud adalah Kemerdekaan

Malam semakin larut. Angin malam bertiup sejuk. Membawa aroma tanah yang baru saja terkena hujan. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan sarungnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya, "zuhud bukanlah kemiskinan. Zuhud adalah kemerdekaan. Orang yang zuhud adalah orang yang merdeka. Ia tidak diperbudak oleh harta. Tidak diperbudak oleh jabatan. Tidak diperbudak oleh pujian manusia. Ia hanya diperbudak oleh Allah. Dan perbudakan kepada Allah adalah kemerdekaan yang sejati."

"Ingatlah pesan ini: Dunia adalah bayangan. Jika engkau mengejarnya. Ia akan lari. Jika engkau membelakanginya. Ia akan mengikutimu. "

"Dan ketahuilah, orang yang zuhud tidak kehilangan dunia. Ia justru mendapatkan dunia, dalam arti yang sebenarnya. Karena ia menggunakan dunia sebagai alat. Bukan sebagai tujuan. Ia menikmati dunia tanpa terikat padanya. Ia kaya tanpa diperbudak oleh kekayaannya."

Mursyid menutup majelis dengan doa

"Ya Allah, jadikanlah dunia ini di tangan kami, bukan di hati kami. Karuniakanlah kepada kami zuhud yang sejati. Zuhud yang membuat kami mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu. Dan jadikanlah akhirat sebagai tujuan kami. Dunia sebagai bekal kami. Dan kematian sebagai pengingat kami. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Para salik mengaminkan dengan hati yang lebih ringan. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Kekurangan yang ia rasakan bukanlah penderitaan. Melainkan kesempatan untuk membebaskan hatinya dari perbudakan dunia. Ia bukan kehilangan sesuatu. Ia sedang mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Kemerdekaan jiwa.

Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang zuhud. Tetapi dengan tekad baru untuk hidup merdeka. Merdeka dari dunia. Dan merdeka untuk Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-12, tentang Tawakal)

Sabtu, 03 Oktober 2026

Di Balik Mundurnya Dirjen PAS: "Ketika Tanggung Jawab Moral Menjadi Alibi Kejahatan Sistemik"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-55)

Pengantar: Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi akhirnya meletakkan jabatannya pada 1 Oktober 2026. Empat hari setelah ia dengan lantang menolak mundur di hadapan Komisi XIII DPR. Keputusan itu dikemas rapi oleh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.  Sebagai "bentuk pertanggungjawaban moral." Atas terbongkarnya klaster mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong. Namun, di balik narasi mulia itu. Tersimpan pertanyaan yang jauh lebih menghunjam. Apakah ini sungguh pertanggungjawaban? Atau justru kamuflase terakhir dari sebuah kejahatan sistemik yang jauh lebih dalam?

Akibat Adanya Tekanan?

Mundurnya Mashudi mungkin tidak lahir dari kesadaran. Melainkan dari tekanan. Pada rapat dengar pendapat dengan Komisi XIII DPR, 28 September 2026, Mashudi ditantang langsung oleh anggota dewan dari Fraksi PKS, Yanuar Arif Wibowo. 
"Ini Pak Dirjen masih sanggup enggak, Pak, ngurus ini nih, Pak?" Jawabannya hanya satu kata: "Masih".

Sikap itu bukan keberanian. Melainkan kesombongan birokratik. Ia merasa masih bisa menutupi apa yang tidak ingin dilihat publik. 

Namun, ketika publik dan parlemen bergerak. Ketika Ombudsman RI berhasil menyusup ke area terlarang. Melihat langsung rumah-rumah mewah ber-AC. Kolam. Simulator golf. Hingga mobil Alphard dan Fortuner yang terparkir di dalam lapas. Barangkali pilihan mundur menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan muka rezim.

Bukan Sekadar Kelalaian Teknis

Yang jauh lebih mengerikan adalah apa yang tersembunyi di balik pintu belakang klaster itu. Ombudsman menemukan dua akses keluar di bagian belakang rumah. Rumah petak yang tidak terkunci. Yang tembus langsung ke perkampungan warga. Ini bukan sekadar kelalaian teknis. 

Ini adalah infrastruktur pelarian. Yang memungkinkan narapidana. Termasuk pembesar kasus besar. Keluar-masuk lapas tanpa pengawasan. Seolah lapas adalah hotel transit yang bisa dibooking kapan saja. 

Pintu itu sudah ada selama bertahun-tahun. Ironisnya, tanpa terdeteksi oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang dipimpin Mashudi sejak Januari 2025.

Maka siapa sebenarnya yang menjaga lapas? Jika Mashudi tidak tahu. Maka ia adalah pemimpin yang gagal. Jika tahu, maka ia adalah bagian dari jaringan. Tidak ada ruang netral dalam kejahatan sistemik.

Jika Bersalah Tak Menghapus Pidana

Mundurnya Mashudi bukan akhir dari akuntabilitas. Melainkan awal dari pembebasan. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra dengan tenang menyatakan bahwa tanggung jawab etik mendahului tanggung jawab hukum. Pengunduran diri tidak menghapus potensi pidana jika terbukti bersalah. 

Pernyataan itu terdengar bijak. Tetapi sekaligus mematikan. Yusril sendiri mengakui bahwa aparat penegak hukum tetap bisa mengusut Mashudi. Jika ditemukan bukti keterlibatan. 

Namun, siapa yang akan mengusut? Mabes Polri yang kini dipimpin jenderal dengan latar belakang serupa? Kejaksaan yang selama ini lebih sibuk mengejar kambing hitam kecil sementara pemain besar berjalan bebas? Atau Komisi Pemberantasan Korupsi yang kini sedang di ujung tanduk reformasi dan kredibilitas?

Publik harus jeli melihat ritme waktu yang mencurigakan. Ombudsman menemukan klaster mewah pada sidak 23 September 2026. Mashudi menolak mundur pada 28 September. 

Rapuhnya Struktur Pengawasan

Ia kemudian mengundurkan diri pada 1 Oktober. Dalam rentang delapan hari. Ia sempat menolak. Lalu tiba-tiba sadar. Apa yang terjadi di antara dua tanggal itu?

Apakah ada pertemuan tertutup dengan atasan? Dengan pihak-pihak yang berkepentingan? Atau dengan jaringan yang selama ini membiayai "klaster" itu?

Apakah surat pengunduran diri itu ditulis dengan tangan sendiri? Atau disodorkan oleh seseorang yang lebih kuat? Ini bukan spekulasi kosong. Ini adalah pertanyaan rasional yang harus diajukan. Setiap kali seorang pejabat publik yang tidak menunjukkan penyesalan tiba-tiba mundur. Apalagi tanpa penjelasan transparan.

Mundurnya Mashudi memperlihatkan betapa rapuhnya struktur pengawasan di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Mashudi adalah purnawirawan Polri berpangkat Inspektur Jenderal. Beliau enghabiskan kariernya di bidang reserse dan pengawasan. 

Lapas Cibinong Sebagai Pembuka Tabir

Ia tahu persis apa yang disebut penyelidikan. Pengawasan. Dan intelijen. Jika seseorang dengan latar belakang seperti itu tidak mampu mendeteksi klaster mewah di lapas. Yang ia pimpin selama hampir dua tahun. Maka ada dua kemungkinan. Ia tidak kompeten. Yang tidak mungkin mengingat rekam jejaknya. Atau ia sengaja tidak ingin tahu. Dan sengaja tidak ingin tahu adalah bentuk lain dari keterlibatan aktif.

Yang paling mengkhawatirkan dari semua ini adalah pesan yang dikirim kepada masyarakat. Ketika seorang pejabat tinggi mundur karena skandal. Ia bukan sedang menanggung konsekuensi. Ia sedang mengambil jalan keluar paling aman. Meninggalkan jabatan. Pulang ke rumah. Dan menunggu publik lupa. 

Tidak ada hukuman pidana. Tidak ada aset yang disita. Tidak ada keluarga yang diintimidasi. Di negara di mana narapidana biasa tetap membusuk di sel sesak.

Sementara narapidana kaya menikmati sofa empuk dan minuman keras dalam kulkas. Pengunduran diri seorang pejabat adalah kemewahan yang tidak pernah dimiliki oleh rakyat kecil.

Lapas Cibinong telah membuka tabir bahwa pemasyarakatan kita tidak sedang sakit. Ia sudah mati. Dan dihidupkan kembali sebagai bisnis. Dan mundurnya Dirjen PAS bukan penawar racun itu. Melainkan cangkir terakhir yang diangkat untuk bersulang. Dengan mereka yang masih leluasa keluar dari pintu belakang.

Dirjen PAS sudah mengundurkan diri. Lalu, kapan Menteri dan Menkonya?

Menakar Idealisme Rocky Gerung Masuk Istana: "Ketika Akal Sehat Berpindah Pagar"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-56) Narasi Pemicu : Pada 2 Oktober 2026. Sejarah mencatat sebuah paradoks. Rocky Gerung. Pria yang tujuh tahu...