Selasa, 10 Maret 2026

Kepada Siapa Kita Harus Berakhlak


Dalam Islam, seorang Muslim diperintahkan untuk berakhlak mulia (berperilaku baik) kepada seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Berikut adalah rincian kepada siapa saja kita harus berakhlak baik:

1. Kepada Allah SWT

Ini adalah landasan utama dari semua akhlak. Bentuknya adalah:

· Mengesakan-Nya (Tauhid): Tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.
· Ikhlas: Melakukan segala sesuatu hanya karena Allah.
· Syukur: Selalu berterima kasih atas segala nikmat.
· Tawakal: Berserah diri setelah berusaha maksimal.
· Rida dan Sabar: Menerima ketetapan Allah dengan lapang dada.

2. Kepada Rasulullah SAW

Akhlak kepada beliau adalah dengan:
· Mencintai dan memuliakannya melebihi cinta kepada diri sendiri dan keluarga.
· Mengucapkan shalawat ketika namanya disebut.
· Mengikuti sunnah dan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
· Mendahulukan sabdanya di atas pendapat siapa pun.

3. Kepada Diri Sendiri

Seorang Muslim juga bertanggung jawab untuk berbuat baik kepada dirinya sendiri, karena tubuh dan jiwa kita adalah amanah dari Allah. Caranya:
· Menjaga kesucian diri dari dosa dan maksiat.
· Menjaga kesehatan dengan makan yang halal dan thayyib, serta berolahraga.
· Mengembangkan potensi diri dengan menuntut ilmu.
· Bersikap jujur pada diri sendiri (introspeksi/muhasabah).

4. Kepada Keluarga

Keluarga adalah lingkungan terdekat yang paling utama untuk diberi akhlak terbaik:
· Kepada Orang Tua (Birrul Walidain): Berbakti, berkata lembut, mendengarkan nasihat, dan mendoakan mereka (QS. Al-Isra: 23-24).
· Kepada Pasangan (Suami/Istri): Bergaul dengan cara yang ma'ruf (baik), saling menghormati, dan memenuhi hak masing-masing.
· Kepada Anak-anak: Menyayangi, mendidik dengan baik, dan memberi nafkah yang halal.
· Kepada Saudara dan Kerabat: Menjalin silaturahmi, saling membantu, dan tidak memutus hubungan.

5. Kepada Masyarakat dan Lingkungan Sekitar

Akhlak mulia harus ditunjukkan dalam interaksi sosial:

· Kepada Tetangga: Tidak mengganggu, menjenguk jika sakit, berbagi makanan, dan menjaga kehormatan mereka. Rasulullah SAW bersabda ia tidak beriman jika tetangganya tidak aman dari gangguannya.
· Kepada Guru/Ustadz: Menghormati, merendahkan diri di hadapannya, dan mengamalkan ilmunya.
· Kepada Teman dan Saudara Seiman: Saling mencintai karena Allah, menasihati dalam kebaikan, membantu kesulitan, dan menutup aib.
· Kepada Pemimpin: Taat dalam kebaikan, mendoakan, dan menasihati dengan cara yang baik.
· Kepada Orang yang Lebih Tua: Menghormati dan menghargai pengalaman mereka.
· Kepada yang Lebih Muda: Menyayangi dan membimbing.

6. Kepada Non-Muslim

Islam mengajarkan akhlak yang baik kepada semua orang tanpa memandang agama, selama mereka tidak memerangi atau mengusir umat Islam dari kampung halaman mereka. Bentuknya:
· Berlaku adil dan jujur dalam muamalah (bisnis).
· Berbuat baik seperti memberi hadiah, menjenguk yang sakit, dan bertetangga dengan baik.
· Tidak mencela keyakinan mereka.

7. Kepada Makhluk Lain (Lingkungan dan Hewan)

Akhlak baik juga mencakup alam semesta:

· Kepada Hewan: Memberi makan dan minum jika dipelihara, tidak menyiksa atau membebaninya di luar kemampuan, dan menyembelih dengan cara yang baik dan halal.

· Kepada Lingkungan: Tidak merusak alam, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan.

Dengan demikian akhlak baik dalam Islam bersifat universal. Ia harus dipraktikkan kepada siapa pun dan di mana pun, karena Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Beliau memang sangat dikenal sebagai pemilik Akhlakul Karimah.

Beberapa contoh konkret perilaku berakhlak karimah meliputi:
  • Ash-Shidq: Selalu jujur dalam perkataan dan perbuatan.
  • Al-Amanah: Dapat dipercaya dalam menjalankan tanggung jawab.
  • Husnuzon: Selalu berprasangka baik terhadap orang lain.
  • Ath-Thawadu': Rendah hati dan tidak meremehkan orang lain.
  • Al-Afuw: Mudah memaafkan kesalahan orang lain tanpa rasa dendam.

Ketika Wahabi Gagal Faham: "Memvonis Orangtua Nabi di Neraka"


Pengantar: Status mengenai apakah orang tua Nabi Muhammad SAW masuk surga merupakan masalah yang diperdebatkan oleh para ulama karena adanya perbedaan sudut pandang dalam menafsirkan dalil-dalil yang ada. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa orang tua Nabi termasuk Ahli Fatrah, yaitu orang-orang yang hidup di masa kekosongan rasul (sebelum Nabi Muhammad diutus) dan tidak sampai kepada mereka dakwah yang benar. Berdasarkan firman Allah, seseorang tidak akan diazab sebelum ada Rasul yang diutus kepada mereka.

Ketika Wahabi Gagal Paham

Wahabi: Apa dalil Anda berpendapat bahwa ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga?

Sunni: Dalil kami beberapa ayat al-Qur’an al-Karim. Menurut Ahlussunnah Wal-Jamaah (Aswaja), seandainya hukum syara’ atau rasul tidak datang, maka manusia tidak wajib beriman kepada Allah dan tidak wajib mensyukuri nikmat-Nya.

Ahlussunnah Wal-Jamaah berdalil dengan beberapa ayat dalam al-Qur’an:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS al-Isra’ : 15).

ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. (QS al-An’am : 131).

وَلَوْلا أَنْ تُصِيبَهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin". (QS al-Qashash : 47).

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (QS Thaha : 134).

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ، أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ

Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Kami turunkan al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan: "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. (QS al-An’am : 155-156).

وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلا لَهَا مُنْذِرُونَ، ذِكْرَى وَمَا كُنَّا ظَالِمِينَ

Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan. Untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (QS al-Syu’ara’ : 208-209).

Ayat-ayat di atas memberikan pengertian, bahwa Allah tidak akan mengazab kepada orang-orang, sebelum datang seorang rasul yang membawa syariat kepada mereka. Berdasarkan ayat-ayat di atas para ulama Ahlussunnah Wal-Jamaah sepakat bahwa sebelum datangnya seorang rasul, orang yang melakukan kemaksiatan dan kekafiran tidak akan diazab oleh Allah.

Berdarkan ayat-ayat tersebut, para ulama memberikan kesimpulan, bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk orang yang selamat di akhirat. Karena status mereka berdua sebagai ahlul-fatrah, yaitu orang-orang yang jauh dari informasi rasul sebelumnya dan tidak mengikuti masa kerasulan berikutnya. Pendekatan ini dianggap konsep yang paling kuat sebagai dalil bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang selamat di akhirat.

Silahkan kalau Anda tidak setuju, bantah pendapat para ulama di atas!

Wahabi: Kami jelas tidak bisa membantah terhadap dalil-dalil yang kuat di atas. Tetapi kami punya satu dalil, dari hadits shahih dalam riwayat Muslim sebagai berikut:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: «فِي النَّارِ»، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ.

Dari Anas, “Seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, ayahku ada di mana?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di neraka.” Setelah laki-laki itu berpaling, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ayahku dan ayahmu di neraka.” Hadits riwayat Muslim [347].

Dalam hadits di atas, ada penjelasan bahwa ayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayah laki-laki yang bertanya tersebut masuk neraka.

Sunni: Berarti Anda tidak menjawab terhadap dalil-dalil ulama kami yang sangat kokoh dan kuat. Anda justru mengeluarkan dalil lain sebagai dalil pendapat Anda.

Menghadapi hadits yang Anda kemukakan, para ulama memberikan beberapa jawaban:

Pertama, hadits tersebut hadits ahad (diriwayatkan melalui satu jalur) yang bersifat zhanni (persumtif), dan bukan qath’iy. Sedangkan ayat-ayat al-Qur’an di atas sifatnya qath’iy (definitif) dan dipastikan benar. Karena itu, dengan sendirinya hadits ini menjadi gugur karena berlawanan dengan dalil yang lebih kuat dan qath’iy.

Kedua, hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari. Beberapa hadits yang hanya diriwayatkan oleh Muslim, terdapat kejanggalan dan menjadi perbincangan para ulama, antara lain hadits di atas.

Ketiga, sanad hadits di atas, melalui jalur Hammad bin Salamah, seorang perawi yang menjadi pembicaraan para ulama tentang hapalannya. Dalam haditsnya, banyak terjadi kejanggalan. Menurut para ulama, kejanggalan tersebut terjadi karena anak tirinya menyisipkan hadits-hadits yang janggal dalam catatan-catatannya. 

Sementara Hammad sendiri tidak hapal terhadap catatan-catatan tersebut. Ia menyampaikan hadits melalui catatannya, sehingga terjadi kekeliruan. Oleh karena itu al-Bukhari tidak meriwayatkan sama sekali hadits-haditsnya. Sementara Imam Muslim meriwayatkan hadits melalui Hammad hanya melalui jalur gurunya Tsabit al-Bunani dalam hadits-hadits yang pokok.

Keempat, redaksi hadits di atas, yang di antara isinya, “Ayahku dan ayahmu di neraka”, tidak disepakati oleh para perawi. Redaksi tersebut adalah redaksi melalui jalur Hammad bin Salamah, dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik. Jalur ini yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Redaksi tersebut berbeda dengan redaksi yang melalui jalur Ma’mar bin Rasyid, dari Tsabit dari Anas bin Malik, yang menggunakan redaksi:

"إِذَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ"

Apabila kamu melewati kuburannya orang kafir, maka sampaikan kabar gembira kepadanya dengan masuk neraka.

Dari segi riwayat, Ma’mar lebih kuat daripada Hammad bin Salamah. Para ulama tidak mempersoalkan hapalannya, haditsnya juga tidak ada yang dianggap janggal, dan al-Bukhari dan Muslim sepakat menerima haditsnya dalam shahihnya. Hal ini berbeda dengan Hammad.

Hadits yang melalui jalur Ma’mar diriwayatkan oleh al-Bazzar, al-Thabarani dan al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqqash. Hadits Sa’ad bin Abi Waqqash diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [326], al-Bazzar [1089], al-Baihaqi dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah [1005]. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid juz 1 hlm 118, para perawinya adalah para perawi hadits shahih.

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar, seperti dalam redaksi hadits Ma’mar. Hadits Ibnu Umar diriwayatkan oleh Ibnu Majah [1573] dan al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [326]. Al-Hafizh al-Bushiri berkata dalam Zawaid-nya juz 2 hlm 43, sanad hadits ini shahih dan para perawinya orang-orang yang dipercaya.

Dari sini akhirnya dapat diketahui bahwa redaksi pertama dalam riwayat Muslim adalah termasuk hasil pengolahan perawi, yaitu Hammad bin Salamah, yang meriwayatkan hadits tersebut dengan maknanya sesuai dengan pemahamannya.

Sedangkan redaksi asalnya, adalah seperti dalam riwayat Ma’mar. Hadits shahih apabila bertentangan dengan dalil-dalil lain yang lebih kuat, maka hadits tersebut harus dita’wil dan mendahulukan dalil-dalil lain yang lebih kuat, sebagaimana dalam ushul al-fiqih.

Wahabi: Hujjah Anda sangat kuat sekali. Padahal hadits di atas diriwayatkan oleh Shahih Muslim.

Sunni: Anda hanya tahu nama Shahih Muslim, tetapi tidak pernah mengetahui sejauh mana pengamalan para ulama terhadap hadits-hadits dalam Shahih Muslim?

Wahabi: Apakah hadits-hadits dalam Shahih Muslim tidak diterima oleh para ulama? Ulama yang mana?

Sunni: Kamu tahunya hanya nama Shahih Muslim. Hadits-hadits yang kamu dengar ustadz-ustadz kamu dari Shahih Muslim hanya dua, yaitu semua bid’ah adalah sesat dan ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk neraka. Padahal hadits-hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim yang tidak diamalkan oleh para ulama itu banyak sekali.

Wahabi: Contohnya apa saja?

Sunni: Saya ambilkan beberapa contoh saja.

Pertama, dalam al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan, bahwa dua orang yang melakukan transaksi jual beli itu boleh memilih meneruskan akad atau membatalkan, selama mereka belum berpisah dari tempat transaksi tersebut. Ini yang disebut dengan khiyar majlis. Sementara para ulama madzhab Maliki tidak menerima dan tidak mengamalkan hadits tersebut.

Kedua, dalam al-Bukhari dan Muslim, jilatan anjing harus dibasuh sebanyak tujuh kali. Madzhab Hanafi tidak mengharuskan membasuh tujuh kali.

Ketiga, dalam al-Bukhari dan Muslim adalah larangan mendahulukan puasa menjelang Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari. Madzhab Hanbali justru membolehkan berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.

Ini hanya tiga contoh saja. Yang tidak disebutkan di sini jelas lebih banyak. Anda harus tahu, bahwa Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (Murid dari Ibnu Taimiyah) menolak keshahihan beberapa hadits dalam Shahih Muslim. Dan ulama panutan Anda, yaitu al-Albani lebih banyak lagi menolak keshahihan beberapa hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Wahabi: Saya jadi bingung kalau begitu.

Sunni: Wahabi seperti Anda pasti galau dan bingung karena memang gagal paham terhadap banyak persoalan agama, tetapi merasa paling benar, paling memahami dan paling konsisten terhadap sunnah. 

Wallahu a’lam.
Lihat, Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi juz 2 hlm 402-444.

Lansia Berhak Hidup Bahagia


Dr. Hideki Wada, seorang psikiater berusia 61 tahun yang ahli dalam kesehatan mental LANSIA, baru-baru ini menerbitkan buku berjudul “Tembok Berusia 80 Tahun.” Begitu buku ini diluncurkan, penjualannya langsung meledak—lebih dari 500.000 eksemplar terjual, dan diprediksi akan menembus 1 juta kopi. 

Buku ini kemungkinan besar akan menjadi buku terlaris di Jepang tahun ini.
Berikut ini 44 pesan bijak dari Dr. Wada yang patut dibaca dan dibagikan, terutama kepada orang tua tercinta:

1. Tetaplah berjalan setiap hari, walau pelan-pelan.
2. Saat kesal, tarik napas panjang dan tenangkan diri.
3. Lakukan gerakan ringan agar tubuh tidak kaku.
4. Kalau pakai AC di musim panas, perbanyak minum air.
5. Jangan malu pakai popok jika perlu - justru itu mem bantu kita lebih bebas bergerak.
6. Banyak mengunyah bikin otak dan tubuh lebih aktif.
7. Lupa bukan karena usia, tapi karena otak jarang dipakai.
8. Tidak semua masalah harus diatasi dengan banyak obat.
9. Jangan terlalu memaksa menurunkan tekanan darah dan gula darah.
10. Sendiri bukan berarti kesepian, bisa jadi itu waktu bersantai
11. Malas-malasan itu wajar, apalagi kalau memang lelah.
12. Kalau sudah tidak bisa nyetir aman, lebih baik berhenti daripada celaka.
13. Lakukan hal yang kamu sukai, hindari yang bikin stres.
14. Umur boleh tua, tapi keinginan alami tetap bisa dirasakan.
15. Jangan cuma diam di rumah - cari udara segar dan lihat dunia luar.
16. Makanlah yang kamu suka, asal tidak berlebihan. Sedikit gemuk tidak apa-apa.
17. Lakukan segala hal dengan perlahan dan hati-hati.
18. Jauhi orang yang membuatmu merasa tidak nyaman.
19. Kurangi waktu di depan TV dan HP.
20. Kadang lebih baik berdamai dengan penyakit daripada memaksakan sembuh.
21. "Selalu ada jalan" - kalimat ini bisa jadi kekuatan saat kita merasa buntu.
22. Makan buah dan sayur segar itu penting.
23. Mandi tidak perlu lama-lama, cukup 10 menit.
24. Kalau tidak bisa tidur, jangan dipaksakan.
25. Hal-hal yang bikin hati bahagia bisa menjaga otak tetap aktif.
26. Jangan terlalu memendam, katakan saja apa yang ingin dikatakan.
27. Cari dokter keluarga yang kamu percaya sejak dini.
28. Tidak perlu selalu mengalah. Kadang jadi “orang tua nakal” itu sehat.
29. Tidak apa-apa kalau kadang pendapat kita berubah.
30. Demensia di akhir hidup bisa jadi cara Tuhan membuat kita tenang.
31. Kalau berhenti belajar, kita cepat menua.
32. Tidak perlu kejar kehormatan - yang ada saat ini sudah cukup.
33. Kepolosan itu keistimewaan orang tua.
34. Hidup kadang merepotkan, tapi justru itu yang membuatnya menarik.
35. Berjemur di bawah matahari bisa bikin hati senang.
36. Berbuat baik pada orang lain itu membawa kebaikan juga buat kita.
37. Jalani hari ini dengan santai.
38. Punya keinginan itu pertanda kita masih hidup dan punya semangat.
39. Selalu berpikir positif.
40. Tarik napas dengan lega, hidup tak perlu diburu-buru.
41. Kamu yang menentukan bagaimana kamu ingin menjalani hidupmu.
42. Terima segala hal yang terjadi dengan hati tenang.
43. Orang yang ceria biasanya disukai banyak orang.
44. Senyuman bisa membawa banyak berkah.

Silakan bagikan pesan ini kepada semua ORANG TUA dan LANSIA yang Anda kenal.

Karena mereka berhak untuk hidup bahagia, sehat, dan menikmati masa tuanya dengan damai. 

Salam Sehat Selalu 

Senin, 09 Maret 2026

Melanggengkan Dimensi Spiritual Tasawuf


Tasawuf atau sufisme, adalah cabang ilmu dalam Islam yang menekankan penyucian jiwa, pembersihan hati dari hawa nafsu, serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dimensi spiritual dan batiniah, bukan sekadar ritual lahiriah.

Jenis-Jenis Tasawuf: Para ahli membagi tasawuf menjadi beberapa jenis utama berdasarkan pendekatan dan perkembangannya.

Berikut pembagian yang umum:

• Tasawuf Akhlaki: Berfokus pada pembentukan moralitas dan akhlak mulia melalui penyucian hati dari sifat tercela, seperti menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang menyebutnya sebagai pemurnian hati lewat taubat dan ikhlas.

• Tasawuf Amali: Menekankan praktik zikir, khalwat (sendirian), dan riyadhah (latihan spiritual) untuk mengendalikan nafsu dan mendekati ridha Allah.

• Tasawuf Falsafi: Menggabungkan tasawuf dengan pemikiran filsafat rasional tentang Tuhan, manusia, dan hubungan keduanya, sering dikembangkan oleh sufi-filsuf.

Apakah Tasawuf atau Sufisme Diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW?
Jawabannya: Tasawuf atau sufisme sebagai istilah belum ada pada masa Nabi, tetapi substansi atau hakikat tasawuf jelas diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Untuk memahami hal ini, ada dua hal penting yang perlu dibedakan:

1. Tasawuf sebagai istilah: Kata “tasawuf” belum dikenal pada masa Rasulullah SAW. Ia mulai populer beberapa abad kemudian ketika para ulama menamai perjalanan spiritual mendalam seorang Muslim dengan istilah tersebut.
Jadi, istilahnya memang tidak diajarkan oleh Nabi.

2. Tasawuf sebagai praktik (substansi)

Walaupun istilahnya belum ada, ajaran-ajaran inti tasawuf justru berasal dari Rasulullah SAW. Inilah yang disebut sebagai hakikat tasawuf.

Berikut unsur-unsur tasawuf yang diajarkan Nabi:

a. Penyucian jiwa (tazkiyatun nafs): Al-Qur’an menegaskan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Rasulullah mempraktikkannya melalui: memperbanyak istighfar, mengendalikan hawa nafsu, membersihkan hati dari sombong, riya’, iri, dan dengki. Ini adalah inti tasawuf.

b. Kehadiran hati dan muraqabah: Rasulullah SAW bersabda ketika menjelaskan ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Konsep ihsan inilah yang menjadi fondasi tasawuf: kesadaran batin bahwa Allah selalu mengawasi (muraqabah).

c. Zuhud, qana’ah, dan sederhana:Rasulullah hidup: sederhana, tidak bergantung pada dunia, tetapi tetap bekerja dan berusaha. Ini identik dengan nilai-nilai tasawuf.

d. Dzikir dan kedekatan spiritual: Nabi SAW mengajarkan berbagai bentuk dzikir: 
dzikir pagi-sore, dzikir setelah salat, istighfar, tahlil, tahmid, takbir, tasbih. Para sufi kemudian mengembangkan disiplin dzikir ini sebagai jalan penyucian hati.

e. Muhasabah dan introspeksi: Nabi bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya.” (HR. Tirmidzi). Inilah praktik inti tasawuf: memeriksa hati dan memperbaiki diri.

Kesimpulan Utama:

➤ Tasawuf sebagai istilah: tidak diajarkan Nabi.

➤ Tasawuf sebagai inti ajaran spiritual (ihsan, tazkiyah, dzikrullah): jelas diajarkan Nabi dan menjadi bagian dari Islam.

Para ulama hanya memberi nama “tasawuf” untuk disiplin ilmu yang berisi nilai-nilai: penyucian hati, kedekatan dengan Allah, akhlak mulia, pengendalian nafsu,
hidup sederhana, dzikrullah. Semua itu bersumber dari sunnah Rasulullah SAW.
Kapan tasawuf mulai dikenal, siapa yang memunculkannya, serta siapa yang membawa tasawuf ke Indonesia dan kapan?

1. Sejak Kapan Tasawuf Mulai Dikenal? Tasawuf mulai dikenal pada abad ke-2 Hijriah (± abad ke-8 Masehi).

Pada masa Nabi dan para sahabat: belum ada istilah tasawuf, tetapi praktik kesalehan batin, zuhud, dan penyucian jiwa sudah ada.

Setelah masa sahabat, umat Islam mulai menghadapi kemewahan dunia dan ekspansi kekuasaan. Sejumlah ulama yang cinta akhirat kemudian menekankan kehidupan sederhana dan fokus hati kepada Allah. Dari sinilah muncul gerakan zuhud yang menjadi cikal-bakal tasawuf.

2. Siapa yang Pertama Kali Memunculkan Tasawuf? Tidak ada satu tokoh tunggal yang “menemukan” tasawuf. Ia tumbuh secara alami dari ajaran Islam. Namun, tokoh-tokoh generasi awal yang dianggap sebagai pelopor tasawuf klasik antara lain:

a. Hasan al-Bashri (642–728 M / abad 1–2 H), ulama besar dari Basrah. Menekankan zuhud, tawakal, dan takut kepada Allah. Sering dianggap sebagai peletak dasar ajaran tasawuf.

b. Rabi’ah al-Adawiyah (w. 801 M) Tokoh terkenal dari Basrah. Memperkenalkan konsep mahabbah (cinta murni kepada Allah). Memberi warna spiritual yang sangat kuat dalam dunia tasawuf.

c. Ibrahim bin Adham, Sufyan ats-Tsauri, Fudhail bin Iyadh. Tokoh-tokoh zuhud abad 2 Hijriah.

d. Junaid al-Baghdadi (w. 910 M), disebut “Imam Kaum Sufi”. Merumuskan tasawuf secara ilmiah dan seimbang antara syariat dan hakikat.
Setelah abad ke-3 H, tasawuf berkembang menjadi disiplin ilmu yang lebih sistematis dan melahirkan banyak tarekat besar.

3. Siapa yang Membawa Tasawuf ke Indonesia? Kapan? 

Tasawuf masuk ke Nusantara melalui para ulama dan pedagang sufi dari: Arab, Persia, India (Gujarat), dan Yaman. Ini terjadi pada periode abad 13–16 M, meskipun pengaruh awal mungkin sudah muncul sejak abad 11–12 M.

Tokoh-tokoh yang membawa tasawuf ke Nusantara:

a. Syekh Ismail dari Arab (abad ke-13 M)
Disebut sebagai salah satu ulama awal yang mengajarkan Islam bercorak tasawuf di Samudera Pasai.

b. Hamzah Fansuri (abad ke-16 M)
Tokoh sufi pertama dari Nusantara yang meninggalkan karya tertulis. Membawa ajaran tasawuf falsafi.

c. Syamsuddin as-Sumatrani
Pengganti Hamzah Fansuri. Menguatkan tasawuf falsafi di kerajaan Aceh.

d. Nuruddin ar-Raniri (abad ke-17 M). Sufi dari Hadhramaut (Yaman). Membawa tasawuf sunni (asy’ari & syafi’i). Mengoreksi ajaran tasawuf falsafi sebelumnya.

e. Walisongo (abad 15–16 M).
Walisongo adalah penyebar Islam di Jawa yang sangat kuat dengan metode tasawuf: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri, dan lainnya. Mereka menggunakan pendekatan: akhlak, budaya, simbol, dakwah bil-hikmah, yang berakar pada metode tasawuf.

4. Kapan Tasawuf Tersebar Luas di Indonesia? Pada era Walisongo (abad 15–16 M), tasawuf menjadi inti dakwah Islam di Jawa dan kemudian tersebar ke seluruh Nusantara. 

Tasawuf mudah diterima masyarakat karena: lembut, menekankan akhlak, menghargai budaya lokal, cocok dengan spiritualitas masyarakat Nusantara.
(Sharing: Muchtar AF)

Kepada Siapa Kita Harus Berakhlak

Dalam Islam, seorang Muslim diperintahkan untuk berakhlak mulia (berperilaku baik) kepada seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Berikut adalah...