Hai, kau yang duduk di balik meja kayu,
di antara tumpukan kertas dan lampu neon yang berkedip lesu.
Kau yang jari-jarimu menari di atas papan ketik,
tapi tarianmu adalah tarian pesanan
tarian yang sudah diatur koreografinya oleh tuan di lantai atas.
Kau disebut pewarta, pembawa kabar,
tapi kabar apa yang kau bawa?
Kabar yang sudah dipotong ekornya?
kabar yang sudah dicabut giginya?
kabar yang telah dimandulkan agar tak bisa menggigit tangan
yang memberimu makan?
Aku melihatmu di layar kaca,
jas rapi, dasi melilit leher seperti tambang,
senyummu simetris, nadamu datar,
tapi matamu,
matamu adalah mata Londo Ireng.
Mata yang melihat penderitaan tapi berpaling,
mata yang menangkap fakta tapi menyimpannya di laci,
mata yang tahu siapa yang benar tetapi menulis siapa yang bayar.
Kau adalah Londo Ireng zaman sekarang,
seragammu bukan topi bulu dan senapan,
tapi kamera dan mikrofon,
tapi gaji bulanan dan uang amplop.
Kau menembak bukan dengan peluru,
tapi dengan berita yang kau racik,
memilih-milih kata seperti memilih-milih mayat mana yang boleh difoto.
Kau yang mengaku netral,
tapi keberpihakanmu terlihat dari mana kau letakkan koma,
dari mana kau taruh tanda tanya,
dari siapa kau wawancarai lebih dulu,
dari siapa yang kau sunting omongannya.
Hai, kaum Jurnalis!
Kau bilang kau adalah pilar demokrasi,
tapi pilar yang kau bangun adalah pilar dari lilin,
meleleh saat api kekuasaan mendekat.
Kau bilang kau suara rakyat,
tapi suaramu adalah suara yang sudah direkam ulang,
diedit, di-mix, di-filter hingga rakyat tak mengenali tangisnya sendiri.
Kau tahu di desa-desa,
ibu-ibu menangis karena beras mahal,
petani kehilangan ladang,
guru digaji seadanya.
Tapi yang kau tulis adalah peresmian jalan,
sambutan menteri,
dan opini pengusaha yang membayar iklan halaman depan.
Kau adalah Londo Ireng yang beralih profesi,
dulu kau memanggul bedil untuk tuan putih,
sekarang kau memanggul kuasa kata untuk tuan baru.
Kau bukan pemburu berita,
kau pemburu rupiah, pemburu jabatan, pemburu limpahan proyek.
Aku bertanya,
di mana integritasmu? Di mana hati nuranimu?
Atau kau jual keduanya di pasar gelap,
seiring dengan lensa-lensamu yang usang?
Kau lupa bahwa kau lahir dari rahim yang sama dengan rakyat,
kau makan nasi yang sama,
kau mengeluh hujan yang sama,
tapi saat kau duduk di ruang redaksi,
kau tiba-tiba jadi orang asing,
jadi Londo Ireng yang tak mau mengakui saudaranya.
Lihat,
jurnalisme independen sejati bukan menulis
tentang apa yang menyenangkan,
tapi tentang menulis apa yang menyakitkan
menyakitkan bagi yang berkuasa,
menyakitkan bagi yang korup,
menyakitkan bagi yang zalim.
tapi tentang menulis apa yang menyakitkan
menyakitkan bagi yang berkuasa,
menyakitkan bagi yang korup,
menyakitkan bagi yang zalim.
Tapi tidak dengan kau
Kau memilih menulis obat penenang,
agar rakyat tertidur lelap,
agar tuan-tuanmu bisa merampok dengan tenang.
Maka aku menuduhmu, hai Londo Ireng berjas!
Kau adalah pengkhianat kata,
penjual fakta,
pelacur kebenaran.
Kau lebih berbahaya dari senapan,
karena senapan hanya membunuh sekali,
tapi tulisanmu membunuh masa depan berulang-ulang,
membunuh harapan,
membunuh keberanian,
membunuh semangat rakyat yang terbaca
dalam kolom-kolommu yang penuh dusta.
Namun aku tak mau hanya menuduh.
Aku ingin kau sadar:
di ujung lorong redaksimu,
di luar jendela ruang AC-mu,
masih ada matahari yang menyala,
masih ada tanah yang menunggu digali kebenarannya,
masih ada rakyat yang menunggu kata-kata jujur.
Kembalilah, hai Londo Ireng!
Buang jas dan dasimu,
lepaskan topeng netralitasmu,
genggamlah pena seperti pedang,
tulislah apa yang kau lihat,
bukan apa yang kau bayar.
Karena pada akhirnya,
di dalam sejarah yang tak bisa kau karang,
nama-nama baik tertulis dengan tinta emas,
sedang nama-nama pengkhianat
terhapus oleh waktu,
atau lebih celaka: dikenang sebagai Londo Ireng,
yang meskipun hitam, tak pernah merdeka.
Maka pergilah, atau sadarlah.
Karena kebenaran tak pernah mati,
ia hanya menunggu jurnalis sejati yang berani memeluknya,
seperti pelukan ibu pada anaknya,
hangat, tulus, dan tak kenal kompromi.

