Selasa, 22 September 2026

Sesi-3, Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Menerima Sebagai yang Bersalah"


Catatan Pembuka: Sesi ketiga ini adalah yang paling berat. Berbeda dari dua sesi sebelumnya yang masih menyisakan ruang untuk narasi kepahlawanan. Sesi ini berlangsung di ruang isolasi Rutan KPK. Tanpa perekam. Tanpa saksi. Febrie  duduk di seberang meja besi. Tangannya dibelenggu. Ia baru saja membaca surat dakwaan final. Kali ini, tidak ada retorika. Tidak ada mereka. Hanya ada Saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Wawancara imajiner ini adalah cermin yang ia sendiri enggan lihat.

Bagian Kesebelas: "Saya Bukan Korban. Saya Pelaku."

KGM: Malam ini saya tidak akan membiarkan Anda berbicara tentang mereka. Tidak ada mereka. Hanya ada Anda. Pertanyaan pertama: Apakah Anda bersalah?

FA: (Diam sangat lama. Hampir dua menit. Matanya menatap lantai) Saya sudah tiga minggu menolak pertanyaan itu. Saya selalu bilang saya tidak memeras. Saya tidak korupsi. Saya bersih. Tapi malam ini...(menelan ludah)...Saya lelah berbohong pada diri sendiri. Ya. Mungkin saya melakukan kesalahan.

KGM: Kemungkinan salah dalam arti apa? Karena memeras? Atau karena hal lain yang tidak pernah Anda akui?

FA: Bukan memeras. Bukan seperti yang mereka tuduhkan. Tapi Saya merasa bersalah karena saya membiarkan diri saya menjadi bagian dari sistem. Yang saya tahu sistem itu busuk. Tapi saya pura-pura tidak tahu.
Saya merasa bersalah karena selama 33 tahun, saya menutup mata pada adanya uang lelah. Yang mengalir di Tim 9 saya. Saya tahu. Saya tidak mengambilnya sendiri. Namun merasa bersalah karena saya tidak berusaha menghentikannya. Itu bukan integritas. Itu kemunafikan.

Bagian Keduabelas: "Saya Menjual Cerita bahwa Saya Bersih"

KGM: Anda membangun citra sebagai jaksa bersih selama bertahun-tahun. Apakah itu semua palsu?

FA: (Suaranya serak.) Tidak semua. Saya tidak punya IUP (Ijin Usaha Pertambangan). Saya tidak punya kebun sawit. Saya tidak pernah minta proyek. Itu semua benar.
Tapi ada hal yang lebih halus. Yang mungkin lebih licik. Yang tidak saya sadari sampai saya duduk di kursi ini. Saya menikmati kekuasaan. Saya menikmati ketakutan orang-orang ketika nama saya disebut. Saya menikmati ketika menteri gemetar di ruang pemeriksaan saya. Saya menikmati ketika pengusaha besar datang membawa pengacara mahal. Dan saya bilang ke pengacara itu, "tunggu di luar!"
Itu bukan penegakan hukum. Saya merasa itu adalah kesombongan. Dan kesombongan dalam sistem yang busuk, adalah pintu masuk bagi korupsi. 

KGM
: Jadi Anda mengakui bahwa Anda korup dalam arti lebih luas?

FA: (Mengangguk pelan.) Saya korup dalam arti saya mengizinkan sistem ini berjalan di sekitar saya tanpa saya lawan. Saya korup dalam arti saya memilih perkara berdasarkan siapa yang berani melawan saya. Tidak hanya murni berdasarkan bukti. Ada perkara yang saya percepat karena ada tekanan. Ada perkara yang saya lambatkan karena saya tidak ingin konflik.
Itu bukan keadilan. Itu politik. Dan pada saat itu saya bukan penegak hukum. Saya politisi yang memakai toga.

Bagian Ketigabelas: "74 Kilogram Emas Itu Bagian dari Cerita yang Saya Tutupi"

KGM
: Mari kita bicara soal emas. Anda bilang kepemilikannya diperdebatkan. Malam ini, tanpa pengacara, tanpa kamera. Apakah emas itu milik Anda?

FA: (Diam. Menatap langit-langit) Nanti akan diuji di Pengadilan.

KGM: Atau mungkin sebagian?

FA: Memang ada yang menduga sebagian milik saya. Bahkan ada dugaan bukan dari pemerasan atau suap perkara. Silahkan saja kalau ada yang menduga-duga. Faktanya ada di keputusan pengadilan.

Hanya saja memang ada orang-orang yang ingin berterima kasih setelah perkara mereka selesai. Memberi dan menerima setelah selesai suatu perkara merupakan sesuatu  yang lumrah.
Itu bukan suap dalam definisi hukum. Tapi itu gratifikasi. Dan gratifikasi, dalam UU KPK, adalah korupsi. Saya tahu itu. Dalam persidangan nanti akan saya ungkap seluruhnya.

KGM: Jadi Anda mengaku kalau Anda korupsi?

FA: (Suaranya bergetar). Ya. Dalam bentuk yang paling halus. Paling sopan. Paling tidak kelihatan. Saya tidak pernah memeras. Tapi saya memang pernah menerima. Dan menerima adalah bentuk lain dari gratifikasi.

Bagian Keempatbelas: "Saya Mengkhianati Tim 9 Saya"

KGM: Anda berbicara banyak tentang Tim 9. Apa yang Anda lakukan pada mereka?

FA: (Menutup mata. Air mata mulai mengalir.) Saya mengajari mereka untuk menjadi seperti saya. Saya ajari mereka bahwa untuk menangkap ikan besar. Kita harus punya kail yang kuat. Saya ajari mereka bahwa uang lelah adalah bagian dari pekerjaan. Saya ajari mereka bahwa integritas itu bisa dinegosiasikan.
Dan sekarang. Ketika mereka dipanggil sebagai saksi. Mereka semua menyebut nama saya. Bukan karena mereka dendam. Tapi karena saya yang menciptakan mereka. Mereka adalah cerminan saya. Dan cerminan itu, malam ini, menatap saya dan berkata: "Kau yang membuat kami seperti ini."

KGM: Apakah Anda menyesal?

FA: Saya menyesal karena saya tidak pernah memberi mereka pilihan untuk menjadi jaksa yang benar-benar bersih. Saya menyesal karena saya mengajari mereka bahwa hukum adalah alat, bukan tujuan. Dan alat, pada akhirnya, bisa dipakai untuk apa saja. Termasuk untuk menghancurkan saya sendiri.

Bagian Kelimabelas: "Saya Bukan Pahlawan yang Dikhianati. Saya dpandang sebagai Penjahat yang Tertangkap."

KGM: Dua sesi sebelumnya, Anda membangun narasi bahwa Anda korban perang faksi. Malam ini, Anda membongkar narasi itu sendiri. Mengapa?

FA: Karena saya sudah lelah. Saya lelah berpura-pura menjadi pahlawan sejati. Saya lelah melihat orang-orang di luar sana mengibarkan spanduk "Bebaskan Febrie". Padahal mereka tidak tahu bahwa saya dalam kondisi saat ini sulit mendapat kebebasan. Saya lelah mendengar junior-junior saya bilang Febrie dijebak. Padahal harus saya akui saya menjebak diri saya sendiri dengan gaya hidup dan gaya kekuasaan yang saya pilih.
Saya bukan pahlawan pembela hukum sejati. Saya mungkin dianggap sebagai salah satu penjahat yang tertangkap.  Namun bagi saya, saat ini, penjahat yang jujur lebih terhormat daripada pahlawan pembohong.

KGM: Tapi Anda bilang ada perang faksi. Itu tetap benar, bukan?

FA: Perang faksi itu nyata. Tapi itu tidak membuat saya tidak bersalah. Dua hal bisa benar pada saat yang sama. Ada orang yang ingin menjatuhkan saya karena saya mengganggu bisnis mereka. Dan pada saat yang sama. Saya memang melakukan hal-hal yang membuat saya layak dijatuhkan. Saya bukan korban murni. Saya pelaku yang juga menjadi korban dari sistem yang saya bangun sendiri.

Bagian Keenambelas: "Gergaji Itu Adil"

KGM: Anda bilang di sesi pertama bahwa Anda "digergaji". Malam ini, apakah Anda masih merasa gergaji itu tidak adil?

FA: (Tersenyum getir. Air mata mengering.) Malam ini saya sadar. Gergaji itu adil.
Bukan karena yang menariknya bersih. Mereka tidak bersih. Tapi karena saya memang kayu yang harus dipotong. Saya sudah terlalu lama tumbuh di hutan yang salah. Menyerap nutrisi dari tanah yang busuk. Dan berpura-pura menjadi pohon yang lurus. Gergaji itu hanya alat. Yang menentukan apakah saya layak dipotong bukan gergajinya. Tapi saya sendiri.

KGM: Jadi Anda akan ikhlas menerima hukuman?

FA: Saya menerima bahwa ada yang salah dalam diri saya. Apakah hukuman yang akan saya terima adil? Belum tentu. Tapi saya tidak akan berjuang untuk bebas. Saya akan berjuang untuk jujur. Di persidangan. Di depan hakim. Di depan publik. Saya akan mengakui apa yang saya lakukan. Saya akan menyebut nama-nama yang memberi saya gratifikasi. Saya akan membuka semua yang saya tutupi.
Bukan karena saya ingin balas dendam. Tapi karena saya ingin menjadi cermin yang jujur. Bahkan kalau cermin itu retak.

Bagian Ketujuhbelas: "Pesan Terakhir untuk Indonesia"

KGM: Kalau ini wawancara terakhir Anda sebelum sidang, apa yang ingin Anda sampaikan?

FA: (Diam panjang. Menatap lurus ke mata wartawan). Sampaikan ini: Jangan jadikan saya pahlawan. Jangan jadikan saya martir. Jadikan lah saya pelajaran.
Saya adalah contoh bahwa kekuasaan tanpa integritas sejati akan berakhir di kursi besi seperti ini. Saya adalah contoh bahwa "bersih di atas kertas" tidak cukup kalau hati kita sudah tercemar oleh kesombongan. Saya adalah contoh bahwa penegak hukum yang tidak mau mengakui kesalahannya adalah penegak hukum yang paling berbahaya.
Dan kalau ada jaksa muda di luar sana yang mendengar ini: Jangan seperti saya. Jangan menikmati ketakutan orang. Jangan menganggap uang lelah sebagai hal biasa. Jangan pura-pura tidak tahu ketika sistem di sekitar Anda busuk. Karena suatu hari. Sistem yang Anda biarkan busuk itu akan datang untuk Anda.
Saya digergaji. Dan malam ini. Saya menerima gergaji itu. Bukan karena saya kalah. Tapi karena saya akhirnya jujur.

Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 01.33 WIB. Febrie Adriansyah menundukkan kepala. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga sesi. Ia menangis. Bukan tangis yang dramatis. Tapi tangis yang sunyi. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban 33 tahun. Petugas Rutan membawanya kembali ke sel. Di luar, hujan sudah berhenti. Dan di dalam sel, Febrie mulai menulis. Bukan pembelaan. Bukan ancaman. Tapi semacam pengakuan.

Satu kalimat yang ia tulis di halaman pertama: "Saya bukan korban. Saya adalah apa yang saya perangi. Dan hari ini. Saya akhirnya berhenti berperang melawan diri sendiri. Nantikan di Sesi-4. Yang sejatinya membuat Anda menangis.

Humor Dialog Politisi Indonesia dan Jepang


Sambil menunggu Sesi-3 Wawancara Iamjiner dengan Febrie Adriansyah, kita jeda dulu ke humor antara politisi Indonensia dan Politisi Jepang.

1. Edisi Ekonomi:

Politisi Indonesia: "Maaf Pak, ekonomi kami tumbuh 5 persen!"
Politisi Jepang: "Bagus. Utangnya?"
Indonesia: "Tumbuh 8 persen."
Jepang: "Kok, lebih cepat dari pertumbuhan ekonominya, ya."
Indonesia: "Itu namanya percepatan pembangunan, Pak."
Jepang: "Kalau di kami, itu namanya percepatan kiamat."
Indonesia: "Tapi jangan salah, kami punya bonus demografi!"
Jepang: "Lah, kami punya bonus robot."
Indonesia: "Tapi di tempat kami punya banyak janji politik."
Jepang: "Kalau di Jepang banyak perusahaan yang menepati janji."
Indonesia: "Bedanya apa?"
Jepang: "Kalau janji kami tidak ditepati, bosnya minta maaf dan mundur. Kalau janji di tempat Anda tidak ditepati?"
Indonesia: "Kami bilang itu bagian dari proses demokrasi."
Jepang: "Ah, budaya kalian memang kaya."
Indonesia: "Maksudnya kaya apa?"
Jepang: "Kaya alasan..."

2. Edisi Korupsi

Politisi Indonesia: "Di tempat kami sedang gencar-gencarnya memberantas korupsi!"
Politisi Jepang: "Bagus. Sudah berapa yang tertangkap?"
Indonesia: "Banyak sih. Tapi tidak sedikit juga yang pada kabur."
Jepang: "Kabur ke mana?"
Indonesia: "Ke luar negeri, sambil bawa uang rakyat."
Jepang: "Di Jepang, menteri korupsi itu malu, langsung mundur, berarti selesai"
Indonesia: "Di sini juga malu, tapi malu-maluin dulu, baru mundur."
Jepang: "Bedanya apa?"
Indonesia: "Kalau di sini, mundur tidak berarti selesai, tapi persiapan comeback."
Jepang: "Comeback?"
Indonesia: "Iya, nanti muncul lagi jadi caleg. Rakyat lupa, kami untung."
Jepang: "Kalau di Jepang, rakyat tidak pernah lupa."
Indonesia: "Makanya kami bilang, beda budaya, Pak."
Jepang: "Budaya apa?"
Indonesia: "Budaya…lupa."

3. Edisi Lingkungan Hidup

Politisi Indonesia: "Kami memang serius dalam menjaga lingkungan!"
Politisi Jepang: "Bagus. Hutan masih aman?"
Indonesia: "Aman. Cuma berkurang sedikit."
Jepang: "Sedikit berapa?"
Indonesia: "Setara lapangan bola...kali seribu."
Jepang: "Itu bukan sedikit."
Indonesia: "Tapi menurut para politisi, itu namanya pembangunan berkelanjutan."
Jepang: "Maksudnya berkelanjutan apa?"
Indonesia: "Berkelanjutan...sampai hutannya habis dan gundul."
Jepang: "Kalau di kami, lingkungan harus bersih, buang sampah tidak boleh sembarangan dan harus dipilah."
Indonesia: "Di sini juga dipilah, Pak."
Jepang: "Dipilah bagaimana?"
Indonesia: "Sampah plastik ke sungai, sampah organik ke got, sisanya ke laut."
Jepang: "Itu bukan dipilah, itu dipindah."
Indonesia: "Sama saja, yang penting nggak di rumah saya, pak."
Jepang: "Lalu banjir?"
Indonesia: "Itu bukan banjir, Pak. Itu air kiriman dari hulu."
Jepang: "Kalau di Jepang, gak ada istilah air kiriman, sungai itu harus bersih."
Indonesia: "Tapi di sini, sungai itu...fleksibel."
Jepang: "Fleksibel bagaimana?"
Indonesia: "Iya, kadang sungainya berisi air, kadang sampah, kadang proyek."
Jepang: "Maksud proyek?"
Indonesia: "Ya, proyek normalisasi. Cuma yang rada aneh yang dinormalisasi hanya anggarannya."

Senin, 21 September 2026

Sesi-2, Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Gergaji yang Berbalik Arah"





Catatan Pembuka: Setelah sesi pertama tersiar. Publik terbelah. Ada yang melihat Febrie Adriansyah (FA) sebagai martir sistem. Ada yang melihatnya sebagai aktor yang sedang memainkan narasi terakhir. Sesi kedua ini berlangsung di ruang berbeda. Bukan di koridor. Melainkan di ruang tamu Rutan KPK yang pengap. Pukul 21.47 WIB. Kali ini, tidak ada kamera. Hanya ada pena. Perekam. Dan saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Serta seorang pria yang tampak kehilangan berat badan 5 kilogram. Hanya dalam dua minggu. Nada suaranya lebih rendah. Tapi matanya lebih tajam.

Bagian Keenam: "Kalau Saya Bersalah, Tunjukkan Lembarannya"

KGM: Malam ini saya tidak akan sopan. Anda bilang Pengawasan Internal kosong. Tidak ada catatan selama 33 tahun. Tapi justru itu yang membuat publik curiga. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu bersih di atas kertas. Tapi punya 74 kilogram emas dan ratusan miliar uang di rumah? Bukankah itu bukti bahwa sistem Pengawasan Anda sendiri yang lumpuh?

FA: (Diam tujuh detik. Menatap lurus) Justru itu pertanyaan yang saya ingin dilempar balik ke mereka. Kalau Pengawasan saya lumpuh selama 33 tahun, itu bukan kesalahan saya. Itu kesalahan institusi yang membiarkan saya naik tanpa satu pun catatan. Anda mau bilang saya memanfaatkan sistem yang lumpuh? Mungkin. Tapi kalau sistem itu lumpuh. Kenapa baru diungkap sekarang. Ketika saya sedang menyidik perkara yang menyentuh orang-orang besar?
Saya tantang. Tunjukkan satu lembar. Satu saja. Berita acara pemeriksaan saya di Pengawasan. Tunjukkan satu laporan kekayaan yang tidak saya serahkan. Tunjukkan satu rekening yang tidak saya laporkan. Kalau tidak ada. Maka tuduhan pemerasan itu bukan hasil investigasi. Itu hasil rekayasa.

KGM: Tapi emas itu nyata. Beratnya 74 kilogram. Itu bukan rekayasa.

FA: Emas itu nyata. Kepemilikannya yang jadi soal. Ada perbedaan besar antara ditemukan di rumah saya dan milik saya. Saya sudah bilang berkali-kali. Kalau penyidik punya bukti kepemilikan. Bawa ke pengadilan. Jangan main di media. Saya ini jaksa. Saya tahu persis permainan trial by media itu. Dulu saya juga pakai. Sekarang saya di sisi lain. Dan saya baru sadar betapa kotornya.

Bagian Ketujuh: "Saya Bukan Malaikat, Tapi Saya Bukan Pencuri"

KGM: Mari kita bicara jujur. Anda tidak mungkin sebersih yang Anda klaim. Tidak ada jaksa yang menyidik perkara ratusan triliun tanpa biaya operasional dari suatu tempat. Akui saja. Ada uang yang mengalir. Entah untuk Tim 9. Entah untuk Anda. Itu rahasia umum di Kejaksaan.

FA: (Tersenyum tipis, getir) Anda benar. Saya bukan malaikat. Saya tidak munafik. Tim 9 memeang butuh uang untuk operasional. Untuk transport. Untuk penginapan saat investigasi lapangan. Itu fakta. Tapi ada perbedaan mendasar antara biaya operasional resmi dan pemerasan. Yang pertama ada suratnya. Ada pertanggungjawabannya. Ada mekanismenya. Yang kedua, yang mereka tuduhkan ke saya, itu fitnah.
Rahasia umum? Ya, saya tahu. Di Kejaksaan ada budaya uang lelah. Saya tidak bilang saya suci dari budaya itu. Tapi kalau Anda mau menuduh saya memeras Rp4 miliar dari seorang pengusaha. Tunjukkan korban yang mengaku diperas. Jangan tiba-tiba korban muncul setelah saya ditangkap. Dengan cerita yang persis sama dengan yang ada di surat dakwaan. Itu bukan korban. Itu saksi pesanan.

KGM: Anda menyebut saksi pesanan. Itu tuduhan berat. Anda punya bukti?

FA: Saya punya logika. Saya punya kronologi. Saya punya nama-nama yang saya simpan. Belum saatnya saya buka. Kalau saya buka sekarang, saya mati di dalam. Saya masih ingin hidup untuk melihat persidangan.


Bagian Kedelapan: "Yang Digergaji Bukan Saya — Tapi Kejaksaan Itu Sendiri"

KGM: Anda terus bicara seolah Anda korban. Tapi ada yang bilang. Anda adalah bagian dari masalah. Anda membangun kerajaan kekuasaan di Jampidsus. Anda memilih siapa yang boleh disidik dan siapa yang tidak. Anda jadi raja kecil yang akhirnya melawan raja besar. Bukankah ini sekadar perang antar faksi?

FA: (Menghela napas panjang) Anda ini kritis. Saya suka. Ya, saya akui. Jampidsus di tangan saya memang kuat. Mungkin terlalu kuat. Saya memilih perkara. Saya memilih waktu. Saya memilih siapa yang saya kejar dan siapa yang saya simpan. Itu kekuasaan. Dan kekuasaan selalu punya harga.
Tapi ada perbedaan antara menggunakan kekuasaan untuk menegakkan hukum. Dan menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Yang pertama, saya lakukan. Yang kedua, saya tantang siapa pun untuk membuktikannya.
Dan soal perang faksi. Ya, mungkin ini perang faksi. Tapi kalau benar ini perang faksi. Yang sebenarnya digergaji bukan saya. Yang digergaji adalah Kejaksaan itu sendiri. Mereka memotong satu kepala untuk menakuti seribu jaksa yang masih punya nyali. Saya jadi contoh: Lihat Febrie. Dia terlalu berani. Sekarang dia di dalam. Barangkali itu pesan yang mereka kirim.

KGM: Dan menurut Anda, pesan itu berhasil?

FA: (Tertawa pahit) Anda lihat sendiri. Dua minggu setelah saya ditangkap. Sudah ada berapa jaksa yang menolak menangani perkara besar? Sudah ada berapa Tim 9 yang bubar? Sudah ada berapa berkas yang diistirahatkan? Pesan itu berhasil. Dan itu artinya Kejaksaan sudah kalah.

Bagian Kesembilan: "Presiden Tidak Salah — Tapi Dibohongi"

KGM: Anda menyebut presiden menerima informasi yang salah. Ini klaim yang sangat berbahaya. Anda sadar bahwa ini bisa ditafsirkan sebagai tuduhan? Bahwa ada orang di lingkaran presiden yang menjatuhkan Anda?

FA: Saya tidak menuduh siapa-siapa. Saya hanya bilang. Presiden tidak mungkin tahu detail 74 kilogram emas. Rp846 miliar. Dan Rp4 miliar pemerasan dalam satu laporan singkat. Kalau laporan itu disusun oleh orang yang punya kepentingan. Maka presiden dibohongi. Bukan salah presiden. Salah orang yang menyusun laporan.

KGM: Kalau presiden membaca wawancara ini. Apa yang Anda ingin dia lakukan?

FA: (Diam. Suaranya berubah pelan) Saya ingin dia bertanya satu hal: Kalau Febrie benar-benar memeras Rp4 miliar. Kenapa selama 33 tahun tidak ada satu pun catatan buruk tentang dia?" Kalau pertanyaan itu diajukan. Saya percaya ada yang akan gemetar. Bukan saya. Tapi orang-orang yang menyusun laporan itu.

Bagian Kesepuluh: "Saya Bukan Pahlawan. Saya Cermin."

KGM: Pertanyaan terakhir. Kalau Anda keluar dari sini. Entah bebas. Entah setelah menjalani hukuman. Anda ingin dikenang sebagai apa?

FA: (Tersenyum. Kali ini senyum yang berbeda. Lebih tenang. Nyaris seperti pasrah) Saya tidak ingin dikenang sebagai pahlawan. Pahlawan itu mati muda. Atau setidaknya mati terhormat. Saya mungkin tidak akan dapat keduanya.
Saya ingin dikenang sebagai cermin. Cermin yang menunjukkan bahwa di negeri ini. Orang yang menegakkan hukum dengan benar. Bisa dihancurkan oleh sistem yang dia bela. Cermin yang menunjukkan bahwa bersih saja tidak cukup. Anda juga harus punya perlindungan politik. Cermin yang menunjukkan bahwa Kejaksaan. Yang seharusnya jadi ujung tombak keadilan. Bisa jadi alat pembalasan.
Kalau orang melihat cermin itu dan merasa tidak nyaman. Berarti wawancara ini berhasil. Karena ketidaknyamanan adalah awal dari kesadaran.
Dan kalau saya harus digergaji sampai putus. Biarlah. Tapi saya berjanji satu hal. Saya tidak akan menangis di depan gergaji itu. Saya akan menatap orang yang menariknya. Dan saya akan bilang. Teruskan! Tapi ingat. Gergaji ini nanti juga akan dipakai untukmu.


Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 23.12 WIB. Febrie Adriansyah (FA) berdiri. Menyalami Ki Gempur Mudharat (KGM) dengan tangan yang dingin. Lalu berjalan kembali ke selnya tanpa menoleh. Di luar, hujan pertama di musim penghujan turun deras. Seorang petugas Rutan berbisik: "Dia tidak tidur sebelum subuh. Katanya dia menulis. Setiap malam."
Apa yang ditulisnya? Tidak ada yang tahu. Tapi kalau benar apa yang dia bilang. Bahwa ada basis data di kepalanya. Maka mungkin, di suatu tempat, di bawah lampu neon yang redup. Seorang pria yang digergaji sedang menyiapkan gergaji balasan. Dan Jakarta, seperti biasa. Pura-pura tidak tahu. Nantikan keseruan Wawancara Imajiner Sesi-3.

Minggu, 20 September 2026

Sesi-1: Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Akhirnya Kami Yang Digergaji"


Catatan Pembuka: Disclaimer. Tulisan ini adalah karya fiksi imajiner. Hasil rekaan Jurnalis dengan tetap mengacu pada data dan fakta yang terungkap di media. Tidak ada kaitannya dengan pernyataan resmi atau fakta hukum yang sebenarnya. Jika ada kebaikan dan hikmah di dalamnya. Itu semata-mata karunia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dialah sumber segala hikmah. Jika ada kesalahan dan kekurangan. Itu datang dari kelemahan penulis sebagai manusia dan assistant digital sebagai mesin. Tulisan ini hanyalah ikhtiar kecil sebagai materi edukasi hukum. Untuk mengingatkan diri sendiri dan pembaca. Bahwa kekuasaan, jabatan, dan harta adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawab."

Lokasi Wawancara: Koridor Kejari Jakarta Selatan yang sesak. Febrie Adriansyah (FA) baru saja menyelesaikan transisi identitasnya dari ujung tombak antikorupsi menjadi seorang tahanan. Pria yang pernah memimpin Jampidsus ini, sebelum dibawa ke mobil tahanan, melontarkan kalimat khasnya yang nyaris provokatif kepada wartawan: "Semua perkara besar kita ambil. Tapi akhirnya justru kita yang digergaji." Kalimat itu seperti bumerang. Tepat menghantam saraf paling sensitif dalam sistem penegakan hukum Indonesia. Untuk menggali lebih dalam logika digergaji dan kondisi batinnya saat ini. Saya KGM (Ki Gempur Mudharat) melakukan dialog imajiner yang mendalam dan tanpa batas.

Bagian-1: "Metafora Gergaji dan 33 Tahun yang Kosong"

KGM: Anda  menggunakan kata "digergaji". Dalam bahasa Indonesia, ini bukan sekadar ditebang. Tapi dipotong secara perlahan oleh kekuatan tertentu. Tentu dengan gesekan dan rasa sakit. Sebagai orang yang dulu memegang "gergaji listrik". Sekarang Anda merasa digergaji oleh siapa?

FA: (Tertawa) Pertanyaan Anda tajam. Begini. Saya sudah 33 tahun jadi jaksa. Di Jampidsus, yang saya pegang memang gergaji listrik ukuran paling besar. Jiwasraya, Asabri, dan perkara-perkara yang melibatkan kerugian negara ratusan triliun. Waktu kami tebang dengan gergaji, orang-orang tertentu sangat kesakitan. Tapi sekarang saya yang digergaji. Menurut Anda siapa yang menarik gergaji itu?
Saya ingin mengingatkan satu data. Selama 33 tahun karier saya. Pengawasan (internal) tidak pernah sekali pun melakukan pemeriksaan formal terhadap saya. Apalagi memberi sanksi administratif. Kemarin saya masih bilang ke tim saya, Tim 9, kalian ikut saya. Apakah saya pernah ajari kalian memeras? Mengajarkan memeras pengusaha? Tiba-tiba sekarang dituduh pemerasan. Tuduhan itu terlalu mendadak dan menyakitkan.

Bagian Kedua: Prestasi Rp300 Triliun dan "Permusuhan Tak Terlihat"

KGM: Anda berulang kali menyebut Rp300 triliun yang dikembalikan ke kas negara melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Bagi banyak orang, ini seharusnya jadi jimat pelindung. Kenapa justru tampak menjadi pemicu?

FA: Jimat? Dalam ekosistem penegakan hukum Indonesia, kadang prestasi besar justru menjadi bahaya terbesar. Anda mengembalikan Rp300 triliun dalam setahun. Anda mengganggu kepentingan di sektor kehutanan. Anda mengganggu rantai yang selama ini bisa terus mencetak uang lewat kompromi. Ketika Anda menggenggam semua perkara besar, Anda bukan hanya menegakkan hukum. Anda memutus jalur rezeki orang.
Ini yang membuat saya curiga. Kasus ini bukan soal bukti. Tapi soal bisnis yang terganggu. Saya jadi orang yang dianggap tidak tahu diri. Saya menolak banyak hal. Saya tidak punya IUP (Ijin Usaha Pertambangan). Tidak punya kebun sawit. Tidak pernah minta proyek ke pemerintah. Tidak pernah minta kuota impor. Saya bersih. Jadi ketika mereka tidak menemukan bukti suap. Mereka beralih ke pemerasan. Menuduh saya memakai kewenangan penyidikan untuk memeras.

Bagian Ketiga: "Basis Data" sebagai Senjata Terakhir

KGM: Saat pergi, Anda meninggalkan kalimat berat tentang basis data di Gedung Bundar. Anda bilang itu abadi. Ini ancaman, atau wasiat?

FA: Ini bukan ancaman, ini pernyataan fakta. Arsip-arsip di Gedung Bundar itu merekam semua alur perkara besar. Juga merekam siapa yang mengintervensi. Siapa yang mengambil untung. Siapa yang mencoba mengeruhkan air.
Saya sekarang ditahan di Rutan KPK. Tapi basis data di kepala saya tidak bisa dikurung. Saya bilang begitu untuk memberi tahu junior-junior saya. Jangan takut. Orang-orang yang kalian takuti sekarang. Sama dengan orang-orang yang dulu. Takut ketika kami menyidik perkara besar. Kalau kali ini saya jatuh. Digergaji putus. Saya berharap mereka tetap melihat punggung saya dan punya keberanian membuka berkas-berkas itu. Selama basis data itu ada. Kebenaran tidak akan mati.

Bagian Keempat: Pandangan Dingin tentang "Brankas" dan "Permainan Kekuasaan"

KGM: Soal 74 kilogram emas dan miliaran rupiah tunai yang ditemukan di Sentul. Anda bilang itu rumah Anda. Tapi publik bertanya. Bagaimana mungkin seorang pegawai negeri punya semua itu?

FA: (Memotong) Lihat, inilah khas pengadilan opini. Emas 74 kilogram itu ditemukan di rumah saya. Tapi saya tidak pernah bilang itu hasil pendapatan sah saya. Saya bilang itu rumah saya. Karena sebagai pemilik rumah saya bertanggung jawab menghadapinya. Tapi soal kepemilikan. Sumbernya. Bukankah harus diuji di persidangan?
Yang lebih menarik: Rp846 miliar dari 38 aset. Pengacara saya sudah tegas membantah itu milik pribadi saya. Kenapa barang orang lain ditempelkan dulu ke nama saya. Lalu opini publik dibentuk agar saya jadi koruptor raksasa? Justru ini membuktikan mereka butuh angka. Untuk menutupi logika yang tidak ada.

Bagian Kelima: Keputusasaan dan Harapan pada Politik dan Sistem

KGM: Anda menyebut presiden mungkin menerima laporan yang salah. Sebagai penegak hukum, apakah Anda mengisyaratkan intervensi politik?

FA: Saya tidak bicara intervensi politik. Saya bicara informasi yang salah. Saya percaya Presiden Prabowo menerima laporan yang sudah diolah. Karena pemimpin mana pun yang waras. Ketika melihat perbandingan mengembalikan Rp300 triliun dan memeras Rp4 miliar. Pasti akan merasa itu absurd.
Saya ditangkap pada dasarnya bukan karena korupsi. Tapi karena saya dianggap tidak cocok dalam sistem ini. Kejaksaan seharusnya menjadi lembaga yang mandiri. Tapi sekarang ada yang ingin menjadikannya bawahan kepolisian. Saya membuat Kejaksaan terlalu tajam. Sampai orang-orang tertentu merasa terluka.

KGM: Terakhir. Anda berharap hakim melihat perkara ini dengan jernih bagaimana?

FA: Saya harap hakim tidak melihat surat dakwaan yang sudah diedit rapi. Tapi melihat jejak 33 tahun saya. Lihat catatan Pengawasan yang kosong selama 33 tahun itu. Lihat catatan di Satgas PKH bahwa saya tidak pernah menerima sepeser pun. Kalau menangani perkara besar berujung pada diproses oleh perkara besar. Lalu siapa yang berani menyentuh masalah Jiwasraya dan Asabri?
Saya "digergaji". Itu tidak menakutkan. Yang menakutkan adalah, setelah ini tidak ada lagi orang di Gedung Bundar yang berani mengangkat gergaji. Untuk memotong tumor-tumor yang sebenarnya.

Catatan Akhir: Saat dialog berakhir, tangan Febrie tidak diborgol dengan borgol yang biasanya melambangkan penghinaan. Ia bahkan tidak mengenakan seragam tahanan oranye khas itu. Mungkin ini bentuk kehormatan terakhir. Atau mungkin ironi yang lebih dalam. Orang yang pernah membuat banyak orang berpengaruh mengenakan seragam tahanan. Kini berjalan menuju mobil tahanan dengan pakaian biasa di bawah kegelapan malam. Gema kata "digergaji" itu. Di langit Jakarta yang lembap. Tak kunjung hilang. Nantikan di Sesi-2. 

Sesi-3, Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Menerima Sebagai yang Bersalah"

Catatan Pembuka : Sesi ketiga ini adalah yang paling berat. Berbeda dari dua sesi sebelumnya yang masih menyisakan ruang untuk narasi kepahl...