Minggu, 01 November 2026

Membaca Makna Kehadiran Menlu Singapura di Jakarta (Bag-2, Habis)


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-71)

Narasi Pemicu: Kehadiran Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, di Jakarta pada 27 Oktober 2026 bukanlah kunjungan diplomatik biasa. Di tengah kabut asap yang kembali menyelimuti langit Singapura dan retorika pejabat Indonesia yang sempat menyinggung soal "oksigen dari hutan Indonesia", Vivian datang membawa dua agenda yang saling bertaut: Tawaran solidaritas. Sekaligus ancaman penegakan hukum. 

Membentuk Satgas

Dalam pertemuan hampir dua jam dengan Menlu RI Arrmanatha Nasir. Keduanya menyepakati pembentukan satuan tugas bersama untuk menindak perusahaan pembakar hutan. Pertukaran data intelijen finansial. Serta hotline tingkat menteri untuk mengelola perbedaan. 

Kunjungan ini, dengan demikian, adalah babak baru dalam cara Singapura memaknai solidaritas: Bukan lagi sekadar mengirim masker dan Hercules. Melainkan menuntut akuntabilitas korporasi lintas batas.

Berbagi Data

Makna pertama kehadiran Vivian adalah pergeseran dari solidaritas simbolik ke solidaritas yudisial. 

Jika sebelumnya bantuan Singapura berhenti pada perlengkapan pemadaman dan air minum. Kini Vivian membawa tawaran yang jauh lebih substansial: Berbagi data perusahaan yang terdaftar di Singapura yang diduga terlibat dalam kebakaran lahan di Indonesia. 

Menlu Arrmanatha menyebut tawaran ini sebagai "peluang berharga" dan menegaskan bahwa "asap bisa melintasi batas negara. Begitu pula uang". Karena itu, jejak finansial perusahaan harus dilacak bersama. 

Ini adalah eskalasi diplomatik yang cerdas: Singapura tidak hanya menawarkan bantuan. Tetapi juga menempatkan dirinya sebagai mitra dalam membongkar jaringan korporasi yang selama ini berlindung di balik yurisdiksi lintas batas. 

Vivian bahkan menegaskan bahwa Singapura siap menggunakan "setiap kekuatan hukum dan regulasi" yang tersedia. Serta bersedia menerapkan "langkah hukum, regulasi, dan ekonomi yang lebih luas" untuk mencegah pelanggaran di masa depan.

Membawa Bahasa Ultimatum

Makna kedua adalah bahwa kehadiran Vivian berfungsi sebagai pressure diplomatik yang terstruktur. 

Pembentukan satgas bersama dan hotline bukanlah gestur kosong. Ia adalah mekanisme yang mengikat kedua negara pada komitmen yang dapat diukur. 

Vivian secara eksplisit menyatakan bahwa satgas ini "memberi tahu semua perusahaan" bahwa koordinasi aksi dan pertukaran informasi akan berlangsung ketat. Dan otoritas mengharapkan "dampak pencegahan" yang nyata. 

Ini adalah bahasa ultimatum yang dibungkus dalam diplomasi. Berbeda dengan boikot produk yang emosional dan tidak terarah.

Langkah Vivian menyasar aktor yang tepat: Perusahaan yang, menurut data NEA Singapura, telah menerima surat pemberitahuan karena diduga berkontribusi terhadap kabut asap. 

Singapura, dengan kapasitas finansial dan yudisialnya. Tidak hanya mengirim pesawat. Ia mengirim sinyal bahwa perlindungan hukum tidak akan diberikan kepada perusahaan yang merusak lingkungan di negara tetangga.

Ironi Indonesia Belum Mampu

Makna ketiga. Dan yang paling tajam secara politis. Adalah bahwa kunjungan Vivian memaksa Indonesia untuk menghadapi ironinya sendiri. 

Di satu sisi, Menlu Arrmanatha menegaskan bahwa "korban pertama karhutla adalah rakyat Indonesia". Sebuah pengakuan yang jujur dan penting. 

Namun. Di sisi lain, kehadiran Vivian justru memperlihatkan bahwa penanganan karhutla selama ini belum menyentuh akar korporasi secara tuntas. 

Ketika Singapura menawarkan data dan bukti lintas negara. Implisit di dalamnya adalah kritik. Bahwa Indonesia belum sepenuhnya mampu atau belum sepenuhnya berani membongkar jaringan perusahaan yang beroperasi di wilayahnya sendiri. 

Vivian bahkan menegaskan bahwa karhutla "bukan fenomena alam. Melainkan ulah manusia". 

Sebuah pernyataan yang secara halus membantah narasi sebagian pejabat Indonesia yang menyebut bencana ini "di luar kendali manusia". 

Kehadiran Vivian, dengan demikian, adalah cermin yang membuat Indonesia melihat bahwa solidaritas sejati menuntut lebih dari sekadar menerima bantuan. Ia menuntut kesediaan untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Sentilan via Pemangkasan Ekspor Gas Alam

Makna keempat adalah bahwa kunjungan Vivian memperlihatkan bagaimana solidaritas regional dapat berjalan seiring dengan kepentingan nasional Singapura.

Dalam pertemuan itu. Isu pemangkasan ekspor gas alam Indonesia ke Singapura sebesar 31 juta kaki padu standar per hari juga menjadi pembicaraan. Meskipun tidak diungkap secara detail dalam konferensi pers. 

Singapura, yang menerima sekitar 145,3 miliar kaki kubik gas dari Indonesia pada 2024, jelas memiliki kepentingan energi yang signifikan. 

Namun, alih-alih menjadikan isu gas sebagai kartu tawar-menawar utama. Vivian memilih fokus pada penegakan hukum karhutla. Ini adalah pilihan strategis.

Singapura ingin menunjukkan bahwa solidaritasnya atas asap tidak ditukar dengan konsesi energi. Tetapi justru menjadi bagian dari kerangka hubungan yang lebih luas dan saling menguntungkan. 

Kunjungan Vivian, dengan demikian, adalah diplomasi dua arah. Ia menawarkan kerja sama. Tetapi juga menegaskan bahwa Singapura tidak akan tinggal diam jika kepentingannya. Baik lingkungan maupun energi yang terganggu.

Tindakan Terlembaga

Pada akhirnya, kehadiran Vivian Balakrishnan di Jakarta mengubah lanskap solidaritas Singapura dari sekadar empati menjadi tindakan yang terlembaga. 

Ia tidak datang dengan tangan kosong. Tetapi juga tidak datang dengan tangan terbuka tanpa syarat. 

Ia membawa data. Membawa ancaman sanksi. Dan membawa komitmen pada satgas bersama. 

Bagi Indonesia, kunjungan ini adalah undangan sekaligus teguran. Undangan untuk bekerja sama menegakkan hukum. Dan teguran bahwa karhutla tidak lagi bisa diselesaikan dengan retorika kedaulatan atau bantuan simbolik.

Solidaritas sejati. Seperti yang diperlihatkan Vivian, adalah solidaritas yang berani menyentuh akar masalah. Bahkan ketika akar itu berada di dalam rumah sendiri.

Nah, bagaimana? Keren, kan, solidaritas versi Singapura? Baimana dengan sikap Malaysia? Yang malah warganya memboikot produk Indonesia. Gak keren, ah, Malaysia...!!!

Serial Tasawuf-39 Al-Hikam: Hikmah Keenam, "Jangan Berputus Asa dari Doa yang Tertunda"


Malam itu, hujan turun deras di atas Iskandariyah. Para salik berkumpul di beranda zawiyah, membiarkan suara rintik air menjadi pengiring majelis. Namun suasana tidak seperti biasa. Salah seorang salik, Zaid, duduk dengan wajah murung, matanya memandang lantai tanpa berkedip. Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memasuki majelis, memandang Zaid, lalu duduk tanpa berkata apa-apa. Ia menunggu.

Akhirnya Zaid mengangkat suara, pelan namun penuh luka. “Wahai Mursyid, aku telah berdoa. Bertahun-tahun. Setiap malam, setiap setelah shalat, aku memohon kepada Allah. Aku meminta kesembuhan untuk ibuku. Kelapangan untuk rezekiku. Ketenangan untuk hatiku. Tetapi tidak ada yang berubah. Apakah doaku tidak didengar? Apakah Allah tidak mencintaiku?”

Ibnu Atha’illah memandang Zaid dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ

“Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu—setelah engkau mengulang-ulang doamu—membuatmu berputus asa. Karena Dia telah menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki.”

Doa Bukanlah Permintaan

Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, bukankah Allah berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu’ (QS. Al-Mu’min: 60)? 

Mengapa doa Zaid tidak dikabulkan?”

Ibnu Atha’illah tersenyum tipis. “Engkau mengutip ayat yang benar, Fatimah. Tetapi engkau harus memahami perbedaan antara doa dan permintaan.”

“Permintaan adalah kata-kata yang keluar dari lisan. Sedangkan doa adalah keadaan jiwa yang meliputi seseorang yang meminta—kehadiran hati, kerendahan diri, dan taubat yang tulus kepada Allah. Allah menjamin pengabulan doa, bukan sekadar permintaan.”

“Banyak orang berdoa dengan lisan, tetapi hatinya tidak hadir. Ia mengucapkan kalimat-kalimat hafalan, menadahkan tangan seperti ritual, tetapi pikirannya melayang ke urusan lain. Itu bukan doa dalam syariat—itu hanya permintaan.”

Zaid menunduk. “Apakah doaku selama ini hanya permintaan, Wahai Mursyid?”

“Bisa jadi,” jawab Ibnu Atha’illah. “Dan bisa jadi pula doamu adalah doa yang benar, tetapi Allah menundanya karena hikmah yang tidak engkau ketahui.”

Dalil Pertama: Allah Mengetahui, Engkau Tidak

Ibnu Atha’illah membuka mushafnya. “Allah berfirman:

‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’ (QS. Al-Baqarah: 216)”

“Zaid, engkau memohon kesembuhan untuk ibumu. Engkau memohon kelapangan rezeki. Engkau memohon ketenangan hati. Semua itu tampak baik bagimu. Tetapi apakah engkau tahu apa yang terbaik? Allah mengetahui. Dan bisa jadi apa yang engkau benci—penundaan doa, kesulitan, kesabaran yang panjang—itulah yang menyelamatkanmu dari keburukan yang tidak engkau lihat.”

“Terkadang seseorang meminta luasnya rezeki, padahal jika diberi, ia akan bermaksiat. Terkadang seseorang meminta anak, padahal anak itu akan menjauhkannya dari Allah.”

Dalil Kedua: Tiga Kemungkinan Pengabulan Doa

Ibnu Atha’illah kemudian membacakan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga: segera dikabulkan di dunia, ditunda dan disimpan untuknya di akhirat, atau dipalingkan darinya keburukan yang sepadan. ” Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa.” Nabi SAW bersabda, “Allah lebih banyak (memberi).” (HR. Ahmad, Al-Hakim)

“Perhatikanlah, Zaid,” ujar Ibnu Atha’illah. “Doamu tidak pernah sia-sia. Jika tidak dikabulkan di dunia, ia disimpan untukmu di akhirat—dan itu jauh lebih baik. Atau Allah memalingkan keburukan darimu yang tidak engkau sadari. Engkau tidak pernah pulang dengan tangan kosong dari pintu Allah. ”

Dalil Ketiga: Jangan Tergesa-gesa

Nabi SAW juga bersabda:

“Doa kalian akan dikabulkan selama tidak berdoa dengan dosa, tidak memutus kekerabatan, dan tidak tergesa-gesa.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu tergesa-gesa?” Beliau menjawab, “Ia berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi tidak dikabulkan,’ lalu ia meninggalkan doa.” (HR. Bukhari dalam Adab Mufrad)

“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah dengan suara yang dalam, “putus asa adalah pintu yang paling berbahaya. Ia bukan hanya menutup harapanmu, tetapi juga menutup pintu doamu. Selama engkau masih berdoa, engkau masih terhubung dengan Allah. Dan selama engkau terhubung dengan Allah, tidak ada yang sia-sia.”

Penutup: Kembalikan Doamu kepada Pemiliknya

Malam semakin larut. Hujan telah berhenti, dan bintang-bintang muncul di langit Iskandariyah. Ibnu Atha’illah bangkit, membetulkan selendangnya, dan memandang para salik dengan penuh kasih.

“Anak-anakku,” ujarnya, “janganlah engkau mengukur cinta Allah dengan terkabulnya permintaanmu. Engkau bukanlah tuan yang memberi perintah kepada pelayan. Engkau adalah hamba yang menyerahkan urusannya kepada Tuan yang Maha Mengetahui.”

“Doa bukanlah alat untuk memaksa Allah, tetapi cara untuk menyatakan kefakiranmu di hadapan-Nya. Dan orang yang fakir di hadapan Allah tidak pernah kecewa, karena ia tidak menuntut—ia hanya memohon.”

“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, aku tidak tahu apa yang terbaik untukku. Engkau tahu. Karuniakanlah kepadaku apa yang Engkau pilih untukku, pada waktu yang Engkau kehendaki, karena Engkaulah sebaik-baik pemilih.’”

Zaid mengusap air matanya. Ia belum mendapatkan apa yang ia minta, tetapi ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: keyakinan bahwa doanya tidak pernah sia-sia.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah ketujuh.

Sabtu, 31 Oktober 2026

Solidaritas Singapura Ditengah Asap: "Antara Empati Regional dan Teguran Yudisial" (Bag-1)



(Secangkir Anggur Merah, Edisi -70)

Narasi Pemicu: Ketika kabut asap dari karhutla Indonesia kembali menyelimuti langit Singapura pada Oktober 2026, respons Negeri Singa itu patut dicermati secara kritis. Di satu sisi, Perdana Menteri Lawrence Wong menyatakan bahwa Singapura telah menawarkan bantuan teknis dan pemadaman. Termasuk masker N95, air minum, hingga pesawat Hercules C-130. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu bahkan menyebut Singapura siap memberikan bantuan di bidang apa pun sesuai permintaan Indonesia. 

Tersirat Posisi Superior

Namun, di sisi lain, Singapura secara paralel membuka penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan yang diduga menjadi pemicu kebakaran. Dan tidak ragu mengancam sanksi di bawah Transboundary Haze Pollution Act (THPA). Solidaritas Singapura, dengan demikian, bukanlah solidaritas tanpa syarat. Ia adalah empati yang berjalan seiring dengan penegakan hukum dan penuntutan akuntabilitas.

Kritik pertama yang harus diarahkan adalah pada sifat solidaritas itu sendiri. Tawaran bantuan Singapura. Seperti masker, air minum, Hercules C-130, memang terdengar murah hati. Tetapi sekaligus menggunakan bahasa yang menyiratkan posisi superior.

Singapura sebagai pemberi bantuan. Indonesia sebagai penerima yang perlu ditolong. Dalam krisis lingkungan lintas batas. Narasi “donor-resipien” semacam ini berisiko mereduksi persoalan struktural menjadi sekadar urusan logistik. 

Padahal, akar karhutla bukanlah kekurangan pesawat atau masker. Melainkan tata kelola lahan yang timpang. Laporan Walhi mencatat 30.927 titik panas sepanjang Januari–September 2026. Dan hampir separuh berada di dalam area konsesi perusahaan perkebunan sawit. Serta pemegang izin pemanfaatan hutan. 

Solidaritas yang hanya berhenti pada bantuan teknis. Tanpa menyentuh akar korporasi ini. Adalah solidaritas yang kosmetik.

Mengapa Hanya Perlengkapan Pemadaman

Kritik kedua menyentuh ketegangan antara diplomasi dan penegakan hukum. Di saat yang sama ketika Singapura menawarkan bantuan. Otoritasnya mengusut perusahaan-perusahaan yang lahannya terbakar dan mengancam sanksi THPA. Ini adalah langkah yang secara prinsip patut diapresiasi.

Singapura tidak ingin bantuannya menjadi alibi bagi pembiaran. Namun, langkah ini juga memunculkan pertanyaan tentang konsistensi. Jika Singapura serius menegakkan akuntabilitas. Mengapa bantuan yang ditawarkan justru berfokus pada perlengkapan pemadaman. Bukan pada penguatan penegakan hukum di Indonesia? 

Mengapa bukan dukungan untuk membongkar jaringan korporasi lintas batas yang, menurut analisis struktur kepemilikan, terkait dengan sembilan korporasi berisiko tinggi yang terhubung ke Singapura, Malaysia, dan Hong Kong? 

Singapura memiliki kapasitas finansial dan yudisial untuk menindak anak perusahaan yang beroperasi di wilayahnya. Solidaritas sejatinya akan lebih bermakna jika ia menggunakan leverage itu secara maksimal. Bukan hanya mengirim Hercules.

Respon Indonesia yang Ambigu

Kritik ketiga adalah tentang respons Indonesia yang ambigu. Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tawaran bantuan negara tetangga. Tetapi hingga akhir Oktober, BNPB masih “menginventarisasi” kebutuhan. Belum mengeksekusi bantuan secara signifikan. 

Menko PMK Sugiono bahkan menyatakan bahwa “sejauh ini semuanya bisa kita penuhi”. Pernyataan ini, di satu sisi, menunjukkan kepercayaan diri pemerintah terhadap kapasitas nasional—71.000 personel dan 50 lebih armada udara dikerahkan. 

Namun, di sisi lain, ia menciptakan kesan bahwa Indonesia enggan menerima bantuan asing karena gengsi. Sementara asap terus menyeberang ke Singapura dan Malaysia. 

Ketegangan ini memperlihatkan bahwa solidaritas regional tidak hanya diuji oleh kemauan negara tetangga untuk membantu. Tetapi juga oleh kesediaan Indonesia untuk menerima bantuan tanpa merasa dilecehkan kedaulatannya.

Menciptakan Spektrum Tidak Nyaman

Yang paling tajam, solidaritas Singapura harus dibaca dalam konteks hubungan ekonomi yang lebih luas. Beberapa hari setelah pertemuan bilateral Menlu RI dan Singapura. Indonesia mengumumkan pengurangan ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 juta kaki padu standar per hari. 

Meskipun kedua menteri tidak membahas isu ini secara terbuka. Kedekatan waktu antara pengurangan gas dan pembicaraan karhutla menciptakan spektrum yang tidak nyaman. Apakah solidaritas Singapura atas asap Indonesia sepenuhnya tulus. Ataukah ia berkelindan dengan kepentingan energi dan tekanan diplomatik? 

Dalam politik regional. Solidaritas jarang hadir dalam ruang hampa. Ia selalu berkelindan dengan kepentingan. Mengabaikan dimensi ini akan membuat analisis tentang solidaritas Singapura menjadi naif.

Layak Dapresiasi

Pada akhirnya, solidaritas Singapura atas tragedi karhutla Indonesia layak diapresiasi sebagai gestur kemanusiaan dan pengakuan atas keterhubungan ekologis kawasan. 

Namun, narasi ini berargumen bahwa solidaritas sejati tidak boleh berhenti pada pengiriman masker dan pesawat. Ia harus berani menyentuh akar masalah: Tata kelola lahan gambut. Akuntabilitas korporasi lintas batas. Dan keadilan iklim. 

Singapura, dengan kapasitas hukum dan finansialnya. Berada pada posisi unik untuk melampaui bantuan simbolik dan menjadi mitra dalam membongkar struktur yang membuat karhutla menjadi bencana tahunan. 

Sebaliknya, Indonesia perlu keluar dari logika gengsi dan melihat bantuan asing bukan sebagai tanda kelemahan. Melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif kawasan. Asap tidak mengenal batas negara. Solidaritas pun seharusnya tidak berhenti di perbatasan.

Jadi sebaiknya dan sebijaknya, Indonesia menurunkan dulu sedikit gengsinya. Terima saja bantuannya. Jangan terlalu ngotot merasa terhina atau direndahkan. Mantabs kan..!

Serial Tasawuf-38 Al-Hikam: Hikmah Kelima, "Ketika Mata Hati Buta"


Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan. Para salik duduk melingkar di beranda zawiyah, tetapi salah satu dari mereka, Zaid, tampak tidak tenang. Ia baru saja pulang dari perjalanan dagang yang melelahkan. Wajahnya menyimpan sesuatu yang mengganjal.

“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara berat, “aku bekerja siang dan malam. Aku mengejar rezeki dengan sekuat tenaga. Tetapi aku merasa shalatku semakin tergesa-gesa. Dzikirku semakin jarang. Dan hatiku semakin jauh dari Allah. Apakah ini yang disebut kehilangan berkah?”

Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandangnya dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَتَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَلِيلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ

“Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu, dan kelalaianmu dalam melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti padamnya mata hatimu.”

Zaid terdiam. “Wahai Mursyid, apakah maksudnya bahwa aku telah buta hatinya?”

“Bukan buta mata kepalamu, Zaid,” jawab Ibnu Atha’illah. “Tetapi buta bashirah. Mata batin yang seharusnya melihat hakikat.”

Apa yang Dijamin dan Apa yang Dituntut

Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, apa yang dimaksud dengan ‘yang dijamin’ dan ‘yang dituntut’?”

Ibnu Atha’illah menjawab, “Yang dijamin adalah rezeki. Allah telah menjaminnya untuk setiap makhluk yang bernyawa. Bahkan sebelum ia dilahirkan.”

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

“Dan yang dituntut darimu,” lanjutnya, “adalah ibadah, mengenal Allah, mencintai-Nya, dan menjalankan amanah sebagai hamba.”

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

“Perhatikanlah,” ujar Ibnu Atha’illah. “Allah menciptakanmu bukan untuk mencari rezeki. Rezeki sudah dijamin. Allah menciptakanmu untuk beribadah. Tetapi engkau membalik urusannya: Engkau bersungguh-sungguh mengejar yang sudah dijamin. Dan lalai dari yang dituntut darimu.”

Mata Hati yang Buta

Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa mata hati kami telah buta?”

Ibnu Atha’illah menjawab dengan dua ayat. “Allah berfirman:

‘Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, di akhirat pun dia pasti buta dan lebih tersesat jalannya.’ (QS. Al-Isra: 72)

“Dan Allah juga berfirman:

‘Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat.’ (QS. Al-Baqarah: 7)

“Mata hati bukan untuk melihat dunia,” jelas Ibnu Atha’illah. “Mata hati adalah kemampuan hati untuk memahami kebenaran, membedakan yang hak dari yang batil, dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah.” “Jika engkau sibuk mengejar rezeki yang sudah dijamin, sementara engkau meninggalkan ibadah yang dituntut darimu, maka engkau sedang menunjukkan bahwa mata hatimu telah padam.”

Dalil dari Hadits

Ibnu Atha’illah kemudian membacakan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung-burung. Mereka keluar pagi dalam keadaan lapar, dan kembali sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)

“Burung-burung itu keluar mencari makan,” ujar Ibnu Atha’illah, “tetapi mereka tidak gelisah seperti engkau. Mereka berusaha, tetapi hati mereka tidak terikat pada hasil. Mereka tahu bahwa yang memberi rezeki adalah Allah.”

Dan Nabi SAW juga bersabda:

“Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutupi kemiskinanmu.” (HR. Ibnu Majah)

“Perhatikanlah, Zaid,” kata Ibnu Atha’illah. “Allah tidak berkata ‘luangkan seluruh waktumu untuk beribadah.’ Ia berkata ‘luangkanlah waktumu’ . Artinya, jadikan ibadah sebagai prioritas. Maka rezeki akan mengikuti.”

Penutup: Reorientasi Hidup

Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit dan memandang para salik dengan penuh kasih.

“Anak-anakku,” ujarnya, “janganlah engkau menukar yang kekal dengan yang fana. Janganlah engkau menguras seluruh tenagamu untuk sesuatu yang sudah dijamin. Sementara engkau meninggalkan sesuatu yang justru menjadi tujuan penciptaanmu.”

“Bashirah yang sehat adalah ketika engkau melihat dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Engkau bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Tetapi hatimu bergantung kepada Allah. Engkau mengejar rezeki dengan tangan. Tetapi jiwamu mengejar ridha-Nya.”

“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, jadikanlah rezeki yang telah Engkau jamin sebagai sarana untuk beribadah kepada-Mu. Bukan sebagai penghalang dari-Mu. Janganlah Engkau biarkan mata hatiku buta oleh kilau dunia.’”

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid menghela napas panjang. Ia kini mengerti. Ia bukan salah karena bekerja. Tetapi ia salah karena membalik prioritas. Dan malam itu, ia pulang dengan tekad baru. Bekerja dengan tangan. Tetapi beribadah dengan hati.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah keenam. "Jangan Berputus Asa dari Doa yang Tertunda"

Membaca Makna Kehadiran Menlu Singapura di Jakarta (Bag-2, Habis)

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-71) Narasi Pemicu : Kehadiran Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, di Jakarta pada 27 Oktober ...