(Secangkir Anggur Merah, Edisi-79)
Leaderline: Narasi “makar” dalam skandal penyadapan ini tidak dibangun oleh satu pihak. Melainkan melalui konstruksi berlapis yang menggabungkan pernyataan analis, politisi, dan aktivis. Tujuannya bukan sekadar menghukum pelaku penyadapan. Tetapi memindahkan pusat gravitasi kasus dari pelanggaran prosedur menjadi pengkhianatan terhadap negara.
Siapa yang Membangun Narasi, Apa Motifnya?
Narasi ini digerakkan oleh beberapa aktor dengan penekanan berbeda. Pangi Syarwi Chaniago (Voxpol Center) adalah yang paling eksplisit: ia menyebut kasus ini “sudah operasi makar” dan menuding “Geng Solo” sebagai pihak yang “tidak loyal” dan “pengkhianat” terhadap Presiden Prabowo.
Effendi Gazali (pakar komunikasi politik) memperkuatnya dengan pernyataan tegas: “Ini bukan hanya soal penyadapan. Saya mau mengatakan pada malam ini. Ini soal makar”.
Dari kubu PDIP, Guntur Romli menyebut penyadapan terhadap presiden sebagai “kejahatan serius terhadap negara” yang “dapat mengarah pada makar” jika terbukti melemahkan kewibawaan kepala negara.
Jhon Sitorus menautkan momentum penangkapan dengan kehadiran Jokowi di Jakarta. Serta menyebut Listyo Sigit dan “Geng Solo” berada “di ujung tanduk”.
Motifnya berlapis. Bagi Pangi, ini adalah puncak dari peringatannya selama dua tahun agar Prabowo berhenti “mengasuh Geng Solo”. Ia bahkan mendesak agar Gibran dimakzulkan dan Jokowi diadili jika terbukti melakukan “tindak pidana kudeta”.
Motifnya berlapis. Bagi Pangi, ini adalah puncak dari peringatannya selama dua tahun agar Prabowo berhenti “mengasuh Geng Solo”. Ia bahkan mendesak agar Gibran dimakzulkan dan Jokowi diadili jika terbukti melakukan “tindak pidana kudeta”.
Narasi makar, dengan demikian, berfungsi sebagai kendaraan politik untuk menuntaskan agenda yang lebih besar: Membersihkan sisa-sisa kekuasaan Jokowi dari pemerintahan Prabowo.
Tiga Pilar Konstruksi “Makar”
Narasi ini berdiri di atas tiga pilar argumentasi yang saling menguatkan.
Pertama, pengkhianatan struktural.
Tiga Pilar Konstruksi “Makar”
Narasi ini berdiri di atas tiga pilar argumentasi yang saling menguatkan.
Pertama, pengkhianatan struktural.
Listyo Sigit adalah Kepala Staf Kepresidenan. Orang yang seharusnya menjadi pelindung terakhir presiden. Menyadap presiden yang ia layani bukan sekadar pelanggaran hukum. Melainkan pengkhianatan atas sumpah jabatan.
Guntur Romli menyebutnya “makar dalam bentuk paling licik”. Logikanya: jika orang kepercayaan presiden sendiri menyadapnya. Maka yang sedang diserang bukan hanya privasi. Melainkan eksistensi kekuasaan itu sendiri.
Kedua, operasi politik terselubung
Kedua, operasi politik terselubung
Pangi tidak berhenti pada tindakan individual. Ia membingkainya sebagai “operasi politik dari geng Solo” yang bertujuan melakukan “kudeta”.
Informasi hasil sadapan. Percakapan presiden, menteri, politisi, hingga pengusaha. Diposisikan sebagai amunisi untuk melemahkan pemerintahan yang sah. Dalam kerangka ini. Penyadapan bukan tujuan akhir. Melainkan instrumen dalam permainan kekuasaan yang lebih besar.
Ketiga, normalisasi istilah hukum
Ketiga, normalisasi istilah hukum
Dengan menyebut “makar”. Para penggerak narasi berupaya menaikkan derajat kasus dari pelanggaran UU ITE (ancaman 10 tahun) menjadi kejahatan terhadap keamanan negara (Pasal 191 KUHP, ancaman hingga pidana mati).
Swarna Dwipa Institute bahkan menegaskan bahwa praktik tersebut “memenuhi unsur makar”. Tujuannya jelas: menciptakan tekanan publik agar penyidik tidak berhenti pada pasal penyadapan. Tetapi menelusuri “perintah siapa” di baliknya.
Kontra-Narasi: Pemerintah Menolak Label Makar
Namun, konstruksi ini tidak berjalan tanpa hambatan. Pemerintah melalui Menko Yusril Ihza Mahendra secara konsisten menegaskan bahwa kasus ini “tidak terindikasi makar” dan penyidik sejauh ini hanya menggunakan pasal penyadapan, intersepsi, dan akses ilegal.
Kontra-Narasi: Pemerintah Menolak Label Makar
Namun, konstruksi ini tidak berjalan tanpa hambatan. Pemerintah melalui Menko Yusril Ihza Mahendra secara konsisten menegaskan bahwa kasus ini “tidak terindikasi makar” dan penyidik sejauh ini hanya menggunakan pasal penyadapan, intersepsi, dan akses ilegal.
Pernyataan ini penting karena dua alasan. Secara hukum, label makar menuntut pembuktian unsur voornemen (niat) dan begin van uitvoering (permulaan pelaksanaan) yang jauh lebih berat daripada penyadapan.
Secara politis, pemerintah tampaknya ingin mengelola eskalasi. Mengakui kasusnya serius. Tetapi menolak membakarnya menjadi konflik terbuka dengan kekuatan politik Jokowi.
Analisis: Makar sebagai “Bahasa Politik”, Bukan (Belum) Bahasa Hukum
Yang menarik dari konstruksi ini adalah jarak antara klaim dan pembuktian. Tuduhan makar dibangun di atas inferensi dari motif. Bukan dari bukti formal.
Analisis: Makar sebagai “Bahasa Politik”, Bukan (Belum) Bahasa Hukum
Yang menarik dari konstruksi ini adalah jarak antara klaim dan pembuktian. Tuduhan makar dibangun di atas inferensi dari motif. Bukan dari bukti formal.
Pangi menyimpulkan adanya “operasi makar” dari fakta bahwa penyadapan terjadi dan informasi dapat digunakan untuk “kudeta”.
Effendi Gazali menyimpulkan “makar” dari fakta bahwa pelakunya adalah orang dalam. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengklaim memiliki bukti langsung bahwa Listyo Sigit diperintah oleh Jokowi untuk menggulingkan Prabowo.
Di sinilah narasi ini bekerja sebagai bahasa politik. Bukan sebagai dakwaan hukum. Ia berfungsi untuk membingkai ulang skandal penyadapan. Dari perkara pidana menjadi pertarungan eksistensial antara Prabowo dan sisa-sisa kekuasaan Jokowi.
Di sinilah narasi ini bekerja sebagai bahasa politik. Bukan sebagai dakwaan hukum. Ia berfungsi untuk membingkai ulang skandal penyadapan. Dari perkara pidana menjadi pertarungan eksistensial antara Prabowo dan sisa-sisa kekuasaan Jokowi.
Dalam bahasa Pierre Bourdieu, ini adalah perebutan kekuasaan simboliK. Kekuasaan untuk menetapkan apa yang sedang terjadi. Jika publik menerima bahwa ini adalah “makar”. Maka tuntutan hukumnya berubah. Bukan sekadar memenjarakan penyadap. Tetapi menyingkirkan seluruh jaringan politik yang dianggap berada di belakangnya.
Konsekuensinya bersifat dua arah. Jika narasi ini gagal dibuktikan. Ia dapat berbalik menjadi boomerang. Tuduhan makar tanpa dasar hukum bisa dipersepsikan sebagai kriminalisasi politik terhadap oposisi.
Konsekuensinya bersifat dua arah. Jika narasi ini gagal dibuktikan. Ia dapat berbalik menjadi boomerang. Tuduhan makar tanpa dasar hukum bisa dipersepsikan sebagai kriminalisasi politik terhadap oposisi.
Namun jika ia berhasil. Ia akan menjadi legitimasi bagi operasi pembersihan yang jauh lebih luas. Bukan hanya terhadap Listyo Sigit, tetapi terhadap seluruh arsitektur kekuasaan yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya.
Hingga saat itu tiba, “makar” tetap menjadi kategori yang diperebutkan: Senjata retoris yang ampuh. Tetapi belum menjadi kebenaran hukum.
Jika benar. Upaya makar, sangat beresiko Jenderal...!!



