Rabu, 13 Mei 2026

Tidak Semua Bid'ah Sesat



Bid’ah merupakan istilah dalam Islam yang merujuk kepada inovasi atau penambahan sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. 

Secara umum, bid'ah dianggap sebagai sesuatu yang tidak diinginkan dalam Islam, karena bisa menyebabkan penyimpangan dari ajaran asli agama Islam. Akan tetapi dalam perjalanan Islam, tidak semua bid’ah digolongangkan sesat. 

Ada beberapa yang dikategorikan sebagai bid’ah yang baik, seperti pembukuan Al-Qur’an dan Hadits, diadakannya shalat tarawih berjamaah dan sebagainya. Selain itu juga kita harus menguasai ajaran Nabi saw secara menyeluruh. Bisa dilihat dari berbagai literasi tentang sunnah-sunnah Nabi dengan segala amaliahnya. 

Karena ada beberapa orang yang sering salah kaprah menuduh amaliah saudara Muslim lainnya sebagai ajaran bid’ah yang menyimpang, padahal ada sumber dan dalilnya. 

Kapan Mau Tambah Ibadah? Mengutip tulisan dari KH Ma’ruf Khozin yang ditulis di media sosialnya, bahwa ada empat tema yang digolongkan sebagai bahan tuduhan bid’ah. 

Jika kita menguasai dalilnya dan sejarah para ulama Salaf maka kita bisa mematahkan klaim yang keliru tersebut. 

1. Hadits Dhaif

Apakah Bid'ah? Soal talqin, membaca Yasin, membaca Al-Qur’an di makam dan sebagainya selalu dituduh bid’ah karena dianggap hadisnya dhaif. Sesungguhnya cukup dijawab bahwa ulama salaf yang ahli di bidang Hadits pun juga mengamalkan Hadits dhaif. 

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Qaul Musaddad:

 وقد ثبت عن الإمام أحمد وغيره من الأئمة أنهم قالوا إذا روينا في الحلال والحرام شددنا وإذا روينا في الفضائل ونحوها تساهلنا 

Artinya: Telah tetap dari Imam Ahmad dan imam yang lain, bila kami meriwayatkan dari Nabi tentang hukum halal dan haram, maka kami sangat selektif dalam hal sanad. Jika kami meriwayatkan keutamaan amal dan selain hukum, maka kami tidak selektif (Al-Hafidz Ibnu Hajar, Qaul Musaddad, 1/11). 

Musnad Ahmad memuat sekitar 6000 dhaif dari 27.688 sebagaimana ditakhrij oleh Syekh Syuaib Arnauth. Adab Al Mufrad karya Imam Bukhari mengoleksi hadits dhaif sebanyak 215, seperti ditakhrij oleh Syekh Albani. 

Demikian pula Muwatha’ Imam Malik dengan 333 riwayat dhaif. Jika mengaku pengikut salaf padahal ulama salaf menerima hadits dhaif, lalu ulama salaf mana yang mereka ikuti? 

2. Dalil Qiyas 

Dalam fiqih Syafi’i ada metode qiyas sebagai salah satu sumber hukum setelah Al-Qur'an, Hadits dan Ijmak. Jika kita ditanya mana dalil keabsahan qiyas? Maka jawabannya terdapat dalam firman Allah swt: 

قَوْلُهُ : { أَطِيْعُواْ اللهَ وَأَطِيْعُواْ الرَّسُوْلَ } يَدُلُّ عَلَى وُجُوْبِ مُتَابَعَةِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ . قَوْلُهُ : { وَأُوْلِى الْأمْرِ مِنْكُمْ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ إِجْمَاعَ الْأُمَّةِ حُجَّةٌ ... قَوْلُهُ : { فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ الْقِيَاسَ حُجَّةٌ 

Artinya: Firman Allah (ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul) menunjukkan kewajiban mengikuti Al-Quran dan Hadits. Firman Allah (dan ulil amri) menunjukkan bagi kita bahwa ijma’ umat Islam adalah sebuah hujjah. Dan firman Allah (jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu...) menunjuk-kan bagi kita bahwa qiyas adalah sebuah hujjah (Tafsir Al-Kabir 5/248-251). 

Dari hasil ijtihad para ulama, bahwa qiyas ini sangat banyak sekali, mulai mengeraskan niat shalat yang diqiyaskan saat Nabi mengeraskan bacaan niat haji. Hal ini tercantum dalam sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari: 

قَالَ أَنَسٌ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍّ (رواه مسلم 2195) 

Artinya: Anas berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda (dalam niat Haji dan umrah): "Saya penuhi panggilan-Mu dengan Umrah dan Haji" (HR Muslim, nomor 2195). Salah satu imam mazhab empat, Imam Syafi'i pun mengeraskan bacaan niat sebelum salat. 

Hal tersebut terdapat dalam Al-Mu’jam-nya Ibnu Al-Muqri:

 أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ ، ثَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ كَانَ الشَّافِعِي إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ : بِسْمِ اللهِ مُوَجِّهًا لِبَيْتِ اللهِ مُؤَدِّيًا لِفَرْضِ اللهِ عَزَّ وَجَل َّاللهُ أَكْبَرُ 

Artinya: Mengabarkan kepadaku Ibnu Khuzaimah, mengabarkan kepadaku Ar-Rabi’, ia berkata, Imam Syafi’i ketika akan masuk dalam shalat beliau mengucapkan “Bismillah Aku menghadap ke Baitullah, menunaikkan kewajiban kepada Allah, Allahu Akbar (Ibnu Al-Muqri, Al-Mu’jam: 317). 

3. Keabsahan Tradisi dalam Agama 

Bagi yang pernah belajar ilmu ushul fiqih dan kaidah fiqih, maka akan mengerti bahwa tradisi dapat diterima untuk diamalkan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Di antaranya adalah yang dijelaskan oleh Syekh Khatib Asy-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj:

 وَحَكَى الْمُصَنِّفُ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَالْأَذْكَارِ وَجْهًا أَنَّ ثَوَابَ الْقِرَاءَةِ يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ كَمَذْهَبِ الْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ ، وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ الْأَصْحَابِ مِنْهُمْ ابْنُ الصَّلَاحِ ، وَالْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ ، وَابْنُ أَبِي الدَّمِ ، وَصَاحِبُ الذَّخَائِرِ ، وَابْنُ أَبِي عَصْرُونٍ ، وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ 

Artinya: Al-Nawawi menyebutkan suatu pendapat Syafiiyah dalam Syarah Muslim dan Adzkar bahwa pahala bacaan al-Qur’an bisa sampai kepada mayit, seperti tiga mazhab yang lain. Pendapat ini dipilih oleh ulama Syafiiyah diantaranya Ibnu Shalah, Muhib al-Thabari, Ibnu Abi ad-Dam, pengarang al-Dzakhair, Ibnu Abi Ashrun. Inilah yang diamalkan umat Islam. Apa yang dilihat baik oleh umat Islam, maka baik pula bagi Allah (Mughni al-Muhtaj 11/220). 

Di bagian ini kita sering distigma dengan kalangan Tradisionalis Aswaja, atau sering disingkat Asli Warisan Jawa, dan lainnya. Sekali lagi, tradisi bisa diterima asalkan tidak ada unsur keharaman di dalamnya. 

Apakah semua bentuk kesamaan tradisi dengan agama lain tidak boleh dilakukan dalam Islam? Tidak demikian cara memahami dalil tasyabuh, tetapi harus ada kriterianya seperti yang disampaikan oleh Ibnu Najim dari Mazhab Hanafi:

 ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ التَّشْبِيهَ بِأَهْلِ الْكِتَابِ لَا يُكْرَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ وَإِنَّا نَأْكُلُ وَنَشْرَبُ كَمَا يَفْعَلُونَ إنَّمَا الْحَرَامُ هُوَ التَّشَبُّهُ فِيمَا كَانَ مَذْمُومًا وَفِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشْبِيهُ كَذَا ذَكَرَهُ قَاضِي خَانْ فِي شَرْحِ الْجَامِعِ الصَّغِيرِ فَعَلَى هَذَا لَوْ لَمْ يَقْصِدْ التَّشَبُّهَ لَا يُكْرَهُ عِنْدَهُمَا 

Artinya: Tasyabbuh (serupa) dengan Ahli Kitab tidak makruh dalam segala hal. Kita makan dan minum. Mereka juga sama. Haram tasyabbuh jika (1) tercela (2) sengaja tasyabbuh. Jika tidak sengaja maka tidak makruh (Al-Bahr al-Raiq, 4/74). 

4. Ibadah Mahdhah. 

Di poin keempat inilah yang paling banyak mendapat tuduhan bid’ah. Semua ibadah dianggap sama sehingga setiap ada ijtihad di dalam agama dituduh bid’ah. Bagi fiqih Syafi’i khususnya, ada ibadah mahdhah yang secara tuntunan dan pengamalan sudah final dari Nabi, sehingga tidak ada peluang ijtihad karena dalilnya sudah jelas dan gamblang, misalnya jumlah rakaat salat. 

Tidak ada cerita bahwa umat Islam, terkhusus pengikut ulama Aswaja menambah rakaat shalat Subuh menjadi 5 rakaat, jumatan jadi 10 rakaat dan lainnya. Selain ibadah mahdlah, ada juga ibadah ghairu mahdhah, yakni ibadah yang dalil umumnya ada tetapi teknis pelaksanaannya terjadi beda pendapat di kalangan ulama, misalnya jumlah rakaat Tarawih. Mayoritas mengatakan 20 rakaat, ada yang mengatakan 8 rakaat, bahkan ada yang lebih banyak, seperti dalam mazhab Maliki. 

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Bidayat al-Mujtahid:

 وَذَكَرَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحْسِنُ سِتًّا وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً وَالْوِتْرُ ثَلَاثٌ … وَذَكَرَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ اْلأَمْرُ الْقَدِيْمُ : يَعْنِي الْقِيَامَ بِسِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً 

Artinya: Ibnu Qasim menyebutkan dari Imam Malik bahwa beliau menilai baik (salat Tarawih) 36 rakaat dan witir 3 rakaat… Ibnu Qasim menyebutkan dari Imam Malik bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang dahulu, yakni Tarawih 36 rakaat (Bidayat al-Mujtahid, 1/312). 

Contoh lain dari hal serupa, adalah anjuran melakukan shalat sunnah sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan. Maka Imam Ahmad selaku ulama salaf, pernah salat 300 rakaat setiap hari padahal tidak ada contoh dari Nabi saw: 

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ كَانَ أَبِي يُصَلِّي فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثَلاَثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ 

Artinya: Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya (Ahmad bin Hanbal) melakukan salat dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat (Mukhtashar Tarikh Dimasyqa, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/399). 

Demikian pula Imam Bukhari, beliau menentukan sendiri waktu shalat istikharah padahal tidak ada ketentuan dari Nabi, yaitu saat menulis kitab Sahihnya:

 قَالَ الْفَرْبَرِي قَالَ لِي الْبُخَارِي: مَا وَضَعْتُ فِي كِتَابِي الصَّحِيْحِ حَدِيْثاً إِلاَّ اغْتَسَلْتُ قَبْلَ ذَلِكَ وَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ 

 Artinya: Al-Farbari berkata bahwa Al-Bukhari berkata, saya tidak meletakkan satu Hadits pun dalam kitab sahih saya, kecuali saya mandi terlebih dahulu dan saya salat 2 rakaat (Siyar A’lam an-Nubala’, 12/402). Pada ranah ini juga, pendapat Mufti Saudi membenarkan amalan Tarawih di Makkah padahal tidak dilakukan oleh Nabi saw:

 هذا عمل حسن فيقرأ الإمام كل ليلة جزءا أو أقل ... وهكذا دعاء الختم فعله الكثير من السلف الصالح ، وثبت عن أنس - رضي الله عنه - خادم النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه فعله ، وفي ذلك خير كثير والمشروع للجماعة أن يؤمنوا على دعاء الإمام رجاء أن يتقبل الله منهم 

Artinya: Khataman Al-Qur’an saat shalat Tarawih ini adalah amal yang bagus. Juga membaca doa khatam sudah diamalkan oleh banyak ulama salaf, Anas bin Malik. Bagi makmum dianjurkan membaca amin (Majmu’ Fatawa Bin Baz 11/388).

Demikianlah beberapa amalan umat Islam, khususnya kalangan Ahlussunnah wal Jamaah yang masih dilakukan hingga saat ini, akan tetapi kadang amalan ini sering dianggap bid’ah dan tidak mendasar dari sesama saudara semuslim yang juga berbeda pendapat.​​​​​​​

Maka diharapkan kita sebagai umat Islam harus benar-benar mempelaari ilmu dalam agama Islam secara menyeluruh (komprehensif) dan mendetail. Jangan sampai mempelajarinnya hanya sepotong-sepotong, karena dikhawatirkan akan merasa benar sendiri.

Senin, 11 Mei 2026

Dahaga Bersua Ilahi



Dalam sunyi kusebut nama-Mu
Bagai kasturi semerbak di kalbu
Rindu ini membara tak terpadu
Bagai gurun dahaga akan biru...

Di malam buta kudamba cahaya-Mu
Seperti kuntum melati pohon rindu
Angin berbisik membawa wangi syahdu
Namun tetap kucari wajah-Mu yang satu...

Wahai kekasih sejati yang abadi
Jangan biarkan hamba sendiri menanti
Ruh ini layu tanpa sentuhan ilahi
Bagai bumi tandus menanti hujan suci...

Kutunggu fajar di balik jingga senja
Namun gelap terus menyergap nyata
Sampai kapan rindu ini menggejala?
Hanya nama-Mu jadi obat yang nyata...

Ya Rabbi, ampuni dahaga yang melampau
Bukan maksud hati menguji cinta-Mu
Hanya kerinduan yang tak sanggup berpura-pura
Bahwa tanpa-Mu, hidup hampa belaka...

Minggu, 10 Mei 2026

Kεtikα Jiwα Sεdαng Ditεmρα: "ADΑ LΑNGIT YΑNG MΕNYΑPΑ"



Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Kεtikα lαngit mεnghujαni bumi, kitα sεring mεngirα iα sεdαng mεnggαnggu. Pαdαhαl di dαlαm tεtεs-tεtεs itu, tεrsεmbυnyi kεhidupαn yαng bαru. Dεmikiαn pulα ujiαn. Ujiαn itu tαndα kαsih sαyαng Allαh. Iα dαtαng bukαn untuk mεnyulitkαn, mεlαinkαn untuk mεnyuburkαn. Kαlimαt ini mυngkin tεrdεngαr indαh, tεtαpi tidαk sεlαlu mυdαh untuk dirαsαkαn.

Sεbαb kεtikα ujiαn itu dαtαng, yαng kitα rαsαkαn bukαn kαsih sαyαng, mεlαinkαn sαkit, sεsαk, dαn kεlεlαhαn. Mαkα wαjαr jikα kitα bεrtαnyα, “Di mαnα lεtαk kαsih sαyαng itu?” Sεbεntαr… jαngαn tεrburu-buru mεnjαwαb. Mαri kitα duduk bεrsαmα, mεnεngok kε dαlαm.

Ujiαn bukαnlαh tαndα Allαh mεnjαuh. Justru sεbαliknyα, iα αdαlαh bukti pεrhαtiαn-Nyα. Sεpεrti sεorαng guru yαng mεnguji muridnyα, bukαn kαrεnα bεnci, tεtαpi kαrεnα ingin mεnαikkαn kεmαmpuαnnyα. Sεpεrti orαng tuα yαng mεlαtih αnαknyα, bukαn kαrεnα ingin mεnyusαhkαn, tεtαpi kαrεnα ingin mεnguαtkαn. Bεgitu pulα Allαh. Diα mεnguji, bukαn untuk mεnjαtuhkαn, mεlαinkαn untuk mεngαngkαt.

Ujiαn itu hαdiαh mεski tidαk sεlαlu dibungkus kεindαhαn. Di dαlαmnyα, αdα bαnyαk hikmαh: mεnguji kεimαnαn, mεnghαpus dosα, mεnαikkαn dεrαjαt, dαn mεmbεrsihkαn jiwα. Tεtαpi sεmυα itu tidαk sεlαlu lαngsung tεrlihαt. Sεpεrti biji yαng ditαnαm di dαlαm tαnαh, iα hαrus mεlεwαti gεlαp tεrlεbih dαhulu, sεbεlum αkhirnyα tumbuh mεnjαdi pohon.

Kεtikα kitα sεdαng diuji, mυngkin kitα sεdαng diprοsεs. Diprοsεs untuk mεnjαdi lεbih kuαt, lεbih tαkwα, dαn lεbih dεkαt. Bαhkαn, sεring kαli kεdεkαtαn itu
justru lαhir dαri kεsεmpitαn. Bukαnkαh kεtikα lαpαng, kitα sεring lupα? Dαn kεtikα sεmpit, kitα jαdi lεbih sεring mεnyεbut Nαmα-Nyα. Dαlαm titik itu, ujiαn bεrυbαh mεnjαdi jαlαn. Jαlαn yαng mεmbαwα kitα pulαng.

Mυngkin kitα pεrnαh mεrαsα, “Μεngαpα hαrus αku yαng diuji?” Pεrtαnyααn itu mαnusiαwi. Bαhkαn pαrα Nαbi pun pεrnαh mεrαsαkαn bεrαtnyα ujiαn. Tεtαpi pεlαn-pεlαn, pεrtαnyααn itu bisα kitα ubαh: Bukαn lαgi, “Μεngαpα αku yαng diuji?” tεtαpi, “Αpα yαng ingin Allαh αjαrkαn pαdαku?” Dαri sitυ, hαti kitα mulαi luluh. Bukαn kαrεnα ujiαnnyα hilαng, tεtαpi kαrεnα mαknαnyα tεrbukα.

Sεtiαp kεsulitαn mεmbαwα kεsεmpαtαn. Sεtiαp lukα mεnyimpαn pεmbεlαjαrαn. Dαn sεring kαli, rαhmαt Allαh tidαk dαtαng dαlαm bεntuk yαng kitα hαrαpkαn, tεtαpi dαtαng dαlαm bεntuk yαng kitα butuhkαn. Kitα hαnyα pεrlu bεrtαhαn sεjεnαk, bεrsαbαr sεdikit, dαn pεrcαyα bαhwα tidαk αdα yαng siα-siα. Kαrεnα di bαlik sεtiαp ujiαn, sεlαlu αdα hikmαh yαng bisα kitα dαpαtkαn.

Jikα hαri ini lαngit tεrαsα mεndung, jαngαn tεrburu mεnyimpulkαn bαhwα cαhαyα itu tεlαh hilαng. Mυngkin, iα hαnyα sεdαng dititipkαn dαlαm bεntuk yαng lεbih hαlυs. Ujiαn itu, bukαn jαrαk. Iα αdαlαh pεlυkαn yαng tidαk sεlαlu tεrαsα. Kεtikα kitα mαmpu mεlihαtnyα dεngαn hαti, kitα αkαn mεngεrti bαhwα di sεtiαp ujiαn, Allαh sεdαng mεndεkαt.

Sαlαm αwεt sεhαt, jαngαn lupα bαhαgiα.
Bαndυng Sεlαtαn, 09 Mεi 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Kenapa dibid'ahkan? Semua Isi Tahlilan Ada Dalilnya




Tahlilan adalah tradisi mendoakan orang meninggal melalui bacaan ayat Al-Qur'an dan kalimat thayyibah (tahlil, tasbih, tahmid) yang pahalanya dihadiahkan kepada mayit.

Dalilnya berlandaskan anjuran mendoakan mayit, sedekah, dan membaca Al-Qur'an, yang dibolehkan menurut sebagian ulama. Hukumnya boleh, bahkan disunnahkan oleh sebagian ulama sebagai ihda ut-tsawab (menghadiahkan pahala).

Misalnya ada beberapa dalil mendoakan untuk mayit: Dasarnya adalah hadits tentang mendoakan mayit agar diampuni. Sedekah untuk Mayit: Hadits riwayat Abu Dawud dan lainnya menjelaskan bahwa sedekah pahalanya sampai kepada mayit. Membaca Al-Qur'an: Imam Nawawi dalam Majmu' menyebutkan keutamaan membaca ayat Al-Qur'an lalu mendoakan mayit. Serta Berkumpul untuk Kebaikan: Berkumpul dalam tahlilan dianggap sebagai tradisi baik (majelis dzikir) yang diperbolehkan.

Perbedaan Pandangan


Pro (Umumnya Ahli Sunah Wal Jamaah/Nahdlatul Ulama): Menilai tahlilan sebagai amalan baik (bid'ah hasanah) yang mencakup zikir dan sedekah, serta bersumber dari anjuran umum mendoakan orang meninggal.

Kontra (Umumnya Kelompok Salafi Wahabi): Menilai tahlilan sebagai bid'ah yang tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, serta bertentangan dengan dalil umum terputusnya amal kecuali tiga perkara.

Jangan Mencaci atau Merendahkan

Kalau ada yang tidak mau melakukan tahlilan, silakan saja, itu pilihan. Tapi jangan merasa paling benar sendiri, sampai mencaci atau merendahkan orang yang melakukannya. Amalan dalam tahlilan bukan hal kosong tanpa dasar. Isinya adalah dzikir, doa, sedekah, membaca Al-Qur’an, silaturahmi, dan saling menguatkan saat musibah. Semuanya punya dalil dalam Al-Qur’an dan hadits.

Jadi beda cara bukan alasan untuk saling menyalahkan atau merendahkan, apalagi sampai menganggap sesat tanpa ilmu.

Ini inti yang sering dilupakan: isi tahlilan itu bukan “ritual baru”, tapi kumpulan amalan yang masing-masing jelas ada dalilnya. Yang dipermasalahkan cuma bungkusnya, padahal isinya penuh ibadah yang disyariatkan.

Sedekah ada dalilnya :
Sedekah untuk mayit ada dalilnya. Dalam hadits sahih, seorang sahabat bertanya tentang ibunya yang wafat, apakah boleh bersedekah untuknya, lalu Nabi ﷺ menjawab: “Ya.” (HR. Bukhari-Muslim). Ini menunjukkan pahala sedekah bisa sampai kepada mayit.

Dzikir ada dalilnya :
Dzikir seperti tahlil, tasbih, dan tahmid juga jelas diperintahkan. Dalam QS Al-Ahzab:41 Allah berfirman: “Wahai orang beriman, berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.” Bahkan Nabi ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir dan tidak berdzikir seperti orang hidup dan mati.” (HR. Bukhari).
Membaca Al-Qur'an ada dalil nya :

Membaca Al-Qur’an juga ibadah yang diperintahkan. Dalam QS Al-Muzzammil:20 disebutkan: “Bacalah Al-Qur’an semampu kalian.” Adapun menghadiahkan pahala, memang ada perbedaan pendapat, tapi banyak ulama membolehkannya.

Membantu orang ada dalilnya :
Membantu orang yang terkena musibah juga ada tuntunannya. Nabi ﷺ bersabda: “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka sedang ditimpa musibah.” (HR. Abu Dawud). Ini menunjukkan kepedulian sosial saat ada kematian dianjurkan.

Berkumpul ada dalil nya
:
Berkumpul untuk dzikir dan doa juga ada dalilnya. Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat mengelilingi mereka…” (HR. Muslim). Artinya, berkumpul untuk dzikir itu justru dianjurkan.

Menghibur ada dalil nya
:
Menghibur orang yang sedang susah juga dianjurkan. Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang menghibur orang yang terkena musibah, maka dia mendapat pahala seperti orang itu.” (HR. Tirmidzi).

Silaturahmi ada daliln ya:
Silaturahmi pun jelas perintahnya. Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi.” (HR. Bukhari-Muslim).

Waktu Tahlilan ada dalil nya :
Soal waktu, ini poin penting yang sering dipermasalahkan. Dalam kaidah fiqih disebutkan: “Ibadah yang sifatnya umum dan tidak ditentukan waktunya, maka boleh dilakukan kapan saja.” Dzikir diperintahkan secara umum dalam QS Al-Ahzab:41 tanpa batasan waktu.

Sedekah bisa kapan saja, doa kapan saja, silaturahmi kapan saja. Tidak ada satu pun dalil yang melarang amalan-amalan ini dilakukan bersama di waktu tertentu.

Bahkan yang ada justru perintah dzikir, bukan larangan. QS Al-Ahzab:41 memerintahkan dzikir tanpa pembatasan. QS Al-A’raf:205 menjelaskan adab berdzikir, bukan melarang berjamaah.

Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa majelis dzikir akan dikelilingi malaikat. Ibnu Abbas juga meriwayatkan bahwa para sahabat mengeraskan dzikir setelah shalat (HR. Bukhari), yang menunjukkan dzikir bersama itu pernah terjadi.

Kaidah pentingnya: hukum asal ibadah itu boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya. Sampai hari ini, tidak ada satu pun hadits shahih yang melarang dzikir secara umum, apalagi berjamaah.

Kesimpulannya sederhana: yang dipermasalahkan hanya format berkumpulnya, padahal isinya semua ada dalil dan waktunya tidak dibatasi syariat.

Masalah Hitungan Hari dalam Tahlilan

Masalah hitungan hari dalam Tahlilan (mendoakan mayit), ini adalah termasuk tradisi masayarakat muslim, Syeh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuzzain, menjelaskan:

والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يُتقيد بكونه فى سبعة أيام أو أكثر أو أقل, والتقييد ببعض الأيام من العوائد فقط, فقد أفتى بذالك السيد أحمد دحلان: وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت فى ثالث من موته وفى سابع وفى تمام العشرين وفى الأربعين وفى المائة وبعد ذالك يفعل كل سنة حولاً فى يوم الموت, كما افاده شيخنا السنبلاويني

"Dan bersedekah untuk mayit dengan cara syar'i itu dianjurkan. Pelaksanaanya tak dibatasi 7 hari, namun bisa lebih atau kurang. Pembatasan dengan hari-hari tertentu ini hanyalah tradisi ('awaid) saja. 

Sebagaimana fatwa sayid ahmad dahlan (1): "Telah berlaku tradisi masyarakat bersedekah dari mayit pada hari ke 3, 7, 40, 100 kematiannya. Setelah itu tiap tahun mereka menyelenggarakan haul yang bertepatan hari kematiannya". Seperti yang telah dikemukakan guruku, As-Sunbulawini" (2). Kitab Nihayatuz Zain" pada halaman 281.

Catatan :
(1). Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah salah seorang guru Syeikh Nawawi Al-Bantani ketika belajar di Mekkah.
(2). Syeikh Yusuf Sanbalawini juga termasuk guru beliau ketika belajar di pesantrennya di Purwakarta - Jawa Barat.

Jadi yang ditolak itu bukan dalilnya, tapi cara orang lain mengamalkan dalil. Kalau ada yang melarang, silakan datangkan dalilnya. Kalau tidak ada, itu bukan larangan syariat, tapi hanya pendapat.
Wallahu'alam bishawab...

Tidak Semua Bid'ah Sesat

Bid’ah merupakan istilah dalam Islam yang merujuk kepada inovasi atau penambahan sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada pada zaman Na...