Rabu, 23 September 2026

Sesi-4 Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Taubatan Nasuha, Kembali pada Ampunan Allah"


Catatan Pembuka: Sesi keempat ini berlangsung pada malam ke-40 Febrie Adriansyah (FA) mendekam di Rutan KPK. Malam itu berbeda. Tidak ada pengacara. Tidak ada tim kuasa hukum. Tidak ada wartawan lain. Hanya ada saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Dan seorang pria yang sudah menanggalkan seluruh atribut kejaksaan. Bahkan cincin lamanya sudah ia lepas. Ia meminta waktu khusus untuk berbicara tentang sesuatu yang belum pernah ia sebut dalam tiga sesi sebelumnya: Tuhan.

Wawancara ini berlangsung pukul 02.15 WIB. Setelah ia menunaikan salat tahajud. Matanya sembab. Bukan karena menangis di depan orang. Tapi karena sujud panjang yang membuat dahinya menghitam. Ia memulai dengan kalimat yang tidak pernah saya duga: "Saya sudah 33 tahun jadi jaksa. Tapi baru 40 hari ini saya benar-benar mengenal siapa yang saya hadapi di pengadilan nanti. Bukan hakim. Tapi Allah."

Bagian Kedelapanbelas: "Saya Belum Pernah Sungguh-Sungguh Bertobat"

KGM: Malam ini Anda meminta saya datang bukan untuk membicarakan perkara. Anda bilang ingin bicara soal sesuatu yang lebih besar. Apa itu?

FA: (Suaranya pelan, berbeda dari tiga sesi sebelumnya). Saya ingin bicara tentang taubat. Tapi bukan taubat yang saya ucapkan di pengadilan. Bukan taubat yang saya tulis di surat pembelaan. Bukan taubat yang saya tunjukkan di depan kamera. Saya ingin bicara tentang taubat yang hanya Allah yang tahu.
Selama 33 tahun, saya salat. Saya puasa. Saya zakat. Saya haji. Di atas kertas, saya Muslim yang taat. Tapi malam ini, saya sadar. Saya belum pernah benar-benar bertobat. Saya salat karena itu kewajiban. Saya puasa karena itu tradisi. Saya haji karena itu status sosial. Tapi saya tidak pernah sujud dengan hati yang hancur. Saya tidak pernah menangis karena takut kepada Allah. Saya hanya takut kepada atasan. Takut kepada publik. Takut kehilangan jabatan. Saya tidak pernah takut kepada Allah.

KGM: Dan sekarang?

FA: Sekarang. Di sel ini. Tidak ada atasan. Tidak ada publik. Tidak ada jabatan. Yang tersisa hanya saya dan Allah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya benar-benar takut. Bukan takut hukuman manusia. Tapi takut kalau Allah tidak menerima taubat saya.

Bagian Kesembilanbelas: "Saya Mencuri dari Allah Sebelum Mencuri dari Negara"

KGM: Anda bicara soal taubat. Tapi apa dosa yang Anda maksud? Korupsi? Gratifikasi?

FA: (Diam. Menatap lantai. Tangannya gemetar) Lebih dari itu.
Bukan karena masalah korupsi. Karen itu akan di putuskan di pengasilan. Yang membuat saya tidak bisa tidur selama 40 malam ini adalah saya mencuri dari Allah.
Saya mengambil amanah yang Allah berikan kepada saya. Jabatan Jampidsus. Kepercayaan publik. Kewenangan menegakkan keadilan. Namun itu saya gunakan untuk membesarkan diri saya sendiri. Allah memberi saya kekuasaan untuk melindungi yang lemah. Saya gunakan untuk membuat orang takut. Allah memberi saya ilmu untuk menegakkan kebenaran. Saya gunakan untuk memilih perkara yang menguntungkan saya. Allah memberi saya waktu untuk beribadah. Saya gunakan untuk mengejar proyek, jabatan, dan pengakuan.
Itu bukan sekadar korupsi. Itu pengkhianatan terhadap amanah Allah. Dan itu jauh lebih berat daripada Rp4 miliar atau 74 kilogram emas.

Bagian Keduapuluh: "Air Mata yang Baru Pertama Kali Jatuh"

KGM: Anda bilang 40 malam tidak bisa tidur. Apa yang terjadi?

FA: (Matanya mulai berkaca-kaca) Malam ke-7, saya mimpi. Saya mimpi berdiri di pengadilan. Tapi hakimnya bukan manusia. Hakimnya adalah cahaya yang sangat terang. Dan saya tidak bisa melihat wajahnya. Saya mencoba bicara. Tapi mulut saya terkunci. Saya mencoba membela diri. Tapi tidak ada suara. Lalu cahaya itu bertanya: "Febrie, apa yang kau bawa untuk menghadap-Ku?"
Saya bangun jam 3 pagi, basah kuyup. Saya ambil wudhu. Saya salat. Dan untuk pertama kalinya dalam 33 tahun, saya menangis dalam sujud. Bukan tangis karena takut dipenjara. Bukan tangis karena malu. Tapi tangis karena saya sadar saya telah menghadap Allah dengan tangan kosong.

KGM
: Apa yang Anda maksud "tangan kosong"?

FA: Selama ini saya pikir amal saya banyak. Saya pikir salat saya cukup. Saya pikir haji saya menyelamatkan saya. Tapi malam itu, Allah menunjukkan: Semua itu tidak ada artinya kalau hati saya masih penuh kesombongan. Saya salat tapi tidak khusyuk. Saya puasa tapi masih memakan hak orang lain. Saya haji tapi masih menipu diri sendiri.
Itulah tangan kosong. Beribadah tapi tidak mengenal Allah.

Bagian Keduapuluh Satu: "Taubat Nasuha Bukan Sekadar Menyesal"

KGM: Ada istilah taubatan nasuha. Apa maknanya bagi Anda sekarang?

FA: Taubat nasuha itu bukan sekadar bilang saya menyesal. Setan juga menyesal. Taubat nasuha itu adalah taubat yang memutus hubungan dengan dosa. Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, Dan tidak kembali lagi. Bahkan kalau dunia menawarkan segalanya.
Saya sudah memulai. Saya berniat mengembalikan gratifikasi yang bisa saya lacak. Saya akan membuka nama-nama yang selama ini saya lindungi. Bukan untuk balas dendam. Tapi karena itu bagian dari taubat. Saya akan minta maaf kepada Tim 9. Saya harus minta maaf kepada keluarga yang saya permalukan.
Tapi yang paling sulit, yang belum selesai, adalah meminta maaf kepada Allah. Karena saya tahu, saya tidak bisa menipu-Nya. Saya bisa menipu hakim. Saya bisa menipu publik. Tapi Allah melihat isi hati saya. Dan taubat saya belum sempurna. Sampai saya benar-benar yakin bahwa saya tidak akan kembali.

KGM: Apakah Anda yakin Anda tidak akan kembali?

FA: (Diam panjang. Suaranya bergetar) Saya tidak berani bilang yakin. Karena saya tahu siapa saya. Saya tahu setan tidak tidur. Saya tahu kalau saya keluar nanti. Entah bebas. Entah dengan hukuman ringan. Godaan itu akan datang lagi. Jabatan. Uang. Kekuasaan. Semua yang dulu saya cintai.
Tapi ada satu hal yang saya pegang sekarang: Saya sudah merasakan nikmatnya sujud yang jujur. Dan itu lebih manis daripada semua jabatan yang pernah saya pegang. Kalau saya kembali ke jalan lama. Saya akan kehilangan itu. Dan saya tidak ingin kehilangan Allah untuk yang kedua kalinya.

Bagian Keduapuluh Dua: "Ampunan Allah Lebih Besar dari Kesalahan Saya"

KGM: Anda bilang, Anda takut, kalau Allah tidak menerima taubat Anda. Mengapa?

FA: Karena saya tahu besarnya dosa saya. Saya bukan hanya melakukan kebodohan. Saya membuat orang lain berbuat hal yang sama. Saya mengajarkan junior saya bahwa uang lelah itu biasa. Saya merusak generasi jaksa. Saya melemahkan institusi yang seharusnya melindungi rakyat. Kalau saya dihitung dengan timbangan manusia. Saya tidak akan pernah bisa membayar.
Tapi malam ke-30. Saya membaca satu ayat yang membuat saya menangis selama satu jam. "Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat itu bukan untuk orang suci. Ayat itu untuk saya. Ayat itu untuk orang yang sudah melampaui batas. Dan saya menangis bukan karena saya merasa aman. Tapi karena saya sadar bahwa Allah masih membuka pintu. Padahal saya sudah menutup pintu untuk diri saya sendiri bertahun-tahun.

KGM: Jadi Anda percaya Anda akan diampuni?

FA: (Tersenyum tipis. Matanya masih basah) Saya tidak tahu. Ampunan itu hak Allah, bukan hak saya. Tapi saya tahu satu hal. Selama saya masih bisa sujud. Selama saya masih bisa mengucapkan "Astaghfirullah". Selama saya masih bisa menangis karena takut kepada-Nya. Maka pintu itu masih terbuka. Dan saya akan terus mengetuknya sampai saya mati. Bukan karena saya ingin bebas dari hukuman. Tapi karena saya ingin mati dalam keadaan berserah diri. Saya ingin mati dalam kondisi husnul khotimah.

Bagian Keduapuluh Tiga: "Wasiat untuk Keluarga dan Indonesia"

KGM: Kalau ini malam terakhir Anda bisa bicara bebas, apa pesan Anda untuk keluarga?

FA: (Air matanya jatuh lagi. Suaranya pecah) Untuk istri saya: Maafkan saya. Saya bukan suami yang baik. Saya lebih sibuk dengan jabatan daripada dengan engkau. Saya lebih banyak berbicara tentang perkara daripada tentang keluarga. Tapi di sel ini, engkau adalah satu-satunya yang saya rindukan setiap malam.
Untuk anak-anak saya: Jangan tiru saya. Jangan bangga pada ayahmu karena jabatannya. Banggalah kalau ayahmu bertaubat dengan jujur. Dan kalau kalian ingin mengenang saya. Jangan kenang saya sebagai jaksa. Kenang saya sebagai orang yang akhirnya menyerah kepada Allah setelah 33 tahun melawan.

KGM: Dan untuk Indonesia?

FA: (Mengusap wajahnya. Menatap lurus). Untuk Indonesia:
Jangan tunggu masuk sel seperti saya untuk bertobat. Jangan tunggu kehilangan segalanya untuk sadar bahwa Allah lebih penting daripada jabatan. Saya sudah melalui itu. Saya sudah merasakan pahitnya. Dan saya beritahu kalian. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari hukuman Allah. Kecuali taubat yang jujur.
Saya bukan contoh yang baik. Saya contoh yang buruk. Tapi contoh buruk pun bisa menjadi pelajaran, kalau kita mau belajar. Dan saya berdoa, semoga Allah menjadikan saya pelajaran bagi orang lain. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai martir. Tapi sebagai cermin yang retak. Yang menunjukkan bahwa di ujung kehancuran, masih ada pintu bernama taubat.

Bagian Keduapuluh Empat: Doa Penutup

KGM: Boleh saya minta Anda menutup wawancara ini dengan doa?

FA: (Mengangguk. Ia bangkit, menghadap kiblat, dan mengangkat tangan. Suaranya bergetar, tapi jelas.)

"Ya Allah, aku datang kepada-Mu dengan tangan kosong. Aku datang bukan sebagai jaksa. Bukan sebagai pejabat. Bukan sebagai orang yang dihormati. Aku datang sebagai hamba yang berdosa.

Ya Allah, aku sudah melampaui batas. Aku sudah mengkhianati amanah-Mu. Aku sudah mencuri dari-Mu sebelum mencuri dari manusia. Aku tidak punya alasan. Aku tidak punya pembelaan.

Tapi ya Allah, Engkau Maha Pengampun. Engkau Maha Penyayang. Engkau tidak pernah menutup pintu taubat. Bahkan untuk hamba seperti aku.

Terimalah taubatku. Bersihkan hatiku. Jangan biarkan aku kembali ke jalan lama. Jangan biarkan aku mati dalam keadaan sombong.

Ya Allah, kalau Engkau mengampuniku. Tidak ada yang perlu aku takutkan. Bahkan hukuman manusia. Dan kalau Engkau tidak mengampuniku. Maka tidak ada tempat bagiku untuk kembali.

Astaghfirullahal 'azhim. Astaghfirullahal 'azhim. Astaghfirullahal 'azhim.

Amin ya Rabbal 'alamin."

Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 04.28 WIB, tepat saat azan subuh berkumandang dari masjid di luar Rutan KPK. Febrie Adriansyah tidak kembali ke selnya. Ia meminta izin salat subuh berjamaah. Petugas mengizinkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia ditahan, ia berdiri di shaf paling depan. Bukan karena jabatan. Bukan karena status. Tapi karena ia ingin memulai hidup baru dari barisan yang paling sederhana. Setelah salat. Ia duduk di sajadah. Tidak beranjak. Matanya merah. Bibirnya bergetar.

Seorang petugas bertanya: "Pak, kenapa masih di sini?"

Febrie menjawab pelan: "Saya sedang belajar. Belajar menjadi manusia yang tidak lupa bahwa suatu hari nanti, saya akan menghadap Allah. Bukan hakim."

Di luar, matahari mulai terbit. Dan di dalam sel kecil itu, seorang pria yang pernah menggergaji banyak orang, akhirnya menyerahkan gergaji itu kepada Yang Maha Kuasa. Masya Allah Tabarakallah...

== TAMAT ==

Selasa, 22 September 2026

Sesi-3, Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Menerima Sebagai yang Bersalah"


Catatan Pembuka: Sesi ketiga ini adalah yang paling berat. Berbeda dari dua sesi sebelumnya yang masih menyisakan ruang untuk narasi kepahlawanan. Sesi ini berlangsung di ruang isolasi Rutan KPK. Tanpa perekam. Tanpa saksi. Febrie  duduk di seberang meja besi. Tangannya dibelenggu. Ia baru saja membaca surat dakwaan final. Kali ini, tidak ada retorika. Tidak ada mereka. Hanya ada Saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Wawancara imajiner ini adalah cermin yang ia sendiri enggan lihat.

Bagian Kesebelas: "Saya Bukan Korban. Saya Pelaku."

KGM: Malam ini saya tidak akan membiarkan Anda berbicara tentang mereka. Tidak ada mereka. Hanya ada Anda. Pertanyaan pertama: Apakah Anda bersalah?

FA: (Diam sangat lama. Hampir dua menit. Matanya menatap lantai) Saya sudah tiga minggu menolak pertanyaan itu. Saya selalu bilang saya tidak memeras. Saya tidak korupsi. Saya bersih. Tapi malam ini...(menelan ludah)...Saya lelah berbohong pada diri sendiri. Ya. Mungkin saya melakukan kesalahan.

KGM: Kemungkinan salah dalam arti apa? Karena memeras? Atau karena hal lain yang tidak pernah Anda akui?

FA: Bukan memeras. Bukan seperti yang mereka tuduhkan. Tapi Saya merasa bersalah karena saya membiarkan diri saya menjadi bagian dari sistem. Yang saya tahu sistem itu busuk. Tapi saya pura-pura tidak tahu.
Saya merasa bersalah karena selama 33 tahun, saya menutup mata pada adanya uang lelah. Yang mengalir di Tim 9 saya. Saya tahu. Saya tidak mengambilnya sendiri. Namun merasa bersalah karena saya tidak berusaha menghentikannya. Itu bukan integritas. Itu kemunafikan.

Bagian Keduabelas: "Saya Menjual Cerita bahwa Saya Bersih"

KGM: Anda membangun citra sebagai jaksa bersih selama bertahun-tahun. Apakah itu semua palsu?

FA: (Suaranya serak.) Tidak semua. Saya tidak punya IUP (Ijin Usaha Pertambangan). Saya tidak punya kebun sawit. Saya tidak pernah minta proyek. Itu semua benar.
Tapi ada hal yang lebih halus. Yang mungkin lebih licik. Yang tidak saya sadari sampai saya duduk di kursi ini. Saya menikmati kekuasaan. Saya menikmati ketakutan orang-orang ketika nama saya disebut. Saya menikmati ketika menteri gemetar di ruang pemeriksaan saya. Saya menikmati ketika pengusaha besar datang membawa pengacara mahal. Dan saya bilang ke pengacara itu, "tunggu di luar!"
Itu bukan penegakan hukum. Saya merasa itu adalah kesombongan. Dan kesombongan dalam sistem yang busuk, adalah pintu masuk bagi korupsi. 

KGM
: Jadi Anda mengakui bahwa Anda korup dalam arti lebih luas?

FA: (Mengangguk pelan.) Saya korup dalam arti saya mengizinkan sistem ini berjalan di sekitar saya tanpa saya lawan. Saya korup dalam arti saya memilih perkara berdasarkan siapa yang berani melawan saya. Tidak hanya murni berdasarkan bukti. Ada perkara yang saya percepat karena ada tekanan. Ada perkara yang saya lambatkan karena saya tidak ingin konflik.
Itu bukan keadilan. Itu politik. Dan pada saat itu saya bukan penegak hukum. Saya politisi yang memakai toga.

Bagian Ketigabelas: "74 Kilogram Emas Itu Bagian dari Cerita yang Saya Tutupi"

KGM
: Mari kita bicara soal emas. Anda bilang kepemilikannya diperdebatkan. Malam ini, tanpa pengacara, tanpa kamera. Apakah emas itu milik Anda?

FA: (Diam. Menatap langit-langit) Nanti akan diuji di Pengadilan.

KGM: Atau mungkin sebagian?

FA: Memang ada yang menduga sebagian milik saya. Bahkan ada dugaan bukan dari pemerasan atau suap perkara. Silahkan saja kalau ada yang menduga-duga. Faktanya ada di keputusan pengadilan.

Hanya saja memang ada orang-orang yang ingin berterima kasih setelah perkara mereka selesai. Memberi dan menerima setelah selesai suatu perkara merupakan sesuatu  yang lumrah.
Itu bukan suap dalam definisi hukum. Tapi itu gratifikasi. Dan gratifikasi, dalam UU KPK, adalah korupsi. Saya tahu itu. Dalam persidangan nanti akan saya ungkap seluruhnya.

KGM: Jadi Anda mengaku kalau Anda korupsi?

FA: (Suaranya bergetar). Ya. Dalam bentuk yang paling halus. Paling sopan. Paling tidak kelihatan. Saya tidak pernah memeras. Tapi saya memang pernah menerima. Dan menerima adalah bentuk lain dari gratifikasi.

Bagian Keempatbelas: "Saya Mengkhianati Tim 9 Saya"

KGM: Anda berbicara banyak tentang Tim 9. Apa yang Anda lakukan pada mereka?

FA: (Menutup mata. Air mata mulai mengalir.) Saya mengajari mereka untuk menjadi seperti saya. Saya ajari mereka bahwa untuk menangkap ikan besar. Kita harus punya kail yang kuat. Saya ajari mereka bahwa uang lelah adalah bagian dari pekerjaan. Saya ajari mereka bahwa integritas itu bisa dinegosiasikan.
Dan sekarang. Ketika mereka dipanggil sebagai saksi. Mereka semua menyebut nama saya. Bukan karena mereka dendam. Tapi karena saya yang menciptakan mereka. Mereka adalah cerminan saya. Dan cerminan itu, malam ini, menatap saya dan berkata: "Kau yang membuat kami seperti ini."

KGM: Apakah Anda menyesal?

FA: Saya menyesal karena saya tidak pernah memberi mereka pilihan untuk menjadi jaksa yang benar-benar bersih. Saya menyesal karena saya mengajari mereka bahwa hukum adalah alat, bukan tujuan. Dan alat, pada akhirnya, bisa dipakai untuk apa saja. Termasuk untuk menghancurkan saya sendiri.

Bagian Kelimabelas: "Saya Bukan Pahlawan yang Dikhianati. Saya dpandang sebagai Penjahat yang Tertangkap."

KGM: Dua sesi sebelumnya, Anda membangun narasi bahwa Anda korban perang faksi. Malam ini, Anda membongkar narasi itu sendiri. Mengapa?

FA: Karena saya sudah lelah. Saya lelah berpura-pura menjadi pahlawan sejati. Saya lelah melihat orang-orang di luar sana mengibarkan spanduk "Bebaskan Febrie". Padahal mereka tidak tahu bahwa saya dalam kondisi saat ini sulit mendapat kebebasan. Saya lelah mendengar junior-junior saya bilang Febrie dijebak. Padahal harus saya akui saya menjebak diri saya sendiri dengan gaya hidup dan gaya kekuasaan yang saya pilih.
Saya bukan pahlawan pembela hukum sejati. Saya mungkin dianggap sebagai salah satu penjahat yang tertangkap.  Namun bagi saya, saat ini, penjahat yang jujur lebih terhormat daripada pahlawan pembohong.

KGM: Tapi Anda bilang ada perang faksi. Itu tetap benar, bukan?

FA: Perang faksi itu nyata. Tapi itu tidak membuat saya tidak bersalah. Dua hal bisa benar pada saat yang sama. Ada orang yang ingin menjatuhkan saya karena saya mengganggu bisnis mereka. Dan pada saat yang sama. Saya memang melakukan hal-hal yang membuat saya layak dijatuhkan. Saya bukan korban murni. Saya pelaku yang juga menjadi korban dari sistem yang saya bangun sendiri.

Bagian Keenambelas: "Gergaji Itu Adil"

KGM: Anda bilang di sesi pertama bahwa Anda "digergaji". Malam ini, apakah Anda masih merasa gergaji itu tidak adil?

FA: (Tersenyum getir. Air mata mengering.) Malam ini saya sadar. Gergaji itu adil.
Bukan karena yang menariknya bersih. Mereka tidak bersih. Tapi karena saya memang kayu yang harus dipotong. Saya sudah terlalu lama tumbuh di hutan yang salah. Menyerap nutrisi dari tanah yang busuk. Dan berpura-pura menjadi pohon yang lurus. Gergaji itu hanya alat. Yang menentukan apakah saya layak dipotong bukan gergajinya. Tapi saya sendiri.

KGM: Jadi Anda akan ikhlas menerima hukuman?

FA: Saya menerima bahwa ada yang salah dalam diri saya. Apakah hukuman yang akan saya terima adil? Belum tentu. Tapi saya tidak akan berjuang untuk bebas. Saya akan berjuang untuk jujur. Di persidangan. Di depan hakim. Di depan publik. Saya akan mengakui apa yang saya lakukan. Saya akan menyebut nama-nama yang memberi saya gratifikasi. Saya akan membuka semua yang saya tutupi.
Bukan karena saya ingin balas dendam. Tapi karena saya ingin menjadi cermin yang jujur. Bahkan kalau cermin itu retak.

Bagian Ketujuhbelas: "Pesan Terakhir untuk Indonesia"

KGM: Kalau ini wawancara terakhir Anda sebelum sidang, apa yang ingin Anda sampaikan?

FA: (Diam panjang. Menatap lurus ke mata wartawan). Sampaikan ini: Jangan jadikan saya pahlawan. Jangan jadikan saya martir. Jadikan lah saya pelajaran.
Saya adalah contoh bahwa kekuasaan tanpa integritas sejati akan berakhir di kursi besi seperti ini. Saya adalah contoh bahwa "bersih di atas kertas" tidak cukup kalau hati kita sudah tercemar oleh kesombongan. Saya adalah contoh bahwa penegak hukum yang tidak mau mengakui kesalahannya adalah penegak hukum yang paling berbahaya.
Dan kalau ada jaksa muda di luar sana yang mendengar ini: Jangan seperti saya. Jangan menikmati ketakutan orang. Jangan menganggap uang lelah sebagai hal biasa. Jangan pura-pura tidak tahu ketika sistem di sekitar Anda busuk. Karena suatu hari. Sistem yang Anda biarkan busuk itu akan datang untuk Anda.
Saya digergaji. Dan malam ini. Saya menerima gergaji itu. Bukan karena saya kalah. Tapi karena saya akhirnya jujur.

Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 01.33 WIB. Febrie Adriansyah menundukkan kepala. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga sesi. Ia menangis. Bukan tangis yang dramatis. Tapi tangis yang sunyi. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban 33 tahun. Petugas Rutan membawanya kembali ke sel. Di luar, hujan sudah berhenti. Dan di dalam sel, Febrie mulai menulis. Bukan pembelaan. Bukan ancaman. Tapi semacam pengakuan.

Satu kalimat yang ia tulis di halaman pertama: "Saya bukan korban. Saya adalah apa yang saya perangi. Dan hari ini. Saya akhirnya berhenti berperang melawan diri sendiri. Nantikan di Sesi-4. Yang sejatinya membuat Anda menangis.

Humor Dialog Politisi Indonesia dan Jepang


Sambil menunggu Sesi-3 Wawancara Iamjiner dengan Febrie Adriansyah, kita jeda dulu ke humor antara politisi Indonensia dan Politisi Jepang.

1. Edisi Ekonomi:

Politisi Indonesia: "Maaf Pak, ekonomi kami tumbuh 5 persen!"
Politisi Jepang: "Bagus. Utangnya?"
Indonesia: "Tumbuh 8 persen."
Jepang: "Kok, lebih cepat dari pertumbuhan ekonominya, ya."
Indonesia: "Itu namanya percepatan pembangunan, Pak."
Jepang: "Kalau di kami, itu namanya percepatan kiamat."
Indonesia: "Tapi jangan salah, kami punya bonus demografi!"
Jepang: "Lah, kami punya bonus robot."
Indonesia: "Tapi di tempat kami punya banyak janji politik."
Jepang: "Kalau di Jepang banyak perusahaan yang menepati janji."
Indonesia: "Bedanya apa?"
Jepang: "Kalau janji kami tidak ditepati, bosnya minta maaf dan mundur. Kalau janji di tempat Anda tidak ditepati?"
Indonesia: "Kami bilang itu bagian dari proses demokrasi."
Jepang: "Ah, budaya kalian memang kaya."
Indonesia: "Maksudnya kaya apa?"
Jepang: "Kaya alasan..."

2. Edisi Korupsi

Politisi Indonesia: "Di tempat kami sedang gencar-gencarnya memberantas korupsi!"
Politisi Jepang: "Bagus. Sudah berapa yang tertangkap?"
Indonesia: "Banyak sih. Tapi tidak sedikit juga yang pada kabur."
Jepang: "Kabur ke mana?"
Indonesia: "Ke luar negeri, sambil bawa uang rakyat."
Jepang: "Di Jepang, menteri korupsi itu malu, langsung mundur, berarti selesai"
Indonesia: "Di sini juga malu, tapi malu-maluin dulu, baru mundur."
Jepang: "Bedanya apa?"
Indonesia: "Kalau di sini, mundur tidak berarti selesai, tapi persiapan comeback."
Jepang: "Comeback?"
Indonesia: "Iya, nanti muncul lagi jadi caleg. Rakyat lupa, kami untung."
Jepang: "Kalau di Jepang, rakyat tidak pernah lupa."
Indonesia: "Makanya kami bilang, beda budaya, Pak."
Jepang: "Budaya apa?"
Indonesia: "Budaya…lupa."

3. Edisi Lingkungan Hidup

Politisi Indonesia: "Kami memang serius dalam menjaga lingkungan!"
Politisi Jepang: "Bagus. Hutan masih aman?"
Indonesia: "Aman. Cuma berkurang sedikit."
Jepang: "Sedikit berapa?"
Indonesia: "Setara lapangan bola...kali seribu."
Jepang: "Itu bukan sedikit."
Indonesia: "Tapi menurut para politisi, itu namanya pembangunan berkelanjutan."
Jepang: "Maksudnya berkelanjutan apa?"
Indonesia: "Berkelanjutan...sampai hutannya habis dan gundul."
Jepang: "Kalau di kami, lingkungan harus bersih, buang sampah tidak boleh sembarangan dan harus dipilah."
Indonesia: "Di sini juga dipilah, Pak."
Jepang: "Dipilah bagaimana?"
Indonesia: "Sampah plastik ke sungai, sampah organik ke got, sisanya ke laut."
Jepang: "Itu bukan dipilah, itu dipindah."
Indonesia: "Sama saja, yang penting nggak di rumah saya, pak."
Jepang: "Lalu banjir?"
Indonesia: "Itu bukan banjir, Pak. Itu air kiriman dari hulu."
Jepang: "Kalau di Jepang, gak ada istilah air kiriman, sungai itu harus bersih."
Indonesia: "Tapi di sini, sungai itu...fleksibel."
Jepang: "Fleksibel bagaimana?"
Indonesia: "Iya, kadang sungainya berisi air, kadang sampah, kadang proyek."
Jepang: "Maksud proyek?"
Indonesia: "Ya, proyek normalisasi. Cuma yang rada aneh yang dinormalisasi hanya anggarannya."

Senin, 21 September 2026

Sesi-2, Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Gergaji yang Berbalik Arah"





Catatan Pembuka: Setelah sesi pertama tersiar. Publik terbelah. Ada yang melihat Febrie Adriansyah (FA) sebagai martir sistem. Ada yang melihatnya sebagai aktor yang sedang memainkan narasi terakhir. Sesi kedua ini berlangsung di ruang berbeda. Bukan di koridor. Melainkan di ruang tamu Rutan KPK yang pengap. Pukul 21.47 WIB. Kali ini, tidak ada kamera. Hanya ada pena. Perekam. Dan saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Serta seorang pria yang tampak kehilangan berat badan 5 kilogram. Hanya dalam dua minggu. Nada suaranya lebih rendah. Tapi matanya lebih tajam.

Bagian Keenam: "Kalau Saya Bersalah, Tunjukkan Lembarannya"

KGM: Malam ini saya tidak akan sopan. Anda bilang Pengawasan Internal kosong. Tidak ada catatan selama 33 tahun. Tapi justru itu yang membuat publik curiga. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu bersih di atas kertas. Tapi punya 74 kilogram emas dan ratusan miliar uang di rumah? Bukankah itu bukti bahwa sistem Pengawasan Anda sendiri yang lumpuh?

FA: (Diam tujuh detik. Menatap lurus) Justru itu pertanyaan yang saya ingin dilempar balik ke mereka. Kalau Pengawasan saya lumpuh selama 33 tahun, itu bukan kesalahan saya. Itu kesalahan institusi yang membiarkan saya naik tanpa satu pun catatan. Anda mau bilang saya memanfaatkan sistem yang lumpuh? Mungkin. Tapi kalau sistem itu lumpuh. Kenapa baru diungkap sekarang. Ketika saya sedang menyidik perkara yang menyentuh orang-orang besar?
Saya tantang. Tunjukkan satu lembar. Satu saja. Berita acara pemeriksaan saya di Pengawasan. Tunjukkan satu laporan kekayaan yang tidak saya serahkan. Tunjukkan satu rekening yang tidak saya laporkan. Kalau tidak ada. Maka tuduhan pemerasan itu bukan hasil investigasi. Itu hasil rekayasa.

KGM: Tapi emas itu nyata. Beratnya 74 kilogram. Itu bukan rekayasa.

FA: Emas itu nyata. Kepemilikannya yang jadi soal. Ada perbedaan besar antara ditemukan di rumah saya dan milik saya. Saya sudah bilang berkali-kali. Kalau penyidik punya bukti kepemilikan. Bawa ke pengadilan. Jangan main di media. Saya ini jaksa. Saya tahu persis permainan trial by media itu. Dulu saya juga pakai. Sekarang saya di sisi lain. Dan saya baru sadar betapa kotornya.

Bagian Ketujuh: "Saya Bukan Malaikat, Tapi Saya Bukan Pencuri"

KGM: Mari kita bicara jujur. Anda tidak mungkin sebersih yang Anda klaim. Tidak ada jaksa yang menyidik perkara ratusan triliun tanpa biaya operasional dari suatu tempat. Akui saja. Ada uang yang mengalir. Entah untuk Tim 9. Entah untuk Anda. Itu rahasia umum di Kejaksaan.

FA: (Tersenyum tipis, getir) Anda benar. Saya bukan malaikat. Saya tidak munafik. Tim 9 memeang butuh uang untuk operasional. Untuk transport. Untuk penginapan saat investigasi lapangan. Itu fakta. Tapi ada perbedaan mendasar antara biaya operasional resmi dan pemerasan. Yang pertama ada suratnya. Ada pertanggungjawabannya. Ada mekanismenya. Yang kedua, yang mereka tuduhkan ke saya, itu fitnah.
Rahasia umum? Ya, saya tahu. Di Kejaksaan ada budaya uang lelah. Saya tidak bilang saya suci dari budaya itu. Tapi kalau Anda mau menuduh saya memeras Rp4 miliar dari seorang pengusaha. Tunjukkan korban yang mengaku diperas. Jangan tiba-tiba korban muncul setelah saya ditangkap. Dengan cerita yang persis sama dengan yang ada di surat dakwaan. Itu bukan korban. Itu saksi pesanan.

KGM: Anda menyebut saksi pesanan. Itu tuduhan berat. Anda punya bukti?

FA: Saya punya logika. Saya punya kronologi. Saya punya nama-nama yang saya simpan. Belum saatnya saya buka. Kalau saya buka sekarang, saya mati di dalam. Saya masih ingin hidup untuk melihat persidangan.


Bagian Kedelapan: "Yang Digergaji Bukan Saya — Tapi Kejaksaan Itu Sendiri"

KGM: Anda terus bicara seolah Anda korban. Tapi ada yang bilang. Anda adalah bagian dari masalah. Anda membangun kerajaan kekuasaan di Jampidsus. Anda memilih siapa yang boleh disidik dan siapa yang tidak. Anda jadi raja kecil yang akhirnya melawan raja besar. Bukankah ini sekadar perang antar faksi?

FA: (Menghela napas panjang) Anda ini kritis. Saya suka. Ya, saya akui. Jampidsus di tangan saya memang kuat. Mungkin terlalu kuat. Saya memilih perkara. Saya memilih waktu. Saya memilih siapa yang saya kejar dan siapa yang saya simpan. Itu kekuasaan. Dan kekuasaan selalu punya harga.
Tapi ada perbedaan antara menggunakan kekuasaan untuk menegakkan hukum. Dan menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Yang pertama, saya lakukan. Yang kedua, saya tantang siapa pun untuk membuktikannya.
Dan soal perang faksi. Ya, mungkin ini perang faksi. Tapi kalau benar ini perang faksi. Yang sebenarnya digergaji bukan saya. Yang digergaji adalah Kejaksaan itu sendiri. Mereka memotong satu kepala untuk menakuti seribu jaksa yang masih punya nyali. Saya jadi contoh: Lihat Febrie. Dia terlalu berani. Sekarang dia di dalam. Barangkali itu pesan yang mereka kirim.

KGM: Dan menurut Anda, pesan itu berhasil?

FA: (Tertawa pahit) Anda lihat sendiri. Dua minggu setelah saya ditangkap. Sudah ada berapa jaksa yang menolak menangani perkara besar? Sudah ada berapa Tim 9 yang bubar? Sudah ada berapa berkas yang diistirahatkan? Pesan itu berhasil. Dan itu artinya Kejaksaan sudah kalah.

Bagian Kesembilan: "Presiden Tidak Salah — Tapi Dibohongi"

KGM: Anda menyebut presiden menerima informasi yang salah. Ini klaim yang sangat berbahaya. Anda sadar bahwa ini bisa ditafsirkan sebagai tuduhan? Bahwa ada orang di lingkaran presiden yang menjatuhkan Anda?

FA: Saya tidak menuduh siapa-siapa. Saya hanya bilang. Presiden tidak mungkin tahu detail 74 kilogram emas. Rp846 miliar. Dan Rp4 miliar pemerasan dalam satu laporan singkat. Kalau laporan itu disusun oleh orang yang punya kepentingan. Maka presiden dibohongi. Bukan salah presiden. Salah orang yang menyusun laporan.

KGM: Kalau presiden membaca wawancara ini. Apa yang Anda ingin dia lakukan?

FA: (Diam. Suaranya berubah pelan) Saya ingin dia bertanya satu hal: Kalau Febrie benar-benar memeras Rp4 miliar. Kenapa selama 33 tahun tidak ada satu pun catatan buruk tentang dia?" Kalau pertanyaan itu diajukan. Saya percaya ada yang akan gemetar. Bukan saya. Tapi orang-orang yang menyusun laporan itu.

Bagian Kesepuluh: "Saya Bukan Pahlawan. Saya Cermin."

KGM: Pertanyaan terakhir. Kalau Anda keluar dari sini. Entah bebas. Entah setelah menjalani hukuman. Anda ingin dikenang sebagai apa?

FA: (Tersenyum. Kali ini senyum yang berbeda. Lebih tenang. Nyaris seperti pasrah) Saya tidak ingin dikenang sebagai pahlawan. Pahlawan itu mati muda. Atau setidaknya mati terhormat. Saya mungkin tidak akan dapat keduanya.
Saya ingin dikenang sebagai cermin. Cermin yang menunjukkan bahwa di negeri ini. Orang yang menegakkan hukum dengan benar. Bisa dihancurkan oleh sistem yang dia bela. Cermin yang menunjukkan bahwa bersih saja tidak cukup. Anda juga harus punya perlindungan politik. Cermin yang menunjukkan bahwa Kejaksaan. Yang seharusnya jadi ujung tombak keadilan. Bisa jadi alat pembalasan.
Kalau orang melihat cermin itu dan merasa tidak nyaman. Berarti wawancara ini berhasil. Karena ketidaknyamanan adalah awal dari kesadaran.
Dan kalau saya harus digergaji sampai putus. Biarlah. Tapi saya berjanji satu hal. Saya tidak akan menangis di depan gergaji itu. Saya akan menatap orang yang menariknya. Dan saya akan bilang. Teruskan! Tapi ingat. Gergaji ini nanti juga akan dipakai untukmu.


Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 23.12 WIB. Febrie Adriansyah (FA) berdiri. Menyalami Ki Gempur Mudharat (KGM) dengan tangan yang dingin. Lalu berjalan kembali ke selnya tanpa menoleh. Di luar, hujan pertama di musim penghujan turun deras. Seorang petugas Rutan berbisik: "Dia tidak tidur sebelum subuh. Katanya dia menulis. Setiap malam."
Apa yang ditulisnya? Tidak ada yang tahu. Tapi kalau benar apa yang dia bilang. Bahwa ada basis data di kepalanya. Maka mungkin, di suatu tempat, di bawah lampu neon yang redup. Seorang pria yang digergaji sedang menyiapkan gergaji balasan. Dan Jakarta, seperti biasa. Pura-pura tidak tahu. Nantikan keseruan Wawancara Imajiner Sesi-3.

Sesi-4 Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Taubatan Nasuha, Kembali pada Ampunan Allah"

Catatan Pembuka : Sesi keempat ini berlangsung pada malam ke-40 Febrie Adriansyah (FA) mendekam di Rutan KPK. Malam itu berbeda. Tidak ada p...