Jumat, 25 September 2026

Sajak Muktamar di Tengah Kabut


Kulihat para kiai berkumpul di bawah langit senja,
jubah putih mereka berkibar laksana doa yang belum dijawab,
tapi wajah-wajah itu...
wajah-wajah yang biasa menenangkan umat,
kini saling memandang dengan mata yang bertanya dan curiga,
"Masihkah kita saudara?"

Kau sebut ini muktamar,
tempat para ulama bermusyawarah,
tempat suara santri dibawa ke meja panjang,
tapi mengapa di luar sana
di beranda-beranda pesantren,
di warung-warung kopi,
di surau-surau kecil
yang terdengar justru bisik-bisik penuh gelisah?

Ada yang bilang quorum tak terpenuhi,
ada yang bilang presidium tak sah,
ada yang bilang kursi itu direbut,
ada yang bilang kursi itu diwariskan.
Dan aku...
aku hanya duduk di sudut,
mendengar semuanya,
seperti mendengar gamelan yang sumbang
di tengah malam yang sunyi.

Wahai para pemegang amanah,
bukankah NU ini didirikan tak hanya dengan suara terbanyak,
tapi dengan tawadu seorang kiai di Tebuireng?
Bukankah ia tumbuh bukan dari kursi,
tapi dari ngaji yang tak pernah putus,
dari sowan yang tak pernah bosan,
dari barokah yang tak pernah dihitung?

Lalu mengapa kini
kita sibuk menghitung siapa yang menang,
sibuk menimbang siapa yang sah,
sibuk menandai siapa yang kawan dan siapa lawan,
seolah NU ini panggung politik,
seolah kita lupa
bahwa di atas semua nama dan jabatan,
ada yang lebih halus dari bisikan:
restu guru, ridho kiai, berkah langit.

Dan di sudut lain—
di bawah meja-meja yang berdebu,
ada bisik yang lebih pelan dari angin,
tentang uang yang mengalir tanpa nama,
tentang kementerian yang katanya kehilangan arah,
tentang sertifikat yang berpindah tangan,
tentang koper merah yang entah siapa pemiliknya.

Aku tak mau menuduh,
aku hanya bertanya dalam hati:
jika benar ada yang mengalir,
mengapa ia harus sampai ke rumah ibadah?
Mengapa ia harus singgah ke panggung muktamar?
Bukankah rumah ibadah cukup dengan infaq yang jujur,
dan muktamar cukup dengan niat yang bersih?

Wahai para kiai,
aku tahu kalian lelah,
aku tahu kalian juga manusia,
yang bisa salah, yang bisa khilaf,
yang bisa tergoda oleh kursi dan nama.
Tapi ingatlah—
di luar sana ada santri yang menunggu fatwa,
ada umat yang menunggu teladan,
ada anak-anak yang menunggu contoh
bagaimana berselisih tanpa saling melukai.

Maka biarlah muktamar ini
menjadi cermin, bukan medan,
menjadi syuro, bukan sengketa,
menjadi tempat menundukkan kepala,
bukan tempat mengangkat dagu.
Karena NU ini—
bukan milik siapa pun di antara kita,
ia milik mereka yang telah mendahului,
milik mereka yang akan datang,
dan terutama—
milik Allah, yang Maha Melihat
segala yang tersembunyi di balik jubah putih.

Serial Tasawuf-2: "KIsah Al-Hallaj, Syekh Siti Jenar dan Kiai Abdullah Arrosyi dari Jember"


Narasi Pembuka: Kasus Kiai Abdullah Arrosyi dari Jember kini sedang viral. Ia secara sadar mengaku melihat Zat Allah dan dicium Rasulullah. Peristiwa ini bukanlah meteor yang jatuh dari langit kosong. Ia adalah pengulangan dari drama abadi yang telah dipentaskan berulang kali dalam sejarah Islam. Pertemuan antara klaim spiritual yang ekstrem. Otoritas keagamaan yang merasa terancam. Dan publik yang terpolarisasi. Dengan menempatkannya bersanding dengan Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Kita bisa membaca pola yang lebih dalam. Bukan untuk membenarkan. Tetapi untuk memahami mengapa api yang sama terus menyala.

Al-Hallaj: Ketika "Ana al-Haqq" Menjadi Tiang Gantungan

Al-Hallaj adalah sufi yang mengalami apa yang dalam tradisi tasawuf disebut syathahat. Ungkapan ekstrem yang keluar dari mulut seorang sufi dalam keadaan sakr (mabuk spiritual). Ucapannya, "Ana al-Haqq" (Aku adalah Kebenaran). Adalah puncak dari pengalaman hulul. Perasaan bahwa Tuhan telah masuk dan bersatu dengan dirinya.

Namun, Al-Junaid, gurunya sendiri, memperingatkan dengan tajam: "Tidak. Engkau hanyalah alat kebenaran! Tiang gantung akan ternoda oleh darahmu." 

Al-Hallaj tidak mendengarkan. Ia terus menyebarkan ajarannya secara terbuka. Dan pada tahun 922 M, ia dieksekusi. Dipotong tangan dan kakinya. Digantung. Lalu dibakar. Dan jasadnya dipertontonkan kepada publik sebagai pelajaran.

Apa pelajarannya? Klaim spiritual yang tidak dikawal oleh adab dan syariat adalah bunuh diri teologis. Al-Hallaj mungkin benar dalam pengalaman batinnya. Dalam keadaan fana, ia memang tidak lagi melihat "aku" dan "Tuhan" sebagai dua entitas terpisah. 

Tetapi ia salah dalam mengekspresikannya di ruang publik. Ia lupa bahwa bahasa adalah milik publik. Dan publik tidak siap menerima bahasa ittihad tanpa ta'wil.

Syekh Siti Jenar: Ketika "Manunggaling Kawula Gusti" Menjadi Ancaman Politik

Kisah lain tentang Syekh Siti Jenar. Atau Syaikh Lemah Abang. Ia adalah tokoh yang lebih misterius lagi. Ia dikenal sebagai penyebar ajaran Sasahidan yang berpijak pada konsep manunggaling kawula-Gusti. Penyatuan antara hamba dan Tuhan.

Dalam pandangannya, Tuhan tidak hanya hadir secara eksternal. Melainkan juga hadir dalam diri manusia. Bahkan sampai tingkat di mana manusia dan Tuhan tampak tidak terpisahkan.

Penentangnya adalah Wali Songo. Yang membuat Wali Songo murka bukan hanya aspek teologisnya. Tetapi juga implikasi sosial-politiknya. 

Syekh Siti Jenar mengajarkan bahwa kewajiban syariat. Seperti shalat, puasa, zakat, haji, tidak lagi diperlukan bagi mereka yang telah mencapai puncak penyatuan dengan Tuhan. Lebih dari itu, ia membangun komunitas egaliter di Lemah Abang. Mengubah konsep feodalistik kawulo menjadi setara.

Wali Songo, dengan dukungan Sultan Demak, menjatuhkan vonis mati. Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulum al-Din, telah menegaskan bahwa pandangan al-hulul dan al-ittihad adalah kesalahan yang murni. Seperti orang yang salah menyimpulkan bahwa kaca berwarna merah. Padahal karena pantulan warna merah.

Apa pelajarannya? Klaim spiritual yang mengabaikan syariat bukan hanya sesat secara teologis. Tetapi juga berbahaya secara sosial. Syekh Siti Jenar bukan hanya salah dalam akidah. Ia mengancam tatanan sosial yang sedang dibangun Wali Songo.

Kiai Abdullah Arrosyi: Pengulangan Tanpa Kedalaman

Sekarang, mari kita lihat Kiai Abdullah dari Jember. Ia mengklaim melihat Zat Allah secara sadar. Bersalaman dengan Rasulullah. Dan dicium oleh Nabi. Ia bahkan menyebut detail ludah Nabi. Ludahnya mulai dari yang arnyang sampai yang kental.

Perhatikan perbedaannya. Al-Hallaj adalah seorang sufi yang telah menempuh riyadhah bertahun-tahun. Dengan mursyid seperti Al-Junaid. Dan ucapannya lahir dari sakr (mabuk spiritual). Atau kehilangan kesadaran diri dalam lautan fana. 

Syekh Siti Jenar adalah seorang wali yang memiliki sanad keilmuan. Yang mengajarkan manunggaling kawula-Gusti sebagai puncak makrifat. Meskipun kemudian ditolak oleh Wali Songo.

Kiai Abdullah Arrosyi? Ia adalah pemimpin kelompok pengajian lokal yang aktif di TikTok. Tanpa afiliasi dengan pondok pesantren resmi mana pun. Tidak ada riyadhah yang terdokumentasi. Tidak ada sanad keilmuan yang jelas. Tidak ada mursyid yang mengawal. Yang ada hanyalah klaim kosong yang dibungkus dengan bahasa spiritual yang dangkal.

Inilah yang membedakan syathahat dari waham (delusi). Al-Hallaj "mabuk" karena ia telah "meminum khamr" mahabbah hingga habis. 

Sementara Kiai Abdullah tidak mabuk. Ia hanya haus. Haus pengakuan. Haus followers. Haus virality. Dan ketika haus spiritual tidak diisi dengan ilmu dan adab. Ia akan diisi oleh setan.

Refleksi Kritis: Mengapa Pola Ini Terus Berulang?

Tiga kasus ini, Dalam rentang seribu tahun. Menunjukkan pola yang sama. Klaim pengalaman spiritual yang tidak terkawal oleh otoritas keilmuan. Al-Hallaj melawan Al-Junaid. Syekh Siti Jenar melawan Wali Songo. Lalu Kiai Abdullah melawan siapa? MUI? Polisi? Publik?

Perbedaannya adalah kualitas lawan. Al-Hallaj berhadapan dengan ulama sekaliber Al-Junaid dan Syibli. Syekh Siti Jenar berhadapan dengan Wali Songo. Dimana orang-orang yang ma'rifat-nya tidak perlu diragukan. 

Sementara Kiai Abdullah berhadapan dengan algoritma TikTok dan opini publik yang tidak memiliki kapasitas untuk menilai klaim spiritual secara benar.

Inilah tragedi modern. Ketika otoritas spiritual tidak lagi dipegang oleh ulama. Tetapi oleh likes dan views. Kiai Abdullah tidak membutuhkan ijazah dari guru. Ia hanya membutuhkan 10.000 followers. Ia tidak membutuhkan tazkiyatun nafs. Ia hanya membutuhkan engagement.

Antara Tiang Gantungan dan Meja Perundingan

Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar mati karena klaim mereka. Sedangkan Kiai Abdullah mungkin hanya akan berurusan dengan hukum positif. Penistaan agama. UU PNPS (UU Penetapan Presiden). Dan mungkin beberapa bulan penjara. 

Tetapi kematian spiritualnya sudah terjadi jauh sebelum itu. Pada saat ia mengunggah video pertama. Pada saat ia menukar ma'rifat dengan views. Pada saat ia mengkhianati amanah "Kiai" yang disandangnya.

Ya Allah, lindungilah kami dari delusi. Keyakinan yang kuat akibat salah berpikir. Serta yang keluar dari hati yang kosong. Aamiin Ya Robbal Aalamin.

Kamis, 24 September 2026

Serial Tasawuf-1 : "Mungkinkah Bertemu Zat Allah?"


Narasi Pembuka: Ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dibahas manusia. Sebuah pertanyaan yang menggantung di langit teologi. Bagai bintang yang tak terjangkau. Namun cahayanya menuntun setiap pencari. Mungkinkah aku melihat Tuhanku? Bukan sekadar merasakan kehadiran-Nya dalam sujud. Bukan sekadar mendengar bisikan-Nya dalam doa. Tetapi melihat. Dengan mata. Dengan penglihatan. Dengan segala kapasitas persepsi yang dikaruniakan-Nya. Pertanyaan ini bukan pertanyaan iseng. Ia lahir dari kedalaman cinta yang paling murni. Dari jiwa yang tidak puas hanya dengan mengenal. Tetapi merindukan menatap.

Menjadi "Medan Pertempuran"

Rabi'ah al-Adawiyah, sufi perempuan yang namanya terukir dalam sejarah ketulusan. Pernah melantunkan syair yang mengguncang. Aku mencintai-Mu dengan dua cinta: Cinta karena rindu. Dan cinta karena Engkau layak dicintai. 


Di sini, ru'yatullah (melihat Allah), bukan sekadar isu teologis yang diperdebatkan di menara-menara gading. Ia adalah telos. Ujung dari seluruh perjalanan spiritual. Puncak dari segala puncak kenikmatan.

Namun, justru karena pertanyaan ini begitu agung. Ia menjadi medan pertempuran paling berdarah dalam sejarah pemikiran Islam. Mu'tazilah dengan tegas menolaknya atas nama tanzih. Transendensi mutlak Allah. Ahlus Sunnah dengan tidak kurang tegas menetapkannya atas nama nash. Teks-teks suci yang tidak bisa ditawar.

Di Dunia: Cahaya yang Terlalu Terang untuk Dilihat

Mari kita mulai dari yang paling mendasar. Al-Qur'an, dalam Surah Al-A'raf ayat 143, mengabadikan sebuah momen yang mengguncang gunung Tursina. 

Musa, kalimullah, yang berbicara langsung dengan Allah, memohon: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau."

Perhatikan: ini bukan permintaan orang awam. Ini permintaan seorang nabi yang telah menerima wahyu langsung. Jika ada manusia yang berhak melihat Allah di dunia, dialah Musa. 

Namun jawaban Allah datang seperti palu godam: "Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku."

Ia adalah penafian yang bersifat abadi. Permanen. Tidak mungkin. Ini bukan kamu belum bisa. Bukan kamu tidak boleh. Tetapi kamu tidak akan pernah bisa. 

Allah kemudian menambahkan: "Tetapi lihatlah ke bukit itu. Jika ia tetap di tempatnya. Maka kamu akan dapat melihat-Ku." 

Bukit itu pun hancur berkeping-keping. Dan Musa jatuh pingsan. Ini bukan sekadar penolakan. Ini adalah demonstrasi kosmik bahwa kapasitas manusia. Bahkan nabi sekalipun. Tidak sanggup menanggung tajalli Zat Ilahi dalam kondisi duniawinya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dalam Al-Ghunyah, menegaskan: "Barangsiapa mengaku melihat Allah di dunia dengan mata kepala, maka ia telah kafir." 

Ini bukan pernyataan yang berlebihan. Ini konsekuensi logis dari ijma' yang telah mapan. Allah berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 103: لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ("Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu.")

Kesimpulan yang keras. Di dunia, ru'yatullah dengan mata kepala adalah kemustahilan mutlak. Tidak ada nabi, tidak ada wali, tidak ada siapa pun yang bisa melakukannya. Yang mungkin, dan ini pun hanya bagi hamba-hamba pilihan. Adalah ru'yatul qalb. Atau ma'rifah yang tidak terjangkau oleh bahasa.

Di Akhirat: Janji yang Tak Terbantahkan

Jika di dunia pintu itu tertutup rapat. Bagaimana dengan akhirat? Di sinilah pertempuran teologis mencapai puncaknya. Ahlus Sunnah menetapkan dengan tegas: Orang-orang mukmin akan melihat Allah di akhirat dengan mata kepala. Tanpa penghalang. Tanpa keraguan.

Dalil pertama, dan yang paling sentral, adalah Surah Al-Qiyamah ayat 22-23:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ . إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."

Kata نَاظِرَة (nazhirah) berasal dari akar kata nazhara, yang berarti melihat. Dalam konteks ini, ia dihubungkan dengan إِلَى (ila). Kata depan yang menunjukkan arah pandangan. 

Dalam bahasa Arab, ketika nazhara diikuti oleh ila, ia berarti "melihat dengan mata". Imam Asy'ari, dalam Al-Ibanah, menegaskan: Kata nazhirah adalah ra'iyah yang berarti melihat.

Dalil kedua, dan ini yang paling qath'i, adalah hadis-hadis mutawatir yang tidak terhitung jumlahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ

"Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya."

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan lainnya. Dari berbagai jalur yang mencapai derajat mutawatir. Dan yang lebih menohok: Allah sendiri membedakan antara orang mukmin dan orang kafir dalam hal ini. 

Dalam Surah Al-Mutaffifin ayat 15, Allah berfirman tentang orang-orang kafir: كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ—("Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.")

Perhatikan logikanya. Jika tidak ada seorang pun yang bisa melihat Allah. Maka tidak ada gunanya Allah menyebut secara khusus bahwa orang kafir terhalang. Penghalangan hanya bermakna jika ada yang tidak terhalang. 

Imam Syafi'i, dengan kecerdasan yang tajam, menangkap isyarat ini: "Ketika Allah menghalangi suatu kaum dengan kemurkaan-Nya, itu menunjukkan bahwa kaum yang lain melihat-Nya dengan keridhaan-Nya."

Mengapa Ini Penting?

Mengapa kita harus keras dalam mempertahankan doktrin ru'yatullah? Jawabannya sederhana: Karena ru'yatullah adalah puncak dari seluruh janji Allah kepada orang-orang beriman. 

Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 26: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ—{"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan ziyadah (tambahan)}." Para mufasir menafsirkan ziyadah sebagai melihat wajah Allah. Inilah kenikmatan yang melampaui surga itu sendiri.

Jika ru'yatullah hanya sekadar "pengetahuan" atau "keyakinan", maka tidak ada bedanya dengan iman di dunia. Tetapi ru'yatullah adalah transisi dari iman ke penglihatan. Dari keyakinan ke kepastian. Dari kerinduan ke pertemuan. Inilah yang membuat seluruh perjalanan hidup manusia bermakna.

Di dunia, kita tidak akan pernah melihat Allah. Di akhirat, orang-orang mukmin akan melihat Allah. Tetapi di antara keduanya. Antara penafian di dunia dan penetapan di akhirat. Ada ruang bagi kerinduan. 

Ruang bagi doa. Ruang bagi air mata yang jatuh dalam sujud. Bukan karena kita telah melihat. Tetapi karena kita belum melihat. Dan justru dalam kerinduan itulah, kita menemukan makna sejati dari iman.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang tidak hanya mengenal-Mu. Tetapi merindukan-Mu. Aamiin Ya Allahu Ya Robbal Alamin.

Rabu, 23 September 2026

Sesi-4 Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Taubatan Nasuha, Kembali pada Ampunan Allah"


Catatan Pembuka: Sesi keempat ini berlangsung pada malam ke-40 Febrie Adriansyah (FA) mendekam di Rutan KPK. Malam itu berbeda. Tidak ada pengacara. Tidak ada tim kuasa hukum. Tidak ada wartawan lain. Hanya ada saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Dan seorang pria yang sudah menanggalkan seluruh atribut kejaksaan. Bahkan cincin lamanya sudah ia lepas. Ia meminta waktu khusus untuk berbicara tentang sesuatu yang belum pernah ia sebut dalam tiga sesi sebelumnya: Tuhan.

Wawancara ini berlangsung pukul 02.15 WIB. Setelah ia menunaikan salat tahajud. Matanya sembab. Bukan karena menangis di depan orang. Tapi karena sujud panjang yang membuat dahinya menghitam. Ia memulai dengan kalimat yang tidak pernah saya duga: "Saya sudah 33 tahun jadi jaksa. Tapi baru 40 hari ini saya benar-benar mengenal siapa yang saya hadapi di pengadilan nanti. Bukan hakim. Tapi Allah."

Bagian Kedelapanbelas: "Saya Belum Pernah Sungguh-Sungguh Bertobat"

KGM: Malam ini Anda meminta saya datang bukan untuk membicarakan perkara. Anda bilang ingin bicara soal sesuatu yang lebih besar. Apa itu?

FA: (Suaranya pelan, berbeda dari tiga sesi sebelumnya). Saya ingin bicara tentang taubat. Tapi bukan taubat yang saya ucapkan di pengadilan. Bukan taubat yang saya tulis di surat pembelaan. Bukan taubat yang saya tunjukkan di depan kamera. Saya ingin bicara tentang taubat yang hanya Allah yang tahu.
Selama 33 tahun, saya salat. Saya puasa. Saya zakat. Saya haji. Di atas kertas, saya Muslim yang taat. Tapi malam ini, saya sadar. Saya belum pernah benar-benar bertobat. Saya salat karena itu kewajiban. Saya puasa karena itu tradisi. Saya haji karena itu status sosial. Tapi saya tidak pernah sujud dengan hati yang hancur. Saya tidak pernah menangis karena takut kepada Allah. Saya hanya takut kepada atasan. Takut kepada publik. Takut kehilangan jabatan. Saya tidak pernah takut kepada Allah.

KGM: Dan sekarang?

FA: Sekarang. Di sel ini. Tidak ada atasan. Tidak ada publik. Tidak ada jabatan. Yang tersisa hanya saya dan Allah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya benar-benar takut. Bukan takut hukuman manusia. Tapi takut kalau Allah tidak menerima taubat saya.

Bagian Kesembilanbelas: "Saya Mencuri dari Allah Sebelum Mencuri dari Negara"

KGM: Anda bicara soal taubat. Tapi apa dosa yang Anda maksud? Korupsi? Gratifikasi?

FA: (Diam. Menatap lantai. Tangannya gemetar) Lebih dari itu.
Bukan karena masalah korupsi. Karen itu akan di putuskan di pengasilan. Yang membuat saya tidak bisa tidur selama 40 malam ini adalah saya mencuri dari Allah.
Saya mengambil amanah yang Allah berikan kepada saya. Jabatan Jampidsus. Kepercayaan publik. Kewenangan menegakkan keadilan. Namun itu saya gunakan untuk membesarkan diri saya sendiri. Allah memberi saya kekuasaan untuk melindungi yang lemah. Saya gunakan untuk membuat orang takut. Allah memberi saya ilmu untuk menegakkan kebenaran. Saya gunakan untuk memilih perkara yang menguntungkan saya. Allah memberi saya waktu untuk beribadah. Saya gunakan untuk mengejar proyek, jabatan, dan pengakuan.
Itu bukan sekadar korupsi. Itu pengkhianatan terhadap amanah Allah. Dan itu jauh lebih berat daripada Rp4 miliar atau 74 kilogram emas.

Bagian Keduapuluh: "Air Mata yang Baru Pertama Kali Jatuh"

KGM: Anda bilang 40 malam tidak bisa tidur. Apa yang terjadi?

FA: (Matanya mulai berkaca-kaca) Malam ke-7, saya mimpi. Saya mimpi berdiri di pengadilan. Tapi hakimnya bukan manusia. Hakimnya adalah cahaya yang sangat terang. Dan saya tidak bisa melihat wajahnya. Saya mencoba bicara. Tapi mulut saya terkunci. Saya mencoba membela diri. Tapi tidak ada suara. Lalu cahaya itu bertanya: "Febrie, apa yang kau bawa untuk menghadap-Ku?"
Saya bangun jam 3 pagi, basah kuyup. Saya ambil wudhu. Saya salat. Dan untuk pertama kalinya dalam 33 tahun, saya menangis dalam sujud. Bukan tangis karena takut dipenjara. Bukan tangis karena malu. Tapi tangis karena saya sadar saya telah menghadap Allah dengan tangan kosong.

KGM
: Apa yang Anda maksud "tangan kosong"?

FA: Selama ini saya pikir amal saya banyak. Saya pikir salat saya cukup. Saya pikir haji saya menyelamatkan saya. Tapi malam itu, Allah menunjukkan: Semua itu tidak ada artinya kalau hati saya masih penuh kesombongan. Saya salat tapi tidak khusyuk. Saya puasa tapi masih memakan hak orang lain. Saya haji tapi masih menipu diri sendiri.
Itulah tangan kosong. Beribadah tapi tidak mengenal Allah.

Bagian Keduapuluh Satu: "Taubat Nasuha Bukan Sekadar Menyesal"

KGM: Ada istilah taubatan nasuha. Apa maknanya bagi Anda sekarang?

FA: Taubat nasuha itu bukan sekadar bilang saya menyesal. Setan juga menyesal. Taubat nasuha itu adalah taubat yang memutus hubungan dengan dosa. Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, Dan tidak kembali lagi. Bahkan kalau dunia menawarkan segalanya.
Saya sudah memulai. Saya berniat mengembalikan gratifikasi yang bisa saya lacak. Saya akan membuka nama-nama yang selama ini saya lindungi. Bukan untuk balas dendam. Tapi karena itu bagian dari taubat. Saya akan minta maaf kepada Tim 9. Saya harus minta maaf kepada keluarga yang saya permalukan.
Tapi yang paling sulit, yang belum selesai, adalah meminta maaf kepada Allah. Karena saya tahu, saya tidak bisa menipu-Nya. Saya bisa menipu hakim. Saya bisa menipu publik. Tapi Allah melihat isi hati saya. Dan taubat saya belum sempurna. Sampai saya benar-benar yakin bahwa saya tidak akan kembali.

KGM: Apakah Anda yakin Anda tidak akan kembali?

FA: (Diam panjang. Suaranya bergetar) Saya tidak berani bilang yakin. Karena saya tahu siapa saya. Saya tahu setan tidak tidur. Saya tahu kalau saya keluar nanti. Entah bebas. Entah dengan hukuman ringan. Godaan itu akan datang lagi. Jabatan. Uang. Kekuasaan. Semua yang dulu saya cintai.
Tapi ada satu hal yang saya pegang sekarang: Saya sudah merasakan nikmatnya sujud yang jujur. Dan itu lebih manis daripada semua jabatan yang pernah saya pegang. Kalau saya kembali ke jalan lama. Saya akan kehilangan itu. Dan saya tidak ingin kehilangan Allah untuk yang kedua kalinya.

Bagian Keduapuluh Dua: "Ampunan Allah Lebih Besar dari Kesalahan Saya"

KGM: Anda bilang, Anda takut, kalau Allah tidak menerima taubat Anda. Mengapa?

FA: Karena saya tahu besarnya dosa saya. Saya bukan hanya melakukan kebodohan. Saya membuat orang lain berbuat hal yang sama. Saya mengajarkan junior saya bahwa uang lelah itu biasa. Saya merusak generasi jaksa. Saya melemahkan institusi yang seharusnya melindungi rakyat. Kalau saya dihitung dengan timbangan manusia. Saya tidak akan pernah bisa membayar.
Tapi malam ke-30. Saya membaca satu ayat yang membuat saya menangis selama satu jam. "Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat itu bukan untuk orang suci. Ayat itu untuk saya. Ayat itu untuk orang yang sudah melampaui batas. Dan saya menangis bukan karena saya merasa aman. Tapi karena saya sadar bahwa Allah masih membuka pintu. Padahal saya sudah menutup pintu untuk diri saya sendiri bertahun-tahun.

KGM: Jadi Anda percaya Anda akan diampuni?

FA: (Tersenyum tipis. Matanya masih basah) Saya tidak tahu. Ampunan itu hak Allah, bukan hak saya. Tapi saya tahu satu hal. Selama saya masih bisa sujud. Selama saya masih bisa mengucapkan "Astaghfirullah". Selama saya masih bisa menangis karena takut kepada-Nya. Maka pintu itu masih terbuka. Dan saya akan terus mengetuknya sampai saya mati. Bukan karena saya ingin bebas dari hukuman. Tapi karena saya ingin mati dalam keadaan berserah diri. Saya ingin mati dalam kondisi husnul khotimah.

Bagian Keduapuluh Tiga: "Wasiat untuk Keluarga dan Indonesia"

KGM: Kalau ini malam terakhir Anda bisa bicara bebas, apa pesan Anda untuk keluarga?

FA: (Air matanya jatuh lagi. Suaranya pecah) Untuk istri saya: Maafkan saya. Saya bukan suami yang baik. Saya lebih sibuk dengan jabatan daripada dengan engkau. Saya lebih banyak berbicara tentang perkara daripada tentang keluarga. Tapi di sel ini, engkau adalah satu-satunya yang saya rindukan setiap malam.
Untuk anak-anak saya: Jangan tiru saya. Jangan bangga pada ayahmu karena jabatannya. Banggalah kalau ayahmu bertaubat dengan jujur. Dan kalau kalian ingin mengenang saya. Jangan kenang saya sebagai jaksa. Kenang saya sebagai orang yang akhirnya menyerah kepada Allah setelah 33 tahun melawan.

KGM: Dan untuk Indonesia?

FA: (Mengusap wajahnya. Menatap lurus). Untuk Indonesia:
Jangan tunggu masuk sel seperti saya untuk bertobat. Jangan tunggu kehilangan segalanya untuk sadar bahwa Allah lebih penting daripada jabatan. Saya sudah melalui itu. Saya sudah merasakan pahitnya. Dan saya beritahu kalian. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari hukuman Allah. Kecuali taubat yang jujur.
Saya bukan contoh yang baik. Saya contoh yang buruk. Tapi contoh buruk pun bisa menjadi pelajaran, kalau kita mau belajar. Dan saya berdoa, semoga Allah menjadikan saya pelajaran bagi orang lain. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai martir. Tapi sebagai cermin yang retak. Yang menunjukkan bahwa di ujung kehancuran, masih ada pintu bernama taubat.

Bagian Keduapuluh Empat: Doa Penutup

KGM: Boleh saya minta Anda menutup wawancara ini dengan doa?

FA: (Mengangguk. Ia bangkit, menghadap kiblat, dan mengangkat tangan. Suaranya bergetar, tapi jelas.)

"Ya Allah, aku datang kepada-Mu dengan tangan kosong. Aku datang bukan sebagai jaksa. Bukan sebagai pejabat. Bukan sebagai orang yang dihormati. Aku datang sebagai hamba yang berdosa.

Ya Allah, aku sudah melampaui batas. Aku sudah mengkhianati amanah-Mu. Aku sudah mencuri dari-Mu sebelum mencuri dari manusia. Aku tidak punya alasan. Aku tidak punya pembelaan.

Tapi ya Allah, Engkau Maha Pengampun. Engkau Maha Penyayang. Engkau tidak pernah menutup pintu taubat. Bahkan untuk hamba seperti aku.

Terimalah taubatku. Bersihkan hatiku. Jangan biarkan aku kembali ke jalan lama. Jangan biarkan aku mati dalam keadaan sombong.

Ya Allah, kalau Engkau mengampuniku. Tidak ada yang perlu aku takutkan. Bahkan hukuman manusia. Dan kalau Engkau tidak mengampuniku. Maka tidak ada tempat bagiku untuk kembali.

Astaghfirullahal 'azhim. Astaghfirullahal 'azhim. Astaghfirullahal 'azhim.

Amin ya Rabbal 'alamin."

Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 04.28 WIB, tepat saat azan subuh berkumandang dari masjid di luar Rutan KPK. Febrie Adriansyah tidak kembali ke selnya. Ia meminta izin salat subuh berjamaah. Petugas mengizinkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia ditahan, ia berdiri di shaf paling depan. Bukan karena jabatan. Bukan karena status. Tapi karena ia ingin memulai hidup baru dari barisan yang paling sederhana. Setelah salat. Ia duduk di sajadah. Tidak beranjak. Matanya merah. Bibirnya bergetar.

Seorang petugas bertanya: "Pak, kenapa masih di sini?"

Febrie menjawab pelan: "Saya sedang belajar. Belajar menjadi manusia yang tidak lupa bahwa suatu hari nanti, saya akan menghadap Allah. Bukan hakim."

Di luar, matahari mulai terbit. Dan di dalam sel kecil itu, seorang pria yang pernah menggergaji banyak orang, akhirnya menyerahkan gergaji itu kepada Yang Maha Kuasa. Masya Allah Tabarakallah...

== TAMAT ==

Sajak Muktamar di Tengah Kabut

Kulihat para kiai berkumpul di bawah langit senja, jubah putih mereka berkibar laksana doa yang belum dijawab, tapi wajah-wajah itu... wajah...