Sportlite: Rakernas Sekar Telkom digelar mu;ai kemarin (15/10). Tentu bukan sekadar ritual organisasi tahunan. Ia adalah cermin retak yang memantulkan paradoks mendalam tentang bagaimana sebuah serikat pekerja di perusahaan telekomunikasi terbesar Indonesia menegosiasikan eksistensinya di tengah pusaran kekuasaan korporasi dan negara. Ketika Ketua Umum Sekar Telkom mengutip falsafah Jawa "hamemayu hayuning bawana". Memperindah keindahan dunia. Kita dihadapkan pada pertanyaan filosofis yang keras menghunjam. Memperindah untuk siapa?
SEKAR, Masih Punya Keberanian kah...
Sejarah Sekar Telkom lahir dari rahim reformasi 1998. Ketika KORPRI dibubarkan dan karyawan Telkom mendeklarasikan diri sebagai serikat pekerja yang "demokratis. Mandiri. Bebas. Bertanggungjawab. Dan terbuka".
Deklarasi ini bukan sekadar pernyataan administratif. Ia adalah sumpah ontologis tentang hakikat keberadaan manusia pekerja. Yang menolak direduksi menjadi sekadar alat produksi.
Dalam kerangka filsafat Hegelian. Ini adalah momen negasi. Penolakan terhadap tesis lama bahwa karyawan BUMN harus menjadi perpanjangan tangan kekuasaan.
Namun, lebih dari dua dekade kemudian, Kita menyaksikan sebuah antitesis yang mengganggu. Rakernas hari ini digelar di tengah bayang-bayang streamlining—eufemisme korporat untuk restrukturisasi. Yang justru mengancam hak-hak pekerja.
Namun, lebih dari dua dekade kemudian, Kita menyaksikan sebuah antitesis yang mengganggu. Rakernas hari ini digelar di tengah bayang-bayang streamlining—eufemisme korporat untuk restrukturisasi. Yang justru mengancam hak-hak pekerja.
Kesepakatan tripartit antara Sekar Telkom. Danantara. Dan Direksi Telkom yang diteken Juli lalu memastikan "tidak ada PHK".
Falsafah hamemayu hayuning bawana dalam konteks ini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mengingatkan pada tanggung jawab kosmologis untuk menjaga harmoni. Sebuah etika yang, dalam tradisi Jawa, menempatkan manusia sebagai khalifah yang memelihara keseimbangan alam dan masyarakat.
Di sisi lain, ketika diucapkan dalam forum korporasi. Frasa ini berisiko menjadi mantra yang melegitimasi status quo. Memperindah dunia. Dalam tafsir yang paling sinis. Bisa berarti mempercantik fasad sementara fondasinya terus digerogoti.
Dalam tubuh Telkom, streamlining adalah state of exception itu. Sebuah kebijakan yang, meski dibungkus narasi transformasi digital. Pada hakikatnya adalah pemangkasan.
Serikat pekerja yang seharusnya menjadi penjaga good corporate governance. Justru diposisikan sebagai pihak yang harus "memahami" kebutuhan perusahaan. Ini adalah inversi etis. Yang seharusnya mengawasi justru diminta untuk merestui.
Ketua Umum Sekar Telkom Peridoe 2025-2028, Nasri, menyatakan bahwa transformasi bertujuan "menjaga eksistensi sebagai perusahaan digital". Eksistensi siapa? Perusahaan? Atau pekerja?
Ketua Umum Sekar Telkom Peridoe 2025-2028, Nasri, menyatakan bahwa transformasi bertujuan "menjaga eksistensi sebagai perusahaan digital". Eksistensi siapa? Perusahaan? Atau pekerja?
Dalam logika kapitalisme digital. Kedua entitas ini tidak selalu sejalan. Telkom memproyeksikan pendapatan Rp550 triliun pada 2030. Tetapi proyeksi gemilang itu tidak otomatis berarti kesejahteraan bagi mereka yang membangunnya.
Inilah kontradiksi fundamental yang harus dihadapi Rakernas: Bisakah serikat pekerja menjadi mitra konstruktif sekaligus pengawal kritis dalam ekosistem yang menuntut efisiensi tanpa henti?
Rakernas yang dibuka mulai kemarin. Dengan segala ritualistiknya. Dari sharing eksternal hingga wisata ke lereng Merapi. Berpotensi menjadi ruang katarsis kolektif.
Rakernas yang dibuka mulai kemarin. Dengan segala ritualistiknya. Dari sharing eksternal hingga wisata ke lereng Merapi. Berpotensi menjadi ruang katarsis kolektif.
Namun, katarsis tanpa tindakan hanyalah pelarian. Jika falsafah Jawa hendak dijadikan kompas. Maka hamemayu hayuning bawana harus dimaknai secara radikal: Memperindah dunia berarti menolak segala bentuk penindasan yang menyamar sebagai keniscayaan zaman.
Serikat pekerja yang sejati bukanlah yang selalu berkata "ya" pada manajemen. Melainkan yang berani berkata "tidak" ketika keadilan dipertaruhkan.
Maka, pertanyaan filosofis yang tersisa adalah. Setelah Rakernas ini berakhir. Akankah Sekar Telkom kembali ke pelukan nyaman negosiasi bipartit yang steril.
Maka, pertanyaan filosofis yang tersisa adalah. Setelah Rakernas ini berakhir. Akankah Sekar Telkom kembali ke pelukan nyaman negosiasi bipartit yang steril.
Atau akankah ia menemukan kembali jati dirinya sebagai suara kritis yang menggema melampaui dinding-dinding korporasi?
Waktu. Dan keberanian. Yang akan menjawabnya. Sekkaaarrrr...!!!
(Kang Nana, Mantan Jurnalis Sekar dan Ketua Sekar DPD Corporate Periode 2007-2010)



