"Hari ini kita akan membicarakan tentang nifāq, Kemunafikan," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik, bahwa munafik itu adalah engkau menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di dalam hatimu. Engkau berkata dengan lisanmu apa yang tidak engkau yakini di dalam hatimu. Engkau menampakkan kebaikan. Tetapi menyembunyikan kejahatan."
"Bukankah setiap orang memiliki rahasia, Guru?"
"Benar, anakku. Setiap orang memiliki rahasia. Tetapi rahasia yang dimaksud di sini bukanlah rahasia yang wajar. Melainkan rahasia yang berlawanan dengan apa yang engkau tampakkan.
"Bila engkau menampakkan keimanan. Tetapi hatimu penuh keraguan. Itu munafik. Bila engkau menampakkan ketaatan. Tetapi hatimu penuh kemaksiatan. Itu munafik. Bila engkau menampakkan kecintaan. Tetapi hatimu penuh kebencian. Itu munafik."
Salik terdiam. Ia teringat pada banyak kesempatan di mana ia berkata sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa kemunafikan itu lebih berbahaya dari kekafiran. Sebab orang kafir itu jelas kekafirannya. Sehingga orang bisa berhati-hati. Adapun orang munafik itu menyembunyikan kekafirannya di balik topeng keimanan. Sehingga orang bisa tertipu. Itulah sebabnya Allah menyebut orang munafik sebagai penghuni neraka yang paling bawah."
Salik menggigil. Ia merasa bahwa selama ini ia telah memakai banyak topeng.
"Bagaimana tanda-tanda kemunafikan, Guru?"
"Pertama, engkau berkata tentang sesuatu yang tidak engkau lakukan. Engkau menasihati orang lain. Tetapi engkau sendiri tidak melakukannya.
Kedua, engkau berjanji tetapi engkau mengingkari.
Ketiga, engkau dipercaya tetapi engkau berkhianat.
Keempat, engkau bertengkar dengan cara yang tidak jujur.
Kelima, engkau memuji seseorang di hadapannya. Tetapi engkau mencacinya di belakangnya."
Salik menunduk. Ia merasa bahwa semua tanda itu ada pada dirinya.
"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, jadikanlah lisanmu sesuai dengan hatimu. Bila engkau tidak bisa berkata jujur. Lebih baik engkau diam.
Kedua, jangan engkau menampakkan sesuatu yang tidak ada di dalam hatimu. Bila engkau merasa malas beribadah,. Jngan engkau menampakkan kerajinan di hadapan orang lain.
Ketiga, biasakanlah untuk berkata benar. Meskipun itu pahit.
Keempat, ingatlah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu. Bahkan sebelum engkau mengucapkannya. Bila engkau sadar bahwa Allah mengetahui rahasiamu. Engkau tak akan berani munafik."
"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah kita harus menjaga perasaan orang lain? Bukankah kita harus berbicara dengan lembut?"
"Menjaga perasaan orang lain berbeda dari munafik. Engkau boleh berbicara dengan lembut. Tetapi jangan engkau berbohong. Engkau boleh menyembunyikan keburukan orang lain.
Tetapi jangan engkau menampakkan sesuatu yang tidak ada. Engkau boleh bersikap ramah. Tetapi jangan engkau berpura-pura mencintai. Kelembutan itu adalah akhlak. Adapun kemunafikan itu adalah penyakit."
Mursyid mengambil cermin dan menyerahkannya pada salik. "Lihatlah wajahmu di cermin ini," katanya. "Bila engkau melihat wajah yang berbeda dari wajahmu yang sebenarnya. Maka engkau telah munafik.
Cermin itu adalah hatimu. Bila hatimu bersih. Maka wajahmu akan tampak sebagaimana adanya. Bila hatimu kotor. Maka wajahmu akan tampak berbeda."
Salik menatap cermin itu. Ia melihat wajahnya yang pucat. Dan ia menyadari bahwa selama ini ia telah menyembunyikan banyak hal.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa kemunafikan itu menghapus semua amal. Sebab Allah tidak menerima amal dari orang yang munafik. Maka bersihkanlah hatimu. Agar engkau menjadi orang yang jujur. Baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia."
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari kemunafikan. Agar aku bisa menjadi hamba yang jujur."
Pelajaran Ketujuh, Dusta
Malam ketujuh, salik datang dengan hati yang lebih jernih. Ia telah berusaha untuk jujur pada dirinya sendiri. dan ia mulai merasakan buah dari kejujuran itu. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyambutnya dengan senyum yang lebih lebar.
"Hari ini kita akan membicarakan tentang kidzb, dusta," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik. Bahwa dusta itu adalah induk dari segala dosa. Ia adalah pintu yang membuka jalan menuju kemunafikan. Kemunafikan membuka jalan menuju kekafiran."
"Bukankah ada dusta yang dibolehkan, Guru? Seperti dusta untuk mendamaikan dua orang yang bertengkar?"
"Benar, anakku. Ada dusta yang dibolehkan dalam keadaan darurat. Seperti untuk mendamaikan dua orang yang berselisih. Atau untuk menyelamatkan nyawa.
Tetapi ketahuilah, bahwa dusta yang dibolehkan itu tetap harus dihindari sebisa mungkin. Sebab dusta itu ibarat racun yang diminum dalam keadaan darurat. Ia boleh diminum bila tidak ada jalan lain. Tetapi ia tetap racun."
Salik merenung. Ia teringat pada banyak dusta yang telah ia ucapkan. Bahkan dalam hal-hal kecil.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa dusta itu merusak hubungan antara engkau dengan Allah. Dan antara engkau dengan manusia.
Bila engkau berdusta. Engkau telah menipu Allah. Sebab engkau mengira bahwa Allah tidak mengetahui.
Bila engkau berdusta. Engkau telah menipu manusia. Sebab engkau menampakkan sesuatu yang tidak benar.
Dan bila engkau berdusta, engkau telah menipu dirimu sendiri. Sebab engkau mengira bahwa dusta itu akan menyelamatkanmu."
"Bagaimana tanda-tanda bahwa aku masih suka berdusta, Guru?"
"Pertama, engkau sering membesar-besarkan cerita.
Kedua, engkau sering menyangkal kesalahanmu.
Ketiga, engkau sering berjanji tetapi tidak menepati.
Keempat, engkau sering berbicara tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui.
Kelima, engkau sering memuji secara berlebihan.
Keenam, engkau sering mencela secara berlebihan."
Salik menunduk. Ia merasa bahwa semua tanda itu ada pada dirinya.
"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk berkata benar. Meskipun itu pahit.
Kedua, jangan engkau berbicara tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui.
Ketiga, jangan engkau berjanji kecuali engkau mampu menepatinya.
Keempat, jangan engkau memuji secara berlebihan. Sebab pujian yang berlebihan itu adalah dusta.
Kelima, jangan engkau mencela secara berlebihan. Sebab celaan yang berlebihan itu juga dusta.
Keenam, biasakanlah untuk diam. Sebab diam itu adalah hikmah. Dan hikmah itu adalah cahaya."
"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah kita harus berbicara untuk menyampaikan kebenaran?"
"Benar, anakku. Engkau harus berbicara untuk menyampaikan kebenaran. Tetapi ketahuilah, bahwa kebenaran itu tidak perlu ditambah-tambahi. Kebenaran itu cukup disampaikan sebagaimana adanya.
Bila engkau menambah-nambahi, engkau telah berdusta. Bila engkau mengurangi. Engkau telah berdusta. Maka sampaikanlah kebenaran itu dengan jujur. Tanpa tambahan dan tanpa pengurangan."
Mursyid mengambil sebatang kayu dan menggambarnya di pasir. "Lihatlah gambar ini," katanya. "Ini adalah garis lurus. Bila engkau menambah lengkungan. Maka garis itu tidak lagi lurus. Begitu pula kebenaran. Ia adalah garis lurus. Bila engkau menambah atau mengurangi. Maka ia tidak lagi menjadi kebenaran."
Salik menatap gambar itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah banyak menambah dan mengurangi.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa dusta itu menghapus cahaya iman dari hatimu. Sebab iman itu adalah cahaya. Dan dusta itu adalah kegelapan. Bila engkau berdusta. Maka cahaya imanmu akan tertutup oleh kegelapan dusta. Maka bersihkanlah hatimu dari dusta, Agar cahaya imanmu bersinar terang."
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari dusta. Agar aku bisa menjadi hamba yang jujur."
Pelajaran Kedelapan, Bakhil dan Zalim
Malam kedelapan, salik datang dengan hati yang penuh harapan. Ia telah melewati tujuh pelajaran. Dan ia merasa bahwa dirinya telah berubah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyambutnya dengan senyum yang paling hangat.
"Hari ini adalah pelajaran terakhir dalam takhalliy," kata Mursyid. "Kita akan membicarakan tentang bukhl — kikir — dan zhulm — zalim. Kedua sifat ini saling berkaitan, sebab orang yang kikir itu biasanya juga zalim. Dan orang yang zalim itu biasanya juga kikir."
"Apakah yang dimaksud dengan kikir, Guru?"
"Kikir adalah engkau menahan apa yang Allah titipkan padamu. Dan engkau tidak mau memberikannya kepada yang berhak. Engkau menahan harta. Menahan ilmu. Menahan tenaga. Menahan waktu. Engkau merasa bahwa apa yang engkau miliki adalah milikmu sepenuhnya. Padahal itu semua adalah titipan Allah."
"Dan apakah yang dimaksud dengan zalim?"
"Zalim adalah engkau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Engkau mengambil hak orang lain. Engkau menyakiti orang lain. Engkau merusak apa yang telah Allah ciptakan. Zalim itu bisa terhadap Allah. Terhadap manusia. Terhadap diri sendiri. Dan terhadap alam."
Salik merenung. Ia teringat pada banyak kesempatan di mana ia menahan hartanya. Dan pada banyak kesempatan di mana ia menyakiti orang lain.
"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa kikir itu adalah penyakit yang menghancurkan jiwa. Orang yang kikir itu tidak akan pernah merasa cukup. Ia akan selalu merasa kurang. Meskipun ia memiliki seluruh dunia.
Adapun zalim itu adalah penyakit yang menghancurkan masyarakat. Orang yang zalim itu tidak akan pernah merasa aman. Ia akan selalu merasa terancam. Meskipun ia memiliki kekuasaan yang besar."
"Bagaimana tanda-tanda bahwa aku masih kikir dan zalim, Guru?"
"Tanda-tanda kikir: Engkau merasa berat untuk bersedekah. Engkau merasa berat untuk berbagi ilmu. Engkau merasa berat untuk membantu orang lain. Engkau merasa bahwa apa yang engkau miliki adalah milikmu sepenuhnya.
Tanda-tanda zalim: Engkau mengambil hak orang lain. Engkau menyakiti orang lain. Engkau merusak alam. Engkau tidak adil dalam memutuskan perkara."
Salik menunduk. Ia merasa bahwa sebagian besar tanda itu ada pada dirinya.
"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"
"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk bersedekah, meskipun hanya sedikit. Sebab sedekah itu adalah obat bagi kikir.
Kedua, biasakanlah untuk berbagi ilmu, meskipun hanya satu ayat. Sebab ilmu itu bertambah bila dibagikan.
Ketiga, biasakanlah untuk membantu orang lain, meskipun hanya dengan tenaga. Sebab bantuan itu adalah investasi untuk akhiratmu.
Keempat, biasakanlah untuk bersikap adil, meskipun itu sulit. Sebab keadilan itu adalah cahaya Allah di atas bumi."
"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah aku perlu menyimpan hartaku untuk masa depan?"
"Benar, anakku. Engkau boleh menyimpan harta untuk masa depanmu. Tetapi jangan engkau menyimpan semuanya. Sisihkanlah sebagian untuk yang membutuhkan. Sebab harta yang engkau simpan tanpa engkau bagikan itu akan menjadi saksi atas kekikiranmu di hari kiamat."
Mursyid mengambil sekeping uang dan meletakkannya di telapak tangan salik. "Uang ini," katanya, "adalah amanah. Bila engkau menggunakannya untuk kebaikan. Ia akan menjadi saksi yang baik. Bila engkau menggunakannya untuk kejahatan. Ia akan menjadi saksi yang buruk. Bila engkau menahannya. Ia akan menjadi saksi atas kekikiranmu."
Salik menatap uang itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah banyak menahan harta.
"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa engkau telah menyelesaikan delapan pelajaran dari takhalliy. Sekarang engkau telah bersih dari syirik lahir, syirik batin, cinta dunia, sombong, ujub, munafik, dusta, kikir, dan zalim.
Tetapi ketahuilah, bahwa takhalliy ini bukanlah tujuan. Melainkan hanya pintu. Setelah ini, engkau akan memasuki tahalliy. Menghiasi diri dengan sifat-sifat Allah. Dan setelah itu, engkau akan memasuki tajalliy. Di mana Allah menampakkan diri-Nya padamu. Maka bersiaplah, sebab perjalananmu masih panjang."
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu bersujud di mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, aku telah berusaha membersihkan diriku. Kini aku memohon agar Engkau menyucikan daku dengan rahmat-Mu. Dan menghiasi daku dengan sifat-sifat-Mu. Dan menampakkan diri-Mu padaku. Sebagaimana Engkau menampakkan diri pada kekasih-kekasih-Mu."
Dan malam itu, ribat itu dipenuhi dengan cahaya yang tidak berasal dari lampu minyak. Salik merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu, bahwa perjalanannya masih panjang, tetapi ia juga tahu. Bahwa ia telah melewati pintu pertama dari perjalanan menuju Allah.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial Berikutnya, Tahalliy.