Sabtu, 24 Oktober 2026

Pujian Setinggi Langit KDM kepada Gibran: "Runtuhkan Tembok Simpati"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-66)

Leaderline: Pujian setinggi langit Kang Dedi Mulyadi (KDM) kepada Gibran bukan sekadar salah bicara. Melainkan sebuah pertaruhan politik yang gagal membaca denyut nadi pendukungnya sendiri. Alih-alih menuai simpati. Manuver itu justru memicu gelombang kepergian massal dari basis massa yang selama ini mengidolakannya. Mengapa KDM begitu nekad melakukannya?

Cermin Sebuah Paradoks

Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah cermin dari sebuah paradoks. Sosok yang dibangun sebagai representasi kejujuran rakyat kecil tiba-tiba terlihat sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan yang justru sedang mereka kritik.

Satu kalimat pujian telah meruntuhkan tembok simpati. Yang justru telah dibangunnya bertahun-tahun.

Ketika KDM menyebut Gibran, “Jarang berucap, tapi sekali berucap bisa mengguncang dunia.” Respons publik bukanlah kekaguman. Melainkan kemarahan.

Jutaan netizen yang selama ini mengaku sebagai pendukung atau penggemar KDM berbalik arah secara serempak.

Seorang warganet menulis, “Hilang simpatiku padamu, oh ternyata gitu ya.” Yang lain menyindir, “Habis Mulyono terbit Mulyadi,” dan “Kirain suhu… Ternyata...?”.

Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Pujian tersebut dilontarkan tepat ketika publik sedang marah terhadap Gibran. Terkait polemik ijazah dan wacana pemakzulan.

Di tengah kegaduhan itu, KDM memilih untuk pasang badan. Bukan berdiri di sisi rakyat yang kecewa.

Mengapa KDM Melakukan Itu?

Pertanyaannya kemudian. Mengapa KDM melakukan itu? Jawabannya terletak pada logika elektoral yang dingin.

Nama KDM melesat di berbagai survei. Wacana duet Gibran-KDM untuk Pilpres 2029 mulai bergema di ruang publik.

Pujian itu bukan ekspresi ketulusan. Melainkan bagian dari strategi membangun poros politik baru. Sebuah co-branding antara populisme KDM dan mesin kekuasaan yang masih melekat pada nama Jokowi.

Namun, strategi itu mengabaikan satu variabel krusial. Pendukung KDM bukanlah massa yang bisa dipindahkan seenaknya.

Mereka adalah pemilih yang menempatkan integritas di atas elektabilitas. Dan bagi mereka, berkoalisi dengan simbol kekuasaan yang sedang mereka persoalkan adalah sebuah pengkhianatan.

Yang paling ironis. Pujian itu justru datang dari video lama yang diunggah ulang. Artinya, KDM tidak sedang menyesuaikan diri dengan situasi terkini. Melainkan masa lalunya sendiri yang mengejarnya.

Ini menunjukkan bahwa akomodasi terhadap Gibran bukanlah kalkulasi segar. Melainkan pola yang tampaknya sudah tertanam sejak lama.

Bagi pendukungnya. Penyingkapan ini terasa seperti menemukan bahwa sosok yang mereka kagumi selama ini menyimpan kartu yang selama ini disembunyikan.

Kepercayaan runtuh bukan karena satu kalimat,. Melainkan karena kalimat itu membuka pintu pada kesadaran yang lebih luas. Bahwa KDM mungkin selama ini bermain di dua kaki.

Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah pelajaran tentang batas kesabaran publik. Mereka tidak serta-merta menolak Gibran karena kebijakannya. Tetapi karena mereka merasa dikhianati oleh seseorang yang mereka anggap berbicara untuk mereka.

Dalam politik populisme. Hubungan antara tokoh dan pendukungnya dibangun di atas asumsi kesamaan nasib dan keberpihakan.

Ketika asumsi itu retak. Retaknya tidak bisa diperbaiki dengan retorika. KDM boleh saja tetap percaya bahwa duet dengan Gibran adalah jalan menuju kekuasaan. Tetapi ia harus menerima kenyataan bahwa jalan itu dibangun di atas puing-puing kepercayaan yang telah ia hancurkan sendiri.

Kritik yang paling menghunjam bukan terletak pada apa yang KDM katakan. Melainkan pada apa yang pujian itu ungkap tentang logika tersembunyi di balik populisme elektoral yang ia bangun.

Paradoks pertama: KDM adalah produk dari politik “adab. Tetapi ia memilih membela sosok yang justru sedang diuji soal integritas formalnya.

KDM membangun narasi politiknya di atas dikotomi moral antara “yang jujur dan dekat rakyat” melawan “yang palsu dan bagian dari lingkaran kekuasaan”.

Namun, pujiannya kepada Gibran. Yang ia sebut “kuat secara etika” dan memiliki “adab” yang terbentuk dari tradisi Jawa. Dilontarkan tepat setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah setingkat SMA.

Bagi pendukungnya, ini bukan sekadar pujian. Ini adalah pengkhianatan atas kerangka moral yang KDM sendiri bangun. Seorang pendukung menulis:

“Mengguncang dunia itu dimulai dari kejujuran kang. Kalau diawali dengan kepalsuan dan pelanggaran konstitusi itu namanya mengguncang tatanan hukum”.

Kalimat itu bukan caci maki. Melainkan dakwaan bahwa KDM telah melanggar kontrak sosial dengan basis massanya sendiri.

Paradoks kedua: Pendukung KDM bukanlah massa yang “dimiliki” oleh KDM; Mereka adalah pemilih yang meminjamkan loyalitasnya dengan syarat.

Survei menunjukkan KDM unggul jauh di atas Gibran. Dalam simulasi cawapres 2029, dengan 21 persen berbanding 14,2 persen.

Angka itu bukan warisan oligarki. Melainkan akumulasi kepercayaan dari orang-orang yang melihat KDM sebagai representasi “orang biasa” yang berhasil.

Tetapi ketika KDM memuji Gibran. Loyalitas itu ditarik kembali secara massal dan dalam waktu singkat.

Ini membuktikan bahwa basis dukungan KDM bersifat kondisional, bukan personal. Ia dipinjamkan selama KDM dianggap konsisten. Ia ditarik begitu konsistensi itu retak.

Sedang Menghitung 2029?

KDM mungkin mengira popularitasnya adalah modal yang bisa ia belanjakan untuk transaksi politik. Tetapi ia salah membaca sifat modal itu. Ia bukan miliknya. Melainkan titipan.

Paradoks ketiga. Dan yang paling tajam. Timing pujian itu mengungkap bahwa KDM sedang menghitung 2029, bukan 2026.

Nama KDM melesat di survei, dan wacana duet Gibran-KDM mulai disebarkan oleh pendukung Jokowi-Gibran.

Pujian KDM bukan ekspresi ketulusan. Melainkan akomodasi terhadap mesin kekuasaan yang masih bisa memberinya tiket menuju panggung nasional.

Namun, akomodasi itu dilakukan dengan mengorbankan aset yang justru menjadi alasan mesin itu meliriknya. Basis massa anti-kemapanan. Jika KDM bergerak terlalu jauh ke dalam lingkaran Jokowi-Gibran, ia kehilangan alasan eksistensi elektoralnya. Jika ia menolak, ia kehilangan akses ke sumber daya kekuasaan.

Pujian itu adalah upaya menyenangkan dua pihak sekaligus. Dan justru karena itu, ia mengecewakan pihak yang paling menentukan: Pendukungnya sendiri.

Kesimpulan kritisnya: Yang terjadi pada pendukung KDM bukanlah sekadar kekecewaan sesaat. Melainkan penyingkapan bahwa kontrak populisme mereka selama ini bersifat asimetris.

Mereka mengira KDM berbicara untuk mereka; KDM ternyata sedang berbicara kepada calon mitra koalisinya di 2029. Loyalitas mereka dipinjamkan; KDM memperlakukannya seolah-olah bisa dialihkan.

Dan ketika mereka pergi. Mereka tidak pergi karena satu kalimat. Tetapi karena kalimat itu membuktikan bahwa selama ini mereka mungkin hanya bagian dari strategi. Bukan tujuan dari strategi itu sendiri.

Cag, Ah..! Kumaha sakahoyong Juragan KDM aja lah...!!!

Serial Tasawuf-31, Tajalliy-2: "Tajalli al-Asmā’ wa al-Ṣifāt"



Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Beberapa malam setelah pintu pertama tajalliy terbuka. Salik datang lagi ke ribat dengan langkah yang lebih ringan. Tetapi hatinya justru lebih bergetar. Ia telah mulai menyaksikan bahwa tidak ada pelaku hakiki selain Allah. Kini matanya seperti terbuka pada lapisan lain dari dunia. Ia melihat jejak-jejak yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya. 

Pepohonan tidak lagi sekadar pepohonan. Air tidak lagi sekadar air. Wajah-wajah manusia tidak lagi sekadar wajah. Di balik semuanya. Ia seperti mendengar bisikan nama-nama yang halus. Seakan alam ini adalah kitab yang baru saja dibuka huruf-hurufnya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di bawah pohon tua di halaman ribat. Malam itu tidak ada angin. Tetapi daun-daun bergerak perlahan. Seakan ikut berzikir. Beliau memandang salik dengan tatapan yang tenang, lalu berkata, “Engkau datang membawa cahaya di wajahmu. Tetapi juga membawa kebingungan di matamu. Ceritakanlah, apa yang engkau lihat?”

Salik duduk bersimpuh. “Guru, sejak malam itu aku tidak lagi melihat perbuatan sebagai milikku. Aku melihat tangan yang memberi. Tetapi di baliknya aku melihat Yang Maha Memberi. Aku melihat orang yang menyakitiku. Tetapi di baliknya aku melihat Yang Mengizinkan."

"Namun kini ada sesuatu yang lain. Aku melihat keindahan pada makhluk. Lalu aku merasa melihat Keindahan yang lain. Aku melihat kekuatan pada manusia. Lalu aku merasa melihat Kekuatan yang lain. Aku takut, Guru. Apakah aku sedang melihat Allah?”

Mursyid tersenyum tipis, tetapi matanya tajam. “Hati-hati, anakku. Pertanyaan itu bisa menjadi pintu cahaya. Bisa juga menjadi pintu bahaya. Ketahuilah, apa yang engkau lihat bukanlah dzat Allah."

Engkau tidak melihat Allah dengan matamu. Dan engkau tidak akan pernah bisa melihat dzat-Nya di dunia ini. Yang engkau lihat adalah ātsār — jejak-jejak. Yang engkau saksikan adalah pantulan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada cermin makhluk. Inilah pintu kedua: tajallī al-asmā’ wa al-ṣifāt. Penyingkapan keesaan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.”

Salik menghela napas. “Jadi aku tidak melihat Allah, Guru?”

“Engkau melihat perbuatan-Nya. Lalu engkau melihat jejak nama-Nya. Tetapi engkau tidak melihat dzat-Nya. Orang yang menyangka melihat dzat Allah dengan mata kepala telah tersesat. Sebab Allah tidak terjangkau oleh penglihatan. Tidak terikat oleh ruang. Tidak dibatasi oleh waktu."

"Adapun orang yang melihat jejak-jejak-Nya. Lalu ia mengenali Yang Meninggalkan Jejak. Itulah orang yang diberi cahaya. Engkau melihat tulisan. Lalu engkau mengenali Penulisnya. Engkau tidak melihat Penulis itu sendiri. Tetapi engkau tahu bahwa tulisan ini bukan tulisan yang muncul tanpa penulis.”

“Apakah yang dimaksud dengan nama-nama dan sifat-sifat itu, Guru?”

Mursyid mengambil sebutir embun dari daun dengan ujung jarinya. “Lihatlah embun ini. Ia kecil, tetapi ia memantulkan cahaya. Engkau tidak melihat matahari di dalam embun, tetapi engkau melihat cahayanya. 

Begitu pula makhluk: ia tidak memuat dzat Allah. Tetapi ia memantulkan jejak nama-nama-Nya. Engkau melihat ar-Raḥmān pada kasih seorang ibu. Engkau melihat ar-Raḥīm pada kelembutan seorang guru. Engkau melihat al-‘Alīm pada pengetahuan yang Allah titipkan pada manusia. Engkau melihat al-Qadīr pada kekuatan yang Allah berikan pada tubuh. Engkau melihat al-Laṭīf pada kehalusan yang tersembunyi di balik sesuatu yang kasar. Engkau melihat al-Khabīr pada pengetahuan Allah tentang rahasia-rahasia hatimu.”

“Tetapi Guru,” kata salik, “bukankah itu berarti makhluk memiliki sifat-sifat itu? Bukankah ibuku benar-benar penyayang, dan guruku benar-benar berilmu?”

“Benar, anakku, tetapi dengan adab yang harus engkau jaga. Kasih ibumu itu nyata, tetapi kasih itu adalah karunia yang Allah ciptakan padanya. Ilmu gurumu itu nyata, tetapi ilmu itu adalah titipan yang Allah berikan padanya. 

Engkau tidak boleh mengatakan bahwa ibumu adalah ar-Raḥmān, sebab ar-Raḥmān itu nama Allah yang sempurna, yang kasih-Nya tidak terbatas. Engkau tidak boleh mengatakan bahwa gurumu adalah al-‘Alīm, sebab al-‘Alīm itu pengetahuan Allah yang tidak pernah salah dan tidak pernah lupa. 

Makhluk memiliki sifat yang terbatas. Yang Allah berikan sebagai pinjaman. Adapun Allah memiliki sifat yang sempurna. Yang tidak berkurang dan tidak berubah.”

Salik menunduk. “Aku mulai memahami, Guru. Tetapi aku merasa ada bahaya di dalamnya.”

“Engkau benar, dan rasa takut itu adalah penjagamu. Ketahuilah, wahai salik, bahwa pintu ini memiliki dua jurang. Jurang pertama adalah tasybīh. Menyerupakan Allah dengan makhluk. Engkau melihat kasih pada manusia, lalu engkau membayangkan kasih Allah seperti kasih manusia. Itu kesesatan. 

Jurang kedua adalah ta‘ṭīl. Mengosongkan Allah dari sifat-sifat-Nya. Engkau melihat kasih pada manusia, lalu engkau berkata bahwa Allah tidak memiliki kasih. Itu juga kesesatan. 

Adapun jalan yang benar adalah engkau menetapkan sifat Allah sebagaimana Dia menetapkannya untuk diri-Nya. Tanpa menyerupakan dan tanpa menolak. Engkau berkata, ‘Allah Maha Mendengar, tetapi pendengaran-Nya tidak seperti pendengaran makhluk. Allah Maha Melihat, tetapi penglihatan-Nya tidak seperti penglihatan makhluk.’”

“Bagaimana aku bisa menjaga adab di pintu ini, Guru?”

Mursyid mengangkat tangannya dan menunjuk pada langit. “Ada tiga adab. Pertama, jangan engkau menceritakan apa yang engkau lihat kepada orang yang belum siap menerimanya. Sebab cahaya yang terlalu terang bisa membutakan mata yang belum terbiasa. 

Kedua, jangan engkau merasa bahwa engkau telah sampai. Orang yang merasa telah sampai itu justru berhenti. Orang yang merasa masih dalam perjalanan itu terus berjalan. 

Ketiga, jangan engkau meninggalkan syariat. Semakin tinggi engkau naik. Semakin ketat engkau menjaga perintah dan larangan. Sebab pohon yang tinggi itu lebih mudah diterpa angin. Maka akarnya harus lebih kuat.”

Salik merenung. “Guru, kadang aku melihat keindahan pada wajah seseorang, lalu aku merasa melihat Keindahan Allah. Apakah itu benar?”

“Engkau melihat jejak al-Jamīl — Yang Maha Indah. Pada keindahan yang Allah ciptakan. Itu benar, selama engkau tidak menyangka bahwa keindahan itu adalah dzat Allah. Keindahan wajah itu adalah ciptaan. Adapun Keindahan Allah itu tidak terjangkau oleh mata. 

Bila engkau melihat keindahan lalu engkau mengingat Allah, itu cahaya. Bila engkau melihat keindahan lalu engkau terpaku pada makhluk, itu tabir. Bila engkau melihat keindahan lalu engkau menyangka bahwa Allah menjelma pada wajah itu, itu kesesatan. Maka jadikanlah setiap keindahan sebagai jendela. Bukan sebagai tujuan.”

“Bagaimana aku bisa membedakan tajalli yang benar dari khayalan, Guru?”

Mursyid tersenyum. “Tandanya ada empat. Pertama, tajalli yang benar membuatmu semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semakin engkau melihat keagungan Allah, semakin engkau merasa kecil. 

Kedua, tajalli yang benar membuatmu semakin penyayang pada makhluk, bukan semakin menghina mereka. Sebab engkau melihat bahwa setiap makhluk adalah cermin yang memantulkan nama-nama Allah, meskipun cermin itu berbeda-beda kejernihannya. 

Ketiga, tajalli yang benar membuatmu semakin takut kepada Allah dan semakin berharap pada-Nya. Engkau tidak merasa aman, tetapi engkau juga tidak berputus asa. 

Keempat, tajalli yang benar membuatmu semakin menjaga rahasia. Engkau tidak ingin berbicara tentang penglihatanmu, kecuali kepada orang yang mampu memahaminya. Engkau lebih suka diam dan beramal.”

Salik meneteskan air mata. “Ya Allah, aku ingin melihat jejak-Mu, tetapi aku takut tersesat.”

“Rasa takut itu adalah cahaya, anakku. Orang yang takut tersesat lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman. Teruslah berjalan dengan adab. Engkau telah membuka pintu kedua." 

Masih ada pintu ketiga: tajallī al-dzāt. Tetapi itu bukan urusan kita untuk membicarakannya panjang-panjang. Cukuplah engkau tahu bahwa setiap pintu menuntut adab yang lebih tinggi. Dan setiap cahaya menuntut kerendahan hati yang lebih dalam.”

Mursyid bangkit, lalu berjalan ke tepi kolam kecil di halaman ribat. Air kolam itu tenang, memantulkan bulan dan bintang-bintang. “Lihatlah air ini,” katanya. “Ia memantulkan langit, tetapi ia bukan langit. Ia memantulkan bulan, tetapi ia bukan bulan. Bila engkau mengaduk air itu, pantulan itu akan pecah. 

Begitu pula hatimu: bila ia tenang, ia memantulkan nama-nama Allah. Bila ia gelisah oleh hawa nafsu, pantulan itu akan pecah. Maka jagalah ketenangan hatimu dengan zikir, dan jernihkanlah cerminmu dengan taubat.”

Salik menatap kolam itu. Ia melihat bulan di dalam air, dan ia tidak menyangka bahwa bulan itu jatuh ke dalam kolam. Ia melihat pantulan, dan ia mengenali Yang Dipantulkan. Ia tidak lagi bingung antara air dan bulan, antara makhluk dan Allah. Ia melihat makhluk sebagai cermin, dan Allah sebagai Yang Maha Nyata di balik cermin itu.

“Guru,” katanya lirih, “jadi selama ini aku mencari Allah di tempat yang salah. Aku mencari-Nya di luar. Padahal Ia lebih dekat dari apa pun. Tetapi aku juga tidak boleh menyangka bahwa Ia menyatu dengan diriku.”

“Engkau telah memahami, anakku. Allah itu dekat. Tetapi dekat-Nya tidak seperti dekatnya benda dengan benda. Allah itu dekat dengan ilmu-Nya. Dengan pengawasan-Nya. Dengan pertolongan-Nya. 

Engkau tidak bisa lari dari-Nya, tetapi engkau juga tidak bisa memuat-Nya. Maka jangan engkau mencari-Nya dengan membayangkan, tetapi carilah Dia dengan ketaatan. Jangan engkau mengaku melihat-Nya dengan mata. Tetapi lihatlah jejak-Nya dengan hati.”

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Indah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mengetahui. Aku tidak melihat dzat-Mu, tetapi aku melihat jejak-Mu. Jangan Engkau biarkan aku menyerupakan-Mu dengan makhluk, dan jangan Engkau biarkan aku menolak sifat-sifat-Mu. Jadikanlah penglihatanku sebagai cahaya, dan adabku sebagai penjaganya. Agar aku bisa melihat jejak-Mu, tetapi tetap menjadi hamba yang rendah hati.”

Malam itu, ribat terasa penuh dengan keheningan yang dalam. Salik tidak lagi melihat dunia sebagai kumpulan benda-benda yang terpisah dari Allah. Ia melihat dunia sebagai cermin yang memantulkan nama-nama Allah, tetapi ia tidak menyangka bahwa cermin itu adalah Allah. 

Ia melihat keindahan, lalu ia mengingat Yang Maha Indah. Ia melihat kekuatan, lalu ia mengingat Yang Maha Kuat. Ia melihat kasih, lalu ia mengingat Yang Maha Pengasih. Dan hatinya pun dipenuhi dengan rasa syukur yang tidak mampu ia ucapkan dengan kata-kata.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Nantikan Tajalliy-3

Jumat, 23 Oktober 2026

Di Balik Runtuhnya IHSG: Anatomi Krisis dan Nestapa Investor Ritel


Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 bukan sekadar koreksi pasar biasa. IHSG merosot hampir 30 persen hingga akhir September. Bahkan sempat anjlok 11,57 persen ke level 5.185 pada 16 Oktober 2026. Tentu saja efeknya sangat dahsyat bagi Investor Retail. Kerugian tak terelakan. Portofolio kebakaran.

Di balik angka merah yang memusingkan itu. Tersimpan ironi getir. Jutaan investor ritel, yang justru menjadi penopang utama likuiditas bursa. Harus menanggung beban terberat dari sebuah krisis yang akarnya bukan berasal dari mereka.

Akar persoalan sesungguhnya bersifat struktural. MSCI, penyedia indeks global. Membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Pemicunya bukan semata faktor eksternal seperti inflasi Amerika Serikat yang melonjak 3,7 persen. Melainkan persoalan domestik yang mendasar. Transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.

MSCI menemukan bahwa batas free float lima persen hanya dikuasai oleh pihak-pihak terafiliasi dengan emiten besar. Menciptakan likuiditas semu yang menyesatkan.

Kasus PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi bukti telanjang. Empat entitas pengendali menguasai 97,31 persen saham. Menyisakan porsi publik hanya 2,69 persen.

Valuasi saham melesat tanpa ditopang kedalaman transaksi riil. Dinikmati pemegang saham pengendali sebagai agunan pinjaman. Sementara ketika indeks global merespons anomali tersebut. Seluruh pasar, termasuk bank-bank sistemik yang sehat, ikut menanggung bebannya.

Inilah eksternalitas asimetris dalam bentuknya yang paling brutal. Keuntungan diprivatisasi oleh segelintir konglomerat. Sementara kerugian disosialisasikan ke seluruh ekosistem pasar. Tak terkecuali investor ritel.

Dampaknya terhadap investor ritel bersifat multidimensi. Secara finansial, nilai aset investor di KSEI menyusut 29,45 persen pada semester I/2026, dari Rp12.178 triliun menjadi Rp9.897 triliun, meski jumlah investor justru melonjak 70,45 persen.

Seorang investor mengaku portofolionya tergerus 30 persen. Sementara investor lain kehilangan hampir Rp4 juta hanya dalam periode 1–28 September. Namun, kerugian material hanyalah puncak gunung es.

Secara psikologis, investor ritel terjebak dalam pusaran kepanikan yang diciptakan oleh sentimen yang tidak sepenuhnya mereka pahami.

Ketika investor asing melakukan aksi jual dan memicu penurunan harga, tekanan psikologis membuat ritel ikut melepas saham. Mengabaikan fakta bahwa fundamental emiten masih sehat.

Panic selling yang diperparah oleh investor ritel domestik justru membuat saham-saham unggulan seperti BCA, Telkom. Dan BRI menyentuh Auto Reject Bawah (ARB). Di sinilah ironi itu semakin dalam. Ritel menjadi korban dari kepanikan yang sebagian mereka ciptakan sendiri.

Buah dari literasi keuangan yang belum sepadan dengan derasnya arus informasi pasar.

Lebih jauh. Dampaknya merembet ke sektor riil. Pelemahan pasar saham menggerus konsumsi rumah tangga melalui dua tahap:

Pertama, aksi jual menurunkan nilai aset investor individu dan menekan kepercayaan ekonomi;

Kedua, ketika valuasi saham menjadi murah, investor cenderung memborong saham alih-alih berbelanja. 

Survei BIG Consensus 2026 bahkan menempatkan pelemahan daya beli sebagai faktor disrupsi utama yang menekan dunia usaha nasional. Dengan kata lain, kejatuhan IHSG bukan sekadar narasi di layar perdagangan. Melainkan luka terbuka pada perekonomian rumah tangga.

Yang paling kritis, krisis ini menyingkap rapuhnya fondasi pasar modal domestik. Jumlah investor yang mencapai 32,7 juta SID per Oktober 2026 seharusnya menjadi kekuatan.

Namun, tanpa perlindungan struktural yang memadai. Basis investor yang besar justru menjadi bantalan yang menyerap guncangan dari kegagalan tata kelola. OJK dan BEI memang didesak memperkuat perlindungan investor ritel, tetapi langkah ini terasa terlambat ketika kepercayaan sudah telanjur runtuh.

Reformasi tata kelola bursa. Transparansi free float. Dan penegakan praktik perdagangan yang adil bukan lagi pilihan. Melainkan keniscayaan jika ingin mencegah eksodus ritel dari pasar modal.

Pada akhirnya, kejatuhan IHSG 2026 adalah cermin yang memantulkan wajah asli pasar modal Indonesia. Sebuah pasar yang besar secara jumlah. Tetapi rapuh secara struktur. Yang mengundang partisipasi ritel. Tetapi gagal melindungi mereka dari asymmetri informasi dan kekuatan modal besar.

Selama akar struktural ini tidak dicabut. Investor ritel akan terus menjadi pihak yang paling rentan. Menanggung risiko yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Dari krisis yang tidak sepenuhnya mereka sebabkan.

Serial Tasawuf-30, Tajalliy-1: "Tajalliy al-Af'al"


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Malam itu ribat terasa berbeda. Angin yang biasanya berbisik kini seakan menahan napas. Lampu minyak di serambi menyala tenang. Tetapi cahayanya seperti menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari dinding-dinding kayu. Salik duduk di hadapan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan hati yang telah berhias delapan permata tahalliy. Namun justru karena itu, ia merasa ada pintu lain yang mulai terbuka. Pintu yang belum ia kenal namanya.


"Guru," katanya dengan suara hampir berbisik, "engkau telah mengajarku membersihkan diri dan menghiasi diri. Kini aku merasa ada sesuatu yang lain. Aku tidak lagi sekadar melihat amal. Tetapi aku mulai melihat sesuatu di balik amal. Apakah ini yang engkau sebut tajalliy?"

Mursyid menatapnya lama. Senyumnya tipis. Tetapi matanya berkilau seperti orang yang baru saja melihat fajar. "Engkau telah sampai pada pintu pertama, anakku.

Ketahuilah, takhalliy itu engkau mengosongkan rumah. Tahalliy itu engkau menghiasinya. Adapun tajalliy itu engkau membuka jendela. Lalu cahaya masuk. Engkau tidak lagi hanya mendengar tentang cahaya. Engkau mulai melihatnya."

"Apakah yang pertama kali disingkapkan, Guru?"

"Yang pertama adalah tajallī al-af‘āl. Penyingkapan keesaan Allah dalam perbuatan. Engkau mulai menyaksikan bahwa tidak ada pelaku hakiki selain Allah. Segala gerak, segala diam, segala datang dan pergi, segala memberi dan menahan, semuanya kembali kepada-Nya."

"Engkau melihat dirimu sebagai alat. Bukan sebagai penggerak. Engkau melihat sebab-sebab sebagai tabir. Bukan sebagai tuhan-tuhan kecil."

Salik menunduk. "Tetapi Guru, bukankah aku memang berbuat? Bukankah aku yang berjalan, yang bekerja, yang bersedekah?"

"Engkau berbuat, benar. Tetapi siapa yang menciptakan kehendakmu untuk berbuat? Siapa yang memberi kekuatan pada tanganmu untuk memberi? Siapa yang menggerakkan hatimu untuk bersedekah?"

"Ketahuilah, wahai salik, bahwa perbuatanmu itu seperti tulisan di atas air. Ia tampak, tetapi ia tidak memiliki wujud mandiri. Yang menulis adalah Allah. Engkau hanya pena yang bergerak. Bila engkau memandang dirimu sebagai pena yang memiliki kuasa sendiri. Engkau belum sampai pada tajalli pertama. Tetapi bila engkau memandang dirimu sebagai pena yang digerakkan. Engkau mulai melihat."

"Apakah ini berarti aku tidak memiliki pilihan, Guru?"

"Engkau memiliki pilihan, anakku, tetapi pilihanmu tidak mandiri. Allah menciptakan padamu kemampuan memilih. Lalu engkau memilih dengan kemampuan itu. Engkau diberi kasb, usaha. Tetapi pencipta usaha itu adalah Allah. Orang yang melihat hanya pada usahanya akan sombong. Orang yang melihat hanya pada ketentuan akan malas."

"Adapun orang yang telah sampai pada tajalli al-af‘āl melihat keduanya. Ia berusaha sungguh-sungguh. Tetapi hatinya tidak menggantungkan diri pada usahanya. Ia berkata, 'Aku berusaha. Tetapi Allah-lah yang menjadikan usahaku.'"

Salik merenung. "Aku sering merasa bangga ketika berhasil. Dan merasa hina ketika gagal."

"Itu tanda engkau masih melihat dirimu sebagai pelaku. Ketahuilah, bahwa keberhasilanmu bukan milikmu. Dan kegagalanmu bukan aibmu."

"Keduanya adalah ketentuan Allah yang datang melalui sebab-sebab. Bila engkau berhasil. Jangan engkau merasa memiliki. Bila engkau gagal. Jangan engkau merasa kehilangan. Engkau hanya hamba yang menjalankan peran. Adapun yang mengatur panggung adalah Allah."

"Bagaimana aku bisa membedakan tajalli ini dari sekadar pengetahuan, Guru? Sebab aku sudah tahu bahwa Allah Maha Kuasa. Tetapi aku belum merasa melihatnya."

Mursyid tersenyum. "Pengetahuan itu seperti peta. Tajalli itu seperti engkau benar-benar berjalan di jalan itu. Engkau bisa mengetahui bahwa madu itu manis, tetapi engkau belum merasakannya sampai engkau mencelupkan jari dan menjilatnya.

Tajalli al-af‘āl itu bukan engkau mengetahui bahwa Allah adalah Pelaku. Tetapi engkau menyaksikan bahwa tidak ada pelaku selain-Nya. Engkau melihat tangan yang memberi. Tetapi hatimu melihat Allah yang memberi melalui tangan itu. Engkau melihat orang yang menyakitimu. Tetapi hatimu melihat Allah yang mengizinkan sakit itu untuk membersihkanmu."

"Apakah tajalli ini berbahaya, Guru?"

Mursyid menatapnya tajam. "Setiap pintu yang dibuka bisa menjadi berkah. Bisa menjadi bencana. Orang yang sampai pada tajalli al-af‘āl bisa tergelincir ke dalam dua jurang.

Pertama, ia bisa menyangka bahwa dirinya adalah Allah. Lalu berkata dengan kata-kata yang melampaui batas. Itu bukan tajalli, itu istidraj.

Kedua, ia bisa menyangka bahwa karena semua dari Allah. Maka ia tidak perlu berbuat apa-apa. Itu bukan tajalli. Itu kemalasan yang dibungkus dengan nama yang indah."

"Lalu bagaimana adab yang benar, Guru?"

"Adabnya ada tiga. Pertama, jagalah syariat. Semakin tinggi engkau naik. Semakin ketat engkau menjaga perintah dan larangan. Sebab orang yang telah melihat keesaan tidak boleh meninggalkan kewajiban.

Kedua, jagalah kerendahan hati. Semakin banyak engkau melihat. Semakin sedikit engkau berbicara tentang apa yang engkau lihat. Orang yang banyak bicara tentang tajalli biasanya belum sampai.

Ketiga, jagalah rasa takut dan harap. Jangan engkau merasa aman dari Allah. Dan jangan engkau berputus asa dari rahmat-Nya."

Salik menunduk. "Guru, kadang aku merasa bahwa diriku dan Allah itu tidak terpisah. Apakah itu tajalli?"

Mursyid mengangkat tangannya. "Hati-hati, anakku. Itu bisa menjadi pintu kesesatan. Engkau dan Allah tidak terpisah dalam penglihatan. Tetapi engkau dan Allah tetap berbeda dalam wujud.

Engkau adalah hamba yang fana; Allah adalah Tuhan yang baqa. Yang engkau lihat adalah perbuatan-Nya. Bukan dzat-Nya.

Jangan engkau campur adukkan antara waḥdat al-af‘āl, keesaan perbuatan, dengan ḥulūl atau ittiḥād atau bersatu dengan Allah. Yang pertama adalah cahaya. Yang kedua adalah kegelapan."

"Bagaimana tanda bahwa aku telah benar-benar sampai pada tajalli al-af‘āl, Guru?"

"Tandanya ada empat. Pertama, engkau tidak lagi membanggakan amalmu, sebab engkau tahu amal itu karunia.

Kedua, engkau tidak lagi membenci orang yang berbuat buruk kepadamu. Sebab engkau melihat bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin Allah. Meskipun engkau tetap menolak keburukan.

Ketiga, engkau tidak lagi gelisah ketika sebab-sebab gagal. Sebab engkau yakin bahwa Allah tidak gagal.

Keempat, engkau semakin tekun beribadah. Bukan semakin malas. Sebab engkau tahu bahwa engkau adalah alat. Dan alat yang baik harus siap digunakan oleh tuannya."

Salik meneteskan air mata. "Ya Allah, aku ingin melihat, tetapi aku takut tersesat."

Mursyid meletakkan tangannya di pundak salik. "Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Orang yang takut tersesat lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman.

Teruslah berjalan dengan adab. Engkau telah membuka pintu pertama tajalli. Masih ada pintu-pintu lain. Tajalli dalam nama-nama dan sifat-sifat, dan tajalli dalam dzat. Tetapi yang terakhir itu bukan urusan kita untuk membicarakannya panjang-panjang.

Cukuplah engkau tahu bahwa setiap pintu menuntut adab yang lebih tinggi."

Mursyid bangkit, lalu menunjuk pada lampu minyak yang menyala. "Lihatlah lampu itu. Ia menyala karena minyak, sumbu, dan api. Engkau bisa melihat minyak, sumbu, dan api. Tetapi cahayanya bukan milik minyak, bukan milik sumbu, bukan milik api. Cahaya itu adalah karunia.

Begitu pula perbuatanmu. Engkau melihat tanganmu, usahamu, waktumu, tetapi cahaya perbuatan itu adalah karunia Allah.

Bila engkau melihat cahaya itu, jangan engkau mengaku sebagai pemiliknya. Akulah lampu, dan Allah-lah cahayanya."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, Engkaulah Pelaku. Dan aku hanyalah alat. Tampakkanlah padaku keesaan-Mu dalam segala perbuatan. Tetapi jangan Engkau biarkan aku melampaui batas. Jadikanlah penglihatanku sebagai cahaya. Dan adabku sebagai penjaganya."

Dan malam itu, ribat seakan dipenuhi cahaya yang tidak berasal dari lampu minyak.

Salik tidak melihat sesuatu yang baru di luar dirinya. Tetapi ia melihat dengan cara yang baru. Ia melihat tangannya, dan ia melihat Allah yang menggerakkannya.

Ia melihat dunianya. Dan ia melihat Allah yang mengaturnya. Ia tidak keluar dari dunia, tetapi dunia telah berubah wajah di matanya.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial Mutiata Tajalliy-2 berikutnya

Pujian Setinggi Langit KDM kepada Gibran: "Runtuhkan Tembok Simpati"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-66) Leaderline : Pujian setinggi langit Kang Dedi Mulyadi (KDM) kepada Gibran bukan sekadar salah bicara. Mel...