Leaderline: Ada sebuah isyarat yang sering luput dari mata yang terburu-buru. Ia bukan gerakan besar yang mengguncang panggung. Melainkan gestur sunyi yang lahir dari kedalaman batin. Ia adalah saat seorang hamba mengangkat kedua tangannya ke langit. Menengadahkan telapak yang kosong kepada Yang Maha Kaya. Seolah jemari-jemari itu adalah lidah yang tak mampu berkata. Namun justru paling fasih dalam menyampaikan rintihan jiwa. Inilah sunah yang agung. Sebuah adab dalam berdoa yang telah lama dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Menjadi warisan ruhani bagi setiap mukmin yang merindukan kedekatan dengan Tuhannya.
Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
Mengangkat tangan ketika berdoa bukanlah sekadar tradisi tanpa dasar. Melainkan ibadah yang memiliki pijakan yang kokoh dalam sumber-sumber otoritatif Islam.
Para ulama telah menegaskan bahwa perbuatan ini termasuk sunah yang dianjurkan. Bahkan menjadi salah satu adab utama agar doa dikabulkan.
Imam al-Nawawi rahimahullah secara tegas menyatakan bahwa menghadap kiblat. Dan mengangkat kedua tangan semasa berdoa adalah mustahab. Yakni sesuatu yang disunahkan.
Bahkan Imam al-Bukhari rahimahullah. Dengan kecerdasan fikihnya yang tajam. Mengabadikan anjuran ini sebagai bab tersendiri dalam kitab sahihnya yang monumental. Dengan judul Bāb Raf‘il-Aidī fid-Du‘ā’. Bab Mengangkat Kedua Tangan Semasa Berdoa. Ini bukan bab yang dibuat tanpa dasar. Melainkan kesaksian seorang ahli hadis terbesar bahwa praktik ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari sunah Nabi.
Dalil yang Melimpah
Dalil-dalil tentang sunah ini begitu melimpah. Seolah langit sendiri menjadi saksi atas setiap tetes pengharapan yang dipanjatkan.
Dalil yang Melimpah
Dalil-dalil tentang sunah ini begitu melimpah. Seolah langit sendiri menjadi saksi atas setiap tetes pengharapan yang dipanjatkan.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika meminta air. Berwudu dengannya. Lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abi ‘Amir,” sehingga terlihatlah putih ketiak beliau.
Dalam lanjutan doanya. Beliau memohon: “Ya Allah, jadikanlah dia di hari Kiamat antara orang yang terbaik daripada kalangan manusia”.
Gambaran fisik ini. Terlihatnya bagian putih ketiak. Bukanlah detail yang sia-sia. Ia adalah potret keintiman seorang hamba yang begitu tenggelam dalam munajat. Hingga tubuhnya sendiri menjadi saksi atas kesungguhan doanya.
Begitu pula riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya sehingga terlihat putih dua ketiak beliau. Hadis-hadis ini bukan sekadar catatan sejarah. Melainkan cermin yang memantulkan betapa seriusnya Nabi dalam memohon kepada Allah.
Namun, yang paling menukik ke dalam relung hati adalah hadis yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhan kamu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia.
Namun, yang paling menukik ke dalam relung hati adalah hadis yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhan kamu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia.
Dia malu kepada hamba-Nya sekiranya hamba-Nya itu mengangkat kedua tangan kepada-Nya. Lalu Dia membiarkannya pulang dengan tangan kosong”.
Betapa agungnya janji ini. Allah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Menyatakan rasa malu untuk menolak hamba yang datang dengan tangan menengadah. Ini adalah jaminan yang membuat jiwa bergetar. Setiap tetes keringat di dahi. Setiap gemetar di bibir. Dan setiap jengkal tangan yang diangkat bukanlah usaha yang sia-sia. Langit tidak pernah diam terhadap tangan yang terbuka.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan tuntunan praktis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila engkau memohon kepada Allah. Maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu. Dan jangan dengan bagian luarnya.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan tuntunan praktis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila engkau memohon kepada Allah. Maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu. Dan jangan dengan bagian luarnya.
Dan ketika kamu telah usai. Maka usaplah mukamu dengan keduanya”. Di sini, sunah mengangkat tangan bukan hanya soal posisi. Tetapi juga soal makna. Telapak tangan yang menghadap ke langit adalah isyarat kerendahan hati. Pengakuan bahwa segala sesuatu hanya bisa datang dari atas. Dari Dzat Yang Maha Tinggi. Ia adalah bahasa tubuh dari jiwa yang fakir. Yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali dari Sang Pemberi.
Para ulama kemudian merinci adab ini dengan penuh kasih sayang. Dalam kitab I‘ānatut-Thālibīn, disebutkan bahwa disunahkan mengangkat kedua tangan yang suci setinggi kedua bahu. Dan menyapu muka dengannya setelah berdoa.
Para ulama kemudian merinci adab ini dengan penuh kasih sayang. Dalam kitab I‘ānatut-Thālibīn, disebutkan bahwa disunahkan mengangkat kedua tangan yang suci setinggi kedua bahu. Dan menyapu muka dengannya setelah berdoa.
Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdy menambahkan dengan bijak: “Batas maksimal mengangkat tangan adalah setinggi kedua bahu. Kecuali apabila keadaan sudah amat kritis. Maka ketika itu bolehlah melewati tinggi kedua bahu”.
Ini menunjukkan bahwa sunah ini bukan aturan yang kaku. Melainkan fleksibel mengikuti desakan keadaan. Ketika musibah datang menerjang. Ketika paceklik melanda. Ketika air mata tak lagi bisa dibendung. Tangan boleh diangkat lebih tinggi lagi. Sebagai ungkapan bahwa tiada lagi tempat berlindung selain Allah.
Mengingkari Sunah
Mengingkari Sunah
Alangkah ironisnya. Di zaman yang serba canggih ini. Masih ada yang meragukan sunah yang begitu jelas. Mereka mempertanyakan keabsahannya. Seolah hadis-hadis sahih yang tak terhitung jumlahnya tidak cukup menjadi bukti.
Padahal, Syaikh Muhammad bin Allan al-Siddiqi al-Syafi‘i dalam kitab al-Futūḥātur-Rabbāniyyah telah mengingatkan: “Telah ada hadis-hadis yang tak terbatas banyaknya mengenai mengangkat tangan ke langit ketika berdoa. Barang siapa menganggap itu tidak ada. Maka ia telah keliru”.
Keraguan seperti ini bukanlah hal baru. Ia telah disinggung oleh para ulama terdahulu sebagai penyakit yang lahir dari kelalaian terhadap warisan sunah.
Maka, ketika tangan diangkat dalam doa. Ia bukan sekadar gerakan mekanis. Ia adalah pernyataan tauhid bahwa hanya Allah yang mampu mengubah keadaan. Ia adalah pengakuan bahwa kita adalah pengemis di hadapan-Nya. Yang menengadahkan tangan bukan karena kita punya sesuatu untuk ditawarkan. Tetapi justru karena kita tidak punya apa-apa.
Maka, ketika tangan diangkat dalam doa. Ia bukan sekadar gerakan mekanis. Ia adalah pernyataan tauhid bahwa hanya Allah yang mampu mengubah keadaan. Ia adalah pengakuan bahwa kita adalah pengemis di hadapan-Nya. Yang menengadahkan tangan bukan karena kita punya sesuatu untuk ditawarkan. Tetapi justru karena kita tidak punya apa-apa.
Dan Allah, dengan sifat Maha Pemalu dan Maha Mulia. Berjanji untuk tidak membiarkan tangan itu kembali dalam keadaan kosong. Inilah sunah yang menukik.
Sebuah janji dari Yang Maha Tinggi kepada hamba yang merendah. Bahwa langit akan selalu menjawab siapa saja yang berani mengangkat tangannya.
Keengganan mengangkat tangan saat berdoa. Adalah penyakit lahir dari kelalaian terhadap warisan sunah. Itu sama artinya dengan mengingkari sunah. Nah, masih meragukan?



