Selasa, 29 September 2026

In Memoriam Guruh Soekarno Putra: "Legong Bebarisan dan Indonesia Memanggil yang Tak Pernah Selesai"


Narasi Pembuka: Guruh Soekarno Putra wafat pada 26 September 2026. Meninggalkan warisan seni yang membentang dari "Guruh Gipsy" hingga Mars PDI Perjuangan. Namun di balik gemuruh panggung kolosal dan lagu-lagu legendaris. Ada tersisa satu hal yang tak pernah ia selesaikan. Sebuah rancangan karya "Indonesia Memanggil". Bukan panggilan yang datang dari istana atau podium politik. Melainkan panggilan kebudayaan yang ia geluti sepanjang hidupnya. Dan yang hingga napas terakhir. Tak sempat ia wujudkan sepenuhnya.

Jalan yang Berbeda dari Sang Ayah

Guruh memilih jalan yang berbeda dari sang ayah. Jika Soekarno memimpin bangsa lewat orasi, Guruh mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat harkat bangsa melalui keindahan panggung seni. 

Ia mendirikan Swara Mahardhika pada 1977. Merevolusi lanskap seni pertunjukan Indonesia dengan menggabungkan tari daerah. Musik pop. Hingga tata panggung kolosal. 

Lewat pergelaran seperti "Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra" (1979), "Untukmu Indonesiaku!" (1980), "Cinta Indonesia" (1984), dan "Gilang Indonesia Gemilang" (1986). 

Ia membuktikan bahwa seni tradisional bisa tampil megah dan modern. Namun, setiap panggung yang ia bangun selalu menyisakan ruang kosong. Ruang untuk sesuatu yang lebih besar. Yang selalu ia kejar tapi tak pernah ia gapai.

Mimpi Memiliki Gedung Teater Memadai

Salah satu panggilan yang paling menghunjam adalah mimpinya tentang gedung pertunjukan yang layak. Dalam persiapan "Sri Mimpi Indonesia" pada 2013, Guruh mengeluh dengan getir: "Kita sebagai bangsa besar, belum punya gedung pertunjukan teater yang memadai". 

Ia menyebut TIM sebagai satu-satunya teater mumpuni di Jakarta. Tapi kapasitasnya minim. Kegelisahan ini bukan sekadar soal fasilitas. Ini adalah panggilan dari seorang seniman yang melihat bangsanya belum menyediakan ruang bagi karya-karya besar yang ia impikan. 

"Sri Mimpi Indonesia" sendiri. Yang berarti mimpi kegemilangan. Adalah jawaban atas keresahan itu. Sebuah pagelaran tiga babak tentang cinta budaya. Cinta kasih manusia. Dan cinta tanah air. 

Tapi bahkan dalam pergelaran itu, Guruh harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan. Panggilan Indonesia terdengar. Tapi jawabannya selalu setengah.

Yang paling menyayat adalah panggilan yang tak sempat ia jawab sama sekali. Bersama maestro tari A.A. Gde Oka Dalem. Guruh merancang Tari Legong Bebarisan sejak setelah pandemi Covid-19. Sejumlah gerakan dan tabuh sudah mulai mereka cari. 

Legong Bebarisan yang Dibawa Mati

"Janjinya beliau. Ingin cepat sehat. Dan bisa segera ke Bali melanjutkan garapan itu," kenang Gung Oka. Harapan itu tak sempat terwujud. Legong Bebarisan adalah panggilan Bali. Panggilan leluhur. Panggilan estetika yang telah ia serap sejak kecil. Dan kini ia bawa mati bersama tubuhnya.

Guruh juga sempat mengungkapkan keinginannya kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menghidupkan kembali Guruh Soekarnoputra Production (GSP). 

"Beliau masih bersemangat untuk bisa berkarya. Dan beliau masih berkeinginan untuk GSP itu bisa ditampilkan kembali," tutur Pramono. 

Ini bukan sekadar rencana produksi seni. GSP adalah kendaraan yang ia gunakan untuk menjawab panggilan Indonesia. Panggung tempat ia menerjemahkan Pancasila ke dalam bahasa keindahan. Tempat ia mengajak anak-anak muda membawakan tarian Nusantara dengan bangga. Keinginan itu pupus bersamaan dengan kesehatannya yang terus menurun.

Bahkan karya yang berhasil pun menyimpan luka. Lagu "Indonesia Mahardika" berdurasi 15 menit lebih itu harus di-take hingga 200 kali. Sebelum akhirnya bisa direkam. 

Proses penciptaannya pun lahir dari kebuntuan. Roni Harahap menemani Guruh di rumah Ibu Fatmawati. Dan setelah bermain piano, Guruh muncul mengamati. Lalu menulis liriknya. 

Mahalnya Indoneia Mahardika

"Indonesia Mahardika" adalah panggilan yang akhirnya terjawab. Tapi dengan harga yang mahal. Berbulan-bulan kerja. Ratusan kali take. Dan sebuah komposisi yang bahkan terasa terpengaruh "Picture an at Exhibition" karya Mousorgsky. 

Ini bukan sekadar lagu. Ini adalah perjuangan seorang seniman yang mendengar panggilan Indonesiaa. Tpi harus berkelahi dengan keterbatasan untuk menjawabnya.

Guruh bukan seniman yang berisik. Rano Karno mengenangnya dengan tepat. "Cinta Mas Guruh kepada Indonesia bukanlah cinta yang berisik dan gaduh. Ia menjadikannya lagu. Ia menjadikannya tarian. Ia menjadikannya warna. Ia menjadikannya panggung. Ia menjadikannya hidup". 

Tapi cinta yang tenang itu justru menyimpan panggilan yang paling lantang. Panggilan yang tak pernah selesai. Karena Indonesia sendiri belum selesai menyediakan panggungnya. 

Bangsa ini belum punya gedung pertunjukan yang memadai. Anak-anak muda belum sepenuhnya diberi ruang untuk membawa tradisi ke panggung dunia. Legong Bebarisan tak sempat dipentaskan. GSP tak sempat dihidupkan kembali.

Guruh Soekarno Putra wafat dengan membawa panggilan itu. Ia bukan gagal dalam arti tidak mampu. Ia gagal dalam arti bahwa Indonesia. Sebagai bangsa. Sebagai sistem. Sebagai ekosistem kebudayaan. Belum menjadi rumah yang cukup besar untuk mimpi-mimpinya. 

Epitaf Seorang Seniman

"Indonesia Memanggil" bukanlah judul sebuah karya yang gagal. Itu adalah epitaf. Tulisan kenangan pada batu nisan. Bagi seorang seniman yang mendengar panggilan itu sepanjang hidupnya. Menjawabnya sebisanya. Tapi harus pergi sebelum jawabannya lengkap. Dan kini, panggilan itu menggema tanpa jawaban.

Selamat Jalan Bung GSP. Karya-karya Anda sangat memukau dan tetap abadi. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

Senin, 28 September 2026

Serial Tasawuf-5: "Kisah Kegundahan Mas Raka"


Narasi Pembuka: Tasawuf seringkali disalahpahami sebagai sekadar ritual uzlah. Mengasingkan diri. Atau menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Bahkan ada yang menganggapnya sesat. Mungkin karena belum faham terhadap makna dan inti hakikinya. Syahdan, di tengah gemuruh modernitas, jiwa kita acapkali melahirkan kegelisahan. Kecemasan. Dan kekosongan spiritual. Dalam kondisi seperti ini, tasawuf tampil. Justru menjadi jangkar paling relevan. Mari kita belajar dari Mas Raka.

Tasawuf, Sebuah Kebutuhan Eksistensial

Tulisan ini sekadar merenungkan mengapa bertasawuf bukan hanya penting. Melainkan sebuah kebutuhan eksistensial.

Kisah ini bermula dari seorang eksekutif muda bernama Mas Raka. Tiga tahun bekerja di perusahaan multinasional. Ia meraih apa yang diimpikan banyak orang. Mobil mewah. Apartemen eksekutif di pusat kota. Dan gaji tujuh digit. 

Namun, setiap malam, ia terbangun dengan dada yang sesak. Hatinya kosong seperti gurun. Ia adalah simbol manusia modern. Kaya secara materi. Namun miskin secara batin. "Aku memiliki segalanya. Tapi aku merasa tak memiliki apa-apa," bisiknya pada sebuah cermin.

Di sinilah tasawuf berbisik pada rindu manusia akan makna. Tasawuf, atau sufisme, adalah inti dari agama. Sebuah jalan untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) agar sampai pada pengenalan hakiki kepada Tuhan. Bukan untuk meninggalkan dunia. Tetapi untuk tidak diperbudak olehnya. Mas Raka, seperti banyak dari kita, adalah budak ambisi dan ego.

Langkah Pertama Muhasabah

Langkah pertama Mas Raka dalam bertasawuf adalah bermuhasabah. Ia melakukan Introspeksi. Ia belajar bahwa kebahagiaan bukanlah hasil akumulasi. Melainkan pengurangan. Mengurangi keserakahan. Mengurangi dendam. Mengurangi kecintaan berlebihan pada dunia. 

Ia mulai berpuasa sunah. Bukan sekadar menahan lapar. Tetapi menahan lisannya dari ghibah. Dan menahan hatinya dari iri dengki. Perlahan, ia merasakan efek yang tak bisa dibeli oleh uang. Ketenangan batin.

Tahap selanjutnya yang dilakukan Mas Raka adalah zuhud. Bukan berarti miskin. Tetapi memiliki segalanya namun tidak menempel di hati. Raka masih bekerja keras. Tetapi ia tak lagi gelisah saat proyeknya gagal. Ia masih menikmati kopi mahalnya. Tetapi hatinya tidak terikat padanya. 

Ia belajar bahwa dunia ini adalah ladang. Bukan tujuan akhir. Ia melepaskan ilusi. Bahwa kepemilikan adalah identitas diri. Semuanya adalah titipan Yang Maha Kuasa.

Puncak dari perjalanan Mas Raka adalah mahabbah. Cinta Ilahi. Raka mulai melihat keindahan dalam setiap detail kehidupan. Hujan yang turun bukan sekadar fenomena. Melainkan rahmat. Ujian hidup bukan sekadar musibah. Melainkan kasih sayang yang tersamar. 

Tasawuf mengajarkannya untuk menyaksikan keindahan Tuhan di balik setiap peristiwa. "Aku dulu takut pada takdir, kini aku jatuh cinta pada takdir," katanya.

Generasi Paling Terisolasi

Mengapa ini penting bagi generasi kita? Karena digitalisasi telah menciptakan distraksi paling masif dalam sejarah. Notifikasi, media sosial, dan budaya instant gratification telah memecah perhatian kita menjadi serpihan-serpihan. 

Akibatnya, kita menjadi generasi yang paling terhubung secara teknis. Namun paling terisolasi secara spiritual. Kita scroll tanpa henti. Tapi semakin jauh dari kedamaian.

Tasawuf adalah antitesis dari semua itu. Ia menawarkan slow living dalam level spiritual. Mengembalikan kesadaran pada momen kini (mindfulness dalam istilah Islam adalah muraqabah). Melatih hati untuk tetap tenang di tengah badai dunia. 

Tanpa tasawuf, ibadah kita bisa menjadi sekadar gerakan tanpa ruh. Sekadar formalitas kosong. Seperti kata Jalaluddin Rumi, "Kita dilahirkan dari cinta. Cinta adalah ibu kita." Tanpa menyelami cinta ini. Kita hanya menjalani agama sebagai warisan. Bukan sebagai pencerahan.

Kisah Raka berakhir bukan dengan ia menjadi pertapa. Ia bahkan dipromosikan menjadi direktur. Bedanya, kini ia menjalani hidup dengan tenang dan ringan. Penuh syukur. Tanpa beban. 

Ia tersenyum pada masalah. Karena ia telah menemukan poros dalam dirinya. Tasawuf telah mengubah batinnya dari meminta-minta pada dunia. Menjadi memberi makna pada dunia.

Tasawuf bukan pelarian dari kenyataan. Melainkan pengembalian pada kenyataan sejati. Di era kehilangan arah ini. Bertasawuf adalah cara untuk kembali pulang. Pulang ke diri sendiri. Pulang kepada Yang Maha Esa. 

Tanpanya, kita akan terus menjadi Raka-Raka lain yang penuh tanya. Selalu berlari namun tak pernah sampai. Maka, mari bertasawuf. Bukan agar kita mati indah. Melainkan agar kita hidup dengan penuh arti.
Nantikan Serial Tasawuf-6.

Minggu, 27 September 2026

Segera Dibuka: " Sekolah Tinggi Calon Koruptor (STCK)"



Yayasan Bersatulah Koruptor Republik Indonesia (YBKRI) tengah mendirikan Sekolah Tinggi Calon Koruptor (STCK) untuk tingkat Strata Satu (S-1) dengan gelar kesarjanaan "S.KAI” (Sarjana Koruptor Antek Iblis).

Adapun Program Studi berbasis pada IT dan disiplin Ilmu Korupsi Tercanggih.

Menurut Direktur YBKRI, Prof. Korup Gelo, bahwa Sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah tinggi korupsi yang pertama dan satu-satunya di dunia. STCK diyakni akan mendapat restu Iblis dan antek-anteknya serta akan mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia. Terutama banyaknya bakat-bakat terpendam dari anak bangsa yang jika dididik secara tepat akan menghasilkan koruptor-koruptor kawakan dan licin bagai belut.

Dengan kehadiran koruptor-koruptor profesional alumnus dari STCK ini maka diharapkan dan dapat dipastikan akan sangat efektif untuk semakin menyengsarakan rakyat Indonesia.

Adapun bidang studi yang akan diterapkan mencakup multi-disiplin ilmu, antara lain:

1. Pengantar dan Sejarah Ilmu Korupsi (2 SKS)
2. Filsafat dan Budaya Maling (2 SKS)
3. Pengantar Menjarah Kas Negara, Membongkar Brankas dan Mesin ATM (3 SKS)
4. Mahir Korupsi Tk-I (8 SKS)
5. Matematika dan Logika Korupsi (4 SKS)
6. Seni Bersandiwara dan Pura-pura Gila (3 SKS)
7. Ilmu Debat dan Bersilat Lidah (4 SKS)
8. Seluk Beluk dan Teknik Kabur dari Penjara (2 SKS)
9. Praktek Dasar Maling (Nyopet di Angkot, Bis Kota dan Terminal) (3 SKS)
10. Seni Berkongkalikong dan Memeras Vendor (2 SKS)
11. Teknik Menyuap Pejabat, Pengacara, Hakim dan Jaksa (2 SKS)
12. Penguasaan IT dan Studi Kelayakan Korupsi (8 SKS)
13. Aplikasi Korupsi dan Money Laundry (8 SKS)
14. Membuat Passport Palsu dan Kabur ke Luar Negeri (4 SKS)
15. Praktek Korupsi Lanjutan (Maling di Instansi Masing-masing) (4 SKS)
16. To be Koruptor Profesional (8 SKS)
17. Benchmark ke Banggar DPR-RI (6 SKS)
18. Capita Selecta Bertahan Meringkuk di Bui (4 SKS)
19. Strategi Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (4 SKS)
20. Kiat-kiat Bertahan dari Panasnya Api Neraka (6 SKS).

Mata Kuliah Pilihan:
1. Teknik Nyamar Jadi Ustadz (3 SKS)
2. Cara Cloning Kartu Kredit Mertua (2 SKS).
3. Strategi Sukses Jadi Anggota DPR (3 SKS)
4. Teknik Maling Teriak Maling (2 SKS)
5. Pura-pura Jadi ODGJ (2 SKS).

Karena tempat terbatas, segera daftarkan nama anda di Polres setempat atau di Banggar DPR...

Pesan moral: "Untuk melawan ide-ide yang menyesatkan, gunakan ide-ide lain. Untuk melawan kebohongan, gunakan kebenaran." (William O Douglas (1898-1980), pakar hukum Amerika Serikat)//kgm

Serial Tasawuf-4: "Masa Depan Spiritual di Era Layar Ponsel"


Narasi Pembuka: Dalam tradisi Islam klasik, ilmu tidak pernah ditransmisikan melalui buku atau tulisan semata. Ia ditransmisikan melalui sanad. Rantai guru-murid yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Imam Malik berkata: "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian." Sanad bukan sekadar formalitas administratif. Ia adalah jaminan integritas spiritual. Seorang guru tidak hanya mentransfer informasi tentang Allah. Ia mentransfer adab, keberkahan, dan pengalaman.

Tragedi Modern, Ketika Sanad Terputus

Dalam tradisi tasawuf, seorang mursyid (guru spiritual) adalah dokter jiwa yang telah menyembuhkan penyakitnya sendiri sebelum menyembuhkan orang lain. Ia tidak mengklaim maqam. Ia menjalani proses yang panjang. Berliku. Dan penuh air mata.

Apa yang terjadi ketika sanad terputus? Kekosongan otoritas. Dan kekosongan otoritas selalu diisi oleh sesuatu. Bukan oleh keheningan. Tetapi oleh klaim-klaim palsu. 

Kiai Abdullah dari Jember adalah contoh sempurna. Ia tidak memiliki sanad yang jelas. Tidak terafiliasi dengan pesantren mana pun. Tidak memiliki mursyid yang mengawal. Yang ia miliki hanyalah TikTok, followers, dan keberanian yang lahir dari ketidaktahuan.

Inilah tragedi modern. Ketika sanad terputus. Yang tersisa hanyalah solusi instan. Solusi yang tidak peduli apakah seorang guru memiliki ijazah atau tidak. Ia hanya peduli pada engagement, views, dan virality. 

Dan ketika algoritma menjadi penentu otoritas spiritual. Maka yang muncul sebagai guru bukanlah orang yang paling dalam ilmunya. Tetapi orang yang paling pandai memainkan caption, hashtag, dan filter.

Kerinduan yang Tidak Terbimbing: Fitrah yang Tersesat

Namun kita tidak boleh hanya menyalahkan Kiai Abdullah dan sejenisnya. Mereka adalah produk dari suatu ekosistem. Bukan penyebab tunggal. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: Mengapa orang-orang seperti Kiai Abdullah mendapatkan pengikut? Jawabannya, karena ada kerinduan yang tidak terbimbing.

Manusia adalah makhluk spiritual. Ia tidak bisa hidup hanya dengan roti. Atau dalam konteks modern. Hanya dengan scroll media sosial. Ada lubang di dalam jiwanya yang hanya bisa diisi oleh kehadiran Ilahi. 

Ketika lubang itu tidak diisi oleh majelis ilmu yang benar. Oleh tarekat yang mu'tabar. Oleh mursyid yang kamil. Maka ia akan diisi oleh apa saja yang tersedia.

Dan apa yang tersedia di era digital? Konten. Video pendek yang menjanjikan ma'rifat dalam 60 detik. Live streaming yang menawarkan karomah sebagai tontonan. Podcast yang menjanjikan pencerahan tanpa riyadhah. Ini adalah spiritualitas instan. Sebuah konten yang mematikan.

Imam al-Ghazali, dalam Ihya' Ulum al-Din, menegaskan bahwa ma'rifat tidak dapat dicapai tanpa melalui delapan tahapan. Muhasabah (introspeksi), mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu), riyadhah (latihan spiritual), tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), takhalli (pengosongan dari sifat tercela), tahalli (penghiasan dengan sifat terpuji), tajalli (penampakan cahaya Ilahi), dan fana (kehilangan kesadaran diri dalam Allah). 

Proses ini membutuhkan bertahun-tahun. Bukan minutes. Dan ia membutuhkan bimbingan mursyid. Tidak bisa secara instan. Apalagi tanpa landasan syariat yang kuat. Menjadi seorang salik (penempuh jalan menuju Tuhan) bagai memasuki rimba raya. Jika tanpa bimbingan seorang mursyid bisa tersesat. Cenderung mendapat tarikan kekuatan setan.

Kerinduan yang tidak terbimbing adalah fitrah yang tersesat. Ia mencari Allah, tetapi tersandung pada ilusi. Ia ingin melihat wajah-Nya. Tetapi tertipu oleh bayangan. Ia haus akan air yang jernih. Tetapi meminum air keruh. 

Dan ketika kerinduan itu dieksploitasi oleh mereka yang tahu cara memanipulasi emosi spiritual. Maka lahirlah industri kesesatan yang dibungkus dengan bahasa mahabbah (cinta Ilahi).

Media Sosial: Mihrab Baru atau Berhala Baru?

Media sosial, dalam konteks ini, adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka akses terhadap ilmu yang sebelumnya hanya tersedia di pesantren-pesantren tertentu. Ceramah-ceramah ulama besar kini dapat diakses oleh siapa pun, di mana pun, kapan pun. Ini adalah demokratisasi ilmu yang luar biasa.

Namun di sisi lain, media sosial juga meratakan hierarki. Dalam tradisi pesantren, seorang santri harus ta'dzim kepada kyainya. Menundukkan kepala. Mencium tangan. Memanggil dengan hormat. 

Dalam media sosial, semua orang adalah setara. Semua bisa berkomentar. Semua bisa mengkritik. Semua bisa mengklaim. Tidak ada adab. Tidak ada tawadhu'. Tidak ada barokah. Yang ada hanyalah algoritma yang menentukan siapa yang muncul di feed dan siapa yang tenggelam.

Lebih berbahaya lagi. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan. Seorang followers merasa mengenal gurunya karena ia menonton video setiap hari. Ia merasa dekat karena ia bisa berkomentar dan kadang dibalas. 

Tetapi ini adalah kedekatan palsu. Kedekatan tanpa suhbah (persahabatan spiritual). Tanpa khidmah (pelayanan). Tanpa tarbiyah (pendidikan). 

Dalam tradisi tasawuf, kedekatan dengan guru adalah proses yang menyakitkan. Guru akan menguji murid. Guru bisa menghinanya. Membentaknya. Bahkan mengusirnya. Semua untuk menghancurkan ego muridnya. 

Namun media sosial tidak memiliki mekanisme ini. Ia hanya memberikan validasi instan. Likes, comments, shares. Yang justru memperkuat ego.

Dari Kritik ke Konstruksi: Apa yang Harus Dilakukan?

Kritik tanpa solusi adalah kepahitan tanpa obat. Kita telah mengkritik Kiai Abdullah, Al-Hallaj, Syekh Siti Jenar. Dan seluruh ekosistem yang melahirkan mereka. Tetapi apa yang harus kita lakukan? 

Bagaimana kita membangun spiritualitas yang sehat di era ketika layar Ponsel telah menjadi mihrab baru?

Pertama, hidupkan kembali budaya sanad. Ini bukan berarti menolak media sosial. Tetapi menggunakannya dengan adab. Para ulama harus hadir di ruang digital. Tetapi dengan kejelasan sanad, Kedalaman ilmu. Dan kerendahan hati. Mereka tidak boleh menjadi influencer yang mengejar engagement. Mereka harus menjadi guru yang menuntun dengan ilmu dan teladan.

Kedua, bangun komunitas spiritual yang nyata. Media sosial tidak bisa menggantikan majelis. Ia bisa menjadi pintu masuk, tetapi bukan rumah. Orang-orang yang haus spiritual harus diarahkan kepada komunitas nyata. Pesantren, majelis taklim, tarekat yang mu'tabar. Di sana, mereka akan belajar adab, sabar, dan istiqamah. Tiga hal yang tidak bisa diajarkan oleh algoritma.

Ketiga, didik umat untuk kritis. Ini adalah tugas paling berat. Umat harus diajarkan cara membedakan antara guru yang benar dan yang palsu. Mereka harus tahu bahwa tidak semua yang berbicara tentang Allah berbicara atas nama Allah. Mereka harus tahu bahwa klaim karomah bukan bukti kedekatan dengan Allah. Dan bahwa klaim melihat Allah adalah kemustahilan di dunia. Ini adalah literasi akidah yang harus menjadi bagian dari pendidikan dasar setiap Muslim.

Keempat, kembalikan kerinduan kepada tempatnya yang sah. Kerinduan melihat Allah adalah fitrah. Tetapi ia harus dikawal. Ia harus diarahkan kepada doa. Bukan kepada klaim. Ia harus diekspresikan dalam sujud. Bukan dalam live streaming. Ia harus dipendam dalam hati. Bukan dipertontonkan di layar. Rabi'ah al-Adawiyah merindukan Allah dengan api yang menyala-nyala. Tetapi ia tidak pernah mengklaim melihat-Nya. Ia berkata: "Aku tidak meminta surga-Mu. Aku meminta-Mu." Sebuah kerinduan yang shiddiq. Bukan waham atau khayalan.

Sebuah Doa yang Tidak Selesai

Esai ini tidak berakhir dengan kesimpulan yang rapi. Ia berakhir dengan doa yang tidak selesai. Karena perjalanan spiritual memang tidak pernah selesai. Setiap jawaban melahirkan pertanyaan baru. Setiap pencerahan melahirkan kegelapan baru. Setiap pertemuan melahirkan kerinduan baru.

Kita hidup di zaman yang spiritual tetapi tidak religius. Haus tetapi tidak terpuaskan. Terhubung tetapi tidak terikat. Kita memiliki akses terhadap seluruh ilmu di dunia. Tetapi kita kehilangan barokah. Kita bisa berbicara kepada ribuan orang dalam satu live. Tetapi kita tidak bisa duduk diam di hadapan Allah selama lima menit.

Maka doa yang tidak selesai ini adalah doa untuk kita semua. Untuk Kiai Abdullah yang tersesat. Untuk para pengikutnya yang haus. Untuk para ulama yang mungkin lelah. Dan untuk diri kita sendiri yang terus mencari.

Ya Allah, jadikanlah kerinduan kami kepada-Mu sebagai cahaya yang menuntun. Bukan api yang membakar. Jadikanlah kehausan kami sebagai dorongan untuk mencari ilmu yang benar. Bukan untuk mengklaim maqam yang tidak kami miliki. Jadikanlah kami hamba-hamba yang tawadhu'. Yang tidak berbicara tentang-Mu kecuali dengan izin-Mu. Yang tidak mengklaim-Mu kecuali dengan kebenaran-Mu. Dan yang tidak menuntut-Mu, kecuali dengan kerendahan hati.

Ya Allah, lindungilah kami dari riya'. Yang menyamar sebagai syukur. Dari istidraj, yang menyamar sebagai karomah. Dan dari waham yang menyamar sebagai makrifat. Jadikanlah kami hamba-hamba yang istiqamah. Yang berjalan di jalan-Mu dengan ilmu. Dengan adab. Dan dengan cinta yang murni.

Dan jadikanlah pertemuan kami dengan-Mu di akhirat nanti sebagai puncak dari segala kerinduan. Sebuah pertemuan yang tidak akan pernah kami klaim di dunia. Tetapi yang kami rindukan dengan seluruh jiwa kami.

Aamiin Ya Robbal Aalamiin.
(Doa Selesai. Dan tidak selesai).
Nantikan Serial Tasawuf-5...



In Memoriam Guruh Soekarno Putra: "Legong Bebarisan dan Indonesia Memanggil yang Tak Pernah Selesai"

Narasi Pembuka : Guruh Soekarno Putra wafat pada 26 September 2026. Meninggalkan warisan seni yang membentang dari "Guruh Gipsy" h...