Selasa, 06 Oktober 2026

Serial Tasawuf-13: "Mahabbah, Ketika Hati Tak Memiliki Ruang Selain-Nya"


Pengantar: Malam itu, langit di atas zawiyah tidak lagi bening. Awan gelap menggantung rendah. Dan angin bertiup membawa aroma tanah yang basah. Para salik yang sedang berjalan menuju zawiyah mempercepat langkah mereka. Karena rintik-rintik air mulai turun. Ketika mereka tiba. Mursyid sudah duduk di serambi. Memandangi hujan yang turun dengan mata yang berkaca-kaca.

Menunggu Janji Allah

"Air," bisiknya pelan. "Allah menjawab doa kita. Sumur itu akan terisi kembali. Tanah itu akan subur kembali. Dan hati yang kering pun akan basah kembali."

Zaid duduk di samping Mursyid. Memandangi hujan yang semakin deras. "Wahai Mursyid, engkau pernah berkata bahwa engkau sedang menunggu hujan. Apakah engkau benar-benar yakin bahwa hujan akan turun?"

Mursyid tersenyum. "Aku tidak yakin bahwa hujan akan turun, Zaid. Aku yakin bahwa Allah akan mencukupkan kebutuhanku. Jika bukan dengan hujan. Maka dengan cara lain. Jika bukan malam ini. Maka malam yang lain. Aku tidak menunggu hujan. Aku menunggu janji Allah."

Zaid terdiam. Ada sesuatu dalam suara Mursyid yang membuat hatinya bergetar. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ketenangan. Ada cinta di sana. Cinta yang telah melewati semua ujian. Cinta yang tidak lagi bergantung pada keadaan. Cinta yang telah menjadi hakikat dirinya.

Malam itu, Mursyid membuka majelis dengan pertanyaan yang membuat para salik terdiam.

"Anak-anakku, apa yang engkau cari dalam hidup ini? Apa yang membuatmu bangun di pagi hari? Apa yang membuatmu bertahan ketika semua orang menyerah?"

Kisah Seorang Kekasih yang Kehilangan Segalanya

Mursyid memulai kisahnya dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. Seperti orang yang sedang mengucapkan sesuatu yang sangat berharga.

"Ada seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Ia mencintainya dengan segenap hatinya. Setiap pagi, ia datang ke rumah gadis itu hanya untuk melihatnya sejenak. Setiap malam, ia berdoa agar gadis itu menjadi istrinya. Ia bekerja keras. Mengumpulkan harta. Dan akhirnya ia melamar gadis itu. Gadis itu menerimanya. Dan mereka menikah."

"Beberapa tahun pertama, hidup mereka bahagia. Mereka dikaruniai anak-anak yang sehat. Rumah yang nyaman. Dan kehidupan yang cukup. Pemuda itu merasa bahwa ia telah mencapai segalanya. Ia mencintai istrinya. Mencintai anak-anaknya. Dan mencintai kehidupannya."

"Tetapi kemudian, musibah datang. Anak-anak mereka meninggal karena penyakit. Istrinya jatuh sakit dan meninggal. Hartanya habis untuk pengobatan. Dalam waktu singkat. Pemuda itu kehilangan segalanya. Anak-anaknya, istrinya, hartanya."

Mursyid berhenti sejenak. "Apa yang engkau pikirkan tentang pemuda itu, anak-anakku? Apakah ia berputus asa? Apakah ia menyalahkan Allah? Apakah ia meninggalkan imannya?"

Seorang salik menjawab, "Ia seharusnya bersabar, Wahai Mursyid."

Mursyid mengangguk. "Benar. Tetapi sabar saja tidak cukup. Pemuda itu melewati masa-masa sulit dengan sabar. Ia tidak mengeluh. Ia tidak menyalahkan Allah. Ia tidak meninggalkan shalat. Tetapi ada sesuatu yang lebih dalam yang terjadi dalam dirinya."

"Ia mulai menyadari bahwa cintanya kepada istrinya. Cintanya kepada anak-anaknya. Cintanya kepada hartanya. Semua itu adalah cinta yang tidak sempurna. Karena cinta itu bisa hilang ketika objeknya hilang. Cinta itu bisa berubah menjadi kesedihan ketika objeknya pergi. Cinta itu bisa berubah menjadi kekecewaan ketika objeknya tidak lagi ada."

"Pemuda itu kemudian menyadari bahwa ada satu cinta yang tidak pernah hilang. Satu cinta yang tidak pernah berubah. Satu cinta yang tidak pernah mengecewakan. Cinta kepada Allah."

Mursyid memandang para salik. "Pemuda itu menemukan mahabbah. Cinta sejati. Bukan karena ia kehilangan segalanya. Tetapi karena ia menemukan Dzat yang tidak pernah hilang. Ia kehilangan cinta yang fana. Dan ia menemukan cinta yang kekal."

Hakikat Mahabbah yang Sesungguhnya

Seorang salik bernama Utsman mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah mahabbah itu? Apakah ia berbeda dari cinta biasa?"

Mursyid tersenyum. "Pertanyaan yang sangat baik, Utsman. Mahabbah adalah cinta yang paling tinggi. Cinta yang paling murni. Cinta yang paling sempurna. Ia bukan sekadar rasa suka. Bukan sekadar rasa sayanguk. Bukan sekadar rasa rindu. Mahabbah adalah cinta yang telah merasuki seluruh jiwa. Cinta yang telah menjadi hakikat dirimu. Cinta yang tidak lagi membutuhkan alasan."

"Imam al-Ghazali, semoga Allah merahmatinya, mengajarkan bahwa mahabbah adalah buah dari makrifat. Engkau tidak bisa mencintai sesuatu yang tidak engkau kenal. Semakin engkau mengenal Allah. Semakin engkau mencintai-Nya. Dan semakin engkau mencintai-Nya. Semakin engkau ingin mengenal-Nya lebih dalam."

"Mahabbah bukanlah cinta yang lahir dari keuntungan. Engkau tidak mencintai Allah karena engkau ingin masuk surga. Karena engkau ingin mendapatkan rezeki. Karena engkau ingin terhindar dari neraka. Jika engkau mencintai Allah karena alasan-alasan itu. Maka engkau belum mencapai mahabbah. Engkau masih mencintai dirimu sendiri. Bukan Allah."

"Mahabbah adalah cinta yang lahir dari pengenalan. Engkau mencintai Allah karena engkau mengenal-Nya. Karena engkau tahu betapa indahnya sifat-sifat-Nya. Betapa sempurnanya nama-nama-Nya. Betapa luasnya rahmat-Nya. Engkau mencintai Allah bukan karena apa yang Dia berikan. Tetapi karena siapa Dia."

Mursyid menatap Utsman. "Cinta biasa adalah cinta yang mengharapkan balasan. Mahabbah adalah cinta yang tidak mengharapkan apa-apa selain kehadiran Dzat yang dicintai."

Tingkatan-Tingkatan Mahabbah

Mursyid menuangkan air ke cangkir-cangkir kecil. Hujan di luar masih turun. Dan suara air yang jatuh ke tanah menjadi latar belakang yang syahdu.

"Para ulama membagi mahabbah menjadi beberapa tingkatan."

"Tingkatan pertama adalah mahabbahnya orang awam. Yaitu cinta yang lahir dari ketaatan. Orang pada tingkatan ini mencintai Allah karena ia tahu bahwa Allah memerintahkan untuk mencintai-Nya. Ia mencintai Allah karena ia takut akan azab-Nya. Dan ia mengharapkan pahala-Nya. Cinta ini masih bercampur dengan kepentingan diri."

"Tingkatan kedua adalah mahabbahnya orang pilihan. Yaitu cinta yang lahir dari pengenalan. Orang pada tingkatan ini mencintai Allah karena ia telah mengenal Allah. Karena ia telah membaca Al-Qur'an dan merenungkan maknanya. Karena ia telah mempelajari sifat-sifat Allah dan merenungkannya. Cinta ini lebih murni dari yang pertama. Tetapi masih bercampur dengan keinginan untuk mendapatkan karunia Allah."

"Tingkatan ketiga adalah mahabbahnya para kekasih Allah. Yaitu cinta yang lahir dari kesadaran bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak dicintai. Orang pada tingkatan ini mencintai Allah bukan karena takut neraka. Bukan karena mengharap surga. Bukan karena ingin mendapatkan karunia. Ia mencintai Allah karena Allah layak dicintai. Ia mencintai Allah karena Allah adalah Allah."

Mursyid tersenyum. "Engkau boleh memilih tingkatan mana yang engkau kejar. Tetapi ketahuilah, tingkatan tertinggi hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang cinta."

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah sebagai tandingan. Yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)

"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "Allah tidak berkata 'orang-orang yang beriman mencintai Allah.' Ia berkata 'orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.' Cinta mereka kepada Allah melebihi cinta mereka kepada segala sesuatu. Itulah mahabbah."

"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah. Ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.'" (Ali Imran: 31)

"Perhatikanlah," kata Mursyid."Cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah SAW. Engkau tidak bisa mengaku mencintai Allah. Tetapi engkau tidak menjalankan perintah-Nya. Engkau tidak bisa mengaku mencintai Allah. Tetapi engkau tidak mengikuti sunnah Nabi-Nya. Cinta yang sejati selalu dibuktikan dengan tindakan."

"Hai orang-orang yang beriman. Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya. Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. Yang bersikap lembut terhadap orang yang mukmin. Yang bersikap keras terhadap orang kafir. Yang berjihad di jalan Allah. Dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah. Yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Maidah: 54)

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah ayat ini. Allah berkata: 'Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.' Cinta itu timbal balik. Jika engkau mencintai Allah, Allah akan mencintaimu. Dan jika Allah mencintaimu. Apa lagi yang engkau butuhkan?"

"Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya." (Al-Baqarah: 257)

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

"Rasulullah SAW bersabda:

'Barangsiapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan menahan karena Allah. Maka ia telah menyempurnakan imannya.' (HR. Abu Dawud)

"Perhatikanlah," kata Mursyid. "Cinta karena Allah bukanlah cinta yang biasa. Ia adalah cinta yang mengubah segalanya. Engkau mencintai seseorang bukan karena ia baik kepadamu. Tetapi karena ia mencintai Allah. Engkau membenci sesuatu bukan karena ia menyakitimu. Tetapi karena ia menjauhkanmu dari Allah."

'Tiga perkara yang barangsiapa ada padanya. Maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang hanya karena Allah; Dan membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam api.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Mursyid tersenyum. "Manisnya iman. Itulah yang dirasakan oleh orang yang mencintai Allah. Engkau tidak perlu menunggu surga untuk merasakan manisnya iman. Engkau bisa merasakannya sekarang. Di dunia ini. Jika engkau mencintai Allah dengan sebenar-benarnya."

'Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk.' (HR. Bukhari)

"Perhatikanlah hadits ini," ujar Mursyid dengan mata berbinar. "Allah menciptakan kita bukan karena Ia butuh kita. Allah menciptakan kita karena Ia ingin dikenal. Dan ketika engkau mengenal Allah. Engkau akan mencintai-Nya. Dan ketika engkau mencintai-Nya. Engkau akan menemukan tujuan hidupmu yang sebenarnya."

Kisah Nabi Muhammad dan Cintanya kepada Allah

Mursyid kemudian bercerita tentang Nabi Muhammad SAW. Kisah yang selalu membuat para salik bergetar.

"Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul. Beliau menghadapi segala macam ujian. Kaum Quraisy menolaknya, menyakitinya, mengusirnya. Beliau kehilangan istrinya, Khadijah, yang selalu mendukungnya. Beliau kehilangan pamannya, Abu Thalib, yang selalu melindunginya. Beliau dilempari batu di Thaif, sampai kakinya berdarah."

"Tetapi apa yang Nabi SAW lakukan? Beliau tidak membalas. Beliau tidak mengeluh. Beliau tidak berputus asa. Beliau justru berdoa: 'Ya Allah, jika Engkau tidak marah kepadaku. Maka aku tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan.'"

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah, Nabi SAW mencintai Allah lebih dari segalanya. Beliau tidak peduli dengan penderitaan. Selama Allah tidak marah kepadanya. Beliau tidak peduli dengan hinaan. Selama Allah mencintainya. Inilah mahabbah. Cinta yang tidak tergoyahkan oleh apa pun."

"Nabi SAW juga pernah berkata: 'Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari pada Allah.' Beliau mencintai Allah karena keindahan-Nya. Beliau mencintai Allah karena kesempurnaan-Nya. Beliau mencintai Allah karena Allah adalah Allah."

Kisah Rabi'ah al-Adawiyah dan Cinta yang Murni

Mursyid juga mengisahkan tentang Rabi'ah al-Adawiyah. Seorang sufi perempuan yang terkenal karena cintanya kepada Allah.

"Rabi'ah al-Adawiyah adalah seorang hamba sahaya yang dibebaskan karena ketakwaannya. Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya: 'Wahai Rabi'ah, apakah engkau mencintai Allah?'"

"Ia menjawab: 'Ya, aku mencintai-Nya.'"

"Apakah engkau membenci syaitan?'"

"Ia menjawab: 'Tidak. Aku tidak membenci syaitan.'"

"'Mengapa?'"

"Ia menjawab: 'Karena cintaku kepada Allah tidak menyisakan ruang untuk membenci selain-Nya. Aku terlalu sibuk mencintai Allah. Sehingga aku tidak punya waktu untuk membenci syaitan.'"

Mursyid tersenyum. "Itulah mahabbah. Cinta yang telah memenuhi seluruh hati. Sehingga tidak ada ruang untuk selain Allah. Cinta yang telah menjadi hakikat dirimu. Sehingga engkau tidak lagi memikirkan dirimu sendiri."

"Rabi'ah juga pernah berdoa: 'Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka. Maka bakarlah aku di neraka. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga. Maka haramkanlah aku dari surga. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau layak disembah. Maka janganlah Engkau menghalangi aku dari keindahan-Mu.'"

Mahabbah di Zaman Kita

Seorang salik bernama Aisyah bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana kami bisa mencapai mahabbah di zaman ini? Zaman ketika hati kami begitu sibuk dengan dunia. Ketika pikiran kami begitu penuh dengan urusan. Ketika waktu kami begitu habis untuk pekerjaan?"

Mursyid menghela napas. "Pertanyaan yang sangat baik, Aisyah. Mahabbah di zaman ini memang lebih sulit. Tetapi juga lebih mulia."

"Pertama, luangkan waktu untuk mengenal Allah. Engkau tidak bisa mencintai sesuatu yang tidak engkau kenal. Bacalah Al-Qur'an dengan hati. Bukan hanya dengan mata. Renungkan sifat-sifat Allah. Nama-nama-Nya. Dan ciptaan-Nya. Semakin engkau mengenal Allah. Semakin engkau mencintai-Nya."

"Kedua, perbanyaklah dzikir. Dzikir adalah cara untuk mengingat Allah di tengah kesibukan dunia. Ketika engkau berdzikir. Engkau sedang membersihkan hatimu dari cinta selain Allah. Ketika engkau berdzikir. Engkau sedang menanam benih cinta di dalam hatimu."

"Ketiga, cintailah apa yang Allah cintai. Dan bencilah apa yang Allah benci. Jika engkau mencintai Allah. Engkau akan mencintai apa yang Allah cintai. Kebaikan, keadilan, kasih sayang. Dan engkau akan membenci apa yang Allah benci. Kezaliman, kesombongan, kekufuran."

"Keempat, jangan takut kehilangan dunia. Jika engkau mencintai Allah. Engkau tidak akan takut kehilangan dunia. Karena engkau tahu bahwa Allah tidak akan meninggalkanmu. Engkau tahu bahwa apa yang Allah ambil. Itu adalah milik-Nya. Dan engkau tahu bahwa apa yang Allah beri. Itu adalah karunia-Nya."

Mahabbah adalah Tujuan

Malam semakin larut. Hujan telah berhenti. Dan langit mulai cerah. Bulan muncul dari balik awan. Menerangi zawiyah dengan cahaya yang lembut. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan sarungnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya. "Mahabbah adalah tujuan dari semua maqam. Taubat, sabar, zuhud, tawakal. Semua itu adalah jalan menuju mahabbah. Ketika engkau telah mencapai mahabbah. Engkau tidak lagi membutuhkan maqam-maqam itu. Karena cinta telah memenuhi segalanya."

"Ingatlah pesan ini: Cinta adalah api yang membakar segala sesuatu selain yang dicintai. Ketika engkau mencintai Allah. Engkau akan membakar cinta dunia. Cinta harta. Cinta jabatan. Cinta pujian. Dan yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah. Cinta yang tidak pernah padam. Cinta yang tidak pernah mengecewakan. Cinta yang tidak pernah hilang. "

"Dan ketahuilah, orang yang mencintai Allah tidak pernah sendirian. Ia selalu bersama Allah. Ia tidak pernah sedih. Karena Allah bersamanya. Ia tidak pernah takut. Karena Allah melindunginya. Ia tidak pernah kecewa. Karena Allah tidak pernah mengecewakannya."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami mahabbah yang sejati—cinta yang tidak mengharapkan apa-apa selain kehadiran-Mu. Jadikanlah kami hamba-hamba yang mencintai-Mu lebih dari segalanya. Dan jadikanlah cinta kami kepada-Mu sebagai cahaya yang menerangi jalan kami menuju-Mu. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Cinta yang ia cari bukanlah cinta yang datang dari manusia. Bukanlah cinta yang datang dari harta. Bukanlah cinta yang datang dari jabatan. 

Cinta yang ia cari adalah cinta yang datang dari Allah. Cinta yang telah ada sebelum ia dilahirkan. Cinta yang akan ada setelah ia meninggal. Cinta yang tidak pernah hilang.

Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang mahabbah. Tetapi dengan cinta baru di hati. Cinta yang lahir dari pengenalan. Cinta yang tumbuh dari kesadaran. Cinta yang telah menjadi hakikat diri.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-14, tentang Makrifat)


Senin, 05 Oktober 2026

Wawancara Imajiner dengan "Sang Penjemput"


Latar: Sebuah kamar rumah sakit di lantai tujuh, pukul 03.17 dini hari. Lampu neon berkedip pelan. Mesin pemantau detak jantung berbunyi ritmis—bip… bip… bip...Seperti tetesan air di gua sunyi. Di ranjang terbaring Haji Fulan (79 tahun). Seorang mantan Anggota DPR. Dikenal sangat alim, bersahaja dan sangat jujur. Tubuhnya kurus oleh usia dan penyakit. Tetapi wajahnya bercahaya aneh. Seperti bulan yang akan purnama. Di kursi samping ranjang, duduk Malaikat Izrail. Dalam wujud yang tak bisa dijelaskan. Kadang seperti cahaya keemasan. Kadang seperti lelaki tua berjubah putih. Kadang seperti beraroma tanah basah setelah hujan. Ia datang bukan untuk mengambil. Ia datang untuk menjemput dengan penuh adab.

Izrail: (suaranya seperti bisikan angin di dedaunan, lembut namun menggetarkan tulang) Assalamu'alaikum, wahai hamba yang alim dan jujur.

Haji Fulan: (membuka mata perlahan, senyum tipis) Waalaikumussalam…Aku sudah menunggu. Sejak tadi malam, aku dengar langkahmu di koridor. Kau yang aku lihat dalam mimpi. Yang berdiri di ujung lorong bercahaya itu.

Izrail: Kau mengenalku?

Haji Fulan: Aku tidak mengenal wajahmu. Tapi aku mengenal kedatanganmu. Seperti mengenal musim kemarau dari bau tanah kering. Tubuhku sudah bilang. Ini waktunya pulang.

Izrail: (duduk di kursi, jubahnya tidak menyentuh lantai) Banyak yang menangis saat aku datang. Meronta. Minta ditunda. Menawar dengan amal. Tapi kau…Kau malah senang dan tersenyum.

Haji Fulan: Aku sudah 79 tahun menunggu tamu ini. Dulu aku takut. Sekarang… Aku hanya ingin bertemu dengan Yang Mengutusmu.

(Mesin jantung berbunyi lebih pelan. Perawat jaga di luar tidak mendengar apa-apa. Baginya, Haji Fulan sedang tidur nyenyak.)

Izrail: Ceritakan padaku. Apa yang kau bawa hari ini? Bekal apa yang kau siapkan untuk perjalanan ini?

Haji Fulan: (tertawa kecil, napasnya berat) Bekalku…tidak banyak. Tidak ada emas batangan. Tidak ada tanah. Hanya selembar sajadah usang yang aku pakai sejak berdinas dulu. Anakku membelikannya di pasar Tanah Abang. Ada lubang di ujungnya. Tempat aku menekan dahi terlalu lama.

Izrail: Itu bekal yang aneh. Manusia biasanya menyebut harta, jabatan, keturunan.

Haji Fulan: Harta? Aku pernah punya sawah dua hektar dan beberapa petak tanah. Aku jual semuanya untuk membangun masjid di kampung. Anakku bersedih. Aku bilang, "Nak, sawah dan tanah bisa dicari. Tapi amal yang mengalir, itu yang menuntunmu pulang." Jabatan? Aku hanya mantan anggota DPR. Tidak ada yang istimewa apalagi menulis namaku di koran. Keturunan? Aku punya tujuh anak dan dua belas cucu. Tiga sudah mendahuluiku. Empat masih hidup. Mereka semua aktif di DKM dan terkadang mengisi kajian di masjid setempat. Bagiku itu sudah cukup.

Izrail: (mengangguk, matanya menyala seperti kunang-kunang) Aku melihatnya. Di ruang tamu rumahmu, ada Al-Qur'an yang kau baca setiap subuh. Ada karpet yang kau duduki untuk mengajar mengaji cucumu dan anak-anak tetangga. Ada bekas air mata yang kau tumpahkan saat kau tahu kau tak bisa lagi bangun untuk shalat malam.

Haji Fulan: (matanya berkaca) Kau tahu itu? Aku pikir tidak ada yang melihat.

Izrail: Kami mencatat semuanya. Bukan hanya amal besar. Justru air mata penyesalan. Itulah yang paling berat di timbangan. Kau pernah menangis karena tidak bisa lagi membaca Al-Qur'an dengan lancar? Itu lebih berharga dari seribu khatam bagi orang yang hatinya kosong.

Haji Fulan: Aku takut, Izrail. Bukan takut mati. Tapi takut dosa-dosaku. Dulu aku pernah marah pada stafku. Aku pecat dia dan aku usir dari ruang kerjaku. Dia menangis. Aku sangat menyesal dengan tindakanku. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah dia memaafkanku.

Izrail: (mengambil tangan Haji Fulan, dingin namun menenangkan) Hamba itu, sudah wafat empat tahun lalu. Dan sebelum wafat, ia berdoa: "Ya Allah, ampunilah atasanku dulu yang pernah memecat dan mengusirku. Ia melakukannya karena kesalahanku."

Haji Fulan: (mengeluarkan napas panjang, seperti beban gunung terangkat) Alhamdulillah… Alhamdulillah…

(Detak jantung melemah. 40 denyut per menit. 30. 20.)

Izrail: Waktu kita hampir habis. Ada yang ingin kau sampaikan? Pesan? Permintaan?

Haji Fulan: (berbisik) Tolong… sampaikan pada anak-anakku. Jangan mereka menjual rumah ini untuk biaya pemakaman. Kuburkan aku di pemakaman di desa saja. Di bawah pohon sukun. Aku ingin dekat dengan tempat aku dulu pernah mengajar mengaji. Dan…tolong sampaikan pada murid-muridku, teruskan mengaji. Jangan putus. Karena aku akan menunggu mereka di sana.

Izrail: (berdiri, cahaya di sekitarnya semakin terang) Aku akan sampaikan. Tapi sebelum aku membawamu, ada satu hal lagi.

Haji Fulan: Apa?

Izrail: Kau tahu siapa yang mengutusku?

Haji Fulan: (tersenyum, air mata jatuh ke bantal) Allah… Rabbul 'Alamin.

Izrail: Dan kau tahu apa yang Dia firmankan tentang hamba-Nya yang sabar?

Haji Fulan: "Innallaha ma'ash shabirin…" Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Izrail: Bukan itu. Yang lain.

Haji Fulan: (matanya tiba-tiba terbuka lebar, seperti melihat sesuatu di balik langit-langit kamar) … "Yaa ayyuhan nafsul muthmainnah. Irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii 'ibaadii. Wadkhulii jannatii."

("Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.")

Izrail: (mengulurkan tangan, cahaya dari telapak tangannya menerangi seluruh ruangan) Itulah yang Dia ucapkan untukmu. Bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai undangan.

Haji Fulan: (menutup mata, senyum terakhirnya seperti fajar pertama) Aku… siap.

(Mesin jantung berbunyi panjang—biiiiiiip. Pukul 03.33.)

(Perawat Nur masuk kamar. Ia memeriksa denyut nadi, lalu menatap wajah Haji Fulan. Ia heran. Wajah itu tidak seperti orang yang baru saja meninggal. Ada cahaya. Atau mungkin pantulan lampu? Ada ketenangan. Atau mungkin kebiasaan? Ia mencatat: "Pasien Haji Fulan bin Abdullah. Wafat pukul 03.33. Ekspresi: tersenyum.")

(Di luar jendela, adzan subuh belum berkumandang. Tapi di kamar itu, seakan-akan seluruh alam ikut mengucapkan: "Selamat pulang, hamba yang tenang.")

(Izrail telah pergi. Tapi ia meninggalkan satu bisikan yang hanya didengar oleh jiwa yang berangkat: "Kau bukan mati. Kau sedang dijemput. Dan penjemputan ini, adalah hadiah.")

(Di kejauhan, di rumah salah satu anaknya, seorang cucunya terbangun dari tidur. Ia menangis tanpa tahu kenapa. Ibunya bertanya, "Ada apa, Nak?")

(Cucu itu menjawab, "Aku mimpi… Kakek terbang. Tapi bukan pakai sayap. Pakai cahaya. Dan Kakek bilang: 'Jangan lupa mengaji, ya.'")

(Ibunya terdiam. Telepon berdering. Kabar itu datang dari rumah sakit.)

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

(Husnul khotimah. Akhir yang indah. Bukan karena tidak ada dosa. Tapi karena dosa-dosa itu telah tenggelam dalam lautan ampunan. Dan jiwa itu pergi dengan senyum. Sebagaimana ia dahulu menyambut tamu. Dengan salam. Dengan sabar. Dengan cinta.)


(TAMAT)

Serial Tasawuf -12: "Tawakal, Menyerahkan Tali pada Dzat yang Tak Pernah Tidur"


Pengantar: Musim kemarau telah berlangsung lama. Sumur di belakang zawiyah yang biasanya menjadi tempat para salik berwudhu kini benar-benar kering. Debu menumpuk di dasar sumur. Dan tanah di sekitarnya mulai retak-retak seperti kulit yang menua. Setiap pagi, para salik harus berjalan jauh ke sungai di kaki bukit untuk mengambil air. Sebuah perjalanan yang melelahkan. Terutama bagi Mursyid yang usianya telah senja.

Aku Sedang Menunggu

Suatu malam, ketika para salik berkumpul. Mereka mendapati Mursyid tidak berada di tempat biasanya. Mereka mencarinya. Dan menemukannya duduk di tepi sumur yang kering. Wajahnya tenang. Tetapi matanya memandang jauh ke langit. Seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.

Zaid mendekat dengan hati yang cemas. "Wahai Mursyid, mengapa engkau duduk di sini? Sumur ini telah kering. Tidak ada air yang bisa kami ambil."

Mursyid tersenyum, tetapi tidak menoleh. "Aku tahu, anakku. Aku sedang menunggu."

"Menunggu apa, Wahai Mursyid?"

"Menunggu hujan turun," jawab Mursyid dengan suara yang tenang. Seperti orang yang telah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Zaid terdiam. Ia ingin bertanya. Tetapi mulutnya terasa kelu. Mursyid lalu bangkit. Membetulkan sarungnya. Dan berjalan menuju serambi tempat para salik berkumpul. Malam itu, ia membuka majelis dengan pertanyaan yang membuat semua salik terdiam.

"Anak-anakku, apa yang engkau lakukan ketika semua usahamu gagal? Apa yang engkau lakukan ketika pintu-pintu tertutup. Ketika jalan-jalan buntu. Ketika doa-doamu seolah tidak dijawab?"

Kisah Seorang Nelayan dan Badai

Mursyid memulai kisahnya dengan suara yang pelan. Tetapi setiap katanya menghunjam ke dalam hati.

"Ada seorang nelayan tua yang hidup di tepi laut. Ia telah melaut sejak usia muda. Ia mengenal laut seperti ia mengenal telapak tangannya sendiri. Suatu hari, ia dan anaknya pergi melaut untuk mencari ikan. Langit cerah, angin bertiup lembut. Ombak tenang. Mereka menebar jala dan menunggu."

"Tetapi tiba-tiba, langit berubah gelap. Awan hitam menutupi matahari. Angin bertiup kencang. Badai datang tanpa peringatan. Ombak setinggi rumah menghantam perahu mereka. Jala mereka hilang. Dayung mereka patah. Dan perahu mereka mulai terisi air."

"Anak nelayan itu menangis ketakutan. 'Ayah, apa yang harus kita lakukan? Kita akan mati!'"

"Nelayan tua itu tidak panik. Ia memegang kemudi dengan tangan yang kuat. Ia berkata: 'Anakku, aku telah melaut selama empat puluh tahun. Aku telah menghadapi badai yang lebih besar dari ini. Aku tidak bisa mengendalikan angin, aku tidak bisa menghentikan ombak. Tetapi aku bisa mengendalikan perahuku. Dan aku tahu. Seperti aku tahu bahwa matahari akan terbit. Bahwa badai ini akan berlalu. Kita hanya perlu bertahan.'"

"Nelayan itu berjuang dengan sekuat tenaga. Ia menimba air. Memperbaiki kemudi. Dan mengarahkan perahu ke arah yang ia yakini benar. Dan benar saja. Setelah berjam-jam. Badai itu berlalu. Langit kembali cerah. Mereka pu sampai di pantai dengan selamat."

Mursyid memandang para salik. "Nelayan tua itu telah bertawakal. Ia tidak duduk diam menunggu badai berlalu. Ia berusaha semaksimal mungkin. Tetapi hatinya tidak goyah. Karena ia yakin bahwa Allah tidak akan membiarkannya tenggelam."

Hakikat Tawakal yang Sesungguhnya

Seorang salik bernama Ibrahim mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah tawakal berarti kami harus menyerahkan segala sesuatu kepada Allah tanpa berusaha? Apakah kami harus duduk di masjid dan menunggu rezeki turun dari langit?"

Mursyid tersenyum. Tetapi senyumnya mengandung teguran yang halus. "Ibrahim, engkau telah mendengar kisah nelayan tadi. Apakah ia duduk diam menunggu badai berlalu? Tidak. Ia berjuang. Ia menimba air. Ia memperbaiki kemudi. Tetapi hatinya tidak goyah. Karena ia yakin bahwa Allah bersamanya."

"Imam al-Ghazali, semoga Allah merahmatinya, mengajarkan bahwa tawakal bukanlah meninggalkan usaha. Tetapi menggantungkan hati kepada Allah setelah melakukan usaha semaksimal mungkin. Tawakal adalah buah dari tauhid. Pengakuan bahwa tidak ada yang berkuasa selain Allah."

"Ada tiga unsur dalam tawakal. Pertama, ilmu. Yaitu keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Maha Pengasih kepada hamba-Nya. 

Kedua, hal. Yaitu keadaan hati yang tenang, yang tidak gelisah ketika menghadapi kesulitan, karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya. 

Ketiga, amal. Yaitu usaha yang dilakukan dengan sekuat tenaga. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Karena Allah memerintahkan kita untuk berusaha."

Mursyid menatap Ibrahim. "Tawakal bukanlah fatalisme. Tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah usaha yang disertai dengan penyerahan hati. Engkau berusaha seolah-olah engkau yang menentukan hasilnya. Tetapi engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena engkau tahu bahwa engkaulah yang tidak menentukan apa-apa."

Tiga Tingkatan Tawakal

Mursyid menuangkan air dari kendi ke cangkir-cangkir kecil. Air itu adalah air yang ia ambil dari sungai pagi tadi. Air yang menjadi bukti bahwa usaha tidak pernah sia-sia.

"Para ulama membagi tawakal menjadi tiga tingkatan."

"Tingkatan pertama adalah tawakalnya orang awam. Yaitu tawakal yang masih disertai dengan kecemasan. Orang pada tingkatan ini berusaha. Tetapi hatinya masih gelisah. Ia masih bertanya-tanya: 'Apakah usahaku akan berhasil? Apakah Allah akan menolongku?' Ia seperti orang yang berjalan di atas jembatan sambil terus melihat ke bawah. Takut jembatan itu akan runtuh."

"Tingkatan kedua adalah tawakalnya orang pilihan. Yaitu tawakal yang disertai dengan ketenangan. Orang pada tingkatan ini berusaha. Dan hatinya tenang. Karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya. Ia seperti orang yang berjalan di atas jembatan yang kokoh. Ia tahu bahwa jembatan itu tidak akan runtuh. Meskipun ia belum melihat ujungnya."

"Tingkatan ketiga adalah tawakalnya para kekasih Allah. Yaitu tawakal yang disertai dengan kepasrahan total. Orang pada tingkatan ini tidak lagi memikirkan hasil. Karena ia telah menyerahkan segalanya kepada Allah. Ia seperti orang yang telah menyerahkan dirinya kepada seorang dokter yang ia percayai sepenuhnya. Ia tidak bertanya: 'Apakah operasi ini akan berhasil?' Ia hanya berkata: 'Aku pasrah kepada dokter ini. Karena aku tahu ia lebih tahu daripada aku.'"

Mursyid tersenyum. "Engkau boleh memilih tingkatan mana yang engkau kejar. Tetapi ketahuilah, tingkatan tertinggi hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang tawakal."

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (
At-Talaq: 3)

"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "Allah tidak berkata 'barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia inginkan.' Ia berkata 'Allah akan mencukupkan kebutuhannya.' Ada perbedaan besar antara keinginan dan kebutuhan. Allah tidak selalu memberikan apa yang engkau inginkan. Tetapi Ia selalu memberikan apa yang engkau butuhkan."

"Dan berserahlah kamu kepada Allah Yang Hidup. Yang tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya." (Al-Furqan: 58)

"Katakanlah: 'Allah cukup bagiku; kepada-Nya bertawakal orang-orang yang bertawakal.'" (Az-Zumar: 38)

"Dan mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah. Padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami? Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah orang-orang yang bertawakal berserah diri." (Ibrahim: 12)

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah ayat ini. Ibrahim AS berkata: 'Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah. Padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami?' Artinya, tawakal bukanlah sesuatu yang berat. Karena Allah telah menunjukkan jalan-Nya kepada kita. Kita hanya perlu berjalan di jalan itu. Dan menyerahkan sisanya kepada-Nya."

"Dan bertawakallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai pemelihara." (Al-Ahzab: 3)

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

"Rasulullah SAW bersabda:

'Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti Dia memberikan rezeki kepada burung-burung. Mereka keluar pagi dalam keadaan lapar. Dan kembali sore dalam keadaan kenyang.' (HR. Tirmidzi)

"Perhatikanlah," kata Mursyid, "burung-burung itu tidak duduk di sarangnya menunggu makanan datang. Mereka keluar pagi. Terbang mencari makan. Mereka berusaha. Tetapi mereka tidak menyimpan makanan untuk besok. Karena mereka tahu bahwa Allah akan memberikan rezeki esok hari. Inilah tawakal. Usaha yang disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupi."

'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.' (HR. Tirmidzi)

Mursyid juga mengisahkan sabda Nabi:

'Aku heran kepada orang yang berputus asa. Padahal ia bisa berdoa. Aku heran kepada orang yang gelisah. Padahal ia bisa bertawakal. Aku heran kepada orang yang sedih. Padahal ia bisa beristighfar.'

"Engkau tidak perlu gelisah, anakku," ujar Mursyid. "Engkau hanya perlu bertawakal. Engkau tidak perlu sedih. Engkau hanya perlu beristighfar. Engkau tidak perlu berputus asa. Engkau hanya perlu berdoa."

Kisah Nabi Muhammad dan Gua Tsur

Mursyid kemudian bercerita tentang Nabi Muhammad SAW. Kisah yang selalu membuat para salik bergetar.

"Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Beliau bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Kaum Quraisy mengejar mereka. Dan mereka sampai di mulut gua. Abu Bakar sangat cemas. Ia berkata: 'Wahai Rasulullah. Jika salah satu dari mereka melihat ke bawah. Mereka akan melihat kita.'"

"Tetapi Nabi SAW dengan tenang berkata: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' (At-Taubah: 40)"

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah, Nabi SAW tidak berkata 'kita akan selamat karena kita bersembunyi di gua.' Beliau tidak berkata 'kita akan selamat karena kita berlari cepat.' Beliau berkata 'Allah bersama kita.' Inilah tawakal. Keyakinan bahwa Allah bersama kita. Apa pun yang terjadi."

"Abu Bakar melihat dengan mata kepalanya bahwa mereka dalam bahaya. Tetapi Nabi SAW melihat dengan mata hatinya bahwa Allah bersama mereka. Itulah perbedaan antara orang yang bertawakal dan orang yang tidak."

Kisah Nabi Ibrahim dan Api

Mursyid juga mengisahkan tentang Nabi Ibrahim AS.

"Ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namrud, beliau tidak berteriak. Tidak menangis. Tidak memohon pertolongan kepada manusia. Beliau hanya berkata: 'Hasbunallah wa ni'mal wakil'. Cukuplah Allah bagi kami. Dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."

"Api itu membakar. Tetapi tidak menyentuh Ibrahim. Mengapa? Karena Allah memerintahkan api itu untuk menjadi dingin: 'Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.' (Al-Anbiya: 69)"

Mursyid tersenyum. "Ibrahim tidak memadamkan api itu dengan tangannya. Ia tidak melarikan diri. Ia bertawakal. Dan Allah. Dzat yang menciptakan api. Memerintahkan api itu untuk tidak membakarnya. Jika Allah berkehendak. Tidak ada yang bisa melukaimu. Jika Allah tidak berkehendak. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."

Tawakal di Zaman Kita

Seorang salik bernama Maryam bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana kami bisa bertawakal di zaman ini? Zaman ketika semua orang cemas tentang masa depan. Ketika pekerjaan tidak pasti. Ketika harga-harga naik. Dan ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok?"

Mursyid menghela napas. "Pertanyaan yang sangat baik, Maryam. Tawakal di zaman ini memang lebih sulit. Tetapi juga lebih mulia."

"Pertama, sadarilah bahwa engkau tidak bisa mengendalikan segalanya. Engkau bisa bekerja. Engkau bisa menabung. Engkau bisa merencanakan. Tetapi engkau tidak bisa mengendalikan apakah pekerjaanmu akan bertahan. Apakah tabunganmu akan cukup. Apakah rencanamu akan berhasil. Setelah engkau berusaha. Serahkanlah hasilnya kepada Allah."

"Kedua, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Jika engkau merasa sendirian. Ingatlah bahwa Allah bersamamu. Jika engkau merasa tidak ada yang menolongmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong. Jika engkau merasa tidak ada yang mencukupimu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki."

"Ketiga, perbanyaklah dzikir dan doa. Dzikir mengingatkanmu bahwa Allah selalu bersamamu. Doa mengingatkanmu bahwa engkau bergantung kepada-Nya. Ketika engkau merasa cemas, berdzikirlah. Ketika engkau merasa takut, berdoalah. Ketika engkau merasa lemah, berserahlah."

"Keempat, jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Setiap orang memiliki ujiannya sendiri. Engkau tidak tahu apa yang sedang Allah persiapkan untukmu. Mungkin apa yang engkau anggap sebagai kegagalan adalah awal dari keberhasilan yang lebih besar. Mungkin apa yang engkau anggap sebagai kehilangan adalah awal dari pemberian yang lebih berharga."

Tawakal adalah Ketenangan

Malam semakin larut. Langit di atas zawiyah mulai cerah. Dan bintang-bintang muncul satu per satu. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan selimutnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya, "tawakal bukanlah kepasrahan yang pasif. Tawakal adalah ketenangan yang aktif. Orang yang bertawakal adalah orang yang berusaha dengan sekuat tenaga. Tetapi hatinya tenang. Karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa mengendalikan angin. Tetapi engkau bisa mengatur layar. Engkau tidak bisa menghentikan ombak. Tetapi engkau bisa belajar berenang. Engkau tidak bisa menghindari badai. Tetapi engkau bisa bertawakal kepada Dzat yang menciptakan badai. "

"Dan ketahuilah, orang yang bertawakal tidak pernah kecewa. Jika ia berhasil, ia bersyukur. Jika ia gagal, ia bersabar. Jika ia diberi, ia berbagi. Jika ia diambil, ia ridha. Ia tidak pernah kehilangan, karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah, dan ia hanya menitipkannya."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang bertawakal kepada-Mu dengan sebenar-benarnya. Karuniakanlah kepada kami ketenangan hati yang tidak tergoyahkan oleh badai kehidupan. Dan jadikanlah kami orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi menyerahkan hasilnya kepada-Mu. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Para salik mengaminkan dengan hati yang lebih tenang. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Kecemasan yang ia rasakan bukanlah karena ia tidak berusaha. Melainkan karena ia belum menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ia bukan tidak mampu. Ia hanya belum bertawakal.

Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang tawakal. Tetapi dengan ketenangan baru di hati. Ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur. Dan Dia selalu bersama mereka.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-13, tentang Mahabbah)

Minggu, 04 Oktober 2026

Menakar Idealisme Rocky Gerung Masuk Istana: "Ketika Akal Sehat Berpindah Pagar"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-56)

Narasi Pemicu: Pada 2 Oktober 2026. Sejarah mencatat sebuah paradoks. Rocky Gerung. Pria yang tujuh tahun sebelumnya berjanji. Akan mengkritik Prabowo “12 menit setelah dilantik”. Justru kini berdiri di Istana Negara. Untuk menandatangani berita acara pelantikan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia tidak sendirian. Bersama 25 tokoh lain. Ia masuk ke dalam lingkaran. Yang selama bertahun-tahun ia gugat dari luar pagar. Ketika ditanya. Ia menjawab dengan tenang: “Saya cuma pindah dari luar ke dalam. Sikap dan pandangan saya tetap radical break”. Percayakah anda? Yuk, kita kupas..!

Merusak Iman Politik

Tapi filsafat kekuasaan tidak pernah menerima jawaban sesederhana itu. Kekuasaan. Sebagaimana dikatakan Adi Prayitno. Tak pernah bercerita. Tak perlu dimusuhi. Ia datang begitu saja. Tapi bisa ‘merusak iman politik’ semua orang.

Pertanyaannya bukan apakah Rocky masih bisa berkata kritis. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi pada akal sehat ketika ia berpindah pagar? Apakah kritik tetap kritik? Ketika ia disampaikan dari dalam kursi yang empuk?

Sejarah pemikiran politik mengajarkan satu hukum besi. Jarak terhadap kekuasaan adalah sumber kebebasan. Tetapi kedekatan dengan kekuasaan adalah ujian terhadap kebebasan itu sendiri. 

Di ruang diskusi. Di kampus. Di warung kopi. Seseorang bisa berbicara tentang keadilan. Secara utuh dan tanpa ampun. Ia bisa mengatakan bahwa rakyat harus menjadi pusat kebijakan. Bahwa kekuasaan harus dikontrol. 

Tapi pemerintahan tidak bekerja dengan gagasan semata. Ia bekerja dengan regulasi. Anggaran. Kompromi. Dan kepentingan yang saling bertabrakan. Idealisme yang steril dari kepentingan akan berhadapan dengan medan yang jauh lebih rumit. Ketika ia masuk ke dalam ruang pengambilan keputusan.

Rocky membela diri dengan argumen yang secara filosofis menarik. Ia membedakan antara mengkritik dan bersikap kritis. Menurutnya, Wantimpres justru harus bersikap kritis terhadap kebijakan. Bukan sekadar mengkritik. 

Ia mengibaratkan dewan ini seperti oversight committee. Yang mengawasi arah kebijakan. Agar sesuai janji kampanye Presiden. Secara etis, argumen ini masuk akal. Tapi ada jurang antara argumen etis dan realitas politik.

Gigin Praginanto menyebut idealisme Rocky sebagai komoditas yang diperjualbelikan untuk masuk ke lingkaran istana. Tudingan ini mungkin terlalu keras. Tapi ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam. 

Dalam politik. Niat tidak pernah menjadi bukti. Yang menjadi bukti adalah tindakan. Dan tindakan pertama Rocky adalah menerima jabatan dari orang yang pernah ia janjikan. Akan ia kritik dalam hitungan menit. 

Jejak digital itu, kata Kompas, kini benar-benar dicatat publik. Bukan untuk menagih janji. Melainkan untuk bertanya. Kemana kritik itu pergi?”.

Pertanyaan itu filosofis sekaligus politis. Dalam tradisi filsafat politik. Ada perbedaan mendasar antara intelektual organik. Dan intelektual istana. Intelektual organik berbicara dari luar. Dari ruang yang memungkinkan ia mengambil jarak.

Intelektual istana berbicara dari dalam. Dari ruang yang menuntut loyalitas. Rocky mungkin percaya bahwa ia bisa menjadi yang pertama tanpa menjadi yang kedua. Tapi kekuasaan tidak bekerja dengan cara itu. Kekuasaan selalu menuntut harga. Dan harga pertama adalah bahasa.

Kini Menjadi Pembela

Bahasa Rocky telah berubah. Dulu ia menyebut pembuat hoaks terbaik adalah penguasa. Dulu ia menyerukan radical break terhadap struktur kabinet. 

Kini ia membela program Makan Bergizi Gratis. Dan menyebut persetujuannya terhadap kebijakan pemerintah. Sebagai bagian dari menjaga kewarasan berpikir.

Warganet yang dulu mengidolakannya. Kini menuduhnya menggadaikan idealisme. Salah satu komentar sinis berbunyi. Sangat disayangkan. Ujung-ujungnya jabatan yang bicara.

Apakah ini pengkhianatan? Ataukah ini kedewasaan? Jawabannya tergantung pada siapa yang menilai. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibantah. Akal sehat yang dulu berada di luar pagar kini berada di dalam ruang yang ia kritik. 

Dan ruang itu memiliki aturannya sendiri. Seperti kata Adi Prayitno. Tak perlu mengutip istilah-istilah filosofis. Jika hanya sekedar ingin ikut nikmati kekuasaan.

Bahayanya Perubahan Tak Sadar

Filsafat mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa berubah. Tapi filsafat juga mengajarkan. Bahwa perubahan yang paling berbahaya adalah perubahan yang tidak disadari. 

Rocky mungkin masih merasa sama. Tapi kekuasaan memiliki cara halus untuk mengubah manusia tanpa mereka sadari. Ia mengubah lawan bicara. Mengubah audiens. Mengubah apa yang dianggap layak untuk diperjuangkan.

Maka pertanyaan yang tersisa. Bukanlah apakah Rocky masih kritis. Melainkan, kritik untuk siapa? 

Jika kritik itu hanya sampai ke telinga Presiden. Ia adalah pertimbangan. Jika kritik itu sampai ke telinga publik dan mengubah kebijakan. Ia adalah idealisme. 

Tapi jika kritik itu berhenti di ruang tertutup. Dan tidak pernah terlihat oleh rakyat. Maka ia telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin tidak lagi layak disebut akal sehat.

Kita menunggu. Bukan dengan sinisme. Tetapi dengan kewaspadaan. Sebab idealisme tidak diuji oleh kata-kata. Melainkan oleh apa yang berani ia korbankan. Ketika kursi sudah diduduki.

Kursi memang bisa merubah akal sehat. Menjadi akal yang diragukan kesehatannya. Maaf...!!

Serial Tasawuf-13: "Mahabbah, Ketika Hati Tak Memiliki Ruang Selain-Nya"

Pengantar : Malam itu, langit di atas zawiyah tidak lagi bening. Awan gelap menggantung rendah. Dan angin bertiup membawa aroma tanah yang b...