Minggu, 29 Maret 2026

Wahabi, Berhentilah Merasa Menjadi Tuhan



Sertifikat Surga dan Stempel Kafir: Ketika "Wahabi" Merasa Jadi Pemilik Sah Kunci Langit.

​Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam panggung sandiwara keagamaan hari ini, ada kelompok yang merasa paling berhak memegang stempel "Lulus Sensor Islam". Mereka adalah kaum Salafi Wahabi, barisan yang seleranya begitu sempit namun lidahnya begitu tajam. 

Pertanyaannya sederhana: Jika mereka menyebut Syi'ah bukan Islam, lantas siapa sebenarnya yang memberi mereka otoritas untuk memecat orang dari agama Tuhan?

​1. Monopoli Kebenaran di Tengah Dangkalnya Pemikiran

​Logika Wahabi seringkali mengidap penyakit "rabun jauh". Mereka begitu lihai melihat noda di jubah orang lain (dalam hal ini Syi'ah), namun buta terhadap api kebencian yang mereka nyalakan sendiri. Menuding Syi'ah bukan Islam adalah hobi yang mereka rawat dengan asupan literatur kebencian. Padahal, dunia mencatat bahwa peradaban Islam berdiri di atas fondasi kemajemukan, bukan keseragaman ala robot yang mereka impikan.

​2. "Siapa Saja Bisa Kafir, Kecuali Kami"

​Tidak ada kelompok yang luput dari sasaran tembak lidah mereka. Kemarin NU dibid'ahkan, hari ini Syi'ah dikafirkan, besok mungkin seluruh dunia akan dianggap sesat kecuali lingkaran kecil mereka sendiri. Jika definisi "Islam" versi mereka adalah yang hobinya mencaci, menyesatkan, dan memutus tali persaudaraan, maka kita patut bertanya: Islam model apa yang sebenarnya mereka bawa?

​"Islam diturunkan sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta), bukan sebagai alat bagi sekelompok orang untuk merasa paling suci sambil menginjak-injak martabat manusia lainnya."

​3. Cermin yang Retak

​Wahabi Salafi seringkali menuduh Syi'ah melakukan taqiyyah atau penyimpangan. Namun, coba lihatlah cermin. Bukankah mengklaim diri sebagai pengikut "Salaf" (generasi awal yang mulia) sambil berperilaku kasar dan penuh caci maki adalah sebuah penghinaan nyata terhadap generasi Salaf itu sendiri?

​Mereka sibuk mengurusi akidah orang lain sampai lupa bahwa akhlak adalah wajah dari akidah itu sendiri. Jika Islam yang mereka tawarkan hanya berisi daftar "larangan" dan "vonis sesat", jangan kaget jika masyarakat mulai jengah dan melihat mereka bukan sebagai pembela agama, melainkan sebagai polisi moral yang haus validasi.

​Kesimpulan: Berhentilah Menjadi Tuhan.
(gr/fb/0326)


Sabtu, 28 Maret 2026

NanaSuryana.Com: Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa

NanaSuryana.Com: Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa: Mengangkat tangan saat berdoa adalah sunnah, adab, dan salah satu sebab dikabulkannya doa dalam Islam. Hal ini berdasarkan banyak hadits sh...

Dalil Mengangkat Tangan Saat Berdoa


Mengangkat tangan saat berdoa adalah sunnah, adab, dan salah satu sebab dikabulkannya doa dalam Islam. Hal ini berdasarkan banyak hadits shahih. Rasulullah ﷺ mencontohkan mengangkat tangan setinggi bahu dengan telapak tangan menghadap ke langit. Bahkan hingga terlihat ketiaknya saat berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemduian disunnahkan mengusap wajah setelahnya.

Hadits-hadits Utama Mengangkat Tangan Saat Berdoa:

Adab Berdoa: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi ﷺ bersabda, "Apabila engkau memohon kepada Allah, maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu, dan jangan dengan bagian luarnya. Dan ketika kamu telah usai, maka usaplah mukamu dengan keduanya." (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud).

Allah Malu Hambanya Tidak Mendapatkan Hasil: "Sesungguhnya Allah itu Maha Hidup lagi Mulia, Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat tangan menghadap kepada-Nya lantas kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa dan tidak mendapatkan hasil apa-apa." (HR. Tirmidzi no. 3556, shahih menurut Al-Albani).

Contoh Nabi ﷺ: Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu'anhu berkata, "Biasanya Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, kecuali ketika istisqa (minta hujan). Beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat ketiaknya yang putih" (HR. Bukhari no. 1031, Muslim no. 895).

Doa Qunut: Rasulullah ﷺ mengangkat tangan saat berdoa qunut (HR. Ahmad, disahihkan oleh An-Nawawi).

Catatan Penting:
Mengangkat tangan adalah tanda kerendahan hati.
Tidak ada keharusan mengangkat tangan terlalu tinggi, cukup setinggi dada atau bahu.
Dicontohkan UAH: Dekatkan kedua telapak tangan dan hubungkan garis di kedua telapak tangan.




Jumat, 27 Maret 2026

Hikmah Paska Ramadhan: "Dia Telah Pergi"


*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*
*بِسْــــــــــــــــــــــم اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم*

Pengantar AI: Hikmah paska Lebaran adalah kembalinya manusia ke fitrah (suci) dengan mempertahankan ketakwaan, konsistensi ibadah, dan peningkatan kepedulian sosial. Bukan sekadar perayaan seremonial. Ini momentum menjaga kesalehan individu dan sosial yang telah ditempa selama Ramadhan, seperti silaturahmi, sedekah, serta puasa Syawal.

Berikut adalah poin-poin hikmah utama setelah Lebaran:
  • Menjaga Konsistensi (Istiqomah) Ibadah: Melanjutkan kebiasaan baik seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, dan sedekah yang dilakukan selama Ramadhan.
  • Puasa Syawal: Dianjurkan puasa enam hari di bulan Syawal, yang pahalanya seperti berpuasa setahun penuh, sebagai bentuk syukur dan latihan istiqomah.
  • Merawat Silaturahmi: Mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan dengan saling berkunjung dan memaafkan, yang membersihkan hati dari dendam.
  • Peningkatan Kepedulian Sosial: Menjaga semangat berbagi yang dimulai dari zakat fitrah hingga berlanjut ke sedekah rutin kepada sesama, terutama yang membutuhkan.
  • Pengendalian Diri: Menerapkan disiplin diri dalam menahan hawa nafsu dan menghindari perilaku berlebihan setelah sebulan penuh dilatih.
  • Refleksi Diri dan Keikhlasan: Menjadikan hati yang bersih setelah Ramadhan sebagai motivasi untuk bekerja dan beramal dengan lebih jujur dan ikhlas.
  • Perubahan Jiwa: Menjadi manusia baru yang lebih bertakwa, menyebarkan kedamaian, dan lebih dekat kepada Allah.
Ramadhan Telah Pergi

Alhamdulillah, Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Kini dia telah pergi meninggalkan kita. Semoga Allah pertemukan lagi dengannya di tahun depan dengan sambutan dan amalan yang lebih baik dari tahun ini. 
Paska Lebaran, umat Islam diharapkan tidak kembali ke pola hidup negatif, melainkan mempertahankan kebiasaan baik yang terbentuk selama bulan puasa.

Apa dan bagaimana yang harus kita lakukan usai Ramadhan?

1. Bersyukur

Mari kita men-syukuri karena Allah telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dan memudahkan kita berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah lainnya.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.(QS. Al Baqarah: 185)

Bersyukur bukan hanya dengan kata-kata tetapi* hakekat syukur adalah dengan tiga hal, dengan hati, dengan lisan dan dengan anggota badan.
Yakinlah dengan syukur kepada Allāh, niscaya Allāh akan menambahkan nikmatNya kepada kita.

2. Istighfar

Walau kita sudah berusaha maksimal mungkin di bulan Ramadhan, tapi kita harus mengakui bahwa kita masih banyak kekurangan dan kekhilafan.
Oleh karenanya, *orang beriman selalu merasa bahwa amal mereka sedikit dan mereka khawatir jika amal mereka tidak diterima di sisi Allah.

Perhatikanlah bagaimana Nabi usai menjalankan shalat beliau istighfar. Selesai bermajlis membaca doa kaffaratul majlis yang isinya istighfar dan di penghujung malam senantiasa istighfar.

Hasan Al Bashri* berkata: "Seorang mukmin itu menggabung dua hal; amal kebaikan dan rasa takut. Berbeda dengan munafiq, dia menggabung dua hal; amal keburukan dan merasa aman".(Jami'ul Bayan 17/68 oleh Ath Thabari).

3. Berdoa

Doa adalah kunci kebaikan dunia. Marilah kita berdoa agar Allah ﷻ berkenan menerima amal ibadah kita yang sedikit ini. Itulah kenapa, dulu para sahabat usai shalat hari raya mereka saling mendoakan:
تقبل الله منا ومنكم
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua.

4. Mengambil ibrah dari ramadhan

Ramadhan adalah madrasah keimanan bagi kita. Jadi, jangan biarkan dia berlalu tanpa bekas. Jangan jadikan ramadhan semacam musim yang datang dan berlalu begitu saja. Marilah kita mengambil pelajaran dan ibrah yang banyak sekali dari bulan Ramadhan. Di antaranya membentuk pribadi yang bertaqwa dan berakhlak mulia.

5. Istiqomah beramal ibadah

Walaupun Ramadhan sudah berlalu meninggalkan kita bukan berarti amal ibadah telah terputus sampai di situ saja, tetapi masih terbuka lebar pintu-pintu kebaikan lainnya ba'da Ramadhan, hingga akhir hayat kita.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).* (QS. Al-Hijr: 99)'

Bila di bulan Ramadhan ada sholat tarawih maka ingatlah bahwa di sana masih ada sholat malam (witir dan tahajud). Bila di bulan Ramadhan kita berpuasa ingatlah bahwa setelahnya ada puasa-puasa sunnah seperti senin kamis, puasa ayyamul bidh dan sebagainya, bahkan di bulan ini setelah Ramadhan, Nabi ﷺ menganjurkan agar kita mengiringinya dengan puasa Syawal, selama enam hari.

Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَْتبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh.”* (HR. Muslim)

Demikian pula ibadah-ibadah lainnya seperti sedekah, membaca Al-Qur'an, berdoa dan lain sebagainya, hendaknya tetap kita lakukan sekalipun Ramadhan sudah usai.
Waffaqaniyallahu wa iyyakum.

Segala puji bagi Allāh ﷻ yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Ya Tuhan kami terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Aamiin ya Rabbal'alamiin.

Wahabi, Berhentilah Merasa Menjadi Tuhan

Sertifikat Surga dan Stempel Kafir: Ketika "Wahabi" Merasa Jadi Pemilik Sah Kunci Langit. ​Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam...