Sabtu, 03 Oktober 2026

Di Balik Mundurnya Dirjen PAS: "Ketika Tanggung Jawab Moral Menjadi Alibi Kejahatan Sistemik"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-55)

Pengantar: Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi akhirnya meletakkan jabatannya pada 1 Oktober 2026. Empat hari setelah ia dengan lantang menolak mundur di hadapan Komisi XIII DPR. Keputusan itu dikemas rapi oleh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.  Sebagai "bentuk pertanggungjawaban moral." Atas terbongkarnya klaster mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong. Namun, di balik narasi mulia itu. Tersimpan pertanyaan yang jauh lebih menghunjam. Apakah ini sungguh pertanggungjawaban? Atau justru kamuflase terakhir dari sebuah kejahatan sistemik yang jauh lebih dalam?

Akibat Adanya Tekanan?

Mundurnya Mashudi mungkin tidak lahir dari kesadaran. Melainkan dari tekanan. Pada rapat dengar pendapat dengan Komisi XIII DPR, 28 September 2026, Mashudi ditantang langsung oleh anggota dewan dari Fraksi PKS, Yanuar Arif Wibowo. 
"Ini Pak Dirjen masih sanggup enggak, Pak, ngurus ini nih, Pak?" Jawabannya hanya satu kata: "Masih".

Sikap itu bukan keberanian. Melainkan kesombongan birokratik. Ia merasa masih bisa menutupi apa yang tidak ingin dilihat publik. 

Namun, ketika publik dan parlemen bergerak. Ketika Ombudsman RI berhasil menyusup ke area terlarang. Melihat langsung rumah-rumah mewah ber-AC. Kolam. Simulator golf. Hingga mobil Alphard dan Fortuner yang terparkir di dalam lapas. Barangkali pilihan mundur menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan muka rezim.

Bukan Sekadar Kelalaian Teknis

Yang jauh lebih mengerikan adalah apa yang tersembunyi di balik pintu belakang klaster itu. Ombudsman menemukan dua akses keluar di bagian belakang rumah. Rumah petak yang tidak terkunci. Yang tembus langsung ke perkampungan warga. Ini bukan sekadar kelalaian teknis. 

Ini adalah infrastruktur pelarian. Yang memungkinkan narapidana. Termasuk pembesar kasus besar. Keluar-masuk lapas tanpa pengawasan. Seolah lapas adalah hotel transit yang bisa dibooking kapan saja. 

Pintu itu sudah ada selama bertahun-tahun. Ironisnya, tanpa terdeteksi oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang dipimpin Mashudi sejak Januari 2025.

Maka siapa sebenarnya yang menjaga lapas? Jika Mashudi tidak tahu. Maka ia adalah pemimpin yang gagal. Jika tahu, maka ia adalah bagian dari jaringan. Tidak ada ruang netral dalam kejahatan sistemik.

Jika Bersalah Tak Menghapus Pidana

Mundurnya Mashudi bukan akhir dari akuntabilitas. Melainkan awal dari pembebasan. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra dengan tenang menyatakan bahwa tanggung jawab etik mendahului tanggung jawab hukum. Pengunduran diri tidak menghapus potensi pidana jika terbukti bersalah. 

Pernyataan itu terdengar bijak. Tetapi sekaligus mematikan. Yusril sendiri mengakui bahwa aparat penegak hukum tetap bisa mengusut Mashudi. Jika ditemukan bukti keterlibatan. 

Namun, siapa yang akan mengusut? Mabes Polri yang kini dipimpin jenderal dengan latar belakang serupa? Kejaksaan yang selama ini lebih sibuk mengejar kambing hitam kecil sementara pemain besar berjalan bebas? Atau Komisi Pemberantasan Korupsi yang kini sedang di ujung tanduk reformasi dan kredibilitas?

Publik harus jeli melihat ritme waktu yang mencurigakan. Ombudsman menemukan klaster mewah pada sidak 23 September 2026. Mashudi menolak mundur pada 28 September. 

Rapuhnya Struktur Pengawasan

Ia kemudian mengundurkan diri pada 1 Oktober. Dalam rentang delapan hari. Ia sempat menolak. Lalu tiba-tiba sadar. Apa yang terjadi di antara dua tanggal itu?

Apakah ada pertemuan tertutup dengan atasan? Dengan pihak-pihak yang berkepentingan? Atau dengan jaringan yang selama ini membiayai "klaster" itu?

Apakah surat pengunduran diri itu ditulis dengan tangan sendiri? Atau disodorkan oleh seseorang yang lebih kuat? Ini bukan spekulasi kosong. Ini adalah pertanyaan rasional yang harus diajukan. Setiap kali seorang pejabat publik yang tidak menunjukkan penyesalan tiba-tiba mundur. Apalagi tanpa penjelasan transparan.

Mundurnya Mashudi memperlihatkan betapa rapuhnya struktur pengawasan di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Mashudi adalah purnawirawan Polri berpangkat Inspektur Jenderal. Beliau enghabiskan kariernya di bidang reserse dan pengawasan. 

Lapas Cibinong Sebagai Pembuka Tabir

Ia tahu persis apa yang disebut penyelidikan. Pengawasan. Dan intelijen. Jika seseorang dengan latar belakang seperti itu tidak mampu mendeteksi klaster mewah di lapas. Yang ia pimpin selama hampir dua tahun. Maka ada dua kemungkinan. Ia tidak kompeten. Yang tidak mungkin mengingat rekam jejaknya. Atau ia sengaja tidak ingin tahu. Dan sengaja tidak ingin tahu adalah bentuk lain dari keterlibatan aktif.

Yang paling mengkhawatirkan dari semua ini adalah pesan yang dikirim kepada masyarakat. Ketika seorang pejabat tinggi mundur karena skandal. Ia bukan sedang menanggung konsekuensi. Ia sedang mengambil jalan keluar paling aman. Meninggalkan jabatan. Pulang ke rumah. Dan menunggu publik lupa. 

Tidak ada hukuman pidana. Tidak ada aset yang disita. Tidak ada keluarga yang diintimidasi. Di negara di mana narapidana biasa tetap membusuk di sel sesak.

Sementara narapidana kaya menikmati sofa empuk dan minuman keras dalam kulkas. Pengunduran diri seorang pejabat adalah kemewahan yang tidak pernah dimiliki oleh rakyat kecil.

Lapas Cibinong telah membuka tabir bahwa pemasyarakatan kita tidak sedang sakit. Ia sudah mati. Dan dihidupkan kembali sebagai bisnis. Dan mundurnya Dirjen PAS bukan penawar racun itu. Melainkan cangkir terakhir yang diangkat untuk bersulang. Dengan mereka yang masih leluasa keluar dari pintu belakang.

Dirjen PAS sudah mengundurkan diri. Lalu, kapan Menteri dan Menkonya?

Serial Tasawuf-10: "Sabar, Tiang Penyangga Jiwa yang Bergetar"


Narasi Pembuka: Seminggu telah berlalu sejak majelis taubat. Para salik kembali ke zawiyah (surau) dengan hati yang lebih ringan. Namun juga dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang mengendap di dada. Zaid, salik muda itu, telah meninggalkan kebiasaan buruknya. Fatimah telah memohon maaf kepada ibunya yang telah lama ia abaikan. Namun keduanya merasakan sesuatu yang aneh. Jalan yang mereka tempuh justru terasa semakin berat.

Apakah Aku Salah Jalan?

Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar zawiyah. Suara air yang jatuh ke tanah menjadi latar belakang yang syahdu bagi majelis yang kembali berkumpul. Mursyid tua itu duduk di tempatnya. Kali ini dengan selimut wol yang menyelimuti pundaknya. Yang mulai rapuh dimakan usia.

"Wahai Mursyid," ujar Zaid dengan suara yang sedikit bergetar." Sejak aku bertaubat, hidupku justru semakin sulit. Teman-temanku menjauhiku. Karena aku tidak lagi ikut dalam urusan yang haram. Bahkan tubuhku terasa lemah karena aku berhenti dari kebiasaan buruk. Apakah aku salah jalan?"

Mursyid memandang Zaid dengan mata yang teduh. Seperti kakek yang memandang cucunya yang terjatuh saat belajar berjalan. Ia tidak langsung menjawab. Ia menuangkan air teh ke cangkir-cangkir kecil dan membagikannya kepada para salik. Lalu ia berbicara dengan suara pelan. Namun setiap katanya seperti ditanam di dalam tanah hati.

Kisah Seorang Petani dan Benih yang Tertidur

"Anak-anakku," Mursyid memulai, "dengarkanlah kisah seorang petani tua."

"Di sebuah desa yang jauh. Hiduplah seorang petani yang telah menanam padi selama lima puluh tahun. Suatu hari, ia memberikan sebutir benih kepada cucunya dan berkata: 'Tanamlah benih ini di tanah. Dan rawatlah setiap hari. Tetapi ketahuilah. Engkau tidak akan melihat hasilnya esok pagi.'"

"Cucunya menanam benih itu. Hari pertama, ia menyiraminya dan melihat tanah yang basah. Hari kedua, ia menyiraminya lagi. Tanah masih sama. Hari ketiga, keempat, kelima tidak ada apa pun yang tumbuh. Sang cucu mulai gelisah. 'Kakek,' katanya, 'benih ini mungkin mati. Aku sudah menyiraminya, tetapi tidak ada yang muncul.'"

"Petani tua itu tersenyum. 'Cucuku,' katanya,' Engkau tidak melihat apa yang terjadi di bawah tanah. Benih itu sedang berjuang. Ia sedang memecahkan kulitnya. Menembus lapisan tanah. Dan mencari akar. Jika engkau berhenti menyiraminya sekarang. Engkau akan membunuhnya. Tetapi jika engkau bersabar. Suatu hari engkau akan melihat pucuk hijau yang menembus permukaan.'"

Mursyid berhenti sejenak. Membiarkan kisah itu meresap. "Zaid, engkau adalah benih itu. Dan masa-masa sulit yang engkau rasakan sekarang adalah lapisan tanah yang harus engkau tembus. Itulah sabar."

Sabar Bukan Berdiam Diri

Seorang salik bernama Umar mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah sabar berarti kami harus menerima segala sesuatu tanpa berbuat apa-apa? Apakah sabar berarti pasrah pada keadaan?"

Mursyid menggeleng pelan. "Tidak, anakku. Itu bukan sabar. Itu keputusasaan yang menyamar sebagai kesabaran."

"Imam al-Ghazali, semoga Allah merahmatinya, mengajarkan bahwa sabar bukanlah berdiam diri tanpa usaha. Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah kepada selain Allah. Sambil tetap berusaha semaksimal mungkin."

"Perhatikanlah seorang petani tadi. Ia tidak duduk diam menunggu padi tumbuh. Ia menyiram. Ia mencabut rumput liar. Ia menjaga dari hama. Tetapi ia tidak mengeluh kepada Allah mengapa padinya belum tumbuh. Itulah sabar."

Mursyid mengangkat tangannya. Membentuk isyarat seperti memegang sesuatu. "Sabar itu seperti tali yang mengikat jiwamu. Ketika musibah datang. Jiwamu ingin meronta. Ingin berteriak. Ingin protes. Sabar adalah tali yang menahannya. Sehingga engkau tetap tenang. Tetap berhusnuzan kepada Allah. Tetap yakin bahwa apa yang Dia berikan adalah yang terbaik."

Tiga Macam Sabar

Mursyid menuangkan teh lagi ke cangkirnya. Lalu melanjutkan dengan suara yang semakin dalam.

"Para ulama membagi sabar menjadi tiga macam, dan engkau harus memahami ketiganya."

"Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Yaitu ketika engkau ditimpa sakit. Kehilangan harta. D ditinggal orang yang engkau cintai. Atau gagal dalam usaha. Sabar di sini berarti tidak mengeluh kepada manusia. Tidak menyalahkan Allah. Dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya."

"Ingatlah kisah Nabi Ayyub AS. Beliau kehilangan harta, anak, dan kesehatan. Istrinya pun hampir meninggalkannya. Tetapi beliau tidak pernah berkata buruk kepada Allah. Beliau hanya berkata: 'Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit. Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara semua penyayang.' (Al-Anbiya: 83).

Beliau tidak mengeluh. Tetapi beliau juga berdoa. Itulah sabar yang sejati. Menahan keluh kesah. Namun tetap memohon kepada Allah."

"Kedua, sabar dalam menjalankan ketaatan. Yaitu ketika engkau harus melawan rasa malas untuk bershalat. Melawan kantuk untuk bangun malam. Melawan kikir untuk bersedekah. Dan melawan hawa nafsu untuk berpuasa. 

Sabar jenis ini sering kali lebih berat daripada sabar menghadapi musibah. Karena tidak ada yang melihat perjuanganmu. Engkau berjuang sendirian di tengah malam. Dan hanya Allah yang tahu."

"Ketiga, sabar dalam meninggalkan maksiat. Yaitu ketika engkau menahan diri dari perbuatan yang haram. Meskipun godongannya begitu kuat. Ketika engkau menahan pandangan dari yang bukan mahram. Menahan lisan dari ghibah. Menahan tangan dari mengambil yang bukan hakmu. Ini adalah sabar yang paling berat. Karena syaitan tidak pernah berhenti menggoda."

Mursyid memandang para salik satu per satu. "Ketahuilah, anak-anakku, ketiga macam sabar ini akan selalu hadir dalam hidupmu. Ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena sakit. Ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena lelah beribadah. Dan ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena menahan diri dari dosa. Barangsiapa yang mampu melewati ketiganya. Ia telah mencapai maqam sabar yang sempurna."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushaf kecilnya lagi. "Dengarkanlah, anak-anakku, betapa Allah memuliakan orang-orang yang sabar."

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153)

"Perhatikan," ujar Mursyid, "Allah tidak berkata 'Allah akan bersama orang-orang yang sabar'. Ia berkata 'Allah beserta orang-orang yang sabar'. Kebersamaan Allah—apa lagi yang engkau cari, anakku? Jika Allah bersamamu, siapa yang bisa melawanmu?"

"Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar: 10)

"Tanpa batas," ulang Mursyid dengan mata berbinar. "Pahala puasa ada batasnya. Pahala haji ada batasnya. Tetapi pahala sabar tidak ada batasnya. Mengapa? Karena sabar adalah ibadah yang tidak pernah berhenti. Selama engkau masih hidup."

"Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (Al-Baqarah: 45)


Mursyid menjelaskan, "Allah tahu bahwa sabar itu berat. Karena itu, Ia tidak menyembunyikan kesulitannya. Tetapi Ia memberikan kunci shalat. Ketika engkau merasa sabarmu habis. Berdirilah untuk shalat. Di sana engkau akan menemukan kekuatan baru."

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid lalu mengisahkan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW tentang sabar.

"Rasulullah SAW bersabda:

'Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya.' (HR. Muslim)

Engkau tidak pernah rugi, anakku. Baik dalam keadaan senang maupun susah. Engkau selalu dalam kebaikan. Asalkan engkau bersyukur dan bersabar."

'Barangsiapa yang bersabar, Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada pemberian yang lebih luas dan lebih baik daripada kesabaran.' (HR. Bukhari dan Muslim)

"Perhatikanlah," kata Mursyid." Sabar itu bukan hanya sesuatu yang engkau miliki. Tetapi sesuatu yang Allah berikan. Semakin engkau bersabar. Semakin Allah tambahkan kesabaran itu kepadamu. Ia seperti otot yang semakin kuat ketika dilatih."

'Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka ia mendapat keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka, maka ia mendapat murka Allah.' (HR. Tirmidzi)

Mursyid memandang Zaid. "Engkau bertanya mengapa hidupmu semakin sulit setelah bertaubat. Jawabannya ada dalam hadits ini. Allah mencintaimu, Zaid. Karena itu, Dia mengujimu. Ujian itu bukan tanda kemarahan. Melainkan tanda cinta. Seperti seorang ayah yang menguji anaknya bukan karena membencinya. Tetapi karena ingin melihat anaknya tumbuh dewasa."

'Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit atau kelelahan, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karena itu.' (HR. Bukhari dan Muslim)


"Bahkan duri yang menusuk kakimu," ujar Mursyid dengan senyum, "itu pun menjadi penghapus dosa. Betapa luasnya rahmat Allah kepada orang yang sabar."

Kisah Nabi Yusuf dan Kesabaran yang Menyelamatkan

Mursyid kemudian bercerita tentang Nabi Yusuf AS. Kisah yang selalu membuat para salik terpesona.

"Yusuf adalah anak yang dicintai ayahnya. Namun saudara-saudaranya cemburu. Mereka melemparkannya ke dalam sumur. Lalu menjualnya sebagai budak. Di Mesir, ia difitnah oleh istri pembesarnya dan dipenjara bertahun-tahun. Betapa panjang penderitaannya."

"Tetapi apa yang Yusuf lakukan? Ia tidak mengeluh. Ia tidak membalas. Ia tetap bersabar. Tetap beribadah. Tetap berhusnuzan kepada Allah. Dan pada akhirnya, Allah mengangkatnya menjadi pembesar Mesir. Dan ia berhasil memaafkan saudara-saudaranya yang telah menzaliminya."

Mursyid menatap para salik. "Anak-anakku, jika Yusuf tidak sabar, ia tidak akan pernah sampai pada kedudukan yang tinggi. Kesabaran bukan hanya menahan diri. Ia adalah tangga menuju kemuliaan."

Sabar adalah Tiang

Malam semakin larut. Hujan telah berhenti. Dan langit mulai cerah. Mursyid bangkit dari duduknya.Membetulkan selimutnya. Dan berkata dengan suara yang penuh wibawa.

"Anak-anakku, ketahuilah bahwa sabar adalah tiang penyangga jiwa. Tanpa sabar, imanmu akan roboh ketika angin ujian bertiup. Tanpa sabar, taubatmu akan patah ketika hawa nafsu menggoda. Tanpa sabar, engkau tidak akan pernah sampai pada maqam berikutnya. Zuhud, tawakal, dan mahabbah."

"Ingatlah pesan ini: Sabar itu pahit di awal. Tetapi manis di akhir. Seperti buah yang belum matang. Ia asam dan membuat bibirmu berkerut. Tetapi jika engkau menunggu hingga matang. Engkau akan merasakan manisnya yang tak terlukiskan."

"Dan ketahuilah, Allah tidak pernah memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Ia tahu batas kesabaranmu. Ia tidak akan memberimu beban yang tidak sanggup engkau pikul. Maka bersabarlah. Karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran yang indah—kesabaran yang tidak diikuti keluhan, kesabaran yang tidak diiringi kemarahan, dan kesabaran yang membuat kami semakin dekat kepada-Mu. Amin."

Para salik mengaminkan dengan hati yang lebih lapang. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Masa-masa sulit yang ia rasakan bukanlah tanda bahwa ia salah jalan. Melainkan tanda bahwa ia sedang tumbuh. Seperti benih yang menembus tanah. Ia sedang berjuang menuju cahaya.

Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang sabar. Tetapi dengan kekuatan baru untuk menjalaninya.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-11, tentang Zuhud)

Jumat, 02 Oktober 2026

Kapolri Baru, Luka Lama: "Narasi Filosofis tentang Kekuasaan, Kepercayaan, dan Bayang-Bayang Narkoba"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-54)

Pengantar: Pada 1 Oktober 2026, DPR RI menyetujui Komjen Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Prosesnya berlangsung kilat: Presiden mengajukan satu nama. Komisi III menyetujui,. Lalu pelantikan digelar pada hari yang sama. Secara hukum. Tak ada yang salah. Mekanisme berjalan. Administrasi rapi. Namun filsafat kekuasaan mengajarkan satu hal yang sering dilupakan. Legalitas tidak selalu sama dengan legitimasi. Sesuatu bisa sah secara prosedur. Tetapi belum tentu sah di hati rakyat. Jangan sampai luka lama terkuak kembali.

Sudah Waktunya?

Pergantian Kapolri bukan sekadar rotasi jabatan. Ia adalah cermin bagaimana negara memaknai kepercayaan. Polri adalah institusi yang diberi hak istimewa untuk memakai kekuatan. Melakukan penahanan. Dan bahkan merenggut kebebasan. 

Karena itu, ia seharusnya menjadi institusi paling terbuka. Paling diawasi. Dan paling takut kehilangan legitimasi. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada uji publik. Tidak ada evaluasi kinerja yang dibuka ke ruang publik. 

Ketua DPR Puan Maharani hanya menyebut “sudah waktunya”. Publik, terutama para korban yang bertahun-tahun menanti keadilan. Tidak diajak bicara. Padahal mereka adalah pemilik sah dari institusi yang disebut pelayan masyarakat itu.

Survei menunjukkan kepercayaan publik terhadap Polri berada di angka 76,2 persen. Angka itu terdengar melegakan. Namun filsafat kepercayaan tidak hidup di atas kertas. Ia hidup di pengalaman. 

Amnesty International Indonesia mencatat sedikitnya 34 warga sipil menjadi korban pembunuhan di luar hukum sepanjang 2025. Dengan pelaku didominasi anggota Polri. 

Aliansi Jurnalis Indonesia mencatat 21 dari 31 kasus kekerasan fisik terhadap jurnalis dilakukan aparat kepolisian. Di kota-kota, warga masih mengeluh laporan sulit diproses tanpa koneksi atau biaya. Ada jurang antara statistik dan realitas. Jurang itu tidak bisa ditutup hanya dengan mengganti pucuk pimpinan.

Masih Tebang Pilih dan Rawan Konflik

Pengamat kepolisian ISESS, Bambang Rukminto, menegaskan bahwa PR terbesar Polri bukan soal siapa yang duduk di kursi Kapolri. Melainkan penegakan hukum yang masih tebang pilih dan rawan konflik kepentingan. 

Reformasi kultural belum tuntas. Pendidikan kepolisian yang hierarkis. Loyalitas korps yang sering mengalahkan kebenaran. Mekanisme etik yang tertutup. Serta promosi jabatan yang tidak transparan. 

Selama akar-akar kultural ini tidak dibenahi. Pergantian Kapolri hanya akan menjadi siklus yang berulang. Harapan baru. Kekecewaan lama.

Janji Dengar 9 Kegelisahan

Suyudi membawa visi “Polri Bersama Masyarakat” dan berjanji mendengarkan sembilan kegelisahan utama rakyat. Janji itu mulia. Namun reformasi kultural tidak akan lahir dari slogan humanis. 

Ia lahir dari keberanian membawa pelanggaran berat ke proses pidana terbuka. Bukan sekadar mutasi atau sidang etik tertutup. Ia lahir dari transparansi promosi jabatan dan keterbukaan dalam setiap investigasi yang menyangkut nyawa warga.

Yang paling menghunjam dari krisis kepercayaan ini. Adalah ketika mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan narkoba. Justru menjadi bagian dari jaringan itu sendiri. 

Data KontraS mencatat 106 anggota polisi terlibat kasus peredaran narkotika sepanjang 2019–2022. Kasus AKBP Didik Putra Kuncoro, Kapolres Bima Kota, yang kedapatan menyimpan sekoper narkoba dan menerima Rp2,8 miliar dari bandar. Hanyalah puncak gunung es. 

Sebelumnya, Irjen Teddy Minahasa memanipulasi barang bukti 5 kilogram sabu untuk dijual kembali melalui bandar di Jakarta. Di Majene, Aipda AK berperan sebagai pemasok utama sabu bagi komunitas nelayan dengan sistem titip jual.

Setiap kasus ini bukan sekadar pelanggaran individu. Melainkan cermin bahwa loyalitas korps dan budaya impunitas telah menciptakan ruang aman bagi kejahatan untuk tumbuh dari dalam.

Kejahatan Narkoba sebagai Kejahatan Jejaring

Komisioner Kompolnas Choirul Anam menegaskan bahwa kejahatan narkoba adalah kejahatan jejaring. Tidak cukup hanya menghukum anggotanya tanpa membongkar jaringannya. 

Ironi terbesar dari pergantian Kapolri. Bahwa orang yang dipercaya memimpin pemberantasan narkoba justru datang dari institusi. Yang sebagian anggotanya masih menjadi bagian dari rantai pasok barang haram itu sendiri. 

Tanpa pembenahan kultural yang radikal. Transparansi promosi. Pengawasan melekat yang nyata. Dan keberanian membongkar jaringan hingga ke atas. Maka visi “Polri Bersama Masyarakat” akan tetap menjadi slogan kosong di tengah rakyat. Yang setiap hari melihat polisi menangkap pengedar kecil sementara bandar berpangkat terus lolos.

Apakah Negara Hanya Hadir Bagi Yang Punya Kuasa?

Filsafat kenegaraan mengajarkan bahwa negara adalah tubuh. Polri adalah salah satu tangannya. Jika tangan mencuri. Yang salah bukan hanya tangan itu. Melainkan saraf. Jantung. Dan kesadaran yang menggerakkannya. 

Maka pergantian Kapolri tidak boleh dibaca sebagai titik akhir. Ia adalah awal dari pertanyaan yang lebih dalam. Apakah negara ini benar-benar hadir bagi korban? Atau hanya hadir bagi mereka yang punya kuasa?

Masyarakat tidak menuntut Kapolri yang sempurna. Mereka menuntut polisi yang hadir ketika dilaporkan. Yang menjelaskan perkembangan kasus tanpa harus diminta. Dan yang tidak menembak anak-anak di jalanan. 

Rakyat tidak butuh slogan baru. Mereka butuh bukti bahwa keadilan bukan barang mewah. Yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan.

Selama akar kultural tidak dibenahi. Pergantian Kapolri hanya akan memindahkan bayangan. Bukan menghapus kegelapan. 

Kapolri baru adalah cermin. Jika cermin itu retak. Wajah negara ikut retak. Dan tugas kita, sebagai rakyat. Bukan sekadar menunggu perubahan dari atas. Melainkan terus mengawal. Mengkritisi. Dan menuntut agar hukum benar-benar menjadi milik semua orang. Maaf, nih Jenderal. Sekadar mengkritisi...!!

Serial tasawuf-9: "Kisah Mursyid dan para Salik tentang Taubat"


Narasi Pembuka: Malam itu, langit di atas zawiyah (surau) kecil di pinggir kota tampak begitu bening. Bintang-bintang bergantung rendah. Seolah ingin mendengar percakapan yang sedang berlangsung di bawahnya. Di dalam zawiyah, duduklah seorang Guru Mursyid (Guru Spiritual) di atas sajadah lusuh. Yang telah menemaninya puluhan tahun. Di hadapannya, duduk bersila dua puluh orang salik. Para penempuh jalan spiritual. Dengan wajah-wajah yang haus akan cahaya.


Taubat sebagai Pembuka Pintu Utama Spiritual

Seorang salik muda bernama Zaid memberanikan diri mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku telah lama menempuh jalan ini. Aku telah berpuasa, berdzikir, dan bershalat malam. Namun hatiku terasa kering. Aku merasa berdiri di depan pintu yang terkunci. Apa yang harus aku lakukan?"

Mursyid tersenyum. Api kecil di sudut ruangan berkobar sejenak. Menerangi keriput wajahnya yang dipenuhi hikmah. "Duduklah, anakku," ujarnya dengan suara lembut namun berwibawa. "Malam ini, aku akan bercerita kepadamu tentang sesuatu yang engkau cari. Tentang pintu pertama—taubat."

Mursyid memulai. "Ada seorang lelaki yang memiliki kebun zaitun. Pohon-pohonnya dulu subur. Buahnya lebat. Dan minyaknya jernih. Tetapi bertahun-tahun ia lalai. Ia tidak memangkas dahan. Tidak menyiram akar. Dan membiarkan rumput liar tumbuh menjalar. Perlahan-lahan, daun-daun mulai menguning. Buah-buah mengecil. Dan akhirnya. Pohon-pohon itu kering. Tak lagi berbuah."

"Suatu hari, lelaki itu datang ke kebunnya dan menangis. Ia menyesali kelalaiannya. Ia ingin pohon-pohon itu hidup kembali. Tetapi akarnya telah membusuk. Apa yang harus ia lakukan?"

Seorang salik menjawab, "Ia harus mencabut rumput liar itu, Wahai Mursyid."

"Benar," ujar Mursyid. "Tetapi sebelum mencabut. Ia harus mengakui bahwa rumput itulah yang membunuh pohonnya. Ia harus menyesali mengapa ia membiarkannya begitu lama. Dan ia harus berjanji tidak akan membiarkannya lagi."

Mursyid memandang para salik satu per satu. "Itulah taubat. Kalian adalah kebun itu. Dosa-dosa adalah rumput liar. Dan Allah adalah Pemilik kebun yang menanti hamba-Nya untuk membersihkan akarnya."

Tiga Lapis Taubat

Mursyid melanjutkan, "Imam al-Ghazali. Semoga Allah merahmatinya. Mengajarkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan di lisan. Taubat adalah revolusi yang menyentuh tiga lapis dirimu."

"Lapisan pertama adalah ilmu. Engkau harus benar-benar tahu apa yang engkau lakukan. Bukan sekadar tahu bahwa itu dosa. Tetapi memahami mengapa Allah melarangnya. Dan apa akibatnya bagi jiwamu. Orang yang bertaubat tanpa ilmu ibarat orang buta yang mencoba membersihkan kaca."

"Lapisan kedua adalah hati. Yaitu keadaan hatimu. Ketika engkau menyadari dosamu. Hatimu harus bergetar. Bukan sekadar menyesal karena takut neraka. Tetapi malu kepada Allah. Zat yang telah memberimu begitu banyak nikmat. Namun engkau balas dengan kedurhakaan. Air mata bukan tanda kelemahan. Melainkan tanda bahwa hatimu masih hidup."

"Lapisan ketiga adalah amal. Seperti amal buruk. Engkau harus meninggalkan perbuatan itu. Seketika. Tanpa menunda. Dan engkau harus menggantinya dengan ketaatan. Seperti seorang pencuri yang tidak cukup hanya menyesal. Tetapi harus mengembalikan barang curiannya dan berhenti mencuri."

Syarat-Syarat Taubat

Salik lain, Fatimah, bertanya dengan suara pelan, "Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa taubat kami diterima?"

Mursyid menghela napas. "Ada tiga syarat yang diajarkan al-Ghazali. Dan engkau harus memenuhinya."

"Pertama, meninggalkan dosa itu seketika. Bukan besok. Bukan setelah Ramadhan. Bukan setelah engkau tua. Sekarang. Seperti orang yang melihat ular di kasurnya. Ia tidak menunggu. Ia segera bangkit."

"Kedua, menyesali yang telah lalu. Penyesalan ini bukan sekadar sedih. Tetapi penyesalan yang membakar. Yang membuatmu bertanya: 'Mengapa aku melakukan itu? Bagaimana aku bisa tega melanggar perintah Zat yang mencintaiku?'"

"Ketiga, berketetapan untuk tidak mengulangi. Ini yang paling sulit. Karena syaitan tidak pernah tidur. Tetapi ketahuilah. Jika engkau jatuh lagi. Bangkitlah lagi. Taubat tidak membatalkan taubat yang sebelumnya."

"Dan jika dosamu berkaitan dengan hak orang lain," tambah Mursyid, "maka engkau harus meminta maaf dan mengembalikan haknya. Tidak ada taubat yang sah jika engkau masih memakan hak tetanggamu. Atau masih menyakiti hati orang tuamu."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushaf kecil di sisinya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang kalian."

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah: 222)

"Perhatikan, Allah tidak berkata 'mengampuni'. Ia berkata 'menyukai'. Ada perbedaan besar antara diampuni dan dicintai. Orang yang diampuni mungkin masih jauh. Tetapi orang yang dicintai. Ia berada di dekat Allah."

Mursyid membacakan lagi:

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang mukmin, supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31)

"Keberuntungan hakiki," ujar Mursyid. "Bukanlah harta, bukanlah jabatan. Keberuntungan hakiki adalah ketika engkau kembali kepada Allah dan Dia menerimamu."

Dan ia membaca ayat yang paling membuat hati para salik bergetar:

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'" (Az-Zumar: 53)

"Lihatlah," kata Mursyid dengan mata berkaca-kaca. "Allah tidak berkata 'hai orang-orang berdosa'. Ia berkata 'hai hamba-hamba-Ku'. Bahkan dalam keadaan melampaui batas. Engkau masih disebut hamba-Nya. Betapa lembutnya Allah kepada kita."

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid lalu mengisahkan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda:
'Setiap anak Adam pasti berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.' (HR. Tirmidzi)

Engkau tidak perlu menjadi sempurna, anakku. Engkau hanya perlu menjadi orang yang bangkit setiap kali jatuh."

'Penyesalan adalah taubat.' (HR. Ahmad)

Al-Ghazali berkata: "Penyesalan itu sudah mencakup ilmu dan amal. Karena engkau tidak mungkin menyesal tanpa tahu. Dan tidak mungkin menyesal tanpa berubah."

'Sesungguhnya Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang sahara.' (HR. Muslim)

"Bayangkan," ujar Mursyid, "seorang musafir di tengah gurun, kehabisan air. Untanya membawa seluruh bekalnya hilang. Ia sudah putus asa. Sudah bersiap mati. Lalu tiba-tiba—ia melihat untanya berdiri di sana. Betapa gembiranya ia? Itulah gambaran kegembiraan Allah ketika engkau bertaubat."

'Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai ke tenggorokan.' (HR. Tirmidzi)

"Jangan menunda," pesan Mursyid. "Karena engkau tidak tahu kapan ruhmu akan sampai di tenggorokan."

Tingkatan-Tingkatan Taubat

Malam semakin larut. Api di sudut ruangan mulai meredup. Tetapi mata para salik justru semakin bercahaya.

Mursyid berkata, "Ketahuilah, taubat memiliki tingkatan. Taubat orang awam adalah berpaling dari dosa menuju ketaatan. 

Taubat orang pilihan adalah berpaling dari kelalaian menuju kesadaran akan kehadiran Allah. 

Dan taubat para kekasih Allah adalah berpaling dari segala sesuatu selain Allah. Sehingga sekecil apa pun lalai dari mengingat-Nya. Dianggap sebagai dosa yang perlu ditangisi."

Zaid, salik muda itu, bertanya lagi, "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai tingkatan tertinggi itu?"

Mursyid tersenyum. "Engkau bisa, jika engkau mau. Tetapi ingatlah, taubat bukan peristiwa sekali seumur hidup. Ia adalah perjalanan. Setiap hembusan nafas adalah kesempatan untuk kembali. Bahkan Nabi SAW, yang telah dijamin bebas dari dosa, beristighfar seratus kali sehari. Apakah engkau lebih suci dari beliau?"

Pintu yang Selalu Terbuka

Sang Mursyid bangkit. Membetulkan sarungnya. Dan memandang para salik dengan penuh kasih.

"Jadi anak-anakku," ujarnya, "taubat adalah gerbang pertama. Tanpa melewatinya, engkau tidak akan pernah sampai ke maqam sabar, zuhud, tawakal, apalagi mahabbah. Seperti orang yang ingin masuk istana. Engkau harus melewati pintu depan. Tidak ada jalan lain."

"Ingatlah pesan Al-Fudhail bin Iyadh: 'Istighfar tanpa meninggalkan dosa adalah taubatnya para pendusta.' Maka janganlah engkau mempermainkan taubat."

"Dan ketahuilah, pintu ini tidak pernah tertutup. Selama matahari belum terbit dari barat. Selama ruh belum sampai di tenggorokan. Selama itu pula Allah menanti. Maka bersegeralah. Sebelum 'besok' menjadi kata yang tidak pernah datang."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang Engkau cintai karena taubat kami. Dan janganlah Engkau biarkan kami mati dalam keadaan lalai. Aamiin."

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan dengan ilmu baru di kepala. Tetapi dengan cahaya baru di hati. Sebab mereka telah memahami. Bahwa taubat bukanlah akhir dari perjalanan. Melainkan awal dari segalanya.

Wallahu a'lam bish-shawab
(Ikuti dan nantikan Serial Tasawuf-10)

Di Balik Mundurnya Dirjen PAS: "Ketika Tanggung Jawab Moral Menjadi Alibi Kejahatan Sistemik"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-55 ) Pengantar: Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi akhirnya meletakkan jabatannya pada 1 Oktober 2026....