Sabtu, 23 Mei 2026

Ketika Ziarah Kubur Divonis "Kuburiyun"


Sebagai warga ASWAJA (Ahli Sunah Wa Jamaah), kita pasti tidak asing dengan kata ziarah kubur. Baik ziarah ke makam orang tua, kerabat, sesepuh desa (punden), para Wali (Wali Songo) bahkan sampai kepada Rasulullah SAW. 

Kita semua percaya bahwa dengan berziarah kita mendapatkan keberkahan atas apa yang telah kita lakukan. Yaitu mengirim do’a kepada ahli kubur yang telah mendahului kita.

Namun, apa yang telah kita amalkan itu dibid’ahkan atau divonis sebagai kuburiyun atau penyembah kbur oleh sebagian orang yang tidak suka dengan ziarah kubur, terutama dari kalangan Salafi-Wahabi. Tidak terkecuali dalam berziarah ke makam Rasulullah SAW dan para Waliyullah.

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar an-Nawawiyah mengatakan bahwa Ziarah ke makam Rasulullah SAW adalah bagian dari pendekatan diri kepada Allah yang terpenting dan perintah yang paling utama. 

Hal ini berdasarkan Hadist:

قال الذهبي طرقه كلها لينة يقوي بعضها بعضا لأن ما في رواتها متهم بالكذب قال ومن أجودها إسنادا حديث حاطب من زارني بعد موتي فكأنما زارني في حياتي أخرجه ابن عسا كر وغيره (الدرر المنتثرة في الآحاديث المشتهرة للحافظ جلال الدين السيطي)

Artinya: “semua jalur riwayatnya (ziarah ke makam Nabi) lemah, tapi sebagian menguatkan riwayat yang lain, karena diantara perawinya ada yang dituduh berdusta.” Al-Dzahabi berkata: “diantara yang paling baik sanadnya adalah hadis riwayah Hatib: “barang siapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka seperti ziarah ketika aku hidup”, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dan lainnya”. (al-Suyuti dalam kitab al-Durar al-Muntatsirah I/19).

Selain hadist di atas, Rasulullah SAW juga melakukan ziarah ke makam-makam, utamanya makam para syuhada yang gugur dalam perang Uhud di Makkah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim al-Taimi:

كَانَ النَّبِيُ صَلَى لله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي قُبُوْرَ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ رَأْسِ الْحَوْلِ فَيَقُوْلُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ قَالَ وَكَانَ اَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ ( مصنف عبد الرزاق 6716 ودلائل النبوة للبيهقى)

Artinya: “diriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim al Taimi. Ia berkata: Rasulullah SAW mendatangi kuburan Syuhada tiap awal tahun dan beliau bersabda: salam damai bagi kalian dengan kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (al-Ra’d). Abu Bakar, Umar, Utsman juga melakukan hal yang sama”. (HR Abdurrazaq dalam al-Mushannaf No 6716 dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah III/306).

Hal ini menguatkan bahwa ziarah kubur sangat dianjurkan dan di sunnahkan. Terutama ziarah ke makam Rasulullah SAW dan para Syuhada (wali). 

Selain itu Sayyidah ‘Aisyah juga meriwayatkan tentang alangkah senangnya orang yang ada di dalam kubur ketika ada orang yang berziarah ke makamnya:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَاَل رَسُوْلُ اللهِ صَلَى لله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَزُوْرُ قَبْرَ أَخِيْهِ وَيَجْلِسُ عِنْدَهُ إِلَّا اسْتَأْنَسَ بِهِ وَزَدَ عَلَيْهِ حَتَّى يَقُوْمُ

Artinya: “diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulallah Saw bersabda: Tak seorangpun yang berziarah ke makam saudaranya dan akan duduk di dekatnya, kecuali ia merasa senang dan menjawabnya hingga meninggalkan tempatnya,”.

Berdasarkan riwayat di atas, maka berdo’a (ziarah) untuk ahli kubur di makamnya lebih utama. Jika makam orang tua, kerabat dan teman sangat jauh, maka boleh berdo’a dari rumah kita. [1]

Muhyidin Abdussomad dalam Bukunya Fiqih Tradisionalis; Jawaban Pelbagai Persoalan keagamaan sehari-hari menjelaskan bahwa awal masa Islam Rasulullah SAW pernah melarang umatnya untuk berziarah kubur. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga akidah umat Islam. Pada waktu itu Rasulullah SAW khawatir jika ziarah kudur diperbolehkan, umat Islam akan percaya dan menyembah kuburan.

Setelah akidah umat Islam kuat, dan tidak dikhawatirkan akan berbuat syirik, Rasulullah SAW memperbolehkan ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat membantu orang yang hidup mengingat akan kematiannya.[2] 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبَرةِ أُمِّهِ فَزُرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْأَخِرَةَ ( سنن الترمذى)

Artinya: “Dari Buraidah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda “saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberikan izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang, berziarahlan! Karena ziarah dapat mengingatkanmu kepada akhirat.” (Sunan Al-Tirmidzi, 974)

Berdasarkan hadits di atas sudah jelas bahwa ziarah kubur diperbolehkan bahkan disunnahkan, karena sekarang iman umat Islam sudah kuat dan pastinya selalu memohon kepada Allah meskipun berada pada kuburan. 

Umat Islam yang melakukan ziarah kubur, bukan berarti ia menyembah kuburan atau nisan. Melainkan mereka mengingat akan kematian (akhirat) karena sesungguhnya merekapun akan mengalami hal yang sama diwaktu yang akan datang. 

Selain itu, mereka juga memohonkan kepada Allah SWT agar orang tua, kerabat dan yang diziarahi mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk senantiasa berziarah kepada wali (orang yang dekat dengan Allah). Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Hajar al-Haitami, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang ziarah kepada para wali, sebagaimana ia tulis dalam kitabnya Al Fatawi Al Kubra al Fiqhiyyah berikut:

(وسئل) رضي الله عنه أن زيارة قبور لأولياء في زمن معين مع رحلة اليها، (فأجاب) بقوله زيارة قبور لأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة اليها. )الفتوي القبر الفقهية، جوز الثاني، رقم الثانية عثرة)

Artinya: “beliau pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula dengan perjalanan ke makam mereka.”[3]

Ketika berziarah ke makam baik para wali maupun ke makam orang tua, kerabat, tetangga, dan lain sebagainya umat Islam dianjurkan membaca Al Qur’an utamanya surat Yaasin dan lainnya. 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِقْرَؤُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يَس (سنن أبى داود)

“Dari Ma’qil bin Yasar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “bacalah surat Yasin pada orang-orang yang mati di antara kamu,” (Sunan Abi Dawud 2714).

Maka, ziarah kubur itu memang dianjurkan dalam agama Islam bagi laki-laki maupun perempuan, sebab di dalamnya terkandung manfaat yang sangat besar. Baik bagi orang yang telah meninggal dunia berupa hadiah pahala bacaan Al Qur’an, ataupun bagi orang yang berziarah itu sendiri, yakni mengingat-kan manusia akan kematian yang pasti akan menjemputnya. 
Wallahu a’lam.

(Penulis, Ahmad Afandi, adalah guru Mapel Ke-NU-an MA Amtsilati Bangsri dan ketua MGMP Ke-NU-an KKMA 02 Kab. Jepara).

Referensi:
[1] Ma’ruf Khazin. Jawaban Amaliyah dan Ibadah yang dituduh Bid’ah, Sesat, Kafir, dan Syirik. Surabaya: Al-Miftah. 2013. Hal 191-197.

[2] Muhyidin Abdussomad. Fiqh Tradisionalis; Jawaban Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari. Surabaya: Khalista. 2004. Hal 215

[3] Ibnu Hajar al-Makki al Haitami.Al-Fatawi al-Kubra al Fiqhiyyah, juz II, hal 24

Kamis, 21 Mei 2026

Pεntingnyα Mεmbαcα Sεtiαp Hαri: MΕRΑWΑT PIKIRAN DΑN MΕNGASAH JIWA



Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Pεrnαhkαh kitα mεmbαcα sεbuαh buku, lαlu mεrαsα bαhwα kitα sεdαng mεmbukα diri kitα sεndiri? Di bαlik hαlαmαn-hαlαmαn sεdεrhαnα, tεrnyαtα tεrsεmbunyi duniα yαng lυαs tαnpα bαtαs. Dαn kitα sεring kαli lεbih sibuk mεnεlυsuri lαyαr, dαripαdα mεnyεlαmi mαknα. Mεmbαcα itu tεrlihαt sεdεrhαnα. Hαnyα mεnyusuri huruf dαn kαtα. Nαmun di bαlik kεsεdεrhαnαn itu, tεrsimpαn kεkuαtαn yαng luαr biαsα.

Dεngαn mεmbαcα, kitα tidαk hαnyα mεnαmbαh wαwαsαn, tεtαpi jυgα mεngαsαh jiwα. Pikirαn mεnjαdi lεbih jεrnih, ingαtαn lεbih tεrjαgα, dαn cαrα pαndαng kitα tεrbukα lεbih lυαs. Nαmun kitα jugα pεrlυ jujur. Di nεgεri kitα, minαt mεmbαcα mαsih tεrtinggαl. Bυkαn kαrεnα kitα tidαk mαmpu, tεtαpi kαrεnα bεlum tεrbiαsα.
Pαdαhαl, sεtiαp hαri kitα mεmbαcα stαtus, pεsαn, bεritα singkαt, nαmun bεlum tεntu mεmbαcα buku αtαu αrtikεl yαng bisα mεnυmbuhkαn jiwα. 

Mεmbαcα itu bukαn soαl bαnyαknyα hαlαmαn, tεtαpi kεdαlαmαn dαlαm pεnyεrαpαn mαknα. Kεnαli mαnfααtnyα. Kεtikα kitα mεmbαcα dεngαn tεkun, αdα bεbεrαpα hαl yαng pεrlαhαn tumbuh dαlαm diri kitα: Otαk kitα tεrlαtih untuk fokus dαn bεrpikir lεbih jεrnih. Wαwαsαn kitα mεlυαs, mεnεmbus bαtαs tεmpαt dαn zαmαn.

Kαtα-kαtα kitα mεnjαdi lεbih hidup dαn bεrmαknα. Hαti kitα menjαdi lεbih tεnαng, sεpεrti sεdαng bεrdiαm dαlαm dzikir yαng hαlus. Dαn yαng pαling indαh, kitα bεlαjαr mεmαhαmi orαng lαin dεngαn lεbih dαlαm. Mεmbαcα, tεrnyαtα, bukαn hαnyα mεngisi kεpαlα, tεtαpi jυgα mεlυnαkkαn hαti dαn jiwα.

Dαlαm kεhidupαn kitα sεbαgαi sεorαng bεrimαn, mεmbαcα mεmiliki kεdudukαn yαng istimεwα. Bukαn hαnyα mεmbαcα buku, tεtαpi jugα mεmbαcα αyαt-αyαt kεhidupαn. Mαkα, sεtiαp huruf yαng kitα bαcα, bukαn hαnyα mεnjαdi ilmu, tεtαpi jugα cαhαyα. Mεmbαcα jugα bisα mεnjαdi bεkαl untuk sεdεkαh ilmu pεngεtαhuαn. Dαn sεtiαp ilmu yαng kitα pεlαjαri, αdαlαh invεstαsi yαng tαk αkαn pεrnαh rugi.

Kitα sεring mεrαsα bisα mεmbαcα cεpαt kεtikα mεmbαcα novεl αtαυ cεritα yαng mεnyεntuh hαti. Hαlαmαn dεmi hαlαmαn tεrlεwαt tαnpα tεrαsα. Bαhkαn, sεbεlum sεlεsαi, kitα sυdαh mεrαsα pεnαsαrαn. Nαmun, kεtikα bεrαlih kε buku ilmiαh αtαυ pεlαjαrαn, mαtα mυlαi bεrαt, pikirαn pυn mυlαi mεlαyαng. Αkhirnyα, buku ditutup sεbεlum mαknαnyα sεmpαt mεrεsαp. Di sinilαh kitα bεlαjαr, bαhwα mεmbαcα bukαn hαnyα soαl sυkα αtαυ tidαk sυkα, tεtαpi jugα tεntαng mεlαtih kεsαbαrαn dαn kεistiqomαhαn.

Adα lαngkαh sεdεrhαnα nαmun sαngαt bεrαrti. Tαk pεrlυ lαngkαh bεsαr. Cukup mulαi dαri yαng kεcil, nαmun rutin: Luαngkαn wαktu 10–15 mεnit sεtiαp hαri. Pilih bαcααn yαng ringαn, yαng bisα kitα nikmαti. Tεtαpkαn wαktu yαng konsistεn, pαgi αtαυ mαlαm. Jikα sibuk, mαnfααtkαn αudiobook sαmbil bεrαktivitαs. Sεdikit, nαmun istiqomαh… itu lεbih bεrnilαi dαripαdα bαnyαk, nαmun tεrhεnti di tεngαh jαlαn.

Adα tεlαdαn dαri mεrεkα yαng tεkun mεmbαcα. Bαnyαk orαng bεsαr mεnjαdikan mεmbαcα sεbαgαi kεbiαsααn hαriαn. Mεrεkα mεnyεmpαtkαn wαktu di tεngαh kεsibukαn untuk mεnyαpα buku. Bukαn kαrεnα mεrεkα pυnyα bαnyαk wαktu, tεtαpi kαrεnα mεrεkα tαhu, mεmbαcα αdαlαh cαrα mεrαwαt pikirαn.

Sεorαng pεrnαh bεrkαtα, “Μεmbαcα mεmbεri kitα tεmpαt lαin untuk pεrgi, tαnpα hαrυs mεninggαlkαn rumαh.” Dαn bεnαr, sαhαbαt… dεngαn mεmbαcα, kitα bisα mεnjεlαjαhi duniα, mεnεmυi bαnyαk jiwα, dαn αkhirnyα… mεnεmυi diri kitα sεndiri. Mεmbαcα bukαn hαnyα tεntαng mεnαmbαh ilmu, tεtαpi tεntαng mεnumbuhkαn kεsαdαrαn. Bukαn hαnyα mεngisi wαktu, tεtαpi mεnghidupkαn wαktu.

Mαkα, sαhαbαt… mαri kitα bukα buku, pεlαn-pεlαn. Bukα hαlαmαn dεmi hαlαmαn. Dαn biαrkαn hidυp kitα pυn ikut tεrbukα. Dαlαm sεbυαh buku, kitα bisα mεnεmυkαn bυkαn hαnyα kαtα, tεtαpi jεjαk-jεjαk hikmαh yαng mεnunggu untuk dipαhαmi. Pαdα αkhirnyα, bυkαn bεrαpα bαnyαk buku yαng kitα bαcα… mεlαinkαn sεbεrαpα dαlαm buku yαng dibαcα itu mαmpu mεngubαh hidup kitα mεnjαdi lεbih bαik.

Sαlαm αwεt sεhαt, jαngαn lupα bαhαgiα.

Bαndυng Sεlαtαn, 11 Mεi 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Rabu, 20 Mei 2026

Tatacara Menghadiahkan Surat Al-Fatihah Bagi Yang Sudah Meninggal Dunia


Dalam pandangan mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, pahala bacaan Al-Qur'an, termasuk Surat Al-Fatihah, dapat sampai kepada mayit jika dibacakan dengan niat ikhlas dan menghadiahkan pahalanya untuk si mayit. 

Hal ini berdasarkan keumuman dalil tentang keutamaan bersedekah dan mendoakan mayit, serta praktik para sahabat seperti Ibn Umar dan lainnya yang pernah menghadiahkan pahala bacaan untuk orang yang telah meninggal. 

Namun, perlu dicatat bahwa sebagian ulama seperti Mazhab Hambali dalam riwayat yang lebih kuat dan sebagian ulama kontemporar menyatakan bahwa yang sampai kepada mayit hanyalah doa dan sedekah, bukan pahala bacaan Al-Qur'an itu sendiri. 

Namun pendapat yang menyatakan sampainya pahala bacaan Al-Qur'an lebih masyhur dan diamalkan oleh banyak umat Islam. Yang terpenting adalah memperbanyak doa dan sedekah untuk mayit, karena itu disepakati keutamaannya. Wallahu a'lam.

Amalan familiar

Dalam tradisi umat Islam, membaca Surat Al Fatihah lalu menghadiahkannya kepada orang yang telah meninggal dunia merupakan amalan yang sangat familiar, terutama di Indonesia oleh Kaum Nahdhiyin.

Amalan ini biasa dilakukan setelah shalat, saat ziarah kubur dalam tahlilan, maupun doa keluarga. Meski tampak sederhana, praktik ini menyimpan makna spiritual yang dalam dan memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.
Dasar Bolehnya Mengirimkan Al Fatihah

Mengenai menghadiahkan bacaan surat Al-fatihah kepada orang yang sudah meninggal, ada perselisihan di kalangan para ulama.

Ada yang berpendapat pahalanya tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal, tetapi ada pula yang menyatakan pahalanya sampai.

Salah satu pendapat yang memperbolehkan mengirimkan doa dan dzikir untuk orang yang sudah meninggal, termasuk bacaan surat Al-Fatihah adalah Ibnu Qudamah dalam kitabnya Syarh Al Kabir.

وأي قربة فعلها وجعل ثوابها للميت المسلم نفعه ذلك

Artinya: “Ibadah apapun yang dikerjakan dan pahalanya dihadiahkan untuk mayit yang muslim, maka dia bisa mendapatkan manfaatnya.”

Dalam pandangan 4 Mazhab, tidak ada yang melarang mutlak mengirimkan Al Fatihah kepada orang yang meninggal. Mazhab Hanafi dengan tegas memperbolehkan, sementara mazhab Maliki, Syafi'i dan Hanbali terbelah menjadi dua, sebagian memperbolehkan dan sebagian melarang.

Bacaan Surat Al Fatihah

Arab:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ، مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ، اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

Latin:
Bismillaahir raḫmaanir-raḫiim, Alḫamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin,
Ar rahmaanir rahiim, maaliki yaumid diin, iyyaaka na‘budu wa iyyaaka nasta‘iin,
Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraatal ladziina an‘amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin. Aamiin.

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah. Hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Kauanugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Semoga Kaukabulkan permohonan kami.

Tata Cara Menghadiahkan Surat Al Fatihah

Sebelum menghadiahkan surat Al Fatihah, didahului dengan mengkhususkan orang-orang yang akan dikirimi bacaan surat Al Fatihah.

Berikut urut-urutannya

1. Surat Al Fatihah dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Keluarganya

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَوْلَادِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ ، لَهُمُ الفَاتِحَة

Ila hadhratin nabiyyil musthafaa sayyidinaa Muḫammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama wa aalihi wa azwaajihi wa aulaadihi wa dzurriyyaatihi lahumul faatihah.

Kepada yang terhormat Nabi Muhammad, segenap keluarga, istri-istrinya, anak-anaknya, dan keturunannya. Bagi Mereka (pahala membaca) surat Al Fatihah.

2. Surat Al Fatihah Dihadiahkan kepada Para Sahabat dan Orang-orang Sholeh

ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، لَهُمُ الفَاتِحَة

Tsumma ilaa hadhrati ikhwaanihi minal anbiyaa’i wal mursaliin wal auliyaa’i wasy syuhadaa’i wash shaalihiin wash shahaabati wat taabi‘iin wal ‘ulamaa’il ‘aamiliin wa jamii‘il malaaikatil muqarrabiin, lahumul faatihah.

Lalu kepada segenap saudara beliau dari kalangan pada nabi, rasul, wali, syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi‘in, ulama al-amilin (yang mengamalkan ilmunya), semua malaikat Muqarrabin. Bagi Mereka (pahala membaca) surat Al Fatihah.

3. Surat Al Fatihah Dihadiahkan untuk Ahli Kubur dan Para Leluhur

ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ خُصُوْصًا إِلَى اٰبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا، لَهُمُ الفَاتِحَة

Tsumma ilaa jamii‘i ahlil qubuuri minal muslimiina wal muslimaati wal mu’miniina wal mu’minaati khushushan ilaa abaa’inaa wa ummahaatinaa wa ajdaadinaa wa jaddaatina wa masyaakhinaa wa liman aḫsana ilainaa, lahumul faatihah.

Kemudian kepada semua ahli kubur Muslimin, Muslimat, Mukminin, Mukminat, khususnya bapak kami, ibu kami, kakek kami, nenek kami, guru kami, dan mereka yang telah berbuat baik kepada kami, Bagi Mereka (pahala membaca) surat Al Fatihah.

4. Menghadiahkan Surat Al Fatihah Ahli Kubur untuk yang Disebut Namanya.

Terakhir adalah menghadiahi orang yang diziarahi dengan bacaan surat Al Fatihah.

a. Untuk ahli kubur laki-laki

خُصُوصًا إِلٰى رُوحِ (......) لَهُ الْفَاتِحَة

Khususon ilaa ruhii (sebutkan Namanya) lahu Al Faatihah.

b. Khusus untuk ruh (sebutkan Namanya) untuknya (pahala membaca) surat Al Fatihah.

Untuk ahli kubur perempuan

خُصُوصًا إِلٰى رُوحِ (......) لَهَا الْفَاتِحَة

Khususon ilaa ruhii (sebutkan Namanya) laha Al Faatihah.

Khusus untuk ruh (sebutkan Namanya) untuknya (pahala membaca) surat Al Fatihah

c. Untuk ahli kubur lebih dari satu

خُصُوصًا إِلٰى اَرْوَاحِ (......) لهُمُ الفَاتِحَة

Khususon ilaa arwahi (sebutkan nama-namanya) Lahumul Faatihah.

Khusus untuk ruh-ruh (sebutkan nama-namanya) Bagi mereka (pahala membaca) surat Al Fatihah.
Doa Setelah Mengirim Al Fatihah

Setelah selesai mengirimkan Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca doa berikut.

Arab:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا قِرَاءَتَنَا سُورَةَ الْفَاتِحَةِ

وَأَهْدِ ثَوَابَهَا إِلَى رُوحِ عَبْدِكَ (فُلَانٍ/فُلَانَةٍ)
وَاغْفِرْ لَهُ وَلَهَا، وَارْحَمْهُ وَارْحَمْهَا
وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
وَوَسِّعْ قَبْرَهُ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ
وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُ
وَاجْمَعْنَا بِهِ فِي دَارِ كَرَامَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Latin:

Allāhumma taqabbal minnā qirā’atanā sūratal-Fātiḥah,
Wa ahdi tsawābahā ilā rūḥi ‘abdika (fulān/fulānah),
Waghfir lahu wa lahā, warḥamhu warḥamhā,
Wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu,
Wa wassi‘ qabrahu wa nawwir lahu fīhi,
Waj‘alil-jannata matswāhu,
Wajma‘nā bihī fī dāri karāmatika yā arḥamar-rāḥimīn.

Artinya:

Ya Allah, terimalah dari kami bacaan Surat Al-Fatihah ini.
Sampaikanlah pahalanya kepada ruh hamba-Mu (nama).
Ampunilah dosa-dosanya, rahmatilah ia, sejahterakan dan maafkan kesalahannya.
Lapangkan dan terangkan kuburnya, jadikan surga sebagai tempat tinggalnya.
Dan kelak kumpulkanlah kami bersamanya di tempat kemuliaan-Mu,
wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Demikian tatacara menghadiahkan surat Al-Fatihah bagi yang sudah meninggal dunia. Semoga bermanfaat.
(Dari berbagai sumber).

Selasa, 19 Mei 2026

Topeng Kesalehan di Balik Wajah "Pemurni" Agama: MERASA PEMILIK KUNCI SURGA


Ada semacam ironi yang menggelitik ketika kita melihat sekelompok orang datang dengan jenggot menggantung dan celana menggantung, lalu merasa berhak menggantungkan nasib iman orang lain di ujung lidah mereka. 

Mereka datang dengan narasi "kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah", sebuah jargon suci yang sayangnya sering kali hanya menjadi bungkusan untuk memaketkan kebencian terhadap tradisi lokal.

​1. Tamu yang Ingin Menggusur Tuan Rumah

​Islam masuk ke Nusantara dengan kelembutan, lewat akulturasi budaya yang cantik. Lalu tiba-tiba, muncul kelompok yang merasa paling "nyunnah" ini. Dengan modal hafalan satu-dua dalil yang dipahami secara tekstual dan kaku bin saklek, mereka mulai menghakimi kakek nenek kita sebagai ahli bid’ah. Alamak...!!

​Seolah-olah, surga adalah properti pribadi milik kelompok mereka, dan kunci pintunya hanya bisa didapat jika Anda membuang semua tradisi luhur bangsa ini. Mereka bukan sekadar tamu; mereka adalah tamu yang ingin merobohkan tiang rumah dan menggantinya dengan beton gurun yang gersang.

​2. Musuh dalam Selimut: Pecah Belah dari Dalam

​Bahaya terbesar bukan datang dari mereka yang terang-terangan membenci Islam, melainkan dari mereka yang merusak Islam dari dalam dengan cara membenturkan sesama Muslim.

​Hobi Menyesatkan: Sedikit-sedikit syirik, sedikit-sedikit khurafat, s
edikit-sedikit bid'ah, sedikit-sedikit tuduhan syi'ah...

​Kekeringan Spiritual: Agama diubah menjadi daftar "Boleh" dan "Tidak Boleh" yang kaku, kehilangan rasa (dzauq) dan cinta.

​Sentimen Anti-Budaya: Bagi mereka, mencintai tanah air dan menghormati leluhur dianggap sebagai penghalang menuju tauhid yang murni.

​3. Penyamaran yang Gagal

​Mereka sering mengaku sebagai penyelamat akidah, namun jejak yang mereka tinggalkan justru adalah perpecahan di tingkat akar rumput. Masjid yang tadinya tenang menjadi medan perang urat syaraf. Pengajian yang tadinya sejuk menjadi ajang caci maki terhadap amalan mayoritas umat, medsos jadi tempat berisi tegang menyoal fu'ruiyah atau khilafiyah...

​"Jika caramu membela Tuhan adalah dengan merusak persaudaraan antarmanusia, mungkin sebenarnya bukan Tuhan yang sedang kau bela, melainkan ego kelompokmu sendiri yang merasa paling benar."

​Kesimpulan: Hati-hati dengan "Kemasan"

​Kita harus lebih jeli. Jangan tertipu oleh jubah yang panjang jika di baliknya tersimpan niat untuk memangkas keragaman Islam. Islam itu luas, seluas rahmat Tuhan, jangan mau disempitkan ke dalam kotak pemikiran yang hanya mengenal warna hitam dan putih.

​Sejatinya, musuh Islam yang paling berbahaya adalah mereka yang membuat orang lain takut dan benci terhadap Islam karena perilaku eksklusif dan radikal mereka sendiri. Beragama itu pakai hati, bukan cuma pakai dalil yang dipaksakan untuk membenci. Nah, kan...!!

Ketika Ziarah Kubur Divonis "Kuburiyun"

Sebagai warga ASWAJA (Ahli Sunah Wa Jamaah), kita pasti tidak asing dengan kata ziarah kubur. Baik ziarah ke makam orang tua, kerabat, sesep...