Ungkapan ini merupakan ucapan selamat dan doa agar bulan suci Ramadhan membawa limpahan kebaikan, kemurahan hati, dan keberkahan bagi umat Muslim. Ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah waktu di mana Allah melimpahkan pahala berlipat ganda.
Makna dan Penggunaan arti secara harfiah: Ramadhan (bulan ke-9 Hijriah) + Karim (mulia/dermawan/murah hati).
Adapun makna yang dikandungnya merupakan doa agar Ramadhan memberikan kemurahan hati atau kebaikan kepada mereka yang merayakannya. Hal ini sering digunakan sebagai ucapan salam, sambutan, atau doa selama bulan puasa
.
Jika seseorang mengucapkan "Ramadhan Karim", bisa dijawab dengan "Allah Akram" yang berarti "Allah Maha Pemurah".
Adapun perbedaan Ramadhan Karim vs. Ramadhan Mubarak, yakni Jika Ramadhan Karim berfokus pada kemurahan hati atau kemuliaan bulan Ramadhan. Maka Ramadhan Mubarak mengandung arti "Ramadhan yang diberkahi".
Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai penggunaan kata Karim, ungkapan ini secara umum dimaknai positif sebagai bentuk penghormatan dan doa atas keberkahan bulan Ramadan.
Ramadhan Telah Datang
Saudaraku,
Kita senantiasa berharap berusia panjang dan diberikan kesempatan menapaki bulan mulia Ramadhan sebagaimana tertuang dalam doa yang sering kita panjatkan semenjak bulan Rajab dan Sya’ban,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”
Satu doa ringkas penuh makna yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertujuan mengingatkan setiap Mukmin untuk bersegera dan berlomba-lomba menyiapkan diri, baik secara lahir maupun batin untuk menyambut datangnya bulan mulia, bulan penuh limpahan keberkahan, bulan suci, bulan istimewa yang penuh rahmat, ampunan...
Saudaraku,
Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita siapkan dalam menyambut dan memaksimalkan keistimewaan bulan Ramadhan yakni persiapan lahir dan batin, fisik dan mental, materil dan immateril.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskankan dan mengingatkan kepada setiap pribadi hamba Allah yang Mukmin Muslim untuk menunaikan kewajiban ibadah di bulan suci Ramadhan. Sebuah kewajiban yang juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yakni ibadah puasa. Kewajiban untuk menahan diri, tidak makan dan minum serta menghindari segala sesuatu yang sekiranya dapat membatalkan puasa sebagaimana tuntunan syariat...
Oleh karenanya, perlu persiapan lahiriah agar tubuh dapat beradaptasi dengan baik secara bertahap yakni dengan tutorial latih diri untuk berpuasa di bulan-bulan sebelumnya, seperti bulan Rajab dan Sya’ban. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan contoh dan kita sebagai umatnya patut untuk meneladaninya sebagaimana termaktub dalam hadits,
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa.
Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain persiapan lahiriah, penting juga untuk melakukan persiapan batiniah dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dan persiapan awal yang pantas dan bisa dilakukan adalah dengan menanamkan kegembiraan dalam hati, rasa dan pikiran.
Sebab secara psikologis, perasaan dan pikiran gembira saat menyambut sesuatu akan menumbuhkan motif, dorongan dan perasaan kecintaan dalam melakukan sesuatu. Selanjutnya jika motif dan perasaan cinta sudah tumbuh saat melakukan sesuatu, maka pasti akan dapat mencapai perolehan hasil yang maksimal.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sebuah hadits kepada ummatnya untuk senantiasa menghadirkan perasaan dan pikiran gembira menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Kegembiraan dan perasaan suka ria ini juga niscaya bakal diganjar dengan sebuah keistimewaan pula,
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa juga bersabda,
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.”
(HR. Imam Nasa’i)
Saudaraku,
Yang tidak kalah penting adalah pembekalan diri dengan giat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman beragama dalam Islam melalui majelis taklim sebagai upaya mengkalibrasi tingkat keimanan dan keyakinan yang mungkin sebelumnya tenggelam dalam hiruk pikuk perhiasan duniawi yang melalaikan.
Yang tidak kalah penting adalah pembekalan diri dengan giat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman beragama dalam Islam melalui majelis taklim sebagai upaya mengkalibrasi tingkat keimanan dan keyakinan yang mungkin sebelumnya tenggelam dalam hiruk pikuk perhiasan duniawi yang melalaikan.
Hal itu agar tidak kecewa dan merugi disebabkan kehilangan -start point- dan peluang-peluang menarik dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah sepanjang bulan Ramadhan.
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita tetap Istiqamah senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita untuk meraih keberkahan dan ridha-Nya.
Aamiin Ya Rabb.
Wallahu a'lam bishawab...

