Kamis, 22 Oktober 2026

Lakon Greenpeace di Bundaran Hotel Indonesia


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-65)

Alkisah, pada suatu pagi yang hening di penghujung Oktober, tatkala embun masih menggantung di dedaunan dan lalu lintas belum riuh membangunkan ibu kota, berdirilah Monumen Selamat Datang dengan angkuhnya. Patung perunggu itu cetusan Presiden Soekarno ini, sejak lama menjadi saksi bisu denyut nadi Jakarta. Memandang ke utara. Ke arah Istana Merdeka. Seolah menyimpan seribu cerita tentang janji dan kenyataan. Namun pagi itu, syahdan, ada yang berbeda pada tubuh monumen yang elok itu. Beberapa manusia muda memanjat. Bukan untuk bersenda gurau. Melainkan untuk menyuarakan sesuatu yang menggedor jantung dan menyesakan dada.

Mereka adalah aktivis Greenpeace Indonesia. Dengan gerak sigap nan hati-hati. Mereka naik ke atas Monumen Selamat Datang. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam lewat lima menit ketika dua lembar spanduk raksasa berlatar kuning dibentangkan dari puncak monumen hingga menjuntai ke area kolam. 

Warna kuning itu. Di tengah langit pagi yang masih kelabu. Terasa seperti secercah harapan yang menantang, sekaligus peringatan yang tak bisa diabaikan. Satu spanduk menghadap ke utara. Ke arah Istana Merdeka, bertuliskan: “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”. 

Spanduk lainnya menghadap ke selatan. Ke arah keramaian Bundaran HI, dengan tulisan: “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”.

Aksi itu bukan tanpa alasan. Greenpeace Indonesia menyebutnya sebagai aksi damai tanpa kekerasan. Sebuah desakan kepada pemerintah agar lebih serius menangani krisis iklim. Yang kian mengancam kualitas hidup masyarakat. 

Juru kampanye keadilan iklim mereka, Jeanny Sirait, berkata bahwa krisis ekologis bukan lagi soal lingkungan semata. Melainkan telah menyentuh keselamatan. Kesejahteraan. Dan hak warga untuk hidup sehat. 

Cuaca ekstrem.  Bencana yang silih berganti. Kabut asap yang berkepanjangan. Serta kenaikan harga pangan dan gelombang pemutusan hubungan kerja. Semuanya bagai anyaman duka yang menjerat kehidupan orang kecil. 

Di atas monumen yang menjulang itu. Spanduk kuning seolah menjadi layar tempat bangsa ini membaca kembali janji-janji yang belum tertunaikan.

Pemerintah bukan tidak tahu. Ia tahu banjir datang tiap musim. Tahu kekeringan membakar sawah. Tahu harga pangan merayap naik. Tahu rakyat kecil menanggung beban paling berat. Tetapi tahun demi tahun. Yang hadir bukan keberpihakan. Melainkan retorika. 

Krisis iklim dijadikan tamu kehormatan di podium. Tetapi diusir dari anggaran. Subsidi energi fosil tetap mengalir deras. Sementara rakyat diminta sabar menghadapi bencana yang datang berulang. Perizinan tambang dan eksploitasi alam dibuka lebar. Sementara nyawa warga di kawasan rawan bencana dibiarkan bergantung pada doa dan hujan. 

Pemerintah seolah sibuk merawat kuasa. Tetapi lupa bahwa kuasa tanpa perlindungan rakyat hanyalah menara yang berdiri di atas tanah lapuk.

Lihatlah lakon pagi itu: Spanduk kuning diturunkan dalam hitungan jam. Aktivis dievakuasi dengan sigap. Ambulans disiapkan. Aparat berjaga. 

Tetapi berapa jam yang dibutuhkan pemerintah untuk menurunkan emisi? Berapa tahun yang dibutuhkan untuk menurunkan biaya hidup? Berapa nyawa yang harus jatuh sebelum kebijakan iklim tidak lagi menjadi janji musiman? 

Monumen Selamat Datang dijaga mati-matian karena ia cagar budaya. Tetapi bukankah nyawa rakyat, tanah, air, dan udara juga cagar yang tak boleh rusak? Mengapa spanduk lebih cepat diturunkan daripada kebijakan yang tertunda? Mengapa aktivis lebih cepat dievakuasi daripada warga yang terendam banjir?

Tatkala spanduk itu berkibar. Aparat kepolisian bersama unsur TNI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak. Evakuasi pun dilakukan. Enam aktivis—dua perempuan dan empat laki-laki, diturunkan dari monumen. 

Salah seorang aktivis perempuan tampak lemas saat turun. Sehingga langsung dilarikan dengan ambulans ke klinik Biddokkes Polda Metro Jaya. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung, menyatakan bahwa keselamatan jiwa raga adalah yang utama. Seraya mengingatkan bahwa Bundaran HI telah ditetapkan sebagai cagar budaya. 

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pun angkat bicara. Ia menghormati hak berdemokrasi. Namun berpesan agar ketertiban umum tetap terjaga.

Syahdan, spanduk itu akhirnya diturunkan sekitar pukul delapan pagi. Monumen Selamat Datang kembali sunyi. Seolah tak pernah terjadi apa-apa. Namun jejak kata-kata di atas kain kuning itu tak serta-merta lenyap. Ia tinggal di udara. Di ingatan. Di ruang publik yang katanya milik bersama. 

Di balik eloknya patung dan megahnya bundaran. Ada suara yang mencoba mengingatkan: Bahwa alam sedang berubah. Bahwa hidup semakin sulit. Dan bahwa sebuah bangsa yang besar semestinya mendengar bisikan rakyatnya sebelum bisikan itu berubah menjadi badai.

Maka, di kala fajar yang hening itu. Bundaran Hotel Indonesia bukan sekadar persimpangan jalan. Ia menjadi panggung kecil tempat demokrasi diuji. Antara hak menyampaikan pendapat dan kewajiban menjaga ketertiban. Antara keberanian bersuara dan kehati-hatian merawat cagar budaya. 

Dan monumen yang berdiri tegak itu. Dengan segala keelokannya, seakan berkata: Inilah Jakarta. Kota yang terus belajar menjadi rumah bagi semua suaranya. 

Namun jika pemerintah terus menutup telinga. Maka spanduk kuning hari itu bukanlah akhir. Melainkan pembuka dari suara-suara yang akan datang lebih keras. Lebih cadas. Dan lebih menghunjam. Ora percoyo? Yo, wis, Sakarepmu...!!

Serial Tasawuf-29, Tahalliy-4: "Ikhlas dan Shidq"


Malam itu ribat sunyi. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang menyentuh daun-daun kering. Salik duduk di depan mihrab. Memandang lampu minyak yang nyalanya kecil tetapi tegak. Syekh Abdul Qadir al-Jailani datang membawa secangkir air. Lalu duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat mereka berdua hanya memandang nyala lampu itu.

"Hai anakku," akhirnya Mursyid membuka suara. "Engkau telah menghiasi dirimu dengan taubat, zuhud, sabar, syukur, tawakkal, dan ridha. Kini tiba saatnya engkau menghiasi diri dengan permata ketujuh: Ikhlāṣ, kemurnian niat."

"Apakah ikhlas itu, Guru? Bukankah aku sudah berniat beribadah kepada Allah?"

Mursyid tersenyum tipis. "Engkau benar, anakku. Tetapi ketahuilah, niat itu ibarat air. Ia bisa jernih, bisa keruh. Ikhlas adalah engkau menjernihkan air itu sampai tidak ada lagi endapan selain Allah."

"Engkau beramal bukan karena pujian. Bukan karena takut celaan. Bukan karena ingin dianggap mulia. Bukan karena kebiasaan. Tetapi semata-mata karena Allah."

Salik menunduk. "Aku sering merasa bahwa amalku bercampur dengan keinginan agar dilihat orang."

"Itu pengakuan yang jujur. Kejujuran itu adalah awal dari ikhlas. Ketahuilah, wahai salik. Bahwa ikhlas itu lebih halus dari rambut di atas cermin." 

"Engkau bisa beribadah sepanjang malam. Tetapi bila di dalam hatimu ada rasa bangga yang tersembunyi. Maka amal itu telah ternoda. Engkau bisa bersedekah dengan tangan kanan sampai tangan kiri tidak mengetahui. Tetapi bila di dalam hatimu ada harapan agar orang lain mendengar. Maka sedekah itu telah kehilangan ruhnya."

"Bagaimana aku bisa mengetahui bahwa amalku belum ikhlas, Guru?"

"Tandanya ada tiga. Pertama, engkau merasa senang bila amalmu dipuji. Dan engkau merasa malas bila amalmu tidak dilihat. 

Kedua, engkau merasa berat beramal bila sendirian. Tetapi engkau merasa ringan beramal bila bersama orang banyak. 

Ketiga, engkau sering menceritakan amal kebaikanmu kepada orang lain. Padahal engkau tahu bahwa Allah telah mengetahuinya."

Salik menghela napas. "Lalu bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, sebelum beramal, periksalah niatmu. Tanyakanlah, 'Untuk siapa aku melakukan ini?' Bila jawabannya bukan Allah. Maka perbaikilah niat itu sebelum engkau melangkah. 

Kedua, sembunyikanlah amal-amal kebaikanmu sebisa mungkin. Sebab amal yang disembunyikan itu lebih dekat kepada ikhlas. 

Ketiga, jangan engkau menunggu balasan dari manusia. Bila engkau berbuat baik lalu tidak dihargai, bersyukurlah, sebab itu tanda bahwa pahalamu masih utuh di sisi Allah. 

Keempat, perbanyaklah doa agar Allah menyucikan niatmu. Sebab ikhlas itu bukan hasil usahamu semata. Tetapi karunia dari-Nya."

"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah kita perlu memberi contoh kepada orang lain? Bukankah amal yang terlihat bisa menginspirasi?"

"Benar, anakku. Engkau boleh beramal di depan orang lain bila itu untuk mengajar atau memberi contoh. Tetapi jangan engkau beramal agar dilihat. Bedanya halus: orang yang mengajar beramal karena ia ingin orang lain belajar; orang yang riya beramal karena ia ingin dirinya dipuji. Yang pertama niatnya Allah. Yang kedua niatnya manusia."

Mursyid mengambil lampu minyak itu dan mengangkatnya. "Lihatlah lampu ini. Ia menerangi ruangan tanpa meminta pujian. Ia tidak berkata, 'Betapa hebatnya aku.' Ia hanya menyala. Dan cahayanya jatuh pada siapa saja yang ada di sekitarnya. Begitulah seharusnya amalmu. Menyala karena Allah, menerangi sekitar, tetapi tidak menuntut pujian."

Salik meneteskan air mata. "Ya Allah, jadikanlah amalku murni untuk-Mu."

Mursyid meletakkan tangannya di pundak salik. "Engkau telah memulai, anakku. Setiap kali engkau memeriksa niatmu. Engkau telah menanam satu benih ikhlas. Setiap kali engkau menyembunyikan kebaikanmu. Engkau telah menyirami benih itu. Suatu hari, benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya tidak pernah busuk."

Fajar belum sepenuhnya terbit ketika salik datang ke serambi. Ia telah merenungkan pelajaran tentang ikhlas. Ia mulai menyadari bahwa masih ada satu hal yang belum ia miliki: Kejujuran yang menyeluruh. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di atas sajadahnya. Memegang kitab yang telah lusuh. Ia menatap salik dengan mata yang tenang.

"Hari ini kita akan membicarakan permata kedelapan dalam tahalliy: ṣidq, kejujuran," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik, bahwa shidq itu bukan hanya engkau tidak berdusta dengan lisan. Shidq itu adalah engkau jujur dalam ucapan, jujur dalam perbuatan. Dan jujur dalam keadaan batin. Engkau tidak menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di dalam hatimu."

"Bukankah itu sama dengan meninggalkan kemunafikan, Guru?"

"Benar, anakku. Tetapi meninggalkan kemunafikan itu adalah takhalliy: membersihkan diri. Adapun shidq itu adalah tahalliy: Menghiasi diri dengan kejujuran yang positif."

"Engkau tidak hanya berhenti berdusta. Tetapi engkau aktif berkata benar. Berbuat benar. Dan menjadi benar. Engkau tidak hanya meninggalkan keburukan. Tetapi engkau mengisi dirimu dengan kebaikan yang jujur."

Salik merenung. "Aku sering merasa bahwa kejujuran itu sulit. Terutama ketika aku harus mengakui kesalahanku."

"Ketahuilah, wahai salik, bahwa kejujuran itu memang sulit. Tetapi ia adalah obat yang pahit. Orang yang jujur mungkin disakiti oleh kebenaran yang ia ucapkan. Tetapi ia tidak akan pernah disakiti oleh kebohongan yang ia sembunyikan." 

"Nabi ﷺ bersabda bahwa kejujuran itu menuntun kepada kebaikan. Dan kebaikan itu menuntun kepada surga. Seorang yang senantiasa jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur."

"Bagaimana tanda-tanda shidq, Guru?"

"Tandanya ada empat. Pertama, engkau berkata benar meskipun itu memberatkanmu. 

Kedua, engkau mengakui kesalahanmu tanpa mencari alasan. 

Ketiga, engkau menepati janjimu meskipun engkau harus bersusah payah.

Keempat, engkau tidak menampakkan kekhusyukan di hadapan orang lain bila hatimu sedang lalai. Engkau tidak berpura-pura lebih baik dari kenyataan dirimu."

Salik menunduk. "Aku sering berpura-pura kuat di hadapan orang lain. Padahal hatiku sedang gelisah."

"Itu bukan shidq, anakku. Shidq itu engkau jujur pada dirimu sendiri. Engkau boleh menyembunyikan rahasiamu, tetapi engkau tidak boleh menampakkan sesuatu yang tidak ada." 

"Bila engkau sedang sedih. Engkau tidak perlu tersenyum seolah-olah dunia ini tidak memiliki beban. Bila engkau sedang lemah. Engkau tidak perlu berpura-pura kuat. Kejujuran itu justru membuatmu lebih dekat kepada Allah. Sebab engkau mengakui kelemahanmu di hadapan-Nya."

"Bagaimana aku bisa melatih shidq, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk berkata benar. Meskipun itu pahit.

Kedua, jangan engkau berbicara tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui. 

Ketiga, jangan engkau berjanji kecuali engkau mampu menepatinya. 

Keempat, biasakanlah untuk mengakui kesalahanmu sebelum orang lain mengetahuinya. 

Kelima, ingatlah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu. Bahkan sebelum engkau mengucapkannya. Bila engkau sadar bahwa Allah mengetahui rahasiamu. Engkau tak akan berani berpura-pura."

"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah kejujuran bisa menyakiti orang lain? Bukankah kita harus berbicara dengan lembut?"

"Benar, anakku. Kejujuran itu tidak boleh diucapkan dengan kasar. Engkau boleh berkata benar dengan lembut. Engkau boleh menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyembuhkan, bukan melukai."

"Shidq itu bukan berarti engkau menghina orang lain dengan kebenaran. Tetapi engkau menyampaikan kebenaran dengan kasih. Kebenaran tanpa kasih itu keras. Dan kasih tanpa kebenaran itu lemah. Shidq itu menggabungkan keduanya."

Mursyid mengambil sebatang kayu dan menggambar garis lurus di pasir. "Lihatlah garis ini," katanya. "Ini adalah shidq. Ia lurus, tidak bengkok. Bila engkau menambah lengkungan, ia tidak lagi menjadi garis lurus." 

"Begitu pula kejujuran. Ia adalah garis lurus yang menghubungkan engkau dengan Allah, dengan manusia, dan dengan dirimu sendiri. Bila engkau menambah atau mengurangi. Maka engkau telah keluar dari shidq."

Salik menatap garis itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah banyak menambah dan mengurangi.

"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri, "ketahuilah bahwa engkau telah menyelesaikan delapan permata dalam tahalliy: taubat, zuhud, sabar, syukur, tawakkal, ridha, ikhlas, dan shidq. 

Dengan delapan permata ini, hatimu telah berhias. Tetapi ketahuilah, bahwa tahalliy ini bukanlah tujuan, melainkan persiapan. Setelah ini, engkau akan memasuki tajalliy. Dimana Allah menampakkan diri-Nya padamu. Maka bersiaplah. Sebab perjalananmu masih panjang."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu bersujud di mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, jadikanlah ikhlasku sebagai cahaya yang menerangi amalku. Dan jadikanlah shidqku sebagai jalan yang lurus menuju-Mu. Agar aku bisa beramal dengan hati yang murni. Berkata dengan lisan yang jujur. Sampai Engkau menampakkan diri-Mu padaku."

Dan fajar pun terbit. Cahayanya jatuh pada wajah salik yang masih bersujud. Suasana Ribat itu dipenuhi dengan ketenangan yang tidak berasal dari dunia.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutnya, Tajalliy.

Rabu, 21 Oktober 2026

Memahami Kemitraan Presiden Prabowo dan Sekjen PBB



Spotlight: Kunjungan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres ke kediaman pribadi Presiden Prabowo Subianto di Hambalang pada 18 Oktober 2026 bukan sekadar protokol diplomatik biasa. Guterres bermalam di Padepokan Garuda Yaksa. Disambut anak-anak berpakaian adat. Dan berbincang akrab dengan Prabowo yang mengenakan batik parang cokelat. Gestur semacam ini melampaui formalitas hubungan bilateral. Ia adalah bahasa simbolik yang menyatakan bahwa kemitraan Indonesia–PBB telah memasuki ruang kepercayaan personal. Bukan sekadar transaksi institusional.

Secara substansi, pertemuan itu membahas reformasi sistem multilateral. Kemajuan Agenda 2030. Pembiayaan pembangunan inovatif. Aksi iklim. Serta situasi Palestina. 

Guterres secara eksplisit berterima kasih atas dukungan Indonesia terhadap multilateralisme. Dan kontribusinya dalam operasi pemeliharaan perdamaian. Lebih dari 50.000 personel sejak 1957. 

Ia juga mengapresiasi kepemimpinan Indonesia dalam pembiayaan pembangunan dan aksi iklim. Namun, di balik daftar agenda itu. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam: Apa sesungguhnya yang sedang dibangun ketika seorang presiden menerima Sekjen PBB di rumah pribadinya. Bukan di istana negara?

Filsafat politik klasik membedakan antara potestas (kekuasaan) dan auctoritas (wibawa). Prabowo memiliki potestas sebagai kepala negara; Guterres memiliki auctoritas moral sebagai penjaga Piagam PBB. 

Pertemuan di Hambalang adalah upaya mempertemukan keduanya. Kekuasaan negara yang sah bertemu dengan wibawa multilateral yang tidak memiliki pasukan sendiri. Dalam tradisi, kekuasaan sejati lahir ketika orang bertindak bersama, acting in concert. Bukan ketika satu pihak mendominasi. 

Kemitraan Prabowo–Guterres adalah teatrikal dari prinsip itu: Indonesia tidak datang sebagai penerima perintah. Melainkan sebagai mitra yang menawarkan pengalaman perdamaian dan jembatan diplomasi.

Ada pula dimensi etis yang jarang disorot. Guterres berpamitan menjelang berakhirnya masa jabatannya pada Desember 2026. Kunjungan ini karena itu bukan hanya tentang masa depan kerja sama. Tetapi juga tentang warisan. 

Dalam bahasa filsafat. Manusia adalah makhluk yang hidup dalam narrative identity. Identitas yang terbentuk oleh cerita yang ia wariskan. Indonesia di bawah Prabowo ingin masuk dalam narasi itu bukan sebagai aktor pinggiran. Melainkan sebagai bridge builder yang menghubungkan Global South dan sistem multilateral.

Pidato Prabowo di PBB pada September 2025. Yang menegaskan pentingnya keadilan global dan penguatan kelembagaan PBB. Adalah bagian dari narasi tersebut.

Namun filsafat juga menuntut kejujuran kritis. Multilateralisme tidak pernah bebas dari ketegangan antara universalisme norma. Dan partikularisme kepentingan negara. 

Indonesia mendukung reformasi sistem multilateral. Tetapi pada saat yang sama aktif dalam forum-forum plurilateral seperti Board of Peace. Apakah ini inkonsistensi? Atau justru realisme etis? Jawabannya bergantung pada apakah kemitraan dengan PBB diarahkan untuk memperkuat tata kelola global yang inklusif. Atau sekadar mencari legitimasi internasional bagi kepentingan nasional.

Akhirnya, kemitraan Prabowo–Sekjen PBB adalah cermin dari pilihan filosofis yang lebih luas: Apakah Indonesia ingin menjadi penjaga status quo. Atau penggagas tatanan yang lebih adil. 

Guterres mengapresiasi langkah nyata Indonesia membantu rakyat Palestina. Di titik itu, kemitraan bukan lagi soal kursi di forum. Melainkan soal keberpihakan pada keadilan. Sesuatu yang tidak dapat diukur dengan statistik. Tetapi hanya dengan konsistensi tindakan. 

Di Hambalang, dua pemimpin itu tidak sekadar bertukar agenda. Mereka menegosiasikan makna Indonesia di dunia.

Diplomasi Simbolik dan Bayang-Bayang Hegemoni

Namun, di sinilah filsafat kemitraan itu harus berhenti sejenak dan berbalik menikam dirinya sendiri. Sebab kemitraan yang dibangun di atas kehangatan personal dan gestur simbolik mengandung risiko yang jarang diakui. Ia dapat berfungsi sebagai selubung bagi inkonsistensi struktural. 

Indonesia di Hambalang berbicara tentang reformasi multilateral dan keadilan global. Tetapi pada saat yang sama duduk di dalam Board of Peace—forum ad hoc bentukan Donald Trump. Yang oleh Majelis Ulama Indonesia bahkan disebut sebagai bentuk neokolonialisme dan “perdamaian semu”. Yang tidak mengakui Palestina sebagai bangsa terjajah. 

Para pakar menilai keanggotaan itu tidak lagi sejalan dengan prinsip bebas aktif. Karena struktur kepemimpinannya tidak mencerminkan keberpihakan kepada Palestina dan menempatkan Israel di dalamnya sementara Palestina justru absen dari meja keputusan. Di titik ini, kemitraan dengan PBB berisiko menjadi legitimasi eksternal bagi manuver yang secara internal tidak konsisten.

Kritik yang lebih menghunjam adalah bahwa PBB sendiri sedang mengalami krisis legitimasi. Mekanisme veto di Dewan Keamanan membuat respons terhadap konflik menjadi lambat, tidak konsisten, dan selektif.

PBB dinilai tunduk pada negara besar. Ketika kepentingan mereka dipertaruhkan. Indonesia, dengan lebih dari 50.000 personel yang telah dikirim sejak 1957, adalah kontributor perdamaian yang kredibel. Tetapi kredibilitas itu tidak otomatis berubah menjadi pengaruh. 

Multilateralisme, dalam bahasa Djoko Subinarto, “sering dijadikan alat. Bukan tujuan”; Semua negara membutuhkannya. Tetapi hanya sedikit yang mau bersabar dengannya. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah Prabowo dan Guterres saling menghormati. Melainkan apakah kemitraan itu mengubah struktur yang membuat PBB lemah. Atau justru memberi rasa nyaman bahwa sesuatu sedang dilakukan sementara ketidakadilan global berjalan terus.

Filsafat menuntut lebih dari sekadar apresiasi timbal balik. Ia menuntut konsistensi antara kata dan tindakan. Jika Indonesia benar-benar ingin menjadi bridge builder yang menghubungkan Global South dan sistem multilateral. Maka keberpihakan pada keadilan harus dibuktikan bukan hanya di Hambalang.

Tetapi juga di ruang-ruang di mana keputusan yang tidak populer harus diambil. Termasuk kesediaan menarik diri dari forum yang secara struktural menciderai prinsip yang didakwahkan. 

Tanpa itu, kemitraan Prabowo–Guterres tetap indah sebagai simfoni diplomatik. Tetapi belum tentu berbunyi sebagai gaung keadilan. Iya, kan !!

Serial Tasawuf-28: "Tahalliy-3, Tawakkal dan Ridha"



Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Pagi itu angin bertiup lembut dari arah timur. Membawa aroma rumput yang baru dipangkas. Salik datang lebih awal dari biasanya. Ia telah menghiasi hatinya dengan taubat, zuhud, sabar, dan syukur. Namun ia merasa masih ada sesuatu yang belum mantap di dalam dadanya: Sebuah kegelisahan halus yang tak mampu ia namai. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di bawah pohon tua di halaman ribat. Memandang langit yang bersih tanpa awan.

"Hai anakku," kata Mursyid tanpa menoleh. "Engkau datang membawa pertanyaan yang belum engkau ucapkan. Duduklah, sebab hari ini kita akan membicarakan permata kelima: Tawakkal."

Salik duduk bersimpuh. "Guru, aku telah berusaha bersabar dan bersyukur. Tetapi aku masih sering gelisah tentang masa depan. Aku takut kehilangan. Aku takut kekurangan. Aku takut apa yang belum terjadi."

Mursyid tersenyum. "Ketahuilah, tawakkal itu bukanlah engkau berhenti berusaha. Melainkan engkau menyandarkan hatimu kepada Allah setelah engkau menempuh sebab-sebab yang halal. Tawakkal itu letaknya di hati. Bukan di tangan. Tanganmu boleh bekerja. Tetapi hatimu jangan menggantungkan diri pada pekerjaan itu."

"Apakah tawakkal berarti aku tidak perlu merencanakan apa-apa, Guru?"

"Tidak, anakku. Itu bukan tawakkal, tetapi kelalaian. Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita untuk mengikat unta. Lalu bertawakkal. Engkau ikatlah untamu: Engkau belajar, engkau bekerja, engkau menjaga kesehatan, engkau menabung untuk kebutuhan, engkau berhati-hati dalam melangkah. 

Tetapi setelah itu, serahkanlah hasilnya kepada Allah. Sebab engkau hanya bisa mengusahakan. Sedangkan yang menentukan adalah Allah."

Salik merenung. "Aku sering merasa bahwa aku harus mengendalikan semuanya, Guru. Bila sesuatu tidak sesuai rencanaku, aku gelisah."

"Ketahuilah, wahai salik. Bahwa kegelisahan itu lahir dari keyakinan bahwa engkaulah yang mengatur hidupmu. Padahal Allah-lah yang mengatur. Engkau hanyalah hamba yang diberi kesempatan untuk berusaha. 

Bila engkau menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah, maka hatimu akan tenang. Itulah makna ḥasbunallāhu wa ni'mal-wakīl. Cukuplah Allah bagi kami. Dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."

"Bagaimana aku bisa melatih tawakkal, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, biasakanlah untuk mengucapkan bismillāh ketika memulai sesuatu. Dan alhamdulillāh ketika mengakhirinya. 

Kedua, ingatlah bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset. Dan apa yang meleset tidak akan menimpamu. 

Ketiga, jangan engkau membandingkan hasil usahamu dengan hasil usaha orang lain. Sebab setiap orang memiliki jalan dan bagiannya sendiri. 

Keempat, perbanyaklah membaca Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah aku harus berdoa meminta yang terbaik? Bukankah doa itu bagian dari tawakkal?"

"Benar, anakku. Doa itu adalah inti dari tawakkal. Orang yang bertawakkal itu adalah orang yang banyak berdoa. Sebab ia sadar bahwa tanpa pertolongan Allah. Usahanya tidak berarti apa-apa. 

Namun ketahuilah, doa yang baik itu bukan hanya meminta. Tetapi juga menyerahkan. Engkau meminta yang terbaik menurut pandanganmu. Tetapi engkau juga berkata, 'Ya Allah, bila yang aku minta ini tidak baik bagiku. Berikanlah yang baik menurut-Mu.' Itulah tawakkal: Engkau meminta dengan penuh harap. Tetapi engkau menyerahkan dengan penuh ridha."

Mursyid mengambil sebutir biji dan menanamnya di tanah yang basah. "Lihatlah biji ini," katanya. "Ia tidak tahu apakah ia akan tumbuh atau tidak. Tetapi ia tidak gelisah. Ia hanya menjalankan tugasnya: Ditanam, lalu berserah. 

Engkau pun demikian. Tanamlah amalmu. Siramilah dengan usaha. Lalu serahkan pertumbuhannya kepada Allah. Jangan engkau menggali tanah setiap hari untuk melihat apakah akarnya sudah tumbuh. Itu bukan tawakkal. Tetapi kegelisahan."

Salik meneteskan air mata. "Ya Allah, aku ingin berhenti mengendalikan segala sesuatu."

Mursyid meletakkan tangannya di pundak salik. "Engkau telah memulai, anakku. Setiap kali engkau melepaskan kegelisahanmu dan berkata, 'Allah Maha Mengetahui,' Engkau telah menanam satu benih tawakkal. Suatu hari, benih itu akan tumbuh menjadi pohon ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh badai dunia."

Malam berikutnya, bulan tampak separuh. Salik datang dengan hati yang lebih tenang, tetapi masih ada satu pertanyaan yang mengganjal. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di serambi. Memegang tasbih yang butirannya berkilau diterpa cahaya bulan.

"Hari ini kita akan membicarakan permata keenam: riḍā:
 Ridha," kata Mursyid. "Ketahuilah, ridha itu lebih tinggi dari sabar. Sabar adalah engkau menahan diri ketika menerima ketentuan Allah."

"Adapun ridha adalah engkau merasa lapang, bahkan senang, dengan ketentuan itu. Sabar itu seperti orang yang menahan sakit; ridha itu seperti orang yang telah memahami bahwa sakit itu adalah obat."

"Apakah ridha berarti aku tidak boleh berduka, Guru?"

"Ridha bukan berarti engkau tidak memiliki perasaan, anakku. Engkau boleh berduka, engkau boleh menangis, engkau boleh merasa sakit. Tetapi di dalam lubuk hatimu, engkau tidak menolak ketentuan Allah. Engkau berkata. 'Ya Allah, aku tidak memahami hikmah ini. Tetapi aku percaya bahwa Engkau lebih mengetahui daripada aku.' Itulah ridha."

Salik merenung. "Aku sering merasa sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginanku. Aku sering bertanya, 'Mengapa ini terjadi padaku?'"

"Pertanyaan itu wajar, anakku. Bahkan para nabi pun bertanya. Tetapi ketahuilah, bahwa pertanyaan 'mengapa' itu bisa menjadi pintu menuju Allah. Atau bisa menjadi pintu menuju syaitan. Bila engkau bertanya dengan penuh harap untuk memahami hikmah, itu baik. Tetapi bila engkau bertanya dengan penuh protes. Itu adalah tanda hati yang belum ridha."

"Bagaimana aku bisa melatih ridha, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, ingatlah bahwa Allah tidak pernah menetapkan sesuatu yang buruk bagi hamba-Nya yang beriman. Apa yang engkau pandang buruk bisa jadi baik bagimu. Dan apa yang engkau pandang baik bisa jadi buruk bagimu. 

Kedua, biasakanlah untuk mengucapkan radhītu billāhi rabbā. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku. 

Ketiga, renungkanlah bahwa engkau tidak memiliki hak untuk menolak ketentuan Allah, sebab engkau adalah hamba, dan Dia adalah Tuhan. 

Keempat, ingatlah bahwa ridha itu bukan berarti engkau pasrah pada kezaliman. Engkau tetap boleh berusaha mengubah keadaan. Tetapi hatimu tetap ridha pada ketentuan Allah."

"Bukankah itu sulit, Guru? Bagaimana aku bisa ridha ketika aku melihat penderitaan?"

"Mursyid tersenyum. "Ridha itu bukan berarti engkau tidak peduli pada penderitaan. Ridha itu berarti engkau tidak memberontak terhadap Allah ketika engkau melihat penderitaan."

"Engkau tetap berusaha menolong, engkau tetap berdoa, engkau tetap berbuat baik. Tetapi engkau tidak berkata, 'Mengapa Allah membiarkan ini terjadi?' Sebab engkau tahu bahwa Allah memiliki hikmah yang tidak selalu bisa engkau pahami."

Mursyid menunjuk pada bintang-bintang di langit. "Lihatlah bintang-bintang itu. Mereka tampak kecil, tetapi mereka sangat besar. Engkau tidak bisa memahami besarnya karena engkau melihatnya dari jauh."

"Begitu pula ketentuan Allah: engkau tidak bisa memahami hikmahnya karena engkau melihatnya dari sudut pandang yang terbatas. Tetapi bila engkau ridha, engkau akan melihat bahwa segala sesuatu memiliki tempatnya dalam rencana Allah."

"Bagaimana tanda ridha yang sejati, Guru?"

"Tandanya ada tiga. Pertama, engkau tidak lagi mengeluh ketika menerima musibah, tetapi engkau mencari hikmahnya. Kedua, engkau tidak merasa iri pada nikmat orang lain, sebab engkau yakin bahwa Allah memberikan setiap orang sesuai dengan hikmah-Nya. Ketiga, engkau merasa tenang di tengah badai, sebab engkau tahu bahwa Allah tidak akan meninggalkanmu."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, jadikanlah tawakkalku sebagai perisai dari kegelisahan, dan ridhaku sebagai cahaya yang menerangi setiap kegelapan. Agar aku bisa menerima setiap ketentuan-Mu dengan hati yang lapang. Dan menyerahkan setiap urusanku kepada-Mu dengan penuh kepercayaan."

Mursyid memandangnya dari serambi, lalu berkata lirih, "Engkau telah menghiasi 
dirimu dengan enam permata: Taubat, zuhud, sabar, syukur, tawakkal, dan ridha. 

Masih ada permata-permata lain. Tetapi enam ini telah cukup untuk membuat hatimu mulai bersinar. Teruslah berjalan, anakku. Sebab perjalanan menuju Allah itu tidak pernah berakhir."

Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutna.

Lakon Greenpeace di Bundaran Hotel Indonesia

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-65) Alkisah, pada suatu pagi yang hening di penghujung Oktober, tatkala embun masih menggantung di dedaunan d...