Senin, 31 Agustus 2009

Mengemban Amanah Jabatan


Secangkir Anggur Merah (Edisi-13)

Jabatan adalah amanah. Ya, ungkapan ini sering kita dengar, hingga nyaris terdengar klise.

Pada umumnya amanah diartikan secara sempit sebagai titipan barang atau ucapan. Padahal Amanah memiliki dimensi pengertian luas. Amanah sesungguhnya lebih identik dengan kejujuran. Sebuah amanah ada karena terlahir dari rahim tanggung jawab. Tanggungjawab untuk membebaskan manusia dari ketertekanan, kemiskinan dan kebodohan.

Namun hakikat amanah di sisi Allah SWT lebih luas, berat dan dalam. Di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Anas bin Malik: Rasulullah besabda: Tiada iman bagi orang yang tiada amanah. Dan tiada agama bagi orang yang tidak menepati janji.

Luar biasa, jika dikaitkan dengan jabatan. Karena, pejabat yang tidak dapat mengemban amanah sesungguhnya dia termasuk orang yang tidak beriman. Sementara bagi pejabat yang tidak mampu menepati janji..weleh...weleh...dapat dikatakan sebagai pejabat yang tidak pantas mendapat sandangan sebagai orang beragama.

Dalam hadist yang diriwayatkan Al-Baihaqi dari Aisyah: Rasulullah SAW berkata: Bahwa sesungguhnya Allah SWT menggemari mereka yang membuat sesuatu pekerjaannya dilakukannya dengan cermat.

Rasulullah menjelaskan bahwa seseorang pejabat yang sangat berhati-hati dan cermat atau teliti menjalankan tugas dan kewajibannya maka orang ini akan dikasihi Allah. Demikian halnya jika pekerjaannya itu tidak bertentangan dengan kehendak Allah dan dia melaksanakannya dengan sempurna dan tanggung jawab serta hasil kerjanya mendatangkan banyak manfaat, maka pejabat ini mendapat kasih sayang Allah. Dia mendapat kasih sayang Allah karena sifat amanah dan rasa tanggungjawab dan kejujurannya yang telah terpatri dalam hatinya.

Sedangkan dalam hadist yang diriwayatkan Abu Daud Rasulullah bersabda: Seseorang yang kita telah lantik untuk menjalankan sesuatu tugas (jabatan) dan kita telah tentukan upahnya sekali, sekiranya dia mengambil sebarang keuntungan selepas itu, maka dia adalah penipu.

Hadist tersebut lebih menekankan pada tindak korupsi dan perilaku berlebihan. Termasuk di dalamnya mengambil kebijakankan demi keuntungan pribadi dan atau golongannya. Maka mereka lebih identik dengan para penipu.

Akhirnya, Allah berfirman di dalam surah Ali-Imran ayat 161:

...... Dan sesiapa yang berkhianat (menggelapkan sesuatu) ia akan membawa bersamanya pada hari kiamat nanti sesuatu yang dikhianatinya itu, kemudian tiap-tiap seorang akan disempurnakan (balasan bagi) apa yang telah diusahakannya, sedang mereka tidak akan dikurangkan sedikitpun (balasannya).

Di bulan suci ramadhan 1430 H ini, marilah kita melakukan introspeksi. Apakah kita termasuk salah seorang diantaranya. Jika ya, yuk kita bertobat. Terutama bagi yang merasa dirinya sebagai seorang pejabat. Mumpung di bulan suci ini merupakan bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Yuk!! (N425).

Jumat, 28 Agustus 2009

AMPUTASI

Secangkir Anggur Merah (Edisi-11)

Amputasi kini menjadi sebuah kata yang lumayan populer di lingkungan internal kita. Secara etimologis asal kata a mputasi berasal dari Latin amputate yang berarti pancung.

Secara medis atau dalam ilmu kedokteran kata ini diartikan sebagai pemotongan sebagian anggota tubuh. Dipotong atau dibuangnya bagian anggota tubuh itu karena dipandang sudah tidak berguna lagi. Karena sudah tidak berguna maka bagian organ tubuh itu harus dikubur dalam-dalam agar tidak menimbulkan bau atau menebarkan bibit penyakit.

Amputasi ada yang disebabkan karena penyakit, misalnya diabetes, ada pula akibat musibah kecelakaan. Jadi amputasi disini lebih disebabkan karena kondisi fisik yang sebagian organnya tidak memungkinkan untuk digunakan kembali. Amputasi jenis ini terjadi dimanapun.

Namun ada juga amputasi yang disebabkan faktor behaviour, misalnya perilaku kriminal. Amputasi jenis ini biasa terjadi di negara Timur Tengah atau di Arab Saudi. Istilah mereka menyebutnya sebagai kishos atau pemotongan atau pemancungan sebagian anggota tubuh (bisa jari, tangan, kaki atau kepala). Kishos dilakukan karena diduga atau terbukti mencuri, tidak terkecuali korupsi.

Yang unik di Indonesia. Amputasi yang terjadi di Indonesia pada umumnya karena penyakit diabetes atau kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan kerja. Istilah kishos memang tidak ada. Hanya saja pencuri sepatu, ayam atau motor bisa digebukin babak belur sampai dibakar massa. Sementara kaum koruptor atau obligor jeblug (pengutang uang negara tak bayar) yang tertangkap boro-boro digebukin apalagi diamputasi, malah diperlakukan istimewa. Tampilannya perlente dengan dikawal beberapa bodigar Kalau kebetulan ada kamera tepe dengan wajah tak berdosa dia pun berjalan bak selebritis. Lengkap dengan senyum dan lambaian tangannya.

Nah, sekarang bagaimana kalau yang harus diamputasi itu bukan bagian anggota tubuh, tapi justru suplai vitamin, gizi dan mineral untuk kebutuhan tubuh. Atau bagaimana kalau yang harus diamputasi itu dalam bentuk kesejahteraan.

Jika kesejahteraan diamputasi maka boleh berarti kesejahteraannya menjadi terpotong. Kalau kesejahteraannya terpotong boleh jadi kebahagiaannya menjadi berkurang. Walaupun kematian seseorang merupakan rahasia Tuhan. Namun para ahli psikologi berpandangan bahwa orang yang kurang bahagia dan kurang bertenga lebih dekat kepada kematian. Walahualam bishawab. (N425).

Mari Kita Berbenah

Secangkir Anggur Merah (Edisi-12)
Berbagai pengakuan nasional dan internasional melalui berbagai achievement award yang diterima Telkom hingga saat ini sesungguhnya menunjukkan dan memberi isyarat penting bahwa bibit-bibit kekuatan kita masih tetap ada, tumbuh, bersemai dan masih menjalar ke seluruh lini jajaran TELKOM.

Obsesi untuk mencapai sebuah role model korporasi di Indonesia, sebagaimana yang diharapkan pemerintah  selama ini sejatinya bisa menjadi kenyataan. Potensi itu harus diakui memang ada. Bahkan bukan sekadar pada tingkatan BUMN dan swasta nasional. Namun juga telah  menjadi modal kuat untuk merealisasikan visi untuk memimpin bisnis TIME di kawasan Asia Tenggara.

Untuk itulah beberapa bidang garapan tugas yang selama ini masih tercecer tak ada salahnya untuk dibenahi kembali. Tak hanya terkait dengan masalah tata kelola perusahaan yang baik (GCG, good corporate governance) yang katanya sih dirasakan masih setengah-setengah. Namun masih ada sejumlah pekerjaan lain yang selama ini dipandang masih terasa mengganjal.

Sebut saja, masih lambannya proses pengadaan, terlalu ekstra hati2nya dalam penyerapan Capex , kurang efisiennya Opex, Opex yang disulap jadi revenue, revenue beberapa produk yang decline  bahkan tak berkembang karena ga laku, sales and marketing pada tataran operasional dan kebijakan yang kurang greget dan kerap dirasakan masih berada selangkah di belakang kompetitor. Juga terkait masalah memperpanjang jabatan yang mestinya sudah MPP, peraturan perusahaan yang masih terkesan birokratis, karkier karyawan yang kurang mulus, sampai pada masalah transformasi organisasi yang tampaknya masih belum clear sehingga masih perlu penataan-ulang dan penyempurnaan. Serta tentu saja masih pentingnya komitmen dalam implementasi TO yang dilandasi kesamaan persepsi, trust dan keterbukaan menuju sebuah tuntutan pencapaian sasaran perusahaan.

Sebelumnya kita memiliki nilai-nilai Committed 2 U yang telah disepakati dan dirumuskan melalui 7 nilai  (Kejujuran, Transparan, Komitmen, Kerjasama, Disiplin, Peduli dan Tanggung Jawab). Kini nilai-nilai itu mulai memudar sejalan dengan munculnya budaya perusahaan yang baru  5-C. Padahal budaya perusahaan yang baru inipun diharapkan benar-benar mampu sebagai bahan bakar guna menggerakan roda perusahaan menuju harapan itu. Tapi apa lacur, sepertinya pemahaman dan implementasi 5-C masih belum begitu mencair dan membumi kepada seluruh karyawan. Simpel tapi sesungguhnya cukup jlimet. Mungkin karena gampang masuk di otak tapi mudah lupa. Atau sulit masuk di otak karena pakai bahasa londo. Jadi boro2 mengendap dalam hati dan menghasilkan buah karya.

Tantangan untuk menggapai obsesi sebagai sebuah model korporasi di Indonesia sesungguhnya tinggal selangkah lagi. Tinggal komitmen kita untuk tetap memberikan yang terbaik bagi perusahaan ini. Tinggal komitmen kita untuk tetap menjaga kekompakan dan soliditas di lingkungan internal kita. Sebab jika kondisi internal kita terus dibikin retak, dikotak-kotak dan diobok-obok serta dikondisikan sehingga terjadi friksi terus menerus, maka akan sulitlah bagi kita untuk menggalang kekuatan.

Dalam kondisi seperti ini kompetitor lah yang akan bertepuk tangan. Mereka akan memanfaatkan situasi sekisruh apapun untuk segera menyalip berbagai prestasi yang telah kita raih. Sadar atau tidak, sebenarnya hal ini telah berlangsung, setidaknya dalam lima tahun terakhir. Akibatnya  kue bisnis kita semakin mengerut karena semakin terbagi dengan kompetitor. Revenue dari beberapa produk kita pun pada gilirannya mengalami decline dan stagnant. Kontribusi pendapatan dari bisnis IME pun masih belum bisa diharapkan. Sementara bisnis dari Anak Perusahaan ada yang masih harus disuapin "ibunya". Bahkan ada yang masih gemar merecoki anggaran ibunya.Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mencapai target pendapatannya.

Untuk itu telah sewajarnya jika seluruh cipta (inovasi), rasa (spirit) dan karsa (kehendak) serta karya (prestasi) senantiasa kita curah-tegakan. Tentu saja dengan harapan Telkom akan mampu melaksanakan visi dan misinya secara tepat, cepat, rapih, ajeg dan bertanggungjawab. Tak hanya sebagai leader pada tingkat regional dan nasional, namun juga sekaligus dapat mengevaluasi kapabilitasnya dan mengetahui posisinya secara tepat pada tataran global.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana kita mampu mempertahankan pertumbuhan di atas rata-rata industri (60% kah?) dengan cara tetap memelihara posisi sebagai pemimpin pasar. Ini berarti masih perlunya melakukan pelbagai kreasi dan inovasi baru dengan  terobosan yang lebih dimensional. Terkait mengenai  tata kelola perusahaan yang baik (GCG, good corporate governance) tampaknya kita sepakat untuk tetap dapat dijadikan sebagai way of life dan pemberi added value bagi stakeholders.

Dengan demikian mudah-mudahan Telkom tetap berkibar menjadi kebanggan bangsa dan tetap terjaga performasinya (Performansi=Kinerja+Citra). Pada gilirannya diharapkan dapat mengibas pula pada peningkatan kesejahteraan karyawan. Sehingga ke depan tak ada lagi rebutan pepesan BPK yang berpotensi meretakan hubungan kemitraan antara Karyawan, Sekar dan Manajemen ini.

Idealnya, memang BPK dapat dijadikan semacam achievement reward perusahaan untuk terakhir kalinya bagi karyawan yang akan menghadapi masa pensiun. Ya, mudah-mudahan saja dalam PKB-V, ada peluang baru terkait nominal BPK ini. Amin, toch! (N425)

Rabu, 19 Agustus 2009

Transformasi Sepeda Jadul

Secangkir Anggur Merah (Edisi-10)

Ada yang mengatakan transformasi itu berlangsung bagai mengayuh sepeda jadul (jaman dulu). Awalnya terasa amat berat dan sulit. Tapi begitu bergulir sepertinya semuanya menjadi gampang. Bahkan, dirasakan semakin menuju kondisi point of no return. Transformasi pun akan terus bergulir dan melaju tak kenal berhenti.

Masalahnya, mengapa proses awal transformasi begitu terasa sulit bagai melindas kerikil tajam?

Satu hal pasti, karena biasanya adanya status quo sistem dan paradigma lama yang sudah begitu mengkristal sehingga sulit dicairkan. Terutama secara psikologis keengganan melakukan perubahan bagi orang-orang yang berada dalam comfort zone (zona kenyamanan) yang umumnya memiliki sense of crisis yang rendah. Kalau sudah begini, biasanya penolakan dan resistensi dari orang-orang di dalam organisasi untuk berubah menjadi sangat tinggi.

Apalagi pada masa-masa awal transformasi bergulir biasanya diikuti oleh adanya serba ketidakpastian dan ketidakjelasan di dalam organisasi. Di sini, umumnya diakibatkan oleh visi yang belum jelas atau belum difahami dengan baik. Akibat sosialisasi yang kurang intens sehingga semua orang masih samar ke mana kapal mengarah dan harus berlayar.

Harus diakui dampak transformasi masa lalu masih terasa hingga saat ini. Bahkan hingga saat ini, banyak unit yang masih bingung mau dibawa kemana unitnya. Mau dirahkan kemana dan apa sasarannya. Akibatnya ada unit yang kebingungan sehingga harus mendompleng pekerjaan kepada unit lainnya. Dan di sisi lain terjadi jobs overlapping antar unit.

Sebelum melakukan transformasi sejatinya strategi dirumuskan terlebih dahulu. Jangan sampai ada kesan strategi masih mentah sehingga ada dugaan tidak punya alat dan pegangan dalam menggulirkan transformasi. Jangan sampai semuanya merasakan masih serba gelap. Ibaratnya, semua orang seperti tersesat dan terjebak dalam rimba Afrika.

Di masa-masa awal transformasi idealnya ada seorang figur pemimpin yang mampu menyatukan semua pihak untuk bersama mengarungi samudra transformasi. Jangan sampai ada pihak-pihak yang merasakan masih ada yang belum clear. Transformasi menjadi tak elok kalau terlalu dipaksakan atau dijejalkan.

Proses awal transformasi justru merupakan momentum sangat penting dan kritis bagi bergulirnya keseluruhan proses transformasi. Ada pepatah jangan sampai Anda gagal di awal. Sebab jika gagal di awal jangan harap kondisi point of no return di atas bisa berlangsung. Proyek transformasi yang digulirkan akan berjalan merayap, terkatung-katung. Bahkan moral dan energi orang-orang di dalam organisasi menjadi melempem, dan kondisi terjeleknya, organisasi set back, kembali ke status quo awal. Dengan kata lain, transformasi berjalan di tempat. Padahal biaya yang dikeluarkan untuk itu relatif besar.

Jadi sepakat lah kita jangan jadikan transformasi sebagai mega proyek uji coba bagi sebuah korporasi yang sedang sakit. Masih pantaskah perusahaan sebesar ini melakukan trial and error? Ehhmm, jelas tidak, karena dampaknya yang terlalu riskan!!!!!

Dampak dari transformasi yang salah arah dan salah kaprah bisa berakibat fatal. Misalnya, kebijakan di bidang SDM yang sejatinya dirahkan menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Namun apa lacur, arah bisa melenceng, semakin samar bagai mengejar fatamorgana. Semakin dikejar semakin frustasi.

Kita tahu sejak dua dasawarsa terakhir (20 tahun ke belakang) kebijakan SDM terus mengalami perubahan. Kita bisa merasakan betapa kita terus diputar, dilempar, ditangkap, dipelintir lalu dihempaskan lagi. Ya, bagai sebuah permainan yoyo. (N425).

Pemimpin tanpa kepala

Secangkir Anggur Merah (Edisi-9)

Kini kita sedang hidup di alam perubahan yang penuh paradoks dan kontradiktif. Dalam kondisi ini ada semacam ketakutan yang mengancam. Ada pula kekhawatiran segala sesuatunya berkembang menjadi lebih parah. Namun ada pula sejumlah orang yang penuh harap, karena perubahan baginya adalah peluang emas hingga mampu menjadikannya sebagai pembangkit semangat.

Mediokritas adalah manifestasi dari rasa lesu dan puas diri. Dia bercokol bersama kita terkadang dalam waktu sangat lama. Mediokritas bisa menjadikan kita kehilangan arah, tanpa daya dan frustasi. Bisa pula berupa motivasi berlebih hingga mencapai tahapan ambisius.

Akibat mediokritas bisa menjadikan pemerintahan, bisnis dan industri runtuh porak poranda. Batasan benar dan salah bisa menjadi kabur sejalan dengan benturan antara standar moral dan pola sikap. Ini bisa terjadi dimana saja, di rumah, lingkungan masyarakat atau di tempat kerja sekalipun.

Banyak yang menyatakan bahwa 'kecil itu indah' dan 'kurang itu lebih'. Namun terkadang kita menerima begitu saja setiap keadaan dengan serba kurang. Padahal sesungguhnya semua peristiwa buruk yang kita alami tak selalu disebabkan oleh pihak luar, namun justru problem-problem terbesar yang timbul sebagai akibat kesalahan sendiri.

Jepang contoh sejati

Amerika Serikat (AS) merupakan produsen utama produk-produk pertanian dan industri di dunia untuk selama lebih dari seratus tahun. Namun kita tahu apa yang terjadi kemudian. Jepang yang dikenal 'si peniru' ini tak hanya mencontoh namun juga menginovasi gaya manajemen AS. Jepang begitu telaten mendengarkan kebutuhan para pekerja mereka dan mengamati kebutuhan konsumen AS. Ia berupaya mengakrabi para konsumen AS yang tengah apatis terhadap produk-produk dalam negeri AS sendiri. Jepang berhasil hingga sanggup meruntuhkan kebanggaan AS terhadap produknya. AS kena 'godam' Jepang.

Orang Jepang adalah sosok manusia penuh harapan dengan komitmen tinggi untuk meraup sukses. Mereka memelihara pelbagai kondisi guna memunculkan kinerja hebat. Ia pejuang keras dan begitu mengagungkan motivasi terhadap angkatan kerjanya guna meraih keunggulan dan produktivitas tinggi. Jepang sangat dikenal dengan keteguhan hatinya untuk memproduksi barang-barang bernilai dan bermutu tinggi.

Manajemen tanpa daya

Kepemimpinan yang ekstra hati-hati dan manajemen yang tanpa daya bukan satu-satunya penyebab runtuhnya semangat di lingkungan industri dan bisnis. Namun ada kalanya para pekerja serta organisasinya turut mendukung mediokritas. Tenaga kerja menjauhkan diri dari system nilai dan etika kerja. Tak ada lagi usaha menyumbangkan prestasi. Ini banyak kita jumpai dalam dunia bisnis di Indonesia. Mereka hanya mengharap gaji besar dengan kerja ringan. Mereka berharap jabatan, namun dengan kompetensi yang masih diragukan. Mereka ingin dihargai namun tak sanggup menghargai. Mereka berharap menjadi pemimpin, namun tanpa 'kepala' ( Cat. Pemimpin tanpa kepala adalah pemimpin yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan ).

Manajemen yang buruk kerapkali mengalienasi jajarannya dengan menjadikan mereka tidak peka dan apresiatif. Ada orang-orang yang mendapat keuntungan posisi yang sebenarnya belum patut atau tidak sepantasnya. Tak aneh kalau telepon-telepon berdering tanpa ada yang mengangkat karena pemiliknya tak ada ditempat. Munculnya cuti rekayasa, izin sakit, atau ngobrol ngalor-ngidul dengan sejawat. Akibatnya, produktivitas kerja menjadi bablas!

Terkadang manajemen dan pekerja telah bersama-sama menyumbangkan kualitas kerja yang parah dan pelayanan yang buruk namun harus diganjar dengan harga tinggi.

Antara potensi dan motivasi

Persoalan mendasar SDM kita adalah bukan karena kurangnya kesempatan buat orang yang termotivasi dengan baik, melainkan kurangnya orang-orang bermotivasi tinggi yang siap dan mampu memanfaatkan setiap kesempatan. Wajar jika banyak komentar, SDM TELKOM memang hebat dan pintar, tapi soal motivasi tak sedikit yang minim hingga ?nol besar?.

Sesungguhnya kita tidak kekurangan orang-orang pintar, cerdas dan berpotensi sukses, bahkan untuk meraih sukses spektakuler sekalipun. Tapi hanya sedikit diantara kita yang berkarya dalam tingkat optimal. Biangnya, ya itu tadi, karena terlalu minim motivasi dalam mengerahkan segudang potensinya.

Mungkin motivasi itu sudah ada, namun kurang pompa dan tekanan. Bahkan ia lebih cenderung memikirkan ?status quo? guna melindungi kedudukannya dari pada cara-cara menghasilkan prestasi terbaik. Sungguh disayangkan jika antusiasme dan gairah yang dimiliki pekerja berpotensi besar itu harus terbuang percuma karena para penyelia dan manajer yang kehilangan motivasi, egois, arogansi sektoral dan apatisme buta.

Ini sesungguhnya kerugian besar buat dunia bisnis. Terutama jika orang-orangnya yang terbaik digantung tanpa peluang dan ganjaran memadai. Mereka akan menjadi kecewa dan mulai menempuh jalur apatisme, frustasi dan tanpa ambisi.

Buck Rodgers dalam ?Getting the best out of yourself and other ? mengungkapkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan anda yakni: Mengenal diri anda dengan baik; Mempunyai motivasi, inovasi dan inisiatif; Mengetahui secara persis apa yang ingin anda raih; Mempunyai metoda dan informasi guna mencapai tujuan; Mempunyai keahlian dalam menyampaikan materi dan mampu berargumentasi dengan meyakinkan; Berpihak pada yang menaruh minat, yang bisa menarik faedah/kesenangan dari kinerja anda; Menjalin hubungan yang peka dan responsif terhadap kebutuhan; serta Mempunyai kepekaan terhadap reaksi orang lain.

Semua hal tersebut, harus disertai dengan kesungguhan, rasa percaya diri dan integritas kuat. Dalam arti selalu berupaya lebih keras lagi untuk menjadi yang terbaik.

Terciptanya kinerja unggul karena didukung oleh energi yang intens dan terkonsentrasi kuat. Namun bukan hiper-energi yang tanpa arah, tapi energi yang memancarkan gairah, perhatian, antusiasme dan mengasyikan. Manifestasi energi ini bisa dirasakan dalam sebuah balada sunyi yang dilantunkan Frank Sinatra misalnya. Itulah energi yang memikat, yang mampu menghipnotis, menjalar dan mengakar. Hingga mampu membangkitkan ?daya magis? dan inspirasi luar biasa pada orang lain.

Kinerja hebat akan tergelar jika semua faktor diatas tadi dipenuhi, seolah-olah tanpa usaha dan terjadi secara alami, sehingga kita mendapatkan martabat, pengetahuan, keahlian, hubungan, sensitivitas, konsentrasi dan energi,? begitu kata Buck Rodgers.

Andai ada satu imbalan untuk pemain yang unggul, maka perasaan melambung tersebut merupakan harga dari sebuah perjuangan. Tentu saja ada imbalan berupa peningkatan karier, kesejahteraan, kehormatan, pengakuan dari orang lain dan juga dari diri anda sendiri. Itulah harga dari segala usaha. Masih adakah imbalan seperti itu? ( Harlan Er-yk/N425 ).

Kamis, 13 Agustus 2009

Nasib Jurnalis


Secangkir Anggur Merah (Edisi-8)

Profesi menjadi seorang jurnalis memang tak mudah, unik sekaligus penuh resiko. Ketika tulisannya tepat sesuai ekspektasi si pelaku berita, ia dianggap biasa saja. Tak perlu disapa apalagi diberikan apresiasi. Namun tatkala ada sedikit kekeliruan dalam tulisan atau karena kritikan yang mengusik, ia pun harus menerima resiko dicaci maki. Lengkap dengan sumpah dendamnya. Dan bila perlu dihabisi.


Data yang disampaikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dalam setahun terakhir terjadi 53 kasus kekerasan terhadap kaum jurnalis. Dari sejumlah itu 43 kasus diantaranya dituduh melakukan penghujatan dan pencemaran nama baik. Ironisnya lagi hanya sekitar 15% atau tujuh orang saja yang dapat diselesaikan melalui UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers.

Menciptakan suasana demokratis memang tak mudah. Apalagi kalau masih ada yang gemar main gebuk lewat tangan-tangan besi kekuasaan. Demokrasi akan sulit tercipta jika masih ada yang suka main tongkat intimidasi. Dan akan semakin jauh dari harapan kalau masih ada yang main tembak untuk kemudian dihabisi.

Kaum jurnalis adalah manusia biasa. Ia hanyalah si perangkai kata yang membawakan peran sebagai mata dan lidah masyarakat. Mereka sering dicap sebagai si penyampai suara kebenaran. Namun mengapa pada umumnya nasib jurnalis demikian mengenaskan. Mengapa pekerjaan yang penuh resiko itu harus dibalas dengan gaji yang jauh dari cukup.

Menurut catatan AJI sekitar 80% jurnalis (wartawan) Indonesia, hidupnya masih pas-pasan alias jauh dari sejahtera. Sementara yang mengidentifikasi peran jurnalis di perusahaan-perusahaan kurang mendapat perhatian dan kariernya terlalaikan. Sehingga muncul anggapan bahwa Manajemen masih belum bisa menghargai peran dan prestasi seorang jurnalis. Padahal citra Manajemen, baik secara unit maupun personal pejabatnya sedikit banyak terangkat dan dibesarkan lantaran kehadiran seorang jurnalis di unitnya.

Dengan fungsi yang harus ditanggungnya seperti itulah yang mengakibatkan seorang Jurnalis menerima resiko disukai atau tidak disukai. Namun satu hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, seorang jurnalis memiliki kewajiban moral untuk berpihak pada kebenaran universal. Ia harus konsisten berbasis pada nilai-nilai keadilan. Spesifikasi tugas seorang jurnalis seperti itulah yang kemudian membuka beragam persepsi. Apakah sebagai kawan atau lawan.

Artinya kehadiran seorang jurnalis di satu sisi bisa dianggap sebagai musuh, sementara pada sisi lain dipandang sebagai sahabat. Tabir yang memisahkan antara kedua hal itu sungguh sangat tipis. Artinya, tergantung pada nuansanya. Kalau tulisan-tulisannya dinilai menguntungkan, tentu saja dia adalah sahabat. Tapi ketika dipandang merugikan, dia pun jadi musuh. Layaknya seorang musuh, maka ia harus diisolasi, dihancurkan atau dibasmi, kalau tak mau dibilang dihabisi. Duhh!! (N425)

Menjadi Orang Arif

Secangkir Anggur Merah (Edisi-7)

Seorang filsuf, Jean Paul Satre ditanya muridnya, 'Apa yang menjadi tujuan hidupmu wahai guruku?' Kalau kita yang ditanya biasanya menjawab: 'Ingin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.' Namun tidak demikian dengan Satre. Ia menjawab, 'Aku ingin menjadi orang arif." Lalu ditanya lagi mengapa ingin menjadi orang arif? Dia menjawab, "Karena kearifan simbol manusia santun, penebar kebenaran dan rasa keadilan serta kasih sayang.'

Kita tak menyoal lebih detail filosofi Satre. Namun dikaitkan dengan kondisi perusahaan kita, tampaknya kita masih membutuhkan pemimpin-pemimpin arif. Pemimpin yang arif dalam menyikapi kondisi perusahaan saat ini. Pemimpin yang arif menjaga kesejahteraan akar rumput. Pemimpin yang tak kenal menyerah dalam berbenah. Terutama terhadap berbagai kebijakan yang dirasakan masih jomplang, melintir dan berbau kepentingan bagi sekelompok orang.

Salah seorang mantan Dirut, pernah mengeluh, Mengapa banyak peraturan kita yang bertabrakan. Bahkan telah berlangsung lama namun tidak pernah diperbarui. Mengapa peraturan di tempat kita bolak-balik buka tutup terus (tergantung selera pejabatnya coy.., red) . Mengapa lama sekali proses penerbitannya, dll?. Ironisnya keinginan untuk berbenah, setidaknya dari sisi aturan, nyatanya mendapat hambatan, kalau tak mau dibilang mendapat perlawanan dari berbagai faksi yang menjadi lawan atau musuhnya.

Ketika ketipak ketipung suara gendang kompetisi bertalu-talu, maka telah saatnya menyingsingkan lengan baju, melakukan pembenahan agar setiap permasalahan tidak tertunda, sementara problem lain semakin menyeruak ke permukaan. Agar setiap problem dapat diselesaikan dengan tepat sasaran dan dapat disolusi dengan penuh kearifan. Alangkah tidak bijak membiarkan berbagai persoalan  menggantung di awang-awang. Karena, demi Tuhan, persoalan bukanlah cita-cita yang harus di gantung di angkasa. Apalagi kalau harus terkubur membusuk tertutup isu lain yang kian berhamburan.

Dalam kondisi seperti ini tuntutan untuk senantiasa bekerja fokus dan menjaga keseimbangan antara visi, misi dan tujuan perlu senantiasa terpatri. Di sisi lain betapa pentingnya untuk senantiasa menyamakan persepsi, aga setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan team-work yang solid.  Sebab kegagalan untuk membenahi atas pelbagai persoalan yang ada, akan semakin mempersulit menjalankan roda perusahaan yang kini jalan terseok-seok ini.

Jangan sampai para petinggi pengemban amanah dan penggaris kebijakan saat ini, lebih suka tutup mata, bungkam mulut dan cocok telinga. Karena pada gilirannya dasi-dasi beliau yang mulia itu, akan semakin melilit dan menjerat banyak korban. Bahkan menjadi lupa pada tujuan utamanya untuk menjadi seorang petinggi pembawa berkah dan amanah sebagai pemberi kenyamanan, keamanan, kesejahteraan dan kesehatan. Serta, tentu saja, mestinya dapat menjadi seorang arif pembuka jalan guna membebaskan orang dari rasa sakit hati dan frustasi menuju pencahayaan dan kesejahteraan. (N425)

Mari Kita Mainkan

Secangkir Anggur Merah (Edisi-6)
Terjadinya KKN di Indonesia, bukan lagi menjadi suatu masalah luar biasa. Kolusi atau persekongkolan antara pejabat dan mitra atau antara user dan vendor bisa terjadi. Barangkali karena terlalu mengagungkan semboyan win-win solution. Bahkan bisa pula akibat kurangnya pejabat pemeriksa dalam memainkan fungsi dan perannya. Boleh juga akibat lemahnya pola anut pimpinan di mata bawahannya. Sehingga ada kalanya ditemukan ketidakberesan di level operasional, diakibatkan oleh kegemaran pejabat atasannya berbuat distorsi atau berperilaku menyimpang.

Sikap mental para pejabat pemeriksa pun masih dirasakan kurang kooperatif terhadap pemberantasan KKN. Sejak zaman pemerintahan otoriter, masalah ini kerap muncul ke permukaan. Budaya yang tumbuh dan telah melegenda di republik ini bagai lantunan paduan suara yang diawali dengan menyamakan nada sebaris kalimat: MARI KITA MAINKAN.

Kalau kita cermati, akar permasalahan sesungguhnya kembali pada sikap mental pejabat dan aparat pemeriksanya sendiri. Dalam level yang lebih luas pejabat peradilannya. Lantas mengapa Indonesia sampai meraih gelar sebagai negara KKN paling top se-Asia? Ya, itu karena berbagai kasus KKN atau korupsi yang muncul ke permukaan, seringkali harus menghasilkan keputusan final yang mengecewakan. Kalau tidak berupa keputusan bebas murni, hukumannya tidak sebanding dengan kesalahannya. Atau malah terdakwanya kabur (dikaburkan?) ke luar negeri.

Ada apa sebenarnya dengan pejabat dan lembaga peradilan kita? Keadilan semacam apa yang tengah diperjuangkan? Mengapa pejabat dan lembaga peradilan kita selalu dituduh bermain akal-akalan? Mengapa ketidakpuasan-ketidakpuasan atas keputusan pengadilan selalu mendongak ke permukaan? Serta pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya yang mengandung misteri.

Kondisi itu, tak hanya terkesan kurang menggigitnya upaya-upaya memberantas KKN. Namun juga mencerminkan bahwa para pejabat dan atau lembaga peradilan kita masih belum sanggup mewujudkan rasa keadilan hakiki yang dapat diterima semua pihak. Mereka masih tergiur lembaran merah berharga sebagai simbol gemerincing indahnya dunia.

Oleh karena itu wajar, jika Presiden SBY meminta kepada seluruh aparatur pemerintahan termasuk BUMN/BUMD, serta seluruh aparatur yudikatif dan legislatif agar dapat bekerja dengan hati nurani yang bersih dalam memberantas KKN. Bahkan lebih khusus presiden meminta kepada para hakim dan jaksa agar dapat memahami keinginan pemerintah dalam memberantas KKN.

Lantas bagaimana dengan di dlingkungan perusahaan tempat kita bekerja? Masih adakah yang gemar membuat perusahaan di dalam perusahaan? Atau bermain kedip maut dengan vendor? (N425)

Filosofi dibalik Kisah Ular dan Gergaji

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan ke...