Selasa, 17 Februari 2009

The Skill of Negotiating

Pengantar: Negosiasi kini berkembang menjadi salah satu bidang ilmu cukup menarik. Taktik-taktik dan kemahiran negosiasi banyak dikupas dalam berbagai forum diskusi dan penerbitan buku. Karya Bill Scott dalam “The Skill of Negotiating” misalnya, telah dijadikan referensi penting bagi siapa pun yang sering berkutat dalam kegiatan negosiasi. Nah, bagaimana untuk menjadi seorang negositor yang mahir, mari kita simak tulisan berikut!

Negosiasi menjanjikan sukses. Tak hanya sukses bagi bisnis anda, namun juga signifikan bagi peningkatan citra diri dan pesona anda.

Apapun alasannya sasaran dari kebanyakan negosiasi atau perundingan adalah berupaya untuk mencapai suatu persetujuan atau kesepakatan. Upaya itu akan dapat diwujudkan manakala kita mampu menciptakan suatu iklim kerjasama yang kreatif, inovatif dan penuh persahabatan.

Persoalan kreativitas dalam negosiasi memang menjadi penting. Terlebih karena adanya suatu iklim tertentu yang cukup mengganggu atau merecoki setiap negosiasi. Misalnya, keadaan resmi, setengah resmi atau suasana persahabatan penuh kekeluargaan.

Langkah-langkah pembukaan, seringkali sangat menentukan iklim komunikasi diantara kedua belah pihak. Pola prilaku kita pada tahap awal negosiasi dapat dilakukan melalui beberapa langkah. Misalnya, masuk lah dengan sikap badan yang tegap, ekspresi wajah yang cerah, ramah, necis dan tidak tegang. Melakukan jabat tangan dan kontak mata penuh percaya diri. Serta melahirkan gerakan dan pembicaraan yang mantap. 

Namun sebelumnya, gunakan 5% waktu anda untuk mencairkan kebekuan suasana awal. Saat-saat pembukaan ini sebaiknya berdiri dan berbaur dalam kelompok kecil. Lalu bicarakan topik-topik hangat, ringan dan netral.

Periode selanjutnya, bergerak menuju situasi bisnis yang boleh jadi menggairahkan atau menegangkan. Suasana ini butuh dukungan imajinatif. Misalnya, lahirkan ide-ide kita secara lateral (menyamping) dan interaktif. Biarkan pikiran kita mengalir secara bebas seraya memantau lagi ide-ide mana yang jitu dan realistis.

Negosiator “jempolan” yang bekerja ke arah “persetujuan”, tentu akan sangat terlibat dengan isi negosiasi. Namun pengaruh terbesar yang sesungguhnya terletak pada kemampuannya untuk sekaligus mengendalikan proses negosiasi. Proses pengendalian ini memang penting guna menghindari proses negosiasi yang berlarut-larut, monoton dan tidak jelas arah tujuannya.

Memang tidak mudah, namun ada beberapa taktik menuju tercapainya persetujuan, yakni : Manfaatkan waktu istirahat anda. Tetapkan batas waktu untuk membantu tercapainya kemantapan dan konsentrasi enerji. Gunakan teknik penyingkapan secara penuh. Pelihara semangat dan bila perlu manfaatkan kelompok golf dan kelompok studi, bahkan mungkin pelicin.

Memenangkan pertarungan

Suatu negosiasi sedapatnya memberikan keuntungan kepada kita. Itu memang target yang mesti dicapai. Namun bukan berarti harus merugikan pihak lain. Kepuasan tetap diberikan kepada mereka. Kondisi inii memerlukan penciptaan iklim yang cepat, mantap dan praktis melalui suatu perencanaan matang dan kalau dapat yang telah disepakati. Namun perlu juga melalui pengemasan gertak sambal atau gertak balasan sampai pada berani menyerempet bahaya. Mengambil resiko bahaya, terkadang memberi nilai tambah.

Gertak sambal, misalnya, terkadang diperlukan. Terutama apabila pihak lain mengambil posisi yang kita anggap tidak realistis, sehingga memaksa kita keluar dari batas-batas normal. Namun tetap perlu dilakukan dengan tenang dan penuh keyakinan. Kita memang tetap berupaya untuk tidak cepat menyerah. Keuletan, ketangguhan dan konsistensi memang dibutuhkan seorang negosiator.

Bagaimana jika pihak lain yang menggertak sambal? Resepnya adalah bergerak lah atau berkelit dengan kecepatan langkah yang telah terukur menuju titik penyelesaian yang telah diproyeksikan. Dan jika dihadapkan pada suatu konflik situasional, misalnya penolakan kompromi, maka prinsip pertama adalah tetap mempertahankan kelancarannya. Kedua, mencari jalan ke luar yang mudah. Dan ketiga gunakan sisa waktu untuk masa istirahat. Setelah dimulai lagi maka lakukan pencarian suasana melalui kesepakatan prosedur. Kita boleh saja mengalah. Namun dengan langkah yuang telah diperhitungkan sejalan dengan konsesi balasan yang dilakukan pihak lain.

Pada tahap tertentu, negosisasi bisa mengarah pada konfrontasi langsung. Situasi ini tentu perlu didukung melalui taktik-taktik pertarungan. Karena itu sebelumnya kita perlu memahami kapan metoda pertarungan harus digunakan. Tentukan sikap dan sarana negosiasi pertarungan, buat polanya, gunakan taktik pertarungan dan siapkan alat balasannya.

Kita maklum, jika situasi dihadapkan pada situasi pertarungan, maka tujuan kita adalah utuk menang. Terlebih jika kita dihadapkan pada orang yang suka bertarung akibat keinginan untuk menguasai. Ia melihat pihak kita sebagai lawan dan berupaya untuk menghajarnya.

Untuk mengenal taktik-taktik negosiator yang suka bertarung, antara lain : Ia berupaya mengorek informasi bisnis dan pribadi kita sejak awal. Perhatiannya senantiasa diarahkan untuk mendapatkan sesuatu. Menunjukan emosi dan kemarahan. Membentuk tim pengujian silang melalui kawan jahat-kawan baik. Bermuka dingin dan berupa untuk memanajemen notulen. Menghindari penyelesaian dan meminta konsesi lebih lanjut. Naik banding pada pimpinan lebih tinggi. Serta melakukan gerakan-gerakan memaksa, misalnya melalui suap, sex, surat kaleng, penyadapan, dan lain-lain. Hati-hati !

Menghadapi negosiator demikian tentu kita perlu mempersiapkan cara-cara untuk membalasnya, antara lain melalui : pertama, hilangkan dia dengan menghindari pertarungan itu sebelum berkembang. Kedua, kendalikan medan pertarungan melalui pengendalian prosedur kerja. Ketiga, hadapi takktiknya, misalnya melalui teknik penangguhan sementara atau selamanya. Dan keempat, kembangkan sikap kita, jangan lah perasa, tunjukkan ketenangan dan bersiap-siap lah untuk berdiri dan pergi. Sebab kita paham benar, bahwa pertarungan bukan lah negosiasi yang cerdik.

Mengambil keputusan

Dikenal ada tiga macam negosiator, yakni : Type pejuang, yang sangat berorientasi pada tugas. Type kolaborator, pembuat transaksi kreatif untuk memperoleh segalanya. Dan type kompromistis, yang selalu berupaya menyelesaikan persoalan.

Beberapa metoda untuk melakukan keputusan strategik adalah : Pertama, melakukan sistem prioritas terhadap pilihan, baik terhadap masalahnya maupun pihak mana yang akan kita ajak negosiasi. Kedua, membuat analisa kekuatan serta membuat target waktu, seberapa cepat kita harus bernegosiasi. Ketiga, seberapa jauh kita harus menetapkan tujuan dan target sasaran yang hendak dicapai sehingga menjadi bagian lengket dari pemikiran strategik kita. Ke empat, gaya negosiasi mana yang akan kita pilih. Dan ke lima, menentukan negositor tepat, siapakah yang harus bernegosiasi untuk pihak kita.

Diperlukan pula suatu kekuatan untuk mempengaruhi secara psikologis. Pendekatan ini penting dalam upaya membantu sedapat mungkin terpuaskannya pihak lain. Serta membiarkan pihak lain menyadari bahwa kita memiliki sasaran yang tinggi dalam negosiasi itu.

Pada dasarnya kehandalan negosiator tidak akan terlepas dari proses pemilihan negosiatornya. Tentu negosiator yang diharapkan adalah yang memiliki keterampilan tinggi, prestasius, penuh rasa persahabatan, ulet dan konsisten, berjiwa pionir, jujur serta berpengalaman.

Mendapatkan negosiator demikian, tentu tidak lah mudah. Diperlukan suatu proses melalui tempaan pengalaman, pelatihan dan pendidikan. Namun yang terpentig adalah diperlukan suatu pengertian timbal balik antara seorang negositor dengan pihak manajeman. Serta diperlukan pengembangan kerjasama menjadi sebuah kekuatan tim, sehingga lebih padu, kompak, solid dan handal.

Dengan demikian diharapkan terbentuknya negositor-negosiator yang memiliki “daya magis” dan kekuatan pribadi yang lebih fleksibel. Mampu bergerak bebas secara kreatif, inovatif dan familiar. Serta tentu saja selalu siap untuk memenangkan berbagai negosiasi yang dilangsungkan. Nah ! (n4N4s/kigempurmudharat)

Kamis, 05 Februari 2009

Menyikapi Pembukakan Kode Akses SLJJ

Era monopoli SLJJ Telkom selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan dan harus terhenti di Balikpapan. Kini Balikpapan memiliki dua kode akses SLJJ (KAS). TELKOM menggunakan prefik 017 dan INDOSAT 011. Dibukanya KAS di Balikpapan ini menyusul tercapainya kesepakatan melalui B2B (business to business) antara TELKOM dan INDOSAT setengah jam sebelum tenggat waktu. KAS-pun kemudian dibuka pada Jumat dini hari pukul 01.30 WIB tanggal 4 April 2008. Dengan dibukanya KAS di Balikpapan ini maka berakhir sudah kontroversi yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir ini.


Pembukaan KAS di Balikpapan itu terjadi menyusul Keputusan MENKOMINFO, Nomor: 480A/M/M.Kominfo/12/2007, yang isinya mengharuskan TELKOM membuka KAS di Balikpapan pada 3 April 2008. Pembukaan KAS untuk kota-kota lainnya ditetapkan berdasarkan treshold (persyaratan) yang harus tuntas seluruhnya hingga 27 September 2011.

Kronologis Penolakan
Kode Akses SLJJ awalnya ditetapkan pemerintah sebagaimana tertuang dalam KM. 28 Tahun 2004tanggal 11 Maret 2004 tentang Perubahan atas lampiran Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM. 4 Tahun 2004 tentang Penetapan Rencana Dasar Teknis Nasional 2000 (Fundamental Technical Plan Nasional 2000) Pembangunan Telekomunikasi Nasional.

Kebijakan Pemerintah itu dibuat atas usulan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang isinya mensyaratkan bahwa dalam satu tahun kedepan (2005) harus terjadi perubahan Kode Akses dalam pembangunan hubungan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ).

Kebijakan ini mendapat perlawanan tak hanya dari Manajemen namun juga dari SEKAR. Dari Sekar, misalnya Wartono Purwanto, Ketua Tim Kode Akses Sekar Telkom yang juga Ketua I DPP Sekar Telkom saat itu (2005) telah menginventarisir, bahwa kebijakan itu setidaknya akan membawa beberapa konsekuensi, antara lain: Berpotensi mengakibatkan kegagalan panggil (ASR/SCR) yang merugikan pelanggan; Pelanggan harus menanggung biaya yang besar untuk melakukan penyesuaian identitas dan setting perangkat (Sentral, PABX, Wartel, dll);

Menghambat penetrasi sambungan telepon tetap karena operator baru hanya akan tertarik menggarap bisnis jasa SLJJ tanpa perlu membangun Customer Base; Serta penyelenggara jaringan tetap existing (TELKOM) harus menanggung biaya besar untuk perubahan setting perangkat dan sosialisasi. Padahal biaya iini semestinya dimanfaatkan untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan sarana telekomunikasi. Initinya Sekar menganggap kebijakan pembukaan kode akses itu menjadi kontra produktif dengan upaya pembangunan satuan sambungan telepon baru.

SEKAR juga memandang kebijakan itu dirasakan tidak adil. Alasannya kebijakan itu tidak equal treatment dengan penyelenggara jaringan bergerak (seluler) yang tetap menggunakan kode akses “0” untuk panggilan akses nasional. Sementara untuk panggilan Seluler Umum Jarak Jauh (PSUJJ) yang sangat equal dengan SLJJ masih merupakan eksklusivitas yang tidak dikompetisikan.

Intinya menurut Wartono Purwanto bahwa kebijakan perubahan Kode Akses SLJJ tidak memberikan keuntungan. Tidak untuk pelanggan, tidak untuk Telkom, dan tidak untuk bangsa Indonesia, karenanya sikap Sekar Telkom : Kebijakan Perubahan Kode Akses SLLJJ bukan hanya harus ditunda tapi juga harus ditiadakan. Menurut Wartono Purwanto, saat ini pihaknya telah menemui Komisi V DPR RI, Menhub RI, Dephan RI dan melakukan kampanye dimedia massa.


Awal kebijakan
Seiring dengan diterapkannya kebijakan duopoli penyelenggaraan layanan telekomunikasi tetap di Indonesia, maka penyelenggaraan layanan SLJJ ditangani oleh dua operator, yaitu TELKOM dan INDOSAT.

Dengan kebijakan baru tersebut, sesuai dengan SK Menhub No. 4/2004 tertanggal 13 Mei 2004, akan terjadi perubahan nomor kode akses panggilan SLJJ yang mulai berlaku efektif 1 April 2005.

Dari pihak Telkom sesungguhnya telah mengingatkan pemerintah untuk terlebih dahulu melakukan perencanaan secara terintegrasi sebelum memberlakukan penggantian kode akses Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) diimplementasikan.

Menurut Direktur Bisnis Jasa Telekomunikasi (2004), Suryatin Setiawan bahwa untuk mengimplementasikan perubahan kode akses SLJJ diperlukan tahap persiapan yang panjang, terutama untuk sosialisasi ke masyarakat. Jika tidak akan menimbulkan kebingungan pada masyarakat yang bisa menurunkan trafik SLJJ.

Selanjutnya, dengan adanya perubahan kode akses itu maka konsumen bila akan menggunakan SLJJ Telkom memakai kode akses 017, sedangkan Indosat menggunakan 011. Sebagai operator, tandas Suryatin waktu itu bahwa pihaknya akan menghormati dan mematuhi aturan yang diterapkan pemerintah.

Suryatin mengatakan BUMN tersebut akan terus melaporkan kesiapannya kepada BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) agar dapat diketahui secara pasti tantangan operasional yang dihadapi oleh operator dalam mengubah kode akses. Namun dana yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan kode akses SLJJ cukup besar. Selain untuk kegiatan sosialisasi juga menyangkut pemrograman sentral dan biaya lainnya seperti upgrade software dan penambahan memori. Diisyaratkan pula bahwa pelanggan yang sudah berpuluh-puluh tahun menggunakan kode akses tertentu akan kesulitan dalam menggunakan kode akses baru itu.

Investasi baru
Menyangkut tentang rencana investasi, Direktur Bisnis Jaringan Telkom (2005), Abdul Haris, mengatakan sejauh ini TELKOM belum bisa menetapkan nilai investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan sistem dengan adanya perubahan kode akses SLJJ.
Namun berpatokan kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan kode akses SLJJ, AH menyebutkan Telkom akan melakukan uji coba kode akses baru 017 mulai awal 2005 karena sosialisasi kode akses baru tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain harus menginventarisasi sentral-sentral yang bisa dikembangkan memorinya tanpa harus melakukan replacement. Terutama untuk mencatat nomor panggilan yang lebih panjang membutuhkan kapasitas memori yang lebih besar.
Masih Rancu

Menurut Ketua SEKAR DPW VI Kalimantan, Dedy Ristanto, bahwa PM No.43/2008 tersebut masih sangat rancu. Salah satu kerancuannya bahwa yang diwajibkan dibuka KAS adalah penyelenggara jasa Jarak Jauh, sedangkan aturan penyelenggaraan jasa yang seharusnya membuka KAS adalah jasa lokal (Sesuai PM No.28, 29, 30 Tahun 2004).

Oleh karena itu SEKAR masih tetap gigih untuk melakukan penolakan terkait kebijakan KAS tersebut. Aksi penolakan kali ini diejawantahkan melalui doa bersama bertajuk “Munajat Cinta Karyawan TELKOM.” Doa bersama diikuti ratusan karyawan TELKOM yang berlangsung di halaman Kantor Divisi Regional VI Kalimantan, Jl. MT. Haryono No.169 Balikpapan.

Doa Munajat cinta karyawan TELKOM ini, kata Dedy, merupakan perwujudan rasa cinta karyawan TELKOM kepada perusahaan dan bangsa. Melalui doa bersama diharapkan agar TELKOM sebagai BUMN Flag Carrier mendapat perlindungan Allah SWT. Terutama agar asset strategis ini tidak dikuasai kapitalis asing sehingga tidak dapat dinikmati masyarakat Indonesia sendiri.

Ditegaskan Dedy bahwa kompetisi SLJJ sebetulnya sudah terjadi di Balikpapan. “Masyarakat balikpapan untuk melakukan panggilan ke daerah lain tidak harus hanya menggunakan SLJJ TELKOM saja. Ada pilihan lain. Misalnya dengan menggunakan GSM maupun operator lain yang telah beroperasi di Balikpapan,” jelas Deddy.

Dijelaskan bahwa kebijakan pengaturan Kompetisi SLJJ untuk pelanggan PSTN dengan menggunakan Kode Akses SLJJ sesungguhnya secara logika tidak akan menjadikan harga SLJJ semakin murah. Dengan menggunakan Kode Akses maka infrastruktur yang digunakan untuk melakukan panggilan SLJJ justru akan semakin tidak efisien. Pada gilirannya tarif menjadi lebih mahal yang justru akan membebani masyarakat.

Sebagai bukti, kata Dedy, bahwa jika panggilan SLJJ dari pelanggan Telkom Balikpapan ke pelanggan Telkom Jakarta tanpa menggunakan kode akses SLJJ (eksisting) maka infrastruktur yang digunakan adalah Sentral Lokal Balikpapan, Setral Trunk Balikpapan, Link Jarak Jauh (JJ) Balikpapan – Jakarta dan Sentral Lokal Jakarta. Konfigurasi seperti ini relatif murah.

Namun jika panggilan tersebut menggunakan Kode akses maka infrastruktur yang digunakan akan bertambah banyak yaitu selain infrastruktur tanpa kode akses ditambah dengan Gateway Telkom di Balikpapan, Gateway Penyelenggara Jasa JJ di Balikpapan, Gateway Telkom di Jakarta, dan Gateway Penyelenggara JJ di Jakarta. Akibatnya tarif menjadi relatif mahal.

Kebijakan dipaksakan
Sementara itu Ketua DPW IV Jateng & DIY, Syahrul Akhyar, bahwa hadirnya sejumlah pengurus DPP dan DPW Sekar seluruh Indonesia di Balikpapan ini untuk menunjukkan rasa cintanya karyawan pada perusahaan yang tengah diambang kehancuran. Selain, tentu saja, karena semangat dan kegigihannya untuk menyelamatkan TELKOM dari penguasaan kapitalis asing. “Adapun alasan penolakan, SEKAR berpandangan bahwa kebijakan ini terlalu dipaksakan dan terlalu mengada-ada. Kalkulasi bisnisnya tidak rasional dan tidak produktif,” tandas Syahrul.

Syahrul tak memungkiri kalau kebijakan ini bermuatan politis tingkat tinggi. Ada skenario besar dan terselubung dari para aktor internansional dengan tujuan untuk menguasai perekonomian bangsa. Namun lagi-lagi kita tidak menyadari akan hal itu. ”Kita tak pernah berlajar dari divestasi Indosat yang notabene menjual aset strategis bangsa kepada asing. BUMN kebanggaan bangsa itu (Indosat) kini sudah terjual kepada asing dan sudah tidak lagi dimiliki serta dinikmati rakyat Indonesia”, kata Syahrul.

Dikhawatirkan TELKOM yang tinggal satu-satunya milik dan kebanggaan bangsa penyumbang deviden untuk negara terbesar kedua setelah Pertamina ini akan dihancurkan secara sistematis lewat regulasi yang tidak adil. Sehingga pada akhirnya kedaulatan negara di bidang telekomunikasi akan hilang.

Di lantai bursa, kini ada fenomena TELKOM tengah diincar para investor asing untuk dijadikan korban berikutnya. Hal ini karena value dan nilai strategis TELKOM yang sangat tinggi.

Acara doa bersama yang dilakukan karyawan TELKOM ini juga guna memohon petunjuk Allah SWT sekaligus untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang adanya bahaya yang tengah mengancam negeri ini. ”Invasi ekonomi asing sudah sangat atraktif dan telah menusuk ke jantung paling vital. ”Satu demi satu asset negara lepas dan dikuasai asing. Mulai dari minyak, air, pasir, hasil hutan, tambang emas, dll.”, kata Syahrul.

Lima ancaman
Ancaman di sektor telekomunikasi, khususnya yang akan dihadapi Telkom kalau kebijakan ini tetap dilaksanakan, kata Syahrul, maka Telkom harus menanggung kerugian berlipat-lipat. Pertama, Telkom harus mengeluarkan dana hingga triliunan rupiah untuk meng-upgrade sentral-sentralnya di seluruh Indonesia serta melakukan sosialisasi luas dan gencar. Pengeluaran dalam jumlah sebesar itu jelas akan berpengaruh negatif terhadap rencana berbagai investasi strategis lainnya yang bersifat mendesak dilakukan Telkom untuk menghadapi persaingan.

Kedua, tidak ada lagi keterikatan Telkom dengan pelanggannya terkait layanan SLJJ, yang berarti pelanggan SLJJ Telkom bisa direbut begitu saja oleh pesaing dengan cara memanfaatkan infrastruktur Telkom.

Ketiga, dengan masih berlakunya subsidi dari tarif SLJJ ke tarif percakapan lokal, kebijakan kode akses SLJJ akan membuat Telkom sulit mempertahankan level tarif percakapan lokal pada tarif yang berlaku sekarang, padahal masalah ini sangat sensitif karena terkait dengan kepentingan masyarakat banyak.

Keempat, persepsi investor terhadap Telkom sebagai perusahan publik akan terpengaruh secara negatif, sehingga harga saham dan nilai kapitalisasi pasar Telkom juga akan turun. Perusahaan ini menargetkan pencapaian kapitalisasi pasar senilai USD 30 miliar pada tahun 2010.

Kelima, posisi Telkom akan mengalami kesulitan untuk memenuhi target setoran kepada negara yang terus meningkat. Pada tahun 2006 lalu, BUMN ini telah menyetorkan lebih dari Rp 23 triliun kepada negara lewat deviden, pajak, BHP, dan lain-lain. Harapannya prestasi ini tentu terus meningkat di waktu-waktu mendatang.

Itu baru dari sisi Telkom, belum lagi kerugian bagi masyarakat dan negara seperti semakin rumitnya prosedur melakukan hubungan SLJJ, keharusan merubah properti identitas yang mencantumkan nomor telepon yang bila dihitung total biayanya bisa sangat besar, menurunnya potensi pendapatan negara dari deviden Telkom dan masih banyak lagi.

Memanaj regulasi
Apa boleh buat TELKOM harus bertanggung jawab atas kompensasi lisensi kode akses SLI sebesar Rp.478 Milyar dan Akses 15 Mhz DCS di frekuensi 1.800 Mhz. Indosat menagih janji karena pihaknya sudah terlebih dahulu membuka kode akses SLI untuk mencapai kompetisi sehat di SLI.

Regulasi. Ya, itulah senjata Pemerintah. Regulasi digulirkan guna mencapai keseimbangan kepentingan di tiga pihak, yakni: Regulator, Operator dan Masyarakat. Karena pedas dan tajamnya regulasi dalam upaya menebas bisnis TELKOM, maka TELKOM berkomitmen bahwa regulasi harus lah di manaj.

Manajemen Telkom berpandangan bahwa regulasi merupakan satu tantangan/chalange, sebuah opportunity sekaligus juga risiko. Untuk itu kita semua harus memahami bagaimana tren regulasi ke depan serta bagaimana mengantisipasinya. ”Regulatory sebagai salah satu risiko harus di-manage. Tuntutan teknologi, masyarakat dan regulator harus dipahami dan diantisipasi, demikian kata Dir CRM, Prasetio.

Regulator memiliki kepentingan ingin memajukan masyarakat dengan membuat kebijakan-kebijakan untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat melalui percepatan peningkatan teledensitas. TELKOM sebagai Operator mau tidak mau, suka tidak suka selaku Incumbent, sebagai unit ekonomi atau korporasi harus menjaga sustainability, survival, continuity kelangsungan hidupnya melalui kinerja usaha yang memberi nilai tambah bagi stakeholder dan karyawannya. ”Pelanggan saat ini sangat demanding sehingga kebutuhannya juga sangat bervariasi, berikan yang terbaik kepada pelanggan,” begitu kata Prasetio.

Menurut Prasetio menghadapi regulatory yang dapat digolongkan ke dalam risiko faktor eksternal ini kata kuncinya adalah jaga kinerja usaha. Jika sebuah keputusan sudah ditetapkan maka harus ditaati. Kedepan TELKOM harus lebih proaktif, lebih mewarnai regulasi TIK di Indonesia sehingga TELKOM lebih siap dalam mengantisipasi dampak-dampak yang ditimbulkannya, khususnya yang mempengaruhi kinerja usaha TELKOM, sedemikian rupa sehingga dapat dikendalikan dengan sebaik-baiknya. Berbicara tentang kinerja, seperti diamanatkan oleh Dirut TELKOM Rinaldi Firmansyah, Prasetio mengajak kepada seluruh Senior Leaders yang hadir untuk fully dedicated pada kemajuan institusi dengan cara senantiasa meningkatkan kualitas layanan dan operasi, selalu berupaya berkontribusi terhadap kinerja usaha serta memberi nilai tambah kepada perusahaan.

Dalam era persaingan bisnis telekomunikasi yang sangat ketat dan penuh dengan tekanan ini, pelanggan memegang peranan yang sangat penting. Pelanggan adalah raja, pelanggan selalu benar, pelanggan adalah bos kita, pelanggan adalah yang menghidupi kita, oleh karena itu BOD mengajak untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pelanggan kita supaya pelanggan tetap setia/loyal memakai produk-produk TELKOM. Untuk itu, kunci suksesnya adalah kualitas, mari disiplin terhadap kualitas layanan, proses, operasi dan penggunaan anggaran dalam rangka peningkatan kinerja.

Agak sedikit berbeda dengan sosialisasi regulasi yang diselenggarakan di Balikpapan pada tanggal 22 Februari 2008 mengingat isu yang hangat yakni menjelang diimplementasikannya Kode Akses. Mengapa kode akses harus dibuka?. Ada kepentingan regulator di dalamnya. Regulator dalam spirit UU 36/99 tentang Telekomunikasi di era kompetisi ini berkeinginan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui percepatan teledensitas dan mendorong kebebasan masyarakat untuk memilih akses jaringan operator yang ada sejalan dengan akan ditenderkan lisensi-lisensi baru jaringan tetap jarak jauh dan lokal.

Dalam kondisi seperti itu, operator seperti kita yang incumbent ini harus tetap survive dan tumbuh berkesinambungan. Demikian, disampaikan Dir CRM Prasetio, pada saat sambutan Sosialisasi Regulasi di Balikpapan (22/2). Menurut Prasetio, Direksi berpendapat, kita tidak perlu khawatir untuk berkompetisi terkait dengan pembukaan Kode Akses SLJJ (KAS) di Balikpapan pada tanggal 3 April mendatang. Kekhawatiran Balikpapan sebagai pembuka jalan bagi kota-kota lain, cukup beralasan, namun threshold 30% bagi pemain baru FWA dan 15% untuk FWA+FWT terhadap fixed line untuk berkompetisi dengan Telkom bukan barang mudah. Rangkaian roadshow ini dilakukan merupakan kelanjutan roadshow pertama yang dimulai dari Kantor Perusahaan dan akan berlanjut ke Divre-Divre/Unit bisnis lain terkait dengan isu-isu regulasi ke depan.

Persiapan implementasi KAS di Divre VI khususnya di Balikpapan seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau regulator, tentu saja kita memahami dan kita harus menjunjung tinggi segala peraturan itu. Compliance artinya kita taat kepada peraturan yang sudah ditetapkan, tapi bagaimana kita menyikapi ini dengan quality yang ada. Tentunya di seluruh kepentingan ini kita tidak bisa memenangkan semuanya, tapi yang penting balance dan kita punya agenda besar yang lainnya yaitu bahwa kita harus memperbaiki kualitas network kita, kualitas dari pelayanan kita apakah itu di pembangunan BTS flexy yang dipercepat dan percepatan pembangunan Speedy yang merupakan core produk kita serta inisiatif stategis ”new-wave” yang merupakan bagian dari visi Telkom menuju leading Infocom player in the region.

Sementara itu Dir NWS, Nyoman G Wiryanata (kini menjadi Direktur Network Solution), mengatakan bahwa regulasi sangat menentukan peluang kita di dalam mengambil market share maupun market price. Jika market share-nya tumbuh, maka bottom line juga bisa tumbuh. Secara perusahaan, investor bisa tahu untuk melihat bukan kesalahan bottom up. Tapi yang menjadi masalah adalah apabila market share, bottom line kita itu pertumbuhannya tidak sesuai harapan.

Mengingat bahwa desakan regulator sulit dihindari karena positioning incumbent kita sebagai operator maka kita bertekad, direksi bertekad, seluruh karyawan tentunya diharapkan bersama-sama, di tengah-tengah regulasi yang akan keluar dari mana pun, diharapkan bottom line kita akan tetap tumbuh. Dan itu akan dicapai apabila produk kita tetap dipilih customer. ”Kita harapkan customer itu tetap loyal kepada kita, menggunakan produk kita sehingga bottom line kita itu tumbuh. Mungkin terkesan bottom line market share itu probability prosentasenya tidak tumbuh. Tapi akumulasi pendapatannya yang tumbuh. Nah itu yang paling utama,” kata Nyoman.

Menyikapi KAS
Apapun dalihnya dan darimana pun datangnya, toh, kode akses SLJJ (KAS) telah terlanjur dibuka dari Balikpapan. Pada tanggal 4 April harus sduah dibuka minimal di enam kota (Bpp, Jkt, Surabaya, Denpasar, Batam dan Medan) dan pada Minggu kedua April harus sudah dapat mengakses ke seluruh kota.

Tampaknya semua pihak, kita, Manajemen dan Sekar harus dapat menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Barangkali tak akan ada seorang karyawan pun yang rela KAS dibuka. Namun apa boleh buat, sebagai karyawan atau Institusi kita dituntut untuk untuk patuh pada aturan. Tantu agar kesan yang ditimmbulkan kita bukanlah manusia atau institusi pembangkang.

Selain itu yang perlu menjadi perhatian adalah persepsi publik. Jangan sampai malah TELKOM dituduh tak berani untuk berkompetisi. Karena persepsi masyarakat terhadap kompetisi adalah akan diperolehnya harga yang lebih murah yang justru akan menguntungkannya. Ini jelas akan terkait dengan citra perusahaan.

Jika melihat kesepakatan yang tertuang dalam B2B (business to business) antara Telkom dan isat, sebenarnya posisi Telkom tidak terlalu dirugikan. Perhatikan saja dari perhitungan pembagian tarifnya. Tarif normal BPP-JKT (siang) adalah Rp2.200/menit. Berdasarkan B2B kita dapat surcharge dari Isat dan deal pada Rp945. Kemudian dari tarif originating Rp206/mnt deal Rp203. Jadi pembagiannya: TELKOM (017) mendapatkan: Rp945 + (Rp203x2)= Rp1.351,- dan INDOSAT (011) mendapat: Rp2.200-1351=Rp848,- Pendapatan tersebut belum termasuk pendapatan dari terminasi lokal di enam kota (BPP, JKT, SBY, Batam, Medan, Denpasar) sebesar Rp560 dan deal pada harga yang sama Rp560,- (*nas)

Selasa, 03 Februari 2009

Arti "Mati" bagi SEKAR

Kecintaan tak terbatas SEKAR tidak hanya kepada TELKOM, namun juga kepada Anggotanya. Salah satu wujud kecintaan SEKAR pada TELKOM antara lain keberadaannya yang sangat concern terhadap setiap kebijakan yang dapat membawa dampak kerugian bagi perusahaan. Sebut saja pengaruh regulator, kompetitor, maupun dari pressure group, dan LSM yang acapkali melempar isu miring kepada TELKOM. Hal ini memang telah menjadi salah satu watak perjuangan dan komitmen Sekar yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kecintaan seperti inilah yang antara lain menjadi daya dorong SEKAR untuk bertekad sebagai benteng perusahaan.

Sementara untuk menunjukkan kecintaannya pada Anggotanya diwujudkan melalui PKB yang didalamnya berisi kesepakatan-kesepakatan antara Manajemen dan SEKAR terkait seluk beluk aturan yang sebagian besar menyangkut persoalan kesejahteraan.

PKB Sebagai Pedoman

Dalam Mukadimah disebutkan bahwa antara SEKAR dan Manajemen sepakat untuk melaksanakan Hubungan Industrial Pancasila dalam rangka menciptakan hubungan kerja yang serasi, aman, mantap, tenteram, dan dinamis. Selain itu juga sebagai perwujudan ketenangan kerja dan perbaikan kesejahteraan Karyawan, kelangsungan usaha, kepastian hak dan kewajiban masing-masing pihak SEKAR dan Manajemen TELKOM.

SEKAR dan TELKOM wajib untuk saling mendukung dalam upaya pelaksanaan tugas Perusahaan secara jujur, bertanggungjawab, efisien, dan efektif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kepatutan, kewajaran dan kepentingan umum. SEKAR dan TELKOM sepakat untuk menjadikan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebagai pedoman yang mengatur hubungan kerja, sehingga harus dipatuhi dan dilaksanakan secara tepat, benar, dan dapat diuji berdasarkan rasa keadilan, kepatutan, kewajaran, dan kepentingan umum.

Dalam Mukadimah itupun dinyatakan bahwa SEKAR dan TELKOM sepakat untuk mewujudkan kemitraan konstruktif dalam konteks hubungan industrial guna mempertahankan dan memajukan perusahaan serta meningkatkan kesejahteraan karyawan. Serta sepakat untuk melindungi dengan berupaya meningkatkan hak-hak dan kesejahteraan karyawan, dengan memperhatikan kondisi perusahaan sesuai dengan kesepakatan bersama.

Pada saat Workshop dan Rakernas II Sekar di Surabaya, pada Maret silam, ada sebuah standing/hanging baner yang berbunyi “Meningkatkan kesejahteraan karyawan adalah perjuangan tanpa henti. Dan komitmen SEKAR menjadi benteng perusahaan adalah perjuangan sampai mati”. Baner lainnya berbunyi ”Kesejahteraan, Kesejahteran dan Kesejahteraan”. Kata itu disebut tiga kali, menunjukkan betapa besarnya keberpihakan SEKAR kepada Anggotanya.

Jadi arti “mati” bagi SEKAR adalah manakala eksistensinya sudah tidak sanggup lagi menjadi benteng perusahaan. Namun SEKAR begitu yakin dan optimis mampu memerankannya. Kematian bagi SEKAR hanya akan terjadi bersamaan dengan matinya TELKOM di hari kiamat kelak. (*NAS)

Profile: Wartono Purwanto

Catatan: Wartono Purwanto, Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) SEKAR Periode 2007-2010 terpilih melalui Munas III Sekar. Orang yang akrab dipanggil Ipung ini sejak awal konvensi diprediksi akan menempati posisi puncak di SEKAR. Ada sisi-sisi dimana beliau memang paling ideal menempati tampuk pimpinan SEKAR. Nah, mari kita simak, siapa dia dan mau dibawa kemana SEKAR ini. Quo Vadis DPP Sekar?.

Sekaris berkumis tebal ini selain alumnus S-1 Teknik Informatika UGM Jogja (1990) juga alumnus S-2 Iinformation Technology Engineering dari Royal Melbourne Institute of Technology, Australia (1999). Orang yang kerap dipanggil Ipunk ini memiliki Visi yaitu : Kesejahteraan Karyawan yang Otomatis.

Sedangkan misi yang akan diemban SEKAR ke depan. Pertama, SEKAR harus tetap sebagai wahana perjuangan dengan tetap mengedepankan harmonisasi. Kedua, SEKAR harus memiliki Road Map & Fundamental yang jelas menuju 2010. Ketiga, SEKAR harus menjadi Role Model Serikat Pekerja di Indonesia.. Dan Keempat, SEKAR harus memiliki Master Plan.

Ketika ditanya kiprah SEKAR sleama tujuh tahun (2000 – 2007). Dia mengatakan bahwa tahun-tahun itu merupakan tahun penuh perjuangan & eksistensi. Jika dikelompokkan ada tiga jenis perjuangan. Pertama, Perjuangan utama untuk karyawan, sehingga keberadaannya benar-benar mampu sebagai Wadah persatuan & kesejahteraan karyawan (PKB, CBHRM); Membangun saluran komunikasi dan budaya demokrasi; Serta sebagai Konsultasi dan advokasi.

Kedua, Perjuangan utama untuk perusahaan, yakni berupaya mempertahankan sawah ladang perusahaan (buy out Divre III, pembelian Divre IV, kode akses, peninjauan kembali SKTT ), termasuk juga perjuangan dalam kerangka Implementasi GCG. Sedangkan yang ketiga perjuangan untuk eksistensi dilakukan melalui berbagai wahana, seperti Munas, Rakernas, Muswil, Musda, Rakerda. Membangun metworking dengan berbagai lembaga dan pihak strategis serta Federasi BUMN strategis.

Sedangkan untuk tahun 2007 – 2010 dinilai sebagai tahun membangun harmoni, yakni : Harmoni untuk memenangkan persaingan : Back to basic: fokus dalam pengelolaan organisasi secara profesional dan elegan. ; Sekar sebagai role model. ; Stagnasi pertumbuhan bisnis Telkom unconsolidated. ; Konflik kepentingan Sekar – Manajemen. ; Tekanan regulator yang kurang bersahabat. Kebersamaan untuk menjadi “leader”: Kepedulian terhadap kinerja perusahaan untuk mendongkrak kesejahteraan karyawan. ; Garda terdepan menyelamatkan perusahaan. ; Komitmen dan konsistensi implementasi GCG dalam persahaan. ; Mitra konstruktif Manajemen dengan program yang konkrit.

Road Map SEKAR menuju 2010 dipaparkan secara gradual dan komprehensif, yakni : KEMARIN: Terimakasih atas fondasi & prestasi yang telah diraih oleh pendahulu kami. HARI INI : Critical point bagi kita semua memilih pemimpin yang tepat pada waktu yang tepat untuk SEKAR, Karyawan 7 Perusahaan. ESOK: Mari kita songsong masa depan dengan penuh optimisme dan semangat kebersamaan untuk mewujudkan yang terbaik bagi karyawan dan perusahaan.

Tahun 2007 – 2010 Ipunk berharap SEKAR menjadi role model baik di dalam peran sebagai pengurus, anggota maupun sebagai karyawan. SEKAR harus mendorong peningkatan kinerja perusahaan dan terdepan dalam upaya peningkatan kesejahteraan karyawan. SEKAR mampu menjelma menjadi organisasi yang modern dan professional. SEKAR bertindak sebagai garda terdepan bagi kesinambungan bisnis perusahaan. SEKAR sebagai “Center of Excellent” Serikat di Indonesia. SEKAR mewujudkan model kemitraan yang konstruktif dengan Manajemen dengan memberikan kontribusi bagi kemajuan perusahaan. (*nas)

Gagal Tersenyum

Kalau kita mau jujur dan masih dalam koridor sehat lahir batin, kita semua pasti tidak ingin gagal. Mengapa? Karena kegagalan adalah sesuatu yang tidak mengenakan, tidak nyaman bahkan mungkin akan terasa menyakitkan. Oleh karena itu dengan sekuat urat dan tenaga, kita pasti akan berupaya untuk menghindari sebuah kegagalan.

Namun demikian, kegagalan rupanya sudah terlanjur sangat akrab dalam setiap denyut nadi kita. Kegagalan telah menjadi bagian dari hidup kita. Tak ada manusia di jagat raya ini yang belum pernah mengalami kegagalan. Sebagai seorang pegawai, tentu pernah merasakan adanya target yang tidak tercapai. Banyak cita-cita yang melenceng jauh dari harapan. Tak sedikit harapan tinggal lah harapan, menjadi kosong melompong.

Mengapa kita harus mengalami kegagalan dan tidak mencapai sukses? Atau mengapa kita belum berhasil dan kerap bersua dengan untaian kekecewaan? Apakah kegagalan merupakan realitas hidup yang wajib dan mutlak keberadaannya, sehingga sebuah keberhasilan dapat kita apresiasikan?

Mas, mbak, Kegagalan tidak terjadi dalam semalam. Sukses pun tak lantas tercapai dalam sehari. Kedua tesis di atas sangat sederhana namun cukup teruji kebenarannya. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah kemampuan kita untuk mengambil langkah-langkah kecil guna menggapai hasil yang besar. Dan sebuah kegagalan sebenarnya adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil, hingga ia menumpuk sedemikian besar dan tak terhindarkan lagi resiko dan konsuekuensinya.

Mari kita ambil sebuah contoh kasus gagal jantung. Sesungguhnya serangan jantung tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi bertahun-tahun bahkan memakan waktu puluhan tahun. Penyakit jantung telah tertimbun sejak dari merokok, pola makan tidak sehat & tidak seimbang, kondisi stress dan malas berolahraga. Akibatnya sedikit demi sedikit pembuluh darah semakin menyempit. Dampak lanjutannya cukup serius, terjadi kegagalan jantung. Kini yakin lah seperti yang dikatakan kaum dokter bahwa kegagalan jantung itu terjadi secara bertahap, secuil demi senduit.

Demikian halnya tentang sebuah keberhasilan. Ia pun sesungguhnya berlangsung dengan modus yang sama. Sedikit demi sedikit ditumpuk sedemikian rupa sehingga kesuksesan itu lama kelamaan menjadi numpuk, besar dan berbuah gemilang.

Contoh yang agak teoritis adalah demikian. Jika seseorang mempelajari lima kata bahasa Inggris per hari maka dalam setahun dia akan memiliki hampir dua ribu kosa kata dan dalam lima tahun pasti bisa menguasai sepuluh ribu kosa kata. Tetapi berapa banyak kah orang yang sanggup melakukannya? Tentu tak banyak, termasuk para mahasiswa dan kaum sarjana. Sehingga kalau ada pertanyaan, berapakah lulusan perguruan tinggi mampu berbahasa Inggris dengan lancar? Tentu saja tidak banyak. Mengapa? Karena mereka gagal membunuh kemalasan hingga tak sudi menghafal lima kata Inggris per hari.

Ada beberapa rahasia kegagalan yang bisa menjadi bahan renungan kita. Diantaranya adalah gagal mengucapkan terima kasih, gagal minta maaf, gagal memberi perhatian pada seorang staff, gagal mengusulkan kenaikan pangkat anak buah, gagal tersenyum, gagal bertekun setengah jam, gagal berolahraga setengah jam per hari, gagal membawa mobil ke bengkel untuk servis rutin, gagal menabung 5% dari penghasilan per bulan, gagal menutup mulut dari ucapan tak bermutu, gagal mendirikan sholat tepat waktu, gagal berlaku jujur dengan mitra, gagal mendidik keluarga, dan ribuan kegagalan kecil lainnya yang ujung-ujungnya bisa gagal ginjal dan gagal jantung sampai pada gagal hidup lebih lama. Pada gilirannya, yang justru paling dikhawatirkan adalah gagal masuk surga. Duh! (hadil/ns).

Filosofi dibalik Kisah Ular dan Gergaji

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan ke...