Rabu, 30 November 2011

Dosen Killer bikin bocor kepala mahasiswa

Dosen yang satu ini memang dikenal sebagai dosen killer. Tak hanya pelit kasih nilai ujian, namun juga hobinya melempar penghapus kepada mahasiswa, terutama yang tak becus ngerjain soal di depan kelas.

Dosen yang kebetulan pengurus Sekar itu pada akhirnya harus berhadapan dengan polisi. Tuduhannya tidak main-main: Kekerasan di Ruang Kuliah yang mengakibatkan seorang mahasiwa ITT kepalanya bocor.

Begini hasil investigasinya.

Polisi:“Benar anda melempar penghapus ke kepala seorang mahasiswa ITT hingga kepalanya bocor?”

Dosen:“Benar pak Polisi”.

Polisi:“Mengapa saudara melakukan tindakan tidak terpuji itu?”


Dosen:“Awalnya coba2 kemudian menjadi kebiasaan tapi lama2 jadi hobi pak.”

Polisi:“Iya hobi tinggal hobi tapi mengapa yang dilempar kepalanya?”

Dosen:“Eh, siapa pula yang lempar kepalanya pak, saya itu selalu lempar kakinya!”

Polisi:“Lho itu kepalanya mpe bocor gitu...gimana sich!”

Dosen:“Kejadiannya begini pak Polisi. Sebenarnya yang saya lempar itu kakinya. Itu memang sudah menjadi standar kebiasaan saya. Tapi pada saat itu ketika saya lempar kakinya, eh, dia malah jongkok. Ya udah kena dech palanya. Bocor dech...”

Polisi: ";/cj7%#)???"

========n425

Pesan moral: Kekerasan tidak akan membawa kebaikan apalagi keberkahan. Menjadi orang arif dan bijaksana kiranya dapat dijadikan salah satu misi hidup. Dengan begitu siapa tahu ridho Allah SWT senantiasa bersama kita).

Suguhan Baso Berformulir

Rapat jelang Rakernas IV di Makassar, berlangsung lumayan alot.  Rapat yang dipimpin langsung Sekjen Asep Mulyana itu, masih menyimpan sejumlah agenda. 

Saat rehat tiba, peserta diberikan makanan pengganjal berupa mie bakso. Salah seorang peserta rapat, Evi Priatna, protes pada Ram2 yang biasa menyiapkan konsumsi.


Evi: “Ram, Ram, sini ram...”

Ramram:“Ya, pak..”

Evi: “Ini baso beli dimana sich?

Ramram:“Di belakang kantor pak di tempat yg sudah biasa, mangnya napa gitu pak..”

Evi: Ini basonya tumben kagak enak begini euy, sebel mau muntah!!!..”

Asep: (nyang ga demen baso) “Hati2 keracunan kang, sekarang mah banyak baso yang mengandung formulir loh...”


Evi: **#(&!!&^???>>!!(dlm qolbu, formaliiinn kaleeee...)

===n425
(Pesan moral: Boleh jadi ada unsur kesengajaan menggunakan istilah yang nyaris sejenis. Dan ini diperlukan. Sekedar menjernihan dari suasana kepenatan rapat).

3-K (Kunyuk Ketemu Kunyuk) Yo Ngono

Ada dua kunyuk sedang asyik ngobrol. Kita simak yuukkkk...

Kunyuk 1: “Nyat nyet nyet nyot nyoootjaga status quo nyot nyiiit ok..”

Kunyuk 2 : “Nyit nyit nyet nyut nyotsip aman tapi nyet nyot nyit nyit...”

Kunyuk 1 : “Ok nyat nyat nyet nyitapa...”

Kunyuk 2 : “Nyut nyut nyit nyot nyitcrv aja nyat nyet nyet...”

Kunyuk 1 : “Nyit nyit nyot oce ocenyet nyit band2 nyooottt...”

Kuncir: “Dasar kunyuk ketemu kunyuk yo ngono...”

(Pesan moral: negosiasi telah menjadi seni dalam mencapai tujuan. Selama itu ditujukan untuk kepentingan yang lebih luas sah-sah saja. Tapi kalau untung kepentingan pribadi dengan merugikan hak orang lain, sebaiknya dihindari).

Jumat, 25 November 2011

Melihat Pameran Lukisan

Menjelang HUT Sekar diselenggarakan Lomba Lukis untuk anak-anak karyawan dibawah umur 10 tahun. Sebelum pelaksanaan lomba, anak2 yang mendaftar diajak Panitia melihat pameran lukisan terlebih dahulu. Pengarahan pun diberikan Panitia.

Teh Titut: “Anak2 nanti kalau sudah berada di tempat pameran, tidak boleh memegang lukisan yang dipajang yaahhh. Ayo, siapa yang tau apa sebabnya tidak boleh dipegang coba???”

Cucu Kang Atang: "Ntay yukisannya yussaaakkkkk..."

Anak Mas Candra: “Nanti lukisannya cobeeekkk...”

Anak pak Imron : “Nanti lukisannya kotooyyy dooonk...”

Anak Ustadz Soma : “Sebab bukan muhlim-nyaaaa...”

=====kgm/n425

(Pesan moral: Menyampaikan opini pada suatu obyek permasalahan, banyak dipengaruhi oleh latar pendidikan dan pengalaman seseorang. Sudut pandang akan menjadi beraneka. Justru disitulah indahnya perbedaan).

Kamis, 24 November 2011

Kisah bang Jadul dipaksa pendi

Pada suatu malam di sebuah cafe bertemu dengan bang Jadul (nama boong2an), salah seorang mantan Senior Officer. 

Mukanya tampak kusut sekusut pakaiannya. Kulitnya lusuh selusuh jaketnya. Tatapannya kosong dengan sebatang rokok terselip diantara jari tengah dan telunjuk. 

Kalau dilihat dari tongkrongannya, sepertinya beliau termasuk salah seorang yang gagal memanfaatkan uang pendi.

“Eh ada bang Jadul. Sehat bang? Kabarnya sudah pendi yah??” demikian kata saya.

“(agak terperanjat) Eh ada si akang. Iya nich saya dah pendi kang. Padahal saya masih ingin bekerja loh, tapi waktu itu saya tetap diminta untuk mengambil pendi”.

“Loh, koq bisa gitu. Emangnya apa alasannya pake disuruh pendi segala.”

“Yah begitulah kang. Saya dituduh ketinggalan zaman gak bisa memanfaatkan IT. Selain juga dianggap ga becus kerja karena target ga pernah tercapai. Malahan saya juga dituduh suka mangkir dan suka mempersulit mitra kerja dengan tujuan untuk memeras”.

“Wah, kebangetan bossmu itu. Harusnya dia bisa membuktikan donk, kalau abang tidak seperti itu.”

“Saya sudah berusaha sekuat tenaga kang. Tapi sayangnya boss saya bisa membuktikannya.” 

=======(n425)

(Pesan moral: Setiap perbuatan mengandung resiko. Dan resiko itu harus diterima dengan lapang dada. Jadikan ia sebagai pelajaran berharga menuju kedewasaan bersikap, berpikir dan berprilaku).


Donat atau ee kucing




Pagi2 sekali dua orang Satpam masuk Pospamtel dan melihat di meja ada lingkaran bulat yang nyaris mirip kue donat.


Satpam 1: “Itu kue donat siapa ya di meja?”

Satpam 2: “Bukan kue donat. Itu mah kotoran kucing”

Satpam 1: “Masa kotoran kucing begitu. Kue donat ukuran kecil saya yakin itu”.

Satpam 2: “Kotoran kucing ach..”

Satpam 1: “Donat!”

Satpam 2: “Kucing!”

Satpam 1: “Donaaaattt...!!”

(karena penasaran dicolek, dijilat sedikit dan diciumlah oleh Satpam 1)

Satpam 1: “Tuch bener kaaaannnn...ee kucing,,”

Satpam 2: “Ich jorok banged, emang gimana sih rasanya?”

Satpam 1: “Cobain aja sendiri...Ya lumayan sih rada acem2 gituh...cuma baunya gila..!!!” (Sambil meludah se-jadi2nya).

==========kgm/n425

(Pesan moral: Untuk mendapatkan kebenaran hakiki terkadang dibutuhkan proses pembuktian. Terlebih jika menghadapi suatu permasalahan dengan perbedaan pendapat yang ekstrim. Walau bukti itu dirasakan tak nyaman, tapi ada kepuasan tersendiri. Ada yang berpendapat bukti dapat melepas kegalauan).

=== n425 ===


Oknum HR vs Orang Sekar



Selepas demo Sekar di Silang Monas ada oknum karyawan yang mengaku dari HR mendata orang yang hadir.
Oknum: “Anda karyawan Telkom yah...”

Kang Ferdi: “Iyah, emanknya napa gitu..”

Oknum: “Anda orang Sekar bukan?”

Kang Ferdi: “Bukan, saya orang Serikat Karyawan koq...”

Oknum: “Och, saya kira anda orang Sekar, maaf yah...”

Kang Ferdi: “Ochey...” 
(untung dibisikin sama kang Nana. Nuhun ach salamet yeuh).

(Pesan moral: Begitulah jadinya kalau bekerja tidak menguasai bidang yang dikerjakan. Bahkan masalah sepele pun bisa luput dari pengetahuannya. Dan itu sungguh ironis bukan!!).

=== N245 ===

Tukang Kopi vs Bos Bersepeda


Seorang Senior Leader dan seorang Ketua Sekar punya hobi bersepeda. Suatu hari mereka bareng pergi ke kantor dengan bersepeda. Entah cape atau haus mereka mampir di Warung Kopi Antapani. Terjadilah dialog sbb.

Tukang kopi: (sambil menyajikan dua gelas kopi) “Bapak-bapak pada mau kemana nich...”

SL: “Mau ke kantor Mang...”

Tukang kopi: “Kantornya dimana pak...”

KS: “Itu kantor Telkom yang di depan Gasibu...”

Tukang kopi: “Ooch, mau ke kantor Gasibu...trus naik sepedanya darimana pak...”

SL: (sambil bayar dan mau cabut lagi) “Rumah kami di Ujungberung, memangnya kenapa Mang...”

Tukang kopi: “Walaahh jauh sekali yaahhh...Ya udah Mamang hanya bisa mendo'akan semoga bapak2 dapat uang banyak di kantor...supaya bisa pada beli motor yah..hehehe.”

===n425

(Pesan moral: Persepsi dari kacamata kaum awam menghasilkan opini yang lugu, jujur dan apa adanya. Mereka tak mau berpikir jlimet apalagi memusingkan. Dalam keterbatasan pengetahuannya cukup menyampaikan apa yang disaksikan di depan matanya tanpa harus menduga-duga).

Dirut TELKOM Tutup Rakernas IV SEKAR

Makassar, 27 Oktober 2011 – Dari sepuluh operator telekomunikasi di Indonesia hanya tiga operator yang mencetak laba, yaitu Telkom, Indosat dan Exelcomindo (XL). Untuk Telkom sendiri dari sisi pengelolaan bisnis mengalami pertumbuhan sampai Trw-III sebesar 3,4% dari trw-III tahun sebelumnya. Pertumbuhan Telkom lebih banyak disupport dari pertumbuhan internet, seluler dan anak-anak perusahaannya.

Demikian Dirut TELKOM, Rinaldi Firmansyah, saat penutupan Rakernas Serikat Karyawan (Sekar) Telkom Keempat. Rakernas yang digelar selama dua hari di Makassar ini, difokuskan pada upaya memenangkan Telkom dalam persaingan bisnis telekomunikasi saat ini. Tidak terkecuali bisnis telekomunikasi di Kawasan Indonesia Timur (KTI).

Pertumbuhan bisnis telekomunikasi, kata dirut, tidak dapat dipisahkan dari perubahan lifestyle, teknologi dan regulasi. Akibatnya akan ada beberapa produk Telkom yang mengalami decline atau penurunan, seperti halnya yang terjadi pada fixed-line atau telepon rumah. “Melihat pada percepatan teknologi, perubahan lingkungan bisnis  dan semakin ketatnya kompetisi menjadikan pengelolaan perusahaan saat ini tidak mudah. Tidak bisa dilakukan lagi seperti dulu saat perusahaan dalam monopolis,” tandas dirut.

Sementara itu Ketua Umum Sekar, Wisnu Adhi Wuryanto, memaparkan hasil Rakernas berupa rekomendasi-rekomendasi, antara lain: Agar pengelolaan perusahaan berjalan melalui mekanisme kaderisasi kepemimpinanTelkom untuk mendapatkan kader terbaik Telkom dengan mempertimbangkan track record dan integritas calon pimpinan Telkom;

Terkait dengan prekrutan tenaga profesional di Telkom, jelas Wisnu, agar merujuk pada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) IV, sesuai Pasal 8, yang harus diberikan dalam jumlah dan waktu yang terbatas; Selain itu agar direksi (bod) menunjung tinggi etika bisnis dan budaya perusahaan dengan menghentikan praktek bodong, khususnya terkait dengan pelaporan data-data yang tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

Rekomendasi lain terkait dengan cost optimization (program efisiensi perusahaan) agar dilakukan melalui tindakan nyata oleh jajaran direksi dan senior leader Telkom; Sedangkan terkait dengan Transformasi Organisasi hendaknya tidak berdampak pada penurunan kesejahteraan karyawan;

Hasil PKB V diharapkan, direkomendasikan agar lebih baik dari PKB sebelumnya dengan pertimbangan untuk mengejar laju inflasi dalam dua tahun terakhir; Sedangkan rekomendasi dalam hal kualitas pelayanan kesehatan kepada karyawan dan pensiunan oleh Yakes Telkom agar dapat lebih ditingkatkan dan tidak boleh terjadi penurunan.

Rakernas kali ini digelar di Makassar mulai tanggal 26 s.d 27 Oktober 2011 dengan mengusung tema ”Dengan Organisasi Sekar yang Solid, Kita Tingkatkan Kolaborasi dan Komunikasi Positif untuk Tumbuhnya Kinerja Real perusahaan dan Peningkatan Kesejahteraan Karyawan.”

Rakernas merupakan forum komunikasi, evaluasi dan konsultasi dalam rangka koordinasi pelaksanaan program organisasi sesuai yang diamanatkan  MUNAS IV sebagai ajang pertemuan bagi seluruh tingkatan organisasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sekar Telkom. Sejumlah pengurus yang hadir di Rakernas ini merupakan representasi dari sekitar 20 ribu anggota Sekar atau 98% dari jumlah karyawan Telkom seluruh Indonesia.

Adapun tujuannya guna mengevaluasi pencapaian kinerja organisasi; Membahas isu-isu penting nasional yang berkaitan dengan misi organisasi, termasuk  kaitan dengan transformasi bisnis dan organisasi TELKOM.

Selain itu Rakernas juga sebagai media konsultasi antara DPP dengan DPW dan DPD. Juga antara organ dewan pengurus dengan organ Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO). Rakernas juga diselenggarakan untuk merumuskan rancangan MUNAS V, terutama dalam rangka memastikan kesinambungan jalannya roda organisasi.

Kegiatan ini diisi dengan diskusi panel yang melibatkan  tokoh nasional, regulator, pakar telekomunikasi dan motivator. Seusai pembukaan, Gubernur Sulsel, Sahrul Yassin Linpo, berkenan menyampaikan kuliah umum dihadapan para peserta Rakernas.

Menurut Sekjen DPP, Asep Mulyana, RAKERNAS ini merupakan agenda penting guna mewujudkan tercapainya misi organisasi dalam upaya memuaskan kebutuhan stake holder secara seimbang serta mewujukan Sekar sebagai role model organisasi serikat di Indonesia dan regional.

Selain itu, kata Asep, ditujukan pula dalam upaya menggapai visi organisasi yakni terwujudnya persatuan dan kesatuan untuk kemajuan serta kelangsungan perusahaan demi meningkatnya kesejahteraan karyawan.

“Melalui kegiatan Rakernas ini telah menghasilkan beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada BOD dan Regulator yang tentunya sangat bermanfaat bagi upaya peningkatan peran SEKAR dalam perusahaan dan peran Sekar dalam menghadapi lingkungan strategisnya,” ujar Asep.

Kegiatan Rakernas melibatkan juga perwakilan dari ekternal dan internal. Dari internal Sekar yaitu Dewan Pimpinan Pusat (DPP) SEKAR TELKOM, para pengurus dari 10 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan para Ketua dari 88 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Seluruh Indonesia.

Jumlah peserta mencapai 150 orang. Sementara dari Manajemen Telkom yang terdiri para BOD dan Senior Leader yang hadir sebanyak 15 orang. Sedangkan dari Ektsternal sebagai undangan kepada para Serikat Kayawan BUMN, Federasi Serikat Karyawan BUMN, dan Pemerintah sekitar 50 orang. (N425)

Kita Butuh Kolaborasi Terpercaya

Rakernas Sekar yang digelar di Makassar mulai tanggal 26 s.d 28 Oktober 2011 mengusung tema ”Dengan Organisasi Sekar yang Solid, Kita Tingkatkan Kolaborasi dan Komunikasi Positif untuk Tumbuhnya Kinerja Real perusahaan dan Peningkatan Kesejahteraan Karyawan.”

Tema ini dipandang tepat untuk kondisi perusahaan saat ini. Permasalahan-permasalahan yang terkait dengan soliditas, kolaborasi dan komunikasi memegang peranan sentral dalam menghadapi pelbagai problem perusahaan saat ini, Terutama menghadapi ketatnya kompetisi saat ini dalam kaitannya dengan ancaman terhadap kesejahteraan karyawan.

Sekar terpanggil

Persaingan yang dihadapi Telkom saat ini memang tidak mudah. Terutama setelah para investor asing menancapkan kuku bisnisnya di bumi Indonesia. Ini artinya bahwa kita tidak boleh lengah. Apalagi harus mengalah tanpa perlawanan berarti.

Perhatikan saja beberapa operator besar, seperti XL yang telah dikuasai Malaysia, Indosat dikuasai Qatar, Axis dikuasai Arab Saudi serta operator-operator lainnya yang seluruhnya telah dikuasai investor asing. ”ni secara langsung maupun tidak langsung telah mengancam bisnis Telkom, selain juga ancaman lainnya di bidang pertahanan dan keamanan nasional,” kata Wisnu dalam sambutan pembukaan Rakernas IV.

Melihat kondisi seperti itu, wajar jika Sekar merasa terpanggil untuk turut memberikan masukan kepada Manajemen. Namun demikian berbagai masukan dari Sekar tidak semestinya kalau hanya ditanggapi secara cuwek atau an-sich dilihat dengan sebelah mata.

Masukan yang disampaikan Sekar sudah sewajarnya apabila mendapat respon positif dari Manajemen. Ini artinya diperlukan saling pengertia dan saling percaya diantara Sekar dan Manajemen. Terutama ketika perusahaan mengeluarkan kebijakan yang bisa mengundang pro-kontra terkait dengan kesejahteraan karyawan.

Menuju trust building

Trust antara SEKAR dan Manajemen sejatinya harus terbangun dengan baik, nyaman dan konstruktif. Salah satu cara untuk membangun trust adalah diperlukannya komunikasi timbal balik yang terbuka dan jujur. Ingat komunikasi yang terbuka dan jujur. Ini sangat penting dan amat dibutuhkan dalam rangka menjalin komunikasi positif dan berkolaborasi yang nyaman diantara SEKAR dan Manajemen. Tanpa saling percaya tak akan ada soliditas. Tanpa komunikasi yang positif tak akan ada kolaborasi.

Organisasi yang solid sangat penting. Namun organisasi yang mampu berkolaborasi secara nyaman tak kurang pentingnya. Dengan demikian diharapkan munculnya sumbangan pemikiran berupa ide-ide dan inovasi baru. Dan ide-ide seperti ini boleh jadi terlahir dari seluruh jajaran anggota Sekar. Namun yang lebih penting bahwa ide-ide baru itu harus tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran.

Kepercayaan dan kejujuran saat ini telah menjadi barang mahal di republik ini. Krena itulah mengapa Sekar merasa terpanggil untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai moral yang sudah mulai tercabut dari akarnya ini.

Sekar senantiasa menuntut agar Manajemen bersikap transparan. Pelbagai kebijakan yang dikeluarkan perusahaan terutama yang terkait dengan hajat hidup atau kesejahteraan karyawan perlu senantiasa terlebih dahulu disampaikan kepada Sekar untuk diberikan pertimbangan. Hal ini telah menjadi kesepakatan sebagaimana yang tertuang dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Jangan menyalahkan organisasi kalau suatu kebijakan yang diberlakukan Manajemen mendapat reaksi dari Sekar. SEKAR harus terpaksa berteriak dan secara proaktif meresponnya. Sekar melakukan ini bukan demi kepentingan organisasi semata. Namun yang lebih penting untuk kepentingan yang lebih luas, yakni nasib para anggotanya.

Nilai integritas

Dalam kepengurusan SEKAR memang senantiasa ditanamkan nilai-nilai Integritas. Senantiasa ditempa agar menjadi pengurus Sekar yang memiliki professional integrity. Diantaranya dilakukan melalui berbagai upaya agar memiliki kemampuan untuk mengkritisi. Agar mampu memberikan penilaian secara jujur dan transparan. Para ketua SEKAR, misalnya, yang dituntut tak hanya harus memiliki keberanian bersikap dan bertindak. Namun juga harus menjadi teladan. Mampu menjadi role model dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya.

SEKAR pun akan senantiasa memberikan warna kemana arah perahu atau perusahaan ini akan dibawa. Pastinya Sekar berharap agar TELKOM akan menjadi semakin besar dan semakin mampu lagi untuk mensejahterakan karyawannya serta menjadi kebanggaan bangsanya. Dengan terbangunnya komunikasi yang positif dan kolaborasi yang konsstruktif antara SEKAR – Manajemen diharapkan membawa perubahan besar menuju kelanggengan dan kejayaan perusahaan.. Yang pada gilirannya akan membawa pada kesejahteraan karyawan yang lebih baik lagi. Dan justru inilah antara lain yang diharapkan dari Rakernas kali ini. Setuju kan pren..!!!(n425).

PROFILE SEKAR


Kejatuhan Rezim Orde Baru di penghujung tahun 1998 silam menggulirkan era reformasi sebagai kran pembuka kebebasan berserikat di Indonesia. Bergesernya agenda politik dan ekonomi telah menginspirasi terbentuknya serikat2 pekerja dan buruh di Indonesia. Syahdan, kehadiran serikat2 pekerja baru itu, telah dijadikan wahana terhadap tuntutan keadilan, transparansi dan tanggung jawab dalam hubungan industrial. Sebagai peluang dan ekspektasi baru guna meningkatkan kesejahteraannya.
Begitu pula pada awal kelahiran Serikat Karyawan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk atau disingkat Sekar TELKOM, tidak dapat dipisahkan dari bergulirnya era reformasi itu. Pembubaran Korps Pegawai Republik Indonesia atau KORPRI PT TELKOM pada tahun 1999 mengawali perjalanan bersejarah lahirnya Sekar TELKOM. Pada akhir Februari 2000, segenap karyawan TELKOM dari seluruh unit kerja di seluruh Indonesia berkumpul di Bandung melaksanakan MUKAR atau Musyawarah Karyawan untuk membentuk satu wadah bersatunya karyawan.

Mukar tidak terlepas dari upaya dan hasil inisiatif segenap karyawan Telkom Kalimantan yang sebelumnya telah membentuk Serikat Pekerja Telkom Kalimantan (SPTK) pada tahun 1999. Serikat Karyawan PT Telekomunikasi Indonesia kini telah menjadi satu-satunya wadah aspirasi karyawan Telkom. Komitmen ini ditegaskan dalam Musyawarah Nasional Pertama Sekar Telkom pada tanggal 20 s/d 22 November 2000. Pada MUNAS Pertama terpilih Ketua Umum Sekar, Herry Kusaeri dengan Sekretaris Jenderal Gunawan Haris, untuk masa kepengurusan 2000 – 2004.

Pada Munas ini pula dilakukan perubahan AD/ART dan pembuatan Peraturan Organisasi sebagai penetapan kelengkapan organisasi SEKAR Telkom. Sekar TELKOM pun telah memancangkan empat pilar peran kesejarahan sebagai haluan organisasi yaitu : Pertama, sebagai wadah pemersatu karyawan; Kedua, sebagai wadah aspirasi karyawan; Ketiga, sebagai mitra konstruktif manajemen; Dan Keempat, sebagai pengawal dan penegak Good Corporate Governance (Bersih, Transparan dan Profesional).

Sekar TELKOM kini telah melengkapi diri dengan perangkat Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO), Dewan Pimpinan Pusat atau DPP, 10 Dewan Pimpinan Wilayah dan 88 Dewan Pimpinan Daerah di seluruh Indonesia serta AD/ART Organisasi dan Mars Sekar Telkom. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, Sekar TELKOM pada tahun 2005 telah membentuk Yayasan Sekar TELKOM (YST) yg telah berkiprah dalam aksi kepedulian sosial di berbagai bencana, antara lain bantuan pada tsunami Aceh-Nias Des 2004, banjir di Jember 2005, Gempa bumi Yogyakarta Mei 2006, tsunami Pantai Selatan Oktober 2006 dan banjir besar di Jakarta awal Februari 2007, dan lain-lain.

Pada awalnya keberadaan Sekar memang dibentuk dengan landasan semangat dan cita-cita guna mempersatukan karyawan. Fokus utamanya guna menjaga dan meningkatkan kesejahteraan karyawan. Namun begitu, Sekar Telkom tak hanya memiliki tanggung jawab melekat guna memberikan ekstra manfaat bagi anggotanya. Sekar punya komitmen lain, yakni untuk turut menjaga dan menyelamatkan perusahaan yang merupakan sawah ladangnya. Sekar melalui pengurus dan anggotanya akan senantiasa& nbsp;terpanggil untuk turut memelihara dan memupuk sawah ladang ini. Tentu, agar Telkom tetap memiliki reputasi secara nasional dan global.

*** Peran dan Fungsi SEKAR

Apa sebenarnya Peran dan Fungsi SEKAR? Dalam AD/ART, pasal 6 ayat (1) disebutkan bahwa tujuan SEKAR untuk memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi anggota SEKAR dan keluarganya. Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa Peran dan Fungsi SEKAR adalah: Sebagai pihak dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dan penyelesaian perselisihan hubungan industrial; Wakil Karyawan dalam lembaga kerjasama di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatannya; Sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Sebagai sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya; Sebagai perencana, pelaksana dan penanggung jawab pemogokan Karyawan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Serta Wakil karyawan dalam memperjuangkan kepemilikan saham karyawan di TELKOM.

***) KSO

Tiga tahun pertama semenjak kelahiran Sekar merupakan tahun penuh tantangan atau tahun-tahun vivere pericoloso karena tercium adanya ancaman kepada survival TELKOM terkait dengan pelaksanaan Kerjasama Operasi atau KSO. Tak mengherankan jika pada tahun2 itu diwarnai oleh gelombang aksi unjuk rasa Sekar TELKOM sebagai protes atas buruknya kinerja KSO-3 Jawa Barat dan rencana pengalihan Divre-4 Jateng-DIY kepada Indosat. Sejak KSO ditandatangani tanggal 20 Oktober 1995, Telkom memang harus merelakan lima divisi regionalnya dari tujuh divre yang ada diserahkan kepada swasta.

Dugaan semula “perkawinan” TELKOM dengan Swasta itu akan berjalan indah. Namun dugaan itu keliru. Sejak kerjasama tergalang, ternyata menyisakan sejumlah problem yang menyita begitu banyak perhatian, waktu dan sumberdaya. Kelima KSO yang dipercaya Pemerintah untuk bermitra dengan TELKOM itu adalah : PT. Pramindo Ikat Nusantara (PIN) untuk mengelola di Divisi Regional I Sumatera (membangun 516.487 sst) ; PT. Aria West International untuk DIVRE-III Jawa Barat (500.000 sst); PT. Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI) untuk DIVRE-IV Jateng & DIY (400.000sst); PT. Daya Mitra Telekomunikasi untuk DIVRE - VI Kalimantan ( 237.000 sst ); serta PT. Bukaka Singtel International untuk DIVRE-VII KTI (403.000 sst). Namun baru satu tahun berjalan, kelima mitra KSO itu ternyata belum memenuhi target pembangunan.

Bahkan sejak terjadinya malapetaka resesi ekonomi nasional pada pertengahan tahun 1997, permasalahan yang dihadapi Mitra KSO semakin menjadi-jadi. Sebab, mulai tahun 1998, kucuran dana dari para lender KSO macet. Perjuangan menyelamatkan Divre KSO pun akhirnya berhasil. Pada 31 Juli 2003 Divre-III Jabar berhasil di buy-out; Lalu disusul pada Maret 2001 KSO 6 Kalimantan dikembalikan ke Telkom, pada Februari 2002 KSO 1 Sumatra berhasil diambil alih kembali, pada Januari 2004 KSO 4 JATENG and DIY kembali ke panguan Telkom, serta pada Oktober 2007 giliran KSO 7 KTI sepenuhnya kembali dibawah pengendalian Telkom.

***) PKB (Perjanjian Kerja Besama)

Perjuangan demi cinta. Barangkali itulah sebagai salah satu watak dasar SEKAR. Kecintaan tak terbatas SEKAR tidak hanya kepada TELKOM sebagai sawah ladangnya, namun juga kepada seluruh anggotanya. Salah satu wujud kecintaan SEKAR pada Anggota antara lain perhatiannya yang begitu besar guna menjaga dan meningkatkan kesejahteraan anggootanya. Perjuangan itu diejawantahkan melalui Perjanjian Kerja Bersama atau PKB yang didalamnya berisi deal-deal hubungan industrial antara Manajemen dan SEKAR.

PKB akhirnya telah menjadi sistem hubungan industrial antara karyawan TELKOM dan Manajemen TELKOM yang mengatur siklus ketenagakerjaan di TELKOM mulai dari rekrutmen hingga pensiun. Dalam Mukadimah disebutkan bahwa antara SEKAR dan Manajemen sepakat untuk melaksanakan Hubungan Industrial Pancasila dalam rangka menciptakan hubungan kerja yang serasi, aman, mantap, tenteram, dan dinamis. Selain itu juga sebagai perwujudan ketenangan kerja dan perbaikan kesejahteraan karyawan, kelangsungan usaha, kepastian hak dan kewajiban masing-masing pihak, yakni SEKAR dan Manajemen TELKOM.

SEKAR dan Manajemen mempunyai kewajiban untuk saling mendukung dalam upaya pelaksanaan tugas perusahaan secara jujur, bertanggungjawab, efisien, dan efektif berdasarkan peraturan perundang-undangan serta kepatutan dan kewajaran. Sehingga harus ada kesepakatan untuk menjadikan Perjanjian Kerja Bersama sebagai pedoman yang mengatur hubungan kerja yang harus dipatuhi dan dilaksanakan secara tepat, benar, dan dapat diuji berdasarkan rasa keadilan, kepatutan, kewajaran dan memenuhi kepentingan kedua pihak. Intinya bahwa Sekar tidak akan membiarkan kesejahteraan karyawan menurun pada saat performansi perusahaan meningkat.

Untuk itulah mengapa dalam setiap perundingan PKB, SEKAR begitu gigih untuk memperjuangkan rupiah demi rupiah guna menjaga amanat 20 ribu karyawan dalam upaya menjaga dan meningkatkan kesejahteraannya. Memang PKB telah menjadi sebuah manifestasi kemitraan sejati antara Manajemen dan Sekar. Disinilah diujinya kedua belah pihak untuk memahami arti pentingnya PKB tak hanya sebagai dasar berjalannya roda perusahaan, namun juga bagi manajemen sebagai dasar dalam menentukan kebijakan, terutama yang terkait dengan seluk beluk hubungan industrial.

PKB kini telah menjadi sebuah rujukan utama bagi Sekar dan Manajemen. Sebagai suatu perikatan dan pedoman yang bersifat operasional yang di dalamnya terkandung komitmen dan kesiapan para pihak untuk melaksanakannya. Serta harus bersedia menerima konsekuensi hukum bagi pelanggarnya. Apabila melihat pada kronologis penyelenggaraan PKB, maka PKB I Tahun 2002 dilaksanakan dalam 12 putaran dengan memakan waktu 11 bulan. Dalam PKB II Tahun 2004 harus melewati 9 putaran yang nyaris menelan masa 9 bulan. PKB III dilakukan dalam 7 putaran dan bisa selesai dalam waktu 7 bulan.

Sedangkan PKB IV tahun 2010 merupakan PKB terlama dan merupakan hasil perundingan paling alot karena memakan 17 putaran dengan waktu 23 bulan. Demikian halnya dilihat dari jumlah masing-masing tim yang terlibat. PKB I masing-masing terdiri dari 40 anggota. PKB II masing-masing 38 anggota. Dan PKB III masing-masing hanya terdiri dari 17 angota tim, dan PKB IV masing-masing tim terdiri 11 anggota.

Sementara jika melihat pada manfaat PKB, maka dalam PKB I, titik beratnya lebih pada perjuangan untuk Meningkatan Manfaat Pensiun dan meningkatkan THP. Hasil PKB I ini, manfaat Pensiun naik 200% dan Gaji dasar naik 50%.
Dalam PKB II, mulai diperkenalkannya variable PAY; Sedangkan THP mengalami kenaikan sebesar 12% atau menjadi 20,88 x THP. Dalam PKB III, lebih mengarah pada perjuangan untuk Kenaikan TANI Employee dan kesetaraan Fasilitas Kesehatan untuk rekrut tahun 1995; Dari sisi THP mengalami kenaikan 11% dibanding PKB sebelumnya atau sebesar 23,14 x THP per tahun.
Sedangkan dalam PKB IV, mengarah pada peningkatan variable pay yaitu Insentif berdasarkan NKU dan banding. Selain itu terjadi kenaikan Tunjangan Dasar sebesar 10%. Dengan ini secara THP telah terjadi kenaikan sebesar 13% dibanding PKB III atau mencapai 25,15 x THP. Sementara Sekar dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan BPK sebanyak 2 x THT, namun hanya berhasil pada angka 1,7 x THT, naik dari angka Manajemen sebesar 1,4 x THT.

Apalagi Kedudukan Hukum PKB merupakan Peraturan tertinggi di Perusahaan yang mengatur Hubungan Industrial. PKB pada hakekatnya adalah UU yang mengatur antara Karyawan dan Perusahaan (Manajemen). Tak hanya pengurus Sekar yang harus mengawalnya, namun kita pun sebagai Karyawan atau Anggota Sekar perlu turut mengawalnya. Setidaknya turut memonitor jika ada pasal-pasal yang melenceng atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dasar hukum pembentukannya pun tak main-main, yakni: UU No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan (Pasal 119-132); UU No.2/2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial; Serta Kepmen 48/2004 tentang Tata Cara Penyusunan PKB.

*** MUNAS

Dinamika organisasi harus mampu dijawab dengan tandas dan tuntas. SEKAR harus senantiasa mereview ulang sistem organisasinya yang meliputi sistem organisasi dan kaderisasi, sistem administrasi kesekretariatan, sistem keuangan dan pola advokasi kepada anggota. Agar ke depan Sekar Telkom siap menjadi organisasi besar yang efektif, sistematis dan modern. Untuk mengakomodasi harapan itu diselenggarakan Munas. Melalui Munas pun diharapkan dapat menghasilkan para Pengurus DPP yang benar-benar sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan. Para pengurus SEKAR Periode mendatang diharapkan lebih mumpuni dalam membawa aspirasi anggota dan garis perjuangan SEKAR.

Para pengurus Sekar, tak cukup, harus berani dan lantang dalam mengemban amanah dan garis perjuangan SEKAR, namun juga diharapkan lebih smart dan brilian dalam beranalisa serta lebih kritis melakukan kajian, terutama terhadap bebrbagai kebijakan yang digariskan Manajemen serta berbagai regulasi yang kerap terasa jomplang, tak adil dan malah cenderung menindas kita. Kita mengharapkan hadirnya pengurus2 SEKAR yang lebih cadas dan bertenaga.
Setelah Munas Sekar pertama pada tahun 2000 yang memilih Herry Kusaeri sebagai Ketua Umum dan Gunawan Haris sebagai Sekretaris Jenderal untuk masa bakti 2000-2004, maka pada tahun 2004 Munas Sekar kedua memilih Synar Budi Artha sebagai Ketua Umum dan Wisnu Adhi Wuryanto sebagai Sekretaris Jenderal untuk masa bakti 2004-2007, pada tahun 2007 Munas III Sekar Telkom memilih Wartono Purwanto sebagai Ketua Umum dan Amir Fauzi sebagai Sekretaris Jenderal untuk masa bakti 2007-2010, dan pada Munas Sekar tahun 2010 terpilih Wisnu Adhi Wuryanto sebagai Ketua Umum dan Asep Mulyana sebagai Sekretaris Jenderal untuk masa bakti 2010-2013.

*** RAKERNAS

Sesuai AD/ART Sekar Telkom, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) wajib dilaksanakan agar terjadi proses komunikasi, evaluasi dan konsultasi mengenai pelaksanaan program kerja yang telah ditetapkan Munas. Rule dalam mengelola organisasi Sekar Telkom telah diatur dalam AD/ART dan Peraturan Organisasi Sekar Telkom. Esensi kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas menjadi ciri khas yang harus ditunjukkan oleh seluruh jajaran pengurus Sekar dalam mengelola organisasi. Sebagai wujud nyata dalam merealisasikan prinsip-prinsip dan ciri khas dalam pengelolaan organisasi, proses perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan evaluasi sebagaimana prinsip-prinsip manajemen organisasi, Sekar Telkom memiliki wadah resmi yaitu Rapat Kerja Nasional yang disingkat dengan Rakernas.

Untuk memenuhi kewajiban itu, para petinggi SEKAR menyelenggarakan Rakernas guna membangun kembali soliditas dan solidaritas Sekar Telkom sebagai benteng perusahaan. Rakernas merupakan even resmi berkala organisasi diantara dua Musyawarah Nasional (Munas). Melalui Rakernas acapkali menghasilkan rekomendasi.

Seperti halnya pada Rakernas II yang menghasilkan Rekomendasi kepada Pemerintah diantaranya : 1.) Menghentikan Implementasi SKTT dengan membatalkan KM 84/2002 tentang Kliring Trafik Interkoneksi untuk terwujudnya industri Telekomunikasi yang efisien dan basis industri yang kuat. 2.) Menetapkan Telkom sebagai Nasional Flag Carrier bidang Telekomunikasi untuk : a.Menjaga ketahanan Nasional b.Mewujudkan kemandirian bangsa c.Mengurangi kesenjangan sebaran fasilitas telekomunikasi d.Mempertahankan seluruh wilayah NKRI 3.)Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Umum / Universal Service Obligation agar lebih efisien dan tepat sasaran. 4.) Mengatur kepemilikan saham asing maksimal 20%, khususnya pada sektor Telekomunikasi 5.) Menata kembali regulasi industri Telekomunikasi secara fair, tidak merugikan TELKOM demi kepentingan Nasional.

*** FSP BUMN STRATEFIS

Sebagai BUMN Strategis Plat Merah, Telkom pun melibatkan diri dalam organisasi Federasi Serikat Pekerja BUMN. Namun demikian akibat pelaksanaan Munas FSP BUMN pada Mei 2004 ditengarai penuh dengan praktek money politic dan intervensi politik praktis, maka SEKAR TELKOM memutuskan keluar dari keanggotan FSP BUMN. Kemudian Sekar Telkom bersama dua BUMN Strategis lainnya, yaitu Serikat Pekerja PLN dan Serikat Pekerja Pertamina memprakakarsai membentuk wadah tersendiri yang dinamakan Federasi Serikat Pekerja BUMN Strategis. Tujuannya agar terciptanya pekerja BUMN yang lebih professional dalam memperjuangkan kepentingan pekerja melalui terciptanya suasana yang kondusif dalam sistem hubungan industrial.

Selain itu juga untuk mencapai terbinanya solidaritas dalam menjaga, mempertahankan dan memperjuangkan kepemilikan Negara atas kepemilikan modal mayoritas BUMN berikut anak perusahaanya. FSP BUMN Strategis yang pertama diketuai oleh Sdr. Sinar Budhi Artha dari Sekar Telkom dengan Sekjen Sdr. Daryoko dari SP PLN. Langkah Sekar Telkom kemudian diikuti oleh SP PLN, SP Pertamina, SP Telkomsel, SP PJB, serta beberapa SP di lingkungan industri pupuk dan semen.

*** PERJUANGAN SEKAR LAINNYA

Perjuangan Sekar lainnya antara lain terkait dengan Isue demo “penolakan kebijakan dibukanya kode akses SLJJ yang jelas2 sangat merugikan Telkom, terutama karena Telkom harus mengeluarkan dana utk mengupgrade Sentral2 nya di seluruh Indonesia dg biaya Triliunan rupiah. Bahkan pelanggan SLJJ Telkom akan mudah direbut oleh OLO dgn menggunakan Infrastruktur milik TELKOM. Dan yang pasti pendapatan Telkom dari SLJJ akan turun drastis.

Perjuangan menolak kebijakan perubahan Kode Akses SLJJ terus digelindingkan Sekar Telkom dengan mengajukan judicial review ke Mahkamah Agung pada tanggal 29 Maret 2005. Permohonan hak uji material dilakukan Sekar atas nama Masyarakat Peduli Telekomunikasi Indonesia terhadap KM. 28, KM 29 dan KM 30 Tahun 2004 yang menjadi dasar implementasi kebijakan perubahan kode akses SLJJ.
Perjuangan menolak merger Flexi dengan Esia pada November dan Desember 2010, untuk melindungi unit Flexi khususnya dan TELKOM umumnya dari sisi bisnis dimana revenue Flexi masih sekitar Rp. 3 Trilyun dan kesejahteraan karyawan, serta melindungi karyawan Telkom di unit Flexi.

*** KEPEDULIAN SEKAR

Sekar pun turut aktif melibatkan dalam kegiatan social kemasyarakatan. Melalui SEKAR Peduli telah dibentuk Yayasan Sekar Telkom atay YSP serta SEKAR Rescue yang memelopori atau sebagai ujung tombak ketika terjadi bencana atau musibah di berbagai tempat. Prioritas bantuan tetap diarahkan pada pengamanan dan pemulihan asset serta bantuan pada keluarga besar Telkom. Sekar tidak pernah absent untuk turut membantu saudara2 kita yang terkena bencana, seperti bencana alam tsunami di Aceh, Gempa Sumatera Barat, Gempa Jogja, Gempa Jabar, Banjir di Jakarta dan Bandung Selatan dll. Seringkali Sekar dengan membawa bendera Telkom merupakan yang pertama kali berada di lokasi bencana dibanding instansi lain. Ketika bencana terjadi dengan serta merta Sekar mendirikan Posko bantuan bencana.

Selain itu juga kegiatan social lain yang dilakukan Sekar, antara lain: Kegiatan khitanan masal, donor darah, dll. Selain itu juga kegiatan tali kasih kepada pensiunan yang bernasib kurang beruntung, kunjungan ke panti social dan panti jompo, dll.

*** TRAINING LEADERSHIP

Untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme pengurus Sekar, pada tahun 2007 sekitar 80 pengurus SEKAR seluruh Indonesia mendapatkan pelatihan leadership selama satu minggu, yang merupakan hasil kerjasama antara Sekar, Manajemen, IM Telkom dan LEMHANNAS. Training Leadership ini hanya dapat diselenggarakan satu angkatan saja. Sepertinya ada keengganan dari Manajemen untuk menyelenggarakan pada angkatan berikutnya. Mungkin karena melalui pelatihan ini menghasilkan rekomendasi yang cukup riskan bagi Manajemen. Kedekatan Sekar dengan Lemhannas dikhawatirkan malah jadi bumerang bagi Manajemen.

Pelatihan dan Pemantapan Wawasan Kebangsaan Angkatan-I/ 2007 ini memang menghasilkan rekomendasi kepada Pemerintah RI melalui Lembaga Ketahanan Nasional, sebagai berikut : Industri telekomunikasi harus dikembangkan untuk kepentingan nasional agar terjamin ketersediaan fasilitas telekomunikasi dengan jumlah, sebaran, kualitas dan harga yang memadai untuk mempercepat peningkatan kemakmuran masyarakat, memperkecil kesenjangan antar daerah, memperkokoh stabilitas nasional dengan melibatkan elemen-elemen pembentuk industri telekomunikasi nasional yaitu :

Di bidang Regulasi. a. Pemerintah segera menetapkan regulasi kepemilikan asing bagi operator penyelenggara telekomunikasi dengan menentukan prosentase kepemilikan investor asing maksimal 30% agar diperoleh kepastian perlindungan pada industri telekomunikasi nasional; b. Pemerintah hendaknya mengeluarkan regulasi bagi belanja modal (CAPEX) yang dikeluarkan operator penyelenggara telekomunikasi minimal 30% digunakan untuk belanja perangkat & infrastruktur telekomunikasi produksi dalam negeri; c. Pemerintah harus menggalakkan kembali budaya mencintai produksi dalam negeri dalam masyarakat.

Di bidang Operator penyelenggara telekomunikasi, antara lain: a. Operator penyelenggara telekomunikasi diwajibkan membangun fasilitas akses telekomunikasi sekurang-kurangnya 1% dari operating revenue bagi kawasan-kawasan terluar RI yang berpotensi melemahkan ketahanan nasional; b. Operator penyelenggara telekomunikasi wajib menjalankan program kemitraan bisnis serta kerja sama strategis dengan industri manufaktur dalam negeri termasuk peningkatan kualitas SDM serta peningkatan R&D.

Di bidang Kelembagaan, antara lain: a. Mengubah regulasi pembentukan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dengan undang-undang agar berbentuk Komisi Negara yang lebih independen, adil dan mengedepankan kepentingan nasional; b. Industri telekomunikasi nasional harus memiliki/menunjuk pandu bendera telekomunikasi nasional (national flag carrier) baik untuk operator penyelenggara telekomunikasi maupun manufaktur nasional pada sektor telekomunikasi; c. Terkait dengan kebijakan pembukaan Kode Akses Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) Pemerintah RI agar mengkaji kembali kompetisi bisnis SLJJ tanpa penambahan Kode Akses SLJJ.

*** PENUTUP

Sekar TELKOM menyadari, dalam 11 tahun kiprahnya tentu masih banyak kekurangan. Walau pun mungkin banyak pula harapan digantungkan kepada Sekar TELKOM. Namun satu hal yang pasti kiprah Sekar adalah sebuah pengabdian kepada karyawan, perusahaan dan masyarakat. Karena kami percaya, tidak ada perusahaan yang kuat menghadapi tantangan kompetisi tanpa serikat yang kuat. Dan tidak ada serikat yang kuat tanpa soliditas dan solidaritas yang kuat dari anggotanya. Sebagaimana semboyan Sekar: “ Berserikat Membuat Kita Kuat “.

SEKAR memiliki kiprah yang jelas. SEKAR tidak berafiliasi pada partai politik atau LSM tertentu. SEKAR akan tetap bersikap dan berjuang secara independen untuk mencapai kesejahteraan karyawan. Sebagaimana perjuangan SEKAR melalui PKB yang telah dirasakan manfaatnya. Sekar pun tetap berupaya untuk menjamin tak akan ada hak-hak karyawan yang diamputasi.

Dengan demikian jika ada yang mengatakan bahwa SEKAR adalah tulang sumsumnya TELKOM dan atau SEKAR adalah darah dagingnya TELKOM, agaknya pernyataan itu tidaklah keliru. Di perusahaan kita ini hanya ada satu SEKAR dan Satu TELKOM. Setiap Unit Kerja yang ingin bergabung dengan SEKAR haruslah melakukan deklarasi dan harus mengucapkan Ikrar Kesetiaan SEKAR TELKOM.

Antara lain untuk berbuat yang terbaik bagi SEKAR dengan memegang teguh komitmen bahwa SEKAR adalah Wadah pemersatu karyawan, penyalur aspirasi karyawan, mitra konstruktif manajemen, serta pengawal Good Corporate Governance dan BTP (bersih, transparan, profesional). Dalam pelaksanaannya haruslah mendahulukan kepentingan SEKAR di atas kepentingan pribadi. Berbuat secara nyata, menjaga kekompakan dan yang terpenting jangan pernah menghianati amanah serta garis perjuangan organisasi.

Sekar...Sekaaarr...Sekaaaaarrrrr....

=====n425======

Politik Hutang Budi


Rakernas IV Makassar telah berlalu dengan menghasilkan beberapa rekomendasinya. Tulisan ini sekadar catatan dari puing-puing tersisa atas perhelatan akbar itu. Diantara puing-puing itu berupa hamburan kata-kata dan pernyataan yang terkadang mudah dicerna tapi sulit disikapi.

Kata-kata kini sepertinya tak lagi memiliki makna yang jelas. Slogan-slogan bertaburan tak lebih sekadar pemanis bibir dan penenang hati. Sebuah pernyataan bahkan tak sanggup lagi menjadi tenaga kreatif yang mampu menyatukan dan membebaskan kita dari belenggu tekanan.

Kata dan perbuatan sepertinya tak lagi bisa menyatu sebagaimana api dan udara. Akibatnya pernyataan menjadi tersamar. Dan perbuatan menjadi tersumir. Menyatu bersama intrik-intrik penuh siasat. Pernyataan yang ditujukan pada pihak lain begitu nyaman padahal yang sesungguhnya terasa menikam. Anehnya kita memang lebih suka dijejali kepura-puraan yang menikam. Ketimbang tikaman penuh kejujuran.

Sekaris yang penyabar, keberadaan Sekar selama ini memang merasa tertekan.. Kondisi ini sudah pasti menjadikan kita merasakan tidak nyaman. Harap difahami posisi Sekar dari banyak aspek memang kalah sumberdaya yang acapkali membuat kita tak berdaya. Dimanapun di dunia ini organisasi perserikatan mengalami nasib sama dibanding sumberdaya yang dimiliki para majikannya.

Bahkan di beberapa perusahaan lain keberadaan perserikan ini dipandang sebagai pengacau, pemberontak dan gerombolan yang harus dibasmi atau dikerdilkan keberadaannya. Bila perlu dipecah belah agar tak lagi memiliki kekuatan solid. Caranya bisa diterka dan tak terlalu sulit bagi mereka.

Menghadapi situasi seperti itu, paling banter kita hanya bisa meluapkan uneg-uneg di lingkungan sendiri, bahwa boleh jadi itu akibat nilai-nilai obyektivitas para petinggi kita mulai rontok dan tercabut dari akarnya. Mulailah ngedumel bahwa buat apa budaya perusahaan kalau pada gilirannya budaya perusahaan itu menjadi tak ada lagi harganya. Atau mungkin juga muncul praduga akibat ada janji-janji politis dan hutang budi demi keamanan status quo. Apapun jawabannya, berangkat dari fakta, bahwa keberadaan organisasi sudah pasti akan terperangkap dalam belenggu dilema, tekanan dan jeratan aturan.

Pencarian keadilan dan kebenaran tampaknya telah dirasionalisasi melalui proses pembungkaman. Pelanggaran kebebasan bersuara, pembredelan opini, penindasan individu bahkan telah berlangsung secara terang-terangan. Penikmatan sumber kekayaan perusahaan dan aset perusahaan semakin jomplang. Kondisi perusahaan yang tengah menuju pada proses decline yang berkelanjutan menjadi terlupakan. Serta masalah-masalah lainnya yang silih berganti yang membuat sebagian dari kita harus terpaksa usap dada.

Sekaris yang baik, satu hal yang sangat memprihatinkan adalah persoalan moral elit senior leader kita. Terkait didalamnya menyoal sikap dan perilakunya. Kecenderungan petualangan di zona nyaman (dalam berbagai versi, kelas dan rezimnya) semakin hari semakin pudar dari koridor idealisme dan patokan nilai. Acuan berpikirnya adalah rasio-monopolitis. Para elit kita lebih suka berbuat dan berkutat demi keuntungan diri dan kelompoknya yang kerap dilakukan dengan cara demonstratif dan mencolok mata.

Sebuah tanggung jawab, tak lagi menjadi bagian dari sebuah beban moral. Malah menjadi tidak berkutik dan bertekuk lutut di bawah tekanan-tekanan penguasa diatasnya. Tingkah polah para elit kita, semakin eksentrik dan sulit difahami. Tapi tak perlu berputus asa, kondisi ini memang terjadi dimana-mana.

Tahukah Sekaris, bahwa fenomena seperti itu sesungguhnya merupakan ekspresi di masa-masa penjajahan. Fenomena seperti itu muncul, boleh jadi, diawali oleh revolusi berpikir yang keliru. Revolusi berpikir yang kurang terorganisasi secara pas, runtut dan dalam. Teori-teori presentasi dan buah pikirnya, baik sebagai hasil renungan, riset atau rapim tingkat tinggi, tampak jelas kurang dimanfaatkan secara bertanggung jawab, konsisten dan rapih. Sehingga statement harus terpasang sebagai janji-janji dan iming-iming yang acapkali harus berbeda haluan dengan kenyataan dan perbuatan.

Sekaris berdarah pejuang, Rakernas yang kali ini berlangsung di Makassar, salah satu tujuannya adalah untuk membongkar kepalsuan yang terjadi di perusahaan kita. Kita yakin benar, bahwa produk Rakernas dapat membuka tabir hitam yang selama ini terjadi di lingkungan perusahaan kita. Percayalah bahwa Sekar berjuang, tak sekadar mempertahankan kesejahteraan yang telah kita nikmati. Namun lebih jauh Sekar juga berpikir dan berjuang demi survival perusahaan ditengah gonjang-ganjing kompetisi dan ketergesaan dalam mengelola.

Sekar telah sepakat sejak tahun 2004 tidak akan turun ke jalan untuk urusan perut. Karena Sekar merasakan itu tindakan kurang tepat ditengah kesejahteraan yang telah kita reguk. Namun Sekar akan turun ke jalan ketika perusahaan diusik dan ditekan dari pihak eksternal manapun. Namun tidak menutup kemungkinan Sekar akan turun ke jalan ketika perusahaan ini dikelola dengan tidak benar, tidak patut dan tidak mencerminkan good corporate governance. Mungkin Sekar akan turun ke jalan ketika nilai-nilai bersih, transparan dan profesional mulai dikesampingkan.

Sekar senantiasa berpikir, karena berpikir bukanlah sebuah kejahatan. Yang memvonis jahat dan tidaknya adalah hati kita. Nurani kita. Untuk itulah berpikir sejatinya harus mampu menjawab permasalahan masa kini dan masa depan. Berpikir hendaknya yang memiliki sadar arah dan faham tujuan. Agar pada gilirannya tercipta suasana nyaman. Agar tercipta nuansa kolaboratif yang lebih konstruktif. Agar tak terjadi kebohongan-kebohongan. Agar tak terjadi gombalisasi.

Oleh karena itu dalam menjawab tantangan perusahaan yang semakin merontokan harapan ini, tampaknya kita perlu melakukan revolusi mental dan revolusi berpikir yang mengarah pada mewujudkan aspirasi pencerahan moral. Tujuan utamanya dilandaskan pada pembentukan potensi seutuhnya, agar siapapun yang merasa tertekan, setidaknya mampu mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang lebih layak, terhormat dan lebih berjatidiri. Untuk itulah mengapa Sekar akan tetap berjuang demi menegakan nilai-nilai menuju pada tegaknya akal budi yang utama. Begitulah..!!!(N425@telkom.co.id)

Menyoal Keunggulan Bersaing


Apapun alasannya, kebijakan transformasi perusahaan, sejatinya harus tetap sejalan dengan strategi tingkat korporasi. Cakupannya meliputi penetapan sasaran perusahaan, portfolio bisnis, kebijakan alokasi sumberdaya, serta bentuk perlakuan bisnis.

Penyusunannya dilandasi oleh asumsi bahwa TELKOM sebagai perusahaan terbuka multi bisnis (multi life cycle).

Tantangan lingkungan usaha, memang mengharuskan berbuat banyak. Apalagi kini, Pemerintah selaku regulator secara bertahap dan mulai intens menghasilkan pelbagai regulasi di sektor telekomunikasi. Demikian halnya sebagai dampak percepatan teknologi, tingginya demand, serta perkembangan di bidang sosekpol, menuntut perusahaan semakin jeli dan lebih cepat bertindak.

Tampaknya  tak perlu lagi terjadi sebuah ironi, dimana kita selalu kalah satu langkah dari kompetitor. Atau terlambat dibanding kecepatan perobahan (response slower than speed of change). Walaupun mungkin, beban yang ditanggung perusahaan  masih terhitung sangat berat. Misalnya, tak hanya jumlah SDM yang masih terlalu banyak atau belum ideal, namun juga mungkin karena beban berat anak perusahaan yang masih belum mampu memberi kontribusi signifikan bagi pendapatan induk perusahaannya.

Jika itu yang terjadi, akibatnya memang cukup fatal. Kita bisa menjadi begitu berat melangkah. Padahal dalam kondisi kompetisi saat ini, tak hanya dituntut untuk melangkah cepat atau berlari, namun juga harus lebih gesit menari.

Namun keunggulan bersaing seperti apa yang diharapkan. Seperinya telah ada kesepakatan, bahwa keunggulan itu mencakup dan mengarah pada penyediaan produk/jasa yang lebih murah dan didapatkan dengan mudah. Selain itu tentunya perlu memiliki produk dan jasa yang lebih bernilai tambah (value added) serta yang lebih fokus dalam menggarap pasar.

Tak cuma itu, produk dan jasa itu pun perlu tersegmentasi secara tepat dan akurat. Serta kecepatan dan kemampuannya dalam menyesuaikan dengan kondisi industrinya. Bahkan tak hanya harus lebih cepat lebih baik, namun juga harus lebih tepat dan produktif.

Nah untuk mencapai keunggulan bersaing seperti itu, maka mengharuskan terjadinya perobahan perlakuan...perobahan perilaku dan perobahan pelayanan.......Ya, terhadap apapun dan siapapun......(N425).

Begitukah cara Telkom menghadapi kompetisi?

Kita harus menumbuhkan jiwa kompetisi. Ya, ini ideal dan isu menarik. Pentingnya jiwa kompetisi sangat strategis untuk mengadaptasi pasar kompetisi.

Co-founder Intel Andrew S. Grove, pernah mengatakan bahwa dalam pasar kompetisi, perusahaan yang sukses tidak dilihat dari size dan volume. Tidak pula dilihat dari incumbent atau newcomers. Tapi dilihat dari sejauhmana perusahaan itu atraktif dan fleksibel di pasar.

Untuk menumbuhkan jiwa kompetisi, tak ada cara lain selain kita harus berubah (change). Ada kata-kata klise mengatakan, tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Tuntutan perubahan itu sangatlah real karena baik secara internal maupun eksternal, banyak hal yang berubah sehingga kita pun perlu menyesuaikan diri.

Sebagai incumbent operator, beban TELKOM saat ini memang sangat berat. Kita bagai raksasa (giant) namun dipaksa agar gesit menari.

Bobot yang masih tambun ini, meski terus coba dirampingkan dengan program Pensiun Dini, namun tetap saja gerak TELKOM terasa lamban. Belum lagi nostalgia monopoli masih kerap terasa manisnya. Tidak mudah untuk beradaptasi secara cepat dengan kondisi baru.
Kebanyakan dari kita harus diakui masih bermental birokrat, kaku dengan over prosedural. Banyak aturan yang masih bertabrakan karena tidak diupdate atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan bisnis terbaru.

Kompetisi tidak pernah mau menunggu. Time is our enemy. P asar industri telekomunikasi di Indonesia memang masih sangat menjanjikan, tidak heran bila banyak pemain telekomunikasi global yang melirik pasar Indonesia. Mereka datang sejadi-jadinya untuk merangsek bisnis kita yang masih ranum dan menggiurkan. Satu per satu pemain telekomunikasi global menyatroni Indonesia.

Mereka membawa karungan uang dan teknologi sebagai kail untuk memancing rupiah demi rupiah di bisnis telekomunikasi. Sementara kita masih duduk di kursi goyang dengan secangkir kopi dan sebatang rokok diiringi lagu Jayalah Telkom Indonesia.
Kita masih suka berkaraoke ria bersama mitra dalam ruangan redup. Kita masih dimabukan dengan berbagai fasilitas nyaman. Begitu tersadar kita melongo dan garuk kepala tak gatal. Tak percaya pada apa yang telah terjadi.

Kompetitor. Ya, mereka datang menyamar dengan berbaju batik. Mereka lihay berkolaborasi dengan perusahaan lokal. Mereka datang dengan memiliki banyak hal. Mereka punya otak cerdas, teknologi terbaru, pengalaman berbisnis global, network system. Dan tentu semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi pesaing kuat TELKOM.

Mereka boleh jadi bukan pionir di Indonesia, karena TELKOM lah yang selalu menjadi pionir di bisnis telekomunikasi. Mereka tak memiliki pelanggan sebanyak Telkom Group. Mereka bukanlah penerima berbagai reward, karena Telkom lah si penerima segudang berbagai penghargaan.

Tetapi, apa artinya pionir kalau tidak dapat memenangkan persaingan bisnis. Apa artinya jumlah pelanggan banyak kalau tak ada duitnya. Apa artinya menerima berbagai penghargaan kalau tidak memiliki efek terhadap sales dan fulus.

Coba saja perhatikan pertumbuhan revenue kita dari tahun 2009 ke tahun 2010. Lebihnya tidak mencapai Rp. 200 Milyar. Padahal kita tau beban SDM telah berkurang tajam. Karena kebijakan pemotongan beban biaya terjadi disana-sini. Tidak terkecuali biaya perjalanan dinas dan biaya tetek bengek yang tak terlalu signifikan.

Tapi begitukah cara kita berbenah. Begitukah cara kita menghadapi kompetisi. Begitukah cara kita berstrategi? Wajar, jika begitulah hasilnya....Lumayan puyeng kan..!!! (n245)

Antara rekayasa dan makna reward


Tahukah anda bahwa Telkom sering menerima reward. rasanya telah menjadi rahasia umum. Menurut catatan penulis berbagai reward yang diperoleh Telkom tidak kurang dari 15 kali per tahun. Ini tentu saja jauh lebih banyak ketimbang yang diterima instansi atau perusahaan lain di negeri ini. 

Nah, pertanyaannya, sejauh mana berbagai reward itu dapat dikelola secara efektif sehingga mampu mengubah sikap dan cara pandang stakeholders terhadap Telkom.

Kita sepakat bahwa di alam kompetisi yang sangar ini apapun yang kita raih dan kita menangkan haruslah tetap diperoleh dengan cara terhormat. Artinya, jangan sampai ada upaya rekayasa, mengada-ada atau penuh dusta. Misalnya untuk mendapat reward tertentu kita harus mengeluarkan sejumlah uang kepada si pemberi reward. Reward bukanlah cerita fiksi bagai sebuah dongeng. Keberadaannya tak boleh dibuat-buat atau dipaksa harus ada. Reward harus benar-benar ada karena memang ada prestasi dan sejumlah data yang diakui kevalidannya.

Bukan harus dibeli apalagi jika harus direkayasa yang mengundang tanya penuh misteri.
Penghargaan seperti the best ini dan itu tentunya akan lebih bermakna lagi manakala realita kualitas manajerial, produk dan layanan itu sudah sesuai standar dan harapan. Namun hingga kini aspek yang satu ini sepertinya masih menyimpan bad news walaupun tidak seburuk dulu. Apalagi dari hasil studi menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara menurunnya kualitas manajerial, produk dan layanan dengan penurunan pendapatan perusahaan.

Dari sisi karyawan pun sama, yaitu pemeliharaan reputasi membutuhkan keterbukaan informasi dan kejujuran dalam mengelola perusahaan. Sebuah prestasi kiranya dapat dipandang sebagai cermin penilaian obyektif pihak luar terhadap kinerja Telkom. Rujukannya mesti. pada kriteria komprehensif yang biasa digunakan perusahaan-perusahaan besar di dunia.
Misalnya merujuk pada kriteria IQA Foundation yang menggunakan tujuh kriteria Malcolm Baldridge untuk menilai performansi sebuah BUMN, yang meliputi:

(1) Leadership; (2) Strategic Planning; (3) Customer & Market Focus; (4) Measurement, Analysis and Knowledge Management; (5) Human Resource Focus; (6) Process Management; dan (7) Results. Apalagi sejak tahun 2000, Telkom telah menggunakan 7 kriteria Baldrige dimaksud sebagai frame untuk Telkom Quality Management System yang menjadi basis untuk membangun sistem manajemen mutu Telkom.

Harapan kita semoga serangkaian penghargaan yang kita terima itu benar-benar 100% mencerminkan reputasi perusahaan. Pada intinya berarti, tak hanya telah mencerminkan citra dan performansi terbaik, namun juga diharapkan benar-benar telah menunjukkan kepiawaian direksi dan manajemen dalam mengelola perusahaan.

Secara tidak langsung sesungguhnya mencerminkan pula kompetensi, kerjasama dan kebersamaan segenap jajaran TELKOM yang telah menunjukkan jerih payahnya melalui pengerahan tenaga dan pikiran serta optimalisasi sumberdaya lainnya, sehingga Telkom menunjukkan reputasinya, baik secara nasional maupun dalam skala dunia.

Kiranya raihan sejumlah award itu akan semakin memotivasi seluruh jajaran Telkom untuk bekerja lebih produktif. Atau setidaknya kita menjadi tahu posisi Telkom saat ini menurut perspektif pihak luar dalam hal manajerial, kualitas dan profesionalisme dalam mengelola perusahaan. Pengetahuan mengenai posisi ini, memang, penting sebagai dasar bagi kita untuk melakukan peningkatan mutu demi mewujudkan visinya menjadi operator terdepan di tingkat regional.

Selain itu berbagai prestasi yang berhasil diukir Telkom selama ini diharapkan pula mampu menginspirasi guna mewujudkan obsesi menjadi role model bagi seluruh BUMN di Indonesia. Tidak terkecuali role model bagi seluruh korporasi di Indonesia dan regional pada umumnya. Sehingga mampu menunjukkan bahwa Telkom sebagai the real champion di sektornya.

Namun yang terpenting adalah makna dibalik semua penghargaan itu. Kata orang bijak bahwa keberhasilan adalah hasil dari kerja keras yang tidak berkesudahan. Berusaha lebih giat setiap hari maka akan ada hari esok yang membawa berkah dan keberhasilan. Keberhasilan itu bukan sekadar didasarkan pada obsesi, namun juga butuh imajinasi, daya kerah dan ketulusan bekerja.

Kini semuanya terpulang pada kita. Maukah kita mengoptimalisasi segala daya dan upaya. Sanggupkah kita turun ke jalanan untuk menyatu dengan market dan kastamer kita. Relakah kita mengoptimalkan kendaraan dinas untuk memonitor market dan kastamer kita. Sudikah kita mencurahkan segala cipta, rasa dan karsa kita untuk peduli pada nasib perusahaan terkini dan mencintainya dengan penuh ketulusan.

Kalau kita masih ogah-ogahan dan tetap bermain pamrih-pamrihan pada perusahaan. Kalau kita masih tak sudi berkeringat dan berdesakan untuk sekadar menyapa kerumunan kastamer tentang produk kita. Kalau kita masih jaga prestise dan tak berani hengkang dari comfort zone. Kalau kita masih melongo atau bengong bersaksi atas hebatnya manuver kaum kompetitor, maka lebih baik biarkanlah perusahaan ini mengerdil hingga mati suri.

Atau biarkanlah label the real champion itu menjadi impian berkepanjangan. Lalu biarkanlah visi agung yang kerap kita dengang-dengungkan itu menggantung di langit tertinggi menjadi kelap-kelip fatamorgana. Kemudian biarkanlah itu menjadi mimpi-mimpi indah hingga pensiun atau pendi menyapa. Karena merasa kesulitan perusahaan itu bukan urusannya. Duh, please dech!! (n425).

Senin, 07 November 2011

Siapa Bilang TASAWUF Sesat...


Ada anekdot dalam dunia mistis, Jika ia mencintai batu maka ia adalah batu. jika ia mencintai manusia maka ia adalah manusia. Jika ia mencintai Tuhan, maka aku tidak bisa menjawab. Aku khawatir jika aku menjawabnya kalian akan melempariku dengan batu.

Demikian gambaran bagaimana rahasia dan tingginya ajaran tasawuf hingga tidak jalan lain bagi penganut tasawuf jika membuka ajaran tersebut di muka publik kecuali dimusuhi dengan umat yang tidak mengetahui dan mengenal tasawuf.

Sebenarnya kemunculan tasawuf sejalan dengan tabligh Nabi Muhammad saw kepada manusia di Arab. Namun ajaran tasawuf ini diajarkan Nabi Muhammad khusus kepada beberapa sahabatnya yang memiliki tingkat spiritual yang lebih tinggi dibandingkan dengan sahabat lainnya, seperti Ali kwh, dan sebagainya. Tidak semua sahabat beliau yang diajarkan tentang ajaran tasawuf ini, mengapa? jawabnya adalah bukankah nabi Musa as sebagai simbol eksoteris tidak dapat mengikuti alur pikir Khidr, simbol pembawa pesan esoteris. Demikian juga dengan para sahabat nabi, tidak semua dapat menjangkau ketinggian ajaran ini. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa ajaran tasawuf belum banyak diketahui saat itu.
Ada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa tradisi tasawuf ini sudah ada sejak Nabi saw hidup, misalnya:
  1. Nabi Muhammad: Aku adalah orang ‘Arab dengan tanpa huruf ‘ayn (rab), dan Ahmad dengan tanpa huruf mim (ahad). Barang siapa yang yang telah melihatku, maka ia telah melihat Haqq.
  2. Dalam suatu riwayat dikisahkan suatu ketika Aisyah memasuki kamarnya. Nabi yang waktu itu di dalam, bertanya: “Siapa kau?”. “Putri Abu Bakar”, jawabnya. “Siapa Abu Bakar?” tanya beliau. Saat itu barulah Aisyah menyadari bahwa Nabi sedang dalam keadaan yang berbeda.
  3. Nabi Muhammad: Seandainya Abu Dzar mengetahui apa yang tersembunyi di hati Salman, maka dia pasti bakal membunuhnya.
  4. Ali: “Aku mempunyai sejenis pengetahuan dalam batinku, yang bila saja aku membukanya pada orang banyak, niscaya engkau akan gemetar seperti tali panjang yang dijulurkan ke dalam sumur yang amat dalam“. Dalam riwayat lain diriwayatkan melalui Abu Hurairah dengan perbedaan redaksi. Kemungkinan besar Abu Hurairah tidak menyebutkan nama Ali sebagai narasumbernya sebagaimana yang terjadi pada riwayat-riwayat dari Abu Hurairah biasanya.
  5. Pada hari Thaif Rasulullah SAW berbicara berdua saja dengan Ali, maka sebagian sahabat berkata “Lama sekali pembicaraan beliau dengan anak pamannya”. Ketika disampaikan pada Rasul, Beliau SAW berkata “Bukan aku yang berbicara dengannya tetapi Allah yang berbicara dengannya”.
  6. Suatu hari sesudah menunaikan shalat, Nabi melihat seorang pemuda (Haritsah bin Malik bin Nu’man al-Anshari?) yang lemah dan kurus, wajahnya pucat, matanya cekung serta berjalan gontai dan susah payah. Nabi pun lantas bertanya: “Siapakah engkau?” “Aku telah meraih tingkat keimanan tertentu,” jawabnya. “Apa tanda-tandanya?” tanya Nabi. Dia menjawab, “Keimananku itulah yang membuatku sedih, yang menyebabkanku bangun malam dan membuatku senantiasa haus di siang hari (lantaran puasa). itulah yang membuatku lupa akan segala sesuatu di dunia ini. Aku melihat seolah-olah Arsy Allah ditegakkan untuk menghitung amal-amal manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar dan aku termasuk salah seorang di antara mereka. Aku melihat para penghuni surga bergembira dan berbahagia, dan para penghuni neraka sedang diazab dan disiksa. bahkan, sekarang ini, telingaku seakan-akan mendengar gelegak api neraka yang demikian dahsyat.” Nabi pun berpaling kepada sahabat-sahabatnya dan bersabda, “Dia adalah salah seorang yang hatinya telah diterangi Allah dengan cahaya keimanan.” Kemudian beliau menoleh kepada pemuda itu dan bersabda, “Pertahankan keadaanmu seperti sekarang ini, jangan sampai keadaan ini sirna.” Pemuda itu pun menyahut, “Wahai Rasulullah! Tolong doakan aku agar Allah menganugerahkan kesyahidan kepadaku.” Tak lama setelah pertemuan ini, terjadilah peperangan. Pemuda itu kemudian ikut perang dan gugur sebagai syahid.
  7. dan berbagai riwayat lainnya seperti percakapan Imam Ali dengan sahabatnya Kumayl tentang Wali Tuhan yang ada di setiap zaman.
Tatkala Nabi saw wafat, Saidina Abu Bakar meneruskan tali estafet spiritual sentral dari Nabi, meskipun sahabat Nabi lain juga meneruskan dakwah Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar memiliki keunggulan yang diakui oleh sahabat-sahabat lain. Abu Bakar bukan hanya memegang kekhalifahan dunia akan tetapi juga kekhalifahan kerohanian. Saidina Ali adalah sahabat Nabi yang juga meneruskan kepemimpinan kerohanian dari Nabi. Keyakinan akan keunggulan dan afdhaliyah Imam Ali as. di atas para sahabat lainnya telah diyakini sebagian sahabat besar seperti Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghiffari, al-Miqdad bin al-Aswad, Khabbab, Jabir ibn Abdillah al-Anshari, Abu Said al-Khudri, Zaid bin Arqam, dkk.

Hal ini dapat juga dilihat dari hampir semua sanad tarikat menyambung melalui pribadi Ali kwh. satu-satunya sahabat yang pernah berkata “Bertanyalah kepadaku”, bahkan tentang sesuatu sampai hari kiamat. Dalam masa ini tasawuf masih belum begitu kentara atau terekspos dalam sejarah. Kemungkinan riwayat-riwayat tentang tasawuf kalah marak dengan riwayat tentang masalah suksesi kepemimpinan setelah Nabi Muhammad saw wafat, masalah hukum fiqh yang menjadi aspek penting dalam kehidupan umat Islam, dan masalah-masalah lain dalam menyatukan umat Islam yang baru saja ditinggalkan Nabi Muhammad saw. Namun beberapa riwayat yang patut diketahui misalnya riwayat terakhir di atas.

Seiring dengan berjalannya waktu, tasawuf mulai lebih dikenal pada masa para raja dinasti Islam melakukan berbagai kemajuan dalam Islam, mulai dari penyebaran agama Islam, kemajuan ekonomi, penyerapan ilmu pengetahuan, filsafat dan teknologi. Beberapa latar belakang yang memungkinkan tasawuf mulai dikenal misalnya: kebobrokan moral dan spiritual yang marak seiring dengan kemajuan ekonomi dan kemaksiatan yang merajalela. Kekeringan spiritual tersebut semakin bertambah parah sejalan dengan semakin eksisnya ajaran fiqih yang lebih menekankan pada aspek-aspek lahiriyah dan saling menyalahkan dan memusuhi antar pemeluk mazhab. Selain itu masalah lainnya adalah masuknya filsafat dalam tradisi Islam. Wilayah Islam yang semakin luas menjadi jalan masuk bagi filsafat, cara berpikir wilayah lain dalam tradisi pemikiran Islam.

Filsafat Yunani, Persia menjadi salah satu bagian ilmu pengetahuan dalam tradisi umat Islam sehingga memunculkan para filosof Muslim dan ahli kalam yang pada akhirnya filsafat menjadi bintang dalam tradisi Islam. Mereka menggunakannya untuk menjawab segala persoalan yang ada, termasuk tentang Tuhan dan masalah yang berhubungan dengan-Nya.

Pertumbuhan tasawuf yang awal masih minim dengan istilah-istilah asing. Semua penjelasan tasawuf masih sederhana. Namun tatkala filsafat mulai masuk dalam tradisi Islam, istilah-istilah asing mulai dimunculkan. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana jalan hidup bertasawuf, menjelaskan ‘perasaan’ para sufi kepada para murid-murid yang baru memulai perjalanan mistik. Tasawuf juga mengajarkan bahwa untuk ‘menjumpai’ Tuhan bukanlah dengan akal filsafat sebagaimana yang marak saat itu. Tasawuf pulalah yang mengisi kekosongan aspek moral spiritual yang tidak diajarkan dalam hukum fikih saat itu yang hanya mengajarkan dan berdebat tentang aspek-aspek lahiriyah semata.

Namun diterimanya tasawuf di tradisi Islam, bukan tanpa aral. Sebagian tokoh, terutama kalangan ulama fikih menganggap tasawuf bukan dari ajaran Islam, tasawuf ajaran sesat, meninggalkan syariat dan sebagainya. Namun semua tuduhan tersebut terbantahkan, banyak ayat-ayat Qur’an yang menunjukkan kebenaran tasawuf. Semua para sufi besar menempatkan al-Qur’an dan hadis Nabi sebagai landasan mereka. Hanya saja mereka, kelompok penentang tasawuf tidak memahami ajaran tersembunyi dalam al-Qur’an sehingga mereka menentang tasawuf.

Bukankah Nabi pernah bersabda: “al-Qur’an mempunyai makna lahir dan batin“. Rumi juga menuliskan bahwa: “al-Qur’an adalah pengantin wanita yang memakai cadar dan menyembunyikan wajahnya darimu. Bila engkau membuka cadarnya dan tidak mendapatkan kebahagiaan, itu disebabkan caramu membuka cadar telah menipu dirimu sendiri, sehingga tampak olehmu ia berwajah buruk. Ia mampu menunjukkan wajahnya dalam cara apapun yang disukainya. apabila engkau melakukan apa-apa yang disukainya dan mencari kebaikan darinya, maka ia akan menunjukkan wajah yang sebenarnya, tanpa perlu kau buka cadarnya“.

Mengenai tuduhan bahwa sufi meninggalkan syariat merupakan tuduhan yang tidak berdasar. Para tokoh sufi memegang syariat dengan kuat, bahkan lebih teguh daripada para penentangnya. Lihatnya saja bagaimana Abu Yazid al-Bustami – yang pernah ekstase dan mengucapkan “Subhani, subhani, Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada lagi tuhan selain Aku, maka menyembahlah kepada-Ku“,- tidak pernah meludah di tanah di dekat Masjid, tidak pernah makan buah melon karena ia tidak tahu bagaimana sunnah Nabi Muhammad saat memakannya, Bahkan salah satu perintah Tuhan yang difirmankan kepadanya, “Untuk keluar dari keakuanmu, ikutilah kekasih kita, Muhammad orang Arab. Lumurilah matamu dengan debu kakinya dan teruslah mengikuti dia“.

Lihat juga berapa rakaat shalat sunah yang al-Hallaj si Hulul dirikan di dalam penjara sebelum penyalibannya. Bahkan dalam keadaan disalib dan mendekati ajalnya, Al-Hallaj menyuarakan do’a pada Allah, “Wahai Tuhan, mereka semua yang sedang berkumpul di sini adalah hamba-hambamu yang mencoba membunuhku demi kefanatikannya terhadap agama-Mu, dan juga dengan alasan untuk mendekatkan diri mereka kepada-Mu. Oleh karenanya, ampunilah mereka semua. Seandainya Kau singkapkan pengetahuan kepada mereka sebagaimana yang Kau anugerahkan padaku, niscaya mereka tidak akan bertindak sebagaimana yang dilakukannya padaku ini“.

Begitu pula dengan Ibn ‘Arabi sang Wahdah Wujud, bukanlah ia penganut mazhab zahiriyah yang hampir selaras dengan madzab Hanbalinya Ibn Taymiyah. Keteguhan memegang syariat ia lakukannya sekalipun dapat membahayakan nyawa diri dan muridnya, seperti diceritakan ketika Ibn ‘Arabi berjalan-jalan dengan para muridnya dan bertemu dengan rombongan khalifah. Ia melarang muridnya memulai salam, –sebagaimana kebiasaan saat itu,- pada rombongan khalifah yang saat itu mengendarai kuda karena menurut sunnah Nabi pengendara kuda harus memulai salam terlebih dahulu kepada pejalan kaki. Diantara amalannya yang diajarkan kepada muridnya, adalah dzikir agung “La ilah illa Allah”, menjaga kelanggengan wudhu, melarang rukhshah (mencari kemudahan dalam hukum) dan sebagainya.

Tak kenal maka tak sayang“, mungkin pepatah ini pantas ditujukan kepada para penentang tasawuf. Mereka menentang dengan gigih tasawuf karena belum mengenal, mengetahui, memahami bagaimana ajaran tasawuf sesungguhnya. Namun begitu mereka mengetahui maksudnya mereka pasti akan mengikuti dan mengamalkannya. Demikianlah yang terjadi pada para penentang tasawuf, seperti al-Izz ibn Abd Salam. Konon dahulu ia pernah mengatakan ketika ia masih mengingkari komunitas sufi, “Apakah ada jalan lain yang kita punyai selain al-Qur’an dan al-Hadits.” Namun Tuhan menuliskan takdir lain baginya. Ketika berkecamuk peperangan melawan orang-orang eropa di wilayah Manshurah dekat teluk Dimyat, para ulama berkumpul. Saat itu Syaikh Izz al-Din bin Abdul al-Salam, Syaikh Makin al-Din al-Asmar, Syaikh Taqi al-Din bin Daqiq al-Id dan kawan-kawannya membuat satu majelis.

Di majelis itu terjadi diskusi yang cukup menarik mengenai kitab al-Risalah al-Qusyairiyah karya al-Qusyairi. masing-masing memberikan komentarnya tentang materi yang terdapat di kitab itu. ketika sedang seru-serunya acara diskusi berlangsung, datanglah syaikh Abu al-Hasan al-Syadzily.

Melihat kedatangan al-Syadzily, mereka memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan itu untuk bertanya kepada al-Syadzily. Salah satu dari mereka berkata, “Kami ingin mendengar dari anda mengenai maksud yang dikandung dari beberapa bagian dalam kitab ini.” al-Syadzily kaget mendengar permintaan itu. Merasa tidak pantas menjawab, al-Syadzily berkata, “Anda semua adalah orang-orang yang mendapat julukan Syaikh al-Islam dan para pembesar ulama zaman ini. Anda semua telah memberikan semua komentar anda, sungguh sudah tidak ada lagi bagi orang seperti ruang untuk mengomentarinya.”

Mereka tetap mendesak al-Syadzily untuk memenuhi permintaan mereka itu. Mereka berkata, “Tidak begitu, justru kami tetap ingin mendengar komentar anda. Silakan berikan komentar anda.” Didesak begitu, al-Syadzily dengan memuji kepada Allah swt, memulai komentarnya. Di sela-sela al-Syadzily memberikan komentarnya, tiba-tiba syaikh Izz al-Din bin Abdul al-Salam menjerit dari dalam kemah dan kemudian keluar memanggil-manggil dengan suara yang keras, “Kemarilah! Kemarilah! Dengarkan semua apa yang dikatakan al-Syadzily. Ini adalah suatu perkataan yang begitu dekat dengan Allah.

“Semoga Allah swt menjadikan anda dan kami sebagai golongan orang-orang yang membenarkan wali Allah swt, dan meyakini karamah-karamah atas anugerah dan karunia-Nya.” Demikianlah doa Ibn Arabi dalam korespondensinya dengan Fakhr al-Din al-Razy, penulis tafsir Mafatih al-Ghayb.

SUMBER:http://sufimuda.wordpress.com

Filosofi dibalik Kisah Ular dan Gergaji

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan ke...