Selasa, 18 Mei 2021

Tanda Husnul Khatimah dan Su'ul Khatimah

Apa saja tanda husnul khatimah dan su’ul khatimah?

 Pertama: Mengucapkan kalimat syahadat saat akan meninggal

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah kalimat ‘laa ilaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud, no. 3116. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykah Al-Mashabih, no. 1621).

Kedua: Meninggal dunia dengan kening berkeringat
Dari Buraidah bin Al-Hashib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَوْتُ المُؤْمِنِ بِعِرْقِ الجَبِيْن

“Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening.” (HR. Tirmidzi, no. 982; Ibnu Majah, no. 1452, An-Nasa’i, no. 1828, dan Ahmad, no. 23022. Hadits ini adalah lafal dari An-Nasa’i dan Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Hal ini bukan menunjukkan su’ul khatimah (akhir hidup yang jelek). Para ulama katakan bahwa ini adalah ibarat untuk menunjukkan beratnya kematian, hingga menghadapi beban berat seperti itu sebagai tanda penghapusan dosa atau ditinggikannya derajat.
Atau ada ulama yang mengatakan bahwa itu adalah tanda baik ketika akan meninggal dunia.

Ketiga: Meninggal dunia pada malam atau hari Jumat
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur.” (HR. Ahmad, 10:87 dan Tirmidzi, no. 1074. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan hadits ini dha’if).

Keempat: Disebut syahid selain syahid di medan perang

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena tho’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914).

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْقَتِيلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ شَهِيدٌ وَالْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Orang yang terbunuh di jalan Allah (fii sabilillah) adalah syahid; orang yang mati karena wabah adalah syahid; orang yang mati karena penyakit perut adalah syahid; dan siapa yang mati di jalan Allah adalah syahid.” (HR. Ahmad, 2:522. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan ‘Adil Mursyid menyatakan bahwa sanad hadits ini shahihsesuai syarat Muslim).

Dari Jabir bin ‘Atik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ وَالَّذِى يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ‘azza wa jalla itu ada tujuh orang, yaitu korban wabah adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan (dalam keadaan nifas atau dalam keadaan bayi masih dalam perutnya, pen.) adalah syahid.” (HR. Abu Daud, no. 3111. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits inishahih. Lihat keterangan ‘Aun Al-Ma’bud, 8:275)

Di antara maksud syahid sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Ambari,

لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى وَمَلَائِكَته عَلَيْهِمْ السَّلَام يَشْهَدُونَ لَهُ بِالْجَنَّةِ . فَمَعْنَى شَهِيد مَشْهُود لَهُ

“Karena Allah Ta’ala dan malaikatnya ‘alaihimus salam menyaksikan orang tersebut dengan surga. Makna syahid di sini adalah disaksikan untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 2:142, juga disebutkan dalam Fath Al-Bari, 6:42).

Ibnu Hajar menyebutkan pendapat lain, yang dimaksud dengan syahid adalah malaikat menyaksikan bahwa mereka mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir hidup yang baik). (Lihat Fath Al-Bari, 6:43)

Level Syahid

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa syahid itu ada tiga macam:

1. Syahid yang mati ketika berperang melawan kafir harbi (yang berhak untuk diperangi). Orang ini dihukumi syahid di dunia dan mendapat pahala di akhirat. Syahid seperti ini tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.

2. Syahid dalam hal pahala namun tidak disikapi dengan hukum syahid di dunia.
Contoh syahid jenis ini ialah mati karena melahirkan, mati karena wabah penyakit, mati karena reruntuhan, dan mati karena membela hartanya dari rampasan, begitu pula penyebutan syahid lainnya yang disebutkan dalam hadits shahih.
Mereka tetap dimandikan, dishalatkan, namun di akhirat mendapatkan pahala syahid. Namun pahalanya tidak harus seperti syahid jenis pertama.

3. Orang yang khianat dalam harta ghanimah (harta rampasan perang), dalam dalil pun menafikan syahid pada dirinya ketika berperang melawan orang kafir. Namun hukumnya di dunia tetap dihukumi sebagai syahid, yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Sedangkan di akhirat, ia tidak mendapatkan pahala syahid yang sempurna. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 2:142-143).

Jadi Imam Nawawi menggolongkan mati syahid karena tenggelam, juga karena hamil atau melahirkan adalah dengan mati syahid akhirat, di mana mereka tetap dimandikan dan dishalatkan. Beda halnya dengan mati syahid karena mati di medan perang.

Ibnu Hajar rahimahullah membagi mati syahid menjadi dua macam:

1. Syahid dunia dan syahid akhirat, adalah mati ketika di medan perang karena menghadap musuh di depan.

2. Syahid akhirat, yaitu seperti yang disebutkan dalam hadits di atas (yang mati tenggelam dan semacamnya, pen.). Mereka akan mendapatkan pahala sejenis seperti yang mati syahid. Namun untuk hukum di dunia (seperti tidak dimandikan, pen.) tidak berlaku bagi syahid jenis ini. (Fath Al-Bari, 6:44)

Kelima: Khusus bagi wanita, ialah meninggal saat nifas, ataupun meninggal saat sedang hamil

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa syuhada’, di antaranya,

وَالمَـرْأَةُ يَقْتُلُهَا وَلَدُهَا جَمْعَاءُ شَهَادَةٍ، يَجُرُّهَا وَلَدُهَا بِسَرِرِهِ إِلَى الجَـنَّةِ

“Dan wanita yang dibunuh anaknya (karena melahirkan) masuk golongan syahid, dan anak itu akan menariknya dengan tali pusarnya ke surga.” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hlm. 53. Beliau menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Keenam: Mati karena begal, hartanya ingin dirampas orang lain

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِى قَالَ « فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِى قَالَ « قَاتِلْهُ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِى قَالَ « فَأَنْتَ شَهِيدٌ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ « هُوَ فِى النَّارِ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?”
Beliau bersabda, “Jangan kau beri kepadanya.”
Ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”
Beliau bersabda, “Bunuhlah dia.”
“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.
“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.
“Ia yang di neraka”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim, no. 140).

عَنْ قَابُوسَ بْنِ مُخَارِقٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَسَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ يُحَدِّثُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَأْتِينِي فَيُرِيدُ الِي قَالَ ذَكِّرْهُ بِاللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَذَّكَّرْ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ مَنْ حَوْلَكَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَوْلِي أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِالسُّلْطَانِ قَالَ فَإِنْ نَأَى السُّلْطَانُ عَنِّي قَالَ قَاتِلْ دُونَ مَالِكَ حَتَّى تَكُونَ مِنْ شُهَدَاءِ الْآخِرَةِ أَوْ تَمْنَعَ مَالَكَ

Dari Qabus bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ayahnya, ia berkata bahwa ia mendengar Sufyan Ats-Tsauri mengatakan hadits berikut ini,
Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdan berkata, “Ada seseorang datang kepadaku dan ingin merampas hartaku.”
Beliau bersabda, “Nasihatilah dia supaya mengingat Allah.”
Orang itu berkata, “Bagaimana kalau ia tak ingat?”
Beliau bersabda, “Mintalah bantuan kepada orang-orang muslim di sekitarmu.”
Orang itu menjawab, “Bagaimana kalau tak ada orang muslim di sekitarku yang bisa menolong?”
Beliau bersabda, “Mintalah bantuan penguasa (aparat berwajib).”
Orang itu berkata, “Kalau aparat berwajib tersebut jauh dariku?”
Beliau bersabda, “Bertarunglah demi hartamu sampai kau tercatat syahid di akhirat atau berhasil mempertahankan hartamu.” (HR. An Nasa’i, no. 4086 dan Ahmad, 5:294. Hadits ini shahihmenurut Al-Hafizh Abu Thahir)

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ»

Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud, no. 4772 dan An-Nasa’i, no. 4099. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Ketujuh: Meninggal karena sedang ribath (menjaga wilayah perbatasan) di jalan Allah Ta`ala

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Berjaga-jaga sehari-semalam (di daerah perbatasan) lebih baik daripada puasa beserta shalat malamnya selama satu bulan. Seandainya ia meninggal, maka pahala amalnya yang telah ia perbuat akan terus mengalir, dan akan diberikan rezeki baginya, dan ia terjaga dari fitnah.” (HR. Muslim, no. 1913)

Kedelapan: Meninggal dalam keadaan melakukan amal shalih

Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa bersedekah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga.” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hlm. 58. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Bahasan di atas bisa dilihat dari penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam kitab beliau Ahkam Al-Janaiz.
Sebab Terpenting Husnul Khatimah

1. Pertama: Kontinu dalam menjalankan ketakwaan dan ketaatan, terutama dalam merealisasikan tauhid dan tidak berbuat syirik.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (yang dibawa mati, pen.), dan Allah akan mengampuni dosa di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)

2. Kedua: Memperbanyak doa kepada Allah agar diberi husnul khatimah

3. Ketiga: Terus memperbaiki diri

Mendapat Pujian Manusia Ketika Meninggal Dunia

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Mereka lewat mengusung jenazah, lalu mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib.” Kemudian mereka lewat dengan mengusung jenazah yang lain, lalu mereka membicarakan kejelekannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib.” Umar bin Al-Khattab lantas bertanya, “Apakah yang wajib itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِى الأَرْضِ

“Yang kalian puji kebaikannya, maka wajib baginya surga. Dan yang kalian sebutkan kejelekannya, wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari, no. 1367 dan Muslim, no. 949).

Dari Abul Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku datang di Madinah lalu duduk menghampiri ‘Umar bin Al-Khattab. Kemudian lewatlah jenazah kepada mereka, lalu jenazah tersebut dipuji kebaikannya. Maka ‘Umar berkata, “Wajib.” Kemudian lewat lagi yang lain, maka ia dipuji kebaikannya, maka ‘Umar berkata, Wajib.” Lalu lewatlah yang ketiga, maka ia disebutkan kejelekannya. Kemudian ‘Umar berkata, “Wajib.”

Aku pun bertanya, “Apakah yang wajib, wahai Amirul Mukminin.” ‘Umar menjawab, “Aku mengatakan seperti yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ

“Muslim mana saja yang disaksikan kebaikan (dipuji kebaikannya) oleh empat orang, Allah pasti memasukkannya ke surga.” Lalu berkata, “Bagaimana kalau tiga orang?” Beliau menjawab, “Dan tiga orang juga sama.” Lalu kami berkata, “Bagaimana kalau dua orang?” Beliau menjawab, “Dan dua orang juga sama.” Kemudian kami tidak bertanya pada beliau tentang satu orang.” (HR. Ahmad, 1:84. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Imam Nawawi rahimahullah membawakan dua hadits di atas dalam Bab “Pujian Orang-Orang kepada Orang yang Meninggal Dunia” dalam kitabnya Riyadh Ash-Shalihin.
Imam Nawawi rahimahullahmengatakan bahwa pujian yang dimaksud adalah pujian dari ahlul fadhel atau kalangan orang shalih yang punya keutamaan.
Pujian mereka pasti sesuai kenyataan yang ada dari orang yang meninggal dunia. Sehingga dinyatakan dalam hadits, dialah yang dijamin surga.

Ada juga pemahaman lainnya. Yang dimaksud adalah pujian secara umum dan mutlak.
Yaitu setiap muslim yang mati, Allah beri ilham kepada orang-orang dan mayoritasnya untuk memberikan pujian kepadanya, itu tanda bahwa ia adalah penduduk surga, baik pujian tersebut benar ada padanya atau tidak.

Jika memang tidak ada padanya, maka tidak dipastikan mendapatkan hukuman. Namun ia berada di bawah kehendak Allah.

Jadi, jika Allah mengilhamkan pada orang-orang untuk memujinya, maka itu tanda bahwa Allah menghendaki padanya mendapatkan ampunan. Itu sudah menunjukkan faedah dari memujinya.

Demikian penjelasan dari Imam Nawawi dari Syarh Shahih Muslim, 7:20.
Kalau dalam hadits disebutkan empat orang yang memuji kebaikannya, bagaimana kalau yang jadi saksi dan memuji kebaikannya adalah ribuan orang. Bahkan di sini adalah orang-orang shalih dan orang-berilmu yang memberikan sanjungan.

Jangan Sampai Su’ul Khatimah

Disebutkan oleh Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham (1:169-170), ‘Abdul Haqq Al-Isybili rahimahullah berkata, “Sesungguhnya su’ul khatimah (akhir hidup yang jelek) tidak mungkin menimpa orang yang secara lahir dan batin baik dalam agamanya.
Tidak pernah didengar dan diketahui orang seperti itu punya akhir hidup yang jelek. Walhamdulillah.

Akhir hidup yang jelek itu ada bagi orang yang rusak dalam akidahnya, terus menerus melakukan dosa besar atau menganggap remeh dosa.

Begitu pula su’ul khatimah bisa terjadi pada orang yang asalnya berada di atas sunnah (ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) lantas keadaannya melenceng jauh dari jalan tersebut. Inilah amalan yang menyebabkan akhir hidup seseorang itu jelek. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.”

Ulama tabi’in, Mujahid rahimahullah berkata, “Barangsiapa mati, maka akan datang di hadapan dirinya orang yang satu majelis (setipe) dengannya. Jika ia biasa duduk di majelis yang selalu menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, maka itulah yang akan menjadi teman dia tatkala sakratul maut.

Sebaliknya jika di kehidupannya ia selalu duduk bersama ahli dzikir (yang senantiasa mengingat Allah), maka itulah yang menjadi teman yang akan menemaninya saat sakratul maut.” (At-Tadzkirah, Al-Qurthubi, Maktabah Asy-Syamilah, 1:38).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dosa, maksiat, dan syahwat adalah sebab yang dapat menggelincirkan manusia saat kematiaanya, ditambah lagi dengan godaan setan. Jika maksiat dan godaan setan terkumpul, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam su’ul khatimah (akhir hidup yang jelek).” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir, 9:184).

Sebab Su’ul Khatimah

Di antara sebab su’ul khatimah adalah:

1. Memiliki akidah yang rusak.
2. Melenceng dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Terus menerus dalam melakukan dosa besar dan menganggap remeh dosa.
4. Teman bergaul yang jelek.

Moga Allah memberikan kita kemudahan berada dalam akhir hidup yang baik (husnul khatimah) dan dijauhkan dari akhir hidup yang jelek (su’ul khatimah).

Diselesaikan 7 Syawal 1439 H di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan
Saat safar Jogja – Maluku Tengah
(Ustadz Muhammad Abdul Tuasikal, M.Sc.)

Sabtu, 15 Mei 2021

Menakar Kualitas Taqwa Pasca Ramadhan

Pasca Ramadhan hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung (dalam ketakwaan).

Faktanya bermacam-macam kondisi ketakwaan orang-orang beriman selepas mengarungi “lautan mutiara” bernama bulan Ramadhan. 

Esensi Ramadhan adalah momentum spesial “karantina suci” satu bulan penuh, menggembleng jiwa-jiwa yang beriman untuk menjadi lebih unggul, dan prestasi puncaknya yaitu menggapai “honoris causa” suci dari Allah swt berupa; takwa. 

Identiknya suatu karantina, berkualitas atau buruknya hasil tergantung pada kemauan dan keseriusan pribadi peserta. Pasca karantina bernama Ramadhan, tentu berbeda-beda hasilnya, dari masing-masing “peserta”, ada yang mendapatkan hasil maksimal, ada yang sederhana. 

Untuk Apa Takwa Setelah Ramadhan? 

Ramadhan bukan momentum kesalehan musiman, kemudian “tidak perlu” saleh di bulan-bulan lainnya, dan hanya akan (kembali) beramal saleh pada Ramadhan tahun berikutnya. Syekh Doktor Ali Jum’ah, mufti besar Mesir beropini: "Orang yang telah berada pada posisi benar-benar takwa, ia otomatis mendapatkan banyak keuntungan, bukan hanya dalam konteks beragama (ukhrawi) tetapi juga mendapatkan banyak kemudahan dan kesuksesan dalam hal duniawi." 

Hal terpenting untuk diperhatikan dan dievaluasi adalah, apa yang dihasilkan setelah proses “karantina” selama satu bulan Ramadhan itu selesai? Bukan hanya dominan berlebihan gegap gempita, dalam aktivitas fisik saat “karantina” belaka, tanpa penghayatan mendalam, agar karantina (Ramadhan) yang dibayar mahal dengan “ongkos” haus dan dahaga selama sebulan itu, tidak sia-sia. 

Idul Fitri adalah awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan dalam ruang karantina bernama Bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sudah semestinya manusia menjaga kesucian tersebut setelah Ramadhan usai, ditandai dengan hari Raya Idul fitri, sampai dengan datangnya Ramadhan berikutnya. 

Melekat pada kepribadian

Diharapkan setelah Ramadhan, takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman, yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupan si muttaqin (orang bertakwa). Dan di konteks inilah titik temu puncak dari ibadah puasa Ramadhan dengan ibadah-ibadah lain seperti haji, zakat dan berbagai ibadah lainnya. 

Ramadhan ladang mutiara bagi yang memfungsikan momentum itu sebaik-baiknya. Namun Ia bukan apa-apa bagi orang yang salah jalan dalam menelusurinya. Sungguh kerugian besar Jika Pasca Karantina tidak menghasilkan hal-hal positif yang terkait dengan ketakwaan setelah Ramadhan berlalu. Kerugian tersebut bukan hanya karena dibayar dengan jerih payah haus-dahaga satu bulan penuh. Tetapi yang lebih harus ditangis-sesali adalah lewatnya peluang “Tambang mutiara” setahun sekali yang bernama bulan Ramadhan itu. 

Ibarat kendaraan mewah, pasca Ramadhan, manusia adalah habis melakukan perbaikan total, atau “turun mesin”, sudah semestinya harus dijaga, agar jangan kembali rusak hanya dalam hitungan detik, setelah keluar dari “bengkel spesialis” bernama Ramadhan. Dalam konteks menjaga kesucian Ramadhan setelah Idul Fitri. 

Waktu saya masih remaja, nasihat orang tua saya, dengan bahasa sederhana: “Janganlah panas setahun, sirna hanya diguyur hujan sesaat”. Maksudnya, janganlah kesucian pribadi muslim yang sudah dibersihkan, susah payah (selama bulan Ramadhan) itu kembali dikotori dengan kemaksiatan dalam sekejap, setelah Ramadhan berlalu. 

Qaidah Fiqih pun berujar: “al-umuru bi maqashidiha” (status suatu amal perbuatan itu terganggun ikhlas dan tidaknya niat). Jadi, bila kemarin-kemarin saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa menyertakan (niat) baik untuk meningkatkan religiusitas selepas Ramadhan, untuk apa jerih payah berpuasa? 

Melacak Kontrol Takwa Dalam tinjauan Maqashid Syariah, bukan hanya ibadah puasa Ramadhan, namun semua amal ibadah adalah tangga untuk menggapai posisi tertinggi dalam beragama; bernama takwa. Selain Ramadhan yang hanya setahun sekali. Jika diselami, sebenarnya setiap orang beriman, estafet diberi “pengingat” dipandu untuk selalu ikhlas dalam beribadah, harus berniat murni hanya untuk mengharap ridha Allah swt, sehari semalam dalam salat lima kali. 

Yaitu di rakaat awal, sebelum membaca al-Fatihah, ketika membaca doa iftitah: “Inna shalatî wa nusukî wa mahyâyâ wa mamâtî lillâhi rabil a’lamin.” Artinya: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-An’am: 162).

Di konteks ini, juga ada momentum mingguan. Hari raya Islam setiap minggu, yaitu setiap hari Jumat, orang-orang beriman dianjurkan melakukan introspeksi diri (muhasabah nafs) atas amal-perbuatannya selama satu minggu, banyak mana antara amal buruk dan amal baiknnya dalam seminggu itu? Untuk kemudian meningkatkan ketaatan beribadah, menggapai takwa. 

Karena itulah, Sang khatib Jumat pun disyaratkan dalam berkutbah untuk berpesan kepada para jamaahnya; untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. Bahkan tidak syah khutbahnya jika meninggalkan pesan untuk bertakwa. Inilah dua momentum introspeksi diri, harian dan mingguan, untuk menjaga kontinuitas dan kualitas ketakwaan, namun sering terabaikan oleh Muslim yang taat sekalipun. 

Mengapa taqwa bisa menghilang?

Mengapa Takwa Menghilang Pasca Ramadhan? Takwa adalah “bahan pokok” untuk menciptakan peradaban Islami manusia. Karena dengan takwa otomatis menjadikan pribadi manusia terhormat. Mencampakkan hal-hal yang kurang patut menurut agama dan bertentangan dengan norma sosial berbangsa. 

Dengan kata lain, menjauhkan diri dari fenomena-fenomena jahiliyah (egois, rakus kekuasaan, sombong, gila hormat, haus menumpuk harta dan sejenisnya) Dalam tinjauan maqashid syariah, jika selepas Ramadhan, tidak tertanamnya ketakwaan pada kepribadian manusia, dan kembali bermaksiat, berarti Ia tidak mendapatkan target utama kewajiban beribadah puasa(Takwa) Itu. 

Kemana dan dimanakah hasil puasa Ramadhan yang bernama takwa itu “lari” atau “bersembunyi”? Jika mulai komunitas “akar bumi” sampai “atap langit” pasca Ramadhan, kerusakan akhlak kian kembali menjadi-jadi, korup (Para pemegang jabatan) dan pergaulan bebas (generasi muda) adalah fenomena yang paling mencolok di pentas publik. Bukankah mereka beragama (Islam) dan fisiknya pun berpuasa setiap Ramadhan? 

Merespon fenomena itu, publik Muslim religius tidak perlu heran. Sungguh banyak orang yang berpuasa Ramadhan, tetapi mereka masih belum termasuk golongan orang bertakwa. Karena landasan ibadah cuman “fisik” atau “kulit” belaka. Jadi wajar saja ketika Ramadhan usai, tidak “Saleh” atau tidak “Takwa” lagi. 

Dalam tinjauan Ilmu Balaghoh, gegap gempita “seremonial” ibadah Ramadhan di ruang publik Indonesia ini (masih) sebatas pendahuluan (muqaddimah) dan belum menghasilkan kesimpulan (natijah), yaitu kondisi takwa. Perlu adanya introspeksi dari masing-masing individu yang melaksanakan puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, untuk bisa menggapai natijah (hasil ibadah) yaitu takwa. 

Jika Nabi saw bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.”(HR Turmudzi). Fakta pun berbicara, berapa banyak selepas Ramadhan yang (kembali) korupsi? Berapa banyak wanita saat Ramadhan mendadak berbusana Islami—Pun dengan harga sangat mahal—tetapi (kembali) berpakaian mini selepas Idul Fitri? Dan berbagai fenomena lainnya yang (kembali) menabrak rambu-rambu Ilahi setelah Idul Fitri? 

Waspadalah! Itulah fenomena skandal berpuasa tetapi masih belum berkualitas (takwanya) pasca Idul Fitri. 

*) Nasrulloh Afandi//Penulis adalah Doktor Maqashid Syariah, Universitas al-Qurawiyin Maroko. Wakil Ketua Yayasan Pesantren Asy-Syafi’iyyah (2016), Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu.
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/69618/menakar-kualitas-takwa-pasca-ramadhan

Selasa, 11 Mei 2021

Makna Puasa dan Idul Fitri Menurut Sufi Nusantara (Bag-2// habis)

Kupat adalah ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (empat laku). Misalnya, sungkeman adalah bentuk pengakuan yang indah karena biasanya dilakukan kepada orang tua dan orang-orang lain yang lebih tua.

Ini mengajarkan penghormatan, berbakti, rendah hati, dan memohon keikhlasan dan maaf dari orang tua, dengan harapan orang tua mendoakan anak-anaknya agar diampuni; doa orang tua, seperti kita tahu, lebih ijabah dalam pengertian ini.

Sedangkan laku papat adalah lebaran, luberan, leburan dan laburan. Lebar dalam bahasa jawa berarti ”selesai”, sebagai tanda berakhirnya bulan ramadhan, dan terbukanya pintu ampunan. Luberan adalah melimpah, sebagai simbol ajaran untuk melimpahkan rezeki, baik yang wajib maupun sunnah: zakat, sedekah kepada keponakan-keponakan, tetangga (dengan mengirim atau bertukar makanan, dan sebagainya) – yang secara umum adalah bentuk kepedulian sosial.

Leburan adalah melebur, yakni meleburkan dosa dan kesalahan diri kita dan orang lain dengan saling memaafkan, agar ”energi negatif kolektif” berupa dendam, benci, dan amarah, diubah menjadi ”energi positif kolektif” – kasih sayang, saling berbuat baik, dan seterusnya. Dan laburan adalah ”melabur” dengan kapur, yakni memutihkan – berarti memutihkan hati dan menjaganya agar tetap putih (bersih).

Tidak heran jika dalam tradisi di jawa kita pada masa lebaran sering mendengar ungkapan semacam ”parikan” yakni ”kupat santen, kawulo lepat nyuwun ngapunten.”

Jadi, apapun kualitas puasa kita, entah puasa awam atau khusus dan sangat khusus, Allah tetap memberikan balasan dan peluang untuk memperbaiki diri melalui puasa lantaran Rahmat dan Kasih-Sayang-Nya. Yang penting adalah, meski kita masih berpuasa ala kadarnya.

Paling tidak tumbuh kesadaran melalui pendidikan ruhani via puasa dan idul fitri, yang terus diulang setiap tahun selama kita masih hidup dan mampu, bahwa puasa dan kebajikan sosial adalah dua hal yang melambangkan tajalli dari tindakan-Nya dan sifat-sifat-Nya, mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya apapun yang kita lakukan tidak akan pernah lepas dari-Nya, baik dalam ibadah individu maupun sosial, baik dalam kesalehan individu maupun kesalehan sosial.

Jika kesadaran ini terus dilatih, maka seseorang insya Alah, dengan izin-Nya, akan selalu mengembalikan segala urusan kepada-Nya, selalu mengingat-Nya, yang berarti orang secara tak langsung diajak berzikir dalam setiap tindakan tanpa dia sadari.

Pada akhirnya, jika istiqomah melatih kesadaran ruhani melalui puasa wajib dan sunah, orang akan memahami bahwa inna lillahi wa inna ilaihi rojiun bukan hanya soal kematian, tetapi juga dalam soal kehidupan; kanjeng Nabi bersabda, ”Matilah sebelum engkau mati.”

Maka, bagi orang yang berpuasa (dengan benar) ia akan menemui dua kegembiraan: “di saat berbuka dan bertemu dengan Tuhannya.” Manusia “berbuka puasa” dalam arti bahwa dengan berlatih menghilangkan hijab-hijab kedirian agar hati menjadi bersih melalui tindakan menahan hawa-nafsu, sehingga sampai terbuka mata hati dan ruhaninya, menyaksikan kebesaran Allah dan sifat-sifat Allah dalam setiap ciptaan, dan pada gilirannya ia akan bertemu dengan Tuhannya, dalam keadaan sebagaimana pertama kali ia diciptakan, yakni dalam keadaan fitrah. Wa Allahu a’lam. (islami.co//habis)

Senin, 10 Mei 2021

Makna Puasa dan Idul Fitri Menurut Sufi (Bag-1)

Dalam hadis dinyatakan bahwa puasa adalah milik-Nya, maka pada hakikatnya ibadah puasa adalah ”tanpa-laku.” Ini bukan dalam makna lahir atau fisik, namun mengacu pada makna ruhani dari ”tanpa laku” – yakni diam, hening. Yaitu, mengheningkan batin dengan cara menahan keinginan lahiriah bahkan termasuk yang halal dan menahan keinginan batiniah terutama yang buruk-buruk, seperti keinginan berdusta, mengeluh, ghibah, bertikai, memusuhi dan yang semacam itu.

Puasa dalam makna ini hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang, golongan elit menurut Imam al-Ghazali, yakni puasanya ”orang khusus dari yang khusus.” Ketika ”haal” (keadaan ruhani) seseorang telah menyatukan ”laku” dengan ”tanpa laku”, yang berarti sudah menisbahkan semua tindakannya kepada Allah, menyatukan tanzih (transendensi) dan tasybih (imanensi), maka Allah sendirilah yang akan mengekspresikan atau mengejawantahkan Diri-Nya melalui orang yang berpuasa secara khusus ini: ”… Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, penglihatannya yang dengannya dia melihat ..” dan seterusnya seperti tertera dalam Hadis Qudsi yang masyhur di kalangan sufi.

Jika demikian keadaannya, maka seseorang berarti telah kembali kepada keadaannya yang semula, fitrah – atau dalam ungkapan umum ”aidil fitri,” kembali ke keadaan sebenarnya melalui puasa. Manusia kembali kepada keadaan bahwa dirinya bukan apa-apa karena, sebagaimana puasa, manusia adalah milik-Nya. Karenanya, kewajiban dalam berpuasa secara syariat adalah menahan diri melakukan tindakan-tindakan yang haram maupun halal selama ia berpuasa, dan melakukan tindakan-tindakan ibadah wajib dan sunnah sesuai perintah-Nya, agar terbit kesadaran hakiki tentang ”la haula wa quwwata illa billah,” tidak ada daya dan kekuatan apapun kecuali dari Allah, yaitu kesadaran bahwa meski orang makan, namun sesungguhnya orang kenyang bukan karena makan melainkan karena Allah, bahwa orang beribadah bukan karena dirinya sendiri mampu beribadah melainkan karena diizinkan dan diberi kekuatan oleh Allah, dan seterusnya. Karena itu dalam pengertian ini seseorang melalui ibadah puasa yang adalah ”milik-Nya” itu kembali kepada-Nya bukan melalui dirinya sendiri tetapi melalui sesuatu yang merupakan milik Allah.

Pada gilirannya, karena ia secara ruhani menyerahkan hakikat ibadahnya kembali kepada Sang Pemilik, maka dirinya ridho untuk dikendalikan oleh Sang Pemilik sehingga ia berhak menyandang amanah sebagai ”khalifah Allah di muka bumi.”

Ini dilambangkan dengan Idul Fitri, kembali kepada kesuciannya, yakni mensucikan segala sesuatu yang dinisbahkan secara semu kepada klaim dirinya sendiri, sebab segala sesuatu adalah milik Allah. 

Karenanya, pada malam idul fitri disunnahkan bertakbir, mengagungkan Allah, bukan dalam arti membesarkan Allah dibandingkan dengan yang lain, sebab Allah jelas tiada bandingan, tetapi dalam arti bahwa Allah memang Maha Besar tiada bandingan sehingga tak sepatutnya orang yang sudah kembali kepada-Nya melihat kebesaran semu dalam dirinya sendiri, karena dirinya pada hakikatnya tidak punya apa-apa, bahkan nyawanya sendiri pun bukan miliknya. 

 Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahilhamd, Maha Besar Allah dan Segala Puji adalah Kepada-Nya, karena kebagusan akhlak dan kebeningan ruhani setelah berpuasa sesungguhnya adalah anugerah-Nya juga.


Karena itu sepatutnya manusia pada hari raya Idul Fitri justru lebih banyak bersyukur dan meminta maaf kepada manusia, sebab tindakan meminta maaf secara kolektif berarti semua orang yang terlibat dalam puasa melakukan ”pengakuan massal” bahwa mereka telah punya salah kepada sesama manusia, yang semuanya sama-sama makhluk Allah yang tidak punya apa-apa. Sekiranya kita belum sampai pada kondisi puasa amat khusus itu, maka permintaan maaf kita adalah menutupi kekurangan adab ruhani kita.

Meminta maaf kepada sesama berarti menyambung kembali tali silaturahim ruhani yang ternoda oleh gesekan-gesekan ego/nafsu dan dosa pada manusia dan pada Tuhan. Ketika orang bersalah kepada manusia, misalnya melakukan fitnah dan dusta, maka pada saat yang sama ia bersalah kepada Tuhannya karena melanggar larangan-Nya. 

Karena Kasih-Sayang-Nya, dan Dia Maha Tahu bahwa tak semua orang mampu berpuasa sebagaimana seharusnya, maka Allah memberi jalan pengampunan melalui tali silaturahim dan permintaan maaf kolektif, paling tidak membuat kita sadar bahwa kita sesama Muslim adalah saudara, dan sama-sama hamba Allah yang punya salah, sehingga diharapkan bisa mengikis salah satu dosa terbesar, yakni kesombongan, merasa paling benar sendiri, dan merasa lebih baik dari orang lain.

Maka dari itu, para arifbillah menunjukkan melalui simbol-simbol, bahwa puasa dan perayaan Idul Fitri pada hakikatnya adalah bentuk pendidikan ruhani juga; yang masyhur adalah simbol ketupat (aslinya adalah dari kata kupat) yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijogo. [islami.co//bersambung]

Sabtu, 08 Mei 2021

Mencari Makhluk Paling Hina

Di sebuah pondok pesantren, terdapat seorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seorang Kyai. Sudah bertahun-tahun lamanya si santri belajar. Hingga tibalah saat dimana dia akan diperbolehkan pulang untuk mengabdi kepada masyarakat.


Sebelum Santri pulang, Kyai memberikan sebuah ujian padanya. Pak Kyai berkata pada santrinya.

"Sebelum kamu pulang, dalam tiga hari ini, aku ingin meminta kamu mencarikan seorang ataupun makhluk yang lebih hina dan buruk dari kamu." ujar sang Kyai.

"Tiga hari itu terlalu lama Kyai, hari ini saya bisa menemukan banyak orang atau makhluk yang lebih buruk daripada saya.” jawab Santri penuh percaya diri.

Sang Kyai tersenyum seraya mempersilakan muridnya membawa seseorang ataupun makhluk itu kehadapannya. Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat, karena menganggap begitu mudah ujian itu.

Hari itu juga si Santri berjalan menyusuri jalanan. Ditengah jalan, dia menemukan seorang pemabuk berat. Menurut pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut selalu mabuk-mabukan setiap hari. Pikiran si Santri sedikit tenang. Dalam hatinya dia berkata.,

“Pasti dia orang yang lebih buruk dariku. Setiap hari dia habiskan hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah.”

Namun dalam perjalanan pulang si Santri kembali berpikir.

"Sepertinya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk dariku. Sekarang dia mabuk-mabukan, tapi siapa yang tahu di akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga dia bisa husnul khotimah? Sedangkan aku yang sekarang rajin ibadah, kalau diakhir hayatku Allah justru menghendaki suúl khotimah, bagaimana? Berarti pemabuk itu belum tentu lebih jelek dariku,” ujarnya bimbang.

Santri itu pun kemudian kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya.

Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjing yang menjijikkan. Karena selain bulunya kusut dan bau, anjing tersebut juga menderita kudisan.

“Akhirnya ketemu juga makhluk yang lebih jelek dari aku. Anjing ini tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan” teriak Santri dengan girang.

Dengan menggunakan karung beras, si Santri kemudian membungkus anjing tersebut untuk dibawa ke Pesantren. Namun ditengah jalan, tiba-tiba dia kembali berpikir,

“Anjing ini memang buruk rupa dan kudisan. Namun benarkah dia lebih buruk dari aku? Oh tidak, kalau anjing ini meninggal, maka dia tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya di dunia. Sedangkan aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama di dunia dan bisa jadi aku akan masuk ke neraka."

Akhirnya si santri menyadari bahwa dirinya belum tentu lebih baik dari anjing tersebut.

Hari semakin sore. Si Santri masih mencoba kembali mencari orang atau makluk yang lebih jelek darinya. Namun hingga malam tiba, dia tak jua menemukannya.. Lama sekali dia berpikir, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke pesantren dan menemui sang Kyai.

"Bagaimana anakku, apakah kamu sudah menemukannya?" tanya sang Kyai.

"Sudah, Kyai," jawabnya seraya tertunduk.

"Ternyata diantara orang atau makluk yang menurut saya sangat buruk, saya tetap paling buruk dari mereka," ujarnya perlahan.

Mendengar jawaban sang murid, Kyai tersenyum lega,

"Alhamdulillah.. kamu dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku," ujar Kyai terharu.

Kemudian Kyai berkata,

"Selama kita hidup di dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik atau mulia dari orang ataupun makhluk lain. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang akan kita jalani. Bisa jadi sekarang kita baik dan mulia, tapi diakhir hayat justru menjadi makhluk yang seburuk-buruknya. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan wajah kita hingga melupakanNya,"

Rasulullah SAW bersabda,

"Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang dihatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji sawi. (HR. Muslim nomor 91).

Semoga sedikit ilmu yang di titipkan Allah SWT di hati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan...Aamiin ya robbal'aalamiin.

Jumat, 07 Mei 2021

Etika dalam Pemikiran Sufi

Oleh: Abidin Ghozali Al-Grabyagani
(Penulis adalah Mahasiswa UIN Syarifhidayatullah Jakarta)

“Etika” sebagaimana kita tahu bahwa istilah ini berasal dari kata Yunani kuno. Yang dalam bentuk tunggalnya kata Ethos memiliki banyak arti: kebiasaan; adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak Ta Etha artinya adalah: adat kebiasaan. Dan arti terahir ini lah yang menjadi latar belakang terbentuknya kata “Etika” yang oleh filsuf Yunani besar Aristoteles (384-322 s.M.)untuk menunjukan filsafat moral.

Etika yang disebut juga filsafat moral, meneliti kaidah-kaidah yang membimbing manusia sehingga dalam jalan yang baik dan benar. Di dunia barat pemikiran tentang dunia ini berawal dari Sokrates, mazwab Stoa, dan Epikurus. Dalam filsafat India pemikiran etik berpangkal pada ajaran Karma dan Dharma.

Sedangkan Sufi seorang yang mengerti dan mengamalkan ilmu Tasawuf. Kaum sufi akrab dengan berbagai ritual keagamaan seperti wirid, do’a dan i’tikaf untuk melakukan ritual ini kaum sufi ada yang melakukannya dengan cara Uzlah (Mengasingkan diri), Muraqabah (Kontemplasi penuh dengan kewaspadaan), Muhasabah (pemeriksaan atau ujian terhadap diri).

Sejak dekade akhir abad ke II Hijriah, Sufi sudah populer dikalangan masyarakat dunia Muslim, Ibrahim Basyuni, dalam kitab “Nasy-at-Tasawuf fi-I Islam” mengungkapkan bahwa kaum sufi di identikkan dengan kaum Muhajirin yang bertempat di serambi masjid Nabi di Madinah, dipimpin oleh Abu Zaar al-Ghiffari. Mereka menempuh pola hidup yang sangat sederhana, zuhud terhadap dunia dan menghabiskan waktu beribadah kepada Allah. pola hidup mereka kemudian di contoh oleh sebagian umat Islam yang dalam perkembangan selanjutnya disebut kaum sufisme.

Sejak kemunculan kaum sufi sudah bisa dilacak apakah memiliki konsep hidup yang etis, membedakan mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Cara hidup kaum sufi dalam perkembangannya memang mendapakan banyak corak yang variatif.

Seperti pada fase awal kemunculan sufi, fase asketisme setidaknya berlangsung sampai akhir aban II Hijriah dan memasuki fase kedua dimana peralihan dari asketisme ke arah sufisme yang ditandai dengan pergantian sebutan zahid menjadi sufi. Dalam fase ini ramai para ulama sufi bermunculan tak ubahnya jamur dimusim hujan seperti al-Muhashibi (w. 243 H), al-Harraj (w.277) dan al-Junaid al-Bagdadi (w. 297 H) tokoh terkemuka ini telah mengkonsep hidup etis tentang bagaimana cara hidup yang dilakukan oleh seorang sufi.

Keramaian ini agaknya memiliki faktor pemicu paling tidak ada tiga hal: pertama karena gaya hidup yang glamor-profanistik dan corak kehidupan materialis-konsumerialis yang dipraktikan oleh kalangan eksekutif dan segera menyebar ke masyarakat luas. dan para kaum sufi melakukan protes dengan gaya murni etis, melalui pendalaman kehidupan rohani-sepiritual. Tokoh populer yang dapat mewakili kelompok ini dapat ditunujuk Hasan al-bashri (w. 110 H) yang mempunyai pengaruh kuat dalam kesejarahan Islam, melalui doktrin al-zuhd, al-khauf, dan al-raja; selain itu juga Rabiah al Adawiyah (w. 185 H) dengan ajaran populernya al-mahabbah serta Ma’ruf al-Kharki 9w. 200 H) dengan konsepsi al-syauq sebagai ajarannya.

Konseptor ajaran Uzlah Surri as-Saqathi (w. 253 H) adalah nampaknya menjadi faktor kedua, dilihat dari kondisi sosio-politik pada masanya singgah mengasingkan diri dan menjauhi masyaraka yang sudah memilih hidup hedonis dengan gerakan politik yang mempropaganda pilihan untuk hidup sendiri dan mengindar agaknya cukup rasional untuk mencari jalan kebenaran.

Ketiga, tampaknya dari faktor kodifikasi hukum Islam Fiqh dan Teologi yang dialektis rasional, sehingga kurang bermotivasi ethikal yang menyebabkan nilai sepiritualnya hilang, menjadi semajam wahana tiada isi, semacam bentuk tanpa jiwa.

Dengan adanya faktor-faktor sehingga menghilangkan atau kurang bermotif etika untuk mengembalikan nilai-nilai kerohaniyan, pengabdian dan kecintaan serta kesatuan dengan alam Malakut. Para kaum sufi ini berjuang. Pada abad ketiga ini juga Abu Yazid al-Bisthomi (w. 260 H) melangkah lebih maju dengan doktrin al-ittihad melalui al-fana, yakni beralih dan meleburnya sifat kemanusian (nasut) seseorang kedalam sifat ilahiyat terjadi penyatuaan manusia dengan Tuhan dalam al-fana.

Seperti yang sudah dipaparkan Di atas sejak Abad ke-II Hijriyah hingga III Hijriyah banyak sekali tokoh sufi yang muncul antara lain: Al-Muhasibi (w.243 H), Al-Harraj (w. 277 H), Al-Junaid al-Bagdadi (w. 297), Hasan Al-Bashri (w. 110 H), Rabiah al-Adawiyah (w. 185 H), Ma’ruf al-Kharki (w. 200 H), Surri as-Saqathi (w. 253 H), Abu Yazid al-Bistomi (w. 260 H)dan begitu seterusnya hingga jaman Imam Al-Ghazali yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (1058-1111) inilah tokoh yang menurut penulis representatif untuk dirujuk pemikiranya tentang etika. Ia adalah seorang filsuf, teologi, ahli hukum, dan sufi: dikalangan barat ia dikenal dengan nama Alqazeel. Al-ghazali lahir dan meninggal di Thus, Persia.

Sumber dan ajaran Etika dalam Sufi

Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa sumber etika dalam sufi adalah Al-Quran. Setelah itu dalam pembahasan ini akan dipaparkan juga sumber-sumber seperti kehidupan Nabi, Akhlak, dan perkataan (Sunnah). Setelah itu kehidupan sahabat dan perkataan mereka.

Al-Quran sebagai sumber pembentuk etika sufi

Jika kita merujuk pada al-quran dan sunnah kata “etika” yang dalam hal ini diartikan dengan akhlak maka tidak ditemukan yang ditemukan dalam al-quran hanyalah bentuk tunggal yaitu khuluq yang tercantum dalam Al-Quran surah Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw. Sebagai rasul, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) beradi diatas budi pekerti yang agung” (QS Al-Qalam [68]: 4)

Kata akhlak banyak ditemukan didalam hadis-hadis Nabi Saw., dan salah satu yang populer adalah “ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Berpangkal dari Al-Quran dan sunnah. Namun pada kenyataannya perbuatan manusia manusia sangatlah beragam dan memang keberagan tersebut sudah ditentukan oleh Allah. firman Allah tersebut bisa dijadikan Argumen “Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat beragam” (QS Al-Lail [92]: 4).

Keberagaman prilaku manusia dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk, prilaku baik dapat mengantar manusia pada Tuhannya sedangkan prilaku yang buruk mengantarkan manusia pada kesengsaraan.

Al-Ghazali yang dianggap reprensentanif sebagai pemikir sufistik terkait prilaku manusia yang menjurus pada kesengsaraan menawarkan penawar yang dalam hal ini bisa kita sebut sebagai konsep prilaku etis yang berlandasankan pada Ayat Al-quran dan sunnah. Diantaranya: Nafsu makan yang rakus (Hadist: “Tidak yang paling disukai Allah dibanding lapar dan dahaga” sabda beliau pula, “barang siapa memenuhi perutnya (kekenyangan) tidak akan masuk kerajaan langit” Sabdanya pula, “Lamar adalah raja segala amal”. adalah menjadi penyebab awal daari segala kerakusan, menjadi sumber syahwat, yang kemudian menimbulkan nafsu birahi.

Lalu, berbicara kotor (Baca: QS An-Nisa: 114) ini menjadi konsep etis selanjutnya. Kebiasaan berbicara kotor harus segera dihentikan, karena sangat berpengaruh pada hati. Secara khusus, lisan merupakan proyektor hati. Setiap kata yang terlontar akan menjadikan goresan dalam hati dan akan merusak dalam benaknya. Rasullah saw, bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari akhirat, maka hendaknya berkata baik atau diam. “(H.r. Bukhari-Muslim) sabdanya pula, “Barang siapa banyak bicara, maka banyak salahnya, dan barang siapa banyak banyak salahnya berarti banyak pula dosanya, dan barang siapa banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya.” (Al-hadis)

Amarah adalah nyala api dari neraka Allah swt., yang menjelat hingga keruang hati. Orang yang tidak bisa menahan amaranya identik dengan orang yang telah menggeser prilakunya pada perangai setan yang memang diciptakan dari api. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan amarah dipandang penting oleh agama. Sabda Nabi: “Bukanlah orang yang kuat itu karena kemampuan bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang bisa mengendalikan nafsunya ketika marah”.

Selanjutnya kedengkian, Rasul bersabda : “Sesungguhnya dengki (hasad) itu memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar” belau juga bersabda: “Ada tiga perkara dimana tidak seorang pun yang dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, jangan dinyatakan, dan bila timbul didalam hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan, dan bila timbul dalam hatimu rasa dengki, jangan dipertuturkan.”

Bakil dan cinta harta, menjadi sorotan selanjutnya yang menjadikan seorang kebada berbuatan buruk. Bakil adalah penyakit hati yang sangat kronis dan riskan (baca: QS Al-Hasyr: 9) yang artinya “Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, nereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Baca: Al-Imran: 180), (baca: QS An-nisa: 37). Lalu ambisi dan gila harta, Allah berfirman: ”Negri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dimuka bumi” (QS: Al-Qashash:83) dalam hal ini Rasul bersabda: “Cinta harta dan tahta dapat menimbukan kemunafikan di dalam hati, sebagai mana air dapat menumbuhkan buah-buhan”.

cinta duunia, adalah pangkal dari segala dosa. Dunia tidak sama dengan harta dan tahta saja. Harta dan tahtah hanyalah bagian kecil saja dari dunia yang amat luas ini. Namun perhiyasan dunia yang diciptakan Allah : Firman-Nya : “Sesuungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi mu” (QS. Al-Kahfi: 7) dan segala kesenangannya telah terangkum dalam (Baca: QS Ali Imran : 14) namun, agaknya telah jelas bahwa dunia ini tidak lain hanyalah permainan belak. (Baca: Al-Hadid: 20) ...”Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya”...(QS. An-Nazi’at: 40).

takabur, “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang wenang.” (QS: Al-Mu’min: 35). Selanjutnya sifat Takjub diri, merasa dirinya hebat karena banyak pengikut atau teman (Baca: At-Taubah :25). Menyangka diri yang perbutannya paling baik Allah mengabadikan kecamannya dalam Quran...”Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS: Al-Kahfi: 104). Merasa diri suci Allah mengingatkan dalam Quran: “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS: An-Najm: 32).

riya’, Firman Allah swt.:”Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbat riya’...QS. Al-Maa’uun: 4) Allah memberikan kisi-kisi kepada siapa yang akan diberi-Nya makan tanpa balasan bahkan ucapan trimakasih tidak butuh (Baca: QS. Al-Insan: 9) dan dalam firman-Nya: “barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS. Al-kahfi: 110)

itulah macam-macam prilaku yang menyebakan manusia mengarah kepada kesengsaraan. Al-ghazali menghimbau. Ketahuilah, akhlak tercela itu amat banyak. Namun, prinsipnya kembali pada uraian Di atas. Tidak bisa sekedar membersikan sebagian, melainkan harus secara keseluruhan.

Sedangkan untuk mencapai kemuliaan Al-ghazali mengajarkan yang pertama dalah taubat. Taubat merupakan awal perjalanan para penempuh dan merupakan kunci kehagian para pengharap hadirat Allah. Allah swt. berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dir.” (QS. Al-baqarah: 222)

Dan firman-Nya pula “Dan bertaubatlah kamu sekalin kepada Allah...”(QS. An-Nur: 31).

Selanjutnya, Khauf (Takut), Allah stw. Benar-benar memberikan anugrah kepada oang-orang yang takut kepada-Nya, berupa hidayah, rahmat ilmu dan ridha. Allah swt berfirman:

“... Petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya” (QS. Fathir: 28).

Allah itu ridha kepada orang-orang takut kepada-Nya, begitu pun orang-orang yang takut pada-Nya itu ridha pada Allah. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 8).

Zuhud, menjadi pilar utama kaum sufi untuk mencapai kehadirat-Nya. Hal ini pun para sufi berpijak pada Al-Quran. Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kamu tunjukan matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Sepertinya dalam pemikiran etika sufi itu paham betul dengan apa yang harus diharapkannya didunia ini yaitu keuntungan yang akan didapatkan di akhirat kelak bukan didunia ini. Bukan karena tidak diberi jika kita mengharapkan keuntungan didunia ini. Namun Allah tidak akan memberikan apa pun kelak diakhirat. Namun, jika mengharapkan keuntungannya kelak di akhirat maka Allah akan memberikan lebih banyak. (Baca: QS. Asy-Syuura: 20)

Selanjutanya sabar, Allah swt., berfirman, “Dan bersabarlah Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 46). Ada beberapa hal yang diberikan kepada orang-orang yang sabar dan tidak diberikan kepada selainnya: Mendapat keberkatan sempurna dan rahmat Tuhannya, (Baca: QS. Al-Baqarah: 157), mendapat pahala yang jauh lebih baik dari apada atas apa yang mereka kerjakan (Baca: QS. An-Nahl: 96), tidak berrhenti disitu Allah akan menjadikannya pemimpin (Baca: QS. As-Sajdah 24) Firman Allah swt. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).

Syukur, Allah swt., berfirman: “Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang berterimaksih.” (QS. Saba: 13).

Sindiran ayat di atas menjadi motivasi kepada kaum sufi dan menyakini firman Allah swt. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7).

Ihklas dan jujur, Ikhlas memiliki hakikat, prinsip dan kesempurnaan.

Prinsip ikhlas adalah niat, sebab dalam niat itu terdapat keikhlasan. Sedangkan hakikat ikhlas adalah kemurnian niat dari kotoran apapun yang mencampurinya. Kesempurnaan ikhlas adalah kejujuran.

Imam Al-Ghazali memberikan Pilar-pilar Ikhlas :

Pilar Pertama: Niat,

Allah swt., berfirman dalam (QS. Al-An’am: 52). “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.”

Arti niat menurut kaum sufi adalah kehendak dan keinginan memperoleh ridha Allah swt.

Pilar Kedua: Keihhlasan Niat.

Allah swt. telah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (Menjalankan) agama denga lurus. “ (QS. Az-Zumar: 3)

Tawakal, Firman Allah wst. “Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri” (QS. Ibrahim: 12) banyak bertebaaran ayat-ayat tentang taqwa dalam al-quran yang menjadi landasan kaum sufi dalam menyerahkan diri kepada Allah.

Secara esensial (Hakikat) taqwa merupakan kondisi rohani yang lahir dari tauhid, dan pengaruh terwujudnya dalam alam nyata. Tawakal memiliki tiga pilar: Pertama, pengenalan diri akan Allah (Ma’rifat), kondisi takwa (haal) dan amal.

Cinta, Allah berfirman, “ Allah mencintainya dan mereka puun mencintainya” (Al-Maidah: 54). Bagi para kaum sufi puncak dari pada cinta adalah memandang wajah Allah Yang Maha Mulia nanti diakhirat. Menurut Al-Ghazali hal ini tidak mungkin terjadi di Dunia karena tidak mungkin tersingkap sekarang. ...”Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku.” (QS. Al-A ‘raaf: 143) dan firman-Nya ..”Dia tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata”. (QS. Al-An’am: 103).

Ridha terhadap kadha’, Firman Allah (Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya” (QS. Al-Maidah: 119) dalam kaitan ini banyak pula hadist Rasullah seperti sabdanya, “Apabila Allah mencintai seorang Hamba, Dia mencobanya. Jika hamba itu sabar, Allah memilihnya. Dan bila ridha Dia mengutusnya”.

Mengingat mati dan hakikat mati serta ragam siksa ruhani, Al-Ghazali telah menyebutkan kesembilan maqam ruhani dan itu bukanlah terdiri sendiri-sendiri. Justru sebagian diantaranya menunjukan esensi maqam yang lainnya, seperti prinsip atau maqam cinta (Mahabbah) dan prinsip atau maqam ridha (Rela terhadap ketetapan Allah); keduanya merupakan maqam tertinggi. Di antara maqam tersebut saling berkaitan dengan maqam lainnya, seperti maqam taubat dan zuhud; maqam takut (khuuf) dan sabar.

Dalam hal menyangkut kematian Al-ghazali banyak mengihmpun hadis-hadis Nabi, “Perbanyak mengingat pengancur kelezatan-kelezatan!”dan juga sabdanya, ”Barang siapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” Dan masih banyak lagi hadis serupa yang Imam Al-Ghazali kkemukakan.

Manfaat ingat mati menurut al-ghazali adalah akan membawa manusia benci kepada dunia, sedangkan benci pada dunia adalah pangkal dari kebaikan. Bagi kaum sufi 9Ahli Ma’rifat) mengingat Allah itu memiliki dua fungsi dan kegunaan; pertama, benci pada dunia dan kedua, rindu akhirat.

dan ditutup dengan Introspeksi diri. Gagasan etis al-ghazli ini terdapat dalam kita “Kitab Arba’in fi Ushuliddin” (Bairut: Daar Kutub Al-Imiyah, cet I, 1409/1988).

Kehidupan Sahabat dan Perkataan mereka

Sumber lain yang dijadikan dalam pemikiran sufi untuk mendapatkan nilai-nilai seperti zuhud dan wara’ (Menjaukan diri dari dosa), kesederhanaan dan memusatkan diri kepada Allah. seorang pengkaji sejarah sufi Islam modert, tak mungkin melepaskan mainstream-mainstream spiritual dan intuisi hati yang ada dalam kehidupan para sahabat dan perkataan-perkataan mereka.

Namun dalam makalah ini tidak akan mungkin untuk menjelaskan atau menderitakan secara keseluruhan kehidupan dan perkataan para sahabat Nabi. Penulis hanya akan menjelasakan secara global sebagai mana perkataan Abu Attabah al-Halwani “apakal kalian tidak ingin aku ceritakan kondisi (Hal) para sahabat Nabi SAW? “Pertama, bahwa bertenu dengan Allah merupakan sesuatu yang paling mereka cintai dalam kehidupan. Kedua, mereka tak pernah meresa takut terhadap musuh, baik banyak maupun sedikit. Ketiga mereka tidak pernah takut karena permasalahan dunia, dan mereka sangat percaya dengan rizki yang diberikan oleh Allah”

Abu bakar Shidik merupakan seorang ahli zuhud hingga berlapar diri selama 6 hari, dan hanya mempunyai sepotong pakaian. Ia berkata: “Jika seorang hamba merasa kagum atas perhiyasan-perhiayasan dunia, maka Allah akan membencinya hingga ia melepaskan diri dari perhiasan tersebut” Ia juga berkata tentang takwa yakni karena dirinya tawadhu “Aku menemukan kemulian pada diri ketakwaan, kekayaan pada diri keyakinan, dan keanggungan dalam ketawadhu’an” dan Ia bicara tentang ma’rifah (Pengetahuan): “Barang siapa yang mencintai sebuah pengetahuan murni, maka akan memalingkan dari selain Allah, serta menjauhkannya dari manusia”. dan junaid (salah satu ulama besar sufi) menceritakan tentang Abu bakar berkata ‘Kalimat yang paling utama tentang tauhid adalah perkataan Abu bakar yang mengatakan “Maha suci zat yang tidak menciptakan jalan bagi mahluk, kecuali makluk tersebut tak akan mampu untuk mengetahui-Nya”

Penutup

Demikianlah sumber-sumber ajaran etis dalam pemikiran sufi. Dimana semua perbuatan hendaknya bertujuan untuk mendapatkan keutamaan dari Allah swt. Al-Ghazali menjelasakan dalam tingkatannya bahwa syariat hingga menuju hakikat dan pengetahuan puncak tentang tuhan atau ma’rifat adalah melalui perbuatan – perbuatan yang berdasarkan Al-quran yang telah di jelaskan diatas.

Daftar Pustaka:
* K. Bertens “Etika” (Jakarta. Gramedia Pustaka Utama, 1993) h.
* Arif Surahman “Kamus Istilah Filsafat” (Yogyakarta. Matahari. 2012) Cet. 1 h. 96
* M. Abdul Muiieb dkk. “Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali” (Jakarta. PT Mizan Bublika. 2009)
* Imam Al-Ghazali “Teosofia Al-Quran” Pen.(Surabaya: Risalah Gusti, 1995) judul asli buku ini “Kitabul Alba’in fi Ushuliddin” (Bairut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1409/1988) cet 1.
* Abu wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani “Tasawuf Islam : Telaah Historis dan Perkembangannya” (Jakarta: Gaya Media Pratama. 2008) h 54

ibid:
Tasawuf ialah mistisisme dalam Islam atau sufisme. Istilah ini berasal dari kata Arab Shuf (Wol), sejenis pakainan tenunan kasar yang menjadi ciri utama kalangan pertapa awal yang cederung kepada kesederhanan simbolik dari pada kemewahan materi.

Rabu, 05 Mei 2021

Dzikrullah, Nutrisi Penyehat Hati

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Jika ikan berada di air maka ia akan hidup dan bergembira. Berenang ke mana yang dikehendakinya. Sebaliknya, jika ikan dijauhkan dari air maka ia akan sekarat. Tak lama, ia akan mati. Demikian kedudukan dzikrullah bagi hati, ibarat air bagi ikan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

اَلذِّكْرُ لِلْقَلْبِ كَالْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُوْنُ حَالُ السَّمَكُ إِذَا أُخْرِجَ مِنَ الْمَاءِ

“Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan. Bagaimanakah kondisi ikan apabila dikeluarkan dari air?”

Sebagian ulama menyebutkan, kedudukan dzikir bagi hati seperti makanan bagi tubuh. Apabila dzikir berkurang maka berkurang pula makanan dan nutrisi bagi hati. Berkurangnya dzikir memperlemah imunitas hati. Karenanya, rentan terpapar virus syubuhat dan syahwat. Berbagai penyakit hati akan menyerangnya; seperti nifak, iri, dengki, dusta, bakhil, dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah, dalam al-Wabil al-Shayyib menyebutkan sekitar delapan puluh faidah dzikrullah. Salah satunya, dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruh. Apabila seorang hamba kehilangan dzikrullah, hatinya seperti tubuh yang tidak mendapatkan makanan pokok.

Badan yang sehat akan merasakan kelezatan makanan yang disantapnya. Demikian pula hati yang sehat juga akan merasakan kenikmatan dzikrullah.

Hati yang sehat akan merasa tenang, tentram, dan gembira dengan dzikrullah. Sebagaimana badan, apabila sehat juga akan merasakan lezatnya makanan yang disantapnya dan mampu menyerap nutrisinya.

Apabila tubuh sakit, ia tidak bisa merasakan nikmatnya makanan lezat yang disantapnya. Demikian pula hati, jika ia sakit maka tidak akan merasakan lezatnya dzikrullah dan tidak merasakan kenikmatannya.

Orang yang sedang sakit, bisanya tidak doyan makan. Tubuhnya menolak makanan lezat lagi bergizi yang dibutuhkannya. Demikian pula hati yang sakit parah, biasanya ia menolak dzikir dan ingin lari darinya. Sebabnya ada penyakit dalam hatinya. Obatnya, dipaksa untuk berdzikir.

Dzikrullah akan menjadi makanan dan nutrisi yang bisa menyehatkan hati. Hati harus dipaksa untuk banyak berdzikir kepada Allah sehingga ia menjadi sehat, suci, mulia, dan kuat. Akhirnya hari akan condong, senang, dan bahagia dengan dzikrullah. Kemudian ia akan meningkat ke level lebih tinggai, ia tidak bisa hidup tanpa dzikrullah.

Dzikir adalah kebutuhan primer bagi hati. Terputus dari dzikir adalah bencana dan kematian bagi hati.

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Al-Bukhari)

Dzikrullah itu ada banyak macamnya. Di antaranya dengan membaca Tasbih (Subhanallah), Tahmid (al-hamdulillah), Takbir (Allahu Akbar), Tahlil (Laa Ilaaha Illallaah), Hauqalah (Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billaah), Subhanallahu Wabihamdih Subahanallahil ‘Adzim, Subhanallahil ‘Adzimi Wabihamdih, dan kalimat dzikir lainnya.

Dzikrullah bisa dengan menyebut hal-hal yang berkaitan dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Misalnya, “Allah itu mendengar seluruh perkataan hamba-hamba-Nya dan melihat gerak-gerik mereka.”

Dzikir bisa dengan mengingat perintah dan larangan Allah. Misalnya, Allah memerintahkan shalat, zakat, infak, membantu orang susah, menahan marah, memaafkan, dan membalas keburukan dengan kebaikan.

Misal lagi, bahwa Allah melarang syirik, durhaka ke orang tua, mendekati zina, makan riba, mencuri, mabuk, dan larangan-larangan lainnya.

Dzikrullah juga bisa dengan mengingat anugerah, nikmat, dan kebaikan Allah sehingga menumbuhkan rasa syukur.

Dzikrullah yang paling utama adalah dengan membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya. Semua bentuk dzikir di atas ada dalam Al-Qur’an. Kitabullah ini juga mengandung nutrisi yang dibutuhkan hati dan obat penawar penyakit-penyakitnya. Wallahu A’lam. 
[PurWD/voa-islam.com/Badrul Tamam]

Filosofi dibalik Kisah Ular dan Gergaji

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan ke...