Kamis, 18 November 2021

Memasuki Usia Senja, Apa yang harus Dipersiapkan? Seperti Apa Tahapannya?

Sumber foto: Annas Indonesia
Ketika memasuki usia senja diatas 50 tahunan, adalah masa-masa yang penuh was-was. Atau ketika memasuki masa pensiun misalnya, terkadang kita bingung. Apa yang harus diperbuat? Bagaimana cara mengisi waktu? Bagaimana kalau sakit? Siapa yang masih bisa diandalkan/
diharapkan? Dan berbagai pertanyaan lainnya. 

Jika kita tak memiliki persiapan, tak sedikit yang mengalami kejatuhan mental. Bahkan tak jarang yang harus berputus asa, untuk segera pamit pada dunia. Berangkat menuju akhirat. Wassalam.

Namun bagi yang saat ini masih eksis di masa senja, gak perlu khawatir. Berikut ini ada beberapa catatan atau sejenis petuah. Siapa tahu bisa dijadikan pegangan. Agar kita dalam menjalani masa tua lebih tegar dan percaya diri.

1. Jika Anda memiliki satu sarang (tempat tinggal/rumah) sendiri, harap jangan Anda tinggalkan sebelum ajal menjemput;
2. Jika masih memiliki pasangan hidup, baik-baiklah hidup bersama dengan seiring-seirama, saling mengisi dan menopang;
3. Jaga dan rawatlah baik-baik kesehatan sendiri dan pasangan kita;
4. Ciptakan kebahagiaan dengan menunjukkan sikap yang lebih baik, loyal dan bijak;
5. Mulai aktif berolahraga dan bergabung dengan komunitas dengan hobi yang sejenis;
6. Mulailah fokus pada aspek religi dan lebih taat menjalankan/mengamalkannya.

Ada beberapa tahapan yang perlu dijadikan pegangan ketika memasuki usia senja.

I. Tahap pertama : 
Jaminan/kepastian

1) Anak memiliki ekonomi yang baik, itu adalah miliknya, milik si anak, bukan milik kita. Anak berbakti pada orang tua, itu adalah kualitas yang baik pada dirinya, walau itu tak lepas dari hasil didikan kita;

2) Ketika kondisi masih bugar dan memungkinkan untuk tetap beraktivitas, maka:

a. Makanlah kalau memang suka dengan makanan tertentu;
b. Pakailah kalau memang suka dengan busana yang diinginkan;
c. Bermainlah sepuasnya, seperti menyalurkan hobi olga atau rekreasi;
d. Jangan lagi terlalu kejam/pelit pada diri sendiri (manjakan diri sendiri);
e. Hari-hari seperti itu tidak banyak lagi, jadi manfaatkanlah dengan baik;
f. Pastikan ada sedikit uang simpanan sendiri;
g. Pertahankan rumah yang dimiliki;
h. Siapkan segalanya (sebelum dan menjelang ajal) untuk diri sendiri;
i. Meski anak memiliki ekonomi yang baik, tapi itu miliknya. Ketika anak berbakti, itu adalah kualitas yang baik pada dirinya. Jangan menolak bantuannya, tapi tetap harus bergantung pada diri sendiri dengan mengatur kehidupan sendiri;
h. Porsi untuk pelaksanaan beribadah lebih diutamakan.

II. TAHAP KEDUA: Kesehatan Diri 

1. Jagalah kondisi kesehatan sendiri sebaik mungkin, hidup mandiri (bersama pasangan) tanpa mengandalkan orang lain jauh lebih baik;
2. Agar di usia senja tetap sehat, bugar dan bahagia, serta dijauhkan dari segala bencana, maka:

a. Mengatur kehidupan dan mengurus diri;
b. Sadar diri kalau kita benar-benar sudah tua, perlahan-lahan, stamina dan fisik itu akan melemah, reaksi pun akan semakin lemah bahkan kurang terkendali;
c. Saat makan, makanlah dengan perlahan, jangan sampai tersedak;
d. Saat berjalan juga jalanlah perlahan, jangan sampai terjerembab;
e. Jangan ngoyo atau memaksakan diri lagi, jagalah kesehatan diri baik-baik;
f. Jangan lagi mencampuri masalah ini dan itu, mencampuri masalah anak atau terkadang mencampuri masalah generasi ketiga (cucu);
g. Bertahun-tahun sudah mengurus ini dan itu, kini saatnya harus sedikit egois, mengurus diri sendiri dengan baik;
h. Jalanilah segalanya dengan santai, bahagia, dan jangan lupa bantu bersih-bersih pasangan di rumah;
i. Jaga dengan baik kesehatan dengan berolahraga secukupnya;
j. Usahakan waktu hidup sendiri (atau bersama pasangan) dengan melakukan rutinitas sehari-hari. Hidup tanpa bergantung pada orang lain akan jauh lebih baik;
k. Biasakan bersedekah/bederma kepada orang-orang kecil/miskin, jangan menawar ketika membeli barang pada orang kecil;
k. Dalam beribadah kita senantiasa berdoa memohon ampunan, kesehatan dan keselamatan dunia akhirat.

III. TAHAP KETIGA: Faktor Psikologis

1. Generasi usia senja seperti kita ini telah mengalami segala pahit getir hidup, tentunya kita berharap perjalanan terakhir dari hidup kita juga bisa kita hadapi dengan tenang;
2. Ketika kesehatan mulai memburuk dan butuh bantuan, maka kita harus siap dengan hari “H” (ýaitu hari tibanya kematian). Walaupun untuk sebagian besar orang tidak bisa melewati tahapan ini. Apa yang harus dilakukan?

a. Aturlah dengan baik suasana hati penuh kepasrahan menjelang tibanya hari itu;
b. Hidup, tua, sakit dan mati merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan, jadi hadapilah dengan tenang penuh percaya diri;
c. Ini adalah perjalanan hidup terakhir, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan, yang penting persiapan dalam menghadapinya sudah dilakukan secara maksimal;
d. Siapkan jauh-jauh hari sebelumnya, maka kita tidak akan terlalu bersedih;
e. Bersikap optimis bahwa Tuhan akan mengampuni kita, namun juga tetap khawatir dan takut atas azab Tuhan, atas perbuatan kita selama di dunia.

TAHAP KEEMPAT: Mengandalkan diri sendiri

Ketika otak (pikiran) kita masih jernih, dan saat penyakit mulai melilit dan tak tersembuhkan serta kualitas hidup memburuk. Apa yang harus kita perbuat?

1. Berani menghadapi kematian, bulatkan tekad agar keluarga tidak perlu lagi direpotkan dengan berusaha menyelamatkan;
2. Jangan membiarkan kerabat handai taulan melakukan segala upaya yang sia-sia (karena memang sudah waktunya berpulang kepada-Nya - jangan melawan takdir).

a. Ketika sudah tua, siapa yang diandalkan/diharapkan ?*
b. Diri sendiri - diri sendiri dan - tetap diri kita sendiri.*


Berikut ini adalah cuplikan dari fragmen 'Apa yang Harus Dilakukan saat Sudah Tua' – Yeh Chin-Chuan (Sarjana Kesehatan Masyarakat dan juga seorang politisi Taiwan)

Saya selalu berpikir setiap orang tua hingga bisa mencapai hidup di atas 80 tahun, maka: 

1. Tidak perlu membatasi makanannya yang harus serba bening;
2. Tidak perlu menurunkan berat badan;
3. Yang paling penting masih bisa makan (nafsu makan bagus). Makanlah apa yang disukai.
Makanlah makanan yang kita anggap paling lezat, agar bisa menikmati hidup dengan lebih bahagia dan ceria;
4. Membatasi orang tua tidak boleh makan ini dan itu, ini bertentangan dengan sifat alami manusia, dan juga tidak ada dasar ilmiahnya;
5. Sebenarnya, semakin banyak bukti ilmiah, orang tua harus makan lebih baik, dengan mengusahakan sedikit lebih gemuk;
6. Perlu makanan lebih baik, supaya ia memiliki lebih banyak kemampuan untuk melawan penyakit, kemampuan untuk melawan depresi;
7. Saya (Yeh Chin Chuan) mendo’akan setiap orang tua bisa menikmati perjalanan hidup terakhir mereka dengan lebih indah dan mengesankan. Jangan sampai meninggalkan penyesalan yang dibawa sampai ke liang lahat;
8. Ada tambahan, jangan pernah merasa tua, karena apabila merasa tua akan timbul Energi Negatif dalam diri kita yang akan membuat diri kita seolah2 sdh tdk bisa melakukan apa2 lagi.
 
Tetaplah beraktivitas yang bermanfaat bagi diri, keluarga & lingkungan sekitar...
TETAP SEMANGAT, CIPTAKAN BAHAGIA...

Rabu, 10 November 2021

Tasawuf Dalam Pandangan Ibn Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ulama Panutan Salafi

Banyak yang beranggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar, karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani, agama Hindu dan Budha. Padahal ini adalah tuduhan dari orang-orang yang tidak memahami tariqah dan tasawuf.

Ada juga yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri dari dunia untuk beribadah kepada Tuhan di gurun pasir Arabia.

Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan dan di malam hari lampu mereka menjadi penunjuk bagi jalan musafir, dan rahib-rahib ini berhati baik, pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia yang ramai walaupun untuk sementara, berhati baik pemurah dan suka menolong.

Tasawuf dan Tariqah adalah korban yang sering dihujat oleh saudara-saudara seiman. Mereka memandang Tasawuf dan Tariqah sebagai sarang bid’ah, hal-hal yang di buat-buat yang tidak pernah diajarkan dalam Islam atau tidak pernah dilakukan dan diperintahkan Rasul.

Dalil utama yang mereka gunakan adalah hadist Nabi Muhammad SAW yang sangat terkenal dan diriwayatkan oleh banyak imam hadist:

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة. رواه أبو دود والترمذي، وقال: حيث حسن صحيح. (رياض الصالحين/ ج 1، ص. 128)

Artinya: “Hindarilah perkara-perkara yang baru (diada-adakan) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan bid’ah itu sesat”.

Lalu bagaimanakah Pandangan Ibn Taimiyah dengan Ibn al-Qayyim? Berikut ini ulasannya!

Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim adalah sepasang guru dan murid yang mereka dikenal karena pemikiran mereka terhadap aqidah yang bertentangan dengan kebanyakan ulama ahlussunnah yaitu mereka beraqidah musyabbihah.

Namun dalam hal tariqah dan tasawuf keduanya sepakat dengan Ahlussunnah Wal Jamaah. Bahkan keduanya juga mendukung dan mengakui kebenaran tasawuf dan tariqah sebagai ilmu untuk membersihkan jiwa manusia.


Ibn Taymiyah misalnya, menyebut para sufi dengan sebutan ahl ‘ulum al-qulub (pakar-pakar ilmu hati) yang perkataannya paling tepat dan paling baik realisasinya (asyaddu wa ajwadu tahqiqan) serta paling jauh dari bid’ah (ab’adu minal bid’ah).

Kata-kata tersebut Ibn Taimiyah menyebutnya dalam kitabnya yang bernama Majmu’ al-Fatawa. Tentu saja ini sangat berlawananan dengan apa yang diungkapkan oleh Wahabiyah, mereka menyebutkan bahwa tariqah dan tasawuf harus dibasmi sebelum memerangi kaum Yahudi dan Nasrani ini bisa dilihat dalam kitab kaifa nafhamu at-Tauhid.

Dalam kitabnya Amradh al-Qulub wa Syifauha pada halaman 62, ketika berbicara tentang surah al-Kafirun, Ibn Taimiyah berkata: Adapun Qul ya ayyuhal kafirun mengundang tauhid amali iradhi, tauhid praktis yang didasarkan pada kehendak, yaitu keikhlasan beragama semata-mata untuk Allah dengan sengaja dan dikehendaki; dan itulah yang dibicarakan oleh Syaikh-Syaikh tasawuf pada umunya. ” Imam-imam Tasawuf menjadikan Allah satu-satunya yang dicintai dengan cinta yang hakiki, bahkan dengan cinta yang paling sempurna”, Amradh al-Qulub wa Syifauha hal. 68.

Adapun Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, dalam kitabnya Madarij as-Salikin, Juz 1, halaman: 464, beliau mengatakan tentang Abu Yazid Al-Bustami dengan redaksi: “Ini (memelihara dan menjauhkan keinginan dari selain Allah yang Maha Suci) seperti kondisi Abu Yazid al-Bustami semoga Allah merahmatinya mengenai berita tentang dirinya ketika Ia ditanya, “Apa yang engkau inginkan (kehendak)? Ia menjawab, “Aku ingin agar aku tidak ingin yang kedua selain Allah SWT”. Inilah hakikat Tasawuf”.

Ini membuktikan bahwa tidak ada yang menolak ajaran kesufian selain mereka yang memang benar-benar bodoh dan menuduh ulama sufi dengan tuduhan yang bathil.

Dalam kitabnya yang lain Badai al-Fawaid, juz 3 halaman 765 (Makkah al-Mukarramah: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz. 1996), Ibn al-Qayyim al-Jauziyah berkata: “Tasawuf dan (merasa) fakir diri (hanya butuh kepada Allah) berada dalam wilayah hati”. Wallahu ‘alam. (pecihitam.org/Tgk Fadhil, S.Pd, M.Pd.
/Dosen Ma'had UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Selasa, 02 November 2021

Nasihat Emas Imam Syafi'i

Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Qurasyi (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعيّ المطَّلِبيّ القرشيّ‎) atau singkatnya Imam Asy-Syafi’i (Ashkelon, Gaza, Palestina, 150 H/767 M – Fusthat, Mesir, 204 H/819 M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi’i. 

Imam Syafi’i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.

Ada banyak nasihat yang Imam Syafi’i ajarkan, namun ada 14 diantaranya yang kami sampaikan disini :

“Bila kau tak mau merasakan lelahnya belajar, maka kau akan menanggung pahitnya kebodohan” (Imam Syafi’i)

“Jangan cintai orang yg tidak mencintai Allah, kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu” (Imam Syafi’i)

“Barangsiapa yang menginginkan husnul khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia” (Imam Syafi’i)

“Doa disaat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran” (Imam Syafi’i)

“Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat” (Imam Syafi’i)

“Siapa yang menasehatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasehatimu. Siapa yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu” (Imam Syafi’i)

“Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kafan sedang di tenun” (Imam Syafi’i)

“Jadikan akhirat dihatimu, dunia ditanganmu dan kematian dipelupuk matamu” (Imam Syafi’i)

“Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing” (Imam Syafi’i)

“Amalan yang paling berat diamalkan Ada 3 (tiga). 1. Dermawan saat yang dimiliki sedikit. 2. Menghindari maksiat saat sunyi tiada siapa-siapa. 3. Menyampaikan kata-kata yang benar dihadapan orang diharap atau ditakuti” (Imam Syafi’i)

“Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kemeralatannya, sehingga orang lain menyangka bahwa dia berkecukupan karena dia tidak pernah meminta” (Imam Syafi’i)

“Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang lain mengira bahwa ia merasa ridha” (Imam Syafi’i)

“Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengira bahwa ia selalu senang” (Imam Syafi’i)

“Apabila engkau memiliki seorang sahabat yg membantumu dalam ketaatan kepda Allah, maka genggam eratlah ia, jangan engkau lepaskan. Karena mendapatkan seorang sahabat yang baik adalah perkara yang sulit, sedangkan melepaskannya adalah perkara yang mudah” (Imam Syafi’i).

Memasuki Usia Senja, Apa yang harus Dipersiapkan? Seperti Apa Tahapannya?

Sumber foto: Annas Indonesia Ketika memasuki usia senja diatas 50 tahunan, adalah masa-masa yang penuh was-was. Atau ketika memasuki masa pe...