Tampilkan postingan dengan label TASAWUF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TASAWUF. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2026

Belenggu Pemahaman Dangkal tentang Hadis 73 Golongan


Pengantar: Dada seorang muslim bergetar, tatkala mendengar sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang termasyhur itu. Sebuah riwayat yang kerap kali membakar semangat sekaligus mengeraskan hati. Disebutkan bahwa umat Islam akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Tiada yang selamat dari siksaan Illahi Rabbi melainkan hanya satu golongan. Lalu golongan manakah yang selamat? Disinilah rupanya saling mengklaim sebagai yang paling selamat dan merasa sebagai si pemilik surga. Sementara yang lain terancam neraka. Astaghfirullah...!!!


Jangan Jadi Penebas Tali Persaudaraan

Betapa mirisnya, ketika sabda yang hakikatnya adalah pelita peringatan justru kerap menjelma menjadi pedang bermata dua. Sebagai penebas tali persaudaraan. Tentu saja ini efek dari pemahaman cetek bin dangkal. Di sinilah sejatinya kita perlu menepis debu kesalahpahaman yang melekat. 

Kalau begitu, mari kita selami lautan makna hadis ini dengan pendekatan  nalar para ulama terdahulu. Agar yang tadinya tajam menusuk keimanan dan harapan, kembali menjadi teduh menyejukkan.

Beberapa kekeliruan itu terjadi, yakni:

Pertama, kekeliruan mendasar yang menjangkiti akal sehat kita adalah memaknai kata firqah (golongan) dalam pengertian zahiriah semata. Seolah-olah yang dimaksud adalah organisasi, jamaah, atau entitas fisik yang memiliki bendera, atribut, dan rapor keanggotaan. 

Andai saja kita menoleh pada kitab-kitab karya Imam asy-Syahrastani, niscaya kita dapati penjelasan nan jernih. Bahwa firqah dalam hadis mulia ini mengacu pada pemahaman tentang ushuluddin (fondasi pokok keimanan), bukan pada cabang-cabang fiqhiyyah yang bersifat teknis. Seperti tata cara bacaan dalam shalat atau hitungan tasbih. 

Memahami firqah sebagai entitas kelompok tertentu adalah kekeliruan tingkat tinggi,. Para salafus shalih sendiri berbeda pendapat dalam masalah furu' namun tetap saling mencintai dan menghormati. Mereka tidak pernah saling melemparkan tuduhan sesat hanya lantaran perbedaan qunut, ziarah kubur atau rakaat tarawih. 

Maka, menyempitkan makna firqah pada label organisasi modern adalah bentuk kebutaan epistemologis yang mengerikan. Sebuah penafisran yang jauh menyimpang dari maksud syariat yang luhur.

Kedua, kelalaian kita terhadap keberagaman jalur periwayatan hadis ini telah menelantarkan kita pada kubangan klaim kebenaran tunggal. Para perawi hadis, yang notabene adalah bintang-bintang di cakrawala periwayatan, telah menyampaikan redaksi yang berbeda-beda. 

Di antara riwayat, terdapat versi yang tidak menyebutkan ancaman neraka secara gamblang bagi 72 golongan. Bahkan Imam al-Ghazali dalam karyanya yang bernas, Faishal al-Tafriqah, mengutip sebuah riwayat kontradiktif yang menyatakan bahwa seluruh golongan itu berada dalam surga, kecuali golongan zindiq (para penyeleweng akidah yang ekstrem). 

Meskipun sanad riwayat ini diperselisihkan dan menuai kritik tajam dari Ibnu Hajar al-Asqalani, yang mencapnya sebagai ikhtisar mujhif (penyimpulan yang merusak), keberadaan riwayat ini cukup bagi seorang yang berakal sehat untuk tidak tergesa-gesa menghakimi. 

Mengabaikan ragam sanad dan lebih memilih satu redaksi mentah-mentah sebagai senjata pembenaran diri adalah kelancangan ilmiah yang melampaui batas. Ia adalah produk dari nalar yang malas. Yang hanya ingin menegaskan pihak lain tanpa mau bersusah payah menelaah khazanah periwayatan secara utuh.

Ketiga, dan inilah yang paling menggores hati nurani. Manakala hadis ini dipolitisasi dan dikomersialkan untuk kepentingan gengsi kelompok. Amat menyayat hati menyaksikan bagaimana setiap firqah mengklaim dirinya sebagai al-Firqah an-Najiyah dengan penuh arogansi, seolah-olah mereka telah menerima fatwa langsung dari langit. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri, sebagai sumber aliran hikmah, ketika ditanya siapa golongan selamat itu, tidak menyebut nama organisasi atau kelompok spesifik. Beliau hanya menjawab dengan lugas: "Apa yang aku berada di atasnya hari ini dan para sahabatku." 

Jawaban Rasulullah sarat pesan: Keselamatan adalah urusan keistiqamahan di atas jalan kebenaran yang jelas. Bukan sekadar urusan manhaj atau status keanggotaan.

Siapa Ahlussunnah wal Jama'ah?

Mayoritas ulama klasik memang berpandangan bahwa yang selamat adalah Ahlussunnah wal Jama'ah. Namun, dan ini penting digarisbawahi, Ahlussunnah bukanlah nama sebuah partai atau yayasan. Ia adalah seluruh mukmin yang senantiasa merujuk pada Al-Qur'an dan sunnah Rasul-Nya, Tentunya dengan memahami keduanya melalui kacamata para sahabat generasi perdana. 

Bila ukurannya adalah ketakwaan dan keikhlasan, maka tiada seorang pun, betapapun sempurnanya amaliah kelompoknya, berhak mengklaim dengan pasti bahwa dirinya adalah satu-satunya penghuni surga. Sementara yang lain adalah bahan bakar neraka. Karena surga dan neraka sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah Yang Maha Mengetahui isi hati.

Akhirnya, hadis nan agung ini, jika direnungkan dengan sastra klasik dan kedalaman ruhani, adalah peringatan dan kabar gembira sekaligus. Peringatan agar kita senantiasa waspada terhadap penyimpangan akidah yang fundamental. Dan kabar gembiranya bahwa siapa pun yang konsisten menapaki jalan kenabian, yang penuh kasih dan jauh dari kebencian, akan digolongkan dalam barisan orang yang selamat. 

Maka, sudah saatnya kita mengakhiri perang klaim yang melelahkan ini. Taruhlah pedang penyesatan, dan raihlah tali Allah secara bersama-sama. Karena jika kebenaran hanya milik satu kelompok yang sempit, niscaya rahmat Islam tidak akan pernah meluas ke seluruh penjuru dunia. 

Semoga Allah mempertemukan kita semua di telaga Rasul kelak, tanpa memandang firqah dan label organisasi, melainkan memandang ketulusan hati dan ketaatan kita pada syariat-Nya. 

Sintetis Menakjubkan Imam Al-Ghazali

Kembali pada pendapat Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya' Ulumuddin. Tidak sekadar mengulang redaksi hadis perpecahan umat secara mentah. Beliau dengan keberanian ilmiah yang langka justru memaparkan adanya riwayat-riwayat yang kontradiktif, lalu menawarkan sintesis yang menakjubkan. 

Dalam Ihya' Ulumuddin, beliau menyatakan:

“Terdapat beberapa riwayat hadis itu dengan teks yang berbeda. Satu riwayat menyebutkan: 'Umatku akan berpecah menjadi lebih dari tujuh puluh firqah, satu di antaranya selamat.' Dalam riwayat lain juga disebutkan: 'Semua firqah itu masuk surga kecuali satu firqah, yaitu kaum zindiq (yang masuk neraka).'”

Lebih lanjut, Al-Ghazali menegaskan bahwa kedua riwayat ini dimungkinkan sama-sama sahih, sehingga yang “benar-benar binasa dan kekal dalam neraka” hanyalah satu firqah saja, yaitu kaum zindiq, yakni para penyeleweng akidah yang ekstrem.

Adapun yang “benar-benar selamat” tanpa hisab dan tanpa syafaat hanyalah satu firqah pula, yaitu mereka yang paling istimewa di sisi Allah. Sementara itu, golongan-golongan lainnya, meskipun tergolong dalam 72 firqah, tetaplah akan masuk surga setelah menjalani proses hisab (perhitungan amal) atau setelah mendapatkan syafaat dari Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Keterangan ini senada dengan apa yang beliau tulis dalam kitabnya yang lain, Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah, di mana beliau mengutip sebuah riwayat yang redaksinya berbunyi: "Umatku akan terpecah menjadi 70 lebih golongan, mereka semua ada dalam surga kecuali orang zindiq."

Tinggalkan Sikap Takfir

Kutipan di atas menjadi kunci untuk membuka pemahaman yang selama ini terkunci. Al-Ghazali, dengan kearifan sufistiknya, telah mengajarkan bahwa ancaman neraka dalam hadis 73 golongan tidaklah bersifat mutlak dan menyeluruh. Ia hanyalah peringatan keras bagi mereka yang menyimpang secara fundamental hingga keluar dari rel keimanan (zindiq). Bukan vonis kebinasaan bagi seluruh umat Islam yang berbeda pendapat dalam masalah cabang.

Dengan demikian, roh dari ajaran Al-Ghazali dalam Ihya' adalah mengajak kita meninggalkan sikap takfir dan klaim keselamatan sepihak. Sebab, rahmat Allah begitu luas, dan syafaat Nabi pun terbentang untuk umatnya. 

Yang terpenting adalah tetap berpegang pada jalan yang lurus, saling menghormati, dan tidak menyempitkan rahmat Ilahi hanya untuk kelompok sendiri. Nah, kalau begini kan gak perlu lagi ada klaim merasa pemilik kunci surga. Macam surga punya neneknya saja...!!! Wew, ach...!!

Wallahu a'lam bish-shawab.

Jumat, 07 Agustus 2026

Dua Sayap: "Marifatullah dan Akhlak Waliyullah"


Pengantar: Dalam khazanah spiritualitas Islam, marifatullah sebagai pengetahuan mendalam tentang Tuhan, bukanlah sekadar pencapaian intelektual. Ia adalah perjalanan jiwa yang menembus tabir. Menyelami esensi di balik wujud. Dan pada puncaknya melahirkan akhlak yang luhur. Akhlak waliyullah, para kekasih Allah, adalah buah matang dari pohon makrifat yang berakar dalam hati. Tulisan ini mencoba merenungi keterkaitan erat antara keduanya: bahwa semakin dalam seseorang mengenal Tuhannya, semakin sempurna pula perilakunya di hadapan ciptaan-Nya.

Makrifat sebagai Fondasi

Marifatullah dalam perspektif tasawuf bukanlah pengetahuan tentang sifat-sifat Tuhan semata.Ia merupakan  pengalaman batin yang membakar segala bentuk kesombongan dan keakuan. Para wali, misalnya, tidak mengenal Allah melalui teks-teks kaku atau dalil-dalil formal semata. 

Mereka mengenal-Nya melalui kesaksian hati yang jernih. Melalui setiap hembusan angin. Setiap rintik hujan. Dan setiap detak kehidupan. Makrifat adalah mata batin yang melihat kehadiran Ilahi di mana-mana, tanpa terhalang dinding materi.

Pengetahuan semacam ini melahirkan kesadaran eksistensial. Bahwa manusia bukanlah pusat alam semesta, melainkan titik kecil dalam lautan keagungan Tuhan. Kesadaran inilah yang kemudian membentuk pondasi akhlak yang kokoh. Tanpa makrifat, akhlak hanya akan menjadi topeng sosial. 

Seperti upaya mematut-matut diri untuk berperilaku baik yang dilakukan sekadar untuk pujian atau kepentingan duniawi. Namun dengan makrifat, akhlak mengalir dari sumber kesadaran  terdalam. Muncul sebagai ekspresi alami dari jiwa yang telah fana dalam kehendak Ilahi.

Akhlak Waliyullah, Refleksi Sifat Ilahi

Akhlak waliyullah adalah cerminan dari sifat-sifat Tuhan yang Maha Indah. Mereka berakhlak bukan karena terpaksa atau takut akan sanksi, melainkan karena hati mereka telah menyatu dengan nilai-nilai ketuhanan. Rahmat, kelembutan, kesabaran, dan keadilan bukanlah beban moral yang dipaksakan, melainkan pancaran alami dari jiwa yang telah tercerahkan.

Seorang wali tidak akan merendahkan sesama, karena ia sadar bahwa setiap manusia adalah cermin dari Asma Allah. Ia tidak akan menindas, karena ia memahami bahwa kekuasaan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. 

Ia tidak akan membenci, karena hatinya dipenuhi cinta yang melampaui batas-batas kebencian. Dalam pergaulan sehari-hari, akhlak waliyullah tampak dalam kerendahan hati yang tulus, ketulusan dalam memberi, dan keberanian dalam menegakkan kebenaran. Mereka berbicara dengan hikmah, diam dengan dzikir, dan memandang semua makhluk dengan kasih sayang.

Inilah yang membedakan akhlak waliyullah dari akhlak kebanyakan manusia. Ia tidak bersifat reaktif atau situasional, tetapi merupakan watak permanen yang bersumber dari kesadaran akan kehadiran Tuhan yang senantiasa menyaksikan setiap gerak-gerik hamba-Nya.

Makrifat dan Akhlak sebagai Satu Kesatuan

Dalam pandangan para sufi, marifatullah dan akhlak yang luhur tidak dapat dipisahkan. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, sebagaimana amal tanpa ilmu adalah kegelapan. 

Namun lebih dari itu, makrifat yang sejati otomatis melahirkan amal yang saleh. Sebab, mengenal Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan membuat hati seorang hamba tercurah dalam kasih sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.

Sebaliknya, jika seseorang mengaku memiliki makrifat yang tinggi namun akhlaknya buruk, seperti sombong, kasar, atau zalim, maka makrifatnya patut diragukan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." Maka puncak kesempurnaan makrifat adalah kesempurnaan akhlak, dan kesempurnaan akhlak adalah bukti nyata dari kedalaman makrifat.

Dua Sayap: Marifat dan Akhlak

Marifatullah dan akhlak waliyullah adalah dua sayap yang membawa jiwa terbang menuju Ilahi. Tanpa sayap makrifat, akhlak akan kehilangan arah. Tanpa sayap akhlak, makrifat akan menjadi teori hampa. 

Perjalanan spiritual seorang hamba adalah upaya terus-menerus untuk menyelaraskan keduanya. Menggali pengetahuan tentang Tuhan sedalam-dalamnya. Dan menuangkan pengetahuan itu dalam perilaku yang mencerminkan keindahan-Nya. 

Semoga kita semua diberi kesempatan untuk merasakan sentuhan makrifat dan dihiasi dengan akhlak para kekasih-Nya. Aamiin Ya Allahu Ya Robbal Alamiin.

Jumat, 10 Juli 2026

Menjaga Cahaya Ilahi di Kebeningan Hati


Dalam tradisi sufisme, hati (qalb) bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat kesadaran spiritual tempat Tuhan bersemayam. Hati yang bening bagaikan cermin yang jernih, mampu memantulkan cahaya Ilahi. 

Namun, cermin itu mudah berdebu oleh maksiat. Setiap dosa meninggalkan titik-titik noda hitam yang bisa menggelapkan permukaannya. Hingga akhirnya ia tak lagi mampu merefleksikan kebenaran. Hati terhijab keagungan Ilahi.

Mengapa menjaga kebeningan hati begitu penting? Karena hati adalah tempat turunnya petunjuk. Ketika hati keruh, kita kehilangan kemampuan membedakan yang hak dan batil. Yang haram terasa biasa, yang mungkar tampak wajar. 

Itulah yang disebut para sufi sebagai "kematian hati". Sebuah kondisi di mana manusia hidup tetapi jiwanya mati. Jauh dari kepekaan ilahi.

Maksiat, sekecil apa pun, bagaikan tetesan tinta dalam segelas air bening. Satu tetes mungkin tak terlihat, tetapi tetes demi tetes akhirnya mengeruhkan seluruh isi gelas. Nabi saw mengibaratkan dosa sebagai bintik hitam di hati yang akan menutupi seluruhnya jika tak segera dibersihkan dengan tobat dan istighfar.

Menjaga hati bukan berarti hidup tanpa dosa. Kita manusia lemah dan tak luput dari khilaf. Namun, kesadaran akan kebeningan hati mendorong kita untuk segera kembali (inabah) setiap kali tergelincir. 

Sebagaimana kata Sufi Rabi'ah al-Adawiyah: "Istighfarku selalu disertai rasa malu." Ini menunjukkan bahwa kebeningan bukanlah tujuan statis, melainkan proses dinamis untuk terus menyucikan diri.

Di era digital dengan godaan yang tak bertepi: syahwat, konsumerisme, dan kesombongan, menjaga kebeningan hati menjadi jihad terbesar. Ia menuntut kejujuran introspektif dan disiplin ruhani. 

Namun, bagi jiwa yang merindukan Tuhan, setiap upaya menjaga kebeningan hati adalah langkah mendekati-Nya. Karena hanya hati yang suci yang layak menjadi tempat bersemayam cahaya-Nya.
(ekspresionis sang salik/kgm/juli-2026)

Kamis, 02 Juli 2026

Penempuh Lorong Sunyi Menuju Cahaya Ilahi...(Sebuah feature spiritual tentang pencarian hakikat dalam tradisi tasawuf)


Di sebuah desa di kaki Gunung Merbabu, hiduplah seorang pemuda bernama Ahmad. Ia bukanlah orang istimewa. Seorang anak petani. Lulusan sekolah menengah. Pekerja serabutan yang menghabiskan hari-harinya di pasar dan sawah. 

Namun pada malam-malam tertentu, saat azan subuh belum berkumandang dan alam masih diam, Ahmad terbangun dengan perasaan aneh: seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan. Bukan suara, bukan mimpi, melainkan sebuah rasa yang merambat di tulang punggungnya, seperti sungai bawah tanah yang tak terlihat.

Ia tidak mengerti apa itu. Tapi ia faham, sesuatu telah bergerak dalam dirinya.
Orang-orang menyebutnya salik—para pejalan spiritual yang menempuh jalan panjang menuju Tuhan. Tapi bagi Ahmad, itu bukanlah gelar yang ia pilih. Ia hanyalah seseorang yang tidak bisa lagi tidur nyenyak setelah merasakan bahwa dunia ini hanyalah bayangan dari sesuatu yang lebih nyata.

Kau tidak seperti yang lain

Suatu hari, Ahmad mengunjungi makam seorang wali tua di lereng bukit. Para peziarah lain datang dengan doa dan harapan. Minta jodoh, minta rezeki, minta kesembuhan. Tapi Ahmad datang dengan pertanyaan kosong yang bahkan tidak mampu ia rumuskan dengan kata-kata. Ia duduk di bawah pohon randu, menatap batu nisan yang sudah lumut, dan menunggu.

"Kau tidak seperti yang lain," kata seorang kakek tua yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Bajunya lusuh, sorot matanya tajam.

"Apa yang membedakan saya?" tanya Ahmad.

"Kau tidak meminta apa pun. Padahal kau bisa meminta segalanya di sini."

Ahmad terdiam. "Saya tidak tahu apa yang harus saya minta."

Kakek itu tersenyum. "Karena kau bukan mencari sesuatu. Kau mencari Yang Tidak Bernama. Dan kabar baiknya—Dia juga mencari kau."

Tiga Penjara Jiwa

Dalam perjalanan pulang, kakek itu berbisik tentang tiga penjara yang mengurung setiap salik.
Pertama: Penjara dunia—keinginan akan harta, pujian, dan kekuasaan. Kedua: Penjara diri—ego yang merasa dirinya terpisah dari yang lain. Ketiga: penjara pikiran—keyakinan bahwa Tuhan dapat dipahami dengan akal semata.

"Tapi pintu-pintu penjara itu tidak terkunci dari luar," kata kakek itu sebelum menghilang di tikungan jalan. "Mereka terkunci dari dalam. Kunci yang sama yang mengurung, juga bisa membebaskan. Kau hanya harus berani memutarnya."

Ahmad mulai mengamati dirinya sendiri. Ia melihat betapa selama 25 tahun hidupnya, ia telah menjadi budak keinginan—ingin diakui, ingin sukses, ingin dicintai. Ia melihat bagaimana egonya selalu membela diri, membenarkan kesalahan, menyalahkan keadaan. Dan ia melihat bagaimana pikirannya terus menerus menjerat Tuhan dalam kata-kata, sementara hati kecilnya tahu bahwa Tuhan terlalu agung untuk dibatasi bahasa.
---
Itikaf di Gua Sunyi

Malam itu, Ahmad memanjat ke sebuah gua kecil di tebing belakang desanya. Ia tidak membawa bekal, hanya sebotol air dan sebuah buku tua berisi syair-syair Jalaluddin Rumi yang ditemukannya di pasar loak. 

Di dalam gua, gelap. Tidak ada suara kecuali tetesan air dari stalaktit dan detak jantungnya sendiri.

Awalnya ia mencoba berdoa. Lalu ia mencoba bermeditasi. Lalu ia mencoba mengingat semua ayat yang pernah ia hafal. Semuanya terasa seperti tembok yang menghalanginya, bukan jembatan yang menghubungkannya.

Sampai akhirnya, dalam keputusasaan yang manis, ia berhenti berusaha.
Dan di situlah—di tengah keheningan yang tidak dibuat-buat—cahaya itu muncul. Bukan cahaya yang terlihat mata, tapi cahaya yang dirasakan. Seperti ketika seseorang sangat mencintaimu tanpa perlu mengatakannya. Seperti ketika kau pulang ke rumah setelah bertahun-tahun merantau. Seperti ketika kau mengingat sesuatu yang tidak pernah kau alami, tapi terasa begitu akrab.

Ahmad menangis. Bukan karena sedih, bukan karena bahagia. Tapi karena ia menyadari: selama ini ia mencari di luar, padahal yang dicari selalu berada di dalam. Ia mencari dengan kepala, padahal seharusnya dengan hati. Ia berbicara kepada Tuhan, padahal seharusnya ia mendengarkan.

Cahaya yang Menjalar

Keesokan paginya, Ahmad turun dari gua. Wajahnya tidak berubah—masih sama seperti sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya: sebuah ketenangan yang tidak dapat dijelaskan. Para tetangga bertanya apa yang terjadi, tapi Ahmad hanya tersenyum.

Ia tidak menjadi suci. Ia masih marah ketika ditipu, masih sedih ketika kehilangan, masih ingin ketika melihat sesuatu yang indah. Namun kini ada jarak—sebuah kesadaran yang mengamati semua itu tanpa terperangkap. Seperti orang yang menonton ombak di pantai; ia tidak menjadi ombak, ia tidak melawan ombak, ia hanya menyaksikannya datang dan pergi.

Bahkan ketika ibunya meninggal enam bulan kemudian, Ahmad tidak jatuh dalam keputusasaan yang hancur. Ia menangis, tentu saja. Tapi di balik air matanya, ada keheningan yang tahu: ibunya bukanlah mayat yang terbaring di kain kafan itu. Ibunya adalah cinta yang masih mengalir di nadinya, doa yang ia panjatkan, dan senyum yang terus hidup dalam ingatannya.

Kembali ke Kesadaran

Kini, di usia 40 tahun, Ahmad sudah tidak lagi "mencari". Bukan karena ia menemukan segalanya, tapi karena ia menyadari bahwa mencari dan menemukan adalah permainan ego belaka. Yang harus dilakukan hanyalah kembali. Kembali ke kesadaran bahwa sejak awal, ia tidak pernah terpisah dari Cahaya itu. Ia pikir ia adalah debu yang berjalan di jalan; ternyata ia adalah jalan itu sendiri.

Ia masih tinggal di desa yang sama, masih bekerja di sawah, masih berbincang dengan tetangga soal cuaca dan harga cabai. Namun kini, setiap helai rumput baginya adalah ayat, setiap hembus angin adalah bisikan, setiap manusia yang ia temui adalah cermin yang memantulkan Wajah Yang Satu.

Dan pada malam-malam tertentu, ketika semua orang tidur dan alam sunyi, Ahmad masih terbangun dengan perasaan aneh yang sama. Hanya kali ini, ia tidak lagi bertanya siapa yang memanggil. Ia hanya tersenyum, karena ia tahu: panggilan itu adalah dirinya sendiri, mengingatkan dirinya yang lain, bahwa perjalanan tidak pernah berakhir—karena ia sendiri adalah perjalanan menuju dirinya yang asli.

Sebab di ujung jalan, para salik tidak menemukan Tuhan. Mereka menemukan bahwa selama ini, Tuhan-lah yang berjalan dalam diri mereka, mengalami diri-Nya sendiri melalui mata, telinga, dan hati manusia.

Akhir Perjalanan

Perjalanan salik bukanlah tentang mencapai puncak. Ia adalah tentang menyadari bahwa kau tidak pernah berada di bawah. Bahwa cahaya ilahi tidak bersinar dari langit yang jauh; ia bersinar dari kedalaman hatimu sendiri, menunggu kau berhenti mencari cukup lama untuk melihat bahwa kau adalah cahaya itu, dan cahaya itu adalah kau—dalam bentuk yang selalu ada, sebelum kata-kata, sebelum dunia, sebelum waktu dimulai.
(features expresionis seorang salik/awal-juli/2026)

Rabu, 27 Mei 2026

Tasawuf Qurban Arrafie Abduh




Oleh: Prof. DR. M. Arrafie Abduh, Guru Besar Tasawuf di Prodi Ilmu Akidah Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau

Ibrahim Hajar Ismail bijakbestari
Tauladan Idul Adha Khalilullahi
Berkorban dengan takwa dan suci
Hidup diberkahi dan diridhai Ilahi


Dalam ajaran tasawuf/sufisme diformulasikan empat tingkat untuk menjadi seorang yang takwa yaitu melalui syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat. 

Tasawuf adalah penjabaran secara nalar (nazhar, teori ilmiah) tentang apa sebenarnya dan penjabaran tentang takwa itu dikaitkan dengan ihsan seperti disebutkan dalam Hadis Rasulullah Saw bahwa ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah Swt seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka (engkau harus menyadari bahwa) dia melihat engkau (HR Muslim). 

Hadis ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam Surah al-Hijr/55 ayat 99, artinya; Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu keyakinan. Oleh karena itu, sufisme menanamkan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam hidup dan Inni qarib, Aku kata Tuhan sangat dekat (al-Baqarah/2 ayat 185), dan Dia selalu mengawasi segala tingkah laku kita, firman Allah, Ke mana pun kamu menghadap, maka di sanalah wajah Tuhan (QS Al-Baqarah/2 ayat 115). Dia beserta kamu di mana pun kamu berada dan Dia mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadad/57 ayat 4).

Dalam salah satu bait syair sufi Hamzah Fansuri dijelaskan: Jika terdengar olehmu firman. Pada Taurat Injil Zabr dan Furqon. Wa Huwa ma’akum aynama kuntum pada ayat Qur`an. Bikulli syay`in muhith maknanya ‘iyan. (AHadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, 1995, hal: 121).

‘Iyan artinya jelas.

Dari aspek ini tampak jelas betapa eratnya rasa rabbaniyyah (Ketuhanan), takwa, ihsan atau religiusitas dengan rasa insaniyyah (kemanusiaan), amal saleh, akhlak, budi pekerti atau tingkah laku etis dalam kajian sufisme. 

Juga sangat jelas kaitan antara sisi lahir dan sisi batin, antara eksoterisme dan esoterisme, antara fikih (syari’at) dan sufisme (hakikat dan makrifat) dalam makna tasawuf qurban (korban dalam bahasa Indonesia), bukan kurban tasawuf.

Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME dalam sosiologi agama dikenal paling kurang ada tiga cara pengorbanan yaitu monoteisme etis, sacramental dan sacrificial. Islam disebut sebagai agama monoteisme etis yaitu agama yang mengajarkan tentang tauhid dan taqarrub (pendekatan kepada Allah Swt melalui amal saleh). 

Adapun agama sacramental yang mengajarkan keselamatan diperoleh seseorang hanya dengan mengikuti ritual suci, sedangkan agama sacrificial (sesajen) mengajarkan pendekatan kepada Tuhan melalui sajian-sajian, pengorbanan binatang atau bahkan manusia.

Dalam kaitan ini, ajaran agama Islam melakukan kurban (sacrifice dalam bahasa Inggris dan xisheng dalam bahasa Mandarin, FLTRP.Collins, English-Chinese and Chinese-English Dictionary, 2011, hal: 434), tindakan mendekatkan diri kepada Allah Swt, pada Hari Raya ‘Idul Adha tidak dapat disebut sebagai sacrificial (sesajen), karena paling kurang ada tujuh hal. 

Pertama, amalan kurban itu adalah untuk memperingati dan mencontoh ketulusan peran sebuah keluarga yang sakinah (mawaddah dan rahmah) yaitu Nabi Ibrahim dan Isma’il serta isteri Nabi Ibrahim Siti Hajar yang setia dalam mewujudkan tujuan hidup bertakwa kepada Allah Swt.

Kedua, Kitab Suci Alquran menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah Swt bukanlah daging atau darah binatang korban itu, melainkan takwa dari orang yang melakukannya. Dijelaskan dalam Kitab Suci surah al-Hajj/22 ayat 37, artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

Ketiga, takwa yang dicapai melalui ibadah korban itu akan melahirkan insan yang mempunyai kesadaran intensif tentang apa yang akan menjadi akibat bagi segala aktivitas dan amal perbuatannya jauh di belakang hari kelak dan yang kemudian menjalankan tindakan dan amal perbuatan itu dengan penuh tanggungjawab moral (akhlak) kepada Allah Swt, kepada insan dan lingkungannya.

Keempat, bahwa penyelenggaraan kurban itu adalah untuk menanamkan pendidikan sosial berupa perhatian yang lebih besar kepada kaum fakir miskin dengan membagikan sebagian daging korban itu untuk mereka. Dijelaskan dalam Kitab Suci Alquran Surah al-Hajj/22 ayat 36. Itulah ruh yang terkandung dalam tasauf kurban.

Kelima, bekerja dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan jerih payah sendiri untuk meraih kesuksesan adalah hakekat hidup yang bermakna. Sementara itu, pengorbanan adalah tuntutan perjuangan yang tak mungkin terelakkan. Keduanya harus dibarengi dengan sikap lapang dada, sabar dan tahan menderita demi mencapai cita-cita yang mulia. Hanya pandangan hidup demikianlah yang akan memberi kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati.

Keenam, secara sosiologis dan antropologis, agama adalah sistem simbol (lambang). Di balik lambang (simbol) itu terdapat hikmah yang lebih intensif dan prinsipil, seperti ibadah kurban ini. Berkurban adalah tindakan yang disertai pandangan yang jauh ke depan, yang mengindikasikan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sesaat, kesenangan sementara dan kemewahan duniawi yang menipu, kemudian melupakan kebahagiaan dan kehidupan abadi (eternal life). 

Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda, artinya; Orang yang bijak adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya (untuk kepentingan sesaat) dan beramal untuk sesudah mati (untuk kepentingan abadi), sedangkan orang yang lemah (mentalnya) memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan agar Allah memperkenankan angan-angannya (yang tidak mungkin terjadi, karena ia tidak berkorban dan bermujahadah). (HR Tirmidzi). Inilah inti tasawuf korban.

Ketujuh, mukmin yang istiqomah (konsisten) sungguh pantang jika sedang menderita (mendapat cobaan dari Allah dengan kesusahan), lalu meratapi nasib dan menyesali perjalanan hidup ini, kemudian kehilangan gairah dalam hidup. Karena pada hakekatnya tidak seorang pun di antara manusia yang pernah benar-benar terlepas dan terbebas dari pengalaman hidup yang kurang dan bahkan tidak menyenangkan. Justru kita harus menerima penderitaan itu dengan sabar menanggungnya. Kemudian dijadikan cambuk, malah modal dan motivasi untuk berjuang, berupaya sungguh-sungguh dan bermujahadah dengan menanamkan semangat berkurban.

Dengan semangat pengorbanan yang tinggi (seperti tauladan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar yang telah mencapai maqam (station) makrifat dalam sufisme kurban) kita mendekatkan diri kepada Allah Swt dan dengan rida-Nya kita akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan hakiki. 

Semangat berkorban inilah salah satu faktor, di samping salat khusyuk dan puasa yang disebut sebagai virus mental (need for achievement yang disingkat dengan n-Ach, artinya kebutuhan untuk berprestasi yang digagas oleh psikolog, David Mc Clelland dari Universitas Harvard, dalam TM Sulaiman, Mencapai Prestasi Tinggi oleh dan bagi Umat Islam Zaman Teknologi Modern, hlm: 22) untuk meningkatkan kualitas mukmin dan mukmin yang berkualitas (istiqomah) mampu memicu kemajuan umat dalam ilmu pengetahuan serta bidang iqtishadi(economy) dan pendidikan khususnya. Aamiin.

Rabu, 06 Mei 2026

Rahasia Dzikir Nafas ala Syekh Abdul Qadir al-Jaelani: Menghidupkan Setiap Helaan dengan Kesadaran Ilahi


Pengantar: Berikut adalah artikel populer  tentang Dzikir Nafas dalam ajaran Syekh Abdul Qadir al-Jaelani. Artikel ini dirancang dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, relevan dengan kondisi modern, namun tetap kaya akan muatan spiritual dan ilmiah.

Oleh: Redaksi Spiritual

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan metropolitan dan derunya arus informasi, banyak dari kita merasa kehilangan "ruang hening". Stres, kecemasan, dan overthinking menjadi penyakit akut masyarakat modern. Namun, di era yang serba bising ini, seorang wali agung dari abad ke-12, Syekh Abdul Qadir al-Jaelani, telah mewariskan sebuah teknologi spiritual yang sangat relevan untuk kita teraparkan: Dzikir Nafas.

Berbeda dengan dzikir yang dilantunkan keras-keras atau dihitung dengan tasbih, Dzikir Nafas adalah metode mengingat Allah dalam setiap tarikan dan hembusan udara yang masuk ke paru-paru. Ini bukan sekadar ritual, melainkan upaya mencapai ma'rifatullah (mengenal Allah) melalui kesadaran penuh (mindfulness) yang bersumber dari ajaran Tarekat Qadiriyah.

Huu... Allah... Memahami Esensi Dzikir Nafas

Mengapa Napas?

Syekh Abdul Qadir al-Jaelani, sang Sultanul Auliya (Raja Para Wali), mengajarkan bahwa dzikir yang paling sempurna adalah yang tidak pernah terputus oleh kesibukan dunia. Karena napas adalah kehidupan, dan kehidupan adalah anugerah Allah, maka menjadikan napas sebagai media dzikir adalah bentuk syukur tertinggi.

Dalam berbagai literatur Tarekat Qadiriyah, disebutkan bahwa dzikir nafas biasanya mengucapkan lafaz "Huu... Allah..." 

· "Huu" (Dia): Diucapkan dalam hati saat menarik napas. Ini adalah fasa menafikan segala sesuatu selain Allah. Saat udara memasuki rongga hidung, seorang salik (pejalan spiritual) meyakini bahwa hanya Dzat Yang Mahaghaib yang layak memenuhi relung hatinya.

· "Allah": Diucapkan saat menghembuskan napas. Ini adalah fasa penetapan (itsbat). Saat udara keluar, ia membuang sifat-sifat tercela (tamak, sombong, dengki) dan meninggalkan hanya nama Allah di dalam sanubari.

Syekh Abdul Qadir menekankan bahwa dzikir ini harus dilakukan dengan kesadaran penuh (hadir al-qalb). Jika lisan bergerak tapi hati lalai, itu hanyalah olah raga lidah, bukan makanan bagi ruh .

Antara Fiqih, Kalam, dan Tasawuf

Ajaran ini bukan sekadar "angin-anginan". Dalam pandangan Tarekat Qadiriyah, dzikir nafas adalah integrasi dari tiga disiplin ilmu: Fiqih (menjaga fisik dan ibadah lahiriah), Kalam (logika/mantik), dan Tasawuf (pembersihan hati) . Saat kita mengatur napas dengan dzikir, kita sedang melatih fisik (paru-paru stabil), mengendalikan pikiran (tidak melantur), dan menyucikan jiwa (merasa diawasi Allah).

Syekh Abdul Qadir bahkan membagi dzikir menjadi 7 tingkatan spiritual, mulai dari Zikir Lisan (Jali) hingga Zikir Akhfa (paling tersembunyi), yang mana Dzikir Nafas adalah pintu gerbang menuju tingkatan-tingkatan tersebut .

Keajaiban Medis & Spiritual serta Praktik Harian

Menariknya, ajaran yang telah berusia hampir 900 tahun ini ternyata sejalan dengan temuan sains modern. Dzikir nafas ternyata memiliki dampak fisik yang nyata terhadap kesehatan.

1. Mengendalikan Stres dan Kortisol

Penelitian psikoneuroimunologi menunjukkan bahwa ritme pernapasan dalam yang disertai dengan fokus spiritual dapat menekan produksi hormon kortisol (penyebab stres) dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis . Saat kita melakukan Dzikir "Huu... Allah...", secara otomatis kita menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ini menstimulasi aksis HPA (Hypothalamus-Pituitari-Adrenal) di otak, yang menghasilkan hormon endorphin dan serotonin. Hasilnya? Rasa tenang, nyaman, dan hilangnya rasa cemas .
2. Memperkuat Kesehatan Jantung

Ritme napas yang teratur membantu meningkatkan Heart Rate Variability (HRV). HRV yang baik menandakan jantung yang sehat dan mampu beradaptasi terhadap tekanan. Dzikir Nafas adalah latihan kardio untuk jiwa dan jantung biologis sekaligus .

Panduan Praktis: Memulai Dzikir Nafas (Qadiriyah)

Tidak perlu menyendiri di gua atau meninggalkan pekerjaan. Anda bisa mempraktikkan dzikir ini di kereta, di meja kantor, atau sebelum tidur.

Berikut langkah sederhana yang diajarkan oleh para masyayikh Tarekat Qadiriyah:

1. Niat & Posisi: Duduklah dengan tenang (tidak harus bersila, yang penting punggung lurus). Tutup mulut. Niatkan dalam hati untuk mendekatkan diri kepada Allah.

2. Fokus pada Hati (Qalb): Arahkan pandangan batin Anda ke dalam hati. Kosongkan benak dari urusan dunia.

3. Tarik Napas (Huu): Tarik napas perlahan-lahan melalui hidung. Bersamaan dengan itu, suarakan dalam hati dengan penuh penghayatan: "Huu..." (artinya: DIA-lah yang memenuhi diriku).

4. Hembus Napas (Allah): Hembuskan napas perlahan melalui hidung. Saat menghembus, suarakan dalam hati: "Allah..." (artinya: Hanya Engkau Tuhanku).

5. Konsistensi: Lakukan pengulangan ini minimal 5-10 menit setiap selesai shalat fardhu.

Kata Bijak Syekh Abdul Qadir

“Perbanyaklah membaca Lā ilāha illallāh, karena ia adalah benteng yang tidak akan ditembus setan.” 

Jika kita aplikasikan dalam Dzikir Nafas, setiap kali setan berusaha membisikkan kegelisahan atau pikiran buruk, kita menangkisnya dengan keyakinan “La ilaha illa Allah” yang terukir dalam setiap denyut nadi dan tarikan napas kita.

Rasakan Ketenangan

Dzikir Nafas ala Syekh Abdul Qadir al-Jaelani adalah jembatan antara hablumminallah (hubungan dengan Tuhan) dan hablumminannas (hubungan dengan diri sendiri). Dengan menjadikan napas sebagai dzikir, kita tidak perlu "mencuri" waktu khusus untuk beribadah. Justru, seluruh waktu kita menjadi ibadah, karena di setiap hembusan napas, nama Allah terus bersemayam di hati.

Mulailah dari satu tarikan napas. Rasakan ketenangan itu, dan saksikan bagaimana hidup Anda berubah. Wallahu a'lam.

Sabtu, 02 Mei 2026

Qurban dari Kacamata Sufi




Ibrahim Hajar Ismail bijak bestari
Tauladan Idul Adha Khalilullahi
Berkorban dengan takwa dan suci
Hidup diberkahi dan diridhai Ilahi


Dalam ajaran tasawuf/sufisme diformulasikan empat tingkat untuk menjadi seorang yang takwa yaitu melalui syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat.

Tasawuf adalah penjabaran secara nalar (nazhar, teori ilmiah) tentang apa sebenarnya dan penjabaran tentang takwa itu dikaitkan dengan ihsan seperti disebutkan dalam Hadis Rasulullah Saw bahwa ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah Swt seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka (engkau harus menyadari bahwa) dia melihat engkau (HR Muslim). Hadis ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam Surah al-Hijr/55 ayat 99, artinya; Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu keyakinan.

Oleh karena itu, sufisme menanamkan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam hidup dan Inni qarib, Aku kata Tuhan sangat dekat (al-Baqarah/2 ayat 185), dan Dia selalu mengawasi segala tingkah laku kita. Firman Allah, kemana pun kamu menghadap, maka di sanalah wajah Tuhan (QS Al-Baqarah/2 ayat 115). Dia beserta kamu di mana pun kamu berada dan Dia mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadad/57 ayat 4).

Dalam salah satu bait syair sufi Hamzah Fansuri dijelaskan: Jika terdengar olehmu firman. Pada Taurat Injil Zabr dan Furqon. Wa Huwa ma’akum aynama kuntum pada ayat Qur`an. Bikulli syay`in muhith maknanya ‘iyan. (AHadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, 1995, hal: 121).

‘Iyan artinya jelas.

Dari aspek ini tampak jelas betapa eratnya rasa rabbaniyyah (Ketuhanan), takwa, ihsan atau religiusitas dengan rasa insaniyyah (kemanusiaan), amal saleh, akhlak, budi pekerti atau tingkah laku etis dalam kajian sufisme. Juga sangat jelas kaitan antara sisi lahir dan sisi batin, antara eksoterisme dan esoterisme, antara fikih (syari’at) dan sufisme (hakikat dan makrifat) dalam makna tasawuf qurban (korban dalam bahasa Indonesia), bukan kurban tasawuf.

Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME dalam sosiologi agama dikenal paling kurang ada tiga cara pengorbanan yaitu monoteisme etis, sacramental dan sacrificial. Islam disebut sebagai agama monoteisme etis yaitu agama yang mengajarkan tentang tauhid dan taqarrub (pendekatan kepada Allah Swt melalui amal saleh).

Adapun agama sacramental yang mengajarkan keselamatan diperoleh seseorang hanya dengan mengikuti ritual suci, sedangkan agama sacrificial (sesajen) mengajarkan pendekatan kepada Tuhan melalui sajian-sajian, pengorbanan binatang atau bahkan manusia.

Dalam kaitan ini, ajaran agama Islam melakukan kurban (sacrifice dalam bahasa Inggris dan xisheng dalam bahasa Mandarin, FLTRP.Collins, English-Chinese and Chinese-English Dictionary, 2011, hal: 434), tindakan mendekatkan diri kepada Allah Swt, pada Hari Raya ‘Id-u `l-Adhha tidak dapat disebut sebagai sacrificial (sesajen), karena paling kurang ada tujuh hal.

Pertama, amalan kurban itu adalah untuk memperingati dan mencontoh ketulusan peran sebuah keluarga yang sakinah (mawaddah dan rahmah) yaitu Nabi Ibrahim dan Isma’il serta isteri Nabi Ibrahim Siti Hajar yang setia dalam mewujudkan tujuan hidup bertakwa kepada Allah Swt.

Kedua, Kitab Suci Alquran menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah Swt bukanlah daging atau darah binatang korban itu, melainkan takwa dari orang yang melakukannya. Dijelaskan dalam Kitab Suci surah al-Hajj/22 ayat 37, artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

Ketiga, takwa yang dicapai melalui ibadah korban itu akan melahirkan insan yang mempunyai kesadaran intensif tentang apa yang akan menjadi akibat bagi segala aktivitas dan amal perbuatannya jauh di belakang hari kelak dan yang kemudian menjalankan tindakan dan amal perbuatan itu dengan penuh tanggungjawab moral (akhlak) kepada Allah Swt, kepada insan dan lingkungannya.

Keempat, bahwa penyelenggaraan kurban itu adalah untuk menanamkan pendidikan sosial berupa perhatian yang lebih besar kepada kaum fakir miskin dengan membagikan sebagian daging korban itu untuk mereka. Dijelaskan dalam Kitab Suci Alquran Surah al-Hajj/22 ayat 36. Itulah ruh yang terkandung dalam tasauf kurban.

Kelima, bekerja dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan jerih payah sendiri untuk meraih kesuksesan adalah hakekat hidup yang bermakna. Sementara itu, pengorbanan adalah tuntutan perjuangan yang tak mungkin terelakkan. Keduanya harus dibarengi dengan sikap lapang dada, sabar dan tahan menderita demi mencapai cita-cita yang mulia. Hanya pandangan hidup demikianlah yang akan memberi kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati.

Keenam, secara sosiologis dan antropologis, agama adalah sistem simbol (lambang). Di balik lambang (simbol) itu terdapat hikmah yang lebih intensif dan prinsipil, seperti ibadah kurban ini. Berkurban adalah tindakan yang disertai pandangan yang jauh ke depan, yang mengindikasikan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sesaat, kesenangan sementara dan kemewahan duniawi yang menipu, kemudian melupakan kebahagiaan dan kehidupan abadi (eternal life). 

Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda, artinya; Orang yang bijak adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya (untuk kepentingan sesaat) dan beramal untuk sesudah mati (untuk kepentingan abadi), sedangkan orang yang lemah (mentalnya) memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan agar Allah memperkenankan angan-angannya (yang tidak mungkin terjadi, karena ia tidak berkorban dan bermujahadah). (HR Tirmidzi). Inilah inti tasawuf qurban.

Ketujuh, mukmin yang istiqomah (konsisten) sungguh pantang jika sedang menderita (mendapat cobaan dari Allah dengan kesusahan), lalu meratapi nasib dan menyesali perjalanan hidup ini, kemudian kehilangan gairah dalam hidup.

Karena pada hakekatnya tidak seorang pun di antara manusia yang pernah benar-benar terlepas dan terbebas dari pengalaman hidup yang kurang dan bahkan tidak menyenangkan. Justru kita harus menerima penderitaan itu dengan sabar menanggungnya. Kemudian dijadikan cambuk, malah modal dan motivasi untuk berjuang, berupaya sungguh-sungguh dan bermujahadah dengan menanamkan semangat berkurban.

Dengan semangat pengorbanan yang tinggi (seperti tauladan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar yang telah mencapai maqam (station) makrifat dalam sufisme kurban) kita mendekatkan diri kepada Allah Swt dan dengan rida-Nya kita akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan hakiki.

Semangat berkorban inilah salah satu faktor, di samping salat khusyuk dan puasa yang disebut sebagai virus mental (need for achievement yang disingkat dengan n-Ach, artinya kebutuhan untuk berprestasi yang digagas oleh psikolog, David Mc Clelland dari Universitas Harvard, dalam TM Sulaiman, Mencapai Prestasi Tinggi oleh dan bagi Umat Islam Zaman Teknologi Modern, hlm: 22) untuk meningkatkan kualitas mukmin dan mukmin yang berkualitas (istiqomah) mampu memicu kemajuan umat dalam ilmu pengetahuan serta bidang iqtishadi(economy) dan pendidikan khususnya. Aamin.

Oleh: Prof. Dr. M Arrafie Abduh
(Guru Besar Tasawuf di Prodi Ilmu Akidah Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau)

Senin, 09 Maret 2026

Melanggengkan Dimensi Spiritual Tasawuf


Tasawuf atau sufisme, adalah cabang ilmu dalam Islam yang menekankan penyucian jiwa, pembersihan hati dari hawa nafsu, serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dimensi spiritual dan batiniah, bukan sekadar ritual lahiriah.

Jenis-Jenis Tasawuf: Para ahli membagi tasawuf menjadi beberapa jenis utama berdasarkan pendekatan dan perkembangannya.

Berikut pembagian yang umum:

• Tasawuf Akhlaki: Berfokus pada pembentukan moralitas dan akhlak mulia melalui penyucian hati dari sifat tercela, seperti menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang menyebutnya sebagai pemurnian hati lewat taubat dan ikhlas.

• Tasawuf Amali: Menekankan praktik zikir, khalwat (sendirian), dan riyadhah (latihan spiritual) untuk mengendalikan nafsu dan mendekati ridha Allah.

• Tasawuf Falsafi: Menggabungkan tasawuf dengan pemikiran filsafat rasional tentang Tuhan, manusia, dan hubungan keduanya, sering dikembangkan oleh sufi-filsuf.

Apakah Tasawuf atau Sufisme Diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW?
Jawabannya: Tasawuf atau sufisme sebagai istilah belum ada pada masa Nabi, tetapi substansi atau hakikat tasawuf jelas diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Untuk memahami hal ini, ada dua hal penting yang perlu dibedakan:

1. Tasawuf sebagai istilah: Kata “tasawuf” belum dikenal pada masa Rasulullah SAW. Ia mulai populer beberapa abad kemudian ketika para ulama menamai perjalanan spiritual mendalam seorang Muslim dengan istilah tersebut.
Jadi, istilahnya memang tidak diajarkan oleh Nabi.

2. Tasawuf sebagai praktik (substansi)

Walaupun istilahnya belum ada, ajaran-ajaran inti tasawuf justru berasal dari Rasulullah SAW. Inilah yang disebut sebagai hakikat tasawuf.

Berikut unsur-unsur tasawuf yang diajarkan Nabi:

a. Penyucian jiwa (tazkiyatun nafs): Al-Qur’an menegaskan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Rasulullah mempraktikkannya melalui: memperbanyak istighfar, mengendalikan hawa nafsu, membersihkan hati dari sombong, riya’, iri, dan dengki. Ini adalah inti tasawuf.

b. Kehadiran hati dan muraqabah: Rasulullah SAW bersabda ketika menjelaskan ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Konsep ihsan inilah yang menjadi fondasi tasawuf: kesadaran batin bahwa Allah selalu mengawasi (muraqabah).

c. Zuhud, qana’ah, dan sederhana:Rasulullah hidup: sederhana, tidak bergantung pada dunia, tetapi tetap bekerja dan berusaha. Ini identik dengan nilai-nilai tasawuf.

d. Dzikir dan kedekatan spiritual: Nabi SAW mengajarkan berbagai bentuk dzikir: 
dzikir pagi-sore, dzikir setelah salat, istighfar, tahlil, tahmid, takbir, tasbih. Para sufi kemudian mengembangkan disiplin dzikir ini sebagai jalan penyucian hati.

e. Muhasabah dan introspeksi: Nabi bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya.” (HR. Tirmidzi). Inilah praktik inti tasawuf: memeriksa hati dan memperbaiki diri.

Kesimpulan Utama:

➤ Tasawuf sebagai istilah: tidak diajarkan Nabi.

➤ Tasawuf sebagai inti ajaran spiritual (ihsan, tazkiyah, dzikrullah): jelas diajarkan Nabi dan menjadi bagian dari Islam.

Para ulama hanya memberi nama “tasawuf” untuk disiplin ilmu yang berisi nilai-nilai: penyucian hati, kedekatan dengan Allah, akhlak mulia, pengendalian nafsu,
hidup sederhana, dzikrullah. Semua itu bersumber dari sunnah Rasulullah SAW.
Kapan tasawuf mulai dikenal, siapa yang memunculkannya, serta siapa yang membawa tasawuf ke Indonesia dan kapan?

1. Sejak Kapan Tasawuf Mulai Dikenal? Tasawuf mulai dikenal pada abad ke-2 Hijriah (± abad ke-8 Masehi).

Pada masa Nabi dan para sahabat: belum ada istilah tasawuf, tetapi praktik kesalehan batin, zuhud, dan penyucian jiwa sudah ada.

Setelah masa sahabat, umat Islam mulai menghadapi kemewahan dunia dan ekspansi kekuasaan. Sejumlah ulama yang cinta akhirat kemudian menekankan kehidupan sederhana dan fokus hati kepada Allah. Dari sinilah muncul gerakan zuhud yang menjadi cikal-bakal tasawuf.

2. Siapa yang Pertama Kali Memunculkan Tasawuf? Tidak ada satu tokoh tunggal yang “menemukan” tasawuf. Ia tumbuh secara alami dari ajaran Islam. Namun, tokoh-tokoh generasi awal yang dianggap sebagai pelopor tasawuf klasik antara lain:

a. Hasan al-Bashri (642–728 M / abad 1–2 H), ulama besar dari Basrah. Menekankan zuhud, tawakal, dan takut kepada Allah. Sering dianggap sebagai peletak dasar ajaran tasawuf.

b. Rabi’ah al-Adawiyah (w. 801 M) Tokoh terkenal dari Basrah. Memperkenalkan konsep mahabbah (cinta murni kepada Allah). Memberi warna spiritual yang sangat kuat dalam dunia tasawuf.

c. Ibrahim bin Adham, Sufyan ats-Tsauri, Fudhail bin Iyadh. Tokoh-tokoh zuhud abad 2 Hijriah.

d. Junaid al-Baghdadi (w. 910 M), disebut “Imam Kaum Sufi”. Merumuskan tasawuf secara ilmiah dan seimbang antara syariat dan hakikat.
Setelah abad ke-3 H, tasawuf berkembang menjadi disiplin ilmu yang lebih sistematis dan melahirkan banyak tarekat besar.

3. Siapa yang Membawa Tasawuf ke Indonesia? Kapan? 

Tasawuf masuk ke Nusantara melalui para ulama dan pedagang sufi dari: Arab, Persia, India (Gujarat), dan Yaman. Ini terjadi pada periode abad 13–16 M, meskipun pengaruh awal mungkin sudah muncul sejak abad 11–12 M.

Tokoh-tokoh yang membawa tasawuf ke Nusantara:

a. Syekh Ismail dari Arab (abad ke-13 M)
Disebut sebagai salah satu ulama awal yang mengajarkan Islam bercorak tasawuf di Samudera Pasai.

b. Hamzah Fansuri (abad ke-16 M)
Tokoh sufi pertama dari Nusantara yang meninggalkan karya tertulis. Membawa ajaran tasawuf falsafi.

c. Syamsuddin as-Sumatrani
Pengganti Hamzah Fansuri. Menguatkan tasawuf falsafi di kerajaan Aceh.

d. Nuruddin ar-Raniri (abad ke-17 M). Sufi dari Hadhramaut (Yaman). Membawa tasawuf sunni (asy’ari & syafi’i). Mengoreksi ajaran tasawuf falsafi sebelumnya.

e. Walisongo (abad 15–16 M).
Walisongo adalah penyebar Islam di Jawa yang sangat kuat dengan metode tasawuf: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri, dan lainnya. Mereka menggunakan pendekatan: akhlak, budaya, simbol, dakwah bil-hikmah, yang berakar pada metode tasawuf.

4. Kapan Tasawuf Tersebar Luas di Indonesia? Pada era Walisongo (abad 15–16 M), tasawuf menjadi inti dakwah Islam di Jawa dan kemudian tersebar ke seluruh Nusantara. 

Tasawuf mudah diterima masyarakat karena: lembut, menekankan akhlak, menghargai budaya lokal, cocok dengan spiritualitas masyarakat Nusantara.
(Sharing: Muchtar AF)

Minggu, 01 Maret 2026

Pandangan Kelliru Mengenai Tasawuf


Pengantar: Beberapa pandangan keliru yang sering muncul mengenai tasawuf antara lain:
  • Tasawuf Terlepas dari Syariat: Anggapan bahwa seorang sufi tidak lagi terikat oleh aturan fiqih atau ibadah lahiriah jika sudah mencapai tingkatan spiritual tertentu. Faktanya, ulama seperti Al-Ghazali menekankan bahwa tasawuf adalah pelengkap batiniah bagi syariat.
  • Hanya Fokus pada Akhirat (Pasif Sosial): Pandangan keliru bahwa tasawuf mengajarkan pengasingan diri total (uzlah) dan pengabaian terhadap urusan duniawi serta tanggung jawab sosial.
  • Dianggap Ajaran Bid'ah atau Sesat: Kritik yang menyatakan tasawuf bukan bagian dari ajaran Islam asli atau merusak akidah. Padahal, banyak pakar menyatakan dasar-dasar tasawuf (penyucian jiwa) bersumber langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah.
  • Identik dengan Hal Mistis atau Klenik: Pemahaman sempit yang hanya mengaitkan tasawuf dengan kesaktian, ramalan, atau fenomena supranatural, alih-alih fokus pada perbaikan akhlak dan kedekatan dengan Allah.
  • Pandangan Orientalis: Beberapa peneliti Barat sering kali mencoba memisahkan tasawuf dari akar Islamnya dan mengaitkannya dengan pengaruh filsafat Yunani atau Neo-Platonisme secara berlebihan.
Korelasi Syariat dan Makrifat

Wacana tentang hubungan antara Syariat dan Makrifat adalah diskusi klasik namun sangat fundamental dalam dunia tasawuf (sufisme) dan pemikiran Islam secara umum.

Jawaban singkatnya adalah: Benar, dalam perspektif Islam yang utuh dan seimbang, Syariat dan Makrifat tidak bisa dipisahkan. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu koin, atau seperti tubuh dan ruh.

Berikut penjelasan lebih mendalam mengenai mengapa keduanya tak terpisahkan:

1. Syariat adalah "Kulit" dan Makrifat adalah "Isi"

Para sufi besar, seperti Imam Al-Ghazali atau Jalaluddin Rumi, sering menggunakan analogi ini.

· Syariat adalah aturan lahiriah, hukum, ibadah formal (seperti shalat, puasa, zakat), dan muamalah yang mengatur kehidupan seorang Muslim. Ini adalah fondasi, kerangka, dan jalan (secara harfiah, syariat berarti jalan menuju sumber air).

· Makrifat adalah pengetahuan mendalam tentang Tuhan yang diperoleh melalui penyucian jiwa, pengalaman spiritual, dan perasaan dekat dengan-Nya. Ini adalah inti, tujuan, dan hakikat dari menjalani jalan tersebut.

Mengapa tak bisa dipisahkan?

Jika hanya fokus pada Syariat tanpa Makrifat, ibadah bisa menjadi kering, formalitas belaka, dan kehilangan ruh atau esensinya. Seseorang bisa shalat tetapi hatinya lalai. Sebaliknya, jika hanya mengklaim Makrifat tanpa menjalankan Syariat, klaim tersebut akan menjadi palsu dan sesat. Tidak mungkin seseorang mencapai makrifat (mengenal Allah) sambil meninggalkan perintah-Nya. Rumi berkata, "Syariat seperti lilin, makrifat adalah cahayanya."

2. Landasan Teologis dan Historis

Pemisahan antara Syariat dan Makrifat seringkali menjadi celah kritik terhadap oknum sufi yang ghuluw (ekstrem). Namun, para sufi otentik selalu menekankan bahwa Makrifat harus berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.

· Peristiwa Isra Mi'raj: Perjalanan Nabi Muhammad SAW sering dijadikan simbol. Mi'raj (naik ke Sidratul Muntaha) adalah puncak makrifat, tetapi itu terjadi setelah Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha), dan Nabi tetap menjalankan syariat setelahnya. Ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tertinggi tidak membuat seseorang lepas dari tuntunan syariat.

· Pernyataan Ulama: Imam Junayd Al-Baghdadi, pemimpin para sufi, berkata, "Semua ma'rifah (pengetahuan tentang Tuhan) yang tidak dikuatkan dengan Al-Qur'an dan Sunnah adalah bid'ah (sesat)."

3. Analogi Tangga Menuju Puncak

Untuk mencapai puncak makrifat, seseorang harus menaiki anak tangga. Anak tangga itu adalah syariat.

· Syariat: Anak tangga. Jika tidak menaikinya, tidak akan pernah sampai ke puncak.
· Tarekat: Proses menaiki tangga. Usaha dan perjalanan spiritual.
· Hakikat: Kondisi di puncak tangga, di mana pemandangan (makrifat) terbuka luas.

Tanpa anak tangga (syariat), mustahil seseorang bisa berdiri di puncak (makrifat). Memaksakan diri untuk "meloncat" langsung ke puncak hanya akan membuatnya jatuh.

4. Peringatan untuk Tidak Memisahkan

Dalam sejarah pemikiran Islam, ada dua kelompok ekstrem yang dikritik:
1. Kaum Formalist: Kelompok yang hanya fokus pada kulit syariat, menghakimi orang lain berdasarkan teks, tetapi hatinya keras, tidak memiliki kelembutan, dan jauh dari esensi ibadah.

2. Kaum Pseudo-Sufi: Kelompok yang mengaku telah mencapai makrifat sehingga merasa bebas dari kewajiban syariat. Mereka berkata, "Aku sudah sampai, sehingga shalat tidak lagi wajib bagiku." Ini adalah kesesatan yang nyata dan ditolak oleh ijma' (konsensus) ulama.

Kesimpulan

Ya, sangat benar bahwa syariat dan makrifat tidak bisa dipisahkan.

· Syariat tanpa makrifat = jasad tanpa ruh. Ibadahnya sah secara hukum, tapi mungkin hampa secara spiritual.

· Makrifat tanpa syariat = ruh tanpa jasad. Klaimnya tinggi, tapi tak terbukti dalam amal nyata, dan bisa jatuh ke dalam kesesatan.

Seorang Muslim yang ideal adalah yang menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya (lahiriahnya bersih) seraya berusaha menghadirkan makrifat dalam setiap ibadahnya (batinnya terhubung dengan Allah). Wallahu a'lam bish-shawab.

Ketika Amal Tak Jadi Sandaran


Ikhlas dalam kacamata sufi bukan sekadar niat baik di awal amal, melainkan sebuah kondisi spiritual yang sangat dalam dan menjadi inti perjalanan menuju Allah. Para sufi memandang ikhlas sebagai pembersihan hati dari segala sesuatu selain Allah ketika beramal.

Berikut adalah penjelasan bagaimana ikhlas menurut kacamata tasawuf:

1. Ikhlas adalah "Tajrid" (Memurnikan) Motif

Dalam pandangan sufi, amal perbuatan ibarat sebuah bejana. Yang dimasukkan ke dalam bejana itu bisa jadi madu (ketaatan), tetapi jika tercampur setetes racun (riya', ujub, atau mengharap pujian makhluk), maka madu itu menjadi rusak.

Imam Al-Qusyairi, seorang ulama sufi besar, mendefinisikan ikhlas sebagai:
"Mengesakan Allah dalam ketaatan dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Artinya, seorang hamba tidak bermaksud dengan ketaatannya untuk mencari penghormatan manusia, atau mencari kedudukan di sisi mereka, atau mencari pujian, atau mencari sesuatu selain Allah."

Jadi, ikhlas adalah memastikan bahwa satu-satunya "penggerak" amal adalah perintah Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya, bukan dorongan duniawi.

2. Tingkatan Ikhlas: Dari Awam ke Khawas

Para sufi membagi ikhlas dalam beberapa tingkatan, yang mencerminkan kedalaman spiritual seseorang:

· Ikhlasnya Orang Awam (Ikhlas Al-'Awam): Beramal karena ingin mendapatkan pahala dan surga, serta takut akan siksa neraka. Ini adalah ikhlas tingkat dasar, tetapi tetap terpuji. Dalam istilah sufi, ini disebut 'ubudiyyah (penghambaan karena imbalan).

· Ikhlasnya Orang Khusus (Ikhlas Al-Khawas): Beramal karena merasa malu kepada Allah dan karena Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak disembah. 
Motivasinya adalah rasa syukur dan cinta. Mereka beribadah bukan karena takut neraka atau ingin surga, tetapi karena Allah adalah Tujuan tertinggi. Ini disebut 'ubudah (penghambaan karena kemuliaan Allah).

· Ikhlasnya Orang yang Paling Khusus (Ikhlas Khawas Al-Khawas): Pada tingkatan ini, seorang hamba bahkan tidak lagi "merasa" ikhlas. Jika ia merasa ikhlas, maka itu bisa menjadi "penyakit" baru (al-ihlās bi al-ikhlās). Mereka tenggelam dalam menyaksikan kebesaran Allah, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk memikirkan keikhlasan dirinya sendiri. Semua adalah kehendak dan anugerah Allah semata.

3. Musuh Utama Ikhlas: As-Sirr (Sisi Tersembunyi Hati)

Menurut sufi, musuh ikhlas bukan hanya riya' (pamer) yang jelas, tetapi juga hal-hal halus yang tersembunyi di dalam hati, seperti:

· As-Sirr (Rahasia): Yaitu rasa bangga terhadap amal ibadah sendiri. Ketika seseorang bisa shalat malam, ia merasa hebat. Inilah yang disebut 'ujub (kagum pada diri sendiri). Para sufi sangat waspada terhadap penyakit ini, karena ia membatalkan keikhlasan secara halus.

· Syirik Khafi (Syirik Tersembunyi): Rasulullah menyebutnya lebih samar dari semut hitam di atas batu hitam di malam gelap. Ini adalah kecenderungan hati untuk mencari perhatian makhluk.

4. Metode Mencapai Ikhlas (Mujahadah)

Bagaimana cara mencapai ikhlas versi sufi? Mereka menekankan perlunya mujahadah (kesungguhan) dan riyadhah (latihan spiritual):

· Memperbanyak Diam dan Mengasingkan Hati: Untuk mengurangi ketergantungan pada penilaian manusia.

· Menyembunyikan Amal (Takhfi): Sebagaimana para salaf yang bersedekah hingga tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan tangan kiri, para sufi melatih diri untuk menyembunyikan kebaikan. Jika bisa diam-diam, mengapa harus terang-terangan?

· Muhasabah (Introspeksi): Senantiasa mengoreksi motif di balik setiap tindakan. "Mengapa saya melakukan ini? Untuk siapa?"

5. Ikhlas sebagai Puncak Spiritual

Pada akhirnya, ikhlas dalam tasawuf adalah kondisi di mana seorang hamba (yang disebut mukhlish) telah mencapai tahap tauhid yang murni. Ia menyadari bahwa dirinya dan amalnya adalah ciptaan Allah. Ia tidak punya apa-apa, sehingga tidak pantas untuk dibanggakan. Amal shaleh pun ia pandang sebagai anugerah dari Allah, bukan hasil jerih payahnya.

Dalam kondisi ini, terwujudlah makna firman Allah:

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS. Al-Bayyinah: 

Ikhlas menurut kacamata sufi adalah kondisi hati yang terbebas dari "virus" makhluk dan diri sendiri, sehingga hanya Allah yang menjadi satu-satunya tujuan, motivasi, dan pengharapan dalam setiap hembusan napas dan gerak kehidupan.
Wallahu'alam

Jumat, 30 Januari 2026

Shalat Malam Nisfu Sya’ban Menurut Kacamata Sufi

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini dinamakan dengan nama ini karena saat memasuki bulan ini, orang – orang arab yatasya’abun (berpencar) dari tempat satu ke tempat lain untuk mencari air. 

Ada pula yang berpendapat bahwa bulan (kedelapan) hijriyah ini dinamai dengan sebutan “Sya‘ban” karena terpencarnya berbagai keutamaan dan cabang-cabang kebaikan pada bulan ini. Karena itu, Rasul Saw menganjurkan para umatnya untuk memperbanyak ibadah dan amal-amal sholeh di bulan ini.

Di antara ibadah yang dapat dilakukan di bulan ini adalah shalat malam nisfu Sya’ban. Penjelasan mengenai shalat ini banyak diungkap oleh para ulama’ sufi, diantaranya adalah Imam al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin. Dalam kitab tersebut beliau berpendapat bahwa shalat ini dilaksanakan pada malam kelima belas bulan Sya‘ban (malam nisfu Sya’ban). 

Shalat ini dilaksanakan sebanyak seratus rakaat. Setiap dua rakaat satu salam. Setiap rakaat setelah al-Fatihah membaca surah al-Ikhlas sebanyak sebelas kali. Namun, menurut beliau, sholat ini bisa dilakukan sebanyak sepuluh rakaat. Setiap rakaat setelah al-Fatihah membaca surah al-Ikhlas sebanyak seratus kali.

Beliau menisbatkan pendapat ini pada riwayat yang menjelaskan tentang sejumlah shalat yang dilakukan orang-orang salaf. Shalat yang mereka lakukan ini sebut sebagai “shalat khair.” 

Pada bulan Sya’ban, mereka berkumpul untuk menunaikannya. Ada pula yang menunaikannya secara berjama’ah. Selain itu, Imam al Ghazali juga menisbatkan pendapatnya pada riwayat Hasan Basri. Riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

روي عن الحسن أنه قال حدثني ثلاثون من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إن من صلى هذه الصلاة في هذه الليلة نظر الله إليه سبعين نظرة وقضى له بكل نظرة سبعين حاجة أدناها المغفرة

“Diriwayatkan dari Al-Hasan (Hasan Basri) bahwa beliau berkata; “Telah meriwayatkan kepadaku tiga puluh sahabat Nabi Saw. Sungguh orang yang menunaikan shalat ini pada malam ini (nisfu Sya‘ban), maka Allah akan memandangnya sebanyak tujuh puluh kali dan setiap pandangan Dia (Allah) akan memenuhi tujuh puluh kebutuhan. Sekurang-kurangnya kebutuhan adalah ampunan (ampunan dosa dari Allah)”.

Imam Murtadha al Zabidi dalam kitab Ittihaf Saadat al Muttaqin yang merupakan syarah dari kitab Ihya’ Ulumiddin memberikan tambahan penjelasan terkait dengan sholat ini. Menurut beliau, para ulama khalaf telah mewarisi para ulama salaf dalam menghidupkan malam nisfu Sya'ban dengan melakukan shalat enam rakaat setelah shalat maghrib, dengan perincian setiap dua rakaat satu kali salam. Setiap satu rakaat membaca surat al-Fatihah satu kali dan surah al-Ikhlas enam kali. 

Setelah menyelesaikan sholat, dianjurkan membaca surah Yasin tiga kali dan berdoa dengan doa yang telah masyhur, yaitu doa malam nisfu Sya'ban dan berdoa memohon kepada Allah agar diberi keberkahan didalam umurnya, agar diberi keberkahan didalam rizkinya dan agar diberi keberkahan mendapat predikat husnul khatimah.

Para ulama’ berpendapat bahwa siapapun yang melaksanakan shalat seperti tata cara ini, maka ia akan diberi segala apa yang diinginkan.

Selanjutnya, Imam al Zabidi menyatakan bahwa tata cara shalat ini masyhur di dalam kitab-kitab ulama muta’akhkhirin yang diantaranya adalah para ulama’ sufi. Namun, beliau belum pernah melihat sandaran yang shahih dari hadis mengenai shalat ini dan doanya, hanya saja hal itu adalah termasuk dari amaliyah para masayikh.

Pada akhir penjelasan, beliau tidak menyatakan bahwa beliau mengingkari tata cara sholat dan doa ini.

Tata cara shalat ini juga dapat ditemukan dalam kitab Qutul Qulub Fi Mu’amalah al-Mahbub, karya Abu Thalib al Makki. Dalam kitab ini, Abu Thalib menyatakan bahwa shalat malam nisfu Sya’ban dinamai juga dengan “sholat khair”, karena berkah shalat ini diakui oleh para ulama’. 

Disamping itu, kitab ini populer di kalangan para ulama’ sufi sebagai kitab yang menjadi panduan bertarekat bagi para sufi. Kitab ini merupakan salah satu kitab yang menjadi rujukan Imam al Ghazali dalam menulis kitab Ihya’nya. Jadi, Imam al Ghazali merujuk tata cara sholat malam nisfu Sya’ban pada kitab ini.

Selain dalam kitab Qutul Qulub, tata cara shalat ini dapat ditemukan dalam kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq 'Azza wa Jalla, karya Shultan al Auliya’ Sykeh ‘Abd al Qadir al Jaylani. 

Dalam kitab ini beliau menambahkan keterangan bahwa sholat ini dengan tata cara yang sudah disebutkan juga dianjurkan untuk dilaksanakan pada empat balas malam, yaitu ; malam pertama bulan Muharram, malam ‘Ashura’, malam pertama bulan Rajab, malam pertengahan bulan Rajab, malam dua puluh tujuh bulan Rajab, malam pertengahan bulan Sya’ban (nisfu Sya’ban), malam hari ‘Arafah, dua malam hari Raya Idul Fitri dan Adha, dan lima malam ganjil pada sepuluh terkahir bulan Ramadhan (malam 21, 23, 25, 27 dan 29). 

Siapapun yang mengerjakan shalat ini, maka ia akan memperoleh pahala, kemuliaan dan keutamaan.

Penulis belum menemukan tata cara shalat malam nisfu sya’ban beserta riwayatnya dalam kitab – kitab fiqih, kecuali kitab I’anah al Thalibin yang ditulis oleh Syekh Abu Bakar Syatha. Dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan tata cara shalat nisfu Sya’ban sama persis dengan penjelasan Imam al Ghazali. Beliau juga menukil riwayat dari Hasan al Basri seperti yang dilakukan oleh Imam al Ghazali. Selian itu, beliau juga menambahkan keterangan yang beliau nukil dari Imam al Kurdi bahwa para ulama’ berbeda pendapat terkait sholat nisfu Sya’ban ini.

Ada yang berpendapat bahwa shalat nisfu Sya’ban ini memiliki jalur periwayatan yang banyak, sehingga bisa dikategorikan sebagai bagian dari Fadha’il al A’mal (artinya siapapun yang melakukan sholat ini, maka ia akan mendapatkan fadhilah dari shalat ini). Ada pula yang berpendapat bahwa riwayat tentang sholat ini palsu. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam al Nawawi.

Adapun keutamaan dan keistimewaan shalat malam nisfu Sya’ban sebagaimana riwayat yang dinukil oleh Isma’il Haqqi al-Khulwaty (salah satu ulama’ sufi yang aliran tasawufnya adalah aliran al-Khalwaty) dalam tafsirnya Ruh al-Bayan. 

Dalam tafsir ini, diceritakan bahwa saat khalifah Umar bin ‘Abd al Aziz mengangkat kepalanya setelah selesai melakukan shalat malam nisfu Sya’ban, ia melihat benda hijau yang cahayanya terhubung ke langit dan tertulis “hadzihi bara’ah min al nar min Mulk al ‘Aziz li ‘abdihi ‘Umar bin ‘Abd al Aziz” (ini adalah pembebasan dari neraka yang merupakan persembahan dari Allah Yang Maha Merajai dan Maha Perkasa untuk Umar bin Abdul Aziz). 

Tulisan tersebut mengisyaratkan bahwa khalifah Umar mendapatkan hadiah berupa bebas dari api neraka melalui perantara shalat malam nisfu Sya’ban.

Isma’il al Haqqi juga menukil riwayat yang menyatakan bahwa siapapun yang melakukan sholat pada malam nisfu Sya’ban ini sebanyak seratus raka’at, maka Allah akan mengirimkannya seratus malaikat; tiga puluh malaikat memberikan kabar gembira kepadanya tentang surga, tiga puluh malaikat menyelamatkannya dari siksa neraka, tiga puluh malaikat menyelamatkannya dari bencana dunia dan sepuluh malaikat menyelamatkannya dari gangguan/tipu daya para setan.

Meski terdapat beberapa ulama’ tidak sepakat dengan tata cara shalat nisfu Sya’ban beserta riwayatnya, tidak dapat dipungkiri bahwa praktek sholat ini merupakan amaliyah para masayikh dan beberapa ulama’ salaf (khususnya ulama’ sufi) yang notabenenya adalah orang – orang yang sangat alim dan disegani oleh para ulama’ lainnya. 

Selain itu, para ulama’ yang tidak sependapat dengan sholat ini tidak pernah mencela apalagi mengkafirkan para ulama’ yang sepakat dengan shalat ini. Kecuali tentu saja dari para ulama Wahabi. //Afrizal El Adzim Syahputra/alif.id



 (Wallahu A’lam)

Jumat, 12 Desember 2025

Tasawuf di Era Modern: Relevansi dan Transformasi

Tasawuf (sufisme) sebagai dimensi spiritual Islam terus berkembang di era modern dengan tantangan, adaptasi, dan bentuk baru yang relevan dengan konteks zaman.

Berikut adalah tinjauan mendalam tentang dinamika tasawuf modern:

1. Tantangan Modernitas terhadap Tasawuf

· Materialisme dan Konsumerisme: Budaya materialistik mengalihkan perhatian dari kehidupan batin.
· Individualisme Ekstrem: Mengurangi ikatan komunal yang penting dalam tradisi tarekat.
· Skeptisisme terhadap Otoritas: Kritik terhadap hierarki spiritual dan potensi penyalahgunaan.
· Gaya Hidup Serba Cepat: Kontras dengan praktik kontemplatif dan kesabaran sufistik.

2. Transformasi dan Adaptasi Tasawuf Modern

A. Pendekatan yang Terbuka dan Inklusif:

· Penekanan pada esensi spiritual universal yang bisa diakses semua kalangan.
· Dialog dengan psikologi modern, neurosains, dan filsafat.

B. Sufisme tanpa Tarekat (Non-Tariqa Sufism):

· Banyak pencari spiritual mengikuti ajaran sufi tanpa ikatan formal pada tarekat tertentu.
· Sumber belajar dari buku, ceramah online, atau kelompok studi independen.

C. Digitalisasi dan Sufisme:

· Konten Online: Ceramah, kursus, dan musik spiritual (sama') tersedia di platform digital.
· Komunitas Virtual: Grup meditasi, zikir, atau kajian tasawuf melalui Zoom/sosial media.
· Aplikasi Spiritual: Panduan zikir, doa, dan kontemplasi.

D. Sufisme dan Gerakan Sosial:

· Sufisme Aktif: Mengintegrasikan spiritualitas dengan aktivisme sosial, lingkungan, dan perdamaian.
· Contoh: Pesantren modern yang menggabungkan tasawuf dengan pendidikan karakter dan pemberdayaan masyarakat.

E. Psikologi dan Kesehatan Mental:

· Konsep sufistik seperti muhasabah (introspeksi), sabar, syukur, dan ikhlas diadopsi dalam psikoterapi dan mindfulness.
· Praktik meditasi sufi (muraqabah) digunakan untuk mengurangi stres dan kecemasan.

3. Tokoh dan Gerakan Sufisme Modern:

· Hamza Yusuf: Menggabungkan tradisi sufi dengan wacana kontemporer.
· Syekh Nazim al-Haqqani: Menyebarkan ajaran Naqsyabandiyah secara global dengan pendekatan adaptif.
· Haeri (The Milleminum Sufi): Pendekatan sufisme yang minimalist dan rasional.
· Pusat Studi Sufi: Seperti The Threshold Society (AS) atau Institut Studi Tasawuf Modern di berbagai universitas.

4. Kritik dan Kontroversi

· Sufisme "Instan": Komodifikasi spiritualitas menjadi produk self-development.
· Dilema Otoritas: Banyak guru "self-proclaimed" tanpa sanad keilmuan yang jelas.
· Politik Identitas: Sufisme dijadikan alat untuk melawan ekstremisme, terkadang didukung pemerintah dengan motif politik.

5. Relevansi Tasawuf di Era Modern

· Jawaban atas Krisis Makna: Tasawuf menawarkan kedalaman spiritual di tengah kehidupan yang dangkal.
· Moderasi dan Toleransi: Ajaran cinta (mahabbah) dan perdamaian sufisme menjadi penyeimbang narasi keagamaan yang keras.
· Ekologi Spiritual: Konsep khalifah dan penghormatan terhadap alam selaras dengan gerakan lingkungan.
· Etika Global: Tasawuf menawarkan etika universal berbasis kasih sayang (rahmah).
---
6. Masa Depan Tasawuf

· Akan terus berkembang dalam bentuk hibrid (tradisi-digital).
· Lebih banyak terlibat dengan isu kesehatan mental, ekologi, dan dialog antaragama.
· Tantangan untuk menjaga autentisitas tanpa menjadi eksklusif.

Kesimpulan:

Tasawuf di era modern bukanlah fenomena usang, melainkan tradisi yang hidup dan beradaptasi. Ia menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk mentransformasikan spiritualitas Islam menjadi kekuatan yang relevan bagi manusia modern yang haus makna, di tengah dunia yang semakin kompleks dan terfragmentasi. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara keteguhan pada esensi (tauhid, akhlak, dan cinta Ilahi) dengan fleksibilitas dalam metode dan ekspresi. (deepseek/1225)

Ketika 700 BUMN Dibantai: "Obral Mati Berdalih Efisiensi"

( Secangkir Anggur Merah, Edisi-45) Pendahuluan: Presiden Prabowo Subianto baru saja mengguncang panggung ekonomi nasional. Tak pelak, pern...