Rabu, 01 Januari 2020

Meniti Jalan Menuju Ridha Illahi

*) Ilmu Tasawuf dalam Islam

Kebanyakan kalangan muslim percaya bahwa salah satu aspek penting untuk mengetahui keuniversalan ajaran Islam tersebut adalah adanya dorongan untuk senantiasa mencari ilmu pengetahuan dimana saja dan kapan saja umat Islam berada. Dengan adanya dorongan dari ayat-ayat al-Qur’an maupun dalam al-Hadits yang menganjurkan umat Islam agar mencari ilmu pengetahuan inilah yang menyebabkan lahirnya beberapa disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam, dimana salah satu di antaranya adalah lahirnya ilmu tasawuf yang akan dibahas dalam isi makalah ini. Ilmu tasawuf sesungguhnya ialah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam yang utama, selain ilmu Tauhid (Ushuluddin)dan ilmu Fiqih.

Yang mana dalam ilmu Tauhid bertugas membahas tentang soal-soal I’tiqad (kepercayaan) seperti I’tiqad (kepercayaan) mengenai hal Ketuhanan, kerasulan, hari akhir, ketentuan qadla’ dan qadar Allah dan sebagainya. Kemudian dalam ilmu Fiqih adalah lebih membahas tentang hal-hal ibadah yang bersifat dhahir (lahir), seperti soal shalat, puasa, zakat, ibadah haji dan sebagainya. Sedangkan dalam ilmu Tasawuf lebih membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak, budi pekerti, amalan ibadah yang bertalian dengan masalah bathin (hati), seperti: cara-cara ihlash, khusu’, taubat, tawadhu’, sabar, redhla (kerelaan), tawakkal dan yang lainnya.

Dari paparan diatas muncul pertanyaan: Apa pengertian dan bagaimana sejarah perkembangan ilmu Tasawuf? Apa saja pokok-pokok ajarannya? Lalu  bagaimana kedudukan ilmu Tasawuf dalam Islam?

Pengertian Ilmu Tasawuf 

Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi.

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata "Sufi". Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.

Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari "Ashab al-Suffa" ("Sahabat Beranda") atau "Ahl al-Suffa" ("Orang orang beranda"), yang mana dalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad SAW yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.

Sejarah Kemunculan Ilmu Tasawuf 

Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa ilmu tasauf sangat lah membingungkan.

Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah.[1] Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan.

Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi, sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang penganut paham tersebut disebut orang sufi.

Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata "beranda" (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad.

Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umat Islam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena faktor politik.Pertikaian antar umat Islam karena karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah , yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang seringkali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figaur lain seperti Shafyan al-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah.[2]

Pada dasarnya sejarah awal perkembangan tasawuf, adalah sudah ada sejak zaman kehidupan Nabi saw. Hal ini dapat dilihat bagaimana peristiwa dan prilaku kehidupan Nabi saw. sebelum diangkat menjadi rasul. Beliau berhari-hari pernah berkhalwat di Gua Hira’, terutama pada bulan ramadlan. Disana Nabi saw lebih banyak berdzikir dan bertafakkur dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pengasingan diri Nabi saw. di Gua Hira’ inilah yang merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat.

Dalam aspek lain dari sisi prikehidupan Nabi saw. adalah diyakini merupakan benih-benih timbulnya tasawuf, dimana dalam kehidupan sehari-hari Nabi saw. sangatlah sederhana, zuhud dan tak pernah terpesona oleh kemewahan duniawi. Hal itu di kuatkan oleh salah satu do’a Nabi saw, beliau pernah bermohon yang artinya: “Wahai Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin”. (HR. al-Tirmizi, Ibn Majah, dan al-Hakim).

Sejarah perkembangan tasawuf berikutnya (periode kedua setelah periode Nabi saw.) ialah periode tasawuf pada masa “Khulafaurrasyidin” yakni masa kehidupan empat sahabat besar setelah Nabi saw. yaitu pada masa Abu Bakar al-Siddiq, Umar ibn al-Khattab, Usman ibn Affan, dan masa Ali ibn Abi Thalib. Kehidupan para khulafaurrasyidin tersebut selalu dijadikan acuan oleh para sufi, karena para sahabat diyakini sebagai murid langsung Nabi saw. dalam segala perbuatan dan ucapan mereka jelas senantiasa mengikuti tata cara kehidupan Nabi saw. terutama yang bertalian dengan keteguhan imannya, ketaqwaannya, kezuhudan, budi pekerti luhur dan yang lainnya.

Salah satu contoh sahabat yang dianggap mempunyai kemiripan hidup seperti Nabi saw. adalah sahabat Umar Ibn al-Khattab, beliau terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kalbunya, ia terkenal kezuhudan dan kesederhanaannya. Diriwayatkan pernah suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah (Amirul Mukminin), ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan.

Selain mengacu pada kehidupan keempat khalifah di atas, para ahli sufi juga merujuk pada kehidupan para “Ahlus Suffah” yaitu para sahabat Nabi saw. yang tinggal di masjid nabawi di Madinah dalam keadaan serba miskin namun senantiasa teguh dalam memegang akidah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Diantara para Ahlus Suffah itu ialah,sahabat Abu Hurairah, Abu Zar al-Ghiffari, Salman al-Farisi, Muadz bin Jabal, Imran bin Husain, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Huzaifah bin Yaman dan lain-lain.

Perkembangan tasawuf selanjutnya adalah masuk pada periode generasi setelah sahabat yakni pada masa kehidupan para “Tabi’in (sekitar abad ke-1 dan abad ke-2 Hijriyah), pada periode ini munculah kelompok(gerakan) tasawuf yang memisahkan diri terhadap konflik-konflik politik yang di lancarkan oleh dinasti bani Umayyah yang sedang berkuasa guna menumpas lawan-lawan politiknya. Gerakan tasawuf tersebut diberi nama “Tawwabun” (kaum Tawwabin), yaitu mereka yang membersihkan diri dari apa yang pernah mereka lakukan dan yang telah mereka dukung atas kasus terbunuhnya Imam Husain bin Ali di Karbala oleh pasukan Muawiyyah, dan mereka bertaubat dengan cara mengisi kehidupan sepenuhnya dengan beribadah. Gerakan kaum Tawwabin ini dipimpin oleh Mukhtar bin Ubaid as-Saqafi yang ahir kehidupannya terbunuh di Kuffah pada tahun 68 H.

Sejarah perkembangan tasawuf berikutnya adalah memasuki abad ke-3 dan abad ke-4 Hijriyah. Pada masa ini terdapat dua kecenderungan para tokoh tasawuf. Pertama, cenderung pada kajian tasawuf yang bersifat akhlak yang di dasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunnah yang biasa di sebut dengan “Tasawuf Sunni” dengan tokoh-tokoh terkenalnya seperti : Haris al-Muhasibi (Basrah), Imam al-Ghazali, Sirri as-Saqafi, Abu Ali ar-Ruzbani dan lain-lain.Kelompok kedua, adalah yang cenderung pada kajian tasawuf filsafat, dikatakan demikian karena tasawuf telah berbaur dengan kajian filsafat metafisika.

Adapun tokoh-tokoh tasawuf filsafat yang terkenal pada saat itu diantaranya: Abu Yazid al-Bustami (W.260 H.) dengan konsep tasawuf filsafatnya yang terkenal yakni tentang “Fana dan Baqa” (peleburan diri untuk mencapai keabadian dalam diri Ilahi), serta “Ittihad” (Bersatunya hamba dengan Tuhan). Adapun puncak perkembangan tasawuf filsafat pada abad ke-3 dan abad ke-4, adalah pada masa Husain bin Mansur al-Hallaj (244-309 H ), ia merupakan tokoh yang dianggap paling kontroversial dalam sejarah tasawuf, sehingga ahirnya harus menemui ajalnya di taing gantungan.
Periode sejarah perkembangan tasawuf pada abad ke-5 Hijriyah terutama tasawuf filsafat telah mengalami kemunduran luar biasa, hal itu akibat meninggalnya al-Hallaj sebagai tokoh utamanya.

Dan pada periode ini perkembangan sejarah tasawuf sunni mengalami kejayaan pesat, hal itu ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh tasawuf sunni seperti, Abu Ismail Abdullah bin Muhammad al-Ansari al-Harawi (396-481 H.), seorang penentang tasawuf filsafat yang paling keras yang telah disebarluaskan oleh al-Bustani dan al-Hallaj. Dan puncak kecemerlangan tasawuf suni ini adalah pada masa al-Ghazali, yang karena keluasan ilmu dan kedudukannya yang tinggi, hingga ia mendapatkan suatu gelar kehormatan sebagai “Hujjatul Islam”.

Sejarah perkembangan tasawuf selanjutnya adalah memasuki periode abad ke-7, dimana tasawuf filsafat mengalami kemajuan kembali yang dimunculkan oleh tokoh terkenal yakni Ibnu Arabi. Ibnu Arabi telah berhasil menemukan teori baru dalam bidang tasawuf filsafat yakni tenyang “Wahdatul Wujud”, yang banyak diikuti oleh tokoh-tokoh lainnya seperti Ibnu Sab’in, Jalaluddin ar-Rumi dan sebagainya.

Kecuali itu pada abad ke-6 dan abad ke-7 ini pula muncul beberapa aliran tasawuf amali, yang ditandai lahirnya beberapa tokoh tarikat besar seperti: Tarikat Qadiriyah oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di Bagdad (470-561 H.), Tarikat Rifa’iyah yang didirikan oleh Ahmad bin Ali Abul Abbas ar-Rifa’I di Irak (W.578 H.) dan sebagainya. Dan sesudah abad ke-7 inilah tidak ada lagi tokoh-tokoh besar yang membawa ide tersendiri dalam hal pengetahuan tasawuf, kalau toh ada hal itu hanyalah sebagai seorang pengembang ide para tokoh pendahulunya.[3]

Pokok-pokok Ajaran Tasawuf 

Pembagian Tasawuf yang ditinjau dari lingkup materi pembahasannya menjadi tiga macam, yaitu:

a. Tasawuf Aqidah
yaitu ruang lingkup pembicaraan Tasawuf yang menekankan masalah-masalah metafisis (hal-hal yang ghaib), yang unsur-unsurnya adalah keimanan terhadap Tuhan, adanya Malaikat, Syurga, Neraka dan sebagainya. Karena setiap Sufi menekankan kehidupan yang bahagia di akhirat, maka mereka memperbanyak ibadahnya untuk mencapai kebahagiaan Syurga, dan tidak akan mendapatkan siksaan neraka. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut, maka Tasawuf Aqidah berusaha melukiskan Ketunggalan Hakikat Allah, yang merupakan satu-satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak.

Kemudian melukiskan alamat Allah SWT, dengan menunjukkan sifat-sifat ketuhanan-Nya. Dan salah satu indikasi Tasawuf Aqidah, ialah pembicaraannya terhadap sifat-sifat Allah, yang disebut dengan “Al-Asman al-Husna”, yang oleh Ulama Tarekat dibuatkan zikir tertentu, untuk mencapai alamat itu, karena beranggapan bahwa seorang hamba (Al-‘Abid) bisa mencapai hakikat Tuhan lewat alamat-Nya (sifat-sifat-Nya).

b. Tasawuf Ibadah
yaitu Tasawuf yang menekankan pembicaraannya dalam masalah rahasia ibadah (Asraru al-‘Ibadah), sehingga di dalamnya terdapat pembahasaan mengenai rahasia Taharah (Asraru Taharah), rahasia Salat (Asraru al-Salah), rahasia Zakat (Asraru al-Zakah), rahasia Puasa (Asrarus al-Shaum), rahasia Hajji (Asraru al-Hajj) dan sebagainya. Di samping itu juga, hamba yang melakukan ibadah, dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

1) Tingkatan orang-orang biasa (Al-‘Awam), sebagai tingkatan pertama.
2) Tingkatan orang-orang istimewa (Al-Khawas), sebagai tingkatan kedua.
3) Tingkatan orang-orang yang teristimewa atau yang luar biasa (Khawas al-Khawas), sebagai tingkatan ketiga.

Kalau tingkatan pertama dimaksudkan sebagai orang-orang biasa pada umumnya, maka tingkatan kedua dimaksudkan sebagai para wali (Al-Auliya’), sedangkan tingkatan ketiga dimaksudkan sebagai para Nabi (Al-Anbiya’).

Dalam Fiqh, diterangkan adanya beberapa syarat dan rukun untuk menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah. Tentu saja persyaratan itu hanya sifatnya lahiriah saja, tetapi Tasawuf membicarakan persyaratan sah atau tidaknya suatu ibadah, sangat ditentukan oleh persyaratan yang bersifat rahasia (batiniyah). Sehingga Ulama Tasawuf sering mengemukakan tingkatan ibadah menjadi beberapa macam, misalnya Taharah dibaginya menjadi empat tingkatan:

1) Taharah yang sifatnya mensucikan anggota badan yang nyata dari hadath dan najis.
2) Taharah yang sifatnya mensucikan anggota badan yang nyata dari perbuatan dosa.
3) Taharah yang sifatnya mensucikan hati dari perbuatan yang tercela.
4) Taharah yang sifatnya mensucikan rahasia (roh) dari kecendrungan menyembah sesuatu di luar Allah SWT.

Karena Tasawuf selalu menelusuri persoalan ibadah sampai kepada hal-hal yang sangat dalam (yang bersifat rahasia), maka ilmu ini sering dinamakan Ilmu Batin, sedangkan Fiqh sering disebut Ilmu Zahir.

c. Tasawuf Akhlaqi 

Yaitu Tasawuf yang menekankan pembahasannya pada budi pekerti yang akan mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga di dalamnya dibahas beberapa masalah akhlaq, antara lain:

1) Bertaubat (At-Taubah); yaitu keinsafan seseorang dari perbuatannya yang buruk, sehingga ia menyesali perbuatannya, lalu melakukan perbuatan baik.
2) Bersyukur (Asy-Shukru); yaitu berterima kasih kepada Allah, dengan mempergunakan segala nikmat-Nya kepada hal-hal yang diperintahkan-Nya;
3) Bersabar (Ash-Sabru); yaitu tahan terhadap kesulitan dan musibah yang menimpanya.
4) Bertawakkal (At-Tawakkul); yaitu memasrahkan sesuatu kepada Allah SWT. Setelah berbuat sesuatu semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan.
5) Bersikap ikhlas (Al-Ikhlas); yaitu membersihkan perbuatan dari riya (sifat menunjuk-nunjukkan kepada orang lain), demi kejernihan perbuatan yang kita lakukan.

Ini baru sebagian kecil saja akhlaq baik terhadap Tuhan yang kita bicarakan, tetapi pembicaraan Tasawuf selalu menuju kepada pembahasan yang lebih dalam lagi, yaitu hingga menelusuri kerahasiaannya. Jadi pembicaraan taubat, syukur, sabar, tawakkal dan ikhlas, dibahas dengan mengemukakan indikasi lahiriyahnya saja, maka hal itu termasuk lingkup pembahasan akhlaq; tetapi bila dibahasnya sampai menelusuri rahasianya, maka hal itu termasuk Tasawuf. Sehingga dari sinilah kita dapat melihat perbedaan Akhlaq dengan Tasawuf, namun dari sisi lain dapat dilihat kesamaannya, yaitu keduanya sama-sama tercakup dalam sendi Islam yang ketiga (Ihsan).

Bila ditinjau dari sisi corak pemikiran atau konsepsi (teori-teori) yang terkandung di dalamnya, maka hal itu bisa menjadi Tasawuf Salafi, Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi.

Dalam Tasawuf Salafi dan Tasawuf Sunni, system peribadatan dan teori-teori yang digunakannya, sama dengan yang telah dilakukan oleh Ulama-Ulama Salaf, sehingga kadang-kadang Tasawuf Sunni disebut juga Tasawuf Salafi. Lain halnya dengan Tasawuf Falsafi, ajarannya sudah dimasuki oleh teori-teori Filsafat; misalnya dipengaruhi oleh Filsafat Yahudi; Filsafat Kristen dan Filsafat Hindu.

Maka tidak sedikit ajarannya yang hampir sama dengan agama yang mempengaruhinya, terutama konsepsi yang digunakan untuk mendapat hakikat ketuhanan; dengan istilah “Al-Hulul” (larutnya sifat ketuhanan ke dalam sifat kemanusiaan), “Al-Ittihad” (leburnya sifat hamba dengan sifat Allah), “Wihdatu al-Wujud” (menyatunya hamba dengan Allah) dan sebagainya. Dan barangkali inilah yang dimaksudkan oleh orang-orang yang mengatakan bahwa Tasawuf Islam itu tidak lain, kecuali hanya ajaran Mistik umat-umat terdahulu, yang telah ditransformasikan oleh Ulama Tasawuf ke dalam Islam.

Tetapi tuduhan itupun dialamatkan pada Tasawuf Sunni dan Salafi, padahal sebenarnya ajaran Tasawuf tersebut masih konsisten dalam ajaran Islam. Hanya saja, barangkali ada tata caranya yang sudah dikembangkan oleh Ulama Tarekat pada masa sesudahnya yang akhirnya tidak persis sama dengan Tasawuf yang telah dipraktekkan oleh Ulama Sahabat dan Tabin di abad pertama dan kedua Hijriyah. Tentu saja, perkembangannya itu hanya sekedar memenuhi tuntutan zaman yang dilaluinya, sedangkan prinsipnya tidak bertentangan dengan pengalaman Ulama-Ulama Salaf.[4]

4. Kedudukan Ilmu Tasawuf dalam Islam

Ajaran Tasawuf dalam Islam, memang tidak sama kedudukan hukumnya dengan rukun-rukun Iman dan rukun-rukun Islam yang sifatnya wajib, tetapi ajaran Tasawuf bersifat sunnat. Maka Ulama Tasawuf sering menamakan ajarannya dengan istilah “Fadailu al-A’mal” (amalan-amalan yang hukumnya lebih afdhal, tentu saja maksudnya amalan sunnat yang utama.

Memang harus diakui bahwa tidak ada satupun ayat atau Hadith yang memuat kata Tasawuf atau Sufi, karena istilah ini baru timbul ketika Ulama Tasawuf berusaha membukukan ajaran itu, dengan bentuk ilmu yang dapat dibaca oleh orang lain. Upaya Ulama Tasawuf memperkenalkan ajarannya lewat kitab-kitab yang telah dikarangnya sejak abad ketiga Hijriyah, dengan metode peribadatan dan istilah-istilah (symbol Tasawuf) yang telah diperoleh dari pengalaman batinnya, yang memang metode dan istilah itu tidak didapatkan teksnya dalam Al-Qur’an dan Hadith.

Tetapi sebenarnya ciptaan Ulama Tasawuf tentang hal tersebut, didasarkan pada beberapa perintah Al-Qur’an dan Hadith, dengan perkataan “Udhkuru” atau “Fadhkuru”. Dari perintah untuk berzikir inilah, Ulama Tasawuf membuat suatu metode untuk melakukannya dengan istilah “Suluk”. Karena kalau tidak didasari dengan metode tersebut, maka tidak ada bedanya dengan akhlaq mulia terhadap Allah. Jadi bukan lagi ajaran Tasawuf, tetapi masih tergolong ajaran Akhlaq.

Tasawuf merupakan pengontrol jiwa dan membersihkan manusia dari kotoran-kotoran dunia di dalam hati, melunakan hawa nafsu, sehingga rasa takwa hadir dari hati yang bersih dan selalu merasa dekat kepada Allah. Tujuan tasawuf itu menghendaki manusia harus menampilkan ucapan, perbuatan, pikiran, dan niat yang suci bersih, agar menjadi manusia yang berakhlak baik dan sifat yang terpuji, sehingga menjadi seorang hamba yang dicintai Allah swt. Oleh karena itu, sifat-sifat yang demikian perlu dimiliki oleh seorang muslim.

Maka dengan bertasawuf, seseorang akan bersikap tabah, sabar, dan mempunyai kekuatan iman dalam dirinya, sehingga tidak mudah terpengaruh atau tergoda oleh kehidupan dunia yang berlebihan dengan bersikap qonaah, yaitu sabar dan tawakal, serta menerima apa yang telah diberikan Allah walaupun sedikit. Oleh karena itu tasawuf betul-betul mendapatkan perhatian yang lebih dalam ajaran Islam, walaupun sebagian ulama fikih menentang tasawuf ini, karena dianggap bid'ah dan orang yang mempelajarinya telah berbuat syirik, karena tidak berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah.[5]
Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang memerintahkan manusia supaya bertobat, sabar, tawakal, bersikap zuhud, ikhlas dan ridha kepada Allah swt, serta membersihkan diri dengan berzikir kepada Allah. Sebagaimana Allah swt, berfirman:

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang membersihkan diri, dan ia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al- A'la: 14-15)

Ulama Tasawuf, yang sering juga disebut “Ulama’ al-Muhaqqin” membuat tata cara peribadatan untuk mencapai tujuan Tasawuf, didasarkan atas konsepsi dan motivasi beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadith, antara lain berbunyi:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (Q.S. At-Tiin: 4-5)

“Hai orang-orang yang beriman; berzikirlah (dengan) menyebut (nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbhilah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”(Q.S. Al-Ahzab: 41-42)

“Sembahlah Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya; maka apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka Ia pasti melihatmu. (H. R. Bukhary Muslim, yang bersumber dari Abu Hurairah).

Dalam ayat pertama, diterangkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baik kejadian, namun karena perbuatan manusia itu sendiri, maka Allah mengembalikannya kepada tempat yang sangat hina. Tempat inilah yang dimaksudkan oleh Sufi sebagai neraka. Dan untuk menghindarinya, maka Sufi membuat tata cara mengabdikan diri kepada Allah, yang disebut dengan “Suluk”, di mana di dalamnya diwarnai oleh zikir, sebagaimana anjuran dalam ayat kedua di muka, dengan kalimat “Udzkurullah Dzikran Katsiira”… Sehingga Salik (peserta suluk) dapat mencapai tujuan Tasawufnya, yang disebut Ma’rifah; yaitu suatu pengenalan batin terhadap Allah, yang disebut dalam hadith di muka, sebagai perkataan pengabdian hamba kepada Allah, yang seolah-olah dapat melihat-Nya (A’budillah Kannaka Tarahu …).

Bukankah kita ingin dekat dengan Allah sedekat-dekatnya, serta merasa dekat dengan-Nya? Oleh karena harus ada penyucian diri dengan selalu berusaha membersihkan hati, supaya kita memperoleh jiwa yang tenteram dan menjadi orang yang bahagia hidup di dunia dan akhirat. Seperti halnya Rasulullah saw, beliau adalah pembesar dari seluruh ahli tasawuf yang berdaya upaya dengan sangat kepada kesucian hati serta menjauhi dari sifat-sifat hati yang jelek.

Jadi, seorang hamba bisa dekat dengan Allah, yaitu dengan bertasawuf. Dengan demikian tasawuf memiliki Kedudukan yang penting dalam ajaran Islam tergantung kita dalam mempelajari dan memahaminya.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa Ilmu Tasawuf adalah suatu ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi.

Pada awalnya tasawuf merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, yang dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam yang mempunyai kedudukan sangat penting dalam ajaran islam itu sendiri. Dalam hal ini kedudukan Tasawuf berada pada sendi Ihsan, yang berfungsi untuk memberi warna yang lebih mendalam bagi sendi Aqidah dan sendi Syari’ah Islam.

DAFTAR RUJUKAN
Asmaran. 1996. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers
Solihin, dkk. 2005. Akhlak Tasawuf. Bandung: Nuansa
Mahmud, Abdul Halim. 2001. Tasawuf di Dunia Islam Bandung: Pustaka Setia
http://masBied.com/2010/02/ilmu-tasawuf.html di download pada 22 Mei 2012 pukul 10.00
[1] Solihin, M. Anwar, M Rosyid. Akhlak Tasawuf (Bandung: Nuansa. 2005) Hlm. 175
[2] Ibid. Hlm. 177
[3] http://masBied.com/2010/02/ilmu-tasawuf.html di download pada 22 Mei 2012 pukul 10.00
[4] Drs. Asmaran As., M.A., Pengantar Studi Tasawuf. (Rajawali Pers. 1996) Hlm. 176
[5] Mahmud, Abdul Halim. Tasawuf di Dunia Islam (Bandung: Pustaka Setia 2001) hlm. 298

Senin, 30 Desember 2019

Syekh Junaid Al-Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU

Syekh Junaid Al-Baghdadi
Nahdlatul Ulama mengikuti Imam Asyari dan Imam Maturidi dari sisi aqidah, imam empat mazhab dari sisi fiqih, dan Imam Junaid Al-Baghdadi serta Imam Al-Ghazali dari segi tasawuf. Kenapa para kiai mengangkat nama Imam Junaid Al-Baghdadi? 

Apakah karena ia bergelar sayyidut thaifah di zamannya, pemimpin kaum sufi yang ucapannya diterima oleh semua kalangan masyarakat? Junaid bin Muhammad Az-Zujjaj merupakan putra Muhammad, penjual kaca. 

Ia berasal dari Nahawan, lahir dan tumbuh di Irak. Junaid seorang ahli fikih dan berfatwa berdasarkan mazhab fikih Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Junaid berguru kepada As-Sarri As-Saqthi, pamannya sendiri, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Muhammad bin Ali Al-Qashshab. 

Junaid adalah salah seorang imam besar dan salah seorang imam terkemuka dalam bidang tasawuf. Ia juga memiliki sejumlah karamah luar biasa. Ucapannya diterima banyak kalangan. Ia wafat pada Sabtu, 297 H. Makamnya terkenal di Baghdad dan diziarahi oleh masyarakat umum dan orang-orang istimewa. 

Syekh Ibrahim Al-Laqqani dalam Jauharatut Tauhid menyebut Imam Malik dan Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai pembimbing dan panutan umat Islam. ومالك وسائر الأئمة وكذا أبو القاسم هداة الأمة Artinya, “Imam Malik RA dan seluruh imam, begitu juga Abul Qasim adalah pembimbing umat,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Laqqani, Jauharatut Tauhid pada Hamisy Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89). 

Syekh M Nawawi Banten juga menyebutkan sejak awal Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai panutan umat dari sisi tasawuf. Menurutnya, Imam Junaid Al-Baghdadi layak menjadi pembimbing umat dari sisi tasawuf karena kapasitas ilmu dan amalnya.

 ويجب على من ذكر أن يقلد في علم التصوف إماما من أئمة التصوف كالجنيد وهو الإمام سعيد بن محمد أبو القاسم الجنيد سيد الصوفية علما وعملا رضي الله عنه والحاصل أن الإمام الشافعي ونحوه هداة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله خيرا ونفعنا بهم آمين 

Artinya, “Ulama yang disebutkan itu wajib diikuti sebagaimana  perihal ilmu tasawuf seperti Imam Junaid, yaitu Sa’id bin Muhammad, Abul Qasim Al-Junaid, pemimpin para sufi dari sisi ilmu dan amal. Walhasil, Imam Syafi’i dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang fiqih, Imam Asy’ari dan mutakallimin lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang aqidah, dan Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. 

Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka. Amiiin,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 7). 

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syekh M Ibrahim Al-Baijuri. Menurutnya, jalan terang dan keistiqamahan Imam Junaid Al-Baghdadi di jalan hidayah patut menjadi teladan. Ilmu dan amalnya dalam bidang tasawuf membuat Imam Junaid layak menjadi pedoman.

 وقوله كذا أبو القاسم كذا خبر مقدم وأبو القاسم مبتدأ مؤخر أي مثل من ذكر في الهداية واستقامة الطريق أبو القاسم الجنيد سيد الطائفة علما وعملا ولعل المصنف رأى شهرته بهذه الكنية ولو قال جنيدهم أيضا هداة الأمة لكان أوضح 

 Artinya, “Perihal perkataan ‘Demikian juga Abul Qasim’, ‘demikian juga’ adalah khabar muqaddam atau predikat yang didahulukan. ‘Abul Qasim’ adalah mubtada muakhkhar atau subjek yang diakhirkan. Maksudnya, seperti ulama yang sudah tersebut perihal hidayah dan keistiqamahan jalan adalah Abul Qasim, Junaid, pemimpin kelompok sufi baik dari sisi ilmu maupun amal. 

Bisa jadi penulis memandang popularitas Junaid melalui gelarnya. Kalau penulis mengatakan, ‘Junaid juga pembimbing umat’, tentu lebih klir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89). 

Meskipun sebagai seorang imam sufi di zamannya, Junaid Al-Baghdadi tidak meminggirkan sisi fiqih dalam kesehariannya. Artinya, ia cukup proporsional dalam menempatkan aspek fiqih (lahiriyah) dan aspek tasawuf (batiniyah) di saat kedua aspek ini bersitegang dan tidak berada pada titik temu yang harmonis di zamannya. 

Di zamannya, banyak ulama terjebak secara fanatik di satu kutub yang sangat ekstrem, yang faqih dan yang sufi. Banyak ulama mengambil aspek fikih dalam syariat Islam, tetapi menyampingkan aspek tasawuf dalam syariat. Sebaliknya pun terjadi, banyak ulama mengambil jalan sufistik, tetapi menyampingkan aspek fiqih dalam syariat. Junaid sendiri bahkan ahli fiqih. 

Ia juga seorang mufti yang mengeluarkan fatwa berdasarkan mazhab Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Baginya, jalan menuju Allah tidak dapat ditempuh kecuali oleh mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagai keterangan Al-Baijuri berikut ini.

 وكان الجنيد رضي الله عنه على مذهب أبي ثور صاحب الإمام الشافعي فإنه كان مجتهدا اجتهادا مطلقا كالإمام أحمد ومن كلام الجنيد الطريق إلى الله مسدود على خلقه إلا على المقتفين آثار الرسول صلى الله عليه وسلم ومن كلامه أيضا لو أقبل صادق على الله ألف ألف سنة ثم أعرض عنه لحظة كان ما فاته أكثر مما ناله ومن كلامه أيضا إن بدت ذرة من عين الكرم والجود ألحقت المسيئ بالمحسن 

Artinya, “Imam Junaid dari sisi fiqih mengikuti Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Abu Tsaur juga seorang mujtahid mutlak seperti Imam Ahmad. Salah satu ucapan Imam Al-Junaid adalah, ‘Jalan menuju Allah tertutup bagi makhluk-Nya kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah SAW,’

 ‘Kalau ada seorang dengan keimanan sejati yang beribadah ribuan tahun, lalu berpaling dari-Nya sebentar saja, niscaya apa yang luput baginya lebih banyak daripada apa yang didapatkannya,’ dan ‘Bila tumbuh bibit kemurahan hati dan kedermawanan, maka orang jahat dapat dikategorikan dengan orang baik,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89-90). 

Keterangan Al-Baijuri menjelaskan sikap sufisme Junaid Al-Baghdadi, yaitu tasawuf sunni. Jalan ini yang diambil oleh Junaid Al-Baghdadi karena banyak pengamal sufi di zaman itu terjebak pada kebatinan dan bid’ah yang tidak bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Imam Junaid layak menjadi panutan NU dari sisi tasawuf karena tetap berpijak pada sunnah Rasulullah SAW.

 وقوله هداة الأمة أي هداة هذه الأمة التي هي خير الأمم بشهادة قوله تعالى كنتم خير أمة أخرجت للناس فهم خيار الخيار لكن بعد من ذكر من الصحابة ومن معهم والحاصل أن الإمام مالكا ونحوه هذاة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول أي العقائد الدينية والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله عنا خيرا ونفعنا بهم 

 Artinya, “Perkataan ‘pembimbing umat’ maksudnya adalah pembimbing umat Islam ini, umat terbaik sebagaimana kesaksian firman Allah SWT dalam Al-Qur’an ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang hadir di tengah umat manusia.’ Mereka para imam itu adalah orang pilihan di tengah umat terbaik tetapi derajatnya di bawah para sahabat Rasulullah dan tabi’in. 

Walhasil, Imam Malik dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang furu’ atau fiqih. Imam Asy’ari dan mutakalimin sunni lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang ushul atau aqidah. Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. 

Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 90). Imam Junaid juga menyayangkan sikap naif sebagian kelompok sufi yang mengabaikan realitas dan aspek lahiriyah. Menurutnya, sikap naif sekelompok sufi dengan mengabaikan sisi lahiriyah mencerminkan kondisi batinnya yang runtuh seperti kota mati tanpa bangunan.

 وكان رضي الله عنه يقول إذا رأيت الصوفي يعبأ بظاهره فاعلم أنه باطنه خراب 

Artinya, “Imam Junaid RA mengatakan, ‘Bila kau melihat sufi mengabaikan lahiriyahnya, ketahuilah bahwa batin sufi itu runtuh,’” (Lihat Syekh Abdul Wahhab As-Syarani, At-Thabaqul Kubra, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 85). 

Sebaliknya, ia juga menyayangkan sekelompok umat Islam yang hanya mengutamakan sisi lahiriyah melalui formalitas hukum fiqih dengan mengabaikan sisi batiniyah yang merupakan roh dari kehambaan manusia kepada Allah. 

Walhasil, Imam Junaid Al-Baghdadi adalah ulama abad ke-3 H yang mempertemukan fiqih dan tasawuf di saat keduanya tidak pernah mengalami titik temu. Sikap proporsional Imam Junaid seperti ini sejalan dengan pandangan NU yang tawasuth, tawazun, dan i’tidal, yaitu dalam konteks ini mempertahankan dengan gigih syariat Islam melalui fiqih sekaligus menjiwainya dengan nilai-nilai tasawuf sehingga tidak ada penolakan terhadap salah satunya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K//nu.or.id)
//Konten adalah milik dan hak cipta www.nu.or.id

Rabu, 25 Desember 2019

Ilmu Hakekat Kajian Tasawuf Syaththariah

1. Awal Perjalanan Tasawuf.

Tasawuf merupakan salah satu bentuk pengalaman keagamaan yang memuat dimensi teoritis dan praktis sekaligus. Pada dimensi praktis, tasawuf tidak terbatas pada amalan lahiriah yang dituntut oleh syarî’at lengkap dengan syarat dan rukun yang harus dipenuhi, seperti dalam mengerjakan shalat harus menutup aurat, suci dari hadas besar dan kecil, menghadap kiblat. 


Tasawuf juga menekankan dimensi batiniah untuk memperoleh taskiyatunnafsî dantasfiyatulqalbî dari berbagai jenis penyakit hati, seperti dengki, iri hati, nifak, kufur, membuat fitnah, menghina, takabur, sombong karena dorongan hawa nafsu yang markasnya ada di hati sanubari.

Dalam wacana tasawuf, hati dibedakan menjadi dua, yaitu hati sanubari (qalbun jasmanîyyun zhulmanîyyun) dan hati nurani (qalbun nurâniyyun lathifun rabbanîyyun). Hati nurani atau nur cahaya putih adalah sebuah potensi hati yang memiliki peluang bertemu dengan nur Ilahi, sedangkan hati sanubari adalah hati yang wataknya menuruti keinginan-keinginan jasmaniah-lahiriah.

Tasawuf juga menekankan bagaimana cara seorang hamba menyembah Allah seolah-olah dia melihat-Nya, bagaimana cara mencapai khusyu’ atau hudurulqalb ilallâh ketika mengerjakan shalat, bagaimana agar di dalam shalat ada dzikir (ingat/eling) kepada-Nya. Firman Allah di dalam al-Qur’an:

“Innanî Anâ Allâh lâ ilâha illâ Anâ fa’budnî wa aqimis- shalâta li dzikrî” (QS. 20: 14).

Artinya: “Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku, dan kerjakan shalat untuk berzikir kepada-Ku, atau agar ada zikir kepada-Ku di saat mendirikan shalat”.

Dengan adanya dzikir inilah seseorang bisa mengontrol shalatnya sendiri, apakah bisa mencapai tingkat khusyû’ ataukah tidak.

Bagaimana pentingnya dzikir di dalam shalat juga terlihat dari ayat lain (QS. 107: 4-5), di mana Allah memperingatkan mereka yang mendirikan shalat dalam keadaan sâhûn (lupa, tidak ingat). Mengapa mereka yang mendirikan shalat oleh Allah, di dalam ayat tersebut, disebut sâhûn atau lupa? Karena, di dalam shalatnya tidak ada dzikir dan shalat yang dikerjakan dalam keadaan demikian, oleh Allah diperingatkan dengan ancaman wail atau celaka, sebagaimana difirmankan Allah:

“fawailun lil mushallîn, alladzîna hum ‘an shalâtihim sâhûn” (QS. 107: 4-5),

Artinya, “celakalah orang-orang yang mengerjakan shalat, yaitu mereka yang lalai (sahun) ketika melaksanakan shalatnya”.

Khithab ayat ini ditujukan kepada al-musallîn, yaitu orang-orang yang melakukan shalat secara terus menerus akan tetapi mereka lupa di dalam shalatnya, padahal Allah menghendaki agar di dalam shalat itu ada dzikir (ingat) kepada-Nya. Bentuk isim fa’il yang menurut pakar bahasa memberi faedah lil-istimrâr (terus menerus) digunakan untuk kata al-musallîn, memberi arti “mereka yang terus menerus mengerjakan shalat”. 

Ayat ini menantang akal kita untuk berpikir logis. Jika mereka yang tidak mengerjakan shalat yang diancam oleh Tuhan dengan ancaman wail, tentu akal kita memakluminya karena mereka memang tidak mengerjakan shalat. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan ayat ini, justru mereka yang terus menerus mengerjakan shalat inilah yang diancam denganwail oleh Tuhan.

Di sini, kita dituntut mencari relevansi ayat ini dengan ayat lain yang menunjukkan bagaimana seharusnya shalat yang berkualitas itu dikerjakan. Shalat itu sesungguhnya tidak hanya terbatas pada perbuatan lahiriah-jasmaniah dengan memenuhi syarat dan rukun yang ditetapkan oleh syari’at belaka melainkan juga ada dimensi batinnya, yaitu hendaknya seseorang yang mendirikan shalat ada zikir di dalamnya sehingga shalatnya bisa khusyû’, bisa hudhurulqalbi ilallâh (hatinya hadir di hadapan Allah) karena dengan adanya dzikir di dalamnya terciptalah konsentrasi batin. 

Yang demikian itu karena eksistensi manusia meliputi dua unsur yang menyatu di dalam dirinya, yaitu lahir dan batin, jasad dan roh. Oleh karena itu, menurut ajaran al-Qur’an, mendirikan shalat tidak hanya sebatas amaliah lahiriah saja, melainkan juga memasukkan amaliah batiniahnya.

Logika mengatakan, “Janganlah memasukkan sesuatu yang semestinya tidak layak dimasukan ke dalamnya, meskipun sesuatu itu baik “. Contohnya, janganlah memasukkan ke dalam lemari pakaian sesuatu yang semestinya tidak layak untuk di masukkan ke dalamnya meskipun sesuatu itu baik, seperti gula, kopi, susu, daging dan ikan. 
Jika barang-barang sejenis ini dimasukkan ke dalam lemari pakaian, maka semua ini akan merusakkan fungsinya sebagai lemari pakaian. 

Jangan memasukkan ke dalam minuman kopi sesuatu yang semestinya tidak harus masuk ke dalamnya meskipun sesuatu itu baik, seperti sambal. Demikian pula, ketika kita sedang mendirikan shalat. Jangan memasukkan ke dalam shalat selain dzikir kepada-Nya. Inilah makna yang tersirat dari ayat di atas. 

Persoalan berikutnya adalah, dzikir yang seperti apa yang memenuhi titah Tuhan yang bisa membawa hati kepada khusyû’, membawa hati hadir seakan-akan berada di hadapan Tuhan ketika shalat. Persoalan lainnya, menyangkut tolok ukur dzikir secara obyektif sehingga ia bisa dikerjakan oleh semua muslim, tidak peduli apakah ia seorang pembantu rumah tangga yang bodoh dalam pengetahuan agama ataukah ia seorang yang ‘alim dalam ilmu agama. 

Apakah ia seorang muslim yang mempunyai ilmu agama yang cukup sehingga bisa memahami makna ayat-ayat yang dibaca di dalam shalat ataukah ia kurang memahami makna apa-apa yang dibacanya karena ia memang berlatar belakang pendidikan tidak dalam disiplin ilmu-ilmu agama.

Seorang ahli di bidang ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial atau di bidang teknologi, biasanya tidak mempunyai kesempatan yang banyak untuk mendalami pengetahuan agama. Mereka mungkin dapat menghafal bacaan-bacaan shalat akan tetapi mereka tidak mengerti makna dan arti apa yang dibacanya. 

Namun, jika mereka memiliki dzikir yang bisa membuat hati hadir di hadapan Tuhannya, mereka termasuk orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dengan dzikir inilah seseorang mempunyai pusat konsentrasi di dalam shalatnya, seperti orang yang memanah; konsentrasinya terpusat kepada sasaran yang hendak dipanah. Dengan memiliki pusat konsentrasi dia bisa mengontrol agar anak panahnya benar-benar mengarah kepada sasaran.

Solusinya adalah “carilah seseorang yang ahli dzikir dan mintalah kepadanya dzikir yang memungkinkan kamu memiliki pusat konsentrasi ketika mengerjakan shalat, sebagaimana firman-Nya:

“Wa mâ arsalnâ min qoblika illâ rijâlan nûhî ilaihim, fas’alû ahladz-dzikri in kuntum lâ ta’lamûn “. (QS. 16: 43).

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah (tentang dzikir) kepada ahli dzikir (orang yang mempunyai pengetahuan tentang Tuhan) jika kamu tidak mengetahui”,

Seperti orang tua yang memerintah anaknya yang kesulitan dalam pelajaran matematika, “bertanyalah kepada ahli matematika jika kamu tidak tahu”. Artinya, jika kamu tidak tahu tentang matematika maka kamu harus bertanya atau meminta ilmu matematika kepada orang yang ahli matematika. Dengan kata lain, “jangan kamu bertanya kepada orang yang tidak ahli matematika”.

Al-Qur’an juga menginformasikan bahwa dzikir yang ada di dalam shalat ini bisa diaplikasikan ke dalam aktivitas-aktivitas lain selain aktivitas religi (keagamaan).

Penulis membagi aktivitas-aktivitas manusia menjadi tiga macam, yaitu aktivitas yang natural (alami), aktivitas kultural (budaya) dan aktivitas religi (keagamaan).

Aktivitas-aktivitas yang bersifat alami, seperti makan, minum, istirahat, tidur, sakit, senang, mandi; sedangkan aktivitas-aktivitas kultural seperti belajar, mengajar, mengemudi, menanam, mengerjakan tugas dengan komputer, memperbaiki laporan, mengurus nasib rakyat banyak, memegang kekuasaan politik, memimpin negara, mengurus perusahaan, mengelola keuangan, bekerja di Bank, melestarikan lingkungan dan lain-lain. 

Aktivitas-aktifitas religi (keagamaan), seperti puasa, haji, zakat, jihad, i’tikafdan sudah tentu shalat, bahkan disabdakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa shalat adalah tiang agama. Artinya standard ukur yang utama ke Islaman itu ada pada shalat.

Kini, bagaimana dzikir yang ada di dalam shalat itu diaplikasikan kepada aktivitas-aktivitas tersebut, sehingga seseorang ketika sedang mengemudikan mobil sekaligus berdzikir, ketika sedang mengajar sekaligus berdzikir, ketika sedang belajar menghadapi ujian sekaligus berdzikir, ketika sedang makan-minum sekaligus berdzikir, ketika sedang memimpin negara sekaligus berdzikir, ketika sedang mengurus ekonomi rakyat sekaligus berdzikir. Inilah yang difirmankan Allah dalam mensifati ulul albab:

Artinya:”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau sambil duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali Imran: 190-191)

Mereka (ulul albab) adalah orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah pada saat “qiyâman wa qu’ûdan wa ‘alâ junûbihim”. Qiyâmanberarti pada saat menjalankan aktivitas; dan jenis-jenis aktivitas manusia bisa dikelompokkan kepada tiga jenis aktivitas di atas, yaitu aktivitas natural, kultural dan religi (keagamaan). 

Jika di dalam seluruh aktivitas tersebut terdapat dzikir yang mempertalikan seseorang dengan Tuhannya, maka seluruh aktivitas yang demikian itu adalah ibadah. Kita semua maklum bahwa salah satu jenis ibadah adalah shalat, substansi (intinya) shalat adalah dzikir. Jika dzikir yang ada di dalam shalat ini dibawa ke dalam seluruh aktivitas kita, samalah artinya kita mengerjakan shalat daim, terus menerus kita dalam keadaan seperti shalat. Apabila kita memahami hal ini, maka kita bisa memahami tradisi agama yang menyatakan;

“I’mal li dun-yâka kaannaka ta’îshu abadan, wa’mal li âkhirâtika kaannaka tamûtu ghodan”. (al-Hadits).

“Beramallah kamu untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya dan beramallah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok,”. (al-Hadits).

Artinya, persatukanlah antara amal akhirat dengan amal dunia dengan dan melalui dzikir.

Penulis ingin memberi satu contoh lagi untuk hal ini. Misalnya, dari sisi lahiriah, seseorang nampak melakukan perbuatan duniawiah seperti menjahit pakaian untuk menutupi kebutuhan hidup jasmaniah-duniawiahnya. Jika dalam melakukan perbuatan itu dia juga menyertakan dzikir di dalam rasa-nya, (struktur eksistensi manusia, menurut konsepsi tasawuf ada empat yaitu jasad, hati, roh dan rasa) maka amaliah yang kelihatan duniawiah ini sekaligus juga memiliki dimensi ukhrawiah. 

Inilah yang disebut dengan dzikir sirri (dzikir yang ada di dalam kedalaman rasa, sebuah entitas spiritualyang amat tersembunyi, atau “piningit”). Adapun Thariqah Syaththariah, atau tepatnya Ilmu Syaththariah, adalah ilmu yang menjaga, memelihara dan melestarikan dzikir yang mencapai martabat rasa ini (dzikir sirri).


2. Tasawuf dan Akhlak

Akhlak adalah disiplin yang juga mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, namun tidak berarti akhlak adalah tasawuf itu sendiri. Alasannya, disiplin akhlak tidak menggarap pokok materi (subject matter) yang menjadi garapan tasawuf. Adapun pokok materi tasawuf itu adalah tentang bagaimana hakekat manusia bertemu dengan hakekat Allah melalui seorang yang ahli dalam ilmu hakekat.

Jadi, hakekat manusia ini bisa bertemu dengan hakekat Tuhan, karena sesungguhnya hakekat manusia itu berasal dari hakekat Tuhan (cuwilan dari hakekat Tuhan atau disebut pula dengan fitrah Allah), hingga terjadilah syahadah atau penyaksian diri kepada Tuhannya. Di dalam istilah teknis tasawuf, hal ini lazim disebutma’rifat billah, atau konkritnya, ma’rifat bi dzatilllah, mengenal Dzat Allah dan bukan hanya sekedar mengetahui nama Allah. 

Di dalam khazanah Islam, Allah didefinisikan sebagai “nama yang menunjukkan adanya Dzat yang Wajib WujudNya” (Allâh ismun li Dzâtin al-wajîbu al-wujûd). Inilah pokok materi tasawuf yang tidak menjadi garapan Akhlak; perbedaannya dengan tasawuf dan sekaligus menjadi titik pemisah antara tasawuf dan akhlak.

Logika-logika tasawuf

Logika 1: Rumusan jumhur ulama menyatakan Allâh adalah nama bagi satu Dzat yang Wajib Wujudnya (Allâh ismun li Dzâtin al-wajîb al-wujûd). Di dalam wacana ilmu kalam abad pertengahan, al-Asy’ari, membuat rumusan “lâ hiya huwa wa lâ hiya ghairuh” (sifat itu bukan dzat, dan sifat itu tidak lepas dari dzat), atau diringkaskan oleh Muzaffaruddin al-Nadwi menjadi la ‘aina wala ghaira. 

Di dalam Umm al-Barahain, Al-Sanusi, seorang pengikut Al-Asy’ari periode akhir, membuat rumusan sifat dua puluh dan menempatkan wujud atau yang beliau sebut dengan sifat nafsiahpada urutan pertama. Namun dalam penjelasannya, beliau mengakui bahwa nafsiah itu sebenarnya bukan sifat melainkan wujud atau Dzat itu sendiri. Wujud dimasukkan dalam kategori sifat-sifat dua puluh dimaksudkan untuk membantu mempermudah mempelajari sifat-sifat Tuhan.

Ayat pertama dari surat al-Fatihah menyatakan:“bismillâh ar-rahmânar-rahîm” (artinya;”Dengan nama Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih”). Ibn-‘Arabi dalam wihdâtul wujûdtidak hanya menyatakan “tidak ada tuhan kecuali Allah” melainkan “tidak ada wujud melainkan wujud Allah”. Di sini Ibn-‘Arabi menegaskan adanya satu wujud yang hakiki.

Logika 2: Jika sebuah nama memiliki wujud (dzat,being), maka wujud itulah yang bisa kita dekati, wujud itulah yang kita temui, wujud itulah yang kita hadiri, atau kita hadirkan, kita datangkan kepada diri kita, kita kenali dan kita ma’rifati, menurut istilah tasawuf. Misalnya, “air” adalah nama atau sebutan yang menunjuk kepada adanya satu wujud; barang atau benda cair. 

Apa yang dapat kita minum, kita rasakan, kita nikmati, kita pakai untuk mandi, adalah wujud air dan bukan namanya. Dengan meminum air (wujud air), seseorang yang tengah kehausan bisa menghilangkan rasa hausnya sekaligus bisa merasakan dan menikmati segarnya air. Artinya, apa yang dibutuhkan seseorang yang haus adalah wujud air dan bukan sekedar namanya. Jika ia hanya sekedar nama air, tentu seseorang yang haus tidak akan bisa meminumnya, tidak akan merasakan segarnya dan hausnya pun tidak akan terhapus oleh nama air itu. 

Setelah meminum air kita menyatakan bahwa air ini segar, atau teh ini manis. Sebenarnya yang menyatakan segar atau manis adalah rasa. Demikian ini karena di dalam rasa ada unsur kognitif, ‘irfan (mengenal, memahami atau me-ma’rifati), karena itu, Suhrawardi al-Maqtul menyatakan, “man lam yadzuq lam ya’rif”, ”barangsiapa yang tidak merasakan, maka ia tidak tahu”. Karena itulah Iqbal menyatakan, bahwa rasa memberikan pengalaman langsung, atau direct experience. Karena, rasalah yang bersentuhan langsung dengan wujud sesuatu.

Allah adalah nama atau sebutan yang menunjuk kepada adanya Dzat yang memiliki nama itu. Tentu yang perlu didekati dan dikenali (di-ma’rifati) bukan sekedar nama-Nya, melainkan Dzat yang punya nama Allah. Inilah, cara beragama seorang sufi. Dan, untuk bisa ke sana seseorang membutuhkan perantara (mediator, wasîlah, atauwasîthah) yang ahli dalam ilmu hakekat, yang mendapat tugas mempertemukan hakekat manusia dengan hakekat Tuhan. Seperti Anda yang belum pernah berkenalan dengan Habibie, sangat mungkin Anda bertemu dengannya jika melalui seorang perantara yang memperoleh tugas mengantarkan Anda menemuinya.

Logika 3: Semua orang Indonesia percaya bahwa nama Presiden Indonesia yang dilengserkan oleh gerakan moral mahasiswa, yang telah berkuasa selama tiga dasawarsa, adalah Soeharto. Tetapi, belum tentu semua warga Indonesia sudah berkenalan, bertemu, bertatap muka atau bahkan berakrab-akrab dengan dia yang punya nama Soeharto itu. 

Keyakinan kita bahwa Soeharto adalah Kepala Negara Republik Indonesia tidak salah, sebab Soeharto memang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia. Namun, belum tentu orang yang memiliki keyakinan semacam ini pernah bertemu dengan dia yang punya nama Soeharto itu. Analog ini sekarang kita bawa ke wilayah agama. 

Adalah benar, semua umat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka yakini namanya Allah, akan tetapi belum tentu semua yang mempunyai keyakinan demikian sudah pernah mengenal (ma’rifat) kepada-Nya atau bertemu dengan-Nya. Jadi, tampak jelas bahwa apa yang bisa didekati, dihadiri atau dihadirkan bukanlah namanya melainkan dzatnya.

Sebagaimana telah disinggung di atas, dalam wacana tasawuf, istilah ma’rifat billâh berarti ma’rifat bi Dzâtillâh. Hanya untuk ke sana dibutuhkan suatu metode yang khas tasawuf yang berbeda dari metode yang diterapkan untuk disiplin-disiplin keilmuan lain, seperti metode untuk kajian yang obyeknya alam, sejarah atau sosial. 

Objek tasawuf adalah Tuhan Allah yang Dzat-Nya tidak kasat mata (ghaib) tetapi Wajib Ada-Nya. Memang harus diakui, banyak hal yang tidak kasat mata (ghaib) selain Dzat Allah, misalnya atom, malaikat, dan jin. Akan tetapi, semua itu adalah makhluq (wujud yang diciptakan) sedangkan Allah adalah Al-Khâliq (Dzat yang menciptakan).

Logika 4: Sebuah aliran filsafat yang menamakan dirinya fenomenologi dengan tokoh sentralnya Edmund Husserl, memahamibeing adalah present. Being (sesuatu yang wujud, ada) ditandai dengan kehadiran, atau oleh Husserl ditafsirkan dengan kehadiran. Dengan kata lain, apa yang hadir kepada kita adalah wujud sesuatu, dan bukan sekedar nama dari sesuatu.

Persoalan yang muncul kemudian adalah, ke manakah wujud itu hadir? Oleh Husserl dijawab bahwa wujud itu hadir ke dalam kesadaran kita, atau consciousness, sebuah konsep metafisik, sebuah entitas spiritual yang immanen yang ke dalamnya pengalaman manusia masuk. Karena kesadaran itu immanen maka pengalaman yang masuk ke dalam kesadaran manusia pun bersifat immanen, dan karena itu tidak perlu diragukan. 

Inilah pemecahan Husserl dalam mengatasi doktrin metodologi “keragu-raguan” Descartes, tokoh sentral dari filsafat Rasionalisme modern. Sementara doktrin Husserl lebih memfokuskan pada kajian epistemologi, tasawuf lebih menekankan pada ontologi-eksistensial (bandingkan wacana ini dengan wacana diskusi antara aliran hermeneutik teori dengan tokoh-tokohnya Spinoza, Flacius, Chladenius, Schleiermacher, Droysen, Delthey sampai kepada Emilio Betti dengan hermeneutik filsafat yang ditokohi oleh Heidegger dan Gadamer). 

Tasawuf tidak menggunakan konsep “kesadaran” sebagai sesuatu yang immanen di dalam diri manusia, melainkan ia menggunakan konsep sirr atau dzauq (rasa). Rasa adalah fondasi-dasar kemanusiaan dan di atas fondasi-dasar inilah Allah menempatkan hakekat manusia yang sejak mula jadi, atau secara fitrah-qudrati, hakekat manusia itu berasal dari-Nya. 

Pada suatu masa, sebelum manusia dilahirkan ke alam empirik, atau para mufassir menyebutnya dengan “alam dzar”, sebenarnya, hakekat manusia ini telah menyaksikan hakekat Tuhannya. Plato menggunakan istilah alam before born, di mana manusia telah membawa innate idea di dalam dirinya. 

Pada alam yang seperti itu, hakekat manusia telah bersyahadah (menyaksikan) kepada hakekat Tuhannya, karena pada saat itu belum ada alam lain selain hakekat manusia dengan hakekat Tuhan. Dan, untuk kepentingan mempertemukan kembali hakekat manusia dengan hakekat Tuhannya ketika manusia telah dilahirkan di alam empirik ini, maka diutuslah oleh-Nya para nabi dan rasul yang dipilih di antara para hamba-Nya.

Penutup

Pada akhir bab ini, penulis ingin menekankan signifikasi tugas kerasulan ini dengan pembentukan sebuah kepribadian. Bahwa usaha membangun sebuah kepribadian yang insaniah haruslah dimulai dari fondasi dasar ini, yakni rasa, yang di atasnya sebuah kepribadian dibangun. 

Jika kepribadian itu ibarat sebuah bangunan, maka proses pembangunannya juga menjadi bagian yang tidak dapat dielakkan dari pembahasan. Sudah tentu, sebuah bangunan haruslah diletakkan di atas fondasi yang kokoh, atau bahwa bangunan itu harus dimulai dari fondasi dasarnya. Singkatnya, temukanlah dahulu fondasi dasarnya, lalu mulailah proses pembangunan kepribadian.

Rasa, oleh tasawuf, dikonsepsikan sebagai dasar manusia sebab rasa menjadi dasar dan sumber kekuatan manusia yang memiliki daya dorong bagi aktivitas manusia. Seseorang yang rasanya dikuasai oleh rasa ingin tahu maka hampir seluruh aktivitasnya mengejar ilmu pengetahuan. Seseorang yang rasanya dikuasai oleh keinginan untuk menguasai harta benda, maka seluruh aktivitasnya dikerahkan untuk mencari jalan guna menumpuk kekayaan, baik demi perbaikan ekonomi keluarganya, atau dengan alasan-alasan lainnya. 

Seseorang yang rasa hatinya dikuasai oleh kehendak ingin berkuasa dan menduduki jabatan maka seluruh aktivitasnya pun akan dicurahkan untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Aktivitas orang untuk mengumpulkan harta, memperoleh ilmu dan popularitas, menduduki jabatan, mempertahankan kekuasaan dan harga diri, semua itu bersumber dari rasa yang terdapat di dalam hatinya, sehingga rasa itu menjadi lupa terhadap tugas pokok yang sesungguhnya. 

Adapun tugas pokok dan utama dari rasa, menurut tradisi tasawuf, adalah mengenal Tuhannya, atau tegasnya, mengenal Dzat Tuhan. Doktrin tasawuf lainnya menyatakan bahwa di atas rasa inilah Tuhan Allah menempatkan hakekat manusia, dan karena itulah manusia selalu memiliki kecenderungan beragama. Tugas pokok rasa yang seharusnya mengenal Tuhannya ini memang sangat mungkin dilupakan, akan tetapi tidak bisa dihilangkan. 

Seorang anak boleh jadi melupakan jasa orang tuanya, akan tetapi jasa kedua orang tuanya itu jelas tidak bisa dihilangkan. Guru Wasithah, sebagai pelanjut yang menyampaikan Ilmu Nubuwwah (‘ilm-annubuwwah), mengingatkan kepada tugas pokok rasa ini dan mengajak manusia untuk memperhatikan tugas pokok ini. Logika empirik mengatakan, seseorang yang melalaikan tugas pokoknya, maka layak baginya memperoleh efek dari perbuatannya. 

Misalnya, seorang anggota militer yang selalu melalaikan tugas pokoknya, maka wajar bagi dirinya memperoleh balasan, yaitu dipecat dari kesatuannya, akibat dari perbuatannya yang selalu melalaikan tugas pokoknya.

Jika rasa ini dikuasai oleh segala ambisi dan keinginan duniawiah, maka rasa akan habis digunakan untuk hal-hal yang duniawiah ini saja; dan jika rasa ini mengabaikan tugas pokoknya mengenal Tuhan maka seluruh aktivitasnya tidak terkait sama sekali dengan Tuhannya. Jika rasa ini memiliki ikatan kesadaran akan kehadiran Tuhan di dalam dirinya, maka aktivitas duniawiahnya tidak kehilangan kaitan dengan Tuhannya. 

Orang yang demikian ini, jika ia berkesempatan mengatur dunia, ia mengaturnya dengan didasarkan atas kesadaran akan kehadiran Tuhannya sehingga nafsu ambisinya terkendalikan atau bahkan nafsunya tidak mempengaruhi aktivitas duniawiahnya sama sekali, baik ketika membuat kebijakan, mengoperasionalkan kebijakan atau dalam mengevaluasi dan mengontrol kebijakan duniawiahnya. 

Demikian ini karena, di dalam rasanya ada Tuhan dan ia bertindak bersama dengan Tuhannya. Inilah, salah satu sumbangsih tasawuf yang memiliki tingkat kepedulian yang kualitatif terhadap proses pembentukan kepribadian.
(Oleh: DR. A. Khozin Affandi/buku: Satrio Piningit)