Rabu, 15 Juni 2022

Qurban dan Kedekatan dengan Allah

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. 

Diceritakan, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang panglima yang digelari “asadullah” (singa Allah), tubuhnya bergemuruh setiap mendengar genderang perang ditabuh. Badannya selalu terkoneksi dengan sinyal-sinyal ilahiah, atau yang dalam dunia tasawuf disebut “muraqabah”.

Sahabat, paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi SAW ini adalah contoh manusia yang “Allah lebih dekat dari urat lehernya.” Seluruh molekul tubuh sosok yang berdua bersama Ali bin Abi Thalib pernah sukses memimpin perang Badar pada tahun 2 Hijriah ini, sudah terisi cahaya Allah. Hatinya (dalam dimensi batiniah disebut qalbu) senantiasa bergetar manakala mendengar Kalimah-Kalimah Suci.

Untuk orang-orang seperti ini Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal: 2).

Hamzah syahid dalam perang Uhud pada tahun 3 Hijriah. Ia bersama Muhammad menjadi target utama pembunuhan. Sebelumnya dalam perang Badar, ia pernah menghabisi ayah dari Hindun. Begitu dendamnya perempuan ini. Lalu ia mengupah dan melatih budaknya, Wahsyi bin Harb, untuk membunuh Hamzah.

Hamzah diintai. Dalam kegentingan perang yang amburadul karena pasukan muslim mengabaikan perintah Nabi, Hamzah berhasil ditombak dari belakang. Ia rubuh. Tubuhnya dicincang. Hatinya dirobek-robek dan dimakan Hindun. Paska perang, kaum muslim menelusuri mayat demi mayat untuk mencari Hamzah. Tak dikenali lagi, karena fisiknya sudah dirusak.

Secara heroik diriwayatkan. Untuk mengetahui kepingan tubuh Hamzah, kaum muslimin menabuh kembali genderang perang. Jika ada potongan jasad yang bergerak-gerak, itulah daging Hamzah. Tubuhnya masih mengalami muraqabah bahkan ketika sudah mati sekalipun. Spirit mujahadahnya tinggi sekali.

Cerita serupa kita temukan pada kisah-kisah sufi yang mati dibunuh. Siti Jenar, Hamzah Fansuri, dan ahli muraqabah lainnya. Katanya, begitu dipancung, darah mereka mengalir membentuk Kalimah Allah.

Bagi sebagian kita, ini terkesan mistis. Sulit dicerna. Tidak masuk akal. Saya pun demikian. Setidaknya kita dapat memahaminya dalam pengertian berbeda. Bahwa secara hakikat, orang-orang beriman itu senantiasa “hidup”. Tidak pernah mati. Kalimah Allah sudah menyatu dalam darah dan daging mereka.

Dikemudian hari juga ditemukan adanya jasad para syuhada yang tubuhnya masih utuh. Darahnya masih segar. Padahal sudah ratusan, bahkan ribuan tahun meninggal. Celah-celah dinding dan lantai kuburan imam Husain, misalnya, diketahui masih sering mengeluarkan bercak merah darah. Pun demikian dengan banyak makam syuhada, para pemimpin dan orang-orang shaleh lainnya. Bumi terkesan enggan menghancurkan tubuh-tubuh yang Nur Allah sudah bersemayam dalam diri mereka.

***

Salah satu tugas Nabi adalah mengisi Kalimah Allah ke dalam jiwa pengikutnya. Kalimah yang diisi haruslah Kalimah yang asli. Sebab, kalau sekedar membaca ayat suci, iblis juga bisa. Tapi masalahnya, kalimat itu tidak berasal dari dimensi yang tinggi. Sehingga pengaruhnya tidak ada.

Seorang arifbillah di Dayah Sufimuda Aceh, pernah mengilustrasikan ini dengan sebuah surat yang berisi kalimat-kalimat dari presiden, katakanlah Jokowi. Setiap orang bisa meniru surat itu. Namun, jika surat tersebut palsu, tetap tidak punya efek apapun. Sebab, sebuah surat dan kalimat yang asli, turun dari lembaran negara. Surat dan kalimat-kalimat inilah yang punya efek luar biasa, bisa menaikkan atau menurunkan harga BBM. Sementara surat-surat palsu tidak memiliki power semacam itu, walaupun kop dan tandatangannya persis sama.

Itulah mengapa resonansi bacaan kita terhadap kalimat-kalimat Tuhan lemah. Meskipun diayun-ayun dengan 1001 irama, ditambah fasahah yang sempurna, getaran ilahiah tetap tidak ada. Karena yang membaca itu dimensi “aku”, bukan “Dia.” Bukan unsur Tuhan yang membacanya. Tapi nafsu.

Kalau bacaannya berasal dari lembaran jiwa yang suci, pasti mampu mengobati berbagai penyakit, mengalahkan musuh-musuh, mengusir unsur-unsur setan, menjadi petunjuk dan menenangkan jiwa. Oleh sebab itu, kesucian jiwa menjadi prasyarat untuk berfungsinya semua Kalimah itu. Metodologi penyucian jiwa disebut tarekat (sufisme praktis). Tentu dengan bimbingan seorang mursyid yang memiliki kompetensi kewalian (waliyammursyida, QS. Alkahfi: 17).

***

Idul Adha dikenal dengan “Idul Qurban.” Makna dari “kurban” adalah kedekatan dengan Allah. Proses berkurban sejatinya membawa kita semakin dekat dengan Allah. Salah satu indikasi “dekat” dengan Allah adalah seperti disebutkan dalam QS. Al-Anfal ayat 2 di atas: “bergetar qalbunya kalau mengingat Allah.”

Apa hubungan penyembelihan hewan kurban dengan kedekatan kepada Allah?

Pertama, seperti sudah umum dijelaskan oleh banyak ulama tasawuf, penyembelihan hewan adalah simbol penyembelihan “diri” (ego, keakuan atau sifat-sifat kebinatangan). Ketika kita sudah bersedia mengorbankan segala yang paling kita cintai di jalan Tuhan, maka saat itulah Allah akan bersedia menghampiri kita. Syarat diterimanya kurban tentu ikhlas. 

Kedua, sesungguhnya, daging kurban itu sendiri jika dimakan akan mengantarkan kita semakin dekat dengan Allah. Sebuah sembelihan yang diawali dengan Kalimah Suci akan mentransfer cahaya ilahi ke dalam darah dan dagingnya. Masaru Emoto (2003) dari Hado Institute Tokyo telah menguji ini terhadap segelas air yang dibacakan kalimat-kalimat positif. Kristal air berubah menjadi baik. Tidak sekedar halal, jenis air yang baik seperti ini yang seharusnya sering kita minum.

Oleh sebab itu, air Zamzam menjadi berkah bukan karena sekedar unsurnya yang baik. Kristalnya juga terbentuk dari doa para nabi dan orang-orang shaleh. Dalam tasawuf, ini dikenal dengan “air tawajuh”. Air yang dizikirkan dengan Kalimah-Kalimah Suci. Konon lagi jika ditalqin oleh sosok nabi dan para imam/wali. Pun daging kurban yang dipotong dengan azan dan Kalimah-Kalimah Suci menjadi daging yang baik. Memakan daging yang mengandung unsur-unsur ilahiah ini akan membawa kita semakin kuat beribadah dan merasakan kehadiran Allah (muraqabah).

Menariknya, Kalimah-Kalimah Suci ini tidak hanya kita bacakan saat menyembelih sapi dan kambing. Selama empat hari tanpa henti; takbir, tahmid, tasbih dan tahlil terus dikumandangkan. Seharusnya, gema ini (jika Kalimahnya asli) mampu mentransfer energi positif ke relung jiwa kaum muslimin. Namun, semakin hari kalimat-kalimat suci yang kita alunkan terkesan semakin bermasalah. Suara azan sekalipun yang seharusnya ketika didengar bisa melembutkan qalbu-qalbu etnis Cina, justru semakin dimusuhi. Ada apa ini?

Pun wuquf di Arafah. Yang seharusnya hadir adalah Allah, kini yang datang justru angin ribut.

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

 powered by PEMUDA SUFI/Said Muniruddin
/The Zawiyah for Spiritual Leadership

Jumat, 20 Mei 2022

Mengenal Tiga Jenis Tasawuf

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. 

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, kata Nabi SAW. Misi irfan atau sufismenya kental sekali: penyempurnaan atau kekeramatan akhlak (makarimal akhlak). Sementara tauhid (akidah) dan syariat (fikih) hanya untuk membentuk dasar-dasarnya saja (dengan cara meyakinkan manusia untuk percaya kepada adanya Allah, lalu memaksa mereka melakukan berbagai ritual fisik untuk menyembah-Nya, walau Allah sendiri tidak pernah bisa dirasakan kehadiran-Nya). Tasawuflah yang mengantarkan itu semua pada bentuk yang sempurna.

Terkait dengan pembentukan akhlak, tasawuf itu terbagi tiga. Mulai dari tasawuf falsafi (tasawuf teoritis), tasawuf akhlaki (adab tasawuf) sampai kepada tasawuf irfani (suluk atau makrifatullah).

Pertama, “Tasawuf Falsafi” (Tasawuf Tauhid/Ontologi Tasawuf/Ilmu Tasawuf)

Ini jenis tasawuf yang sifatnya teoritis. Mirip dengan filsafat tauhid (kalam/teologi), aktifitasnya mengkaji dan memahami hakikat dari eksistensi dengan cara yang unik. Jika filsafat teologi berusaha memahami Tuhan secara rasional, tasawuf falsafi mencoba menemukan bahasa akal untuk menjelaskan berbagai pengalaman mistis. Sehingga lahir konsep-konsep semacam ittihad, wahdatul wujud, gradasi wujud (isyraqiyyah), insan kamil, nur muhammad, tajalli, musyahadah, mukasyafah, fana, baqa, serta terma-terma ilahiah dan kondisi-kondisi batiniah lainnya.

Tasawuf ini fokus pada kemampuan ‘aqliyah (berfikir), termasuk kajian dan baca-baca kitab. Pekerjaan para murid mendengar tausiah bahkan diskusi. Yang disasar adalah kesadaran kognitif (otak). Diharapkan, dengan banyak membaca dan mendengar, para murid memahami ruang lingkup tasawuf.

Tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada Allah. Tasawuf ini hanya membawa murid sampai pada level “mengetahui” berbagai filosofi tentang dirinya, Tuhannya, dan alam semesta; serta relasi antara ketiganya.

Kata para arif: “1000 gelas anggur tidak akan memabukkan, sampai engkau meminumnya. Pun 1000 kitab yang kau baca tidak akan membawamu kepada Tuhan, sampai engkau bersedia menempuh jalan.” Oleh sebab itu, bertasawuf harus melampaui kajian dan ceramah.

Kedua, “Tasawuf Akhlaki” (Tasawuf Syar’i/Fikih Tasawuf/Adab Berguru/Etika)

Tasawuf ini berfokus pada birokrasi atau aturan-aturan formal untuk membentuk sikap dan perilaku murid. Targetnya adalah perbaikan langsung moral dan etika. Tasawuf ini menekankan pada adab lahiriah dan batiniah (ada yang menyebutnya dengan “hadap”) dalam berguru. Sehingga terkenal aturan: “dahulukan adab daripada ilmu”. Kalau sekedar berilmu, iblis lebih alim. Semua kitab sudah dibacanya. Tetapi ia angkuh, merasa paling benar. Kepatuhannya kepada Allah tidak ada.

Jadi, tasawuf akhlaki ini sudah bernilai praktis. Batin seseorang ikut dibentuk dengan berbagai aturan dan kebijakan. Sehingga ia memiliki sifat jujur, adil, ikhlas, murah hati, rajin, patuh, selalu dalam keadaan bersuci, dan lain sebagainya. Pola ketat pendidikan akhlak ini ditemukan dalam jamaah sufi, atau disebut “tarekat”. Mereka membentuk ahlus shuffah, kelompok-kelompok sosial dengan berbagai aturan dan bentuk-bentuk kedisiplinan.

Untuk mencapai ini, sering ditemukan bentuk-bentuk ketaatan kepada ulil amri (guru spiritual). Semua yang ingin menemui Allah diwajibkan ‘sujud’ kepada Adam (sebuah objek wasilah atau kiblat material yang dalam dirinya terdapat entitas maksum nurullah). Disinilah dalam tasawuf atau irfan dipercayai adanya nabi, imam-imam, walimursyid, atau pembimbing ruhani.

Namun lagi-lagi, tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada penyaksian atau merasakan langsung akan keberadaan Allah (musyahadah). Mereka hanya diajari menjadi baik, merasakan seolah-olah Allah melihat mereka. Namun terbentuknya dasar-dasar akhlak (hilangnya ego/keakuan) melalui adab dan ‘ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah) dalam kelompok sosial, menjadi prasyarat untuk sampai kepada Wajah Allah yang hakiki.

Ketiga, “Tasawuf Irfani” (Tarekatullah/Makrifatullah)

Inilah puncak atau jenis tasawuf yang dapat mengubah, mengembalikan manusia kepada jati diri yang fitrah.

Antara hamba dengan Allah ada “jarak” yang memisahkan (hijab). Tasawuf ini merintis jalan untuk kembali kepada Allah, ke asal yang suci. Ini yang disebut “mati sebelum mati” (hadis). Sejak hidup di dunia harus ada usaha untuk sampai, terhubung dan kembali menyaksikan-Nya. Sebab, jika di dunia kita buta, di akhirat juga begitu (QS. Al-Isra: 72). Itulah pendakian ruhani atau disebut sayr (perjalanan) wa suluk (bepergian). Disini ada yang namanya titik keberangkatan, tempat tujuan, stasiun-stasiun (makam) serta kondisi-kondisi yang akan dialami (fenomena-fenomena spiritual) selama perjalanan pulang.

Dalam tasawuf, roh manusia dipandang sebagai organisme hidup. Dari tahap lahir hingga dewasanya, ia harus terus diberi “gizi” agar mengenal Allah. Perjalanan ruhani adalah sebuah proses pendewasaan wadah spiritual ini, yang dimulai dari ritual taubat sampai kepada berbagai bentuk dan jenjang meditasi (dzikir). Praktik tasawuf ini terpusat pada aspek pensucian jiwa sehingga memungkinkan baginya untuk melakukan perjalanan (mikraj) dari satu langit ke langit lainnya (ke berbagai maqam para nabi), sampai kepada yang tertinggi. Pada praktik tasawuf inilah mulut harus terkunci, akal dan logika juga diharuskan mati. Karena yang dihadapi adalah alam yang sama sekali berbeda.

Dalam Alquran banyak suri tauladan yang sejak di dunia disebut-sebut sudah liqa Allah (bertemu Allah), memperoleh wahyu atau ilham, dan berbicara dengan malaikat. Termasuk pengalaman wisata ruhani Muhammad SAW ke “Sidratul Muntaha” (makam musyahadah, fana dan baqa dalam pengetahuan laduni).

Tasawuf ini bersifat amali dan mesti dibimbing oleh seorang “khidir” atau “jibril” yang sudah bolak balik ke alam ketuhanan. Mursyid harus seorang master yang sempurna, dapat membaca persoalan, isi hati dan kebutuhan muridnya (kasyaf). Jika tidak, muridnya bisa tersesat. Kalau tidak dibimbing oleh orang-orang seperti ini, bisa-bisa di alam sana setanlah yang akan menyambut ruhani kita.

Anda harus berdoa untuk menemukan ‘urafa, guru-guru irfani atau para wali pewaris nabi. Mereka sangat langka dan cenderung tersembunyi. Biasanya spiritualitas mereka tinggi sekali, punya qudrah spiritual semacam mukjizat yang disebut “karamah”. Kemampuan aneh mereka ini berada di luar nalar awam. Dalam kondisi tertentu, mereka tidak terikat dengan hukum alam. Karena ruh mereka sudah berada di alam ketuhanan, tidak terjebak lagi dengan materi, ruang dan waktu. Karena itulah jiwa para murid dapat mereka bimbing dari alam material (jabarut) menuju alam malaikat (malakut), sampai ke alam ketuhanan (rabbani).

Bukan cuma terletak pada guru yang mumpuni. Suksesnya perjalanan ini juga tergantung pada kesungguhan si murid sendiri dalam melakukan olah ruhani (riyadhah). Yang malas-malas tidak akan sampai kemana-mana. Akhlaknya juga akan begitu-begitu saja. Sebab, inti dari tarekatullah adalah sungguh-sungguh (mujahadah). Jika ditekuni, jiwa si murid akan sampai kepada sang Khalik, sehingga terbentuk akhlak yang paripurna (kamil). Itulah gambaran kepribadian Muhammad SAW, sosok sempurna, manifestasi (tajalli) dari keagungan Allah. Rahmatallil’alamin terbentuk pada saat seseorang telah mengalami penyatuan dengan-Nya.

Nabi Muhammad diutus Allah untuk membawa kita kepada tarekat, atau jalan perbaikan akhlak yang pernah ia tempuh. Beliau sangat menginginkan kita untuk mereproduksi pengalaman mistisnya. Alquran sendiri sebenarnya adalah kompilasi pengalaman dan pengetahuan mistis Nabi. Sehingga banyak isinya yang mutasyabihat, sulit dipahami, bahkan harus ditafsir-tafsir.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
powered by PEMUDA SUFI/Said Muniruddin
/The Zawiyah for Spiritual Leadership

Sabtu, 23 April 2022

SEPULUH ARGUMENTASI BAHWA MALAM KE-27 ADALAH LAILATUL QODAR

Apakah bisa dipastikan tanggal 27 Ramadan adalah lailatul qodar?
Untuk memastikan, barangkali lebih berhati-hati jangan.

Tetapi bahwa mayoritas ulama berpendapat malam yang paling diharap lailatul qodar adalah malam 27, maka ini benar. Ath-Thohawi berkata,

وذهب الأكثر إلى أنها ليلة سبع وعشرين وهو قول ابن عباس وجماعة من الصحابة

Artinya : “Mayoritas berpendapat bahwa lailatul qodar adalah malam ke-27. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan sejumlah Shahabat” (Hasyiyah Ath-Thohawi ‘Ala Maroqi Al-Falah hlm 264)

Pendapat ini didasarkan pada sejumlah argumentasi berikut ini,

Pertama, Rasulullah ﷺ salat malam sangat serius dan benar-benar menghidupkan malam dengan ibadah pada malam 27 Ramadan. Abu Dawud meriwayatkan;


عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ
اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ». قَالَ فَلَمَّا كَانَتِ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَتِ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلاَحُ. قَالَ قُلْتُ مَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا بَقِيَّةَ الشَّهْرِ.

Artinya : “Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata; “Kami pernah berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak pernah mengerjakan salat malam bersama kami dalam bulan Ramadhan itu sampai tersisa tujuh malam. Maka (di malam ketujuh tanggal 23 Ramadhan) beliau salat malam mengimami kami sampai berlalu sepertiga malam. Ketika tiba malam keenam (yakni tanggal 24 Ramadhan) beliau tidak mengimami kami salat Malam.

Ketika tiba malam kelima (yakni tanggal 25 Ramadhan), beliau salat malam mengimami kami hingga tengah malam berlalu. Aku (Abu Dzarr) berkata; “wahai Rasulullah, alangkah baiknya sekiranya engkau menambahi lagi salat malam ini.” Abu Dzar berkata; Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang salat (malam) bersama imam hingga selesai, maka akan di catat baginya seperti bangun (untuk mengerjakan salat malam) semalam suntuk.” Kata Abu Dzar; “Ketika tiba malam keempat (yakni tanggal 26 Ramadhan) beliau tidak mengimami kami salat malam. Ketika tiba malam ketiga (yakni tanggal 27 Ramadhan), beliau mengumpulkan keluarganya, isteri-isterinya dan orang-orang, lalu salat malam mengimami kami, sampai kami khawatir ketinggalan “Al Falah.” Jabir bertanya; “Apakah al falah itu?” Jawabnya; “Waktu sahur. Setelah itu beliau tidak lagi mengimami salat malam bersama kami pada hari-hari sisanya di bulan tersebut (yakni tanggal 28 dan 29 Ramadhan).” (Sunan Abu Dawud juz 1 hlm 521)

Dalam hadis di atas disebutkan Rasulullah salat mengimami para Shahabat pada malam ke-23, 25, dan 27. Pada malam ke-23 beliau salat sampai sepertiga malam pertama (kira-kira sampai jam 22.00). Pada malam ke-25 beliau salat sampai tengah malam (kira-kira sampai jam 23.30). Pada malam ke-27 beliau salat sampai menjelang waktu sahur (kira-kira sampai jam 03.30).

Jadi, salat malam yang dilakukan Nabi yang paling lama durasinya adalah malam ke-27. Di malam itu, Rasulullah membangunkan seluruh keluarganya, istri-istrinya dan mengumpulkan orang-orang untuk diajak beribadah. Seakan-akan Rasulullah tahu bahwa malam itu memang malam lailatul qodar sehingga beribadah semalam suntuk (kira-kira dengan durasi 6-7 jam) dan mengajak kaum muslimin untuk menghidupkannya.

Kedua, Rasulullah ﷺ memberitahu bahwa lailatul qodar itu cirinya bisa diketahui dari bentuk bulan. Di malam itu, bulan terbit seperti piring yang dibelah. Bulan berada dalam kondisi ini adalah pada malam ke-27. Muslim meriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَذَاكَرْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَذْكُرُ حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَهُوَ مِثْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ

Artinya “dari Abu Hurairah, ia berkata; Kami membincangkan Lailatul Qadr di sisi Rasulullah ﷺ, maka beliau pun bersabda: “Siapakah di antara kalian yang teringat ketika bulan terbit seperti belahan piring?.” (Shahih Muslim juz 6 hlm 84)

Ibnu Hajar menulis,

قَالَ أَبُو الْحَسَنِ الْفَارِسِيُّ أَيْ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَإِنَّ الْقَمَرَ يَطْلُعُ فِيهَا بِتِلْكَ الصّفة
Artinya : “Abu Al-Hasan Al-Farisi berkata, (bulan seperti piring dibelah) yakni malam ke-27, karena bulan terbit di malam itu dengan sifat seperti itu” (Fathu Al-Bari Li Ibni Hajar juz 4 hlm 264)

Ketiga, Rasulullah ﷺ dalam sejumlah riwayat mengucapkan dengan lugas bahwa lailatul Qodar adalah malam ke-27. Ath-Thobaroni meriwayatkan,

عَنْ مُعَاوِيَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْتَمِسُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ»

Artinya : ‘Dari Mu’awiyah, dari Nabi ﷺ beliau berkata, ‘Carilah lailatul Qodar pada malam ke-27” (Al-Mu’jam Al-Kabir Li Ath-Thabrani juz 19 hlm 349)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَقَالَ تَحَرَّوْهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Artinya : “dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mencarinya (malam lailatul qadar) hendaklah ia mencarinya pada malam ke-27.” Beliau juga menyebutkan: “Carilah pada malam ke-27, yakni lailatul qadar.” (Musnad Ahmad juz 10 hlm 113)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنِّي شَيْخٌ كَبِيرٌ عَلِيلٌ يَشُقُّ عَلَيَّ الْقِيَامُ فَأْمُرْنِي بِلَيْلَةٍ لَعَلَّ اللَّهَ يُوَفِّقُنِي فِيهَا لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ عَلَيْكَ بِالسَّابِعَةِ

Artinya : “dari Abdullah bin ‘Abbas; bahwa seseorang datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata; “Wahai Nabi Allah, saya adalah orang yang sudah tua renta yang sakit sakitan, sulit bagiku untuk berdiri, maka perintahkan kepadaku dengan satu malam semoga Allah menetapkanku bertemu dengan malam lailatul qodar.” Beliau bersabda: ” (Beribadahlah) pada malam ketujuh.”(Musnad Ahmad juz 5 hlm 74)

Keempat, persaksian Ibnu Mas’ud. Suatu saat Rasulullah ﷺ ditanya tentang kapan lailatul Qodar. Lalu beliau menyebut suatu malam sebagai “clue” dan ternyata malam tersebut menurut persaksian Ibnu Mas’ud adalah malam ke-27. Ath-Thobaroni meriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ؟ فَقَالَ:أَيُّكُمْ يَذْكُرُ الصَّهْبَاوَاتِ؟فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: أَنَا بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَذَلِكَ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Artinya : “Dari Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata, ‘Rasulullah ﷺ ditanya tentang lailatul qodar. Beliau menjawab, ‘Siapa di antara kalian yang ingat (malam) shohbawat?’ Abdullah berkata,’Saya wahai Rasulullah, orangtuaku menjadi tebusanmu. (malam itu adalah) Ketika bulan terbit, yakni malam ke-27” (Al-Mu’jam Al-Kabir Li Ath-Thabrani juz 8 hlm 493)

Shohbawat adalah bentuk jamak dari shohba’ (الصهباء). Lafaz ini memiliki dua kemungkinan makna. Pertama, dimaknai nama tempat di dekat Khoibar. Kedua, dimaknai unta yang berwarna merah kehitaman. Ketika Rasulullah menyebut malam shohbawat dan mengajak para Shahabat mengingat-ingat malam itu, seakan-akan Rasulullah ﷺ berusaha menghadirkan memori malam tertentu yang mereka habiskan di dekat Khoibar atau mereka habiskan sambil mengendarai unta merah. Rasulullah ﷺ ingin mengatakan bahwa malam itulah malam lailatul qodar. Ternyata Abdullah bin Mas’ud yang paling mengingat malam itu dan malam itu adalah malam ke-27.

Kelima, Istinbath Ibnu Abbas. Suatu hari Umar bertanya kepada Ibnu Abbas kapan lailatul qodar itu, maka Ibnu Abbas mengatakan malam itu adalah malam ke-27 dengan sejumlah argumentasi. Abdur Rozzaq meriwayatkan,

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: دَعَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُمْ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ؟ فَأَجْمَعُوَا أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَقُلْتُ لِعُمَرَ: «إِنِّي لَأَعْلَمُ، أَوْ إِنِّي لَأَظُنُّ أَيَّ لَيْلَةٍ هِيَ؟»، قَالَ عُمَرُ: وَأَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ؟ فَقُلْتُ: ” سَابِعَةٌ تَمْضِي، أَوْ سَابِعَةٌ تَبْقَى مِنَ
الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَقَالَ عُمَرُ: وَمِنْ أَيْنَ عَلِمْتَ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: «خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ، وَسَبْعَ أَرَضِينَ، وَسَبْعَةَ أَيَّامٍ، وَإِنَّ الدَّهْرَ يَدُورُ فِي سَبْعٍ، وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ مِنْ سَبْعٍ، وَيَأْكُلُ مِنْ سَبْعٍ، وَيَسْجُدُ عَلَى سَبْعٍ، وَالطَّوَافُ بِالْبَيْتِ سَبْعٌ، وَرَمِيُ الْجِمَارِ سَبْعٌ، لِأَشْيَاءَ ذَكَرَهَا»، فَقَالَ عُمَرُ: لَقَدْ فَطِنْتَ لِأَمْرٍ مَا فَطِنَّا لَهُ

Artinya : “Ibnu Abbas berkata, ‘Umar mengundang para Shahabat Nabi Muhammad kemudian menanyai mereka tentang lailatul qodar. Mereka sepakat bahwa malam itu ada pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibnu Abbas berkata, aku berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya aku benar-benar tahu atau aku benar-benar punya dugaan kuat di malam apa malam itu”. Umar bertanya, ‘malam apa itu?’ Aku menjawab, ‘malam ke tujuh yang telah berlalu atau malam ketujuh yang tersisa dari 10 hari terakhir Ramadan’. Umar bertanya, ‘Dari mana kamu tahu itu?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Allah menciptakan tujuh langit, tujuh bumi, tujuh hari, masa berputar dalam tujuh, Allah menciptakan manusia dari tujuh unsur, makan dari tujuh unsur, sujud di atas tujuh tulang, bertawaf sebanyak tujuh putaran, melempar jamroh tujuh kali (dan seterusnya), Ibnu Abbas menyebut sejumlah hal.’ Umar berkata, sungguh engkau telah memahami perkara yang tidak kami pahami'”. (Mushonnaf Abdul Ar-Rozzak Ash-Shon’ani juz 4 hlm 246)

Keenam, mimpi salah satu Shahabat. Ada salah satu Shahabat Nabi yang bermimpi melihat lailatul qodar pada malam ke-27. Muslim meriwayatkan,

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Artinya : “dari Salim dari bapaknya radhiallahu ‘anhu, ia berkata; Seorang bermimpi bahwa Lailatul Qadr terdapat pada malam ke-27 bulan Ramadhan. (Shahih Muslim juz 6 hlm 70)

Ketujuh, sumpah Ubay bin Ka’ab. Ada satu riwayat lugas bahwa salah satu shahabat nabi yang bernama Ubay bin Ka’ab bersumpah bahwa lailatul qodar adalah malam ke-27. Muslim meriwayatkan,

عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ – وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَقَالَ أُبَىٌّ وَاللَّهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِنَّهَا لَفِى رَمَضَانَ – يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِى – وَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ أَىُّ لَيْلَةٍ هِىَ. هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Artinya : “dari Zirr ia berkata, saya mendengar Ubay bin Ka’ab berkata, sementara beliau diberitahu pendapat Abdullah bin Mas’ud (tentang lailatul qodar) dengan berkata, “Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam Lailatul Qadr.” Ubay berkata, “Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu. Lailatul Qadr itu adalah malam, dimana Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menegakkan salat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke-27 (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa syu’a (sinar menggaris).”(Shahih Muslim juz 2 hlm 178)

Bersumpah, apalagi atas nama Allah artinya mengucapkan sesuatu secara tegas dan pasti tanpa keraguan. Jika sesuatu masih diragukan, maka tidak mungkin shahabat berani bersumpah. Riwayat ini menunjukkan Ubay bin Ka’ab sangat yakin tanpa ragu sedikitpun bahwa lailatul Qodar itu malam ke-27

Kedelapan, Istikhroj surat Al-Qodr. Sebagian ulama berpendapat lailatul qodar jatuh pada malam ke-27 dengan menghitung kata dalam surat Al-Qodr. Setelah dihitung, ternyata lafaz hiya (هِيَ) dalam ayat berikut ini,

{سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ } [القدر: 5]

Lafaz hiya (هِيَ) yang kembali pada lailatul qodr adalah kata ke-27. Jadi, hal ini menjadi isyarat bahwa lailatul Qodar adalah pada malam ke-27

Kesembilan, jumlah huruf pada lafaz lailatul qodr. Jika dihitung, jumlah huruf yang ada pada lafaz lailatul qodr (لَيْلَةُ الْقَدْرِ) adalah sembilan. Lafaz lailatul qodr dalam surat Al-Qodr diulang 3 kali. Jadi, jumlahnya 27. Oleh karena itu, ini juga menjadi isyarat lailatul qodar jatuh pada malam ke-27

Kesepuluh,pengalaman ruhiyyah sejumlah orang salih. Ada sejumlah kisah pengalaman-pengalaman individu yang menguatkan bahwa lailatul qodar jatuh pada malam ke-27. Di antaranya adalah kisah An-Nawawi pada waktu masih kecil. An-Nawai adalah ulama besar yang mengarang sejumlah kitab terkenal di Indonesia seperti Riyadhus Sholihin, Arba’in Nawawiyyah, Al-Adzkar dan lain-lain. As-Subki menulis,

وَذكر أَبوهُ أَن الشَّيْخ كَانَ نَائِما إِلَى جنبه وَقد بلغ من الْعُمر سبع سِنِين لَيْلَة السَّابِع وَالْعِشْرين من شهر رَمَضَان فانتبه نَحْو نصف اللَّيْل وَقَالَ يَا أَبَت مَا هَذَا الضَّوْء الَّذِي مَلأ الدَّار فَاسْتَيْقَظَ الْأَهْل جَمِيعًا قَالَ فَلم نر كلنا شَيْئا قَالَ وَالِده فَعرفت أَنَّهَا لَيْلَة الْقدر

Artinya : “ayahnya (An-Nawawi) menceritakan bahwa di malam ke-27 Ramadan An-Nawawi tidur di sampingnya. Usianya waktu itu tujuh tahun. Kemudian An-Nawawi terbangun kira-kira tengah malam lalu bertanya, ‘wahai ayah, cahaya apa ini yang memenuhi rumah?’ maka seluruh keluarga bangun. Ayahnya berkata,’tapi kami tidak melihat apapun’. Ayah An-Nawawi berkata, ‘akupun tahu bahwa malam itu adalah lailatul qodar”. (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Li As-Subki juz 8 hlm 396)

Pengalaman serupa dirasakan oleh Abu Al-Mudhoffar bin Hubairah. Ibnu Rojab menulis,

وذكر الوزير أبو المظفر ابن هبيرة أنه رأى ليلة سبع وعشرين وكانت ليلة جمعة بابا في السماء مفتوحا شامي الكعبة قال: فظننته حيال الحجرة النبوية المقدسة قال: ولم يزل كذلك إلى أن التفت إلى المشرق لأنظر طلوع الفجر ثم التفت إليه فوجدته قد غاب

“Abu Al-Mudhoffar bin Hubairah Al-Wazir bercerita bahwasanya beliau melihat sebuah pintu terbuka di langit di arah utara ka’bah (waktu itu malam jumat) pada malam ke-27. Dia berkata, ‘Aku menduganya di depan kamar nabawi yang suci.’ Dia berkata, ‘Pemandangannya terus seperti itu sampai aku menoleh ke arah timur untuk melihat terbitnya fajar. Kemudian aku menoleh lagi ke arahnya, tetapi (pemandangan itu) telah lenyap”. (Lathoif Al-Ma’arif Li Ibni Rojab hlm 203)

Atas dasar ini, sungguh layak untuk berharap bahwa malam ke-27 adalah lailatul qodar sehingga kita bisa menyiapkan diri beribadah lebih giat di dalamnya.

Wallahua’lam..
Oleh : Ustadz  Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Senin, 28 Maret 2022

Kisah Salman Al-Farisi: Ahlul Bait yang Bergelar Luqmanul Hakim

Salman Al-Farisi adalah anak seorang bangsawan, bupati, di daerah kelahirannya, Persia. Ia sempat tertipu di tengah perjalanannya mencari kebenaran Illahi. Ia diperjualbelikan sebagai budak. Beliau terdampar di Madinah, menjadi budak orang Yahudi . 

Beliau masuk Islam dan Allah membebaskan dirinya. Sebagaimana lelaki normal lainnya, pria bertubuh tegap ini pun sempat jatuh cinta. Sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Hati Salman kepincut perempuan Anshar. Yakni perempuan asli kelahiran Madinah. 

Di kalangan kaum Anshar, Salman sejatinya dianggap sebagai keluarga mereka. Demikian juga kaum Muhajirin . Pendatang dari Mekkah ini juga menganggap Salman bagian dari kaum mereka. Pada waktu perang Khandaq, saat Salman menelorkan ide cerdas membangun parit untuk menahan pasukan kafir Quraish, kaum Anshar mengklaim Salman sebagai kaum mereka. 

“Salman dari golongan kami,” ujar kaum Anshar. Pernyataan kaum Anshar ini direspon kaum Muhajirin. Mereka berdiri dan berkata, “Tidak. ia dari golongan kami!” Rasulullah SAW pun akhirnya memanggil mereka yang bersengketa itu, “Salman adalah golongan kami, Ahlul Bait. Dan memang selayaknyalah jika Salman mendapat kehormatan seperti itu,” ujar Rasulullah SAW. 

Ali bin Abi Thalib memberi gelar Salman dengan “Luqmanul Hakim”. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: “Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering”. 

Dalam kalbu para sahabat umumnya, pribadi Salman telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Kedudukan Salman yang tinggi itu tidak serta merta menjadi magnet bagi perempuan. Dan itu yang tidak diketahui Salman. 

Cintanya Ditolak 

Pada suatu ketika, Salman Al Farisi bermaksud melamar gadis pujaan hatinya itu. Dia mengajak sahabatnya, Abu Darda, untuk menemaninya. Abu Darda merasa tersanjung dengan ajakan Salman itu. Ia pun memeluk Salman Al Farisi dan bersedia membantu. 

Setelah segala sesuatunya dianggap beres, keduanya pun mendatangi rumah sang gadis. Selama perjalanan, mereka tampak gembira. Setiba di tujuan, keduanya diterima dengan tangan terbuka oleh kedua orang tua wanita Anshar tersebut. Baca juga: Belajar Arti Cinta dan Persahabatan dari Salman Al Farisi Abu Darda menjadi juru bicara. 

Ia memperkenalkan dirinya dan juga Salman Al Farisi. Ia menceritakan mengenai Salman Al Farisi yang berasal dari Persia. Abu Darda juga menceritakan mengenai kedekatan Salman Al Farisi yang tak lain adalah sahabat Rasulullah SAW. Dan terakhir adalah maksudnya untuk mewakili sahabatnya itu untuk melamar. 

Mendengar maksud mereka melamar putrinya, membuat tuan rumah merasa sangat terhormat. Mereka senang akan kedatangan dua orang sahabat Rasulullah. Hanya saja, sang ayah tidak serta merta menerima lamaran itu. Sebagaimana diajarkan Rasulullah, sang ayah harus bertanya dulu bagaimana pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Karena jawaban itu adalah hak dari putrinya secara penuh. Sang ayah pun lalu memberikan isyarat kepada istri dan juga putrinya yang berada di balik hijabnya. Ternyata sang putri telah mendengar percakapan sang ayah dengan Abu Darda. Gadis ini juga telah memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. 

Berdebarlah jantung Salman Al Farisi saat menunggu jawaban dari balik tambatan hatinya. Abu Darda pun menatap gelisah pada wajah ayah si gadis. Dan tak begitu lama semua menjadi jelas ketika terdengar suara lemah lembut keibuan sang bunda yang mewakili putrinya untuk menjawab pinangan Salman Al Farisi. “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” kalimat itu membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda berdebar tak sabar. 

Perasaan tegang dan gelisah pun menyeruak dalam diri mereka berdua. “Karena kalian berdua yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda juga memiliki keinginan yang sama seperti keinginan Salman Al Farisi,” katanya. Jelas, jawaban itu sangat mengagetkan. Gadis yang diidam-idamkan untuk menjadi istri Salman Al Farisi, justru kepincut dengan Abu Darda. 

Takdir Allah berkehendak lain. Cinta Salman bertepuk sebelah tangan. Tetapi itulah ketetapan Allah menjadi rahasia-Nya, yang tidak pernah diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah.  Salman Al Farisi tampak tegar. Salman adalah pria saleh, taat, dan juga seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah. 

Dengan ketegaran hati yang luar biasa ia justru memekik: Allahu Akbar! Salman Al Farisi girang. Bahkan ia justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Salman ikhlas memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu, termasuk mahar, kepada Abu Darda. Ia juga akan menjadi saksi pernikahan sahabatnya itu. Salman menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Tentang Abu Darda Salman dan Abu Darda adalah karib. Mereka berdua dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW. 

Abu Darda memiliki kebiasaan luar biasa terhadap para sahabatnya. Beliau selalu mendoakan saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya ketika ia sedang bersujud. Ia sebut nama-nama para sahabatnya satu persatu di saat berdoa. Ada yang menyebut nama asli Abu Darda adalah Uwaimir bin Malik al-Khazraji. Beliau termasuk sahabat yang akhir masuk Islam. Akan tetapi, beliau termasuk sahabat yang bagus keislamannya, seorang faqih, pandai dan bijaksana. 

Abu Darda RA memilih hidup zuhud. Tatkala suatu kali tamu-tamunya bertanya ke mana perginya kekayaannya selama ini, Abu Darda menjawab, “Kami mempunyai rumah di kampung sana. Setiap kali memperoleh harta, langsung kami kirim ke sana. Jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki sehingga kami sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa.” 

Suatu ketika Salman RA mengunjungi Abu Darda RA. Dia melihat Ummu Darda memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus. “Wahai Ummu Darda, kenapa engkau berpakaian seperti itu?” Salman bertanya keheranan. “Saudaramu Abu Darda sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu salat malam,” jawab Ummu Darda. Lantas datanglah Abu Darda dan menghidangkan makanan kepadanya. “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa,” ujar Abu Darda kemudian. “Aku tidak akan makan hingga engkau makan,” sambut Salman.

Lantas Abu Darda pun ikut makan. Tatkala malam telah tiba, Abu Darda pergi untuk mengerjakan salat. Akan tetapi, Salman menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah”. Maka Abu Darda pun menurut. Dia pun tidur. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak salat, dan Salman menyuruhnya tidur lagi. Ketika malam sudah lewat Salman membangunkan Abu Darda. Keduanya mengerjakan salat. Selesai shalat, Salman berkata kepada Abu Darda.

 “Wahai Abu Darda, sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu. Badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.” Selanjutnya Abu Darda mendatangi Rasulullâh SAW dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Nabi SAW menjawab, “Salman benar".

(Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Senin, 28 Maret 2022 - 05:15 WIB oleh Miftah H. Yusufpati dengan judul "Kisah Salman Al-Farisi: Ahlul Bait yang Bergelar Luqmanul Hakim").


Rabu, 16 Februari 2022

Ramadhan 1443 H Segera Mengunjungi Kita

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semangat beraktivitas _meraih berkahnya waktu di pagi hari, semoga kita senantiasa dikaruniakan sehat, selalu bersyukur dan bersabar serta istiqamah dalam melaksanakan semua Perintah dan meninggalkan semua Larangan Allah Subhanahu wa ta'ala.

امين يا الله يا مجيب السائلين

Bismillah, Washalatu Was Salamu 'ala Rasulillah, ama ba'du...

SIAPKAN BEKAL RAMADHAN MULAI HARI INI
_____________
Kaum muslimin rahimakumullah, alhamdulillah Allah Ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk menghirup udara dan memanfaatkan waktu sampai detik ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, hari berganti pekan ,pekan pun berganti bulan. Tak terasa, 47 hari lagi RAMADHAN* in sya Allah.....

Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Datangnya sekali setahun saja. Sungguh sayang kalau ia berlalu sia-sia.

Seseorang akan menyesal....
Bila terjun dalam peperangan......
Tapi tanpa persiapan.....

Seseorang akan menyesal....
Bila dapati Ramadhan
Tapi tanpa bekal mapan...

Kalau tahun lalu, kita menyongsong Ramadhan dengan tangan kosong. Tahun ini kita berusaha mempersiapkan bekal ilmu jauh hari sebelumnya.

Kalau tahun lalu, kita alpa membaca Al-Quran. Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini kita bisa banyak membaca dan mentadabburinya.

Kalau tahun lalu, puasa kita hanya sebatas lapar dan dahaga. Tahun ini kita berjuang menggandengkan puasa dan amal shalih lainnya.

Kalau tahun lalu, kita sibuk dengan baju baru dan dekorasi rumah. Tahun ini kita berusaha lebih bijak dalam menentukan prioritas kesibukan.

Ramadhan sudah di ambang pintu kita, Tamu istimewa kaum mukminin...
Mari menyambutnya dengan Ilmu, Agar meraih jannatun na'iim.

Bekal ilmu yang dikumpulkan lebih awal insyaallah akan mendatangkan banyak kebaikan bagi kita pada bulan Ramadhan kelak.

Mari siapkan diri kita secara lahir bathin untuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia.
Apabila kita berdoa meminta kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan, maka ️jangan lupa untuk berdoa kepada Allah agar memberikan *BAROKAH* untuk kita dalam mengisi Ramadhan.

Sebab yang penting bukan bertemu Ramadhan, tapi yang terpenting adalah......

AMAL APA YANG AKAN KITA KERJAKAN DI BULAN RAMADHAN!!

اللَّهُمَّ أَظَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي،
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحتِسَابًا،
وَارْزُقْنِي فِيهِ الْجدّ والاجتِهَادَ وَالْقُوَّةَ وَالنَّشَاطَ،
وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السآمَةِ وَالفَتْرة وَالْكِسَلِ وَالنُّعَاسِ،
وَوَفِّقْنِي فيهِ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَاجْعَلْهَا خَيْرًا لِي مِنْ أَلْفِ شَهْرِ

Ya Allah, Ramadhan telah menghadap dan hadir. Karenanya, cerahkanlah Ramadhan untukku, dan sampaikanlah aku kepadanya, dan selamatkanlah aku (dari segala penghalang darinya) di bulan Ramadhan, serta terimalah amal-amal Ramadhan dariku...
Ya Allah, anugerahilah aku berpuasa padanya, dan sholat malam padanya, karena sabar dan mencari pahala. Anugerahilah aku padanya kegigihan, kesungguhan, kekuatan, dan semangat...

Lindungilah aku padanya dari rasa bosan, lemah semangat, malas, dan mengantuk...
Berilah aku taufik pada bulan itu untuk mendapatkan Lailatul Qadar, dan jadikanlah malam itu lebih baik bagiku dibandingkan 1000 bulan...
(Ath-Thabrani dalam ad-Du’aa no. 914, Abul Qasim al-Ashbahani dalam at-Targhib wat Tarhib no. 1784, dan Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Akhbar ash-Shalah no. 129, sanadnya hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh DR. Muhammad Sa’id al-Bukhari dalam tahqiq-nya terhadap Kitabud Du’aa hal 1227)

(Abu Syamil Humaidy حفظه الله تعالى)

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb...
(dari wa os-vi/91/telkom/@gus)

Senin, 17 Januari 2022

Sang Lentera Penerang: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Ketika Istighfar Nabi Adam tidak didengar selama puluhan tahun, lalu Nabi Adam teringat dengan tulisan nama Muhammad di pintu Arasy, lalu Adam berdoa, "Ya ALLAH ampunilah aku dengan haq Muhammad," maka ALLAH pun mengampuni Adam dan Hawa. Dalam Injil Barnabas ditulis bahwa Adam mengukir nama Muhammad di kuku jempolnya dan selalu diciumnya jempol tersebut.

Kelak di akhirat umat Nabi Nuh membantah jika Nuh pernah memberi peringatan dan berdakwah kepada mereka, lalu nabi Nuh meminta tolong kepada nabi Muhammad untuk menjadi saksinya. Nabi Muhammad pun menjadi saksi dengan membaca kisah Nuh di kitab al-Quran.

Setelah Nabi Ibrahim mengetahui jika dari keturunan anaknya Ismail akan lahir Nabi Muhammad, maka Nabi Ibrahim memohon agar namanya kelak selalu diucapkan oleh umatnya Muhammad, dan ALLAH pun menjadikan nama Ibrahim disebut dalam bacaan tasyahud di setiap sholat.

Ketika Nabi Yusuf dijebloskan kedalam sumur dan ditinggalkan oleh saudara-saudaranya, Yusuf pun menangis dan merengek didalam sumur sendirian, lalu diperintahkan oleh malaikat Jibril agar Yusuf mengganti rengekannya dengan bershalawat kepada nabi Muhammad, dan esoknya Yusuf pun dikeluarkan dari sumur oleh rombongan kafilah yang lewat.

Nabi Musa mulanya menyangka jika umatnya adalah mayoritas, namun setelah diberitahukan jika umatnya Nabi Muhammad lebih utama dan mayoritas, maka nabi Musa menginginkan agar dijadikan umatnya nabi Muhammad, namun ALLAH menolaknya lalu menggantinya dengan nama Musa akan disebut lebih banyak di kitab Al-Quran.

Ketika Nabi Daud sedang bertasbih bersama burung-burung, Daud pun heran dan takjub mendengar suara dari seekor ulat di pohon yang sedang bershalawat untuk nabi Muhammad dan umatnya.

Impian Nabi Isa adalah ingin bisa membuka terompah (sandal) nabi Muhammad lalu membasuh kedua kakinya. Dan Isa bercerita kepada para sahabatnya, bahwa kelak di akhirat nabi Muhammad akan berbicara dengan ALLAH layaknya seorang teman.

Semoga sholawat dan salam dari Allah Subhanu Wata'ala Yang Maha Baik, Maka Kasih dan Penyayang, dari para malaikat yang dekat dengan-Nya, serta dari para nabi dan dari kaum shiddiqin, dari para syuhada dan dari kaum sholihin, juga dari semua yang bertasbih kepada-Mu, dilimpahkan kepada junjungan kami Muhammad bin Abdullah, penutup para nabi, pemimpin para rasul, imam kaum bertakwa, utusan Tuhan Pemelihara alam semesta, saksi yang memberikan kabar gembira, penyeru kepada-Mu dengan izin-Mu, sang lentera yang menerangi."

*آمـــــــــــين آمـــــــــــين*
*آمـــــــــــين يَآرَبْ العالمين*
.

Jumat, 14 Januari 2022

Naskah Khutbah Jum'at: Menjadi Penolong Agama Allah...!!!

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
(QS Muhammad [47]: 7)

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, yang telah mengaruniakan kita semua Iman dan Islam. Dialah Yang MahaBenar dan MahaAdil. Yang menguasai alam semesta. Yang MahaMengetahui apa yang terjadi di muka bumi dan di langit.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, keluarga, sahabat, serta umatnya hingga Hari Kiamat.
Bertakwalah kepada Allah, kapan pun dan di mana pun Anda berada. Taati semua perintah Allah dan jauhi semua larangan-Nya. Insyaallah, siapa yang bisa melakukan itu, pasti Allah akan angkat derajatnya.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Penistaan agama tak kenal kata berhenti. Terus terjadi. Yang terakhir, ada seorang politikus menulis status di salah satu platform media sosial, ...*“Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah, harus dibela.”

Ada sebagian kalangan yang membela dan mendukungnya. Mereka berpendapat bahwa Allah memang tak perlu dibela. Menurut mereka, Allah itu Mahaperkasa dan Mahakuat. Allah tak memerlukan pembelaan dari manusia yang lemah. Membela Allah sama artinya menganggap Allah itu lemah. Begitu opini mereka.

Perhatikan...!!!
Sikap seperti ini jelas salah besar. Kita, kaum Muslim harus bisa membedakan ...Ranah Akidah dengan Ranah Amal.

Dalam Ranah Akidah, setiap Muslim wajib mengimani bahwa Allah Mahakuat (Al-Qawiy), Mahaperkasa (Al-‘Azîz) juga Mahakokoh (Al-Matîn). *Tidak ada yang dapat mengalahkan kekuasaan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

مَا اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَا اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Aku makan. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki, Pemilik Kekuatan Yang Mahakokoh (TQS Adz-Dzariyat [51]: 57-58).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan bahwa segala sesuatu pasti akan binasa, ...*kecuali Allah Subhanu Wa Ta'ala sendiri yang tidak binasa:*

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan (TQS al-Qashash [28]: 88).
*Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,*

Itu adalah ranah akidah atau keimanan. Namun, dalam Ranah Amal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslim untuk membela agama-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:*

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sungguh Allah akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa (TQS al-Hajj [22]: 40).

Allah Sbhanahu Wa Ta’ala juga memerintahkan kaum Muslim agar menjadi para penolong agama-Nya:

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (TQS Muhammad [47]: 7).

Syaikh Ibrahim al-Qaththan dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini, ...*“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah—yakni dengan menolong syariah-Nya, menegakkan hak-hak Islam, berjalan sesuai dengan manhaj-nya yang lurus—niscaya Allah menolong kalian atas musuh-musuh kalian.

Inilah janji yang benar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sungguh Dia telah melakukan demikian untuk kaum Mukmin yang shiddiq dari kalangan generasi sebelum kita. Karena itu sekarang kita pun dituntut untuk menolong agama Allah dan berjalan pada manhaj-Nya sampai Allah menolong kita dan mengokohkan kedudukan kita. Allah tidak pernah mengingkari janji.” (Al-Qathhan, Taysîr at-Tafsîr, 3/242).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam juga pernah berpesan kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu agar menjaga agama Allah:

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

Jagalah (agama) Allah, niscaya Dia menjaga kamu (HR at-Tirmidzi).
Berkaitan dengan hadis ini, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan, “Maknanya, jagalah batas-batas-Nya, hak-hak-Nya dan larangan-larangan-Nya. Menjaga hal itu adalah dengan menepati perintah-perintah-Nya dengan ketundukan, menjauhi larangan-larangan-Nya, tidak melanggar batas-batas-Nya…” (Ibnu Rajab, Jâmi’ al-Ulûm wa al-Hikam, hlm. 462).

Jadi, wajib dipahami oleh umat bahwa membela Allah yang dimaksud dalam nas-nas di atas adalah membela kemuliaan agama-Nya dan syiar-syiar-Nya. Termasuk membela kemuliaan sifat-sifat Allah dari segala tindakan penistaan.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Dalam Sîrah Ibnu Hisyâm diriwayatkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memukul dengan keras wajah seorang pendeta Yahudi bernama Finhash karena dia mengolok-olok Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia menyebut Allah miskin, sedangkan kaum Yahudi kaya.

Ejekan ini berkaitan dengan perintah Allah kepada kaum Muslim untuk memberikan ‘pinjaman yang baik’ (qardh[an] hasan[an]) di jalan-Nya.

Atas pemukulan tersebut, Finhash mengadukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Namun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membela tindakan Abu Bakar dengan menurunkan firman-Nya:*

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ اْلأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Sungguh Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang berkata, “Sungguh Allah itu miskin, sementara kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar. Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah oleh kalian azab yang membakar!” (TQS Ali Imran [3]: 181).

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Wahai kaum Muslim, bukankah Allah sudah menyeru Anda sekalian untuk senantiasa meletakkan agama ini di atas segalanya..!!!

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَا اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِه فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهۗ وَاللّٰهُ لاَ يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya serta rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik (TQS. at-Taubah [9]: 24).

Apakah ayat ini sudah Anda lupakan..? Ataukah Anda sedang menunggu datangnya ancaman Allah tersebut..? Wal ‘iyyâdzu bilLâh.

Munculkanlah ghirah Anda untuk membela agama Allah. Terapkan Syariah Allah di muka bumi.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

© 2020. All Right Reserved: Dewan Masjid Digital Indonesia (DMDI)

Jumat, 31 Desember 2021

Jangan Menutup Mata atas Kebenaran dan Kesalahan

Saudaraku,
Kita semestinya mengakui kebenaran seseorang tanpa menutup mata atas kesalahannya. Jangan sampai kebencian kita menutup mata kita tentang kebenaran orang lain. 

Demikian pula cinta, hanya karena cinta yang berlebihan menutup kesalahan orang yang dicintainya. Semuanya memiliki kebenaran dan kesalahan, karena itu bertindaklah dengan adil...

Salah satu tantangan berat yang sering menjadi persoalan kita adalah kecintaan dan kebencian secara berlebihan, seringkali dapat menyebabkan kita tidak dapat besikap adil hingga muncul perbuatan zalim...

Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya melarang kezaliman dalam bentuk apapun dan wajib untuk berbuat adil dalam segala sesuatu, Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al Maidah: 

Saudaraku,
Perbuatan zalim menyebabkan pelakunya mendapat keburukan di dunia dan di akhirat, di antaranya:

Orang yang berbuat zalim akan diqishash pada hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya,

أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para sahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. 

Kelak segala kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.”
(HR. Muslim no. 2581).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.”
(HR. Al-Bukhari no. 2449)

Orang yang berbuat zalim mendapatkan laknat dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَوْمَ لا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.”
(QS. Ghafir: 52)

Orang yang berbuat zalim akan mendapatkan kegelapan di hari kiamat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”
(HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).

Jangan sekalipun berbuat zalim karena terancam oleh doa orang yang dizalimi. Doa orang yang terzalimi dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla, termasuk jika orang yang terzalimi mendoakan keburukan bagi yang menzaliminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari no.1496, Muslim no.19)

Orang yang berbuat zalim akan jauh dari hidayah Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
(QS. Al Maidah: 51)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah membuka mata atas kebenaran dan kesalahan, senantiasa berbuat adil dan menghindari kezaliman untuk meraih ridha-Nya...

Aamiin Ya Rabb.
Wallahua'lam bishawab...

Minggu, 19 Desember 2021

Penduduk Surga Pergi ke Pasar Setiap Jum'at

Terdengar aneh memang mendengar kalimat “Pasar Surga”. Iya jelas, karena kita masih berada di dunia.

Benarkah Ada Pasar di Surga? Seperti Apa Keadaan dan Keindahannya?
Keindahan dunia saja sudah membuat kita takjub, bagaimana dengan keadaan surga yang penuh kenikmatan dan keindahannya?

Alam surga bukanlah alam dunia, sehingga alamnya tak bisa dinalar dengan pemikiran manusia di dunia. Salah satu hal menakjubkan di surga – sebagaimana riwayat Rasulullah – adalah adanya pasar surga.

Diriwayatkan oleh Sayyidina Ali RA, Rasulullah Saw pernah bersabda: "Sesungguhnya di dalam surga terdapat pasar yang di dalamnya tidak ada pembeli dan penjual, kecuali beberapa bentuk (gambar-gambar) dari laki-laki dan perempuan. Ketika seseorang menginginkan bentuk (seseorang untuk dirinya), maka ia masuk di dalam pasar itu".

Bentuk dan keadaan dari surga-surga Allah Subhanahu wa ta'ala, sudah banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an dan As Sunnah. Gambaran didalamnya terdapat kenikmatan dan waktu yang tiada batas . Semua itu diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala semata-mata hanya untuk hamba-hamba-Nya yang pantas mendapatkannya.

Salah satu tempat indah yang ada di surga ini, ternyata adalah pasar. Tentang keberadaan pasar di surga dijelaskan dalam buku Ensiklopedia Islam Al Kamil yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri.

Pasar di surga ini bahkan sudah disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis yang diriwayatkan shahabat Anas bin Malik, nabiyullah bersabda,

“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’.” (HR. Muslim).

Lantas seperti apa pasar di surga ini? Apa yang diperjualbelikannya? Siapa pembeli dan penjualnya?

Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, yang dimaksud pasar dalam hadis nabi ialah tempat berkumpulnya penduduk surga. Di sana, para ahli surga berbincang dengan akrab. “Yang dimaksud pasar ialah tempat berkumpulnya manusia, sebagaimana manusia di dunia berkumpul di pasar,” jelas An Nawawi.

Dari penjelasan Imam An Nawawi tersebut, diketahui bahwasannya para penduduk surga saling bertemu di pasar surga. Mereka mengobrol dengan kerabat dan sahabat di dunia. Membicarakan tentang beratnya amal salih yang terbalas dengan surga.

Hal ini diperkuat dengan fatwa para ulama dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, “Pasar di surga adalah tempat bertemunya kaum muslimin satu sama lain supaya bertambah kenikmatan mereka. Mereka merasakan kelezatan saling berbincang, saling mengenang apa yang terjadi di dunia dan membicarakan apa yang mereka dapatkan di akhirat. Mereka bertemu setiap Jumat sebagaimana pada hadits, agar mereka bisa saling berjumpa satu sama lain,”

Namun, fungsi pasar di surga jelas tidak sama dengan pasar di dunia. Pasar surga bukanlah tempat jual beli. Ia merupakan tempat “nongkrong” para penduduk surga.
Namun terdapat perbedaan pendapat tentang hal ini.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa surga memang memiliki pasar, namun tidak ada transaksi di dalamnya. Penduduk surga boleh berbelanja bebas, mengambil barang yang diinginkan tanpa harus membayar.

Sebenarnya, para penduduk surga tak perlu berbelanja ke pasar. Mengingat apapun yang diinginkan di surga, dapat langsung memintanya. Namun bagi sebagian orang, berbelanja menjadi kenikmatan tersendiri dan kenikmatan tersebut akan didapatkan di surga.
Allah Ta’ala berfirman,

يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ ٱلْأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلْأَعْيُنُ ۖ وَأَنتُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az Zukhruf: 71).

Menurut Imam Nawawi, bahwa hadis nabi disebutkan bahwa penduduk surga pergi ke pasar setiap hari Jum’at, hanyalah perkiraan waktu.

Pasalnya, di surga tidak mengenal siang dan malam, serta tidak ada matahari dan bulan.
“Maksud (ucapan nabi) ‘mereka mendatangi setiap hari Jumat’ ialah perkiraan lama waktu setiap Jumat atau sepekan. Tidaklah sepekan memiliki makna yang sebenarnya, karena tidak ada matahari, siang dan malam di surga,” jelas sang Imam dalam Syarh Muslim.

Rasulullah Saw juga menyebut tentang angin utara dalam hadis beliau tentang pasar di surga. Makna angin utara tersebut sesuai dengan budaya bangsa Arab yang terbiasa menanti angin utara dari arah Syam. Angin dari arah utara tersebut dinantikan bangsa Arab karena biasanya membawa air hujan.

Karena itulah angin utara dianggap sebagai kabar gembira. Angin sejuk menggembirakan itu, akan dirasakan penduduk surga saat mereka menjalin keakraban di pasar.
Itulah gambaran pasar surga yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw melalui Sabdanya.
Pasar tersebut hanya bisa dirasakan dan dinikmati bagi mereka yang memiliki amal baik dan Allah berikan rahmat untuk masuk ke surga. Sebaliknya tidak diperuntukan untu hamba Allah yang tidak menjalankan perintah dan tidak menjauhi larangan-Nya.

Bagaimana apakah kalian menginginkan berkunjung ke pasar surga yang sudah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw tersebut?

Jawabannya tidak ada lain kecuali harus mempertebal amal-amal baik agar diri kita pantas untuk dimasukkan ke surga-Nya.

Semoga Bermanfaat (KH. E. Sunidja)
16122021

Kamis, 18 November 2021

Memasuki Usia Senja, Apa yang harus Dipersiapkan? Seperti Apa Tahapannya?

Sumber foto: Annas Indonesia
Ketika memasuki usia senja diatas 50 tahunan, adalah masa-masa yang penuh was-was. Atau ketika memasuki masa pensiun misalnya, terkadang kita bingung. Apa yang harus diperbuat? Bagaimana cara mengisi waktu? Bagaimana kalau sakit? Siapa yang masih bisa diandalkan/
diharapkan? Dan berbagai pertanyaan lainnya. 

Jika kita tak memiliki persiapan, tak sedikit yang mengalami kejatuhan mental. Bahkan tak jarang yang harus berputus asa, untuk segera pamit pada dunia. Berangkat menuju akhirat. Wassalam.

Namun bagi yang saat ini masih eksis di masa senja, gak perlu khawatir. Berikut ini ada beberapa catatan atau sejenis petuah. Siapa tahu bisa dijadikan pegangan. Agar kita dalam menjalani masa tua lebih tegar dan percaya diri.

1. Jika Anda memiliki satu sarang (tempat tinggal/rumah) sendiri, harap jangan Anda tinggalkan sebelum ajal menjemput;
2. Jika masih memiliki pasangan hidup, baik-baiklah hidup bersama dengan seiring-seirama, saling mengisi dan menopang;
3. Jaga dan rawatlah baik-baik kesehatan sendiri dan pasangan kita;
4. Ciptakan kebahagiaan dengan menunjukkan sikap yang lebih baik, loyal dan bijak;
5. Mulai aktif berolahraga dan bergabung dengan komunitas dengan hobi yang sejenis;
6. Mulailah fokus pada aspek religi dan lebih taat menjalankan/mengamalkannya.

Ada beberapa tahapan yang perlu dijadikan pegangan ketika memasuki usia senja.

I. Tahap pertama : 
Jaminan/kepastian

1) Anak memiliki ekonomi yang baik, itu adalah miliknya, milik si anak, bukan milik kita. Anak berbakti pada orang tua, itu adalah kualitas yang baik pada dirinya, walau itu tak lepas dari hasil didikan kita;

2) Ketika kondisi masih bugar dan memungkinkan untuk tetap beraktivitas, maka:

a. Makanlah kalau memang suka dengan makanan tertentu;
b. Pakailah kalau memang suka dengan busana yang diinginkan;
c. Bermainlah sepuasnya, seperti menyalurkan hobi olga atau rekreasi;
d. Jangan lagi terlalu kejam/pelit pada diri sendiri (manjakan diri sendiri);
e. Hari-hari seperti itu tidak banyak lagi, jadi manfaatkanlah dengan baik;
f. Pastikan ada sedikit uang simpanan sendiri;
g. Pertahankan rumah yang dimiliki;
h. Siapkan segalanya (sebelum dan menjelang ajal) untuk diri sendiri;
i. Meski anak memiliki ekonomi yang baik, tapi itu miliknya. Ketika anak berbakti, itu adalah kualitas yang baik pada dirinya. Jangan menolak bantuannya, tapi tetap harus bergantung pada diri sendiri dengan mengatur kehidupan sendiri;
h. Porsi untuk pelaksanaan beribadah lebih diutamakan.

II. TAHAP KEDUA: Kesehatan Diri 

1. Jagalah kondisi kesehatan sendiri sebaik mungkin, hidup mandiri (bersama pasangan) tanpa mengandalkan orang lain jauh lebih baik;
2. Agar di usia senja tetap sehat, bugar dan bahagia, serta dijauhkan dari segala bencana, maka:

a. Mengatur kehidupan dan mengurus diri;
b. Sadar diri kalau kita benar-benar sudah tua, perlahan-lahan, stamina dan fisik itu akan melemah, reaksi pun akan semakin lemah bahkan kurang terkendali;
c. Saat makan, makanlah dengan perlahan, jangan sampai tersedak;
d. Saat berjalan juga jalanlah perlahan, jangan sampai terjerembab;
e. Jangan ngoyo atau memaksakan diri lagi, jagalah kesehatan diri baik-baik;
f. Jangan lagi mencampuri masalah ini dan itu, mencampuri masalah anak atau terkadang mencampuri masalah generasi ketiga (cucu);
g. Bertahun-tahun sudah mengurus ini dan itu, kini saatnya harus sedikit egois, mengurus diri sendiri dengan baik;
h. Jalanilah segalanya dengan santai, bahagia, dan jangan lupa bantu bersih-bersih pasangan di rumah;
i. Jaga dengan baik kesehatan dengan berolahraga secukupnya;
j. Usahakan waktu hidup sendiri (atau bersama pasangan) dengan melakukan rutinitas sehari-hari. Hidup tanpa bergantung pada orang lain akan jauh lebih baik;
k. Biasakan bersedekah/bederma kepada orang-orang kecil/miskin, jangan menawar ketika membeli barang pada orang kecil;
k. Dalam beribadah kita senantiasa berdoa memohon ampunan, kesehatan dan keselamatan dunia akhirat.

III. TAHAP KETIGA: Faktor Psikologis

1. Generasi usia senja seperti kita ini telah mengalami segala pahit getir hidup, tentunya kita berharap perjalanan terakhir dari hidup kita juga bisa kita hadapi dengan tenang;
2. Ketika kesehatan mulai memburuk dan butuh bantuan, maka kita harus siap dengan hari “H” (ýaitu hari tibanya kematian). Walaupun untuk sebagian besar orang tidak bisa melewati tahapan ini. Apa yang harus dilakukan?

a. Aturlah dengan baik suasana hati penuh kepasrahan menjelang tibanya hari itu;
b. Hidup, tua, sakit dan mati merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan, jadi hadapilah dengan tenang penuh percaya diri;
c. Ini adalah perjalanan hidup terakhir, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan, yang penting persiapan dalam menghadapinya sudah dilakukan secara maksimal;
d. Siapkan jauh-jauh hari sebelumnya, maka kita tidak akan terlalu bersedih;
e. Bersikap optimis bahwa Tuhan akan mengampuni kita, namun juga tetap khawatir dan takut atas azab Tuhan, atas perbuatan kita selama di dunia.

TAHAP KEEMPAT: Mengandalkan diri sendiri

Ketika otak (pikiran) kita masih jernih, dan saat penyakit mulai melilit dan tak tersembuhkan serta kualitas hidup memburuk. Apa yang harus kita perbuat?

1. Berani menghadapi kematian, bulatkan tekad agar keluarga tidak perlu lagi direpotkan dengan berusaha menyelamatkan;
2. Jangan membiarkan kerabat handai taulan melakukan segala upaya yang sia-sia (karena memang sudah waktunya berpulang kepada-Nya - jangan melawan takdir).

a. Ketika sudah tua, siapa yang diandalkan/diharapkan ?*
b. Diri sendiri - diri sendiri dan - tetap diri kita sendiri.*


Berikut ini adalah cuplikan dari fragmen 'Apa yang Harus Dilakukan saat Sudah Tua' – Yeh Chin-Chuan (Sarjana Kesehatan Masyarakat dan juga seorang politisi Taiwan)

Saya selalu berpikir setiap orang tua hingga bisa mencapai hidup di atas 80 tahun, maka: 

1. Tidak perlu membatasi makanannya yang harus serba bening;
2. Tidak perlu menurunkan berat badan;
3. Yang paling penting masih bisa makan (nafsu makan bagus). Makanlah apa yang disukai.
Makanlah makanan yang kita anggap paling lezat, agar bisa menikmati hidup dengan lebih bahagia dan ceria;
4. Membatasi orang tua tidak boleh makan ini dan itu, ini bertentangan dengan sifat alami manusia, dan juga tidak ada dasar ilmiahnya;
5. Sebenarnya, semakin banyak bukti ilmiah, orang tua harus makan lebih baik, dengan mengusahakan sedikit lebih gemuk;
6. Perlu makanan lebih baik, supaya ia memiliki lebih banyak kemampuan untuk melawan penyakit, kemampuan untuk melawan depresi;
7. Saya (Yeh Chin Chuan) mendo’akan setiap orang tua bisa menikmati perjalanan hidup terakhir mereka dengan lebih indah dan mengesankan. Jangan sampai meninggalkan penyesalan yang dibawa sampai ke liang lahat;
8. Ada tambahan, jangan pernah merasa tua, karena apabila merasa tua akan timbul Energi Negatif dalam diri kita yang akan membuat diri kita seolah2 sdh tdk bisa melakukan apa2 lagi.
 
Tetaplah beraktivitas yang bermanfaat bagi diri, keluarga & lingkungan sekitar...
TETAP SEMANGAT, CIPTAKAN BAHAGIA...

Rabu, 10 November 2021

Tasawuf Dalam Pandangan Ibn Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ulama Panutan Salafi

Banyak yang beranggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar, karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani, agama Hindu dan Budha. Padahal ini adalah tuduhan dari orang-orang yang tidak memahami tariqah dan tasawuf.

Ada juga yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri dari dunia untuk beribadah kepada Tuhan di gurun pasir Arabia.

Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan dan di malam hari lampu mereka menjadi penunjuk bagi jalan musafir, dan rahib-rahib ini berhati baik, pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia yang ramai walaupun untuk sementara, berhati baik pemurah dan suka menolong.

Tasawuf dan Tariqah adalah korban yang sering dihujat oleh saudara-saudara seiman. Mereka memandang Tasawuf dan Tariqah sebagai sarang bid’ah, hal-hal yang di buat-buat yang tidak pernah diajarkan dalam Islam atau tidak pernah dilakukan dan diperintahkan Rasul.

Dalil utama yang mereka gunakan adalah hadist Nabi Muhammad SAW yang sangat terkenal dan diriwayatkan oleh banyak imam hadist:

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة. رواه أبو دود والترمذي، وقال: حيث حسن صحيح. (رياض الصالحين/ ج 1، ص. 128)

Artinya: “Hindarilah perkara-perkara yang baru (diada-adakan) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan bid’ah itu sesat”.

Lalu bagaimanakah Pandangan Ibn Taimiyah dengan Ibn al-Qayyim? Berikut ini ulasannya!

Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim adalah sepasang guru dan murid yang mereka dikenal karena pemikiran mereka terhadap aqidah yang bertentangan dengan kebanyakan ulama ahlussunnah yaitu mereka beraqidah musyabbihah.

Namun dalam hal tariqah dan tasawuf keduanya sepakat dengan Ahlussunnah Wal Jamaah. Bahkan keduanya juga mendukung dan mengakui kebenaran tasawuf dan tariqah sebagai ilmu untuk membersihkan jiwa manusia.


Ibn Taymiyah misalnya, menyebut para sufi dengan sebutan ahl ‘ulum al-qulub (pakar-pakar ilmu hati) yang perkataannya paling tepat dan paling baik realisasinya (asyaddu wa ajwadu tahqiqan) serta paling jauh dari bid’ah (ab’adu minal bid’ah).

Kata-kata tersebut Ibn Taimiyah menyebutnya dalam kitabnya yang bernama Majmu’ al-Fatawa. Tentu saja ini sangat berlawananan dengan apa yang diungkapkan oleh Wahabiyah, mereka menyebutkan bahwa tariqah dan tasawuf harus dibasmi sebelum memerangi kaum Yahudi dan Nasrani ini bisa dilihat dalam kitab kaifa nafhamu at-Tauhid.

Dalam kitabnya Amradh al-Qulub wa Syifauha pada halaman 62, ketika berbicara tentang surah al-Kafirun, Ibn Taimiyah berkata: Adapun Qul ya ayyuhal kafirun mengundang tauhid amali iradhi, tauhid praktis yang didasarkan pada kehendak, yaitu keikhlasan beragama semata-mata untuk Allah dengan sengaja dan dikehendaki; dan itulah yang dibicarakan oleh Syaikh-Syaikh tasawuf pada umunya. ” Imam-imam Tasawuf menjadikan Allah satu-satunya yang dicintai dengan cinta yang hakiki, bahkan dengan cinta yang paling sempurna”, Amradh al-Qulub wa Syifauha hal. 68.

Adapun Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, dalam kitabnya Madarij as-Salikin, Juz 1, halaman: 464, beliau mengatakan tentang Abu Yazid Al-Bustami dengan redaksi: “Ini (memelihara dan menjauhkan keinginan dari selain Allah yang Maha Suci) seperti kondisi Abu Yazid al-Bustami semoga Allah merahmatinya mengenai berita tentang dirinya ketika Ia ditanya, “Apa yang engkau inginkan (kehendak)? Ia menjawab, “Aku ingin agar aku tidak ingin yang kedua selain Allah SWT”. Inilah hakikat Tasawuf”.

Ini membuktikan bahwa tidak ada yang menolak ajaran kesufian selain mereka yang memang benar-benar bodoh dan menuduh ulama sufi dengan tuduhan yang bathil.

Dalam kitabnya yang lain Badai al-Fawaid, juz 3 halaman 765 (Makkah al-Mukarramah: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz. 1996), Ibn al-Qayyim al-Jauziyah berkata: “Tasawuf dan (merasa) fakir diri (hanya butuh kepada Allah) berada dalam wilayah hati”. Wallahu ‘alam. (pecihitam.org/Tgk Fadhil, S.Pd, M.Pd.
/Dosen Ma'had UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Qurban dan Kedekatan dengan Allah

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.  Diceritakan, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang panglima yang digelari “asadullah” (singa Allah), tubuhnya berge...