Sabtu, 29 Juli 2017

Qurban, antara Syari'ati dan Haqiqi

Tampaknya, momentum Idul Qurban sampai saat ini masih menuntut kita untuk benar-benar berkorban. Artinya, berkorban bukan lagi sekadar memenuhi panggilan syari’at, tetapi karena kondisi nyata ummat yang masih dihadapkan pada situasi yang memprihatinkan, maka perlu direnungkan kembali, bahkan harus dicari makna dan nilai-nilai qurban yang haqiqi.

Dalam perspektif syari’at (fiqh), qurban memiliki makna ritual, yakni menyembelih hewan ternak yang telah memenuhi kriteria tertentu dan pada waktu tertentu, yaitu pada hari nahar (tanggal 10 Dzulhijah) dan hari tasyrik (tanggal 11-13 Dzulhijah). Menurut ulama ahli fiqh, ibadah qurban harus dengan hewan qurban, seperti kambing, sapi atau unta, dan tidak boleh diganti dengan lainnya, seperti uang atau beras. Meski demikian, mereka sepakat bahwa hukum berqurban hanyalah sunnat alias tidak wajib.

Dari pemahaman syari’ati (fiqhiyah) tersebut terkesan bahwa ibadah qurban hanya merupakan ekspresi sikap determinan ubudiyah yang dianjurkan bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan materi. Qurban terkesan hanya rutininitas ibadah tahunan. Bahkan terkesan pula sekedar acara pesta pora daging yang dibungkus ritualistik dan rutinitas ubudiyah belaka.

Pemaknaan dan pemahaman yang cenderung literalis-dogmatis ini akan membuat teks qurban menjadi kedaluwarsa dan kenyataannya kurang memberi motivasi kuat bagi setiap muslim untuk memenuhi panggilan berqurban. Padahal secara hermeneutis, ketetapan Tuhan tentang qurban (Qs. al Kautsar, 1-2) memiliki arti transformatif saat dibaca dengan referensi setting personal, sosio-kultural dan berbagai konteks hidup dan kehidupan ummat.

Syari’at qurban diadopsi dari Nabi Ibrahim. Di masa itu masyarakat bercorak pastoralis, karena itu investasi dan komoditas yang paling berharga adalah pemeliharaan binatang ternak, sehingga pemberian makanan berupa daging merupakan pengorbanan bernilai tinggi. Demikian pula pada era Nabi Muhammad Saw. Maka tentu saja, yang berlaku adalah subyektivitas yang disesuaikan dengan kebutuhan zamannya, sehingga qurban berbentuk hewan ternak merupakan manifestasi solidaritas tertinggi. Tetapi dalam konteks sosio-kultur masyarakat Indonesia sekarang ini, hewan ternak bukan lagi sesuatu yang sangat berharga, sehingga pemberian daging qurban menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Kondisi seperti ini menuntut adanya penterjemahan ulang (reinterpretasi) makna qurban yang lebih kondusif dan konstekstual dengan perkembangan zaman. Sebab, hanya dengan cara ini refleksi komitmen sosial yang hendak dibangun melalui qurban akan dapat memenuhi makna luhur ibadah qurban, yakni terdistribusikannya nilai-nilai kemanusiaan secara universal.

Oleh karena itu marilah kita renungkan kembali makna Idul Adha yang juga disebut Idul Qurban. Dalam bahasa Arab, qurban berasal dari kata qaraba, seakar dengan kata ’karib’ dalam bahasa Indonesia, yang berarti dekat. Karenanya, dalam konteks Idul Adha, pesan yang sangat mendasar adalah bahwa agar manusia tidak sesat dalam perjalanan hidup menuju ridha Tuhan, maka harus selalu menjalin kedekatan dengan-Nya dan merasakan kebersamaan dengan-Nya setiap saat. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn. Kita semua milik-Nya, dari-Nya kita berasal, dan kepada-Nya kita kembali (Qs. al Baqarah, 156).

Tetapi karena manusia mudah sekali terpedaya oleh kenikmatan sesaat, maka Allah memberi metode dan bimbingan untuk selalu melihat kompas kehidupan, berupa shalat. Karena itulah seruan shalat pun diawali dengan Allâhu Akbar, begitu pula yang diserukan pada Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan dalam adegan shalat pun kata yang paling banyak diucapkan adalah Allâhu Akbar. Ini mengandung pelajaran bahwa kita harus selalu sadar bahwa prestasi apapun yang kita raih, harta yang kita miliki, jabatan yang kita pangku, semuanya kecil di hadapan Allah. Bahkan semua itu baru bermakna bila berfungsi meningkatkan kedekatan kita kepada-Nya. Kesadaran ini diharapkan dapat mengurangi keangkuhan diri, dan menjadi penghancur ’berhala’ hawa nafsu.

Bahkan secara sangat dramatis penghancuran berhala hawa nafsu tersebut dicontohkan dalam drama penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap putranya sendiri, Ismail. Secara fisik, memang peristiwa itu tidak jadi dilakukan, karena posisi Ismail digantikan dengan hewan ternak. Namun secara mental-spiritual perintah Tuhan telah siap dijalankan oleh Ibrahim, Ismail, dan Hajar -sang istri.

Peristiwa ini juga mengandung pelajaran bagi para pemimpin. Berhati-hatilah terhadap godaan anak. Anak adalah simbol dan obyek kecintaan pada duniawi. Demi anak, orang tua mau berkorban apa saja untuk menggembirakannya. Namun jika tidak hati-hati, seorang pemimpin bisa jatuh karena kecintaan yang berlebihan pada anaknya, sehingga bisa mengalahkan cintanya pada Tuhan dan nasib rakyat.

Ibrahim adalah sosok pemimpin, sehingga pesan Tuhan kepada Ibrahim sesungguhnya berlaku pula untuk kita. Kalau cinta kita pada Ismail, yaitu anak-anak kita sendiri, sampai melupakan cinta kita pada Tuhan dan fakir miskin, maka negara ini tak lama lagi akan hancur. Sesungguhnya cinta pada anak adalah proyeksi nafsu dan ego kita yang tidak hanya terarahkan pada anak, tetapi pada materi, jabatan, dan popularitas.

Jadi ”egoisme perusak” yang harus disembelih, dan ‘berhala’ hawa nafsu yang harus dikorbankan. Inilah spirit dan pesan ibadah qurban, yang harus diterjemahkan dan diwujudkan dalam amal nyata, terutama berupa santunan yang benar-benar diperlukan oleh mereka yang tergolong dhu’afa, tertindas dan bernasib malang. Sebab, yang dilihat oleh Allah bukanlah wujud pemberian dagingnya, melainkan ketaqwaannya.

Sayangnya, masih banyak orang menyembelih hewan qurban hanya karena ini bagian dari doktrin keagamaan. Bahkan sebagian orang dengan menyembelih domba atau sapi seakan di tangannya sudah tergenggam tiket masuk surga.

Oleh karena itulah hakikat ibadah qurban perlu kita pahami secara mendalam. Jangan sampai kita merasa telah beragama, padahal yang terjadi justru mendustakan agama. Na’ûdzu billâhi min dzâlik.***

Penulis: Asmuni Syukir (Majelis Ta’lim & Bengkel Hati Al-Qolam Jombang)

** Artikel ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Al-Qolam

Minggu, 25 Juni 2017

Khutbah Idul Fitri 1438H

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd. Kaum muslimin rahimakumullah … Pagi ini, kita berkumpul di sini, pada detik-detik penuh makna, saat desah nafas dan detak jantung menyatu pada takbir, tahlil dan tahmid. Pagi ini kita berkumpul di sini, menggenapkan suka, memadukan jiwa, menyambung asa .. atas Ramadhan tercinta… semoga taqwa menjadi muara atas semua juang dan usaha kita. 

Kaum muslimin a’azzakumullah … Saat ini, ketika takbir kita kumandangkan dengan penuh suka dan gembira. Ternyata di sana, nun jauh di negeri- negeri seberang, ada saudara kita yang tetap gembira dengan takbirnya walau bau mesiu mengiringi, walau dingin menusuk menyertai, walau lapar dan dahaga setia membersamai. Bahagia dan gembira selalu hadir, mengapa? Karena bahagia itu di sini, di dalam jiwa ini. Ketika iman telah membalut qalbu, memberinya rasa terindah, ya, semuanya karena iman, karena indahnya bergantung kepada Allah. 

Oleh karena itu, bergembiralah, berbahagialah, menyatulah pada tasbih semesta yang terus membahana pada setiap putaran bumi, pada setiap tetes embun dan kicau burung atau hangat mentari pagi. قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus: 58) Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd. 

Kaum Muslimin a’aanakumullah Saat ini, di negeri ini, yang dikenal dengan nama Nusantara atau Indonesia. Zamrud khatulistiwa julukannya, tanah air yang merdeka dari para penjajah. Di negeri yang indah ini, tempat iman bertahta, ternyata ada suara-suara sumbang yang mengusik telinga, mempertanyakan cinta tanah air kaum muslimin, mempertanyakan nasionalisme umat Islam. Ada apa ini? Apakah anda lupa bahwa tanpa umat Islam, tak ada yang bernama Indonesia. 

Apakah anda lupa bahwa negeri ini merdeka oleh pekik takbir Allahu Akbar? Apakah anda lupa bahwa penjajah terusir atas pengorbanan berjuta syuhada yang darahnya mewangi membasahi ibu pertiwi. Apakah anda lupa pada Sultan Agung, Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo? Atau anda tak kenal Syekh Yusuf dan Sultan Hasanuddin? Atau anda tak tahu siapa Tuanku Nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol dan Sultan Baabullah, Atau Fathillah yang berjaya di Jayakarta? Ataukah anda sudah lupa pada Sudirman, Sutomo, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Muhammad Natsir atau bahkan sang guru Bangsa Hadji Oemar Said Cokroaminoto? 

Mereka semua anak bangsa yang telah membuktikan cintanya pada negeri ini dengan keringat, darah dan air mata. Cinta mereka suci, karena bagi mereka cinta negeri haruslah karena Ilahi Rabbi. Cinta negeri tanpa cinta pada Ilahi tak ada rasa dan arti. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd. 

Kaum Muslimin yang berjaya! 

Kitalah pewaris sejati negeri ini, kitalah yang paling berhak atas setiap jengkal dan incinya. وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبادِيَ الصَّالِحُوْنَ Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Zabur setelah Adz-Dzikr (Taurat), Bahwasanya bumi itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al Anbiya : 105) Wahai para pahlawan kesiangan, wahai para jawara dunia maya, anda tak lebih dari bidak-bidak catur para durjana tak bertuhan, para komunis terlaknat, dan para liberalis pengkhianat. Umat dan bangsa ini tidak takut pada kalian, tidak gentar pada setiap gertak sambal kalian! Intimidasi kalian kepada para ulama dan pemimpin umat tak akan berarti apa-apa biiznillah. Hati mereka terlalu manis atas setiap pahit dan busuknya makar kalian. 

Merekalah sesungguhnya garda terdepan negeri ini, merekalah pewaris sejati, para pahlawan sejati, para tokoh pendiri negeri ini. Dan jangan ajari mereka tentang toleransi, karena sesungguhnya merelah umat Islam dan para ulamanya kaum mayoritas yang paling toleran di negeri ini. Saat umat Islam dibantai di negeri mayoritas nonmuslim, maka mereka mendapatkan keamanan, perlindungan dan kesempatan yang sama di negeri ini. Bahkan dalam beberapa kondisi terjadilah apa yang disebut tirani minoritas. Negeri ini hanya akan selamat jika anak negerinya menjadikan iman dan taqwa sebagai pilar utama. 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ 

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf : 96) Taqwa sebagaimana yang didefinisikan oleh sebagian ulama salaf: 

الخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَالإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ 

“Taqwa itu adalah: Rasa takut kepada Allah Sang Maha mulia, mengamalkan apa yang diturunkan-Nya, merasa cukup dengan yang ada, dan selalu menyiapkan diri untuk hari perpisahan dengan dunia.” Iman pada Allah Sang Maha Mulia akan melahirkan amal shaleh yang tertuntun oleh wahyu, yang mengantar pada sikap yang benar terhadap dunia dengan zuhud atasnya dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, titik pusat dari kumparan asa dan harapannya. 

Karakter seperti inilah yang akan membawa bangsa ini menuju kemenangan dan kejayaannya yang sejati. Hamba yang bertaqwa menyadari benar bahwa kisah hidupnya di dunia tidak akan lama. Karena itu, setiap pilihan sikap dan langkah akan selalu ditimbang dengan sebaik-baiknya oleh hamba yang bertaqwa, apakah pilihan itu dapat dipertanggungjawabkannya di Hari Akhir? Apakah pilihan itu memberinya kebahagiaan di kehidupan Akhiratnya? 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: أَفْضَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اِسْتِعْدَادًا  Artinya: “Sebaik-baik orang beriman adalah yang terbaik akhlaknya dan yang paling cerdas dari mereka adalah yang terbanyak mengingat mati dan yang paling baik bersiap untuknya” (HR. Baihaqy dan dinyatakan hasan oleh Albani) 

Ketika memilih pekerjaan, maka pilihan hamba yang bertaqwa jatuh pada yang menguntungkan akhiratnya. Ketika memilih bisnis, maka hamba yang bertaqwa akan menjauhi bisnis yang merugikan akhiratnya. Ketika memilih pasangan hidup, maka pilihan hamba yang bertaqwa jatuh pada yang menguntungkan akhiratnya. Ketika mendidik keluarganya, hamba yang bertaqwa akan mendidik mereka agar dapat bersatu kembali di dalam Surga Allah. Termasuk ketika memilih pemimpin, hamba yang bertaqwa akan menjatuhkan pilihan pada apa yang dapat dipertanggungjawabkannya di akhirat. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil-hamd. 

Mewujudkan iman dan takwa serta menegakkan kebenaran adalah tanggung jawab kita semua, termasuk para insan pers. Masa ini kita menyaksikan betapa berkuasanya media baik mainstream maupun sosial dalam mengarahkan dan mengatur opini publik, hingga yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar. Dalam kesempatan yang mulia ini kami menyerukan agar saudara-saudara kita yang bergelut di media selalu menjadikan akhirat sebagai landasan berpikir dan bertindaknya. 

Alangkah indahnya dunia jika diisi dengan tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, membangun moral dan akhlak yang mulia. Sebaliknya akan semakin runyam dan memprihatinkan kondisi kita dengan tontonan dan acara serta postingan yang tidak mendidik, pamer aurat dan mendangkalkan aqidah akhlak. Dan jangan pula anda terjebak dalam memojokkan Islam dan dakwah serta para penyeru kebenaran ini, sungguh kehormatan seorang muslim sangat penting untuk dijaga dan dihargai. Wahai Para pemuda Islam yang dicintai Allah! Penghujung kehidupan ini adalah rahasia Allah. 

Itulah sebabnya, kita semua sama di hadapan kematian. Jadilah pemuda muslim yang cerdas, yang selalu menimbang setiap langkah dan tindakan: “Apakah ini bermanfaat untuk akhiratku atau tidak?” Ingatlah masa muda adalah penggalan zaman yang tidak lama, namun menjadi penentu keberhasilan atau kegagalanmu dunia akhirat. Jadikan dirimu seperti cemerlangnya Ali, seberaninya Usamah, dan sealimnya Ibnu Umar dan setekunnya Abdullah bin Amr, radhiyallahu anhum ajma’in. Kepada para muslimah yang dimuliakan Allah! Islam memuliakan Anda dengan anugerah yang luar biasa. Islam menjadikan Anda sebagai salah satu pilar utama kejayaan umat dan bangsa ini. 

Namun itu takkan terjadi kecuali jika Anda, wahai muslimah, mewujud menjadi seorang wanita yang bertaqwa kepada Allah. Jagalah ibadah Anda dengan penuh kesungguhan. Jagalah kehormatan diri dengan mengenakan hijab yang disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla. Muslimah yang bertaqwa akan membawa keberkahan untuk dirinya, keluarganya, bangsa dan umatnya. Wahai setiap istri jadilah sandaran jiwa bagi suami anda, hadirlah dalam suka dan dukanya, bersamai itu semua dengan cinta dan iman agar abadi cintamu hingga gerbang istanamu di Jannah Allah. Wahai setiap ibu, usaplah jiwa buah hatimu dengan sentuhan kasih sayang yang berbalut taqwa, genapi hatinya dengan khasyah, bersamai hari-harinya dengan ibadah, jangan biarkan liarnya kehidupan memangsa anak belahan jiwamu. 

Sisihkan waktu dan hatimu buat mereka. Wahai setiap ayah, andalah andalan sejatinya. Anda adalah “Ibrahim” bagi setiap “Ismail” di rumah anda, anda adalah “Muhammad” bagi setiap “Fatimah” dalam keluarga anda. Maka bicaralah kepada setiap anakmu, sentuh hatinya dengan cinta, basuh qalbunya dengan iman, hiasi kebersamaanmu dengan bahagia dalam Jihad di jalan Allah, rengkuh mereka dalam doa-doamu yang tiada henti, itulah jembatan Surga yang sejati. 

Kaum muslimin yang diberkahi Allah! 

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menghadapkan jiwa dan merundukkan diri, memohon dan menghaturkan doa untuk kebaikan diri, keluarga, bangsa dan umat kita. Ya Allah, Rabb yang Maha melihat dan Maha mengetahui, sekecil apapun dosa dan khilaf diri ini, tak ada yang terluput dari-Mu. Meski kelam malam begitu gulita sekalipun, semua tak luput dari-Mu, ya Allah. Dan tak ada yang dapat mengampuni semua dosa kami selain Engkau, ya Allah. Maka ampunilah kami, sekumpulan hamba-Mu yang faqir dan hina ini, ya Allah. 

Ampuni segenap dosa kami seiring berhembus perginya angin Ramadhan tahun ini. Torehkan nama kami dalam nama-nama hamba-Mu yang Kau bebaskan dari api Neraka-Mu, Ya Ghafur, Ya Rahman, Ya Rahiim… Ya Allah, limpahkan ampunan dan rahmat-Mu yang Maha luas kepada kedua orangtua kami. Dengan segala kekurangannya, mereka telah berjuang dan berusaha untuk mewarnai kehidupan kami. Ya Allah, hanya Engkau yang Maha mengetahui betapa banyak kedurhakaan kami pada mereka. Maka ampuni kami, ampuni kami, ampuni kedurhakaan kami, ya Allah…

Beri kami waktu dan kekuatan untuk berbakti pada mereka yang masih Engkau beri kehidupan. Ya Allah, seperti juga kami, mereka, orang tua kami, pastilah tak luput dari dosa dan salah. Mereka adalah hamba-hamba-Mu yang lemah, maka ampuni dosa dan salah mereka, ya Allah. Ringankan dan mudahkan jejak langkah perjalanan mereka di dunia dan akhirat. Lapangkan dan terangi alam kubur mereka. Karuniakan kepada kami pertemuan terindah bersama mereka di dalam Jannah-Mu, ya Allah… 

Ya Allah sejukkan pandangan kami dengan kesholehan keluarga dan anak-anak kami, jadikanlah mereka pejuang di jalanMu, jadikanlah kami dan mereka sebagai Ahlul Quran, yang Engkau tempatkan sebagai manusia-manusia pilihanMu. Ya Allah berkahilah dan tuntunlah para ulama, ustadz, dan para guru kami yang tak kenal lelah mengajar dan membimbing ummat menggapai ridhaMu, sucikan hati mereka, lapangkan rezki mereka, hindarkan mereka dari setiap marabahaya dan lindungi mereka dari setiap tipu daya dan makar musuh-musuhMu. 

Ya Allah, yang Maha perkasa dan Maha kuasa, negeri kami dan negeri-negeri saudara kami kaum muslimin telah diliputi ancaman dan makar yang hebat. Namun tak ada yang dapat mengalahkan keMahaperkasaan-Mu, ya Allah. Lindungilah negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin dari setiap rencana keji dan jahat untuk merusak dan menghancurkannya. Ringankan dan bebaskan penderitaan saudara-saudara kami yang terzhalimi, teraniaya, terampas hak-haknya, dan tertuduh dengan fitnah yang keji, Ya ‘Aziizu Ya Qawiyyu… Ya Allah, Ya Rabbana… satukanlah kami umat Islam di atas jalan-Mu. Persatukanlah negeri-negeri kaum muslimin untuk selalu seiring memperjuangkan agamaMu. Sadarkanlah para pemimpin negeri kaum muslimin untuk tidak tertipu dan terperdaya oleh genderang tari yang dimainkan oleh musuh-musuh-Mu, ya Allah… 

Ya Allah, anugerahkanlah kami pemimpin negeri yang selalu takut hanya padaMu. Tuntunlah langkah mereka untuk memimpin negeri ini dengan panduan Syariat-Mu. Berikan kepada mereka para pengiring dan penasehat yang selalu takut kepadaMu, dan jauhkan mereka dari para pengiring dan penasehat yang keji. Ya Allah.. bimbinglah kami dan anak istri kami agar senantiasa berada di jalan-Mu, meniti dan menyusurinya hingga bersama di Jannah-Mu Ya Allah.. satukan hati kami dalam azam perjuangan, dalam setia pada-Mu hingga Engkau ridha pada kami. Ya Allah.. damaikanlah setiap jiwa – jiwa beriman, satukanlah dalam ukhuwah karena-Mu, jangan biarkan permusuhan mengeram dalam jiwa-jiwa ini Ya Allah. 

Ya Allah.. jadikan setiap jengkal negeri ini bersaksi atas Jihad dan perjuangan kami menegakkan Syariat-Mu di atasnya. 

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Sumber: http://wahdah.or.id/khutbah-seragam-idul-fitri-1438-h-2017-wahdah-islamiyah/.)

Rabu, 17 Mei 2017

Kekayaan bukan soal angka, tapi senyum bahagia

Ia mulai dari tidak ada apa-apanya bekerja sebagai kuli bangunan hingga akhirnya berhasil menjadi kepala bagian. Kemudian ia membentuk tim pekerja tersendiri yang akhirnya berkembang menjadi sebuah perusahaan konstruksi.

Sang istri yang mendampingi pria ini sejak kuli bangunan, semakin hari tampak semakin tua. Tubuh yang dulunya langsing, sekarang tampak kasar berotot, kulit pun tidak sehalus dulu. Dibandingkan dengan beribu wanita cantik di luar sana, ia tampak terlalu sederhana dan pendiam. Kehadirannya senantiasa mengingatkannya akan masa lalu yang sukar.

Sang suami berpikir, inilah saatnya pernikahan ini berakhir. Ia menabungkan uang sebesar 1 miliar ke dalam bank istrinya, membeli juga baginya sebuah rumah di daerah kota. Ia merasa, ia bukanlah suami yang tak berperasaan. Sekiranya ia tidak mempersiapkan bekal bagi hari tua istrinya, hatinya pun tidak tenang......

Akhirnya, ia pun mengajukan gugatan cerai kepada istrinya.

Sang istri duduk berhadapan dengannya. Tanpa berbicara sepatah katapun ia mendengarkan alasan sang suami mengajukan perceraian. Tatapannya terlihat tetap teduh dan tenang. Ketika hari sang istri pergi dari rumah pun tiba, sang suami membantunya memindahkan barang-barang menuju rumah baru yang dibelikan oleh suaminya. Demikian pernikahan yang telah dibangun selama hampir 20 tahun lebih itu pun berakhir begitu saja.

Sepanjang pagi itu, hati sang suami sungguh tidak tenang. Menjelang siang, ia pun terburu-buru kembali ke rumah tersebut. Namun ia mendapati rumah tersebut kosong, sang istri telah pergi. Di atas meja tergeletak kunci rumah, buku tabungan berisi 1 miliar rupiah dan sepucuk surat yang ditulis oleh istrinya.

" Saya pamit, pulang ke rumah orang tua saya. Semua selimut telah dicuci bersih, dijemur di bawah matahari, kusimpan di dalam kamar belakang, lemari sebelah kiri. Jangan lupa memakainya ketika cuaca mulai dingin.

Sepatu kulitmu telah kurawat semua, nanti bila akhirnya mulai ada yang rusak, bawa ke toko sepatu di sudut jalan untuk diperbaiki.

Kemejamu kugantung pada lemari baju sebelah atas, kaos kaki, ikat pinggang kutaruh di dalam laci kecil di sebelah bawah.

Setelah aku pergi, jangan lupa meminum obat dengan teratur. Lambungmu sering bermasalah. Aku telah menitip teman membelikan obat cukup banyak untuk persediaanmu selama setengah tahun.

Oh ya, kamu sering sekali keluar rumah tanpa membawa kunci, jadi aku mencetak 1 set kunci serta kutitipkan pada security di lantai bawah. Semisalnya kamu lupa lagi membawa kunci, ambil saja padanya.

Ingat tutup pintu dan jendela sebelum pagi-pagi berangkat kerja, kalau tidak, air hujan dapat masuk merusak lantai rumah.

Aku juga membuatkan pangsit. Kutaruh di dapur. Sepulang dari kantor, kamu dapat memasaknya sendiri "

Tulisannya jelek, sukar dibaca. Namun setiap huruf bagaikan selongsong peluru berisikan cinta tulus, yang ditembakkan menghujam jauh ke dalaman ulu hatinya.

Ia memandang setiap pangsit yang terbungkus rapi. Ia teringat 20 tahun yang lalu ketika ia masih menjadi seorang kuli bangunan, teringat suara istrinya memotong sayur, mempersiapkan pangsit di dapur, teringat betapa suara itu bagikan melodi yang indah dan betapa bahagianya ia pada saat itu. Ia pun tiba-tiba teringat janji yang diucapkannya saat itu: "Saya harus memberi kebahagiaan bagi istri saya."  

Detik itu juga ia berlari secepat kilat segera menyalakan mobilnya. Setengah jam kemudian, dengan bersimbah keringat, akhirnya ia menemukan istrinya di dalam kereta.

Dengan nada marah ia berkata, "Kamu mau ke mana? Sepagian aku letih di kantor, pulang ke rumah sesuap nasi pun tak dapat kutelan. Begitu caranya kamu jadi istri? Keterlaluan! Cepat ikut aku pulang!"

Mata sang istri berkaca-kaca, dengan taat ia pun berdiri mengikuti sang suami dari belakang. Mereka pun pulang. Perlahan, air mata sang istri berubah menjadi senyum bahagia.

Ia tidak mengetahui bahwa sang suami yang berjalan di depannya telah menangis sedemikian rupa. Dalam perjalanan sang suami berlari dari rumah ke stasiun kereta, ia begitu takut.. Ia takut tidak berhasil menemukan istrinya, ia sangat takut kehilangan dia.

Ia menyesali dirinya mengapa dirinya begitu bodoh hingga hendak mengusir wanita yang begitu ia cintai. Kehidupan pernikahan selama 20 tahun ini ternyata telah mengikat erat-erat mereka berdua menjadi satu.

*****
Kekayaan yang sebenarnya bukanlah terletak pada angka di dalam buku tabungan, melainkan terletak pada senyuman bahagia pada wajah Anda.

Source: Love Laugh Life