Senin, 16 Januari 2023

Kisah Hikmah Sufi Klasik: "Sufi yang Mustajab Doanya"

Amr Ibn Al-Laits adalah raja generasi kedua dinasti Saffariah, pada suatu hari ia terkena penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Amr Ibn Al-Laits memanggil semua dokter kerajaan untuk mengobatinya, namun tidak ada satupun dokter kerajaan yang berhasil menyembuhkan penyakitnya.

Hari demi hari penyakitnya semakin parah dan tidak ada tanda-tanda untuk sembuh. Ada seorang dokter kerajaan yang memberi nasehat kepadanya, “Carilah orang yang cepat terkabul doanya, dan mintalah doa kepadanya, siapa tau Allah akan mengangkat penyakitmu.” 

Kemudian Amr Ibn Al-Laits memberi perintah kepada bawahannya untuk mencari informasi ke seantero pelosok negeri, untuk menemukan seseorang yang cepat dikabulkan doanya, terdengar kabar bahwa ada seorang ulama yang tenar dan ternama yang cepat dikabulkan doanya. Ulama itu bernama Syekh Sahl At-Tustari.

Setelah mendengar kabar itu, Amr Ibn Al-Laits memerintahkan kepada para ajudannya untuk menemui Syekh Sahl At-Tustari. Ketika mereka bertemu dengan Syekh Sahl At-Tustari, dengan segala hormat mereka meminta kepada Syekh Sahl At-Tustari untuk mendoakan kesembuhan Amr Ibn Al-Laits. 

Syekh Sahl At-Tustari berkata kepada mereka: “Doa itu dikabulkan apabila orang yang di doakan bertaubat kepada Allah, dan menjahui segala perbuatan dosa dan maksiat, sedangkan kalian termasuk orang-orang yang dzalim yang merampas hak orang lain. Aku bersedia mendoakan pimpinanmu asalkan ia bersedia untuk bertaubat.”

Setelah mereka mendengarkan nasihat Syekh Sahl At-Tustari, mereka bertaubat dan menyesali perbuatan yang selama ini mereka lalukan. Demikian pula Amr Ibn Al-Laits menyanggupi permintaan Syekh Sahl At-Tustari untuk segera bertaubat. 

Akhirnya Syekh Sahl At-Tustari mengangkat tangannya seraya berdoa, dan doa Syekh Sahl At-Tustari diabadikan oleh Syekh Fariduddin Attar, dalam karyanya Tadzqiratul Auliya (Juz, 1 Hlm. 329) Adapun doanya sebagai berikut:

إلهي: كما أريته ذل معصيته فأره عز طاعته ، وكما ألبست باطنه لباس التوبة ، فألبس ظاهره لباس العافية

Sahl berkata : Wahai Tuhanku, sebagaimana engkau memperlihatkan kepadanya (Amru Ibn Laits) hinanya kemaksiatannya, maka perlihatkanlah kepadanya kemuliaan ketaatannya. Dan sebagainya mana engkau memakaikan bathinnya dengan pakaian taubat, maka pakaikanlah dhohirnya dengan pakaian kesehatan yang sempurna.

Setelah Syekh Sahl At-Tustari selesai berdoa, Amr Ibn Al-Laits yang sedang terbaring sakit, tiba-tiba ia bisa duduk, dengan pertolongan Allah, Amr Ibn Al-Laits sembuh total, dan sehat seperti sediakala.

Semenjak kejadian itu, Amr Ibn Al-Laits menaruh hormat kepada Syekh Sahl At-Tustari, bahkan ingin memberi hadiah berupa harta yang sangat banyak, tetapi Syekh Sahl At-Tustari menolaknya.

Menginspirasi dari kisah di atas, bahwa Kesengsaraan tubuh kita dalam menanggung penyakit, bisa saja disebabkan oleh perbuatan dosa yang kita lalukan. Introspeksi diri apabila anggota tubuh kita mengalami penyakit dan segeralah bertaubat. Wallahu A’lam Bissawab. (alif.id)

Jumat, 13 Januari 2023

Membedakan Bisikan Setan dan Bisikan Qolbu



Bagaimana cara membedakan bisikan setan dan bisikan qolbu? DR. Abuya Arrazy Hashim berkenan mengupasnya...Semoga bermanfaat...

Jumat, 09 Desember 2022

Belajar Hakikat Cinta kepada Allah melalui Kisah Laila & Majnun

Kisah ini ditulis oleh Nizami Ganjavi (nama pena) karena berasal dari daerah Gans, Azerbaijan. Nama aslinya adalah Jamaluddin Ilyas bin Yusuf bin Zakky. Ia merupakan ahli hikmah (Hakim Nizami), sejak kecil yatim dan dibesarkan pamannya dan disekolahkan. Ia dikenal sangat pintar dan menguasai banyak ilmu agama.

Hal yang menarik dari hidupnya, Nizami yaitu merupakan seorang sastrawan dan banyak menulis kisah cinta, salah satunya Laila & Majnun. 

Dalam kesempatan kali ini merupakan cerita rakyat/lisan, orang Arab sebelumnya sudah masyhur mengenal kisah Laila & Majnun. Namun ada beberapa yang kontroversial, bahwa ada yang menganggap cerita ini ini nyata apa cuma rekaan.

Dalam riwayat, Majnun bernama asli Qais begitu dikenal begitu tampan, pintar, dan terpandang di sukunya, sedangkan Laila bernama asli Ibnu ‘Aamir yang begitu cantik berasal dari suku sebelah. Dalam kisahnya karena dalam lingkup satu sekolah yang sama, ketika Majnun pertama kali melihat paras Laila yang cantik rupawan, seketika ia jatuh cinta. Pemuda-pemudi nusantara kerap menyebutnya “Jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Seketika Majnun kehilangan kesadaran karena tumbuh benih-benih cinta yang tak ia sangka. Begitu pun Layla ketika untuk pertama kalinya menatap wajah Qays, langsung terpikat. Dua orang anak muda itu sama-sama jatuh cinta. Bahkan keduanya digambarkan sedang “Mabuk” (Cinta).

…….., “Wahai Laila, Cinta telah membuatku lemah tak berdaya // Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak memiliki apa-apa //

Mereka mengatakan aku telah tersesat // Wahai, mana mungkin cinta menyesatkan // Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan // Diterpa panas mentari siang //

Bagiku cinta adalah keindahan // yang membuat mata tak bisa terpejam // Pemuda mana yang bisa selamat dari api cinta? //”

Majnun ketika gila sering dikerumuni orang karena ia kerap kali menggubah syair, begitu ditunggu-tunggu karena keindahannya. Setelah beberapa lama, ia seperti orang tidak terawat tidak pakai baju dan rambutnya gondrong. Begitu pun Laila yang dalam beberapa bagian ceritanya, kerap kali mengeluarkan puisi. Dan pada akhirnya puisi-puisi Laila dikirim melalui surat untuk Majnun.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, tersebarlah gosip tentang kedua anak muda yang tengah dimabuk cinta tersebut. Dari berita itu, ayah Layla merasa hal itu merupakan pencemaran nama baik yang dianggap meruntuhkan kehormatan suku. Maka supaya tidak menjadi bahan omongan terus menerus, kemudian Laila tidak lagi diperbolehkan sekolah kembali. (Dua anak muda yang sedang mabuk-mabuknya sekarang dipisah). Kemudian dimulailah babak pertama kegilaan Qais.

Majnun berusaha dengan berbagai cara untuk bertemu Laila, akan tetapi tidak bisa. Lalu mulailah muncul syair-syair, tangisan-tangisan rindu Majnun. Kemana-mana hanya menyebut nama Laila…Laila…Laila..dan Laila. Bahkan ia rela menyamar sebagai kambing, dan berjalan diantara kambing-kambing tersebut ketika melintasi kediaman Laila. Dalam riwayat lain, Majnun rela menyamar sebagai pengemis yang hina ke desa Laila dan menyamar sebagai pembantu perempuan, yang tak lain supaya kembali bisa menatap kekasihnya.

Singkat cerita, karena Laila juga sangat merindukan Majnun, ia pun kerap kali merenung dan mengharap kembali kedatangan Majnun. Ia kerap setiap saat menyeru nama Majnun di penjara kamarnya, begitupun di taman kediamannya. Hanya Majnun yang tertulis dalam lubuk hatinya, hanya Allah dan Laila yang tahu betapa cintanya ia terhadap Majnun.

Namun, apalah daya sang ayah tidak tega melihatnya dan ia pun dinikahkan dengan Ibn Salam, yang merupakan seorang bangsawan. Lantas Laila pun menolaknya, akan tetapi ponolakannya tidak digubris oleh pihak keluarganya, dan pernikahanpun berlangsung.

Kabar itu sampai kepada Majnun, dan ia semakin gila, menangis, meratap berhari-hari dan memilih menyendiri di dalam gubuk kecilnya di atas bukit. Setelah bertahun-tahun menyendiri dan hidup bersama binatang buas, akhirnya Majnun pun rela melepas Laila dan menemukan kedamaian.

Sejak pernikahannya dengan Ibn Salam, Laila sama sekali belum pernah berhubungan suami istri dengannya, ia masih tetap mengharap kehadiran Majnun di sisinya. Selang beberapa lama, Ibn Salam pun dikabarkan meninggal di waktu musim panas. Laila pun terisak tangi tersedu-sedu, bukan karena menangisi kepergian Ibn Salam, akan tetapi ia menangis kerinduan akan bertemu Majnun dan sangat mencintainya.

Tak lama kemudian ketika Laila kembali ke rumah ayahnya, Ia dikabarkan jatuh sakit batuk parah dan tidak memikirkan kesehatannya. Ia hanya memikirkan Majnun setiap saat, bahkan ketika maut menjemput pun ia tetap memikirkan Majnun. Pada akhirnya, ketika gelapnya malam, Laila seperti biasa menatap pinti dan ia pun menghembuskan nafas terakhirnya dan bergumam “Majnun….Majnun….Majnun….Majnun.”

Kematian gadis si cantik jelita tersebut tersebar ke seluruh penjuru negeri, dan sampai pula kepada Majnun. Ia pun seketika pingsan di tengah padang gurun. Ketika kembali sadar, ia pun langsung bergegas menuju desa Laila dan berkunjung ke makam Laila. Ketika tidak sanggup jalan, ia pun menyeret tubuhnya untuk sampai ke makam Laila. Ia pun meletakkan tubuhnya di atas makam Laila dan diriwayatkan setelah beberapa hari Majnun pun turut meninggal. Jasad Majnun pun baru ditemukan satu tahun setelahnya.

Di akhir kisahnya, seorang Sufi dalam mimpinya melihat Majnun tengah dibelai dengan penuh rasa cinta dan sayang oleh Allah SWT, kemudian ia pun mendudukkan Majnun disamping-Nya. Kemudian berkata lah Allah SWT kepada Majnun “apakah engkau tidak malu wahai Qais memanggil-manggil nama-Ku dengan sebutan Laila, setelah kau meminum minum anggur Cintaku?”

Tak begitu lama sang sufi pun terbangun dan berangan-angan: “Jikalau Majnun begitu diperlakukan demikian (penuh kasih sayang) oleh Allah SWT, lantas bagaimana dengan Laila?”. Seketika Allah memberikan ilham kepadanya bahwa kedudukan Laila jauh lebih agung dan tinggi daripada Majnun, karena ia menyembunyikan segala rahasia cintanya dalam diri dan hidupnya sendiri.

Pelajaran yang dapat kita petik yaitu, jika seseorang sudah jatuh/dimabuk cinta kepada Allah, maka akan keluar secara otomatis dari mulutnya nama Allah Allah Allah, baik sengaja atau tidak pasti itu akan keluar dan tidak aka nada bosannya. “Cinta adalah pondasi dalam beribadah”. Bahkan para wali Allah lupa terhadap dirinya dan rela melakukan apa saja untuk beribadah kepada Allah. Seperti kisah di atas, begitu ketika cinta kepada Allah SWT, maka dunia dan segala isinya tidak berarti.

Dalam konteks hablun min Allah dan hablun min An-Naas, orang yang menyembunyikan amal perbuatannya dari orang lain maka akan mendapat sisi yang tinggi dihadapan-Nya. Karena hanya ia dan Tuhannya yang tahu. (AMA/Alif.id).

Jumat, 11 November 2022

Roh, Nafs dan, Kalbu: Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an

Manusia diciptakan dari setetes mani yang dibuahkan ke dalam rahim” [Al-Qur’an 75:37]. Manusia sebelum menjadi mudghah (segumpal daging), mengalami tahapan proses pembentukan yang cukup lama. 

Setiap 40 hari pertama sperma mengalami proses pertemuan dengan ovum, 40 hari kedua zygot (hasil pertemuan sprema dengan ovum) sudah menempel dalam dinding rahim, dan 40 hari terakhir di usia 4 bulan mengalami perubahan, yaitu fisiknya sudah terbentuk. 

Di usia 4 bulan inilah ketika fisiknya sudah disempurnakan, maka seketika itu Allah meniupkan roh ke dalam jasadnya sehingga manusia dapat mendengar, melihat, mengatahui, meraba, dan merasakan. 

Sebagaimana Allah Swt berfirman: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” (QS. As-Sajdah ayat:9). 

Dalam tafsir Prof Quraish Shihab, Allah menyempurnakannya dan meletakkan di dalamnya salah satu rahasia yang hanya diketahui oleh-Nya, serta menjadikan pendengaran, penglihatan dan akal bagi kalian agar kalian dapat mendengar, melihat dan berpikir. Namun demikian, sedikit sekali rasa syukur kalian.

Dalam hadist juga dijelaskan, dari Abdullah bin Mas’ud RA, “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nutfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya roh, dan dia diperintahkan mencatat empat kata yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, kesulitan atau kebahagiannya. ( Imam Muslim dalam Shahihnya No. 2643) 

Manusia dalam Keadaan Fitrah Dilihat dari [Alquran 17:85], dijelaskan bahwa yang mengatur dan menentukan roh ialah Allah, otomatis roh berasal dari Allah dan apa-apa yang yang bersumber dari Allah fitrahnya pasti baik, bersih dan suci. 

Karena itu ketika manusia berusia 4 bulan dalam kandungan disempurnakanlah bentuknya. Allah perintahkan malaikat untuk meniupkan roh ke dalam jasadnya sehingga manusia membawa sifat-sifat potensi kebaikan dan kemuliaan, kumpulan sifat tersebut yang dibawa oleh manusia disebut dengan ketaqwaan. 

Tetapi sifat-sifat ketaqwaan atau roh itu dikotori oleh tangan-tangan manusia itu sendiri, dicemari dari hal-hal yang tidak baik; syubhat dan haram. Maksudnya, terbentuknya jasad atau fisik manusia bukan semata-mata keseluruhan dari Allah, tapi ada usaha dan proses yang dilakukan manusia itu sendiri, baik dari aspek biologisnya maupun dari yang lainya. 

Misalnya, agar kandungan berkembang dengan baik maka manusia memberikan asupan-asupan yang baik dan bergizi. Masalahmya ketika kandungan itu diberi dengan asupan; makan dan minum yang bersumber dari yang haram dan syubhat, sehingga janin dalam kandungan yang berproses selama 4 bulan mengalami perubahan yang di mana janin tersebut hanya dibekali oleh Allah dengan sifat-sifat ketaqwaan berubah menjadi mugdah (segumpal daiging) yang dipenuhi unsur-unsur keburukan. 

Baca Juga QS. Al-Baqarah 190-191: Makna Jihad Itu Tak Hanya Perang! Agar lebih detail, penulis mengilustarsikan dengan sebuah cawan yang berisikan air bersih, cawan dan air tersebut diibaratkan roh yang suci. Ketika cawan dicampurkan dengan teh, maka akan berubah warna menjadi coklat, ketika dicampurkan dengan kopi maka menjadi hitam. Itulah sebaliknya, ketika roh dicampurkan dengan sesuatu yang tidak baik maka sifat-sifat ketaqwaannya terpenuhi dengan unsur-unsur yang tidak baik pula. 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah, “Setiap anak Adam tercipta dari tanah, sedangkan tanah ada yang coklat, hitam, bersih dan bahkan ada yang berlumpur” Ar-Ruh yang sudah tercemari dengan hal yang buruk dan menyatu dengan fisik atau jasad, maka turunlah ayat “Wa nafsiw wa mā sawwāhā” 

Dan nafs yang sudah kami sempurnakan penciptaanya. Dua Dimensi Maksud sempurna dari ayat ini, yaitu ketika ruh sudah menyatu dengan jasad tersebut menjadi dua kerakteristik yang berlawanan, yaitu ketaqwaan dan kefasikan. Sebagaimana dalam Alquran dijelaskan “Fa al-hamahā fujụrahā wa taqwāhā” Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan yang fujur (kefasikan) dan jalan ketakwaan. 

Jelas dari sini, bahwa manusia lahir dengan perwujudan  dua dimensi, yaitu dimensi Rabbbani yang mendorong dan mengajak manusia untuk melakukan hal yang baik. Sedangkan dimensi Ardhi yang selalu mendorong, memaksa, dan mempengaruhi manusia agar melakukan hal yang buruk. 

Asbab dari sini pula manusia disebutkan mahluk yang paling mulia, karena dalam jasadnya terdapat kebaikan lawan dari keburukan dan keburukan lawan dari kebaikan. Seandainya manusia bisa dan mampu mengalahkan sifat-sifat fujur (kefasikan) dengan merivitalisasikan sifat taqwa, Maka ia beruntung dan lebih mulia dari malaikat. Sebaliknya ketika manusia mengikuti dan menghadirkan sifat kefasikan dalam kehidupannya maka ia sangat merugi, ia lebih hina dan lebih buruk dari pada syaitan dan hewan. 

Perbedaan Nafs dengan Roh 

Mengenai eksistensi jiwa atau roh ulama berbeda pendapat. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa roh dengan nafs berbeda, sedangkan Ibnu Qoyyim al-Jauziah mengatakan bahwa jiwa merupakan bagian dari roh. Sebenarnya pemikiran kedua ulama ini pada hakikat dan tujuannya sama, yang membedakannya hanya teori pendefinisianya. 

Mereka mendefinisikan dengan berpatokan satu ayat, yaitu “Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. 

Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir” (QS. Az-Zumar39:42) Baca Juga Mujahadah dan Riyadhah, Metode Tarekat Menuju Ma'rifat Roh dan Nafs MMenurut al-Ghazali Al-Ghazali menafsirkan ayat ini, yaitu manusia memiliki kehidupan roh dan jiwa. Ketika mereka tertidur, maka yang keluar dari badannya bukanlah rohnya, melainkan jiwanya. Jiwanya keluar dan naik ke atas. Rohnya tetap ada dalam kehidupannya yaitu dalam jasadnya. 

Oleh karena itu ketika dia bermimpi, jiwanya kembali ke jasadnya lalu masuk dalam kehidupannya dan memberitahukan kepada roh tersebut, bahwa ia bermimpi begini dan begitu. Begituh juga dengan kematian, jika Allah hendak mematikannya, maka Dia-Allah memegang jiwanya yang keluar itu. Roh dan Nafs Menurut al-Jauziyah Lain halnya dengan pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziah, menurutnya ketika manusia tertidur yang keluar dari badannya hanyalah rohnya. 

Oleh karena itu Allah menahan roh orang yang tertidur dan mengembalikan kedalam jasadnya dengan waktu yang ditentukan, dan juga Dia-Allah menahan ruh orang yang sudah meninggal dan tidak mengembalikannya kecuali setelah datangnya hari kiamat. Pendapat beliau ini didasarkan dalam kitab ash-Shahihain dari hadist Abdullah bin Abu Qatadah al-Anshary, dia berkata “ 

Pada suatu malam Rasulullah saw dan sahabatnya melakukan perjalanan. Sahabatnya berkata kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah bagaimana jikalau engkau istrahat dan tidak menjaga kami?” Beliau menjawab, “Aku khawatir kalian tertidur. Maka siapa yang membangunkan kita? Bilal berkata, “Aku wahai Rasulullah.” Maka Bilal pun menjaga Rasulullah bersama sahabatnya sampai mereka tertidur. 

Akan tetapi, tak lama kemudian Bilal merasa kantuk berat, dia pun menyandarkan badan ke pelananya dan akhirnya dia tertidur. Ketika Rasulullah bangun, dan matahari sudah terbit, Rasulullah bertanya, “Wahai Bilal, mana yang pernah engkau bilang kepada kami?” Bilal pun menjawabnya, “Demi yang mengutusmu ya Rasulullah dengan kebenaran, aku tidak pernah mengalami kantuk seperti yang kualami kali ini. ” Rasulullah Saw brsabda, “Sesungguhnya Allah menahan ruh-ruh kalian kapan pun menurut kehendak-Nya dan mengembalikan kapan pun yang dikehendakinya.” Ruh dan Nafs Sama Dari kaca mata penulis, kedua pendapat ini pada hakikatnya sama. 

Secara fundamental jiwa itu bagian dari ruh dan jiwa terbntuk disebabkan adanya ruh. Ruh berasal dari Allah yang pada esensinya suci dan bersih, sedangkan jasad berasal dari manusia karena manusia menyimpan sifat-sifat keburukan. Ketika yang suci (ruh) menyatu dengan yang kotor (jasad), maka berubahalah sifatnya dan namanya menjadi An-Nafs atau jiwa. Allah menamakannya dengan jiwa karena didalamnya terdapat atau tergabung segala unsur keburukan dan kebaikan. Sebagaimana dalam [Alquran 91: 7-8] yang dijelaskan diatas. 

Baca Juga Tingkatan Alquran dan Wahyu Begituh pula dengan kematian, jikalau manusia meninggal yang dicabut oleh Allah ialah jiwanya, karena ruh cuman membawa potensi kebaikan yaitu ketaqwaan, ketika sifat taqwa ini masuk kedalam jasad, inilah yang dikembangkan menjadi amalan; dia sholat, puasa, zakat, sedekah, dan lain sebagainya. karena itulah mengapa ketika ia kembali kepada Allah bukan cuman ruhnya melainkan jiwanya juga, sebab kalau ruhnya saja yang pulang sama sekali tidak membawa apa-apa. Yang pulang itulah yang kembali kepada Allah itulah yang dinamakan An-Nafs yang didalamnya terdapat amal kebaikan dan amal keburukan dan yang menentukan dia berhak di Syurga atau di Neraka, sebagaimana dalam Alquran, “Kullu nafsin żā`iqatul maụt.”(QS. Ali-Imran:185)

Qolbu Pusat Interaksi Nafs Hati (qolbu) hanya memiliki satu makna, tapi seiring berkembangnya zaman dan banyak ulama yang mengemukakannya akhirnya menjadi luas interpretasinya. Sebagian mengatakan bahwa hati adalah tempatnya jiwa, seperti dua hal yang sama padahal sangat berbeda. Hati secara umum diartikan sebagai sekumpulan perasaan, kesadaran, dan naluri yang terpendam dalam diri manusia, yang berwujud perasaan cinta, benci, senang, sedih, bahagia, gelisah, kyusu’, takut, dan lain sebagainya. Semua sifat ini berkumpul disatu tempat yaitu didalam jiwa. 

Sebab inilah kehidupan manusia selalu bergejolak, karena jiwanya selalu terbolak-balik, tidak tentram, kadang baik dan kadang buruk. Dalam bahasa Arab segala sesuatu yang tidak pernah tentram, selalu bergejolak atau terbolak-balik itu dinamakan qolbu (hati). karena itulah mengapa para ulama mendefinisikan jiwa itu ialah tempatnya sedangkan hati adalah sifatnya. 

Dari sinilah Nabi pernah berpesan dan menyampaikan bahwa, “Jikalau keadaan hati kita bisa didominasi dengan sifat-sifat yang baik, maka sifat baik ini yang cenderung mengarahkan kita akan kebaikan dalam hidup. Sebaliknya, jikalau dalam hati bergolakannya lebih didominasi oleh sifat nafsunya, yang jeleknya yang muncul, maka hal inilah yang mendorong kita untuk melakukan keburukan dalam hidup.” 

Dapat digaris bawahi bahwa jiwa adalah tempat terkumpulnya unsur fujur dan taqwa, sedangkan hati ialah sifat pergolakkannya. Jika manusia dapat menundukan jiwa fujurnya, maka hatinya dipenuhi dengan sifat-sifat kebaikan dan hidupnya pasti tentram. Dan jika manusia tidak mampu menghidupkan jiwa taqwanya dengan menekankan jiwa fujurnya, maka hatinya dipenuhi dengan sifat keburukan otomatis hidupnya penuh dengan kegelisahan. wallahualam.

(Sumber Artikel : Roh, Nafs dan, Kalbu: Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an/hilmi rizkih Saputra/ibtimes.id)

Kamis, 20 Oktober 2022

Kisah Sufi: Rentenir Jahat yang Jadi Kekasih Allah

Sumber foto:Sindonews.com
Habib bin Muhammad al-Ajami al-Basri nama lengkapnya. Jauh sebelum namanya ngetop karena kesalehannya, Habib al-Ajami adalah seorang rentenir yang amat tajir. Perjalanan tobat Habib al-Ajami dikisahkan oleh Farid al-Din Attar dalam bukunya berjudul Tadhkirat al-Auliya’.

Seperti kematian yang datangnya tidak bisa diketahui pasti, begitu pula dengan keadaan hati, hidayah Allah datang kepada mereka yang memang telah Allah kehendaki.

Tidaklah aneh ketika kita membaca perjalanan hidup para kekasih Allah, maka akan ditemukan di antara mereka yang lebur dalam kegelapan, terlelap dalam jurang kejahilan, hingga akhirnya menjadi para salik yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Allah.

Habib Al 'Azami adalah salah satu dari para kekasih Allah yang mana sebelum ia mendapatkan maqam kemuliaan ia pernah hidup dalam kegelapan.

Biografi Habib Al 'Azami bisa dilihat dalam kitab Tarikh Al Kabir 2/326, Hilyatul Aulia 6/149, Siyar A'lam Annubala 6/143.

Syekh Fariduddin Attar dalam kitabnya Tadzkirotul Aulia halaman 81 Mengisahkan, Habib Al 'Azami adalah seorang kaya raya, ia tinggal di Kota Basrah.

Setiap hari ia berkeliling mendatangi satu persatu orang yang berhutang kepadanya untuk menagih, jika mereka belum bisa membayar maka Habib akan mengambil apa saja yang bisa mereka serahkan sebagai bunga atas hutang mereka. Dan seperti itulah cara yang dilakukan Habib untuk menghasilkan hal yang bisa menutupi kebutuhan sehari harinya.

Suatu hari ia mendatangi salah seorang yang berhutang kepadanya namun orang tersebut tidak ada di rumah. Akhirnya sang Habib meminta kepada istrinya bunga atas hutangnya yang belum bisa di bayar.

"Suamiku tidak ada di rumah, dan aku tidak memiliki apa-apa, sisa daging leher domba," kata perempuan itu.

Habib pun meminta kepada perempuan tersebut menyerahkan kan leher domba itu. Pada hari itu pun Habib pulang ke rumah dengan membawa kayu bakar, gula, dan rempah-rempah serta leher domba yang mana semuanya didapatkan dari orang yang belum bisa membayar hutangnya.

Sesampainya di rumah, Habib menyuruh istrinya memasak apa yang telah ia bawa. Ketika istrinya hendak membuka tutup ketel ia terhenti sejenak karena terdengar suara keras Habib kepada pengemis yang datang ke rumahnya.

"Jika aku bagikan makanan kepadamu, maka tidak akan ada yang tersisa untuk makan malamku, kamu mendatangi setiap pintu rumah apakah itu tidak membuatmu cukup?" ungkap Habib dengan nada keras.

Pengemis itu pun pergi dengan tangan kosong. Setelah itu ketika istri Habib hendak melihat masakan di wajannya itu, tidak ada yang dilihat kecuali darah hitam memenuhi ketel itu.

Si istri pun membawa Habib ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.

"Ini semua karena buruknya akhlakmu, harta riba yang kau makan, pada pengemis kau menghardik, keadaan ini seperti gambaran keburukanmu itu. Apakah kau tak berpikir bagaimana pedihnya balasan di akhirat nanti," kata sang istri.

Mendengar itu, hati habib bergetar ia berpikir dan menyaksikan apa yang telah terjadi, "Wahai istriku mulai saat ini aku bertobat.”

Setelah itu, ia pun mengembalikan seluruh harta yang pernah ia dapatkan dengan cara haram itu. Sampai tidak ada lagi yang ia miliki. Dengan begitu, ia pun menjadi miskin sejadi-jadinya.

Kemudian, si Habib itu membangun gubuk di bantaran sungai Furat. Tempat baru itu ia pakai untuk terus beribadah tak kenal waktu. Ia juga mulai menuntut ilmu dan belajar Al-Quran kepada Hasan Bashri.

Saat dirinya belajar kepada tokoh sufi terkenal itu, si Habib dikenal sebagai orang yang kurang pintar. Maka itu, dirinya pun dijuluki Al ‘Azami, alias bodoh.

Suatu ketika, kala Habib pulang ke gubuknya, istrinya bertanya, "Dari mana engkau, suamiku? Apa yang engkau lakukan?"

"Aku bekerja pada seseorang," jawab Habib.
"Mana upahnya? "
"Orang tersebut sangat baik dan dermawan saya malu jika meminta upah. Tetapi kabarnya ia akan memberikan secara langsung setiap sepuluh hari," jawab Habib.

Syahdan, sepuluh hari berlalu. Tibalah hari itu, Habib sangat bingung di perjalanan menuju rumahnya ia banyak berpikir, apa yang harus ia katakan pada istrinya tetapi ia tetap bertawajuh dan memasrahkan semuanya kepada Allah.

Belum sampai masuk ke rumah, di luar ia mencium bau masakan dari rumahnya, benarlah ketika ia masuk ke rumah ia menyaksikan istrinya sedang memasak, kegembiraan yang diliputi dengan tanda tanya meliputi perasaan Habib.

Istrinya menjelaskan bahwa ini adalah pemberian dari seseorang yang engkau bekerja padanya. Para pemuda yang wajahnya terang seperti rembulan itu selain memberi semua bahan pokok ini dan seikat kantong yang berisi dirham, ia juga menitipkan pesan untukmu, perbanyaklah bekerja maka akan seimbang juga balasan upahnya.

Mendengar apa yang dituturkan istrinya, Habib pun menangis terharu, "Demi Allah wahai istriku, selama sepuluh hari ini tidak ada pekerjaan yang aku lakukan kecuali siang dan malam aku habiskan untuk beribadah kepada Dzat yang maha kaya yang telah memberikan segala anugerah ini."

Seperti itulah sekelumit risalah tentang kisah perjalanan kekasih Tuhan yang dalam beribadah selalu istiqomah dan penuh khidmah, sehingga Tuhan berikan kepada mereka anugerah dan karomah.//

Rabu, 19 Oktober 2022

Maulid Sang Guru Sufi

Sufi, bukanlah sosok yang eksklusif yang selalu tampil beda dengan saudara-saudara Muslim lainnya. Sufisme tidak akan pernah menjadi ad-Din atau diagamakan pengikutnya. 

Begitu pula kaum sufi, hanyalah sekelompok orang, baik dalam sebuah ikatan maupun secara sendiri-sendiri, yang menjaga konsistensi dan kejernihan berpikir, bersikap, serta bertindak berdasarakan iman, Islam, dan ihsan yang murni dan konsekuen. 

Seseorang dijuluki sufi, apabila dia seorang mukmin, Muslim, muhsin, yang sungguh-sungguh dengan jujur mengaktualisasi iman, Islam, dan ihsannya, dengan menggunakan tolok ukur keteladanan Rasulullah SAW.

Menurut KH Abdurrahim Radjiun, ulama sufi Betawi terkemuka, sufisme bukan ditandai dengan kekumuhan, kelusuhan, tarian, lirik syair, serta sikap kontroversial dan kontraproduktif yang dituduhkan kebanyakan orang. 

Seorang kepala negara, sultan, raja, perdana menteri, menteri, gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, mandor, konglomerat, pengusaha, kiai, ustaz, mubaligh, sopir, kernet, pedagang kaki lima, asongan, pengamen, ibu rumah tangga, mahasiswa, pelajar, atau siapa saja, mereka dapat menjadi seorang sufi yang baik. Sejauh mereka mengimani dan membuktikan keimanannya bahwa jiwa dan harta mereka adalah dari Allah.

Ini diperoleh karena rahmat Allah dan bermanfaat di jalan Allah dan mereka telah berada di Wilayah Quraniyah dengan memedomani Alquran surat at-Taubah ayat 111, "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."

Kaum sufi yang oleh dunia Barat disebut sebagai sophists, orang yang berbicara, berpikir, dan berperilaku tidak lazim, sesungguhnya adalah sekelompok manusia yang memiliki sophistic quotion (SQ), kecerdasan sufistik, dalam menyikapi dan memberi solusi pasti, terhadap ketidakpastian suatu keadaan. 

Mereka juga bukan ahlus shuffah seperti yang dianggap oleh pendapat umum sebagai sekelompok orang yang mendiami emperan masjid Nabawi. Kezuhudan kaum sufi bukanlah kezuhudan yang melemahkan, tetapi memuat semangat berjuang, berkurban, dan bekerja serta peduli terhadap persoalan umat. 

Para sufi adalah ummatan wasathan, umat penengah, adil, dan pilihan, yang menjadi saksi bagi hiruk pikuk kehidupan duniawi, selaras dengan firman Allah dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 143, "Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan."

Lalu, siapakah guru dari kaum sufi ini? Di dalam bukunya yang berjudul Tasawuf Modern, Buya Hamka menyatakan bahwa pada zaman Nabi Muhammad SAW hidup, semua orang menjadi "sufi", yaitu sufi sepanjang artian dari Syaikh Junaid al-Baghdadi, orang yang yang keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji. Dengan demikian, guru kaum sufi dari zaman para sahabat, sampai saat ini dan sampai dunia kiamat adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Salah satu ciri utama dari seorang sufi adalah pada keadabannya yang berpedoman kepada keadaban Sang Guru Sufi, Rasulullah Muhammad SAW. Keadaban Rasulullah SAW tidak hanya dengan menggunakan ukuran kemuliaan akhlak atau perilaku keseharian. Keadaban beliau lebih kepada perspektif sikap, ucapan, pandangan dalam membimbing, membentuk, menggerakkan, serta mengarahkan umat jauh ke masa depan.

Dengan pengertian demikian, dapat dipilah dan dibedakan antara orang-orang yang berperilaku baik secara normatif, tapi tidak memberi arti dan nilai tambah bagi suatu perjuangan, perbaikan, serta pencapaian target ideal, dan orang-orang atau kaum beradab yang tidak pernah lelah berpikir, bersikap, bergerak dinamik untuk pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan suatu kaum dalam mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. 

Keadaban Rasulullah SAW sendiri adalah keadaban Islami yang sepenuhnya bermuara kepada keluhuran serta kekayaan pesan-pesan Qurani, dengan contoh aktual dari keseharian Rasulullah SAW yang diabadikan melalui Sirah Nabawiyah, alur hidup kenabian, telah mendarah daging dalam kisi-kisi kehidupan kaum sufi dari masa ke masa.

Maka, sebagai pihak yang berdiri tegak di tengah, para sufi dengan konsisten tidak akan pernah menyatakan keberpihakan kepada apa pun dan dengan siapa pun, sejauh hal itu berseberangan dengan Alquran dan sunah. Karena mereka berkeyakinan sepenuhnya bahwa guru besar mereka adalah Rasulullah SAW, sebagai insan kamil yang telah mengubah peta sejarah dan keadaban dunia. 

Tak salah, bila kaum ini menyimpan kecerdasan sufistik, itu semata-mata karena mereka berjuang keras untuk menjaga diri berselaras dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan Alquran dan sunah. Sebab, kitab manakah yang lebih mulia dari Kitabullah? Dan bukankah Rasulullah Muhammad SAW adalah kota ilmu, muara kecerdasan, yang dengan ilmu dan kecerdasannya sejak 1400-an tahun lalu, tetap dapat kita rasakan hingga saat ini, dan terus merayapi punggung bumi sampai ujung zaman?

Akhir kalam, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW sejatinya menjadi peringatan untuk memandang Rasulullah SAW sebagai Sang Guru Sufi yang dilahirkan ke dunia ini untuk membimbing umatnya menjadi umat yang berkeadaban seperti yang telah dia contohkan. 

Keadaban Rasulullah SAW dengan kesufiannya menjadi pedoman dan penggerak yang melintasi semua alam, ruang, dan waktu. Dan kita semua hendaknya menjadi sufi yang meneruskan kesufian beliau dengan keadabannya yang paripurna. Shallu 'alannabi. ***

(Rakhmad Zailani Kiki/Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre/Republika)

Jumat, 16 September 2022

Apa yang Diajarkan Surat A-Kahfi?


Surat Al-Kahfi mengajarkan:

Jika seseorang ingin akan melakukan sesuatu berucaplah: "IN SYAA ALLAH"
(Ayat: 23-24)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Dzikir kepada Allah dan doa itu penyembuh untuk jiwa dan kepikunan.
(Ayat: 24)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Agar bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari. (Ayat: 28)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh tidak akan disia-siakan pahalanya. (Ayat: 30)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa harta dan anak-anak hanyalah perhiasan kehidupan di dunia. Amal shalehlah yang lebih baik dan akan kekal. (Ayat: 46)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa balasan perbuatan maksiat itu tidak seperti makan cabe yang langsung terasa pedasnya. Tapi ada waktu tertentu yang disiapkan untuk mereka mendapatkan adzab. (Ayat: 58)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa adzab dunia walaupun ada, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan adzab akhirat.(Ayat: 87)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa orang yang paling merugi adalah mereka yang merasa sudah berbuat baik, padahal perbuatan mereka sia-sia. Yaitu mereka yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, dan tidak beriman kepada hari kiamat, hisab dan pembalasan.
(Ayat 103-105)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka adalah surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya. (Ayat 107-108)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allah, maka tidak akan cukup, walaupun tintanya ditambah sebanyak itu lagi. (Ayat: 109)

YAA RABB..
BERIKANLAH RAHMAT KEPADA KAMI DARI SISI - MU, DAN SEMPURNAKANLAH PETUNJUK YANG LURUS BAGI KAMI DALAM URUSAN KAMI.

*آمِـــيْنَ يَارَبَّالْعَالَمِــــيْنَ*





Kamis, 15 September 2022

Kisah Sufi Getarkan Hati, Murid Syekh Junaidi Al Bagdadi Ditegur Rasulullah, Karena Menolak Memberi Makan

Kisah sufi ini merupkan kisah yang dialami seorang murid Syekh Junaidi Al Bagdadi bernama Syekh Muhammad al Hariri. Dia ditegur Rasulullah SAW lewat mimpi, karena telah menolak memberi makan kepada seorang pemuda.

Suatu hari seorang sufi bernama Syekh Muhammad al-Hariri sedang duduk di sebuah sudut ruangan. Tiba-tiba ada seorang pemuda masuk. Pemuda ini tampak begitu lusuh. Tidak mengenakan tutup kepala, tidak juga beralas kaki, dan rambutnya terurai. Wajahnya juga tampak pucat.

Syekh Muhammad al-Hariri adalah salah satu murid dari Syekh Junaid al-Baghdadi. Syekh al-Hariri juga menjadi pengganti gurunya tersebut. Selain sebagai seorang ahli ilmu, Syekh Muhammad al-Hariri juga seorang sufi nan alim.

Beliau memiliki kebiasan berpuasa di siang hari tetapi tidak pernah terlihat berbuka. Ketika malam tiba, terkadang beliau juga melanjutkan untuk tetap puasa. Selain itu waktu malam dihabiskan untuk sholat hingga punggungnya tidak menyentuh alas untuk beristirahat apalagi tertidur lelap.

Syekh Muhammad al-Hariri dikenal sebagai orang yang semangat dalam mencari ilmu. Beliau pernah bermukim di berbagai kota untuk menuntut ilmu, termasuk bermukim di Mekah.

Pemuda yang ditemuinya itu kemudian mengambil air wudhu dan menunaikan shalat dua rakaat. Setelah itu, ia hanya menundukkan kepala hingga memasuki waktu maghrib. Pemuda ini kemudian berjamaah dengan Syekh Muhammad al-Hariri. Selesai shalat, lagi-lagi pemuda itu hanya menundukkan kepalanya kembali.

Pada malam hari, Khalifah Baghdad mengundang para sufi dan ulama untuk ceramah agama. Sebelum pergi, Syekh Muhammad al-Hariri mengampiri pemuda tersebut dan bertanya kepadanya.

“Wahai anak muda, maukah kau ikut denganku untuk memenuhi panggilan Khalifah?”

“Aku tidak membutuhkan itu,” Jawab pemuda tersebut. “Yang aku inginkan adalah makanan darimu.”

“Jawabannya tak sesuai harapanku, ia justru menginginkan hal lain dariku,” jawab Syekh al-Hariri dalam hati.

Setelah obrolan singkat tersebut, Syekh Muhammad al-Hariri segera berlalu. Beliau tidak memperdulikan pemuda tersebut. Beliau segera pergi untuk menghadiri acara yang diadakan oleh Khalifah.

Sepulang dari acara tersebut, Syekh Muhammad al-Hariri kembali ke ruangan. Ia melihat pemuda yang sebelumnya ditemui seolah-olah sudah tidur. Oleh karena itu beliau juga langsung tidur.

Dalam tidurnya, Syekh Muhammad al-Hariri bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW bersama dua orang tua yang bercahaya wajahnya. Di belakangnya tampak rombongan orang-orang dengan kemilau cahaya yang terang.

Beliau diberi tahu bahwa yang beliau temui tersebut adalah Rasulullah SAW yang didampingi Nabi Ibrahim AS di sisi kanan dan Nabi Musa AS di sisi kiri. Sementara rombongan di belakang ketiga nabi tersebut adalah para nabi lainnya yang berjumlah 124.000.

Syekh Muhammad al-Hariri segera mendekati Rasulullah dan mencoba untuk mencium tangannya. Namun Rasulullah justru memalingkan wajahnya. Hingga tiga kali, Syekh Muhammad al-Hariri mencoba hal yang sama, tetapi lagi-lagi Rasulullah memalingkan wajahnya.

Syekh Muhammad al-Hariri bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau berpaling wajah dariku?”

Rasulullah menjawab pertanyaan Syekh Muhammad al-Hariri, “Sungguh engkau telah berbuat kikir, ketika datang dari golongan kami meminta makanan darimu.” Ternyata sufi ini ditegur Rasul lewat mimpi.

Mendengar jawaban Rasulullah, Syekh Muhammad al-Hariri terbangun dalam keadaan hati yang diliputi rasa penyesalan serta ketakutan yang luar biasa. Tubuhnya menjadi bergetar dan menggigil. Ia memalingkan pandangan ke arah pemuda tersebut, tapi celakanya, ia sudah tidak terlihat lagi.

Syekh Muhammad al-Hariri segera melangkahkan kaki keluar. Dicari pemuda itu. Ketika melihatnya, ditanyalah pemuda tersebut.

“Hai Anak Muda, demi Allah yang telah menciptakan dirimu, mohon tunggulah sebentar. Ini makanan untukmu!” ujar Syekh Muhammad al-Hariri.

Pemuda itu tersenyum kepada Syekh Muhammad al-Hariri.

“Wahai Syekh Muhammad al-Hariri, siapakah yang menginginkan sesuap makanan darimu?” kata pemuda tersebut. “Mana bisa nabi dengan jumlah 124.000 itu memberikan pertolongan dengan sesuap makanan?”

Pemuda itu pergi dan hilang. Sementara Syekh Muhammad al-Hariri terpana sendiri dan sangat menyesali perbuatannya tersebut.//**


Tanya Jawab UAS Terbaru