Selasa, 20 Januari 2009

Quo Vadis, TELEPON UMUM (Bag-1)


Catatan: Beberapa waktu lalu,Unit Public Access menyelenggarakan Gathering Mitra dan Rakor Telum Nasional selama tiga hari (13-15 Juni 2006) di Bilique Hotel Bandung. Gathering dimulai pada 13 Juni dengan melakukan outbond di Sindangreret Cikole Lembang yang melibatkan sebanyak 53 peserta, terdiri dari jajaran internal TELKOM serta jajaran dari 12 perusahaan Mitra Pengelola Telum Nasional. Hari kedua, selama setengah hari merupakan sesi sharing info diantara Mitra guna mencari solusi bersama TELKOM yang dilanjutkan dengan Rakor Internal unit Access hingga hari ketiga.

Adapun tema yang diusung, yakni ”Mewujudkan Tekad dan Kerjasama Guna Meningkatkan Citra dan Performansi Pelayanan Telum.” Kita tentu saja bukan ingin mengenang masa silam lewat nostalgia outbond, namun masalahnya mengapa Telum kini mendapat perhatian kembali? Maklum, telah cukup lama layanan produk yang satu ini sempat terlupakan. Boleh jadi karena tak tahan menghadapi vandalisme atau semakin tak jelas nilai bisnisnya akibat kian maraknya pemakai handphone. Lantas mau dibawa kemana (quo vadis) Telum ini? Benarkan dari sisi bisnis tak menjanjikan lagi? Atau memang ada misi lain yang hendak dicapai perusahaan? Mari kita telusuri tulisan!


Ada sekitar 300 ribu telepon umum milik TELKOM di seluruh Indonesia. Tapi tahukah kita semua, ternyata hanya tinggal 55 ribu telepon umum yang berfungsi. Sebagian besar lainnya terbengkalai, tidak terurus, rusak oleh tangan-tangan jahil. Itu yang terlontar dari mantan Wakil Dirut Garuda Sugardo, beberapa waktu lalu, di Bandung. Akankah aset yang berharga itu akan kita biarkan terbengkalai berkarat hingga harus menjadi besi tua? Atau kita biarkan tertelan waktu hingga menjadi penghuni musium telekomunikasi? Atau kita olah-garap kembali menjadi harta karun yang berharga?

Harta karun? Ya, dibalik telepon umum itu sebenarnya tersimpan potensi keuntungan sangat tinggi. Jangan hanya dilirik dari tampilan telepon umum coin saja, yang mungkin memang hanya memberi keuntungan tipis. Ada potensi yang masih bisa dikembangkan dari telepon umum lainnya, termasuk juga Warung TELKOM yang makin marak belakangan ini. Memang pernah terjadi 25% revenue TELKOM berasal dari telepon umum dan Warung TELKOM. Tapi itu dulu yang harus kita kenang menjadi segoret sejarah bisnis TELKOM.

Kini misi telah bergeser, bukan sekadar untuk mengais coin sebagai bagian terpenting perusahaan. Namun ada tumpuan yang lebih luhur dan berbudi yang mengimbas pada misi sosial. Dengan kata lain yang lebih gagah dalam rangka mengemban good corporate citizenship (GCC). Memang di tubuh Telum ada pula segenggam citra perusahaan yang terpendam yang sangat mungkin dapat didongkrak via telepon umum.

VP Access Anie Sulistiani Soendjojo yang didampingi AVP Public Access Murawi, saat pembukaan Gathering dengan Mitra Telum Nasional waktu itu, menegaskan bahwa layanan telepon umum (telum) harus mampu meningkatkan citra Telkom sebagai perusahaan yang menyelenggarakannya, serta meningkatkan citra negara karena TELKOM merupakan national flag carrier.

“Saya yakin, dengan pengelolaan yang baik, tampilan yang baik, penempatan yang baik, telum akan bisa diminati oleh masyarakat. Upaya peningkatan performasi telum ini selain akan meningkatkan citra perusahaan juga akan meningkatkan citra negara. Fasilitas umum yang berfungsi baik tentu akan membuat masyarakat serta para pendatang merasa nyaman,” ujar Anie.

Masalahnya masyarakat perlu tahu, yang mungkin selama ini kurang tersosialisasikan, bahwa TELKOM memberikan subsidi kepada telepon umum coin. Uang yang seharusnya mereka keluarkan adalah Rp. 250 per 2menit,- namun karena ada subsidi sebesar Rp 150,- dari TELKOM, masyarakat cukup membayar Rp. 100,- saja. Bayangkan berapa besar subsidi yang dikeluarkan TELKOM untuk kebutuhan telekomunikasi masyarakat ini.

Tidak ada yang mengatakan bahwa program meningkatkan kapitalisasi pasar tiga kali lipat menjadi US$ 30 miliar dalam rentang waktu dua tahun ke depan adalah program yang mudah untuk digapai. Namun, tidak boleh ada yang pesimis untuk bisa mewujudkan tekad itu menjadi kenyataan. TELKOM 135 - 3010 telah dinyatakan sebagai program utama, maka adalah kewajiban seluruh karyawan TELKOM, termasuk anak perusahaan, untuk mewujudkannya. Artinya telah menjadi bagian tugas kita bersama untuk mencari jawabannya.

Sebagaimana pernah ditegaskan dalam apel sinergi Telkom Citra Indonesia di Monumen Nasional beberapa waktu lalu, TELKOM merupakan perusahaan telekomunikasi yang tidak hanya membawa bendera perusahaan semata, tetapi juga membawa bendera nasional Republik Indonesia. Pesan yang sangat mendalam, yang perlu diartikan bahwa TELKOM harus berkinerja baik tidak hanya karena perusahaan ini adalah icon negara, tetapi juga karena perusahaan ini harus mampu memberikan sesuatu kepada negara, kepada rakyat di negeri tercinta ini.

Dalam rencana strategi pembangunan lima tahun 2005-2009, pemerintah melalui Departemen Keuangan RI telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7,6% di akhir periode. Rincian per tahunnya adalah 5,5% pada tahun 2005 ini, 6,1% pada 2006, 6,7% pada 2007, 7,2% pada 2008, dan 7,6% pada 2009. Tentu saja pertumbuhan itu diharapkan datang pula dari kontribusi TELKOM sebagai motor pertumbuhan telekomunikasi di Indonesia.

Sementara itu, TELKOM sebenarnya memiliki tantangan bisnis mengingat teledensitas (kepadatan telepon per 100 penduduk) di Indonesia masih di bawah 5% (Fixedline). Itu artinya, dari keseluruhan kurang lebih 235 juta penduduk Indonesia, hanya kurang dari 12 juta penduduk yang telah menikmati sambungan telepon tetap. Padahal di benua Asia, secara keseluruhan teledensitasnya sudah mencapai 28%.

Sejumlah studi, diantaranya dilakukan oleh International Telecommunication Union (ITU), menyimpulkan adanya korelasi positif yang kuat antara teledensitas dengan parameter ekonomi makro, seperti pendapatan per kapita setahun atau Produk Domestik Bruto (PDB) serta pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Bahkan, studi ITU menunjukkan, pada setiap kenaikan 1% teledensitas maka akan memacu kenaikan PDB sebesar 3%. Korelasi positif itu menunjukkan bahwa teledensitas merupakan salah satu kunci sukses pertumbuhan ekonomi bangsa ini.

Tingkat teledensitas yang rendah memang menuntut penambahan satuan sambungan telepon yang baru, tetapi itu bisa juga berarti sangat perlunya peningkatan kualitas pelayanan telepon umum agar semakin banyak penduduk Indonesia dapat menikmati layanan telekomunikasi dari TELKOM. Untungnya, perusahaan memang telah memperhitungkan hal tersebut. Terbukti, tekad peningkatan pelayanan telepon umum ini tercantum pula dalam salah satu program TELKOM Citra Indonesia.

Sekadar mengingatkan pembaca tentang TELKOM Citra Indonesia, upaya sinergi yang akan menggalang seluruh kekuatan yang ada di TELKOM Group ini memiliki tujuh program. Pertama, membangun citra keunggulan TELKOM sebagai penyedia jasa layanan telekomunikasi paling dominan di Indonesia. Kedua, materi yang akan dibahas lebih detail dalam tulisan ini, yaitu menyediakan layanan telepon umum yang andal serta mudah dijangkau masyarakat. Ketiga, berperan aktif membina dan mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) serta koperasi, khususnya dalam penyediaan dan pemanfaatan akses teknologi informasi.

Program keempat adalah membuka layanan khusus short message service (SMS) keluhan pelanggan untuk mengakomodasi dan menyeleasikan keluhan pelanggan secara cepat dan tuntas. Kelima membangun komunikasi secara berkesinambungan dengan memanfaatkan media cetak dan elektronik untuk menyosialisasikan kontribusi dan keunggulan TELKOM Group. Keenam, melakukan program marketing secara agresif ke seluruh segmen pasar dengan melaksanakan kegiatan marketing dan kemasan produk yang menarik, Dan ketujuh, meluncurkan produk dan layanan yang menyinergikan keunggulan yang dimiliki TELKOM Group sehingga dapat meningkatkan value TELKOM Group.

Telepon Umum

Keberadaan telepon umum, selain dapat memberi kontribusi pendapatan, juga merupakan wujud tanggung jawab sosial TELKOM kepada masyarakat. Selain itu, kepastian pelayanan telekomunikasi publik yang baik adalah juga implementasi kebijakan Universal Service Obligation (USO) yang dikenal secara internasional.

Oleh karena itu dalam rangka melaksanakan good corporate citizenship, Telkom akan melakukan pembaharuan terhadap layanan telepon umum. Untuk itu, akan ada standardisasi sarana pendukung seperti booth, shelter, wall mounted, dan console. Selain itu, pada organisasi di tubuh Telkom sendiri juga ada pembaharuan terkait layanan telum ini.

Telum ini selain pelayanan kepada masyarakat, adalah bisnis Telkom juga. Bisnis anda juga sebagai mitra, jadi mari kita kelola dengan baik. ARPU Flexi itu rata-rata 70 ribu sampai 80 ribu, sementara Telum ada juga yang bisa mencapai 100 ribu sampai 200 ribu. Contohnya yang dikelola oleh PT Catur Elang Perkasa.

Catur Elang Perkasa adalah salah mitra pengelola telum yang mengelola hampir 14.205 sst di Divre I, II, V, dan VII. Mitra lain yang juga hadir antara lain PT Telnus yang mengelola PT Bangtelindo yang mengelola 1.500 sst, PT Telnus yang mengelola 350 sst, PT Matel Infocom Manunggal yang mengelola 220 sst, dll.

Namun demikian, faktanya belakangan semakin banyak telepon umum yang kondisinya cukup memprihatinkan. Bisa jadi ini karena tergerus oleh perkembangan telepon seluler (ponsel) dan telepon tetap mobilitas terbatas seperti Flexi, serta makin maraknya Warung TELKOM yang dikelola oleh masyarakat. Tidak jarang pula, fasilitas telepon umum jadi terbengkalai justru karena tindak perusakan oleh sebagian oknum masyarakat.

Namun bagaimanapun, telepon umum adalah produk TELKOM yang berada di jajaran terdekat dengan masyarakat. Sudah sepantasnya bila produk ini selalu dalam keadaan bisa berfungsi , bersih, dan enak dipandang.

Bisa terbayangkan saat seseorang sedang sangat membutuhkan fasilitas telekomunikasi, dan telepon umum terdekat yang ada di lokasinya ternyata tidak berfungsi. Setelah berputar-putar mencari telepon umum lainnya, ternyata hasilnya sama. Kekecewaan itu bisa tertuju hanya pada satu pihak, logo yang melekat pada rumah telepon umum tersebut: TELKOM Group. Lebih menyakitkan lagi bila tak lama kemudian orang tersebut menemukan warung telekomunikasi yang menggunakan jasa operator selain TELKOM. Ternyata, wartel itu berfungsi. Tentu saja ini akan menjadi promosi negatif dari mulut ke mulut bagi TELKOM.

Pernah termuat berita di Kompas yang bisa dijadikan contoh dari keluhan masyarakat terhadap kualitas pelayanan telepon umum. Dalam berita berjudul “Telepon Umum di Jakarta Sulit Dijumpai dan Banyak yang Rusak” itu mengatakan, masih banyak masyarakat yang tidak mampu membeli ponsel, bahkan merasa wartel masih agak mahal, dan sangat membutuhkan keberadaan telepon umum.

Seorang narasumber di berita tersebut, Karbiyanto, mengaku kesulitan bila sesekali hendak menelepon. Menurut lelaki yang berprofesi sebagai pengemudi bajaj itu, dulu dia bisa menelepon hanya dengan uang Rp. 100,- Tetapi saat ini sulit karena banyak telepon umum yang rusak dan tidak berfungsi. Jika masuk ke wartel, dia berpikir biayanya pasti lebih dari Rp. 100,- Bahkan ada wartel yang meski nomor yang dituju tidak mengangkat telepon tetap saja harus membayar pulsa. Jika kita mencermati keluhan publik tentang telepon umum, bisa dipastikan tidak sedikit orang seperti Karbiyanto.

Kesulitan yang dihadapi Karbiyanto dan masyarakat lainnya merupakan kerugian buat TELKOM juga. Potensi pendapatan itu hilang karena perangkat yang tidak berfungsi, citra perusahaan pun bisa turun karenanya. Lalu, bagaimana dengan upaya mengoptimalkan telepon umum yang bak harta karun terpendam ini? Penulis pikir, kita harus back to basic dengan menggarap kembali core business TELKOM dengan baik dan benar.

Kembali pada program TELKOM Citra Indonesia, tidakkah upaya peningkatan kualitas pelayanan telepon umum ibarat sekali mendayung sampan dua tiga pulau terlampaui? Sambil memperbaiki citra telepon umum yang makin menurun belakangan ini, bukankah layanan ini pun berpotensi memberikan tambahan pendapatan kepada TELKOM, yang pada akhirnya dapat ikut memberikan kontribusi pada realisasi program TELKOM 135 – 3010? (masnana60@gmail.com/bersambung)