Selasa, 20 Januari 2009

Quo Vadis, TELEPON UMUM (bag-2 habis)

Pengantar: Seperti diketahui bahwa kebijakan sinergi TELKOMGroup diharapkan tercipta kemudahan akses serta meningkatkan koordinasi dan kecepatan layanan kepada pelanggan dalam dimensi yang besar serta jangkauan yang lebih luas. Dengan menyinergikan semua potensi, diharapkan mampu menciptakan keunggulan layanan telekomunikasi terbaik di Indonesia.


Garuda Sugardo (GA) pernah mengingatkan, isu nasional saat ini adalah sinergi. Setiap program yang dibuat oleh salah satu divre maka itu berarti menjadi program nasional, harus mendapat dukungan semua pihak. Semua keunggulan yang dimiliki masing-masing divisi, adalah juga keunggulan semua divisi. Teknologi, layanan, promosi dan pemasaran, komunikasi, semuanya diarahkan berpikir ke satu arah: sebuah sinergi TELKOM Group.

Mengapa penghasil “recehan” seperti telepon umum akhirnya mendapat perhatian para direksi? Kata recehan sengaja diberi tanda kutip karena belum tentu hasilnya memang recehan. Perhatian serius direksi membuktikan, fasilitas layanan telepon umum tampaknya punya potensi untuk tidak sekadar memberikan pendapatan recehan. Demand masyarakat terhadap telepon umum tidaklah kecil. Memang sih belum ada penelitian khusus tentang itu, namun ekspose di media massa tentang keluhan kualitas telepon umum sudah cukup untuk membuktikan keinginan masyarakat.

Publisitas negatif tentu akan memberikan citra yang negatif pula. Dengan pola pikir sinergi, citra kurang baik tentang layanan telepon umum milik TELKOM sedikit banyak akan berpengaruh pula terhadap produk-produk TELKOM lainnya. Saat TELKOM masih sendirian, hal itu tidak akan jadi masalah. Namun ketika persaingan pasar makin marak, dimana pesaing pun punya variasi produk serupa dengan yang diluncurkan TELKOM, kita harus sangat berhati-hati dalam setiap layanan produk.

Rumusan kredo Commited 2 U yang masih digunakan TELKOM hingga saat ini bermakna perusahaan dan seluruh jajarannya memberikan komitmen pelayanan dan hasil, serta citra yang terbaik kepada para stakeholders. Kata commited sendiri bisa diartikan sebagai pernyataan janji dan kesediaan untuk pelibatan diri secara total dalam rangka memberikan yang terbaik kepada stakeholders, yaitu semua pihak yang berkepentingan dengan operasi layanan dan kinerja perusahaan.

Stakeholders dengan berbagai kepentingannya itu dapat terbagi ke dalam kelompok pelanggan, pemegang saham, karyawan, pemerintah, dan mitra bisnis. Pelanggan jelas berkepentingan untuk memperoleh produk dan layanan dengan kualitas yang tinggi dan harga yang kompetitif, pemegang saham berkepentingan dengan tingkat pengembalian atas modal yang mereka investasikan. Karyawan berkepentingan dengan kompensasi yang bersaing, pengembangan diri, dan ekspresi diri, sementara pemerintah berkepentingan dengan penyelenggaraan telekomunikasi nasional, penerimaan pajak, penyerapan tenaga kerja, dan operasi perusahaan yang efisien. Dan mitra bisnis yang meliputi kreditor, distributor, supplier, mitra KSO, mitra aliansi bisnis, dan konsultan berkepentingan untuk bisa sama-sama memperoleh bagian keuntungan.

Semua paparan tadi bermuara pada misi korporasi to provide one stop services with excellent quality and competitive price, sebuah tekad dalam menjamin pelanggan mendapatkan layanan terbaik, tidak terkecuali layanan telepon umum. Juga mengacu pada semangat yang tercantum dalam visi korporasi to become a leading infocom player in the region. Sekali lagi, TELKOM tidak lagi memonopoli pasar telekomunikasi di Indonesia. Jangan biarkan pesaing memanfaatkan setiap kelengahan TELKOM sebagai iklan gratis bagi mereka. Jangan sisakan celah.

Tingkat persaingan tentu lebih terasa ketat di ibukota negara, Jakarta, wilayah operasi Divre II. Tidak ada perusahaan operator telekomunikasi yang tidak membidik wilayah Jakarta dan sekitarnya sebagai wilayah operasi mereka. Wilayah ini ibarat magnet bagi sebagian besar penduduk Indonesia sehingga tidak heran kepadatan penduduknya cukup tinggi.

Telepon umum tidak hanya dibutuhkan oleh masyarakat tingkat ekonomi rendah. Semua masyarakat, tidak terkecuali apapun tingkat ekonominya, adalah potensi pasar telepon umum. Jika kondisi telepon umumnya baik, tentu akan menarik minat siapapun memanfaatkannya. Bahkan dapat membentuk kebiasaan masyarakat untuk selalu memanfaatkan telepon umum untuk kebutuhan telekomunikasi mereka.

Jika suatu saat masyarakat yang biasa memanfaatkan telepon umum itu benar-benar membutuhkan sebuah layanan telekomunikasi personal semacam telepon rumah atau telepon mobile, pilihan mereka akan jatuh pada TELKOM yang telah membuktikan keandalannya. Pelayanan publik melalui telepon umum sangat berpotensi mendongkrak citra perusahaan, pelayanan publik semacam ini juga bukti pengabdian perusahaan kepada bangsa dan negara, dan yang tak kalah penting, pelayanan publik semacam ini adalah juga potensi pendapatan bagi perusahaan.

Karbiyanto, misalnya sang pengemudi bajaj tampak tersenyum dibawah naungan telepon umum di pinggir jalan Jakarta. Mungkin dia sedang menelepon istrinya sekadar menanyakan ingin dibelikan martabak atau sate sebagai oleh-oleh hasil kerjanya hari itu. Istrinya tidak mengangkat telepon dari rumah, tapi dari telepon umum terdekat di kontrakan mereka. Untuk itu, dia hanya harus mengeluarkan uang seratus rupiah. Semakin banyak seratus rupiah terkumpul, tentu semakin signifikan kontribusinya terhadap pendapatan TELKOM. Bayangkan senyum Karbiyanto sang pengemudi bajaj, senyum pelanggan yang harus menjadi tujuan kita semua.

Upaya Divre II Jakarta

Apakah Divre II bisa punya andil di sana? Jelas bisa, dan sedang menuju ke sana. Buktinya, Divre II punya crash program Pembenahan Telepon Umum yang dikeluarkan melalui Nota Dinas Kadivre pada 9 Agustus 2005 lalu. Apalagi, wilayah kerja Divre II yang terdiri dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi dikenal sebagai wilayah dengan penduduk yang cukup padat, termasuk dari kalangan pendatang luar kota tersebut.

Dulu, sebelum maraknya teknologi mobile phone, telepon umum pernah menjadi primadona yang mengangkat citra layanan TELKOM di mata masyarakat. Tetapi sebagaimana telah disinggung di atas, kini sering kita jumpai telepon umum yang sudah tidak terawat lagi. Ada yang tinggal rumah teleponnya saja, ada yang boks telepon ada tapi gagangnya tidak ada, ada yang bahkan rumah teleponnya sudah tidak karuan bentuknya. Ada juga sih yang tampak masih bagus, tetapi ternyata tidak berfungsi. Tampak merana sekali kondisi pelayanan telepon umum kita. Apakah benar ini karena telepon umum tidak memberikan profit? Kalau pun benar tidak ada profit, mungkin pertanyaannya harus dibalik, mengapa telepon umum tidak memberikan profit?

Nota Dinas Kadivre II Nomor C. TEL. 454/YN200/D02-A101400/2005 perihal crash program Pembenahan Telepon Umum jelas mengakui masih kurangnya pelayanan telepon umum.

Pada Nota dinas itu, menyebutkan, pelayanan telepon umum saat ini performansinya masih sangat rendah sehingga menjadi perhatian utama dari direksi. Sementara bagian lain menyebutkan, banyaknya berita-berita dari media cetak yang memuat tentang buruknya pelayanan telepon, baik dari bentuk fisik yang tidak memadai maupun tidak dapat berfungsinya telepon umum (baik TUC maupun TUK-Chip/VoIP). Disebutkan pula, mengingat telepon umum merupakan perwujudan tanggung jawab sosial TELKOM terhadap masyarakat dan sebagai etalase bisnis jasa TELKOM yang dapat membentuk image perusahaan, perlu dilakukan pembenahan yang diperlukan.

Menyikapi nota dinas tersebut, salah satu datel di Divre II, yaitu Kandatel Jakarta Pusat mulai melakukan pembenahan terhadap seluruh fasilitas telepon umum di wilayah area Jakarta Pusat. Ruang lingkup kegiatan pembenahan telepon umum diJakarta Pusat membawahi 3 Sentral Telepon Otomat (STO) yaitu STO Gambir, STO Cikini ,dan STO Cempaka Putih. Pembenahan dilakukan oleh tim internal dan tim eksternal.

Tim internal yang merupakan gabungan Dinas Pelayanan Umum dan Care Center, Dinas Layanan Jaringan, dan Bagian Dukungan Manajemen, bertugas melakukan pencabutan pesawat TUC, memotong drop wire sampai pada posisi yang aman dan rapi, menyerahkan pesawat TUC ke gudang TELKOM Jakpus, dan melaporkan hasil pekerjaan kepada manajemen. Sementara tim ekstermal yang melibatkan mitra kerja bertugas melakukan pengecatan TUC, pengecatan rumah telepon, pencabutan, perapihan, dan pembersihan bekas rumah telepon.

Sepanjang Agustus 2005 saja, jumlah Telepon Umum Coin (TUC) yang dicabut ada sebanyak 874 sst dari rencana 865 sst, dan Telepon Umum Kartu (TUK) yang dicabut berjumlah 482 sst dari rencana 792 sst. Pencabutan rumah telepon telah dilakukan sebanyak 471 rutel, dan pengecatan rutel telah dilakukan sebanyak 562 buah, masing-masing 379 oleh Bangtelindo dan 184 oleh TELKOM. Pencabutan dilakukan dalam rangka pembenahan.

Jenis telepon umum pun kini mulai dirancang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dirancang agar dapat benar-benar memberikan kenyamanan. Multicoin, meeting point, teknologi CDMA Flexi, subsidi pulsa, bersih, menarik, dan tentunya berfungsi baik. Memang, upaya itu belum bisa dilakukan secara menyeluruh di seluruh Indonesia, bahkan di wilayah Kandatel Jakpus sekalipun. Namun, perlahan tapi pasti, semua itu harus diwujudkan. (masnana60@gmail.com)