Kamis, 29 Januari 2009

Saya tidak suka ABS

Semua karyawan TELKOM harus memiliki persepsi yang sama mengenai transformasi dan reorganisasi perusahaan. Mempersamakan persepsi bahwa TELKOM harus berubah. Boleh jadi, transformasi dapat menimbulkan keresahan di internal organisasi. Namun semua pihak perlu menyadari, tranformasi ini dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik lagi di masa mendatang. Secara bisnis transformasi pun akan mampu untuk melakukan penetrasi pasar dengan lebih baik.

Kita tidak dapat berlama-lama mempertahankan paradigma asset based. Tuntutan pelanggan semakin beragam karena banyaknya pembanding (best practise) baik dari operator lokal maupun asing dan secara paralel pesaing juga menawarkan paket-paket pilihan yang sangat inovatif dan murah. Aspek teknologi juga telah banyak memberikan penyederhanaan proses bisnis dan ini adalah sekaligus peluang untuk kita menyederhanakan business process existing.

Selain itu kita mempunyai komitmen untuk tetap menjadi market leader, baik dalam skala nasional maupun regional. Untuk itu organisasai ini harus selalu adaptif terhadap perubahan tuntutan lingkungan.

Transformasi dan reorganisasi dimaksudkan untuk memastikan bahwa organisasi harus selalu mendukung objectives (leading infocom player in the region & customer centric) dan strategi perusahaan (4 Strategic Inisiatives).

Dari sisi internal bahwa transformasi dan reorganisasi juga dimaksudkan untuk melakukan perubahan terhadap struktur organisasi yang tidak fit untuk menjawab era kompetisi, memangkas birokrasi yang rumit dan menghambat, membangun pola pengembangan kompetensi SDM yang lebih baik dan membangun mekanisme yang memudahkan implementasi budaya perusahaan dalam operasional.

Yang perlu difahami bahwa transformasi ini bukanlah revolusioner, namun dilakukan secara evolusi. Jika melihat catatan perjalanan TELKOM sebelumnya, transformasi yang salah satunya dalam bentuk reorganisasi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 2003 lalu. Jadi, ini merupakan proses yang sudah direncanakan dan dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.

Mengingat persaingan semakin berjalan ketat, direksi mengharapkan agar proses langkah transformasi yang ditempuh setelah melihat perubahan kondisi pasar ini juga dapat dilakukan secara lebih cepat lagi. Diperlukan adanya akselerasi agar TELKOM tidak terlindas oleh perjalanan waktu. Jika dalam rencana awal diperkirakan baru akan selesai tahun 2008 mendatang, diharapkan TELKOM dapat melakukan akselerasi sehingga transformasi dapat selesai pada semester pertama tahun 2006 ini.

Efek transformasi dan reorganisasi ini diharapkan akan mampu memberi support positif bagi suksesnya perusahaan dalam memenangkan kompetisi. Pemenangan kompetisi tidak boleh sekadar pemanis bibir atau slogan semata, namun harus menjadi sebuah tekad/komitmen yang harus dibarengi dengan langkah2 nyata.

Tentang 1 + 1 = 3

”Saya bukan orang telekomunikasi tetapi orang perbankan. Namun saya akan belajar sungguh-sungguh tentang telekomunikasi. Untuk itu mohon saya dibantu,” demikian salah satu statemen Dirut TELKOM yang baru, Arwin Rasyid, saat Jumpa Pers seusai acara RUPST Tahun 2005 silam.Apa yang disampaikan putra kelahiran Roma, Italia (’57) itu merupakan langkah awal cukup simpatik. Setidaknya telah menunjukkan komitmen dan kesiapannya untuk memangku jabatan penting sebagai CEO salah satu BUMN terkemuka dan kebanggaan bangsa.

Kesan pertama cukup menggoda. Begitulah yang telah ditunjukkan lulusan MBA International Business dari Univerity of Hawaii USA (’82) ini. Penampilan yang keren dipadu dengan raut wajah yang terbilang handsome serta ketenangan dan kelugasannya dalam berbahasa telah menunjukkan kalau beliau memiliki kepribadian kuat sebagai seorang profesional. Profile seperti ini telah mengingatkan kita pada mantan Dirut, Kristiono.

Pernyataan, ”Saya bukan orang telekomunikasi,” telah menunjukkan kejujurannya bahwa dirinya bukanlah orang sempurna yang tahu tentang segala hal. Sinyal yang ingin beliau sampaikan sebenarnya ingin mengusung sebuah value bahwa dirinya, kita atau siapa pun juga harus terbuka alias transparan. Berbicara lah seperti apa adanya dan bukan ada apa-apanya.

Keinginan untuk belajar sungguh-sungguh tetap mengemuka. Seorang profesional sejati, siapa pun juga, memang dituntut untuk terus belajar dan belajar. Tak hanya terus belajar mendalami bidang yang tengah digelutinya, namun juga bidang lain yang terkait dengan profesinya. Apalagi jika masuk pada bidang baru yang notabene sangat berbeda karakter dan acuannya. Arwin Rasyid, penerima penghargaan Beta Sigma Award, USA ini tampaknya faham benar tentang bagaimana dirinya harus memposisikan diri.Mantan Dirut Bank Danamon (2000-2003) ini pun menyampaikan bahwa dirinya akan segera datang ke divre-divre untuk mempercepat pemahaman dan feeling tentang perusahaan ini.

Mengapa harus ke Divre-Divre? Tampaknya beliau mengerti benar bahwa peranan divre sebagai Delivery Channel merupakan mesin penghasil uang sebagai pemberi kontributor revenue perusahaan. Kegiatan-kegiatan operasional dan pelayanan memang banyak bertumpu disana.Oleh karena itu beliau ingin berkunjung kesana. Tak hanya untuk memahami seluk beluk bisnis InfoCom di berbagai tempat, namun juga ingin bersilaturahmi dan menyatu dengan seluruh jiwa jajarannya disana. Siapa tahu kehadirannya bisa menambah wawasannya tentang InfoCom sehingga menjadi lebih well informed seputar bisnis yang segera akan digarapnya. Atau siapa tahu bisa memperoleh sebuah inspirasi baru dalam mengembangkan strategi bisnisnya.

Namun yang lebih penting dari itu adalah berharap terjadinya penyatuan cipta, rasa dan karsa untuk sama-sama berkarya unggul.Sebagai mantan Wakil Dirut BNI (2003-2005), kita percaya bahwa beliau adalah seorang pebisnis professional dan handal di bidangnya. Hal itu telah ditunjukan dengan keberhasilannya membawa Bank Danamon dan BNI menjadi bank-bank terkemuka di tanah air. Jadi persoalan strategi dan kiat bisnis tampaknya tak perlu diragukan lagi pada beliau. Barangkali yang menjadi tantangan belau adalah bagaimana untuk memadukan strategi bisnis di perbankan ke strategi bisnis bidang telekomunikasi. Cara memadukan pun semoga tidak terlalu sulit. Sebab pada intinya memiliki tujuan sama, yakni:

Bagaimana memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya untuk meraih pendapatan sebesar-besarnya demi kepuasan stakeholders.Karena itulah beliau mengeluarkan sebuah rumusan bahwa satu ditambah satu bukan untuk dua tetapi untuk tiga. Artinya perpaduan dua strategi harus lah bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dari yang telah dicapai saat ini (tiga).Statemen berikutnya dari beliau adalah, ”Apa yang sudah berjalan baik tidak akan dirubah. Perubahan hanya akan dilakukan pada hal-hal yang krusial dan yang memang perlu.”

Statemen itu menujukkan sikap beliau yang jujur dan bisa menerima pendapat yang lain. Beliau sepertinya tak ingin memaksakan kehendaknya untuk merubah atau merombak total apa yang telah digariskan pendahulunya. Barangkali selama kebijakan itu rasional, proporsional dan berjalan pada rel yang benar serta memiliki prospek bagus, maka tak ada alasan untuk merubahnya. Namun apabila kebijakan itu rancu dan menimbulkan gejolak yang semestinya tidak perlu terjadi, maka barangkali beliau akan segera memberikan perhatian khusus dan pasti akan berupaya untuk merubahnya.

Saya tidak suka ABS

”Saya tidak suka ABS. Nyatakanlah dengan sebenarnya melalui komunikasi yang benar dan transparan,” tandas Dirut baru kita, Arwin Rasyid dihadapan Wartawan saat Jumpa Pers.
Kita maklum, betapa ABS (Asal Bapak Senang) sepertinya telah membudaya dan mendarah-daging di bumi Indonesia, bersamaan dengan mendarah-dagingnya kejahatan korupsi. Mengapa ABS terjadi terutama di kalangan birokrat? Tentu karena ada kelemahan atau kekurangan yang ingin disembunyikan. Para pelaku ABS adalah mereka para munafik yang disebabkan bersebrangannya antara kata dan perbuatannya. Bebedanya antara pikiran, hati dan tindakannya.

Dirut baru kita dengan tegas menyatakan ketidaksukaannya pada orang-orang semacam itu. Tentu saja, karena kehadiran mereka sama sekali tak menguntungkan perusahaan. Para pelaku ABS adalah mereka yang berupaya membela diri dan berlindung dari segala kekuarangan dan kelemahannya. Mereka adalah para penakut dan pengecut karena khawatir kariernya terancam atau harga dirinya runtuh.

Namun yang pasti mereka sesungguhnya telah melakukan pengkhianatan terhadap amanah yang diberikan padanya. Sesuatu yang buruk kemudian dilaporkan baik akan berdampak menjadi lebih buruk lagi. Ketimbang keburukan yang disampaikan apa adanya. Sebab keburukan atau kekurangan yang seharusnya mendapatkan solusi menjadi tidak tampak karena dibentengi dinding ABS. Kiranya peringatan Dirut akan menyadarkan kita untuk senantiasa membuat laporan yang benar, jujur dan apa adanya. Tentu saja termasuk membuat laporan Nilai Kinerja Unit (NKU) yang ditengarai masih ada yang bermain rekayasa.Selain itu alumnus Ekonomi UI (’80) ini pun mengatakan Saya akan melakukan knowledge sharing antara kekuatan saya di perbankan dengan jajaran telekomunikasi untuk mendapatkan sinergi optimal. Sikap Dirut kita itu patut mendapat sambutan hangat.

Setiap profesional memiliki keahlian dan strategi bisnis masing-masing. Jika keahlian yang dimiliki masing-masing itu kemudian di-share dan dipadukan secara sinergi maka boleh dipastikan akan menjadi sebuah kekuatan dahsyat. ”Saya komit untuk meningkatkan kualitas kerjasama dengan seluruh BOD dan BOC,” demikian statement Arwin Rasyid berikutnya. Kita mafhum, kerjasama solid dengan BOD dan BOC sangat urgent. Kerjasama solid ini tak hanya mencerminkan profesionalisme manajemen, namun juga menunjukkan komitmennya untuk menggapai serangkaian obsesi sesuai visi dan misi perusahaan.

Kerjasama solid sangat dibutuhkan terutama dalam menggariskan sebuah kebijakan baru. Sebuah kebijakan baru harus menggema dalam satu suara, satu persepsi dan satu bahasa. Jangan sampai suara-suara dan bahasa itu berlainan yang bisa membingungkan public external.

Jaga kualitas komunikasi

”Saya akan open dan transparan dan tetap menjaga kualitas komunikasi,” begitu kata mantan Wakil Preskom Bank Universal (1992-2002) ini.

Apa yang disampaikan, Aswin Rasyid, itu menarik untuk kita kaji. Secara teoritis komunikasi yang baik dan efektif adalah komunikasi dimana pesan (message) yang disampaikan si pemberi pesan (communicator) harus dapat diterima dengan baik atau dimengerti oleh si penerima pesan (communican).

Karena pesan (berupa lambang-lambang bahasa) itu harus diterima dengan baik oleh komunikan maka komunikasi itu haruslah dalam bahasa yang mudah dimengerti dan berlangsung secara timbal balik (two way traffic of communication). Agar tidak menimbulkan perspsi yang berbeda, maka komunikas pun harus berlangsung secara open dan transparan.

Jadi apa yang disampaikan, penerima penghargaan Fadil Honoris IBI, itu sesungguhnya telah menyentuh inti terdalam dari bidang Ilmu Komunikasi. Harapan beliau untuk menjaga kualitas komunikasi, maka itu pun berarti bahwa intensitasnya pun harus senantiasa terjaga dengan baik. Jika kualitas komunikasi telah terjaga dengan baik, maka seperti kata seorang pakar komunikasi, Harold Lasswell, ”di dunia ini tak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan melalui komunikasi yang baik.”
Statement berikutnya beliau, ”mari kita buat strong team untuk sukses dan majunya perusahaan ini.”
Ada pepatah yang mengatakan “We cannot become a Superman, but We can build s Super Team.” Pepatah ini seperrtinya mengena dengan apa yang diharapkan dirut kita. Tim yang kuat atau super memang sangat dibutuhkan. Terutama di era kompetisi saat ini.

Perusahaan kita, TELKOM, tengah hidup di era turbulensi. Era ini tak hanya ditengarai membuat perusahaan menjadi gonjang-ganjing, namun juga penuh ketidakpastian. Sistem regulasi di negeri kita acapkali berjalan terseok-seok dan tidak konsisten. Iklim investasi masih belum kondusif akibat tidak adanya kepastian hukum dan jaminan keamanan. Bahkan tekanan dan pengaruh asing seringkali membuat regulator keliru arah dan salah kaprah dalam menggariskan kebijakan. Dampaknya boleh diterka bagi mikro perusahaan menjadi semakin berat dan penuh tantangan.

Di sisi lain kita pun faham betapa harapan dan keinginan stakeholder kian besar. Tuntutan mereka pada perusahaan telah berkembang menjadi sedemikian banyak, keras, cepat dan dinamis. Jika kita tak mampu atau tak sanggup memenuhi harapannya, maka bukan mustahil akan semakin menekan perusahaan untuk bertindak di luar batas rasio. Misalnya tuntutan untuk melakukan efisiensi yang membabi buta atau pengurangan pegawai yang dilakukan secara radikal (rasionalisasi). Sebaliknya faktor produktivitas didewa-dewakan menjadi semacam berhala. Itu bisa saja terjadi pada perusahaan kita. Oleh karena itu melalui pembentukan super team diharapkan akan bisa menjawab serangkaian tantangan itu.

”SEKAR adalah elemen perusahaan yang penting dan harus kita berikan atensi yang maksimal,” demikian pernyataan dirut berikutnya. Kita tak bisa memungkiri kebenaran pernyataan beliau. Kehadiran SEKAR sebagai mitra Manajemen perlu senantisa dijadikan semacam sparing partner, Tak hanya perlunya secara bersama-sama membela dan memperjuangkan hak perusahaan. Namun juga dalam meluncurkan sebuah kebijakan baru, maka amat bijak bila SEKAR turut berkiprah memberikan pertimbangan seperlunya dalam batasan-batasan yang proporsional.

Pentingnya peran Sekar

Dengan demikian antara SEKAR dan Manajemen semestinya tak ada jurang yang justru bisa menimbulkan gontok-gontokan di dalam. Menjadi tidak lucu apabila satu pihak berjuang mati-matian namun pihak lain duduk bersiul sambil ongkang-ongkang kaki. SEKAR dan Manajemen harus mampu berdiri tegak bersama, berjuang bersama dan menikmati kesejahteraan bersama.Akhirnya, dirut kita pun menyampaikan, ”Saya akan benar-benar membina hubungan baik dengan pers.”

Apa yang disampaikan beliau perlu mendapat dukungan semua pihak, terutama bagi seluruh insan PR TELKOM. Sebab kehadiran pers bagi perusahaan merupakan perpanjangan lidah perusahaan. Karena pers, informasi bisa sampai kepada masyarakat pemakai jasa telekomunikasi, karena kehadiran pers citra perusahaan dapat terbentuk seperti yang diharapkan, bahkan karena peranan pers harga saham perusahaan turut dipertaruhkan.

Oleh karena itu, keinginan beliau membina hubungan baik dengan pers perlu mendapat acungan jempol. Namun yang perlu mendapat perhatian barangkali masalah perlakuannya. Jangan sampai ada perbedaan perlakuan antara media kecil dan besar. Keadilan dalam memberikan pelayanan informasi harus tetap ditegakan. Karena pada hakekatnya seluruh pers, baik yang kecil maupun besar memiliki segmen pembacanya sendiri-sendiri sebagaimana beragamnya segmen pelanggan dan pemakai jasa telekomunikasi.

Belum tentu sebuah informasi efektif diberitakan di sebuah media besar dan belum tentu tidak efektif dimuat pada media pers yang kecil. Media besar atau kecil sesunggunya memilki efektivitas yang sama, karena yang terpenting adalah daya sebar informasinya. Semakin luas dan menyebar informasi itu tentu saja akan semakin baik, karena semakin besar peluang untuk dibaca kastamer dan masyarakat pemakai jasa telekomunikasi. Keadilan atau perlakuaan sama terhadap pers, sepertinya yang tengah dinantikan kalangan insan pers saat ini. (* nas).