Rabu, 14 Januari 2009

Menyoal Speedy Tour d'Indonesia





Event Speedy Tour d’Indonesia (STdI) Jakarta-Bali kembali digelar. Event balap sepeda tahunan yang keempat kalinya ini berlangsung mulai 2 s.d 12 Oktober 2011 dengan jarak tempuh 1.349,4 Km.

Tampilnya Telkom sebagai sponsor utama, tentu saja disyukuri banyak pihak. Utamanya dari keluarga besar ISSI. Maklum, bagi ISSI, tak hanya Telkom telah mensupport secara konsisten dunia balap sepeda nasional. Namun juga telah mensupport gairah pengurusnya yang menjadikan dapur dan periuknya berasap pekat.

Sangat wajar jika mereka senantiasa menggembar-gemborkan keberhasilan dan memuji kehebatan Telkom sebagai sponsor utama.

Bahkan mereka pun harus meyakinkan BOD kita agar event ini terus berlangsung dan meningkat setiap tahun. Karena sangat hebat. Dan bila perlu hingga bumi tak lagi berputar alias until the end of the world.

Gegap gempita Speedy Tour d’Indonesia memang penuh suka cita. Walau terkadang ada nada sumbang sebagai event yang mubazir. Bahkan dirasakan beberapa pihak sarat dengan hura-hura. Benarkah STdI yang menghebohkan jagat balap sepeda ini harus mendapat respon merana?

Bagi Telkom sendiri, yang terpenting adalah bagaimana event ini tak hanya harus mampu mendongkrak image, namun juga bagaimana agar STdI juga dapat meningkatkan penjualan. Yang ujung2nya akan berdampak pada kontribusi pendapatan Speedy yang lebih signifikan. Untuk itu kiranya jajaran DCS dapat menangkap momentum ini secara tepat dan strategis sebagai salah satu senjata untuk berjualan. Jaring2 telah dilempar ke kolam market, tinggal bagaimana jajaran DCS menggiring ikan calang agar sebanyak mungkin tertangkap.

Namun jika harapan itu terlalu muluk dan terlepas dari kenyataan, maka ada sisi harapan lain dari event ini. Diharapkan event ini menjadi sebuah peristiwa sarat makna dan membekaskan kesan mendalam bagi siapa pun yang terlibat didalamnya. Seluruh peserta pebalap dari dalam dan luar negeri yang juga membawa nama organisasinya, vendor EO, dan insan media massa, tidak terkecuali para karyawan TELKOM diharapkan dapat berinteraksi, bertemu, dan bersilaturahmi, mempererat persaudaraan, membangun integritas, melakukan exercise untuk mentradisikan budaya fair play melalui event balap sepeda.

Namun jika harapan itupun semu dan tak mampu mewujud, lalu apa lagi yang diharapkan dari event yang memakan biaya milyaran rupiah ini. Haduch..!!(n425/I...).

Pantaskah jadi icon Speedy?

Sebuah prestasi gemilang dalam sebuah perlombaan adalah menyenangkan. Namun kekuatan sesungguhnya bukan semata-mata pada kata juara, hebat atau fantastis. Kekuatan nyata yang sesungguhnya terlahir dari nilai yang mengemuka dalam peristiwa STdI itu sendiri. Nilai motivasi, effort, perjuangan, kejujuran dan sikap realistis.

Kini Speedy bersama StdI-nya kini telah menyatu menjadi bagian sebuah peristiwa yang memiliki gurat sejarah tersendiri. Speedy seudah terlanjur menjadi icon balap sepeda. Cukup bijak, bila kini, kita tatap dan benahi kembali tentang “wajah” bisnis beberapa produk kita. Kita percantik produk kita dengan image baru yang lebih segar, bercahaya dan mendunia. Jangan lagi menjadi separas wajah yang nyaris kusam dan berkerut lantaran diterpa puting beliung kompetisi yang kian garang. Tentu kita tak akan rela bila wajah manis korporasi beserta seluruh produknya tempat menggantung hidup kita itu menjadi babak belur, lantaran terus menerus ditampol para operator baru dan real competitor kita.

Kita mengenal beberapa brand product seperti Levis, BB, Sony, Nokia, Dji Sam Soe, dll. Citranya begitu bagus dan tetap menguat. Tentu saja karena produk-produk itu, tak hanya telah sangat dikenal, namun juga telah tertanam dalam hati dan benak banyak orang. Hingga bagi pengguna atau pemakainya memberikan prestise atau kebanggaan tersendiri.

Kita bertanya? Apakah citra itu bisa diraih begitu saja? O, tentu tidak. Untuk meraihnya lagi-lagi dibutuhkan suatu effort luar biasa. Bahkan butuh suatu proses panjang melalui pembentukan sebuah stories.

Citra (image) yang positif bagi perusahaan beserta seluruh produknya mutlak diperlukan. Sedemikian pentingnya arti sebuah citra sehingga banyak perusahaan bersedia mengeluarkan tenaga, pikiran dan biaya yang relatif ekstra besar. Tak sedikit perusahaan berani mengeluarkan 30% cost-nya hanya untuk kebutuhan itu.

Kasus Harley Davidson, misalnya dapat dijadikan semacam pelajaran atau pembanding. Dalam tahun tujuh puluhan, Harley terpuruk dihantam motor Jepang. Tak hanya itu, citranya pun runtuh. Mengapa? Karena penggunanya yang terkesan ugal-ugalan, berbau preman, brandalan sampai pada image motornya kaum bajingan.

Namun citra buruk itu kini tinggal sejarah. Lalu apa yang dilakukan Harley Davidson? Ia memulainya dengan meng-create story. Walau membutuhkan waktu sangat panjang, namun berkat intensitas dan konsistensinya yang terjaga dalam meng-create story, maka citra buruk pun secara perlahan berbalik menjadi positif.

Kini kesan Harley Davidson menjadi kebanggaan bagi pemakainnya. Penggunanya semakin menunjukkan kelas tersendiri. Kesan mewah mengisyaratkan tak sembarang orang bisa menggunakannya. Lantas bagaimana dengan Speedy, apakah mampu memberikan kebanggan pada penggunanya selepas STdI ini. Hehehe...(n425/II...)

Pasar minta dikenali

Banyak contoh yang bisa diurai dari pelbagai brand yang kini menjadi fokus perhatian dunia. Sebut saja BMW, BB, Microsoft, Honda, Toyota, dll. Image produk mereka tetap terjaga. Pada kenyataannya, proses pembentukan citra tersebut tidak terlepas dari peranan Public Relations (PR). PR yang baik adalah seorang PR yang mampu membangun sebuah persepsi yang mengarah pada peningkatan Reputasi Perusahaan. Secara teoritis reputasi perusahaan didukung oleh dua pilar utama yakni Performansi dan Citra. Performansi atau kinerja bagus memang sangat penting, namun Citra positif juga tak kalah utama.

Bila kita rumuskan: Reputasi Perusahaan (RP) sama dengan Performansi Perusahaan (PP) ditambah dengan Citra Perusahaan atau RP = PP + CP. Terbentuknya Reputasi Perusahaan ini diakibatkan oleh suatu akumulasi penilaian dari kondisi di masa lalu dan hasil-hasil yang dicapai di masa kini secara multidimensi di hadapan stakeholdersnya. Jadi reputasi sesungguhnya diuji dimata stakeholdersnya melalui kreativitas dan inovasi.

Kita mafhum di era perdagangan bebas dan krisis keuangan dunia saat ini, termasuk di AS, persaingan dalam merebut pelanggan berlangsung semakin ketat dan dahsyat. Untuk itu membentuk reputasi perusahaan menjadi prasyarat penting. Ia harus semakin dibangun, ditingkatkan dan dipertahankan dengan mengerahkan segala daya dan upaya.

Sebab melalui reputasi yang baik sesungguhnya menunjukkan corporate identity yang baik pula. Dan yang pasti menunjukkan sebuah citra yang melekat kuat dalam hati dan benak masyarakat. Citra positif sebuah produk dan atau perusahaan kini telah menjadi salah satu tools cukup menentukan dalam memenangkan persaingan.

Pendekatan untuk mencapai reputasi yang baik, harus dimulai dengan adanya pencarian yang mendasar. Tak hanya melalui pendefinisian kembali budaya perusahaan atau transformasi budaya yang harus semakin kuat sebagai landasan untuk men-support strategi bersaing. Juga perlu diikuti kekuatan komunikasi timbal balik yang lebih open dan menyebar luas, khususnya dalam upaya menarik pelanggan baru, mengakuisisi dan menjaga loyalitas pelanggan.

Kecepatan dan ketepatan dalam menyampaikan pesan komunikasi/promosi menjadi sangat menentukan dalam upaya meraih kemenangan dan berkompetisi. Salah sedikit saja dalam menyajikan materi, akan memberikan persepsi beda pada konsumen. Akibatnya sungguh fatal, biaya promosi yang mahal bisa menjadi terkesan mubazir. Jauh panggang dari api.

Oleh karena itu para petinggi perusahaan c.q. Manajemen semakin dituntut untuk memiliki kemampuan profesional dalam mengeliminasi kesalahan fatal dalam menyampaikan pesan komunikasi, termasuk dalam menggelar sebuah event. Pengetahuan terhadap seluk-beluk publik dengan berbagai watak dan harapannya harus mampu dicerap dengan baik. Tidak terkecuali pengenalan dan pemahaman terhadap pasar, perilaku kastamer dan budaya masyarakat yang diakui sebagai salah satu kunci kesuksesan berkompetisi.
Nah, apakah Speedy Tour, telah membawa pesan seperti itu? Hehehe namanya juga usaha cooyyy...(n425/III...)

Memilih event spektakuler

Bagaimana mungkin kita bisa membantu menghantarkan reputasi perusahaan atau produk kita, tanpa tahu kebiasaan atau budaya yang melekat di market. Bagaimana mungkin citra produk kita bisa terjaga atau tertanam di mata masyarakat kalau tidak memiliki kecermatan dalam memilih media massa.

Bagaimana mungkin informasi produk kita bisa menyebar ke seluruh segmen masyarakat, jika dalam menghantarkan message saja masih memilih-milih dan memilah media sesuka hati! Intinya semua media harus diperlakukan sama, Namun tetap dalam batas-batas taktis, strategis dan proporsional.

Informasi yang benar kepada publik saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan dalam upaya membangun citra dan reputasi yang baik. Seorang PR dan Marketer dituntut memberi solusi bagi perusahaan untuk menciptakan suatu pemahaman publik terhadap organisasi perusahaan secara luas, tepat, cepat, dan maksimal. Peranannya dibutuhkan tidak terbatas pada saat krisis saja, tapi harus dilakukan secara intens dan konsisten. Terpogram secara utuh, total, rapih dan yang terpenting bertanggung jawab.

Dalam mengkomunikasikan dan atau mempromosikan sebuah produk memang harus dilakukan secara tepat porsi, tepat sasar, tepat cost dan terukur benefitnya. Ada promosi yang harus digelar secara recehan, namun penting pula promosi yang spektakuler. Bahkan yang dapat dijadikan icon yang melekat pada event-nya.

Mungkin, Speedy Tour d’Indonesia dapat dijadikan salah satu contoh untuk pembentukan Story Telkom yang dapat dijadikan icon sport sepeda. Ketika orang mendengar atau membaca tentang balap sepeda maka orang akan langsung teringat pada Speedy.

Namun apakah benar event ini telah sanggup menanamkan persepsi pada publik sehingga dapat mengorelasikan antara sepeda dan speedy? Ini diperlukan riset tersendiri. Jika hanya menduga itu sama dengan meramal. Dan itu tugasnya paranormal. Bukan kaum intelek model kita, toh!!(n425/IV...)

Jangan melulu politis
Sejak Aristoteles menulis buku mengenai Politics and Rhetoric, kita disadarkan bahwa politik tidak dapat dipisahkan dari komunikasi/promosi. Proses penyampaikan pesan mulai dari proses FOAC (fact finding, organizing, actuating dan controling) atau saat penyampaian pesan ke khalayak sampai pada upaya meningkatkan citra dari politician membutuhkan strategi komunikasi tersendiri.

Mengkomunikasikan pesan politik bukanlah pekerjaan mudah. Tentu akan jauh lebih rumit dibandingkan dengan mengkomunikasikan pesan bisnis. Mengapa? Karena dalam politik segmentasinya lebih beragam. Khalayaknya sangat luas dan khusus di Indonesia ditambah lagi dengan beragam budaya dari masyarakatnya.

Kita memang tidak mengurus soal pesan politik. Tapi jangan lupa dalam bisnis pun ada politiknya. Karena itu ada pelajaran kuliah yang namanya Politik Bisnis. Sialnya, kita memang jago dalam berbisnis, tapi tak terbiasa berpolitik. Tak hanya tidak terbiasa berpolitik, malah karyawan dilarang untuk berpolitik praktis.

Kondisi ini barangkali berdampak pula pada lemahnya kita dalam menerapkan trik-trik politik untuk kepentingan bisnis. Nah, barangkali event StdI 2011 dapat dijadikan salah satu momentum tepat untuk kepentingan ini. STdI dapat dijadikan suatu terobosan baru dalam penerapan politik bisnis yang dilakukan Telkom. Perlu dibangun unsur trik-trik politisnya agar memiliki kekuatan dan value secara bisnis. Walaupun, tentu saja, kita tak akan rela, jika event besar StdI melulu untuk kepentingan politis beberapa gelintir orang.

Walau tidak hebat dalam berpolitik, karyawan Telkom dikenal sebagai komunitas orang smart. Namun sialnya, kita sudah terlanjur dicap sebagai jago dalam berkonsep namun lemah dalam utilisasi. Kita jago dalam berteori dan piawai berpresentasi namun minimalis dalam praktek. Tak heran kalau muncul nada sumbang, orang Telkom si cerdas yang jago kandang.

Nah, melalui StdI 2011, manajemen kita (Direksi dan para senior leader) terkondisikan untuk turun ke jalan. Semoga hal ini mendorong kebiasaan turun ke jalan untuk melebur dengan pasar. Walaupun dalam kenyataannya, sejauh pengamatan penulis para petinggi Telkom masih saja enggan atau sungkan untuk sekadar menghadiri penyambutan kedatangan para pebalap pada setiap etape di daerah. Entahlah, apa yang menjadi penghambatnya. Nya, hoream tea meureun..!!(n425/V...)

Mengukur Nasib incumbent

Kita sadar, poisisi kita selama ini lebih banyak ditekan berbagai pihak. Tak hanya tekanan dari luar namun juga dari dalam. Tekanan dari eksternal telah sering kita rasakan. Kesan kita sebagai BUMN sapi perahan masih terasa. Dan jika kita ngotot tak mau diperas, maka terjadilah penekanan. Mulai dari regulator, parpol, sampai kepada pressure group dan media massa. Mengapa? Karena kita memang incumbent yang kebetulan telah terbiasa ditekan sejak jaman otoriter orde baru.

Akibatnya ketika mendapat tekanan dihadapinya dengan penuh kepolosan dan keluguan. ”Sakarep panjenengan” atau ”kumaha maneh wae” sebagai kalimat yang ditujukan kepada sang penekan telah menjadi bahasa pelarian atau kalimat penghibur diri atas sebuah ketidakberdayaan.

SDM kita selalu dijejali dengan pelatihan IT, Management, dan sejenisnya. Tapi sangat minim bahkan tak ada yang ditraining untuk menjadi seorang yang berkompetensi di Business Intelligent, HR Intelligent, PR Intelligent, Investor Intelligent, Political Business Intelligent, dan lain-lain. Yang ada training Marketing Intelligent dengan mengandalkan Mrk Plus dengan modul pelajaran dari itu ke itu lagi hingga dirasakan gampang dibaca kompetitor.

Ada yang mengatakan materinya memang hebat tapi tumpul untuk membedah di operasional persaingan dan pasar. Sementara pisau cukur kompetitor semakin tajam, mengiris dan lebih menusuk, karena diasah dengan kreativitas dan inovasi yang tiada henti. Tak hanya dari sisi kompetensi dan strategi politik berperangnya, namun juga dari sikap dan prilaku SDM-nya yang lebih berani berlari keluar untuk menyatu dengan kastamer dan pasar.

Ada kompetitor yang setiap minggu harus mengimplementasikan dua inovasi untuk menghadapi kompetitor. Inovasi itu dihasilkan dari coffee morning yang dilaksanakan seminggu dua kali. Mereka tak perlu menggelar event sehebat STdI yang membutuhkan biaya milyaran. Mereka hanya mengandalkan kecepatan eksekusi dan menyegerakan implementasi dalam merangsek pasar. Nah, bagaimana dengan kita? Kita pasti tak berharap ada ucapan: "Sabodo teuing ah..!!" (n425/VI...)

Upaya merapatkan barisan

Kembali ke soal pentingnya membentuk sebuah Story TELKOM. Tentu banyak pilihan yang bisa kita garap. Salah satunya telah kita temukan untuk produk kita Speedy melalui event Speedy Tour d’Indonesia. Walaupun benefitnya belum jelas, namun agaknya memiliki nilai promosi dan value yang lumayan. Setidaknya, event ini telah memanfaatkan media massa cetak dan elektronik, baik nasional maupun lokal. Liputan intensif selama sebelas hari penuh pada setiap etape di sepuluh kota, cukuplah sebagai media promo yang memberi harapan.

Begitupun liputan dari media massa mancanegara agar timbalap sepeda negaranya terekspose di negaranya. paling tidak, nama Speedy berkibar ke seluruh persada nusantara dan dunia. Tak hanya ke negara tetangga, namun juga sampai Jepang, Malaysia, Australia, Cina, Rusia, dll. Kita boleh mengatakan ini luar biasa!!!??!!!

Menjawab pertanyaan awal, apakah event ini masih perlu dilanjutkan. Tentunya tergantung sikon saja. Cabang olahraga yang lainpun sepertinya membutuhkan support yang sama. Tak hanya untuk menghidupi keluarga besar ISSI Cs saja. Apapun eventnya maka penyelenggaraannya harus lebih diefektifkan lagi dengan hasil yang terulur. Terutama dari aspek liputan media massa yang harus benar-benar optimal. Sebab, sebuah event tanpa liputan media memadai identik dengan an-sich nonsens, omong kosong belaka.

Nah, sejalan dengan penyelenggaraan StdI 2011, mari kita kembali merapatkan barisan menuju real kompetisi dalam lahan bisnis TIME. Sebuah tekad telah terpatri kuat, sebuah keinginan terpancang kokoh, dan sebuah harapan menggantung di angkasa, bahwa kita harus menang dan menang menghadapi kompetisi. Intisarinya adalah bagaimana agar kita tetap menjadi market leader di bisnis ini.

Kini, apalagi!! Mari kita berkunjung untuk menyatu dan melebur dengan kastamer dan market kita. Mari kita sapa mereka. Jangan biarkan mobil2 dinas kita nongkrong seharian di kantor menunggu tuannya yang tengah terkantuk-kantuk di belakang meja kerjanya. Mari satroni pasar. Tak perlu lagi ada ucapan: ”ITU BUKAN TUGAS SAYA" atau "SABODO TEUING" yang mengakibatkan munculnya tagline baru: "SI RAKSASA YANG MALAS BERGERAK” atau ”SI CERDAS YANG JAGO KANDANG!!!” Hapunteeen pisan...!!!(N425/masnana60@gmail.com/hbs)