Rabu, 19 Agustus 2009

Transformasi Sepeda Jadul

Secangkir Anggur Merah (Edisi-10)

Ada yang mengatakan transformasi itu berlangsung bagai mengayuh sepeda jadul (jaman dulu). Awalnya terasa amat berat dan sulit. Tapi begitu bergulir sepertinya semuanya menjadi gampang. Bahkan, dirasakan semakin menuju kondisi point of no return. Transformasi pun akan terus bergulir dan melaju tak kenal berhenti.

Masalahnya, mengapa proses awal transformasi begitu terasa sulit bagai melindas kerikil tajam?

Satu hal pasti, karena biasanya adanya status quo sistem dan paradigma lama yang sudah begitu mengkristal sehingga sulit dicairkan. Terutama secara psikologis keengganan melakukan perubahan bagi orang-orang yang berada dalam comfort zone (zona kenyamanan) yang umumnya memiliki sense of crisis yang rendah. Kalau sudah begini, biasanya penolakan dan resistensi dari orang-orang di dalam organisasi untuk berubah menjadi sangat tinggi.

Apalagi pada masa-masa awal transformasi bergulir biasanya diikuti oleh adanya serba ketidakpastian dan ketidakjelasan di dalam organisasi. Di sini, umumnya diakibatkan oleh visi yang belum jelas atau belum difahami dengan baik. Akibat sosialisasi yang kurang intens sehingga semua orang masih samar ke mana kapal mengarah dan harus berlayar.

Harus diakui dampak transformasi masa lalu masih terasa hingga saat ini. Bahkan hingga saat ini, banyak unit yang masih bingung mau dibawa kemana unitnya. Mau dirahkan kemana dan apa sasarannya. Akibatnya ada unit yang kebingungan sehingga harus mendompleng pekerjaan kepada unit lainnya. Dan di sisi lain terjadi jobs overlapping antar unit.

Sebelum melakukan transformasi sejatinya strategi dirumuskan terlebih dahulu. Jangan sampai ada kesan strategi masih mentah sehingga ada dugaan tidak punya alat dan pegangan dalam menggulirkan transformasi. Jangan sampai semuanya merasakan masih serba gelap. Ibaratnya, semua orang seperti tersesat dan terjebak dalam rimba Afrika.

Di masa-masa awal transformasi idealnya ada seorang figur pemimpin yang mampu menyatukan semua pihak untuk bersama mengarungi samudra transformasi. Jangan sampai ada pihak-pihak yang merasakan masih ada yang belum clear. Transformasi menjadi tak elok kalau terlalu dipaksakan atau dijejalkan.

Proses awal transformasi justru merupakan momentum sangat penting dan kritis bagi bergulirnya keseluruhan proses transformasi. Ada pepatah jangan sampai Anda gagal di awal. Sebab jika gagal di awal jangan harap kondisi point of no return di atas bisa berlangsung. Proyek transformasi yang digulirkan akan berjalan merayap, terkatung-katung. Bahkan moral dan energi orang-orang di dalam organisasi menjadi melempem, dan kondisi terjeleknya, organisasi set back, kembali ke status quo awal. Dengan kata lain, transformasi berjalan di tempat. Padahal biaya yang dikeluarkan untuk itu relatif besar.

Jadi sepakat lah kita jangan jadikan transformasi sebagai mega proyek uji coba bagi sebuah korporasi yang sedang sakit. Masih pantaskah perusahaan sebesar ini melakukan trial and error? Ehhmm, jelas tidak, karena dampaknya yang terlalu riskan!!!!!

Dampak dari transformasi yang salah arah dan salah kaprah bisa berakibat fatal. Misalnya, kebijakan di bidang SDM yang sejatinya dirahkan menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Namun apa lacur, arah bisa melenceng, semakin samar bagai mengejar fatamorgana. Semakin dikejar semakin frustasi.

Kita tahu sejak dua dasawarsa terakhir (20 tahun ke belakang) kebijakan SDM terus mengalami perubahan. Kita bisa merasakan betapa kita terus diputar, dilempar, ditangkap, dipelintir lalu dihempaskan lagi. Ya, bagai sebuah permainan yoyo. (N425).