Senin, 14 September 2009

Menertawakan kebodohan diri

Secangkir Anggur Merah (Edisi-14)

Ada yang mengatakan mencari sebuah kebenaran gampang-gampang susah. Menurut seorang ilmuwan 2+1 pasti 3 karena itulah kebenaran. Bagi seorang pebisnis 2+1 payah kalau 3, minimal harus menghasilkan 4. Bagi seorang psikolog 2+1 sama dengan mencari masalah baru. Contoh sudah punya istri dua ditambah satu lagi kan tambah repot coy....he..he...

Wajar jika seorang filsuf Perancis Jean Bodrillard mengatakan bahwa kebenaran adalah apa yang patut kita tertawakan . Kebenaran adalah huaa...haa...haa.....

Boleh jadi omongan atau gurauan si Jean itu benar. Apalagi di tengah hiruk pikuk persoalan hidup dan kehidupan kita dengan berondongan bencana, kebodohan, kemelaratan. Atau bahkan di tengah harus menerima serangkaian hujatan. Misalnya, saling hujat antara Ahok dan Anggota DPRD DKI, saling curiga antara Ruki dan Pegawai KPK, saling "sikut" antara POLRI dan KPK, tidak terkecuali saling lontar kritikan pedas kepada rezim Jokowi.

Untuk itu tak ada salahnya bila kita tetap belajar untuk menyungging senyum ketika masalah mendera. Mencoba tertawa ketika problem mengepung. Mencoba sumringah ketika kepedihan menusuk. Dan belajar melepas ngakak ketika mental tertekan.

Jadi sesungguhnya daripada kita sibuk mencari kebenaran hakiki, yang notabene milik Sang Maha Penggenggam Hati ini, maka ada baiknya kita belajar untuk menertawakan kebodohan diri sendiri. Sebab menertawai kebodohan diri akan menjadi lebih punya arti. Dan lebih menusuk ke jantung hati untuk sekadar introspeksi dan tahu diri. Jangan merasa benar sendiri.

Apalagi jika harus dihubungkan dengan nilai spiritualitas kebenaran yang sungguh memiliki dimensi makna dan persepsi yang beragam. Saya sendiri tak paham apa itu spiritualitas kebenaran.

Yang saya tahu spiritualitas kebenaran bagi saya saat ini adalah ketika para pensiunan Telkom terangkat kesejahteraannya. Ketika para direksi Telkom peduli pada para pengabdi perusahaan masa lalu. Ketika hadirnya kebijakan Telkom, Telkomsel dan anak perusahaannya untuk bisa berbaik hati mempekerjakan anak2 para pensiunannya. Ketika tak terdengar lagi bahwa ada pensiunan atau janda pensiunan Telkom menjadi pemulung atau antri berdesakan sekadar mendapatkan BLT atau Raskin.

Spiritualitas kebernaran bagi saya adalah ketika para elit Telkom berhenti berpikir untuk memperkaya diri sendiri dengan cara tak benar. Dan tentu ketika para pensiunan didukung Sekar  berani berjuang untuk membela haknya untuk hidup sejahtera. Dan ketika perjuangan itu dilakukan dengan penuh keberanian dan kebenaran karena dilandasi kekuatan spiritual. Nah, itu!! (N425)