Jumat, 11 Mei 2012

Arief Yahya. Jadi Dirut Telkom


Akhirnya, Arief Yahya (AY) mendapat kepercayaan mengemban amanah sebagai Dirut Telkom untuk tiga tahun ke depan. Terpilihnya Arief Yahya sesuai penetapan Agenda 8 pada RUPST Telkom 2012 yang merujuk pada Nota Dinas Rahasia Kementrian BUMN yang ditandatangani Dahlan Iskan.

Arief Yahya sebagai Dirut Telkom menggantikan Rinaldi Firmansyah. Ditetapkan juga Direksi Telkom (BOD) lainnya dengan komposisi sebagai berikut:
Honesty Basyir (Dir Keuangan), Indra Utoyo (Dir Solution & Strategis Portfolio), Muh. Awaludin (Dir Enterprise & Wholesale), Rizkan Chandra (Dir Network Solution), Sukardi Silalahi (Dir Consumer), Priyantono Rudito (Dir HCGA) dan Ririek Adriansyah (Dir Complience & Risk Management).

Dalam RUPST 2012 yang digelar di Ritz Carlton itu, ditetapkan pula komposisi Komisaris (BOC), yakni: Jusman Syafii Djamal (Komisaris Utama), Parikesit Suprapto (Komisaris), Hadiyanto (Komisaris), Johni Swandi Sjam (Kom. Independen) dan Virano Nasution (Kom. Independen).

Menyoal transformasi

Arief Yahya, yang dikenal dengan pakar strategi bisnis ini, pernah mengupas menyoal transformasi di tubuh Telkom beberapa waktu lalu. Menurut Arief, mengapa Telkom harus berubah atau harus bertransformasi? Menurutnya, karena pasar sudah berubah. "Jadi ketika strategi  berubah, maka sejatinya struktur pun harus disesuaikan," tandas Arief. 

Dalam kondisi seperti saat ini, menurutnya, Telkom tidak boleh terlambat melakukan transformasi. Sebab jika terlambat maka jangan harap bisa memenangkan persaingan.  Apalagi menjadi market leader. "Saat ini yang terjadi adalah bukan yang besar memakan yang kecil, tapi yang cepat melibas yang lambat," demikian kata AY.

Transformasi hendaknya dapat diterima sebagai sesuatu yang biasa saja. Tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Ini merupakan sebuah keniscayaan. Walaupun sangat jelas bahwa kita membutuhkan prioritas-prioritas dalam melakukan suatu tindakan atau kebijakan.

Menurut AY, setidaknya prioritas itu perlu dilakukan melalui empat pilar: Pertama, budaya perusahaan harus kita perkuat hingga benar-benar mendarah-daging dan menjadi sebuah landasan kokoh dalam bersikap dan berperilaku. Kedua, kita harus melakukan pembenahan atau penyempurnaan secara struktural agar benar-benar terbentuk sebuah organisasi yang lebih efisien dan fit dengan kondisi pasar yang terus mengalami perubahan. Ketiga, kita perlu melakukan penajaman dalam portofolio bisnis. Dan Keempat, dalam berbisnis kita harus senantiasa menciptakan new driver, baik di bisnis organik maupun non organik.

Khusus dalam penciptaan new driver, perbandingan antara organik dan non-organik itu adalah 60%:40%. Apabila di bisnis organik kita harus fokus dalam mengembangkan bisnis beberapa produk andalan kita (Flexi, Speedy, IME), maka di bisnis non organik kita bisa melakukan dengan cara beli atau membentuk partnership atau bahkan menjual beberapa anak perusahaan yang sudah tidak menguntungkan lagi.

Jaminan sukses

Saat penulis tanya mengenai jaminan kesuksesan apa atas restrukturisasi organisasi yang digulirkan. Saat itu, AY tidak berani menjaminnya. “Kita harus melihatnya dengan pendekatan probabilitas. Artinya jika restrukturisasi dilakukan maka kecenderungan atau peluang untuk berhasil lebih besar, ketimbang jika tidak melakukannya sama sekali.

Transformasi haruslah tetap memberikan prioritas kepada customer dulu untuk kemudian dilanjutkan dengan financial balance. Fokus kepada customer sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita harus total di dalamnya. Sementara untuk mencapai financial balance berarti kita harus mampu menekan Capex dan Opex. 


Di alam kompetisi seperti sekarang ini, maka tak ada pilihan lain kita harus unggul di biaya. Apalagi yang tengah kita hadapi saat ini adalah terjadinya “price war.” Jadi kita pun dituntut untuk lebih peka terhadap harga. Ketika kita memiliki banyak produk, maka kita pun harus segera melakukan bundling.

Dukungan-dukungan yang dibutuhkan sebuah transformasi setidaknya mencakup tiga level, yakni: Strategic, Technical dan Operational. Namun itu pun harus dilandasi oleh spirit tinggi dengan dukungan sistem yang benar-benar tertata secara rapih, ajeg dan bertanggung jawab.

Itulah beberapa tools yang bisa dimainkan TELKOM dalam upaya kita mencapai sebuah keunggulan bersaing. Tekad kita untuk menjadi the winner harus senantiasa tertanam pada setiap benak dan dada karyawan. Berpikirlah dengan hati dan pikiran jernih. Berpikirlah untuk kepentingan perusahaan ke depan.

Bertumpu pada budaya dan sistem

Menurut AY, dalam kondisi seperti saat ini, hendaknya kita tetap mampu berperilaku dengan berpegang erat pada budaya kerja serta berkerjalah berdasarkan sistem. Budaya dan sistem akan menjadi satu kekuatan dahsyat bagi kita untuk bersaing. Apabila hal itu benar-benar sudah tertanam dan terpatri kuat di setiap hati nurani dan attitude kita, maka percayalah kita akan sulit dikalahkan.

Oleh karena itu, restrukturisasi ini harus mendapat dukungan seluruh karyawan. Jadikan semangat budaya dan sistem menjadi landasan kokoh dan bagus sehingga dapat tercipta dengan selaras. Inilah sesungguhnya yang bisa menjamin kesuksesan kita.

Saya senantiasa dan akan selalu menekankan pada setiap kesempatan bertatap muka dengan karyawan agar di dalam dada kita, di hati dan qolbu kita, tertanam tekad baja untuk ‘Menangkan Persaingan dan Pelihara Persatuan’. Sebab kita tak bisa menang kalau tidak besatu dan kita tidak akan bersatu kalau terus dikalahkan. (*nas)