Kamis, 24 November 2011

Antara rekayasa dan makna reward


Tahukah anda bahwa Telkom sering menerima reward. rasanya telah menjadi rahasia umum. Menurut catatan penulis berbagai reward yang diperoleh Telkom tidak kurang dari 15 kali per tahun. Ini tentu saja jauh lebih banyak ketimbang yang diterima instansi atau perusahaan lain di negeri ini. 

Nah, pertanyaannya, sejauh mana berbagai reward itu dapat dikelola secara efektif sehingga mampu mengubah sikap dan cara pandang stakeholders terhadap Telkom.

Kita sepakat bahwa di alam kompetisi yang sangar ini apapun yang kita raih dan kita menangkan haruslah tetap diperoleh dengan cara terhormat. Artinya, jangan sampai ada upaya rekayasa, mengada-ada atau penuh dusta. Misalnya untuk mendapat reward tertentu kita harus mengeluarkan sejumlah uang kepada si pemberi reward. Reward bukanlah cerita fiksi bagai sebuah dongeng. Keberadaannya tak boleh dibuat-buat atau dipaksa harus ada. Reward harus benar-benar ada karena memang ada prestasi dan sejumlah data yang diakui kevalidannya.

Bukan harus dibeli apalagi jika harus direkayasa yang mengundang tanya penuh misteri.
Penghargaan seperti the best ini dan itu tentunya akan lebih bermakna lagi manakala realita kualitas manajerial, produk dan layanan itu sudah sesuai standar dan harapan. Namun hingga kini aspek yang satu ini sepertinya masih menyimpan bad news walaupun tidak seburuk dulu. Apalagi dari hasil studi menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara menurunnya kualitas manajerial, produk dan layanan dengan penurunan pendapatan perusahaan.

Dari sisi karyawan pun sama, yaitu pemeliharaan reputasi membutuhkan keterbukaan informasi dan kejujuran dalam mengelola perusahaan. Sebuah prestasi kiranya dapat dipandang sebagai cermin penilaian obyektif pihak luar terhadap kinerja Telkom. Rujukannya mesti. pada kriteria komprehensif yang biasa digunakan perusahaan-perusahaan besar di dunia.
Misalnya merujuk pada kriteria IQA Foundation yang menggunakan tujuh kriteria Malcolm Baldridge untuk menilai performansi sebuah BUMN, yang meliputi:

(1) Leadership; (2) Strategic Planning; (3) Customer & Market Focus; (4) Measurement, Analysis and Knowledge Management; (5) Human Resource Focus; (6) Process Management; dan (7) Results. Apalagi sejak tahun 2000, Telkom telah menggunakan 7 kriteria Baldrige dimaksud sebagai frame untuk Telkom Quality Management System yang menjadi basis untuk membangun sistem manajemen mutu Telkom.

Harapan kita semoga serangkaian penghargaan yang kita terima itu benar-benar 100% mencerminkan reputasi perusahaan. Pada intinya berarti, tak hanya telah mencerminkan citra dan performansi terbaik, namun juga diharapkan benar-benar telah menunjukkan kepiawaian direksi dan manajemen dalam mengelola perusahaan.

Secara tidak langsung sesungguhnya mencerminkan pula kompetensi, kerjasama dan kebersamaan segenap jajaran TELKOM yang telah menunjukkan jerih payahnya melalui pengerahan tenaga dan pikiran serta optimalisasi sumberdaya lainnya, sehingga Telkom menunjukkan reputasinya, baik secara nasional maupun dalam skala dunia.

Kiranya raihan sejumlah award itu akan semakin memotivasi seluruh jajaran Telkom untuk bekerja lebih produktif. Atau setidaknya kita menjadi tahu posisi Telkom saat ini menurut perspektif pihak luar dalam hal manajerial, kualitas dan profesionalisme dalam mengelola perusahaan. Pengetahuan mengenai posisi ini, memang, penting sebagai dasar bagi kita untuk melakukan peningkatan mutu demi mewujudkan visinya menjadi operator terdepan di tingkat regional.

Selain itu berbagai prestasi yang berhasil diukir Telkom selama ini diharapkan pula mampu menginspirasi guna mewujudkan obsesi menjadi role model bagi seluruh BUMN di Indonesia. Tidak terkecuali role model bagi seluruh korporasi di Indonesia dan regional pada umumnya. Sehingga mampu menunjukkan bahwa Telkom sebagai the real champion di sektornya.

Namun yang terpenting adalah makna dibalik semua penghargaan itu. Kata orang bijak bahwa keberhasilan adalah hasil dari kerja keras yang tidak berkesudahan. Berusaha lebih giat setiap hari maka akan ada hari esok yang membawa berkah dan keberhasilan. Keberhasilan itu bukan sekadar didasarkan pada obsesi, namun juga butuh imajinasi, daya kerah dan ketulusan bekerja.

Kini semuanya terpulang pada kita. Maukah kita mengoptimalisasi segala daya dan upaya. Sanggupkah kita turun ke jalanan untuk menyatu dengan market dan kastamer kita. Relakah kita mengoptimalkan kendaraan dinas untuk memonitor market dan kastamer kita. Sudikah kita mencurahkan segala cipta, rasa dan karsa kita untuk peduli pada nasib perusahaan terkini dan mencintainya dengan penuh ketulusan.

Kalau kita masih ogah-ogahan dan tetap bermain pamrih-pamrihan pada perusahaan. Kalau kita masih tak sudi berkeringat dan berdesakan untuk sekadar menyapa kerumunan kastamer tentang produk kita. Kalau kita masih jaga prestise dan tak berani hengkang dari comfort zone. Kalau kita masih melongo atau bengong bersaksi atas hebatnya manuver kaum kompetitor, maka lebih baik biarkanlah perusahaan ini mengerdil hingga mati suri.

Atau biarkanlah label the real champion itu menjadi impian berkepanjangan. Lalu biarkanlah visi agung yang kerap kita dengang-dengungkan itu menggantung di langit tertinggi menjadi kelap-kelip fatamorgana. Kemudian biarkanlah itu menjadi mimpi-mimpi indah hingga pensiun atau pendi menyapa. Karena merasa kesulitan perusahaan itu bukan urusannya. Duh, please dech!! (n425).