Kamis, 24 November 2011

Begitukah cara Telkom menghadapi kompetisi?

Kita harus menumbuhkan jiwa kompetisi. Ya, ini ideal dan isu menarik. Pentingnya jiwa kompetisi sangat strategis untuk mengadaptasi pasar kompetisi.

Co-founder Intel Andrew S. Grove, pernah mengatakan bahwa dalam pasar kompetisi, perusahaan yang sukses tidak dilihat dari size dan volume. Tidak pula dilihat dari incumbent atau newcomers. Tapi dilihat dari sejauhmana perusahaan itu atraktif dan fleksibel di pasar.

Untuk menumbuhkan jiwa kompetisi, tak ada cara lain selain kita harus berubah (change). Ada kata-kata klise mengatakan, tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Tuntutan perubahan itu sangatlah real karena baik secara internal maupun eksternal, banyak hal yang berubah sehingga kita pun perlu menyesuaikan diri.

Sebagai incumbent operator, beban TELKOM saat ini memang sangat berat. Kita bagai raksasa (giant) namun dipaksa agar gesit menari.

Bobot yang masih tambun ini, meski terus coba dirampingkan dengan program Pensiun Dini, namun tetap saja gerak TELKOM terasa lamban. Belum lagi nostalgia monopoli masih kerap terasa manisnya. Tidak mudah untuk beradaptasi secara cepat dengan kondisi baru.
Kebanyakan dari kita harus diakui masih bermental birokrat, kaku dengan over prosedural. Banyak aturan yang masih bertabrakan karena tidak diupdate atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan bisnis terbaru.

Kompetisi tidak pernah mau menunggu. Time is our enemy. P asar industri telekomunikasi di Indonesia memang masih sangat menjanjikan, tidak heran bila banyak pemain telekomunikasi global yang melirik pasar Indonesia. Mereka datang sejadi-jadinya untuk merangsek bisnis kita yang masih ranum dan menggiurkan. Satu per satu pemain telekomunikasi global menyatroni Indonesia.

Mereka membawa karungan uang dan teknologi sebagai kail untuk memancing rupiah demi rupiah di bisnis telekomunikasi. Sementara kita masih duduk di kursi goyang dengan secangkir kopi dan sebatang rokok diiringi lagu Jayalah Telkom Indonesia.
Kita masih suka berkaraoke ria bersama mitra dalam ruangan redup. Kita masih dimabukan dengan berbagai fasilitas nyaman. Begitu tersadar kita melongo dan garuk kepala tak gatal. Tak percaya pada apa yang telah terjadi.

Kompetitor. Ya, mereka datang menyamar dengan berbaju batik. Mereka lihay berkolaborasi dengan perusahaan lokal. Mereka datang dengan memiliki banyak hal. Mereka punya otak cerdas, teknologi terbaru, pengalaman berbisnis global, network system. Dan tentu semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi pesaing kuat TELKOM.

Mereka boleh jadi bukan pionir di Indonesia, karena TELKOM lah yang selalu menjadi pionir di bisnis telekomunikasi. Mereka tak memiliki pelanggan sebanyak Telkom Group. Mereka bukanlah penerima berbagai reward, karena Telkom lah si penerima segudang berbagai penghargaan.

Tetapi, apa artinya pionir kalau tidak dapat memenangkan persaingan bisnis. Apa artinya jumlah pelanggan banyak kalau tak ada duitnya. Apa artinya menerima berbagai penghargaan kalau tidak memiliki efek terhadap sales dan fulus.

Coba saja perhatikan pertumbuhan revenue kita dari tahun 2009 ke tahun 2010. Lebihnya tidak mencapai Rp. 200 Milyar. Padahal kita tau beban SDM telah berkurang tajam. Karena kebijakan pemotongan beban biaya terjadi disana-sini. Tidak terkecuali biaya perjalanan dinas dan biaya tetek bengek yang tak terlalu signifikan.

Tapi begitukah cara kita berbenah. Begitukah cara kita menghadapi kompetisi. Begitukah cara kita berstrategi? Wajar, jika begitulah hasilnya....Lumayan puyeng kan..!!! (n245)