Kamis, 24 November 2011

Politik Hutang Budi


Rakernas IV Makassar telah berlalu dengan menghasilkan beberapa rekomendasinya. Tulisan ini sekadar catatan dari puing-puing tersisa atas perhelatan akbar itu. Diantara puing-puing itu berupa hamburan kata-kata dan pernyataan yang terkadang mudah dicerna tapi sulit disikapi.

Kata-kata kini sepertinya tak lagi memiliki makna yang jelas. Slogan-slogan bertaburan tak lebih sekadar pemanis bibir dan penenang hati. Sebuah pernyataan bahkan tak sanggup lagi menjadi tenaga kreatif yang mampu menyatukan dan membebaskan kita dari belenggu tekanan.

Kata dan perbuatan sepertinya tak lagi bisa menyatu sebagaimana api dan udara. Akibatnya pernyataan menjadi tersamar. Dan perbuatan menjadi tersumir. Menyatu bersama intrik-intrik penuh siasat. Pernyataan yang ditujukan pada pihak lain begitu nyaman padahal yang sesungguhnya terasa menikam. Anehnya kita memang lebih suka dijejali kepura-puraan yang menikam. Ketimbang tikaman penuh kejujuran.

Sekaris yang penyabar, keberadaan Sekar selama ini memang merasa tertekan.. Kondisi ini sudah pasti menjadikan kita merasakan tidak nyaman. Harap difahami posisi Sekar dari banyak aspek memang kalah sumberdaya yang acapkali membuat kita tak berdaya. Dimanapun di dunia ini organisasi perserikatan mengalami nasib sama dibanding sumberdaya yang dimiliki para majikannya.

Bahkan di beberapa perusahaan lain keberadaan perserikan ini dipandang sebagai pengacau, pemberontak dan gerombolan yang harus dibasmi atau dikerdilkan keberadaannya. Bila perlu dipecah belah agar tak lagi memiliki kekuatan solid. Caranya bisa diterka dan tak terlalu sulit bagi mereka.

Menghadapi situasi seperti itu, paling banter kita hanya bisa meluapkan uneg-uneg di lingkungan sendiri, bahwa boleh jadi itu akibat nilai-nilai obyektivitas para petinggi kita mulai rontok dan tercabut dari akarnya. Mulailah ngedumel bahwa buat apa budaya perusahaan kalau pada gilirannya budaya perusahaan itu menjadi tak ada lagi harganya. Atau mungkin juga muncul praduga akibat ada janji-janji politis dan hutang budi demi keamanan status quo. Apapun jawabannya, berangkat dari fakta, bahwa keberadaan organisasi sudah pasti akan terperangkap dalam belenggu dilema, tekanan dan jeratan aturan.

Pencarian keadilan dan kebenaran tampaknya telah dirasionalisasi melalui proses pembungkaman. Pelanggaran kebebasan bersuara, pembredelan opini, penindasan individu bahkan telah berlangsung secara terang-terangan. Penikmatan sumber kekayaan perusahaan dan aset perusahaan semakin jomplang. Kondisi perusahaan yang tengah menuju pada proses decline yang berkelanjutan menjadi terlupakan. Serta masalah-masalah lainnya yang silih berganti yang membuat sebagian dari kita harus terpaksa usap dada.

Sekaris yang baik, satu hal yang sangat memprihatinkan adalah persoalan moral elit senior leader kita. Terkait didalamnya menyoal sikap dan perilakunya. Kecenderungan petualangan di zona nyaman (dalam berbagai versi, kelas dan rezimnya) semakin hari semakin pudar dari koridor idealisme dan patokan nilai. Acuan berpikirnya adalah rasio-monopolitis. Para elit kita lebih suka berbuat dan berkutat demi keuntungan diri dan kelompoknya yang kerap dilakukan dengan cara demonstratif dan mencolok mata.

Sebuah tanggung jawab, tak lagi menjadi bagian dari sebuah beban moral. Malah menjadi tidak berkutik dan bertekuk lutut di bawah tekanan-tekanan penguasa diatasnya. Tingkah polah para elit kita, semakin eksentrik dan sulit difahami. Tapi tak perlu berputus asa, kondisi ini memang terjadi dimana-mana.

Tahukah Sekaris, bahwa fenomena seperti itu sesungguhnya merupakan ekspresi di masa-masa penjajahan. Fenomena seperti itu muncul, boleh jadi, diawali oleh revolusi berpikir yang keliru. Revolusi berpikir yang kurang terorganisasi secara pas, runtut dan dalam. Teori-teori presentasi dan buah pikirnya, baik sebagai hasil renungan, riset atau rapim tingkat tinggi, tampak jelas kurang dimanfaatkan secara bertanggung jawab, konsisten dan rapih. Sehingga statement harus terpasang sebagai janji-janji dan iming-iming yang acapkali harus berbeda haluan dengan kenyataan dan perbuatan.

Sekaris berdarah pejuang, Rakernas yang kali ini berlangsung di Makassar, salah satu tujuannya adalah untuk membongkar kepalsuan yang terjadi di perusahaan kita. Kita yakin benar, bahwa produk Rakernas dapat membuka tabir hitam yang selama ini terjadi di lingkungan perusahaan kita. Percayalah bahwa Sekar berjuang, tak sekadar mempertahankan kesejahteraan yang telah kita nikmati. Namun lebih jauh Sekar juga berpikir dan berjuang demi survival perusahaan ditengah gonjang-ganjing kompetisi dan ketergesaan dalam mengelola.

Sekar telah sepakat sejak tahun 2004 tidak akan turun ke jalan untuk urusan perut. Karena Sekar merasakan itu tindakan kurang tepat ditengah kesejahteraan yang telah kita reguk. Namun Sekar akan turun ke jalan ketika perusahaan diusik dan ditekan dari pihak eksternal manapun. Namun tidak menutup kemungkinan Sekar akan turun ke jalan ketika perusahaan ini dikelola dengan tidak benar, tidak patut dan tidak mencerminkan good corporate governance. Mungkin Sekar akan turun ke jalan ketika nilai-nilai bersih, transparan dan profesional mulai dikesampingkan.

Sekar senantiasa berpikir, karena berpikir bukanlah sebuah kejahatan. Yang memvonis jahat dan tidaknya adalah hati kita. Nurani kita. Untuk itulah berpikir sejatinya harus mampu menjawab permasalahan masa kini dan masa depan. Berpikir hendaknya yang memiliki sadar arah dan faham tujuan. Agar pada gilirannya tercipta suasana nyaman. Agar tercipta nuansa kolaboratif yang lebih konstruktif. Agar tak terjadi kebohongan-kebohongan. Agar tak terjadi gombalisasi.

Oleh karena itu dalam menjawab tantangan perusahaan yang semakin merontokan harapan ini, tampaknya kita perlu melakukan revolusi mental dan revolusi berpikir yang mengarah pada mewujudkan aspirasi pencerahan moral. Tujuan utamanya dilandaskan pada pembentukan potensi seutuhnya, agar siapapun yang merasa tertekan, setidaknya mampu mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang lebih layak, terhormat dan lebih berjatidiri. Untuk itulah mengapa Sekar akan tetap berjuang demi menegakan nilai-nilai menuju pada tegaknya akal budi yang utama. Begitulah..!!!(N425@telkom.co.id)