Rabu, 25 Januari 2012

Sepakbola Eksekutif (Episode Imajiner-6)



Setelah ada kompromi diantara kedua kapten kesebelasan pertandingan siap dilanjutkan. Kesepakatannya bola yang hilang diganti dengan buah durian pemberian Atang. Wasit Ipung menjinjing bola durian yang telah terikat tali rafiah ke tengah lapangan. Setelah durian ditaro di titik tengah wasit Ipung meniup terompet ampe terpingkal-pingkal seraya mengarahkan para pemain agar menempati posisi.

Namun, entah mengapa, para pemain bagai terserang penyakit budek. Mereka kagak ada yang mau maju ke lapangan. Malah berkumpul dan pada duduk di gawangnya masing-masing. Boleh dibilang mirip unjuk rasa. Mungkin para pemain tak sudi kakinya rontok gara2 nendang bola durian. Apalagi kalo disuruh nanduk, wadouw, bisa nyangkut di kepala tuch duren.

Mengingat pertandingan tertunda hampir satu jam para penonton mulai melolong. Penonton protes dan menuntut minta ganti rugi pada panitia. Mungkin meniru sanksi di penerbangan jika terlambat sekitar empat jam maka para penumpang harus mendapat kompensasi Rp. 300 ribu rupiah. Namun karena terlambat sejam, penonton pertandingan ini cukup toleran, berbaik hati dan tidak sombong. Mereka cuma menuntut agar diberikan nasi bungkus dengan telor dadar plus sambel secukupnya saja. Sepertinya para penonton menderita laparnya sudah ga kira-kira. Sebab dari tadi mereka secara bersamaan meneriakan yel2: “lapar..lapar..lapar...dst...”

Ganjar selaku ketua penitia kelabakan dengan tuntutan penonton. Namun dia bertindak cukup sigap dan segera kasi disposisi pada stafnya Santi untuk beli nasi bungkus di Jl Setiabudi. Diumumkan Ganjar lewat sound system agar penonton bersabar, nasi bungkus sedang disiapkan. Para penonton tiba2 diam dan di beberapa tempat sempat terdengar ucapan: “Alhamdulillah...”sambil mengusap-usap perutnya.

Sementara di lapangan tengah hanya tinggal bertiga. Wasit Ipung, Kapten Manajemen Rinaldi dan Kapten Sekar Wisnu. Ketiganya juga bingung. Karena tak tau apa yang harus diperbuat akhirnya mereka duduk bertiga mengelilingi buah durian. 

Dalam kondisi kebingungan seperti itu, tiba-tiba ada seorang penonton yang berteriak: “Sudah...makan saja duriannyaaaaa...!!!!” demikian teriak seorang penonton yang diketahui seorang anggota MPO dari Jatim bernama Budhi. Rupanya Budhi tak hanya berteriak namun langsung ke tengah lapangan sambil membawa golok.

Ketika Budhi mengacung2kan golok menuju tengah lapangan dicegat Sekjen Sekar, Asep Mulyana. Mungkin Asep khawatir akan terjadi sesuatu yang bisa berakibat sesuatu banged. Terjadilah dialog:

Asep: “mangmengmong...mungmingmeng...mongapaiiiin..?”
Budhi: “blahblehbloh..blihbluhblahduren...”
Asep: “ahihoh..ahuhihoooch...”

Tanpa cingcong dan bla ble blo lagi, Budhi diikuti Asep langsung ke tengah lapang untuk membelah duren. Setelah duren terbelah, mereka berlima akhirnya asyik makan duren dengan sangat akrabnya dan menjadi tontonan di tengah lapangan. Malah kapten Rinaldi berkali-kali mengacungkan jempolnya ke atas. Pertanda durian itu sepertinya tak hanya MAKNYUUSSS tapi juga JUARA. Karuan saja penonton merespon dengan suara koor: “Huuuuuu...huuuuu....huuuu....”//nas/kgm//

Pesan moral: "Siapapun pejabatnya dan apapun jabatannya dengarkan suara pelanggan."