Senin, 17 Juni 2013

Menyoal Pencaplokan TELKOMVision Oleh CT Corp.

Pencaplokan mayoritas saham PT.TelkomVision oleh CT Corp yang dimiliki Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chaerul Tanjung dinilai aneh karena tak memberi nilai tambah kepada perusahaan milik negara (BUMN) papan atas tersebut.

Malah BoD PT.Telkom Tbk bisa segera jadi terpidana apabila pengusutan hukum berjalan mulus dan tanpa campur tangan parpol koalisi yang kini tengah berkuasa..


“Kepada Dirut Telkom, harap diingat bahwa pemimpin BUMN yang biasanya dijadikan tersangka pertama dalam kasus-kasus seperti ini. Apalagi proses tender TelkomVision tersebut sangat aneh,” tegas ekonom dari Sustainable-Development Indonesia (SDI), Dradjad H Wibowo di Jakarta, Minggu 16/6.

Seperti diketahui CT Corporation mencaplok PT TelkomVision, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Kedua perusahaan itu, pada pekan pertama Juni 2013 menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Sales and Purchase Agreement/CSPA). Hal yang diperjualbelikan adalah saham Telkom pada anak usahanya, yaitu 98.75% saham PT Indonesia Telemedia, operator tayangan televisi berbayar TelkomVision.

Dalam CSPA tersebut, CT Corp mengakuisisi 80% saham TelkomVision. Telkom tetap memiliki 20%. Nilai akuisisi ini diperkirakan di atas AS$ 100 juta. Setelah akuisisi, CT Corp nanti lebih banyak menyediakan konten, sementara infrastruktur menjadi tanggung jawab Telkom. Telkom menggunakan Morgan Stanley sebagai financial advisor.

Menurut Dradjad, nilai tambah yang akan dibawa oleh CT Corp, khususnya dalam hal konten, sebenarnya bisa dikerjakan sendiri oleh TelkomVision.

Konten yang laku dijual televisi berbayar itu umumnya adalah program anak-anak, film, dan serial, saluran televisi spesial seperti musik dan olahraga, saluran televisi asing, serta saluran lokal. Sementara untuk free-to-air biasanya konten lokal, konten yang dilokalkan, sepakbola, dan film blockbuster.

Sementara pelanggan televisi berbayar adalah dari segmen menengah dan atas yang biasanya berlangganan bukan untuk mencari konten lokal. Di sisi lain Chairul Tanjung memiliki TransCorp, yang saat ini lebih banyak terlibat dalam konten lokal yg lebih cocok untuk free to air. 


TelkomVision sendiri diketahui sudah mampu menyediakan konten yang cocok dengan segmen TV berbayar. Dan ketika Dirutnya dipegang oleh Elvisar, sudah menguntungkan dan memberikan nilai tambah kepada pelanggan telepon kabel/rumah selain berlangganan telepon juga bisa berlangganan internet kecepatan tinggi Speedy dan tv kabel TelkomVision.

“Jika ingin konten unggulan, misalkan acara musik dunia, direksi TelkomVision tinggal ditugaskan berburu memenangkan hak siarnya. Saya yakin mereka bisa. Mereka cukup cerdas kok,” kata Dradjat kemudian.

Selain itu, dia menengarai saham TelkomVision dijual terlalu murah kepada CT Corp, sebesar 80% dari 98.75% saham TelkomVision seharga AS$ 100 juta lebih. Padahal nilainya bisa di atas USD 200 juta. “Kok ini malah dijual murah. Aneh dan menimbulkan tanda tanya besar," jelas ekonom terkemuka ini.

Penjelasannya, TelkomVision memiliki sejarah dan pengalaman yang panjang. TelkomVision, lebih tepatnya PT Indonusa Telemedia, sudah berdiri sejak 7 Mei 1997. Artinya perusahaan itu sebenarnya kuat dan tahan banting melewati krisis politik dan ekonomi Indonesia di 1998.

Perusahaan itu juga memiliki kekuatan infrastruktur satelit dan kabel, dengan basis pelanggan yg mencapai lebih dari 250 ribu. “Kalau perusahaan bisnis TV kabel lainnya bisa untung, kenapa TelkomVision tidak bisa. Artinya, TelkomVision dapat meraih laba juga dari operasional selama ini. Janganlah merendahkan orang-orang Telkom yang bekerja dan membesarkan TelkomVision selama ini,’ katanya.

Sebagai perbandingan, lanjutnya, grup usaha media lainnya, Viva Media mengumumkan akan menginvestasikan AS$ 120 juta dalam 3 tahun untuk mulai membangun layanan TV berbayar VivaSky. Dana sebesar AS$ 80 juta diperoleh dari pinjaman Deutsche Bank.
“Perusahaan TV berbayar yang baru mulai dibangun saja, belum punya infrastruktur dan basis pelanggan, diperkirakan membutuhkan AS$ 120 juta. 

Bagaimana mungkin TelkomVision dengan semua infrastruktur, basis pelanggan dan brand-nya dinilai tidak jauh berbeda dari VivaSky?” ujar Dradjad dengan tanda tanya besar dibenaknya, kenapa TelkomVision dilego begitu murahnya ke CT Corp milik Chairul Tanjung.

Dikemukan dia bahwa sumber-sumber internal memberikan estimasi bahwa nilai TelkomVision bisa mendekati AS$ 200 juta lebih. Itu adalah nilai korporasi sekarang dimana masih banyak inefisiensi. Jika inefisiensi diberantas, nilainya tentu lebih besar lagi. Bisa mencapai USD 350 juta.

“Jadi sebaiknya pencaplokan TelkomVision oleh CT Corp ini dibatalkan. Telkom sebaiknya mengembangkan sendiri TelkomVision sesuai strategi bisnis awal,” kata Dradjad.

Telkom adalah BUMN terbesar ketiga di Indonesia, yang berada pada nomor 685 dalam ranking perusahaan terbesar versi Forbes. Sementara itu CT Corp dimiliki oleh Chairul Tanjung, konglomerat nasional yang juga Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Chairul dikenal sangat dekat dengan Presiden SBY, bahkan lebih dekat dibandingkan sebagian besar menteri. 
(LAPORAN : H. ERRY BUDIANTO, JAKARTA-SURABAYAWEBS.COM).