Sabtu, 12 Desember 2015

Belajar dari Ban

Seorang Anak Baru Gede (ABG) Memperhatikan Ayahnya yang sedang mengganti ban mobil miliknya.

Dengan rasa Penasaran anaknya berkata: "Ayah, mengapa ayah mau repot2 mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?"

Sang ayah tersenyum, seraya meminta anaknya duduk lebih dekat, ia berkata: "Sini nak, mari kita perhatikan ban ini." 

"Ada 6 hal tentang ban yg bisa kita pelajari untuk hidup kita," ujar sang ayah.
"Hah, belajar dari ban ?" timpal anaknya dengan kening berkerut.
"Kalau bisa belajar dari ban, lalu lebih pintar mana ban ini dengan guru disekolah?" tambah anaknya.
"Ya, tentu saja, Gurumu lebih pintar, nak," jawab ayahnya sambil tersenyum.

Tapi mari kita perhatikan ban ini dengan segala sifatnya:

1. Ban selalu konsisten bentuknya yang BUNDAR.


Apakah dia dipasang di sepeda, motor atau mobilmu, bahkan pesawat terbang, ban tidak pernah berubah, tetap bentuknya bundar. Tidak akan pernah berbentuk segitiga ataupun segiempat.

"Benar juga, ya, Yah..."Lalu pelajaran yang kedua apa tuh yah.." tanya anaknya dengan lebih serius mendengarkan.




2. Ban selalu mengalami kejadian terberat.


Perhatikan betapa ban akan selalu mengalami kejadian terberat. Ketika melewati jalan berlubang, dia merasakan. Saat melewati aspal panas dia juga yg merasakan. Ketika ada banjir,ban juga yg harus mengalami langsung.  Bahkan ketika melindas kotoran hewan/bangkai hewan dijalan, yang tidak dilihat oleh sipengemudi,
siapa yg pertama kali merasakannya coba?
Ya, pasti ban dong, Yah?" jawab sang anak seraya menanyakan pelajaran ketiga dari ban..

3. Ban selalu menanggung beban terberat.


"Kau tahu nak, ban lah yang selalu menanggung beban terberat. Baik ketika sedang berhenti, apalagi sedang berjalan. Baik dalam kondisi tanpa penumpang, maupun ketika sarat dengan barang."
Si anak pun mengangguk-ngangguk menandakan persetujuannya.
"Lalu yang keempat, yah?" tanya anaknya.





4. Ban selalu senang bekerja sama.


Ban tak pernah sombong, tidak pernah menolak atau berat hati untuk memenuhi permintaan pihak lain.
Artinya ban selalu koperatif dan senang bekerja sama.
Perhatikan ketika pedal rem memerintahkannya berhenti, maka dia seketika berhenti. Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat, diapun taat dan dengan serta merta langsung melesat. "Bayangkan, nak, jika ban tak suka kerjasama alias membangkang? Saat direm malah ngebut dan saat digas malah berhenti, coba apa yang akan terjadi?
"Wow Benar jg ya Yah, betapa ban patuh pada tuannya,"
puji sang anak.


5. Ban rendah hati dan tak mau menonjolkan diri.


BAN adalah contoh sifat rendah hati yang paling sejati. Meski banyak hal penting yang dilakukannya, namun dia tetap patuh, tunduk, rendah hati dan tak ada sedikitpun untuk menonjolkan diri.
Dia biarkan orang2 memuji bagian mobil lainnya, bukan dirinya. 
"Emmmhh, ,maksud ayah ?"tanya si anak agak bingung.
"Iyah, coba saja kamu ingat kan waktu kita ke pameran mobil tahun lalu?" tanya Ayahnya.
"Wah, ingat dong Yah, kita mencoba masuk ke beberapa mobil kan?" kata  si Anak.
"Perhatikan saja betapa para pengunjung  di show room atau pameran mobil,  lebih mengagumi bentuk body mobilnya kan, lalu ketika mencoba masuk kedalamnya, yg menerima pujian berikutnya adalah interior mobil itu. Mulai dari dashboardnya, joknya, AC-nya dan berbagai variasi di dalamnya.

Jarang sekali orang yg memperhatikan ban apalagi sampai memuji ban. Malah yang mendapat perhatian adalah velg-nya. Padahal semua kemewahan, keindahan, kehebatan mobil, tak akan berarti apa2 kalau tak ada bannya atau bannya kempes atau bocor.
"Wah betul itu, Yah.  aku sendiri selalu lebih suka menikmati kenyamanan duduk di joknya yah hehehe..." ujar anaknya sambil tersenyum puas.
"Dan yang terakhir," kata si Ayah.

6. Tanpa Ban Kendaraan Tak Akan Berarti

"Tentu saja tanpa ban, betapa bagus dan hebatnya kendaraan yang kamu miliki, atau betapa canggihnya pesawat yang kita naiki, maka jika tanpa ban semuanya menjadi sia-sia, kita tak akan bisa kemana-mana." jelas Ayah.
"Jadi pelajaran yang bisa kamu petik. Saat kamu dewasa kelak, meski kamu menghadapi banyak masalah dan beban hidup yang berat, hendaknya tetap diemban dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Sebagaimana tanggung jawab yang dibebankan pada keberadaan ban.


Tetaplah kamu konsisten dengan kebaikan yg kamu berikan, tetaplah koperatif, mau bekerja sama dengan orang lain. Jangan sombong dan merasa hebat sendiri. Dan yang terpenting tetaplah menjadi penggerak atau inovator yang rendah hati, bermanfaat bagi orang lain dan tahan bantingan menghadapi kendala dimanapun kamu berada.

"Itulah yang Ayah maksud dengan hal2 yang bisa kita pelajari dari ban untuk hidup kita." tutur Ayahnya seraya menutup kisahnya. (sumber:kaskus, diedit ulang).