Senin, 06 Juni 2016

Puasa dalam kacamata sufistik

Dalam kacamata sufistik ‘takwa’ sebagai terminal akhir dari ibadah puasa memiliki makna yang sedikit berbeda. Bukan hanya sebatas menjalankan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya secara lahir, tapi lebih dari itu, para sufi memaknai takwa sebagai simbol penghambaan diri kepada Tuhan secara utuh, murni dan maksimal.

Takwa sejati dalam dunia sufistik tercapai di saat hati telah mampu terlepas dari tambatan dunia dan jiwa merdeka dari kungkungan cita-cita duniawi semata.

Berangkat dari paradigma di atas, puasa bagi para sufi tidak lagi dimaknai sebagai pergulatan menahan jiwa dari keinginan-keinginan untuk memuaskan hasrat perut dan birahi saja, karena mereka telah lepas dari itu. Tapi adalah perjuangan jiwa dalam menjauhi segala dosa-dosa lahir dan dosa-dosa batin.

Dosa lahir bersumber dari tujuh anggota tubuh, dua mata, dua telinga, mulut, perut, dan kemaluan. Dosa batin adalah segala hal-hal yang mampu menyeret hati ke lembah menduakan Tuhan (syirik khafy), semisal, ‘ujub, takabbur, riya’, sum’ah, hasad, cinta dunia dan lain sebagainya.

Tapi bagi para sufi yang telah mencapai maqam (derajat) akhir dalam perjalanan spiritual, puasa itu bukan lagi berkisar dalam peperangan hati dari segala dosa-dosa batin, karena dengan melalui perjalanan suluk yang panjang, melintasi beberapa tangga-tangga ma’rifatullah, hati mereka menjadi bening, bersih dari noda-noda batin. 

Selain bening hati mereka pun steril dari ancaman virus noda-noda batin. Sehingga puasa bagi golongan sufi tingkat tinggi ini, adalah menahan hati dari musyahadah kepada selain Allah, dan dari mencita-citakan sesuatu selain Allah. Bagi mereka tiada yang disembah, diinginkan, dicintai, dan dimaksud kecuali Allah. Sehingga jika terlintas dalam hati keinginan atau cita-cita selain Allah maka rusaklah puasa mereka.

Pemaknaan puasa di atas yang menggambarkan tingkatan-tingkatan manusia dalam berpuasa, telah diurai oleh Imam Al-Gazaly dalam Ihya Ulumuddin. Di dalam kitab itu, Al-Gazali mengklasifikasikan puasa sesuai tingkatan orang-orang yang menjalankan ibadah puasa pada tiga kategori. Puasa orang awam, khawash (orang pilihan), dan khawashul-khawas (orang terpilih dari para pilihan).

Pertama, puasa orang awam, yaitu puasa yang hanya semata-mata menahan lapar, dahaga, hubungan biologis saja, dari terbit matahari hingga terbenam. Namun belum terjaga dari pelanggaran-pelanggaran anggota tubuh juga dosa-dosa hati.

Kedua, puasa khawas, yaitu puasa mereka yang telah mampu menahan anggota tubuh dan hati dari segala dosa.

Ketiga, puasa khawasul khawas, yaitu puasa mereka yang tidak lagi sekadar menahan lapar dan dahaga saja, juga bukan lagi sekadar menjaga diri dan hati dari dosa-dosa anggota tubuh dan batin, karena mereka telah terjaga dari itu, tapi puasa mereka adalah menjaga hati dan perasaan dari pada musyahadah kepada selain keagungan dan keindahan Ilahi, dan daripada cinta kepada Allah Azza wa jalla

Puasa tingkatan khawasul khawas ini adalah puasa para Anbiya, Auliya’, Arifin, Shiddiqin, dan Muqarrabin. Puasa yang menembus dimensi ruang dan waktu, karena puasa tingkatan ketiga ini, berlaku dimana saja, kapan saja dan dalam aktifitas apa saja.

Senada dengan klasifikasi yang diurai oleh Imam Al-Gazali, Syeikh Abdul Qadir el-Jailani juga mengklasifikasikan puasa dalam tiga kategori. Puasa Syariat, Tarikat dan Hakikat. Puasa Syariat dari menahan nafsu perut dan kemaluan. Puasa Tarikat dari menahan anggota tubuh dan hati dari dosa. Dan Puasa Hakikat dari menjaga hati dari alpa akan Allah.

Puasa Syariat jika rusak dan puasanya adalah puasa wajib (Ramadhan) harus diqadha di luar bulan suci. Puasa Tarikat apabila batal harus ditutupi dengan taubat. Dan puasa Hakikat apabila lalai harus segera kembali ingat kepada pemilik cinta dan wujud hakiki Allah Azza wa Jalla.

Akhirnya, bagi para sufi, tingkatan takwa tertinggi sebagai cita-cita akhir dari setiap insan, hanyalah dapat digapai dengan melalui tiga anak tangga puasa di atas, (Syariat, Tarikat, dan Hakikat). Bagi mereka ketiga macam anak tangga itu adalah satu kesatuan utuh yang tak dapat dipisahkan. Sehingga Insan Kamil (Manusia Sempurna) sebagai impian akhir para pejalan spiritual itu, tidak akan terwujudkan tanpa melalui tangga-tangga tersebut. (Andi Ridwan's Blog)