Jumat, 09 Agustus 2019

Adab Salik kepada Mursyid

MURID memiliki adab dan tugas (wazhifati) lahiriyah yang banyak. Setiap murid (salik, yang sedang melakukan perjalanan menuju cahayaNya), wajib memiliki adab kepada guru mursyidnya. Beberapa hal terkait adab murid itu setidaknya memiliki sepuluh bagian, sebagai berikut:

Pertama, mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya batin kepada Allah. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir, tidak sah kecuali dengan mensucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah batin dan menyemarakkan hati dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat. 

Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis," (at-Taubah: 28) mengingatkan kepada akal bahwa kesucian dan kekotoran tidak khusus pada hal-hal yang lahiriah. Seorang musyrik bisa jadi bersih pakaian dan badan tetapi batinnya najis. Najis ialah ungkapan tentang sesuatu yang harus dijauhi dan dihindari. Sedangkan kotoran sifat lebih penting untuk dijauhi karena ia di samping kotor secara langsung juga pada akhirnya menghancurkan.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah berfirman, "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya," (al-Ahzab: 4) 

Jika pikiran terpecah maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan, "Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya." Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi dihisap udara sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, bahkan ia harus menyerahkan seluruh urusannya kepadanya dan mematuhi nasehatnya seperti orang sakit yang bodoh mematuhi nasehat dokter yang penuh kasih sayang dan mahir. 

Hendaklah ia bersikap tawadhu' kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Asy-Sya'bi berkata, "Zaid bin Ts-abit menshalatkan jenazah, lalu baghalnya didekatkan kepadanya untuk ditunggangi, kemudian Ibnu Abbas segera mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, "Lepaskan wahai anak paman Rasulullah!" Ibnu Abbas menjawab, "Beginilah kami diperintahkan untuk melakukan kepada para ulama' dan tokoh." Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata, "Beginilah kami diperintahkan untuk melakukan kepada kerabat Nabi kami saw.". 

 Oleh karena itu, penuntut ilmu tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Di antara bentuk kesombongannya terhadap guru ialah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal; padahal sikap ini merupakan kebodohan. Karena ilmu merupakan faktor penyebab keselamatan dan kebahagiaan. 

Siapa yang mencari tempat pelarian dari binatang buas yang berbahaya maka ia tidak akan membeda-bedakan antara diberitahukan oleh orang yang terkenal ataukah orang yang tidak tenar. Ilmu pengetahuan adalah barang milik kaum Muslimin yang hilang, ia harus memungutnya dimana saja ditemukan, dan merasa berutang budi kepada orang yang membawanya kepada dirinya siapapun orangnya. 

Oleh sebab itu dikatakan: "Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi." Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu' dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah berfirman, "Sesungguhnya padayang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaaf: 37) 

Arti "mempunyai akal" ialah menerima ilmu dengan faham, kemudian kemampuan memahami itu tidak akan bisa membantunya sebelum ia "menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikan" dengan hati yang sepenuhnya hadir untuk menerima setiap hal yang disampaikan kepadanya dengan konsentrasi yang baik, tawadhu', syukur, memberi dan menerima karunia. 

Hendaklah murid bersikap kepada gurunya seperti tanah gembur yang menerima hujan deras kemudian menyerap semua bagian-bagiannya dan tunduk sepenuhnya untuk menerimanya. Betapapun cara mengajar yang diterapkan seorang guru maka hendaklah ia mengikutinya dan meninggalkan pendapat pribadinya karena kesalahan pembimbingnya lebih bermanfaat baginya ketimbang kebenaran dirinya sendiri. Karena pengalaman memberitahukan hal-hal yang detil dan rumit yang kedengarannya aneh tetapi sangat besar manfaatnya. 

Ali ra berkata, "Di antara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta'ala selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya."

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat. Karena hal itu akan membingungkan akal dan pikirannya, dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela'ah mendalam, bahkan pertama- kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Kemudian jika usianya mendukung maka ia berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan saling mendukung dan saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. 

Ia juga harus berusaha dengan segera untuk tidak memusuhi ilmu tersebut dikarenakan kebodohannya, sebab manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya. Allah berfirman, "Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: 'Ini adalah dusta yang lama.' (al-Ahqaf: 11) 

Seorang penyair berkata: "Orang bermulut pahit dan sakit. Merasakan pahit air yang segar." Ilmu-ilmu "syar'iyah" dengan berbagai tingkatannya bisa membawa hamba berjalan kepada Allah atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu ini memiliki beberapa mamilah (tingkatan) yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya dari tujuan. 

Para pelaksana dan penegaknya (quwwam) merupakan para penjaga "syari'ah" tak ubahnya seperti para
penjaga perbatasan dan pos-pos medan pertempuran. Masing-masing memiliki tingkatan tertentu dan mendapatkan, sesuai dengan tingkatannya tersebut, pahala di akhirat, apabila dimaksudkan untuk mencari ridha Allah.

Keena, tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi menjaga urutan dan dimulai dengan yang paling penting. Karena apabila usia. pada ghalibnya, tidak memadai untuk mendapatkan semua ilmu maka seyogyanya ia mengambil yang terbaik dari segala sesuatu dan mencurahkan segenap kekuatannya pada ilmu yang mudah dipelajari sampai menyempurnakan ilmu yang paling mulia yaitu ilmu akhirat. 

Ilmu yang saya maksudkan ini bukanlah keyakinan yang biasa ditelan begitu saja oleh orang awam, juga bukan retorika dan perdebatan yang menjadi tujuan ahli ilmu kalam (teologi), tetapi suatu bentuk keyakinan yang merupakan hasil cahaya yang dihunjamkan Allah ke dalam hati seorang hamba yang telah mensucikan batinnya, melalui mujahadah, dari berbagai kotoran, hingga mencapai tingkatan iman Abu Bakar ra yang jika ditimbang dengan iman segenap manusia niscaya iman Abu Bakar akan lebih berat sebagaimana kesaksian yang diberikan Umar dalam sebuah riwayat yang shahih. 

Secara umum, ilmu yang paling mulia dan puncaknya ialah pengenalan Allah (ma'rifatullah) 'azza wa jalla. Ia adalah lautan yang tidak diketahui kedalamannya, dan puncak derajat manusia dalam hal itu adalah tingkatan para nabi kemudian para wali kemudian orang-orang yang di bawah mereka.

Ketujuh, hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya; karena ilmu tersusun secara berurut, sebagiannya merupakan jalan bagi sebagian yang lain. Orang yang mendapat taufiq ialah orang yang menjaga urutan dan pentahapan tersebut. Hendaklah tujuannya dalam setiap ilmu yang dicarinya adalah peningkatan kepada apa yang berada di atasnya. 

Oleh sebab itu, ia tidak boleh menilai tidak benar suatu ilmu karena adanya penyimpangan di kalangan orang-orang yang menekuninya, atau karena kesalahan salah seorang atau beberapa orang di dalam ilmu itu, atau karena pelanggaran mereka terhadap konsekwensi amaliah dari ilmu mereka. Sehingga ada sekelompok orang yang tidak mau melakukan kajian dalam masalah 'aqliyah dan fighiyah dengan alasan seandainya punya dasar niscaya sudah dicapai oleh para ahlinya. 

Ada juga sekelompok orang yang meyakini kebatilan ilmu kedokteran hanya karena mereka pernah menyaksikan kesalahan yang dilakukan oleh seorang dokter. Ada pula kelompok yang meyakini kebenaran ramalan perbintangan (perdukunan) hanya karena adanya kesesuaian yang pernah dibuktikan oleh seseorang. 

Semua kelompok tersebut tidak benar, tetapi ia harus mengenali sesuatu itu sendiri, bukan melalui orang yang menekuninya. Karena tidak setiap orang bisa menguasai ilmu dengan baik. Oleh sebab itu, Ali ra berkata, "Janganlah kamu mengenali kebenaran melalui orang tetapi kenalilah kebenaran pasti kamu akan mengetahui orangnya."

Kedelapan, hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Apa yang dimaksudkannya adalah dua hal; pertama kemuliaan hasil; dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu kedokteran. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan yang abadi sedangkan hasil ilmu kedokteran adalah kehidupan yang fana. 

Dengan demikian, ilmu agama lebih mulia. Atau seperti ilmu hisab dan ilmu ramalan perbintangan. Ilmu hisab lebih mulia karena kekokohan dan kekuatan dalilnya. Jika ilmu hisab dibandingkan dengan ilmu kedokteran maka ia lebih mulia. Dengan demikian jelas bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasulul-rasul-Nya, dan ilmu tentang jalan yang mengantarkan kepada ilmu-ilmu ini.

Kesembilan, hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabiri). 

Hendaklah murid tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, harta, dan pangkat, atau untuk mengelabui orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Di samping itu, ia tidak boleh meremehkan semua ilmu, yakni ilmu fatwa, ilmu nahwu dan bahasa yang berkaitan dengan al-Qur'an, as-Sunnah dan ilmu-ilmu lainnya yang merupakan fardhu kifayah. 

Janganlah sekali-kali Anda memahami dari sanjungan kami yang berlebih-lebihan kepada ilmu akhirat ini sebagai pelecehan terhadap ilmuilmu yang lainnya. Karena orang-orang yang bertugas menekuni ilmu-ilmu tersebut sama seperti orang-orang yang bertugas menjaga front perbatasan (Darul Islam) dan orang-orang yang berjihad dijalan Allah. 

Di antara mereka ada yang bertugas sebagai petempur, ada yang menjaga pertahanan, ada yang bertugas mengurusi perbekalan air, ada yang menjaga binatang-binatang tunggangan dan lain sebagainya. Setiap orang dari mereka mendapatkan pahala, jika tujuannya untuk meninggikan kalimat Allah bukan untuk mendapatkan
harta rampasan. 

Demikian pula para ulama'. Allah berfirman, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (al-Mujadilah: U) Allah berfirman, "(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah." (Ali Imran: 163) 

Keutamaan tersebut bersifat nisbi. Janganlah Anda mengira bahwa derajat di bawah tingkatan yang paling tinggi itu jatuh nilainya, karena tingkatan tertinggi adalah tingkatan para nabi kemudian para wali, kemudian para ulama' yang mendalam ilmunya, kemudian orang-orang yang shalih dengan segala perbedaan derajat mereka. 

Secara umum "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (az-Zalzalah: 7-8) Dan barangsiapa dengan ilmunya, ilmu apa saja, bermaksud mencari ridha Allah maka pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Kesepuluh, hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi lagi dekat darpada yang jauh, dan yang penting daripada yang lainnya. Arti 'yang penting' ialah apa yang menjadi kepentingan Anda -tidak ada yang menjadi kepentingan Anda kecuali urusan dunia dan akhirat. 

Jika Anda tidak bisa menghimpun antara kesenangan dunia dan keni'matan akhirat, sebagaimana ditegaskan al-Qur'an dan diberi kesaksian oleh cahaya bashirah. maka yang lebih penting adalah apa yang tetap ada selama-lamanya; sehingga pada saat itu dunia menjadi tempat singgah, jasad menjadi kendaraan, dan amal perbuatan menjadi upaya menuju tujuan yang tidak lain adalah perjumpaan dengan Allah yang merupakan ni'mat terbesar, sekalipun hanya sedikit di dunia ini orang yang mengetahui nilainya.

Renungkanlah hal ini terlebih dahulu dan terimalah nasehat gratis dari orang yang telah mendapatkan pengalaman berharga tersebut dan tidak berhasil mencapainya kecuali setelah usaha keras dan keberanian yang sepenuhnya untuk menentang orang-orang awam dan khusus dalam menghentikan taqlid mereka semata-mata karena syahwat.
(Sumber:baitulakhlaq.blogspot.com)