Jumat, 15 November 2019

Mujahadah An Nafs

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS Al Ankabut : 69)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khurdry (Said bin Malik bin Sanan Al Nashari Al Kahzrajy 10 sH – 74H/613-693 M, seorang sahabat Rasulullah SAW, ikut berperang 12 kali dan meriwayatkan 1170 hadits, meninggal di Madinah). Bahwa ketika Rasulullah ditanya mengenai jihad terbaik, beliau menjawab : “Adalah perkataan yang adil yang disampaikan kepada seorang penguasa yang dzalim” (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Ibrahin bin Adham mengatakan : “Seseorang baru akan mencapai derajat keshalehan, sesudah melakukan enam hal : (1) menutup pintu bersenang-senang dan membuka pintu penderitaan (2) menutup pintu keangkuhan dan membuka pintu kerendahan hati (3) menutup pintu istirahat dan membuka pintu perjuangan (4) menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga (5) menutup pintu kemewahan dan membuka pintu kemiskinan (6) menutup pintu harapan duniawi dan membuka pintu persiapan menghadapi kematian”.

Jiwa mempunyai dua sifat yang menghalangi dalam mencapai kebaikan, yaitu keberlarutan dalam memuja hawa nafsu dan penolakan pada tindak kepatuhan. Manakala jiwa menunggang nafsu, maka kamu harus mengendalikannya dengan kendali takwa. Manakala jiwa bersikukuh menolak untuk berselaras dengan kehendak Allah, maka kamu harus mengendalikannya agar menolak hawa nafsumu. 

Manakala jiwa bangkit memberontak, maka kamu harus mengendalikan keadaan ini. Tiada satu hal pun yang berakibat lebih utama selain sesuatu yang muncul menggantikan kemarahan yang kekuatannya telah dihancurkan dan yang nyalanya telah dipadamkan oleh akhlak mulia.

Perjuangan kaum awam berupa pelaksanaan tindakan-tindakan, tujuan kaum khawash adalah menyucikan keadaan spiritual mereka. Bertahan dalam lapar dan jaga adalah lebih mudah daripada membina akhlak dan membersihkan semua hal negatif yang melekat padanya.

Satu dari sekian sifat jiwa yang paling merugikan dan paling sulit dilihat adalah ketergantungannya pada pujian manusia. Orang yang bermental seperti ini berarti menyangga beban langit dan bumi dengan satu alisnya.

Dikabarkan bahwa Abu Muhammad Al Murta’isy berkata : “Aku berangkat haji berkali-kali seorang diri. Pada suatu ketika aku menyadari bahwa segenap upayaku telah terkotori oleh kegembiraanku dalam melakukannya. 

Hal ini kusadari saat ibu memintaku menarikkan seguci air untuknya. Jiwaku merasakan ini sebagai beban yang berat. Saat itulah aku mengetahui bahwa apa yang kusangka merupakan kepatuhan kepada Allah SWT dalam hajiku selama ini, tidak lain hanyalah kesenanganku semata, yang datang dari kelemahan dalam jiwa, karena apabila nafsuku sirna, niscaya tidak akan mendapati tugas kewajibanku sebagai suatu yang memberatkan dalam hukum syariat”.

Dzun Nuun Al Mishry berkata : “Penghormatan yang Allah berkenan memberikannya kepada seorang hamba, maka Allah menunjukkan kehinaan dirinya, penghinaan yang Allah berkenan menimpakannya kepada seorang hamba, maka Allah menyembunyikan kehinaan dirinya dari pengetahuan akan kehinaan itu sendiri”.

Abu Ali Ar Rudzbary berkata : “bahaya yang menimpa manusia datang dari tiga hal : kelemahan watak, keterpakuan pada kebiasaan, dan mempertahankan teman yang merusak. Ketika ditanya “apakah kelemahan watak itu? Dia menjawab : mengkonsumsi hal-hal yang haram. 

Lalu ditanya apakah keterpakuan pada kebiasaan itu? Dia menjawab : memandang dan mendengarkan segala sesuatu yang haram dan melibatkan diri dalam fitnah. Kemudian ditanya apakah mempertahankan teman yang merusak itu? Dia menjawab : itu terjadi ketika kamu menuruti hasrat nafsu dalam diri, lalu diri kamu mengikutinya”.

Abul Husain Al Warraq berkata : “ ketika kami mulai menempuh jalan-Nya lewat tasawuf di Masjid Abu Utsman Al Hiry, praktek terbaik yang kami lakukan adalah bahwa kami memprioritaskan kemudahan bagi orang lain, kami tidak pernah tidur dengan menyimpan sesuatu tanpa disedekahkan, kami tidak pernah menuntut balas pada seseorang yang menyinggung hati kami, bahkan kami selalu memaafkan tindakannya dan bersikap rendah hati kepadanya, dan jika kami memandang hina seseorang dalam hati kami, maka kami akan mewajibkan diri kami untuk melayaninya sampai perasaan memandang hina itu lenyap”.

Abu Utsman berkata : “selama orang melihat setiap sesuatu baik dalam jiwanya, ia tidak akan mampu melihat kelemahan-kelemahannya. Hanya orang yang berani mendakwa dirinya terus-menerus selalu berbuat salahlah yang akan sanggup melihat kesalahannya itu”.

Dzun Nuun Al Mishry mengatakan : “kerusakan merasuki diri manusia karena enam hal : (1) mereka memiliki niat yang lemah dalam melaksanakan amal untuk akhirat (2) tubuh mereka diperbudak oleh nafsu (3) mereka tidak henti-hentinya mengharapkan perolehan duniawi, bahkan menjelang ajal (4) mereka lebih suka menyenangkan makhluk, mengalahkan ridha Sang Pencipta (5) mereka memperturutkan hawa nafsunya dan tidak menaruh perhatian yang cukup kepada sunnah Nabi SAW (6) mereka membela diri dengan menyebutkan beberapa kesalahan orang lain, dan mengubur prestasi pendahulunya”.
(baitulakhlaq.blogspot.com)