Sabtu, 23 November 2019

Tentang Syahadah dari Alam Ide ke Realitas Empirik (Bag-I)

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak keturunan Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian pada diri mereka “bukankah Aku ini Tuhanmu”? Mereka menjawab, “benar, kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami”. Demikian ini supaya nanti di hari kiamat kamu sekalian tidak berkata, “sesungguhnya kami lupa terhadap kesaksian itu”. (S. al-A’raf: 172).
Materi pokok dari ayat ini adalah mengenai kesaksian manusia akan adanya wujud Tuhan (syahadah). Akan tetapi, kesaksian ini tidak terjadi di alam empirik melainkan di alam lain sebelum manusia menginjak alam empirik, yaitu alam sebelum manusia dilahirkan,before born, di alam itu manusia telah mengenal ide, atau innate idea. Karena penyaksian ini terjadi di alam sebelum alam empirik, maka tidak mustahil jika manusia lupa atau tidak menyadari kejadian (penyaksian) tersebut.

Oleh sebab itu, ayat ini mengingatkan anak keturunan Adam mengenai syahadah tersebut supaya nanti pada hari kiamat mereka tidak mencari alasan untuk mengelakkan diri. Lewat ayat ini manusia diberi tahu supaya ia menjadi diri yang memiliki pengetahuan tentang syahadah. 

Peristiwa yang terjadi di alam praempirik ini bisa dikiaskan dengan alam bayi yang baru lahir untuk memulai menjalani kehidupan di alam empirik; Meskipun bayi ini sudah hidup di alam empirik, namun kesadaran mereka belum berkembang sehingga bayi itu tidak dapat mengingat apa-apa, bahkan tentang nama dirinya. Baru nanti setelah besar, dia diberitahu oleh orang tuanya bahwa ia diberi nama “Fulan” atau “Ghulam”. Anehnya si anak ini percaya begitu saja bahwa ia bernama “Fulan” atau “Ghulam”.

Kita hanya mengajukan logika yang sederhana. Jika di awal alam empirik saja seseorang tidak menyadari banyak hal yang terjadi pada dirinya ketika masih bayi, apalagi ketika ia masih di alam pra empirik”. Logika sederhana lainnya adalah, jika berita yang disampaikan oleh orang tentang masa bayinya bisa dipercayainya, apalagi jika berita itu disampaikan oleh Tuhan, sang penguasa kehidupan manusia.

Para filosof Yunani kuno telah membahas pengetahuan manusia, apakah terjadi before born, innate (bawaan), ataukah terjadi setelah di alam empirik. Penulis menurunkan kajian filosofik tentang alam ide di bawah ini tidak dimaksudkan untuk tujuan mencocokkan ayat al-Qurân dengan tesa-tesa filsafat, apalagi mempersamakan tesa-tesa filsafat sejajar dengan ayat al-Qur’ân, melainkan lebih dimaksudkan untuk membantu memperoleh pemahaman yang bersifatkontekstual. 

Dalam hal ini, filsafat ditempatkan sebagai sarana atau alat bantu guna mencapai sesuatu, dan sesuatu yang hendak dicapai itu adalah pemahaman. Boleh jadi dengan alat bantu ini bisa menghasilkan pemahaman yang baru atau mungkin lebih mantap. Sebagai alat bantu, ia bersifat hipotetik dan ekstrinsik. Ibarat ibu-ibu yang sedang memasak di dapur yang pada saat tertentu membutuhkan pisau sebagai alat bantu guna mempermudah pekerjaannya, tetapi di saat yang lain ia tidak membutuhkan pisau karena objek yang sedang ditangani memang tidak membutuhkan alat bantu pisau itu.


1. Tentang Alam Ide.

Adalah para filosof Yunani kuno yang membuka lembaran wacana filsafat dengan mendiskusikan berbagai tema dan isu, dan salah satu tema yang tetap menjadi topik pembicaraan sampai saat ini adalah tentang alam ide. Tradisi filsafat idea dirintis oleh Socrates dan muridnya, Plato, yang lazim dikenal dengan aliran Idealisme. 

Tradisi Platonis ini diteruskan oleh Plotinus, para filosof Muslim dan filosof Kristen abad Skolastik, terus memasuki abad Modern pada Descartes, Spinoza, Leibniz, mengilhami tokoh Aufklarung Immanuel Kant, lalu pada Hegel, pada hermenutika Emilio Betti, juga pada Brentano pemberi inspirasi pada muridnya, Edmund Husserl, perintis aliran Fenomenologi, dan meluas pada sosiologi Durkheim yang memandang ide sebagai fakta sosial. 

Aturan-aturan moral, hukum adat, keyakinan agama yang ada dalam masyarakat, demikian Durkheim, merupakan fakta sosial. Mereka adalah fakta eksternal, obyektif, terpisah dari subyek (diri manusia), tidak tergantung pada subyek, dan memiliki daya mengikat individu sebagai anggota masyarakat.

Meskipun argumen yang diajukan mereka berbeda-beda, namun ada kesejajaran pemahaman tentang ide sebagai sesuatu yang ada secara obyektif. Ide-ide itu ada di luar sana dan mereka telah menunggui kita ketika kita lahir, dan ketika kita mati, mereka tetap ada tak ubahnya seperti fakta-fakta yang berupa benda-benda fisika; batu, kayu, air dan lain-lainnya, yang keberadaannya tidak tergantung kepada kita. Sudah tentu tidak semua filosof di atas dengan ragam pandangannya tentang ide, secara rinci diturunkan di sini.

Plato mengkonsepsikan ide sebagai realitas yang sesungguhnya, realitas yang hakiki, sebaliknya, alam yang nampak nyata secara inderawi ini tak lain melainkan dunia bayangan dari alam ide atau alam yang hakiki. Sebagai alam yang sesungguhnya, ide itu tunggal, satu, tetap, tidak berubah dan abadi. Sebaliknya, dunia yang nampak inderawi ini bersifat berubah-ubah, plural, partikular-individual, serba banyak dan tidak tetap.

Mengikuti ajaran gurunya (Socrates), Plato memberi contoh, “sekuntum bunga yang indah”. Sekuntum bunga adalah duniapartikular-individual, sesuatu yang nampak inderawi. Indah adalah dunia ide. Jika ide “indah” berpartisipasi terhadap sekuntum bunga, maka kita mengatakan, “sekuntum bunga yang indah”. Dan, jika kemudian ide “indah” tidak lagi berpartisipasi kepada bunga tersebut, oleh sebab bunga itu telah menjadi layu dan rusak, maka terjadilah perubahan. 

Akan tetapi, apa yang sesungguhnya berubah bukanlah ide “indah” melainkan sekuntum bunga itulah yang berubah. Ide “indah” tidak pernah berubah sebagaimana ide “tidak indah” juga tidak berubah. Ide-ide akan tetap demikian, abadi dan tidakberubah.Yang berubah adalah sekuntum bunganya, sesuatu yang particular, sesuatu yang nampak di mata kita.

Terhadap pertanyaan mengenai di mana ide itu berada, Plato menjawab bahwa ide itu berada di alam Tuhan (Divine Realm). Dan, di alam itu manusia telah mengenal ide-ide dan setelah lahir ke dunia, manusia tinggal mengingat apa yang telah dikenalnya di alam ide tersebut. Manusia telah membawa ide bawaan (innate idea) sebelum lahir ke dunia ini.

Menurut Plato, ide itu dipahami atau ditangkap oleh akal-rasio dan bukan oleh indera, sebaliknya, dunia yang nampak di hadapan kita ini ditangkap oleh indera. Dan, pengetahuan yang dihasilkan oleh rasio lebih tinggi nilainya dari yang dihasilkan oleh indera, karena objek pengetahuan indera adalah dunia yang selalu berubah-ubah dan tidak tetap. Pengetahuan yang dihasilkan oleh rasio ia sebut denganepisteme atau genuine knowledge, sedangkan yang dihasilkan oleh indera ia sebut dengan opinion. Karena itulah, Plato disebut sebagai pelopor aliran Rasionalisme-Idealisme.

Dalam doktrinnya tentang ide, Plato sendiri memberikan padanan makna ide dengan forms, concept, pattern (pola) dan semakna dengan “universal”. Wujud meja atau tempat tidur sebagaimana kita saksikan di alam empirik ini, sekedar contoh lain yang diungkapkan oleh Plato, tak lain melainkan imitasi dari pola atau bentuk yang telah ada di alam ide. Doktrin ide atau hal-hal yang berkait dengannya dapat dibaca dalam karya-karya Plato yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris semisal, Theatetus, Temaeus, Phaedo, Meno, dan Republic.

Tradisi Platonis ini berkembang di kalangan kaum mutakallimin dan filosof Muslim serta para skolastik Kristen. Dengan bantuan akal-rasio mereka melakukan kajian terhadap ide-ide atau konsep-konsep keagamaan yang acuannya dari Kitab Suci. Agama dijelaskan denganepistemologi Idealisme dan Rasionalisme dan hasilnya, sebagaimana telah kita tahu, adalah tesa-tesa keagamaan yang dikemas dengan logika filsafat. 

Memang terjadi pro dan kontra terhadap pendekatan filsafat ini, akan tetapi itu tidak berarti melenyapkan warisan mereka yang telah tersimpan dalam almari peradaban atau menghilangkan semangat generasi berikut dari kajian filsafat. Inilah karir abad Scholastik di mana filsafat bertemu dengan doktrin agama.

Di abad Modern, melalui tangan Descartes, doktrin ide Platonis dikembangkan dengan mengajukan kriteria untuk menilai ide; Kriteria itu adalah clear and distinct, jelas dan terjarak (terpisah). Suatu ide dinyatakan benar jika memenuhi kriteria ini. Artinya ide itu jelas bisa ditangkap, dimengerti dan dijelaskan oleh rasio dan terpisah di mana satu ide berbeda dari lainnya dan terpisah dari subyek. 

Ide tentang panas, demikian Descartes memberi contoh, secara bisa jelas ditangkap oleh rasio dengan dukungan empirik; dan ide tentang panas itu tidak muncul dari diri subyek melainkan karena dari sesuatu yang datang dari luar diri, bahwa di luar diri subyek memang ada api yang menyebabkan munculnya ide “panas”. Singkatnya, ide yang masuk ke dalam diri subyek datang dari dunia obyek luar diri.

Argumen inilah yang kemudian digunakan oleh Descartes untuk menjelaskan ide “adanya Tuhan”. Ide ini tidak muncul dari dalam diri subyek melainkan bersumber dari wujud yang infinite (Tuhan) di luar diri subyek. Karena Tuhan adalah Dzat yang infinite, maka ide tentang adanya Dzat yang infinite tidak bisa datang dari hal-hal yang finite (wujud selain Tuhan). Ide tentang adanya Dzat yanginfinite haruslah berasal dari Dzat yang infinite. 

Dengan demikian jelas bahwa Tuhan itu ada, demikian Descartes dalam Discourse on the Method. Descartes mengajukan argumen ini hanya didasarkan pada panalaran rasio tanpa acuan dari Kitab Suci Agama yang dipeluknya. Inilah yang disebut dengan argumen causal proof, (pembuktian melalui sebab munculnya ide) dan bukan argumen ontologi yang lazim dinisbahkan kepada St. Anselmus. Argumen ontologi ini berlatar belakang dari upaya Anselmus memenuhi permintaan kaum biarawan yang meminta kepadanya membuat argumen untuk membuktikan adanya Tuhan yang tidak dari Kitab Suci melainkan dari permenungan akal pikiran manusia. 

Isi pokok dari argumen ini demikian, bahwa di dalam akal pikiran kita terdapat ide tentang adanya Dzat yang Maha Besar yang tidak ada lagi yang lebih besar dari dzat itu. Namun orang-orang bodoh dan kufur tidak mau memperhatikannya dan mereka tetap dalam kebodohannya. Argumen ini mendapat reaksi langsung dari pemikir sezamannya, yakni Gaunilo. Reaksi ini dikemas dalam bentuk pamflet dan disebarkan di berbagai tempat dengan judul “Membela kaum bodoh” (In Defence of the Fool). 

Isi penolakan itu menyatakan, bahwa kita bisa saja memiliki ide-ide di dalam akal pikiran kita yang tidak riel bahkan kahayalan-khayalan yang tidak mungkin ada dan jelas-jelas tidak ada wujudnya di luar akal. Ia lalu memberi contoh, dalam akal pikiran kita bisa saja muncul ide tentang sebuah pulau surgawi di tengah-tengah lautan, akan tetapi ide semacam ini tidak menjamin kesimpulan bahwa dunia semacam ini benar-benar ada secara obyektif.

Argumen ontologi ini juga dikritik Immanuel Kant dalam karyanya yang terkenal, “The Critique of Pure Reason”. Konsep Tuhan ada atau di sana ada Tuhan bermakna sama; hanya sebuah kemungkinan yang tak ubahnya seperti konsep di sana ada uang 100 dollar yang tak lebih dari sekedar kemungkinan. Saya tidak bisa memastikan dari konsepsi saya bahwa ide yang ada dalam pikiran saya benar-benar ada secara nyata (riel). 

Kritik model Kantian ini dinukil oleh Iqbal dalam karyanya yang terkenal, The Reconstruction of Modern Thought in Islam. Ide bahwa di dalam saku baju itu ada uang tiga ratus dollar hanyalah ide yang ada dalam akal pikiran tidak dapat membuktikan baahwa uang itu benar-benar ada di dalam saku baju itu. Antara ide yang ada pada pikiran (subyektif) dengan realitas obyektif ada jurang yang tidak bisa dijembatani oleh pemikirantransendental. 

Dari tiga pemikir ini, Kant, secara eksplisit, menganjurkan agar pemikiran filsafat dibalik arahnya, yakni tidak dari subyek ke obyek, melainkan dari obyek ke subyek. Artinya, supaya pemikiran itu obyektif, maka biarlah obyek itu menyatakan dengan sendirinya dan kita hanya berperan mengungkap apa adanya sesuai dengan obyek yang hadir kepada kita. Boleh jadi pemikiran-pemikiran yang bersifat subyektif membawa kepada penyimpangan dan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ada secara nyata.

Mengikuti tesa Kant inilah, Iqbal mencoba mengajukan pemecahan bagaimana agar konsep tentang Tuhan mencapai kriteria yang obyektif. Untuk memenuhi kriteria yang obyektif, demikian Iqbal, maka biarlah Tuhan sendiri mengungkapkan diri-Nya sendiri melalui firman-Nya, dan bagi kita tak ada cara lain selain menerima firman itu. Iqbal menyatakan, biarlah Ego yang Infinite menyatakan dirinya sendiri kepada ego yang finite melalui firman-Nya. Iqbal juga menggunakan istilah I Am -ness Absolute untuk menunjuk arti Tuhan.

Seperti kita lihat di atas dan uraian-uraian lain di dalam The Critique of Pure Reason, Kant berpandangan bahwa bukan akal murni yang bisa membantu membuktikan adanya Tuhan, melainkan akal praktis. Apa yang ia maksud dengan akal praktis adalah the will of human reason, atau sering diringkas dengan the will, kehendak dan ia menunjuk kepada moral. Secara moral, manusia berkehendak untuk memperoleh kebahagiaan, dan kebahagiaan yang dikehendaki oleh setiap manusia hanya akan bisa dicapai secara sempurna pada kehidupan di dunia lain selain dunia sekarang ini. Dan Dzat yang bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna itu (summum bonum) hanyalah Tuhan. Inilah argumen moral Immanuel Kant dalam usaha membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Di sisi lain ia mengakui bahwa ide tentang adanya Tuhan itu memang dihasilkan oleh akal murni, akan tetapi akal murni itu sendiri tidak bisa membuktikan atau menolak apakah Tuhan ada ataukah tidak.

Tuhan, kebebasan dan keabadian jiwa, oleh Kant disebut dengan noumena, dan ketiga jenis noumena tersebut diciptakan oleh akal murni akan tetapi akal murni itu sendiri tidak mampu membuktikan untuk membenarkan noumena itu ataukah tidak membenarkannya. Menurut Kant, yang membuktikan keberadaan adanya entitas tersebut bukan akal murni melainkan akal praktis. Kant melawankan noumena dengan phenomena, atau dunia yang nampak seperti dalam model Platonis.

Sedikit uraian di atas disamping menurunkan pandangan mengenai pengakuan terhadap keobjektivitasan ide, nampak bahwa ide tentang adanya Tuhan memperoleh perhatian secara kualitatif meskipun kajian pada kesempatan ini hanya mengambil beberapa contoh saja.
(DR. A. Khosin Affandi/buku:Satria Piningit/bersambung)