Selasa, 24 Desember 2019

Perbedaan Wahabi, Syiah dan Sufi (Sunni)

Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. 

Agama ini termasuk agama Samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim. 

Dengan sekitar dua milyar  orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.

Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. 

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Adapun terdapat Mazhab (bahasa Arab: مذهب, madzhab) adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. 

Menurut para ulama dan ahli agama Islam, yang dinamakan mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah. Penulis disini hanya mengulas 3 Mazhab yaitu:

Sunni: Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah (Bahasa Arab: أهل السنة والجماعة) atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah (bahasa Arab: أهل السنة) atau Sunni. Ahlussunah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.

Syi’ah: Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه)Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Muslim Syi'ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi'ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama, sebagaimana  juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi'ah. 

Bentuk tunggal dari Syi'ah adalah Shī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait  dan Imam Ali. 

Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah. Selama ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. 

Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

Sufi: Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (Bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. 

Tasawuf (pelakunya disebut Sufi) pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syi'ah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Apapun Mazhab Islam yang kita percayai janganlah membawa arah pada permusuhan terhadap sesama Muslim lebih-lebih menimbulkan peperangan antara sesama kaum Muslimin. Islam tidak mengajarkan kita akan permusuhan akan tetapi Islam mengajarkan kepada kita bahwa Islam adalah Rahmatanlilallamin. 

Penulis hanya membantu bagi yang ingin mengetahui tentang Mazhab Islam yang didapatkan oleh penulis dari (http://id.wikipedia.org). Apapun aliran Islam kita tetap harus bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah,SWT. dan kita juga harus bersaksi bahwa Nabi Muhammad, SAW. adalah Rasulullah, "Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah". (Oleh:Fachrul Reza Adung)

Perbedaan signifikan
Wahabi mencintai sahabat, namun membenci Ahli Bait. Syiah mencintai Ahli Bait, tetapi membenci sahabat. Sedangkan Sufi mencintai keduanya, Ahli Bait dan juga sahabat.

Perbedaan signifikan tiga kelompok di atas disebabkan perbedaan penafsiran atas teks (al-nash), baik Alquran maupun hadis.

Wahabi menafsirkan teks Alquran dan hadis melalui penafsiran kulit luar (al-tafsir al-dhahiriy). Syiah menafsirkan teks secara substantif (al-tafsir al-batiniy). Sufi menjelaskan bahwa substansi teks diperoleh melalui komunikasi manusia dengan Tuhan.

Tak dipungkiri, sikap ekstrim wahabi tidak muncul dengan sendirinya. Sikap ini berangkat dari pemahaman ayat-ayat siksa (al-‘azab), bentuk turunan (derivatif), dan beberapa peristiwa yang berkaitan dengan siksa.

Sikap longgar kaum fundamentalis juga berawal dari pemahaman ayat-ayat yang menerangkan rahmat, dermawan, ampunan, taubat, dan sebagainya.

Kesalahan wahabi adalah memutlakkan pemahaman ayat-ayat tentang siksa. Kesalahan fundamentalis adalah memutlakkan ayat-ayat tentang rahmat, dermawan, ampunan, taubat, dan lain-lain.

Pemutlakan tersebut mustahil dilakukan dengan dua argumen.

Pertama, tidak mungkin selamanya menyematkan sifat Allah sebagai pembalas dendam (al-muntaqim), tanpa mengakui Dia sebagai Pemberi ampunan dan rahmat.

Kedua, tidak mungkin bicara ampunan dan rahmat, lalu melupakan sifat-Nya sebagai pembalas dendam dan pemaksa (al-Jabbar).

Penyematan satu sifat Allah dan melupakan sifat yang lain itu menandakan bahwa Allah memiliki sifat kurang, tidak sempurna. Mustahil Allah memiliki kekurangan.

Wahabi dan Syi'ah sama-sama mengambil satu sisi dalam Islam dan melupakan sisi-sisi yang lain.

Islam memiliki dua sisi tersebut agar berjalan seirama. Inilah yang disebut wasathiyyah. Tidak miring ke kiri. Tidak condong ke kanan.

Dengan demikian, pemutlakan sifat taubat dapat menghilangkan rasa takut (al-khauf) atas skenario Allah (al-makr).

Pemutlakan sifat Allah sebagai pemberi siksa yang pedih dapat memupus harapan seseorang untuk memperoleh rahmat.

Karenanya, perlu ada keseimbangan. Tidak boleh hanya mengingat rahmat, lalu mengabaikan aspek yang lain. Dilarang merasakan kekerasan dan menafikan kelembutan.

Jangan sampai rasa takut yang berlebihan memupus harapan. Jangan sampai keluasan rahmat melenyapkan skenario Tuhan.


Fenomena Baru

Kemunculan fenomena-fenomena baru pada peringatan Hari Besar Islam, seperti Maulid, Isra’ Mikraj, dan sebagainya, bagaikan kemunculan lalat yang mengerumuni daging dan anjing yang berebut tulang di tempat pemotongan hewan.

Keberadaan lalat dan anjing di tempat pemotongan hewan itu sangat menjijikkan dan tidak sedap dipandang. Namun kemunculannya tidak serta-merta membuat daging menjadi haram dimakan. Hal ini memerlukan ketenangan berpikir dan kecerdasan berlogika.

Faktanya, wahabi telah melahirkan beberapa organisasi baru yang berbeda dengan asalnya. Begitu pula syiah memunculkan ajaran dan gerakan baru dengan sempalan-sempalan syiah lainnya. Sementara kaum sufi, meski organisasi dan gerakannya berbeda, namun tujuannya sama, yaitu menggapai Cinta Illahi.

Jelasnya, ketika Allah mewajibkan salat. Nabi Muhammad SAW mengajarkan tata cara shalat. Maka selanjutnya terdapat perbedaan tata cara salat. Perbedaan ringan dan tidak signifikan.

Beda halnya dengan puasa dan haji, Allah langsung memberitahukan tata cara puasa dan haji. Maka tidak ada perbedaan dalam pelaksanaannya.

Berikutnya, Allah mewajibkan zikir dan tidak mengajarkan tata cara zikir secara langsung.

Tidak adanya pengajaran langsung terkait tata cara pelaksanaan zikir, tidak menunjukkan kealpaan dan keterbatasan Allah dan Rasul-Nya. Namun hal ini bertujuan supaya pelaku zikir dapat memilih tata cara dan jalan zikir yang cocok. Tak seorangpun dapat membatasi cara, bentuk, dan waktu berzikir.

Zikir diumpamakan tukang pedaging. Ada yang spesialis pemotong daging. Ada yang ahli membersihkan babat dan usus. Ada juga yang khusus menyelesaikan kepala. Ujungnya, daging, babat, usus, dan kepala hukumnya halal dimakan. (Oleh: H. Muhammad Rofiq Mualimin, Alumni Universitas Al-Azhar Mesir dan pengasuh PP Nur Hikmah, Bantul, Yogyakarta)