Jumat, 20 Desember 2019

Salah faham tentang tarekat dan pentingnya bertarekat

Kalau anda memahami tarekat itu sebuah perkumpulan zikir maka anda boleh ikut atau tidak di dalamnya karena di dunia ini banyak perkumpulan-perkumpulan sejenis yang berbasis agama.

Begitupun kalau anda memahami tarekat adalah kumpulan bacaan zikir yang dibacakan disaat tertentu maka anda boleh tidak bergabung di dalamnya karena anda bisa mengambil bacaan zikir yang lain tidak harus sama dengan apa yang diamalkan oleh orang-orang tarekat. 

Begitu pun kalau anda memahami tarekat sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah anda pun bisa berdalih bahwa dengan ibadah-ibadah yang ada anda bisa dekat dengan Allah. Lalu bagaimana kita memahami tarekat?

Tarekat tidak bisa dimaknai terpisah seperti di atas karena akan kehilangan makna yang sebenarnya. Tarekat berasal dari kata Tareqatulah atau jalan menuju kehadirat Allah SWT. Bahasa dulu dipahami sebagai jalan sedangkan dalam bahasa modernn lebih tepat disebut sebagai metodologi atau cara. Jadi tarekat adalah metodologi untuk melaksanakan ajaran agama secara benar sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah SWT.

Ketika Nabi masih hidup, metode untuk mendekatkan diri kepada Allah ini disebut Tariqatusirriah atau Jalan Rahasia dan kemudian menjadi cikal bakal istilah tarekat dan di zaman kemudian dikenal berbagai macam jenis tarekat. Kehidupan Nabi di mesjid bersama dengan orang-orang yang 24 jam tinggal bersama Nabi yang disebut Ahlussuffah itu adalah bentuk dari pelaksanaan tarekat yang sampai saat ini tetap dipertahankan.

Tujuan bertarekat tidak lain adalah bisa mengikuti sunnah Nabi secara zahir dan bathin dimana akhir zaman ini kebanyakan orang yang sibuk mengikuti sunnah Nabi secara zahir saja. Cara berpakaian, makan, minum dan kehidupan fisik Nabi dijadikan panutan itu bagus namun yang lebih bagus lagi adalah rohani kita bisa tersambung kepada rohani Nabi karena fisik dengan fisik akan terpisah oleh zaman sedangkan ruh dengan ruh tidak akan terpisah.

Kita bisa mengikuti gaya Nabi dalam segala hal tapi sudah pasti kita tidak akan bisa mengambil RASA yang dirasakan oleh Nabi. Kita bisa meniru shalat Nabi tapi getaran dada Nabi dan tangisan Beliau di dalam shalat tidak akan pernah bisa kita ambil karena itu bukan ranah fiqih atau syariat, itu adalah bagian tasawuf yang dipraktekkan lewat tarekat.

Manusia tidak akan bisa merindukan Allah kalau dia tidak mengenal dengan baik dan cara mengenal paling sempurna adalah lewat tarekat. Maka ketika tarekat di bid’ahkan saat itulah ummat Islam kehilangan kontak dengan Allah, itulah tujuan para orientalis dan yahudi lewat ajaran-ajaran yang disusupkan di dalam Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Di dunia ini hanya ada satu kelompok yang membid’ahkan bahkan mengharamkan tarekat dan tasawuf yaitu kelompok ciptaan orientalis yang menyusup ke dalam Islam. Kelompok ini pula yang melarang kita mewujudkan cinta kepada Nabi lewat berbagai bentuk seperti maulid dan pujian kepada Nabi. Ummat Islam ditakut-takuti dengan istilah menyeramkan yaitu SYIRIK.

Satu hal yang harus di sadari oleh ummat Islam bahwa inti sari dari beragama adalah ber AKHLAK. Akhlak itu tidak bisa dipelajari atau di tiru-tiru begitu saja. Anda ketika membaca hadist bahwa Nabi membuang duri dari jalan kemudian anda melakukan kebaikan itu dan anda merasa sudah mengikuti Nabi, anda keliru. 

Meniru 100% apa yang dilakukan Nabi tidak akan memindahkan apa yang ada di dalam dada Beliau. AHKLAK yang hakiki itu bukan di dapat lewat meniru apalagi hanya dengan modal membaca tapi di dapat dengan cara “MENDOWNLOAD” dari dada Nabi sehingga 100% murni anda terima.

Bagaimana cara Mendownloadnya? Dengan menghubungkan dada anda kepada anda Khalifah Rasulullah terakhir dan tersambung sanad dan rohaninya sehingga apa yang ada di dada Nabi akan berpindah ke dada anda. Cara inilah yang dipakai Nabi untuk mengubah akhlak masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang terpuji karena mereka mendapatkan getaran ilahiyah lewat dada Nabi.

Ketika tarekat anda tolak maka yang terjadi anda hanya bergaya saja mengikuti sunnah Nabi sedangkan di dada anda masih bersemayam setan yang dikutuk oleh Allah. Persis seperti orang buta huruf yang tidak tamat SD mencontoh gaya dokter dengan cara meniru fisiknya, memakai baju dokter dan peralatan dokter. Tampak luar dia persis seperti dokter tapi isi dalamnya tetap orang bodoh. Begitu juga orang yang meniru gerak gerik dan ibadah Nabi secara zahir tetapi di dalamnya….

Pentingnya Ilmu Tarekat

Dalam tulisan Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat itu SATU telah diuraikan tentang begitu pentingnya ilmu Tarekat sebagai metodologi pelaksanaan teknis dari syariat, aturan-aturan baku yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. 

Sejak kecil kita semua sudah mengetahui bagaimana cara shalat, jumlah raka’at dan bacaan yang wajib serta sunnat dibaca, dari sejak kecil sampai dewasa kita telah mahir melaksanakannya, lalu dimana bedanya?

Kalau pertanyaan ini tidak bisa dijawab, berarti shalat yang kita laksanakan ketika umur 10 tahun sama dengan shalat yang kita laksanakan ketika dewasa atau saat ini tidak ada perbedaan sama sekali. Lalu seberapa yakin kita bahwa shalat yang telah dilaksanakan bertahun-tahun diterima oleh Allah SWT? Seberapa yakin bahwa shalat yang kita kerjakan itu telah sesuai dengan apa yang dilaksanakan Nabi secara zahir bathin?

Pertanyaan ini perlu direnungi dan dijadikan semangat untuk terus mencari cara agar ibadah bisa di upgrade ke level lebih tinggi sehingga apapun ibadah yang kita lakukan akan memiliki makna yang dalam.
Tarekat sebagai ilmu untuk melaksanakan semua aturan Agama akan bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di atas. Menekuni Tarekat pada tahap awal dimulai dengan Tobat, menyesali kesalahan dan kekeliruan kita, menyesali akan kelalaian kita dalam mengingat-Nya. 

Dengan tobat maka rohani manusia akan menjadi suci seperti orang baru dilahirkan kembali. Jiwa manusia atas bimbingan Guru Mursyid akan terasa seperti kain putih, dan ketika kita melihat kain putih akan membuat diri sadar bahwa kita telah mengalami mati dan kemudian hidup kembali dengan kehidupan yang baru.

Jiwa yang telah mati dan dihidupkan kembali itulah kemudian memulai ibadah dengan kehidupan baru sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Nabi berpesan, “Matikanlah dirimu sebelum engkau mati”, hadist ini hanya bisa dilaksanakan ketika orang mulai menekuni Tarekat. Mati dalam pengertian syariat nafas berhenti sedangkan mati dalam makna hakikat adalah mematikan akal fikiran dan menghidupkan Qalbu sebagai media komunikasi dengan Allah SWT.

Manusia yang mempunyai keterbatasan, penuh kehinaan dan penuh kesilapan tidak akan mungkin bisa berhubungan, berkomunikasi dengan Dzat Yang Maha Bersih dan Maha Tinggi yaitu Allah SWT. Karena itu Allah lewat Rasul menurunkan Wasilah, Nur Allah, sebagai media komunikasi antara hamba dengan Allah. 

Satu hal yang harus dipahami bahwa Rasul dan Nabi bukanlah Wasilah, mereka hanya sebagai pembawa wasilah yang berasal dari Allah SWT. Setelah Nabi wafat maka Wasilah itu dibawah oleh Ulama Pewaris Nabi yaitu Para Ulama, Guru Mursyid dan Wali Allah untuk menuntun manusia ke jalan-Nya.

Disinilah sebenarnya letak selisih pendapat antara pengamal tarekat dengan orang yang tidak pernah mengamalkan tarekat. Sebagian menganggap bahwa Guru Mursyid itu adalah wasilah sehingga mereka menuduh Guru Mursyid sebagai perantara antara hamba dengan Tuhan. 

Guru Mursyid meneruskan tradisi dari Rasul yaitu membawa Wasilah dari sisi Allah untuk disampaikan kepada seluruh ummat manusia. Orang-orang yang membawa wasilah itu bukan ditunjuk oleh sekelompok orang, bukan dipilih oleh manusia tapi mereka adalah pilihan Allah, orang-orang yang dikasihi oleh Allah SWT.

Kenapa Guru Mursyid begitu penting kedudukan dalam tarekat karena memang inti sari dari Tarekat itu terletak pada Guru Mursyid. Jadi bukan jenis tarekat yang menentukan kualitas sebuah tarekat tapi tergantung pada kualitas dari Mursyid itu sendiri. Maka tidak semua ulama bisa menjadi Guru Mursyid walaupun ilmu agamanya sangat luas. Menghapal Al-Qur’an dan Hadist, paham akan hukum-hukum agama belum tentu layak untuk dijadikan sebagai Mursyid. 

Guru Mursyid harus memenuhi kriteria dan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yang pasti seorang Guru Mursyid haruslah mencapai kedudukan Wali Allah. Keterangan tentang Wali Allah bisa di baca pada tulisan sebelumnya tentang  Siapakah Wali Allah itu? Dan penjelasan secara lengkap tentang wasilah dan Guru Mursyid bisa anda baca pada tulisan2 sebelumnya.

Guru Mursyid sebagai pembawa Wasilah pada hakikatnya adalah sebagai pembawa Nur Allah (baca surat An Nur 35). Karena pembawa Nur Allah, maka dari dalam diri Mursyid akan mengalir segala ilmu rahasia dari Allah yang merupakan warisan Rasulullah SAW. 

Sudah sewajarnya para murid memberikan penghargaan yang tinggi kepada Guru Mursyidnya, melebihi penghargaan kepada Guru-guru biasa. Sebagai contoh sederhana Kulit kambing pun kita hargai, hormati, kita cium dengan penuh khidmat ketika menjadi sampul Al-Qur’an (ayat-ayat Allah yang tertulis), lalu bagaimana mungkin kita tidak menghargai Guru Mursyid yang merupakan sampul dari Nur Allah yang merupakan Hakikat dari Al-Qur’an.

Untuk bisa membaca Al-Qur’an, kita harus membuka sampulnya agar seluruh isi Al-Qur’an bisa dibaca, begitu juga untuk bisa berhubungan dengan Ayat-Ayat Allah Yang Maha Hidup berupa Nur kita juga harus membuka sampulnya yaitu Guru Mursyid. Itulah sebabnya dikalangan Tasawuf, adab  atau sopan santun kepada Guru Mursyid sangat diutamakan melebihi Dzikir itu sendiri karena Guru Mursyid adalah pintu yang langsung menuju  kehadirat Allah SWT.

Dengan belajar ilmu Tarekat dari Guru yang membimbing ruhani kehadirat Allah SWT, maka setiap saat kita akan bisa merasakan getaran-Nya, merasakan kerinduan kepada-Nya dan selalu mendengar firman-Nya yang Maha Hidup sehingga ibadah kita lebih hidup dan bermakna, hilang was-was dan kekhawatiran akan diterima atau tidaknya ibadah yang kita lakukan.

Ketika kita telah mencapai makrifat, mengenal Tuhan dengan sebenarnya, maka fokus kita bukan lagi kepada diterima atau tidaknya ibadah tapi fokus kepada bagaimana mencintai-Nya.
Demikian.
(Sumber:www.sufimuda.net)