Sabtu, 16 November 2019

Tentang Syahadah dari Alam Ide ke Realitas Empirik (Bag-2)

2. Tentang Penyaksian (syahadah) terhadap wujud Tuhan.
Meskipun Plato secara implisit menyatakan bahwa ide itu ada di alam Tuhan, namun ia tidak memberi contoh konkrit seperti apa ide-ide di alam Tuhan itu sendiri. 


Ini artinya Plato meninggalkan ruang kosong dan bagi umat Islam, kekosongan ini dapat diisi dengan menunjuk al-Qur’ân sebagai contoh konkrit, sebab al-Qur’ân bukan ide-ide yang lahir dari akal pikiran Nabi Muhammad saw melainkan dari Tuhan Allah sendiri yang setelah turun di dunia empirik untuk kepentingan sejarah dan perdaban manusia, ide-ide itu menjelma menjadi lambang-lambang bahasa yang bisa diungkapkan dan ditulis melalui salah seorang hamba yang dipilih oleh-Nya, yakni Nabi Muhammad saw.

Kini penulis akan membahas materi pokok ayat di atas yaitu tentang penyaksian manusia kepada Tuhan. Para mufassir mencoba memperkirakan alam di mana terjadi penyaksian ini. Al-Suyuthi, Ibn Katsir dan beberapa mufassir lain menjelaskan bahwa kesaksian manusia ini terjadi di alam fitrah sebelum proses penciptaan jasad manusia dan sebelum roh dimasukkan ke dalam jasad Allah meminta kesaksian kepadanya. 

Di alam ini, demikian Ibn Katsir, manusia telah bersaksi adanya Tuhan yang Esa. Manusia diciptakan Allah dalam fitrah ketauhidan, demikian al-Qasimi menjelaskan, di mana manusia di alam itu telah memberikan kesaksian tanpa ragu-ragu akan adanya Tuhan. Al-Qurtubi dan beberapa ulama, demikian kata al-Thabathabai, mengajukan konsep “yaum al-dzar” (suatu saat inti yang bersifat spiritual) untuk menunjuk saat di mana inti fitrah manusia mengadakan kesaksian ini.

Menurut bahasa, kata “al-dzar” bisa berarti inti dari substansi, dan bisa berati seberkas sinar, misalnya, ketika kita membuka jendela, maka masuklah seberkas sinar lewat jendela itu. 

Akan tetapi harus di akui atau terpaksa harus diakui bahwa amat mungkin ada pihak-pihak tertentu yang sering merasa tidak puas terhadap penjelasan agama. Lebih-lebih jika menyangkut pada istilah-istilah yang misteri. Misalnya, konsep “al-dzar” di atas dengan dalih penjelasan agama sering tidak bersifat hipotetik, melainkan dogmatik, doktrinal, selalu terkait dengan keyakinan, tidak netral dan tingkat kevalidannya tidak pernah atau tidak mungkin dibuktikan karena derajat metafisiknya yang bersifat luar empirik.

Model penjelasan agama seperti di atas berbeda dari penjelasan ilmiah yang berwatak hipotetik, reproduktif, terbukti dan disepakati, utamanya, untuk ilmu-ilmu kealaman. Untuk menjelaskan dzat (makhluk hidup) dan dzat mati, kaum ilmuwan fisika mengajukan teori atom atau bulatan ether, suatu entitas fisik yang sangat lembut dan tidak kasat mata. Butir-butir ether yang positif-pasif memadat menjadi proton, sedangkan yang negatif-aktif dan selalu berputar menjadi elektron. 

Atom, konon katanya menurut teori ini, ternyata terdiri dari elektron yang berputar dengan kecepatan yang luar biasa antara sepuluh ribu sampai seratus ribu kilo meter per satu detik dan yang lainnya disebut dengan inti atom yang terdiri dari proton danneutron yang dikelilingi oleh elektron. Sebenarnya elektron itu adalah cahaya yang memadat, demikian kira-kira teori itu menjelaskan, atau bisa disebut pula dengan “titik tempat energi menjadi materi”. 

Ketikaelektron di kulit K masuk ke dalam inti atom dan ditangkap, elektron itu meninggalkan lubang di kulit K itu tadi sehingga terjadi transisi elektron dari kulit L mengisi lubang di kulit K, dan transisi ini mengakibatkan terpancarnya sinar X. Sebenarnya, teori atom, ethermaupun teori energi sesungguhnya merupakan konstruksi akal-pikiran yang tidak didasarkan atas fakta melainkan didasarkan atas bukti. 

Para ilmuwan itu tidak ada yang pernah melihat dengan mata telanjang atau pun dengan bantuan alat teknologi kepada fakta bagaimana elektron itu berputar-putar mengelilingi intinya. Apa yang mereka lihat adalah bukti dan bukan fakta. Misalnya, kita dan juga para ilmuwan, tidak pernah melihat bagaimana elektron berputar-putar mengelilingi inti atom pada kabel listrik. 

Kita tidak pernah melihat fakta ini melainkan bukti bahwa manakala kita menghidupkan tombol listrik maka lampu listrik menerangi ruangan, seterika merapikan pakaian, kulkas mendinginkan makanan, dan kompor listrik memasak masakan.

Para ilmuwan juga bisa menjelaskan zat hidup dengan bantuan teori atom dengan analisis ilmiah, misalnya menjelaskan mengapa makhluk hidup mengalami mati, akan tetapi dengan bantuan teori ilmiah dan persediaan teknologi tinggi para ilmuwan tidak bisa menghidupkan kembali makhluk-makhluk hidup yang telah mati termasuk manusia yang telah mati. 

Apalagi di antara semua jenis makhluk hidup yang organik, manusia menyimpan banyak misteri dibanding jenis lainnya, misalnya hewan. Dan salah satu dari misteri kehidupan manusia itu adalah seperti apa yang disampaikan oleh ayat al-Qur’an di atas, bahwa fitrahnya manusia telah bersaksi Ada-Nya Wujud Tuhan.

Ilmu yang melengkapi dirinya dengan logika, metode, teknik-teknik dan aturan-aturan ilmah menangani obyek yang berada dalam wilayahnya; yakni obyek-obyek yang tertentu, terjangkau dan yang mungkin dipecahkan lewat penelitian ilmiahnya. 

Disiplin ilmu biologi, misalnya, terbatas pada wilayahnya, fisika atom dibatasi oleh obyeknya, geografi dibatasi oleh wilayahnya, hukum dibatasi dalam wilayahnya, psikologi, sosiologi, antropologi memiliki batasan-batasan wilayah dan masing-masing disiplin memiliki metode yang khas sesuai dengan obyek yang menjadi garapannya. 

Metode untuk penelitian fisika atom tidak bisa diaplikasikan untuk penelitian sejarah atau sosiologi. Demikianlah paradigma ilmiah mengajarkan sambil memberikan pengakuan secara jujur bahwa ilmu bukan satu-satunya unsur dari peradaban umat manusia, dan dengan pengakuan semacam ini ilmu harus memberikan tempat dan peran bagi unsur lainnya, misalnya agama, untuk ikut serta berperan aktif dalam proses peradaban.

Dalam wacana tasawuf, alam di mana terjadi kesaksian adalah alam ketuhanan di saat mana yang ada hanya hakekat Tuhan dan hakekat manusia yang masih bersifat nur cahaya putih sebagai dasar kemanusiaan yang masih murni. Tidak ada alam lain selain Tuhan dan manusia. 

Tidak ada alam jagad raya dengan berbagai kekayaannya yang ikut terlibat dalam kesaksian ini; dan kemanusiaan manusia pun masih murni belum tercampur dengan sejumlah nafsu, ambisi, cita-cita, kepentingan, keinginan, keserakahan yang menghalangi penyaksian ini. Dan ketika jasad manusia diproses dan dimasukkan roh ke dalamnya. 

Kemudian terlahir di dunia empirik ini, nur cahaya inipun menyertai manusia yang kini terdiri dari jasad-lahir dan batin yang dalam wacana tasawuf dikenal dengan sebutan hati nurani. Inilah fitrah bawaan yang ada pada diri manusia, yakni fitrah untuk hidup beragama, hidup bertuhan, fitrah yang mendorong manusia mencari Tuhan dan menyembahnya. 

Akan tetapi di dunia nyata ini manusia tidak lagi hanya berhadapan dengan Tuhannya melainkan dengan sekian jenis kekayaan alam yang menjadikan manusia tergairah untuk menaklukkan dan mengeksploitasinya secara massif dan berlebih-lebihan. Manusia pun tidak lagi hanya memiliki fitrah kamanusiaannya yang murni melainkan juga dilengkapi dengan nafsu, ambisi, kepentingan, kemampuan, akal dan lain-lain.

Dihadapkan pada dunia eksternal berupa kekayaan alam yang berlimpah-limpah ini dan nafsu yang yang selalu menggoda, manusia mudah terkena watak serakah dan tamak mengejar kepentingan dan ambisi duniawiahnya sekaligus membuatnya terlena dalam buaian hawa nafsunya.

Akan tetapi potensi positif manusia yang berupa fitrah murni kemanusiaannya terus ikut menyertainya dalam kehidupan di dunia ini. Dan kenyataan ini bisa dilihat dalam rentang perjalanan sejarah yang panjang dan dalam perkembangan peradabannya yang mengatakan bahwa manusia tidak pernah berhenti membahas atau mencari Tuhan sebagaimana dikerjakan oleh beberapa filosof. Atau membuat konsep dan penjelasan-penjelasan tentang Tuhan sebagaimana dikerjakan oleh para pemimpin agama, atau meyakini bahwa ada kekuatan ghaib di balik alam ini sebagaimana pada kebudayaan kuno.

Di samping faktor intern-fitrah, faktor-faktor eksternal turut mendorong manusia mencari kekuatan ghaib itu. Dalam hidup di atas bumi ini, manusia berhadapan dengan lingkungan alami yang seringkali tidak ramah terhadap nasib mereka seperti banjir, gempa bumi, halilintar, wabah penyakit, serangan hama, gunung meletus, dan lain-lain gangguan alam yang setiap saat dan dengan tiba-tiba menghancurkan harapan mereka. 

Pada sisi internal, manusia memiliki sejumlah rencana, cita-cita, ambisi, kepentingan, nafsu-keinginan dan bahkan sifat-sifat tamak, serakah, zhalim dan sejumlah sifat-sifat lainnya yang bisa berdampak merugikan orang lain atau pihak-pihak lain.

Berkembangnya faktor internal-fitrah itu didasarkan atas fakta potensial, atau natural faculties (kemampuan alami), meminjam istilah John Locke yang menolak teori innate idea Platonis, yang dimiliki manusia. Kemampuan alami yang dimiliki manusia itu adalah panca indera dan akal rasio. 

Kemampuan inilah yang dipakai dan dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi cita-cita, ambisi, kepentingan dan kebutuhan sehari-hari, namun ia juga bisa diasah dan dipertajam melalui pendidikan keahlian dan keterampilan untuk melakukan observasi ilmiah, merumuskan hipotesis, mengujinya lewat eksperimen guna melahirkan atau membuktikan kebenaran teori, atau untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan lain yang terpendam di balik alam. 

Hasilnya adalah peradaban modern sebagaimana kita saksikan ini lengkap dengan segala produk dan temuan teknologi di semua sektor kehidupan mulai dari bumbu masak sampai ruang angkasa.

Keadaan inilah yang dikonsepsikan oleh Auguste Comte sebagai tahap positive atau tahap ilmiah di mana simpulan empirik dan kalkulasi rasio memainkan peranan penting sekaligus menyingkirkan cara berfikir tahap teologis dan tahap metafisik dari percaturan peradaban karena tidak diperlukan lagi. 

Boleh jadi Comte tidak pernah memperhitungkan konsekwensi-konsekwensi praktis yang tidak jarang menyimpang dari perhitungan dan rancangan manusia. Peluncuran pesawat ruang angkasa yang sudah dirancang dengan teknologi tinggi tiba-tiba meledak dan hancur berkeping-keping. Tiba-tiba terjadi kebocoran di pabrik nuklir atau bahkan meledak dan meluluh lantakkan bangunan dan memakan korban jiwa. 

Tiba-tiba terjadi angin puting beliung yang melumatkan bangunan yang super canggih dan tidak mampu dikendalikan oleh teknologi manusia. Tiba-tiba terjadi gempa bumi atau gunung meletus dengan kekuatan yang dahsyat memakan habis bangunan dan menelan manusia. Atau bahkan tangan-tangan manusia itu sendiri yang membuat kerusakan secara langsung. Tiba-tiba terjadi konflik senjata, terjadi peperangan, terjadi pemusnahan manusia oleh manusia, terjadi amuk masa, terjadi pembunuhan secara massal atas nama doktrin kiamat dalam suatu sekte tertentu dan masih banyak kasus-kasus lain yang tak mungkin diturunkan di sini semuanya. 

Memang harus diakui bahwa manusia dengan kemampuan akal, teori dan teknologi yang dikuasainya bisa membuat rancangan ke depan, akan tetapi tetap saja berlaku premis dasar yang menyatakan bahwa masa depan adalah ibarat sebuah gudang yang menyimpan seribu ketidak pastian. Dalam kemasan agama, ungkapan bijak itu menyatakan, manusia berusaha namun Tuhanlah yang menentukan. Artinya di luar kemampuan yang dimiliki manusia ada supra kekuatan yang lebih. Supra kekuatan ini dikemas manusia dalam beragam konsep semisal kekuatan ghaib, dewa, Tuhan, Supreme Being, Dzat yang Absolut, Infinite dan seterusnya.

Bangsa Mesir kuno punya keyakinan terhadap dewa Osis, Osiris, dewa Ra dan mereka melakukan ritual-ritual pemujaan terhadap para dewa. Bangsa Akadia dengan kota Babilonianya yang terkenal memuja kebesaran dewa Marduk yang diyakini sebagai pemimpin para dewa. Bangsa Minoa yang tinggal di kepulauan Aegea dengan pusat pemerintahannya di pulau Kreta meyakini dewa Cronos sebagai kepala para dewa, dan setelah mereka dikalahkan oleh sekelompok orang yang ditengarai berbahasa Yunani, maka mitos dewa Cronospun dilenyapkan dan diganti oleh dewa Zeus sebagai pemimpin para dewa. 

Menurut mitos yang dibuat oleh bangsa Yunani kuno, dewaCronos ini dikalahkan oleh dewa Zeus dalam peperangan, lalu dewaCronos pun dibuang ke dalam neraka tua. Bangsa Romawi memuja kebesaran dewa Jupiter, Mars, dan Neptuno. Di samping ini, kita juga mengenal agama-agama lain yang ada di dunia ini yang sampai sekarang tetap eksis ditengarai dengan memiliki pengikut yang jumlahnya tidak sedikit, seperti agama Hindu, Budha, Konghucu, Sinto dengan mangajukan konsep ketuhanan mereka masing-masing. 

Agama Hindu Bali mempercayai Tuhan yang Esa dengan sebutan Sang Hyang Widi Wasya, hanya ada satu Tuhan dan tidak ada duanya. Pemeluk agama Budha percaya bahwa sang Budha meyakini ada kekuatan ghaib yang maha dahsyat yang menguasai alam semesta ini. Keyakinan Konghucu mengajarkan bahwa Tuhan yang Esa adalah Thian yang memiliki empat sebutan yaitu; Tuhan yang Maha besar (Thian), Yang Maha besar yang mengatur dunia (Tee atau Siang Tee), Yang Esa sebagai Penguasa (Thai Let), dan Tuhan sebagai penguasa spirit yen (Kwi Sten).

Uraian ringkas di atas baik dalam bahasa filsafat atau dengan konsep agama membuktikan bahwa secara fitrah manusia memiliki kecenderungan batin yang kuat untuk beragama dan kecenderungan ini tidak akan musnah meskipun manusia telah mencapai peradaban modern serba teknologi dan bahkan mendapat dukungan dari doktrin filsafat Post Positivisme. 

Inilah fitrah manusia dan demikianlah perjalanan manusia dalam meyakini, mencari, atau menjelaskan adanya kekuatan ghaib di balik alam semesta ini dengan konsep dan pendekatan masing-masing. Di atas kenyataan inilah, al-Qur’ânmewartakan kepada umat manusia, pertama, mengenai fitrah dasar manusia itu telah memberikan kesaksian adanya Tuhan, kedua, ia juga mewartakan bahwa ada utusan dari Tuhan yang memberi petunjuk mengenai hakekat wujud ghaib yang berada di balik alam semesta ini. 

Kata Edward Mortimer dengan pendekatan spekulatif historik, ada campur tangan Tuhan terhadap sejarah manusia dalam bentuk pengutusan para Nabi dan Rasul kepada manusia. Dan yang terjadi setelah itu adalah apakah manusia menerima atau membangkang. Al-Qur’ân sebagai wahyu Tuhan yang pada zaman mula jadi telah disaksikan keberadaanNya oleh manusia menginformasikan tentang “Dia” (huwa) yang ghaib itu. Ini disebutkan dalam ayat pertama surat al-Ikhlas, “Qul huwa Allâh ahad”. Katakanlah (wahai Muhammad, seorang utusan-Nya yang dipilih untuk menyampaikan petunjuk kepada sesama manusia) bahwa “Dia” (huwa) adalah Allah yang Esa. 

 Ayat ini, menurut pandangan Prof. Mukti Ali, lebih bermaksud memproklamirkan nama Dzat Ghaib di balik alam ini, yakni Allah, dan bukan untuk memproklamirkan faham monoteisme, sebab selain agama samawi (Islam) terdapat konsep monoteisme. Karena itu, surat ini dinamai dengan al-Ikhlas, dan tidak dinamai dengan surat al-Tawhid. Seolah surat ini menghimbau agar manusia ikhlas menerima berita dari al-Qur’ân mengenai siapa sesungguhnya Dia, Dzat Ghaib yang berada di balik alam semesta ini.

Penulis akan sedikit menyinggung istilah Nabi dan Rasul. Kata “Nabi” berasal dari kata “naba’ ” atau “nabu’ ” (tanda ’ di akhir kata naba’atau nabu’ ini sebagai pengganti huruf “hamzah”). Naba’ artinya berita, sedangkan nabu’ berarti tempat yang tinggi. 

Dua makna dasar ini memberikan pengertian bahwa Nabi adalah seseorang yang menerima berita dari tempat yang tinggi,dan memiliki hujjah yang tinggi sehingga mampu mengatasi hujjah-hujjah lain yang dihadapkan kepadanya. Nabi berkonotasi pada hubungan seseorang dengan Tuhan secara langsung tanpa perantara manusia lainnya, atau melalui para malaikat-Nya. 

Sedangkan kata Rasul berarti orang yang diutus (mursal) membawa risalah atau misi yang diberikan oleh Tuhan kepadanya untuk disampaikan kepada sesama manusia. Jadi, konotasi makna kata “Rasul” adalah nisbah hubungan antar sesama manusia karena risalah yang dibawanya diarahkan dan ditujukan kepada sesama manusia.(DR. A. Khosan Affandi/buku:"Satrio Piningit"/bersambung)