Jumat, 17 Februari 2012

Spiritual Marketing

*) Secangkir Anggur Merah (Edisi-1)

Pendekatan spiritual tampaknya telah merambah ke setiap sendi kehidupan. Aktivitas spiritual, dalam persepsi masyarakat biasanya diarahkan dalam konteks ibadah atau untuk  membangun komunikasi vertikal dengan  Sang Khaliq, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun kini, istilah ini mulai populer dan digunakan di lingkungan perusahaan. Misalnya, guna meningkatkan etos dan produktivitas kerja. Tidak terkecuali sudah menjalar ke dunia marketing. Maka kini dikenal lah dengan nama spiritual marketing atau spiritual branding.

Menurut suhu Marketing, Hermawan Kartadjaya, pendekatan spiritual dalam membangun brand, misalnya, diyakini tidak hanya sanggup mendongkrak profit, lebih dari itu mampu menebarkan value yang menjamin kelanggengan merek. Bahkan sanggup membentuk diferensiasi yang tak tertandingi. Lalu dimana sesungguhnya efek luar biasanya?

Kata sang suhu, bahwa pemasaran tidak hanya dalam pengertian the meaning of marketing, melainkan juga dalam pengertian marketing of the meaning. Yang berarti adanya tuntutan agar dunia pemasaran menunjukkan nilainya. Bahwasanya pemasaran tidak hanya produk dengan manfaat fungsional ataupun manfaat emosional, melainkan mesti pula menonjolkan manfaat spiritual.

Tentu saja bahwa maksud sang suhu, bahwa pendekatan pemasaran wajib dilakukan dengan berbasis nilai spiritual. Dengan mendasarkan pada nilai-nilai (spiritual), dapat dipastikan akan mendapatkan  hasil yang berbeda. Ini berarti bahwa perusahaan atau pemilik merek itu tidak sekadar memberikan jaminan kepuasan atau hanya mengincar an-sich profitabilitas, melainkan juga harus lah memiliki compassion (rasa kasih sayang/rasa iba/peduli) dan sustainability.

Contoh penerapan spiritual branding seperti yang diterapkan Grameen Bank, yang secara konsisten telah menanamkan nilai kemanusiaan kepada nasabahnya. Begitupun The Body Shop, melalui pemberdayaan para petani lemah sebagai pemasok.  Serta Story TBS yang telah sukses mengkampanyekan untuk tidak melukai binatang. Ternyata semuanya telah berhasil mendapat tempat di hati masyarakat dan kastamernya dengan meraih nilai di atas rata-rata.

Merek mereka memiliki reputasi tinggi dengan dayasaing (diferensiasi) yang sulit tertandingi. Tidak seperti umumnya produk lain yang hanya didorong dan menawarkan added value (nilai lebih) saja.  Tapi pendekatan  spiritual, berhasil mengantarkan merk-nya dari value menjadi values.

Dengan demikian jika proses kerjanya sudah menggunakan nilai spiritual, maka produk atau jasa yang dihasilkannya pun dengan sendirinya mengandung nilai spiritual. Inilah yang disebutnya sebagai spiritual marketing. Sama halnya dengan konsep VBM (Buku terbaru Hermawan K), bagaimana pemasar menyampaikan value dengan values. Sehingga produk/jasa yang dihasilkannya memperlihatkan compassion, mengunggulkan hasrat, mengincar keberlanjutan, dan terlihat sangat berbeda dari produk lain.

Nah, kini bagaimana dengan branding dari beberapa produk Telkom, seperti Speedy, Flexi, Yes-TV, Delima, Groovia, dll...Sudahkah bernuansakan atau membawakan nilai spiritual? Memang tak mudah untuk menciptakan sebuah brand yang bernilai spiritual. Diperlukan pemahaman dan pemilihan isu  yang benar-benar sangat menyentuh nilai kemanusiaan. Diperlukan suatu rancangan atau sebuah Story yang mengacu pada value kemanusiaan kastamer kita.

Jadi tak cukup dengan hanya mendompleng pada beberapa kegiatan olahraga saja, seperti Speedy Tour d'Indonesia atau Garuda Speedy pada olahraga bola basket. Sebetulnya masih banyak bidang atau isu lain yang lebih menyentuh. Misalnya, dengan mengangkat isu mengenai polusi udara, narkoba dan aids, pramuka atau lewat seni budaya...(N425).