Sabtu, 09 Januari 2010

Quantum Ikhlas


Di masa lalu ada seorang guru bijak yang selalu menyelenggarakan kuliahnya di bawah sebuah pohon yang tinggi dan besar menjulang ke langit. Dan suatu hari ketika kelas sepi anak laki-laki dan guru itu bertanya pada ayahnya dari manakah langit, bumi, dan seluruh isinya berasal. 

Kemudian sang ayah memintanya mengambil satu buah yang sudah kering dan banyak terserak di bawah pohon besar itu, memintanya untuk membelahnya dan melihat isinya. Ketika anak itu menemukan sebuah biji kering di dalamnya, sang ayah memintanya untuk terus membelahnya hingga ia akhirnya menemukan bahwa biji itu ternyata kosong, hampa, tidak berisi apa-apa. Sang ayah kemudian menjelaskan kepada anaknya bahwa seperti pohon raksasa yang sudah berusia ratusan tahun itu, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini bermula dari sesuatu yang tidak ada, kosong, dan hampa.

Semua yang tampak berasal dari sesuatu yang tidak tampak.
Semua yang bisa dilihat berawal dari sesuatu yang
tidak bisa dilihat.

Kesuksesan hidup yang ingin kita raih dan sering digambarkan dalam bentuk rumah mewah, mobil baru, perhiasan mahal, harta-benda, keluarga harmonis, tubuh sehat, serta status dan jabatan tinggi adalah segala sesuatu "yang terlihat". Lalu dari manakah itu semua berasal? Apakah bentuk yang "tak terlihat" dari wujud kesuksesan itu? Benarkah hanya ada satu cara "kerja keras" untuk mewujudkannya? Ataukah ada cara yang Iebih cerdas dan elegan untuk meraih semua itu?

Lalu apa hubungannya semua hal ini dengan usaha kita untuk meraih sukses dan kebahagiaan? Sangat erat. Oleh karena untuk meraih kesuksesan lahir-batin dengan Teknologi Quantum Ikhlas kita akan menggunakan kekuatan pikiran dan perasaan yang meru­pakan "benda kuantum yang tak terlihat".

Seperti terigu yang menjadi bahan dasar semua jenis roti atau air yang menjadi bahan dasar semua jenis minuman. ilmuwan fisika kuan­tum juga menjelaskan bahwa getaran-getaran energi terhalus yang dinamakan quark, string, atau biasa disebut quanta yang "tak tampak" perwujudannya ternyata merupakan bahan-baku dasar dari semua benda yang "tampak" wujudnya. Energi quanta ini secara menyeluruh dan built-in menyelimuti dan merasuki semua benda yang tampak maupun tak tam­pak. 

Quanta adalah "bahan baku" semua benda di alam semesta. 
Dan luar biasanya, quanta bukanlah sembarang benda tetapi lebih merupakan 
vibrasi energi yang memiliki kecerdasan dan kesadaran yang hidup.

Semua 'benda' terbuat dari unsur quanta
Benda padat merupakan kumpulan dari molekul. Sementara molekul itu berasal dari semua atom dan partikelnya. Dan partikel subatom yang sangat kecil itu berasal dari suatu energi alam vibrasi quanta. Benda padat, molekul, atom, dan partikel adalah "benda yang bisa dilihat". Sementara quanta yang terdapat di alam energi adalah "vibrasi kuantum yang tak terlihat".

Segala sesuatu di seluruh semesta ini merupakan bagian dari ener¬gi quanta yang luar biasa cerdas ini. Semua orang, semua binatang, semua tumbuhan, semua bintang, semua planet, dan semua mikro-organisme, betapa pun kecil ataupun besarnya terbuat dari energi ini. Semua benda yang Anda lihat di sekitar Anda seperti rumah, mobil, televisi, dan Iain-lain, sebenarnya hanyalah merupakan susunan energi quanta yang tercipta oleh kerjanya (baca: keterbatasan) pikiran. Sebab, jika semua benda ini diinvestigasi dari dekat dengan mikroskop nuklir misalnya maka tampak jelas bahwa mereka tidaklah padat sama sekali, melainkan terdiri dari rongga-rongga yang berisi getaran energi quanta yang bergerak sedemikian cepatnya sehingga "terlihat" padat oleh indra penglihatan kita dan "terasa" padat oleh indra peraba kita.

Di level quanta semua benda sebenarnya menyatu dan tidak ter-pisah. Seperti tidak terpisahnya udara di ruang tamu Anda dengan udara di ruang makan atau kamar tidur Anda. Masing-masing ruang "terlihat" berbeda tetapi sebenarnya terbuat dari satu udara yang sama. Seperti film yang tampak bergerak di layar sinema padahal se¬benarnya merupakan kumpulan gambar tak bergerak yang dipaparkan secara cepat (24 frame per detik) sehingga terlihat hidup. Inilah yang disebut ilusi atau kefanaan. Seperti kata Einstein ini :

Semua kenyataan yang terlihat sesunggubnya hanyalah ilusi, sebuah tipuan mata 
yang sangat kuat dan sulit dihapuskan.

Kebanyakan orang meyakini bahwa dalam hidup ia harus ber-juang meraih semua keinginannya dengan berusaha keras, memban-ting tulang hingga tetes darah penghabisan. Padahal tuntunan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau kesuksesan akan datang meng-hampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil bersyukur, menik-mati prosesnya, dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan hanya kepada Tuhan. Inilah kompetensi ikhlas.

Ikhlas sebagai keterampilan atau skill, yang lebih bercirikan silent operation dari pikiran dan perasaan yang "tak tampak" namun sangat powerful itu. Ikhlas yang bukan hanya diucapkan di bibir atau dipikirkan di kepala, melainkan keterampilan untuk menciptakan "peristiwa keikhlasan" di dasar hati yang terdalam. Di tingkat kuantum. Oleh karena hanya dengan kualitas keikhlasan yang benar-benar terasa di hati dan terukur secara objektif inilah kita akan mampu mengarungi kehidupan dengan penuh keyakinan. Dengan suatu kepastian sukses yang melampaui rasio pikiran, namun "terdengar" begitu jelas di hati. 

Jadi, sebelum Anda tergesa melakukan sesuatu untuk mengubah nasib menuju yang lebih baik, 
ada baiknya untuk sejenak bertafakur merenungkan apa sebenarnya unsur quanta 
dari kondisi nasib yang ingin Anda ubah itu.

Nasib seseorang mencerminkan karakternya. Sementara karakter orang itu berasal dari semua kebiasaan serta tindakannya. Dan tindakannya berasal dan pikirannya yang bermuara dari perasaannya. Nasib, karakter, kebiasaan, dan tindakan adalah sesuatu "yang tampak". Sementara pikiran dan perasaan adalah energi kuantum "yang tak tampak".

Kenyataan kuantum ini mengatakan: Anda bisa "mengatur" perasaan Anda unruk mengubah nasib Anda. asal dari rasa percaya terhadap diri sendiri dan Tuhan adalah salah satu unsur utama ikhlas. Sehingga aplikasinya tentu akan mengaktivasi gerakan kekuatan kuantum yang memiliki daya dorong, daya pukul, dan tenaga yang sangat dahsyat, menuju tercapainya tujuan secara cepat.

Arti Quantum Ikhlas
Ketika manusia benar-benar ikhlas, saat itulah doa atau niatnya "berjabat tangan" melakukan kolaborasi dengan energi vibrasi quanta. Sehingga, melalui mekanisme kuantum yang tak terlihat, kekuat¬an Tuhanlah yang sebenarnya sedang bekerja. Jika sudah demikian, siapakah yang mampu menghalangi-Nya?
Itulah Arti Sebenarnya dari Quantum Ikhlas.

Seperti diriwayatkan oleh Imam Ja’far dalam kitab Al Bihar:

"Apa-bila seorang hamba berkata, 'Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah' maka Allah menjawab, 'Hai para malaikat-Ku, hamba-Ku telah ikhlas berpasrah diri, maka bantulah dia, tolonglah dia, dan sampaikan (penuhi) hajat keinginannya."

Lalu masih perlukah kita ngotot untuk meraih sukses dan kebahagiaan?

Manusia Sebagai Khalifah
Manusia yang memiliki kesadaran tinggi {kbalifatullah) sadar bahwa meskipun selalu berusaha dengan tekun sepenuh hati, ia lebih mengandalkan kekuatan doa di hatinya dibandingkan kekuatan pikirannya apalagi ototnya. Dengan kata lain, ia menyadari bahwa realitas hidupnya lebih ditentukan oleh kualitas pikiran dan perasaannya ketimbang action-nya.

Ini menjelaskan mengapa banyak orang yang dipenuhi tindakan dalam mengejar goal, target, dan Iain-lain, sering tidak mendapatkan hasil yang menggembirakan, sementara mereka yang senantiasa berikhtiar dengan tekun, tenang, dan bahagia karena percaya bahwa Tuhan selalu memenuhi kebutuhannya tampak lebih sukses dan diberkahi.

Seperti kebanyakan orang, dulu saya sering bertanya apa hubungan antara taat beribadah dengan tingkat kesuksesan dan kebahagiaan kita. Saya merasa, meskipun sudah berusaha untuk menjadi orang baik dan selalu taat beribadah dan berdoa, kesuksesan dan kebahagiaan seper-tinya selalu menjauhi hidup saya. Sementara itu, kita pun diingatkan bahwa banyak ibadah kita sia-sia dan hanya memberikan rasa lelah, lapar, dan haus semata.

Jawabannya saya peroleh kemudian, bahwa ternyata saya lupa untuk "mengajak" hati dalam melakukan semua itu. (Jalaluddin Rumi).