Minggu, 12 Februari 2012

Ketika Kamsuy Kena Tilang


Ditilang polisi merupakan peristiwa paling menyebalkan nomor dua. Tentu saja setelah peristiwa menyebalkan nomor satu yaitu ditolak cinta mentah2. Tapi itu spesial bagi kaum bujangan sich. Bagi yang sudah berbini dan beranak-pinak, ketika ditolak cinta, biasanya dianggap sebagai musibah saja. Walaupun tetap saja lumayan menyesakkan dada bahkan sakitnya bisa menyayat hingga ke ulu hati. 

Tapi ini bukan cerita menyoal cinta, tapi soal pengalaman si Kamsuy ditilang polisi.

Yang paling jengkelin kalo lagi enak2 berkendara tiba2 disuruh minggir pak polisi. Dengan alasan tidak jelas atau dicari-cari, ya, akhirnya diminta menunjukkan sim dan stnk juga. Alasannya macam2 . Biasanya: helm tidak SNI, kaca spion kurang satu, suara kenalpot kegedean sampai pada kondisi ban yang sudah botak. 

Kalau tilang untuk alasan seperti itu biasanya tarif Rp.25 ribu bayar ditempat sudah lumrah. Seperti beberapa waktu lalu ketika si Kamsuy ditilang polisi.

Polisi: “Selamat siang. Saudara tidak pake helm SNI seperti yang dianjurkan, jadi saudara saya tilang...”

Kamsuy: “Ini juga helm pak, sama-sama untuk melindungi kepala pak, lagian saya kan jalan pelan2 pak...”

Polisi: “Helm apanya? Ini kan ember bekas cat tembok 5 kg. Saudara ini bagaimana? Kalau mau ber-ulah di jalan raya, sekalian saja pake ember yang masih ada cat temboknya, biar cat temboknya lumer menutupi muka saudara, dengan begitu saudara dianggap orang sinting...” (kata polisi itu sambil menempatkan telunjuk di jidatnya dengan posisi miring).

Kamsuy: “Tapi saya juga bawa helm beneran pak, ini apa pak..” (Kamsuy pun menunjuk pada helm yg disimpan diatas speedometer).

Polisi: “Justru itu, napa helm ini ga dipake? Malah speedometer motornya yang dikasi helm. Sudah jangan banyak cingcong, pokoknya saudara saya tilang...”

Kamsuy: “Ya, udah kalo gitu, tapi kita damai saja ya pak, ni ada buat bapak Rp.25 ribu pak...”

Polisi: “Maksud saudara apa, nanti dibilang saya memeras atau polisi kena suap, terus ditulis di media sosial atau dilaporkan ke polres lagi.”

Kamsuy: “Gak deh pak, bener, cuma kita bertiga aja yang tau pak...”

Polisi: “Beneran nih? Ya, udah cepetan, dari tadi kek ngomong...”

Kamsuy pun mengeluarkan dompet dan melihat isinya. Rupanya uang Kamsuy tinggal selembar-lembarnya Rp.50 ribu. Dia bingung. Dia pun minta bantuan ke teman yang diboncengnya. Temennya hanya menggelengkan kepala pertanda gi tongpes (maklum penganggur abadi). Mau minta kembalian ke pak polisi ga enak. Mau tukar uang disekitar TKP ga ada pedagang. Satu2nya yang tampak pedagang tukang bubur ayam. Setelah pamit sebentar ke pak polisi Kamsuy pun meninggalkan motor dan temannya lalu ngeloyor jalan kaki kesana.

Polisi itu pun membiarkan Kamsuy pergi dan sepertinya sudah bisa menduga: kalo orang itu mau tukar duit. Namun apes dech. Mau tukar uang disitu, katanya baru dapat Rp.30 ribu. Tak ada cara lain bagi Kamsuy, harus makan bubur ayam dulu. Kamsuy pun memberi isyarat pada temannya untuk datang menghampiri. Kini tinggal polisi itu berdiri menunggu disamping motor si Kamsuy.

Kebetulan lapar dan dahaga Kamsuy dan temannya di siang yang terik itu lumayan menyiksa. Mereka pun dengan lahapnya menyantap bubur ayam lengkap dengan es teh manisnya. Sekali2 mereka nengok ke pak Polisi yang sepertinya sudah kegerahan. Sudah berkali-kali pak polisi itu mengeluarkan saputangan untuk mengusap keringat di mukanya. Setelah sekitar 30 menit berlalu, Kamsuy dan temannya pun kembali menuju motornya yang ditunggu pak Polisi dengan setianya.

Kamsuy: “Maaf pak tadi mau tukar uang tapi ga ada. Katanya cuma ada Rp.30 ribu, jadi kami terpaksa makan bubur ayam dulu. Bubur ayam dengan es teh manisnya maknyuss banged pak, bener pak, sumpah. Sekarang giliran bapak dech makan bubur ayamnya. Ini pak Rp 25 ribu. Saya ikhlas, semoga barokah ya pak...”

Polisi: “Sini cepet...kalian itu ga punya perasaan..!!”
(Pak Polisi itu pun segera pergi dengan menggunakan motornya dan sangat kulihat dengan jelas menuju tukang bubur ayam...).

Catatan: Cerita ini full rekayasa. Bukan kejadian sebenarnya dan tak ada niat untuk merendahkan citra Polisi. Cerita ini hanya untuk tujuan hiburan semata. Saya percaya saat ini tak ada polisi yang berperilaku seperti itu. Tentu saja, kecuali para oknum yang dengan sengaja menyalahgunakan kewenangannya sebagai polisi lalulintas.