Minggu, 05 Februari 2012

Pertandingan Sepakbola Eksekutif (Episode Imajiner-7)



Seperti dimaklumi pertandingan sepakbola eksekutif Sekar Vs Manajemen, pada jilid-6, boleh dibilang berlangsung kacau-balau alias acak-acakan. Penyebab utamanya bola raib bagai ditelan hantu (hehehe mank ada gitu hantu suka nelen bola?). Berdasarkan musyawarah untuk mufakat kedua kapten kesebelasan, maka bola pun diganti dengan buah duren. 

Sialnya, para pemain ngebangkang pada kapten kesebelasannya masing2. Malah pake melakukan aksi mogok segala. Alasan mereka mogok sudah dapat diduga karena tak sudi kaki dan kepalanya amburadul akibat kena duri durian yang tajamnya bagai pisau belati itu.

Kalau dicermati mogok para pemain ini hampir mirip dengan mogok Sekar di Silang Monas sewaktu menentang merger Flexi-Esia. Cuma caranya saja yang berbeda. Mogok Sekar dengan mengibarkan spanduk seraya tereak2 “Tolak Merger” sepanjang Jl Merdeka Barat hingga ke depan Istana Presiden. Tapi aksi mogok para pemain sepakbola ini lebih lunak. Mereka cukup berkumpul di tiang gawang masing-masing sambil bermain remi, gaple, catur dan ular tangga. 

Lainnya ada yang ngrumpi soal si Afriani yang nyetir sambil mabok hingga nabrak dan menewaskan 9 orang. Tak luput juga ngrumpi soal Angelina Sondakh yang naik status jadi tersangka. Serta Anas Urbaningrum yang diperkirakan akan terpeleset dari tangga kekuasaaan partai Demokrat. Tentu saja gara-gara nyanyian merdu vokalis cadas M. Nazaruddin.

Sementara di tengah lapang sedang terjadi acara belah duren yang disantap bersama oleh Wasit, kedua kapten kesebelasan, Sekjen dan MPO. Ketika menikmati duren rasa JUARA seperti itu, mereka bagai terlena. Bahkan tampak cuwek bebek kalau sedang ditonton ratusan orang. Sepertinya tak ambil pusing kalo direspon penonton dengan suara koor: “huuu...huuu...huuu...”. 

Sikap masabodo itu nyaris persis seperti masabodonya para penikmat fasilitas perusahaan terhadap turunnya kinerja perusahaan dan mandeknya karir karyawan. Apalagi kalo makan durennya sampe teler, mungkin akan lebih masabodo juga kalo revenue Flexi mengalami decline secara intens. Mabok duren dan mabok ekstasi rupanya bisa sama bahayanya dengan mabok jabatan.

Dalam kondisi kacau seperti itu, sekonyong-konyong terdengar suara voraider meraung-raung memasuki area Learning Center. Mobil polisi itu berwarna putih dengan lampu merah berputar-putar layaknya di tempat dugem. Mobil itu mengawal sebuah mobil kijang bak terbuka dengan dua kursi panjang berhadapan. Semua yang ada di sekitar lapangan mendadak terdiam. Tentu saja semua ingin tau apa yang bakal terjadi. Dalam benak setiap penonton pasti ini razia dan bakal ada yang dicokok lalu diangkut ke Polres. Mungkin juga akibat membuat keramaian tanpa ijin polisi.

Seorang Polisi berseragam lengkap turun dari mobil menuju lapangan. Polisi itu diterima langsung Sekjen Sekar. Sepertinya mereka memanggil Ketua Penyelenggara pertandingan. Itu karena Ganjar langsung berlari menuju lapangan setelah mendapat isyarat Asep untuk datang. Terjadilah dialog Polisi dengan Ketua Penyelenggara. Namun kedengaran penonton dialognya seperti berikut:

Polisi: “Clabclubcleb wakwekwok krekek krekek ochey...”
Ganjar: “Wasweswos kriukkriuk wesweswes siippp...”
Polisi: “Cratcretcrot crutcrut prikitiew...dimana?”
Ganjar: “harherhor tuirtuir blesss...di polres saja...”
Polisi: “Jamjimjem...jempoljempol...”

Akhirnya Polisi itu pun berpamitan setelah bersalaman dengan Ganjar dan para petinggi yang berada di lapangan. Kini giliran Ganjar yang mengumumkan kepada seluruh pemain lewat sound system bahwa yang ada dalam kijang bak terbuka itu adalah nasi bungkus untuk seluruh penonton (hehehe lebay banged nich bawa nasi bungkus mpe dikawal voraider). 

Karuan saja seluruh penonton bersorak-sorak bergembira karena akan dapat makan nasi bungkus dengan menu telor dadar plus sambel pete.

Nasi bungkus pun mulai dibagikan panitia. Lapangan sepakbola saat ini bagai haram dipake untuk bertanding. Karena kini telah berubah menjadi semacam pesta makan bersama sekaligus menyambut tahun baru 2012. Disaat seperti itulah para petinggi Telkom dan Pengurus Sekar serta para wong cilik Telkom bergabung bersama. Mereka tampak akrab. Sambil ngobrol ngalor ngidul dengan penuh suka, canda dan tawa.//kgm

Pesan moral: "Musyawarah diantara para pejabat harus memperhatikan kondisi anak buah. Jangan mengorbankan anak buah untuk menyepakati suatu kebijakan yang tidak populer."