Minggu, 01 April 2012

Jalani hidup, lihat Ke bawah, tetap bersyukur...


Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tiak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” Muttafaq Alaihi.

Penjelasan para ulama bahwa hadits ini sebagai tuntunan bagaimana kita menyikapi kehidupan dalam urusan dunia terkait status sosial. Misalnya seorang yang hanya memiliki sepeda motor maka dia dianjurkan untuk melihat kepada orang yang hanya memiliki sepeda atau tidak memiliki kendaraan sama sekali. Atau orang yang memiliki rumah terhadap orang yang hanya mampu mengontrak. Atau orang yang sehat terhadap orang yang sakit dan seterusnya. Jika membiasakan diri untuk melihat ke bawah diharapkan diri kita akan selalu merasa bersyukur kepada Allah. Kita akan selalu merasa cukup.

Akan tetapi hadits ini bukan berarti kita dilarang untuk menjadi kaya atau memiliki sesuatu yang dihalalkan seperti kendaraan, rumah, dan lain sebagainya. Bahkan jika mampu, justru lebih baik lagi. Karena dengan memiliki kekayaan, kita berpeluang untuk bersedekah lebih banyak.

Dalam hadits Rasulullah dikatakan yang artinya,

Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya. (HR. Ahmad).
Sementara jika kemiskinan yang menimpa seorang hamba yang tidak bersyukur justru dikhawatirkan akan membuat dia menjadi kufur karenanya. Ini disinyalir Rasulullah dalam hadits yang artinya,
Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran”. (HR. Ath-Thabrani)

Kalau saja semua manusia di dunia ini memiliki rasa syukur yang dalam dan selalu merasa cukup atas apa yang Allah anugerahkan kepadanya, Insya Allah kita tidak akan melihat pencurian, perampokan, penipuan, korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya. Karena semua orang akan selalu merasa cukup dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan meskipun dalam kacamataorang lain itu masih kurang.

Namun kenyataan berbicara bahwa masih banyak manusia yang tidak bersyukur. Orang kaya semakin mengejar kekayaan tanpa memikirkan nasib orang-orang miskin disekitarnya. Seakan harta tidak ada cukupnya. Karena tidak ada rasa syukur maka Allah menjadikan mereka semakin haus akan harta dan dunia. Apapun mereka akan lakukan untuk mendapatkannya walaupun dengan cara-cara yang tidak halal. Padahal dalam Al Qur’an Allah berfirman yang artinya,

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Surah Ibrahim ayat 7).

Begitupun orang-orang miskin yang tidak memiliki pemahaman agama yang bagus, mengambil jalan pintas dengan merampas, mencuri dan merampok harta yang tidak halal baginya. Mereka yang jauh dari agama akan semakin beringas dan sengsara hidupnya. Orang-orang seperti ini digambarkan Rasulullah dalm hadits yang artinya,

Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat.”(HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab)

Alangkah malangnya jika kehidupan kita di dunia sudah menderita, di akhirat lebih menderita lagi. Dan betapa indahnya jika apa yang telah Allah anugerahkan kita selalu disyukuri dan merasa cukup atasnya. Sehingga kita tidak akan merasa berat untuk berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Apapun kemampuan yang bisa kita berikan, maka berikanlah. Sekecil apapun, itu akan dicatat sebagai Amal Jariyah. Rasulullah bersabda yang artinya,

”Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi Saw menjawab, “Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab: “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi Saw menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Wallahu ‘alam.
(Sumber: Blog Putra Danau)