Jumat, 25 Oktober 2019

DR. KH M Luqman Hakim: Mazhab Tasawuf Saling Bertemu

Klasifikasi corak dan mazhab tasawuf pada dasarnya hanya berada pada tataran akademis. 

Menurut Direktur Sufi Center Jakarta DR. KH M Luqman Hakim, ketika kesemua mazhab tasawuf bertemu, hanya cara pandang orang atas bentuk tasawuf itu yang berbeda. Mereka memandang seluruh pemikiran tasawuf itu adalah buah atau refleksi dari pengalaman- pengalaman amaliah spiritual seseorang.

"Jadi, tidak bisa saling klaim orisinalitas terhadap salah satu model tasawuf," katanya kepada wartawan Republika. Berikut petikan wawancaranya.

Tasawuf falsafi dianggap kontroversial oleh sebagian kalangan. Mengapa?

Sebenarnya itu sebuah terminologi yang berkembang dalam proses orang mempelajari ilmu tasawuf, lalu dimunculkan secara akademik bahwa ini wilayah filosofis yang lebih banyak berbicara mengenai epistemologi tasawuf, ontologinya aksiologinya dan lain lain. Jadi. kemudian orang mempertegas kalau model tasawuf seperti itu cenderung tasawuf falsafi.

Padahal, sebenarnya tasawuf itu juga bukan produk filsafat Islam. Justru filsafat Islam itulah produk dari tasawuf. Karena itu, paradigma-paradigma yang berkembang dalam dunia akademi tasawuf sangat individual.

Contoh, soal definisi tasawuf saja sampai 2.000 definisi yang berbeda-beda, padahal definisi itu hanya menggambarkan satu atmosfer ruang psikologis derajat pengetahuan dan pengalaman seseorang mengenai tasawuf tadi. Dan semua itu tetap dibenarkan.

Sebenarnya kalau dilihat dari model kajian akademisnya, ada tasawuf falsafi dan tasawuf amali. Tasawuf amali tersebut, orang biasanya menjalankan amaliah tasawuf atas bimbingan seorang mursyid. Ini berbeda dengan tasawuf falsafi sehingga ada kesan bahwa tasawuf falsafi ini lebih elitis secara intelektual. Sedangkan, tasawuf amali lebih publik, umum, tapi kedua tasawuf tersebut tetap ada bimbingan dari seorang mursyid.

Sejauh mana pengaruh pemikiran Ibnu Arabi dalam perkembangan tasawuf falsafi di nusantara?

Ada beberapa ulama yang mengingatkan agar berhati-hati membaca karya Ibnu Arabi. Karena, banyak karya Ibnu Arabi yang dipalsukan sehingga menjadi berbeda wacananya. Oleh siapa? Oleh mereka yang awalnya antitasawuf. Lalu muncul tuduhan miring kepada Ibnu Arabi. Walaupun secara intelektual memang Ibnu Arabi representatif sebagai seorang sufi falsafi yang berada di garda depan soal itu.

Tetapi, kalau kita membaca karya-karya para ulama sebelum Ibnu Arabi juga banyak sekali yang sebenarnya mirip pemikiran Ibnu Arabi. Hanya saja ini menyangkut produktivitas dari karya Ibnu Arabi yang banyak, sedangkan yang lain tidak terlalu produktif. Karena, kembali lagi, tujuan seluruh ilmu itu untuk diamalkan, bukan untuk diproduksi.

Jadi, saya kira Ibnu Arabi yang sesungguhnya itu juga tidak jauh berbeda dari pandangan-pandangan dari sufi lain. Seperti Ibnu Athaillah, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Imam Ghazali, dan lain sebagainya. Hanya, Ibnu Arabi diamati secara filosofis murni, jadi dianggap ini penerjemahan al-Hallaj, kemudian di Nusantara dikait-kaitkan dengan pandangan Syekh Siti Jenar dan seterusnya.

Padahal, sebenarnya tidak seperti itu. Hanya saja memang akademik tasawuf ini secara filosofis belum masuk ke wilayah- wilayah pondok pesantren. Di mana wilayah wilayah itu menjadi basis pengembangan tasawuf dasar karena model tasawuf di pesantren lebih banyak tasawuf amaliah. Walaupun di tingkatan kajian selanjutnya ada ilmiah, tidak dibahas lebih jauh.

Sehingga, Ibnu Arabi sendiri tidak populer di pesantren Nusantara. Hanya memang baru-baru ini dalam kurun waktu sekitar tiga dekade, kajian dan wacana-wacana itu muncul. Itu pun pengaruh dari dunia informasi yang semakin cepat, kemudian tesis dan kajian di perguruan-perguruan tinggi Islam.

Kehadiran tasawuf falsafi Hamzah Fansuri dan Syamsudin Sumatrani menuai polemik.

Bisa dijelaskan?

Iya, soal hubungan-hubungan yang perlu peningkatan pemahaman. Contoh yang ada seperti konsep wahdat al-wujud. Istilah ini saja pro kontra, ada yang menerima ada yang menolak. Bagi yang menerima mengartikan wahdat al-wujud itu bukan berarti kesatuan wujud. Karena, wujud itu hanya satu, jadi tidak perlu dipersatukan lagi karena memang hanya satu.

Sehingga, yang dimaksud wahdat al- wujud itu adalah satu-satunya wujud. Ini ternyata bisa diselesaikan secara falsafi juga oleh mereka yang lebih berpihak pada tasawuf amali dengan mengangkat satu tema wahdat as-syuhud. Secara filosofis, itu memang wahdat al-wujud, namun secara amaliah sesungguhnya itu adalah wahdat as-syuhud.

Kalaupun disebut menyatu, yang menyatu di situ adalah syuhud-nya atau pandangan mata hatinya. Jadi, ini seperti bersatunya cermin dengan gambar yang ada di dalam cermin bahwa gambar itu bukan wujud. Namun, bagi gerakan-gerakan Islam yang sangat formalistik dan sangat syar'i itu langsung menganggap hal-hal yang sifatnya tidak berhubungan tauhid secara formal dianggap tidak sesuai. Itu awal polemik sebenarnya.

Lantas sejauh manakah orisinalitas (ashalah) tasawuf falsafi jika dibandingkan dengan corak lain seperti tasawuf akhlaqi ala Imam Ghazali?


Al-Ghazali itu sebenarnya memadukan antara tasawuf falsafi dan tasawuf amali.

Artinya, syariat dan hakikat dipadukan melalui Ihya Ulumiddin, Minhaj al-Abidin dan Kitab al-Arbain. Walaupun ada karya- karya lain yang secara khusus mengenai rahasia-rahasia Allah SWT, Al Ghazali itu secara metodologis dianggap sempurna memadukan antara Syar'i dan hakikat tadi.

Ini kehebatan al-Ghazali menurut saya dan itu lebih erat hubungannya dengan kultur spiritualitas dengan hubungan ilmu dan nilai spiritual. Khususnya di kalangan pesantren dan lingkungan Nahdliyin yang lebih ke gaya Imam Ghazali.

Seperti Imam Junaid al-Baghdadi sebenar nya lebih falsafi, tapi Imam Junaid itu ungkapan-ungkapan filosofinya lebih orisinal. Kemudian dianggap tasawufnya falsafi, padahal Imam Junaid al-Baghdadi juga itu tidak jauh dari Ibnu Arabi juga. Jadi, sebenarnya yang menyebut tasawuf ini falsafi, amali atau akhlaki adalah pemilahan akademis saja.

Kesemuanya bertemu, hanya cara pandang orang atas bentuk tasawuf itu yang berbeda. Ketika seorang filosof memandang tasawuf, maka yang muncul adalah cenderung filosofis, diamati ini sebagai produk filsafat dalam Islam. Tetapi, bagi kelompok yang amaliah, tidak demikian.

Mereka memandang seluruh pemikiran tasawuf itu adalah buah atau refleksi dari pengalaman-pengalaman amaliah spiritual seseorang. Jadi, tidak bisa saling klaim orisinalitas terhadap salah satu model tasawuf.
(editor: Nashih Nashrullah//Republika.co.id)