Jumat, 07 Mei 2021

Etika dalam Pemikiran Sufi

Oleh: Abidin Ghozali Al-Grabyagani
(Penulis adalah Mahasiswa UIN Syarifhidayatullah Jakarta)

“Etika” sebagaimana kita tahu bahwa istilah ini berasal dari kata Yunani kuno. Yang dalam bentuk tunggalnya kata Ethos memiliki banyak arti: kebiasaan; adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak Ta Etha artinya adalah: adat kebiasaan. Dan arti terahir ini lah yang menjadi latar belakang terbentuknya kata “Etika” yang oleh filsuf Yunani besar Aristoteles (384-322 s.M.)untuk menunjukan filsafat moral.

Etika yang disebut juga filsafat moral, meneliti kaidah-kaidah yang membimbing manusia sehingga dalam jalan yang baik dan benar. Di dunia barat pemikiran tentang dunia ini berawal dari Sokrates, mazwab Stoa, dan Epikurus. Dalam filsafat India pemikiran etik berpangkal pada ajaran Karma dan Dharma.

Sedangkan Sufi seorang yang mengerti dan mengamalkan ilmu Tasawuf. Kaum sufi akrab dengan berbagai ritual keagamaan seperti wirid, do’a dan i’tikaf untuk melakukan ritual ini kaum sufi ada yang melakukannya dengan cara Uzlah (Mengasingkan diri), Muraqabah (Kontemplasi penuh dengan kewaspadaan), Muhasabah (pemeriksaan atau ujian terhadap diri).

Sejak dekade akhir abad ke II Hijriah, Sufi sudah populer dikalangan masyarakat dunia Muslim, Ibrahim Basyuni, dalam kitab “Nasy-at-Tasawuf fi-I Islam” mengungkapkan bahwa kaum sufi di identikkan dengan kaum Muhajirin yang bertempat di serambi masjid Nabi di Madinah, dipimpin oleh Abu Zaar al-Ghiffari. Mereka menempuh pola hidup yang sangat sederhana, zuhud terhadap dunia dan menghabiskan waktu beribadah kepada Allah. pola hidup mereka kemudian di contoh oleh sebagian umat Islam yang dalam perkembangan selanjutnya disebut kaum sufisme.

Sejak kemunculan kaum sufi sudah bisa dilacak apakah memiliki konsep hidup yang etis, membedakan mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Cara hidup kaum sufi dalam perkembangannya memang mendapakan banyak corak yang variatif.

Seperti pada fase awal kemunculan sufi, fase asketisme setidaknya berlangsung sampai akhir aban II Hijriah dan memasuki fase kedua dimana peralihan dari asketisme ke arah sufisme yang ditandai dengan pergantian sebutan zahid menjadi sufi. Dalam fase ini ramai para ulama sufi bermunculan tak ubahnya jamur dimusim hujan seperti al-Muhashibi (w. 243 H), al-Harraj (w.277) dan al-Junaid al-Bagdadi (w. 297 H) tokoh terkemuka ini telah mengkonsep hidup etis tentang bagaimana cara hidup yang dilakukan oleh seorang sufi.

Keramaian ini agaknya memiliki faktor pemicu paling tidak ada tiga hal: pertama karena gaya hidup yang glamor-profanistik dan corak kehidupan materialis-konsumerialis yang dipraktikan oleh kalangan eksekutif dan segera menyebar ke masyarakat luas. dan para kaum sufi melakukan protes dengan gaya murni etis, melalui pendalaman kehidupan rohani-sepiritual. Tokoh populer yang dapat mewakili kelompok ini dapat ditunujuk Hasan al-bashri (w. 110 H) yang mempunyai pengaruh kuat dalam kesejarahan Islam, melalui doktrin al-zuhd, al-khauf, dan al-raja; selain itu juga Rabiah al Adawiyah (w. 185 H) dengan ajaran populernya al-mahabbah serta Ma’ruf al-Kharki 9w. 200 H) dengan konsepsi al-syauq sebagai ajarannya.

Konseptor ajaran Uzlah Surri as-Saqathi (w. 253 H) adalah nampaknya menjadi faktor kedua, dilihat dari kondisi sosio-politik pada masanya singgah mengasingkan diri dan menjauhi masyaraka yang sudah memilih hidup hedonis dengan gerakan politik yang mempropaganda pilihan untuk hidup sendiri dan mengindar agaknya cukup rasional untuk mencari jalan kebenaran.

Ketiga, tampaknya dari faktor kodifikasi hukum Islam Fiqh dan Teologi yang dialektis rasional, sehingga kurang bermotivasi ethikal yang menyebabkan nilai sepiritualnya hilang, menjadi semajam wahana tiada isi, semacam bentuk tanpa jiwa.

Dengan adanya faktor-faktor sehingga menghilangkan atau kurang bermotif etika untuk mengembalikan nilai-nilai kerohaniyan, pengabdian dan kecintaan serta kesatuan dengan alam Malakut. Para kaum sufi ini berjuang. Pada abad ketiga ini juga Abu Yazid al-Bisthomi (w. 260 H) melangkah lebih maju dengan doktrin al-ittihad melalui al-fana, yakni beralih dan meleburnya sifat kemanusian (nasut) seseorang kedalam sifat ilahiyat terjadi penyatuaan manusia dengan Tuhan dalam al-fana.

Seperti yang sudah dipaparkan Di atas sejak Abad ke-II Hijriyah hingga III Hijriyah banyak sekali tokoh sufi yang muncul antara lain: Al-Muhasibi (w.243 H), Al-Harraj (w. 277 H), Al-Junaid al-Bagdadi (w. 297), Hasan Al-Bashri (w. 110 H), Rabiah al-Adawiyah (w. 185 H), Ma’ruf al-Kharki (w. 200 H), Surri as-Saqathi (w. 253 H), Abu Yazid al-Bistomi (w. 260 H)dan begitu seterusnya hingga jaman Imam Al-Ghazali yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (1058-1111) inilah tokoh yang menurut penulis representatif untuk dirujuk pemikiranya tentang etika. Ia adalah seorang filsuf, teologi, ahli hukum, dan sufi: dikalangan barat ia dikenal dengan nama Alqazeel. Al-ghazali lahir dan meninggal di Thus, Persia.

Sumber dan ajaran Etika dalam Sufi

Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa sumber etika dalam sufi adalah Al-Quran. Setelah itu dalam pembahasan ini akan dipaparkan juga sumber-sumber seperti kehidupan Nabi, Akhlak, dan perkataan (Sunnah). Setelah itu kehidupan sahabat dan perkataan mereka.

Al-Quran sebagai sumber pembentuk etika sufi

Jika kita merujuk pada al-quran dan sunnah kata “etika” yang dalam hal ini diartikan dengan akhlak maka tidak ditemukan yang ditemukan dalam al-quran hanyalah bentuk tunggal yaitu khuluq yang tercantum dalam Al-Quran surah Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw. Sebagai rasul, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) beradi diatas budi pekerti yang agung” (QS Al-Qalam [68]: 4)

Kata akhlak banyak ditemukan didalam hadis-hadis Nabi Saw., dan salah satu yang populer adalah “ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Berpangkal dari Al-Quran dan sunnah. Namun pada kenyataannya perbuatan manusia manusia sangatlah beragam dan memang keberagan tersebut sudah ditentukan oleh Allah. firman Allah tersebut bisa dijadikan Argumen “Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat beragam” (QS Al-Lail [92]: 4).

Keberagaman prilaku manusia dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk, prilaku baik dapat mengantar manusia pada Tuhannya sedangkan prilaku yang buruk mengantarkan manusia pada kesengsaraan.

Al-Ghazali yang dianggap reprensentanif sebagai pemikir sufistik terkait prilaku manusia yang menjurus pada kesengsaraan menawarkan penawar yang dalam hal ini bisa kita sebut sebagai konsep prilaku etis yang berlandasankan pada Ayat Al-quran dan sunnah. Diantaranya: Nafsu makan yang rakus (Hadist: “Tidak yang paling disukai Allah dibanding lapar dan dahaga” sabda beliau pula, “barang siapa memenuhi perutnya (kekenyangan) tidak akan masuk kerajaan langit” Sabdanya pula, “Lamar adalah raja segala amal”. adalah menjadi penyebab awal daari segala kerakusan, menjadi sumber syahwat, yang kemudian menimbulkan nafsu birahi.

Lalu, berbicara kotor (Baca: QS An-Nisa: 114) ini menjadi konsep etis selanjutnya. Kebiasaan berbicara kotor harus segera dihentikan, karena sangat berpengaruh pada hati. Secara khusus, lisan merupakan proyektor hati. Setiap kata yang terlontar akan menjadikan goresan dalam hati dan akan merusak dalam benaknya. Rasullah saw, bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari akhirat, maka hendaknya berkata baik atau diam. “(H.r. Bukhari-Muslim) sabdanya pula, “Barang siapa banyak bicara, maka banyak salahnya, dan barang siapa banyak banyak salahnya berarti banyak pula dosanya, dan barang siapa banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya.” (Al-hadis)

Amarah adalah nyala api dari neraka Allah swt., yang menjelat hingga keruang hati. Orang yang tidak bisa menahan amaranya identik dengan orang yang telah menggeser prilakunya pada perangai setan yang memang diciptakan dari api. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan amarah dipandang penting oleh agama. Sabda Nabi: “Bukanlah orang yang kuat itu karena kemampuan bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang bisa mengendalikan nafsunya ketika marah”.

Selanjutnya kedengkian, Rasul bersabda : “Sesungguhnya dengki (hasad) itu memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar” belau juga bersabda: “Ada tiga perkara dimana tidak seorang pun yang dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, jangan dinyatakan, dan bila timbul didalam hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan, dan bila timbul dalam hatimu rasa dengki, jangan dipertuturkan.”

Bakil dan cinta harta, menjadi sorotan selanjutnya yang menjadikan seorang kebada berbuatan buruk. Bakil adalah penyakit hati yang sangat kronis dan riskan (baca: QS Al-Hasyr: 9) yang artinya “Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, nereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Baca: Al-Imran: 180), (baca: QS An-nisa: 37). Lalu ambisi dan gila harta, Allah berfirman: ”Negri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dimuka bumi” (QS: Al-Qashash:83) dalam hal ini Rasul bersabda: “Cinta harta dan tahta dapat menimbukan kemunafikan di dalam hati, sebagai mana air dapat menumbuhkan buah-buhan”.

cinta duunia, adalah pangkal dari segala dosa. Dunia tidak sama dengan harta dan tahta saja. Harta dan tahtah hanyalah bagian kecil saja dari dunia yang amat luas ini. Namun perhiyasan dunia yang diciptakan Allah : Firman-Nya : “Sesuungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi mu” (QS. Al-Kahfi: 7) dan segala kesenangannya telah terangkum dalam (Baca: QS Ali Imran : 14) namun, agaknya telah jelas bahwa dunia ini tidak lain hanyalah permainan belak. (Baca: Al-Hadid: 20) ...”Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya”...(QS. An-Nazi’at: 40).

takabur, “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang wenang.” (QS: Al-Mu’min: 35). Selanjutnya sifat Takjub diri, merasa dirinya hebat karena banyak pengikut atau teman (Baca: At-Taubah :25). Menyangka diri yang perbutannya paling baik Allah mengabadikan kecamannya dalam Quran...”Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS: Al-Kahfi: 104). Merasa diri suci Allah mengingatkan dalam Quran: “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS: An-Najm: 32).

riya’, Firman Allah swt.:”Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbat riya’...QS. Al-Maa’uun: 4) Allah memberikan kisi-kisi kepada siapa yang akan diberi-Nya makan tanpa balasan bahkan ucapan trimakasih tidak butuh (Baca: QS. Al-Insan: 9) dan dalam firman-Nya: “barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS. Al-kahfi: 110)

itulah macam-macam prilaku yang menyebakan manusia mengarah kepada kesengsaraan. Al-ghazali menghimbau. Ketahuilah, akhlak tercela itu amat banyak. Namun, prinsipnya kembali pada uraian Di atas. Tidak bisa sekedar membersikan sebagian, melainkan harus secara keseluruhan.

Sedangkan untuk mencapai kemuliaan Al-ghazali mengajarkan yang pertama dalah taubat. Taubat merupakan awal perjalanan para penempuh dan merupakan kunci kehagian para pengharap hadirat Allah. Allah swt. berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dir.” (QS. Al-baqarah: 222)

Dan firman-Nya pula “Dan bertaubatlah kamu sekalin kepada Allah...”(QS. An-Nur: 31).

Selanjutnya, Khauf (Takut), Allah stw. Benar-benar memberikan anugrah kepada oang-orang yang takut kepada-Nya, berupa hidayah, rahmat ilmu dan ridha. Allah swt berfirman:

“... Petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya” (QS. Fathir: 28).

Allah itu ridha kepada orang-orang takut kepada-Nya, begitu pun orang-orang yang takut pada-Nya itu ridha pada Allah. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 8).

Zuhud, menjadi pilar utama kaum sufi untuk mencapai kehadirat-Nya. Hal ini pun para sufi berpijak pada Al-Quran. Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kamu tunjukan matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Sepertinya dalam pemikiran etika sufi itu paham betul dengan apa yang harus diharapkannya didunia ini yaitu keuntungan yang akan didapatkan di akhirat kelak bukan didunia ini. Bukan karena tidak diberi jika kita mengharapkan keuntungan didunia ini. Namun Allah tidak akan memberikan apa pun kelak diakhirat. Namun, jika mengharapkan keuntungannya kelak di akhirat maka Allah akan memberikan lebih banyak. (Baca: QS. Asy-Syuura: 20)

Selanjutanya sabar, Allah swt., berfirman, “Dan bersabarlah Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 46). Ada beberapa hal yang diberikan kepada orang-orang yang sabar dan tidak diberikan kepada selainnya: Mendapat keberkatan sempurna dan rahmat Tuhannya, (Baca: QS. Al-Baqarah: 157), mendapat pahala yang jauh lebih baik dari apada atas apa yang mereka kerjakan (Baca: QS. An-Nahl: 96), tidak berrhenti disitu Allah akan menjadikannya pemimpin (Baca: QS. As-Sajdah 24) Firman Allah swt. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).

Syukur, Allah swt., berfirman: “Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang berterimaksih.” (QS. Saba: 13).

Sindiran ayat di atas menjadi motivasi kepada kaum sufi dan menyakini firman Allah swt. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7).

Ihklas dan jujur, Ikhlas memiliki hakikat, prinsip dan kesempurnaan.

Prinsip ikhlas adalah niat, sebab dalam niat itu terdapat keikhlasan. Sedangkan hakikat ikhlas adalah kemurnian niat dari kotoran apapun yang mencampurinya. Kesempurnaan ikhlas adalah kejujuran.

Imam Al-Ghazali memberikan Pilar-pilar Ikhlas :

Pilar Pertama: Niat,

Allah swt., berfirman dalam (QS. Al-An’am: 52). “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.”

Arti niat menurut kaum sufi adalah kehendak dan keinginan memperoleh ridha Allah swt.

Pilar Kedua: Keihhlasan Niat.

Allah swt. telah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (Menjalankan) agama denga lurus. “ (QS. Az-Zumar: 3)

Tawakal, Firman Allah wst. “Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri” (QS. Ibrahim: 12) banyak bertebaaran ayat-ayat tentang taqwa dalam al-quran yang menjadi landasan kaum sufi dalam menyerahkan diri kepada Allah.

Secara esensial (Hakikat) taqwa merupakan kondisi rohani yang lahir dari tauhid, dan pengaruh terwujudnya dalam alam nyata. Tawakal memiliki tiga pilar: Pertama, pengenalan diri akan Allah (Ma’rifat), kondisi takwa (haal) dan amal.

Cinta, Allah berfirman, “ Allah mencintainya dan mereka puun mencintainya” (Al-Maidah: 54). Bagi para kaum sufi puncak dari pada cinta adalah memandang wajah Allah Yang Maha Mulia nanti diakhirat. Menurut Al-Ghazali hal ini tidak mungkin terjadi di Dunia karena tidak mungkin tersingkap sekarang. ...”Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku.” (QS. Al-A ‘raaf: 143) dan firman-Nya ..”Dia tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata”. (QS. Al-An’am: 103).

Ridha terhadap kadha’, Firman Allah (Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya” (QS. Al-Maidah: 119) dalam kaitan ini banyak pula hadist Rasullah seperti sabdanya, “Apabila Allah mencintai seorang Hamba, Dia mencobanya. Jika hamba itu sabar, Allah memilihnya. Dan bila ridha Dia mengutusnya”.

Mengingat mati dan hakikat mati serta ragam siksa ruhani, Al-Ghazali telah menyebutkan kesembilan maqam ruhani dan itu bukanlah terdiri sendiri-sendiri. Justru sebagian diantaranya menunjukan esensi maqam yang lainnya, seperti prinsip atau maqam cinta (Mahabbah) dan prinsip atau maqam ridha (Rela terhadap ketetapan Allah); keduanya merupakan maqam tertinggi. Di antara maqam tersebut saling berkaitan dengan maqam lainnya, seperti maqam taubat dan zuhud; maqam takut (khuuf) dan sabar.

Dalam hal menyangkut kematian Al-ghazali banyak mengihmpun hadis-hadis Nabi, “Perbanyak mengingat pengancur kelezatan-kelezatan!”dan juga sabdanya, ”Barang siapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” Dan masih banyak lagi hadis serupa yang Imam Al-Ghazali kkemukakan.

Manfaat ingat mati menurut al-ghazali adalah akan membawa manusia benci kepada dunia, sedangkan benci pada dunia adalah pangkal dari kebaikan. Bagi kaum sufi 9Ahli Ma’rifat) mengingat Allah itu memiliki dua fungsi dan kegunaan; pertama, benci pada dunia dan kedua, rindu akhirat.

dan ditutup dengan Introspeksi diri. Gagasan etis al-ghazli ini terdapat dalam kita “Kitab Arba’in fi Ushuliddin” (Bairut: Daar Kutub Al-Imiyah, cet I, 1409/1988).

Kehidupan Sahabat dan Perkataan mereka

Sumber lain yang dijadikan dalam pemikiran sufi untuk mendapatkan nilai-nilai seperti zuhud dan wara’ (Menjaukan diri dari dosa), kesederhanaan dan memusatkan diri kepada Allah. seorang pengkaji sejarah sufi Islam modert, tak mungkin melepaskan mainstream-mainstream spiritual dan intuisi hati yang ada dalam kehidupan para sahabat dan perkataan-perkataan mereka.

Namun dalam makalah ini tidak akan mungkin untuk menjelaskan atau menderitakan secara keseluruhan kehidupan dan perkataan para sahabat Nabi. Penulis hanya akan menjelasakan secara global sebagai mana perkataan Abu Attabah al-Halwani “apakal kalian tidak ingin aku ceritakan kondisi (Hal) para sahabat Nabi SAW? “Pertama, bahwa bertenu dengan Allah merupakan sesuatu yang paling mereka cintai dalam kehidupan. Kedua, mereka tak pernah meresa takut terhadap musuh, baik banyak maupun sedikit. Ketiga mereka tidak pernah takut karena permasalahan dunia, dan mereka sangat percaya dengan rizki yang diberikan oleh Allah”

Abu bakar Shidik merupakan seorang ahli zuhud hingga berlapar diri selama 6 hari, dan hanya mempunyai sepotong pakaian. Ia berkata: “Jika seorang hamba merasa kagum atas perhiyasan-perhiayasan dunia, maka Allah akan membencinya hingga ia melepaskan diri dari perhiasan tersebut” Ia juga berkata tentang takwa yakni karena dirinya tawadhu “Aku menemukan kemulian pada diri ketakwaan, kekayaan pada diri keyakinan, dan keanggungan dalam ketawadhu’an” dan Ia bicara tentang ma’rifah (Pengetahuan): “Barang siapa yang mencintai sebuah pengetahuan murni, maka akan memalingkan dari selain Allah, serta menjauhkannya dari manusia”. dan junaid (salah satu ulama besar sufi) menceritakan tentang Abu bakar berkata ‘Kalimat yang paling utama tentang tauhid adalah perkataan Abu bakar yang mengatakan “Maha suci zat yang tidak menciptakan jalan bagi mahluk, kecuali makluk tersebut tak akan mampu untuk mengetahui-Nya”

Penutup

Demikianlah sumber-sumber ajaran etis dalam pemikiran sufi. Dimana semua perbuatan hendaknya bertujuan untuk mendapatkan keutamaan dari Allah swt. Al-Ghazali menjelasakan dalam tingkatannya bahwa syariat hingga menuju hakikat dan pengetahuan puncak tentang tuhan atau ma’rifat adalah melalui perbuatan – perbuatan yang berdasarkan Al-quran yang telah di jelaskan diatas.

Daftar Pustaka:
* K. Bertens “Etika” (Jakarta. Gramedia Pustaka Utama, 1993) h.
* Arif Surahman “Kamus Istilah Filsafat” (Yogyakarta. Matahari. 2012) Cet. 1 h. 96
* M. Abdul Muiieb dkk. “Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali” (Jakarta. PT Mizan Bublika. 2009)
* Imam Al-Ghazali “Teosofia Al-Quran” Pen.(Surabaya: Risalah Gusti, 1995) judul asli buku ini “Kitabul Alba’in fi Ushuliddin” (Bairut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1409/1988) cet 1.
* Abu wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani “Tasawuf Islam : Telaah Historis dan Perkembangannya” (Jakarta: Gaya Media Pratama. 2008) h 54

ibid:
Tasawuf ialah mistisisme dalam Islam atau sufisme. Istilah ini berasal dari kata Arab Shuf (Wol), sejenis pakainan tenunan kasar yang menjadi ciri utama kalangan pertapa awal yang cederung kepada kesederhanan simbolik dari pada kemewahan materi.

Tanda Husnul Khatimah dan Su'ul Khatimah

Apa saja tanda husnul khatimah dan su’ul khatimah?  Pertama: Mengucapkan kalimat syahadat saat akan meninggal Dari Mu’adz bin Jabal radhiyal...