Sabtu, 16 Oktober 2021

Citra Rempah Nusantara Sebagai Kekuatan Diplomasi Budaya

By : Nana Suryana

(Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis: “Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia”)


Membangun reputasi Indonesia di dunia Internasional masih terus digalakan. Presiden Joko Widodo, dalam Rapat Terbatas Tindak Lanjut National Branding pada Februari 2017 silam, mengatakan, bahwa reputasi Indonesia di mata dunia masih rendah. “Saya ingin mengingatkan bahwa brand power Indonesia masih lemah, baik di bidang perdagangan, investasi, maupun pariwisata dibandingkan negara-negara lain,” ucap Presiden.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut Presiden menginstruksikan. Pertama, mengetahui terlebih dahulu kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Indonesia. “Kita perlu mengetahui lebih dalam lagi apa saja kekuatan dan kelemahan kita dalam brand power, apa saja persepsi yang positif dan negatif tentang kita,” tandasnya.

Kemudian, dalam upaya mempromosikan dan membangun reputasi Indonesia di dunia luar, Kepala Negara meminta agar tiap kementerian dan atau lembaga tidak berjalan sendiri-sendiri. Hal ini dimaksudkan agar Indonesia ke depannya memiliki satu citra yang terintegrasi dan melekat erat di benak masyarakat dunia.

Persoalan rendahnya reputasi Indonesia di dunia, sesungguhnya tidak terlepas dari masih rendahnya diplomasi budaya. Seperti yang diungkap Presiden, bahwa upaya pemerintah di berbagai sektor belum berjalan maksimal. Artinya, masih membutuhkan berbagai upaya melalui berbagai instrumen guna mendukung ke arah tujuan itu.

Apa yang disampaikan Presiden itu, kiranya dapat dijadikan inspirasi bagi kita. Tidak terkecuali inspirasi bagi dunia rempah Nusantara. Dengan menggelar jalur-jalur rempah Nusantara dan memberikan manfaat pada lingkungan pemilik jalur dan para petani rempah, diharapkan mampu mendongkrak citra rempah Nusantara yang melegenda itu.

Perdagangan rempah di Nusantara terbukti telah meninggalkan jejak peradaban. Sebut saja, jejak berbagai peninggalan benda sejarah. Seperti situs sejarah, arsitektur, benda seni, serta berbagai benda sejarah lainnya. Sedangkan peninggalan peradaban non benda, yakni berupa peninggalan produk budaya, seperti tradisi, seni, lagu, tarian, sastra, dan lain-lain.
Kita tak boleh membiarkan puing-puing peradaban masa lalu itu terkubur masa silam. Kita perlu merekonstruksinya, sekaligus merevitalisasinya. 

Merekonstruksi sangat penting agar generasi saat ini lebih faham dan lebih well-informed terhadap seluk-beluk jalur rempah Nusantara di masa silam. Namun upaya merevitalisasinya jauh lebih penting guna melestarikan khasanah budaya demi masa depan bangsa. Serta yang tidak kurang pentingnya adalah bagaimana meningkatkan citra rempah Nusantara itu sendiri, agar kehadirannya dapat dijadikan sebagai salah satu kekuatan diplomasi budaya. Agar mampu memberikan sumbangsih nyata terhadap reputasi dan atau citra Indonesia di mata dunia.

Beberapa pertanyaan yang muncul: Bagaimana citra rempah Nusantara sebagai warisan dunia? Benarkah bahwa rempah Nusantara sebagai pemicu terjadinya kolonisasi? Bagaimana melalui rempah Nusantara, pemerintah dapat menggarap nation branding-nya, terutama melalui jalur diplomasi budaya? Bagaimana agar dalam membedah jalur rempah ini mampu pula memberikan kesejahteraan kepada lingkungan pemilik jalur dan kepada petani rempahnya sendiri?

Kemudian perlukah melakukan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, organisasi dan petani? Seberapa penting perlunya promosi ke luar negeri? Tagline seperti apa untuk mempromosikannya? Bagaimana dengan perjuangan ke UNESCO agar Jalur Rempah mendapat pengakuan sebagai Warisan Dunia? Serta harapan seperti apa sebagaimana yang diharapkan Presiden Joko Widodo?

Sekilas Citra Rempah Nusantara Sebagai Warisan Dunia

Jalur rempah sebagai warisan dunia, barangkali mulai terlupakan seiring memudarnya citra rempah Nusantara. Untuk menghidupkan kembali nostalgianya, tidak terlepas dari bagaimana untuk membangun kembali citranya. Mengapa citranya juga perlu direvitalisasi? Tak hanya menyoal produksi rempah Indonesia mulai menurun. Juga, kualitasnya pun mulai memburuk. Sialnya, para petani rempah mulai enggan bercocok tanam. Biang keladinya adalah faktor kemalasan.

Alamaak!! Apakah tradisi budaya pada titik-titik jalur rempah seperti inikah yang ditinggalkan nenek moyang kita dahulu?

Mantan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (2017) menegaskan, permasalahan rempah di Indonesia karena petaninya malas bercocok tanam. Akibatnya rempah-rempah dari Indonesia tak lagi berjaya. Warga Maluku, misalnya, ketika musim hujan lebih suka mengurung dibalik sarung. Padahal, mestinya, bekerja untuk menghasilkan rempah.

Rempah asal Indonesia memang pernah menjadi komoditas primadona yang diperdagangkan secara global di masa lampau. Namun saat ini, tengah dibayangi berbagai masalah. Mulai dari kesejahteraan petani kurang terjamin. Perubahan iklim tidak menentu. Sampai pada tata-kelola dan perdagangan yang dinilai kacau balau. Wajar, jika citra rempah Nusantara memudar, kalau tak mau dibilang mulai terpuruk.

Menurut Ketua Sustainable Spices Initiative (SSI) Indonesia, Naloanro Simanjuntak, dalam acara peluncuran SSI Indonesia yang diadakan secara daring, Kamis (29/4/2021), memaparkan permasalahan produktivitas rempah di dalam negeri di antaranya adalah kurangnya fasilitas dan alat untuk bertani yang lebih baik, adanya hama dan penyakit, dampak akibat perubahan iklim, serta pengetahuan petani yang minim tentang praktik budidaya rempah yang baik, hingga berkurangnya jumlah petani karena profesi ini belum bisa menunjang kesejahteraan yang lebih baik.

Lagi-lagi, alamaak!! Bagaimana mungkin kita akan menghidupkan kembali nostalgia masa silam dengan melestarikan kenangan jalur-jalur rempah sebagai warisan budaya, apabila kondisi atau citra rempah Nusantara sendiri yang mulai acak-kadut seperti ini?

Bahkan, Ketua Umum Dewan Rempah Indonesia Gamal Nasir mengakui, kualitas produk rempah Indonesia yang memburuk menjadi penyebab utama penurunan ekspor dalam dua tahun terakhir. Meski peremajaan tanaman rempah telah didorong oleh pemerintah sejak 2017, namun prosesnya masih berjalan lambat hingga saat ini.

Petani masih kesulitan mendapatkan benih baru. Ironisnya, kata Gamal Nasir, banyak petani rempah, ketika panen, tidak terlalu peduli dengan kualitas produknya. Hasilnya bisa ditebak, rempah Indonesia sering mendapatkan penolakan dari negara tujuan, terutama Eropa.

Aduh-aduh, bagaimana ini!!
Kita mafhum, bahwa Indonesia dalam sejarahnya merupakan negeri kepulauan yang kaya akan rempah. Bangsa asing menjajah negeri ini pun salah satunya karena rempah yang melimpah-ruah di bumi Nusantara. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Pengembangan komoditi rempah, kini terkendala kontinuitas pasokan dan kualitas produknya masih rendah.

Tentu kondisi ini tak boleh dibiarkan. Perlu ada gerakan yang lebih padu, fokus, inovatif dan berkelas. Sebuah gerakan yang lebih menyentuh pelbagai aspek yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari tingkat hulu sampai hilir. Mulai dari tingkat regulator, lembaga hingga organisasi-organisasi yang bersinggungan langsung dengan kepentingan petani rempah dan yang turut bertanggung jawab terhadap citra rempah Nusantara.

Jalur Rempah pemicu terjadinya kolonisasi

Kekayaan dan keragaman seni dan budaya Indonesia, tidak terlepas dari kedatangan bangsa lain melalui jalur-jalur rempah di masa lalu. Ini karena Nusantara juga dianugerahi kekayaan hasil alam sangat beragam. Sebagai negeri penghasil rempah terbesar di dunia, nama Indonesia tidak asing lagi di mata para pemburu komoditi yang termahsyur antara abad ke-16 hingga abad ke-17 ini. Rempah menjadi komoditas penting dalam jalur perdagangan dunia dan memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban bangsa Indonesia.

Dari berbagai catatan para penjelajah dunia, Maluku merupakan sentra penghasil pala, lada, cengkeh, dan kayu manis yang pada masa itu merupakan jenis rempah paling dicari di dunia. Dalam perkembangannya kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia tidak hanya untuk kegiatan perdagangan, tetapi juga melakukan kolonisasi.

Pembangunan benteng merupakan usaha awal bangsa Eropa untuk menguasai perdagangan rempah di Nusantara. Pada awalnya, benteng-benteng yang dibangun difungsikan sebagai pos perdagangan untuk menyimpan berbagai komoditi, pusat pertahanan, sekaligus pula dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman dan pemerintahan. Keberadaan benteng-benteng peninggalan penjajahan bangsa Eropa menjadikan sepenggal cerita bahwa Maluku pernah menjadi pusat kejayaan rempah di Nusantara.

Tak mengherankan beragam tradisi, budaya dan ilmu pengetahuan menguak ke permukaan Nusantara. Tak hanya bagi Indonesia, namun juga dunia. Indonesia sebagai tempat pertemuan manusia dari berbagai belahan dunia telah melahirkan berbagai ide, gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, estetika, hingga adat kebiasaan. Pada gilirannya telah menjadi sarana bagi pertukaran antar budaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.

Citra rempah Nusantara di masa lalu

Citra rempah Nusantara di masa lalu sangat dikenal di berbagai belahan dunia. Terutama melihat pada pemanfaatannya untuk berbagai macam kegunaan. Baik untuk kegunaan kuliner, kesehatan, kecantikan, pengobatan sampai pada bahan pengawet daging.

Menurut Fadly Rahman penulis buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia," di Cina pada masa Dinasti Han pada awal Masehi, cengkeh dikulum untuk menghasilkan sensasi harum sebelum bercakap dengan para pembesar atau raja. Di Eropa, abad pertengahan, rempah dipakai untuk mengawetkan daging dari kebusukan atau menutupi bau amisnya.
Abad ke-15, menurut Fadly, adalah “abad rempah-rempah” yang mengubah citra kuliner Eropa yang selama zaman Medieval dinilai tidak berselera. Citra rempah lantas mulai bergeser dari afrodisiak (perangsang daya seksual), menjadi penguat citarasa eksotik hidangan di lingkungan kerajaan-kerajaan di Eropa.

Walhasil, lanjut Fadly, seiring dengan populernya eksotika rempah, buku-buku masak pun bermunculan. Sebuah buku masak di Inggris, misalnya, memuat resep jenis ikan Atlantik (haddock) dalam kuah saus yang diberi nama ”gyve”. Bumbu sausnya dibuat dari ramuan cengkih, bunga pala, lada, kayumanis, kismis, kunyit, kayu cendana, dan jahe. Sepanjang abad ke-13 hingga abad ke-15, sekitar 75 persen rempah-rempah muncul di resep-resep buku masak.

Di tengah menggeliatnya industri kuliner di Indonesia, diselenggarakan berbagai acara seminar, pameran, hingga bertumbuhnya beberapa komunitas kuliner. Tidak terkecuali mengusung tema rempah turut pula bergeliat beberapa tahun terakhir. Fenomena ini seakan-akan membangunkan kembali ingatan kolektif masyarakat pada kemasyhuran masa lalu Indonesia sebagai “surga” penghasil rempah yang sempat hilang ditelan jaman.

Membangun Citra rempah Nusantara bagi Reputasi Indonesia

Untuk membangun citra Indonesia yang terintegrasi dan melekat di benak masyarakat dunia, Kementerian dan Lembaga diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri. Bahkan hal ini mendapat penekanan dari Presiden Joko Widodo. Sejumlah upaya untuk mendorong dan meningkatkan kinerja berbagai sektor di Indonesia perlu terus dilakukan pemerintah.
Melalui rempah Nusantara, pemerintah dapat menggarap nation branding-nya. Bila perlu dapat dilakukan melalui diplomasi kebudayaan, film, kuliner, sampai pada bidang olahraga. Tagline yang perlu senantiasa dilekatkan, misalnya: "Bumi Rempah Nusantara Sebagai Simpul Warisan Budaya." Atau "Jadikan Jalur Rempah Nusantara sebagai Kekuatan Diplomasi Budaya."

Jalur Rempah Nusantara dapat menjadi pijakan kuat dalam membangun kerja sama antar bangsa. Terutama guna mewujudkan persaudaraan dan perdamaian global. Dalam upaya mengutamakan pemahaman antar budaya, penghormatan dan pengakuan atas keberagaman tradisi beserta warisannya. Tentu, harus dengan landasan semangat keadilan, kesetaraan dan saling berkontribusi, serta menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan.

Perlunya promosi ke luar negeri

Membangun citra Indonesia melalui promosi rempah ke luar negeri, tentu tak bisa berjalan sendiri-sendiri. Perlu dilakukan kerjasama lintas kementerian dan lembaga terkait. Tujuannya, agar memiliki satu citra yang terintegrasi dan melekat erat di benak masyarakat dunia.

Jika Kementerian Perdagangan mengangkat tagline ‘Remarkable Indonesia’, Kementerian Pariwisata mengusung ‘Wonderful Indonesia’. Kementerian Pertanian dapat mengangkat tagline "Indonesia Primadona Rempah Dunia" atau "Indonesia sebagai Bumi Rempah Primadona Dunia," atau "Kuliner Indonesia Bercitarasa Rempah Nusantara." Maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat mengangkat tagline: "Jalur Rempah Sebagai Warisan Dunia Guna Mewujudkan Persaudaraan dan Perdamaian Global" atau "Jalur Rempah Nusantara Sebagai Simpul Warisan Budaya Perkokoh Tradisi Keindonesiaan."

Bila perlu, dibuat juga baliho-baliho ucapan selamat datang. Misalnya, dipajang di Bandara atau di pintu masuk kota-kota di Indonesia, dengan tagline: "Selamat Datang Di Bumi Rempah Nusantara". Atau "Welcome to Indonesia as The Best Spices in The World" Atau di tempat-tempat komunitas kuliner, hotel, restoran dengan tagline, "Kuliner Khas Indonesia, Bercitarasa Rempah Nusantara." Atau, "Rempah Nusantara Andalan Penyedap Kuliner Indonesia."

Tagline ini dapat dilekatkan pada tagline kementerian atau lembaga lain, baik melalui promosi-promisi atau pameran-pameran di dalam dan luar negeri. Dengan demikian diharapkan reputasi atau citra positif rempah Nusantara akan terbangun dengan sendirinya.
Dalam pameran kuliner Internasional misalnya, perlu dihadirkan pula kuliner khas Indonesia yang menggunakan rempah. Para wisatawan yang datang atau ketika mengunjungi pameran kuliner bisa disuguhi tontonan Jalur Rempah Nusantara sebagai Warisan Peradaban Dunia. Atau diberikan kesempatan untuk mencicipi makanan atau minuman hasil racikan rempah Nusantara.

Perlunya kolaborasi, pemerintah, pengusaha dan petani

Untuk membentuk kembali citra rempah Nusantara tidak terlepas dari cara bagaimana memberikan pemanfaatannya bagi lngkungan pemilik jalur rempah dan petani rempahnya sendiri. Sehingga perlu perlu dilakukan sebuah kolaborasi atau kerja sama lintas sektoral, baik dari pemerintah selaku pemangku kebijakan, maupun lembaga, para pengusaha sekaligus para petani rempah.

Untuk itu pendampingan pemerintah kepada para petani dengan memberikan sosialisasi. Misalnya, tentang cara penanaman rempah yang baik dengan memanfaatkan bibit unggul. Terutama yang diperoleh dari hasil teknologi di bidang pertanian dalam menghasilkan rempah yang jauh lebih produktif dan berkualitas.

Para peneliti di bidang pertanian dapat terus memberikan idenya demi menciptakan hasil rempah Indonesia yang lebih baik lagi. Jika semua hal tersebut dapat dilakukan dengan baik, peluang besar Indonesia di masa pandemi ini dapat dimaksimalkan, sekaligus terwujudnya harapan Indonesia untuk mengembalikan kejayaannya di masa lalu pun akan semakin dekat mewujud.

Pemerintah dapat melakukan upaya-upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan potensi daya saing rempah melalui: Teknik budidaya yang baik, pengembangan industri hilir, pemanfaatan bursa komoditas, dan perbaikan fasilitasi perdagangan.

Libatkan Peranan HKTI

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Dr. Moeldoko, telah menegaskan mengenai pentingnya penguatan organisasi agar berperan besar dalam membangun ketahanan pangan, kemandirian pertanian, dan meningkatkan kesejahtetaan petani. Moeldoko menyebutkan ada empat hal yang akan dilakukan HKTI, yaitu konsolidasi organisasi, pendampingan petani, koordinasi dan komunikasi dengan lembaga terkait, dan melakukan social engineering.

Peluang ini harus ditangkap oleh siapapun yang terlibat dalam meningkatkan produksi dan kualitas rempah Nusantara. Apalagi beberapa program HKTI ini begitu menyentuh langsung kepada lingkungan pemiliki jalur rempah dan kepentingan para petani atau kepada Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani).

Dalam upaya meningkatkan ketahanan dan kedaulatan pangan serta memberikan manfaat kepada pemilik jalur rempah, sebagaimana yang diamanatkan Ketua HKTI tersebut dapat dimanfaatkan para petani Rempah. Terutama dalam menghubungkan petani dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan komunitas. Pemerintah harus merangkul HKTI, sebagai salah satu organisasi terdepan dalam meningkatkan kesejahteraan petani, tidak terkecuali terhadap petani rempah.

Lanjutkan Perjuangan ke UNESCO

Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sejak tahun 2017 telah merintis upaya pengusulan Jalur Rempah sebagai warisan dunia ke UNESCO. Namun tampaknya, hingga saat ini masih belum berhasil.

Usulan itu perlu terus dilajutkan dan diperjuangan. Tentu, hal itu akan sangat terkait dengan Citra Rempah Nusantara sebagai salah satu warisan budaya pada dunia. Jalur pertukaran antar budaya dan pertukaran pengetahuan menjadi argumen dan instrumen penting diplomasi budaya untuk diusulkan Indonesia bersama negara-negara terkait dalam jalur perdagangan.

Pengajuan Jalur Rempah Sebagai Warisan Dunia ke UNESCO, setidaknya menunjukkan itikad baik Indonesia untuk mengambil peran dalam menjaga amanah yang diberikan dunia. Untuk menjaga warisan peradaban manusia. Jalur Rempah bukan lagi warisan milik Indonesia. Keberadaanya telah menjadi amanah sebagai warisan milik dunia. Karena itu, harus senantiasa terjaga kelestarian dan keberlangsungannya.

Sebongkah harapan

Pemerintah Indonesia telah memulai untuk lebih berfokus dalam upaya meningkatkan reputasi Indonesia di mata dunia. Ini perlu mendapat sambutan berbagai pihak. Tidak terkecuali pihak yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan citra rempah Nusantara. Kontribusi citra rempah Indonesia diharapkan dapat memberikan andilnya terhadap reputasi Indonesia yang baik. Pada akhirnya dapat digunakan sebagai instrumen kekuatan lunak sebagai kekuatan diplomasi budaya dalam membangun hubungan Indonesia dengan dunia luar.

Memori Jalur Rempah yang diusung lewat citra rempah Nusantara, kiranya dapat menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan kolektif akan jati diri bangsa. Mampu memperkuat kembali rajutan kebhinekaan Indonesia melalui interaksi budaya antar daerah yang telah dibangun sejak ribuan tahun silam.

Waktu telah menjadi saksi bisu. Terjadinya perjumpaan manusia dari pelbagai belahan dunia pada titik-titik jalur rempah telah menghasilkan peradaban khas dan unik. Tak hanya terjadinya pertukaran pengetahuan, religi atau informasi. Namun juga menghasilkan peradaban berbentuk benda atau tak benda. Semuanya telah mampu membentuk karakter dan adat istiadat bangsa di berbagai kota menjadi lebih kosmopolitan.

Sejarah Jalur Rempah dari masa ke masa merupakan contoh nyata bahwa diplomasi budaya telah dipraktikkan di segala lini oleh individu, komunitas masyarakat, hingga tingkatan negara-bangsa. Belajar dari dinamika Jalur Rempah di masa lalu, kiranya sangat relevan bila Jalur Rempah menjadi rujukan dalam mencari warna diplomasi Indonesia yang mengedepankan interaksi dan kehangatan dialog di berbagai bidang dan lapisan masyarakat
Seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo, bahwa Indonesia harus memiliki citra atau reputasi yang positif di dunia internasional sehingga akan memperkuat kebanggaan identitas nasional kita sebagai bangsa sekaligus meningkatkan daya saing negara kita.

Dengan demikian, menghidupkan jalur rempah, merevitalisasinya, sekaligus meningkatkan citra rempahnya, hendaknya dapat dijadikan sebuah gerakan moral dalam dimensi lebih luas. Tak hanya guna merawat warisan kebhinekaan, mewujudkan kesejahteraan rakyat, memperkokoh persaudaraan antar bangsa. Namun juga guna memperkuat diplomasi budaya bangsa Indonesia demi tingginya reputasi Indonensia di mata dunia. Nah, itu!!//n425.

Memasuki Usia Senja, Apa yang harus Dipersiapkan? Seperti Apa Tahapannya?

Sumber foto: Annas Indonesia Ketika memasuki usia senja diatas 50 tahunan, adalah masa-masa yang penuh was-was. Atau ketika memasuki masa pe...