Sulitnya menerima nasihat umumnya berakar dari ego, kesombongan, dan hati yang keras, yang membuat seseorang merasa lebih tahu atau merasa terancam posisinya.
Faktor lain meliputi kebiasaan bertindak sendiri, pengalaman buruk/trauma, ketidak-percayaan pada pemberi nasihat, serta kecenderungan mengikuti hawa nafsu.
Nasihat seringkali terasa pahit karena bertentangan dengan keinginan diri.
Berikut adalah poin-poin penting mengapa seseorang sulit menerima nasihat:Ego dan Kesombongan (Tawadu yang Hilang): Rasa sombong membuat hati enggan menerima kebenaran, terutama jika nasihat tersebut datang dari orang yang dianggap lebih rendah.
Merasa Paling Benar (Keras Kepala): Seseorang yang sulit dinasihati seringkali teguh pada pendiriannya sendiri meskipun ada bukti atau argumen yang salah.
Hawa Nafsu: Nasihat dianggap menghalangi keinginan pribadi, membuat hal yang dilarang justru lebih menarik.
Pengalaman Buruk dan Trauma: Trauma masa lalu atau konflik dengan pemberi nasihat menyebabkan seseorang menutup diri.
Ketidaksepakatan Nilai: Adanya perbedaan nilai atau tujuan antara penerima dan pemberi nasihat.
Kurangnya Kesadaran Diri (Introspeksi): Ketidakmampuan untuk mengenali kekurangan diri sendiri.
Cara Melunakkan Hati agar Mudah Menerima Nasihat:Meningkatkan Tawaduk: Menata hati untuk mau menerima kebenaran dari siapa pun.
Mendekatkan Diri pada Ilmu: Menghadiri majelis ilmu dan mendengarkan nasihat baik.
Mengingat Kematian: Ziarah kubur atau mengingat akhirat dapat melembutkan hati yang keras.
Muhasabah (Introspeksi): Rutin mengevaluasi kesalahan diri sendiri.
Memurnikan Niat: Ikhlas dalam menerima masukan demi perbaikan diri.
Menasihati orang lain mudah dan ringan. Tetapi menerima nasihat itu berat, perlu jihad. (Al-Ghazali, Ayyuhal Walad).
Mendengarkan nasihat orang lain atas kekurangan, aib, atau akhlak tercela yang terdapat pada diri kita memang pahit, tetapi ia menjadi obat kalau kita menerimanya dengan tulus ikhlas.
Sementara ada cara mudah agar kita ikhlas menerima nasihat orang seperti diterangkan oleh Imam Al-Ghazali.
Banyak dari kita menyadari bahwa nasihat orang lain itu benar. Kita mengakui bahwa apa yang disampaikan orang lain mengenai kekurangan kita sebagai nasihat yang tulus itu mengandung kebenaran. Tetapi kita didorong oleh nafsu dan ego mengingkarinya. Ketika diberitahu kekurangan kita, kita cenderung menolak, resisten, dan reaktif.
Kita tidak segera merendahkan hati untuk mendengarkan nasihat orang tua, sahabat dekat, atau saudara yang menghendaki kebaikan kita. Sebaliknya, kita terlalu tinggi hati untuk menerima catatan-catatan nasihat orang lain untuk kebaikan diri kita ke depan.
Imam Al-Ghazali mengutarakan tips agar kita mudah, ringan, ikhlas, lapang dada, dan rendah hati dalam menerima masukan dan nasihat orang lain. Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk mengubah cara pandang kita atas nasihat.
Menurutnya, nasihat itu jangan dianggap pelajaran atau dikte yang menggurui kita. Anggap saja nasihat sebagai suara yang mengingatkan pada hewan berbisa di balik pakaian kita yang jelas membahayakan.
فإن الأخلاق السيئة حيات وعقارب لداغة فلو نبهنا منبه على أن تحت ثوبنا عقربا لتقلدنا منه منة وفرحنا به واشتغلنا بإزالة العقرب وإبعادها وقتلها
Artinya, “Akhlak tercela adalah ular dan kalajengking berbisa yang menyengat. Kalau ada seseorang memberi tahu bahwa di balik pakaian kita terdapat kalajengking, niscaya kita akan menerimanya sebagai anugerah dan merasa senang dengan itu, lalu kita mulai menyingkirkan, menjauhkan, dan membunuh hewan berbisa tersebut,” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 69).
Tetapi, kebanyakan kita, kata Imam Al-Ghazali, membenci habis-habisan orang yang menasihati kita dan memberitahu kekurangan kita. Kalau ada anggapan demikian pada diri kita, maka fenomena itu menunjukkan kelemahan iman kita.
Kita menjadi dendam dan naik pitam terhadap orang sekitar yang menasihati kita.
Adapun ular atau kalajengking menyakiti fisik kita dan sengatannya terasa sehari bahkan tidak lebih dari sehari.
Sedangkan daya rusak akhlak tercela dan kekurangan diri kita lainnya pada lubuk hati (seharusnya) lebih dikhawatirkan terbawa selamanya hingga mati atau ribuan tahun.
ثم إنا لا نفرح بمن ينبهنا عليها ولا نشتغل بإزالتها بل نشتغل بمقابلة الناصح بمثل مقالته فنقول له وأنت أيضا تصنع كيت وكيت وتشغلنا العداوة معه عن الانتفاع بنصحه ويشبه أن يكون ذلك من قساوة القلب التي أثمرتها كثرة الذنوب وأصل كل ذلك ضعف الإيمان
Artinya, “Tapi kemudian kita tidak senang dengan orang yang mengingatkan kita perihal akhlak tercela tersebut dan tidak sibuk menghilangkan akhlak tercela itu. Kita justru sibuk menentang orang yang menasihati kita dengan membalikkan perkataannya. Kita mengatakan, ‘Kamu pun melakukan ini itu.’ Kita disibukkan untuk memusuhinya daripada mengambil manfaat dari nasihatnya. Penolakan nasihat lebih karena keras hati yang disebabkan oleh kebanyakan dosa. Sumbernya kelemahan iman,” (Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/69).
Imam Al-Ghazali berdoa agar Allah mengilhami kita petunjuk-Nya, memperlihatkan kekurangan kita, menyibukkan diri kita untuk mengobati akhlak kita yang tercela, dan menggerakkan kita untuk berterima kasih kepada mereka yang menasihati dan menunjukkan kekurangan kita dengan kemurahan dan karunia-Nya.
Semoga Allah membimbing kita untuk rendah hati mendengarkan dan menerima nasihat orang lain (orang tua, saudara, sahabat, tetangga, dan lainnya), serta berterima kasih kepada mereka yang telah sudi memberikan catatan atas kekurangan diri kita.
Semoga bermanfaat
Wallahu a’lam bisshawab
Berikut adalah poin-poin penting mengapa seseorang sulit menerima nasihat:Ego dan Kesombongan (Tawadu yang Hilang): Rasa sombong membuat hati enggan menerima kebenaran, terutama jika nasihat tersebut datang dari orang yang dianggap lebih rendah.
Merasa Paling Benar (Keras Kepala): Seseorang yang sulit dinasihati seringkali teguh pada pendiriannya sendiri meskipun ada bukti atau argumen yang salah.
Hawa Nafsu: Nasihat dianggap menghalangi keinginan pribadi, membuat hal yang dilarang justru lebih menarik.
Pengalaman Buruk dan Trauma: Trauma masa lalu atau konflik dengan pemberi nasihat menyebabkan seseorang menutup diri.
Ketidaksepakatan Nilai: Adanya perbedaan nilai atau tujuan antara penerima dan pemberi nasihat.
Kurangnya Kesadaran Diri (Introspeksi): Ketidakmampuan untuk mengenali kekurangan diri sendiri.
Cara Melunakkan Hati agar Mudah Menerima Nasihat:Meningkatkan Tawaduk: Menata hati untuk mau menerima kebenaran dari siapa pun.
Mendekatkan Diri pada Ilmu: Menghadiri majelis ilmu dan mendengarkan nasihat baik.
Mengingat Kematian: Ziarah kubur atau mengingat akhirat dapat melembutkan hati yang keras.
Muhasabah (Introspeksi): Rutin mengevaluasi kesalahan diri sendiri.
Memurnikan Niat: Ikhlas dalam menerima masukan demi perbaikan diri.
Menasihati orang lain mudah dan ringan. Tetapi menerima nasihat itu berat, perlu jihad. (Al-Ghazali, Ayyuhal Walad).
Mendengarkan nasihat orang lain atas kekurangan, aib, atau akhlak tercela yang terdapat pada diri kita memang pahit, tetapi ia menjadi obat kalau kita menerimanya dengan tulus ikhlas.
Sementara ada cara mudah agar kita ikhlas menerima nasihat orang seperti diterangkan oleh Imam Al-Ghazali.
Banyak dari kita menyadari bahwa nasihat orang lain itu benar. Kita mengakui bahwa apa yang disampaikan orang lain mengenai kekurangan kita sebagai nasihat yang tulus itu mengandung kebenaran. Tetapi kita didorong oleh nafsu dan ego mengingkarinya. Ketika diberitahu kekurangan kita, kita cenderung menolak, resisten, dan reaktif.
Kita tidak segera merendahkan hati untuk mendengarkan nasihat orang tua, sahabat dekat, atau saudara yang menghendaki kebaikan kita. Sebaliknya, kita terlalu tinggi hati untuk menerima catatan-catatan nasihat orang lain untuk kebaikan diri kita ke depan.
Imam Al-Ghazali mengutarakan tips agar kita mudah, ringan, ikhlas, lapang dada, dan rendah hati dalam menerima masukan dan nasihat orang lain. Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk mengubah cara pandang kita atas nasihat.
Menurutnya, nasihat itu jangan dianggap pelajaran atau dikte yang menggurui kita. Anggap saja nasihat sebagai suara yang mengingatkan pada hewan berbisa di balik pakaian kita yang jelas membahayakan.
فإن الأخلاق السيئة حيات وعقارب لداغة فلو نبهنا منبه على أن تحت ثوبنا عقربا لتقلدنا منه منة وفرحنا به واشتغلنا بإزالة العقرب وإبعادها وقتلها
Artinya, “Akhlak tercela adalah ular dan kalajengking berbisa yang menyengat. Kalau ada seseorang memberi tahu bahwa di balik pakaian kita terdapat kalajengking, niscaya kita akan menerimanya sebagai anugerah dan merasa senang dengan itu, lalu kita mulai menyingkirkan, menjauhkan, dan membunuh hewan berbisa tersebut,” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 69).
Tetapi, kebanyakan kita, kata Imam Al-Ghazali, membenci habis-habisan orang yang menasihati kita dan memberitahu kekurangan kita. Kalau ada anggapan demikian pada diri kita, maka fenomena itu menunjukkan kelemahan iman kita.
Kita menjadi dendam dan naik pitam terhadap orang sekitar yang menasihati kita.
Adapun ular atau kalajengking menyakiti fisik kita dan sengatannya terasa sehari bahkan tidak lebih dari sehari.
Sedangkan daya rusak akhlak tercela dan kekurangan diri kita lainnya pada lubuk hati (seharusnya) lebih dikhawatirkan terbawa selamanya hingga mati atau ribuan tahun.
ثم إنا لا نفرح بمن ينبهنا عليها ولا نشتغل بإزالتها بل نشتغل بمقابلة الناصح بمثل مقالته فنقول له وأنت أيضا تصنع كيت وكيت وتشغلنا العداوة معه عن الانتفاع بنصحه ويشبه أن يكون ذلك من قساوة القلب التي أثمرتها كثرة الذنوب وأصل كل ذلك ضعف الإيمان
Artinya, “Tapi kemudian kita tidak senang dengan orang yang mengingatkan kita perihal akhlak tercela tersebut dan tidak sibuk menghilangkan akhlak tercela itu. Kita justru sibuk menentang orang yang menasihati kita dengan membalikkan perkataannya. Kita mengatakan, ‘Kamu pun melakukan ini itu.’ Kita disibukkan untuk memusuhinya daripada mengambil manfaat dari nasihatnya. Penolakan nasihat lebih karena keras hati yang disebabkan oleh kebanyakan dosa. Sumbernya kelemahan iman,” (Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/69).
Imam Al-Ghazali berdoa agar Allah mengilhami kita petunjuk-Nya, memperlihatkan kekurangan kita, menyibukkan diri kita untuk mengobati akhlak kita yang tercela, dan menggerakkan kita untuk berterima kasih kepada mereka yang menasihati dan menunjukkan kekurangan kita dengan kemurahan dan karunia-Nya.
Semoga Allah membimbing kita untuk rendah hati mendengarkan dan menerima nasihat orang lain (orang tua, saudara, sahabat, tetangga, dan lainnya), serta berterima kasih kepada mereka yang telah sudi memberikan catatan atas kekurangan diri kita.
Semoga bermanfaat
Wallahu a’lam bisshawab
