Jumat, 16 Desember 2011

Kala Kata Kata


Saat kata kata
Melepas makna
Adakala mendera rasa

Ketika kata kata
Mengubah arti
Boleh jadi mengiris hati

Manakala kata kata
mengumbar makna
terkadang menoreh luka

Namun percayalah
Itu dilakukan
Agar rangkaian kata memiliki ruh dan jiwa
Supaya keseimbangan tetap terjaga

=======N425

Kamis, 15 Desember 2011

Nawar HP Cara si Kamsuy


SI Kamsuy menghadiri pameran HP di Kantor GKP Telkom Japati. Ia pun mendatangi ke salah satu counter HP yang dijaga neng Desi yg parasnya lumayan manies.

Tidak jelas dengan niat membeli atau sekadar iseng.



Kamsuy: Neng...hai neng Desi (Kamsuy tahu namanya dari pin nama yg nempel di dadanya)...hp yang itu harganya berapa duit tuh neng...

Neng Desi: “Oh, kalau yang ini Ipad pak, harganya Rp 4,8 jt pak....”

Kamsuy: “Bukan yang itu...yang entu tuch yang gede, tebel dan jelek?..”

Neng Desi: “Ich bapak...itu kan HP saya, HP jadul pak...”

Kamsuy: “Iya yang itu...mau dijual ga?

Neng Desi: "Ya engga atuh bpk...ini mah HP pribadi saya...emang bpk berani beli gitu?"

Kamsuy: "Berani dong...tapi dibeli dengan nomornya sekalian boleh ga?"

Neng Desi: ”Ich c bpk mah nakal, ya gak bisa atuh bapak!...."

Kamsuy: "Hehehehe...ya udah atuh kalau gak boleh mah.." (sambil ngeloyor pergi dengan sikap dingiin tanpa pesan).


========N425

Pesan mutiara: "Konservatif tidak harus bodoh tapi orang yang tidak pintar kebanyakan konservatif.” (John Stuart Mill (1806—1873), ekonom dan filsuf Inggris)

Senin, 12 Desember 2011

Seperti Inikah Yang Kita Inginkan?

Terus terang saat ini memang merupakan masa-masa paling sulit dan penuh tantangan bagi setiap organisasi perserikatan. Beberapa unjuk rasa yang membawa bendera perserikatan tergelar dimana-mana. Perbedaan persepsi atas beberapa kebijakan perusahaan datang bertubi-tubi bagai momok yang menakutkan. Beberapa persoalan bahkan nyaris membusuk karena tak terjamah solusi.

Kini, tak hanya tengah menimpa si anak emas tajir kita, Telkomsel. Awan kelabu tampaknya masih bergelayut di langit Freeport, Garuda Indonesia, Merpati, KAI, DI, dan di pabrik-pabrik. Tentu saja termasuk di Telkom sendiri.

Kita mafhum, jika pada gilirannya atmosfir hubungan kemitraan bisa menjadi kurang begitu nyaman. Kita tak perlu mempersoalkan siapa salah dan mana paling benar. Atau mengira-ngira mana yang pintar dan siapa yang bego. Cukup ini menjadi catatan dan introspeksi bagi kita. Tentang seberapa bijak kita mampu menyolusi persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan kita.

Benar bahwa menjalin hubungan kemitraan harmonis itu tak mudah. Tak cukup dengan cara saling cengengesan ketika bersilaturahmi. Tak cukup sekadar berjabat tangan seraya bercipika-cipiki. Menjalin hubungan kemitraan membutuhkan sentuhan2 khusus yang lebih piawai, taktis dan strategis. Misalnya, jika persoalan bisa diselesaikan melalui strategi lobi setengah kamar, mengapa pula harus meregang urat leher dan emosional turun ke jalan. Turun ke jalan akan sangat mempertaruhkan citra perusahaan dan pelayanan pada kastamer. Selain tentunya mengganggu arus lalulintas.

Sejauh pengamatan saya, organisasi2 perserikatan pada umumnya masih kekurangan kader piawai dalam melakukan lobi. Pelobi2 handal dan bertahan asas tampaknya semakin dibutuhkan setiap pengurus organisasi ini. Menjadi petinggi organisasi ini memang tak cukup dengan mengandalkan keberanian dan ketajaman analisa dalam membedah sebuah kebijakan. Tak cukup pula menyolusi lewat emosi yang menggelegak, kepalan tangan bulat menohok angkasa dan meregang urat leher dengan orasi membahana menggebu-gebu.

Tak cukup hanya dengan mengerahkan massa akar rumput dari berbagai penjuru negeri seraya meneriakan yel-yel yang menggetarkan pendengar dan bikin miris majikan. Namun juga harus piawai dan handal dalam melobi manajemen. Tentu saja melalui pendekatan2 yang lebih persuasif, santun, elegan, spiritual dan clear. Unjuk rasa sejatinya menjadi pilihan paling akhir setelah berbagai upaya lobi tak berhasil membuahkan kesepakatan.

Bagi Pengurus Sekar sendiri masih tersimpan sejumlah persoalan. Sebut saja belum tuntasnya KD-09 yang sempat memangkas THP sebagian rekan kita. Kita pun akan segera menghadapi perundingan PKB-V dengan tantangan kesejahteraan harus lebih baik lagi. Belum lagi menyoal transformasi organisasi yang masih membutuhkan kajian dan pengawalan karena ternyata berdampak pada mandegnya karier karyawan. Dan tentu saja nasib para pensiunan kita yang masih membutuhkan jamahan pemikiran kita.

Apabila persoalan2 itu tidak terkawal dan terselesaikan maka dikhawatirkan akan semakin menumpuk, menggunung dan boleh jadi bisa meledak tak terkendali. Kita tak bisa membiarkan setiap persoalan menggantung dan membusuk di pohonnya. Karena efeknya akan menimbulkan keresahan di lingkungan internal.

Akibatnya bisa cukup serius. Bisa saling lempar tanggung jawab, saling tuduh hujat nista, saling mencari penyelamatan diri, semakin terbentuknya faksi2 dan klik yang menjurus pada koncoisme. Ujung-ujungnya kemunafikan bisa merajalela. Pembodongan kian masiv. Jika sudah demikian maka kompetitor akan tersenyum puas, bertepuk tangan, sorak sorai bergembira karena punya peluang menghabisi Telkom.
Bisnis kita pun pada akhirnya ditelikung, dilibas dan dikeroposin rayap2 kompetitor. Kita pun dibuat melongo seraya garuk2 tak gatal. Terjadi proses pembiaran pada perusahaan. Para Senior Leader pun bersiul bersenandung lagu Naik2 ke Puncak Gunung. Telkom pun bisa jadi bangkrut. Dan, maaf, Sekar pun wafat.

Seperti inikah yang kita inginkan? Kalau begini caranya...busyeeettt dech...!!!

======(N425)

Si Pengikat Emosi


Secangkir Anggur Merah (Edisi-17)

Salah satu materi andalan suhu marketing, Hermawan Kartajaya, menyoal “The Triad Power”. The triad power, yang digambarkan Hermawan sebagai Si Pengikat Emosi ini, merupakan aktivitas internal marketing yang memiliki hubungan tiga kekuatan, terdiri dari human resources, operation dan marketing. Khususnya dalam mengelola brand delivery, brand promise dan brand image.

Tentu saja semua itu untuk mewujudkan suatu Customer Experience, yakni pelanggan cq karyawan yang memiliki ikatan emosional lebih kuat dengan perusahaan.

Internal Marketing sangat penting sebagai upaya mengenalkan seluruh Identitas, kebijakan, serta produk dan layanan perusahaan. Dengan demikian proses komunikasi, antara manajemen dengan karyawan sangat diperlukan dan perlu berlangsung intens. Karena ini sangat menentukan pemahaman karyawan terhadap perusahaan.

Kita mafhum, bahwa Manajemen hingga saat ini berupaya mengembangkan nilai-nilai yang telah ada di perusahaan. Dari sisi brand image, perusahaan menginginkan dipandang sebagai TIME Company yang memberikan layanan terpadu. Walapun kesan sebagai perusahaan telepon masih begitu kuat melekat selama puluhan tahun. Bahkan tak mau sirna dari ingatan.

Sebelum mengkomunikasikan bisnis TIME kepada masyarakat, maka seluruh jajaran TELKOM sendiri harus memahami apa yang dimaksudkan dengan TIME. Portofolio bisnis TELKOM yang meliputi telecommunication, information, media dan edutainment itu harus mampu memberikan gambaran tentang pengertian TIME. Selain mengerti arti TIME secara utuh maka ada baiknya bila setiap karyawan dalam bekerja seoptimal mungkin memanfaatkan teknologi yang dimiliki. Yang sudah sadar tentu saja telah memanfaatkannya.

Begitu pula Brand Promise “Committed 2U” harus terus menerus didalami dengan cara merajut pikiran untuk selalu memberikan nilai kepada pelanggan serta memberikan kapabilitas pada setiap karyawan. Pikiran tersebut sudah tentu harus dinyatakan dalam langkah nyata. Misalnya, Budaya TELKOM “5-C” harus senantiasa menjadi pedoman dalam bekerja. Namun itu saja tidak cukup. Artinya selain menjalankan budaya kerja 5-C masih bisa diperkaya dengan langkah-langkah lain yang lebih kreatif dan inovatif untuk mendapatkan hasil yang lebih spektakuler.

Brand Delivery yang menyangkut ketepatan dan kecepatan penyediaan jasa juga perlu dipahami oleh seluruh karyawan, karena disini ikut menentukan Service Excellent. Bila Brand Promise, Brand Image dan Brand Delivery tersebut dipahami oleh seluruh warga perusahaan, maka para pelanggan akan memiliki pengalaman yang tak terlupakan yang diharapkan menjadi terpateri kuat dalam memorinya, bahwa TELKOM benar-benar handal dalam menggelar produk-produknya.

Jadi sudah sepantasnya jika Manajemen senantiasa mengajak jajarannya untuk menggunakan produknya sendiri. Misalnya menjadikan Flexi, Speedy dan produk Telkom Group lainnya sebagai pilihan utama sebagai pelengkap gaya hidup masa kini. Intinya seluruh warga perusahaan dibawah naungan Telkom Group haruslah menunjukkan kecintaan kepada produk sendiri. Jangan dulu mempertimbangkan soal kualitas, layanan dan besaran tarif dibanding produk kompetitor. Gunakan dan cintai dulu produk sendiri dengan penuh ketulusan hati. Bersamaan dengan itu kualitas dan pelayanan terus dikawal dengan baik.
Nah, dengan begitu, pelanggan pun akan menjadi semakin yakin kalau produk Telkom Group memang pantas menjadi pilihan pertama dan patut menyandang predikat “dua jempol”. Sip, kan...!!!

=================n425

Bersih Korupsi, Butuh 5 Generasi...

Secangkir Anggur Merah (Edisi-16)

Korupsi. Ya, tak hanya telah menjadi budaya di negeri tercinta ini. Namun juga telah menjadi semacam wabah penyakit. Konon, kata orang bule, jika Indonesia ingin membersihkan korupsi dari negerinya, jika dimulai hari ini dan jika dilakukan dengan benar tanpa tebang pilih, maka Indonesia membutuhkan lima generasi lagi. Jadi pada generasi keenam berikutnya barulah Indonesia terbebas dari wabah “mematikan” yang membuat rakyat melarat dan sekarat ini.
Syahdan, korupsi tak hanya milik kaum petinggi birokrat dan para boss investor, namun telah menjalar pada jajaran di bawahnya. Di tingkat departemen, kabarnya telah menjalar hingga empat layer di bawahnya. Bahkan kini telah mengakar kuat pada lembaga-lembaga hukum dan peradilan. Wajar jika tuan mantan Presiden SBY menyampaikan kekecewaannya kepada pengadilan (termasuk pengadilan tipikor) dan Mahkamah Agung yang kerap membebaskan sejumlah pejabat dan pengusaha yang nyata-nyata terlibat korupsi.
Kekecewaan bapaknya Ibas itu bukan tanpa alasan. Sebab tak jarang kasus-kasus korupsi dengan bukti-bukti yang cukup kuat diputus bersalah di pengadilan negeri, kemudian pada saat naik banding ke Mahkamah Agung ternyata dibebaskan. Kini malah masalah serupa terjadi secara mencolok mata pada pengadilan2 Tipikor di daerah. Mereka dengan tenang dengan wajah tak berdosa membebaskan para tersangka koruptor.
Kondisi itu, tak hanya terkesan pemerintah kurang serius memberantas korupsi. Namun juga mencerminkan bahwa lembaga peradilan kita masih belum sanggup mewujudkan rasa keadilan hakiki yang dapat diterima semua pihak.Pasal2 tentang korupsi malah direspon sebagai lambaian tangan, ”marilah beramai-ramai korupsi”.
Presiden Jokowi kini agak emosi dan meminta kepada semua pihak, baik kepada legislatif, eksekutif maupun yudikatif agar dapat bekerja dengan hati nurani yang bersih untuk memberantas korupsi. Wabil khusus Presiden meminta kepada para hakim dan jaksa agar jangan neko-neko dan dapat memahami keinginan pemerintah dalam memberantas korupsi.
Kalau kita cermati, akar permasalahan sesungguhnya kembali pada sikap mental aparatur peradilannya sendiri. Berbagai kasus korupsi yang dibawa ke pengadilan, seringkali harus menghasilkan kontroversi, karena keputusan final yang mengecewakan. Kalau tidak keputusan bebas murni, hukumannya tidak sebanding dengan tingkat kesalahannya. Hukuman bagi korupsi milyaran rupaih bisa lebih ringan dari hukuman maling motor. Dan nyaris sama dengan pengembat ayam. Bahkan akibat salah ambil helm saja bisa digebuk sampe mati.
Mewujudkan suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa memang tidak semudah menyebut judul lagu kebangsaan kita. Apalagi kalau harus dikaitkan dengan aspirasi rakyat Indonesia yang ingin bersaksi laju roda pemerintahan berjalan sesuai dengan amanat penderitaan rakyat.
Sejak zaman pemerintahan otoriter, masalah korupsi memang sulit diatasi. Apalagi jika terkait dengan terdakwa berdompet tebal hasil korupsi. Budaya yang tumbuh dan telah melegenda di republik ini bagai sebuah nyanyian koor yang diawali dengan menyamakan suara untuk mengalunkan sepotong syair “mari kita mainkan”.
Karena itu sepertinya konsep budaya “asketisisisme” perlu ditumbuhkan. Yakni suatu budaya yang senantiasa mendasarkan pada sikap mental berusaha untuk jujur, menganut pola hidup sederhanan dan rela berkorban untuk kepentingan organisasi, bangsa dan negara.
Dengan demikian semoga tak ada lagi yang terkena penyakit “eksim-moral” yang suka kambuh dan gatal apabila menemukan kesempatan yang aman dan menggiurkan. Jika pun masih ada, maka tak hanya harus ditindak melalui penegakan hukum yang konsisten dengan tanpa ampun dan tebang pilih. Namun perlu dipertimbangkan pula untuk di bawa ke sekolah agama untuk dipesantrenkan. Siapa tau melalui sentuhan agama, akan tumbuh rasa malu dan takutnya karena senantiasa merasa diawasi Allah SWT bersama para Malaikatnya.
Akhirnya harus kita akui bahwa di Indonesia ternyata masih cukup banyak kasus korupsi dengan berbagai versi, kadar dan kelasnya. Jadi pantas saja kalau tuan Presiden yang terhormat, begitu kesal, gemas dan kecewa. Karena upaya memberantasnya selalu kandas dan dimentahkan oleh aparatur peradilannya sendiri.
Duh, Gusti Allah...tolonglah negeri ini...!!!
== n425 ==

Sabtu, 10 Desember 2011

Mengapa Kamsuy Jadi Sopir Tinja

(Seri Kamsuy Jilid-4)
Menjelang dewasa KAMSUY bekerja sebagai supir truk dan mengeluh pada Maman temannya sesama supir.

Kamsuy: “Kang 'man?”

Maman: “Iyah, aya naon coy?”

Kamsuy: “Lama2 sayah jadi frustasi euy jadi supir truk!”


Maman: “Loh, Mangnya kenapa Kamsuy?” 


Kamsuy: “Coba saja, waktu saya jadi sopir truk bawa motor dirampok.. Bawa semen dirampok...bulan kemarin bawa elektronik masih dirampok juga. Nah minggu kemarin bawa makanan catering masih juga dirampok. Jadi aku mau berhenti aja ah jadi supir truk kang...”


Maman: “Ye, trus kalo berenti, mo jadi supir apa?”

Kamsuy: “Mulai besok aku mau jadi sopir mobil tinja saja kang. Biar dirampok dan dimakan tuch muatanku...”

Pesan mutiara: "Tidak ada rahasia untuk sukses. Kesuksesan adalah hasil sebuah persiapan, kerja keras, dan belajar dari kesalahan.” (Colin Powel, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat)

Jumat, 09 Desember 2011

Profil Rinaldi Firmansyah


Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk, Rinaldi Firmansyah, terpilih sebagai “Indonesia Most Admired CEO 2011." Pemilihan dilakukan atas hasil survei "Indonesia Most Admired CEO 2011" oleh Majalah Warta Ekonomi.  Penghargaan  diterima Rinaldi pada “Malam Penganugerahan Indonesia Most Admired CEO 2011” yang berlangsung Selasa malam (6/12) di Jakarta. 

Indonesia Most Admired CEO merupakan hasil survey terhadap CEO paling idaman dari para responden. Penilaian responden terhadap Rinaldi tentu saja mengacu pada berbagai kelebihan yang dimilikinya. Diantaranya terhadap kinerja bisnisnya, perhatiannya pada kesejahteraan karyawan sampai kepada kualitas personalitinya.

Indikator performance menjadi salah satu tolok ukur pemilihan 20 besar Indonesia Most Admired CEO 2011. Performansi perusahaan tidak hanya dilihat dari sisi kinerja keuangan saja. Namun juga melihat pada tanggung-jawab sosial (CSR) dan kontribusinya terhadap lingkungan perusahaan sehingga perusahaan memiliki kontribusi berarti kepada stakeholders dengan menjaga perusahaannya tetap sustainable.

Penghargaan ini merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada CEO Indonesia terbaik. Terutama adanya keterkaitan terhadap kondusifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Serta optimalnya visi, misi dan values perusahaan yang mampu membawa perusahaan mencapai tingkatan yang lebih baik. Baik dalam hal kinerja, kepedulian sosial, maupun kepedulian terhadap lingkungan. Serangkaian keberhasilan yang mengesankan dari kinerja para CEO itu mengantar Rinaldi pada deretan Indonesia Most Admired CEO 2011.   

Penghargaan ini, pesan Rinaldi, dipersembahkan kepada segenap karyawan Telkom Group yang telah bekerja keras mengabdi untuk menyukseskan transformasi bisnis Telkom. Sejak dari fixed, mobile dan multimedia (FMM) menuju portofolio TIME (telecommunication, information, media and edutainment). 

Rinaldi Firmansyah lahir di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, tanggal 10 Juni 1960. Beliau terpilih menjadi Direktur Utama Telkom melalui RUPS Telkom pada 28 Februari 2007. Sebelumnya, Rinaldi adalah Direktur Keuangan Telkom (2004-2007). Rinaldi alumnus jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB). Gelar Master of Business Administration diperoleh di IPMI Jakarta. Meski latar belakangnya teknik elektro, dia justru mengambil spesialisasi bidang keuangan di AIMR, Charlottesville, Amerika Serikat dan membawa pulang gelar Chartered Financial Analyst (CFA) pada 1998. 

Tahun 2010, saluran berita CNBC Asia menobatkan Rinaldi sebagai Asia Business Leaders of The Year. Rinaldi juga kini mengamalkan sebagian ilmu bisnisnya untuk mengajar paruh waktu di IPMI yang merupakan almamaternya dulu.

Sekilas Telkom
Perusahaan Perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (“TELKOM”, ”Perseroan”, “Perusahaan”, atau “Kami”) merupakan Badan Usaha Milik Negara dan penyedia layanan telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia. TELKOM menyediakan layanan InfoComm, telepon kabel tidak bergerak (fixed wireline) dan telepon nirkabel tidak bergerak (fixed wireless), layangan telepon seluler, data dan internet, serta jaringan dan interkoneksi, baik secara langsung maupun melalui anak perusahaan.

 
Sebagai BUMN, Pemerintah Republik Indonesia merupakan pemegang saham mayoritas yang menguasai sebagian besar saham biasa Perusahaan sedangkan sisanya dimiliki oleh publik. Saham Perusahaan diperdagangkan diBursa Efek Indonesia (“BEI”), New York Stock Exchange (“NYSE”), London Stock Exchange (“LSE”) dan Tokyo Stock Exchange (tanpa listing).
 
Untuk menjawab tantangan yang terus berkembang di industri telekomunikasi dalam negeri maupun di tingkat global, kami bertekad melakukan transformasi secara fundamental dan menyeluruh di seluruh lini bisnis yang mencakup transformasi bisnis dan portofolio, transformasi infrastruktur dan sistem, transformasi organisasi dan sumber daya manusia serta transformasi budaya. 

Pelaksanaan transformasi ini dilakukan dalam rangka mendukung upaya diversifikasi bisnis TELKOM dari ketergantungan pada portofolio bisnis Legacy yang terkait dengan telekomunikasi, yakni layanan telepon tidak bergerak (Fixed), layanan telepon seluler (Mobile), dan Multimedia (FMM), menjadi portofolio TIME (Telecommunication, Information, Media and Edutainment). Konsistensi kami dalam berinovasi telah berhasil memposisikan Perusahaan sebagai salah satu perusahaan yang berdaya saing tinggi dan unggul dalam bisnis New Wave.
 
Komitmen kami untuk mendukung mobilitas dan konektivitas tanpa batas diyakini akan meningkatkan kepercayaan pelanggan ritel maupun korporasi terhadap kualitas, kecepatan, dan kehandalan layanan serta produk yang kami tawarkan. Hal itu terbukti dengan kontinuitas peningkatan di sisi jumlah pelanggan kami, yakni mencapai 120,5 juta pelanggan per 31 Desember 2010, atau meningkat sebesar 14,6%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8,3 juta pelanggan merupakan pelanggan telepon kabel tidak bergerak, 18,2 juta pelanggan telepon nirkabel tidak bergerak, dan 94,0 juta pelanggan telepon seluler.

Rabu, 07 Desember 2011

Kisah Sherly dan Rafah


Sherly memiliki kucing Anggora kesayangan. Namanya Rafah. Rafah begitu dekatnya pada Sherly hingga kemanapun Sherly pergi Rafah selalu mengikutinya. Ya tentu saja kecuali kalau Sherly pergi sekolah. 

Sewaktu Sherly sekolah, Rafah tak mau masuk rumah. Ia lebih suka menunggu di teras rumah dan sesekali ke jalan raya sekedar menengok apa Sherly sudah pulang sekolah.

Suatu waktu, saat Rafah ke pinggir jalan raya: Praakkk....Rafah kelindes mobil. Rafah mati. Mamahnya Sherly sangat sedih dan segera menguburkannya di halaman. Singkat kisah, Sherly pun pulang sekolah.

Mamah: “Eeeech Sherly sudah pulaaang. Sini sayang...Mamah mau kasi kabar kalau Rafah tadi ketabrak mobil dan mati...”

Sherly: “Och,, begitu ya mah...” (Sherly menanggapinya dengan dingin lalu masuk kamar untuk menyimpan tas dan ganti baju. Tak lama ia pun keluar kamar lagi).

Sherly: “Mamah..Mamah...Rafah kemana? Biasanya Rafah jemput Sherly di teras halaman. Dicari di rumah ga ada. Di kamar juga ga ada. Rafah dimana Mamah?”

Mamah: “Lho, tadi kan Mamah sudah bilang kalau Rafah ketabrak mobil dan mati...”

Sherly: “Apaaahhhh???...Matiii??? Ga mauuu...ga mauuuuu...Rafah ga boleh matiiii (Sherly pun menangis sejadi-jadinya menjerit-jerit sampai kelojotan di lantai).

Mamah: “Sayang apa ga dengar yang Mamah bilang tadi?”

Sherly: “Enggaa...enggaaa...tadi yang Mamah bilang yang ketabrak mobil kedengaran Sherly itu Papah bukan Rafaaah. Ga mau...ga mau...Rafaaaaaahhhh...”

Pesan Moral: Kisah tragis yang mengundang tanya. Mengapa anak bisa lebih mencintai seekor kucing ketimbang bapaknya. Pasti dalam keluarga itu ada something wrong, terutama prilaku bapaknya. Boleh jadi karena kurangnya perhatian dan komunikasi yang tidak harmonis dalam keluarga. Atau mungkin si anak mengalami traumatis berat atas perbuatan zolim bapaknya, baik terhadap anaknya maupun istrinya. Naudzubillah.
===n425===

Selasa, 06 Desember 2011

Ketika Jurnalis Sekar Ditilang


Yah begitulah kalau nyetir saat ngantuk berat. Liat orang keliatan seperti jin. Lihat becak koq mirip bemo. Lihat pohon ternyata polisi sedang tolak pinggang. Apes dech. Gara2 nyerobot lampu kuning jadi aja di-PRIIIT!! Beginilah yang terjadi pada seorang Jurnalis Sekar (JURSEK).

Polisi: “Met malam, tolong SIM dan STNK-nya..”

JUR: “Ini pak, saya kira tadi pohon pak, eh taunya pak polisi. Lagian saya nguantuk buanged pak..”

(tanpa banyak cingcong polisi itu menuliskan data2 di lembar tilang).

Polisi: “Anda saya tilang. Ini lembar warna merah untuk sidang di Pengadilan Negeri, Jl. Martadinata. Jika tdk ada wkt utk sidang bisa dititipkan pada saya ochey?”
(lalu polisi itu dengan narsis dan cuweknya ngeloyor pergi menuju posnya meninggalkan JUR yg masih melongo terbengong-bengong).

JUR: (seperti tersadar dan mulai memanggil) “Ech pak, tunggu sebentar pak, ini ada sesuatu untuk bapak.

Polisi: (pikirnya, wah ini die pasti sesuatu banged nih, biasanya UUD) “Ada apa?”

JUR: “Ini pak ada yang perlu bpk ketahui” (JUR pun menyerahkan kartu Pers dari PWI).

Polisi: “Ealah, bapak ini, napa ga dari tadi bilang kalau bpk ini wartawan. Ya dah ini SIM dan STNK-nya. Sini Srt tilangnya. Hati2 di jln yah...”
=====N425

Pesan moral: Dari sejak zaman baheula ke zaman ORLA lalu ke dikatator ORBA hingga ke masa kini, masih tetap Polisi segan sama Pers. Entahlah, mungkin ada sesuatu yang cukup beralasan untuk dikhawatikan. Lagian emang ada aturannya orang ngantuk ditilang hehehe...

Lebah sebagai falsafah hidup manusia






Lebah termasuk binatang serangga. Mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini memang agak berbeda, bahkan luar biasa. Ia bisa bersahabat dengan manusia. Bisa pula menjadi musuh yang mengundang binasa. Karakternya sangat khas. Ia begitu loyal pada pemimpin. Menjadikan ia binatang paling patuh dan peka pada perintah.

Lebah sering pula diidentikan dengan madu. Dan yang namanya madu, semua orang sangat faham akan faedahnya. Dalam surat An-Nahl, ayat 69, madu yang bermacam-macam warnanya itu merupakan obat mujarab bagi manusia. Tak hanya untuk meningkatkan fitalitas tubuh atau pengering luka, namun berdasarkan hasil penelitian yang dikembangkan ilmu kedokteran modern, madu merupakan bahan dasar paling ideal untuk diracik dengan bahan-bahan dasar lainnya. Menghasilkan sebuah ramuan obat, yang tak kalah mujarabnya dari obat proses kimiawi.

Lebah pun memiliki naluri untuk senantiasa berbuat kebaikan. Nilai-nilai etika dan moral begitu dijunjung tinggi. Ia mengkonsumsi makanan yang terpilih dan baik. Yang tidak menimbulkan kerusakan atau limbah bagi lingkungan. Dan hebatnya, saat ia harus membuang hajat, justru yang dikeluarkan adalah sebuah cairan berharga yang bernama madu.

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang beriman itu tidak ubahnya seperti lebah. Bila lebah itu ingin makan, maka ia akan makan sesuatu yang baik. Dan bila ia mengeluarkan sesuatu, ia pun mengeluarkan sesuatu yang baik dan bila hinggap di sebuah ranting kayu ia tidak akan membuatnya patah/rusak” (H.R. At Tirmidzi).

Sebagai mahluk yang perlu makan untuk menopang hidupnya, lebah sangat rajin bekerja. Pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, ia sudah bangun dan dengan gesit ia terbang mengembara dari satu kebun ke kebun yang lain, dari satu bunga ke bunga yang lain untuk mencari makan. Bunga yang segar dan harum aromanya merupakan tempat tujuan utamanya. Karena disana lah ia mendapatkan madu yang selalu dirindukannya.

Kerinduan untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik akan senantiasa menjadi bagian dari obsesinya. Ia mencari yang terbaik dan selalu ingin memberikan yang terbaik. Ia konsisten, loyal, jujur, apa adanya, dan senantiasa siap untuk berkorban demi kepentingan orang lain.

Bagaimana mungkin ia akan memberikan yang terburuk, sementara setiap gerak-geriknya senantiasa merindukan kebaikan. Mengharapkan kedamaian dan kebahagiaan, walau harus dilakukan melalui perjuangan-perjuangan yang sangat keras dan intens. Perjuangan yang tak pernah putus asa. Sekali biduk dikayuh, pantang surut untuk kembali.

Bila lebah telah menemukan bunga yang dicarinya, ia pun segera hinggap dan mengisap madu. Pada saat inilah lebah mempunyai peranan yang sangat penting. Tatakala mulutnya menghidap madu, sementara kakinya bekerja mengawinkan bunga itu dengan cara mempertemukan putik bunga dengan sarinya. Ketika lebah pergi jauh, maka pada bunga itu terjadilah proses pembuahan yang kelak akan menghasilkan rzeki yang sangat berguna dan menguntungkan kedua belah pihak.

Lebah pun, tak hanya hidup dalam sebuah komunitas yang penuh kedamaian, namun juga memiliki kemampuan rancang bangun yang cerdas. Perhatikan saja sarang madu yang tersusun begitu kokoh, padu dan serasi menjadikan komunitasnya terbentengi oleh kekuatan pelindung yang tak mudah untuk diusik atau dihancurkan.

Lebah dapat menjadi sebuah falsafah hidup bagi manusia. Tentang bagaimana keberadaannya di alam dunia ini, untuk senantiasa memberi arti dan terus memberi arti bagi orang lain. Untuk senantiasa arif dan bijak memperlakukan orang lain. Untuk senantiasa bekerja keras, cerdas, dan profesional dalam bekerja. Untuk senantiasa proporsional dan konsisten dalam menjalin komitmen. Untuk senantiasa maju dan maju, kau dan aku, menuju kemenangan. Bukankah begitu?

Dalam Al-Qur’an dinyatakan:

Kemudian makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan dan tempuhlah

jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu.
Dan dari perut lebah itu keluar suatu minuman (madu)
yang bermacam-macam warnanya yang di dalamnya
terdapat obat mujarab untuk manusia.
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
kebesaran Allah bagi orang yang mau berpikir”
(QS. An-Nahl, ayat 69)

Senin, 05 Desember 2011

Memaknai Musibah



Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, ....". (QS. Asy-Syuaraa : 30).
Musibah demi musibah sepertinya masih tetap mendera negeri tercinta ini. Terakhir ambruknya jembatan Kutai Kertanegara. Makna apa sesungguhnya yang terkandung dibalik suatu musibah.
Pada saat terjadinya musibah, kita biasanya merasakan keprihatinan mendalam. Kadang tak tahu apa yang harus diperbuat. Barangkali hanya do'alah yang dipanjatkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar musibah serupa tidak terualng lagi. Pada umumnya kita lebih memilih berserah diri saja pada Tuhan Yang Maha Bijak, Yang Maha Penentu, Yang Maha Adil. Walaupun penyerahan kepada Sang Maha Kuasa itu acapkali   masih bernuansa su' udz-dzan alias masih mengandung negative thinking kepada-Nya. Naudzubillah...
Kalau kita perhatikan, secara etimologi musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu, baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Namun, umumnya musibah dipahami atau identik dengan kesusahan. Padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya musibah juga.

Jadi dengan musibah, sesungguhnya Allah SWT hendak menguji siapa yang paling baik amalnya.

"Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, Karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya." (QS Al−Kahfi (18): 7).

Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh. Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan taqwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.
Musibah demi musibah datang silih berganti. Musibah yang terjadi di tengah-tengah kita, akhir-akhir ini, terjadi dalam "bentuk" yang berbeda. Pertama, musibah kecelakaan, yang berupa kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pesawat terbang komersial, helikopter militer, kereta api, kapal laut, dan sebagainya. Bentuk yang lain, adalah musibah alam, baik itu gempa bumi, banjir bandang, longsor, sampai ambruknya jembatan dan sebagainya.
Sejatinya, makna "musibah" dalam kacamata teologi Islam tidaklah sesederhana dari yang selama ini kita pahami. Kalau kita mau menyisakan perhatian kita kepada pemahaman sekelompok umat Islam, maka kita akan tahu bahwa ada sebagian umat yang merasa bahwa pemberian penghargaan, kenaikan jabatan, itu pun bagian dari sebuah "musibah".
Tentu saja sebagai  "musibah" bagi yang bersangkutan. Biasanya, orang yang berpedoman demikian akan semakin tunduk kepada Allah Swt, justru ketika mendapatkan penghargaan. Dari sinilah bisa dipahami sabda Nabi Muhammad Saw bahwa manusia yang paling sering mendapatkan musibah dan cobaan berat adalah para nabi, kemudian para wali, dan seterusnya (H.R. Bukhori).
Karena musibah yang di-"uji-coba"- kan kepada para nabi tersebut tentunya bukan saja berupa fisik, melainkan mental dan keimanan. Dari pemahaman ini, Ibnu Taymiyah-seperti dinukil Professor Ibrahim Khalifah dalam salah satu kajian Tafsir-nya-berpendapat bahwa sangat mungkin para nabi itu berkurang imannya bahkan murtad-walaupun pada kenyataannya hal tersebut tidak pernah ada dalam sejarah.
Rupanya perkembangan kehidupan materialisme telah mampu menyingkirkan pemahaman-pemahaman unik tentang musibah tadi. Termasuk musibah yang tengah diderita beberapa sahabat dan sejawat kita akibat bencana alam di berbagai tempat. Tentu saja kita turut prihatin. Apapun musibahnya, kita perlu berihtiar untuk turut membantunya. Pada akhirnya Allah SWT yang akan memberikan keadilan teradil. Dan satu hal yang perlu senantiasa kita jaga keyakinannya bahwa musibah itu sesungguhnya merupakan bagian dari limpahan kasih sayangNya. Insyaallah.=== N425 ===

Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

* بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ* * السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه* * اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى س...